Sejarah Alkitab Indonesia
Home | Sejarah | Artikel | Bagan Data | Bibliografi

  Kategori Artikel
  Bagian-bagian dari buku :
Sejarah Apostolat Di Indonesia II/1
  Sejarah Alkitab Daerah di Indonesia (35)
Home > Artikel > Jawa

Jawa

  Bibliografi << | >>  

Artikel ini diambil dari :
Abineno, Dr. J.L. Ch. 1978. Sejarah Apostolat Di Indonesia II/1. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta. Halaman 69-76.  

Pekerjaan apostolat di Jawa diatur dari Betawi sebagai pusat. Karena itu untuk memperoleh suatu gambaran yang agak jelas tentang aktivitas-aktivitas missioner yang dijalankan dari situ, baiklah kita memberikan dahulu suatu uraian singkat tentang situasi Jemaat di Betawi, sesudah runtuhnya V.O.C. Di atas, ketika kita membahas "G.P.I. di Jawa", kita telah dengar, bahwa situasi pada waktu itu sangat sulit. Di seluruh Betawi, dengan daerah pelayanannya yang luas, hanya terdapat seorang pendeta tua: pendeta Ross. Situasi ini kemudian berangsur-angsur menjadi lebih baik: bukan saja bagi Jemaat Belanda (yang mendapat tambahan tenaga pendeta: pendeta Bijllaardt dan kemudian pendeta Roorda van Eysinga), tetapi juga bagi Jemaat pribumi (= Jemaat "Melayu-Portugis") yang ada di situ. Jemaat pribumi ini, yang lama sekali tidak mendapat pelayanan yang baik, pada tahun 1816 memperoleh seorang pendeta sendiri: pendeta Supper. Sayang sekali, bahwa pendeta yang sangat aktif ini (**Sebelum diangkat menjadi pendeta, ia--pada tahun 1814--telah mendirikan suatu Lembaga Alkitab di Betawi, dengan Raffles sebagai ketua. Terutama Perjanjian Baru sangat dibutuhkan waktu itu. Juga oleh orang-orang Arab, yang sangat rajin menyelidiki Kitab Suci. Bnd Coolsma, a.w., blz. 64) tidak lama bekerja di situ. Ia meninggal pada akhir tahun 1816. Ia segera diganti, tetapi pengganti-penggantinya itu-- mula-mula Paulus, sesudah itu Scheurkogel--tidak mampu "memperkembangkan" Jemaat itu. Pada tahun 1859 ia masih mempunyai 1100 anggota, tetapi menjelang akhir abad ke-XIX jumlah itu telah berkurang menjadi 156 orang.

Kebaktian-kebaktian diatur seperti berikut: dua kali seminggu di Gereja-Kota oleh pendeta-sending Haag dan sekali sebulan (= pada Minggu terakhir) di Pasar-Baru oleh pendeta-sending Geissler.

Di bidang missioner Jemaat di Betawi bekerjasama dengan "Komisi utusan-pekerja" di Belanda. (**Tujuan Komisi ini, yang dipimpin oleh pendeta Heldring di Hemmen, ialah: mengirim pekerja-pekerja biasa, tanpa pendidikan khusus, ke daerah-daerah pekabaran-injil sebagai utusan. Di situ mereka bekerja tanpa gaji. Nafkah mereka harus mereka cari sendiri.) Didorong oleh kerjasama ini pada tahun 1852 didirikan di Betawi suatu Perhimpunan Pekabaran-Injil (**Namanya: Genootschap van In- en Uitwendige Zending. Bnd Coolsma, a.w., blz. 67.), yang dipimpin oleh orang-orang Belanda di situ. (**Salah seorang dari mereka ialah V. Charante, yang rupanya terkenal pada waktu itu oleh pekerjaannya di berbagai-bagai bidang missioner.) Dalam waktu yang singkat Perhimpunan itu -- dengan bantuan "Komisi utusan-pekerja" di Belanda -- telah menempatkan utusan-utusan-pekerja di Prapatan, di Kramat, di Kramat-Jati, di Kebon-Kelapa, di Kampong Makasar, di Cakung, dan lain-lain.

