|
|
|
|
Kategori Artikel
|
|
|
|
|
|
|
|
- Alkitab di Tanah Hindia Belanda
|
|
|
|
|
|
|
|
Sejarah Alkitab di Indonesia (32)
|
|
|
|
|
Home >
Artikel >
Alkitab di Tanah Hindia Belanda
Alkitab di Tanah Hindia Belanda
Mungkin adalah berita baru bagi para pembaca bahwa terjemahan bagian
Alkitab pertama dalam bahasa non-Eropa yang digunakan untuk
penginjilan adalah Injil Matius dalam bahasa Melayu tingkat tinggi,
yang terbit sekitar tahun 1629. Versi tersebut diterjemahkan oleh
Albert Cornelisson Ruyl atau Ruil. Sayang sekali, tidak ada sumber-sumber
yang menceritakan tentang penerjemah tersebut. Namun ada
kemungkinan bahwa dia adalah pegawai United East India Company pada
waktu itu. Kitab tersebut diterbitkan oleh Jan Jacobsz Palenstsyn,
di Enckhuysen, berisi Injil dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu
yang diletakkan sejajar/berdampingan. Kolom sebelah kiri adalah
Injil dalam bahasa Belanda yang ditulis dengan huruf hitam,
sedangkan di sebelah kanan adalah Injil dalam bahasa Melayu yang
ditulis dengan huruf roman.
Fakta lain yang menarik dari penerjemahan Alkitab ini adalah biaya
penerbitannya yang ditanggung oleh United East India Company, sama
seperti semua edisi awal yang diterbitkan dalam bahasa Melayu.
Injil-injil lainnya dan Kisah Para Rasul selesai diterjemahkan pada tahun
1051, Injil Lukas dan Injil Yohanes diterjemahkan oleh Jan van Hazel
atau Hazel, Direktur United East India Company yang pernah belajar
bahasa Melayu ketika ia tinggal di Timur. Versinya disiapkan untuk
dicetak oleh Justus Heurnius, seorang menteri Belanda yang kemudian
menerjemahkan Kisah Para Rasul. Psalter diterjemahkan tahun 1652,
dan Perjanjian Baru, versi terbaru karya Daniel Brouwerius, pada
tahun 1668. Semua kitab tersebut berisi teks dalam bahasa Belanda
yang diletakkan bersebelahan dengan teks dalam bahasa Melayu. Injil
dan Kisah Para Rasul dalam versi tersebut dicetak ulang di Oxford 9
tahun kemudian atas biaya Yang Mulia Robert Boyle, salah seorang
anggota Komite East India Company dan direktur Society for the
Propagation of The Gospel yang telah menerbitkan kitab Perjanjian
Baru versi Massachussetts tahun 1661 dan Alkitab tahun 1663, yang
disiapkan oleh John Eliot.
Tahun 1731, versi lain dari Perjanjian Baru dipersiapkan, sebagian
besar oleh Melchior Leidekker dengan bantuan orang-orang Melayu asli
yang berpendidikan. Alkitab terjemahan ini muncul dua tahun kemudian
dan dicetak dengan huruf roman. Tetapi di tahun 1758, berdasarkan
petunjuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alkitab diterbitkan dalam
huruf Arab, karena hanya sedikit penduduk Melayu yang dapat membaca
huruf selain huruf Arab.
Awal abad 19, the British and Foreign Bible Society telah
didirikan, dan beberapa tahun kemudian telah membentuk Auxiliary
Bible Society di banyak tempat di dunia. Di Calcuta khususnya,
sangat bersemangat; dan pada tahun 1814 lembaga ini mencetak satu
edisi yang terdiri dari 3.000 kopi Perjanjian Baru berbahasa Melayu
di Serampore.
* Penjelasan lebih jauh mengenai kemampuan baca dari beragam tingkat
populasi dan wilayah administratif dapat ditemukan di halaman 95
Indisch Verslag tahun 1932 di Statistich Faaroversicht van
Nederlands Indie over het Faar 1931.
