Downloads

PDF-PDF ini rata-rata berukuran besar (1MB) dan beberapa browser mungkin akan kesulitan membukanya.

Tell The Truth -- Beritakan Kebenaran

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Tulisan yang saya kirimkan di bawah ini sebenarnya hanyalah sebuah bab pendahuluan dari sebuah buku yang berjudul "Tell The Truth -- Beritakan Kebenaran", yang ditulis oleh Will Metzger.

Saya ingin membagikan tulisan yang berisi pendahuluan ini karena saya sangat terkesan dengan isinya. Kalau Anda teliti, hampir pada setiap paragraf selalu terselip pertanyaan, bahkan ada paragraf yang isinya hanya pertanyaan. Lah, apa menariknya membaca tulisan yang berisi pertanyaan? Bukankah lebih berguna kalau membaca artikel yang berisi banyak pengetahuan dan penjelasan daripada pertanyaan? Membaca tulisan yang berisi informasi atau pengetahuan hanya akan membuat kita menjadi "passive recipient" (penerima pasif). Tapi membaca tulisan yang berisi banyak pertanyaan, kalau kita tertantang untuk menjawabnya, maka tulisan itu akan membuat kita menjadi "active participant" (peserta aktif). Hasilnya, kita dapat menggali lebih banyak dan belajar lebih banyak. Pertanyaan yang bermutu akan menggelitik kita untuk berpikir secara aktif dan mencari solusi masalah secara efektif.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penulis buku tersebut berkisar pada masalah penginjilan. Percayakah Anda bahwa sebenarnya ada lebih banyak pertanyaan tentang penginjilan daripada nasihat tentang bagaimana melakukan penginjilan dengan baik. Itu sebabnya ada banyak alasan orang tidak melakukan penginjilan. Jika pertanyaan-pertanyaan itu Anda renungkan dengan baik, mungkin kita akan menemukan pemecahan kesulitan dan ketidakberesan dari cara kita menginjili sehingga menghasilkan cara dan motivasi penginjilan yang alkitabiah.

Perhatikan salah satu paragraf yang berisi bayak pertanyaan seperti ini.

"Banyak ketidakpastian yang mengusik pikiran saya. Mungkinkah seseorang termotivasi untuk bersaksi, tetapi akhirnya mempermalukan Tuhan dan salah menyampaikan berita-Nya karena ketidaktahuan atau manipulasi? Apakah saya termotivasi oleh rasa bersalah atau oleh harapan orang lain? Apakah saya berusaha mencari dalih atas minimnya semangat saya dan ketidaksuksesan saya? Mengapa saya hendak membatasi pekerjaan Tuhan melalui diri saya hanya sejauh kalangan "teman-teman" dan "undangan ke pertemuan"? Bagaimana dapat saya pungkiri bahwa oleh penentuan Allah saya dipertemukan dengan orang-orang tertentu, sekalipun hanya untuk beberapa menit?"

Bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan -- atau lebih baik kalau saya ganti dengan kata pergumulan -- yang penulis ajukan ini? Belum lagi pertanyaan yang berkaitan dengan masalah teologi, ada banyak penginjilan yang sukses tapi karena tidak mengutamakan pengajaran yang benar maka akhirnya justru membuat kekristenan menjadi lemah (tidak ada mutunya) dan menghasilkan petobat-petobat "palsu". Jadi, ternyata menginjili tidak sesederhana yang kita pikirkan, bukan? Itu sebabnya hanya sedikit orang yang mau menginjili, padahal panggilan Allah untuk orang yang sudah percaya dan menerima Kristus hanya satu, "pergilah dan beritakanlah Injil."

Melalui bab pendahuluan ini, pembaca bisa memiliki gambaran besar isi bukunya. Dengan membaca bab pendahuluan ini, saya berharap Anda akan terdorong untuk memiliki kerinduan menjadi penginjil yang memberitakan kebenaran. Sekarang Anda pasti menjadi semakin penasaran untuk mengetahui keseluruhan isi buku tersebut, bukan? Karena itu, Anda harus membeli buku ini. Silakan menghubungi toko buku Kristen terdekat untuk mendapatkan keseluruhan buku. Saya jamin Anda tidak akan rugi.

Selamat merenungkan.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >
< http://soteri.sabda.org/>
< http://fb.sabda.org/reformed >

Penulis: 
Will Metzger
Edisi: 
116/XI/2009
Tanggal: 
1-1-2010
Isi: 
P E N D A H U L U A N

PERNAHKAH ANDA MENEMUI JALAN BUNTU dalam penginjilan? Apakah Anda merasa terjepit di antara dua alternatif yang keduanya tidak mungkin dilaksanakan dan tidak dapat menemukan jalan keluar? Di satu sisi Anda melihat orang-orang Kristen yang sanggup bergaul akrab dengan banyak orang tetapi tidak banyak menceritakan tentang Yesus Kristus. Di sisi lain ada orang-orang yang senantiasa "memberitakan Injil" tetapi tampaknya tidak mengerti apa-apa tentang persahabatan yang sejati. Kedua ekstrem di kalangan Kristen ini benar-benar menimbulkan frustrasi.

Buku ini bertujuan menolong Anda dalam "memperlihatkan dan menyampaikan" Injil dalam cara yang mempermuliakan Allah, bermanfaat bagi orang lain, dan melegakan bagi Anda sendiri. Ini bukan rencana untuk memaksa orang, juga bukan anjuran untuk sekadar menjadi orang baik dan menunggu orang lain datang kepada Anda seandainya mereka ingin berbicara tentang perkara-perkara rohani. Namun, tujuannya adalah membantu Anda menemukan kembali inti teologis dari Injil sebab hanya bila persepsi Anda tentang anugerah Allah yang aktif dalam keselamatan berubah, barulah Anda akan sanggup menemukan keyakinan, sukacita, dan rasa syukur untuk mendukung gaya hidup Injili yang baru.

Seperti Apakah Model yang Alkitabiah?

Saya termasuk kelompok orang Kristen yang percaya pada penginjilan berdasarkan persahabatan, tetapi saya mendapati bahwa ternyata yang terwujud hanya persahabatan dan sedikit sekali penginjilan. Motivasi bukan masalah bagi saya. Saya telah mengalami pertobatan dan hidup baru dalam Kristus semasa saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dan Yesus Kristus sungguh nyata bagi saya. Saya memiliki kerinduan yang kuat untuk menceritakan pada orang lain mengenai Dia, tetapi kebanyakan sosok panutan yang saya ikuti cenderung berada pada salah satu dari kedua ekstrem yang saya singgung di atas. Juga banyak kendala lain: pengetahuan Alkitab saya kurang, kepribadian saya kurang dewasa, karena saya masih cenderung menganggap Tuhan ada hanya untuk menguntungkan diri saya sendiri dan merasa takut ditolak. Dengan segala kekurangan ini, saya memulai perjalanan rohani pribadi untuk berusaha menjadi saksi Kristus.

Awalnya, bersaksi tampaknya begitu sederhana. Saya tahu beritanya dan tahu siapa yang membutuhkan. Apa yang membingungkan atau menyulitkan di sini? Tak lama kemudian saya mengetahuinya. Saya tidak memunyai konsep yang jelas mengenai isi Injil. Karena itu, kehidupan Kristen saya tetap kerdil dan kemampuan saya untuk membawa orang-orang yang belum percaya kepada Kristus terhambat.

Kemudian saya dihujani serentetan nasihat. Ada yang memberi tahu bahwa saya harus bersaksi dengan menyenangkan orang lain, mengajak teman- teman sekolah saya untuk berkumpul dan bersenang-senang di gereja atau di lingkungan yang netral seperti rumah. Lalu malamnya akan diakhiri dengan pembicaraan yang menggugah hati. Kedengarannya mudah. Orang lain akan menyampaikan Injil bagi saya.

Di perguruan tinggi, saya berjumpa dengan orang-orang Kristen yang menganjurkan pendekatan yang lebih langsung: saya harus mengundang semua orang untuk menghadiri suatu kelompok kecil pemahaman Alkitab atau suatu pertemuan di lingkungan yang "netral" dengan pembicaranya seorang awam. Orang-orang yang belum percaya harus dikonfrontasi secara langsung dengan Kitab Suci. Ah, demikian pikir saya, ini kedengarannya masuk akal. Mungkin pendekatan ini yang harus saya ambil. Namun rasanya cara ini tidak bersahabat dan mengandung unsur manipulasi. Saya mendambakan metode penginjilan yang efektif. Ada banyak sekali seminar-seminar pelatihan dan buku-buku panduan mengenai hal ini.

Setelah ini, saya semakin bingung karena berjumpa dengan orang-orang Kristen lain yang menyarankan untuk menginjili menurut pola apostolik: yakni dengan mengajak teman-teman saya mendengarkan pembicara- pembicara yang berbakat di gereja atau di pertemuan khusus. Namun dengan cara demikian, saya tetap mengandalkan orang lain untuk bersaksi.

Kemudian saya seakan-akan tersentak bangun. Saya menyadari bahwa saya yang harus bersaksi, bukan sekadar membawa orang-orang kepada orang lain yang akan bersaksi bagi saya. Saya yakin akan kewajiban saya, tetapi karena merasa takut, maka saya mencari pertolongan. Lagi-lagi saya bertemu orang-orang Kristen yang sangat bersemangat dan memaparkan pada saya serangkaian gagasan dan teknik baru untuk penginjilan pribadi. Saya terdorong oleh rasa tanggung jawab yang besar dan rasa bersalah yang semakin kuat karena saya diyakinkan bahwa saya tidak rohani -- atau setidaknya, tidak setia -- jika saya tidak pernah "membawa seseorang pada Kristus". Maka saya dengan serta-merta mempraktikkan beragam cara bersaksi itu. Pendekatan ini memang membuat saya menyampaikan kebenaran pada orang lain. Namun kriteria suksesnya bagaikan permainan bilangan: menghitung jumlah orang yang berdoa, yang mengangkat tangan, atau yang mengisi formulir.

Saya merasa gagal. Saya telah mengawali dengan keragu-raguan perihal teknik-teknik licin yang dianjurkan oleh beberapa penginjil yang "sukses". Pada akhirnya, saya tetap ragu-ragu apakah cara-cara ini sesuai dengan Kitab Suci. Keprihatinan ini membawa saya pada beberapa pertanyaan mendasar tentang teologi.

Banyak ketidakpastian yang mengusik pikiran saya. Mungkinkah seseorang termotivasi untuk bersaksi, tetapi akhirnya mempermalukan Tuhan dan salah menyampaikan berita-Nya karena ketidaktahuan atau manipulasi? Apakah saya termotivasi oleh rasa bersalah atau oleh harapan orang lain? Apakah saya berusaha mencari dalih atas minimnya semangat saya dan ketidaksuksesan saya? Mengapa saya hendak membatasi pekerjaan Tuhan melalui diri saya hanya sejauh kalangan "teman-teman" dan "undangan ke pertemuan"? Bagaimana dapat saya pungkiri bahwa oleh penentuan Allah saya dipertemukan dengan orang-orang tertentu, sekalipun hanya untuk beberapa menit?

Saya merasa seolah-olah terjebak dalam pintu putar. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak saya dan membuat saya terus-menerus berputar di tempat yang sama. Bagaimana caranya untuk berbicara dengan kasih pada orang-orang (bahkan termasuk juga mereka yang tidak saya kenal) yang oleh Tuhan dipertemukan dengan saya? Mengapa petobat- petobat dari berbagai kelompok Kristen yang berbeda-beda sering kali dapat dibedakan satu sama lain oleh ciri kepribadian tertentu? Apakah saya menginjili hanya bilamana saya melihat ada pertobatan? Apa unsur- unsur terpenting dari berita yang kita sampaikan? Apakah saya bergabung dengan orang lain dalam penginjilan karena kebutuhan yang besar dari orang banyak untuk mendengarkan Injil atau karena kami menganut doktrin Injil yang sama? Mengapa dasar alkitabiah dalam metode-metode penginjilan tidak pernah dibahas (khususnya yang dipraktikkan oleh gereja kita)?

Mengapa ada begitu banyak perbedaan pendapat, kebingungan, dan kekaburan di antara orang-orang yang bersaksi, juga mengenai unsur- unsur yang paling pokok dari Injil? Contohnya, apakah kita memperkenalkan Kristus sebagai Juru Selamat atau juga sebagai Tuhan kepada orang yang tidak percaya? Apakah pertobatan dan pengajaran akan Hukum Taurat Allah merupakan bagian dari Injil? Mengapa perlu lahir baru? Apa yang sebenarnya terjadi pada saat kelahiran baru? Apa bagian kita dalam keselamatan, dan apa bagian Tuhan? Bagaimana seseorang bisa mengetahui bahwa ia sudah dilahirkan kembali? Apakah Injil berupa sekumpulan doktrin atau mengenai satu Pribadi? Jika Tuhan telah melakukan apa yang dapat dilakukan dan sekarang menyerahkan pada kemauan kita sendiri untuk menerima keselamatan, bagaimana orang-orang yang mati rohani dapat menanggapi?

Saya tak habis mengerti mengapa setelah orang Kristen memahami konsep umum bahwa setiap orang membutuhkan Kristus untuk keselamatan, lalu timbul kebingungan dan bahkan pertentangan pendapat berkaitan dengan apa yang mencetuskan kelahiran baru -- iman dan pertobatan kita atau Roh Allah yang memampukan kita? Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan penting dan fundamental yang terus merongrong pikiran kita. Mengapa kebanyakan kelompok Injili tidak menyadari perlunya menyelidiki seperti apakah Injil yang alkitabiah itu? Saya melihat ada banyak metode yang keliru, dan saya sempat merasa putus asa untuk dapat menemukan cara bersaksi yang terbentuk dari kebenaran, bukan dari pertimbangan praktis atau kekuatan kehendak kita dalam keselamatan. Semua pertanyaan saya di atas dapat dirangkum dalam satu pertanyaan ini: Seperti apakah cara bersaksi berdasarkan persepsi kita akan Allah Pencipta sekaligus Penebus yang bukan sekadar menyediakan keselamatan tetapi juga memampukan seseorang untuk menanggapi dengan jalan bertobat dan menerimanya?

Kendati saran-saran yang awalnya diberikan pada saya perihal penginjilan pribadi tidak banyak membantu, saya harus mengakui bahwa bangkitnya kembali minat dalam topik ini di kalangan Injili adalah sesuatu yang baik. Siapa yang dapat memungkiri kenyataan bahwa partisipasi dalam penginjilan sekarang meningkat? Siapa yang dapat menyalahkan keprihatinan yang timbul dalam diri banyak orang Kristen berkaitan dengan penginjilan? Mereka telah mengorbankan banyak uang, waktu, dan tenaga. Mereka memanfaatkan media modern dengan kreatif. Saya sungguh bersyukur untuk hal ini. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati saya -- dan saya rasa hati nurani orang-orang lain juga terusik. Mungkinkah ada aspek-aspek penginjilan masa kini yang kurang dalam hal integritas alkitabiah?

Metodologi Timbul dari Teologi

Sebelum kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan penting ini, kita perlu mengevaluasi praktik-praktik penginjilan dewasa ini. Izinkan saya mengulas maklumat yang disampaikan Francis Schaeffer pada Kongres Penginjilan Sedunia di Berlin (1966): Justru karena kita memiliki komitmen pada penginjilan, maka kita terkadang harus membahas antitesisnya. Jika kita tidak mengindikasikan dengan jelas melalui perkataan dan perbuatan mengenai posisi kita terhadap kebenaran dan terhadap doktrin sesat, kita seolah-olah membangun tembok pemisah di antara generasi penerus dan berita Injil. Kesatuan dari kaum Injili haruslah berdasarkan pada kebenaran dan bukannya berdasarkan pada penginjilan itu sendiri. Bila tidak demikian, "kesuksesan" dalam penginjilan dapat berakibat pada melemahnya kekristenan. Pembahasan tentang metode adalah hal yang sekunder setelah prinsip utama ini. Kendati kita harus mengevaluasi doktrin dan metode, namun kita tidak boleh menghakimi motivasi orang.

Di bagian pertama buku ini, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan berkaitan dengan teologi yang mendasari metode-metode penginjilan modern. Saya tidak berniat memaparkan teologi penginjilan dengan panjang lebar. Saya berbicara sebagai seorang anggota keluarga kepada anggota-anggota lain dalam keluarga Allah. Marilah kita memandang ke dalam hati kita dan meneliti Alkitab untuk mencari cara menjadi penginjil yang lebih baik. Saya harap analisis saya dapat mengantarkan kita semua kepada pembahasan dan modifikasi yang konstruktif. Adakah suatu tradisi, teknik, atau pun pribadi yang berada di luar jangkauan evaluasi kita yang mengacu pada standar Alkitab? Saya rasa tidak.

Jikalau benar bahwa ada perbedaan pendapat yang serius di kalangan Injili berkaitan dengan berita dan metode penginjilan, maka kita patut mempertanyakan sampai sejauh mana perbedaan ini dapat dibenarkan? Bila perbedaan ini sekadar karena hendak menjangkau kelompok pendengar yang berbeda atau karena keanekaragaman karunia yang Tuhan berikan pada kita, maka ini tidak jelek. Akan tetapi, jikalau dalam penginjilan kita hanya setia mengikuti tradisi kita, membentuk kebenaran supaya sesuai dengan kepribadian kita, mengurangi kekuatan Injil, atau memanipulasi orang, maka kita salah. Jikalau kita yakin bahwa ada dasar teologis untuk metode kita, kita dapat dibenarkan bila menginjili sesuai dengan itu. Dalam hal ini, perbedaan kita hanya soal hati nurani kita yang dipengaruhi oleh persepsi kita tentang ajaran Kitab Suci. Doktrin yang alkitabiah mengenai penginjilan harus menjadi unsur pengendali dalam setiap praktik penginjilan.

Namun, meskipun kita dapat mengemukakan dasar teologis dari penginjilan kita, tanggung jawab kita tidak berhenti sampai di sini saja. Kita perlu membandingkan pemahaman doktrinal kita dengan orang lain dan dengan rendah hati bersedia merenungkan kembali apa yang difirmankan oleh Roh Kudus pada kita dalam Kitab Suci. Jika tidak demikian, kita tidak dapat belajar dari orang-orang lain. Hal ini sama saja dengan menolak terbitnya terang yang baru atas pemahaman kita akan Kitab Suci. Ini berarti membatasi Roh Kudus dalam berkomunikasi pada kita melalui orang Kristen lain. Berarti, penginjilan kita berdasarkan pada pola tradisi dan tidak berdasarkan pada keyakinan.

Singkatnya, keengganan untuk mengevaluasi penginjilan kita dalam terang Alkitab sama saja dengan menganggap Kitab Suci tidak serius. Akibatnya, kita tidak jujur terhadap satu sama lain, orang-orang yang belum percaya akan mendapat bimbingan yang keliru, dan menimbulkan frustrasi pada mereka yang ingin belajar bersaksi. Sebagai imbasnya, kita dapat membawa anak-anak kita dan gereja kita pada berbagai macam masalah. Kita akan mempermalukan Allah dari Injil itu sendiri. Kita wajib meneliti dengan cermat praktik-praktik penginjilan dewasa ini untuk melihat apakah kita yang bersaksi bagi Kristus memiliki Injil yang utuh dan seimbang.

Kemudian, dalam bagian kedua, saya menguraikan dampak keseluruhan dari Injil itu atas kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita jangkau. Sekali lagi, perlu evaluasi untuk menentukan mengapa ada begitu banyak pertobatan "palsu". Komitmen pada Kristus bukan sekadar suatu doa lalu selesai. Namun ini merupakan pertobatan yang berarti seluruh hidup kita diubahkan. Paulus mengatakan bahwa kita menjadi ciptaan baru. Saya membahas bagaimana perubahan ini harus mencakup seluruh keberadaan kita -- akal budi kita, kemauan kita, dan perasaan kita -- pribadi seutuhnya.

Bagian ketiga menggali kedalaman bagaimana kasih karunia Allah berkarya dalam keselamatan. Kasih karunia mencabut tiga perkara ibarat perisai, menghalangi orang terhadap dampak penuh dari Injil -- yakni hak-hak saya yang mutlak, kebaikan manusiawi saya, dan kehendak bebas saya. Perisai-perisai ini hanya dapat ditembus oleh kasih karunia. Hanya Injil yang berfokuskan pada anugerah yang sanggup membawa pada keselamatan dan membuat orang sanggup menanggapinya, yang merupakan solusi bagi masalah utama orang yang belum percaya. Ini menghasilkan penyembahan yang bergairah, yang merupakan tujuan dari penginjilan -- bukan sekadar menghasilkan keputusan ikut Kristus, melainkan menghasilkan murid-murid Kristus yang bersungguh-sungguh.

Namun tanggung jawab kita belum selesai setelah tercapai pengertian yang benar tentang kelahiran baru. Kita harus menerapkan Injil itu dalam perbuatan. Kita harus taat pada panggilan untuk memberitakan kebenaran kepada orang lain. Maka, bagian keempat membahas praktik bersaksi, disertai beberapa gagasan praktis tentang bagaimana memulainya. Kita harus menjadi pribadi-pribadi yang utuh (lengkap dan riil). Akhirnya, bagian terakhir memuat beberapa lembar kerja yang dapat diperbanyak untuk melatih diri Anda sendiri maupun orang lain, sebuah diagram Injil yang berfokuskan pada Allah, dan suatu ulasan tentang kontroversi yang sehat.

Penginjilan: Dimenangkan oleh Satu Pribadi

Saya sengaja membatasi pembahasan saya hanya di seputar penginjilan pribadi. Bukan karena bentuk penginjilan lain tidak bermanfaat, melainkan karena sebagaimana dikemukakan oleh penginjil dan negarawan Carl Henry, pendekatan dari pribadi ke pribadi yang diprakarsai oleh setiap orang percaya menciptakan peluang paling baik untuk memberitakan Injil ke seluruh bumi dalam abad ini. Ahli sejarah dari Universitas Yale yang ternama, Kenneth S. Latourette, menekankan konsep ini dalam perkataannya bahwa "orang-orang yang berhasil dalam memperluas kekristenan tampaknya bukan mereka yang berprofesi sebagai penginjil ... melainkan laki-laki maupun wanita yang memunyai pekerjaan atau mata pencaharian yang murni sekuler dan berbicara mengenai iman mereka kepada orang-orang yang dijumpainya sehari-hari".

Ada orang yang meragukan anjuran yang menekankan penginjilan pribadi ke pribadi. Mungkin keraguan mereka timbul karena begitu banyak penyalahgunaan dalam pendekatan ini. Namun keraguan yang beralasan pun jangan sampai membuat Anda mengabaikan perintah Kitab Suci untuk bersaksi kepada orang lain. Reaksi yang berlebihan terhadap sisi ekstrem dari individualisme telah mendorong beberapa orang untuk membatasi sifat umum dari kesaksian Kristen. "Supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yoh. 17:23). Orang-orang percaya yang bersatu, walaupun berasal dari berbagai latar belakang ekonomi dan etnis, sambil tetap mempertahankan kepribadian dan minat individualnya, seharusnya ibarat lampu neon yang bercahaya terang bagi dunia. Kesatuan yang mengagumkan dari keanekaragaman dalam tubuh Kristus harus mampu meyakinkan orang yang belum percaya bahwa Yesus Kristus diutus oleh Allah. Kelompok yang dinamis dari orang-orang Kristen yang penuh semangat merupakan dasar dari penginjilan, namun jika tiap pribadi dalam kelompok itu tidak memberitakan Injil, akhirnya akan menghasilkan pengijilan yang lemah. Kendati tidak diakui secara terbuka, alasan meremehkan inisiatif pribadi dalam bersaksi mungkin adalah kesombongan, roh yang kritis, rasa takut menyinggung perasaan orang, atau bahkan pandangan bahwa "mempermuliakan Tuhan dalam pekerjaanku" sudah cukup.

Dalam Kitab Suci, kita menjumpai banyak contoh di mana Injil disebarkan dari pribadi ke pribadi. Yesus sendiri selalu bersaksi kepada orang-orang yang ditakdirkan untuk bertemu dengan-Nya. Ia membawa firman kehidupan kepada mereka di tengah kehidupan sehari-hari mereka. Kristus menjanjikan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan menjadi penjala manusia, dan kemudian, dua kali Ia mengutus para pengikut-Nya pergi berdua-dua untuk memberitakan kabar baik itu (Mrk. 6:7-13; Luk. 10:1-24). Di gereja mula-mula, setiap orang Kristen memberitakan Injil (Kis. 8:1, 4). Seorang pemimpin gereja, Filipus, oleh Tuhan diperintahkan untuk meninggalkan pelayanannya yang berhasil untuk berbicara pada satu pribadi yang sedang mencari (Kis. 8:26-40). Paulus menekankan tanggung jawab semua orang percaya sebagai utusan- utusan Kristus dan berkata bahwa pelayanan pendamaian telah dipercayakan kepada mereka (2 Kor. 5:17-20). Allah mengaruniakan kemampuan yang lebih besar dalam menginjil kepada orang-orang tertentu bukan supaya mereka saja yang melakukan semuanya, melainkan untuk memperlengkapi setiap orang percaya dalam tubuh Kristus untuk mengerjakan pelayanan ini (Ef. 4:11-12).

Di dunia kita, mungkin 99,9 persen dari semua orang Kristen tidak berkecimpung dalam pelayanan. Sebelum setiap orang terlibat dalam penginjilan -- berdoa, berinisiatif, dan memberitakan Injil dengan berapi-api -- tak banyak yang dapat terjadi. Kelahiran baru ke dalam Kerajaan Allah biasanya melibatkan orang-orang yang bertindak sebagai bidan-bidan rohani. Seperti anak-anak kecil, kita "memperlihatkan dan menyampaikan" Injil. Dalam setiap pendekatan untuk penginjilan (berupa kelompok kecil pemahaman Alkitab, khotbah, pemanfaatan berbagai media, dll.) terkandung unsur perjumpaan pribadi. Acap kali, orang harus berbicara dengan orang-orang non-Kristen untuk menjelaskan dan mendorong mereka untuk percaya. Bukankah Anda menjadi orang percaya juga karena ada seseorang yang secara pribadi menjangkau Anda? Semua orang Kristen merupakan utusan-utusan Kristus; merekalah yang ditugaskan oleh Allah untuk memberitakan Injil. Bukalah mulut Anda. Allah akan mengisinya dengan firman-Nya.

Sebagai penutup, saya tambahkan sepatah kata pembangkit semangat bagi mereka yang berjuang untuk tetap setia dalam penginjilan. Tidak ada potensi yang lebih besar untuk menimbulkan rasa bersalah dalam diri orang Kristen selain satu topik ini (kecuali bila membahas tentang seks!). Saya tahu reaksi yang akan saya lihat jika saya berbicara tentang topik ini: mata memandang ke lantai, menggerak-gerakkan kaki dan tangan dengan gelisah. Biasanya, ada tawa untuk mengendurkan ketegangan. Namun semua reaksi itu tidak perlu. Anda dapat menemukan pengharapan, dorongan, dan kelegaan bila penginjilan didasarkan pada Injil yang berfokuskan Allah. Pintu masuk menuju kesaksian yang penuh harapan dan sukacita akan ditemukan bila kita memusatkan pandangan pada Allah sebagai Pencipta dan Penebus.

Dalam buku ini, saya akan meletakkan dasar teologis: Injil yang utuh ... sepenuhnya oleh anugerah. Tempat di mana kita dapat membangun kehidupan penginjilan adalah dalam kedaulatan Tuhan. Kita akan melihat jalinan yang terampil dari setiap pribadi Trinitas yang berkarya dengan harmonis dalam keselamatan. Bapa telah merencanakan keselamatan. Kristus telah mengerjakannya. Roh niscaya akan menerapkannya. Jadi, tak akan ada tempat duduk yang kosong di meja perjamuan dalam Kerajaan Allah. Semua tempat duduk telah dipesan, dengan setiap kartu nama di tempatnya, sebab mereka telah mendengar panggilan batin dari kasih yang menawan itu dan datang ke perjamuan. Tuhan selalu berjalan di depan kita sementara kita bersaksi. Sambil belajar dan memberitakan kebenaran, kiranya kita mendapati teologi kita berubah menjadi puji-pujian (doksologi)!

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Tell The Truth -- Beritakan Kebenaran
Penulis: Will Metzger
Penerjemah:
Penerbit: Momentum, Surabaya 2005
Hal: 1 -- 10

Pentingnya Pendidikan Firman Tuhan dalam Hidup Berjemaat

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pertama, maaf seribu maaf, akhir-akhir ini saya sangat sibuk sehingga pengiriman e-Reformed jadi terlambat. Semoga pengiriman artikel di bawah ini bisa menjadi pengganti pengiriman yang terlambat.

Minggu lalu adalah minggu perayaan Hari Reformasi Gereja. Saya ingin bertanya, masih adakah gereja yang merayakannya? Sepertinya, Hari Reformasi ini semakin lama menjadi semakin tidak dikenal. Mau melakukan sedikit eksperimen? Silakan Anda bertanya kepada jemaat biasa, apakah mereka tahu tentang Hari Reformasi Gereja?

Saya tidak heran kalau mereka menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. Atau kalau pun tahu, maka hanya terbatas di kalangan gereja-gereja beraliran teologi reformed saja. Itu pun karena nama gereja mereka adalah Reformed, sehingga mereka tahu kalau gereja mereka pasti ada sangkut pautnya dengan reformasi. Tapi, ini hanya pandangan saya saja yang cenderung skeptik.

Mengapa artikel di bawah ini saya pilih untuk mengingatkan kita semua pada Hari Reformasi Gereja? Artikel yang ditulis oleh Pdt. D.S. Hananiel yang berjudul PENTINGNYA PENDIDIKAN FIRMAN TUHAN DALAM HIDUP BERJEMAAT ini merupakan isu utama mengapa banyak gereja sekarang ini tidak lagi memiliki kuasa. Saya sangat setuju dengan pengamatan beliau.

Gereja Tuhan yang benar dibangun di atas pengajaran para nabi (Perjanjian Lama) dan rasul (Perjanjian Baru) dalam Alkitab. Kalau gereja tidak lagi memberitakan firman Tuhan dan firman Tuhan tidak lagi diajarkan pada jemaat, maka gereja itu pada dasarnya sudah tidak lagi memiliki dasar untuk berdiri. Nah, semangat untuk kembali kepada pengajaran firman Tuhan dan menekankan pentingnya firman Tuhan ditegakkan adalah semangat reformasi. Apakah berlebihan kalau saya sekarang ini mengajak kita semua mereformasi gereja kita masing- masing?

In Christ,
Yulia < yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/reformed/ >

Penulis: 
Pdt. D.S. Hananiel
Edisi: 
115/IX/2009
Tanggal: 
30 September 2009
Isi: 

Sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa keberhasilan penjajahan dalam kurun waktu 3,5 abad lamanya adalah karena si penjajah TIDAK menyediakan PENDIDIKAN bagi rakyat. Alhasil, rakyat tidak dapat berpolitik, mudah dikelabui, bahkan tidak mampu mengambil alih pemerintahan. Demikian pula saya berkeyakinan, bahwa manusia tidak akan dapat menikmati kepenuhan kemerdekaan yang disediakan oleh Tuhan Yesus bila orang-orang Kristen TIDAK DIDIDIK dalam KEBENARAN ALLAH. Bahkan firman Tuhan mengatakan, merajalelanya ajaran-ajaran palsu yang berkedok "kekristenan" dan "Roh Kudus", dapat mengakibatkan orang Kristen kembali "dijajah" oleh kuasa kegelapan. Sungguh menakutkan kalau kita membayangkan hal ini. Saya pribadi merasa ngeri, bila kekuatiran Paulus yang diutarakan pada jemaat di Korintus sungguh akan menjadi kenyataan, yakni "orang-orang Kristen menyia-nyiakan kasih karunia Allah" (2 Kor. 6:1).

Kalau kita memerhatikan keadaan gereja-gereja, anak-anak Tuhan pada dewasa ini, sungguhlah harus menimbulkan beban untuk benar-benar memikirkan bagaimana MENDIDIK anak-anak Tuhan, gereja-gereja Tuhan, pengerja-pengerja Tuhan dengan kebenaran Tuhan yang "ada sejak semula" (meminjam istilah para rasul).

Menurut observasi kami, dewasa ini terdapat beberapa gejala sebagai berikut.

  1. Anak-anak Tuhan yang begitu besar hasratnya untuk mengetahui kebenaran telah berhasil dipikat untuk mendengar serta mempelajari "kebenaran-kebenaran" yang sudah banyak dibubuhi dengan "bumbu- bumbu masak" supaya "asyik", "enak rasanya", dan "sedap kedengarannya". Apakah sudah tiba saatnya apa yang dinubuatkan Rasul Paulus menjadi kenyataan, bahwa orang-orang mengumpulkan "guru" menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya?! Menurut hemat saya, belum! Tetapi kita selaku hamba -hamba Tuhan telah gagal dalam menggembalakan domba-domba Allah. Kita lebih tertarik pada "yang di luar"; undangan- undangan yang begitu memikat untuk khotbah/memimpin di luar, undangan- undangan untuk membawakan berbagai seminar, bahkan undangan dan tawaran studi. Tak heran kalau Tuhan, Gembala yang Agung berkeluh kesah: "Celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Domba- domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi." Maka dalam kelaparannya, domba-domba Tuhan makan apa saja yang dapat dimakannya!

  2. Gereja yang seharusnya menjadi tiang kebenaran kini mengikuti mode- mode persekutuan, mode tepuk tangan, mode "oikumene", dll.. Gereja kini sudah kehilangan identitasnya -- merah tidak, putih pun tidak tetapi samar-samar. Hamba-hamba Tuhan takut mengajarkan doktrin- doktrin tegas, jelas, dan nyata. Gereja kita menjadi "banci". Maklum, tanpa penyesuaian diri kita akan kehilangan jemaat! Gereja dewasa ini merupakan gereja massa, gereja manusia dan bukannya gereja Kristus yang JELAS IDENTITASNYA. Adanya perbedaan paham doktrinal tidak perlu menjadikan kita eksklusif! Bukankah gereja Tuhan adalah satu?

  3. Dikhawatirkan bahwa dewasa ini (kaum saya) para hamba Tuhan sudah kehilangan wibawa untuk berkata: "Demikianlah SABDA Tuhan serta sekalian alam!" Apakah hamba Tuhan merupakan suatu profesi atau suatu panggilan Allah? Maklum dengan kemajuan zaman, ada banyak tuntutan- tuntutan -- tuntutan kebutuhan pribadi, tuntutan kebutuhan keluarga, dan sebagainya. Kasihan manusia-manusia yang "ditakdirkan" tinggal di desa dan kota kecil yang "kering". Mereka "terpaksa" harus belajar untuk berdikari. Gedung-gedung mewah yang penuh sesak sudah menanti. Di situlah dibutuhkan "hsamba Tuhan". Tidak mengherankan kalau ada orang yang bertanya: "Masih perlukah ada gereja? Masih perlukah hamba- hamba Tuhan?" Sebaliknya, "Perlukah saya menjadi seorang hamba Tuhan pada zaman modern ini, yang hanya menjadi 'sasaran' frustrasi manusia, menjadi 'budak - budak' tuan-tuan dalam gereja? Bukankah perbuatan yang bodoh untuk menjadi 'seperti Gembala Agung yang tidak membuka mulut- Nya ketika diguntingi bulu-Nya?'"

Jeritan panggilan Tuhan Yesus tetap belum tercoret dari Kitab Suci yang demikian bunyinya: "Siapakah yang dapat: Kusuruhkan?" Lihatlah semuanya sudah menguning! Penuai begitu jarang! Maklum mentalitas penuai modern: Berapa gajinya? Bagaimana jaminan sosialnya? Apa haknya? Apa kerjanya?

Kaumku, para hamba Tuhan, "gelap" sudah hampir tiba! Pekerjaan masih jauh dari sempurna. Penuai tetap (bahkan berkurang). Sudahkah kita lupa pengorbanan Kristus yang begitu besar, berharga, dan sungguh tidak terbayarkan!

Tekanan yang terdapat dalam Kitab Suci, kesibukan utama Tuhan Yesus sewaktu Ia masih ada di dunia, yang diikuti oleh kegiatan para rasul, kemudian adalah PENDIDIKAN, PENGAJARAN! Maka marilah kita MENDIDIK, MENGAJAR, MENGGEMBALAKAN domba-domba yang sudah ditebus-Nya dan yang dipercayakan kepada kita untuk dipeliharakan.

  1. Jangan kita singkirkan dan tolak undangan -undangan luar. Maklum di satu pihak, gereja Tuhan bukanlah gereja yang kita asuh saja. Gereja Tuhan itu universal. Setiap hamba Tuhan menanggung kewajiban untuk melayani semua domba Tuhan, SEJAUH MANA yang DIPERKENAN oleh Tuhan. Pada lain segi, katak dalam tempurung. Hamba Tuhan dalam gereja sendiri saja akan merugikan jemaat juga. Maka perlu disusun suatu daftar prioritas berdasarkan:

    1. Di manakah kita dipanggil untuk bekerja?

    2. Di manakah kini kita ditempatkan Tuhan yang Empunya kebun anggur?

  2. Hamba Tuhan berbeda dengan guru pengajar yang tinggal mengajar berdasarkan kurikulum. Hamba Tuhan menyampaikan BERITA Allah, KEHENDAK Allah, dan PENGETAHUAN Allah. Dan semua itu, selain membutuhkan persiapan yang saksama dan bertanggung jawab, juga komunikasi intensif dengan Dia. Hal ini tidak saja membutuhkan waktu banyak, tapi juga konsentrasi dan ketaatan yang meminta pengorbanan! Kalau guru pengajar sudah memiliki pedoman buku pelajaran yang ditetapkan oleh atasan, tidaklah demikian dengan hamba Tuhan yang perlu menggali sampai dalam, melalui pengalaman - pengalaman hamba Tuhan lainnya, para penulis buku- buku yang tetap memegang kebenaran "yang dari semula", juga pengalaman hidup kita sendiri dengan Tuhan, karena bukankah kita seharusnya menyampaikan apa yang telah "kita dengar dan alami sendiri dari Tuhan"? Melalui pengalaman ini, yang kita peroleh kalau kita bersedia untuk menerima pahit getir hidup, dengan menelan garam untuk diperbudak dan diperalatnya kita oleh tuan-tuan gereja, barulah kita "berguna" bagi anak-anak Tuhan. Dan meminjam istilah Rasul Paulus, seorang hamba Tuhan perlu mengalami pengalaman "ditindas, habis akal, dianiaya, ditinggalkan sendirian, dihempaskan". Ya, kita perlu senantiasa mengalami "kematian Yesus dalam tubuh kita" (2 Kor. 4). Dunia sudah muak dengan filsafat, politik, dan "ajaran yang tinggi". Manusia/domba-domba Allah/anak-anak Tuhan membutuhkan makanan yang dapat dimakan, yang bergizi, menyehatkan, enak, dan praktis untuk diterapkan.

  3. Pencobaan Rasul Paulus sebagai seorang ahli filsafat untuk mengajar secara "hebat" sangat besar, tetapi ia memilih bahasa yang dianggap "kebodohan" oleh dunia tetapi yang memiliki kuasa, karena firman Allah saja yang diberitakannya. Memang dunia dewasa ini minta "bahasa hikmat", tetapi panggilan hamba Tuhan adalah: bukan menggunakan kata- kata hikmat tetapi kata-kata yang memiliki kekuatan Roh (1 Kor. 2) Untuk itu, perlu ada kesetian pada firman Allah saja! Kewajiban hamba Tuhan bukanlah memberikan impresi, melainkan REVELASI dan REGENERASI. Di samping itu, perlu juga MAKANAN DAGING YANG KERAS, yaitu doktrin- doktrin yang mendalam, yang tegas, yang berani kita ajarkan, agar sebagaimana tulang belulang memberi bentuk kepada tubuh seseorang, demikianlah kita dapat memberi bentuk kepada gereja dan anak-anak Tuhan.

  4. Kedudukan yang tinggi yang tidak dapat digantikan orang lain, memang menjamin keberadaan kita, "dibutuhkannya" kita dalam gereja. Tetapi Tuhan Yesus "membutuhkan" dua belas murid. Musa membutuhkan wakil-wakilnya, para penatua. Para Rasul membutuhkan juga penatua- penatua. Memang aristokrasi gereja tidaklah sesuai dengan pola Tuhan Yesus dalam pendirian gereja-Nya. Hal ini ditekankan melalui gambaran fungsi seluruh anggota tubuh yang bergantung satu pada yang lain untuk kemudian bekerja sama -sama. Oleh sebab itu, sesuai panggilan-Nya (Ef. 4:11-12), kita wajib MELENGKAPI, MENDIDIK, MEMBEKALI, serta MELIBATKAN sebanyak mungkin anak-anak Tuhan dalam pelayanan, pemerintahan. Bahaya senantiasa mengancam hamba-hamba Tuhan, yang pada suatu saat ingin menguasai segala sesuatu, tetapi pada lain saat "melepaskan" semua kepada anak-anak Tuhan tanpa pengarahan, pembekalan, dan pendidikan. Akibatnya anak-anak Tuhan/para pengerja gereja, masing-masing berbuat apa yang benar di matanya sendiri, ini adalah merupakan pengulangan gejala pada zaman Hakim-Hakim.

  5. Masih dalam rangka pendidikan, Rasul Paulus suka menasihati jemaatnya, agar mereka mengikuti teladan hidupnya. Menurut pengamatan saya, salah satu kegagalan pendidikan hamba Tuhan dewasa ini adalah: kita tidak dapat memberikan teladan hidup kepada jemaat kita. Sebagai contoh: Persoalan "hari Sabat". Kita selaku hamba Tuhan dengan keras dan tegas menuntut jemaat kita memegang teguh hari Sabat tersebut misalnya dengan menutup toko, berhenti bekerja. Tetapi bagaimana dengan pekerjaan kita sendiri selaku hamba Tuhan? Apakah peraturan Sabat tidak berlaku bagi seorang hamba Tuhan? Benarkah kalau hari Sabat, yaitu sehari berhenti setelah bekerja 6 hari, dilaksanakan sebentar pada hari ini, sebentar pada hari lain oleh seorang hamba Tuhan? Apakah salah kalau jemaat meniru teladan hamba Tuhan tadi? Harus diakui bahwa kegagalan banyak hamba Tuhan untuk melaksanakan hari Sabat adalah tidak diperolehnya izin dari majelis/pengurus gereja. Tetapi apakah kegagalan mendapat izin ini tidak terletak pada diri kita sendiri yang gagal mendidik, gagal bekerja sungguh-sungguh selama 6 hari?! Teladan lain adalah berbaktinya keluarga hamba Tuhan terutama kalau anak-anak masih kecil -- belum sekolah -- apakah perlu ke kebaktian anak-anak? Dan kalau sudah bertumbuh, perlukah mereka semua terlibat dalam pelayanan juga? Salahkah suami istri untuk bertugas bersama-sama keluar kota memenuhi undangan pelayanan? Salahkah kalau seminggu sekali seluruh keluarga -- hamba Tuhan, istri dan anak-anak -- pergi bersama-sama untuk rileks? Sampai di manakah di dalam pendidikan jemaat kita, kita membenarkan suami, karena kesibukannya, tidak perlu mendampingi keluarganya pergi? Pernah seorang penulis buku yang alkitabiah mengemukakan bahwa panggilan hamba Tuhan adalah:

    1. melayani Tuhan pertama-tama,

    2. melayani keluarganya sebagai yang kedua, dan

    3. melayani jemaat/gereja sebagai yang ketiga.

Sebagai penutup, perkenankan kami untuk mohon maaf, seandainya melalui artikel ini, saya mungkin telah menyinggung teman-teman sejawat saya, karena melalui artikel ini, saya tidak ingin menggurui, sebaliknya ingin sharing observasi, sharing beban, sharing pandangan untuk mendapatkan pandangan, pendapat, nasihat, serta bimbingan dari teman- teman sejawat, karena bukankah kita sama-sama pelayan-Nya yang ditugaskan untuk membangun gereja-Nya, memelihara domba-domba-Nya. Kita wajib melaksanakan kewajiban/panggilan kita tadi dengan sebaik- baiknya.

Catatan: Pdt. D.S. Hananiel lahir di Surabaya. Pada tahun 1934 hijrah dan menetap di kota Malang. Karena mengalami berbagai zaman, maka pendidikan beliau sangat bervariasi: pendidikan Belanda, Tionghoa, Jepang, Indonesia, dan Inggris. Selama 24 tahun terdidik dan mengabdi kepada Khong Hu Cu, Kwan Im, dan Kong Co di Kelenteng Malang. Oleh sebab itu, beliau pada dasarnya adalah anti -Kristus. Pertobatan beliau dimulai dari penyelidikan Kitab Suci yang tujuan semulanya adalah untuk mencari kelemahan dan kesalahan kekristenan. Setelah menjadi anak Tuhan, beliau menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Dan pada tahun 1960, beliau melayani sebagai penginjil, kemudian pada tahun 1969 ditahbiskan menjadi pendeta. Saat ini melayani Gereja Eleos Malang, juga selaku dosen dan penanggung jawab kerohanian (Kristen) di kampus Universitas Brawijaya Malang.

Sumber: 

Diambil dari:

Nama majalah: Pelita Zaman (edisi no. 2 tahun 1987)
Penulis: Pdt. D.S. Hananiel
Penerbit: Pelita Zaman, Surabaya 1987
Halaman: 45 -- 48

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Etika Lingkungan Hidup dari Perspektif Teologi Kristen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Di dalam sejarah peradaban manusia, terdapat tiga revolusi yang telah mengubah pola kehidupan bermasyarakat selamanya, baik dari segi produksi, distribusi, maupun konsumsi. Yang pertama adalah Revolusi Agraria pada masa prasejarah, yang kedua adalah Revolusi Industri pada abad ke-18, dan yang ketiga adalah revolusi yang berhubungan dengan pengolahan minyak bumi pada paruh abad ke-19.

Revolusi Agraria adalah berubahnya metode pencarian makanan dan pekerjaan yang dulunya pemburu dan pengumpul makanan menjadi petani dan penggarap kebun/ladang. Revolusi ini memungkinkan manusia untuk memproduksi makanan lebih dari yang ia butuhkan, sehingga terjadi surplus. Dari sana berkembanglah penimbunan, perdagangan, dan pemukiman yang lebih besar.

Revolusi Industri ditandai dengan proses otomatisasi produksi, terutama tenaga kerja manusia digantikan dengan mesin yang berakibat pada penggunaan batu bara dalam jumlah besar serta berlanjut pada pencarian sumber energi alternatif yang lebih mudah diperoleh serta lebih "ramah lingkungan", karena seperti yang kita ketahui proses penambangan batu bara sering kali memakan korban jiwa selain juga menimbulkan dampak polusi yang sangat hebat.

Penemuan cara penyulingan "minyak batu" (petroleum) menjawab kebutuhan tersebut. Minyak bumi dapat dihasilkan lebih cepat daripada batu bara dengan polusi yang relatif lebih kecil dibandingkan batu bara. Namun penggunaan minyak bumi secara luas, terutama sejak Perang Dunia II, baik pada kendaraan bermotor maupun pabrik-pabrik, telah menghasilkan polusi yang luar biasa besarnya sebagai timbal balik dari segala fasilitas yang dapat dinikmati oleh manusia saat ini.

Adalah tugas kita, terkhusus sebagai anak-anak Tuhan, untuk mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya alamnya secara bertanggung jawab. Kita perlu memikirkan tidak hanya kepentingan sesaat saja, tetapi juga untuk berpikir ke depan, untuk anak-anak serta generasi-generasi yang akan datang supaya mereka tidak hidup di tengah-tengah dunia yang rusak akibat polutan-polutan yang telah kita tinggalkan serta sumber daya yang telah kita habiskan. Jadilah orang Kristen yang mencintai lingkungan.

Kiranya artikel di bawah ini menolong Anda untuk menyadari bahwa dari awal penciptaan, Tuhan telah memanggil manusia untuk mengelola dan memelihara alam ciptaan-Nya sesuai dengan rancangan-Nya yang ajaib. Menyimpang dari rancangan-Nya akan menyebabkan malapetaka. Apakah rancangan-Nya itu? Selamat menyimak artikel yang diambil dari Jurnal Pelita Zaman dan ditulis oleh Robert P. Borrong di bawah ini.

In Christ, Redaksi Tamu e-Reformed,
Kusuma Negara
http://reformed.sabda.org/

Penulis: 
Robert P. Borrong
Edisi: 
114/VIII/2009
Tanggal: 
28-8-2009
Isi: 

I. Pengantar

Akhir-akhir ini, perhatian dan kesadaran umat manusia untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidupnya semakin meningkat. Hal itu sejalan dengan pengetahuan yang semakin banyak dan pengalaman yang semakin nyata bahwa lingkungan hidup atau planet bumi sedang sakit atau rusak. Sakit atau rusaknya planet bumi itu disebabkan oleh ulah manusia sendiri, yaitu dalam kaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber alam. Cara memanfaatkan dan mengelola lingkungan cenderung bersifat eksploitatif dan destruktif. Maka proses pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan mengandung aspek perusakan lingkungan, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Sebenarnya proses perusakan lingkungan sudah berjalan lama, yaitu sejak dimulainya proses industrialisasi. Industrialisasi menyadarkan manusia bahwa alam merupakan deposit kekayaan yang dapat memakmurkan. Maka mulai saat itu sumber-sumber alam dieksploitasi untuk diolah menjadi barang guna memenuhi kebutuhan demi kemakmuran hidup manusia. Dengan adanya alat ampuh, yaitu mesin, maka alam pun dipandang dan dikelola secara mekanis. Terjadilah intensitas pengeksploitasian lingkungan menjadi semakin gencar tak terkendali. Alam tidak lebih dari benda mekanis yang hanya bernilai sebagai instrumen untuk kepentingan manusia. Alam tidak lagi dihargai sebagai organisme. Sayangnya, kesadaran akan semakin rusaknya lingkungan hidup mulai muncul sejak sesudah Perang Dunia II dan mulai mengglobal tiga dekade yang lalu ketika alam terlanjur rusak berat atau sakit parah. Ketika itu manusia makin menyadari bahwa sumber-sumber alam (khususnya "non- renewable resources") semakin menipis.

Pengelolaan alam secara mekanistik yang diikuti pula oleh pertumbuhan demografi yang terus melaju sehingga pada akhir dekade 1960-an ditandai dengan "ledakan penduduk dunia". Kenyataan itu mendorong digerakkannya pembangunan yang berorientasi pada "pertumbuhan ekonomi" yang justru semakin meningkatkan pengeksploitasian sumber-sumber alam. Hal ini tidak untuk kemakmuran saja, tetapi bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar dari umat manusia yang semakin banyak. Misalnya, hutan selain sebagai sumber bahan baku untuk diolah menjadi bahan produk, juga dikonversi menjadi lahan pertanian. Perusakan ini diperberat oleh polusi atau pencemaran. Untuk menjaga kesuburan lahan pertanian, digunakan pupuk kimia, dan untuk menjaga panen dari serangan hama, digunakan pestisida secara besar-besaran sehingga produksi pertanian meningkat. Semua itu, bersama dengan industri dan transportasi yang dibangun untuk meningkatkan produksi dan distribusi, membentur alam dalam bentuk polusi. Akibatnya sumber alam semakin menipis, kemampuan daya dukung alam berkurang dan mengancam kehidupan manusia sendiri.

Dari keterangan di atas, menjadi nyata bahwa benturan yang menyebabkan lingkungan hidup menderita sakit atau rusak datang dari manusia dalam proses mengambil, mengolah, dan mengonsumsi sumber- sumber alam. Benturan terjadi ketika proses-proses itu melampui batas-batas kewajaran atau proposionalitas. Batas-batas kewajaran atau proposionalitas itu terlampaui ketika manusia semakin mampu dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi memanfaatkan sumber- sumber secara masal, intensif, dan cepat dan sekaligus mengotori atau mencemarinya. Tetapi yang lebih parah lagi, yaitu bahwa manusia yang merasa semakin enak semakin tidak tahu diri, sehingga ia seolah-olah menjelma menjadi tuan dan pemilik alam. Maka kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup harus dikembalikan pada manusia, dengan mempertanyakan tentang dirinya dan kelakuannya terhadap alam. Apa kata teologi atau etika Kristen?

II. Dasar Teologis Etika Lingkungan

Dalam cerita penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan bersama dengan seluruh alam semesta. Itu berarti bahwa manusia memunyai keterkaitan dan kesatuan dengan lingkungan hidupnya. Akan tetapi, diceritakan pula bahwa hanya manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah ("Imago Dei") dan yang diberikan kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan segala isinya. Jadi di satu segi, manusia adalah bagian integral dari ciptaan (lingkungan), akan tetapi di lain segi, ia diberikan kekuasaan untuk memerintah dan memelihara bumi. Maka hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya seperti dua sisi dari mata uang yang mesti dijalani secara seimbang.

1. Kesatuan Manusia dengan Alam

Alkitab menggambarkan kesatuan manusia dengan alam dalam cerita tentang penciptaan manusia: "Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah" (Kej. 2:7), seperti Ia juga "membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara" (Kej. 2:19). Dalam bahasa Ibrani, manusia disebut "adam". Nama itu memunyai akar yang sama dengan kata untuk tanah, "adamah", yang berarti warna merah kecokelatan yang mengungkapkan warna kulit manusia dan warna tanah. Dalam bahasa Latin, manusia disebut "homo", yang juga memunyai makna yang berkaitan dengan "humus", yaitu tanah. Dalam artian itu, tanah yang biasa diartikan dengan bumi, memunyai hubungan lipat tiga yang kait-mengait dengan manusia: manusia diciptakan dari tanah (Kej. 2:7; 3:19, 23), ia harus hidup dari menggarap tanah (Kej. 3:23), dan ia pasti akan kembali kepada tanah (Kej. 3:19; Maz. 90:3). Di sini nyata bahwa manusia dan alam (lingkungan hidup) hidup saling bergantung -- sesuai dengan hukum ekosistem. Karena itu, kalau manusia merusak alam, maka secara otomatis berarti ia juga merusak dirinya sendiri.

2. Kepemimpinan Manusia Atas Alam

Walaupun manusia dengan alam saling bergantung, Alkitab juga mencatat dengan jelas adanya perbedaan manusia dengan unsur-unsur alam yang lain. Hanya manusia yang diciptakan segambar dengan Allah dan yang diberikan kuasa untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan seluruh ciptaan yang lain (Kej. 2:26-28), dan untuk mengelola dan memelihara lingkungan hidupnya (Kej. 2:15). Jadi, manusia memunyai kuasa yang lebih besar daripada makhluk yang lain. Ia dinobatkan menjadi "raja" di bumi yang dimahkotai kemuliaan dan hormat (Maz. 8:6). Ia menjadi wakil Allah yang memerintah atas nama Allah terhadap makhluk-makhluk yang lain. Ia hidup di dunia sebagai duta Allah. Ia adalah citra, maka ia ditunjuk menjadi mitra Allah. Karena ia menjadi wakil dan mitra Allah, maka kekuasaan manusia adalah kekuasaan perwakilan dan perwalian. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang terbatas dan yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa, yaitu Allah. Itu sebabnya manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap alam. Ia tidak boleh menjadi "raja lalim". Kekuasaan manusia adalah kekuasaan "care-taker". Maka sebaiknya manusia memberlakukan secara seimbang, artinya pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber alam diimbangi dengan usaha pemeliharaan atau pelestarian alam.

Kata "mengelola" dalam Kejadian 2:15, digunakan istilah Ibrani "abudah", yang sama maknanya dengan kata ibadah dan mengabdi. Maka manusia sebagai citra Allah seharusnya memanfaatkan alam sebagai bagian dari ibadah dan pengabdiannya kepada Allah. Dengan kata lain, penguasaan atas alam seharusnya dijalankan secara bertanggung jawab: memanfaatkan sambil menjaga dan memelihara. Ibadah yang sejati adalah melakukan apa saja yang merupakan kehendak Allah dalam hidup manusia, termasuk hal mengelola ("abudah") dan memelihara ("samar") lingkungan hidup yang dipercayakan kekuasaan atau kepemimpinannya pada manusia.

3. Kegagalan Manusia Memelihara Alam

Alkitab mencatat secara khusus adanya "keinginan" dalam diri manusia untuk menjadi sama seperti Allah dan karena keinginan itu ia "melanggar" amanat Allah (Kej. 3:5-6). Tindakan melanggar amanat Allah membawa dampak bukan hanya rusaknya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Manusia menghadapi alam tidak lagi dalam konteks "sesama ciptaan", tetapi mengarah pada hubungan "tuan dengan miliknya". Manusia memperlakukan alam sebagai objek yang semata-mata berguna untuk dimiliki dan dikonsumsi. Alam diperhatikan hanya dalam konteks kegunaan (utilistik-materialistik). Manusia hanya memerhatikan tugas menguasai, tetapi tidak memerhatikan tugas memelihara. Dengan demikian, manusia gagal melaksanakan tugas kepemimpinannya atas alam.

Akar perlakuan buruk manusia terhadap alam terungkap dalam istilah seperti: "tanah yang terkutuk", "susah payah kerja", dan "semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkan bumi" (Kej. 3:17-19). Manusia selalu dibayangi oleh rasa kuatir akan hari esok yang mendorongnya cenderung rakus dan materialistik (baca Mat. 6:19-25 par.). Secara teologis, dapat dikatakan bahwa akar kerusakan lingkungan alam dewasa ini terletak dalam sikap rakus manusia yang dirumuskan oleh John Stott sebagai "economic gain by environmental loss". Manusia berdosa menghadapi alam tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi sekaligus untuk memenuhi keserakahannya. Dengan kata lain, manusia berdosa adalah manusia yang hakikatnya berubah dari "a needy being" menjadi "a greedy being". Kegagalan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan atas alam merupakan pula kegagalan manusia dalam mengendalikan dirinya, khususnya keinginan- keinginannya.

4. Hubungan Baru Manusia-Alam

Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, mencatat bahwa Allah yang Mahakasih mengasihi dunia ciptaan-Nya (kosmos) sehingga Ia mengutus anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 3:16). Tuhan Yesus Kristus yang disebut Firman (logos) penciptaan (Kol. 1:15-17; Yoh. 1:3, 10a) telah berinkarnasi (mengambil bentuk materi dengan menjelma menjadi manusia: Yoh. 1:1, 14); dan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib serta kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Ia telah mendamaikan Allah dengan segala sesuatu (ta panta) atau dunia (kosmos) ini (Kol. 1:19- 20; 2 Kor. 5:18-19). Tuhan Yesus telah memulihkan hubungan Allah dengan manusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya dan memulihkan hubungan manusia dengan alam. Atas dasar itu, maka hubungan harmonis dalam Eden (Firdaus) telah dipulihkan.

Apa yang dibayangkan dalam Perjanjian Lama sebagai nubuat tentang kedamaian seluruh bumi dan di antara seluruh makhluk (Yes. 11:6-9; 65:17; 66:22; Hos. 2:18-23) telah dipenuhi dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Maka dalam iman Kristen, hubungan baru manusia dengan alam bukan saja hubungan "dominio" (menguasai) tetapi juga hubungan "comunio" (persekutuan). Itu sebabnya Tuhan Yesus yang telah berinkarnasi itu menggunakan pula unsur-unsur alam, yaitu "air, angggur, dan roti" dalam sakramen yang menjadi tanda dan meterai hubungan baru manusia dengan Allah. Dengan kata lain, hubungan manusia dengan Allah yang baik harus tercermin dalam hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Persekutuan dengan Allah harus tercermin dalam persekutuan dengan alam. Hubungan yang baik dengan alam, sekaligus mengarahkan kita pada penyempurnaan ciptaan dalam "langit dan bumi yang baru" (Why. 21:1-5) yang menjadi tujuan akhir dari karya penebusan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Dalam langit dan bumi yang baru itulah Firdaus yang hilang akan dipulihkan.

III. Norma Etika Lingkungan

Akhir-akhir ini, etika lingkungan biasanya dibagi atas dua atau tiga bagian yang antroposentris, ekosentris, dan biosentris. Bahkan Robert Elliot mengemukakan lima konsep, yaitu yang disebutnya "human centered ethics", "animal centered ethics", "life centered ethics", "everything centered ethics", dan "ecological holism ethics". Saya hanya akan mengikuti tiga pandangan yang saya kemukakan di atas. Pandangan pertama, yaitu antroposentris, adalah pandangan yang telah lama dianut oleh umat manusia yang beranggapan bahwa alam atau lingkungan hanya memunyai nilai alat (instrumental value) bagi kepentingan manusia. Pandangan antroposentris ini sering dihubungkan dengan pandangan Barat yang melihat lingkungan hidup sebatas maknanya bagi kesejahteraan dan kemakmuran manusia. Manusia Barat menganut pandangan mengenai hubungan diskontinuitas antara manusia dengan alam. Hanya manusia yang subjek, sedangkan alam atau lingkungan adalah objek. Maka alam diteliti, dieksplorasi, lalu dieksploitasi. Maka etika antroposentris ini tidak sejalan dengan etika Kristen yang menekankan adanya kontinuitas antara manusia dengan alam (adam-adamah, homo-humus).

Pandangan yang kedua adalah biosentris. Penganut pandangan ini berpendirian bahwa semua unsur dalam alam memunyai nilai bawaan (inherent value), misalnya kayu memunyai nilai bawaan bagi kayu sendiri sebagai alasan berada. Jadi kayu tidak berada demi untuk kepentingan manusia saja. Demikianlah seluruh makhluk hidup memiliki nilai inheren lepas dari kepentingannya bagi manusia. Manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya memunyai hubungan kontiunitas, maka manusia dan lingkungan memunyai tujuannya masing-masing. Maka tiap makhluk memunyai hak mendapatkan perlakuan sesuai dengan hak yang melekat padanya. Pandangan ini misalnya dianut oleh Paul Taylor, Peter Singer, dan Albert Schweitzer.

Pandangan ketiga, yaitu ekosentris, berpendirian bahwa bumi sebagai keseluruhan atau sebagai sistem tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Maka lingkungan harus diperhatikan karena manusia hanyalah salah satu subsistem atau bagian kecil dari seluruh ekosistem. Pandangan ini dianut umumnya oleh manusia Timur, termasuk orang Indonesia, yang sangat menekankan hubungan erat antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Manusia adalah mikro dari makro kosmos. Menurut pandangan ini, bumi memiliki nilai hakiki (intrinsic value) yang harus dihormati oleh manusia. Maka alam atau lingkungan tidak boleh diperlakukan semena-mena, karena bumi memunyai nilainya yang luhur yang harus dijaga, dihormati, dan dianggap suci.

Kita akan mencoba melihat pandangan-pandangan ini berdasarkan kesaksian Alkitab sebagaimana yang dikemukakan di bagian II di atas. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika lingkungan tidak bersifat antroposentris, tetapi juga tidak sekadar bersifat biosentris atau ekosentris. Manusia dan semua makhluk hidup lainnya, bahkan seluruh planet bumi ini, bersumber dari Allah. Allah yang menciptakannya dan Allah menghendaki seluruhnya berada, topang- menopang, dan saling membutuhkan. Maka etika lingkungan, dari perspektif teologi Kristen, mestinya bersifat teosentris, artinya berpusat pada Allah sendiri. Kita perlu menjaga dan memelihara lingkungan hidup bukan saja karena kita membutuhkan sumber-sumber di dalamnya dan karena bumi ini adalah rumah kita (antroposentris), bukan pula karena makhluk hidup memiliki hak asasi seperti hak asasi manusia (biosentris), juga bukan karena bumi ini merupakan suatu ekosistem yang memiliki nilai intrinsik (ekosentris); kita perlu menjaga dan memelihara lingkungan hidup karena lingkungan hidup adalah ciptaan Allah, termasuk manusia, yang diciptakan untuk hormat dan kemuliaan- Nya.

Kalau kita memelihara lingkungan sekadar karena diperlukan untuk menopang hidup manusia, kita akan jatuh ke dalam materialisme, nilai etis yang telah terbukti merusak lingkungan. Kalau kita memelihara lingkungan karena sekadar kecintaan kita pada lingkungan yang memiliki hak seperti kita, maka kita akan jatuh ke dalam romantisisme, nilai etis yang cenderung utopis. Kita perlu memelihara lingkungan hidup kita sebagai ungkapan syukur pada Allah Sang Pencipta yang telah mengaruniakan lingkungan dengan segala kekayaan di dalamnya untuk menopang hidup kita dan yang membuat hidup kita aman dan nyaman. Juga sebagai tanda syukur kita atas pembaruan dan penebusan yang telah dilakukan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Maka memelihara lingkungan tidak lain dari ibadah kita kepada Allah. Bagaimana menjabarkan ibadah ini, norma-norma berikut kiranya perlu dikembangkan sebagai penjabaran etika lingkungan yang bersifat teosentris, dengan menunjukkan solidaritas dengan semua makhluk, dengan sesama (termasuk generasi penerus) dalam kasih dan keadilan.

1. Solidaritas dengan Alam

Karena manusia dengan lingkungan hidup adalah sesama ciptaan yang telah dipulihkan hubungannya oleh Tuhan Yesus Kristus, maka manusia, khususnya manusia baru dalam Kristus (2 Kor. 5:7), seharusnya membangun hubungan solider dengan alam. Hubungan solider (sesama ciptaan dan sesama tebusan) berarti alam mestinya diperlakukan dengan penuh belas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai penderitaannya dan kerusakan alam sebagai kerusakannya juga. Seluruh makhluk dan lingkungan sekitar tidak diperlakukan semena- mena, tidak dirusak, tidak dicemari dan semua isinya tidak dibiarkan musnah atau punah. Manusia tidak boleh bersikap kejam terhadap alam, khususnya terhadap sesama makhluk. Dengan cara itu, manusia dan alam secara bersama (kooperatif) menjaga dan memelihara ekosistem . Contoh konkret: manusia berdisiplin dalam membuang sampah atau limbah (individu, rumah tangga, industri, kantor, dan sebagainya) agar tidak mencemari lingkungan dan merusak ekosistem. Pencemaran/polusi mestinya dicegah, diminimalisir, dan dihapuskan supaya alam tidak sakit atau rusak. Kita bertanggung jawab atas kesehatan dan kesegaran alam kita.

Sikap solider dengan alam dapat pula ditunjukkan dengan sikap hormat dan menghargai (respek) terhadap alam. Tidak berarti alam disembah, tetapi alam dihargai sebagai ciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus yang menjadi cerminan kemuliaan Allah. Menghargai alam berarti menghargai Sang Pencipta dan Sang Penebus. Contoh konkret misalnya tidak membabat hutan sembarangan sebab membabat hutan dapat memusnahkan aneka ragam spesies dalam hutan. Contoh lain, tidak menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak atau bahan pemusnah lainnya. Sebaliknya, usaha menghargai dapat dilakukan melalui usaha-usaha kreatif mendukung dan melindungi kehidupan seluruh makhluk dan lingkungan hidup misalnya dengan tidak hanya penghijauan, pembudidayaan, tetapi juga usaha pemulihan dengan membersihkan lingkungan yang terlanjur rusak. Pokoknya, sikap solidaritas dengan alam dapat ditunjukkan dengan pola hidup berdisiplin dalam menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem secara konstan.

2. Pelayanan yang Bertanggung Jawab (Stewardship)

Alam adalah titipan dari Allah untuk dimanfaatkan/dipakai/digunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi sekaligus adalah rumahnya. Maka sumber-sumber alam diberikan kepada manusia tidak untuk diboroskan. Manusia harus menggunakan dan memanfaatkan sumber- sumber alam itu secara bertanggung jawab. Maka pemanfaatan/penggunaan sumber- sumber alam haruslah dilihat sebagai bagian dari pelayanan. Alam digunakan dengan memerhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kebutuhan lingkungan, yaitu menjaga ekosistem. Tetapi alam juga digunakan dengan memerhatikan kebutuhan sesama, termasuk generasi yang akan datang.

Memanfaatkan alam adalah bagian dari pertanggungjawaban talenta yang diberikan/dipercayakan oleh Tuhan kepada manusia (Mat. 25:14-30 par.). Allah telah memercayakan alam ini untuk dimanfaatkan dan dipakai. Untuk dilipatgandakan hasilnya, untuk disuburkan, dan dijaga agar tetap sehat sehingga produknya tetap optimal. Oleh karena itu, alam mesti dipelihara dan keuntungan yang didapat dari alam sebagian dikembalikan sebagai deposit terhadap alam. Tetapi juga dipergunakan secara adil dengan semua orang. Ketidakadilan dalam memanfaatkan sumber-sumber alam adalah juga salah satu penyebab rusaknya alam. Sebab mereka yang merasa kurang akan mengambil kebutuhannnya dari alam dengan cara yang sering kurang memerhatikan kelestarian alam, misalnya dengan membakar hutan, mengebom bunga karang untuk ikan, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka yang tergoda akan kekayaan melakukan pengurasan sumber alam secara tanpa batas.

Panggilan untuk memanfaatkan sumber-sumber alam sebagai pelayanan dan pertanggungjawaban talenta akan mendorong kita melestarikan sumber- sumber alam, sekaligus melakukan keadilan terhadap sesama. Contoh konkret: manusia menghemat menggunakan sumber-sumber alam (bahan bakar fosil, hutan, mineral, dan sebagainya) agar tetap mencukupi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lain secara berkesinambungan. Penghematan ini tidak hanya berarti penggunaan seminimal mungkin sumber-sumber alam sesuai kebutuhan (air, energi, kayu, dan sebagainya), tetapi mencakup pula pola 4R -- "reduce", "reuse", "recycle", "replace" (atau mengurangi, menggunakan ulang, mendaur ulang, dan mengganti) sumber- sumber alam yang kita pergunakan setiap hari. Dunia modern yang sangat praktis mengajar kita memakai lalu membuang. Sayangnya, yang sering dibuang itu adalah yang semestinya masih berguna kalau didaur. Tidak jarang pula yang dibuang itu sekaligus merusak lingkungan, misalnya bahan kimia atau kemasan kaleng dan plastik. Karena itu, bahan-bahan yang merusak alam sebaiknya tidak digunakan terlalu banyak dan tidak dibuang sembarangan.

3. Pertobatan dan Pengendalian Diri

Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itu sebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangat konsumtif. Secara teologis, dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisis moral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengan demikian, setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yang berarti tindakan dosa. Dalam arti itu, maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihat sebagai tindakan pertobatan dan pengendalian diri. Dilihat dari sudut pandang Kristen, maka tugas pelestarian lingkungan hidup yang pertama dan utama adalah mempraktikkan pola hidup baru, hidup yang penuh pertobatan dan pengendalian diri, sehingga hidup kita tidak dikendalikan dosa dan keinginannya, tetapi dikendalikan oleh cinta kasih.

Materialisme adalah akar kerusakan lingkungan hidup. Maka materialisme menjadi praktik penyembahan alam (dinamisme modern). Alam dalam bentuk benda menjadi tujuan yang diprioritaskan bahkan disembah menggantikan Allah. Kristus mengingatkan bahaya mamonisme (cinta uang/harta) yang dapat disamakan dengan sikap rakus terhadap sumber-sumber alam (Mat. 6:19-24 par.; 1 Tim. 6:6-10). Karena mencintai materi, alam dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan material. Maka supaya alam dapat dipelihara dan dijaga kelestariannya, manusia harus berubah (bertobat) dan mengendalikan dirinya. Manusia harus menyembah Allah dan bukan materi. Dalam arti itulah maka usaha pelestarian alam harus dilihat sebagai ibadah kepada Allah melawan penyembahan alam, khususnya penyembahan alam modern alias materialisme/mamonisme. Pelestarian alam juga harus dilihat sebagai wujud kecintaan kita kepada sesama sesuai ajaran Yesus Kristus, di mana salah satu penjabarannya adalah terhadap seluruh ciptaan Allah sebagai sesama ciptaan.

IV. Kesimpulan

Alam atau lingkungan hidup telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita untuk digunakan dan dimanfaatkan demi kesejahteraan manusia. Manusia dapat menggunakan alam untuk menopang hidupnya. Dengan kata lain, alam diciptakan oleh Tuhan dengan fungsi ekonomis, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tetapi bukan hanya kebutuhan manusia menjadi alasan penciptaan. Alam ini dibutuhkan pula oleh makhluk hidup lainnya bahkan oleh seluruh sistem kehidupan atau ekosistem. Alam ini berfungsi ekumenis (untuk didiami) oleh seluruh ciptaan lainnya. Alam ini rumah kita. Kata-kata "ekonomi", "ekumene", dan "ekologi" berakar dalam kata Yunani "oikos" yang artinya rumah. "Ekonomi" berarti menata rumah; itulah tugas pengelolaan kebutuhan hidup. "Ekumene" berarti mendiami rumah; itulah tugas penataan kehidupan yang harmonis. "Ekologi" berarti mengetahui/menyelidiki rumah; itulah tugas memahami tanggung jawab terhadap alam.

Manusia adalah penata dalam rumah bersama ini. Pertama, ia adalah pengelola ekonomi, tetapi ia lebih dikuasai oleh kerakusan. Karena itu, diperlukan pembaruan/pertobatan dan pengendalian diri supaya timbul sikap respek dan tindakan penuh tanggung jawab terhadap lingkungan. Maka tanggung jawab Kristen dalam memelihara kelestarian lingkungan kiranya dapat pula dirumuskan dalam pola 4R -- "repent", "restraint", "respect", "responsible" (atau bertobat, menahan diri, menghormati, dan bertanggung jawab). Ibadah yang sejati adalah ibadah yang dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab dalam hidup yang nyata.

Dalam menata kehidupan bersama, umat Kristen harus bermitra dengan semua orang, bahkan dengan semua makhluk. "Ekumene" berarti bekerja bersama membangun kehidupan di atas planet ini. Tugas itu adalah tugas bersama semua orang dan seluruh ciptaan. Maka tugas orang Kristen adalah memberi kontribusinya sesuai dengan iman dan pengharapan kepada Allah, memperkaya dan mengoptimalkan ibadahnya dengan terus-menerus menjaga dan memelihara kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Optimalisasi ibadah itu dinyatakan dalam bentuk disiplin, penghematan, dan pengendalian diri.

Kepustakaan

Berkhof, Hendrikus. Christian Faith. Grand Rapids: Eermands, 1997.

Bhagat, Shantilal P. Creation in Crises: Responding to God Covenant. Illionis: Bredren, 1990.

Birch, Charles. et. al. eds. Liberating Life: Contemporary Approach to Ecological Theology. Maryknoll: Orbis, 1990.

Derr, Thomas Sieger. Ecology and Human Liberation. Geneva: WCC, 1973.

Drummond, Celia-Dianne. A Handbook in Theology and Ecology. London: SCM Press, 1996.

Pojman, Louis P. ed. Environmental Ethics. Oxford: Blackwell, 1993.

Stott, John. Issues Facing Christian Today. London: Marshall Morgan and Scott, 1984.

Wolf, H. W. Antropology of the Old Testament. Philadelphia: Fortress, 1981.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama jurnal : Jurnal Pelita Zaman; Volume 13 No. 1, 1998
Penulis : Robert P. Borrong
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman, Bandung 1998
Halaman : 8--18

Tujuh Langkah Menuju Hidup yang Bijaksana

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Banyak orang Kristen telah diracuni dengan pandangan yang mengatakan bahwa kehidupan pribadi, termasuk kehidupan rohani, adalah "privasi". Orang lain tidak berhak ikut campur di dalamnya. Secara sekilas, pandangan itu kelihatannya arif dan bijaksana. Karena itu, banyak orang yang tidak senang ketika ada saudara seiman mulai mengusiknya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

"Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan akhir-akhir ini?" "Apa yang kamu dapatkan dari saat teduhmu hari ini?" "Kapan terakhir kali kamu mengaku dosa di hadapan Tuhan?"

Meski menjawab dengan senyum-senyum, dalam hati, mereka pasti jengkel, dan kemudian secara diam-diam mulai mengumpat.

"Apa urusannya menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?" "Wah ..., sok rohani banget dia itu." "Bokap gua aja nggak pernah nanya yang begituan. Apa sih maunya?"

Bahkan, bukan hanya orang Kristen awam saja yang jadi uring-uringan ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan rohani yang sulit dan keras seperti itu, gereja dan pendeta pun tidak kalah geramnya. Coba Anda bertanya kepada orang yang berkepentingan di gereja dengan pertanyaan seperti ini.

"Mengapa saya merasa tidak bertumbuh di gereja ini?" "Mengapa gereja tidak lagi mengkhotbahkan firman Tuhan?" "Mengapa sudah lama sekali saya tidak mendengar teguran tentang dosa di gereja ini?"

Bukannya mendapat jawaban yang jujur dan benar, kita justru akan diserang balik dengan jawaban atau pertanyaan yang mematikan.

"Kalau kamu tidak bertumbuh, itu urusan pribadimu, jangan menyalahkan gereja." "Tidak baik menjadi orang yang suka mengkritik gereja atau khotbah pendeta. Memangnya kamu bisa berkhotbah lebih baik dari pendeta itu?" "Urusan dosa itu urusan pribadi, tidak perlu digembar-gemborkan di depan semua orang."

Artikel yang saya kutipkan untuk Anda di bawah ini memberikan tujuh langkah untuk hidup bijaksana sehingga Anda dapat menghindarkan diri dari mengikuti sikap hidup yang saya gambarkan di atas (yang disebut oleh penulisnya sebagai sinkretisme). Mari kita simak ketujuh langkah ini dan mulai mempraktikkannya!

  1. Mulailah pelajari dengan sungguh-sungguh karakter Allah.
  2. Jalani kehidupan Anda dengan mawas diri.
  3. Lakukan saat teduh pribadi secara teratur.
  4. Bentuklah cara pikir yang berbeda dengan cara pikir duniawi.
  5. Akuilah sepenuhnya otoritas Alkitab.
  6. Mulailah bedakan antara prinsip Alkitab dengan norma-norma budaya.
  7. Kembangkanlah hidup yang mau memberikan pertanggungjawaban, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Jika Anda menjalankan ketujuh langkah tersebut, Anda akan dapat menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan keras dengan hati yang bijaksana, dengan lapang dada dan tidak dengan sikap memusuhi. Seharusnya Anda justru bersyukur karena menyadari ternyata masih ada saudara-saudara seiman yang peduli dengan Anda dan hidup Anda.

Selamat merenungkan!

In Christ,
Yulia < yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org/ >
< http://blog.sabda.org >

Penulis: 

Patrick M. Mosley

Edisi: 

113/VII/2009

Tanggal: 

27-7-2009

Isi: 

DUA BAGIAN KEBIJAKSANAAN

John Calvin, yang memainkan peran utama dalam pengembangan pemikiran Barat selama era Reformasi, juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan pandai dalam membina persahabatan.

Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk meneliti dan menyusun topik- topik Alkitab ke dalam pola yang rapi dan logis. Dia terus menambahkan pemikirannya sehingga hasil akhir bukunya yang besar dan berat yang berjudul, "The Institutes of the Christian Religion" (Institusi Agama Kristen), berisi lebih dari 1.500 halaman. Semua teolog yang hebat, mau tidak mau, harus mempertimbangkan pemikiran-pemikiran Calvin.

Dampak karyanya terhadap semua agama, apalagi melihat panjangnya karya itu, membuat kata pengantar dalam karya tulisannya menjadi istimewa dan semakin penting. Kata pengantarnya patut mendapat pertimbangan khusus. Calvin menulis: "Hampir semua kebijaksanaan yang kita miliki, yaitu kebijaksanaan yang benar dan mendalam, terdiri dari dua bagian saja: pengetahuan mengenai Tuhan dan pengetahuan mengenai diri kita sendiri."

Dengan terus mencari tahu dan mengusahakan pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan mengenai diri sendiri, kita dapat terbang tinggi menuju horizon kedamaian, makna, dan tujuan yang kekal. Rahasia objektivitas, pertumbuhan, dan kebijaksanaan rohani adalah mencari Allah seperti apa adanya Dia dan memeriksa kehidupan kita sendiri dengan saksama.

Itu semua adalah unsur-unsur penting yang membangun kehidupan bahagia dan memuaskan. Bagaimana kita mencapai hal itu? Apakah tujuan akhir usaha kita? Jawaban yang paling benar adalah kebijaksanaan. "Kebijaksanaan adalah segala-galanya, karenanya perolehlah kebijaksanaan" (Amsal 4:7). Yang dimaksud di sini bukan kebijaksanaan duniawi, melainkan kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan.

Kebijaksanaan -- mengenal diri sendiri dan Allah seperti apa adanya Dia -- akan menghubungkan kita dengan rancangan kekal dari Pribadi yang menciptakan kita. Mari kita lihat tujuh hal penting yang bisa dilakukan umat Kristen agar tidak menciptakan sinkretisme. Tujuh cara ini sekaligus menjadi daftar langkah-langkah yang disarankan, yang akan membimbing kita menuju sebuah kehidupan yang bijaksana.

  1. MEMPELAJARI KARAKTER ALLAH
  2. Selama bertahun-tahun, saya mendengar beberapa orang yang sangat rohani mengatakan kira-kira seperti ini: "Jika Anda benar-benar ingin dekat dengan Tuhan, cara terbaik yang dapat Anda lakukan adalah mengenali dan mempelajari atribut-atribut-Nya." Saya mendapati hal ini benar. Saat kita berhasil menembus kecemerlangan karakter dan atribut Allah, sebuah dunia pemahaman rohani yang utuh, baru, dan kaya akan terbuka bagi kita.

    Kita mempelajari atribut-atribut Allah untuk menemukan siapa sebenarnya Dia. Kalau kita tidak berusaha mengenal-Nya, maka kita hanya sekadar menjadi orang Kristen tradisi. Orang Kristen tradisi berusaha mengenal Allah sebagaimana yang mereka inginkan (yang mereka ciptakan), bukan Allah seperti apa adanya Dia. Allah bukanlah Allah yang kita ciptakan dalam pikiran kita. Allah adalah Allah, yang tidak berubah. Tidak ada tugas yang lebih mulia daripada menyerahkan harapan dan presuposisi kita di hadapan takhta anugerah dan rahmat-Nya ... sehingga kita dapat semakin mengenal-Nya ... sehingga kita sungguh- sungguh mengenal-Nya.

    Kesan-kesan pertama kita tentang Tuhan Allah dibentuk oleh budaya kita: tempat kita lahir, siapa orang tua kita, agama yang kita praktikkan, kemampuan kita, dan kekecewaan kita. Kata "Bapa" sangat kaya akan makna karena artinya sangat terkait dengan pengalaman kita dengan bapak duniawi yang kita miliki. Ini berarti kita harus mencurahkan waktu yang banyak untuk mengubah konsep lama kita, sambil mengisi hidup baru kita dengan ajaran yang benar mengenai Tuhan.

    Tidak banyak orang yang berusaha untuk mencapai kehidupan yang bersemangat untuk senantiasa taat pada Allah dan mengenal Allah. Menurut Anda, berapa banyak orang yang demikian? Zaman kita sekarang ini adalah zaman yang buta Alkitab. Menurut grup riset Barna (Barna Research Group), 93% rumah tangga di Amerika memiliki Alkitab, tetapi hanya 12% saja yang membacanya setiap hari.

    Jika kita memiliki pandangan yang sinkretis mengenai Allah sebagaimana adanya Dia, maka kita tidak mengenal Allah, melainkan allah.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Seberapa baik Anda dapat menggambarkan karakter dan atribut Allah?

  3. MENJALANI KEHIDUPAN YANG MAWAS DIRI
  4. Seorang pemuda Kristen yang hampir mencapai usia 30 tahun mengeluh, "Saya telah menjadi orang yang sangat tidak peduli dan sinis. Di rumah, saya seperti Jekyll yang baik hati, tetapi di kantor, saya seperti Hyde yang jahat. Saya khawatir jika saya tidak melakukan perubahan yang radikal sekarang ini, mungkin nantinya saya tidak akan pernah dapat berubah."

    Bagi banyak orang, apa yang tampaknya menyenangkan ternyata merupakan suatu lubang rutinitas yang membosankan. Jika kita berada terlalu lama dalam lubang itu, suatu saat kita melihat ke atas dan kita tidak dapat keluar lagi dari lubang itu menuju pada kebebasan. Seorang teman mengatakan: "Lubang itu sama seperti sebuah kuburan tanpa jalan keluar."

    Saya tidak tahu daerah-daerah di mana Anda sering kali berada, tetapi ke mana pun saya pergi sekarang ini, saya selalu menjumpai orang-orang yang lelah, bukan hanya lelah jasmani, tetapi juga lelah secara mental, emosional, kejiwaan, dan rohani. Orang Kristen tidak kebal terhadap kelelahan itu. Jika kita selalu sibuk dan selalu tergesa- gesa, maka kita pun tidak akan dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas dan kita akan kehilangan fokus. Orang yang lelah tidak memeriksa diri mereka, mereka tidak punya waktu untuk melakukan diagnosa.

    Cara tercepat untuk mencapai injil palsu adalah ditipu oleh kehidupan yang terlalu sibuk dan tidak pernah memeriksa diri. Salah satu penelaahan istilah alkitabiah yang paling membuka pikiran yang pernah saya lakukan ialah pada kata "menipu" dan kata-kata perluasannya.

    1. Hati adalah bagian yang memunyai keinginan untuk menipu diri sendiri. "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu." (Yeremia 17:9)

  5. Kita, manusia lama, adalah penipu yang penuh tipu daya. "Manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan." (Efesus 4:22)
  6. Orang dengan sengaja memanipulasi orang lain. "Aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku" (Mazmur 49:5). "Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata hampa." (Efesus 5:6)
  7. Para antek setan selalu merancang penipuan. "(Binatang) menyesatkan mereka yang diam di bumi." (Wahyu 13:14)
  8. Dan sudah jelas, si setan ular itu sendiri adalah raja penipu. "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (Kejadian 3:13)

Sungguh merupakan skenario yang menyedihkan jika Tuhan tidak memberikan bantuan untuk mengatasi jaring-jaring penyesatan itu. Penangkalnya adalah menjalani kehidupan yang mawas diri, dan secara rutin meninjau cara dan gaya hidup kita.

Kelemahan manusia yang utama pada akhir abad ke 20 (seperti halnya pada akhir setiap abad) ialah hidup dengan tidak mawas diri. Kehidupan yang tidak mawas diri mau tidak mau merupakan kehidupan yang sinkretis, yang berkompromi dengan cara-cara duniawi.

[Pertanyaan diskusi:]

Apakah Anda dapat mengatakan bahwa Anda sudah mengintrospeksi diri Anda dengan baik?

  • MELAKUKAN SAAT TEDUH PRIBADI SECARA TERATUR
  • Richard Dobbins, pendiri Emerge Ministries, bekerja menolong para pendeta yang terjerumus ke jurang dosa seksual. Dobbins memerhatikan ada satu kesamaan di antara pendeta-pendeta yang terjerumus tadi. Ia mengatakan, "Tidak satu pun dari para pendeta itu menyisihkan waktu untuk melakukan renungan pribadi setiap hari." Dengan kata lain, pada hari-hari, pekan-pekan, dan bulan-bulan sebelum kegagalan moral mereka, tugas-tugas kependetaan mereka berjalan terus, tetapi pengawasan diri mereka sendiri di hadapan Kristus berhenti. Dobbins mengatakan, masalah akan timbul jika kita tidak dapat membedakan antara "jalan kita dengan Tuhan" dengan "kerja kita untuk Tuhan".

    Jika pendeta saja harus terus waspada untuk menjaga agar kehidupan rohaninya tetap segar, betapa rapuhnya kaum awam yang setiap hari harus menghadapi dunia keras yang penuh godaan? Saat kita tidak memenuhi momen-momen pribadi kita dengan Tuhan, maka hidup kita mulai digerakkan oleh tenaga cadangan, dan setelah itu oleh uap. Kita tidak memiliki kuasa Roh Kudus untuk menjalani hidup yang patut untuk melakukan panggilan yang kita terima kecuali kita berkelimpahan akan Kristus. Jika kita minum air hidup dari Tuhan sepenuhnya, kita akan memiliki cukup Kristus untuk menyegarkan diri kita sendiri dan membagikannya kepada orang lain.

    Alkitab sama sekali tidak mengatakan bahwa kita harus membaca Alkitab setiap hari. Namun, Alkitab mengatakan bahwa orang yang merenungkan ayat-ayat Alkitab setiap hari adalah "bagaikan pohon yang berada di tepi sungai yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang daun-daunnya tidak layu. Apapun yang diperbuatnya berhasil" (Mazmur 1:3). Alkitab juga mengatakan, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga- jagalah di dalam doamu itu dengan dengan permohonan yang tak putus- putusnya." (Efesus 6:18)

    Alkitab tidak mengatakan bahwa kita harus membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita sebaiknya merenungkan firman Tuhan dan berdoa mengenai segala sesuatu secara terus-menerus. Konsep alkitabiahnya adalah kita berkomunikasi dengan Tuhan secara terus-menerus. Sebetulnya, konsep saat teduh setiap hari adalah akomodasi budaya untuk kehidupan yang sibuk, penuh dengan acara. Karena kebanyakan dari kita memunyai jadwal yang padat setiap hari, gagasan beberapa menit sehari yang disisihkan khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa adalah gagasan yang berharga. Saat teduh harian dengan Tuhan bukan suatu kewajiban, tetapi tindakan yang bijaksana. Coba saja tanyakan kepada setiap pendeta yang pernah terjerumus ke dalam dosa.

    Secara pribadi, saya tahu banyak orang yang menghadapi pergumulan berat meskipun mereka menjaga kehidupan yang dekat dan intim bersama Yesus. Tetapi saya melihat tidak seorang pun dari mereka mengalami kekecewaan pada akhirnya. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:25)

    Di pihak lain, saya tahu banyak orang Kristen yang sangat menderita hanya karena mereka tidak mencari hadirat Tuhan melalui saat teduh yang teratur saat mereka menghadapi kesulitan hidup. Tanpa waktu bersama Tuhan setiap hari, maka benih-benih sinkretisme akan berakar.

    Pertimbangkan untuk menetapkan batas waktu yang maksimum untuk bersaat teduh, bukan minimum. Hal ini akan meminimalisir kesalahan. Jika sebelumnya Anda tidak pernah menyisihkan waktu untuk bersaat teduh, mulailah dengan batas waktu maksimum 5 menit. Kalau merasa belum ingin berhenti setelah lewat lima menit, bisa diteruskan beberapa saat lagi. Bacalah satu bab dalam Perjanjian Baru dan berdoalah (seperti Doa Bapa Kami). Jangan berharap kita akan dapat melakukannya setiap hari, tetapi pilihlah waktu dan tempat yang tetap sehingga Anda dapat melakukannya dengan cukup teratur; lima sampai tujuh kali seminggu. Jika Anda membaca satu bab Perjanjian Baru setiap hari selama 5 hari dalam seminggu, maka Anda akan selesai membacanya dalam waktu 1 tahun (260 bab). Jika batas waktu saat teduh maksimum yang kita tetapkan terasa terlalu singkat, batas waktu itu dapat diperpanjang, tetapi lakukanlah secara perlahan-lahan dan bertahap. Jika harapan kita realistis, kita dapat merancang program saat teduh yang berhasil.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah Anda menyisihkan waktu secara teratur untuk bersaat teduh secara pribadi dengan Tuhan? Komitmen untuk bersaat teduh dengan Tuhan yang realistis itu seperti apa?

  • BERPIKIR SECARA BERBEDA
  • Kebanyakan dari kita menambahkan Tuhan Yesus sebagai minat tambahan dalam hidup kita yang sudah sibuk dengan jadwal yang padat. Sebut saja hal itu sebagai injil tambahan. Injil Yesus Kristus adalah menambahkan Dia, tetapi juga mengurangi sesuatu -- yang Alkitab sebut sebagai pertobatan. Keselamatan mencakup perubahan dan pertobatan. Paulus mengatakan: "bahwa mereka harus bertobat (membuang dosa) dan berbalik kepada Allah (berubah dan menambahkan Kristus) serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu" (Kis. 26:20). Injil Yesus Kristus datang melalui iman dan pertobatan.

    Pertobatan berarti berpikir secara berbeda. Tuhan ingin kita berpikir berbeda, lain dari yang biasa kita lakukan. Untuk melakukannya, kita "menambahkan" sesuatu dalam hidup kita dan mengurangi sesuatu pula. Tuhan menggarap rincian karakter dan sifat-sifat kita. Dia ingin menambahkan sesuatu ke dalam karakter kita dan membuang sesuatu dari karakter kita. Saat kita menambahkan Yesus tetapi tidak menghilangkan dosa, kita tidak mengikuti Injil Tuhan, melainkan injil palsu yang sinkretis.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Dalam hal apa Anda sudah berpikir berbeda? Apakah Anda sudah berpikir jauh berbeda seperti yang Anda inginkan? Bagaimana kita maju lebih jauh lagi?

  • MENERIMA OTORITAS ALKITAB
  • Seorang perempuan Kristen mengatakan kepada saya bahwa dia bermaksud meninggalkan suami dan ketiga anaknya guna mengejar karier profesional. Dia meminta saran saya.

    "Menurut Anda, apa kata Alkitab mengenai hal ini?" tanya saya.

    "Alkitab mengatakan bahwa saya seharusnya tidak boleh menceraikan suami saya. Saya tahu itu. Itu sebabnya pikiran saya sangat kacau. Saya merasa ini adalah sesuatu yang harus saya lakukan, tetapi pikiran saya bimbang terus selama berbulan-bulan. Sahabat-sahabat saya berpikir saya tidak waras," katanya.

    Sekarang ini kita hidup pada zaman yang memusatkan perhatian pada perasaan. Penekanan yang berlebihan pada perasaan merupakan ciri relativisme. Namun, orang percaya tidak boleh memercayai perasaan. Perasaan harus berada di bawah otoritas moral Alkitab. Perasaan dapat menjerumuskan. Perasaan menuntun kita ke arah sinkretisme.

    Setiap perasaan yang membawa kita kepada keputusan yang berlawanan dengan firman Tuhan, berasal dari daging dan harus dicegah. Alkitab harus menjadi otoritas terakhir kita, bukan emosi yang goyah. "Sebab firman Allah itu hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua ... ia sanggup membedakan pertimbangan dan hati kita." (Ibrani 4:12)

    Salah satu krisis yang paling besar dalam kebudayaan kita adalah pemberontakan melawan otoritas. Baru-baru ini, pada waktu saya pergi naik mobil ke lapangan kasti liga anak-anak, saya menjumpai sekelompok anak laki-laki bersepeda. Salah satu di antara mereka menyerukan teriakan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya kepada saya -- orang yang sudah tua -- sementara yang lain tertawa. Saya pura-pura tidak menghiraukan seruan itu dan terus berjalan, tetapi hati saya kesal.

    Semenit kemudian, seorang anak menyeberang di depan saya di sebuah persimpangan. Lampunya hijau untuk saya dan merah untuk dia. Pada waktu saya menginjak rem dengan keras, dia mencemooh saya seolah-olah saya orang yang paling bodoh di muka bumi ini. Mungkin dia benar karena saya benar-benar merasa bodoh. Jelas saya ingin sekali menabrak anak tadi, tetapi saya tahu orang tidak akan mengerti.

    Masalahnya adalah anak-anak kecil nakal yang lucu itu tumbuh menjadi dewasa. Dan pada waktu mereka dewasa, mereka senang melawan otoritas. Mereka bersikap memberontak seperti itu terhadap gereja dan firman Tuhan. Bila ada seseorang atau pihak tertentu seperti gereja meminta mereka patuh pada otoritas, mereka tidak mau melakukannya.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah ada anak kecil nakal di dalam diri Anda? Apakah Anda bergumul dengan masalah otoritas? Mengapa taat terhadap firman Tuhan sebagai otoritas moral itu amat penting?

  • MEMBEDAKAN ALKITAB DARI NORMA-NORMA BUDAYA
  • Dewasa ini, anak-anak perempuan menelepon anak-anak lelaki. Memangnya kenapa? Saya rasa kita sangat keliru jika kita berpikir bahwa pelanggaran norma-norma budaya sama dengan pelanggaran Alkitab. Dalam kebudayaan kita, kebanyakan orang tua tumbuh pada zaman di mana hanya anak-anak perempuan nakal saja yang menelepon anak-anak lelaki. Kini, cara pikir anak-anak tidak sama dengan cara pikir orang tua mereka dulu. Mengubah pendapat yang berbeda mengenai norma-norma budaya dan menjadikannya isu rohani adalah hal yang tidak masuk akal.

    Pada waktu kita menjadi Kristen, kita cenderung membawa budaya bersama kita. Hampir selalu demikian keadaannya. Pada abad pertama, ada dua kelompok orang yang menjadi Kristen: orang Yahudi dan non-Yahudi, kelompok yang religius dan tidak religius. Kedua kelompok itu cenderung membawa budaya bersama mereka. Mereka berusaha membuat Injil Yesus Kristus ditambah dengan sesuatu yang lain.

    Beberapa orang Yahudi yang menjadi Kristen membawa hukum (Taurat) dan mencoba mendistorsi Injil menjadi Injil Yesus Kristus plus hukum. Kita sekarang menyebut mereka dengan julukan orang-orang legalistik. Di pihak lain, sejumlah orang non-Yahudi membawa filsafat Yunani dan berusaha mengubah Injil menjadi Yesus Kristus plus ide-ide baik. Kita menyebut mereka sebagai orang-orang sinkretis.

    Pada waktu kita berusaha membawa tatanan dunia lama ke tatanan baru Kerajaan Allah, kita mendistorsi cara hidup yang Tuhan inginkan untuk kita jalani dalam hidup kita. Kerajaan Tuhan di dunia adalah tatanan yang benar-benar baru, cara hidup yang benar-benar baru. Saat kita mencampuradukkan cara hidup baru menurut Alkitab dengan budaya lama kita, kita tidak akan dapat lagi secara peka melihat gagasan-gagasan Kristen dengan jelas.

    Kita yang benar-benar ingin mengikut Kristus dapat memilih satu dari dua cara hidup. Kita dapat melakukan apa yang kita mau, atau kita dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sayangnya, banyak orang yang telah menerima Kristus sebagai Juru Selamat berusaha menentang-Nya. Mereka hidup menurut gagasan dan keinginan mereka sendiri. Secara roh, mereka Kristen, tetapi pada praktiknya, hidup mereka sekuler. Mereka tidak berusaha keras mencari kehendak Tuhan. Sebaliknya, mereka malah melakukan apa yang menyenangkan diri mereka sendiri dan kemudian hidup mereka ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Salah satu kunci hidup sebagai orang Kristen yang patuh ialah tidak mencampuradukkan ajaran Alkitab dengan norma-norma budaya. Kalau kita menilai secara moral tingkah laku seseorang (yang sebenarnya tidak boleh kita lakukan), cobalah tanyakan pada diri Anda sendiri pertanyaan ini: "Apakah saya merasa terganggu karena hal itu melanggar ajaran Alkitab, atau karena hal itu tidak sesuai dengan norma budaya yang diharapkan?" Atau yang lebih singkatnya: "Bagian Alkitab mana yang menyatakan bahwa kita tidak boleh melakukannya?"

    Seseorang tidak perlu bersikap sesuai dengan standar kita untuk hidup secara kristiani. Bagian mana dalam Alkitab yang mengatakan bahwa kita tidak boleh berambut panjang? Jika seseorang masih memakai busana gaya tahun 50-an atau 60-an, mengapa mereka dikucilkan?

    Saat kita berusaha memaksakan tren budaya kita sekarang ini sebagai standar tingkah laku yang dapat diterima (baik yang terlalu ketat maupun terlalu longgar), kita terjebak membangun kehidupan pada fondasi yang salah. Menilai seseorang menurut budaya mereka adalah gejala sinkretisme.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah Anda memandang dan menilai seseorang berdasarkan ajaran Alkitab atau berdasarkan norma-norma budaya yang terus berubah?

  • MENGEMBANGKAN PERTANGGUNGJAWABAN TERHADAP DIRI SENDIRI
  • Dengan susah payah, dia berusaha menjelaskan keadaan keuangannya yang amat kacau. Semakin banyak ia berbicara, semakin ia menjadi emosional. Akhirnya, meskipun tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya, saya menyelanya dan bertanya, "Apakah menurut Anda, Anda akan berhasil?"

    Seketika itu ia merasa terpukul. "Entahlah, saya tidak tahu," keluhnya.

    Orang bisa berhasil atau gagal dalam empat bidang: rohani, moral, keuangan, dan hubungan (relasi). Apakah Anda mengenal orang yang secara sengaja menetapkan tujuan hidupnya untuk gagal? Betul, tidak mungkin. Tidak ada seorang pun yang secara sengaja menghancurkan hidupnya. Namun, banyak orang di sekitar kita yang gagal. Mengapa?

    Ketika kota asal saya belum berkembang seperti sekarang, apa yang terjadi di sana, semua orang tahu. Visibilitas yang tinggi seperti itu mencegah orang berbuat dosa. Tetapi 10 tahun terakhir ini, kota berkembang dengan pesat dan orang tidak lagi selalu tahu apa yang terjadi di kota itu. Sekarang orang dapat bergerak tanpa diketahui orang lain, bahkan terkadang seseorang jatuh terpuruk, tidak ada orang yang tahu.

    Pada zaman sekarang ini, hampir semua orang Kristen menjalani kehidupan rohaninya tanpa diketahui oleh orang lain. Orang Kristen dewasa ini bisa keluar masuk gereja tanpa harus mempertanggungjawabkan hidup mereka. Kita tidak mengizinkan siapapun mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang sulit dan keras kepada kita. Hidup kita diselimuti oleh keraguan akan jawaban-jawaban klise terhadap pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang sebenarnya peduli kalau saja kita mau jujur kepada mereka.

    Tekanan-tekanan modern membuat kita tidak punya cukup waktu untuk memikirkan hidup kita, dan juga tidak ada waktu untuk memerhatikan kehidupan orang lain. Dengan banyaknya masalah yang kita hadapi, sering kita kehabisan tenaga untuk memerhatikan kehidupan orang lain. Jadi mereka sering gagal, dan begitu juga kita.

    Tujuan jarak jauh pertanggungjawaban adalah menolong orang untuk berhasil dalam hidup mereka. Ini hanya akan dapat terjadi jika kita menjalani kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Bagaimana kita bisa mendapatkan kehidupan yang demikian? Dengan menjalani hidup yang berintegritas. Integritas adalah sebuah korelasi pribadi antara Alkitab, kepercayaan, dan tingkah laku. Hidup secara transparan di depan saudara-saudara seiman menciptakan kemungkinan yang besar untuk mengalami hidup integritas yang berhasil. Menjauhkan diri dari sorotan orang Kristen yang dewasa bukannya membuat hidup kita sukses, tapi justru gagal.

    Tren pertanggungjawaban menurun, bukan bertambah. Generasi kita menghadapi ledakan luar biasa mengenai pilihan-pilihan, tuntutan- tuntutan waktu yang tidak punya belas kasihan, dan tekanan pribadi yang tak ada bandingannya. Pada saat yang sama, ada gerakan nyata ke arah individualisme dan situasi di mana kita saling tidak mengenal satu dengan yang lain, serta menjauh dari norma-norma yang sudah melembaga. Aneh. Pada saat kita memerlukan teman untuk membantu kita mengambil pilihan yang benar, secara budaya, kita justru saling menjauh dan mengisolasi diri.

    Kita hidup dalam budaya yang makin lama makin mendukung privasi (ini urusan saya, bukan urusanmu) dan individualisme (urus saja urusanmu sendiri). Kecenderungan yang semakin bertumbuh untuk membuat agama sebagai persoalan pribadi berujung pada kekristenan yang terbagi dalam kotak-kotak/kompartemen. Orang memandang apa yang mereka lakukan dalam agama sebagai satu kotak atau sel, apa yang mereka lakukan di rumah adalah kotak yang berbeda, dan apa yang mereka lakukan di kantor kotak yang lain lagi dan sama sekali tidak berkaitan. Mereka menerapkan nilai-nilai dan standar yang berbeda-beda dalam kotak-kotak yang berbeda-beda tadi. Sering kali, tidak ada benang keserasian yang mengaitkan kotak-kotak tersebut menjadi suatu kesatuan.

    Jangan mengira jika seseorang tertutup di kantor, maka dia memunyai hubungan pribadi yang terbuka di lingkungan dan di rumahnya, atau sebaliknya. Banyak orang hidup tanpa hubungan pribadi atau pertanggungjawaban yang berarti. Hidup mereka tumpul. Kehidupan mereka tidak diasah dengan pertanyaan-pertanyaan akuntabilitas yang dapat membuat mereka tajam. Mereka tidak objektif seperti yang seharusnya. Mereka menjalani kehidupan sesuai dengan injil palsu. Tidaklah mengherankan jika mereka mencampuradukan kekristenan dan humanisme.

    [Pertanyaan diskusi:]

    Apakah Anda memiliki seseorang yang kepadanya kita harus bertanggung jawab? Apa keuntungan hubungan yang bertanggungjawab bagi mutu perjalanan hidup rohani kita?

    * * *

    Banyak di antara kita yang dapat hidup dengan lebih bijaksana. Kita cenderung menciptakan injil palsu dengan menggabungkan kepercayaan kita dengan gagasan-gagasan dunia. Kita mematahkan rantai integritas: dari Alkitab, ke kepercayaan, dan ke tingkah laku. Dari uraian di atas, kita telah menjajaki tujuh langkah ke arah hidup yang bijaksana yang dapat membantu kita menjaga ketajaman objektivitas rohani kita.

    1. Mempelajari Karakter Allah

  • Menjalani Kehidupan yang Mawas Diri
  • Melakukan Saat Teduh Pribadi Secara Teratur
  • Berpikir Secara Berbeda
  • Menerima Otoritas Alkitab
  • Membedakan Alkitab dari Norma-Norma Budaya
  • Mengembangkan Pertanggungjawaban Terhadap Diri Sendiri
  • Prinsip-prinsip yang kuat di atas akan menandai kehidupan yang penuh dengan hikmat. Prinsip-prinsip itu menunjukkan kepada kita cara untuk mengenali diri sendiri dan mengenal Tuhan seperti apa adanya Dia. Jika prinsip-prinsip ini diterapkan, maka kita tidak akan menjumpai injil palsu, melainkan iman kepercayaan murni yang akan mengubah hidup kita. (t/Tari Gregory)

    Sumber: 

    Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

    Judul buku : The Rest of Your Life
    Judul bab : Seven Steps to a Wise Life
    Penulis : Patrick M. Mosley
    Penerbit : Thomas Nelson, Inc., Nashville 1992
    Halaman : 77 -- 89

    Doktrin Kecukupan Alkitab

    Editorial: 

    Dear e-Reformed Netters,

    Jika harus menjawab dengan jujur, saat Anda ditanya: "Apakah Anda suka dikritik?" sebagian besar dari Anda pasti menjawab "tidak". Sebagian kecil dari Anda mungkin akan menjawab: "Lihat-lihat dulu apa kritikannya, kalau kritikan itu tidak menyakitkan dan tidak membuat telinga saya merah, bolehlah." Jadi, pada dasarnya orang tidak suka dikritik karena ia takut disakiti atau diusik dari zona nyamannya.

    Cuplikan kecil dari buku yang berjudul "Our Sufficiency in Christ", yang saya kirimkan berikut ini, penuh dengan kritikan, khususnya bagi para pendeta. Jadi, kalau Anda orang yang tidak suka dikritik, lebih baik jangan membaca artikel di bawah ini. Karena, kalau Anda membacanya dengan serius, saya yakin Anda akan gelisah dan mulai mencari kambing hitam, atau Anda harus mulai berpikir untuk melakukan suatu perubahan yang mendasar.

    Salah satu contohnya adalah kritikan John MacArthur, Jr., si penulis artikel, terhadap gereja-gereja yang tidak memberikan pengajaran firman Tuhan dengan kuat, tapi memilih menggunakan cara-cara sekuler untuk menumbuhkan gerejanya, misalnya -- yang terlintas di benak saya -- gereja mulai mengundang para selebriti; mengubah ibadah dengan musik-musik masa kini yang lebih memberi hiburan rohani; memberikan pelayanan untuk memuaskan kenyamanan jemaat; memakai strategi pemasaran masa kini untuk menarik lebih banyak orang datang ke gereja, dan lain sebagainya.

    Menurut penulis, dasar gereja adalah Kristus, karena itu gereja harus berpangkal utama pada pengajaran Kristus, yaitu firman yang menjadi daging, karena itu "mereka yang membangun gereja menurut dasar yang lain berarti sedang mendirikan sebuah struktur bangunan yang tidak akan diterima oleh sang Arsitek Agung".

    Dan untuk pendeta-pendeta yang lebih suka membaca buku-buku manajemen sekuler daripada belajar firman Tuhan, John MacArthur, Jr. berkata, "... jika ia mempelajari buku-buku itu karena ia berpikir ia akan menemukan rahasia besar yang sangat diperlukan, yang firman Tuhan tidak ungkapkan tentang bagaimana menyembuhkan jiwa-jiwa yang sakit atau bagaimana memimpin gereja, maka pengetahuannya tentang kecukupan Alkitab sangatlah buruk. Jika ia mendasarkan pelayanannya pada teori-teori sekuler, ia mungkin akan merancang sebuah sistem penginjilan, konseling, dan kepemimpinan gereja yang tidak alkitabiah."

    Nah, jika Anda suka dengan kritikan-kritikan seperti itu, selamat membacanya.

    In Christ,
    Yulia Oeniyati
    < http://blog.sabda.org >
    < http://reformed.sabda.org/ >
    < yulia(at)in-christ.net >

    Penulis: 
    John MacArthur, Jr.
    Edisi: 
    112/VI/2009
    Tanggal: 
    30-06-2009
    Isi: 

    Suatu ketika di sebuah konferensi pendeta, seorang rekan pendeta bertanya kepada saya, "Apa sebenarnya yang menjadi rahasia kekuatan dan pertumbuhan gereja yang Anda gembalakan, yaitu Grace Community Church?"

    "Rahasia pertumbuhan gereja adalah memberikan pengajaran firman Tuhan yang jelas dan kuat kepada jemaat," jawab saya.

    Tapi saya sangat terkejut ketika dia membalas, "Jangan main-main! Saya sudah mencobanya dan tidak berhasil. Katakan pada saya yang sebenarnya, apa rahasianya?"

    Saya cukup mengenal rekan pendeta itu dan saya berani berkata bahwa jika Anda bertanya kepadanya apakah ia percaya pada doktrin kecukupan Alkitab (sufficiency of Scripture), maka ia akan menjawab ya. Namun, apa yang ia akui untuk dipercaya tidak sejalan dengan filosofi pelayanannya. Ia beranggapan bahwa untuk membangun gereja yang efektif, diperlukan trik-trik tertentu, sebuah strategi yang berdaya cipta, atau sebuah metodologi yang lebih "up-to-date". Ia mencoba menambah ketidakcukupan firman Tuhan yang ia bayangkan. Mungkin tanpa menyadarinya, ia telah menyimpulkan bahwa Alkitab saja tidaklah cukup untuk menjadi sumber dalam pelayanan, dan ia mencari sesuatu yang lain untuk menutupi ketidakcukupan itu.

    Pemimpin Kristen lain dikutip pernah mengatakan bahwa ia yakin tidak akan pernah ada kebangunan rohani di Amerika kalau kita tidak memiliki orang-orang Kristen di Kongres Amerika. Ia akhirnya meninggalkan kependetaannya dan sekarang bekerja untuk mengusahakan orang-orang Kristen terpilih menjadi anggota Kongres. Ia beranggapan bahwa ia dapat mencapai keberhasilan melalui politik lebih daripada yang bisa ia capai melalui mengajarkan firman Tuhan. Ia mungkin berani mempertaruhkan hidupnya bagi kebenaran firman, namun karena satu dan lain hal, ia tidak percaya bahwa mengajarkan firman Tuhan saja kepada jemaat dapat memberikan pengaruh sebesar melakukan aksi politik.

    Dapatkah politik mencapai keberhasilan rohani yang tidak dapat dicapai oleh Alkitab? Pada zaman Nehemia, adalah firman Tuhan yang mendorong kebangunan rohani bagi bangsa Israel (Nehemia 8). Apakah firman Tuhan kini kurang efektif dibanding dulu? Jelas bahwa rekan saya tadi secara verbal menegaskan otoritas, potensi, dan kecukupan Alkitab. Tapi pada praktiknya, ia telah menyerah pada pencipta tren yang merasa bahwa kita membutuhkan sesuatu yang lebih.

    Saya lihat tren yang sama semakin banyak memengaruhi gereja, bahkan yang sudah solid. Pendeta beralih mencari pertolongan pada buku-buku teori manajemen sekuler. Mereka justru memandang CEO non-Kristen sebuah perusahaan multinasional sebagai teladan -- seolah-olah model bisnis sekuler memberikan panduan yang lebih penting untuk membangun Kerajaan Allah daripada firman Tuhan. Tapi ingat, dunia bisnis telah dikuasai untuk mencari "image" dan keuntungan, bukan kebenaran. Sayangnya, gereja sudah menyerap prioritas yang salah itu. Para pemimpin Kristen sepertinya terobsesi untuk meningkatkan pertumbuhan gereja dengan akal manusia. Sering kali, mereka lebih familiar dengan teori manajemen yang sekarang ada daripada teologi alkitabiah. Padahal, firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menambah jemaat gereja (Kis. 2:47), bukan manusia. Kristus mengatakan bahwa Ia akan membangun gereja-Nya (Mat. 16:18). Alat yang benar untuk mengembangkan gereja semuanya bersifat supernatural, karena gereja itu supernatural. Mengapa kita harus memakai metodologi manusiawi untuk apa yang Tuhan lakukan bagi pembangunan Gereja-Nya?

    Saya yakin bahwa orang-orang Kristen yang mencari sumber di luar firman Tuhan untuk strategi pelayanan pasti pada akhirnya, secara tidak sadar, bertentangan dengan pekerjaan Kristus. Kita tidak perlu mencari hikmat dunia yang busuk untuk memberikan pencerahan atau jawaban baru bagi masalah-masalah spiritual. Jawaban yang paling dapat dipercaya bagi kita ada di Alkitab. Hal itu benar, tidak hanya dalam bidang konseling saja, namun juga dalam bidang-bidang lain, seperti penginjilan, pertumbuhan rohani, kepemimpinan gereja, dan bidang- bidang lain yang harus dipahami oleh orang Kristen untuk dapat melayani secara efektif. Injil adalah satu-satunya cetak biru/rancangan yang sempurna untuk semua pelayanan yang sejati. Mereka yang membangun gereja menurut dasar yang lain berarti sedang mendirikan sebuah struktur bangunan yang tidak akan diterima oleh sang Arsitek Agung.

    Apa Lagi yang Dapat Dikatakan?

    Apakah berarti saya membuang segala sumber bantuan di luar Alkitab sebagai sesuatu yang sama sekali tidak berguna? Apakah tidak ada pencerahan yang bermanfaat yang bisa didapat dengan melihat pengamatan para sosiolog dan psikolog? Apakah tidak ada prinsip bermanfaat dari para ahli manajemen sekuler yang dapat dipelajari oleh para pemimpin gereja? Apakah tidak ada teknik dari ahli pengamatan empiris yang dapat pendeta terapkan secara sah bagi pertumbuhan gereja? Apakah tidak ada yang dipelajari di luar Alkitab yang dapat berguna bagi gereja?

    Apakah berguna? Mungkin. Apakah harus? Tidak. Jika semua itu memang diperlukan, pasti secara prinsip semua itu sudah ada dalam firman Tuhan. Kalaupun tidak, Tuhan sudah menyediakan cukup untuk apa yang kita butuhkan, yang tidak terpikirkan. Kecerdikan manusia terkadang berseberangan dengan Kebenaran. Bahkan jam yang mati pun, bisa benar dua kali dalam sehari. Namun, performa seperti itu sangat buruk untuk dibandingkan dengan firman Tuhan. Firman Tuhan benar dalam segala penyatan-Nya dan cukup bagi setiap kehidupan dan pertumbuhan gereja.

    Tentu saja tidak salah jika seorang pendeta membaca buku-buku sekuler tentang teori hubungan/relasi atau manajemen dan menerapkan saran bermanfaat yang mungkin ia temukan dari buku-buku tersebut. Namun, jika ia mempelajari buku-buku itu karena berpikir ia akan menemukan rahasia besar yang sangat diperlukan, yang firman Tuhan tidak ungkapkan tentang bagaimana menyembuhkan jiwa-jiwa yang sakit atau bagaimana memimpin gereja, maka pengetahuannya tentang kecukupan Alkitab sangatlah buruk. Jika ia mendasarkan pelayanannya pada teori- teori sekuler, ia mungkin akan merancang sebuah sistem penginjilan, konseling, dan kepemimpinan gereja yang tidak alkitabiah.

    Demikian juga, seorang pendeta mungkin sah-sah saja mempelajari seni berpidato untuk mengasah keterampilannya dalam berkhotbah; atau pelayan gereja yang mempelajari teknik bernyanyi agar lebih ekspresif. Orang-orang percaya dalam pelayanan tentu saja dapat mengambil hal-hal yang bermanfaat dari cara pembelajaran seperti itu. Namun, setiap pelayan Tuhan yang berpikir bahwa teknik-teknik itu yang lebih baik dan dapat menambah kekuatan dari pesan Alkitab, berarti ia memiliki pemahaman yang tidak cukup akan kecukupan Alkitab.

    Saya bertemu dengan seorang pria yang meninggalkan gereja di mana ia melayani sebagai pemusik dan kemudian terjun dalam bisnis pertunjukan. Ia berkata pada saya, "Saya belajar satu hal: Anda tidak bisa hanya berdiri di sana dan mewartakan Injil. Anda harus memunyai "platform". Anda harus mendapatkan respek dari banyak orang. Jika saya bisa menjadi terkenal dan menggunakan status saya sebagai bintang untuk mewartakan Injil, bayangkan betapa lebih berkuasanya pesan yang akan saya sampaikan!"

    Tanggapan saya adalah pesan itu tidak dapat lebih berkuasa dari apa yang sudah ada di dalamnya, dan kekuatan orang yang mempresentasikan tidak ada hubungannya dengan menjadi selebriti. Firman Tuhan adalah "kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (Rom. 1:16). Apa maksud perkataan orang yang ingin menjadi selebritis itu? Apakah ia percaya bahwa Injil itu lemah sebelum kita membubuhinya dengan kredibilitas; apakah kita harus melakukannya melalui popularitas dan bukan melalui kebajikan; melalui teknik, bukan melalui kuasa Roh Allah?

    Bagaimana gereja mula-mula dapat berfungsi tanpa "keahlian" yang kita miliki kini? Kenyataannya justru orang-orang Kristen pada waktu itulah yang mengguncangkan dunia (Kis. 17:6), dan mereka melakukan itu tanpa kesaksian selebriti, tanpa teknik modern manajemen, tanpa psikoterapi, tanpa media massa, dan tanpa sebagian besar alat yang dipandang gereja kontemporer sebagai alat yang penting. Yang mereka miliki adalah firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus, namun mereka tahu bahwa semua itu sudah cukup.

    Bagaimana gereja yang murni, sederhana, dan saleh di negeri Tirai Besi bisa sangat berkuasa sepanjang abad ini tanpa strategi pemasaran orang Barat?

    Saya khawatir gereja-gereja dan para pemimpin Kristen di dunia Barat yang berpegang teguh pada kecukupan Alkitab tidak akan banyak lagi. J. I. Packer melihat tren ini bertahun-tahun yang lalu dan menulis,

    Pengamat di luar gereja melihat kita berjalan sempoyongan dari satu tipu muslihat ke tipu mulihat yang lain, dari tantangan satu ke tantangan yang lain, seperti orang mabuk di tengah kabut, tidak tahu ada di mana dan jalan mana yang harus dilalui. Khotbah semakin kabur; para pemimpin kacau balau; hati resah; keraguan semakin kuat; ketidakpastian melumpuhkan tindakan .... Tidak seperti orang Kristen mula-mula yang dalam 3 abad memenangkan dunia Romawi; orang-orang Kristen yang memelopori Reformasi; kebangkitan Puritan dan kebangunan gerakan Injili; serta gerakan misi besar pada abad terakhir."

    Gereja menjadi kurang yakin karena gereja memandang Alkitab dengan cara yang tidak benar. Banyak orang Kristen jelas-jelas tidak lagi percaya bahwa Alkitab adalah buku panduan yang cukup untuk hidup dan kelanjutan gereja.

    Apa yang Penulis Ilahi Katakan

    Untuk melawan tren itu, kita harus memahami apa yang Tuhan sudah nyatakan tentang kecukupan mutlak Alkitab dan membiarkan-Nya menentukan falsafah pelayanan kita. Tidak ada yang dapat menyangkal posisi Allah sebagai Pemerintah tertinggi dalam hidup dan pelayanan kita.

    Paulus menjelaskan kecukupan Alkitab yang lengkap dalam 2 Timotius 3:16, yang menunjukkan empat cara yang sudah Tuhan saksikan, bahwa firman-Nya benar-benar cukup untuk setiap kebutuhan rohani:

    Alkitab Mengajarkan Kebenaran

    Yang pertama adalah Alkitab sangat bermanfaat untuk mengajar. Kata Yunani yang diterjemahkan untuk "mengajar" (didaskalia) terutama ditujukan lebih ke arah isi pengajaran, bukan proses mengajarnya. Yakni, firman adalah panduan operasional kebenaran ilahi yang harus memerintah hidup kita.

    Setiap orang Kristen memiliki kapasitas spiritual untuk menerima dan menanggapi Alkitab. Orang non-Kristen tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menerima kebenaran alkitabiah: "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani" (1 Kor. 2:14). Sebaliknya, orang Kristen memiliki "pikiran Kristus" (ay. 6). Roh Kudus memampukannya memahami firman Tuhan dengan ketajaman, hikmat, dan pemahaman rohani. Tidak ada orang Kristen yang tidak memiliki kemampuan itu; masing- masing memiliki Roh Kudus sebagai tempat tinggal Guru kebenaran (1 Yoh. 2:27).

    Dalam praktik, KEKUDUSAN KITA SEPADAN DENGAN PENGETAHUAN DAN KONSEKUENSI KITA UNTUK TAAT PADA FIRMAN TUHAN. Pemazmur mengatakan, "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau" (Maz. 119:11). Semakin lengkap pengetahuan kita tentang Alkitab, semakin kita tidak mudah terkena godaan dosa dan kesalahan. Dalam Hosea 4:6, Tuhan mengatakan, "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah." Karena menolak pengetahuan yang sejati, mereka tidak mampu hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki. Hidup mereka adalah wujud pengabaian firman Tuhan secara sengaja -- namun pengabaian dan kepuasan diri memiliki efek destruktif yang sama.

    Karena itu, cara terbaik untuk menghindari masalah rohani yang serius adalah dengan beriman, bersabar, dan mempelajari Alkitab secara menyeluruh dengan hati yang taat -- "sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yos. 1:7-8)

    Alkitab Menegur Dosa dan Kesalahan

    Alkitab juga bermanfaat untuk menyatakan kesalahan (2 Tim. 3:16). Alkitab menantang dan menegur perilaku dan pengajaran yang salah. Menurut Uskup Agung Richard Trench, menyatakan kesalahan adalah "menegur/menasihati seseorang dengan lengan teracung kepada kebenaran, untuk membawanya -- walaupun tidak selalu kepada pertobatan, namun setidaknya agar ia menyadari dosa-dosanya". Firman memengaruhi kita saat kita mempelajarinya dan merasakan kuasa-Nya yang menyadarkan kita. Juga akan menyadarkan orang lain saat kita menunjukkan firman itu pada mereka.

    Alkitab menjelaskan bahwa ada dua aspek pada teguran: teguran untuk perilaku berdosa dan teguran untuk pengajaran yang salah. Paulus meminta Timotius, yang mencoba membersihkan gereja di Efesus, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah ..." (2 Tim. 4:2). Tujuan utama dalam pemikirannya adalah teguran untuk perilaku berdosa. Timotius harus berkhotbah dan menerapkan firman Allah sehingga orang-orang akan berpaling dari dosa dan berjalan dalam kekudusan -- meski akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat (ay. 3).

    Ibrani 4:12-13 juga menjelaskan mengenai teguran untuk perilaku berdosa. Ayat 12 menggambarkan firman Tuhan sebagai pedang bermata dua yang menusuk amat dalam untuk mengungkapkan dan menghakimi pikiran dan motif yang paling dalam. Ayat 13 mengatakan, "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." Tuhan masuk dalam hati kita dengan firman-Nya dan membuka segala isi hati kita.

    Bahasa Yunani untuk "telanjang" di ayat itu digunakan untuk seorang kriminal yang digiring ke pengadilan atau eksekusi. Sering kali, seorang prajurit akan mengacungkan sebuah belati di bawah dagu sang kriminal agar kepalanya tetap tegak sehingga semua orang dapat melihat siapa dia. Mirip dengan pengertian itu, Alkitab mengungkapkan siapa kita sebenarnya dan memaksa kita menghadapi realitas dosa kita.

    Mungkin Anda berkali-kali hanyut dalam kepuasan diri rohani dan senang berada dalam dosa, dan menemukan firman Tuhan menusuk dalam di hati Anda dengan pengakuan yang tak tertahankan. Itu adalah kuasa teguran Alkitab, dan itu merupakan anugerah yang berharga.

    Cara yang Baik Untuk Memastikan Bahwa Gereja Tidak Menjadi Tempat Berlindung Para Pendosa Adalah Pendeta Harus Mengkhotbahkan Firman Tuhan Dengan Penuh Iman Dan Ketepatan. Dengan demikian, orang-orang Kristen akan mengakui dosa-dosanya, dan orang yang tidak percaya akan bertobat atau sebaliknya pergi meninggalkan gereja. Sedikit orang mau memberi diri untuk ditegur oleh firman Tuhan dari minggu ke minggu kecuali mereka merindukan kekudusan. Yesus mengatakan bahwa yang berbuat jahat membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, sehingga perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak (Yoh. 3:20). CARA MEMBUAT ORANG YANG TIDAK PERCAYA DAN PARA PENDOSA MERASA NYAMAN DI GEREJA ADALAH DENGAN MEMBERINYA KHOTBAH YANG HALUS, HAMBAR, DAN DANGKAL. Hal itu akan memimpin mereka kepada kenyamanan palsu. Mereka akan senang hadir, berpartisipasi, dan memiliki perasaan religius dan diterima. Tapi hal itu menjadi kepalsuan yang mencelakakan.

    Alkitab, yang merupakan standar untuk menguji semua klaim kebenaran, juga menegur pengajaran yang tidak benar. Rasul Yohanes mengungkapkan kuasa firman sebagai kebenaran saat dia mengatakan bahwa orang-orang percaya dapat mengatasi yang jahat karena "mereka kuat dan firman Allah diam di dalam mereka" (1 Yoh. 2:14). Yang jahat, Iblis, bekerja melalui agama palsu (2 Kor. 11:14), namun cara itu tidak mempan untuk mereka yang kuat dalam firman. Itu sebabnya mengapa agama-agama palsu berusaha untuk menjelek-jelekkan, mengubah, atau mengganti Alkitab dengan tulisan mereka sendiri. Karena Alkitab menunjukkan kesalahan mereka, mereka mengubah maknanya untuk membenarkan diri mereka sendiri. Namun, mereka yang memutarbalikkan firman akan menjadi binasa (2 Pet. 3:16).

    Orang Kristen yang memiliki pengertian yang cermat tentang kebenaran alkitabiah bukanlah seperti bayi yang tidak mampu berpikir dengan tajam. Mereka seperti anak-anak muda yang kuat, yang dapat dengan mudah mengenali pengajaran palsu dan tidak menjadi "anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef. 4:14).

    Alkitab Mengoreksi Tingkah Laku

    Firman juga bermanfaat untuk memperbaiki kelakuan (2 Tim. 3:16). Firman tidak hanya menyatakan perilaku yang berdosa dan pengajaran yang salah, namun juga memperbaikinya. Bahasa Yunani dari perbaikan (epanorthosis) secara literal berarti "meluruskan" atau "mengangkat". Dengan kata lain, firman mengembalikan kita pada postur kerohanian yang benar.

    Saya yakin Anda juga sering mengalami hal ini, bukan? Firman akan menusuk hati dan membawa kita kepada pengakuan, namun kemudian memberikan petunjuk sehingga kita dapat memperbaiki dosa. Firman tidak membiarkan kita kandas secara rohani. Saat kita mengizinkan firman untuk dengan segala kekayaannya tinggal dalam hati kita (Kol. 3:16), firman membangun kita (Kis. 20:32) dan mengubah kelemahan kita menjadi kekuatan.

    Ada aspek yang memurnikan dan membersihkan dalam kuasa perbaikan yang Alkitab miliki. Yesus mengatakan, "Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh. 15:3). Tidak ada metode terapi buatan manusia yang memahami atau program anjuran para ahli sekuler yang memiliki efek memurnikan dan membersihkan seperti itu. Namun, setiap orang Kristen sudah mengalaminya. Ini adalah satu lagi contoh kecukupan sempurna sumber-sumber yang kita miliki dalam Kristus.

    Alkitab Mendidik Orang dalam Kebenaran

    Mendidik dalam kebenaran (2. Tim. 3:16) adalah proses lain di mana firman Tuhan mentransformasi pemikiran dan tingkah laku kita.

    Bahasa Yunani untuk mendidik (training) adalah "paidion", yang di tempat lain dalam Alkitab diterjemahkan sebagai "anak" atau "anak- anak" (contoh, lihat Matius 2:8; 14:21). Jadi, ayat ini menjelaskan bahwa firman Tuhan mendidik orang-orang percaya seperti orang tua atau guru mendidik anak. Dari bayi rohani sampai dewasa rohani, Alkitab melatih dan mendidik orang-orang percaya dalam hidup yang ilahi.

    Alkitab adalah nutrisi rohani orang-orang Kristen. Dalam 1 Timotius 4:6, Paulus memberi instruksi kepada Timotius untuk menjadi "terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat". Dalam Matius 4:4, Yesus mengatakan, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Petrus berkata bahwa kita harus merindukan nutrisi firman Allah sama seperti bayi yang selalu menginginkan air susu (1 Pet. 2:2).

    Yakobus 1:21 mengatakan, "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut Firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." Terimalah firman Tuhan dengan hati yang murni dan sikap rendah hati, itulah bagian kita. Saat kita melakukannya, pemikiran, sikap, tindakan, dan kata-kata kita akan secara progresif diperbaharui dan diubahkan. Firman mendidik kita dalam kebenaran.

    Perenungan dan pembelajaran firman Tuhan secara saksama dan teratur merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kesehatan dan kemenangan rohani kita. Bahkan bagi mereka yang mengerti Alkitab dengan baik harus terus disegarkan oleh kuasa-Nya dan diingatkan oleh kebenaran- Nya. Itulah sebabnya mengapa Petrus mengatakan,

    "Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu." (2 Pet. 1:12-15)

    Saat Paulus akan meninggalkan Efesus, dia menuntut para tua-tua di sana untuk tetap berpegang pada satu-satunya sumber kekuatan dan kesehatan rohani: "Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada Firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya." (Kis. 20:32)

    Paulus memberikan perspektif yang sama seperti Petrus mengenai pentingnya diingatkan secara terus-menerus tentang apa yang sudah kita ketahui: "Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu" (Fil. 3:1). Kita harus secara sistematis menyegarkan diri kita tidak hanya dengan kebenaran baru, namun juga dengan kebenaran lama yang telah kita kuasai. Penekanan yang kuat pada firman Tuhan akan memastikan kita untuk menjadi "diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik" (2 Tim. 3:17). (t/Dian)

    Diterjemahkan dari:

    Sumber: 
    Judul buku: Our Sufficiency in Christ
    Judul bab : Bible-Believing Doubters
    Penulis : John MacArthur, Jr.
    Penerbit : Word Publishing, Dallas-London-Vancouver-Melbourne 1991
    Halaman : 118 -- 128

    Baru! Situs Doa: Komunitas Pendoa Syafaat Indonesia

    Anda rindu melihat pemulihan terjadi atas keluarga, gereja, kota, dan bangsa Anda?

    Anda ingin belajar lebih banyak tentang doa?

    Anda ingin memiliki partner untuk berdoa dan berbagi? selengkapnya...»

    Pengumuman

    Pengunjung yang terkasih,

    Pada tanggal 31 Mei 2009, sekitar pukul 13.00 sampai dengan 1 Juni 2009 sekitar pkl. 10.00, salah satu server YLSA "down" sehingga beberapa situs yang berada dalam server tersebut tidak dapat diakses. Situs-situs yang tidak dapat diakses pada waktu tersebut, antara lain: selengkapnya...»

    Komentar


    Syndicate content