REFORMATIONAL WORLDVIEW CHAPEL

Eksposisi Surat 1 Petrus
Pengkhotbah: Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.)

PELAKSANAAN:

Setiap hari Minggu, pukul 17.00 -- 18.30 WIB
Di R. Flamboyan Jakarta Design Centre Lt. 6, Slipi

Mulai bulan Desember 2007 kegiatan RWF di JDC berubah menjadi
pukul 12.30 - 17.00:

  • 12.30-14.30 - Public Lecture / ICS
  • 15.00-17.00 - Chapel

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Toni Afandi < administrator(at)rwfonline.org >

Untuk berkunjung ke situs:
http://www.rwfonline.org/aboutrwf

REFORMATIONAL WORLDVIEW CHAPEL

Eksposisi Surat 1 Petrus
Pengkhotbah: Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.)

PELAKSANAAN:
Setiap hari Minggu, pukul 17.00 -- 18.30 WIB
Di R. Flamboyan Jakarta Design Centre Lt. 6, Slipi

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Toni Afandi < administrator(at)rwfonline.org >

Untuk berkunjung ke situs:
http://www.rwfonline.org/aboutrwf

Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi

Editorial: 

Salam,

Reformasi abad ke-16 yang dimotori oleh Martin Luther adalah momentum Illahi. Sebuah gerakan pembaharuan rohani yang muncul tepat pada puncak penduniawian gereja oleh Katolik Roma. Momen ini dapat ditafsirkan sebagai sejarah yang terulang sejak Reformasi Ezra dan Nehemia dalam sejarah umat Allah untuk pemurnian umat.

Dipublikasikannya 95 Tesis sebagai data akurat dan tidak terbantahkan yang disusun oleh Martin Luther untuk menunjukkan bukti penyimpangan ajaran dan korupsi gereja Katolik Roma di gerbang gereja Wittenburg adalah titik penentu keefektifan Reformasi ini. Efektivitas Reformasi yang terutama adalah revitalisasi religiusitas dan teologis. Reformasi adalah awal babak baru pemurnian iman dan pengajaran dalam gereja Tuhan dan menjadi penentu arah perkembangan teologi dan pengajaran di kemudian hari.

Calvin, penerus Luther, adalah salah seorang reformator yang mampu menafsirkan gerakan itu sebagai momen yang mampu merevitalisasi kehidupan religius dan teologia pada zamannya dan berefek sampai hari ini. Baginya, kebenaran ajaran dan teologi gereja ditentukan dan didasarkan pada Alkitab dan interpretasinya yang benar. Prinsip Sola Scriptura adalah penentu keberhasilan Reformasi. Dari prinsip ini akan ditemui prinsip-prinsip yang menyertainya, seperti Sola Gratia dan Sola Fide, termasuk Sola Gloria.

Tugas Calvin, khususnya sebagai penafsir Alkitab, telah berhasil membawa Reformasi keluar dari mistikisme gereja; corak dominan pengajaran dan teologia gereja abad pertengahan, dengan cara menolak interpretasi Alkitab secara alegoris. Sebaliknya, Calvin, secara realistis sanggup memadukan doktrin dan mengajarkannya dari sudut pandang pembinaan untuk warga jemaat secara sistematis dan alkitabiah. Calvin mampu mengajarkan kemuliaan Allah berdasarkan kebutuhan rohani pada zamannya yang secara esensi tidak bisa dilepaskan dari prinsip Alkitab. Gerakan Reformasi itu sangat biblikal karena menekankan pentingnya penafsiran Alkitab secara literal dan historis.

Alkitab adalah dasar Reformasi dan kedaulatan Allah adalah segala- galanya. Karena Reformasi sangat menekankan Alkitab dan kedaulatan Allah sebagai pusat teologi, maka pada era-era sekarang, teologi Reformasi cenderung menjadi "tolok ukur" untuk menguji teologia- teologia lainnya. Teologi Reformasi "mampu mengukur" konsistensi dan ketepatan, sekaligus mendeteksi penyimpangan berbagai aliran teologi. Dari sinilah prinsip Calvin, "Speak where the Scriptures speak; be silent where they are silent" menjadi terkenal. Bagi Calvin, Alkitab dan Allah tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran dan teologia alkitabiah. Inilah salah satu warisan Reformasi yang sangat berpengaruh sampai saat ini di samping warisan-warisan besar lainnya.

Untuk memperingati Hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati tanggal 31 Oktober 2007 nanti, dan juga untuk mengingat kembali efektivitas gerakan Reformasi abad ke-16 yang lalu dan menguji kembali apakah kebenaran yang telah ditegakkan oleh para reformator, khususnya Calvin, tentang pentingnya Alkitab sebagai sumber final pengajaran dan teologi itu masih relevan, maka, tulisan Dr. Daniel Lucas Lukito di bawah ini mencoba menganalisa kesinambungan esensi dan relevansi gerakan tersebut dalam pengajaran iman dan teologi Kristen hari ini.

Selamat memperingati Hari Reformasi Gereja!

Sola Gratia,
Riwon Alfrey

Penulis: 

Daniel Lucas Lukito

Edisi: 

092/X/2007 (15-10-2007)

Tanggal: 

15-10-2007

Isi: 

PENDAHULUAN

Menurut kronologi sejarah, gereja Protestan mulai bereksistensi pada peristiwa Reformasi abad ke-16. Sekalipun saat itu Martin Luther -- juga kemudian John Calvin -- menentang ajaran gereja Katolik Roma, mereka tidak bermaksud mendirikan gereja yang baru. Tujuan Reformasi itu sendiri adalah untuk menyerukan sebuah amanat agar gereja kembali kepada dasar ajaran dan misi yang sesungguhnya; gereja disadarkan dan dibangunkan agar berpaling pada "raison d`etre" dan vitalitasnya di bawah terang Injil.

Menurut ajaran gereja Katolik Roma pada zaman itu, gereja memiliki "gudang" penyimpanan anugerah berlimpah yang diperoleh dari orang- orang kudus yang perbuatan baiknya melampaui tuntutan kewajiban bagi keselamatan mereka. Itulah sebabnya, bagi mereka yang kekurangan anugerah, gereja sebagai sumber dapat menyalurkannya. Dari konsep pemikiran tersebut, meluncurlah ajaran tentang "surat penghapusan siksa" (indulgences) yang dapat diperjualbelikan. Bahkan Paus Sixtus IV, pada ca. 1460 mendeklarasikan bahwa khasiat dari surat penghapusan itu dapat ditransferkan kepada orang Kristen yang jiwanya "tersangkut" dalam purgatori atau (tempat) api penyucian.

Karena itulah, pada 31 Oktober 1517 Luther memakukan 95 tesis atau keberatan pada pintu sebuah gereja di Wittenberg. Ia mengajukan keberatan sekaligus protes yang isinya sebenarnya ditujukan kepada penyimpangan ajaran dan korupsi gereja, khususnya dalam hal penjualan "surat penghapusan siksa" di mana seakan-akan pengampunan dosa itu sendiri dapat diperoleh secara kontribusional atau komersial.[1] Jadi, tujuan Luther yang sepolos-polosnya dan semurni-murninya ialah mengembalikan gereja pada esensi yang sesungguhnya dari iman Kristen.

Memang secara umum, istilah "reformasi" menunjuk pada adanya suatu penyimpangan atau penyelewengan yang dienyahkan serta adanya suatu usaha penataan kembali terhadap hal-hal yang esensial. Singkatnya, terdapat koreksi dan perbaikan dari sebuah keadaan. Sebagai contoh, Raja Hizkia (2Raj. 18:1-18) jelas mengadakan suatu reformasi berupa pemberantasan terhadap penyimpangan di dalam ibadah, serta perpalingan kembali untuk menyembah Yahweh. Demikian pula yang dilakukan oleh Raja Yosia (2Raj. 23:4-20); ia mengoreksi peribadatan bangsa Israel yang korup, sekaligus mengembalikan bangsanya pada penyembahan yang benar (ay. 21-23).

Dalam sejarah gereja, Reformasi (dengan huruf "r" kapital) menunjuk pada pembaruan terhadap gereja melalui usaha yang tidak jauh berbeda dengan dua kejadian di atas. Gereja seolah-olah direvitalisasikan atau dihidupkan kembali agar kembali pada sumber pemberi hidupnya, yaitu Allah dan firman-Nya. Jadi, Reformasi terhadap gereja pada abad 16 merupakan usaha pembaruan, bukan pemberontakan (It was a reform, not a revolt). Alasannya, kontinuitas terhadap sumber ajaran yang esensial itu tetap dipelihara. Kalaupun pada akhirnya berdiri gereja Protestan sebagai gereja yang baru, gereja itu sendiri sebenarnya adalah gereja yang lama dari zaman para rasul. Inti permasalahannya hanyalah gereja yang ada saat itu (gereja Katolik Roma) menolak usaha pengoreksian tersebut, bahkan menolak usaha pengembalian pada ajaran gereja yang rasuli. Hal ini juga berarti bahwa semua faktor (seperti kaitan sosial, politik, dan intelektual) yang menyertai peristiwa Reformasi abad 16 itu bukanlah faktor yang utama karena asal-usul dan maksud Reformasi itu sendiri bersifat religius dan teologis.

Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa kelanjutan dari Reformasi yang dikerjakan oleh Calvin, Melanchthon, Zwingli, Bucer, Oecolampadius, Farel, Beza, Bullinger, Knox, Ursinus, Olevianus, dan lainnya, semuanya tidak jauh berbeda dari Luther bila ditinjau dari esensi pemikiran dasarnya. Tulisan ini mencoba melihat teologi Reformasi dari segi hakikat/esensinya serta kaitan/relevansinya dengan iman Kristen pada masa kini. Karena keterbatasan ruang, penulis lebih banyak memfokuskan pembahasan pada pandangan J. Calvin (1509 -- 1564) tentang esensi Reformasi itu sendiri karena di dalam pemikiran Calvinlah kita dapat menemukan pemikiran dasar teologi Reformasi dalam struktur yang lebih mendalam dan sistematis.

ESENSI TEOLOGI REFORMASI

Calvin lebih dikenal sebagai juru sistematisir dari Reformasi yang dimulai oleh Luther. Meskipun ia adalah tokoh generasi kedua, ternyata ia sanggup memadukan doktrin dari Alkitab secara sistematis. Bila dilihat dari karyanya yang agung seperti "Institutes of the Christian Religion",[2] komentari, dan karya-karya tulis lainnya, tampaknya tidak ada seorang reformator pun baik sebelum atau sesudah Calvin yang sanggup melampaui karya-karyanya tersebut. Penulis sendiri merasa "iri" kepada kejeniusannya yang pada usia 27 tahun (tahun 1536) telah menghasilkan karya monumental (Institutio) untuk pertama kali.[3]

Mungkin ada sebagian orang mengira Calvin adalah seorang teolog yang aktivitasnya kebanyakan hanya di belakang meja tulis (zaman sekarang, di belakang meja komputer) dan menjadi seorang "scholar" yang nongkrong di atas "menara gading." Perkiraan seperti itu benar-benar keliru. Calvin pertama-tama adalah seorang gembala atau pendeta yang melayani di gereja. Di dalam pelayanan tersebut, ia berpikir dan menulis karya-karya teologinya selalu dari sudut pandang pembinaan untuk warga jemaat.[4] Ia sendiri mengatakan hal ini dengan jelas di dalam edisi perdana dari "Institutio"-nya bahwa karya tersebut ditujukan "terutama untuk masyarakat awam Prancis, di mana banyak di antara mereka yang lapar dan haus akan (pengenalan pada) Kristus. Buku ini sendiri boleh dikata merupakan bentuk pengajaran yang sederhana dan elementer." Di dalam karya tersebut kita melihat catatan-catatan yang bersifat pastoral, pembinaan gereja, pendidikan agama Kristen di rumah dan gereja, bahan katekisasi, dan sejenisnya. Itu sebabnya, tidak mengherankan jika gereja yang dilayani oleh Calvin di Geneva menjadi gereja model bagi gerakan Reformasi.

Sekarang, bila kita hendak meninjau ciri-ciri teologi Reformasi satu per satu, ini tentu merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin. Dari satu sisi, seseorang dapat mengembangkan ajaran tentang teosentrisitas Allah atau tentang kedaulatan Allah dalam teologi Reformasi. Dari sisi yang berbeda orang yang lain dapat menekankan keajaiban kasih karunia (sola gratia), atau tentang satu-satunya iman yang ajaib (sola fide). Dari sisi yang lebih spesifik, bisa saja orang yang lain lagi membicarakan epistemologi dari teologi Reformasi, atau tentang keunikan manusia, tentang keselamatan, tentang "covenant", predestinasi, kerajaan Allah, gereja, perjamuan kudus, kebudayaan, dan seterusnya. Apabila kesemuanya itu hendak dibahas atau ditinjau satu per satu, tidaklah menjadi masalah. Hanya saja, apabila seseorang mau menelusuri teologi Reformasi secara konsisten, ia harus mengakui bahwa esensi atau "benang merah" dari Reformasi itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari ajaran atau prinsip yang berakar pada Alkitab (the Scriptural principle).[5]

Sebagai contoh, Calvin sendiri membahas siapa Allah, siapa manusia, dan kaitan antara kedua tema itu. "True knowledge of man is unattainable without knowledge of the living God."[6] Namun, ia senantiasa menimba ajaran-ajaran tersebut dari prinsip dasar Alkitab. Singkatnya, "worldview" dan "lifeview"-nya selalu memiliki referensi yang tepat di dalam Alkitab. Sebagai gembala, pengkhotbah, ekseget dan teolog, ia selalu tidak terlepas relasinya dengan Alkitab. "Holy Scripture contains a perfect doctrine, to which one can add nothing .... "[7] Dengan demikian, dari satu segi, Calvin boleh dikata pertama-tama adalah seorang "biblical theologian", oleh karena ia memang betul-betul terlatih dan menguasai teknik-teknik eksegese yang berhubungan dengan penelitian sejarah dan tata bahasa Alkitab.

Melalui karya-karyanya, Calvin jelas menolak metode interpretasi dari teolog abad pertengahan yang cenderung mengalegorikan, merohanikan, dan memolarisasikan Alkitab. Ia menegaskan bahwa penafsiran Alkitab yang benar harus kembali pada arti yang literal dari perkataan Alkitab dan sesuai konteks historisnya. Maksudnya, apa yang orang Kristen katakan tentang Allah haruslah sejauh yang Alkitab katakan tentang Allah. Oleh karena itu, di dalam pikirannya setiap orang Kristen harus sampai pada pengakuan bahwa pengenalannya akan Allah memiliki batas dan di dalam pengenalan itu senantiasa terdapat suatu misteri. Batas dan misteri tersebut tidak dapat ditembus oleh pikiran manusia. Itulah sebabnya, Calvin kerap mengutip Ulangan 29:29 di dalam karyanya.

Penekanan pada prinsip bahwa Alkitab menjadi sumber satu-satunya tersebut membuat Calvin "tertawan" pada pikiran bahwa Alkitablah satu- satunya otoritas terakhir yang menentukan kepercayaan, tindakan, dan kehidupan Kristen. Pandangan tersebut barangkali terkesan naif, simplistis, dan tidak cocok bagi kalangan atau aliran modern tertentu dewasa ini. Bagi orang yang berteologi liberal, Alkitab tidak terlalu berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya. Bagi orang yang berteologi neo-ortodoks, Alkitab tidak mungkin dijadikan otoritas satu-satunya karena Alkitab tidak identik dengan firman Allah. Kalaupun kedua kalangan tersebut mengatakan bahwa mereka menerima otoritas Alkitab, esensi dari pandangan tersebut berbeda dengan posisi Calvin.

Sedangkan bagi kalangan yang "gemar" berglosolalia, menikmati penglihatan, sampai kepada mereka yang senang bertumbangan dalam Roh, dibedah oleh Roh, muntah-muntah di dalam Roh, bahkan cekikikan dalam Roh, Alkitab menurut pandangan Calvin di atas hanyalah "pelengkap penderita" atau "catatan kaki" bagi usaha pelegitimasian atau pengesahan pengalaman mereka. Tidak heran kalau pada akhirnya Alkitab sebenarnya tidak atau kurang dihargai di kalangan tersebut.

Esensi teologi Reformasi, sekali lagi, terletak pada kesetiaan terhadap prinsip Alkitab tersebut. Menurut Calvin, Alkitab ialah sumber wahyu satu-satunya di dalam kekristenan, dan karena itu, "message" atau berita dari berita Injil hanya dapat ditemukan di dalam atau di balik teks Alkitab. Maksudnya, kebenaran apa pun yang Allah ingin sampaikan kepada manusia (apalagi hal yang penting seperti keselamatan), arti sesungguhnya hanya ditemukan di dalam Alkitab. Karena itulah, di dalam seluruh "Institutio"-nya ia menulis dengan dua tujuan yang jelas: pertama, memperjelas Alkitab pada seluruh bagiannya. Hal ini dapat dibuktikan bahwa selama bertahun-tahun ia menulis komentari untuk setiap kitab dalam Alkitab (walaupun ternyata pada akhir hidupnya tidak semua kitab dalam Alkitab berhasil diselesaikan penafsirannya). Kedua, menyusun berita Alkitab secara sistematis dengan penjudulan yang tepat.[8] Hal ini tidak mengherankan, sebab "Institutio" bukan karya yang ia tujukan bagi para teolog atau guru besar di bidang penelitian iman Kristen, melainkan untuk pembaca Alkitab dan para pemula dalam iman Kristen.

Bersamaan dengan itu, perlu dimengerti bahwa bagi Calvin bukan hanya bagian tertentu dari Alkitab saja yang menjadi otoritas iman Kristen. Sebaliknya, Alkitab secara keseluruhan (tota Scriptura), kanon Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ialah firman Allah yang utuh.[9] Sekalipun ia cenderung menggemari kitab Kejadian, Mazmur, Matius, Yohanes, Roma, dan 1 Korintus, ia justru terlihat mengupayakan pengajarannya secara menyeluruh dari Alkitab.[10] Meskipun Calvin adalah seorang ekseget Alkitab yang terkemuka dalam teologi Reformasi, ia menegaskan berulang-ulang: "Speak where the Scriptures speak; be silent where they are silent."[11] Sungguh, zaman sekarang ini banyak aliran yang telah bergeser terlalu jauh dari diktum di atas.

Ada kalangan yang begitu berani menceritakan pengalamannya mondar- mandir ke surga. Yang lain, sepertinya tidak ingin kalah dengan pengalaman tersebut, menceritakan tentang "darmawisata"-nya ke neraka. Masih ada lagi yang tidak mau kalah menceritakan pengalaman hebat- hebat lainnya, yang intinya kebanyakan dari pengalaman itu sudah atau berusaha melampaui apa yang ada di dalam Alkitab. Teologi Reformasi seakan-akan menegaskan proposisi ini: "Dengarlah, taatilah Alkitab, dan hindarkan spekulasi." Dengan demikian, prinsip tersebut menempatkan manusia di bawah kebenaran (mengaktualisasikan kebenaran), dan bukan manusia di atas kebenaran (mengakomodasikan kebenaran).[12] Karena Alkitab yang adalah firman Tuhan adalah kebenaran, Alkitab harus menjadi satu-satunya sumber di dalam pengajaran iman Kristen dan satu-satunya patokan atau standar bagi doktrin Kristen.

Lebih lanjut, di dalam tafsirannya terhadap Injil Yohanes, Calvin menegaskan bahwa Kristus tidak dapat dikenal secara benar dengan cara apa pun kecuali melalui Alkitab. Maksudnya, bila seseorang menolak ajaran Alkitab sebagai ajaran yang berotoritas penuh, ia sebenarnya menolak Kristus. Apabila kita bertanya kepada Calvin, bagaimana seharusnya seseorang atau gereja membaca Alkitab, ia akan menjawab dengan tegas: kita harus membaca Alkitab secara kristologis dan kristosentris. "First then, we must hold that Christ cannot be properly known from anywhere but the Scriptures. And if that is so, it follows that the Scriptures should be read with the aim of finding Christ in them."[13] Perhatikan bagaimana esensialnya keberadaan dan kepentingan Alkitab di mata Calvin; baginya Alkitab dan Kristus tidak dapat dipisahkan.

Jadi dapat disimpulkan, bagi gereja Reformasi yang ada dan melayani di zaman modern ini, pengakuan dan disposisi Calvin tersebut harus tetap berlaku. Esensi pengajarannya adalah: gereja tidak boleh mengabaikan, apalagi membuang, pengajaran Alkitab karena Alkitab merupakan otoritas satu-satunya yang menentukan hidup matinya pengajaran gereja. Bukan itu saja, Alkitab menentukan pengenalan gereja akan Juru Selamat satu- satunya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Maka pada waktu seseorang menyimpang dari Alkitab, saat itu juga hidupnya menyimpang dari Kristus.

