| Sejarah Alkitab Indonesia |
| Home | Sejarah | Artikel | Bagan Data | Bibliografi | |||
|
|
Home > Artikel > Naskah-naskah Kitab Sutji Naskah-naskah Kitab Sutji
"Naskah" dinamakan Kitab (kitab) Sutji jang ditulis dengan tangan sebelum orang tahu mentjetak. Tjetakan pertama Kitab Sutji Perdjadjian Lama (Hibrani) dibuat tahun 1477 Mas.; Perdjandjian baru (Junani) pertama kalinja ditjetak tahun 1514 Mas. dan tahun 1520 baru diterbitkan di Spanjol. Dua matjam bahan dahulukala digunakan untuk membuat "buku", jaitu "papirus" dan kulit (binatang) baik jang "kasar", jaitu jang belum dikerdjakan, maupun jang "halus", artinja jang dikerdjakan. Memang lebih dahulu lagi digunakan sebagai bahan untuk menulis matjam-matjam barang lain. Dipakai papan tanah liat jang setelah ditulisi (digurati) dibakar, papan kaju atau logam jang diberi lilin (Yes 30:8) dan ditulisi dengan penggurat. Chususnja untuk dokumen-dokumen terpenting dipergunakan djuga papan (atau tiang) batu. Kesepuluh perintah Allah sebagai undang-undang dasar diukir dalam loh batu (peng 24; 12; 31:18; 34:1; Ul 9:11). Untuk surat-surat ketjil dipergunakan djuga petjahan-petjahan tembikar (dinamakan: ostraca) hingga didjaman agak belakangan. "Papirus" ialah "kertas" jang dibuat dari sedjenis teberau (besar) (nama Junaninja: papuros), jang chususnja tumbuh di Mesir dalam rawa dekat pada sungai Nil. Bagian dalam dari kulit dilepaskan, dipotong mendjadi pita jang lebih kurang pandjang. Pita-pita itu dilekatkan satu sama lain silang-menjilang, lalu dipipih. Hasilnja helai-helai lebih kurang besar jang dipotong seperlunja. Umumnja "kertas" itu kasar sekali. Tetapi ada matjam-matjam "papirus" jang berlain-lainan mutu dan halusnja. Semendjak lebih kurang tahun 2100 seb. Mas. "papirus" itu sudah umum dipergunakan sebagai kertas. Dari Mesir dieksportir kemana-mana, antara lain ke Palestina. Dalam nama kota "Byblos" dipantai Palestina terpelihara nama "kertas" sedemikian itu. Djadi waktu bangsa Israil masuk Palestina "papirus" disana sudah dipakai sebagai bahan untuk menulis. Bahan ini sangat rapuh dan lekas lapuk. Semendjak lebih kurang tahun 500 sebelum Masehi orang djuga mulai menggunakan kulit-kulit binatang. Chususnja untuk kitab-kitab dan dokumen jang dianggap penting bahan itu suka dipergunakan. Beberapa lamanja dipakai untuk membuat "kitab" baik papirus (jang lebih murah) maupun kulit binatang (jang lebih mahal tapi djuga lebih lama tahan). Matjam chusus dari "kulit" itu ialah "perkamen" (kertas kulit), jang dibuat dari kulit domba-domba atau anak domba, kambing dan anak lembu dengan tjara chusus. Untuk pertama kalinja (menurut berita) perkamen dibuat di kota Pergamon dan dari nama kota itu berasal namanja "perkamen". Sebagai "pena" dipergunakan batang teberau dan "tinta" dibuat dari djelaga halus jang ditjampur dengan lim. "Tinta" itu hitam warnanja dan ternjata bermutu tinggi. Sebab sesudah 2000 tahun lebih masih terbatja djuga. Ada naskah-naskah kitab sutji jang menggunakan tinta keemas-emasan atau ungu. Huruf besar pada permulaan pasal atau bagian seringkali diberi berwarna (merah, keemas-emasan, perak) dan juga bergambar (miniatur). Tetapi perhiasan sedemikian baru muntjul didjaman agak belakangan. Buku dahulu kala ada dua matjam bentuknja, jaitu gulungan dan "kodeks" (Codex). Adapun jang berbentuk "gulungan" (volumen) dibuat sebagai berikut: helai-helai papirus (atau kulit) didjahit atau dilekatkan satu sama lain pada udjungnja, sehingga terbentuk helai "kertas" jang pandjang (kadang-kadang beberapa meter). Ladjur demi ladjur (bdk. Jer 36:32) ditulis, jang satu disamping jang lain. Pada udjung (kadang-kadang pada kedua udjung) helai dipasang tongkat (kaju, logam dan sebagainya) dan setelah helai pandjang seluruhnya ditulisi digulung djadi gulungan. Dapat diikat dengan pita penutup dan demikian disimpan. Semendjak abad kedua masehi mulai dipergunakan bentuk buku lain, jaitu kodeks, sebagaimana lazim sekarang. Rupa-rupanja kodeks-kodeks pertama dibuat dengan perkamen, jang tidak mudah dapat dibuat helai pandjang. Lama kelamaan bentuk "kodeks" itu mendjadi lazim djuga untuk Kitab Sutji. Tetapi orang Jahudi masih lama (malah disana-sini hingga dewasa ini) mempertahankan bentuk gulungan untuk Kitab Sutji jang dibatjakan dalam ibadah (disinagoga). Ada kodeks-kodeks dari papirus dan dari kulit. Pengarang-pengarang sutji sendiri menggunakan sebagai "kertas" papirus tersebut dan bukan kulit. Karangan-karangan mereka (kalau pandjang sedikit) berupa gulungan (bdk. Jer 36:2; Jeh 2:9-10). Dalam Perdjandjian Baru (1Tim 4:13) disebut "helai" (selaput) jang kiranja dibuat dari kulit (perkamen) dan memuat teks-teks sutji (Kitab Sutji Perdjandjian Lama, terdjemahan Junani). Namun demikian pengarang-pengarang Perdjandjian Baru pasti menggunakan papirus untuk menulis karangannja. Bahan itu murah dan mereka tidak menduga, bahwa karangan-karangannja harus disimpan lama. Dikalangan Jahudi didjaman itu Kitab Sutji ditulis atas kulit binatang. Hal itu terbukti oleh naskah (Kitab Sutji) dari djemaah Qumran, jang semua dibuat dari kulit dan berupa gulungan. Dari naskah-naskah aseli, artinja jang ditulis oleh pengarang sutji sendiri, tidak ada satupun terpelihara untuk kita. Semua sudah lama hilang. Ini mengenai baik Perdjandjian Lama maupun Perdjandjian Baru. Mudah dimengerti djuga. Bahan jang dipakai ialah papirus jang rapuh sekali dan lekas lapuk djika dipakai. Maka itu hanja salinan dari naskah-naskah aseli tersedia, dan malahan biasanja salinan dari salinan. Ber-abad-abad lamanya Kitab Sutji disalin dengan tangan. Buku lama diganti dengan jang baru. Naskah-naskah lama dibuang. Kemudian orang-orang Jahudi jang sangat menghormati Kitab Sutji dan chawatir kalau-kalau nama Allah jang tertulis didalamnja ditjemarkan, menjimpan naskah-naskah Kitab Sutji jang usang didalam gudang chusus di Sinagoga. Kemudian naskah-naskah Kitab Sutji itu dengan hormat dikubur ditanah. Gudang-gudang untuk menjimpan naskah-naskah lama disebut "geniza". Apa jang terdjadi dengan naskah-naskah aseli Perdjandjian Baru tidak diketahui. Salinan-salinan Kitab Sutji mengalami nasib sama seperti dialami buku-buku insani. Ternjata tidak ada penjelenggaraan ilahi chusus mengenai Kitab Sutji jang melindunginja terhadab nasib biasa. Maka itu dalam salinan-salinan Kitab Sutjipun ada agak banjak kesalahan dan kerusakan (lihat: TEKS KITAB SUTJI).
|
||||||
|
||||||
|
|||
| Tentang Kami | Kontak Kami | Ucapan Terima Kasih | Buku Tamu | Peta Situs | Form Kirim Artikel | Links | |||
|
Disclaimer | © 2003-2008 | Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | E-mail: webmaster sabda.org | Laporan Masalah/Saran
|