Pekerjaan ini, dalam keseluruhannya, tidak begitu berhasil. Mula-mula -- di bawah pimpinan MŘhlnickel -- ia rupanya sedikit memberikan harapan. Pada tahun 1856 kita membaca, bahwa telah lebih dari 20 orang (= dewasa dan anak kecil) yang dibaptis. Tetapi sesudah MŘhlnickel meninggal (1859) ia makin mudur. Pada tahun 1862 dilaporkan, bahwa pekerjaan itu hanya menghasilkan "40 orang Kristen" (**Terhitung 7 orang (= wanita-wanita pribumi dan Cina) yang dibaptis, ketika gedung-gereja (= Haantjeskerk) di-"tahbis" di Pasar Baru (16 September 1860). Apakah ke-40 orang itu merupakan Jemaat tersendiri atau menjadi anggota dari Jemaat pribumi di Betawi, tidak jelas dari sumber-sumber yang kita miliki.) Untuk membantunya "Java ComitÚ" di Amsterdam mengirimkan beberapa orang tenaga, tetapi hasilnya tetap tidak menggembirakan. Di antara tenaga-tenaga, yang banyak memberikan sumbangan dalam pekerjaan itu ialah: Meester Cornelis (= seorang penginjil dan guru-agama Indo), Christina (= seorang penginjil pribumi) dan Gang Kwee (= seorang tenaga pembantu yang khusus bekerja di antara orang-orang Cina).

Suatu usaha missioner lain, yang dimulai kira-kira pada waktu yang sama di Betawi, ialah: pendirian "Perkumpulan bacaan Kristen dalam bahasa Melayu" pada tahun 1855, dibawah pimpinan Brouwer dan Martens. Maksud perkumpulan itu, seperti yang nyata dari namanya, ialah menerbitkan dan menyebar-luaskan bacaan-bacaan Kristen yang sederhana dalam bahasa Melayu. Dari uraian di atas -- terutama tentang "Pekerjaan Pastorat" -- nyata, bahwa besar sekali sumbangan Perkumpulan ini kepada pekerjaan pekabaran-injil di Indonesia. Sampai pada akhir abad ke-XIX ia telah menerbitkan kira-kira limapuluh judul. Sebagian besar daripadanya ditulis sendiri oleh pemimpin-pemimpin Perkumpulan itu. (**Coolsma, a.w., blz. 67.)

Di samping usaha-usaha misioner ini perlu kita sebut juga "pekerjaan evangelisasi" yang dijalankan oleh Haag, pendeta-sending "Java ComitÚ" di antara orang-orang Cina di Betawi-kota: Patekoan. Pada tahun 1888 kita membaca, bahwa telah tumbuh disitu suatu Jemaat kecil, yang terdiri dari 60 orang (**Jemaat ini dipimpin oleh suatu Majelis Jemaat, yang terdiri dari 4 orang: 2 penatua dan 2 diaken.) Tetapi kira-kira pada waktu yang sama terjadi sesuatu yang tidak begitu menguntungkan bagi Jemaat itu. "Java ComitÚ" melepaskan dirinya dari Perhimpunan Pekabaran-Injil di Betawi dan bertindak atas namanya sendiri. Tindakan itu tidak disetujui oleh orang-orang di Betawi. Dengan rupa-rupa jalan mereka berusaha untuk "menarik Haag dan pekerjaannnya ke dalam lingkungan G.P.I." Usaha itu berhasil dan Haag diangkat oleh Gubernur-Jenderal menjadi guru-agama "bagi orang-orang Kristen yang tidak mampu" di Betawi dan "bagi prajurit-prajurit di tangsi". (**Coolsma, a.w., blz. 71.) Oleh pekerjaannya yang baru ini Haag tidak mempunyai waktu lagi untuk Jemaat di Patekoan. Untuk membantu Jemaat ini pada tahun 1891 "Java ComitÚ" menempatkan di situ pendeta-sending Geissler. Di bawah pimpinannya Jemaat ini pada tahun 1899 diakui oleh Pemerintah sebagai badan-hukum. (**Dengan nama "Evangelische Chineesche Gemeente tot uitbreiding van Gods Koninkrijk".)