RELEVANSI TEOLOGI REFORMASI

Pada bagian sebelumnya, kita telah melihat bahwa Calvin bukanlah seorang teolog yang berbicara "di atas angin," melainkan ia pertama- tama adalah seorang gembala, pengkhotbah, pengajar yang sangat "down to earth" (realistis). Di sinilah kita melihat relevansi yang paling pertama dan utama bagi gereja Reformasi zaman modern, yaitu gereja harus menerapkan pendidikan dan pengajaran yang sederhana kepada para anggotanya persis seperti yang pernah dilakukan oleh Calvin sendiri karena tradisi Reformasi yang paling menonjol adalah perhatian yang serius terhadap pendidikan Kristen bagi anggota jemaat.

Kebanyakan pihak setuju bahwa penginjilan dan usaha misionaris yang memenangkan banyak jiwa adalah usaha yang esensial; tetapi pendidikan dan pembinaan terhadap warga gereja adalah usaha yang tidak kalah pentingnya. Usaha tersebut tidak terbatas pada pengajaran di kelas katekisasi, sekolah minggu, kelas pembinaan khusus, melainkan lebih jauh lagi sampai menjangkau pembinaan di kampus, sekolah teologi, lembaga Kristen, bahkan yang lebih penting lagi, pembinaan melalui literatur Kristen.[14] Dengan demikian, "Christian scholarship" seperti yang pernah diupayakan oleh Abraham Kuyper, dapat merambah ke segala bidang. Gereja tidak boleh melupakan usaha besar yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh besar seperti J. H. Bavinck, Herman Dooyeweerd, D. H. Th. Vollenhoven, James Orr, J. Gresham Machen, C. Van Til, Pierre Marcel, dan yang lainnya, yang pernah mengabdikan diri serta memperkembangkan suatu pendekatan yang tetap setia kepada tradisi Reformasi di dalam berbagai bidang. Usaha besar seperti inilah yang perlu dihidupkan kembali pada zaman sekarang.

Bagi gereja di Asia pada umumnya, dan gereja di Indonesia khususnya, tampaknya penerapan terhadap pendidikan agama Kristen dan gerakan penghargaan terhadap Alkitab tidaklah terlalu sulit. Mengapa? Karena kita melihat bangsa Timur lebih mudah beradaptasi dengan hal-hal yang bersifat panutan dan tradisi. Orang Timur juga lebih mudah menyesuaikan diri dengan pola pengajaran yang bersifat patriarkat dan seminal. Selain itu, kebanyakan gereja di Indonesia dimulai dan bertumbuh melalui pekerjaan misi dari Eropa yang menekankan tradisi Reformasi. Hanya pertanyaannya, apakah tradisi yang baik itu (penekanan pada pendidikan Kristen dan penghargaan terhadap Alkitab) tetap mendapatkan prioritas utama di dalam agenda pelayanan gereja? Pertanyaan mendasar ini perlu dijawab oleh gereja-gereja di Indonesia yang menerima landasan teologi Reformasi sebagai azas beriman dan azas bergerejanya.

Kedua, hal lain yang tidak kalah penting dengan di atas ialah, selain pendidikan Kristen, tradisi Reformasi juga menjunjung tinggi sentralitas pemberitaan firman Allah, baik untuk penginjilan, pengajaran, maupun aplikasi pastoral. Gereja di Asia dan Indonesia yang bertumbuh dengan benar dan baik pastilah merupakan gereja yang menghargai pemberitaan firman dengan pengupasan yang tepat tentang isi Alkitab. Sebaliknya, bila pemberitaan gereja hanya mengumandangkan ajaran-ajaran moral yang umum, ideologi-ideologi politis, atau terapi- terapi sosiologis, psikologis, dan seterusnya, dan tidak memberitakan ajaran Alkitab yang adalah firman Allah, gereja tersebut akan mengalami kemerosotan di dalam pemahaman yang benar dan tepat terhadap firman Allah.

Ketiga, teologi Reformasi yang sehat bukan menekankan pemberitaan kerugma saja, tetapi juga memberi penekanan yang benar tentang tanggung jawab sosial yang berdasarkan pada pengajaran Alkitab.[15] Calvin jelas pernah mengajarkan bahwa jabatan dan fungsi seorang diaken adalah untuk maksud seperti itu, yakni untuk menjadi administrator dan pelayan sosial. Memang benar bahwa menjadi seseorang yang setia kepada ajaran Reformasi haruslah menerapkan keyakinan tersebut di dalam segala bidang kehidupan. Dengan perkataan lain, ketuhanan Kristus yang diajarkan dalam Alkitab harus bergema di dalam setiap aspek kehidupan, baik itu aspek sosial, ekonomi, politik, seni dan lainnya.[16] Boleh dikata keberadaan gereja Reformasi di dalam dunia adalah untuk berinteraksi dengan setiap aspek dari ciptaan Tuhan. Misinya yang utama adalah untuk mengubah dunia, yaitu agar dunia mengenal, menjalani hidup, dan mempraktikkan kasih karunia Allah yang bekerja secara ajaib di dalam Yesus Kristus. Singkatnya, gereja Reformasi tidak hanya terpanggil untuk sekadar memiliki iman kepercayaan atau komitmen yang kuat, ia juga terpanggil untuk menaati dan melaksanakan misi Allah sesuai dengan ajaran Alkitab.

PENUTUP

Dunia kita sekarang ini, dengan segala ajaran yang pluralis di dalamnya, tampaknya sedang mengalami keguncangan karena manusia lebih cenderung menerima hal-hal yang bersifat relatif. Cukup banyak orang Kristen dan gereja cenderung meninggalkan paham dan tradisi lama yang kebanyakan dianggap bersifat anakronistis atau sudah ketinggalan zaman. Hal ini disebabkan oleh munculnya ideologi, -isme, dan keyakinan baru yang menyaingi kepercayaan yang lama. Lebih daripada itu, kepercayaan yang baru seakan-akan lebih mengena dan pragmatis sifatnya dalam memberikan jawaban untuk mengatasi kebingungan manusia modern. Bahkan banyak ajaran yang baru seolah-olah telah sanggup secara total mengatasi problema manusia di dalam hal dosa, sakit penyakit, dan memberikan arti kehidupan yang baru.

Pada saat seperti inilah dunia kekristenan memerlukan tuntunan dan pengarahan yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Pengajaran dan pelayanan gereja yang berbobot sangat esensial serta menentukan sekali untuk memberi arah kepada manusia agar tidak dibingungkan oleh rupa-rupa angin pengajaran yang palsu. Itu sebabnya, pandangan dari teologi Reformasi yang diterapkan menjadi program yang sistematis untuk pendidikan, pemberitaan firman, dan pengajaran melalui gereja adalah sesuatu yang integral dengan konsepsi dari Calvin tentang kehidupan Kristen yang benar. Mengabaikan hal ini berarti sama saja dengan melepaskan sebuah kesempatan yang tak ternilai untuk menggarami kehidupan jemaat di gereja dan umat manusia di dunia ini.

Footnote: --------- *Artikel ini pernah diterbitkan dalam buku "Perjuangan Menantang Zaman" (ed. Hendra G. Mulia; Jakarta: Reformed Institute, 2000) 3-16, dan dimuat dengan izin tertulis dari Reformed Institute Press tanggal 5 Juni 2001.

  1. Untuk melihat ringkasan sejarah Reformasi, lih. J. E. McGoldrick, "Three Principles of Protestantism," Reformation & Revival Journal 1/1 (Winter 1992) 13-15; W Stevenson, The Story of the Reformation (Richmond: John Knox, 1959) 29-49; H. J. Hillerbrand, The Protestant Reformation (NY: Harper Torchbooks, 1968) xi-xxvii. Mengenai Luther dan sejarah hidupnya, lih. H. A. Oberman Luther: Man Between God and the Devil (New Haven: York University Press, 1982) 3-206; M. Brecht, Martin Luther: His Road to Reformation 1483-1521 (Minneapolis: Fortress, 1985).
  2. Calvin: Institutes of the Christian Religion (ed. J. T McNeill; LCC; 2 vols.; Philadelphia: Westminster, 1960).
  3. Lih. pujian dan deskripsi terhadap Institutio oleh W Cunningham, The Reformers and the Theology of the Reformation (Edinburgh: Banner of Truth, 1989) 294-296.
  4. Menurut J. L. Mays, ketika menuliskan tafsiran Mazmur pun, Calvin menulisnya guna kepentingan jemaat Tuhan, bukan untuk para scholars ("Calvin`s Commentary on the Psalms: The Preface as Introduction" dalam John Calvin and the Church: A Prism of Reform [ed. T George; Louisville: Westminster/John Knox, 1990] 197).
  5. Istilah ini diadopsi dari artikel F. H. Klooster, "The Uniqueness of Reformed Theology," Calvin Theological Journal 14/1 (April 1979) 39; bdk. J. F. Peter, "The Place of Tradition in Reformed Theology," Scottish Journal of Theology 18/3 (1965) 294-307. (Dalam beberapa segi pemikiran dasar untuk artikel ini penulis berhutang banyak pada kedua tulisan tersebut.) Perlu dicatat bahwa istilah "the Scriptural principle" di atas berbeda pengertiannya dengan K. Barth ("The Scripture Principle" dalam The Gottingen Dogmatics: Instruction in the Christian Religion [Grand Rapids: Eerdmans, 1991] I: 201-226).
  6. J. D. Gort, "The Contours of the Reformed Understanding of Christian Mission," Calvin Theological Journal 15/1 (April 1980) 49.
  7. Dikutip dari J. H Leith, Introduction to the Reformed Tradition (Atlanta: John Knox, 1977) 101.
  8. Institutes 4, Intro. ix; bdk. pendapat R. C. Gamble, "Exposition and Method in Calvin," Westminster Theological Journal 49 (1987) 153- 165, khususnya kesimpulan h. 164.
  9. Menurut D. H. Kelsey (The Uses of Scripture in Recent Theology [Philadelphia: Fortress, 1975]), hampir setiap teolog Protestan modern (seperti B. B. Warfield, K. Barth, R. Bultmann, P. Tillich) selalu ingin menyesuaikan teologinya dengan isi Alkitab dalam batas-batas tertentu; tetapi menurut Kelsey, masing-masing dari mereka hanya menampilkan aspek tertentu saja dari Alkitab yang dianggap berotoritas; jadi, bukan Alkitab secara menyeluruh.
  10. Leith, Introduction 103.
  11. Dikutip dari Klooster, "The Uniqueness" 39.
  12. Istilah H. Thielicke, The Evangelical Faith (Grand Rapids: Eerdmans, 1977) 1:27.
  13. J. Calvin, The Gospel According to St. John 1-10 (repr. ed.; Grand Rapids: Eerdmans, 1961) 139, yaitu tafsiran terhadap Yoh. 5:39; lih. juga K. Runia, "The Hermeneutics of the Reformers," Calvin Theological Journal 19/2 (November 1984) 144; dan W Niesel, The Theology of Calvin (Philadelphia: Westminster, 1956) 27. Sama dengan hal itu, Calvin juga menegaskan bahwa Alkitab harus menjadi otoritas yang manunggal dengan kehidupan gereja. Hal ini bukan hanya bertalian dengan pemberitaan gereja semata-mata, tetapi juga bersangkutan dengan seluruh aspek kehidupan dan pelayanan gereja.
  14. Lih. juga penekanan yang mirip dengan di atas dari D. K. McKim, "Reformed Perspective on the Mission of the Church in Society," Reformed World 38/8 (1985) 405-421; bdk. D. H. Bouma "Sociological Implications for Reformed Christianity," Reformed Review 2/2 (1966) 50-63; O. Fourie, "Thinking Biblically; Education: Whose Responsibility?," Calvinism Today 3/1 (January 1993) 24-29; R. S. Wallace, Calvin, Geneva and the Reformation: A Study of Calvin as Social Reformer, Churchman, Pastor and Theologian (Grand Rapids: Baker, 1988) 131-218; E. H. Harbison, "Calvin" dalam The Christian Scholar in the Age of the Reformation (New York: Charles Scribner`s Sons, 1956) 145-146.
  15. Perh. himbauan dari K. Runia, "Evangelical Responsibility in A Secularized World," Christianity Today 14/19 (1970) 851-854; bdk. P. F. Scotchmer, "Reformed Foundations for Social Concern," Westminster Theological Journal 40/2 (1978) 318-349; W. J. Bouwsma, John Calvin: A Sixteenth Century Portrait (NY: Oxford University Press, 1988) 191- 203, dan R. M. Kingdon, "Calvinism and Social Welfare," Calvin Theological Journal 17/2 (November 1982) 212-230.
  16. Ketuhanan Kristus dalam gereja Reformasi bukan hanya menuntut gereja terus-menerus diperbarui secara internal (ecclesia reformata semper reformanda), melainkan juga memperbarui masyarakat dunia dan kebudayaan (sempersocietas reformanda); lih. J. Verkuyl, Theology of Transformation, or Towards a Political Theology (Johannesburg: The Christian Institute of Southern Africa, 1973) 2.

Diambil dari:

Judul majalah: Veritas; Jurnal Teologi dan Pelayanan (Vol. 2 No. 2)
Judul artikel: Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi
Penulis : Daniel Lucas Lukito
Halaman : 149 -- 157

Lima Puluh Alasan Mengapa Kristus Menderita dan Mati

Penulis_artikel: 

John Piper

Tanggal_artikel: 

17-09-2007

Isi_artikel: 
  1. Untuk Menanggung Murka Allah
  2. Untuk Menyenangkan Bapa-Nya yang di Sorga
  3. Untuk Belajar Taat dan Disempurnakan
  4. Untuk Mendapatkan Kebangkitan-Nya Sendiri dari Kematian
  5. Untuk Menunjukkan Kekayaan Kasih dan Anugerah Allah bagi Orang Berdosa
  6. Untuk Menunjukkan Kasih-Nya kepada Kita
  7. Untuk Membatalkan Tuntutan Hukum Taurat terhadap Kita
  8. Untuk Menjadi Tebusan bagi Banyak Orang
  9. Untuk Pengampunan Dosa-dosa Kita
  10. Untuk Memberikan Dasar bagi Pembenaran Kita
  11. Untuk Menggenapkan Ketaatan yang Menjadi Kebenaran Kita
  12. Untuk Menghapus Hukuman Kita
  13. Untuk Menghapus Sunat dan Seluruh Ritual yang Dijadikan Dasar Keselamatan
  14. Untuk Membawa Kita kepada Iman dan Menjaga Kita agar Tetap Beriman
  15. Untuk Menjadikan Kita Kudus, Tak Bercacat, dan Sempurna
  16. Untuk Memberi Kita Hati Nurani yang Murni
  17. Untuk Mendapatkan Segala Hal yang Baik bagi Kita
  18. Untuk Menyembuhkan Kita dari Penyakit Moral dan Fisik
  19. Untuk Memberikan Hidup Kekal bagi Semua Orang yang Percaya kepada-Nya
  20. Untuk Menyelamatkan Kita dari Zaman yang Jahat Ini
  21. Untuk Mendamaikan Kita dengan Allah
  22. Untuk Mendekatkan Kita kepada Allah
  23. Agar Kita Bisa Menjadi Milik-Nya
  24. Untuk Memberi Kita Jalan Masuk ke Tempat Kudus-Nya
  25. Untuk Menjadi Tempat Kita Bertemu dengan Allah
  26. Untuk Mengakhiri Keimaman Perjanjian Lama dan Menjadi Imam Besar yang Kekal
  27. Untuk Menjadi Imam yang Dapat Merasakan Kelemahan-kelemahan Kita dan Menolong Kita
  28. Untuk Membebaskan Kita dari Kesia-siaan Cara Hidup Nenek Moyang Kita
  29. Untuk Membebaskan Kita dari Perbudakan Dosa
  30. Agar Kita Mati terhadap Dosa dan Hidup dalam Kebenaran
  31. Agar Kita Mati terhadap Hukum Taurat dan Menghasilkan Buah bagi Allah
  32. Untuk Memampukan Kita Hidup bagi Kristus, dan Bukan bagi Diri Kita Sendiri
  33. Untuk Menjadikan Salib-Nya sebagai Dasar Kita Bermegah
  34. Untuk Memampukan Kita Hidup Beriman dalam Dia
  35. Untuk Memberi Arti Terdalam bagi Pernikahan
  36. Untuk Menciptakan Suatu Umat yang Rajin Melakukan Kebajikan
  37. Untuk Memanggil Kita untuk Meneladani Kerendahan Hati dan Kasih yang Rela Berkorban seperti Diri-Nya
  38. Untuk Membentuk Pengikut yang Mau Memikul Salib
  39. Untuk Membebaskan Kita dari Ketakutan terhadap Kematian
  40. Agar Kita Bisa Bersama-Nya Segera setelah Kematian
  41. Untuk Menjamin Kebangkitan Kita dari Kematian
  42. Untuk Melucuti Penguasa-penguasa dan Pemerintah-pemerintah
  43. Untuk Menyatakan Kuasa Allah dalam Injil
  44. Untuk Menghancurkan Permusuhan antar ras
  45. Untuk Membebaskan Orang-orang dari Setiap Suku dan Bahasa dan Bangsa
  46. Untuk Mengumpulkan Seluruh Domba-Nya dari Segenap Penjuru Dunia
  47. Untuk Menyelamatkan Kita dari Penghakiman Akhir
  48. Untuk Mendapatkan Sukacita-Nya dan Sukacita Kita
  49. Agar Dia Bisa Dimahkotai dengan Kemuliaan dan Hormat
  50. Untuk Menunjukkan bahwa Kejahatan yang Paling Kejam Diizinkan Allah bagi Kebaikan
Sumber Artikel: 
Judul Buku: The Passion Of Jesus Christ
Penulis: John Piper
Penerbit: Penerbit Momentum
Tahun:2004
Halaman:vii-ix

Pembuktian Saksi Mata

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam jumpa.

Berikut ini artikel menarik yang saya ambil dari bagian buku tulisan Lee Stroble terbitan Gospel Press. Silakan disimak karena akan menolong Anda mengerti bahwa Allah menghargai keingintahuan kita akan kebenaran-Nya. Biarlah penghargaan kita terhadap Alkitab semakin tinggi. GBU.

In Christ, Yulia Oeniyati

Penulis: 

Lee Strobel

Edisi: 

091/IV/2007

Tanggal: 

04-10-2007

Isi: 

CRAIG L. BLOMBERG, PH.D. secara luas dianggap sebagai salah satu pakar terkemuka dalam biografi-biografi Yesus yang disebut dalam empat Injil. Ia memperoleh gelar doktornya dalam Perjanjian Baru dari Aberdeen University di Skotlandia, selanjutnya melayani sebagai seorang rekanan periset senior di Tyndale House pada Cambridge University di Inggris, di mana ia adalah bagian dari sebuah kelompok sarjana elit internasional yang menghasilkan serangkaian karya tentang Yesus yang disambut dengan sangat baik. Selama dua belas tahun terakhir, ia menjadi seorang profesor dalam Perjanjian Baru di Denver Seminary yang amat disegani.

Buku-buku Blomberg termasuk "Jesus and the Gospels; Interpreting the Parables; How Wide the Divide?"; dan penjelasan-penjelasan Injil Matius dan 1Korintus. Ia juga membantu mengedit jilid keenam dari "Gospel Perspectives", yang menguraikan mujizat-mujizat Yesus secara panjang lebar, dan ia menjadi rekanan penulis "Introduction to Biblical Interpretation". Ia memberikan kontribusi beberapa bab tentang kehistorisan empat Injil kepada buku "Reasonable Faith" dan buku pemenang penghargaan, "Jesus Under Fire". Keanggotaannya meliputi Society for the Study of the New Testament, Society of Biblical Literature, dan The Institute for Biblical Research.

SAKSI-SAKSI MATA ATAS SEJARAH

"Coba beritahukan saya," kata saya dengan sedikit nada menantang dalam suara saya, "apakah mungkin untuk menjadi seseorang yang berpikiran pintar serta kritis dan tetap percaya bahwa keempat Injil ditulis oleh orang-orang yang namanya dilekatkan ke kitab-kitab tersebut?"

Blomberg meletakkan cangkir kopi di pinggir mejanya dan menatap dengan sungguh-sungguh kepada saya. "Jawabannya adalah ya," katanya dengan penuh keyakinan.

Ia duduk kembali dan melanjutkan. "Penting untuk mengakui bahwa secara terus terang, keempat Injil memang tanpa nama. Namun, kesaksian yang seragam dari gereja mula-mula adalah bahwa Matius, juga dikenal sebagai Lewi, si pemungut cukai dan salah satu dari dua belas murid, adalah penulis Injil pertama dalam Perjanjian Baru; bahwa Yohanes Markus, yang menyertai Petrus, adalah penulis Injil yang kita sebut Markus; dan bahwa Lukas, dikenal sebagai "tabib yang dikasihi" Paulus, menulis Injil Lukas serta Kisah Para Rasul."

"Seberapa seragamnya kesaksian bahwa mereka adalah para penulisnya?" saya bertanya.

"Tidak ada satu saingan pun bagi ketiga Injil ini," katanya. "Rupanya, itu sama sekali tidak dipersoalkan."

Bahkan meskipun demikian, saya ingin menguji isu ini lebih lanjut. "Mohon maklumi keskeptisan saya," kata saya, "tetapi tidak adakah seorang pun yang akan memiliki suatu motivasi untuk berbohong dengan menyatakan bahwa orang-orang ini menulis ketiga Injil tersebut, padahal sebenarnya bukan mereka?"

