Mereka yang Miskin secara Rohani

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu kembali pada awal tahun yang baru ini. Kami berharap dan berdoa kita semua terus memiliki kerinduan yang semakin besar untuk mengenal Allah kita di dalam anugerah khusus-Nya. Pada awal tahun, biasanya kita mendengar banyak resolusi yang orang tulis atau katakan karena mereka memiliki harapan agar tahun baru memberi semangat baru untuk hidup lebih baik. Banyak orang mengejar keberhasilan secara materi, tetapi kita berharap orang-orang percaya akan mengejar pertumbuhan rohani, sebab inilah yang seharusnya menjadi aspek hidup terpenting -- bagaimana bertumbuh dan semakin kaya dalam iman kepada Allah.

Pada masa sekarang, gereja banyak mendorong jemaat untuk berkembang dan maju dalam segala aspek hidup. Akan tetapi, pernahkah Saudara mendengar pendeta Saudara mendorong jemaatnya untuk menjadi miskin secara rohani? Mungkin istilah atau kondisi "miskin" akan dihindari oleh banyak orang, termasuk gereja. Padahal, kegagalan menjadi miskin secara rohani justru akan membawa kita pada kehancuran rohani. Bagaimana bisa demikian? Edisi e-Reformed pertama tahun ini akan menyajikan satu artikel yang menarik untuk kita simak, yaitu tentang kemiskinan rohani. Kiranya artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Selamat menjalani tahun baru dan selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 172/Januari 2016
Isi: 
Miskin

Kemiskinan secara rohani bukanlah menunjuk pada masalah keuangan ataupun keadaan depresi meski memang sering kali disalahtafsirkan menjadi demikian. Ada sementara orang Kristen yang mencoba merelakan semua milik mereka demi menemukan kebenaran kalimat-kalimat bahagia tersebut, tetapi kemudian mendapati bahwa seorang manusia ternyata bisa tidak lagi memiliki apa pun, namun tetap tidak dapat mengalami kemiskinan secara rohani.

Miskin secara rohani juga tidak sama dengan suatu gambar diri yang buruk, yang ditandai oleh adanya sikap penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah, sikap memikirkan diri sendiri, dan sikap-sikap tidak wajar lainnya. Seorang manusia dapat memiliki sikap-sikap demikian tanpa memiliki secuil pun pemahaman atas apa yang Tuhan Yesus maksudkan.

Dalam Perjanjian Lama, istilah "si miskin" lebih dimaksudkan sebagai istilah teknis bagi sekelompok orang. Mazmur 34:7 berbicara mengenai "orang yang tertindas (miskin)" yang telah datang kepada Tuhan dan yang telah didengar serta diselamatkan. Sementara di dalam Mazmur 40:18, sang pemazmur menggambarkan dirinya sendiri sebagai "orang yang sengsara dan miskin", dan meminta Tuhan supaya mengingat dan menyelamatkannya. Di bagian lain, pernyataan serupa menegaskan suatu fakta bahwa menjadi miskin berarti menjadi lemah dan tidak berdaya, tidak mempunyai hak, dan tidak mempunyai akal untuk membela dan menyelamatkan diri sendiri. Orang miskin adalah orang yang membutuhkan belas kasihan, bagaikan para tawanan yang sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan keselamatan mereka (Mazmur 69:33-34). Mereka merupakan orang-orang yang telah bangkrut di dunia ini, yang karenanya kemudian memercayai Tuhan sebagai satu-satunya harapan bagi perlindungan dan pembebasan mereka.

Akan tetapi, apakah arti ungkapan "miskin secara rohani"? Dengan membicarakan miskin secara rohani, Yesus bermaksud menegaskan bahwa Ia bukan sedang berbicara tentang kemiskinan secara materi. Kemiskinan materi memang memungkinkan terjadinya kemiskinan rohani, tetapi keduanya tidak selalu identik. Bahkan, kemiskinan secara materi sering kali dapat memperkuat harga diri kita.

Yesus pernah bercerita tentang seorang manusia yang sadar dirinya mengalami perbudakan rohani, sadar akan utang dosa-dosanya, dan mengetahui bahwa ia tidak memiliki hak di hadapan Tuhan (Matius 6:12). Yang dapat dilakukannya hanyalah meminta belas kasihan dan bersandar kepada Tuhan.

Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi orang Kristen tanpa adanya roh ini. Setiap orang Kristen mempunyai roh ini, yang bagaikan roh anak yang suka berfoya-foya. Dengan angkuh, ia meninggalkan bapanya dan menggantungkan diri pada harta warisan yang menjadi bagiannya. Akan tetapi, ketika ia bangkrut, "dia menjadi sadar kembali" (Lukas 15:17). Dengan penuh kerendahan hati dan dengan mengesampingkan semua kesombongannya, ia pulang ke rumah bapanya dengan tangan kosong, tidak lagi congkak, melainkan bersandar penuh pada kemurahan bapanya. Begitu juga halnya dengan orang Kristen:

Tak sesuatu pun ada padaku,
Hanya Salib-Mu;
Telanjang aku, harap 'kan jubah dari-Mu;
Tak berdaya aku, harap 'kan anugerah-Mu;
Najis aku, ke mata air aku lari menuju;
Basuhlah aku Juru Selamat, atau binasalah aku.

A.M. Toplady

Pada pasal-pasal permulaan kitab Roma, Paulus mengisyaratkan proses kelahiran Roh yang baru itu. Kita mendapati bahwa keberadaan kita bukannya layak dan berkenan kepada Allah, melainkan secara alamiah kita memiliki sifat memberontak terhadap Dia; kita telah menghancurkan hukum-hukum-Nya. Semua perbuatan yang menurut dugaan kita dapat menyenangkan Dia, justru semakin menjauhkan kita dari hadirat-Nya. Kita berdosa mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, mulai dari mulut kita yang penuh kecurangan hingga kaki kita yang tidak mengenal jalan damai (Roma 3:13-17). "... Tidak ada yang benar, seorangpun tidak, tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak." (Roma 3:10-12)

Apa akibatnya bila pada saat kita memikirkan kursi pengadilan Allah dan putusan bersalah-Nya atas hidup kita, kita mempertimbangkan dakwaan Ilahi ini dengan serius, dan menerapkannya pada diri sendiri? Paulus tidak membiarkan khayalan kita menjawabnya, ia menjawab: supaya tersumbat setiap mulut, dan seluruh dunia – termasuk kita – jatuh ke bawah hukuman Allah (Roma 3:19).

Kita yang menyombongkan kelayakan atau kemampuan kita; yang bersyukur kepada Allah karena kita tidak lagi seperti orang berdosa lainnya, tidak akan bisa mengatakan apa-apa lagi pada Hakim Agung kita. Kita akan menghadap Dia dengan rasa malu, mulut terkunci, dan hati yang benar-benar hancur.

Saat Tuhan menolong kita untuk menyadari keberadaan kita yang sebenarnya di hadapan hadirat-Nya, saat itulah perasaan miskin secara rohani lahir di hati kita. Barulah setelah itu, kita pada akhirnya dapat melihat bahwa Tuhanlah satu-satunya pengharapan kita. Kita hanyalah manusia lemah yang tidak memiliki kebajikan apa pun untuk dapat membela diri di hadapan-Nya. Di depan pengadilan Tuhan, kita telah bangkrut dan menjadi para pengutang. Yang dapat kita lakukan hanyalah memohon pengampunan-Nya.

Pada masa sekarang ini, kita didorong untuk mengembangkan segala macam kemampuan rohani, kecuali kemampuan untuk menjadi miskin secara rohani. Padahal, kegagalan kita untuk menjadi miskin secara rohani akan membawa kita kepada kehancuran rohani, seperti ternyata dalam peringatan Yesus kepada jemaat di Laodikia: "Engkau berkata, Aku kaya; dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa. Tetapi engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta dan telanjang" (Wahyu 3:17). Jika kita tidak panas ataupun dingin, kita berada dalam suatu bahaya untuk dimuntahkan dari mulut Kristus. Ada banyak pengajaran tentang bagaimana mendapatkan kepenuhan roh, tetapi di mana kita dapat mempelajari cara mengosongkan diri dari kecenderungan untuk mementingkan, membenarkan, dan memercayai diri sendiri?

Adalah kenyataan yang menyedihkan kalau ternyata kita mengetahui sedemikian sedikit mengenai berkat yang Yesus bicarakan (dan berikan) hanya karena kita begitu sibuk dengan diri sendiri ataupun dengan pengertian kita sendiri mengenai istilah berkat. Memang tidak ada alasan yang lebih menyedihkan bagi kegagalan kita untuk dapat menjadi miskin secara rohani, selain daripada ketidaksiapan kita untuk merelakan pikiran kita diketahui oleh orang lain. Sebaliknya, manusia yang miskin secara rohani akan tinggal tenang di hadapan hadirat Allah dan semata-mata akan membicarakan apa yang dengan penuh kerendahan hati telah dipelajarinya dari Allah.

Maka, bila Saudara ingin menjadi kaya dan memiliki kerajaan Allah, pertama-tama Saudara harus meninggalkan segala sesuatu, -- termasuk diri sendiri dan sifat mementingkan diri sendiri -- lalu berusaha untuk dapat menjadi miskin secara rohani.

Sumber: 
Diambil dari:
Judul buku  :  Khotbah di Bukit
Judul bab  :  Siapakah Saudara di Hadapan Allah?
Penulis  :  Sinclair B. Ferguson
Penerbit  :  Momentum, Surabaya 2010
Halaman  :  17 -- 20

Pada Mulanya adalah Firman

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat menyambut hari Natal tahun 2015 bagi Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus. Dalam bulan ini, secara khusus, e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang terkait dengan kelahiran Sang Kristus.

Mari kita melihat dalam Injil Yohanes 1:1. Hal yang menarik dalam ayat ini adalah ayat ini dibuka dengan sebuah susunan kata yang sama seperti dalam kitab Kejadian 1:1: "Pada mulanya". Kitab Kejadian menyatakan bahwa "Pada mulanya Allah menciptakan alam semesta", dan menurut Yohanes, "Firman itu ada bersama-Nya." Lebih dari itu, dalam penciptaan, Allah memakai firman-Nya untuk mencipta segala sesuatu (Yohanes 1:3). Firman yang sama inilah yang juga menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Hal ini sangat penting untuk kita ketahui bersama dalam perenungan Natal tahun ini.

Mari kita menyambut Natal tahun ini dengan penuh sukacita. Kiranya kita boleh semakin mengerti bahwa Kristus Yesus adalah Sang Firman yang telah lahir dan mengambil wujud manusia untuk menggenapi kabar baik bagi semua bangsa di bumi. Mari beritakan kabar sukacita! Soli Deo Gloria.

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 171/Desember 2015
Isi: 

ARTIKEL
Pada Mulanya adalah Firman

J_Child

Himne-himne Kristen pada abad permulaan merayakan Yesus sebagai seseorang yang, karena kepatuhan-Nya secara sukarela terhadap penghinaan dan kematian, ditinggikan oleh Allah ke tingkatan yang menguasai alam semesta dan dianugerahi gelar "Tuhan" -- "nama di atas segala nama". Namun, himne tersebut dibuka dengan pernyataan yang mencakup jangka waktu sebelum kehidupan Yesus sebagai manusia dimulai. "Dia telah-selalu ada dalam rupa Allah, tetapi Dia tidak pernah menganggap bahwa kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu hal yang harus di pergunakan demi kepentingan diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa sebagai seorang hamba" (Filipi 2:6-11).

Kalimat-kalimat ini, bukan berarti bahwa Dia menukar "rupa Allah" dengan "rupa hamba", tetapi yang sebenarnya adalah bahwa Dia menunjukkan rupa Allah melalui rupa hamba. Pada waktu perjamuan terakhir, Dia mengambil posisi sebagai hamba dan mencuci kaki para murid-Nya, Dia menampakkan sifat keilahian-Nya sama seperti di dalam tindakan-tindakannya yang lain. Kata/istilah "rupa" tidak mempunyai arti bahwa Dia adalah seorang aktor yang memainkan beberapa peran, sekarang peran sebagai Allah dan sekarang peran sebagai hamba; tetapi kata tersebut berarti bahwa Dia juga mempunyai sifat keilahian dan cara-Nya dalam menunjukkan sifat tersebut di dunia ialah dengan melayani orang lain. Melayani orang lain adalah sifat-Nya yang alami.

Akan tetapi, yang menjadi problema bagi kita pada zaman ini adalah himne tersebut kelihatannya menganggap bahwa Dia telah ada sebelum Dia menjadi manusia. Anggapan yang sama ini juga yang banyak dipakai oleh penulis Perjanjian Baru; tetapi oleh Yohanes hal ini sangat ditekankan dengan sangat tajam di awal Injil yang ke empat. "Pada mulanya adalah Firman," kata Yohanes, "Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah .... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yohanes 1:1,14). Pernyataan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia" inilah yang dikembangkan menjadi doktrin inkarnasi.

Karena "Firman" telah menjadi manusia di dalam diri Yesus dari Nazareth. "Firman" adalah gelar dari Yesus sejarah (Jesus of history). Sewaktu menjadi "manusia", firman Allah yang kekal menjadi suatu sejarah. Akan tetapi, gelar tersebut juga adalah kepunyaan Yesus sebagai Kristus Iman (Christ of faith); itu adalah kedalaman iman yang diberikan kepada-Nya, bukan sewaktu karier-Nya di dunia, melainkan setelah kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.

Kalau begitu, apakah arti dari Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah, yang juga ada dalam bentuk dan sifat Allah -- Firman yang pada saatnya nanti "menjadi manusia"? Ini adalah penampakan atau pengekspresian Allah. Allah, yang menampakkan atau mengekspresikan diri-Nya melalui banyak cara sebelum kedatangan Kristus (dan sampai sekarang pun), telah memberikan kepada kita penampakan dan pengekspresian sifat-Nya yang sepenuhnya dan tak bercacat di dalam diri Yesus.

Injil Yohanes dibuka dengan susunan kalimat yang sama seperti kitab Kejadian: "Pada mulanya". Menurut kitab Kejadian, "Pada mulanya Allah menciptakan alam semesta", dan menurut Yohanes, "Firman itu ada bersama-Nya". Lebih dari itu, Firman itu adalah alat yang dipakai oleh Allah di dalam karya penciptaan: "segala sesuatu dijadikan oleh Dia" (Yohanes 1:3). Firman yang sama ini jugalah yang "menjadi manusia" di dalam diri Yesus dari Nazaret.

Ini adalah awal mula dari bahasa orang-orang Kristen abad permulaan yang menghubungkan karya penciptaan kepada Yesus. Baris kedua dari himne "Agungkan Kuasa Nama-Nya" (All hail the power of Jesus' name) -- yang dihilangkan dari banyak versi modern dari himne ini -- haruslah menjadi sebagai berikut:

Crown him, ye morning stars of light,
Who launched this floating ball;
Now hail the Strength of Israel's might
And crown him Lord of all.

"Bola yang mengambang ini -- floating ball" ialah bumi, dan Yesus dikatakan telah "melontarkannya -- launched" (atau, menurut versi lain, himne-himne Kuno dan Modern, yang telah "menempatkan"nya). Bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan gaya bahasa seperti ini, mungkin tidak akan berhenti untuk memikirkan kembali betapa hebatnya hal ini. Seorang manusia yang hidup di Timur Dekat sekitar hampir 2000 tahun yang lalu telah disebut-sebut menciptakan ion-ion dunia sebelumnya. Bagaimanakah ide itu bisa timbul -- di benak pengikut-pengikutnya yang paling setia pun?

Narasi karya penciptaan di Kejadian 1 mencatat bahwa "Allah bersabda", dan sebagai akibatnya fase-fase selanjutnya dari pekerjaannya yang kreatif itu menjadi nyata. Allah bersabda, "Jadilah terang"; dan terang itu jadi ... Allah bersabda, "Baiklah kita membuat manusia, maka Allah menciptakan manusia (Kejadian 1:3, 26-27). Bagian-bagian Perjanjian Lama yang lebih puitis membicarakan karya penciptaan ini sebagai sesuatu yang dilaksanakan melalui firman Tuhan. "Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan" (Mazmur 33:6) adalah cara lain untuk mengatakan "sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi" (Mazmur 33:9). Firman Tuhan dipersonifikasikan sebagai alat-Nya dalam karya penciptaan. Di bagian lain di PL, kata yang sama dipersonifikasikan sebagai alat Tuhan dalam karya penampakan (seperti misalnya "firman Tuhan datang" ke nabi ini dan itu) dan juga di dalam karya keselamatan: ketika jiwa manusia merasa terancam, ia berteriak minta tolong kepada Allah, "disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, dan diluputkan-Nya mereka dari liang kubur" (Mazmur 107:20).

Sebab itu, firman Tuhan dipersonifikasikan sebagai alat-Nya atau pembawa berita-Nya. Akan tetapi, bahasa yang dipakai sebagai istilah di PL digunakan oleh Yohanes di bagian pembukaan kitab Injilnya, digunakan untuk mengekspresikan tidak hanya secara personifikasi, tetapi juga sebagai kepribadian yang nyata dan berbeda dari yang lain. Seperti Yesus di dalam sejarah di mana sifat-Nya benar-benar suatu pribadi, maka menurut Yohanes, Firman ilahi "menjadi manusia", dari awal mulanya benar-benar bersifat pribadi, menikmati persekutuan yang pribadi dengan Allah dan juga menikmati keilahian-Nya. Ini adalah aspek dari Kristus Iman (Christ of faith).

Kita telah beranggapan bahwa Kristus bangkit dan dimuliakan sebagai objek masa kini dari iman orang-orang pada zaman-Nya; tetapi Injil Yohanes menyatakan Dia sebagai seseorang yang mempunyai praeksistensi kekal -- yang tinggal selama beberapa tahun di bumi, mengalami kelahiran dan kematian seperti halnya manusia sejati, dalam perjalanan dari kemenangan menuju ke kemenangan. Yohanes tentunya bukan satu-satunya penulis di dalam Perjanjian Baru yang menggunakan istilah "praeksistensi" sewaktu menunjuk kepada-Nya, tetapi dialah yang lebih secara terbuka menggunakannya dibandingkan dengan penulis yang lainnya.

Hanya di dalam pembukaan injilnya, Yohanes mengatakan Yesus adalah Firman. Sepertinya, pembukaan tersebut berfungsi untuk mengingatkan para pembacanya bahwa di dalam pekerjaan apa pun dan perkataan Yesus mana pun yang tercatat di kitab Injil, di sinilah firman Tuhan sedang bekerja; inilah saat di mana Tuhan sedang menyatakan diri-Nya sendiri.

Ketika kalimat pembukaan itu berbicara mengenai "Firman" dan "Tuhan", isi dari Injil justru berbicara mengenai "Anak" dan "Bapa". Kalimat pembukaan itu mencakup 18 ayat, dan tepat di bagian akhirnya dinyatakan bahwa Anak Tunggal Allah, "yang ada di pangkuan Bapa" (yaitu, yang mempunyai pengertian yang sempurna dan saling mengasihi dengan Bapa), adalah seseorang yang telah "menyatakan"-Nya. Pernyataan Yoh. 1:18 ini membentuk suatu transisi dari kalimat pembukaan ke bagian isi dari Injil. Di dalam Injil Yohanes, Anak adalah cerminan Bapa. Oleh karena itu, barangsiapa yang telah melihat Anak, juga telah melihat Bapa. Bapa dan Anak hadir bersama-sama dalam suatu hubungan saling mengasihi yang abadi sifatnya, dan mereka yang dipersatukan dengan Anak karena percaya pada-Nya juga dapat masuk ke dalam hubungan berikut: Bapa-Nya Yesus juga menjadi Bapa mereka.

Namun, di dalam awal kitab-kitab Injil, Yesus selalu menunjukkan kesadaran sepenuhnya mengenai hubungan seorang anak terhadap Bapa-Nya sewaktu Dia berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya. Dia adalah "Sang Anak" di dalam arti secara khusus; meskipun begitu dia mendorong para muridnya untuk memanggil Allah sebagai Bapa mereka ('Abba') dan untuk datang kepada-Nya dengan penuh rasa percaya diri dan sebebas-bebasnya, seperti halnya Yesus sendiri. Injil Yohanes menjelaskannya secara lebih detail. Kitab Injil sinoptik mewakili para murid Yesus dan yang lainnya yang kadang-kadang bertanya-tanya mengenai siapakah Yesus itu sebenarnya: "Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?" (Mrk. 4:41) Namun, Yohanes membeberkan rahasia ini kepada para pembacanya dari kalimat pertama Injilnya, sedangkan dia membuat dengan sangat jelas sekali bahwa para murid yang lain tidak mengerti rahasia ini sampai setelah kebangkitan gurunya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku  :  Momentum
Judul bab  :  Firman Yang Berinkarnasi
Penulis  :  Tidak dicantumkan
Penerbit  :  LRII
Halaman  :  43 -- 46

Yohanes Pembaptis Sebagai Saksi

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Yohanes Pembaptis dikenal sebagai nabi terakhir Perjanjian Lama. Ia memiliki tugas khusus menjadi seorang utusan/saksi. Yohanes Pembaptis dipersiapkan untuk datang mendahului Kristus dan mempersiapkan jalan bagi-Nya, ini adalah sebuah tugas dan kehormatan yang besar bagi seorang manusia yang secara langsung menyaksikan kedatangan Sang Juru Selamat dunia. Dalam edisi ini, kita akan bersama-sama belajar mengenal sosok Rasul Yohanes. Ia secara konsisten dilukiskan sebagai saksi (Yoh. 1:6-8,15,19,32,34; 3:27-36; 5:32,36; 10:40-42). Yohanes adalah saksi Kristus sejati yang membawa pesan Injil sebagai pusat kesaksiannya.

Artikel ini merupakan bagian dari suatu pembahasan topik teologi yang berjudul "Kepemimpinan Yohanes Pembaptis", tetapi kita hanya akan menyoroti beberapa bagian saja, khususnya yang terkait dengan kehidupan Yohanes sebagai saksi Kristus. Pertama, mengenai sumber otoritas Yohanes Pembaptis sebagai seorang utusan. Kedua, apa isi kesaksian yang ia beritakan sebagai seorang utusan. Ketiga, kepada siapa kesaksian Yohanes Pembaptis ditujukan. Kiranya kita boleh diberkati melalui artikel ini dan semakin mengenal kehidupan yang bersaksi. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed, Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 170/November 2015
Isi: 

Apakah sumber otoritas Yohanes Pembaptis?

Pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai saksi ditegaskan bersumber dari Allah. Ia diutus ke dalam dunia untuk bersaksi bagi Mesias yang akan datang dan sudah datang. Ia terlibat dalam pelayanan kesaksian bukan karena keinginan atau keputusan dirinya sendiri, juga tidak ada sebuah institusi yang menugaskannya sebagai saksi. Ia tidak pernah menawarkan diri sebagai saksi. Tugas dan misinya sebagai saksi bersumber dari Allah. Ia harus bersaksi karena diutus Allah (Yoh. 1:6). Ia dipanggil dan diutus dengan otoritas untuk suatu tugas ilahi, bukan untuk menjadi tokoh reformasi agama dan masyarakat Yahudi.

Sebagai saksi, tentu saja isi kesaksiannya tidak berpusat kepada dirinya. Dengan perkataan lain, dirinya atau ide-ide teologisnya bukanlah merupakan berita yang harus ia sampaikan. Ia hanya seorang saksi yang harus menyampaikan kepada orang lain apa yang ditugaskan Allah untuk disaksikan. Jadi, isi kesaksiannya bersumber dari Allah. Ia tidak dapat mengarang, menambah, atau mengurangi isi kesaksiannya. Sebagaimana Allah menugaskan dan memberinya isi kesaksian, demikianlah ia harus menyampaikannya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Apakah ini berarti Yohanes Pembaptis tidak perlu mempersiapkan diri untuk tugas mulia ini? Pemahamannya tentang Kitab Suci cukup mendalam. Dalam diskusinya dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi, ia mengutip kitab Yesaya 1:23. Ia bahkan menafsirkan kitab tersebut secara kristologis. Penafsiran seperti ini tentu saja agak asing bagi telinga para pemimpin agama Yahudi ketika itu. Akan tetapi, hal ini setidaknya memperlihatkan pemahamannya yang mendalam akan Kitab Suci. Ada lagi bukti lain mengenai dalamnya pemahamannya akan kitab suci. Ia memproklamirkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Memang tidak mudah untuk mendeteksi latar belakang frasa ini sehingga para pakar kitab ini berusaha keras menjelaskannya, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan.

Yohanes Pembaptis tentu saja paham akan fungsi domba dalam sistem ritual agama Yahudi. Terhadap fungsi domba ini, ia menambahkan tiga dimensi baru, yakni domba tersebut dari Allah, domba tersebut untuk menghapus dosa, dan domba tersebut tidak hanya terbatas di bait suci orang Yahudi, melainkan untuk dunia. Hal ini dapat dilakukannya karena ia memiliki pemahaman yang mendalam terhadap Kitab Suci. Ia tidak ragu-ragu mempersonalisasi sistem korban dalam diri Yesus. Agaknya, inilah alasan mengapa murid-muridnya kemudian meninggalkannya karena mereka ingin memahami lebih dalam makna frasa ini (Yoh. 1:37). Tidak diragukan lagi bahwa peran penting firman Allah dan penafsiran kristologis terhadapnya terjalin erat di dalam pemikiran dan pelayanan Yohanes Pembaptis.

Dalam Yoh. 3:27-36, ia kembali menegaskan bahwa dirinya adalah saksi yang diutus Allah. Allah adalah sumber otoritas pelayanan kesaksian yang ia lakukan. Namun, di bagian ini, ia memperluasnya dengan mengatakan bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah, sedangkan manusia sebaliknya, tidak memiliki apa pun di dalam dunia ini, kecuali yang telah diberikan kepadanya. Manusia ketika datang ke dalam dunia ini tidak membawa dan memiliki apa pun, dan kalaupun ia memiliki sesuatu, sesuatu itu sebenarnya bukan bersumber dari dirinya sendiri melainkan dari Allah. Segala sesuatu yang ada pada Yohanes Pembaptis adalah pemberian Allah. Dengan demikian, ia mengakui Allah sebagai Pemilik dan Pemberi segala-galanya. Tidak perlu baginya untuk mengklaim diri sebagai Mesias atau nabi atau jabatan lainnya karena Allah tidak menugaskannya untuk itu. Ia tidak perlu merasa bahwa "kepemilikan" murid-murid sebagai hal yang harus dipertahankan. Allah memberinya tugas hanya sebagai saksi dan segala sesuatu yang ia terima berkaitan dengan tugasnya sebagai saksi. Semuanya ini bersumber dari Allah.

Fungsi Yohanes Pembaptis sebagai saksi ditegaskan oleh Yesus dalam Yoh. 5:33. Jadi, tidak hanya narator ataupun Yohanes Pembaptis yang menegaskan fungsi saksi. Yesus menyatakannya sebagai saksi, dan di dalam perbincangan antara Yesus dan pemimpin-pemimpin agama, Ia mengingatkan mereka akan kesaksian Yohanes Pembaptis yang telah mereka dengar. Yesus tidak hanya mengakui peran Yohanes Pembaptis sebagai saksi, tetapi bahkan menegaskannya. Orang banyak juga memersepsikan Yohanes Pembaptis sebagai saksi (Yoh. 10:41). Mereka melihat hidup dan perkataan Yohanes Pembaptis menunjuk pada Yesus, dan akibatnya orang banyak percaya kepada Yesus (Yoh. 10:42).

Yohanes Pembaptis adalah saksi yang diutus Allah. Ia menyadari dirinya sendiri sebagai saksi. Narator, Yesus, dan orang banyak memersepsikannya sebagai saksi. Otoritasnya sebagai saksi bersumber dari Allah sehingga tidaklah salah jika dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan akronim dari Yohanes Penyaksi.

Apakah isi kesaksian Yohanes Pembaptis?

Dalam prolog ditegaskan bahwa Yohanes Pembaptis harus bersaksi tentang terang (Yoh. 1:7). Di dalam injil, Yohanes terang tidak menunjuk kepada suatu iluminasi di dalam, atau penyataan kepada, diri manusia. Simbol terang di dalam Injil Yohanes secara konsisten menunjuk kepada Yesus (Yoh. 12:46). Istilah terang dalam Yoh. 1:7-8 digunakan sebanyak 3 kali seolah ingin menegaskan bahwa tidak ada berita lain yang disaksikan Yohanes Pembaptis kecuali mengenai Yesus terang dunia. Keharusan memberitakan Kristus kepada semua orang ditegaskan dengan istilah "Kekragen" (kekragen, Yoh. 1:15). Kata kerja "kekragen" yang dapat diterjemahkan "berseru", atau "berteriak", hal ini tidak hanya menegaskan kembali otoritas dan wewenangnya sebagai saksi yang diutus Allah, melainkan juga urgensi beritanya. Berita itu begitu mendesak dan penting untuk didengar sehingga ia harus berteriak. Sentralitas berita pada Kristus sejak awal narasi telah ditegaskan. Hidup, perkataan, dan perbuatannya semuanya berpusat pada Kristus dan menunjuk pada Kristus.

Ketika delegasi dari Yerusalem mempertanyakan otoritasnya, ia dengan tegas mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias, ia bukan Elia, dan ia juga bukan nabi yang akan datang. Sebaliknya, ia menegaskan fungsinya sebagai saksi dengan mengidentifikasikan diri sebagai suara yang berseru-seru. Dari Yoh. 1:19-36 tercetus empat hal dari kesaksiannya. Pertama, Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Baptisan dengan Roh Kudus jelas menunjukkan kedatangan Sang Mesias seperti yang dijanjikan dalam PL (Yes. 11:2; 61:1). Kedua, Yesus dan Roh Kudus tidak dapat terpisah. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Roh Kudus tinggal pada Yesus, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan itu, dan akibatnya, ia pun tidak ragu memproklamirkan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Ketiga, Yohanes Pembaptis mengarakterisasikan Yesus sebagai Anak Domba dengan tugas universal, yakni menghapus dosa dunia. Akhirnya, sebagai klimaks, ia menyaksikan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Kesaksiannya ini sejalan dengan tujuan penulisan Injil Yohanes yang dirumuskan dalam Yoh. 20:31.

Sentralitas dan keutamaan Yesus dalam pemikiran dan pelayanan Yohanes Pembaptis kembali kita temukan dalam Yoh. 3:27-36, tetapi dalam bentuk yang lebih diperluas dan mendalam. Ia memperluas uraiannya tentang objek iman orang percaya, di mana Yesus adalah objek iman. Ia melukiskan kekekalan Yesus. Kasih sebagai karakteristik relasi antara Yesus dan Allah Bapa juga diungkapkan dengan jelas. Yesus datang dari sorga, diutus oleh Allah ke dalam dunia untuk menyampaikan firman-Nya dengan kuasa Roh Kudus (Yoh. 3:34). Tujuannya ialah agar manusia percaya kepada-Nya (Yoh. 3:33,36) meskipun tidak sedikit juga yang menolak untuk percaya kepada-Nya (Yoh. 3:32,36). Kesaksian Yohanes Pembaptis sedemikian kuatnya, tetapi tidak terlihat respons murid-muridnya apakah mereka percaya atau tetap bertahan mengikutinya.

Isi kesaksiannya adalah kebenaran (Yoh. 5:33), tetapi ini bukan hanya berarti bahwa segala sesuatu yang ia katakan adalah benar adanya. Di sini, nuansa personalisasi kebenaran agak terasa. Ia bersaksi bahwa Yesus adalah kebenaran dan orang banyak membenarkan bahwa yang dikatakannya tentang Yesus adalah benar (Yoh. 10:41).

Kepada siapa Yohanes Pembaptis bersaksi?

Di dalam prolog tidak diungkapkan secara jelas kepada siapa saja Yohanes Pembaptis harus bersaksi. Hanya secara samar-samar narator mengungkapkannya dengan memakai istilah "pantes" (pantes, Yohanes 1:7). Istilah ini dipakai dalam bentuk jamak maskulin dan dapat diterjemahkan sebagai "semua orang". Namun, ini tidak berarti ia bersaksi secara eksklusif kepada pria atau suatu golongan masyarakat saja. Terminologi "pantes" bersifat inklusif. Hal ini secara gradual akan semakin jelas dalam Injil Yohanes. Untuk lebih jelasnya akan kita uraikan satu per satu. Pertama, Yohanes Pembaptis bersaksi tentang Mesias kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi (Yoh. 1:19-28). Para pakar Injil Yohanes umumnya berpendapat bahwa yang mengutus delegasi kepada Yohanes Pembaptis adalah pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Beberapa imam, orang-orang Lewi dan Farisi diutus oleh mahkamah agama Yahudi di Yerusalem untuk menginterogasi Yohanes Pembaptis. Ketika berhadapan dengan pemimpin agama, ia mengutip PL yang secara tidak langsung menegaskan fungsinya sebagai saksi dan juga tema sentral PL tentang datangnya Mesias.

Kedua, Yohanes Pembaptis bersaksi kepada masyarakat Yahudi. Mengapa ia membaptis orang banyak? Tujuan baptisan bukanlah untuk membentuk suatu kelompok pengikut yang militan dan setia padanya. Ia dengan tegas mengatakan bahwa tujuan baptisan yang dilakukannya terhadap orang banyak adalah untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias, dan dengan demikian menyaksikan bahwa Kristus telah datang di dunia.

Ketiga, Yohanes Pembaptis bersaksi kepada murid-muridnya. Ia tahu bahwa tujuannya bukanlah untuk membentuk suatu komunitas yang militan dan setia kepadanya selamanya. Meski memiliki murid-murid, tetapi tanpa ragu ia mengarahkan mereka untuk mengikut Yesus. Berulang kali ia memberi kesaksian tentang Yesus kepada mereka dan hasilnya, beberapa di antara murid-muridnya kemudian mengikut Yesus.

Kepada murid-murid yang masih bertahan mengikutnya, ia kembali mendorong agar mereka mengikut Yesus (Yoh. 3:27-36). Ia menggambarkan orang percaya sebagai orang yang menerima kesaksian Yesus (Yoh. 3:33) dan percaya kepada Anak (Yoh. 3:36). Dengan menerima kesaksian Yesus, orang tersebut meneguhkan bahwa Allah adalah benar dan ia memperoleh hidup kekal. Sebaliknya, orang yang tidak percaya adalah orang yang tidak taat kepada Anak (Yoh. 3:36). Ketidaktaatan meneguhkan murka Allah tetap dalam dirinya. Dengan tajam, Yohanes Pembaptis membedakan antara orang percaya dan orang yang menolak Yesus. Kontras ini dibuat agar murid-muridnya mengerti arti dan konsekuensi mengikut Yesus sehingga mereka terdorong untuk percaya kepada Yesus.

Keempat, Yohanes Pembaptis bersaksi kepada orang Samaria, tetapi tidak begitu jelas apakah "Ainon dekat Salim" (Yoh. 3:23) berada di wilayah Samaria. Jika ya, berarti ia bersaksi juga kepada orang Samaria. Mengingat perseteruan antara orang Yahudi dan Samaria cukup mendalam saat itu, maka kesaksiannya kepada orang Samaria tentu hanya bisa dijelaskan sebagai perluasan dan penjelasan istilah "semua orang" dalam prolog (Yoh. 1:7). Kesaksiannya menembus batas-batas rasial dan wilayah. Ia mengerti bahwa berita Yesus adalah Mesias tidak boleh terbatas pada satu wilayah etnis saja karena Yesus datang untuk menghapus dosa dunia. Pemahaman inilah yang mungkin membawanya hingga ke Samaria. Kesaksiannya kepada orang Samaria bisa dikatakan sebagai wujud nyata kesadarannya akan universalitas Injil.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan Volume 3
Judul bab: Kepemimpinan Yohanes Pembaptis
Judul artikel : Yohanes Pembaptis Sebagai Saksi
Penulis : Armand Barus
Penerbit : SAAT, Malang 2002
Halaman : 75 -- 78

Kebenaran dan Hidup

Manusia adalah ciptaan yang unik, berbeda dengan biantang karena diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Memiliki kualitas yang tidak dimiliki oleh ciptaan yang lain. Manusia punya kapasitas untuk mengetahui akan kebenaran. Ada perasaan ingin tahu oleh manusia, apa itu kebenaran. Manusia memiliki pengetahuan yang begitu hebat dalam ilmu biologi, kimia.

Khotbah Harus Alkitabiah

Prinsip yang harus diingat oleh seorang pengkhotbah, yaitu: "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus " (2 Korintus 4:5). Pusat pemeberitaan khotbah adalah Yesus Kristus sebagai Tuhan. Apapun jenis-jenis khotbah, jika pusat pemberitaannya bukan Yesus, itu bukan ajaran yang sehat. Karena khotbah yang disampaikan entah satu ayat atau satu perikop, bukanlah penentu apakah khotbah itu alkitabiah atau tidak alkitabiah.

Publikasi Bio-Kristi

Sumber-sumber apa saja yang sudah Anda miliki untuk mengakses informasi mengenai tokoh-tokoh Alkitab maupun tokoh-tokoh Kristen di dunia? Apakah salah satunya adalah Publikasi Bio-Kristi? selengkapnya...»

Persahabatan-Persahabatan Calvin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sehubungan dengan hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati tanggal 31 Oktober nanti, maka secara khusus edisi e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang sedikit mengulik kehidupan sosial seorang tokoh besar reformasi, yaitu John Calvin. Di balik pribadinya yang begitu serius dan mungkin terkesan sangat kaku dalam prinsip-prinsip pemikiran Kristen, ternyata John Calvin memiliki sisi lain yang unik yang banyak tidak diketahui orang. Karena kesan sifat kakunya itu, banyak orang berpikir bahwa John Calvin tidak memiliki banyak rekan dan sahabat. Ternyata, pandangan itu salah besar. Jika kita mengenal John Calvin lebih dekat, sebagaimana dialami oleh rekan-rekan dekat John Calvin, kita akan mendapati dia ternyata seorang pribadi yang hangat, setia, dan sangat perhatian. Melalui artikel yang kami sajikan di bawah ini, kita akan lebih mengenal John Calvin, tidak hanya dalam intelektualitas teologinya, tetapi juga dalam hal berelasi dengan orang lain. Kiranya kita juga bisa belajar dari pribadi John Calvin yang tidak hanya serius dalam mengerjakan panggilannya, tetapi juga menjadi pribadi yang hangat dan setia pada sahabat-sahabatnya. Selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 169/Oktober 2015
Isi: 

Seorang pembela Calvin mengatakan bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang menjadi sangat dikasihi pada saat kematiannya apabila pada waktu hidupnya ia adalah seorang yang jahat. Bukan saja Calvin dipuji pada saat kematiannya, tetapi banyak temannya memiliki gagasan-gagasan yang sama dan terus melanjutkan usahanya.

Sebuah studi mengenai surat-surat Calvin menyingkapkan suatu pola persahabatan dan perekanan. Tentu saja Calvin tidak memandang dirinya sebagai satu-satunya individu yang terlibat dalam masalah-masalah reformasi ini. Satu studi semacam itu adalah "The Humanness of John Calvin" oleh Richard Stauffer. Untuk "sisi lain dari kisah itu", kita perlu melihat karya pendek ini. Dalam kata pembukaan kepada monograf itu, sarjana Calvin yang terkemuka, J.T. McNeill, mengkronologikan bagaimana ia sampai mempertanyakan "desas-desus" tentang Calvin. Ketika McNeill membaca surat-surat Calvin, berlawanan dengan banyak legenda urban yang telah ia dengar, ia menemukan bahwa Calvin itu jelas-jelas peramah, berkawan dengan orang kaya maupun orang miskin, dan menunjukkan kesetiaan yang kokoh kepada teman-temannya. McNeill menemukan bahwa Calvin sesungguhnya lemah lembut, hangat, murah hati, dan ramah. Richard Stauffer mendokumentasikan "fitnah" yang telah Calvin terima dari musuh-musuhnya dan juga bagaimana ia telah "disalahpahami dan disalahtafsirkan oleh buyut-buyutnya".

Sejarawan lain mencatat bahwa tidak ada Reformator lain yang melebihi Calvin dalam menunjukkan kesetiaan pribadi. Emile Doumergue berkata demikian, "Hanya segelintir orang saja yang dapat memiliki banyak sahabat seperti Calvin dan yang tahu bagaimana mempertahankan bukan hanya rasa kagum, tetapi juga afeksi pribadi dari teman-temannya." Abel Lefranc mengekspresikan perasaan yang sama demikian: "Persahabatan yang ia inspirasikan dengan guru-gurunya maupun rekan-rekannya, merupakan kesaksian-kesaksian yang cukup kuat bagi fakta bahwa ia tahu bagaimana menggabungkan komitmennya yang sungguh-sungguh dan mendalam terhadap pekerjaan dengan keramahtamahan dan keluwesan yang mampu mengambil hati setiap orang terhadapnya."

Entah ia berada di lingkungan universitas atau mengambil pengalaman dari guru-gurunya untuk membantu dia, Calvin, tidak seperti dugaan tentang dirinya, lebih merupakan orang yang suka bergaul. Ia terbiasa menulis surat, berkoresponden dengan ahli-ahli hukum, gubernur-gubernur, orang kebanyakan, dan banyak hamba Tuhan. Surat-surat ini memberikan pandangan-pandangan sekilas ke dalam diri Calvin yang sesungguhnya. Dalam surat-surat ini, ia dapat menunjukkan afeksi yang ia miliki terhadap gurunya, Melchior Wolmar, dan pada waktu yang sama dapat meratapi meninggalnya seorang teman sepelayanan yang begitu mengejutkan sehingga membuatnya berdukacita.

Karakter dan denyut Calvinisme memengaruhi dunia melalui suatu persaudaraan dari teman-temannya yang setia dan berkomitmen. Teolog Amerika, Douglas Kelly, menegaskan bahwa tradisi Calvinistik mempunyai pengaruh jauh melampaui Swiss dan Prancis. Barangkali warisan yang paling abadi dari tradisi ini adalah penekanannya pada kedaulatan rakyat dan hak untuk melawan tirani, suatu ajaran yang "akan diteruskan (baik secara tidak langsung dan digabung dengan ide-ide dari sumber lainnya) ke dalam teori-teori politik di Inggris pada akhir abad ketujuh belas mengenai hak-hak asasi manusia ... [dan] debat-debat serupa di bidang hukum dan pemerintahan di Amerika pada abad kedelapan belas". Satu orang saja tidak dapat menabur begitu banyak benih; kemenangan-kemenangan ini didapat oleh suatu tim rekan-rekan.

Calvin adalah teoretikus Protestan yang utama, tetapi tentu saja bukan satu-satunya. Reformator-reformator lain yang ada dalam lingkungan persahabatannya mengartikulasikan secara tajam karya-karya politik yang sesungguhnya merupakan teologi-teologi tentang negara, dengan karya-karya seminar berikut yang muncul berturut-turut dengan cepatnya dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun: buku "Martin Bucer De Regno Christi" (1551), buku "John Ponet A Short Treatise of Political Power" (1556), buku "How Superior Powers Ought to Be Obeyed By Their Subjects: and Where in They May Lawfully By God's Word Be Disobeyed And Resisted" (1558), buku "Peter Viret The World and the Empire" (1561), buku "Francois Hotman Francogaltia" (1573), buku "Theodore Beza De Jure Magisterium" (1574), buku "George Buchanan De Jure Regni Apud Scotos" (1579), dan buku "Languet Vindiciae Contra Tyrannos" (1579). Masing-masing karya ini melegitimasi gagasan tentang penolakan warga negara terhadap perluasan pemerintahan yang melampaui batas-batas semestinya. Menariknya, bagian terbesar dari pemikiran politis ini berasal dari lingkaran teman-teman yang erat, yang kebanyakan mempunyai kontak dengan Calvin. Sulit untuk mengatakan bahwa kesamaan pikiran yang sedemikian kokoh ini hanyalah kebetulan.

Persahabatan Calvin dengan Theodore Beza merupakan sebuah teladan dalam persahabatan. Di tengah-tengah semua masalah intelektual yang memusingkan kepala pada zaman itu dan tantangan-tantangan yang menyertainya, apa yang paling berkesan bagi Beza adalah dukungan pribadi dan persahabatan Calvin. Jadi, Beza (dan yang lain) menulis tentang persahabatan yang Calvin berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Calvin merupakan contoh gagasan modern tentang perekanan, dan ia cukup bijaksana untuk menarik teman-teman yang brilian jika memungkinkan. Pernah, ketika Beza sakit, Calvin mengakui ketakutannya sendiri dan kesedihannya yang dalam setelah mengetahui penyakit rekannya. Ia menangis dan berduka, tampaknya karena terkejut akan kehilangan yang mungkin sekali terjadi pada gereja dan padanya secara pribadi. Untungnya, Beza sembuh.

Ada banyak teman yang lain di samping Beza. Jenis pemikiran yang sama yang mengalir melalui nadi-nadi literatur Bullinger, Bucer, Viret, dan Calvin -- segera ditambah oleh Knox, Beza, Hotman, dan Junius Brutus -- membentuk suatu tradisi intelektual dengan Jenewa sebagai episenternya dan Calvin sebagai bapaknya. Persahabatannya dengan para cendekiawan ini ternyata merupakan petunjuk yang menyatukan gerakan itu dalam masa pertumbuhannya yang sulit. J. H. Merle D'Aubigne mencatat saling menukar gagasan-gagasan ini dalam kata-kata berikut:

"Kekatolikan Reformasi merupakan ciri yang mulia dalam karakternya. Orang-orang Jerman masuk ke Swiss; orang Prancis ke Jerman; dalam waktu-waktu belakangan orang-orang dari Inggris dan Skotlandia pergi ke Eropa Daratan, dan doktor-doktor dari Eropa Daratan ke Inggris Raya. Reformator-reformator di negara-negara yang berbeda bermunculan hampir tanpa ada kaitannya satu sama lain, tetapi begitu muncul, mereka mengulurkan tangan persekutuan....Merupakan suatu kesalahan, dalam pendapat kami, jika menulis sebagaimana yang masih terjadi sampai sekarang, tentang sejarah Reformasi untuk satu negeri karena Reformasi itu satu.

Teman-teman Calvin berfungsi untuk menstabilkan dan menstandarisasi suatu gerakan internasional.

Calvin, Farel, dan Peter Viret disebut "tripod" atau "tiga bapak", karena begitu terkenalnya persahabatan mereka. Dalam "Commentary on Titus", Calvin menulis bahwa ia "tidak percaya kalau pernah ada teman-teman seperti itu yang hidup bersama-sama dalam persahabatan yang sedemikian erat dalam gaya hidup mereka sehari-hari di dunia ini seperti yang kami miliki dalam pelayanan kami". Bahkan, ketika ada ketidaksetujuan yang kuat, Calvin merupakan suatu paradigma persahabatan. Ketika Reformator-reformator ini mengalami pergumulan-pergumulan atau sukacita keluarga, Calvin menceritakannya dalam surat-suratnya. Surat-surat kepada berbagai Reformator ini penuh dengan simpati dan cepat menggambarkan kesetiaan yang sehat. Terlebih lagi, korespondensinya dengan pengungsi-pengungsi menunjukkan belas kasihnya yang besar. Bahkan, ia membangun jembatan-jembatan dengan murid-murid Luther setelah pemimpin Jerman itu mencelanya. Calvin menerjemahkan sebuah karya teologis Melanchthon, murid Luther yang terutama.

Apa yang dimulai di Jenewa dengan kader rekan-rekan multinasional, yang semuanya berusaha meluaskan "republik Kristus" bertumbuh menjadi suatu gerakan yang bercirikan teologi, gagasan-gagasan, dan pandangan unik tentang sejarah yang menyebar jauh melampaui kota Jenewa. Dengan keyakinan mereka kepada providensi Allah dan pemilihan ilahi, lingkaran teman-teman ini mendorong pemimpin-pemimpin sipil untuk mengadopsi pandangan-pandangan religius dan praktik-praktik politik mereka "yang menyatakan bahwa tidak ada perbatasan-perbatasan, batas-batas, kekang-kekang yang boleh membatasi semangat pangeran-pangeran yang saleh dalam hal kemuliaan Allah dan pemerintahan Kristus". Bagi sejumlah pihak, teologi mereka tentang perlawanan secara politik tampak subversif.

Kadang-kadang, sebagaimana dalam era mana pun, juga ada gangguan-gangguan persahabatan. Calvin harus membantu anggota-anggota gereja dalam hal hubungan-hubungan yang retak, dan ia harus menangani friksi di antara reformator-reformator Protestan. Tidak seorang pemimpin pun seharusnya mengharapkan bahwa segala sesuatu akan selalu berjalan lancar dalam bidang persahabatan. Meskipun demikian, Calvin belajar mendorong orang-orang di sekitarnya dan ia mendelegasikan beberapa tanggung jawab kepada teman-teman sejawatnya.

Richard Stauffer menyimpulkan bahwa Calvin jauh dari "pahlawan yang terisolasi atau jenius yang kesepian yang sering digambarkan tentang dirinya. Sepanjang kariernya, ia memiliki hubungan-hubungan dengan teman-teman yang menunjukkan afeksinya yang tidak ada habis-habisnya dan pengabdian yang tidak kenal lelah. Jika ia menunjukkan pesona seperti itu, hal itu pasti karena ia sendiri merupakan seorang teman yang tidak ada bandingannya. Untuk pengabdian yang orang tunjukkan kepadanya, ia membalas dengan kesetiaan yang tidak tergoyahkan." Setelah kematian Calvin, menjadi tugas rekan-rekannya yang ditunjukkan oleh patung Beza dalam pahatan terkenal pada dinding Reformasi di Jenewa -- untuk menyebarkan firman.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku: Legacy of John Calvin: His Influence on the Modern World
Judul buku terjemahan: Warisan John Calvin: Pengaruhnya di Dunia Modern
Judul bab: John Calvin: Suatu Kehidupan yang Patut Diketahui
Judul asli artikel : Persahabatan-persahabatan Calvin
Penulis : David W. Hall
Penerjemah : Lanna Wahyuni
Penerbit : Momentum, Surabaya 2010
Halaman : 69 -- 76

Sebuah Tinjauan Terhadap Teologi Feminisme Kristen (II)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel edisi sebelumnya. Setelah kita memahami latar belakang munculnya teologi feminisme, dalam artikel ini kita akan mempelajari dasar dan pandangan Alkitab yang dikutip oleh para teolog feminisme dalam mendukung gerakan feminisme serta evaluasi terhadap teologi feminisme. Kiranya sajian kami menjadi berkat bagi kita sekalian. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 168/Agustus 2015
Isi: 

Metode Teologi

".....otoritas Alkitab menurut Russell adalah otoritas yang pragmatis, tidak penting apakah Alkitab bisa salah atau tidak, yang penting baginya adalah Alkitab itu memiliki kebergunaan dalam kehidupannya."

Dengan pandangan yang cukup negatif tentang Alkitab seperti yang di uraikan di atas, timbul pertanyaan: berita positif apa yang terdapat dalam Alkitab bagi para feminis? Menurut Russell, Alkitab adalah firman yang memerdekakan (liberating word). Hal ini jelas terlihat sejak peristiwa eksodus yang dicatat dalam Alkitab sampai zaman para nabi dan kemudian jauh hingga zaman Tuhan Yesus. Peristiwa eksodus yang dicatat dalam kitab jelas memperlihatkan karya pembebasan Allah bagi Israel dari penindasan Mesir. Nubuat yang disampaikan para nabi pun berbicara tentang pembebasan dari penindasan, seperti yang dicatat dalam Yesaya 61:1-2. Teks ini pulalah yang dikutip oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:18 yang dilanjutkan dengan pernyataan Tuhan Yesus pada ayat 21, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Selanjutnya, dengan sedikit permainan kata Russell mengatakan bahwa Alkitab bukan saja merupakan "the liberating word" tetapi juga harus menjadi "liberated word" (firman yang merdeka). Apa yang ia maksud dengan "the liberated word"? "The liberated word" berarti Alkitab dibebaskan dari cara pandang patriarkhal. Caranya adalah dengan membuang semua budaya patriarkhal yang telah membelenggu teks-teks Alkitab, untuk menemukan berita pembebasan kaum wanita.

Senada dengan pandangan di atas, menurut Ruether Alkitab harus dilihat sebagai tradisi profetik-mesianis, yakni melihat Alkitab dari perspektif kritis, ketika tradisi biblikal harus terus-menerus dievaluasi ulang dalam teks yang baru. Yang ia maksud dengan evaluasi ulang adalah melihat dan menilai Alkitab dengan paradigma pembebasan, dan konteksnya tidak lain adalah pengalaman kaum wanita. Sedangkan yang dimaksud tradisi profetik-mesianik adalah sebagaimana para nabi memberitakan penghakiman Allah, demikian juga para feminis memberitakan penghakiman atas ketidakadilan yang selama ini telah berlangsung, serta menuntut pertobatan dan adanya perubahan. Kaum feminis tidak hanya dipanggil untuk memberitakan berita penghakiman (profetik), tetapi ada juga unsur mesianisnya, artinya ada kabar "keselamatan" bagi kaum wanita, yakni pembebasan dari ketidakadilan. Masih menurut Ruether, tradisi profetik-mesianik ini menjadi ukuran atau norma untuk menilai teks-teks Alkitab yang lain."

Para feminis juga berpendapat bahwa teologi harus merupakan gabungan antara pertanyaan budaya kontemporer dan jawabannya, yang jawaban tersebut ditentukan oleh latar belakang budaya kontemporer (budaya pada waktu pertanyaan tersebut dilontarkan). Pada masa kini, situasi budaya ke mana tradisi Kristen itu harus dihubungkan adalah bertumbuhnya kesadaran wanita atau pengalaman kaum wanita di gereja. Oleh karena itu, pengalaman kaum wanita harus menjadi sumber dan norma bagi teologi Kristen kontemporer yang serius. Pendeknya, menurut Ruether, pengalaman manusia harus menjadi starting point dan ending point dalam berteologi.

Dasar Alkitab

Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai "magna carta of humanity" adalah Galatia 3:28 yang berbunyi: "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di alam Kristus Yesus." Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi, dan subordinasi pria. Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah Kejadian 34:12; Keluaran 21:7; 22:17; Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4; 5:28-29; 2 Samuel 14:2; 20:16; 2 Raja-raja 1:3; 22:14; Nehemia 6:14 adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam rumah tangga. Kesimpulan lain dari penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan.

Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab, teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan wanita. Di dalam Alkitab mereka juga menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal. Itulah sebabnya, sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan baptisan yang berbunyi: dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus."

Kesimpulan

Dari pandangan mereka terhadap Alkitab secara ringkas dapat dikatakan bahwa bagi para feminis, esensi kekristenan adalah panggilan kenabian serta pembebasan bagi kaum tertindas. Atas dasar inilah para feminis menuntut adanya suatu pembaharuan dalam teologi. Menurut mereka, hingga awal abad ke-19 karya-karya teologis dan intelektual kebanyakan dihasilkan dari perspektif nonfeminis; dunia teologi dan intelektual pada masa itu adalah dunia kaum lelaki. Sudah tiba saatnya pengalaman kaum wanita menjadi pusat refleksi teologis dan menjadi kunci menuju hermeneutik atau teori interpretasi.

Evaluasi

Teologi feminis telah memberikan kontribusi yang sangat besar baik bagi gereja dan juga terutama bagi kaum wanita. Namun, di samping sumbangsih yang diberikannya, tidak dapat dimungkiri bahwa teologi ini juga problematik. Dalam bagian ini saya mencoba untuk mengevaluasi teologi feminis baik secara negatif maupun positif.

Salah satu hal penting dalam berteologi adalah sumber teologi itu sendiri. Teolog-teolog feminis beranggapan bahwa teologi mereka bersumber atau berdasar pada Alkitab, firman Allah yang diinspirasikan. Namun, ternyata yang dimaksud dengan diinspirasikan Allah menurut mereka tidak sama dengan yang diyakini oleh iman tradisional. Inspirasi menurut iman Kristen tradisional berarti pimpinan Roh Allah secara supernatural dalam pikiran para penulis Alkitab yang menjamin ineransi, infalibilitas, dan otoritasnya. Akan tetapi, inspirasi menurut feminis tidaklah demikian. Yang dimaksud dengan inspirasi adalah bahwa Allah menyampaikan firman-Nya di dalam dan melalui kata-kata manusia yang bisa saja salah. Bagi para feminis, inspirasi tidak menjamin otoritas dan ineransi Alkitab. Alkitab bisa saja salah, berkontradiksi, dan tidak konsisten karena adanya unsur keterbatasan manusia. Dengan demikian, bagi para feminis Alkitab tidak lebih dari "sumber" yang otoritasnya ditentukan oleh pembacanya, dalam hal ini adalah wanita. Alkitab bukan sumber yang normatif dan berotoritas karena yang menjadi norma adalah pengalaman dan perjuangan kaum wanita untuk mencapai kemerdekaan.

Pandangan demikian jelas tidak benar. Jika kita mendapat Alkitab yang falibel (yang dapat keliru - Red.) dari manusia yang juga falibel, lalu bagaimana kita menentukan mana yang benar dan mana yang salah? Yang cukup menggelikan adalah bagaimana mungkin teolog-teolog feminis menolak otoritas Alkitab, tetapi pada saat yang bersamaan mereka juga menggunakan Alkitab yang berotoritas sebagai dasar teologi mereka? Tolbert melihat hal ini sebagai sebuah paradoks: "So, one must struggle against God as enemy assisted by God as helper, or one must defeat the Bible as patriarchal authority by using the Bible as liberator. Feminist hermeneutics, then, is profoundly paradoxical." ("Jadi, seseorang harus berjuang melawan Allah sebagai musuh, yang dibantu oleh Allah sebagai penolong, atau seseorang harus mengalahkan Alkitab sebagai otoritas patriarkhal dengan menggunakan Alkitab sebagai pembebas. Jika demikian, hermeneutika feminis benar-benar paradoks." - Red.)

Masalah lain dengan teologi feminis adalah metode penghilangan budaya (dekulturisasi) mereka, yang sedikit banyak tidak jauh berbeda dengan metode demitologisasi Bultmann. Pertanyaannya adalah bagaimana kita tahu bahwa bagian-bagian Alkitab tertentu dikondisikan oleh budaya pada saat itu dan oleh karenanya tidak berotoritas? Bagian-bagian mana yang masih relevan hingga kini? Pertanyaan lebih lanjut, siapa yang berhak menentukan bagian mana yang terkondisi atau terpengaruh oleh budaya dan mana yang tidak? Atau, siapa yang dapat menjamin bahwa proses ini, dekulturisasi (dan juga demitologisasi) tidak akan menghapus berita esensial Alkitab?

Teologi feminis berpijak bukan pada firman Allah melainkan pada pengalaman kaum wanita yang tertindas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa teologi ini bersifat eksistensialis karena lebih berpusat pada diri manusia daripada Allah. Teologi ini juga bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh kepentingan dan keprihatinan terhadap wanita yang akhirnya mendistorsi berita itu sendiri. Seperti halnya teologi pembebasan yang dicetuskan Gustavo Gutierrez, injil sosialnya Walter Rauschenbusch, ataupun "black theology"-nya James Cone, teologi feminis dapat dikategorikan sebagai teologi protes. Dalam teologi "protestan," baik melawan ketidakadilan, kesenjangan sosial, gender, ataupun ras diskriminasi, akan ada bahaya bila seluruh energi serta perhatian kita dicurahkan hanya pada isu-isu yang dikemukakan dan lepas dari pusat teologi Kristen, yaitu karya Allah di dalam dan melalui Kristus. Berkaitan dengan feminis, bahaya yang ada misalnya, jika kita tidak lagi mengakui iman kita bahwa Yesus adalah Tuhan karena Ia adalah laki-laki dan laki-laki identik dengan musuh.

Seperti mata uang, teologi feminis juga memiliki dua sisi. Di samping yang negatif ada juga hal-hal positif yang dapat kita petik dari teologi ini. Memang tidak dapat disangkal bahwa penindasan terhadap wanita sudah berlangsung begitu lama dan melukai banyak wanita. Usaha para teolog feminis untuk kembali meneliti Alkitab memberikan sumbangsih yang sangat besar. Lepas dari subjektivitas penafsiran mereka, kita melihat bahwa Allah menciptakan manusia (baik pria maupun wanita), memiliki derajat yang sama sebagai gambar dan rupa-Nya. Dosa telah merusak keduanya, bukan hanya Hawa. Walaupun Paulus dalam 1 Timotius 2:14 berkata, "bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa," tidak berarti bahwa Adam bebas dari tanggung jawab. Teolog yang antifeminis mengutip ayat ini dan mengecam teologi feminis, tetapi mengabaikan perkataan Paulus dalam Roma 5 yang mengatakan bahwa dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, yaitu Adam. Dari sini kita melihat bahwa acap kali kita memberi kritikan dan kecaman, tetapi pada dasarnya kita juga tidak fair (adil) dan jatuh pada kesalahan yang sama dengan teologi feminis yakni mengambil satu bagian Alkitab dan mengabaikan yang lain, hanya untuk mendukung argumentasi atau melegitimasi tindakan kita.

Teologi feminis dimulai dari situasi penindasan terhadap wanita baik di dalam gereja maupun masyarakat. Dengan demikian, teologi ini merupakan suatu refleksi kritis atas praksis. Jenis teologi kritis atau protes tampaknya menjadi ciri teologi masa kini. Dari berbagai kritik yang dilontarkan tersebut memang harus kita akui adanya kepincangan atau ketidakseimbangan antara teologi dan praksis. Tidak sedikit orang Kristen dan pemimpin gereja yang menguasai dengan sangat baik bermacam-macam doktrin dalam Alkitab, tetapi pengetahuan itu tidak terejawantahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Karena itu, tidak mengherankan jika muncul teologi hitam, teologi pembebasan, dan teologi lain yang sejenis, yang berusaha merelevankan Alkitab ke dalam berbagai situasi kehidupan. Usaha para feminis dan juga tokoh pembebasan lainnya untuk membuat Alkitab relevan bagi setiap zaman, ataupun usaha mereka menjadi jembatan penghubung antara zaman Alkitab dengan situasi kontemporer merupakan suatu usaha yang sangat baik. Hanya, patut disayangkan, usaha tersebut lebih menitikberatkan unsur kepentingan manusia dan konteks sehingga mereka tidak segan-segan mengorbankan iman Kristen yang ortodoks. Namun, terlepas dari masalah tersebut, usaha untuk menyeimbangkan teologi dan praksis merupakan usaha yang juga harus dilakukan gereja masa kini.

Sumbangsih teologi feminis juga terasa di dalam gereja. Selama ini tidak sedikit gereja yang melarang kaum wanita mengambil bagian dalam pelayanan. Makin bertumbuhnya gerakan kaum wanita, mau tidak mau memaksa gereja dan para teolog untuk kembali melihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai peran wanita dalam gereja. Sedikit demi sedikit gereja mulai membuka diri terhadap sumbangsih yang bisa diberikan oleh kaum wanita. Di lingkungan gereja di Indonesia, ada gereja tertentu yang dahulu "mengharamkan" pelayanan atau jabatan tertentu bagi wanita, tetapi saat ini ada cukup banyak gereja yang mulai membuka diri terhadap wanita. Ada gereja-gereja tertentu yang memberi kesempatan bagi jemaat wanitanya untuk mengambil dalam pelayanan dan yang menahbiskan rohaniwatinya ke dalam jabatan pendeta, suatu hal yang dahulu jarang terjadi. Menurut saya hal ini baik karena tidak sedikit wanita Indonesia pada masa kini yang memiliki bakat, kemampuan, dan tingkat kerohanian yang baik, bahkan juga tidak sedikit yang lebih baik dari pria. Mereka bisa melayani Tuhan sama baiknya dengan pria. Justru dengan natur pria dan wanita yang komplementer, saling melengkapi, memberikan tanda bahwa gereja akan diperkaya dengan adanya partisipasi wanita dalam pelayanan.

Penutup

"Liberation from a patriarchal worldview is never a finished task," ("Pembebasan dari pandangan dunia patriarkhal tidak pernah selesai," - Red.) demikian kata Russell. Saya tidak berani memastikan bagaimana masa depan teologi feminisme di dalam kekristenan atau dalam lingkup lainnya selama beberapa dasawarsa ke depan. Memang saat ini gerakan pemberdayaan kaum wanita muncul di mana-mana bagaikan cendawan pada musim hujan. Namun pertanyaannya, apakah perjuangan wanita-wanita Kristen pada era 1960-an masih akan tetap bergabung dan relevan pada abad ke-21 ini? Atau jika kita ganti pertanyaannya, apakah teologi feminis seperti yang dipaparkan di atas dalam beberapa dasawarsa mendatang masih bisa disebut teologi feminis Kristen? Sulit untuk menjawabnya. Namun, Ruether jauh sebelumnya (tahun 1983) sudah memberikan pernyataan: "The more one becomes a feminist the more difficult it becomes to go to church." ("Semakin seseorang menjadi seorang feminis, semakin sulit seseorang untuk pergi ke gereja." - Red.)

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan Volume 4
Judul bab: Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Judul asli artikel : Teologi Feminisme
Penulis : Lie Ing Sian
Penerbit : SAAT, Malang 2003
Halaman : 272 -- 278

Sebuah Tinjauan Terhadap Teologi Feminisme Kristen (I)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Feminisme adalah paham yang pergerakannya dimulai sejak akhir abad ke-18, yang menuntut kesetaraan hak dan perlakukan yang adil bagi wanita. Satu hal yang mendasari dan menjadi keyakinan dari pergerakan ini adalah bahwa masyarakat beserta sistem dan tatanan hukum yang ada di dunia ini bersifat patriarki sehingga menyebabkan subordinasi atau penindasan pada kaum wanita. Kesetaraan hak dan perlakuan yang adil bagi wanita kemudian menjadi tujuan dari pergerakan kaum feminis demi mengakhiri penindasan terhadap kaum wanita, yang tak jarang juga terjadi dalam gereja dan komunitas Kristen. Tak pelak, feminisme sampai kini masih menjadi suatu perdebatan panjang di kalangan orang Kristen dan gereja-gereja Tuhan, meski tak semua pihak mampu memandang dan menyikapinya dalam kacamata iman dan perspektif yang benar.

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai teologi feminisme, publikasi e-Reformed pada bulan Agustus ini akan mengetengahkan sebuah artikel yang berisi pandangan dari beberapa teolog feminis Kristen liberal mengenai feminisme beserta dasar-dasar teologi dari Alkitab yang digunakan untuk mendukung paham dan pergerakan feminisme. Kami berharap, suguhan e-Reformed edisi 167 ini akan semakin membukakan perspektif kita dalam memandang dan menyikapi teologi feminisme, terutama dari sudut pandang Alkitab.

Untuk ikut memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70 pada bulan Agustus ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan atas kemerdekaan yang Tuhan telah berikan kepada negara kita yang tercinta ini. Biarlah Tuhan akan terus memberikan kejayaan bagi bangsa dan negara kita, Indonesia!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
N. Risanti
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 167/Agustus 2015
Isi: 

Pendahuluan

"If I were only meant to tend the nest, then why does my imagination sail across the mountains and the seas .... Just tell me where, where is it written what it is I'm meant to be, that I can't dare," (Jika aku ditakdirkan untuk mendiami sangkar, lalu mengapa imajinasiku berlayar mengelilingi pegunungan dan lautan ... Katakan kepadaku, di manakah hal itu tertulis bahwa itu merupakan takdirku, yang tidak dapat kulangkahi. - Red.) demikian sepenggal lirik lagu tema film Yentl, sebuah film musikal yang berkisah tentang seorang gadis Yahudi yang dibesarkan di Eropa Timur pada awal abad kedua puluh. Penggalan lirik lagu di atas adalah sebagian kecil jeritan hati Yentl, gadis belia yang hasratnya untuk mempelajari Talmud terkungkung di balik jeruji patriarkhal Yahudi yang dengan keras melarang wanita belajar agama. Wanita dianggap hanya bisa dan boleh tahu urusan dapur, anak, dan rumah tangga. Kalaupun mereka boleh membaca, jenis bacaan yang "halal" bagi mereka hanyalah roman picisan atau komik bergambar.

Jeritan hati Yentl, lepas dari apakah tokoh dan kisah tersebut adalah rekaan sang pengarang, Isaac Bashevis Singer, atau kisah nyata, bukanlah yang pertama dan satu-satunya terdengar sejak dunia ini diciptakan. Dominasi kaum pria yang, anehnya, telah berlangsung secara mengglobal jauh sebelum era globalisasi, telah menggoreskan luka yang dalam di hati banyak wanita. John Stott menggambarkan kondisi ini dengan kata-kata yang cukup tajam:

For there is no doubt that in many cultures women have habitually been despised and demeaned by men. They have often been treated as mere playthings and sex objects, as unpaid cooks, housekeepers and child-minders, and as brainless simpletons incapable of engaging in rational discussion. Their gifts have been unappreciated, their personality smothered, their freedom curtailed, and their service in some areas exploited, in others refused. (Sebab, tidak ada keraguan bahwa dalam banyak kebudayaan perempuan biasa dihina dan direndahkan oleh laki-laki. Mereka sering diperlakukan hanya sebagai mainan dan objek seks, sebagai koki tidak dibayar, pembantu rumah tangga dan pengawal anak, dan seorang bodoh yang tidak mampu terlibat dalam diskusi rasional. Talenta mereka telah tidak dihargai, kepribadian mereka ditahan, kebebasan mereka dibatasi, dan layanan mereka di beberapa wilayah dieksploitasi, serta ditolak di wilayah lain. - Red.)

Tidak heran jika timbul berbagai reaksi dari kaum wanita, mulai dari yang sekadar memendam rasa tidak puas hingga yang berani bersuara bahkan yang lebih ekstrem, memberontak terhadap tatanan yang telah berurat berakar di masyarakat. Tidak heran pula jika di berbagai penjuru dunia akan menemukan gerakan kaum wanita yang dikenal dengan istilah "feminisme", suatu gerakan yang dilandasi oleh kesadaran kaum wanita bahwa mereka adalah makhluk yang Tuhan ciptakan sederajat dengan pria.

Gerakan ini sangat terasa khususnya dalam beberapa dasawarsa terakhir abad dua puluh, sekaligus telah membawa perubahan yang sangat besar dalam masyarakat pada saat ini. Kaum wanita yang dulunya tidak memiliki posisi yang cukup berarti dan dianggap sebagai kaum lemah dalam masyarakat kini mulai mengedepan. Sejumlah besar wanita memasuki panggung politik dunia saat ini; tidak sedikit yang memegang jabatan penting di perusahaan-perusahaan besar dan sebagian lainnya meraih prestasi puncak dalam bidang pendidikan. Singkatnya, wanita kini memiliki kesempatan dalam dunia kerja dan pendidikan yang lebih luas daripada sebelumnya.

Pengaruh gerakan ini juga merambah ke dalam dunia teologi abad 20. Pada paruh kedua tahun 1960-an, teolog-teolog wanita dan mahasiswi sekolah teologi telah mengembangkan satu genre baru dalam pemikiran Kristen kontemporer yang dikenal sebagai teologi feminis. Teologi ini memiliki spektrum yang luas dan terus berkembang sehingga kalau kita berbicara tentang teologi feminis Kristen, harus jelas teologi feminis Kristen yang mana, liberal, radikal atau evangelikal, karena masing-masing memiliki arah atau penekanan yang berbeda.

Walaupun usianya masih tergolong "muda", tetapi sejak kelahirannya teologi ini telah mengalami perkembangan yang amat pesat dan menjadi teologi yang sangat signifikan pada abad 20. Kendati demikian, hal ini tidak berarti teologi feminis diterima oleh semua pihak. Bahkan sebaliknya, tidak sedikit orang atau kelompok yang menolak dan mengajukan keberatan terhadap teologi ini, misalnya orang-orang yang menyebut diri sebagai tradisionalis. Keberatan yang paling umum diajukan adalah bahwa teologi feminis bersifat subjektif dan dianggap telah mendistorsi makna teks-teks Alkitab yang menjadi dasar teologi ini. Tidak mengherankan jika teologi feminis mendapat kritik, kecaman dan serangan, bahkan penolakan.

Apakah sebenarnya teologi feminis itu? Mengapa teologi ini mendapat banyak kritik di sana-sini? Apakah teologi ini mendapat dukungan yang cukup dari Alkitab sebagai sumber teologi Kristen yang berotoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini, pada halaman-halaman berikut secara singkat kita akan mencoba mendefinisikan feminisme Kristen, kemudian mempelajari bagaimana pandangan feminisme terhadap Alkitab serta metode berteologinya. Mengingat luasnya lingkup feminis maka pembahasan difokuskan pada teologi feminis Kristen liberal yang diwakili oleh Rosemary Radford Ruether, Letty M. Russell, dan Elizabeth Schiissler Fiorenza. Namun, sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut, pada bagian berikut akan kita telusuri lebih dahulu latar belakang historisnya guna lebih memahami pandangan ini.

Latar Belakang Teologi Feminis

Pandangan yang merendahkan wanita bukan hanya ada di luar kekristenan. Di dalam gereja sendiri, tragisnya, sering kali wanita dipandang sebagai harta milik, objek, polusi yang membahayakan, dan yang paling keras adalah wanita dinilai tidak mampu menjadi gambar Allah sehingga mereka dilarang untuk menjadi pemimpin, pengkhotbah, dan pengajar dalam ibadah maupun pelayan di gereja.

Paulus dalam surat-suratnya pun seolah-olah "mengonfirmasi" status dan peran wanita dalam gereja, misalnya di 1 Korintus 14:34-35 dan 1 Timotius 2:12-16. Pada kedua bagian tersebut, Paulus melarang wanita berbicara dan mengajar dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Bahkan, secara tegas, ia menulis bahwa Hawa-lah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Sikap Paulus tersebut sangat memengaruhi cara gereja memperlakukan wanita. Selain oleh ayat-ayat tersebut, cara bapak-bapak gereja memperlakukan wanita juga banyak dipengaruhi oleh ajaran Yunani dan Talmud. Menurut William Barclay, pandangan orang Yahudi yang merendahkan wanita tampak dalam doa pagi pria Yahudi yang terdapat dalam Talmud. Di dalam doanya setiap pagi, seorang Yahudi bersyukur karena Tuhan tidak menciptakannya sebagai seorang kafir, budak, atau wanita. Tertullian, salah seorang bapak gereja, berkata, "You [wanita] are the devil's gateway; you are the unsealer of that (forbidden) tree; you are the first deserter of the divine law ...." ("Anda [wanita] adalah pintu setan; Andalah pendobrak pohon terlarang, Andalah pembelot pertama dari hukum ilahi ...." - Red.) Tidak mengherankan jika pada zaman bapak gereja, kaum wanita hampir-hampir tidak memiliki bagian di dalam gereja. Wanita pada masa itu dianggap rendah dan berada di bawah dominasi pria. Keadaan ini terus berlanjut selama berabad-abad tanpa ada perubahan.

Pada abad pertengahan, kaum wanita mulai menyadari bahwa mereka dimarginalkan dalam urusan gereja dan masyarakat; kesempatan yang mereka miliki sangat terbatas dan tempat yang tersedia bagi mereka hanyalah dalam rumah tangga. Kesadaran akan keadaan ini mulai membawa sedikit angin perubahan. Sejumlah wanita tampil sebagai penulis-penulis spiritual dan mistik pada masa ini. Beberapa karya tulis mereka menunjukkan adanya pengertian yang mendalam tentang isu-isu filsafat. Hanya, karya tulis tersebut tidak dalam bentuk seperti tulisan para teolog gereja, tetapi lebih bersifat kontemplatif yang memperlihatkan pendekatan mereka terhadap masalah-masalah kehidupan, di mana kunci jawabannya mereka cari di dalam hal-hal spiritual.

Keadaan kaum wanita secara perlahan-lahan mengalami sedikit perubahan pada zaman Pencerahan. Semangat abad Pencerahan memberi dampak besar bagi bangkitnya para wanita, terutama di Eropa. Beberapa wanita tampil ke permukaan dan melahirkan karya tulis ilmiah tentang wanita. Gagasan kesetaraan wanita dengan pria dituangkan dalam tulisan-tulisan mereka dalam bentuk esai, disertasi, dan sebagainya. Pada abad berikutnya, muncul beberapa wanita terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang sains dan filsafat; sebagian lainnya memainkan peran penting di bidang seni, pendidikan, dan politik.

Gerakan ini makin terasa pada abad ke-20, khususnya di Barat. Di Amerika Serikat yang menjadi katalisator gerakan wanita modern adalah karya monumental Betty Friedan, The Feminine Mystique (1963), yang memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat di negara tersebut. Pengaruhnya dapat disejajarkan dengan karya Charles Darwin, The Origin of the Species. Sejak saat itu, gerakan ini seolah tak terbendung lagi. Kini, gerakan feminisme dapat kita jumpai di belahan bumi mana pun sehingga tidak heran jika kita mengenal adanya "black feminist theology" di Afrika, feminis Islam di Indonesia, feminis Yahudi, dan sebagainya.

Dari paparan di atas tampak bahwa teologi feminisme lahir sebagai reaksi protes terhadap penindasan atas kaum wanita yang berlangsung di dalam dan luar gereja selama berabad-abad. Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong gerakan mereka berakar dari pengajaran PB tentang bagaimana seharusnya orang Kristen berelasi satu dengan yang lain. Model relasi orang Kristen, khususnya pria dan wanita tidak bersifat hierarki, melainkan kesederajatan yang sempurna dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang berdasar pada gender.

Definisi Feminisme

Apakah feminisme dan teologi feminis itu? Untuk mendefinisikannya bukanlah hal yang mudah karena tokoh-tokoh feminis itu sendiri sangat beragam. Menurut Marcia Bunge, ada perbedaan suara antara feminis yang satu dengan yang lain, yang terlihat melalui karya tulis mereka, baik buku-buku maupun artikel-artikel, yang belakangan ini semakin marak. Dengan bervariasinya tokoh, tulisan serta pandangan mereka, sulit untuk menentukan nuansa definisi feminisme yang jelas karena tidak ada kanon tradisi feminis yang normatif ataupun rumusan kredo yang jelas.

Kendati sangat beragam dalam struktur, bentuk, dan penekanan, tetapi itu tidak berarti sama sekali tidak ada kesamaan di antara para feminis. Pamela Dickey Young mencirikan empat tema yang mempersatukan gerakan para feminis di seluruh dunia, yaitu: pertama, teologi Kristen tradisional bersifat patriarkhal. "It has been written, almost totally, by men. It has been formulated, despite claims to universality, as though maleness were the normative form of humanity." ("Telah ditulis, hampir sepenuhnya, oleh laki-laki. Ini telah dirumuskan, meskipun klaim universalitas, seakan kelelakian adalah bentuk normatif kemanusiaan." - Red.) Kedua, teologi tradisional telah mengabaikan kaum wanita serta pengalaman mereka. Ketiga, natur teologi yang patriarkhal telah memberikan konsekuensi yang merusak bagi wanita. Keempat, sebagai solusi atas ketiga masalah di atas, wanita harus menjadi teolog yang memulai usaha teologis mereka. ... women must become equal shapers of the theological enterprise. (... para wanita harus menjadi pembentuk yang setara atas masalah teologis. - Red.) Karena itu, menurut Young, setiap doktrin serta konsep teologis harus diuji kembali dari sudut kesadaran kaum wanita yang tertindas. Hal senada juga diungkapkan oleh Tolbert, "... while others understand feminism to be primarily a movement toward human equality in which oppressed and oppressor are finally reconciled. (... sementara yang lain memahami feminisme pada dasarnya merupakan gerakan menuju kesetaraan manusia ketika yang tertindas dan penindas akhirnya didamaikan. - Red.)

Dari paparan singkat di atas tampak bahwa penekanan feminisme ialah "penindasan", "patriarkhal", dan "kesetaraan". Ketiga hal ini merupakan problem yang harus dihadapi oleh wanita; kaum wanita harus berjuang melawan penindasan yang diakibatkan oleh sistem patriarkhal guna mencapai kesetaraan dengan pria. Dengan kata lain, perjuangan kaum wanita pada dasarnya ialah perjuangan untuk meraih kebebasan. Secara ringkas, bisa disimpulkan bahwa feminisme pada hakikatnya adalah gerakan pembebasan kaum wanita dari sistem yang selama ini membuat posisi mereka berada di marginal, sedangkan teologi feminis bisa disebut sebagai usaha untuk menjelaskan kembali iman Kristen dari perspektif wanita sebagai kelompok yang tertindas.

Teologi Feminisme

Pandangan terhadap Alkitab

Kalau kita berbicara mengenai teologi seseorang atau sekelompok orang, salah satu pertanyaan yang penting dan perlu diajukan adalah bagaimana pandangan orang atau kelompok orang tersebut terhadap Alkitab? Apakah Alkitab diterima sebagai firman Allah yang berotoritas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya menunjukkan corak teologi yang dianut seseorang atau sekelompok orang tersebut. Pandangan Fiorenza mengenai Alkitab diungkapkan dalam kalimat berikut:

A feminist hermeneutics cannot trust or accept Bible and tradition simply as divine revelation. Rather it must critically evaluate them as patriarchal articulations, since even in the last century Sarah Grimke, Matilda Joslyn Gage, and Elizabeth Cady Stanton had recognized that biblical texts are not the words of God but the words of men. (Sebuah hermeneutika feminis tidak dapat memercayai atau menerima Alkitab dan tradisi hanya sebagai wahyu ilahi. Sebaliknya, hermeneutik feminis harus kritis menilai keduanya sebagai artikulasi patriarkhal, terlebih karena Sarah Grimke, Matilda Joslyn Gage, dan Elizabeth Cady Stanton pada abad terakhir telah mengakui bahwa teks Alkitab bukanlah kata-kata Tuhan, tetapi kata-kata manusia. - Red.)

Selanjutnya, ia mengatakan: "Feminist interpretation therefore begins with hermeneutics of suspicion that applies to both contemporary androcentric interpretations of the Bible and the biblical texts themselves." (Oleh karena itu, interpretasi feminis dimulai dengan hermeneutika kecurigaan yang berlaku untuk kedua interpretasi androsentrik kontemporer Alkitab dan teks-teks alkitabiah sendiri. - Red.). Sedangkan Ruether mengalimatkan demikian: "The Bible was shaped by males in a patriarchal culture, so much of its revelatory experiences were interpreted by men from a patriarchal perspective." ("Alkitab dibentuk oleh laki-laki dalam budaya patriarkhal, begitu banyak pengalaman pewahyuan yang ditafsirkan oleh manusia dari perspektif patriarki." - Red.) Secara ringkas yang ingin disampaikan kedua tokoh ini adalah Alkitab tidak boleh diterima mentah-mentah sebagai firman Allah karena banyak unsur manusia (baca: pria) di dalamnya.

Jika ditanya mengenai inspirasi Alkitab, para feminis akan segera menjawab bahwa mereka percaya inspirasi. Akan tetapi, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa itu artinya mereka masih berada di jalur iman Kristen yang ortodoks. Simak pernyataan Russell berikut: "The Bible is especially dangerous if we call it 'the Word of God' and think that divine inspiration means that everything we read is right." (Alkitab secara khusus bersifat berbahaya jika kita menyebutnya "Firman Allah" dan berpikir bahwa inspirasi ilahiah berarti bahwa segala sesuatu yang kita baca adalah benar. - Red.) Menurut Russell, inspirasi ilahi Alkitab berarti bahwa Roh Allah memiliki kuasa untuk membuat kisah Alkitab berbicara kepada kita dari iman menuju kepada iman. Alkitab diterima sebagai firman Allah apabila komunitas iman memahami Allah berbicara kepada mereka di dalam dan melalui berita Alkitab. Pandangan "miring" tersebut tidak aneh karena kelompok feminis yang menyebut diri evangelikal pun memiliki keyakinan serupa:

[T]he Spirit of God is the ultimate author of all Scripture. The Christian church, therefore, has rightly understood the phrase "the inspiration - of Scripture" to indicate that in and through the words employed by the biblical writers God has given his word to mankind. ... the Bible is a divine/human book ... as human, this light of revelation shines in and through the "dark glass" (1 Cor. 13:12) of the "earthen vessels" (2 Cor. 4:7) who were the authors of its content at the human level. (Roh Allah adalah penulis utama dari semua Kitab Suci. Gereja Kristen, oleh karena itu, telah benar memahami frase "inspirasi dari Kitab Suci" untuk menunjukkan bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab, Allah telah memberikan firman-Nya kepada umat manusia .... Alkitab adalah sebuah buku yang ilahiah/manusia ... bagi manusia, cahaya wahyu ini bersinar di dalam dan melalui "kaca gelap" (1 Kor 13:12.) dari "bejana tanah liat" (2 Korintus 4:7), yang merupakan penulis isinya pada tingkat manusia. - Red.)

Menurut kelompok ini, Alkitab diinspirasikan oleh Allah dalam pengertian bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh penulis Alkitab, Allah memberikan firman-Nya. Allah memakai manusia yang terbatas untuk menyatakan kehendak-Nya. Firman Allah sempurna, tetapi manusia sebagai penulis Alkitab, terbatas. Jadi, ada peluang bagi ketidaksesuaian antara firman Allah yang kekal dan kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab. Atau, dengan kata lain, Alkitab bersifat falibel serta tunduk pada keterbatasan manusia dalam menuangkan maksud Allah dalam kata-kata.

Hal serupa diungkapkan oleh Russell ketika ia berbicara tentang otoritas Alkitab. Alkitab berotoritas dalam kehidupannya karena Alkitab memahami pengalamannya dan berbicara kepadanya tentang makna dan tujuan kemanusiaannya di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, meskipun Alkitab ditulis dari sudut pandang patriarkhal, dan juga terdapat ketidakkonsistenan atau kontradiksi, tetap saja Alkitab berotoritas dalam kehidupannya karena kisah Alkitab membawanya kepada satu visi tentang ciptaan baru. Kalau boleh saya simpulkan, otoritas Alkitab menurut Russell adalah otoritas yang pragmatis, tidak penting apakah Alkitab bisa salah atau tidak, yang penting baginya adalah Alkitab itu memiliki kebergunaan dalam kehidupannya.

Bertitik tolak dari sini, teolog feminis berani mengatakan bahwa Paulus tak memiliki pandangan yang konsisten tentang wanita. Hal ini terjadi karena Alkitab dibentuk oleh kaum pria dari budaya patriarkhal sehingga banyak pengalaman wahyunya diinterpretasi dan ditulis dari perspektif patriarkhal. Itu sebabnya, mengapa Paulus kadang-kadang menempatkan wanita dalam posisi lebih rendah daripada pria, tetapi kadang-kadang juga sebaliknya. Jadi, ketika kita membaca Alkitab, kita tidak boleh mengabsolutkan budaya pada saat Alkitab ditulis dan untuk memperoleh kebenaran Allah, kita harus menghilangkan unsur-unsur budaya ketika melakukan interpretasi.

Catatan: partriarkhal --> patrilineal: mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat pria saja, bapak (KBBI).

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan Volume 4
Judul bab: Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Judul asli artikel : Teologi Feminisme
Penulis : Lie Ing Sian
Penerbit : SAAT, Malang 2003
Halaman : 263 -- 272

Khotbah Harus Alkitabiah

Penulis_artikel: 
Harapan Sianturi
Tanggal_artikel: 
24 Juli 2015
Isi_artikel: 

Prinsip yang harus diingat oleh seorang pengkhotbah, yaitu: "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus " (2 Korintus 4:5). Pusat pemeberitaan khotbah adalah Yesus Kristus sebagai Tuhan. Apapun jenis-jenis khotbah, jika pusat pemberitaannya bukan Yesus, itu bukan ajaran yang sehat. Karena khotbah yang disampaikan entah satu ayat atau satu perikop, bukanlah penentu apakah khotbah itu alkitabiah atau tidak alkitabiah. Termasuk singkat atau lamanya durasi khotbah bukan sebagai jaminan, bahwa khotbah itu berkualitas baik dan sehat.

Khotbah yang alkitabiah dan sehat adalah mengekspos bagian Akitab secara sistematik ayat demi ayat atau paragraf demi paragraf. Prinsip ini membutuhkan ketrampilan khususuntuk meneliti (eksegese) teks Alkitab tersebut, sehingga menemukan makna sebenarnya dari teks itu dan melihat relevansinya serta menjelaskan sesuai dengan garis besar khotbahnya. Gordon D. Fee mengatakan, bahwa: penafsiran Alkitab (eksegesis) dibutuhkan karena "ketegangan" yang ada diantara relevansi kekalnya dengan keistimewaan historisnya. Artinya selain menemukan makna sebenarnya, melalui studi eksegesis ini, pengkotbah terhindar dari kesalahan-kesalahan eisegesis. Karena godaan besar bagi pengkotbah yang fasih berbicara, adalah tidak mau meneliti bagian teks Alkitab dengan sabar dengan mempertimbangkan prinsip hermeneutika yang sehat. Sehingga isi khotbah yang disampaikan terdengar seperti alkitabiah, tetapi bukan alkitabiah yang sesuai prinsip hermenutika. Tindakan ini disebut, menggeser berita Alkitab dan menggantikannya dengan berita-berita lain - termasuk pengalaman sendiri. Karena itu, gereja yang besar belum tentu khotbah-khotbahnya baik dan sehat. Tetapi gereja yang sehat secara iman, pasti memiliki pengajaran/khotbah yang benar sesuai prinsip Alkitab. Ini tidak bisa dibohongi.

Sumber Artikel: 

Buku : Jurnal Teologi STULOS
Judul Artikel : Khotbah harus Alkitabiah
Penulis : Harapan Sianturi
Halaman : 101-102

Komentar


Syndicate content