Selain daripada Sekolah Minggu (dengan 50 murid) dan pekerjaan wanita (yang dipimpin oleh zuster Geissler), Jemaat ini juga menyelenggarakan 3 buah sekolah: sebuah Taman Kanak-kanak dan 2 buah Sekolah Dasar di Patekoan dan di Gang ChassÚ (di bawah pimpunan guru Pelupessy dan guru Pasanea). Dalam pekerjaannya di Jemaat, Geissler dibantu oleh penatua Gow Kho, yang "dapat berkhotbah baik dalam bahasa Cina, maupun dalam bahasa Melayu". (**Coolsma, a.w., blz. 71.)

Selain daripada di Betawi sendiri, pekerjaan apostolat di Jawa terutama dijalankan di tempat-tempat yang berikut:

  1. Di Depok.

    Sama seperti Jemaat-jemaat lain, demikian pula Jemaat ini lama sekali tidak mendapat pelayanan yang teratur. Baru pada tahun 1818 Scheurkogel, yang diangkat menjadi "proponenn" dari Jemaat pribumi di Betawi, ditugaskan untuk melayani juga Jemaat di Depok (dan Jemaat Tugu). Pada tahun 1822 ia kembali ke Belanda dan digantikan oleh Akersloot (1825), seorang pendeta-sending N.Z.G., yang pernah bekerja di Kaibobo (Seram). Pendeta-sending ini rajin, tetapi tidak sehat: pada tahun 1830 ia meninggal karena sakit. Penggantinya, pendeta-sending Wentink, baru tiba di Depok pada tahun 1834.

    Menurut Wentink keadaan Jemaat pada waktu itu sangat menyedihkan: sekolah buruk, anggota-anggota Jemaat acuh-tak-acuh, hanya sedikit dari mereka yang mengunjungi kebaktian-kebaktian. Untuk mengambil hati N.Z.G. ia kemudian -- sesudah beberapa tahun bekerja di situ -- memberikan laporan yang tidak benar, seolah-olah keadaan Jemaat itu telah menjadi lebih baik. Hal itu nyata dari tulisan Grafland (**N. Graafland, Depok -- eene ethnographische studie (dalam: Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap), 1889, blz. 1 vv.) dan Cattenburch yang menggantikan Wentink. Menurut Cattenburch keadaan Jemaat pada waktu itu masih tetap menyedihkan, baik secara rohani, maupun secara jasmani: anggota-anggota Jemaat malas, acuh-tak-acuh, kotor dan tinggal dalam rumah-rumah yang buruk. (**Coolsma, a.w., blz. 77.) Perobahan sebenarnya baru terjadi, waktu Beukhof (1865) dan kemudian De Graaf (1887) ditempatkan di situ: "banyak orang telah mengunjungi kebaktian-kebaktian dan katekisasi-katekisasi, telah ada perhimpunan pemuda, perhimpunan wanita, paduan-suara, dan lain-lain". Juga sekolah (dengan 90-100 murid yang beragama Islam) berjalan dengan baik dan mempunyai pengaruh yang positif atas desa-desa di sekitar Depok.

    Suatu persoalan, yang dihadapi Jemaat di Betawi pada waktu itu, ialah: Bagaimana caranya mendidik anak-anak miskin -- khususnya anak-anak Indo -- supaya mereka kemudian dapat mencari nafkah mereka sendiri. Sebagai jawaban atas pertanyaan ini diputuskan untuk mendirikan sebuah Lembaga Pertanian Kristen di Depok, di mana anak-anak itu dapat memperoleh pendidikan yang mereka butuhkan. Mula-mula Lembaga itu, yang diresmikan pada tanggal 26 Oktober 1873, berkembang dengan baik: pada tahun 1875 dididik di situ 25 murid laki-laki dan 13 murid wanita. Setahun kemudian jumlah itu telah meningkat menjadi 50 orang. Tetapi sejalan dengan itu Pengurus mulai menghadapi rupa-rupa kesulitan, khususnya di bidang keuangan. Sebagai akibat dari kesulitan itu, pada tahun 1878 diputuskan untuk menghentikan eksploitasi tanah Lembaga itu dan mengurangi jumlah murid. Nama "Lembaga Pertanian Kristen" diganti dengan "Lembaga Pelayanan Kasih". Sesuai dengan itu tujuannya juga sedikit dirobah dan dirumuskan secara umum, yaitu bahwa mulai dari waktu itu anak-anak dididik untuk menjadi anak-anak yang terampil dan berguna.