Blomberg menggelengkan kepalanya. "Mungkin tidak. Ingat, mereka adalah karakter-karakter yang tidak mungkin ditunjuk untuk maksud itu," katanya, suatu senyum lebar terbentuk di wajahnya. "Markus dan Lukas bahkan tidak termasuk dalam keduabelas murid. Matius memang, namun sebagai seorang bekas pemungut cukai yang dibenci, ia pasti akan menjadi karakter yang paling tidak disukai selain Yudas Iskariot, yang mengkhianati Yesus!"

"Bandingkan ini dengan apa yang terjadi ketika injil-injil apokrifa ditulis dan muncul lama sesudah itu. Orang-orang memilih nama figur- figur yang terkenal dan patut dicontoh sebagai penulis fiktifnya -- Filipus, Petrus, Maria, Yakobus. Nama-nama itu jauh lebih berbobot daripada nama-nama Matius, Markus, dan Lukas. Jadi untuk menjawab pertanyaan Anda, tidak akan ada alasan apa pun untuk menghubungkan kepenulisan kepada ketiga orang yang lebih kurang dihormati ini jika itu tidak benar."

Ini kedengaran logis, namun nyata bahwa ia dengan mudahnya melewatkan satu dari para penulis Injil. "Bagaimana dengan Yohanes?" saya bertanya. "Ia amat sangat menonjol; sebenarnya, ia bukan saja salah satu dari keduabelas murid melainkan salah satu dari tiga orang yang paling dekat dengan Yesus, bersama Yakobus dan Petrus."

"Ya, itu merupakan satu pengecualian," Blomberg mengakuinya dengan satu anggukan kepala. "Dan yang menarik, Yohanes adalah satu-satunya Injil yang dipertanyakan dalam hal kepenulisannya."

"Nama si penulis tidaklah diragukan -- tentu saja Yohanes," jawab Blomberg. "Pertanyaannya adalah apakah itu Yohanes sang rasul atau Yohanes yang lain."

"Anda lihat, kesaksian seorang penulis Kristen bernama Papias, bertanggal sekitar 125 M, merujuk kepada Yohanes sang rasul dan Yohanes yang lebih tua, dan tidak jelas dari konteksnya apakah ia berbicara tentang seseorang dari dua sudut pandang yang berbeda atau berbicara tentang dua orang yang berbeda. Namun karena pengecualian tadi, kesaksian awal selebihnya dengan suara bulat menyepakati bahwa Yohanes sang rasullah -- anak Zebedeus -- yang menulis Injil."

"Dan," kata saya dalam usaha untuk menekannya lebih keras, "Anda yakin bahwa ia yang menulisnya?"

"Ya, saya percaya bahwa mayoritas penting dari material itu kembali kepada sang rasul," ia menjawab. "Bagaimanapun juga, jika Anda membaca Injil dengan teliti, Anda dapat melihat beberapa indikasi bahwa ayat- ayat kesimpulannya mungkin telah diberi sentuhan akhir oleh seorang editor. Secara pribadi, saya tidak punya masalah untuk percaya bahwa seseorang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Yohanes mungkin memainkan peran itu, memperbaiki ayat-ayat terakhir dan kemungkinan besar menciptakan keseragaman gaya bahasa pada seluruh dokumen."

"Namun dalam peristiwa apa pun," ia menekankan, "Injil ini jelas-jelas berdasar pada material saksi mata, seperti halnya ketiga Injil yang lain."

MENYELIDIKI HAL-HAL YANG SPESIFIK

"Mari kembali ke Markus, Matius, dan Lukas," kata saya. "Bukti spesifik apa yang Anda miliki bahwa mereka adalah para penulis Injil?"

Blomberg mencondongkan diri ke depan. "Sekali lagi, kesaksian tertua dan mungkin terpenting datang dari Papias, yang pada sekitar tahun 125 M, secara spesifik menegaskan bahwa Markus telah dengan teliti dan akurat mencatat pengamatan-pengamatan saksi mata Petrus. Sebenarnya, ia berkata bahwa Markus `tidak membuat kesalahan` dan tidak memasukkan `pernyataan palsu apa pun.` Dan Papias berkata bahwa Matius juga telah memelihara ajaran-ajaran Yesus secara demikian."

"Kemudian Irenaeus, menulis sekitar tahun 180 M, memperkuat kepenulisan tradisional tersebut. Sebenarnya, di sini," ia berkata, meraih sebuah buku. Ia membukanya dan membaca kata-kata Irenaeus.

"Matius menerbitkan Injilnya sendiri di antara orang-orang Yahudi dalam bahasa mereka sendiri, selagi Petrus dan Paulus memberitakan Injil di Roma dan mendirikan gereja di sana. Setelah kepergian mereka, Markus, murid dan penafsir Petrus, memberikan sendiri kepada kami tulisan berisi pokok-pokok khotbah Petrus. Lukas, pengikut Paulus, mengumpulkan Injil yang diberitakan gurunya dalam sebuah buku. Kemudian Yohanes, murid Tuhan, yang juga bersandar di dada-Nya, menuliskan sendiri Injilnya sementara ia tinggal di Efesus di Asia."

Saya mendongak dari catatan-catatan yang sedang saya buat. "Oke, biarkan saya menjernihkan hal ini," kata saya. "Jika kita dapat meyakini bahwa keempat Injil ditulis oleh Matius dan Yohanes, murid- murid Yesus, oleh Markus, yang menyertai Rasul Petrus, dan oleh Lukas, si sejarawan yang menyertai Paulus, dan semacam jurnalis abad pertama, kita dapat menjadi yakin bahwa peristiwa-peristiwa yang mereka catat didasarkan pada kesaksian saksi mata secara langsung ataupun tak langsung."

"Tepat sekali," katanya singkat.

BIOGRAFI-BIOGRAFI KUNO VERSUS MODERN

Masih ada beberapa aspek yang mengganggu dari keempat Injil yang perlu saya jernihkan. Secara khusus, saya ingin lebih memahami jenis gaya sastra yang mereka wakili.

"Ketika saya pergi ke toko buku dan melihat pada bagian biografi, saya tidak melihat jenis tulisan yang sama dengan yang saya lihat dalam keempat Injil," kata saya. "Kalau seseorang menulis suatu biografi saat ini, mereka secara menyeluruh menyelidiki kehidupan orang tersebut. Namun coba lihat Markus, ia tidak berbicara tentang kelahiran Yesus atau apa pun juga tentang tahun-tahun pertama kedewasaan Yesus. Sebaliknya, ia berfokus pada suatu periode tiga tahun dan mengisi separuh Injilnya dengan peristiwa-peristiwa yang menuju ke dan memuncak pada minggu terakhir Yesus. Bagaimana Anda dapat menjelaskan itu?"

Blomberg mengacungkan dua jari. "Ada dua alasan," jawabnya. "Yang satu berkaitan dengan kesusastraan dan yang lain bersifat teologis."

"Alasan kesusastraan adalah bahwa pada dasarnya, beginilah cara orang- orang menulis biografi pada zaman kuno. Mereka tidak memiliki pemahaman, seperti yang kita miliki sekarang, bahwa penting untuk memberikan proporsi yang seimbang kepada semua periode dalam kehidupan seseorang atau bahwa perlu untuk menceritakan kisah tersebut dalam urutan kronologis yang tepat atau bahkan untuk mengutip orang-orang secara kata demi kata, sejauh esensi dari apa yang mereka katakan dipertahankan. Orang-orang Yunani dan Yahudi kuno bahkan tidak memiliki simbol untuk tanda-tanda kutipan."

"Satu-satunya tujuan untuk apa sejarah perlu dicatat menurut mereka adalah karena terdapat beberapa hal yang harus dipelajari dari karakter-karakter yang dideskripsikan. Dengan demikian, para penulis biografi ingin berdiam sepanjang porsi bagian kehidupan orang tersebut yang patut diteladani, yang membantu menjelaskan, yang dapat menolong orang lain, yang memberi makna pada suatu periode sejarah."

"Dan apa alasan teologisnya?" tanya saya.

"Itu mengalir dari pokok yang baru saja saya jelaskan. Orang-orang Kristen percaya bahwa sebagaimana menakjubkannya kehidupan dan ajaran dan mujizat Yesus, kehidupan mereka tidak akan bermakna jika secara historis kematian Kristus dan kebangkitan-Nya dari kematian dan bahwa ini memberikan pendamaian, atau pengampunan, atas dosa kemanusiaan, tidak berdasar pada fakta-fakta yang sesungguhnya."

"Jadi, Markus pada khususnya, sebagai penulis dari Injil yang mungkin ditulis paling awal, mempersembahkan kira-kira separuh kisahnya bagi peristiwa-peristiwa yang menuju ke dan mencakup periode waktu satu minggu dan memuncak pada kematian dan kebangkitan Kristus."

"Dengan pentingnya penyaliban," ia menyimpulkan, "ini sangat masuk akal dalam literatur kuno."

MISTERI Q

Sebagai tambahan kepada keempat Injil, para sarjana sering merujuk kepada apa yang mereka sebut Q, yang mewakili kata bahasa Jerman "Quelle", atau "sumber." Karena kemiripan bahasa dan isi, telah diasumsikan secara tradisional bahwa Matius dan Lukas menggunakan Injil Markus yang telah ditulis lebih dulu dalam menuliskan Injil mereka sendiri. Sebagai tambahan, para sarjana berkata bahwa Matius dan Lukas juga memasukkan beberapa material dari Q misterius ini, material yang tidak ada dalam Markus.

"Sebenarnya apakah Q ini?" tanya saya pada Blomberg.

"Itu tidak lebih dari suatu hipotesis," jawabnya, sekali lagi menyandar dengan santai di kursinya. "Dengan sedikit perkecualian, itu hanyalah perkataan-perkataan atau ajaran-ajaran Yesus, yang mungkin sekali waktu dulu pernah menjadi sebuah dokumen yang berdiri sendiri dan terpisah."

"Anda lihat, dulu adalah suatu gaya sastra yang umum untuk mengumpulkan perkataan-perkataan dari guru-guru yang dihormati, seperti kalau kita memilih lagu-lagu terbaik dari seorang penyanyi dan mengumpulkannya dalam suatu album `terbaik`. Q mungkin adalah sesuatu seperti itu. Setidaknya itulah teorinya."

Namun, jika Q ada sebelum Matius dan Lukas, itu akan merupakan material awal tentang Yesus. Barangkali, saya pikir, itu dapat memberi penjelasan baru pada seperti apakah Yesus sebenarnya.

"Izinkan saya menanyakan ini," kata saya. "Jika Anda memisahkan material dari Q saja, gambaran Yesus seperti apa yang Anda dapatkan?"

Blomberg mengusap janggutnya dan menatap langit-langit ruangan untuk sesaat seraya ia merenungkan pertanyaan itu. "Yah, Anda harus tetap mengingat bahwa Q adalah suatu kumpulan perkataan, dan dengan demikian itu tidak memiliki material kisah yang akan memberi kita suatu gambaran tentang Yesus yang lebih bulat sepenuhnya," jawabnya, berbicara dengan perlahan sementara ia memilih tiap kata yang ia ucapkan dengan hati-hati.

"Meskipun demikian, Anda mendapati bahwa Yesus membuat beberapa pernyataan yang kuat sebagai misal, bahwa Ia adalah Firman yang menjelma menjadi manusia dan bahwa Ia adalah Dia yang melalui-Nya Tuhan akan menghakimi semua manusia, entah mereka mengakui-Nya atau menyangkali-Nya. Sebuah buku kesarjanaan penting baru-baru ini telah mengajukan pendapat bahwa jika Anda memisahkan semua perkataan Q, seseorang sebenarnya memperoleh gambaran yang sama tentang Yesus -- seorang yang membuat pernyataan-pernyataan yang berani tentang diri- Nya sendiri -- sebagaimana yang Anda dapati dalam keempat Injil secara lebih umum."

Saya ingin menekannya lebih jauh pada titik ini. "Tidakkah Ia akan terlihat sebagai seorang pembuat mujizat?" selidik saya.

"Sekali lagi," jawabnya, "Anda harus mengingat bahwa Anda tidak akan mendapatkan banyak cerita mujizat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, karena itu semua biasanya ditemukan di dalam kisah, dan Q terutama adalah suatu daftar perkataan."

Ia berhenti untuk menjangkau ke atas mejanya, mengambil sebuah Alkitab bersampul kulit, dan membalik halaman-halamannya yang usang.

"Namun, sebagai contoh, Lukas 7:18-23 dan Matius 11:2-6 berkata bahwa Yohanes Pembaptis mengirim utusan-utusannya untuk bertanya pada Yesus apakah Ia benar-benar Kristus, sang Mesias yang mereka nanti-nantikan. Yesus menjawab pada intinya, `Katakan padanya untuk mempertimbangkan mujizat-mujizat-Ku. Katakan pada-Nya apa yang telah kamu lihat: yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang timpang berjalan, yang miskin telah mendengar kabar baik yang diberitakan kepada mereka.`"

"Jadi, bahkan dalam Q," ia menyimpulkan, "jelas terdapat suatu kesadaran akan pelayanan mujizat-mujizat Yesus."

Disebutkannya Matius oleh Blomberg memunculkan pertanyaan lain dalam pikiran saya tentang bagaimana keempat Injil dikumpulkan. "Mengapa," tanya saya, "Matius -- yang mengaku sebagai saksi mata Yesus -- memasukkan bagian dari suatu Injil yang ditulis oleh Markus, yang semua orang setuju bahwa ia bukanlah seorang saksi mata? Jika Injil Matius benar-benar ditulis oleh seorang saksi mata, Anda akan berpikir bahwa ia pasti mengandalkan pengamatannya sendiri.

Blomberg tersenyum. "Itu hanya masuk akal jika Markus memang mendasarkan laporannya pada ingatan kesaksian mata Petrus," katanya. "Seperti yang Anda katakan sendiri, Petrus adalah seorang yang berada dalam kalangan terdekat Yesus dan secara pribadi dapat melihat dan mendengar hal-hal yang tidak dilihat dan didengar murid-murid lain. Jadi, akan masuk akal bagi Matius, bahkan meskipun ia adalah seorang saksi mata, untuk mengandalkan versi Petrus tentang peristiwa- peristiwa sebagaimana yang diteruskannya melalui Markus."

Ya, pikir saya kepada diri sendiri, itu memang masuk akal. Sebenarnya, suatu analogi mulai terbentuk dalam pikiran saya berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun sebagai seorang reporter surat kabar. Saya ingat menjadi bagian dari sekerumunan jurnalis yang mengepung seorang tokoh politik Chicago terkenal, almarhum Walikota Richard J. Daley, untuk menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sebuah skandal yang terjadi di dalam angkatan kepolisian. Ia mengucapkan beberapa perkataan sebelum menyelamatkan diri ke dalam limusinnya.

Bahkan walaupun saya adalah seorang saksi mata atas apa yang telah terjadi, saya segera mendatangi seorang reporter radio yang telah berada lebih dekat dengan Daley, dan memintanya untuk memutar kembali rekamannya yang berisi apa yang baru saja dikatakan oleh Daley. Dengan cara ini, saya dapat memastikan bahwa saya menuliskan kata-katanya dengan tepat.

Itu, setelah saya renungkan, rupanya adalah apa yang Matius lakukan dengan Markus -- meskipun Matius memiliki ingatannya sendiri sebagai seorang murid (saksi mata), pencariannya akan keakuratan mendorongnya untuk mengandalkan beberapa material yang datang langsung dari Petrus sebagai kalangan terdekat Yesus.

PERSPEKTIF UNIK YOHANES

Merasa puas dengan jawaban-jawaban awal Blomberg mengenai tiga Injil pertama -- yang disebut sinoptik, yang berarti `melihat pada saat yang bersamaan` karena garis besar dan hubungan timbal-balik mereka yang mirip -- selanjutnya saya mengalihkan perhatian saya pada Injil Yohanes. Siapa pun yang membaca keempat Injil secara menyeluruh akan segera menyadari bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara sinoptik dan Injil Yohanes, dan saya ingin mengetahui apakah ini berarti terdapat kontradiksi-kontradiksi yang tak dapat dirujukkan di antara mereka.

"Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan-perbedaan antara Injil-injil sinoptik dengan Injil Yohanes?" tanya saya pada Blomberg.

Kedua alisnya terangkat. "Pertanyaan besar!" serunya. "Saya berharap dapat menulis satu buku penuh mengenai topik ini."

Setelah saya meyakinkannya bahwa saya hanya mencari pokok-pokok dari isu ini, bukan suatu diskusi yang mendalam, ia kembali memapankan diri di kursinya.

"Yah, memang benar bahwa Yohanes lebih berbeda daripada mirip dengan sinoptik," ia memulai. "Hanya sedikit kisah-kisah utama dalam tiga Injil lain yang muncul dalam Yohanes, meskipun perubahan-perubahan itu kelihatan jelas jika seseorang membaca sampai pada minggu terakhir Yesus. Sejak titik itu paralel -- maka paralel selanjutnya jauh lebih mirip."

"Kelihatannya juga terdapat suatu gaya bahasa yang sangat berbeda. Dalam Yohanes, Yesus menggunakan peristilahan yang berbeda, ia berbicara dalam khotbah-khotbah yang panjang, dan kelihatannya terdapat suatu Kristologi (studi atas karya dan pribadi Yesus Kristus serta literatur yang berkaitan dengan-Nya) yang lebih tinggi, yakni pernyataan-pernyataan yang lebih langsung dan blak-blakan bahwa Yesus adalah satu dengan Bapa; Tuhan sendiri; Jalan, Kebenaran, dan Hidup; Kebangkitan dan Hidup."

"Apa yang menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut?" tanya saya.

"Selama bertahun-tahun, asumsinya adalah bahwa Yohanes mengetahui semua yang ditulis oleh Matius, Markus, dan Lukas, dan ia melihat bahwa semuanya itu tidak perlu diulangi lagi, jadi secara sadar ia memilih untuk memberi tambahan kepada mereka. Baru-baru ini muncul asumsi bahwa Yohanes sebagian besar tidak bergantung pada ketiga Injil yang lain, yang dapat menjelaskan tidak hanya pilihan-pilihan material yang berbeda melainkan juga perspektif-perspektif yang berbeda tentang Yesus."

PERNYATAAN-PERNYATAAN YESUS YANG PALING BERANI

"Terdapat beberapa perbedaan teologis dalam Yohanes," kata saya setelah melakukan pengamatan.

"Memang, tetapi apakah mereka pantas disebut sebagai kontradiksi- kontradiksi? Saya pikir jawabannya adalah tidak, dan sebabnya adalah: hampir untuk setiap tema atau perbedaan utama dalam Yohanes, dapat Anda temukan paralelnya dalam Matius, Markus, dan Lukas, bahkan jika mereka tidak sama banyaknya."

Itu merupakan suatu pernyataan yang sangat tegas. Saya segera memutuskan untuk mengujinya dengan mengangkat isu yang mungkin paling penting di atas segalanya mengenai perbedaan-perbedaan antara sinoptik dan Injil Yohanes.

"Yohanes membuat pernyataan-pernyataan yang sangat eksplisit tentang Yesus sebagai Tuhan, yang beberapa di antaranya berhubungan dengan fakta bahwa ia menulisnya lebih belakangan daripada yang lain dan mulai membumbui banyak hal," kata saya. "Dapatkah Anda menemukan tema ketuhanan ini dalam sinoptik?"

"Ya, saya dapat," katanya. "Lebih implisit dan Anda akan menemukannya di sana. Pikirkan kisah Yesus berjalan di atas air, temukan dalam Matius 14:22-33 dan Markus 6:45-52. Sebagian besar terjemahan bahasa Inggris menyembunyikan bahasa Yunaninya dengan mengutip bahwa Yesus berkata, `Aku ini, jangan takut! (Fear not, it is I)` Sebenarnya, bahasa Yunaninya secara harafiah mengatakan, `Jangan takut, Akulah Aku (Fear not, I am).` Kedua kata terakhir ini identik dengan apa yang Yesus katakan dalam Yohanes 8:58, ketika ia ia memanggil diri-Nya sendiri nama ilahi `Aku (adalah Aku),` yang merupakan cara Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada Musa dalam semak-semak yang terbakar dalam Keluaran 3:14. Jadi, Yesus mengungkapkan diri-Nya sendiri sebagai Dia yang memiliki kuasa ilahi atas alam yang sama seperti Yahwe, Tuhan Perjanjian Lama."

Saya mengangguk. "Itu satu contoh," kata saya. "Apakah Anda memiliki contoh lainnya?"

"Ya, saya dapat menjelaskan ini satu per satu," kata Blomberg. "Sebagai contoh, gelar Yesus yang paling umum bagi diri-Nya sendiri dalam tiga Injil pertama adalah `Anak Manusia` dan ..."