Dan meneruskannya ke Amboina. Teks ini sama dengan teks pada tahun
1731. Pada tahun 1815 dipesan satu edisi Alkitab yang terdiri dari
5.000 kopi dan cetakan berikutnya dari Perjanjian Baru yang terdiri
dari 3.000 lebih.
Pada tahun 1820, the Netherlands Bible Society mempublikasikan satu
edisi dari Perjanjian Baru yang sama dalam naskah berbahasa Arab.
Ini diikuti oleh Alkitab dalam naskah yang sama pada tahun 1824,
British and Foreign Bible society telah mencetak kedua edisi ini
baik dalam bahasa Arab dan maupun dalam huruf Romawi tiga tahun
lebih awal.
Mulai saat ini, terasa bahwa teks dalam versi ini memerlukan adanya
satu revisi, dan Robert Burn, seorang pendeta Anglikan di Singapura,
dengan Claudius H. Thompson dari London Missionary Society mengambil
alih tugas ini. The British and Foreign Bible Society pada tahun
1831 menerbitkan hasil kerja mereka pada Perjanjian Baru. Tetapi
para misionaris tidak puas dengan revisi ini, dan pada tahun 1853,
satu usaha baru dibuat untuk memperbaiki teksnya. Orang utama yang
bertugas memperbaiki adalah B.P. Keasberry, dari the London
Missionary Society. Perjanjian Baru, dalam bentuk ini dikeluarkan di
Singapura, baik dalam huruf Arab maupun dalam huruf Roman. Kemudian
H.C. Klinkert, seorang misionaris di Jawa, mulai satu revisi dari
Alkitab, yang lengkap pada tahun 1879 dan telah melewati beberapa
edisi.
The National Bible Society dari Skotlandia, pada tahun 1877, juga
menerbitkan 1000 kopi dari versi independent mengenai Perjanjian
Baru yang dipersiapkan oleh B.N.J. Roskot dari Amboina, yang dia
anggap "satu-satunya versi yang tidak pernah dipersiapkan dalam
dialek Melayu dimana ini tertulis." Tidak nampak adanya edisi lebih
lanjut dari terbitan penerjemahan Roskott yang diterbitkan sampai
20.000 kopi dari versi Injil Yohanesnya yang dicetak ulang pada
tahun 1931 oleh the Scripture Gift Mission dan the National Bible
Society dari Skotlandia.
Pada tahun 1890 satu komite yang terdiri dari Bishop Hose of
Singapore, W.H. Shellabear, seorang pemimpin dari Royal Enginers,
yang selanjutnya ditahbiskan dan bergabung dengan the American
Methodist Episcopal Mission, diatur untuk mempersiapkan satu
terjemahan yang baru. Mr. Shellaber (Selanjutnya bergelar Rev. Prof.
W.G. Shellabear, D.D. dari Hartford Theological Seminary) dibiayai
oleh the British and Foreign Bible Society untuk bertindak sebagai
perevisi utama. Versi dari Alkitab bahasa Melayu lengkap pada tahun
1912, dan telah memiliki sirkulasi luas, khususnya dalam kerja
penyaluran. Selama beberapa tahun terakhir komite yang lain
menyajikan *chas* telah dipertalikan dalam mempersiapkan satu Union
Version berdasar terjemahan Klinkert dan Shellabear.
Dalam bahasa Melayu rendahan, yang bentuk bahasanya setara dengan
Jawa, sunda dan kata asing dan idiom-idiom, seorang misionaris dari
the Baptist Missionary Society memiliki Injil yang telah dicetak
sejak tahun 1835. Teks ini diadaptasi dari bahasa Melayu tinggi oleh
orang-orang Kristen di Surabaya dan diedit oleh seorang misionaris
dari the London Missionary Society. Ini menarik untuk mencatat bahwa
Alkitab ini dicetak di Batavia, atas ekpansi petobat-petobat
Surabaya ini. H. C. Klinkert, yang namanya baru saja disebutkan dalam
hubungan dengan Alkitab dalam bahasa Melayu tinggi, menyiapkan
terjemahan segar dari Perjanjian Baru dalam dialek Melayu rendah
pada tahun 1863.