    Sayang sekali, bahwa Lembaga ini makin lama makin mundur. Pada tahun 1880 jumlah murid-murid menurun sampai 25 orang. Empat tahun kemudian hanya tinggal 11 orang. (**Coolsma, a.w., blz. 80.)

    Suatu lembaga lain di Depok, yang jauh lebih penting dari Lembaga Pelayanan Kasih di situ, ialah Seminari Depok atau -- seperti kadang-kadang disebut orang -- Seminari Schuurman, karena Schuurmanlah yang telah mengambil inisiatif untuk mendirikan Seminari itu.

    Pada tanggal 22 Juni 1869 ia, sebagai pendeta di Betawi, menulis suatu "Permohonan dari Betawi" dengan maksud: memperoleh uang sebesar 500.000 gulden untuk mendirikan "sebuah Seminari", di mana orang-orang pribumi dididik dan ditahbis menjadi pemberita-pemberita Kristus di antara bangsa mereka sendiri". Dr. Arnold, pendeta Jemaat Inggeris di Betawi, menerima rencana itu dengan antusias. Dengan kuat ia mendorong Schuurman, supaya Schuurman segera mewujudkannya. Untuk memenuhi permintaan itu Schuurman, pada permulaan tahun 1870, menulis lagi suatu karangan lain: "Mudah-mudahan banyak pulau bersuka-ria". Dalam tulisan itu ia a.l. menjelaskan rencana dan maksud Seminari yang akan didirikan, sesudah hal itu ia bicarakan dengan Keuchenius, Anthing, Arnold, dan lain-lain. Tulisan itu disambut dengan gembira di Belanda, dan tokoh-tokoh seperti Groen van Prinsterer, Van Rhijn, Bronsveld, Cohen Stuart, yang menyetujui rencana itu, mulai mengumpulkan uang yang diminta. Untuk maksud itu dibentuk suatu panitia yang disebut "Panitia Pusat untuk mendirikan dan memelihara sebuah Seminari dekat Betawi", dengan majalahnya sendiri. (**Namanya: Geillustreerd Zendingsblad.) Sementara itu Schuurman dan kawan-kawannya di Betawi terus mempersiapkan pendirian Seminari itu. (**J.C. Neurdenburg, Een Seminarium, waar Inlanders opgeleid en geordend worden voor Christus-verkondigers onder hun eigen volk (dalam: Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap), 1871, blz. 28-99. Bnd J.J. van Toorenenbergen, Een aanteekening bij de geschiedenis van het Seminarie te Depok (dalam: Nederlandsch Zendingstujdschrift), 1896, blz. 67 v.)

    Pada tanggal 21 Agustus 1878 Seminari itu diresmikan, dengan Henneman -- yang dahulu bekerja sebagai pendeta-sending Barmen di Kalimantan -- sebagai direktor. Pidato pengresmian diucapkan oleh Mr. Keuchenius (**Menggantikan Schuurman, yang sedang bercuti di Belanda.), yang a.l. memberikan penjelasan tentang tujuan Seminari itu dengan menunjuk kepada Seminari-seminari di tempat-tempat lain. Seminari Depok ini mulai dengan 4 murid. Tetapi ia bekembang dengan cepat: beberapa tahun kemudian ia telah mempunyai 40 murid, yang terbagi dalam 4 kelas. Mereka datang dari berbagai-bagai daeraha (= suku) di Indonesia.

    Pada akhir tahun 1898 terdapat di situ 42 murid: 14 dari Sangir dan Talaud, 11 dari Tapanuli (= Batak), 7 dari Jawa (= Jawa dan Sunda), 5 dari Kalimantan (= Dayak), 4 dari Nias dan 1 dari Timor (= Sabu).

    Lamanya studi 4 tahun. Sebagai bahasa-pengantar dipilih bahasa Melayu. (**Mula-mula dipertimbangkan untuk memakai bahasa Belanda sebagai bahasa-penganta, tetapi berdasarkan pengalaman-pengalaman yang tidak menggembirakan di banyak Sekolah Guru, diputuskan untuk memakai saja bahasa Melayu.) Sesuai dengan tujuan Seminari -- untuk mendidik pemuda-pemuda pribumi menjadi guru dan penginjil -- pendidikan di situ di bagi atas dia bagian: bagian umum, yang ditugaskan kepada Iken (**Iken -- seorang kepala sekolah di Belanda -- diangkat sebagai dosen kedua dari Seminari Depok.) dan bagian theologis yang ditugaskan kepada Henneman.