Saya mengangkat tangan saya untuk menghentikannya. "Tunggu sebentar," kata saya. Meraih ke dalam tas kerja saya, saya menarik sebuah buku dan membalik-balik halamannya sampai saya menemukan kutipan yang saya cari. "Karen Armstrong, mantan biarawati yang menulis buku laris `A History of God` (Sejarah Tuhan), berkata bahwa kelihatannya istilah `Anak Manusia` `hanya menekankan kelemahan dan mortalitas kondisi manusia`, jadi dengan menggunakan istilah tersebut, Yesus sekadar menekankan bahwa `ia adalah seorang manusia lemah yang pada suatu hari akan menderita dan mati`. Jika itu benar," kata saya, "itu tidak terlalu kedengaran sebagai suatu pernyataan akan ketuhanan."

Ekspresi Blomberg menjadi masam. "Lihat," katanya sungguh-sungguh, "bertentangan dengan apa yang secara populer dipercayai, `Anak Manusia` terutama tidak merujuk pada kemanusiaan Yesus. Sebaliknya, itu adalah suatu kiasan langsung dari Daniel 7:13-14."

Bersamaan dengan itu ia membuka Perjanjian Lama dan membaca kata-kata Nabi Daniel itu.

"Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak-manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah."

Blomberg menutup Alkitab itu. "Jadi, lihat pada apa yang Yesus lakukan dengan menerapkan istilah `Anak Manusia` kepada diri-Nya sendiri," lanjutnya. Ini adalah seseorang yang mendekati Tuhan berdiri dalam hadirat sorgawi-Nya dan diberikan kekuasaan serta dominion universal. Itu membuat `Anak Manusia` menjadi sebuah gelar kemuliaan yang besar, bukan sekedar kemanusiaan."

Selanjutnya saya menemukan sebuah komentar oleh sarjana lain yang akan segera saya wawancarai untuk buku ini, William Lane Craig, yang telah membuat pengamatan serupa.

"Anak Manusia" sering dianggap mengindikasikan kemanusiaan Yesus, persis seperti ekspresi refleks "Anak Allah" mengindikasikan ketuhanan-Nya. Sebenarnya, kebalikannyalah yang benar. Anak Manusia adalah seorang figur ilahi dalam kitab Daniel di Perjanjian Lama yang akan datang pada akhir zaman untuk menghakimi umat manusia dan memerintah selamanya. Akibatnya, pernyataan sebagai Anak Manusia akan menjadi suatu pernyataan ketuhanan.

Lanjut Blomberg: "Sebagai tambahan, Yesus menyatakan akan mengampuni dosa-dosa dalam Injil-injil sinoptik, dan itu adalah sesuatu yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. Yesus menerima doa dan penyembahan. Yesus berkata, `Barangsiapa mengakui Aku, Aku akan mengakuinya di hadapan Bapa di sorga.` Penghakiman terakhir didasarkan pada reaksi seseorang kepada siapa? Manusia biasa ini? Tidak, itu akan menjadi suatu pernyataan yang sangat arogan. Penghakiman terakhir didasarkan pada reaksi seseorang pada Yesus sebagai Tuhan."

"Seperti yang dapat Anda lihat, ada semua jenis material dalam sinoptik tentang ketuhanan Kristus, yang kemudian menjadi lebih eksplisit dalam Injil Yohanes."

AGENDA TEOLOGIS KEEMPAT INJIL

Dalam menulis Injil terakhir, Yohanes benar-benar memiliki keuntungan karena dapat mempertimbangkan isu-isu teologis dalam suatu periode waktu yang lebih lama. Jadi saya bertanya pada Blomberg, "Tidakkah fakta bahwa Yohanes menulis dengan suatu kecenderungan teologis yang lebih besar berarti bahwa material historisnya mungkin telah dicemari dan dengan demikian menjadi kurang dapat dipercaya?"

"Saya tidak percaya bahwa Yohanes lebih teologis," Blomberg menekankan. "Ia hanya memiliki kumpulan penekanan-penekanan teologis yang berbeda. Matius, Markus, dan Lukas masing-masing memiliki sudut- sudut teologis yang sangat berbeda yang ingin mereka soroti: Lukas, teolog yang memberi perhatian pada mereka yang miskin dan masalah sosial; Matius, teolog yang mencoba memahami hubungan antara Kekristenan dengan Yudaisme; Markus, yang menunjukkan Yesus sebagai budak yang menderita. Anda dapat membuat daftar yang panjang mengenai perbedaan teologis antara Matius, Markus, dan Lukas."

Saya menyelanya karena takut Blomberg kehilangan maksud utama saya yang lebih luas. "Oke, tetapi tidakkah motivasi-motivasi teologis itu menimbulkan keraguan akan kemampuan dan kemauan mereka untuk secara akurat melaporkan apa yang terjadi?" tanya saya. "Apakah tidak mungkin bahwa agenda teologis mereka akan mendorong mereka untuk mengubah dan memutarbalikkan sejarah yang mereka catat?"

"Itu tentunya berarti bahwa sebagaimana halnya dengan dokumen ideologis mana pun juga, kita harus mempertimbangkannya sebagai suatu kemungkinan," ia mengakui. "Ada orang-orang dengan keyakinan kuat untuk melakukan sesuatu dengan mengubah sejarah untuk mencapai tujuan ideologis mereka, namun sayangnya orang-orang telah menyimpulkan bahwa itu selalu terjadi, padahal itu adalah suatu kesimpulan yang salah."

"Dalam dunia kuno, gagasan untuk menulis sejarah yang tidak memihak dan objektif sekadar untuk mencatat peristiwa-peristiwa secara kronologis, tanpa tujuan ideologis apa pun, tidak pernah terdengar. Tidak seorang pun menulis sejarah jika tidak terdapat suatu alasan untuk belajar dari itu."

Saya tersenyum. "Saya kira Anda dapat berkata bahwa itu membuat segalanya menjadi patut dicurigai," saya berpendapat.

"Ya, pada suatu tingkat memang," jawabnya. "Namun, jika kita secara masuk akal dapat merekonstruksi sejarah yang akurat dari semua jenis sumber sejarah kuno lainnya, kita seharusnya mampu melakukannya dari keempat Injil, bahkan meskipun mereka juga ideologis."

Blomberg berpikir sejenak, memikirkan sebuah analogi yang sesuai untuk menyampaikan maksudnya. Akhirnya ia berkata, "Berikut ini adalah sebuah paralel modern, dari pengalaman komunitas Yahudi, yang mungkin dapat menjelaskan apa yang saya maksudkan."

"Beberapa orang, biasanya untuk tujuan-tujuan anti-Semitik (Semitik: bangsa-bangsa yang berbahasa Semit, umumnya dipakai untuk mengacu kepada bangsa Yahudi), menyangkal atau mengecilkan kengerian-kengerian Holocaust (usaha pemusnahan orang-orang ras Yahudi di Eropa oleh Nazi sebelum dan selama Perang Dunia II). Namun, para sarjana Yahudilah yang menciptakan museum-museum, menulis buku-buku, memelihara artifak- artifak, dan mendokumentasikan kesaksian saksi mata mengenai Holocaust."

"Nah, mereka memiliki suatu tujuan yang sangat ideologis yakni, untuk memastikan agar kekejaman semacam itu tidak akan pernah terjadi lagi, namun mereka juga menjadi orang-orang yang paling setia dan objektif dalam melaporkan kebenaran sejarah.

"Kekristenan juga berdasar pada pernyataan-pernyataan historis tertentu bahwa Tuhan secara unik memasuki ruang dan waktu dalam pribadi Yesus dari Nazaret sehingga ideologi yang diupayakan oleh orang-orang Kristen untuk dikembangkan itu memerlukan karya historis yang sehati-hati mungkin."

Ia membiarkan analoginya diresapi. Berpaling untuk menghadap saya lebih langsung, ia bertanya, "Apakah Anda menangkap maksud saya?"

Saya mengangguk untuk mengindikasikan bahwa saya sudah menangkap maksudnya.

BERITA-BERITA HANGAT DARI SEJARAH

Mengatakan bahwa keempat Injil berakar pada kesaksian saksi mata langsung maupun tidak langsung adalah satu hal, namun menyatakan bahwa informasi ini secara dapat diandalkan dipelihara sampai akhirnya dituliskan bertahun-tahun kemudian merupakan hal yang berbeda. Ini, saya tahu, adalah suatu pokok pernyataan besar, dan saya ingin menantang Blomberg dengan isu ini seterus-terang mungkin.

Sekali lagi saya mengambil buku populer Armstrong, "A History of God". "Coba dengarkan hal lain yang ia tulis," kata saya.

"Kita hanya mengetahui sangat sedikit tentang Yesus. Laporan panjang pertama tentang kehidupan-Nya adalah dalam Injil Santo Markus, yang tidak dituliskan sampai sekitar tahun 70, kira-kira empat puluh tahun setelah kematian-Nya. Pada saat itu, fakta-fakta sejarah telah diselaputi elemen-elemen dongeng yang mengekspresikan makna yang telah Yesus berikan kepada para pengikut-Nya. Makna inilah yang terutama disampaikan oleh Santo Markus lebih daripada suatu pelukisan terus terang yang dapat dipercaya.

Melemparkan buku itu kembali ke dalam tas kerja saya yang terbuka, saya berpaling kepada Blomberg dan melanjutkan. "Beberapa sarjana berkata bahwa keempat Injil ditulis begitu jauh setelah legenda mengembang dan mengubah peristiwa-peristiwa yang akhirnya dituliskan; mengubah Yesus dari sekadar seorang guru yang bijak menjadi Anak Allah yang mitologis. Apakah itu merupakan suatu hipotesis yang masuk akal atau adakah suatu bukti yang bagus bahwa keempat Injil dicatat lebih awal daripada itu, sebelum legenda dapat sepenuhnya mengubah apa yang pada akhirnya dicatat?"

Kedua mata Blomberg menyipit, dan suaranya bernada kukuh. "Ada dua isu terpisah di sini, dan penting untuk menjaga keduanya tetap terpisah," katanya. "Saya sungguh-sungguh berpikir bahwa terdapat bukti yang bagus untuk mengusulkan tanggal-tanggal yang awal bagi penulisan keempat Injil. Namun kalaupun tidak ada, argumen Armstrong bagaimanapun juga tidak akan terbukti."

"Mengapa tidak?" tanya saya.

"Penanggalan standar oleh para sarjana, bahkan dalam kalangan yang sangat liberal, adalah Markus pada tahun 70-an, Matius dan Lukas pada tahun 80-an, Yohanes pada tahun 90-an. Tapi dengar: itu masih tetap di dalam masa ketika banyak saksi mata Yesus masih hidup, termasuk para saksi mata yang memusuhi yang akan berperan sebagai pengoreksi jika ajaran-ajaran yang salah tentang Yesus disebarluaskan.

"Secara konsekuen, tanggal-tanggal untuk keempat Injil ini benar-benar tidak semuanya selambat itu. Sebenarnya, kita dapat membuat suatu perbandingan yang sarat informasi."

"Dua biografi Alexander Agung yang paling awal ditulis oleh Arrian dan Plutarch lebih dari empat ratus tahun setelah kematian Alexander pada tahun 323 SM. Walaupun demikian, para sejarawan menganggap bahwa secara umum keduanya patut dipercaya. Ya, material legendaris tentang Alexander memang berkembang seiring berlalunya waktu, namun itu hanya dalam abad-abad setelah kedua penulis ini mati.

"Dengan kata lain, kisah Alexander terpelihara cukup utuh selama lima ratus tahun pertama; material legendaris mulai muncul selama lima ratus tahun sesudahnya. Jadi, entah apakah keempat Injil dituliskan enam puluh atau tiga puluh tahun setelah kehidupan Yesus, jumlah waktunya dapat diabaikan menurut perbandingan ini. Itu hampir bukan merupakan isu."

Saya dapat memahami apa yang dikatakan Blomberg. Pada saat yang sama, saya memiliki beberapa keberatan mengenai itu. Menurut saya, secara intuitif kelihatan jelas bahwa semakin singkat celah antara sebuah peristiwa dan saat ketika itu dicatat dalam tulisan, semakin berkurang kemungkinan bahwa rulisan-tulisan itu akan menjadi legenda atau memori-memori yang salah.

"Untuk saat ini saya mengakui kebenaran pendapat Anda, namun marilah segera kembali pada penanggalan keempat Injil," kata saya. "Anda mengindikasikan bahwa Anda percaya keempat Injil ditulis lebih awal daripada tanggal-tanggal yang Anda sebutkan."

"Ya, lebih awal," katanya. "Dan kita dapat menguatkannya dengan memerhatikan kitab Kisah Para Rasul, yang ditulis oleh Lukas. Kisah Para Rasul rupanya belum selesai ditulis -- Paulus adalah figur sentral dalam kitab itu, dan ia berada dalam tahanan rumah di Roma. Dengan laporan itu, kitab tersebut secara mendadak terputus. Apa yang terjadi pada Paulus? Kita tidak menemukannya dalam Kisah Para Rasul, mungkin karena kitab itu ditulis sebelum Paulus dihukum mati."

Blomberg semakin bersemangat seraya ia melanjutkannya. "Itu berarti Kisah Para Rasul tidak dapat diberi tanggal lebih lama daripada tahun 62 M. Dengan menetapkan demikian, kita kemudian dapat bergerak mundur dari situ. Karena Kisah Para Rasul merupakan yang kedua dari sebuah karya yang terdiri dari dua bagian, kita tahu bagian yang pertama -- Injil Lukas -- pasti telah ditulis lebih awal dari itu. Dan karena Lukas memasukkan bagian-bagian dari Injil Markus, itu berarti Markus ditulis bahkan lebih awal lagi."

"Jika Anda memberikan waktu mungkin satu tahun bagi tiap-tiap kitab tersebut, Anda akan mendapat hitungan akhir bahwa Injil Markus ditulis tidak lebih lama dari sekitar tahun 60 M., mungkin bahkan pada akhir tahun 50-an. Jika Yesus dihukum mati tahun 30 atau 33 M, kita membicarakan suatu celah maksimum sebesar kurang lebih tiga puluh tahun."

Ia duduk kembali di kursinya dengan suatu raut kemenangan. "Berbicara secara historis, khususnya dibandingkan dengan Alexander Agung," katanya, "itu seperti suatu berita kilat!"

Memang, itu mengesankan, menutup celah antara peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus dan penulisan keempat Injil sampai pada titik di mana itu dapat diabaikan oleh standar-standar historis. Bagaimanapun juga, saya masih ingin mendesakkan isu ini. Sasaran saya adalah memutar waktu mundur kembali sejauh yang saya bisa untuk sampai pada informasi yang paling awal tentang Yesus.

KEMBALI KE AWAL

Saya berdiri dan berjalan ke lemari buku. "Mari lihat apakah kita dapat kembali bahkan lebih jauh lagi," kata saya, berpaling menghadap Blomberg. "Seberapa awal kita dapat memberi tanggal pada kepercayaan- kepercayaan mendasar kepada pendamaian Yesus, kebangkitan-Nya, dan hubungan-Nya yang unik dengan Tuhan?"

"Penting untuk mengingat bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru tidak disusun berdasarkan urutan kronologis," ia memulai. "Keempat Injil ditulis setelah selesainya hampir seluruh surat-surat Paulus, yang pelayanan menulisnya barangkali dimulai pada akhir tahun 40-an. Kebanyakan surat-surat utamanya muncul selama tahun 50-an. Untuk menemukan informasi yang paling awal, seseorang melihat surat-surat Paulus dan kemudian bertanya, `Apakah ada tanda-tanda bahwa sumber- sumber yang bahkan lebih awal digunakan dalam penulisan semua surat itu?`"

"Dan," potong saya, "apa yang kita temukan?"

"Kita menemukan bahwa Paulus memasukkan beberapa pernyataan kepercayaan, pengakuan-pengakuan iman, atau himne-himne dari gereja Kristen paling awal. Ini semua kembali ke bangkitnya gereja segera sesudah Kebangkitan Kristus."

"Pernyataan kepercayaan yang paling terkenal mencakup Filipi 2:6, yang berbicara tentang Yesus dalam `rupa Allah`, dan Kolose 1:15-20, yang mendeskripsikan Yesus sebagai `gambar Allah yang tidak kelihatan`, yang menciptakan segalanya dan melalui siapa segala sesuatu diperdamaikan dengan Allah dengan `mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.`"

"Semua itu tentu saja penting dalam menjelaskan apa yang diyakini orang-orang Kristen paling awal tentang Yesus. Namun barangkali pernyataan kepercayaan paling penting dalam istilah-istilah Yesus yang historis adalah 1Korintus 15, di mana Paulus menggunakan bahasa teknis untuk mengindikasikan bahwa ia sedang menyampaikan tradisi oral ini dalam bentuk yang relatif lebih pasti."

"Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa- dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa la telah dibangkitkan, pada hari yang ke tiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas (Petrus) dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu, Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua Rasul."

"Dan inilah intinya," kata Blomberg. "Jika Penyaliban terjadi seawal tahun 30 M, pertobatan Paulus terjadi sekitar tahun 32. Dengan segera Paulus diantar ke Damaskus, di mana ia bertemu dengan seorang Kristen bernama Ananias dan beberapa murid lainnya. Pertemuan pertamanya dengan para rasul di Yerusalem akan berarti terjadi kira-kira tahun 35 M. Pada suatu waktu di sana, Paulus diberi pernyataan kepercayaan ini, yang telah dirumuskan dan digunakan dalam gereja mula-mula."

"Kini, Anda telah memiliki fakta-fakta kunci tentang kematian Yesus untuk dosa-dosa kita, ditambah sebuah daftar rinci berisi semua orang kepada siapa Ia menampakkan diri dalam wujud kebangkitan -semuanya bertanggal kembali pada dua sampai lima tahun dari peristiwa-peristiwa itu sendiri!"

"Itu bukan mitologi yang lebih lambat dari empat puluh tahun atau lebih sesudahnya, seperti pendapat Armstrong. Suatu pembuktian yang bagus bisa dibuat untuk mengatakan bahwa orang Kristen memercayai Kebangkitan yang, meskipun belum dituliskan, dapat diberi tanggal dalam dua tahun setelah peristiwa itu sendiri terjadi."

"Ini luar biasa penting," katanya, suaranya sedikit meninggi untuk memberi penekanan. "Kini Anda tidak membandingkan tiga puluh sampai enam puluh tahun dengan lima ratus tahun yang secara umum diterima untuk data lain -- Anda membicarakan kira-kira dua tahun!"

Saya tak dapat menyangkal pentingnya bukti itu. Itu tentu saja kelihatannya meredam tuduhan bahwa Kebangkitan -- yang disebut oleh orang-orang Kristen sebagai penegasan atas penobatan ketuhanan Yesus - - hanyalah sekadar konsep mitologis yang berkembang setelah periode waktu yang panjang sementara legenda-legenda mengubah laporan-laporan para saksi mata kehidupan Kristus. Bagi saya, ini khususnya menghantam hampir tepat pada sasaran -sebagai seorang skeptik, ini adalah salah satu dari penolakan-penolakan terbesar saya terhadap kekristenan.

Sumber-sumber lain mengenai topik ini

Barnett, Paul. Is the New Testament History? Ann Arbor, Mich.: Vine, 1986. jesus and the Logic of History. Grand Rapids: Eerdmans, 1997.

Blomberg, Craig. The Historical Reliability of the Gospel. Downer Grove, I11.: InterVarsity Press, 1997.

Bruce, F.F. The New Testament Document: A re They Reliable? Grand Rapids: Eerdmans, 1960.

France, R. T. The Evidence for Jesus. Downers Grove, I11.: InterVarsity Press, 1986.

Judul buku: Pembuktian atas Kebenaran Kristus; Investigasi Pribadi
Seorang Jurnalis atas Bukti tentang Yesus
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Gospel Press
Tahun : 25 -- 44

Beritakan Injil; Standar Alkitabiah Bagi Penginjil

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat berjumpa lagi dalam kasih Kristus.

Walaupun tugas penginjilan ditujukan bagi semua orang Kristen, tidak semua orang Kristen mengetahui adanya standar tertentu yang harus dipenuhi ketika kita menginjili. Kebanyakan kita mempelajari penginjilan hanya sekadar metode yang harus dipelajari. Padahal ada esensi penting yang harus diberitakan dan dikerjakan sehingga sebuah penginjilan bisa disebut penginjilan yang bertanggung jawab. Esensi penginjilan adalah perintah Alkitab yang seharusnya memiliki isi yang sama untuk semua orang Kristen di seluruh dunia. Apakah isi esensi penginjilan itu?

Konferensi Internasional Bagi Penginjil Keliling, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penginjilan Billy Graham di Amsterdam pada tahun 1983, telah melahirkan Lima Belas Pengukuhan penting tentang esensi penginjilan itu. Sebagai pemrakarsa konprensi ini, Billy Graham didaulat untuk memberikan uraian/penjelasan tentang Lima Belas Pengukuhan yang telah disampaikan dalam konferensi tersebut dalam sebuah buku, yang dalam terjemahan bahasa Indonesianya berjudul "Beritakan Injil: Standar Alkitabiah bagi Penginjil". Nah, saya anjurkan Anda membeli buku tersebut sehingga dapat membaca dengan jelas uraian yang disampaikan di dalamnya.

Bagi Anda yang tidak dapat menikmati bukunya, saya ingin memberikan cuplikannya saja, khususnya prakata buku tersebut yang disampaikan oleh Billy Graham sendiri. Bagian prakata ini sangat penting untuk memahami latar belakang dan motivasi lahirnya Lima Belas Pengukuhan yang dideklarasikan dalam konferensi internasional bagi para penginjil ini. Untuk itu, silakan simak artikel berikut ini yang sebenarnya adalah prakata dari buku yang aslinya berjudul "A Biblical Standard for Evangelists."

Untuk melengkapinya, saya tambahkan juga pokok penting dari Lima Belas Pengukuhan di bagian bawah artikel ini. Namun, saya minta maaf karena isinya hanyalah rumusannya saja dan tidak ada uraiannya. Untuk mendapatkan uraiannya, belilah bukunya.

In Christ, Yulia Oeniyati < yulia(a t)in-christ.net >

Penulis: 

Billy Graham

Edisi: 

088/IV/2007

Tanggal: 

01-10-2007

Isi: 
Beritakan Injil; STANDAR ALKITABIAH BAGI PENGINJIL

Konferensi Internasional bagi Penginjil Keliling -- Amsterdam `83 -- tidak hanya merupakan kejadian penting dalam kehidupan saya sebagai penginjil, tetapi juga merupakan konferensi yang bersejarah. Baru pertama kali dalam sejarah, konferensi semacam itu diselenggarakan. Pada puncak konferensi itu, terjadilah saat-saat yang khidmat, yaitu janji penyerahan diri. Rekan-rekan sepanggilan -- para penginjil dari berbagai benua -- termasuk saya, menyerahkan diri kembali untuk melayani Tuhan kita, Yesus Kristus. Dengan bersuara, kami mengucapkan kata-kata yang sangat berarti, yang kami sebut sebagai "Pengukuhan-Pengukuhan Amsterdam".

Kelima Belas Pengukuhan itu memuat patokan alkitabiah bagi mereka yang dikhususkan Tuhan untuk "melakukan pekerjaan seorang penginjil". Lebih daripada itu, Kelima Belas Pengukuhan tersebut juga ada hubungannya dengan seluruh keluarga besar Allah. Bukankah kita semua dipanggil untuk menjadi saksi-saksi-Nya? Oleh karena itulah buku ini, yang berisi ulasan tentang Kelima Belas Pengukuhan tersebut, ditulis untuk menjangkau kalangan yang lebih luas.

Perkenankan saya mengenang sejenak. Bertahun-tahun yang lalu, Tuhan memberi visi kepada saya untuk menghimpun penginjil-penginjil dari berbagai penjuru dunia dalam sebuah konferensi. Pada waktu itu, hal tersebut tampaknya tidak mungkin terjadi. Saya masih terlalu muda. Penginjil-penginjil yang lebih tua dan yang lebih berpengalaman daripada saya mungkin saja tidak menyukai prakarsa saya itu. Namun, gagasan itu tidak pernah memudar. Saya tidak pernah meragukan bahwa pada suatu hari, konferensi itu akan terlaksana. Hanya saja, saya harus peka terhadap "waktu" Tuhan, kapan Ia menghendaki konferensi itu diselenggarakan. Kalau kami mengenang kembali, kami dapat merasakan bimbingan-Nya langkah demi langkah sampai konferensi tersebut terselenggara.

Sementara itu, Lembaga Penginjilan Billy Graham sering mengadakan dan membiayai berbagai kegiatan serupa lainnya. Kongres Pekabaran Injil se-Dunia diadakan di Berlin pada tahun 1966. Setelah itu, berbagai konferensi regional, termasuk konferensi untuk para pemimpin injili se-Asia diadakan di Singapura pada tahun 1968. Konferensi Pekabaran Injil se-Eropa diadakan pada tahun 1971. Setelah itu, kami menyelenggarakan konferensi sedunia lagi di Laussane, Swis, pada tahun 1974. Walaupun semua konferensi itu diorganisasikan dan dibiayai oleh Lembaga Penginjilan Billy Graham, dan sebagian besar tanggung jawab jatuh di bahu saya, sebagai ketua kehormatan, saya mengangkat ketua- ketua rapat dan ketua-ketua panitia sebagai orang-orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan konferensi itu.

Pertemuan-pertemuan itu menghimpun para teolog, para pakar pendidikan, ketua-ketua badan zending, pendeta-pendeta, pemimpin-pemimpin gereja dan para penginjil, sangat mengesankan dan bermanfaat. Kalau kami tinjau kembali, rupanya mereka telah menjadi peletak dasar terwujudnya Konferensi Amsterdam `83. Namun, dalam benak dan hati saya, selalu terbayang visi konferensi khusus bagi para penginjil. Masalahnya: Bagaimana kita dapat membedakan antara pendeta yang memunyai karunia sebagai penginjil, dengan orang yang seperti saya, berkeliling mewartakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain? Kami berpendapat kata "keliling" ini telah memperjelas perbedaannya.

Anehnya, waktu kami membicarakan kemungkinan dilaksanakannya konferensi itu, ternyata hanya sedikit orang saja yang memunyai visi yang sama. Namun, sementara waktu berjalan, kami heran bahwa ada antusias yang kian meningkat selagi publikasi tentang konferensi itu beredar. Pada masa itu, anggaran yang kami perkirakan tidak lebih dari sejuta dolar. Kami tidak pernah menduga bahwa anggaran yang diperlukan dapat melonjak sampai delapan juta dolar! Pada waktu itu, kami juga tidak dapat memperkirakan berapa banyak penginjil yang akan turut berperan serta, dan dari mana saja mereka akan berdatangan. Kendati biayanya sampai mencapai delapan juta dolar, saya yakin setiap dolar yang dikeluarkan tidaklah sia-sia. Bagaimana Tuhan menyediakan dana -- hal itu menakjubkan sekali. Orang-orang dari seluruh dunia mengirim sumbangan. Sementara masa persiapan terus bergerak maju, orang-orang Kristen di berbagai negara terus berdoa. Tuhan mengabulkan doa-doa mereka -- lebih dari apa yang kami harapkan.

Di mana konferensi akan diselenggarakan? Maka Amsterdamlah yang terpilih menjadi tuan tamu. Bangsa Belanda dikenal sebagai orang-orang yang suka menerima tamu. Dan kami mengetahui bahwa tidak ada kesulitan untuk mendapatkan visa bagi para peserta dari berbagai negara. Ada fasilitas istimewa yang membuat Amsterdam menjadi salah satu tempat konferensi yang terbaik di dunia -- sanggup menyediakan seratus delapan puluh tempat lokakarya (dengan banyak ruang cadangan). Maskapai Penerbangan Belanda, KLM, berjanji untuk membantu, tidak saja dalam hal transportasi tetapi juga mau menyediakan makanan bagi setiap peserta selama konferensi berlangsung. Mereka menepati janji dengan memberi makan lima ribu orang secara serentak dalam waktu kurang dari lima puluh menit.

Tuhan menyediakan beberapa orang untuk menjabat sebagai pemimpin. Walter H. Smyth, yang bertugas menangani urusan internasional. Orang yang diangkat menjadi direktur adalah teman lama saya. Dia juga teman sejawat saya dan menjabat sebagai ketua dari pelayanan organisasi kami di Jerman, yaitu Werner Burklin. Ia membawa timnya yang terdiri dari orang-orang yang melayani tanpa pamrih. Leighton Ford diminta menjadi ketua rapat. Campus Crusade for Christ mengutus Paul Eshleman untuk melayani sebagai ketua acara. Saya ingat, pada suatu rapat panitia, Paul mengutarakan garis besar dari visinya; ia meluaskan pikiran saya seribu kali lipat tentang kemungkinan-kemungkinan jangka panjang yang dapat lahir dari konferensi itu.

Bob William, dari staf kami, diminta untuk memimpin bagian penyeleksian para peserta. Mula-mula kami mengira hanya ada beberapa ratus Penginjil Keliling saja yang akan hadir. Kami tidak mengira bahwa ada begitu banyak Penginjil Keliling di dunia ini. Selama beberapa tahun, kami mengumpulkan nama-nama Penginjil Keliling. Itu merupakan pekerjaan yang belum pernah kami lakukan. Besarnya jumlah penginjil melebihi perkiraan kami. Formulir-formulir pendaftaran peserta terus mengalir masuk, melebihi jumlah kursi yang tersedia. Sekitar dua ratus panitia di seluruh dunia membantu untuk menyeleksi pesertanya. Kami memerhatikan secara khusus agar para penginjil yang tidak terkenal namanya, yang setia melayani di bagian bumi yang paling jauh dari kami, jangan sampai terlewat.

Saya tidak dapat melupakan hari pembukaan konferensi itu. Hari itu adalah hari yang terpanas di Amsterdam. Ruangan konferensi bagaikan sebuah oven raksasa. Dengan mengenakan jas biru, seratus lima puluh penerima tamu dari universitas Kristen dan berbagai organisasi Kristen mengantar sekitar empat ribu hadirin (ditambah dengan seribu orang lainnya yang terdiri dari para pemantau, tamu, wartawan, dll.) ke tempat duduk mereka masing-masing.

Sementara saya menatap lautan manusia itu dari panggung, hati saya penuh dengan rasa terima kasih kepada Tuhan. Visi yang Ia berikan kepada saya bertahun-tahun yang lalu telah digenapi pada waktu-Nya yang tepat.

Dalam upacara pembukaan diadakan pawai dengan membawa bendera dari seratus tiga puluh tiga negara yang diwakilinya. Di hadapan saya terhimpun penginjil-penginjil yang menjadi bagian dari pasukan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bertekad melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus. Dari wajah mereka dan dari sinar mata mereka tercermin bahwa mereka datang dengan penuh antusias. Banyak di antara mereka ada yang baru pertama kali bepergian keluar dari negara mereka, bahkan ada yang baru kali itu bepergian keluar dari provinsinya! Sebagian ada yang baru pertama kali menumpang pesawat udara. Kedatangan mereka di Amsterdam merupakan pengalaman yang istimewa. Segala sesuatunya baru. Melalui pantulan sinar mata mereka, tercerminlah sekilas pandangan baru tentang dunia ini. Kesungguhan mereka dalam menyimak apa yang kami sampaikan merupakan tanda betapa dalamnya pengabdian mereka.

Di dalam buku karangan Dave Foster mengenai konferensi itu yang berjudul Billy Graham, "A Vision Imparted", ia menggambarkan saat-saat saya mengakhiri sidang pembukaan itu:

"Pada waktu ia mengakhiri kata-kata pembukaannya dan memimpin doa pengabdian dan penyerahan diri, konferensi itu seakan-akan `tersulut api`. Di situ dapat dirasakan sudah terjadi pembaharuan rohani dalam hati para peserta. Hal itu nampak jelas dari ungkapan hati mereka waktu menyanyikan lagu penutup yang berbunyi:

Tuhanku Allahku -- penuh kasih karunia, Tolonglah hamba mewartakan, Memberitakan ke seluruh penjuru bumi, Kemuliaan nama-Mu.

"Ketika Walter Smyth turun dari panggung, ... ia berkata bahwa kehadiran Roh Kudus dan persatuan di dalam kasih Kristus sudah terasa. Suasana dipenuhi puji-pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Konferensi ini tampaknya dimulai dengan suasana yang pada umumnya terjadi pada penutupan suatu konferensi."

Sahabat karib saya, yang juga teman sejawat saya, Cliff Barrows, adalah seorang yang sangat besar peran sertanya dalam konferensi tersebut sehingga tercipta suasana yang seperti itu. Dialah yang bertugas mengurus panggung selama konferensi berlangsung. Sepanjang masa pelayanan saya, saya belum pernah menemukan orang lain yang dapat lebih baik melakukan pekerjaan semacam itu daripada dia. Acara musik yang dipimpinnya di Amsterdam betul-betul mengagumkan. Lagu-lagu rohani yang telah dipilihnya dengan baik, berikut refrein-refreinnya sangat berkaitan dengan peristiwa besar itu. Setiap kali saya mendengar atau menyanyi lagu "Emmanuel, God with us" atau "Freely, freely, you have received ...", saya pasti terkenang akan konferensi di Amsterdam.

Konferensi itu lebih daripada sekadar kesempatan istimewa untuk bersekutu dan berbakti bersama para penginjil -- rekan-rekan sepanggilan. Konferensi itu merupakan kesempatan untuk berpikir dengan sungguh-sungguh mengenai strategi penginjilan, kesempatan untuk berdoa bagi terlaksananya Amanat Agung. Umpamanya, banyak gagasan berbobot telah terkumpul untuk menerbitkan sebuah buku penuntun bagi para Penginjil Keliling di seluruh dunia. Banyak sekali penginjil yang berminat akan hal itu. Dr. Lewis Drummond, seorang profesor bidang penginjilan di Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, yang diberi tanggung jawab untuk menyusun buku penuntun itu berkata, "Saya mengira, saya datang di Amsterdam ini untuk bekerja sama dengan tidak lebih dari dua puluh profesor dari bidang penginjilan yang akan menyiapkan buku penuntun tersebut. Saya tidak mengira sama sekali bahwa begitu banyak penginjil yang berminat untuk menyusun kurikulum Penginjil Keliling." Kalau begitu, bagaimanapun juga, Amsterdam `83 akan tetap merupakan sarana yang melahirkan banyak cara untuk melaksanakan PI yang berkesinambungan.

Lagi pula, Amsterdam `83 juga merupakan motor penggerak bagi kegiatan penginjilan selama konferensi itu berlangsung. Supaya mereka mempraktikkan penginjilan berdasarkan berbagai ketentuan yang alkitabiah, para penginjil yang datang ke Amsterdam mengkhususkan suatu sore untuk bersaksi di jalan-jalan, di pantai Laut Utara Negeri Belanda, di taman-taman, dan di mana saja mereka dapat menjumpai orang-orang.

Saya ingin sekali turut mengambil bagian dalam kegiatan bersaksi sore itu, tetapi ada masalah. Setiap kali media massa memublikasikan kehadiran saya di suatu tempat, tidak mungkin saya dapat berjalan dengan bebas karena mereka semua mengenali saya. Maka dari itu, sebelum saya pergi dengan rekan saya, T.W. Wilson, ke taman yang ada banyak orang, saya mengenakan celana jins yang sudah usang, topi, dan kaca mata hitam. Saya membagi-bagikan traktat "Empat Langkah Menuju Perdamaian dengan Allah", dan saya mencoba bersaksi. Tanggapan yang saya terima tidak begitu menggembirakan. Rasanya saya tidak mencapai sasaran!

Pada waktu itu saya melihat sekelompok kecil orang Kristen Afrika dari Pantai Gading. Mereka sedang bersaksi kepada seorang mahasiswa Belanda. Pada mulanya mahasiswa itu kelihatan hendak mengelak. Akan tetapi, orang-orang Afrika itu begitu ramah dan manis budi sehingga mahasiswa itu tidak jadi menghindar! Mereka membuka Alkitab dan menunjukkan beberapa ayat kepadanya. Saya bergabung dengan mereka dan duduk mendengarkan. Saya belum pernah mendengar kesaksian yang semantap itu!

Di Amsterdam, Tuhan membuka kemungkinan bagi kami untuk saling belajar. Satu hal yang saya pelajari dari orang-orang yang kami jangkau ialah mereka lebih tertarik kepada Pribadi Yesus Kristus daripada kepada agama atau organisasi Kristen atau gereja. Pribadi Kristuslah yang menarik perhatian mereka.

Ketika kami sedang berusaha menentukan siapa yang hendak kami undang ke Amsterdam, kami terlebih dahulu harus membuat ketentuan dengan membahas pertanyaan dasar, "Seorang penginjil itu apa?" Memang kita mengetahui bahwa setiap orang Kristen adalah seorang saksi Kristus. Akan tetapi, kita juga menyadari bahwa Tuhan memanggil orang- orang tertentu untuk melaksanakan pelayanan khusus, yaitu pelayanan penginjilan.

Penginjil adalah orang yang diberi karunia khusus dari Roh Kudus untuk memberitakan Kabar Baik. Metode-metode yang dipakai akan berbeda-beda. Hal itu bergantung pada kesempatan dan panggilan yang dimiliki setiap penginjil. Namun, ada satu hal pokok yang sama: seorang penginjil dipanggil dan diperlengkapi secara khusus oleh Tuhan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Tujuannya agar mereka berpaling kepada Kristus, bertobat dari dosa-dosa mereka, serta beriman kepada-Nya. Dalam Perjanjian Baru, kata "pemberita Injil" dalam bahasa Yunani berarti "seseorang yang memberitakan kabar baik". Bentuk kata kerja yang berarti "memberitakan kabar baik" itu muncul lebih dari lima puluh kali. Kata benda "pemberita Injil" yang dipakai untuk menyebutkan seseorang yang membawa kabar baik, agaknya merupakan kata yang jarang dipakai pada zaman dahulu, kendati kata itu dipakai sebanyak tiga kali dalam Perjanjian Baru. Marilah kita tinjau sejenak ketiga ayat itu, agar kita dapat memahami apa yang dimaksudkan Alkitab dengan kata "pemberita Injil".

Acuan yang paling umum bagi kata "pemberita Injil" dapat kita temukan dalam Efesus 4:11. Dalam ayat itu, Rasul Paulus menyatakan bahwa Tuhanlah yang "memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala gembala dan pengajar-pengajar". Karunia dan jabatan penginjil yang terdapat dalam Perjanjian Baru ini tidak pernah dicabut dari gereja. Itu bukan saja merupakan pelayanan yang penting, tetapi juga merupakan pelayanan yang Tuhan berikan untuk dipakai -- seperti halnya dengan karunia-karunia lainnya -- "bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:12).

Tragis sekali, ada kalanya gereja tidak lagi menyadari pentingnya pelayanan seorang penginjil. Lebih buruk lagi, kadang-kadang para penginjil itu sendiri menambah runyam persoalan karena mereka gagal untuk bekerja sama sepenuhnya dengan gereja-gereja. Bagaimanapun juga, tentu salah satu kebutuhan utama gereja masa kini ialah menemukan kembali pentingnya penginjilan; gereja juga perlu memunyai keyakinan kembali tentang perlu adanya seorang penginjil. Berikut ini adalah kutipan perkataan mantan Uskup Besar Anglikan di Sidney, Sir Marcus Loane yang memberi ceramah di Amsterdam.

"Mudah sekali kita mengira bahwa zaman penginjilan ... telah berakhir. Dugaan itu menimbulkan wabah yang menjangkiti gereja yang visi penginjilannya sudah kabur .... Bilamana visi penginjilan dan usaha penjangkauan itu mandek, gereja akan menghadapi masalah serius: Para anggotanya terdiri dari orang-orang Kristen KTP saja. Masalah itu timbul dari dalam; gereja menjadi suam-suam kuku."

Dua ayat lainnya dalam Perjanjian Baru mengacu kepada orang-orang yang secara khusus melayani bidang penginjilan. Dalam Kisah Para Rasul 21:8, Filipus disebut "pemberita Injil". Dalam 2Timotius 4:5 Rasul Paulus berkata kepada Timotius, "Lakukanlah pekerjaan pemberita Injil" (2 Timotius 4:5). Kami mengangkat nasihat itu menjadi tema Amsterdam `83.

Pekerjaan seorang penginjil dengan jelas digambarkan oleh Filipus dan Timotius. Menurut Kisah Para Rasul 8:12, kita mengetahui bahwa "Filipus ... memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, ... " Dalam Konferensi Amsterdam, Dr. Stephen F. Olford menyoroti tiga ciri Filipus -- ciri-ciri itu harus ada pada tiap penginjil. Pertama, Filipus adalah seorang pelayan Tuhan di gereja, dan penginjilan harus selalu ditanamkan sebanyak mungkin di dalam gereja. Kedua, Filipus juga seorang pengkhotbah di dunia; ia beranjak dari tempat yang satu ke tempat yang lain, menemui orang- orang yang belum mendengar Injil atau yang belum mengenal Kristus. Ketiga, Filipus tidak mengabaikan tanggung jawab atas keluarganya. Ia memunyai empat anak perempuan yang dikenal sebagai orang-orang yang memiliki karunia Roh; dan mereka adalah pelayan Tuhan. Begitu pula dengan Timotius. Rasul Paulus menulis tentang Timotius sebagai berikut, "Ia seorang pelayan Allah yang bekerja bersama kami untuk memberitakan Kabar Baik tentang Kristus" (1Tesalonika 3:2, BIS).

Itulah yang dinamakan penginjilan, "memberitakan Kabar Baik tentang Kristus". Penginjilan itu lebih daripada sekadar metode; penginjilan adalah sebuah BERITA. Berita tentang kasih Allah, tentang dosa manusia, tentang kematian Kristus, tentang penguburan-Nya, dan kebangkitan-Nya. Penginjilan adalah berita tentang pengampunan dosa dari Allah. Penginjilan adalah berita yang menuntut suatu tanggapan -- menerima Injil itu dengan iman, lalu menjadi murid Yesus. Istilah "penginjilan" mencakup segala usaha untuk memberitakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Tujuannya ialah supaya orang-orang mengerti bahwa Allah menawarkan keselamatan dan supaya mereka menerima keselamatan itu dengan iman, lalu hidup sebagai murid Yesus. Seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Lausanne, "Menginjili ialah memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa-dosa kita, dan Ia sudah dibangkitkan dari antara orang mati, menurut Kitab Suci. Yesus Kristus adalah Tuhan yang memerintah, Ia sekarang menawarkan pengampunan dosa dan mengaruniakan Roh Kudus kepada semua orang yang bertobat dan yang percaya. ... Penginjilan itu sendiri ialah pemberitaan bahwa Kristus yang dikenal dalam sejarah dan dari Kitab Suci adalah Juru Selamat dan Tuhan. Adapun tujuan pemberitaan itu ialah supaya orang-orang mau datang kepada-Nya secara pribadi dan dengan demikian mereka diperdamaikan dengan Allah. Waktu kita mengundang agar orang mau menerima Kristus, kita tidak boleh menyembunyikan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid Yesus. ... Hasil dari penginjilan mencakup hidup patuh kepada Kristus, menggabungkan diri dengan gereja-Nya, dan melayani Tuhan dengan penuh tanggung jawab di dunia ini." [Butir ke-4, dalam Perjanjian Lausanne, (c)1974 World Wide Publication, Minneapolis, Minnesota]

Semangat dan pengabdian dalam bidang penginjilan merupakan ciri khas orang-orang Kristen abad pertama. Itu seharusnya juga tercermin dalam kehidupan gereja masa kini. Pekerjaan menginjil tetap tidak berubah. Kebutuhan rohani umat manusia tetap tidak berubah. Berita penginjilan tetap tidak berubah. Dan karunia Allah kepada gereja-Nya -- termasuk karunia seorang penginjil -- tetap tidak berubah.

Amsterdam `83 memberi kesan yang berbeda-beda kepada setiap peserta yang hadir. Bagi sebagian peserta, mungkin hal yang sangat mengesankan tentang Konferensi Amsterdam `83 itu ialah adanya penegasan tentang peranan seorang penginjil. Bagi peserta lainnya, mungkin saja yang sangat mengesankan adalah saat-saat mengabdikan diri kembali kepada pelayanan pemberitaan Injil yang diwarnai dengan suasana khusyuk dan khidmat. Akan tetapi, apa pun yang menjadi kesan dalam diri setiap peserta, saya yakin bahwa setelah tiap peserta pulang dan meresapi betapa pentingnya pelayanan memberitakan Injil, dan betapa besarnya kuasa Allah yang bekerja untuk mencapai tujuan-Nya, mereka pasti akan mengalami perubahan.

Sebagai tanda pengenal dan menyangkut keamanan, peserta konferensi diberi gelang plastik. Gelang plastik itu dipakai siang-malam selama konferensi itu berlangsung, dan tidak dapat dilepaskan tanpa memotongnya. Peserta diminta untuk tetap memakai gelang plastik itu sampai mereka meninggalkan Amsterdam. Cukup menarik. Sebagian penginjil merasa bahwa gelang plastik yang sederhana itu memunyai arti lebih daripada sekadar tanda pengenal. Walau konferensi sudah lama berlalu, banyak di antara mereka masih memakai gelang plastik itu untuk mengingat kembali janji mereka yang diteguhkan di hadapan Tuhan, di Amsterdam, khususnya ketika mereka menyuarakan Kelima Belas Pengukuhan. Buku ini ditulis untuk memberi ulasan tentang pengukuhan- pengukuhan tersebut. Beberapa penginjil masih memakai gelang plastik itu sampai saat ini, misalnya di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan di berbagai belahan bumi ini!

Sementara membuat persiapan Amsterdam `83, banyak orang dari berbagai negara menanyakan, apakah akan ada semacam "Keputusan Bersama" yang akan dikeluarkan oleh konferensi itu, seperti halnya Perjanjian Lausanne. Perjanjian itu adalah hasil dari Konferensi Lausanne pada tahun 1974 yang membahas tema pekabaran Injil sedunia. Setelah dipertimbangkan dengan saksama, diputuskan bahwa Amsterdam `83 tidak akan mengeluarkan keputusan bersama yang meringkaskan hasil dari konferensi karena tujuan utama Konferensi Amsterdam ialah berkenaan dengan hal-hal praktis, yaitu pelaksanaan PI. Bersamaan dengan itu, banyak penginjil dari latar belakang yang lain mengutarakan harapannya agar patokan-patokan bagi para penginjil dapat disusun. Akhirnya, panitia internasional yang sudah diseleksi, yang diketuai oleh Dr. Kenneth Kantzer, ditunjuk untuk menyusunnya. Mereka bekerja keras selama konferensi berlangsung. Naskah kasar mereka disampaikan kepada kelompok yang mewakili para penginjil dari berbagai penjuru dunia; mereka memberi banyak usulan yang berharga kepada panitia internasional itu. Naskah akhir mereka -- Pengukuhan- Pengukuhan Amsterdam -- disusun dengan singkat dan saksama, merangkum dasar-dasar alkitabiah, pekerjaan serta integritas seorang penginjil. Pada upacara penutupan, peserta konferensi serentak menyuarakan janji mereka terhadap setiap pengukuhan itu yang berjumlah lima belas butir.

Disarankan, agar saya menulis ulasan yang bersifat interpretatif tentang Kelima Belas Pengukuhan Amsterdam. Saya menyetujui. Agar saya dapat melakukan hal itu, saya menghubungi teman-teman saya, John Akers, Art Johnston, Dave Foster, dan Stephen F. Olford. Dalam menyiapkan khotbah, menulis artikel dan menyusun buku, saya sering bergantung pada pertolongan tim saya dan sahabat-sahabat saya itu. Saya sangat berterima kasih atas kesediaan mereka menolong dan memberi anjuran sementara saya menyelesaikan pekerjaan ini.

Doa saya ialah supaya Tuhan tidak hanya memakai buku ulasan tentang Kelima Belas Pengukuhan Amsterdam ini untuk menolong para Penginjil Keliling, tetapi juga untuk menolong banyak orang Kristen lainnya agar mereka mendapat visi yang lebih luas lagi tentang pekerjaan Tuhan di dunia ini. Allah telah menempatkan kita pada zaman yang unik ini dan yang mendesak waktunya bagi penginjilan. Ladang-ladang sudah "menguning dan siap untuk dituai". Memang sebagian orang dipilih khusus untuk menjadi penginjil, tetapi bukankah semua umat Allah adalah saksi-saksi-Nya. Oleh karena itu, saya berharap agar daya jangkau buku ini melebihi mereka yang hadir dalam Konferensi Amsterdam `83, dan supaya mereka melaksanakan apa yang tertuang dalam Pengukuhan-Pengukuhan itu. Saya berharap, kita akan melihat adanya pembaharuan pengabdian dan semangat penginjilan dalam diri setiap anak Tuhan dalam generasi ini.

15 PENGUKUHAN AMSTERDAM `83
PENGUKUHAN I
Kita mengakui, Yesus Kristus itu Allah, Tuhan, dan Juru Selamat kita, yang dinyatakan di dalam Alkitab -- firman Allah yang sempurna, tanpa kesalahan.
PENGUKUHAN II
Kita bersama-sama mengukuhkan komitmen kita terhadap Amanat Agung dari Tuhan kita, dan menyatakan bersedia untuk pergi ke mana saja, melakukan apa saja, dan mengorbankan apa saja yang Tuhan kehendaki dami terpenuhinya Amanat itu.
PENGUKUHAN III
Kita bersama-sama menyambut panggilan Allah untuk melaksanakan penginjilan yang alkitabiah, dan menerima tanggung jawab untuk memberitakan firman Allah kepada semua orang, sesuai dengan kesempatan yang Allah berikan.
PENGUKUHAN IV
Allah mengasihi setiap orang. Orang yang tidak beriman kepada Kristus, berada di bawah hukuman Allah, dan dengan sendirinya akan masuk neraka.
PENGUKUHAN V
Inti pesan alkitabiah ialah Kabar Baik tentang keselamatan yang dari Allah: keselamatan itu diterima karena kasih karunia semata-mata melalui iman dalam Tuhan Yesus Kristus yang sudah bangkit; keselamatan itu diterima melalui iman pada kematian-Nya di kayu salib, yang menebus dosa-dosa kita.
PENGUKUHAN VI
Dalam memberitakan Injil, kita menyadari pentingnya memanggil semua orang supaya mereka mengambil keputusan untuk mengikut Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka; kita harus melakukan dengan kasih, tanpa memaksa atau membujuk.
PENGUKUHAN VII
Kita perlu dan rindu dipenuhi serta dikuasai oleh Roh Kudus sementara kita membawakan kesaksian tentang Injil Yesus Kristus karena hanya Tuhan sajalah yang dapat membuat orang-orang berdosa bertobat dan memperoleh kehidupan yang kekal.
PENGUKUHAN VIII
Kita mengakui kewajiban kita sebagai hamba-hamba Tuhan: kita harus hidup suci, dan bermoral bersih karena kita tahu bahwa kita adalah saksi-saksi Kristus kepada jemaat dan kepada dunia ini.
PENGUKUHAN IX
Kesetiaan dalam doa dan pemahaman Alkitab itu diperlukan bagi pertumbuhan rohani kita pribadi dan bagi kekuatan kita dalam pelayanan.
PENGUKUHAN X
Kita akan menjadi abdi yang setia dalam segala pekerjaan yang Allah berikan kepada kita. Kita akan bertanggung jawab dalam bidang keuangan yang dipercayakan bagi pelayanan kita, dan dengan jujur memberi laporan data pelayanan kita.
PENGUKUHAN XI
Keluarga adalah suatu tanggung jawab yang Allah berikan kepada kita, dan merupakan pemberian Allah yang dipercayakan-Nya kepada kita; oleh karena itu kita harus setia kepada panggilan untuk melayani sesama.
PENGUKUHAN XII
Kita bertanggung jawab kepada gereja, dan akan selalu gigih melaksanakan pelayanan, membangun gereja setempat dan melayani umat Kristen pada umumnya.
PENGUKUHAN XIII
Kita bertanggung jawab untuk memelihara kerohanian orang-orang yang menerima Yesus melalui pelayanan kita; kita bertanggung jawab untuk menganjurkan, agar mereka menggabungkan diri dengan gereja setempat; kita juga harus mendorong gereja agar mereka dapat membimbing para petobat itu dan memberi petunjuk bagaimana bersaksi tentang Injil.
PENGUKUHAN XIV
Kita sehati dengan Kristus yang sangat memedulikan penderitaan manusia secara pribadi maupun penderitaan seluruh umat manusia; sebagai orang Kristen dan sebagai penginjil, kita menerima tanggung jawab untuk sedapat mungkin mengurangi penderitaan manusia dengan berusaha untuk mencukupi kebutuhan mereka.
PENGUKUHAN XV
Kita memohon agar seluruh Tubuh Kristus sehati di dalam doa dan bekerja untuk perdamaian di dunia ini, untuk membangun kehidupan rohani, untuk memperbaharui pengabdian dan mengutamakan Alkitab dalam penginjilan di gereja, untuk memelihara kesatuan dan persatuan orang-orang percaya di dalam Kristus, dan untuk melaksanakan Amanat Agung, sampai Kristus datang kembali.

Dikutip dari:

Judul buku: Beritakan Injil; Standar Alkitabiah bagi Penginjil
Penulis : Billy Graham
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung dan Yayasan Andi,
Yogyakarta 1995
Halaman : 7 -- 20

Gereja dan Alkitab (2)

Dear e-Reformed Netters,

Artikel berikut ini merupakan sambungan dari bagian (1) yang sudah saya kirim sebelumnya. Jika Anda ternyata belum mendapatkan bagian sebelumnya, silakan berkirim surat ke saya dan saya akan mengirimkannya untuk Anda.

Selamat melanjutkan perenungan Anda.

In Christ,
Yulia
yulia(at)in-christ.net

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel berikut ini merupakan sambungan dari bagian (1) yang sudah saya kirim sebelumnya. Jika Anda ternyata belum mendapatkan bagian sebelumnya, silakan berkirim surat ke saya dan saya akan mengirimkannya untuk Anda.

Selamat melanjutkan perenungan Anda.

In Christ, Yulia yulia(at)in-christ.net

Penulis: 
T.B. Simatupang
Edisi: 
087/IV/2007
Isi: 
GEREJA DAN ALKITAB (2)
Sejarah perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia
Oleh: T.B. SIMATUPANG

(Sambungan dari bagian 1)

Waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.

Lapisan pertama ialah lapisan kebudayaan dan keagamaan Indonesia asli, yang memperlihatkan persamaan-persamaan yang mendasar di samping perbedaan-perbedaan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Studi-studi mengenai kebahasaan dan adat-istiadat yang dahulu banyak dijalankan oleh sarjana-sarjana Belanda, mencatat persamaan-persamaan yang pokok di samping adanya perbedaan-perbedaan dalam lapisan Indonesia asli ini di berbagai daerah dan kalangan berbagai suku. Di beberapa daerah, lapisan asli ini masih tampak pada permukaan kehidupan kebudayaan dan adat istiadat, seperti di Tanah Batak, di Tanah Toraja, dan di Sumba. Lapisan-lapisan kedua dan ketiga yang akan kita bicarakan di bawah, tidak banyak memengaruhi keadaan dan keagamaan di daerah-daerah itu.

Lapisan kedua ialah pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang datang dari India. Selama lebih dari seribu tahun, pengaruh kebudayaan dari keagamaan yang berasal dari India ini sangat berakar di Pulau Jawa dan Bali dan sebagian Pulau Sumatera. Lapisan ini menghasilkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha dan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Kedua kerajaan itu pernah mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia. Sampai sekarang, pengaruh dari lapisan yang berasal dari India ini masih tetap sangat kuat di Pulau Jawa dan Bali. Seperti telah kita catat tadi, Injil telah tiba di Indonesia pada abad ke-7 dalam kurun tibanya lapisan kedua ini di Indonesia, tetapi pengaruh Injil itu hanya terbatas kepada Fansur (Barus) saja dan pengaruh itu kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Lapisan ketiga dengan datangnya Islam. Di banyak daerah di Indonesia peta keagamaan dan kebudayaan mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat kedatangan Islam itu. Muncullah banyak kerajaan Islam di berbagai daerah, tetapi tidak sempat ada kerajaan Islam yang mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia, seperti pernah terjadi oleh Kerajaan Budha Sriwijaya dan oleh Kerajaan Hindu Majapahit. Injil tidak hadir di Indonesia selama tibanya lapisan ketiga ini.

Masih ada pengaruh kebudayaan yang cukup luas yang berasal dari Cina. Tetapi pengaruh ini tidak pernah sempat menjadi suatu lapisan tersendiri dalam peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia. Hal Ini berbeda dengan sejarah Vietnam, di mana pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Cina merupakan lapisan yang utama.

Lapisan keempat tiba di Indonesia dengan datangnya pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Eropa atau lebih tepat dari Eropa Barat atau Barat yang modern. Mula-mula datang orang-orang Portugis dan kemudian orang-orang Belanda. Injil tiba di Indonesia untuk kedua kalinya bersamaan dengan kedatangan lapisan keempat yang berasal dari Eropa atau Barat modern ini.

Namun, Injil tidak identik dengan Eropa. Injil mula-mula justru telah tiba di Eropa dari Asia, yaitu dari Yerusalem. Telah kita lihat bahwa Rasul Paulus dituntun oleh Roh Kudus untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa. Agama Kristen bukan agama Eropa. Eropa justru telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dari datangnya kekristenan dari Asia ke Eropa. Perubahan yang sangat penting terjadi setelah Renaissance pada abad ke-14. Sebagai hasil dari proses perubahan sejak Renaissance itu, muncullah di Eropa apa yang disebut peradaban modern. Eropa beralih dari pramodern menjadi modern. Dengan ini, Eropa Barat mengembangkan peradaban modern yang pertama di dunia kita ini.

Apakah yang disebut modern itu? Pada dasarnya, peradaban yang modern itu memperlihatkan pola pikir, pola kerja, dan pola hidup baru yang paling sedikit memperlihatkan dua ciri yang tidak terdapat pada peradaban-peradaban pramodern, yaitu ciri kerasionalan dan ciri kedinamikaan. Mengapa kemodernan itu muncul untuk pertama kali di Eropa Barat, sedangkan sebelum itu banyak peradaban di luar Eropa Barat termasuk peradaban Arab-Islam, yang lebih unggul dari peradaban Eropa Barat itu? Ada pandangan yang melihat adanya dua sumber utama bagi lahirnya kemodernan itu di Eropa Barat. Pertama, rasionalitas yang berasal dari filsafat Yunani dan kedua kedinamikaan yang berasal dari perkembangan dari suatu Alkitab yang melihat adanya dinamika perubahan dalam sejarah awal menuju suatu tujuan atau penggenapan yang terletak di depan. Dengan demikian pemikiran modern berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa lampau, seperti halnya dalam pemikiran pramodern yang tradisional.

Setelah Eropa Barat menjadi modern, mereka menjalankan ekspansi dan eksploitasi di seluruh dunia. Rahasia keunggulan Barat selama beberapa abad tidak terletak pada ke-Baratannya, tetapi pada kemodernannya. Semua perlawanan dari bangsa-bangsa non-Barat terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Eropa modern itu, yang dijalankan secara pramodern, menemui kekalahan. Di Amerika dan Australia, penduduk asli praktis dimusnahkan oleh ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu. Kedua benua itu praktis menjadi perluasan dari dunia Barat. Cina tidak ditaklukkan tetapi mengalami revolusi yang berkepanjangan, yang tampaknya masih terus berlangsung sampai sekarang ini. Jepang berhasil untuk mengambil alih kemodernan dan mengalahkan bangsa Barat dalam perang Rusia 1904 -- 1905. Ini membuktikan bahwa apabila suatu bangsa non-Barat berhasil menguasai kemodernan, dia tidak akan terus mengalami kekalahan dari bangsa Barat.

India, Indonesia, Vietnam, dan bangsa-bangsa lain dijadikan jajahan dalam rangka ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu, yang mula-mula dipelopori oleh Spanyol dan Portugal, yang diperintah oleh raja-raja yang beragama Roma Katolik. Raja-raja itu memerintahkan armada-armada mereka berlayar ke Amerika dan ke Asia untuk menaklukkan daerah-daerah dan bangsa-bangsa yang mereka temui guna memperoleh keuntungan dan sekaligus guna menyebarkan Agama Kristen Katolik. Kemudian yang menjadi pelopor-pelopor dalam ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu ialah orang-orang Inggris dan Belanda, yang merupakan bangsa-bangsa Kristen Protestan. Mereka ini memusatkan perhatiannya terutama kepada keuntungan. Mereka hanya memunyai perhatian yang sangat terbatas pada penyebaran Agama Kristen Protestan melalui penaklukan seperti dijalankan oleh Spanyol dan Portugal. Apa yang dialami oleh bangsa-bangsa non-Barat dan non-modern yang lain, kita alami juga di Indonesia. Dalam semua perlawanan yang kita jalankan secara pramodern terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern yang datang tanpa diundang itu, kita mengalami kekalahan. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang menyebarkan agama Kristen Katolik di beberapa daerah, yaitu di Maluku, Flores, dan di daerah lain seperti Timor. Belanda yang tiba belakangan mengusir orang-orang Portugis dan lambat laun mereka menegakkan kekuasaannya. Di Maluku, sebagian besar orang-orang Kristen Katolik menjadi Kristen Protestan setelah Belanda berkuasa di sana, tetapi pada umumnya Belanda yang Protestan itu memunyai perhatian yang terbatas pada penyebaran agama Kristen melalui penaklukan dibandingkan dengan orang-orang Portugis. Penyebaran Agama Kristen yang kemudian terjadi di berbagai daerah adalah terutama hasil pekerjaan dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil, yang tidak ada kaitannya dengan Pemerintah Belanda. Sebagian dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil itu tidak berpangkalan di negeri Belanda, tetapi di Jerman dan Swiss. Di beberapa daerah, yang sebelumnya tidak atau hampir tidak disentuh oleh apa yang kita sebut dengan lapisan kedua dan ketiga, yaitu lapisan yang berasal dari India dan lapisan Islam, agama Kristen menjadi agama rakyat. Kita sebut sebagai contoh, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Nias, Toraja, Minahasa, Sangir, sebagian Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Sumba, Timor, Flores, Maluku, dan Irian Jaya.

Di banyak daerah lain, lahir gereja-gereja yang jumlah anggotanya relatif kecil dibanding dengan penduduk daerah itu, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara. Ada juga gereja-gereja yang mula-mula beranggotakan keturunan Cina. Di beberapa daerah gereja hampir tidak sempat berakar. Dengan demikian, telah diletakkan landasan bagi peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia, yang pada dasarnya masih tetap bertahan sampai sekarang ini.