Ada bentuk ketiga terjemahan Melayu yang ditemukan berguna untuk
Alkitab. Ini dikenal dengan Melayu Baba, logat bicara di
perkampungan pecinan yang dipakai oleh orang Cina dan keturunan
Cina. Kitab pertama yang dipublikasikan adalah Injil Matius, yang
diterjemahkan oleh Miss M. Macmahon, dari gereja Presbiterian dari
Misi Inggris di Singapura. Kitab ini dicetak pada tahun 1891.
Beberapa saat kemudian Dr. Shellabear telah menyiapkan terjemahan
seluruh Perjanjian Baru. Yang pertama kali dipublikasikan pada tahun
1913, dan telah menjadi sangat laris. Huruf digunakan adalah huruf
roman, tetapi orthografi yang digunakan dalam Melayu Peninsula
berbeda dengan yang digunakan oleh Belanda, kitab diterbitkan dalam
kedua bentuk dialek.
Dalam bahasa Batta atau Batak, bahasa utama di Sumatra, dialek Batak
Toba memiliki terjemahan Alkitab yang lengkap, dialek ini dipakai
di bagian barat pulau Sumatra dan Perjanjian Baru dan Mazmur
tersedia dalam dialek Angkola-Mandailing yang dipakai di daerah
selatan. The Netherlads Bible Society mulai menerjemahkan dalam
dialek Batak Toba pada tahun 1853. Selanjutnya pada tahun 1867 kitab
Kejadian, Keluaran, Injil dan Kisah Para Rasul dipublikasikan.
Selanjutnya pada tahun 1877, J.C. Nomensen dari the Rhenish
Missionary Society, yang masuk ke daerah ini pada tahun 1861,
memulai satu versi yang segar yang dipublikasikan oleh the British
and Foreign Bible Society, Perjanjian Baru muncul dalam huruf Batta
yang aneh pada tahun 1878, dan huruf Roman pada tahun 1885.
Perjanjian Baru dalam huruf Roman dipublikasikan pada tahun 1894.
Dalam dialek Angkola-Mandailing, penerjemahnya adalah Pendeta A.
Schreiber dan C. Leipoldt, keduanya dari the Rhenish Missionary
Society. Mereka mulai menerjemahkan Injil Lukas pada tahun 1873.
Tiga Injil dipublikasikan dalam huruf Batta, tetapi sekarang lebih
disukai dalam huruf Roman, dimana Perjanjian Baru dan Mazmur
diterbitkan.
Dialek ketiga Batak yaitu Batak Karo, memiliki Perjanjian Baru yang
diterjemahkan oleh Pendeta J.H. Neumann dari the Rhenish Missionary
Society pada tahun 1928. Ini dipublikasikan oleh the Netherlands
Bible Society. Dia mulai dengan menerbitkan kitab Matius pada tahin
1910.
Bahasa Nias dipakai di pulau Nias, di Batoe dan pulau lain dan
Pantai Utara Sumatera. Perjanjian Baru dan Mazmur telah
dipublikasikan dalam bahasa ini. Permulaan penerjemahan Alkitab di
Nias dibuat oleh Pendeta E. Denniger dari the Rhenish Missionary
Society, yang menyiapkan satu versi dari Injil Lukas pada tahun
1874. Ini dipublikasikan oleh the British and Foreign Bible Society.
Selanjutnya the Netherlands Bible Society mengambil alih tugas ini.
Misionaris lain dari the Rhenish Society, Pendeta H. Sundermann,
melengkapi Perjanjian Baru pada tahun 1892. Ini diikuti oleh the
Psalter pada tahun 1903.