    Bagian umum mencakup matapelajaran-matapelajaran: membaca (huruf Arab), menulis indah, berhitng, ilmu-bumi, bahasa Melayu, menyanyi, sejarah (= umum, Indonesia dan Belanda), pedagogik dan olahraga. Bagian theologis mencakup: pembimbing ke dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dogmatika, theologia praktika, sejarah Gereja, sejarah apostolat (termasuk: sejarah agama Islam dan agama-agama kafir). Di samping itu diajarkan juga musik (= biola, organ, dll) oleh seorang guru yang tinggal di luar kompleks Seminari. (Coolsma, a.w., blz. 82.)

    Berhubung dengan fasilitas-fasilitas di atas, banyak pendeta-sending, yang telah lama menginginkan adanya pertemuan-pertemuan antara para pendeta-sending yang bekerja di Jawa -- baik untuk berlatih dalam "persekutuan orang-orang kudus", maupun untuk membicarakan persoalan-persoalan pekabaran-injil yang penting -- mengusulkan, supaya secara teratur diselenggarakan konperensi-konperensi-sending di Depok. Usul itu, terutama oleh dukungan Schuurman, diterima dengan ketentuan, bahwa konperensi-konperensi itu akan diselenggarakan sekali dalam 2 atau 3 tahun dan bahwa sebagian besar daripadanya akan diselenggarakan di Betawi. Dalam konperensi yang pertama -- pada tanggal 20-29 Agustus 1880 -- diputuskan untuk mendirikan suatu "Zendingsbond" dengan majalahnya sendiri, yang diberi nama "Opwekker". (**Namanya yang lengkap: Nederlandsch-Indische Zendingsbond.)

  2. Di Tugu.

    Juga Jemaat ini, seperti yang telah kita singgung di atas, lama sekali tidak mendapat pelayanan yang teratur. Supper, yang bekerja di Betawi dari 1814-1816, sekali-sekali mengunjungi Jemaat ini. Tetapi sesudah ia meninggal, Tugu dibiarkan lagi tanpa pelayanan. Baru pada tahun 1825 Starink, yang dahulu bekerja di Seram, diangkat oleh Pemerintah sebagai utusan-pengajar di Tugu. Usahanya untuk membangunkan kembali Jemaat "yang telah sangat rusak" itu tidak segera berhasil, karena ia hanya 3 tahun saja bekerja di situ. Penggantinya, Douwes, yang baru saja datang dari Timor, juga meninggal tidak lama kemudian daripada itu. (**Ia dikuburkan di muka gedung-gereja, berdampingan dengan Starink.)

    Sesudah Douwes pelayanan di Tugu, seperti yang telah kita dengar, ditugaskan kepada Wentink. Hasil pekerjaannya di sini juga rupanya tidak sebaik yang ia gambarkan dalam laporannya. Hal itu jelas nampak dalam tulisan Cattenburch yang menggantikannya: "Keadaan Jemaat ini sangat buruk. Tidak ada tanda-tanda (=bentuk-bentuk), bahwa di sini ada Agama Kristen: tidak ada sekolah, tidak ada Kitab Suci, tidak ada kebaktian".

    Di bawah Gonggrijp, dan terutama di bawah Beukhof (1864), pembangunannya yang dimulai oleh Cattenburch makin nampak hasilnya: kebaktian-kebaktian telah dikunjungi secara teratur, hidup kerohanian anggota-anggota Jemaat (=141 orang) telah bertambah baik, demikian pula keadaan sekolah yang ada di situ. Dalam pelayanan ini mereka dibantu oleh guru-guru pribumi: salah seorang di antaranya ialah Abrahams.

    Dalam laporan yang terakhir (1897) mengenai Jemaat ini dikatakan, bahwa keadaannya makin bertambah baik: "kebaktian-kebaktian dan katekisasi-katekisasi setia dikunjungi", perayaan perjamuan malam "dihadiri oleh semua anggota sidi". (**Coolsma, a.w., blz. 874.)

^ Ke Atas ^


Tentang Kami | Kontak Kami | Ucapan Terima Kasih | Buku Tamu | Peta Situs | Links
Disclaimer | © 2003-2014 | Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | E-mail: webmastersabda.org | Laporan Masalah/Saran

Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati