|
|
|
|
Kategori Artikel
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Doktrin Alkitab (16)
|
|
|
|
|
Home >
Artikel >
MTO-Taurat, Persaingan Dua Komunitas Imam
MTO-Taurat, Persaingan Dua Komunitas Imam
|
Bibliografi
|
|
Artikel ini diambil dari : Milis i-kan-untuk-CyberGki, 27 Maret 2002. Oleh Heri Muliono http://www.gki.or.id
|
Daftar Isi
3. MT2 - Musaiyah Versus Haruni
Tradisi J, Komunitas Haruni
Tradisi J yang ditulis oleh komunitas yang sedang menikmati posisi elite,
memaparkan refleksi kisah yang melegitimasi situasi politis dan religi yang
menguntungkannya. Teks tradisi J ditulis sebagai pengokohan posisi yang telah
diraih komunitas penulisnya. Karenanya, teks tradisi J adalah bentuk legitimasi
politis, geografi, dan monarki Jehuda, sekaligus legitimasi sistem religi yang
dioperasikan komunitas Haruni. Manuskrip tradisi J menurut R.E. Friedman diperkirakan ditulis dalam periode 848-722 SM. Yaitu sebelum kejatuhan Kerajaan Israel (Utara), tahun 722, karena mengisahkan penyebaran suku Simeon dan Lewi,
tetapi tidak mengisahkan penyebaran suku Israel lainnya (yang terjadi setelah
kejatuhan Israel karena serangan Assiria). Dan sesudah perpecahan
kerajaan paska-Salomo, karena ada penekanan pada pentingnya tabut perjanjian,
larangan penyembahan patung emas (di Israel), serta kampanye negatif Judea
terhadap Israel. Penyempitan periode hingga tahun 848 SM didasarkan penulisan
kisah kemerdekaan Edom dari Judea, yang terjadi pada masa Raja Yoram
(848-842SM).
Tradisi E, Komunitas Musaiyah
Teks tradisi E lahir dari situasi kegetiran marginal, ditulis oleh komunitas
yang tersingkir dari posisi elite keagamaan, sehingga memaparkan refleksi yang
melegitimasi situasi politis, tetapi mengkritisi konsep religi pesaingnya (baik
di Jerusalem maupun di Bethel). Agar bisa kembali ke posisi elite, komunitas
penulis teks E tetap membutuhkan wadah politis. Dan itu hanya dalam kerangka
kerajaan Israel, bukan Jehuda. Karenanya, tradisi E melegitimasi politik,
geografi, dan monarki Israel, tetapi menolak konsep religi yang dioperasikan
imam-imam non-Lewi di Bethel, dan eksklusivitas imam Haruni di Jerusalem.
Manuskrip tradisi E masih menurut R.E. Friedman diperkirakan ditulis dalam
periode 25 tahun terakhir sebelum kejatuhan Israel tahun 722 SM.
- Kenangan terhadap kejayaan leluhur di masa lalu menyebabkan penulis tradisi E
memulai penulisan teks dengan kerangka sejarah sakral bangsa Israel. Bermula
dari kisah singkat para bapa bangsa (mulai dari Abraham), dan berpuncak pada
Musa. Tradisi E cenderung meng-aggrandisasi (membesarkan) peran Musa.
Maka tampillah Musa sebagai sosok istimewa. Peristiwa yang mengkisahkan
ketokohannya menempati porsi besar dalam teks tradisi E. Perjumpaan Musa
dengan Tuhan yang memperkenalkan namanya, di Sinai, menjadi tonggak
utama konsep penulisan tradisi E.
- Kegetiran terhadap ketersingkiran dari posisi imam (secara tak langsung oleh
komunitas Haruni di Jerusalem) pada jaman Salomo, menyebabkan penulis
tradisi E cenderung men-denigrasi (mengecilkan) peran Harun. Maka Harun
nyaris tak berperan dalam berbagai kisah tradisi E, atau digambarkan buruk.
- Harapan untuk kembali ke panggung resmi pusat religi, membuat penulis teks
tradisi E berorientasi dan melegitimasi aspek politis, monarkis, dan
geografis Israel (Utara). Lihat MT3 - Jahwis Versus Elohis.
- Ketersingkiran dari posisi imam untuk keduakalinya (secara tak langsung oleh
komunitas imam non-Lewi di Bethel) pada jaman Jerobeam, menyebabkan
penulis tradisi E mengajukan konsep keimaman tersendiri. Tradisi E menolak
konsep keimaman Jerusalem yang dikuasai keluarga keturunan Harun
(komunitas Haruni) dan keimaman Bethel yang dikuasai non-Lewi.
Menurut tradisi E, keimaman adalah hak eksklusif orang Lewi saja (negasi
untuk konsep keimaman Bethel). Semua orang Lewi (general) bisa menjadi imam,
bukan hanya orang Lewi tertentu (partikular), misalnya keturunan Harun
saja (negasi untuk konsep keimaman komunitas Haruni di Jerusalem).