Bahasa Sunda dipakai di Jawa Barat, berbeda bentuk dengan bahasa
Jawa dan Melayu. Alkitab dicetak dalam huruf roman. Penerjemah
pertama adalah Pendeta J. Esser, seorang misionaris Belanda yang
memproduksi satu versi Injil Matius pada tahun 1854, yang dicetak
secara mandiri. Pada tahun 1886, Injil Lukas diterjemahkan oleh
Pendeta G.J. Grashuis dari the Netherlands Missionary Union,
dipublikasikan oleh the British and Foreign Bible Society. Dalam
laporan dari the National Bible Society of Scotland disebutkan bahwa
masyarakat Skotlandia menyumbang " *50 pada the Secretary of the
Netherlands Missionary Union melalui pencetakan satu Alkitab dalam
bahasa ini." Pada tahun 1877 Perjanjian Baru diterjemahkan oleh
Pendeta S. Coolsma dipublikasikan oleh the Netherlands Bible
Society. Ini diikuti dengan Alkitab pada tahun 1891. Semua ini dalam
huruf Roman. Injil Lukas, Injil Yohanes, dan Kisah Para Rasul di
terjemahkan dari versi Coolsma ke dalam naskah Arab dan
di publikasikan tahun 1871.
Dalam bahasa yang digunakan di pulau Mentawai, yang terletak di
pantai barat Sumatra, Injil Markus diterjemahkan oleh Pendeta A.
Lett dari the Rhenish Missionary Society, dipublikasikan tahun 1911
oleh the Netherlands Bible Society.
Bahasa Jawa dipakai oleh kurang lebih dua per tiga penduduk Jawa.
Bahasa jawa ini memiliki hurufnya sendiri, yang diadaptasi dari
huruf Devanagari, dan kebanyakan Kitab Suci dipublikasikan dalam
bentuk huruf ini, meskipun sedikit diantaranya diterbitkan dalam
huruf Arab. (Biasa dikenal di Jawa sebagai huruf Pegon), dan
Perjanjian Baru diterbitkan dalam huruf roman pada tahun 1911. Kitab
Suci pertama kali adalah Perjanjian Baru, yang diterjemahkan oleh
Gottlob Bruckner, seorang misionaris dari Baptist missionary of
Semerang. Versi ini dicetak pada tahun 1829 di Serampore. The
British and Foreign Bible Society memberikan penerjemah (*L*) 500
untuk 1.000 kopi. Pada tahun 1841, J.F.C. Gericke, seorang agen dari
the Netherlands Bible Society, memulai satu versi yang baru,
melengkapi Perjanjian Baru pada tahun 1852 dan Alkitab pada tahun
1854. Ini dipublikasikan oleh the Netherlands Bible Society. Pada
tahun 1886 P. Janz dari the Mennonite Missionary Union mulai satu
penerjemahan terbaru. Dia menyelesaikan Perjanjian Baru pada tahun
1897 dan Alkitab pada tahun 1906.
Versi terjemahan dalam huruf Arab (Pegon) yang paling awal adalah
Injil Lukas yang diterjemahkan oleh seorang penduduk pribumi dan
dipublikasikan pada tahun 1893 oleh the British and Foreign Bible
Society. Tiga tahun kemudian P. Penninga, seorang sub agen dari the
British and Foreign Bible Society menyiapkan edisi terbaru dan
selanjutnya menambah Injil yang lain dan Kisah Para Rasul.
Di pulau Madura, Injil dan Kisah Para Rasul tersedia, yang
diterjemahkan oleh J.P. Esser, seorang Misionaris Belanda, dan
dipublikasikan dalam huruf Jawa oleh the Netherlands Bible Society
pada tahun 1890. The National Bible Society of Scotland melaporkan
telah menyumbang (*L*) 30 bagi Mr. Esser untuk tugasnya. Empat belas
tahun kemudian terjemahan baru dari Injil Likas dan Filipi dalam
huruf Roman ditambahkan.
Pada tahun 1910 Injil Lukas diterjemahkan ke dalam bahasa Bali oleh
seorang pangeran Bali bernama Goesti Djilantik. Kitab ini
dipublikasikan oleh the British and Foreign Bible Society dan
disirkulasikan oleh penyalur. Permintaan mengenai versi terjemahan
baru meningkat dalam hubungannya dengan pertobatan orang Kristen dan
Missionary Alliance di Bali.
Di pulau Roti dan pulau-pulau yang berdekatan dengan Timor, secara
praktis menggunakan bahasa yang sama. J. Fanggidaej, kepala sekolah
dari satu sekolah pribumi, membuat satu terjemahan dari Injil Lukas
yang dipublikasikan oleh the Netherlands Bible Society pada tahun
1895.
D.K. Wielenga dari the Reformed Churches Mission menerjemahkan satu
Sejarah Alkitab** ke dalam bahasa Sumba. Buku berbahasa Sumba ini
dipublikasikan oleh Skotlandia yang melaporkan bahwa sirkulasi 1.500
bagian dalam bahasa Melayu dan China di pulau Sumba, selama tahun
1934 oleh penyalur mereka "Franciscus".
**) Nama "Sejarah Alkitab" terjadi beberapa kali dalam daftar
publikasi ini. Buku dengan judul ini berisi cerita dari Alkitab.
Meskipun bahasa Dayak merupakan bahasa utama di wilayah Borneo
Belanda (sekarang Kalimantan), ada beberapa dialek yang memiliki
porsi sama dari Kitab suci yang dipublikasikan. E. Denninger dari
the Rhenish Missionary Society mempublikasikan Injil dengan dialek
Sihong dari Borneo Selatan jauh sebelumnya pada tahun 1858, namun
tak ada Kitab Suci yang diterjemahkan lagi setelahnya. Dalam dialek
Manyan, dialek lain dari Borneo Belanda, satu buku berisi
cerita-cerita Alkitab dipublikasikan oleh the Rhenish missionaries di
Banjarmasin pada tahun 1907.
Bahasa Dayak muncul dalam tiga dialek menurut daftar milik the Bible
Society; dialek Ngaju dipakai di daerah tenggara Borneo Belanda;
dialek Sea Dayak (Dayak Laut) dipakai di daerah Sarawak, dan dialek
Land Dayak (Dayak darat) atau Beta dipakai di daerah Sarawak.
Perjanjian Baru diterjemahkan oleh J.F. Becker dan A. Hardeland of
the Rhenish Missionary Society, dipublikasikan dalam dialek Ngaju
pada tahun 1846, buku Sejarah Alkitab diterbitkan empat tahun
sebelumnya. Alkitab diterjemahkan oleh Hardeland dan seorang Dayak
pribumi yang bernama Timothy Marat dipublikasikan oleh the
Netherlands Bible Society pada tahun 1858. Banyak misionaris dari
Society for the Propagation of the Gospel mungkin lebih aktif dalam
penerjemahan alkitab baik Land Dayak dan Sea Dayak; memproduksi
versi-versi Injil dari tiga dialek awal, dan seluruh Perjanjian Baru
pada dialek berikutnya. Kitab ini dipakai secara ektensif dengan
penyalur British and Foreign Bible Society.
Di Siaow dan Tagulandang, kepulauan Sanghi, misionaris Moravian
telah bekerja selama setengah abad. W. Canton, ahli sejarah dari the
Bible Society memberikan gambaran secara grafis masa awal hari itu,
ketika F. Kelling, pionirnya, meskipun mengkapling tanah dari
Mohammedan Rajah, membangun satu rumah dan gereja di pantai selatan
menghadap gunung berapi Ruang. Di tengah-tengah pertentangan melawan
dia, gunung Ruang meletus, menyemburkan api dan orang-orang
berkerumun di gereja "melihat kerucut gunung meledak menuju selat.
Satu gelombang raksasa bergulung menuju pantai membagi bagian depan
gereja dan menyapu pada sisi lain dengan satu rongsokan liar yang
terdiri dari peralatan memancing, pondok dan manusia-manusia yang
terhanyut!". Pada tahun 1880 seperdelapan populasi dari 80.000 orang
telah dibaptis. Para misionaris mempublikasikan pilihan pada tahun
1872. Selanjutnya Injil Lukas diterbitkan oleh the National Bible
Society of Scotland dan pada tahun 1883 Perjanjian Baru oleh the
British and Foreign Bible Society. Kitab ini diterjemahkan oleh F.
