Sejarah Alkitab Indonesia
Home | Sejarah | Artikel | Bagan Data | Bibliografi

  Kategori Artikel
  Bagian-bagian dari buku :
Judul belum diketahui, tapi kami menyebutnya sebagai buku hijau
  Studi Kata Alkitab (5)
Home > Artikel > Mazmur

Mazmur

  Bibliografi << | >>  

Artikel ini diambil dari :
Judul belum diketahui, tapi kami menyebutnya sebagai buku hijau. 1967. Halaman 79-84.  
  1. Arti kata.

    Kata Indonesia "Mazmur" jang lewat bahasa Arab berasal dari bahasa Etiopia, bersangkutan dengan kata Hibrani "Mizmor". Kata ini menundjuk suatu lagu jang dinjanjikan dengan diiringi alat-alat musik (jang berupa-rupa) jang pakai tali. Sedjak djaman azali bangsa Israil dan bangsa-bangsa Semit lainnja suka akan njanjian (kerap kali seni sastera pertama dalam salah satu bahasa). Sisanja masih diketemukan dalam Kitab Sutji (bdk. Pengk 15; Tj Dj. 21:17-18; Hakim-hakim 5; 2Sjem 1; 1Mak 3:3-9; 14:4-15). Djuga untuk mengekspresikan rasa keagamaan seni sastera itu dipergunakan. Dan lagu-lagu keagamaan matjam itu dinamakan mazmur. Mazmur-mazmur terserak-serak dalam seluruh Kitab Sutji Perdjandjian lama (bdk Ul 32:1-43; 1Sjem 2:1-10; Dan 3:52-90; 1Taw 29:10-19; Tb 13:1-8; Jdt 16:13-17; Jr 31:10-14; Js 45:14-25; Sir 36:1-17) dan masih djuga dalam Perdjandjian Baru (Luk 1:68-79; 2:29-32; 1:46-55). Lagu-lagu matjam itu bukan keistimewaan umat Israel. Diluar Israel, chucusnja dinegeri Babel, djenis sastera itu disukai dan sangat dipergunakan. Penggalian-penggalian di Mesopotamia sudah menampilkan sedjumlah besar mazmur jang djuga dipergunakan dalam ibadah kepada dewata Babel.

  2. Djenis sastera.

    Mazmur adalah seni sastera, puisi, dan djenis sastera jang chas. Mazmur bukanlah suatu risalat ilmiah, meski risalat keagamaan sekalipun. Ia pun bukan tjeritera atau kisah. Memang mazmur-mazmur mengekspresikan pikiran (adakalanja sangat dalam dan halus sekali), tapi lebih-lebih mengungkapkan perasaan hati serta intuisi jang bermatjam-ragam. Maka itu tidak semua perkataan boleh ditimbang-timbang dengan akal. Sebaliknja hanja dengan perasaan hati orang dapat menembusi kulit (kadang-kadang agak keras sedikit) untuk sampai kepada hati si pemazmur.

    Mazmur bukan hanja seni sastera puisi, tetapi seni sastera Semit dan Israel. Puisi itu ada patokan-patokan dan kaidah-kaidahnja sendiri jang chas, jang dituruti oleh mazmur-mazmur Kitab Sutji djuga. Puisi itu berdasarkan pada rythmus, artinja: sukukata jang bertekanan dan jang tak bertekanan bergilir ganti menurut urutan tertentu. Biasanja tiap-tiap bagian (ajat) terdiri atas dua bagian lagi (stychos), meskipun tidak selalu demikian susunannja. Kerap kali bagian kedua hanja mengulang dengan kata-kata lain pikiran-perasaan jang sudah terungkap dalam bagian pertama. Kadang-kadang diulang setjara positip, lain kali setjara negatif dan boleh djadi bagian kedua mengembangkan dan memperluas sedikit stychos jang pertama. Gedjala jang chas Hibrani (Semit) itu disebut "parallelismus", kesedjadjaran. Apabila pikiran-perasaan stychos pertama hanja diulang setjara positif sadja, maka orang berkata tentang: parallelismus sinonim (bdk. Mzm 61:2); djika pikiran-perasaan diulang setjara negatip maka disebutkan: parallelismus anti-tetis (bdk Mzm 32:10); apabila pikiran-perasaan dikembangkan dan diperluas maka dikatakan: parallelismus sintetis (bdk Mzm 135:16).