Legitimasi dan Kritik Religi
- Kritik terhadap konsep pesaing
Insiden "patung-anak-lembu-emas" dalam manuskrip tradisi E mengandung
kritik terhadap praktek keimaman, baik pada sistem religi di Israel maupun
di Judea.
- Di mata penulis tradisi E, Harun adalah lambang ketersingkiran komunitas
Musaiyah dari Jerusalem di masa Salomo. Maka dalam manuskrip tradisi E,
Harun, leluhur komunitas imam Haruni di Jerusalem, dikisahkan berlaku
bidat dan tidak terpuji, dalam kisah "patung-anak-lembu-emas" [Kel 32]
dan "Miryam-Si-Putri-Salju" [Bil 12]. Pengkisahan sikap kebidatan
Harun sudah bisa menjadi dasar kuat untuk menolak keabsahan
keturunannya sebagai imam. Sebaliknya, pengkisahan seluruh orang Lewi
(kecuali Harun) yang tunduk pada perintah Tuhan, dijadikan dasar
legitimasi pemberian hak keimaman untuk seluruh orang Lewi.
- Di mata penulis tradisi E, lembu emas yang dibuat Jerobeam sebagai
kaki altar di Bethel adalah lambang ketersingkiran komunitas Musaiyah,
dan "pengkhianatan" Jerobeam yang telah didukung dan ditahbiskan
sebagai raja. Maka dalam manuskrip tradisi E, lembu emas dijadikan
sebagai lambang "pengkhianatan" bangsa Israel terhadap Tuhan yang baru
saja membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir.
- Persaingan ikon religi
Masing-masing tradisi hanya mengisahkan ikon religi yang terdapat dalam
komunitasnya.
- Tabut Perjanjian
Teks J dalam Kitab Bilangan [Bil 10:29] dimulai dengan kisah
keberangkatan ke Kanaan dari Sinai. Tabut perjanjian ditempatkan
di depan iring-iringan. Teks J yang lain menyebutkan bahwa Tabut
Perjanjian tersebut sangat berperan dalam keberhasilan perjalanan
mereka. (Dengan kata lain, kesuksesan militer Israel ditentukan oleh
tabut ersebut). Tabut Perjanjian adalah ikon terpenting Kuil Salomo
(Baitallah Pertama) di Jerusalem. Tradisi J memperlihatkan pandangan
tentang pentingnya Tabut Perjanjian, sementara tradisi E sama sekali
tidak berkisah tentangnya. Tradisi E dalam insiden
"patung-anak-lembu-emas" bahkan mengkisahkan Musa yang
melemparkan dua loh batu yang baru saja dibawanya turun, ke patung
tersebut, hingga semuanya hancur. Dengan kata lain, teks E ingin
mengatakan bahwa Tabut Perjanjian di Jerusalem tidak berisi loh batu,
(karena telah hancur) atau jika berisi, pasti loh batu yang tidak asli.
- Kemah Pertemuan atau Tabernakel
Tradisi E menekankan pentingnya Kemah Pertemuan sebagai lambang
kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. (Kel 33:7-11]. Menurut kitab
Samuel, Raja-raja, dan Tawarikh, Tabernakel adalah tempat utama untuk
pemujaan Tuhan hingga diganti dengan kuil (permanen) yang dibangun oleh
Salomo. Sebelum itu, penempatan Tabernakel selalu diasosiasikan dengan
Shiloh. Tradisi E memperlihatkan pandangan tentang pentingnya
Tabernakel, sementara tradisi J sama sekali tidak berkisah tentangnya.
Perspektif Persaingan Tradisi Keimaman
Dari perspektif keberadaan dua komunitas imam penting ini, lima Kitab Taurat
(Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan) adalah rekaman "persaingan" para imam dari tradisi yang berasal dari komunitas keturunan Musa (Musaiyah) dan Harun (Haruni). Persaingan nyata antara komunitas Musaiyah dengan Haruni ini berjalan selama berabad-abad, "memperebutkan" hak prerogatif dan legitimasi
sebagai imam, yang pada gilirannya mendatangkan wewenang dan pendapatan.
Pengumpulan, penyuntingan dan penyatuan beberapa kitab dari berbagai tradisi,
menjadi kumpulan Kitab Taurat di masa Ezra pada abad-5SM, adalah reunifikasi
berbagai tradisi yang pada mulanya satu juga. Namun pada saat yang sama,
berarti pengaburan informasi latarbelakang dan karakteristik masing-masing
tradisi. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam mengapresiasi pesan dan makna yang
mula-mula terkandung di dalamnya, pada saat penulisannya.
Pemahaman makna kandungan Alkitab (baik segi positif maupu positifnya) dari alur
tradisi masing-masing sumber, memungkinkan dilakukannya transsignifikasi, yang
mampu menempatkan relevansi Alkitab dalam konteks kehidupan kini dan di sini.
Bersambung ke MT3 - Jahwis Versus Elohis
Bandung, Maret 2002
Heri Muliono
|
|