|
|
|
|
Kategori Artikel
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian-bagian dari buku :
|
- Alkitab Terjemahan dan Kanonisasi
|
|
|
|
|
|
|
|
Sejarah Alkitab di Luar Indonesia (16)
|
|
|
|
|
Home >
Artikel >
Alkitab Terjemahan dan Kanonisasi
Alkitab Terjemahan dan Kanonisasi
|
Bibliografi
|
|
Artikel ini diambil dari : Halaman 17 - 18. Alkitab, Terjemahan dan Kanonisasi - Shining Star, Tahun ke. VII/No. 73/2005
|
Mengapa Alkitab tidak dipertahankan dalam bahasa aslinya saja untuk
mengurangi kesalahan penerjemahan? Seringkali ada penerjemahan yang
kurang tepat sehingga harus melihat dulu dari bahasa aslinya baru
tahu yang dimaksud itu seperti apa. Yang jadi masalah adalah banyak
keyakinan yang timbul, yang terkadang menimbulkan kontroversi,
padahal ayat tersebut diambil dari ayat berbahasa Indonesia yang
artinya kurang begitu tepat kalau dilihat dari bahasa aslinya.
Bagaimana bila kasus seperti ini terjadi pada teman-teman seiman
yang tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa asli alkitab ?
Sebenarnya penerjemahan Alkitab direstui bahkan didorong oleh Tuhan,
Nabi, Imam, Yesus dan para Rasul, karena merupakan tradisi firman
Tuhan sendiri. Perlu diketahui bahwa bahasa lbrani berkembang, baik
kata-kata, gramatika, maupun kegunaannya, ada kalanya menjadi bahasa
`mati' (tidak digunakan dalam percakapan) dan kemudian digunakan
sebagai bahasa `hidup' (percakapan). Ketika Perjanjian Lama dalam
bahasa lbrani sudah tidak dimengerti umat, Ezra menerjemahkannya ke
dalam bahasa Aram (Targum, Neh.8:2-9), kemudian Imam Besar Eliezer
merestui dan mengirimkan penerjemah untuk menerjemahkan naskah
lbrani PL ke dalam bahasa Yunani (LXX). Ketika hari Pentakosta, Roh
Kudus sendiri menerjemahkan firman Tuhan ke banyak bahasa (Kis.2:4),
dan PB ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan lbrani. Firman Tuhan
adalah hidup dan tidak dibatasi bahasa manusia. Bila kita ingin
menghindari penerjemahan dan kembali ke bahasa Alkitab, resikonya
sama yaitu orang yang mempelajari bahasa asli Alkitab belum tentu
mengertinya sama, karena itu lebih baik, sekalipun tidak sempurna,
penerjemahan dilakukan oleh kumpulan spesialis yang ahli teologi dan
bahasa agar ada keseragaman, dan mempelajari bahasa asli dapat
merupakan penambahan pengertian yang saling melengkapi. Terjemahan
Alkitab selalu terbuka akan perbaikan untuk lebih memperjelas
artinya dan disesuaikan dengan perkembangan bahasa terjemahannya.
Kita jangan menjadikan firman Tuhan sebagai mati dalam
keterbatasanAlkitab, namun dalam keterbatasannya itu kita
menganggapnya cukup untuk membawa kita kepada iman akan Yesus yang
adalah Messias dan agar kita hidup dalam Nama-Nya (Yoh. 20:30-31).
Diluar 66 kitab, ada kitab-kitab lain yang tidak dimasukkan dalam
kanonisasi. Bagaimana proses kanonisasi tersebut dilakukan ? Apa
standar yang digunakan, sehingga bisa memilah ini kitab yang benar,
itu kitab yang salah? Apakah kanonisasi yang sekarang masih terbuka
terhadap masuknya kitab yang baru ? Misalnya nanti ada temuan
arkeologis salah satu kitab masa para rasul, lalu apakah akhirnya
kitab tersebut boleh kita tambahkan pada kanon sekarang? Mengapa
kita yang protestan tidak menerima kitab-kitab yang termasuk dalam
Deuterokanonika dalam Alkitabnya teman-teman kita yang Katolik ?
KANON ALKITAB adalah hasil proses sejarah yang disahkan melalui
konsensus para bapa gereja. Dalam hal PL, para Imam Yahudi dan
keluarga Masoretlah yang menyusun konsensus kanon lbrani di Jamna
(ca-90). Kanon Alkitab tidak dihasilkan oleh pertemuan pemimpin
agama tetapi merupakan proses sejarah yang kelihatannya dipimpin Roh
Kudus dan baru persidangan pemimpin agama mensahkannya. Demikian
juga halnya dengan proses sejarah kanon PB sampai disahkan dalam
konsensus para Bapa Gereja. Kanon sudah tertutup dan tidak perlu
ditambah lagi, dan bukan kebetulan kalau ucapan rasul Yohanes pada
Why. 22:18-21 dijadikan 'Penutup' bukan saja kitab Wahyu tetapi
seluruh Alkitab. Umat Kristen tidak menerima deuteronomika Roma
Katolik, karena kitab-kitab itu tidak diterima dalam kanon Yahudi
dan Yesus juga tidak menggunakannya sekalipun Yesus menggunakan
kitab Septuaginta (LXX) yang digunakan di Sinagoge dan oleh umat
Kristen pada abad pertama.
Ada beberapa pendapat yang dijadikan doktrin, yang menyatakan
Alkitab tidak bisa salah termasuk dalam setiap katanya. Bagaimana
menyikapinya ?
Memang dalam sejarah gereja ada pandangan yang disebut sebagai
Inerrancy (ketidak bersalahan) Alkitab, ada yang mengatakan tidak
bersalah dalam semua hal baik hal iman maupun pengetahuan, ada yang
mengatakan tidak bersalah dalam hal-hal iman sekalipun bisa bersalah
dalam hal-hal non-iman, bahkan ada yang mengatakan ketidak
bersalahan itu pada setiap kata-katanya, dan ada yang menambahkan
setidak-tidaknya dalam bahasa aslinya. Bila kita menghayati hakekat
Alkitab sebagai firman Allah (yang tidak terbatas) yang diilhamkan
kepada manusia (yang terbatas), maka kita tidak perlu mengikat
firman Allah yang kekal dengan Alkitab yang terbatas, namun kita
juga jangan lari kepada ekstrim lain seakan-akan firman Allah bisa
juga dijumpai di luar Alkitab. Alkitab sudah cukup namun harus
disadari keterbatasannya sebagai karya sastra manusiawi yang ingin
mengungkapkan kebenaran Allah yang tidak terbatas itu, itulah
sebabnya kita perlu mempejari teologi agar makin mengerti akan
kebenaran Allah yang tidak terbatas di balik keterbatasan manusia
itu. Membatasi firman Allah sebagai 'tidak bersalah setiap kata-
katanya baik dalam hal iman maupun pengetahuan' merupakan tindakan
gegabah karena kekurang pengertian akan hakekat ilham ilahi.
Demikian juga doktrin yang menyebutkan seakan-akan 'Alkitab benar
setiap kata-katanya dalam bahasa aslinya' itu sama halnya dengan
mengakui bahwa terjemahan itu ada salahnya, padahal selama ini
gereja dan umat Kristen bertumbuh diatas dasar Alkitab terjemahan!
|
|