    Puisi Hibrani (Semit) suka akan bahasa kiasan, bahasa penghebat dan matjam-matjam gambaran jang hebat djuga. Itulah sebabnja maka mazmur-mazmur kerap kali sukar dimengerti dan diartikan, apalagi oleh karena kiasan dan gambaran itu diambil dari alam dan kebudajaan jang bukan alam dan kebudajaan kita. Tetapi bagaimanapun djuga kiasan dan gambaran itu djangan diartikan setjara harfiah. Kadang-kadang kiasan Kitab Sutji dapat membingungkan terutama kalau diterapkan kepada Allah sendiri jang nampak seolah-olah manusia (anthropomorphismus).

    Mazmur-mazmur bukan hanja senisastera (karap kali bermutu tinggi), tetapi terlebih puisi keagamaan. Lagu-lagu jang terpelihara dalam Alkitab adalah doa dan sembahjang umat Israel dan kaum beriman. Didalamnja terungkap rasa keagamaan jang bermatjam-matjam dan tanggapan serta djawaban karya beriman dan umat Allah terhadap sabda Tuhan, tindakan-tindakan serta kaumnja. Dan itulah sebabnja maka mazmur-mazmur itu terpelihara dalam Kitab Sutji dan diinspirasikan oleh Roh Kudus. Dengan mazmur-mazmur itu orang memudji Allah Pentjipta (Maz 104) serta sifat-sifatnja (Mzm 113:7-9); orang bersjukur kepadaNja (Mzm 23); mengutjapkan kepertjajaan (Mzm 27:1-6) dan sesal hati (Mzm 51) serta permohonan dalam kesesakan (banjak mazmur).

    Mazmur-mazmur bukan terutama doa sadja tetapi djuga dan terutama doa/sembahjang liturgis. Asal mazmur-mazmur kerap kali tidak lagi dapat ditentukan. Tapi pasti ada sedjumlah lagu jang chusus ditjiptakan untuk ibadah umat (Mzm 65; 66; 67; 118; 113-117; 120; 134). Ada djuga sedjumlah jang ditjiptakan untuk keperluan perorangan dan pribadi (Mzm 30; 38; 70; 92; 94; 130; 131; dll.), tetapi kemudian dipakai dalam ibadah umat dan kalau perlu diadaptasikan kepadanja serta disadur. Tjorak liturgis mazmur-mazmur itu perlu diperhatikan, supaja lagu-lagu itu dimengerti dan diartikan dengan tepat.

  3. Kitab Mazmur.

    Kitab Mazmur terdapat dalam bagian ketiga kanon Hibrani (kethubim). Dalam bahasa Arab kitab ini disebut "Zabur", sedangkan dalam bahasa Hibrani dinamakan "Tehillim". "Tehillim" sebenarnja berarti: lagu-lagu pudjian/madah, sehingga nama itu tidak tjotjok dengan sebagian besar dari isi Kitab Mazmur. Sebab didalamnja terkumpul lagu-lagu jang bermatjam ragam dan hanja sebagian boleh disebut "Lagu Pudjian".

    Kitab Mazmur sebagaimana sekarang ada terdiri atas lima bagian, djilid, sedjalan dengan "Lima Kitab Musa" (Taurat). Tetapi pembagian itu agak baru sedikit. Kapan dibuat belum diketahui dengan pasti, tetapi sekitar tahun 250 seb. Mas. sudah ada (Terdjemahan Junani Septuaginta) dan boleh djadi sudah dikenal sekitar tahun 300 seb. Mas. (bdk, 1Taw 16). Tiap-tiap "buku", djilid, ditutup dengan pudjian pendek kepada Allah (Mzm 41:14; 72:18-20; 89:52; 106:48; 150).

    Kitab Mazmur jang tertjantum dalam Alkitab adalah merupakan hasil suatu perkembangan dan proses jang berlangsung lama. Kapan mazmur (manakah?) jang tertua ditjiptakan tidak dapat diketahui lagi. Tapi boleh diterima bahwa ada beberapa mazmur dari djaman radja Dawud (abad X seb. Mas.) dan tjiptaan Dawud sendiri (bdk. 1Sjem 16:18-23; 18:10, Amos 6:5). Ada djuga sedjumlah mazmur jang kiranja berasal dari djaman para radja (lk. 900-600 seb. Mas.) (bdk. Mzm 2; 18; 20; 21; 28; 61; 63; 72; 84; 101; 110; 123; 144; 145). Tetapi senisastera itu mengalami masa djajanja terutama sesudah pembuangan (tahun 538-333 seb. Mas.)

    Terlebih dahulu pelbagai lagu dihimpun dalam kumpulan ketjil dan tersendiri. Bekasnja masih diketemukan dalam Kitab Mazmur, misalnja: Mzm 95-100 (keradjaan Allah), Mzm 120-134 (njanjian pendakian). Kemudian disusun kumpulan-kumpulan lebih besar, jaitu Mzm 3-41; 42-89; 90-150 Achirnja semuanja mendjadi satu kumpulan besar jang setjara buat-buatan dibagikan djadi lima djilid.

  4. Djenis-djenis Mazmur.

    Didalam Kitab Mazmur terhimpun 150 lagu jang berlain-lainan tjoraknja. Setjara kasar dapat dibedakan djenis-djenis mazmur sebagai berikut, meskipun pembagian itu tentu sadja tidak merangkum semua lagu jang ada.

    1. Lagu-lagu Pudjian atau Madah (Mzm 8; 19; 29; 33; 46-48; 76; 84; 87; 93; 96; 100; 103-106; 113; 114; 117; 122; 135; 136; 145-150). Lagu-lagu ini memudji Allah, sifat-sifatnja serta karyaNja baik dalam alam maupun dalam sedjarah umat Israel. Ada sedjumlah mazmur jang memudji kota Sion, Jerusjalem, tidak hanja karena adalah kediaman radja teokratis, tapi lebih-lebih karena kota itu adalah kediaman Allah Israel (Mzm 46; 48; 76; 87). Demikianpun martabat keradjaan Allah (eskatologis) jang memerintah dunia semesta dimulaikan (Mzm 47; 93; 96-98).

    2. Banjak mazmur berupa lagu ratap, jang diutjapkan dalam kesesakan dan sengsara berupa-rupa. Kerap kali dengan bahasa kiasan dan penghebat dipaparkan didalamnja sengsara si pendoa. Kiasan dan gambaran jang dipergunakan biasanja sangat tradisionil, sehingga kesamaan antara mazmur-mazmur itu sangat menjolok. Sifat tradisionil itupun menjebabkan pula bahwa sengsara konkrit kerap kali sukar ditentukan.
      Ada sedjumlah lagu ratap kolektip jang mengenai umat Allah seluruhnja (Mzm 12; 44; 60; 74; 79; 80; 83; 85; 106; 123; 129; 137) dan lebih banjak lagi jang merupakan lagu ratap perorangan dan pribadi (Mzm 3; 5-7; 13; 17; 22; 25; 26; 28; 31; 35; 38; 42; 43; 51-57; 59; 63; 64; 69; 70-71; 77; 86; 102; 120; 130; 140-143). Akan tetapi sehubungan dengan lagu-lagu ini perlu ditjatat bahwa kerap kali tidak djelas apakah sipendoa sungguh adalah seseorang setjara perseorangan atau wakil umat seluruhnja, mungkin pula umat diperorangkan. Maka itu kalaupun dalam mazmur-mazmur itu dipakai kata ganti diri pertama (aku) namun belum pasti bahwa "aku" itu sungguh hanja satu orang sadja.

    3. Lagu-lagu sjukurpun tidak sedikitlah djumlahnja dalam Kitab Mazmur (Mzm 18; 21; 30; 34; 49; 65-68; 92; 116; 118; 124; 129; 138; 144). Umat (atau seseorang) mengutjapkan sjukurnja karena salah satu karunia jang diterima dari Tuhan. Kerap kali sekaligus dipandjatkan suatu doa permohonan meminta pertolongan selandjutnja djuga.

    4. Ada djuga beberapa njanjian jang berasal dari istana radja dan mengenai diri radja serta wangsanja (Mzm 2; 18; 20; 21; 45; 61; 72; 84; 101; 132; 144). Mazmur-mazmur ini mengingatkan kepada sastera-istana jang lazim didaerah-daerah disekitar Israel. Beberapa dari mazmur itu diterapkan kepada radja jang ditjita- tjitakan dimasa depan, jaitu al-Masih (Mzm 2; 45; 72; 110; bdk Mzm 89; 132)

  5. Pengarang-pengarang Mazmur.

    Tentang pengarang-pengarang/pentjipta-pentjipta mazmur-mazmur tidak banjak jang dapat dikatakan dengan pasti. Dalam djudul banjak mazmur disebutkan nama seseorang: Dawud (73x), Asaf (12x), Putera-putera Korah (11x), Etan (Jedutun)(1x), Heman (1x), Musa (1x), dan Sulaiman (1x). Maksud nama (dan konstruksi Hibrani: le) tidak djelas lagi. Aselinja kiranja tidak (selalu) menundjukkan pentjipta lagu itu. Hanja kemudian sering diartikan demikian. Maka dari itu harus diakui sadja bahwa hampir semua mazmur adalah anonim dan hanja dapat disebut "tjiptaan umat Israel" sepandjang sedjarahnja dari abad X hingga abad III seb. Mas. Sebab kebanjakan mazmur djuga tidak dapat diberi bertanggal.

  6. Penjesuaian mazmur-mazmur dengan wahju jang madju.

    Setelah salah satu mazmur ditjiptakan dalam situasi tertentu dan diambil alih oleh umat, maka lagu itu ikut serta dalam sedjarah keagamaan umat itu. Terus-menerus diadaptasikan kepada situasi jang baru. Dengan demikian interpretasi mazmur jang sama madju dan berkembang. Perkembangan itu boleh digariskan sebagai berikut: Salah seorang (atau umat pada detik tertentu) mengutjapkan perasaannja pada ketika itu.

    Umat mengambil alih lagu itu tapi mengungkapkan dengannja perasaan jang kolektip. Kemudian keadaan umat berubah dan kepada mazmur jang lama itu diberikan suatu tafsir baru sesuai dengan keadaan baru itu.

    Umat keristen kembali menginterpretasikan lagu itu serta mengetrapkannja pada situasi chasnja, jakni situasi masehi. Maka dari itu banjak mazmur diberi makna masehi, sekalipun begitu sadja tidak dapat diketemukan dalam lagu aseli.

    Boleh djadi Geredja dalam ibadahnja sekali lagi dan setjara lain mengetrapkan mazmur jang sama.

    Achirnja masih mungkin bahwa orang keristen setjara perorangan mengungkapkan perasaan pribadinja dengan perkataan azali itu.

    Sebagai tjontoh boleh diambil Mazmur 2. Aselinja lagu itu merupakan suatu doa seorang Israel (pegawai istana) untuk radjanja ketika terantjam oleh musuh-musuh dari luar negeri.

    Ibadah Bait Allah mendjadikan mazmur itu suatu doa resmi dan liturgis bagi setiap radja, entah bagaimana keadaannja.

    Sesudah tahun 586 radja tidak ada lagi, sehingga lagu kuno itu harus diberi makna baru. Maka itu diterapkan kepada radja jang dimasa depan, jaitu Al-Masih.

    Umat keristen semula mengakui Jesus sebagai Al-Masih dan karenanja segera mengetrapkan mazmur itu kepada Radjanja (Kis 4:25-26), chususnja kepada kebangkitanNja dari alam maut jang merupakan pelantikannja sebagai radja (Kis 4:33). Surat kepada orang-orang Hibrani (1:5; 5:5) mengetrapkannja kepada pelantikan Kristus sebagai imam agung surgawi.

    Ibadah katolik achirnja menggunakan mazmur ini untuk mengungkapkan kejakinannja bahwa Kristus adalah radja dunia semesta. MartabatNja itu berdasarkan kenjataan bahwa Kristus adalah Putera Allah kekal jang telah mendjadi manusia dan diangkat kesurga. Ia mendjadi kepala djagat raya.

    Orang keristen masing-masing boleh menggunakan lagu kuno itu untuk menjatakan rasa hormatnja terhadap Kristus dan demikian mangakuiNja sebagai radjaNja sendiri jang mau ditaati.

Mazmur-Mazmur Sulaiman

Mazmur-mazmur Sulaiman adalah sekumpulan lagu, jang 18 djumlahnja. Lagu-lagu itu ditjiptakan waktu Jerusalem direbut oleh panglima Roma, Pompeius dalam tahun 63 seb. Mas. Aselinja ditulis dalam bahasa Hibrani tapi lengkap hanja terpelihara dalam terdjemahan Junani. Lagu-lagu itu berasal dari kalangan kaum Parisi dan bermaksud mendjelaskan apa sebabnja maka Israel ditimpa bentjana sebesar itu. Memang Israel berdosa. Namun demikian dimasa depan umat akan dipulihkan. Pemulihan akan diadakan oleh radja masehi. Radja itu adalah keturunan Dawud dan akan memerintahkan segala bangsa, Jahudi dan kafir. Ia akan mendapat kemenangan politik dan rohani.

Mazmur-mazmur ini ada kepentingannja oleh karena memperkenalkan harapan manakah ada dikalangan tertentu dimasa Kristus lahir. Namun demikian harapan itu bukan harapan semua orang Jahudi.

^ Ke Atas ^


Tentang Kami | Kontak Kami | Ucapan Terima Kasih | Buku Tamu | Peta Situs | Links
Disclaimer | © 2003-2014 | Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | E-mail: webmastersabda.org | Laporan Masalah/Saran

Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati