Kecewa – Frustasi

Penulis_artikel: 
Transkrip khotbah Pdt. Stephen Tong
Tanggal_artikel: 
6 Februari 2016
Isi_artikel: 

Manusia adalah makhluk yang mempunyai intelek, kemauan dan emosi yang paling tinggi, dalam dan luas. Tidak ada makhluk yang mampu berpikir sekapasitas manusia. Tiada makhluk yang mampu mengembangkan emosi sedalam manusia dan tiada makhluk yang mempunyai kemauan untuk mengerjakan sesuatu menuju kekekalan seperti manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang boleh meliputi ketiga aspek ini karena dicipta menurut peta dan teladan Allah.

Sebab Allah itu benar maka manusia mampu berpikir tentang kebenaran. Sebab Allah itu kasih maka manusia bisa beremosi sedemikian dalam dan hangat. Karena Allah mempunyai rencana kekekalan, maka manusia mampu mengambil keputusan dan taat kepada Allah sehingga bisa berbagian dalam rencanaNya.

Binatang tidak mempunyai pengertian dan emosi, binatang hanya mempunyai insting. Tidak mungkin mereka melampaui limit insting, karena mereka tidak mempunyai roh yang kekal. Hanya kebutuhan akan makanan dan sex yang menjadi instinctive power dan impulse yang mendorong mereka untuk berjuang. Binatang berperang untuk makanan dan sex. Setelah selesai makan dan berhubungan sex, binatang tidur dan mati tanpa urusan yang lain. Lain dengan manusia yang berpikir tentang kebenaran. Baik kebenaran natural dan fisik dalam alam semesta yang disebut science, kebenaran tentang Allah yang disebut teologia, dan kebenaran dalam seluruh epistemologi yang disebut filsafat. Manusia mempunyai kapasitas cinta, iri, lesu, benci, ingin, ini semua karena kita diciptakan menurut peta teladan Allah yang penuh dengan kasih, benci, iri, marah dan sedih.

Kita mungkin sering melukai atau dilukai oleh orang lain. Waktu kita dilukai, bagaimana perasaan kita dan bagaimana kita harus mengalahkan luka yang sudah diterima itu? Ini memang tidak gampang, tetapi mengerti bagaimana mengatasi luka batin menjadikan kita orang yang kuat menghariapi kesulitan lebih besar. Banyak orang yang tidak pernah dilukai karena terus berada di sesuatu tempat yang penuh perlindungan, segala kecukupan diberikan. Hal seperti Ini hanya menjadikan manusia seperti bunga didalam vas. Bunga di dalam vas indah untuk grafik design, untuk difoto tetapi tidak pernah berguna jikalau terkena angin taufan karena tidak ada akarnya. Manakah yang lebih kasihan, anak yang dilahirkan dalam keluarga yang kaya atau anak yang dilahirkan di keluarga miskin? Bukankah lebih kasihan anak yang dilahirkan di keluarga miskin? Tetapi mengapa banyak orang agung yang justru dilahirkan dalam keluarga miskin? Mengapa banyak orang sukses justru dibesarkan dalam keluarga miskin? Disini ada bijaksana yang perlu kita pikirkan. Banyak orang terlalu melindungi anaknya, seolah-olah menghembus nafas saja bisa membangunkan bayi yang sedang tidur. Anak yang dibesarkan demikian, setelah dewasa mungkin mendengar kuda kentut akan langsung sakit jantung. Mereka tidak pernah dilatih dan tidak pernah susah. Anak yang dilahirkan dalam keluarga kaya apalagi dimanja adalah anak yang paling kasihan. Anak-anak seperti itu tidak ada hari depannya.

Semua orang yang dipakai Tuhan dalam Alkitab diperbolehkan untuk ditindas, dianiaya dan dipersulit. Daud dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan, raja Israel tapi dia harus dihina, diejek, diincar oleh Saul berpuluh-puluh tahun sebelum dia naik tahta. Inilah cara Tuhan, mari kita mengindahkan cara Tuhan, jangan terlalu menyombongkan cara manusia. Orang yang terlalu dimanja hanya menjadi bunga dalam vas. Bunga itu dirancang bagitu bagus dan diberikan vas yang bagus pula, akan tetapi hidupnya dan perhuangannya sudah diputuskan. Anak-anak Janganlah dididik dengan dimanJa, Jangan memberikan segala sesuatu sesuai permintaan mereka yang serakah, yang tidak pernah puas sehingga merusak diri mereka. Sebaliknya anak hendaknya dididik supaya mereka tahu bahwa mereka adalah manusia yang harus mandiri, berdikari, berjuang dan menghadapi angin taufan. Mereka akan belajar beriman bukan secara harafiah, bukan sekedar pengakuan atau epistimologi, tetapi iman yang bersandar pada Allah yang hidup. Dengan demikian mereka akan mendapatkan kekuatan mengatasi semua peperangan rohani, semua kekurangan dan bahaya semasa hidupnya sampai mereka berjumpa dengan Tuhan.

Kecewa atau frustasi merupakan sesuatu yang umum dan biasa terjadi pada setiap orang. Maka tidak ada orang yang tidak pernah kecewa. Pada waktu kita frustasi atau putus asa, selalu kita mempertanyakan mengapa saya hidup didalam dunia ini. Kalau memang hidup adalah demikian, lebih baik saya mati saja. Pada waktu Ayub dalam kekecewaan, dia mengatakan aku mengutuk hari kelahiranku, lebih baik aku tidak dilahirkan, lebih baik mati didalam rahim, jangan dilahirkan dan bertemu dengan sinar matahari. Dia sudah merasa hidupnya tidak berarti. Orang yang seperti ini, baginya setiap detik itu siksaan, penganiayaan. Proses waktu merupakan suatu kekejaman yang menaungi keberadaannya. Mengapa orang yang agung seperti Ayub bisa menjadi frustasi seperti ini? Pada waktu seseorang tidak mengerti mengapa dia harus menderita, dia menjadi gampang frustasi. Kita menjadi kecewa karena yang kita harapkan tidak terjadi, tapi apa yang kita tidak nanti-nantikan justru terjadi.

Kesulitan-kesulitan jiwa yang diakibatkan oleh frustasi dan pengalaman kecewa memiliki sebab-sebab yang menjadi kunci. Pertama, kita belum pernah bersiap untuk aspek negatif. Orang yang tak pernah berpikir kemungkinan negatif tiba adalah orang yang over optimistic. Orang yang terlalu pesimis juga pasti akan gagal. Jadi manakah yang benar, optimis atau pesimis? Dua-duanya benar, tidak pernah kita 100% sukses tanpa persiapan hati menghadapi aspek negatif secara agak pesimis, langit tidak selalu biru, kadang mendung, kadang cerah. kita harus bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan.

Peribahasa Tionghoa mengatakan langit mempunyai awan cerah dan hujan mendung yang tidak mungkin diprediksikan, manusia mempunyai kemungkinan paginya untung malamnya celaka atau paginya celaka malamnya untung. Perubahan-perubahan ini adalah perubahan yang lumrah. Orang yang stabil rohani adalah orang yang selalu mempersiapkan diri menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi. Orang yang tak pernah ada persiapan hati, yang tahunya cuma enak-enak lancar saja, akan gampang kecewa. Oleh karena itu bersyukurlah kepada Tuhan Jikalau semasa muda kita sudah mengalami kesulitan, ini membuat kita memiliki mental yang sudah dipersiapkan sehingga kita mampu menghadapi kesulitan yang mendadak.

Di dalam buku Lamentation of Jeremiah, ada satu kalimat yang sangat baik, yaitu adalah baik anak muda menanggung kuk. Semua orang yang waktu tuanya sukses, pasti waktu mudanya pernah susah. Mereka yang tak pernah susah, bukan hanya tidak mempunyai kekuatan menghadapi kesulitan tetapi melarikan diri dari kesulitan. Barangsiapa yang hanya tahu melarikan diri dari kesulitan, tidak ada hari depan yang baik. Bersyukurlah kepada Tuhan, Jika waktu muda kita sudah diberikan berbagai kegagalan. Semuanya itu akan melatih kita untuk menanggung beban berat. Tidak ada hal yang kekal di dalam dunia ini. Tetapi bagaimanapun kita harus menJalankan kehendak Tuhan.

Pada waktu kita diberikan kegagalan, kita menangis, kita berdoa, kita bertanya kepada Tuhan. Alkitab mengatakan yang menjaga malam selalu bertanya kapan matahari terbit, kapan saya mellhat cahaya matahari baru muncul. Anak muda, waktu diijinkan gagal oleh Tuhan, Janganlah mengeluh, Jangan putus asa, Jangan bunuh diri, Jangan kecewa sampai membinasakan diri. Semua rencana Tuhan adalah baik, meski mungkin kita diberi kegagalan, putus asa, frustasi. Yang penting adalah apakah saya dihanyutkan oleh frustasi ataukah saya mengatasi frustasi sehingga saya memperalat kesulitan-kesulitan ini untuk menjadi bahan membangun diri saya menjadi makin tegas, tegar, kuat pada saat berjuang.

Pada saat kita sudah mengalahkan kesulitan, kita menjadi seorang yang kuat pribadinya, menjadi seorang yang begitu kokoh, tegar di dalam struktur karakter. Maka kita akan dipercayakan oleh Tuhan untuk mengerjakan hal-hal yang begitu besar asal jangan sombong. Seandainya kita sudah mampu mengatasi kesulitan, ingat jangan menyerang orang lain. Jangan bersungut-sungut kepada Tuhan, Jangan mempersalahkan atau membenci orang dan jangan menghina orang yang belum mengalaminya. Pujilah dan bersandarlah pada Tuhan. Ini penting sekali. Maka kita senantiasa bersyukur pada Tuhan meskipun Ia mengijinkan kita mengalami.

BBC pernah menanyakan engkau memang orang pintar, mengapa belum sukses. Setelah mengumpulkan semua Jawaban, akhirnya BBC membagi 3 macam jawaban yang sangat berlainan:

Jawaban pertama mengatakan saya tidak sukses karena banyak halangan, dihina, dipojokkan, diejek, begitu banyak orang jahat. Jawaban kedua mengatakan siapa bilang saya tidak sukses, sekarang saya belum sukses, tapi saya sedang dalam proses menuJu kesuksesan. Jawaban ketiga mengatakan saya tidak pernah merasa diri pintar.

Jawaban yang paling baik adalah jawaban ketiga, karna kalaupun sukses ia tidak menganggap diri sukses. Mereka yang gila kesuksesan & tidak melihat kelemahan diri. Mereka yang menganggap diri sukses adalah kesuksesan yang terbatas. Mengapakah John Sebastian Bach mengatakan diri tidak terlalu sukses? Mengapakah Beethoven yang begitu hebat sebelum mati dangan tangan yang mengepal mengatakan masakan dia harus meninggal dunia setelah menulis not balok yang begitu sedikit? Dia tidak merasa diri sukses. Mengapakah Thomas Edison tidak merasa diri sukses? Dia mengatakan jikalau anda ingin sukses, maka diperlukan 1% bakat dan 99% usaha. Sewaktu umur 11 tahun, dia diusir dari sekolah, dia dianggap bodoh, tetapi dia lebih raJin dari orang lain. Hanya untuk menemukan lampu saja, dia pernah gagal 1700 kali. Pada pencobaan yang ke-1700 kali, mendadak lampu nyala dan inilah pertama kalinya manusia melihat cahaya bukan dari minyak. Jangan lupa sebelum senang dia pernah gagal 1700 kali. Kalau dia berhenti waktu 1600 kali, tidak ada orang yang berhak mencela dia. Kalau satu kali saja dia berhenti, dunia sekarang gelap, Thomas Edison mengatakan formula kesuksesan adalah 99% kerja berat dan 1% bakat.

Merasa diri kurang pintar, belum sukses tahunya kerja keras, tidak gila nama, pujian atau kesuksesan adalah contoh pendidikan yang terbaik. kita tidak bisa lebih cepat daripada dalil yang ditetapkan oleh Tuhan. Di dalam 2450 tahun yang lalu, ada satu buku yang bejudul zhan guo che di dalam sejarah Cina. Dalam buku ini banyak parable yang penuh dangan kebijaksanaan. Salah satunya, ada satu orang petani yang terlalu tergesa-gesa. Dia mau padi yang ditanamnya cepat tumbuh, akhirnya dia menarik padi itu supaya lebih tinggi. Keesokan harinya dia datang untuk menarik padi itu lagi, temyata semua padi telah mati karena melanggar dalil harus bersabar sampai saatnya tiba.

Banyak pemuda-pemudi yang maunya cepat-cepat, paling baik tidak usah sekolah tetapi mendapatkan gelar, paling baik tidak usah kerja mendapat uang, paling baik tak usah rajin tapi dapat hasil, paling baik tidak usah membayar harga tetapi dapat hasil, akhirya yang didapat adalah kriminal dan dosa. Janganlah kita marah pada saat Tuhan memberikan kita kegagalan. Semua kegagalan dan kesulitan yang diginkan Tuhan itu baik. Sebab orang yang tidak pernah dilawan, dihina, diiri, dipersulit, dianiaya adalah orang yang tidak mempunyai fondasi moral yang kuat. Dia tidak ada pengharapan hari depan yang baik. Kita seharusnya bersyukur kepada Tuhan karena Dia memberikan kita kesempatan untuk dilatih. Semua itu baik adanya.

Orang yang selalu menyalahkan orang lain dan tahunya dendam kepada orang lain,akan menjadi batu yang terus mengganggu dirinya maju. Ada seorang pendeta yang memaki-maki saya melalui tulisannya di internet supaya orang-orang membenci saya. Saya tidak tahu akan hal ini sampai ada seseorang yang memberitahukan saya. Dia menanyakan bagaimana respon saya dan perlukah dia menulis juga di internet untuk melawannya. Saya menjawab tidak usah, karena saya tidak pernah dipanggil untuk membela diri kita dipanggil untuk membela kebenaran bukan untuk membela diri, diri kita hanyalah satu manusia kecil tetapi kebenaran Tuhan tidak boleh dipermainkan. Karena tidak ada orang yang melawan, pendeta itu menjadi makin berani dan menulis lagi. Ingat dalil ini, jikalau engkau melukai hati orang yang membesarkan dan mendoakan kamu, kamu akan dihukum oleh Tuhan. Tetapi jika orang yang tidak pernah mempunyai andil menjelek-jelekkan kita, maka kita tidak mungkin dirugikan. Tiga tahun kemudian, orang itu tesisnya di Belanda tidak diterima. Dia menjadi marah sekali dan frustasi sampai mengancam pemerintah bahwa jikalau dia tidak lulus, dia tidak akan balik Indonesia dan akan bunuh diri. Lalu ia naik tiang listrik, tetapi tidak menyentuh kabelnya. Jadi dia cuma membuat sensasi, sehingga akhirnya pemeriniah Belanda marah dan dia dipaksa turun oleh polisi dan kemudian dikirim balik ke Indonesia. Waktu orang memberitahukan kepada saya, saya bilang kasihan dan berdoalah biar Tuhan menolongnya.

Janganlah dendam pada mereka yang memusuhi kamu. Jikalau kita memusuhi orang yang yang memusuhi kita, maka rohani kita sama seperti rohani mereka. Doakan dan minta Tuhan memberkatinya supaya suatu saat dia sadar kembali. Frustasi, kegagalan, kekecewaan bisa datang mendadak, tetapi semua ada berkat Tuhan di belakangnya. Amin.

(Transkrip khotbah Pdt. Stephen Tong)

Situs Artikel Kristen Indonesia

Sebagai orang Kristen, sudah seharusnya kita bertanggung jawab atas diri kita untuk terus bertumbuh, baik dalam wawasan, kerohanian, maupun keterampilan. Salah satu caranya adalah dengan banyak membaca. Situs e-Artikel menyediakan sumber-sumber kekristenan untuk membantu kita mengembangkan wawasan tentang iman dan kehidupan kekristenan.

Orang Kristen yang Sejati dan yang Palsu

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Menjadi seorang Kristen sejati adalah anugerah Allah bagi umat yang dipilih-Nya. Kekristenan sejati tidak hanya berbicara mengenai status menganut agama Kristen, kegiatan ibadah di gereja, atau pelayanan di berbagai bidang dalam mendukung pertumbuhan gereja. Semua hal itu tidak pernah menjamin dan menunjukkan bahwa kita benar-benar seorang Kristen sejati di hadapan Allah.

Di dalam Matius 7:23, kita akan menemukan satu pernyataan ayat yang sangat mengerikan, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Dalam ayat tersebut, siapa sangka orang yang bernubuat di dalam nama Yesus, mengusir setan di dalam nama Yesus, dan mungkin melakukan hal lain di dalam nama Yesus justru ditolak masuk kerajaan Allah, bahkan Yesus dengan tegas menjawab, "Aku tidak pernah mengenalmu!" dan mengusirnya dari hadapan-Nya, "Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Tak semua orang yang mengaku Kristen adalah seorang Kristen sejati. Kristen sejati perlu diuji dan dibuktikan oleh tangan Allah sendiri di dalam segala zaman. Orang-orang Kristen sejati adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Merekalah yang mau tersalib dan mati bersama-sama dengan Kristus, dan mengalami kebangkitan Kristus dalam hidupnya. Lalu, apakah yang membedakan Kristen sejati dan Kristen palsu? Menarik untuk kita simak bersama. Pada edisi kali ini, e-Reformed akan menyajikan satu artikel yang akan menolong kita untuk mengetahui perbedaan mendasar seorang Kristen sejati dan yang palsu.

Akhir kata, segenap redaksi publikasi e-Reformed mengucapkan "Selamat merayakan hari Paskah 2016". Kiranya melalui kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita boleh semakin bermegah di dalam anugerah-Nya dan makin giat memberitakan penebusan salib Kristus bagi dunia. Soli Deo Gloria

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 174/Maret 2016
Isi: 

Bab ini membicarakan perbedaan antara orang Kristen yang sejati dengan orang yang hanya tampaknya saja Kristen. Yesus membicarakan kedua macam orang ini (Yohanes 15:1-8). Yesus membandingkan orang-orang yang mengaku Kristen dengan ranting-ranting dari pohon anggur, ada yang berbuah dan ada yang tidak.

Pokok Anggur

Pertama, Yesus berkata bahwa Allah Bapa seperti tukang kebun yang memotong setiap ranting yang tidak berbuah (Yohanes 15:2). Ini menggambarkan bahwa mungkin orang-orang yang tampak seperti orang percaya sebenarnya bukan orang percaya yang sungguh-sungguh. Cara hidup mereka mungkin seperti orang Kristen, tetapi di dalam dirinya tidak ada kehidupan rohani, mereka mati secara rohani. Ketika Yesus berkata, "setiap ranting pada-Ku yang tidak menghasilkan buah," yang Ia maksudkan adalah "Setiap ranting yang memiliki hubungan dengan-Ku, tetapi hidupnya tidak bersumber dari pada-Ku".

Banyak orang yang mengagumi Yesus Kristus. Mereka menganggap Dia sebagai teladan untuk diikuti. Mereka bahkan mungkin mengatakan bahwa mereka menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, mereka tidak bersandar pada-Nya untuk menghapus dosa mereka dan mendamaikan mereka dengan Allah. Mereka yang berada "di dalam" Kristus hanya di dalam hal yang sangat umum. Mereka menyukai Dia, mereka mengakui hidup-Nya benar, mereka melakukan apa yang Ia lakukan. Namun, mereka tidak memperoleh dari-Nya seluruh pengharapan keselamatan dan kehidupan rohani mereka. Yesus mengatakan bahwa orang-orang seperti itu tidak berbuah.

Coba kita pikirkan seperti ini. Sebuah ranting yang diikat ke pohon bisa terlihat seperti ranting yang tumbuh dari pohon itu. Padahal, betapa berbeda keduanya! Ranting yang tumbuh dari pohon mendapatkan hidupnya dari pohon itu, ranting itu hidup! Ranting yang diikatkan ke pohon tidak mendapat kehidupan dari pohon, ranting itu mati! Demikian juga, mungkin ada orang-orang yang suka disebut Kristen, tetapi hanya menempel saja di bagian luar cara hidup Kristen.

Bagaimana cara mengenali kekristenan nominal ini? Ia tidak berbuah, tidak ada tanda-tanda kehidupan rohani, tidak ada dukacita terhadap dosa, tidak ada seruan kepada Allah untuk memohon pengampunan dan belas kasih-Nya, tidak ada kebergantungan sepenuhnya pada Yesus Kristus untuk berdamai dengan Allah, tidak ada kerinduan untuk hidup bagi Yesus Kristus sehingga ia dapat menyenangkan Allah. Karakter orang Kristen nominal sama sekali tidak akan menyerupai Yesus Kristus. Mereka tidak memiliki kerendahan hati, mereka tidak mengontrol kekuatannya, mereka merasa sulit menyangkal diri, mereka tidak membenci dosa, dan mereka tidak hidup seperti orang yang sedang bersiap untuk masuk ke dalam kekekalan. Tentu saja tanda-tanda ini tidak selalu dapat terlihat karena kehidupan rohani sebagian besar tersembunyi.

Namun demikian, kadang-kadang kehidupan seseorang tidak berbuah dapat tampak dengan jelas: masalah-masalah, pencobaan-pencobaan, atau keberhasilan memperlihatkan kekosongan kehidupan rohani seseorang. Karena itu, marilah kita melihat diri kita sendiri. Apakah kita berbuah atau tidak? Apakah kita hanya sekadar tertarik kepada cara hidup orang Kristen, atau apakah kita bersandar pada Yesus Kristus untuk kehidupan rohani kita?

Kedua, Yesus berbicara tentang membersihkan ranting yang berbuah, yaitu orang-orang yang memiliki kehidupan baru dari Allah di dalam mereka. Paulus berkata, "Barangsiapa dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru" (2 Korintus 5:17). Berada "di dalam Kristus" berarti orang-orang percaya dipilih Allah untuk menerima hidup baru ini; bahwa Allah telah mengampuni mereka karena penderitaan dan kematian Kristus di kayu salib dan telah menyatakan mereka benar di hadapan-Nya. Sekarang, mereka memiliki iman yang hidup dan kudus. Sebagaimana Paulus berkata, "Tetapi bukan lagi aku sendiri lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:20). Orang-orang percaya demikian bagaikan ranting yang memperoleh hidupnya dari pohon. Yesus berkata, "Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak berbuah di dalam Aku" (Yohanes 15:4). Buah yang dimaksudkan oleh Yesus adalah hati yang hancur karena dosa, jiwa yang menyesal, kerendahan hati dalam memandang diri, dan bersandar sepenuhnya pada Yesus untuk memperoleh keselamatan. Apakah kita mengerti hidup yang menghasilkan buah ini? Hidup seperti ini akan menghasilkan hidup yang kudus, itulah kehidupan rohani yang sesungguhnya.

Yang dimaksud Yesus dengan "memangkas" atau "membersihkan" adalah bahwa Allah akan mengambil dari kita hal-hal yang mengganggu kehidupan rohani kita. Alkitab mengatakan bahwa Allah memperbaiki kehidupan orang-orang percaya, atau "memangkas" mereka, karena Ia mengasihi mereka (Ibrani 12:10). Orang-orang Kristen tidak selalu mengerti cara kerja Allah atas hidup mereka. Mengapa ada orang-orang Kristen yang saleh, tulus, penuh kasih, harus menderita kesulitan dan kekecewaan? Mereka tidak dapat menjawabnya, tetapi mereka tahu bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik bagi mereka. Mereka tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan mereka (Roma 8:28).

Pokok Anggur

Pemangkasan atau pembersihan ini tidak melemahkan kehidupan rohani orang-orang percaya. Allah memelihara kehidupan yang telah diberikan-Nya sendiri sejak awal. Maksud dari pemangkasan adalah, seperti kata Yesus, "supaya lebih banyak berbuah" (Yohanes 15:2). Koreksi dari Allah, apabila sungguh-sungguh diterima, membuat orang-orang percaya semakin mengasihi Tuhan Yesus Kristus dan membuat mereka menjadi seperti Dia.

Apakah kita adalah orang Kristen yang berbuah? Allah memiliki rencana supaya umat-Nya berbuah lebih banyak. "Dalam hal inilah Bapaku dipermuliakan," kata Yesus, "yaitu jika kamu berbuah banyak." (Yohanes 15:8)

Sumber: 
Diambil dari:
Judul buku  :  Kebangunan Rohani Pribadi
Judul Asli  :  The Christian's Inner Life
Judul Artikel  :  Orang Kristen yang Sejati dan yang Palsu
Penulis  :  Octavius Winslow
Penerjemah  :  Yulvita Hadi Yarti
Penerbit  :  Momentum, Surabaya 2010
Halaman  :  61 -- 66

Hadirilah "Reformed Evangelical International Conference"

Hadirilah "Reformed Evangelical International Conference" yang akan diselenggarakan pada 7 -- 12 Maret 2016 di Jakarta. Silakan mendaftarkan diri dan mengajak rekan-rekan Anda untuk turut berpartisipasi. Lebih lengkap silakan baca informasi di http://www.sttrii.ac.id/ind/event/reic/index.html

Kumpulan Bahan Paskah Berkualitas

Hari Paskah sudah hampir tiba, kini saatnya berkunjung ke situs Paskah Indonesia untuk mendapatkan bahan-bahan bertema Paskah yang dapat kita manfaatkan untuk merefleksikan penderitaan dan kemenangan Kristus selama masa Paskah.

Adoption (Pengangkatan sebagai Anak)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Siapakah yang disebut dengan "anak Allah"? Dalam Alkitab istilah anak Allah menunjuk pada Yesus Kristus, Putra Allah (Anak Allah); para malaikat (Ayub 38:7); dan orang-orang percaya (Yohanes 1:12). Orang percaya adalah orang yang secara legal diangkat Allah untuk menjadi anak-Nya. Siapa pun boleh dan bisa menyebut dirinya sebagai anak Allah yang hidup, tetapi Alkitab memberikan kejelasan siapa yang disebut sebagai anak Allah yang sejati.

Dalam Kisah Para Rasul 17:28 Paulus juga mengatakan kepada para penyembah berhala di Atena, "Kita ini dari keturunan Allah juga." Namun, ada pengertian yang lebih tinggi, dekat, dan erat, yang menyatakan bahwa hanya orang-orang yang lahir kembali yang benar-benar anak-anak Allah. Yohanes berkata, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah" (Yohanes 1:12). Ketika berbicara dengan jelas kepada orang percaya, dia berkata, "Saudara-saudara kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah." Tidak ada perbedaan di antara Paulus dengan Yohanes. Di satu sisi, ini berbicara tentang anak-anak Allah dalam pengertian luas sebagai manusia, sementara di sisi lainnya ini berbicara dalam pengertian terbatas sebagai anak angkat.

Melalui artikel dalam edisi ini kita dapat belajar lebih dalam tentang anugerah yang telah Allah Bapa berikan kepada kita melalui Kristus, yang memampukan kita untuk menjadi anak-anak Allah yang sejati dan mewarisi berkat-berkat surgawi. Kiranya kita selalu ingat untuk terus mengucapkan syukur kepada Allah, dan bermegah atas kasih karunia-Nya. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.

AyubPemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 173/Februari 2016
Isi: 

ARTIKEL
Adoption
(Pengangkatan sebagai Anak)

1. Definisi

Bapa

Yang dimaksud dengan adopsi di sini adalah bahwa orang percaya secara legal ditempatkan di dalam status sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, ia berhak atas segala sesuatu yang berkaitan dengan status itu.

Katekismus Westminster:
"Pengangkatan sebagai anak itu merupakan tindakan Allah untuk memberi secara cuma-cuma yang melaluinya kita menerima bagian dan memiliki seluruh hak istimewa sebagai anak-anak Allah."

Kata Yunani untuk adopsi adalah "HUIOTHESIA". Kata ini dipakai dalam literatur di luar Alkitab untuk menunjukkan pengadopsian secara legal bersama-sama dengan hak pewarisan dan kewajiban seperti dipelihara orangtua angkatnya. Di dalam Perjanjian Baru, kata ini hanya dipakai oleh Paulus dan merujuk kepada tindakan Allah yang menempatkan umat-Nya di dalam status legal sebagai anak. Kata "HUIOTHESIA" ini adalah kata yang secara istimewa digunakan oleh Paulus. Dan, ia menggunakan kata ini beberapa kali dalam Perjanjian Baru yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris dengan "adoption", atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan diterima menjadi anak/diangkat menjadi anak. Kata tersebut berasal dari gabungan dua kata Yunani, yaitu "thesia" yang berarti menempatkan, dan "huios" yang berarti anak.

Jadi, "HUIOTHESIA" berarti anak yang ditempatkan dalam suatu keluarga atau diangkat menjadi anak.

Ada pandangan mengenai persaudaraan universal bahwa semua manusia bersaudara serta ajaran/doktrin kebapaan Allah secara universal (the universal fatherhood of God) atau Allah adalah Bapa dari semua orang. Namun, Alkitab tidak mengajarkan demikian. Allah disebut Bapa secara universal hanya dalam pengertian bahwa Allah adalah Sang Pencipta, maka Ia adalah Bapa dari semua manusia karena Bapa mengandung arti asal pemberi makan/pemelihara (anourisher), pelindung (protector), penopang (upholder), bapa (father), dan asal mula keluarga (the originator of a family). Karena itu, status Saudara harus dipahami sebagai satu bapa, dan hanya umat pilihan yang adalah sesama saudara, di luar itu adalah umat yang ditolak, dan Yesus berkata, "Iblislah bapamu ...." Semua manusia, secara natur, melalui kelahiran secara daging adalah manusia yang telah berdosa. Dan, dosa itu memisahkan kita dari Allah. Seperti Paulus menulis dalam Efesus 2:1, "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu." Jadi, menurut kelahiran dan natur, kita adalah anak-anak yang patut dimurkai dan telah mati oleh karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Namun, Roh Kudus telah menghidupkan kita, Ia meregenerasikan kita dan memberikan kelahiran baru kepada kita. Bukan oleh kehendak manusia, bukan oleh keinginan daging, dan juga bukan oleh usaha manusia, tetapi oleh Roh Allah. Dalam kelahiran kembali kita diadopsi atau diangkat atau diterima ke dalam keluarga Allah. Semua orang yang mengenal Allah di dalam Kristus diadopsi ke dalam keluarga Allah. Dan, kita diperlakukan secara istimewa dalam keluarga Allah. Kita diperlakukan secara istimewa sebagai anak. Paulus menegaskan, "Jadi kamu bukan lagi hamba (doulos), melainkan anak (huios); jikalau kamu anak maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:7) Seorang hamba bekerja untuk mendapatkan upah. Namun, walaupun kita bekerja seumur hidup, kita hamba tetap menjadi hamba, dan bukan anak. Seorang hamba dapat bekerja untuk selama-lamanya. Hamba dapat menerima upah untuk selamanya, tetapi tidak akan pernah memperoleh status sebagai anak dan ahli waris dalam keluarga itu. Namun, di dalam Kristus, oleh kasih karunia yang dicurahkan atas kita, kita diadopsi ke dalam keluarga Allah. Bukan dengan pekerjaan atau usaha (kebaikan) kita, kita menerimanya, tetapi itu adalah sesuatu yang Allah lakukan atau kerjakan bagi kita. Ia menanggalkan status kita sebagai hamba, dan mengangkat atau menerima kita sebagai anak dan ahli waris Kerajaan Bapa. Sesungguhnya kita tidak lebih daripada "doulos", kita tidak lebih daripada seorang budak, kita tidak lebih dari seorang pelayan, tetapi kemudian kita diterima/diadopsi menjadi anak. Dan, sebagai anak kita adalah ahli waris Allah melalui Kristus.

2. Dasar Alkitab bagi Ajaran Adoption (Pengangkatan sebagai Anak)

a. Di dalam 1 Yohanes 3:1-2,9: (1) Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. (2) Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. (9) Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

b. Yohanes 1:12-13: Bapa(12) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. (13) Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

c. Efesus 1:5: Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.

Ayat ini, menurut beberapa terjemahan lain:

NIV: "He predestinated us to be adopted as his sons through Jesus Christ, in accordance with his pleasure and will." (Ia telah mempredestinasikan kita untuk diadopsi sebagai anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus, sesuai dengan kesenangan dan kehendak-Nya.)

NASB: "He predestinated us to adoption as sons through Jesus Christ to Himself, according to the kind intention of His will." (Ia telah mempredestinasikan kita untuk pengadopsian sebagai anak-anak melalui Yesus Kristus bagi diri-Nya sendiri, sesuai dengan maksud/tujuan yang baik dari kehendak-Nya.)

Dengan demikian, kita melihat bahwa pengadopsian kita menjadi anak-anak Allah berakar pada dekrit kekal Allah dan bertujuan untuk kemuliaan-Nya. Dengan kata lain, "adoption" berakar pada predestinasi.

d. Galatia 4:4-7: (4) Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. (5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. (6) Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa! (7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah "melalui Kristus" – cetak miring ada dalam KJV.

Ungkapan "takluk kepada hukum Taurat" (yaitu di bawah kewajiban untuk menaati hukum Taurat) merujuk kepada ketaatan aktif Kristus kepada hukum Taurat, untuk menebus umat pilihan yang telah dipilih oleh Bapa. Ketaatan Kristus ini sekarang dikaitkan dengan pengadopsian diri kita, yaitu "supaya kita diterima menjadi anak", yaitu agar kita secara legal diadopsi oleh Allah menjadi anak-anak-Nya sehingga menerima segala hak yang berkaitan dengan kondisi/status sebagai anak itu.

e. Roma 8:14-17: (14) Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. (15) Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (16) Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (17) Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Yang Paulus maksudkan dengan "Roh yang menjadikan kamu anak" (ayat 14) adalah Roh Kudus yang memimpin orang-orang percaya. Kita semua yang berada di dalam Kristus telah menerima Roh, yang melalui-Nya kita sekarang dengan penuh sukacita memanggil Allah sebagai Bapa kita. Roh yang sama terus-menerus bersaksi bersama roh kita bahwa kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Allah -– suatu kesaksian yang dinyatakan kepada kita melalui Firman, pengalaman dalam hidup ini, kemurahan setiap hari, kekuatan tiap jam, dan sukacita yang terus-menerus ada. Kata bersaksi di sini ditulis dalam bentuk "present tense", yang berarti sebuah tindakan yang berkelanjutan/terus-menerus.

Penerimaan hak kita sebagai anak dimulai dengan penerimaan Roh Kudus yang menerapkan di dalam hati dan kehidupan kita penebusan yang telah didapatkan Kristus bagi kita.

Menurut Ibrani 1:2, Kristus telah ditetapkan oleh Allah sebagai "pewaris segala sesuatu". Warisan milik Kristus itu sekarang menjadi milik kita berdasarkan anugerah. Terdiri dari apakah warisan itu?

Warisan itu berarti:

  1. Kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Roma 8:17).
  2. Berhak menerima hidup kekal sesuai dengan pengharapan kita (Titus 3:7).
  3. Kerajaan Kristus (Efesus 5:5).
  4. Suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, yang tidak dapat layu (1 Petrus 1:4).

3. Kesimpulan

a. Dari pembahasan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semua manusia di dalam Adam adalah manusia berdosa, hamba dan budak dosa, anak-anak Iblis. Namun, semua orang di dalam Kristus adalah manusia baru, anak-anak Allah yang telah ditebus, yang diubah statusnya dari hamba menjadi anak-anak Allah. Atau, dengan kata lain "adoption" mengubah status dari hamba menjadi anak-anak Allah.

b. Pengangkatan sebagai anak diperoleh melalui penebusan Kristus akan orang-orang pilihan yang telah ditetapkan oleh Bapa, dan kemudian diteguhkan oleh Roh Kudus yang meregenerasikan, dan memberikan iman dan memampukan kita memanggil Allah sebagai Bapa kita. Artinya "adoption" tidak terlepas dari pembenaran dan kelahiran baru, orang yang telah dibenarkan, pasti akan diadopsi sebagai anak. Pembenaran adalah sesuatu yang berhubungan dengan hukum, dengan kata lain, pembenaran berhubungan dengan status anugerah, sedangkan regenerasi (kelahiran kembali) berhubungan dengan keadaan di dalam anugerah, yaitu membangkitkan di dalam kita sebuah natur atau karakter baru.

c. Pengangkatan sebagai anak berdampak pada status serta hak-hak yang melekat pada status kita sebagai anak-anak Allah.

Karena itu, berbahagialah dan bersukacitalah kita. Marilah naikkan segala pujian syukur hormat kepada Allah Tritunggal yang Kudus, yang telah memilih kita, menebus kita, dan mengadopsi atau menjadikan kita anak-anak-Nya serta senantiasa hidup bersyukur kepada-Nya. Dan, dengan kepala tegak kita dapat menjalani kehidupan iman kita sambil terus percaya bahwa Allah, Bapa kita, senantiasa memelihara kita anak-anak-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama Situs  :  Indonesia Reformed Ministry (IRM)
Alamat URL  :  http://adywilliamfrithndiy.blogspot.co.id/search?q=ADOPTION
Judul asli  :  Adoption (Pengangkatan sebagai Anak)
Penulis Artikel  :  Pdt. Ady William Frith Ndiy, M.Th
Tanggal Akses  :  22-12-2015

Sejarah Lagu : Mengikut Yesus Keputusanku

Penulis_artikel: 
The Youth's Way
Tanggal_artikel: 
23 Februari 2016
Isi_artikel: 

Lagu ini merupakan salah satu puji-pujian tertua yang masih tetap dinyanyikan sampai sekarang. Lirik lagu ini diambil dari kata-kata terakhir yang diucapkan seorang lelaki berasal dari Assam (sebuah desa di Timur Laut India). Dia bersama keluarganya memutuskan menerima Tuhan Yesus pada pertengahan abad ke 19. Kepala suku Assam memaksanya untuk meninggalkan imannya, namun lelaki itu berkata "I have decided to follow Jesus" = "Mengikut Yesus Keputusanku". Walaupun kepala suku dan penduduk mengancam akan memenggal kepalanya, namun lelaki itu tidak gentar dan tetap berkata "Though no one joins me, still I will follow" = "Tetap Kuikut Walau Sendiri".

Isterinya telah dibunuh karena iman mereka dan pada akhirnya lelaki itupun dieksekusi ketika sedang menyanyikan "The cross before me, the world behind me" yang artinya "Salib di depan, dunia di belakang". Demonstrasi iman lelaki ini telah membawa kepala suku dan semua penduduk desa bertobat dan mengikut Yesus.

Seorang editor pujian-pujian William Jensen Reynold membuat arrangement lagi ini dan pada tahun 1959 dimuat di dalam Buku Lagu Persekutuan. Waktu masih duduk di sekolah Minggu, lagu ini adalah salah satu favorit walau ketika itu kita pasti belum mengerti makna kata-kata dari lagu ini. Kiranya lagu ini menjadi hidup yang kita jalani dari hari ke hari pada saat ini.

Mengikut Yesus keputusanku ) 3x
Ku tak ingkar ) 2x
Tetap ku ikut walau sendiri ) 3x
Ku tak ingkar ) 2x
Salib di depan, dunia di b'lakang ) 3x
Ku tak ingkat ) 2x
Ku ikut sampai ku lihat Yesus ) 3x
Ku tak ingkar ) 2x
I have decided to follow Jesus ) 3x
No turning back ) 2x
The world behind me the cross before me ) 3x
No turning back
Though none go with me still I will follow ) 3x
No turning back ) 2x

Imannya adalah implementasi dari kata-kata Yesus dibawah ini :
"Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." ~ Matius 16:24 ~

Bagaimana dengan Anda dan saya? Selamat merenung dan mengambil keputusan, Tuhan berkati

Publikasi e-Konsel

Aneka permasalahan hidup senantiasa menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam kehidupan orang percaya. Tidak hanya membutuhkan jalan keluar serta solusi yang tepat, bimbingan serta hikmat yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan menjadi kebutuhan yang diperlukan oleh setiap orang Kristen yang bergumul.

Mereka yang Miskin secara Rohani

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu kembali pada awal tahun yang baru ini. Kami berharap dan berdoa kita semua terus memiliki kerinduan yang semakin besar untuk mengenal Allah kita di dalam anugerah khusus-Nya. Pada awal tahun, biasanya kita mendengar banyak resolusi yang orang tulis atau katakan karena mereka memiliki harapan agar tahun baru memberi semangat baru untuk hidup lebih baik. Banyak orang mengejar keberhasilan secara materi, tetapi kita berharap orang-orang percaya akan mengejar pertumbuhan rohani, sebab inilah yang seharusnya menjadi aspek hidup terpenting -- bagaimana bertumbuh dan semakin kaya dalam iman kepada Allah.

Pada masa sekarang, gereja banyak mendorong jemaat untuk berkembang dan maju dalam segala aspek hidup. Akan tetapi, pernahkah Saudara mendengar pendeta Saudara mendorong jemaatnya untuk menjadi miskin secara rohani? Mungkin istilah atau kondisi "miskin" akan dihindari oleh banyak orang, termasuk gereja. Padahal, kegagalan menjadi miskin secara rohani justru akan membawa kita pada kehancuran rohani. Bagaimana bisa demikian? Edisi e-Reformed pertama tahun ini akan menyajikan satu artikel yang menarik untuk kita simak, yaitu tentang kemiskinan rohani. Kiranya artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Selamat menjalani tahun baru dan selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 172/Januari 2016
Isi: 
Miskin

Kemiskinan secara rohani bukanlah menunjuk pada masalah keuangan ataupun keadaan depresi meski memang sering kali disalahtafsirkan menjadi demikian. Ada sementara orang Kristen yang mencoba merelakan semua milik mereka demi menemukan kebenaran kalimat-kalimat bahagia tersebut, tetapi kemudian mendapati bahwa seorang manusia ternyata bisa tidak lagi memiliki apa pun, namun tetap tidak dapat mengalami kemiskinan secara rohani.

Miskin secara rohani juga tidak sama dengan suatu gambar diri yang buruk, yang ditandai oleh adanya sikap penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah, sikap memikirkan diri sendiri, dan sikap-sikap tidak wajar lainnya. Seorang manusia dapat memiliki sikap-sikap demikian tanpa memiliki secuil pun pemahaman atas apa yang Tuhan Yesus maksudkan.

Dalam Perjanjian Lama, istilah "si miskin" lebih dimaksudkan sebagai istilah teknis bagi sekelompok orang. Mazmur 34:7 berbicara mengenai "orang yang tertindas (miskin)" yang telah datang kepada Tuhan dan yang telah didengar serta diselamatkan. Sementara di dalam Mazmur 40:18, sang pemazmur menggambarkan dirinya sendiri sebagai "orang yang sengsara dan miskin", dan meminta Tuhan supaya mengingat dan menyelamatkannya. Di bagian lain, pernyataan serupa menegaskan suatu fakta bahwa menjadi miskin berarti menjadi lemah dan tidak berdaya, tidak mempunyai hak, dan tidak mempunyai akal untuk membela dan menyelamatkan diri sendiri. Orang miskin adalah orang yang membutuhkan belas kasihan, bagaikan para tawanan yang sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan keselamatan mereka (Mazmur 69:33-34). Mereka merupakan orang-orang yang telah bangkrut di dunia ini, yang karenanya kemudian memercayai Tuhan sebagai satu-satunya harapan bagi perlindungan dan pembebasan mereka.

Akan tetapi, apakah arti ungkapan "miskin secara rohani"? Dengan membicarakan miskin secara rohani, Yesus bermaksud menegaskan bahwa Ia bukan sedang berbicara tentang kemiskinan secara materi. Kemiskinan materi memang memungkinkan terjadinya kemiskinan rohani, tetapi keduanya tidak selalu identik. Bahkan, kemiskinan secara materi sering kali dapat memperkuat harga diri kita.

Yesus pernah bercerita tentang seorang manusia yang sadar dirinya mengalami perbudakan rohani, sadar akan utang dosa-dosanya, dan mengetahui bahwa ia tidak memiliki hak di hadapan Tuhan (Matius 6:12). Yang dapat dilakukannya hanyalah meminta belas kasihan dan bersandar kepada Tuhan.

Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi orang Kristen tanpa adanya roh ini. Setiap orang Kristen mempunyai roh ini, yang bagaikan roh anak yang suka berfoya-foya. Dengan angkuh, ia meninggalkan bapanya dan menggantungkan diri pada harta warisan yang menjadi bagiannya. Akan tetapi, ketika ia bangkrut, "dia menjadi sadar kembali" (Lukas 15:17). Dengan penuh kerendahan hati dan dengan mengesampingkan semua kesombongannya, ia pulang ke rumah bapanya dengan tangan kosong, tidak lagi congkak, melainkan bersandar penuh pada kemurahan bapanya. Begitu juga halnya dengan orang Kristen:

Tak sesuatu pun ada padaku,
Hanya Salib-Mu;
Telanjang aku, harap 'kan jubah dari-Mu;
Tak berdaya aku, harap 'kan anugerah-Mu;
Najis aku, ke mata air aku lari menuju;
Basuhlah aku Juru Selamat, atau binasalah aku.

A.M. Toplady

Pada pasal-pasal permulaan kitab Roma, Paulus mengisyaratkan proses kelahiran Roh yang baru itu. Kita mendapati bahwa keberadaan kita bukannya layak dan berkenan kepada Allah, melainkan secara alamiah kita memiliki sifat memberontak terhadap Dia; kita telah menghancurkan hukum-hukum-Nya. Semua perbuatan yang menurut dugaan kita dapat menyenangkan Dia, justru semakin menjauhkan kita dari hadirat-Nya. Kita berdosa mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, mulai dari mulut kita yang penuh kecurangan hingga kaki kita yang tidak mengenal jalan damai (Roma 3:13-17). "... Tidak ada yang benar, seorangpun tidak, tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak." (Roma 3:10-12)

Apa akibatnya bila pada saat kita memikirkan kursi pengadilan Allah dan putusan bersalah-Nya atas hidup kita, kita mempertimbangkan dakwaan Ilahi ini dengan serius, dan menerapkannya pada diri sendiri? Paulus tidak membiarkan khayalan kita menjawabnya, ia menjawab: supaya tersumbat setiap mulut, dan seluruh dunia – termasuk kita – jatuh ke bawah hukuman Allah (Roma 3:19).

Kita yang menyombongkan kelayakan atau kemampuan kita; yang bersyukur kepada Allah karena kita tidak lagi seperti orang berdosa lainnya, tidak akan bisa mengatakan apa-apa lagi pada Hakim Agung kita. Kita akan menghadap Dia dengan rasa malu, mulut terkunci, dan hati yang benar-benar hancur.

Saat Tuhan menolong kita untuk menyadari keberadaan kita yang sebenarnya di hadapan hadirat-Nya, saat itulah perasaan miskin secara rohani lahir di hati kita. Barulah setelah itu, kita pada akhirnya dapat melihat bahwa Tuhanlah satu-satunya pengharapan kita. Kita hanyalah manusia lemah yang tidak memiliki kebajikan apa pun untuk dapat membela diri di hadapan-Nya. Di depan pengadilan Tuhan, kita telah bangkrut dan menjadi para pengutang. Yang dapat kita lakukan hanyalah memohon pengampunan-Nya.

Pada masa sekarang ini, kita didorong untuk mengembangkan segala macam kemampuan rohani, kecuali kemampuan untuk menjadi miskin secara rohani. Padahal, kegagalan kita untuk menjadi miskin secara rohani akan membawa kita kepada kehancuran rohani, seperti ternyata dalam peringatan Yesus kepada jemaat di Laodikia: "Engkau berkata, Aku kaya; dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa. Tetapi engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta dan telanjang" (Wahyu 3:17). Jika kita tidak panas ataupun dingin, kita berada dalam suatu bahaya untuk dimuntahkan dari mulut Kristus. Ada banyak pengajaran tentang bagaimana mendapatkan kepenuhan roh, tetapi di mana kita dapat mempelajari cara mengosongkan diri dari kecenderungan untuk mementingkan, membenarkan, dan memercayai diri sendiri?

Adalah kenyataan yang menyedihkan kalau ternyata kita mengetahui sedemikian sedikit mengenai berkat yang Yesus bicarakan (dan berikan) hanya karena kita begitu sibuk dengan diri sendiri ataupun dengan pengertian kita sendiri mengenai istilah berkat. Memang tidak ada alasan yang lebih menyedihkan bagi kegagalan kita untuk dapat menjadi miskin secara rohani, selain daripada ketidaksiapan kita untuk merelakan pikiran kita diketahui oleh orang lain. Sebaliknya, manusia yang miskin secara rohani akan tinggal tenang di hadapan hadirat Allah dan semata-mata akan membicarakan apa yang dengan penuh kerendahan hati telah dipelajarinya dari Allah.

Maka, bila Saudara ingin menjadi kaya dan memiliki kerajaan Allah, pertama-tama Saudara harus meninggalkan segala sesuatu, -- termasuk diri sendiri dan sifat mementingkan diri sendiri -- lalu berusaha untuk dapat menjadi miskin secara rohani.

Sumber: 
Diambil dari:
Judul buku  :  Khotbah di Bukit
Judul bab  :  Siapakah Saudara di Hadapan Allah?
Penulis  :  Sinclair B. Ferguson
Penerbit  :  Momentum, Surabaya 2010
Halaman  :  17 -- 20

Pada Mulanya adalah Firman

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat menyambut hari Natal tahun 2015 bagi Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus. Dalam bulan ini, secara khusus, e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang terkait dengan kelahiran Sang Kristus.

Mari kita melihat dalam Injil Yohanes 1:1. Hal yang menarik dalam ayat ini adalah ayat ini dibuka dengan sebuah susunan kata yang sama seperti dalam kitab Kejadian 1:1: "Pada mulanya". Kitab Kejadian menyatakan bahwa "Pada mulanya Allah menciptakan alam semesta", dan menurut Yohanes, "Firman itu ada bersama-Nya." Lebih dari itu, dalam penciptaan, Allah memakai firman-Nya untuk mencipta segala sesuatu (Yohanes 1:3). Firman yang sama inilah yang juga menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Hal ini sangat penting untuk kita ketahui bersama dalam perenungan Natal tahun ini.

Mari kita menyambut Natal tahun ini dengan penuh sukacita. Kiranya kita boleh semakin mengerti bahwa Kristus Yesus adalah Sang Firman yang telah lahir dan mengambil wujud manusia untuk menggenapi kabar baik bagi semua bangsa di bumi. Mari beritakan kabar sukacita! Soli Deo Gloria.

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 171/Desember 2015
Isi: 

ARTIKEL
Pada Mulanya adalah Firman

J_Child

Himne-himne Kristen pada abad permulaan merayakan Yesus sebagai seseorang yang, karena kepatuhan-Nya secara sukarela terhadap penghinaan dan kematian, ditinggikan oleh Allah ke tingkatan yang menguasai alam semesta dan dianugerahi gelar "Tuhan" -- "nama di atas segala nama". Namun, himne tersebut dibuka dengan pernyataan yang mencakup jangka waktu sebelum kehidupan Yesus sebagai manusia dimulai. "Dia telah-selalu ada dalam rupa Allah, tetapi Dia tidak pernah menganggap bahwa kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu hal yang harus di pergunakan demi kepentingan diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa sebagai seorang hamba" (Filipi 2:6-11).

Kalimat-kalimat ini, bukan berarti bahwa Dia menukar "rupa Allah" dengan "rupa hamba", tetapi yang sebenarnya adalah bahwa Dia menunjukkan rupa Allah melalui rupa hamba. Pada waktu perjamuan terakhir, Dia mengambil posisi sebagai hamba dan mencuci kaki para murid-Nya, Dia menampakkan sifat keilahian-Nya sama seperti di dalam tindakan-tindakannya yang lain. Kata/istilah "rupa" tidak mempunyai arti bahwa Dia adalah seorang aktor yang memainkan beberapa peran, sekarang peran sebagai Allah dan sekarang peran sebagai hamba; tetapi kata tersebut berarti bahwa Dia juga mempunyai sifat keilahian dan cara-Nya dalam menunjukkan sifat tersebut di dunia ialah dengan melayani orang lain. Melayani orang lain adalah sifat-Nya yang alami.

Akan tetapi, yang menjadi problema bagi kita pada zaman ini adalah himne tersebut kelihatannya menganggap bahwa Dia telah ada sebelum Dia menjadi manusia. Anggapan yang sama ini juga yang banyak dipakai oleh penulis Perjanjian Baru; tetapi oleh Yohanes hal ini sangat ditekankan dengan sangat tajam di awal Injil yang ke empat. "Pada mulanya adalah Firman," kata Yohanes, "Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah .... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yohanes 1:1,14). Pernyataan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia" inilah yang dikembangkan menjadi doktrin inkarnasi.

Karena "Firman" telah menjadi manusia di dalam diri Yesus dari Nazareth. "Firman" adalah gelar dari Yesus sejarah (Jesus of history). Sewaktu menjadi "manusia", firman Allah yang kekal menjadi suatu sejarah. Akan tetapi, gelar tersebut juga adalah kepunyaan Yesus sebagai Kristus Iman (Christ of faith); itu adalah kedalaman iman yang diberikan kepada-Nya, bukan sewaktu karier-Nya di dunia, melainkan setelah kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.

Kalau begitu, apakah arti dari Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah, yang juga ada dalam bentuk dan sifat Allah -- Firman yang pada saatnya nanti "menjadi manusia"? Ini adalah penampakan atau pengekspresian Allah. Allah, yang menampakkan atau mengekspresikan diri-Nya melalui banyak cara sebelum kedatangan Kristus (dan sampai sekarang pun), telah memberikan kepada kita penampakan dan pengekspresian sifat-Nya yang sepenuhnya dan tak bercacat di dalam diri Yesus.

Injil Yohanes dibuka dengan susunan kalimat yang sama seperti kitab Kejadian: "Pada mulanya". Menurut kitab Kejadian, "Pada mulanya Allah menciptakan alam semesta", dan menurut Yohanes, "Firman itu ada bersama-Nya". Lebih dari itu, Firman itu adalah alat yang dipakai oleh Allah di dalam karya penciptaan: "segala sesuatu dijadikan oleh Dia" (Yohanes 1:3). Firman yang sama ini jugalah yang "menjadi manusia" di dalam diri Yesus dari Nazaret.

Ini adalah awal mula dari bahasa orang-orang Kristen abad permulaan yang menghubungkan karya penciptaan kepada Yesus. Baris kedua dari himne "Agungkan Kuasa Nama-Nya" (All hail the power of Jesus' name) -- yang dihilangkan dari banyak versi modern dari himne ini -- haruslah menjadi sebagai berikut:

Crown him, ye morning stars of light,
Who launched this floating ball;
Now hail the Strength of Israel's might
And crown him Lord of all.

"Bola yang mengambang ini -- floating ball" ialah bumi, dan Yesus dikatakan telah "melontarkannya -- launched" (atau, menurut versi lain, himne-himne Kuno dan Modern, yang telah "menempatkan"nya). Bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan gaya bahasa seperti ini, mungkin tidak akan berhenti untuk memikirkan kembali betapa hebatnya hal ini. Seorang manusia yang hidup di Timur Dekat sekitar hampir 2000 tahun yang lalu telah disebut-sebut menciptakan ion-ion dunia sebelumnya. Bagaimanakah ide itu bisa timbul -- di benak pengikut-pengikutnya yang paling setia pun?

Narasi karya penciptaan di Kejadian 1 mencatat bahwa "Allah bersabda", dan sebagai akibatnya fase-fase selanjutnya dari pekerjaannya yang kreatif itu menjadi nyata. Allah bersabda, "Jadilah terang"; dan terang itu jadi ... Allah bersabda, "Baiklah kita membuat manusia, maka Allah menciptakan manusia (Kejadian 1:3, 26-27). Bagian-bagian Perjanjian Lama yang lebih puitis membicarakan karya penciptaan ini sebagai sesuatu yang dilaksanakan melalui firman Tuhan. "Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan" (Mazmur 33:6) adalah cara lain untuk mengatakan "sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi" (Mazmur 33:9). Firman Tuhan dipersonifikasikan sebagai alat-Nya dalam karya penciptaan. Di bagian lain di PL, kata yang sama dipersonifikasikan sebagai alat Tuhan dalam karya penampakan (seperti misalnya "firman Tuhan datang" ke nabi ini dan itu) dan juga di dalam karya keselamatan: ketika jiwa manusia merasa terancam, ia berteriak minta tolong kepada Allah, "disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, dan diluputkan-Nya mereka dari liang kubur" (Mazmur 107:20).

Sebab itu, firman Tuhan dipersonifikasikan sebagai alat-Nya atau pembawa berita-Nya. Akan tetapi, bahasa yang dipakai sebagai istilah di PL digunakan oleh Yohanes di bagian pembukaan kitab Injilnya, digunakan untuk mengekspresikan tidak hanya secara personifikasi, tetapi juga sebagai kepribadian yang nyata dan berbeda dari yang lain. Seperti Yesus di dalam sejarah di mana sifat-Nya benar-benar suatu pribadi, maka menurut Yohanes, Firman ilahi "menjadi manusia", dari awal mulanya benar-benar bersifat pribadi, menikmati persekutuan yang pribadi dengan Allah dan juga menikmati keilahian-Nya. Ini adalah aspek dari Kristus Iman (Christ of faith).

Kita telah beranggapan bahwa Kristus bangkit dan dimuliakan sebagai objek masa kini dari iman orang-orang pada zaman-Nya; tetapi Injil Yohanes menyatakan Dia sebagai seseorang yang mempunyai praeksistensi kekal -- yang tinggal selama beberapa tahun di bumi, mengalami kelahiran dan kematian seperti halnya manusia sejati, dalam perjalanan dari kemenangan menuju ke kemenangan. Yohanes tentunya bukan satu-satunya penulis di dalam Perjanjian Baru yang menggunakan istilah "praeksistensi" sewaktu menunjuk kepada-Nya, tetapi dialah yang lebih secara terbuka menggunakannya dibandingkan dengan penulis yang lainnya.

Hanya di dalam pembukaan injilnya, Yohanes mengatakan Yesus adalah Firman. Sepertinya, pembukaan tersebut berfungsi untuk mengingatkan para pembacanya bahwa di dalam pekerjaan apa pun dan perkataan Yesus mana pun yang tercatat di kitab Injil, di sinilah firman Tuhan sedang bekerja; inilah saat di mana Tuhan sedang menyatakan diri-Nya sendiri.

Ketika kalimat pembukaan itu berbicara mengenai "Firman" dan "Tuhan", isi dari Injil justru berbicara mengenai "Anak" dan "Bapa". Kalimat pembukaan itu mencakup 18 ayat, dan tepat di bagian akhirnya dinyatakan bahwa Anak Tunggal Allah, "yang ada di pangkuan Bapa" (yaitu, yang mempunyai pengertian yang sempurna dan saling mengasihi dengan Bapa), adalah seseorang yang telah "menyatakan"-Nya. Pernyataan Yoh. 1:18 ini membentuk suatu transisi dari kalimat pembukaan ke bagian isi dari Injil. Di dalam Injil Yohanes, Anak adalah cerminan Bapa. Oleh karena itu, barangsiapa yang telah melihat Anak, juga telah melihat Bapa. Bapa dan Anak hadir bersama-sama dalam suatu hubungan saling mengasihi yang abadi sifatnya, dan mereka yang dipersatukan dengan Anak karena percaya pada-Nya juga dapat masuk ke dalam hubungan berikut: Bapa-Nya Yesus juga menjadi Bapa mereka.

Namun, di dalam awal kitab-kitab Injil, Yesus selalu menunjukkan kesadaran sepenuhnya mengenai hubungan seorang anak terhadap Bapa-Nya sewaktu Dia berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya. Dia adalah "Sang Anak" di dalam arti secara khusus; meskipun begitu dia mendorong para muridnya untuk memanggil Allah sebagai Bapa mereka ('Abba') dan untuk datang kepada-Nya dengan penuh rasa percaya diri dan sebebas-bebasnya, seperti halnya Yesus sendiri. Injil Yohanes menjelaskannya secara lebih detail. Kitab Injil sinoptik mewakili para murid Yesus dan yang lainnya yang kadang-kadang bertanya-tanya mengenai siapakah Yesus itu sebenarnya: "Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?" (Mrk. 4:41) Namun, Yohanes membeberkan rahasia ini kepada para pembacanya dari kalimat pertama Injilnya, sedangkan dia membuat dengan sangat jelas sekali bahwa para murid yang lain tidak mengerti rahasia ini sampai setelah kebangkitan gurunya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku  :  Momentum
Judul bab  :  Firman Yang Berinkarnasi
Penulis  :  Tidak dicantumkan
Penerbit  :  LRII
Halaman  :  43 -- 46

Komentar


Syndicate content