Kelling, yang anaknya melihat satu revisi dari bekas tugas ayahnya
melalui cetakan pada tahun 1901. Kitab-kitab ini semua dalam bentuk
Siaow dari Sanghi. Dialek lain, dikenal sebagai Great Sanghi,
memiliki Injil dan Kisah Para Rasul yang diterjemahkan oleh Clara
Steller, dan dipublikasikan oleh the Netherlands Bible Society dari
tahun 1890-96.
Di Celebes utara, ada beberapa dialek. Dalam dialek Alfuor, dipakai
oleh orang Amoerang, Injil Matius dipublikasikan oleh the
Netherlands Missionary Society pada tahun 1852, tapi tidak ada kitab
lain yang diterbitkan lebih lanjut. Dalam dialek Tontembo'a, dialek
Alfuor lain, satu Sejarah Alkitab diterjemahkan oleh N. Adriani dari
the Netherlands Bible Society, diterbitkan tahun 1907. N. Adriani
juga membuat satu versi dari Injil Lukas dan Kisah Para Rasul dalam
dialek Bare'e, yang dipakai di Celebes tengah. Kitab ini
dipublikasikan oleh the Netherlands Bible Society pada tahun 1913
and 1926 secara berturut-turut. Perjanjian Baru dalam dialek ini
lengkap pada tahun 1933 oleh N.Adriani dan R.C. Kruijt. Mereka
dibantu dibantu oleh Ny. Adriani dan S.J. Esser.
Bahasa utama di Celebes adalah bahasa Bugis, dimana B.F. Matthews,
seorang agen the Netherlands Bible Society menerjemahkan Injil
Matius ke dalam bahasa Bugis pada tahun 1863. Perjanjian Baru
diterjemahkan dengan lengkap pada tahun 1888, dan Perjanjian Lama
tiga belas tahun kemudian. Penerjemah yang sama juga membuat satu
versi dari dialek Boble di Makassar, satu dialek yang dipakai di
pulau bagian Selatan. Keduanya menggunakan huruf yang sama. Dia
dengan jelas bekerja dalam dua bahasa secara simultan, untuk
Makassar, Injil Matius muncul pada tahun 1864, Perjanjian baru tahun
1888, dan Perjanjian Lama pada tahun 1900.
Di Celebes tengah, satu dialek yang disebut Mori memiliki Cerita
Perjanjian Baru yang diterjemahkan oleh pendeta J. Kruyt pada tahun
1922; dialek lain adalah Bada, memiliki satu booklet mengenai cerita
Alkitab yang disiapkan oleh Jac. Woensdregt pada tahun 1923. Dalam
dialek Ta'e yang dipakai di Celebes Barat Daya, satu buku yang
berisi cerita Perjanjian Baru diterjemahkan oleh J. Sampe Toding,
dipublikasikan pada tahun 1923. Dialek Tombulu, dari bahasa
Indonesia yang dipakai di Minahasa, Celebes Utara, memiliki Injil
Matius, yang diterjemahkan oleh B. Tular, seorang guru pribumi,
dipublikasikan tahun 1933 the Netherlands Bible Society. Di
kepulauan Halmahera, beberapa dialek lokal memiliki beberapa inti
dari Kitab Suci: dialek Tabaru di bagian Utara memiliki satu Sejarah
Alkitab yang diterjemahkan oleh Pendeta J. Fortgens dari the Utrecht
Missionary Union; dialek Tobelor memiliki buku yang mirip yang
diterjemahkan oleh pendeta A. Hueting dari agen misi yang sama pada
tahun 1905; dialek Galela memiliki satu Sejarah Alkitab yang
diterjemahkan oleh M.J Van Baarda dari agen misi yang sama ada tahun
1889. Dialek Loda di kepulauan Moluca memiliki Injil Matius yang
diterjemahkan oelh J. Metz pada tahun 1913. Semua ini dipublikasikan
oleh the Netherlands Bible Society.
Di antara orang-orang yang bekerja untuk meletakkan Injil dalam
usaha menjangkau penduduk dari pulau yang tersebar, penghormatan
harus dibuat bagi sekretaris the Bible Society, asisten sekretaris,
penyalur dan wanita-wanita Alkitab. The Netherlands Bible Society
menemukan banyak penerjemah berbakat di antara mereka yang dikirim
bagi tugas ini, B.F. Matthes, yang menerjemahkan dua Alkitab dalam
dua bahasa, Bugis dan Makassar; J.F.C. Gericke, yang menerjemahkan
Alkitab ke dalam bahasa Jawa; s. Coolsma, yang membuat versi dari
Perjanjian Baru dalam bahasa Sunda; Clara Steller yang menerjemahkan
Injil dan Kisah Para Rasul dalam bahasa bahasa Great Sanghi (Sanghi
Besar), dan banyak lagi. The British and Foreign Bible Society
memiliki spesialisasi lebih dalam distribusi Alkitab. Orang-orang
seperti Haffenden, Tisdall, Purdy, Williams, Penninga, dan penyalur
pribumi, melakukan perjalanan ribuan mil, memikul penderitaan
melalui darat dan laut dalam usaha agar Kitab Suci tersedia di
kepulauan ini.
Sirkulasi Kitab Suci di the Netherlands Indies merupakan masalah
besar. The Netherlands Bible Society berkonsentrasi untuk mensuplai
misi Belanda. The British and Foreign Bible Society melakukan segala
usaha untuk menjangkau diluar agen ini. Ini mempekerjakan 38
penyalur pada tahun 1933. Ini mulai bekerja pada tahun 1814, dan
agennya termasuk Perkampungan Pecinan, Melayu Peninsula, Borneo
(Kalimantan), Sumatra, Jawa, Celebes (Sulawesi), kepulauan Belanda
dan Portugis dan Papua Nugini. Sungguh mustahil untuk memberikan
figur dari sirkulasi di tanah Hindia Belanda itu sendiri. Lebih
lanjut, permintaan di Melayu, 21.312 pada tahun 1933, tidak
membatasi bagi Melayu Peninsula. Membuat semua penghargaan ini kami
menemukan bahwa sirkulasi menajdi menurun selama tiga tahun
terakhir, yaitu 1931: 223.606, 1932: 206.577, 1933: 178.277.
Keseluruhan sirkulasi oleh the British and Foreign Bible Society
sendiri sampai tahun 1933 (figur dari the Netherlands Bible Society
dan the National Bible Society of Scotland tidak tersedia) dalam
bahasa-bahasa di tanah Hindia Belanda yang disebutkan dalam bab ini
adalah:
| Bahasa | Alkitab | PB | Per Bagian | Total |
| Melayu | 25,140 | 64,483 | 962,815 | 1,052,438 |
| Batta | 6,000 | 42,867 | 55,353 | 104,220 |
| Nias | - | - | 1,010 | 1,010 |
| Sunda | 99 | 250 | 14,047 | 14,396 |
| Jawa | 8,008 | 91,3210 | 1,285,923 | 1,385,252 |
| Madura | - | 15 | 4,985 | 5,000 |
| Bali | - | - | 8,000 | 8,000 |
| Dayak | - | 1,500 | 10,000 | 11,500 |
| Sanghi | - | 8,112 | 14,530 | 22,642 |
| Makassar | - | - | 5,685 | 5,685 |
| Bugis | - | - | 11,096 | 11,096 |
Catatan :
-- Untuk lampiran/artikel, pengucapan dari nama yang sebenarnya telah
disesuaikan pada penggunaan pada awal halaman survey ini.
Ini merupakan ragam dari penggunaan daftar dari the British and
Foreign Bible Society, misalnya Amboina nampak sebagai Amboyna;
Soerabaja, Soerabaya, Soembanese, Sumbanese, Dayak, Dyak; Sanghi
Sangir; Makassar, Macassar.
|
|