Dalam hubungan itulah, kita harus tempatkan peristiwa yang terjadi 360 tahun yang lalu (sesuai tahun penulisan buku ini -- Red.), yaitu penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu). Hal itu penting sebab bahasa Melayu memunyai posisi yang penting di seluruh kepulauan Indonesia bahkan juga di beberapa daerah di luar Indonesia, sebagai bahasa pergaulan dengan bangsa-bangsa asing. Posisi bahasa Melayu itu dapat dibandingkan dengan posisi bahasa Yunani di kawasan sekitar Laut Tengah sebelum dan sesudah lahirnya gereja purba. Penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Melayu yang terjadi 360 tahun yang lalu telah disusul oleh upaya penerjemahan dan penerbitan yang lebih lanjut sehingga akhirnya tersedia Alkitab yang lengkap dalam bahasa Melayu. Yang paling terkenal ialah terjemahan Leydecker, yang memunyai pengaruh yang sangat luas, antara lain di bagian timur Indonesia.

Setelah pemerintahan selingan Inggris pada awal abad ke-19 berakhir, kembalinya kekuasaan Belanda telah disambut dengan pemberontakan-pemberontakan di tiga daerah, yaitu pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, yang bercorak Islam Wahabi; pemberontakan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa yang bercorak Islam Jawa; dan pemberontakan Pattimura di Maluku yang bercorak Kristen Ambon. Konon waktu Pattimura terpaksa harus meninggalkan Kota Saparua, dia telah meninggalkan Alkitab di mimbar gereja Saparua yang terbuka pada Mazmur 17, dengan kalimat-kalimat awalnya yang berbunyi:

"Dengarlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman; mata-Mu kiranya melihat apa yang benar".

Melalui Mazmur 17 itu Pattimura rupanya ingin menyampaikan pesan kepada komandan pasukan Belanda yang memasuki kota Saparua, bahwa sekalipun Belanda menang, kebenaran adalah di pihak Pattimura dan teman-teman seperjuangannya. Alkitab yang ditinggalkan oleh Pattimura terbuka pada Mazmur 17 di mimbar gereja Saparua agaknya ialah Alkitab terjemahan Leydecker.

Dalam rangka pekabaran Injil di berbagai daerah yang dijalankan secara intensif sejak abad ke-19 dan yang seperti kita lihat tadi banyak dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan pekabaran injil yang tidak terkait dengan Pemerintah Kolonial Belanda, dengan sendirinya telah lahir terjemahan-terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah. Untuk itu, bahasa-bahasa daerah itu telah dipelajari sebaik-baiknya secara ilmiah. Dalam hubungan itu, salah satu tokoh yang paling menarik ialah Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894). Atas penugasan oleh Lembaga Alkitab Belanda, van der Tuuk telah memelopori upaya untuk mempelajari bahasa Batak dan kemudian bahasa Bali secara ilmiah.

Pada peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 11 Maret 1989 di Jakarta, Presiden Soeharto berkata bahwa di Perpustakaan Nasional itu terdapat naskah terjemahan Alkitab dalam bahasa dan aksara Batak. Naskah itu agaknya adalah terjemahan oleh van der Tuuk, yang di Tanah Batak terkenal dengan nama Pandortuk. Di Bali dia terkenal dengan nama Tuan Dertik.

INDONESIA MEMASUKI ERA MODERN

Sejarah modern Indonesia dapat dianggap mulai dengan Kebangkitan Nasional pada tahun 1908. Sebelum itu, bangsa kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda, oleh karena kita menjalankan perang-perang lokal secara pramodern, sedangkan Belanda menjalankan peperangan secara modern serta strategi yang mencakup seluruh Hindia Belanda. Peperangan-peperangan lokal dan pramodern yang terakhir ialah Perang Aceh, Perang Batak, dan Perang Bali. Waktu Perang Aceh, Perang Batak, dan Perang Bali itu berakhir pada awal abad ke-20, di Jakarta (Batavia) telah ada pemuda-pemuda terpelajar yang mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908. Sejak Kebangkitan Nasional 1908 itu, kita melanjutkan perlawanan terhadap Belanda yang sebelumnya kita jalankan secara lokal dan pramodern dengan cara-cara yang secara berangsur-angsur makin bersifat nasional dan makin bersifat modern.

Gerakan-gerakan pemuda yang mula-mula bersifat kedaerahan, di mana pemuda-pemuda Kristen dari daerah-daerah yang bersangkutan aktif mengambil bagian, menjadi gerakan Pemuda Nasional dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Dengan Sumpah Pemuda itu, bahasa Indonesia memperoleh kedudukan sebagai bahasa persatuan dan bahasa Nasional.

Dalam iklim yang dijiwai oleh cita-cita kemerdekaan Nasional itu, telah lahir pula gereja-gereja yang mandiri di berbagai daerah. Banyak di antara gereja-gereja itu menggunakan Alkitab dalam bahasa daerah masing-masing. Tetapi berdasarkan keyakinan bahwa bahasa Indonesia akan memunyai tempat yang menentukan dalam perkembangan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan di masa depan, diadakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia di bawah pimpinan Bode. Dengan didirikannya Hoogere Theologische School (HTS) pada tahun 1934 yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, dimulailah pendidikan calon-calon pendeta yang berwawasan persatuan bangsa dan kesatuan gereja untuk semua gereja. Para lulusan dari HTS itu kemudian menjadi pelopor-pelopor bagi gerakan menuju kesatuan gereja.

Dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa kita memasuki era yang baru, yaitu era bangsa dan negara yang merdeka. Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa dasar negara yang diterima secara bulat pada tahun 1945, yaitu Pancasila, terbukti merupakan dasar yang sangat tepat yang telah mampu menjamin persatuan dan kesatuan bangsa yang terus makin kokoh serta kerukunan antar umat beragama. Kita lihat bahwa banyak negara baru yang lain telah mengalami pergolakan serta konflik-konflik antar agama yang berkepanjangan.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terdapat pertentangan yang tajam antara dua konsep kenegaraan, yaitu konsep negara agama dan konsep negara nasional. Dengan Pancasila, kita telah menghindarkan perpecahan dan sejak itu, persatuan bangsa kita terwujud waktu proklamasi. Dalam sejarah India, pertentangan antara konsep negara agama dan konsep negara nasional telah menghasilkan dua dan kemudian tiga negara.

Pada perang kemerdekaan (1945 -- 1949) melawan Belanda, kita menjalankan strategi nasional yang modern yang terdiri dari kombinasi antara strategi militer yang modern dan strategi diplomasi yang modern telah menghasilkan kemenangan bagi kita dalam arti Belanda mengakui kedaulatan kita. Dalam perjuangan yang kita jalankan secara nasional dan modern antara 1945 dan 1949, kita dapat mengalahkan Belanda, sedangkan dalam peperangan-peperangan sebelum Kebangkitan Nasional 1908, yang kita jalankan secara lokal dan pramodern, kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda.

Perang Kemerdekaan itu telah meningkatkan kesadaran mengenai kesatuan dan persatuan nasional di semua golongan dan lapisan bangsa kita, termasuk di kalangan umat Kristen. Orang-orang Kristen mengambil bagian dalam Perang Kemerdekaan itu secara bahu-membahu dengan saudara-saudaranya yang menganut agama-agama lain, seperti yang kita lihat ketika kita mengunjungi Taman-taman Pahlawan di seluruh tanah air. Setelah Perang Kemerdekaan berakhir dengan pengakuan kedaulatan kita menjelang akhir tahun 1949, pada tahun 1950 pemimpin-pemimpin dari gereja-gereja di Indonesia mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dengan tujuan mendirikan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Dengan perkataan lain, para pemimpin gereja hendak mewujudkan kesatuan umat Tuhan di Indonesia dalam rangka persatuan bangsa. Tetapi kesatuan umat Tuhan itu tentu lebih luas daripada persatuan bangsa. Kesatuan umat Tuhan mencakup umat Tuhan di semua tempat dan sepanjang zaman. Kesatuan umat Tuhan yang merupakan inti dari gerakan Oikumenis bersumber pada Injil. Tuhan Yesus berdoa, "Supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21). Dengan demikian, jelas bahwa yang Oikumenis tidak dapat dipertentangkan dengan yang Injili. Yang Oikumenis adalah di dalam yang Injili dan yang Injili adalah di dalam yang Oikumenis. Baik yang Injili, maupun yang Oikumenis sama-sama bersumber pada Alkitab. Mereka dipersatukan oleh Alkitab yang satu.

Setelah pengakuan kedaulatan kita pada tahun 1950, lahirlah pula Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tahun 1954. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, lahir pula terjemahan dalam bahasa Indonesia modern, di mana terdapat kerja sama yang erat antara LAI dengan semua gereja di Indonesia, termasuk Gereja Roma Katolik. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pulalah terjemahan dalam banyak bahasa daerah dibaharui dan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa yang belum mengenal terjemahan Alkitab terus diadakan. Dalam hubungan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pula, dirasakan kebutuhan akan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa sehari-hari, agar Alkitab itu dapat lebih mudah dibaca dan dipahami di tengah-tengah kehidupan sehari-hari.

Waktu bangsa kita hidup dalam iklim revolusi selama Demokrasi Terpimpin dengan kecenderungannya untuk menuntut penyesuaian secara total dengan ketentuan-ketentuan revolusi, dalam gereja-gereja kita banyak mempelajari Roma 12:2 yang berbunyi "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna". Itulah yang melahirkan rumus yang terkenal bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah: kita mengambil bagian dalam revolusi secara positif, kreatif, kritis, dan realistis. Waktu kita memasuki era pembangunan, rumus tersebut dilanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah kita mengambil bagian dalam pembangunan secara positif, kreatif, kritis, dan realistis.

Dalam hubungan penerjemahan dengan penggunaan Alkitab dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, dapat dicatat pengalaman kita dalam rangka perjuangan untuk mengintegrasikan Irian Jaya (sekarang Papua -- Red.) ke dalam persatuan bangsa dan usaha untuk mengintegrasikan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya ke dalam persatuan umat Tuhan di Indonesia. Pada waktu itu, Belanda bekerja keras untuk memisahkan Irian Jaya dari bagian-bagian yang lain dari Indonesia, antara lain dengan mengusahakan agar Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dan rakyat di Irian Jaya umumnya, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Usaha Belanda itu telah gagal karena gereja dan rakyat di Irian Jaya tidak bersedia untuk melepaskan bahasa Indonesia dan Alkitab dalam bahasa Indonesia. Alkitab dalam bahasa Indonesia yang dibaca luas di Irian Jaya merupakan salah satu sebab yang utama bagi kegagalan upaya Belanda untuk memisahkan rakyat Irian Jaya dan untuk memisahkan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dari persatuan bangsa dan dari kesatuan umat Tuhan di Indonesia.

Kita telah mencapai kemajuan yang besar dalam proses untuk terus-menerus memperkuat persatuan bangsa antara lain dengan memantapkan Pancasila sebagai satu-satunya alas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada tahun 1985. Kita telah mencapai kemajuan dalam proses yang terus-menerus untuk membaharui, menumbuhkan, membangun, dan mempersatukan umat Tuhan antara lain dengan peningkatan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada tahun 1984. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu, penerjemahan dan penggunaan Alkitab akan terus kita tingkatkan di masa depan.

MELIHAT KE MUKA

Dalam memperingati penerbitan bagian Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu) 360 tahun yang lalu, pada satu pihak kita melihat ke belakang dengan mengucap syukur atas pekerjaan yang telah dijalankan oleh begitu banyak hamba Tuhan yang setia di masa lampau dalam menerjermahkan, menerbitkan, dan mendistribusikan Alkitab, dengan tujuan agar semua orang di Indonesia dapat membawa Alkitab dalam bahasanya sendiri, dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak.

Pada pihak lain kita melihat ke muka untuk melihat tanda-tanda zaman yang dapat membantu kita menjalankan persiapan-persiapan agar kita dapat menghadapi perkembangan di masa depan sebaik-baiknya, baik dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kita, maupun dalam kehidupan gereja-gereja kita dan demikian juga dalam kehidupan Lembaga Alkitab di Indonesia (LAI). Masyarakat, bangsa dan negara kita sedang bersiap-siap untuk menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 agar kita dapat "naik kelas" dari negara berkembang menjadi negara maju yang membangun masyarakat Pancasila yang maju, adil, makmur dan lestari, yang akan dapat memberikan sumbangan yang sebesar-besarnya dalam upaya umat manusia untuk membangun masyarakat dunia dengan berpedoman kepada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

Ilmu dan teknologi yang harus makin maju dan makin canggih akan menjadikan dunia dan juga Indonesia makin kecil dan makin bersatu. Ancaman-ancaman baru yang dapat membawa kepada kehancuran akan dihadapi, di samping peluang-peluang yang baru untuk membangun masyarakat dunia dan juga masyarakat Indonesia yang makin adil, makin damai, dan makin mampu untuk menjamin keutuhan ciptaan.

Apakah akan ada perbedaan dalam masa depan dunia dan dalam masa Indonesia tanpa atau dengan kehadiran serta partisipasi gereja? Perbedaan itu tentu ada sebab gereja telah ditempatkan oleh Tuhannya di dunia ini, termasuk di Indonesia yang menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas, sebagai "garam", "terang", dan berkat bagi semua orang. Untuk itu, gereja harus menjalankan tugasnya yang tidak berubah di semua tempat dan sepanjang zaman, seperti telah dirumuskan bersama-sama oleh gereja-gereja di Indonesia dalam Sidang Raya DGI 1984, sebagai berikut.

  1. Memberitakan Injil kepada semua makhluk (Markus 16:15).
  2. Menampakkan keesaan mereka seperti keesaan Tubuh Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh (I Korintus 12:4).
  3. Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan (Markus 10:45, Lukas 4:18, 10:25-37; Yohanes 15:16).

Dalam menjalankan tugas panggilannya tadi di tengah-tengah perkembangan dunia umumnya dan juga di tengah-tengah perkembangan Indonesia, gereja-gereja di seluruh dunia termasuk di Indonesia berbicara mengenai Kisah Para Rasul Kontemporer. Dalam Kisah Para Rasul, kita baca bahwa setelah bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa dari Roh Kudus menjadi saksi di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi, gereja purba telah keluar dari keterbatasannya semula sebagai gereja dari dan untuk orang-orang Yahudi, untuk menjadi gereja bagi semua orang dalam Kerajaan Romawi dengan tidak mengadakan diskriminasi antara Yahudi, Yunani, dan seterusnya.

Dalam menjalankan Kisah Para Rasul kontemporer di dunia umumnya dan khususnya di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, gereja-gereja di Indonesia berdoa agar mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi aksi sampai ke ujung Indonesia bahkan sampai ke ujung bumi. Untuk itu, gereja harus keluar dari berbagai bentuk keterbatasannya sehingga gereja-gereja di Indonesia itu bersama-sama menjadi gereja bagi semua orang di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas. Dalam hubungan itulah penerjemahan, penerbitan, dan distribusi Alkitab akan terus ditingkatkan agar Alkitab yang dapat dibaca oleh semua orang dalam bahasanya sendiri dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak menjadi pelita yang menerangi jalan bagi semua orang dalam hubungan peningkatan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Sumber: 

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Tantangan Gereja di Indonesia
Editor : Pusat Literatur Euangelion
Penerbit : Pusat Literatur Euangelion dan
Yayasan Penerbit Kristen Injili (YAKIN)
Judul artikel : Gereja dan Alkitab
Penulis : T.B. Simatupang
Halaman : 5 -- 14

Gereja dan Alkitab (1)

Dear e-Reformed Netters,

Salam dalam kasih,

Maaf, sudah lama saya tidak mengirim artikel ke mailbox Anda. Tapi, meskipun terlambat saya harap artikel e-Reformed tetap dinantikan.

Pada kesempatan kali ini, artikel yang sangat menarik perhatian saya untuk dibagikan kepada Anda adalah tulisan dari T.B. Simatupang, seorang teolog Indonesia yang memiliki pemikiran yang sangat tajam dan pengetahuan yang sangat kaya tentang sejarah keadaan perkembangan gereja dan kekristenan di Indonesia. Artikel ini dipersembahkan sebagai salah satu tulisan bunga rampai dalam rangka peringatan 25 tahun kependetaan Caleb Tong. Silakan menyimak. Jika Anda adalah seorang yang memiliki keprihatinan besar tentang perkembangan kekristenan di Indonesia, saya yakin Anda akan sangat menghargai artikel yang ditulis oleh beliau ini.

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam dalam kasih,

Maaf, sudah lama saya tidak mengirim artikel ke mailbox Anda. Tapi, meskipun terlambat saya harap artikel e-Reformed tetap dinantikan.

Pada kesempatan kali ini, artikel yang sangat menarik perhatian saya untuk dibagikan kepada Anda adalah tulisan dari T.B. Simatupang, seorang teolog Indonesia yang memiliki pemikiran yang sangat tajam dan pengetahuan yang sangat kaya tentang sejarah keadaan perkembangan gereja dan kekristenan di Indonesia. Artikel ini dipersembahkan sebagai salah satu tulisan bunga rampai dalam rangka peringatan 25 tahun kependetaan Caleb Tong. Silakan menyimak. Jika Anda adalah seorang yang memiliki keprihatinan besar tentang perkembangan kekristenan di Indonesia, saya yakin Anda akan sangat menghargai artikel yang ditulis oleh beliau ini.

Jarang saya mendapati karya tulis pemikir Kristen Indonesia yang berbicara tentang sejarah atau tentang kekristenan, tapi ditulis dengan bahasa yang sederhana, jelas, "to the point" (tidak bertele-tele) dan elegan tanpa harus membubuhinya dengan istilah-istilah asing yang justru memberati kepala. Jika Anda membaca tulisan beliau dengan perlahan-lahan, sambil menikmati, tapi dengan perhatian dan konsentrasi yang penuh, Anda serasa sedang mendengarkan seorang tetua, yang sudah makan banyak asam garam kehidupan, sedang bercerita kilas balik tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau. Nah, jika Anda bisa sampai pada taraf ini, Anda sudah menemukan seting yang tepat untuk memikirkan secara lebih dalam pemikiran-pemikiran yang beliau sampaikan dalam tulisan ini.

Saya sempat membaca tulisan beliau ini beberapa kali. Setiap kali selesai membaca, perasaan nasionalis saya seperti dibangkitkan lagi. Sejarah kekristenan di Indonesia, dan juga sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia, seharusnya tidak dianggap "biasa". Sering kita memiliki sikap "take it for granted" dan membiarkan "spiritual treasure" ini dianggap sebagai hal yang sudah sepantasnya terjadi. Alangkah bodohnya kita! Kemutlakkan campur tangan Allah dalam setiap peristiwa sejarah, termasuk di Indonesia, seharusnya membuat kita tak hentinya berkata, "Wow ..., Tuhan itu luar biasa!" Menghargai intervensi Allah membuat kita mengerti bahwa hidup bukan sekadar hidup, tapi hidup adalah anugerah Tuhan. Karena itu, mari kita berjalan di dalam kehendak dan rencana-Nya.

In Christ,
Yulia

< yulia(at)in-christ.net >

NB:
Sekadar pemberitahuan bagi Anda yang ingin bersurat ke saya, mohon tidak mengirimkannya ke alamat Lyris (atau dengan kata lain, jangan tekan "reply") karena surat Anda akan menuju ke mesin pengirim, tapi tidak akan sampai kepada saya. Untuk menulis ke saya tujukan surat Anda ke alamat < yulia(at)in-christ.net >, saya akan membalas surat Anda.

Penulis: 
T.B. Simatupang
Edisi: 
086/IV/2007
Isi: 

Catatan:
Karena artikel ini cukup panjang, saya membaginya menjadi dua bagian dan akan dikirimkan dalam surat terpisah. Jika karena satu dan lain hal Anda hanya mendapatkan satu bagian saja, mohon menghubungi saya untuk meminta bagian yang lain. Terima kasih.

GEREJA DAN ALKITAB (1)
Sejarah perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia
Oleh: T.B. SIMATUPANG

U M U M

Apabila kita percaya dan yakin bahwa Alkitab adalah firman Allah yang harus disampaikan kepada semua bangsa dan yang harus dapat dibaca setiap orang, tentu dengan sendirinya kita menyadari keharusan untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa dari berbagai bangsa. Sebab tidaklah realistis untuk menuntut agar setiap orang yang hendak membaca Alkitab harus terlebih dahulu mempelajari bahasa-bahasa asli di mana Aklkitab ditulis. Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Baru, andaikata Perjanjian Baru itu hanya dapat dibaca dalam bahasa Yunani? Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Lama, andaikata Perjanjian Lama itu hanya dapat dibaca dalam bahasa Ibrani?

Tidak pernah ada semacam "larangan" untuk menerjemahkan Alkitab ke semua bahasa yang ada di dunia ini. Apabila Alkitab hendak disampaikan kepada semua bangsa, justru terdapat keharusan dan bukan "larangan" untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa dari semua bangsa. Dalam hal penerjemahan Kitab Suci terdapat perbedaan pandangan antara agama Kristen dengan beberapa agama lain. Upaya penerjemahan terhadap apa yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Lama telah dimulai sebelum Kristus lahir. Di antara orang-orang Yahudi yang hidup di perantauan (diaspora) banyak yang tidak memahami bahasa Ibrani. Oleh sebab itu, dalam abad ke-2 sebelum Kristus telah ada terjemahan dari Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, yaitu bahasa yang pada waktu itu paling luas tersebar di semua kalangan dan di semua bangsa di kawasan sekitar Laut Tengah. Itulah sebabnya, Perjanjian Baru kemudian ditulis dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu, posisi bahasa Yunani di Kerajaan Roma kurang lebih sama dengan posisi bahasa Indonesia dalam Republik Indonesia kita sekarang ini.

Pada hari pencurahan Roh Kudus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa yang berkumpul di Yerusalem mendengar rasul-rasul berkata dalam bahasa mereka. Sejak itu, dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8), untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan (Matius 28:19), Alkitab mulai diterjemahkan satu per satu ke bahasa-bahasa dari berbagai bangsa agar semua orang dapat membacanya dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa mereka sendiri berarti bahasa mereka sehari-hari, bukan bahasa dari bangsa atau suku sendiri. Apabila yang dimaksud ialah bahasa dari bangsa atau suku sendiri, maka Perjanjian Lama tidak pernah akan diterjermahkan dari bahasa lbrani ke bahasa Yunani seperti yang terjadi pada abad ke-2 sebelum Kristus.

Menerjemahkan sebuah buku dari suatu bahasa ke bahasa lain berarti mengusahakan agar terjemahan itu pada satu pihak setia kepada isi dari buku dalam bahasa asli dan pada pihak lain agar terjemahan itu dapat dibaca dengan jelas dalam bahasa yang ke dalamnya buku asli itu diterjemahkan. Tidak selalu mudah untuk menjunjung tinggi segi kesetiaan dan segi kejelasan ini secara serentak. Terjemahan yang setia sering tidak jelas, sedangkan terjemahan yang jelas sering tidak setia. Oleh sebab itu, menerjemahkan buku selalu merupakan pekerjaan yang berat. Menerjemahkan Alkitab lebih berat lagi. Sebab menerjemahkan Alkitab berarti menerjemahkan firman Allah ke bahasa-bahasa yang belum mengenal firman Allah dan oleh sebab itu, tidak mengenal kata-kata serta pengertian-pengertian yang diperlukan untuk mengungkapkan firman Allah itu. Oleh sebab itu, sering harus dikembangkan atau dipinjam kata-kata yang bersifat baru bagi bahasa yang bersangkutan.

Sering kali Alkitab harus diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal aksara. Sering pula terjadi bahwa terjemahan Alkitab memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan suatu bahasa bahkan perkembangan suatu bangsa. Oleh karena Alkitab merupakan buku yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang ada di dunia ini, pada umumnya dapat kita katakan bahwa terjemahan-terjemahan Alkitab telah memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan peradaban umat manusia pada umumnya.


Terjemahan Alkitab di Eropa, baik di Eropa Barat, maupun di Eropa Timur, dijalankan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal agama-agama "tinggi", yaitu agama-agama yang memiliki sistem pemikiran keagamaan yang berada pada tahap perkembangan yang tinggi, seperti kemudian terjadi waktu Alkitab diterjemahkan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa di Asia. Di antara bahasa-bahasa di Asia banyak yang telah lama dipengaruhi oleh sistem pemikiran dari agama-agama "tinggi", yaitu agama Islam, Hindu, atau Budha.

Di Eropa Barat terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgata memunyai pengaruh yang sangat luas. Di Eropa Timur yang sangat terkenal ialah terjemahan oleh Cyrillus dan Methodius, yang sekaligus mengembangkan aksara yang baru untuk bahasa Slavonik, yang disebut aksara "cyrilik". Orang-orang Rusia, Serbia, dan Bulgaria masih menggunakan terjemahan dalam bahasa Slovonik kuno dalam kebaktian-kebaktian mereka.

Setelah Reformasi, terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman (terjemahan oleh Martin Luther), dalam Bahasa Belanda (Statenvertaling), dan dalam Bahasa Inggris (Standard Version) telah memunyai pengaruh yang besar dan luas dalam perkembangan dari bahasa-bahasa dan perkembangan dari bangsa-bangsa yang bersangkutan. Sebab sebagai akibat dari Reformasi, Alkitab menjadi buku yang dibaca secara luas di kalangan rakyat.

Waktu saya menghadiri Sidang Raya Persekutuan Lembaga-Lembaga Alkitab Sedunia di Budapest pada tahun 1988, saya mendengar bahwa di negara komunis, Hongaria, Alkitab masih tetap dipelajari di sekolah-sekolah pemerintah sebagai buku yang memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan bahasa dan kebudayaan Hongaria.

Di Mesir sendiri, Alkitab dalam bahasa Koptik telah melestarikan bahasa itu sejak bahasa Arab menjadi bahasa umum di Mesir setelah negeri itu dikuasai oleh pasukan-pasukan Arab yang menegakkan agama Islam dan bahasa Arab di sana.

Dalam upaya pekabaran Injil "sampai ke ujung Bumi", Alkitab telah diterjemahkan ke beratus-ratus bahasa di Asia dan di Afrika. Seperti telah kita singgung tadi, dalam pertemuan antara Injil dan bangsa-bangsa di Asia, Alkitab diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang telah memiliki aksara dan yang telah banyak dipengaruhi oleh sistem pemikiran agama-agama Hindu, Budha, dan Islam. Terjemahan-terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori pertama. Selain itu, dalam rangka pelebaran Injil itu, Injil juga bertemu dengan peradaban-peradaban suku-suku yang terkait dengan agama suku. Banyak di antara suku-suku itu belum memiliki aksara sehingga Alkitab merupakan buku pertama yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang bersangkutan. Terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori kedua. Menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang temasuk dalam kategori yang pertama dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang termasuk kategori yang kedua, tentu menghadapkan penerjemah dengan masalah-masalah yang memunyai sifat-sifat tersendiri.

Dalam rangka gerakan Oikumenis yang telah berkembang sejak awal abad ke-20 untuk menampakkan kesatuan umat Tuhan di dunia pada umumnya dan demikian juga di masing-masing negara, sebagai kesaksian di hadapan dunia, sesuai dengan firman yang berbunyi "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21), Alkitab telah menjadi salah satu faktor pemersatu yang utama di antara gereja-gereja yang memunyai tradisi yang berbeda-beda, seperti gereja-gereja Reformasi, gereja-gereja Ortodoks, dan gereja-gereja Roma Katolik.

Umat Tuhan di semua tempat dan zaman tidak hanya dipersatukan oleh "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua" (Efesus 4:5-6), tetapi juga oleh satu Alkitab. Dengan latar belakang yang bersifat umum tadi, sekarang klta akan mengemukakan beberapa catatan mengenai "Perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia".

PERTEMUAN INJIL DENGAN INDONESIA

"Perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia" kita tempatkan dalam rangka pertemuan Injil dengan Indonesia. Dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi, pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah barat. Pada pihak lain ada juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah barat itu kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul. Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab. Perjalanan Injil ke arah timur itu hanya kita ketahui dari sejarah saja. Catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah timur ini pun sangat sedikit. Lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.

Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan Alkitab untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.

Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah barat, ke Eropa, dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.

Dalam hubungan itu baiklah kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak memunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia Barat.

Pada waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.

(Bersambung ke bagian ke-2, yang dikirim dalam surat terpisah.)

Sumber: 

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Tantangan Gereja di Indonesia
Editor : Pusat Literatur Euangelion
Penerbit : Pusat Literatur Euangelion dan Yayasan Penerbit Kristen Injili
(YAKIN)
Judul artikel : Gereja dan Alkitab
Penulis : T.B. Simatupang
Halaman : 1 -- 5

Anatomi Kepercayaan Dan Iman: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (2)

Dear e-Reformed netters,

Artikel berikut ini adalah sambungan dari artikel yang diterbitkan di Edisi e-Reformed sebelumnya. Jika Anda belum menerima edisi sebelumnya tersebut, silakan menghubungi saya.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Artikel berikut ini adalah sambungan dari artikel yang diterbitkan di Edisi e-Reformed sebelumnya. Jika Anda belum menerima edisi sebelumnya tersebut, silakan menghubungi saya.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Penulis: 
Joseph Tong, Ph.D.
Edisi: 
082/II/2007
Isi: 

ANATOMI KEPERCAYAAN DAN IMAN: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (1)

MAKNA DAN DAMPAK IMAN

Berbicara dari sudut pandang teologis, iman berarti komitmen total dan memercayakan diri dalam Kebenaran dan memiliki hidup persekutuan dengan Allah sejati yang Esa -- sebuah perpalingan ontologikal kembali kepada Sang Pencipta. Perpalingan kembali ini tidak boleh dimengerti dalam pola pikir struktur pantheistik atau panentheistik, perpalingan kembali ke asal, seperti dalam praktik-praktik kontemplatif para-religius, kembali kepada sifat ketuhanan di dalam. Tidak juga boleh dimengerti sebagai kemampuan mencapai Firman untuk menjadi seperti Tuhan, atau untuk menjadi Tuhan. Sebaliknya, ini adalah sebuah perpalingan kembali yang asasi kepada Allah dalam konteks keselamatan kristiani. Pengertian yang benar akan kekristenan adalah bahwa Kristus adalah Firman yang menjadi daging supaya kita menjadi manusia, bukan menjadi allah. Sewaktu kita kembali kepada Allah, kita menjadi anak-anak Allah. Iman kita di dalam Kristus menghasilkan kepastian dan jaminan di dalam diri kita dengan cara-cara berikut ini dalam pengertian akan realitas:

Kepastian akan Kebaikan dan Kesempurnaan Allah

Masalah kejahatan dalam filsafat hanya dapat dijelaskan dalam konteks iman kristiani, di mana iman menyediakan pembacaan dan interpretasi yang benar akan realitas secara keseluruhan. Tanpa iman dan kepercayaan kepada Firman Allah, tidak akan ada makna bagi keberadaan apa pun. Iman kita dalam Kristus memberikan jaminan kepada kita akan kepastian kebaikan, sekaligus meyakinkan bahwa kejahatan adalah kesia-siaan. Dalam kekristenan, kejahatan tidak memiliki keberadaan yang nyata. Sebenarnya, kejahatan bukanlah lawan dari kebaikan, tetapi ketiadaan atau miskinnya kebaikan. Karya dan tindakan dari Allah yang sempurna selalu baik. Kebaikan seperti itu adalah fondasi dari semua kebaikan. Oleh karena itu, dalam iman, apa yang kita miliki dan apa yang kita alami adalah baik sempurna. Kesempurnaan seperti itu menjadi lengkap dan menjadi subjek pujian dalam keselamatan di dalam Yesus Kristus bagi anak-anak-Nya yang ditebus.

Adalah benar bahwa kehidupan di dunia ini penuh kesulitan, penderitaan, dan tragedi. Akan tetapi, bagi orang beriman, hidup itu penuh dengan anugerah dan hal-hal yang menyenangkan. Sebagaimana terang menjadi lebih cemerlang dalam kegelapan, kebaikan menjadi lebih manis di tengah-tengah kepahitan, begitu pula hidup kita lebih bermakna di dalam kesulitan, kesedihan dan penderitaan. Bagi mereka yang memiliki iman, segala sesuatu bekerja bersama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil oleh Allah (Roma 8:28). Dalam imanlah kita melihat keindahan ciptaan, pemeliharaan dan penebusan Allah.

Jaminan akan Makna dan Nilai yang Sejati

Dalam psikologi sosial dan ekonomi, nilai selalu mengikuti harga sedemikian rupa sehingga nilai dapat diciptakan oleh harga. Makna kemudian mengikuti. Oleh karena itu, selama seseorang berani untuk membayar harganya, walaupun mungkin tidak ada pasaran untuk sementara waktu, tetapi bila ia dapat bertahan cukup lama dan berani untuk melipatgandakannya dengan propaganda dan promosi yang baik, orang lain pastinya akan menerima nilai dalam harga tersebut, atau harga yang mereka bayar. Dalam perilaku seperti itu, harga menentukan pasar, dan lebih lanjut lagi, nilai dibentuk ketika harga dibayar. Manusia bahkan akan berpikir bahwa makna yang benar sejalan dengan harga. Walaupun kenyataannya tidak sesederhana itu, akan tetapi, seperti inilah tepatnya bagaimana struktur nilai dalam pola pikir modern berjalan pada saat ini. Kebanyakan orang tidak lagi tertarik dalam mencari makna dan nilai. Inilah penyebab utama dari kerusakan moral pada saat ini: Deskripsi yang murni dari manusia yang tidak mempunyai iman.

Secara teologis, maknalah yang menentukan nilai. Intisari dari makna tidak ditemukan dalam pembacaan dan interpretasi kenyataan, tetapi dalam relasi dan kesatuan antara makna tersebut dengan kebenaran dari kenyataan secara keseluruhan. Kebenaran adalah dasar dari semua makna. Sebenarnya, masalah kita bukanlah bahwa kita menyangkal kenyataan bahwa kebenaran ada, tetapi dalam asumsi kita bahwa kebenaran perlu dimengerti sebagai sesuatu yang nyata dan bermakna. Inilah tepatnya alasan kebanyakan orang menganggap pembacaan dan interpretasi kenyataan sebagai realitas dan kebenaran, meyakini bahwa tanpa pembacaan dan interpretasi, fakta, realitas dan kebenaran tidak memiliki makna dan oleh karena itu tidak memiliki nilai.

Asumsi seperti itu menegaskan bahwa kebenaran adalah murni keberadaan yang pasif. Ini adalah asumsi yang salah. Oleh karena pembacaan dan interpretasi harus dimulai dengan beberapa pendirian dan mengasumsikan dasar-dasar tertentu, yang tanpanya tidak mungkin ada komunikasi. Oleh sebab itu, dapat dicatat bahwa kebenaran tidaklah pasif. Sebaliknya kebenaran harus aktif. Seseorang yang membaca, memahami, dan menginterpretasikan, harus mengambil peran sebagai peran pembantu. Aktor utamanya, dalam hal ini, adalah Kebenaran itu sendiri atau pemberi Kebenaran. Iman hanyalah sebuah agen dalam proses tersebut.

Dalam teologi, kita menganggap iman adalah sesuatu yang dianugerahkan Allah oleh kemurahan-Nya di dalam hati manusia, yang memampukannya untuk membuat tanggapan yang sepatutnya pada saat kebenaran dinyatakan. Iman membuka pikiran manusia untuk menerima wahyu Allah dan berserah kepada Kebenaran, mengenal Kebenaran, menyatakan makna, menegaskan nilai dan mempertandingkan keberadaan kita. Secara sederhana, iman yang sejati membawa kita kepada pengertian yang jelas akan makna, merasakan nilainya, dan menikmati keberadaan kita. Tanpa iman, makna menghilang, nilai terlepas, dan keberadaan dipenuhi dengan kecemasan dan tekanan. Ini menjawab pertanyaan mengapa orang yang tidak beriman selalu hidup dalam kesia-siaan dan berkeluh tanpa harapan.

Kepastian akan Kenikmatan dari Keberadaan

Dalam penciptaan, keberadaan adalah sebuah keharusan ontological. Seperti itu, keberadaan menjadi tidak ada rasanya, tidak bermakna, membuat kita putus asa. Secara filosofis, selain Allah yang membuat keberadaan-Nya sendiri, segala sesuatu penuh keterbatasan. Oleh karena itu, jikalau tidak ada iman, tidak ada suatu apa pun dapat dinikmati. Keberadan tanpa iman menghasilkan ketidakberdayaan dan membawa keputusasaan, frustasi dan kebosanan. Iman membawa kita untuk merasakan kenikmatan dari kehidupan. Inilah tepatnya mengapa Paulus dapat berkata; Aku hidup oleh karena iman di dalam Anak Allah.

Bagi orang Kristen, karena kita percaya dalam Kristus dan mengambil bagian dalam sifat Allah, kita pastinya mengalami kebesaran dan kebaikan Allah, dan juga Allah sendiri, dalam keberadaan kita. Augustine pernah berkata, Allah memberikan segala sesuatu bagi kita untuk digunakan (uti) sehingga kita dapat menikmati (frui) Allah. Dalam pengertian seperti itu, walaupun kita harus melalui pencobaan-pencobaan Ayub, kita masih dapat bersukacita dalam penderitaan, seperti Ayub menyatakan bahwa: "Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan." (Ayub 1:21). Oleh karena itu, sekalipun Ia membunuhku, aku akan tetap percaya kepada-Nya. Iman membawa kita untuk merasakan anugerah-Nya dan Diri-Nya sendiri, membuat kita tidak hanya bersuka dalam kehadiran Allah, tetapi juga bersuka di dalam Tuhan. (Ibrani 11:6; Roma 5:11).

Puncak Kepercayaan dan Iman dalam Tindakan

Bagi kebanyakan orang, iman adalah suatu alat untuk mencapai atau menegaskan anugerah Allah. Hal ini benar hanya dalam pandangan pengertian religius akan iman. Secara teologis, iman bukanlah suatu alat; melainkan iman adalah suatu keadaan hati dan jiwa sebagai kepercayaan dan komitmen yang total kepada Allah. Kata "fiducia" dalam teologi mengandung banyak makna yang dalam. Kadang kala disebut "fiducia cordis" sebagai hati dan inti dari iman. Dalam bagian penggunaannya sepanjang sejarah Gereja, kata itu tampaknya kehilangan maksud dan maknanya seiring berlalunya waktu. Gereja secara bertahap telah bergeser dari penekanannya pada aspek percaya seperti yang dituntut oleh objek yang kita percayai, kepada aspek-aspek percaya tertentu dari seseorang yang percaya. Bergeser dari penekanan teosentris kepada penekanan antroposentris, dari teologi ke antropologi.

Bagi manusia, perwujudan kepercayaan dan iman adalah tindakan dan perilaku yang baik, secara umum dikenal sebagai pembenaran di hadapan manusia dan dipuji oleh orang lain. Karena Allah tidak memerhatikan penampilan, Allah tidak perlu untuk mendasarkan pembenarannya pada perbuatan baik manusia. Oleh karena itu, walaupun iman selalu didukung oleh perbuatan baik, tetapi iman dalam ciri-cirinya sendiri adalah perbuatan baik dihadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Inilah mengapa iman kadang-kadang disebut tindakan baik semata. (Lihat Lukas 12:8). Iman adalah tindakan kepada Allah dan di hadapan Allah. Inilah mengapa Allah membenarkan manusia karena imannya bukan perbuatannya. Dengan kata-kata biasa, karena iman adalah percaya dalam Allah, percaya adalah penyerahan diri yang total kepada Allah, seperti Paulus menyatakan bahwa kita dapat percaya pada-Nya dan juga menderita bagi-Nya. (Filipi 1:29).

Sisa makalah ini akan mendedikasikan dirinya pada penjelasan mengenai iman dalam arti "fiducia", dimana teologi Kristen menjelaskan lebih lanjut maknanya dalam istilah-istilah "iman yang takut" (apprehensio fiducialis); "iman inti atau hati yang percaya" (fiducia cordis), dan "kebaikan iman atau tindakan iman" (actus fidei).

Aspek-aspek yang Takut dari Iman

Apa yang kita maksud dengan iman yang takut adalah hasil dari tindakan dan pekerjaan yang mulia dari Roh Kudus, membuat manusia mampu mengamati dan memahami anugerah, karya, dan kehendak sempurna dari Allah dalam tindakan-Nya. Dengan kata lain, dalam iman yang takut, pikiran manusia ditangkap oleh Firman Allah. Karenanya, dia akan sepenuhnya mengerti dalam pengetahuan dan penyerahan kepada Allah dan Firman-Nya yang dinyatakan, dan dengan rela menerima penghakiman dan pengampunan-Nya.

Seperti Abraham, dia percaya apa yang telah Allah janjikan, dan Allah menganggap hal ini sebagai kebajikan-Nya. Inilah dasar dari iman kristiani, tantangan dan pencobaan yang utama yang dihadapi orang-orang Kristen saat ini. Pemazmur berkata, apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu? (Mazmur 11:2). Inilah tepatnya dimana penyakit-penyakit Gereja modern dan teologi modern dihasilkan. Baru-baru ini, banyak usaha didedikasikan pada diskusi-diskusi dan rekonstruksi teologi kristiani, mengabaikan fakta bahwa kita telah meragukan dasar iman kita dan mencoba untuk menggantikan Allah dengan nama-nama yang lain. (Mazmur 16:4). Ini adalah sebuah tanda yang nyata akan kurangnya iman yang takut. Usaha seperti itu dianggap gagal, karena bibit kerusakan ditanam pada saat itu bahkan sebelum usaha itu memulai rekonstruksi.

Iman yang sejati memahami kehadiran Allah dan kebesaran Allah, bahkan sebuah pengertian akan membawa kita pada pengalaman dari Yusuf muda yang pernah berkata, "Bagaimana bisa aku melakukan dosa yang begitu besar terhadap Allah! Bahkan ketika tak seorangpun tahu!"

Iman Inti atau Hati yang Percaya

Kata "cordis fiducia" mengandung dua arti: 1) sebagai sebuah indikasi bahwa tempat iman adalah dalam hati manusia, dan 2) bahwa inti dari iman adalah ketika hati menyatu dengan iman mengarahkan diri pada Kebenaran. Hal yang terakhir menunjuk pada fakta bahwa iman senantiasa melampaui intelektual dan ia berada pada jiwa yakni bagian utama dari eksistensi manusia. "Cordis fiduca" menentukan religiusitas manusia dan hubungannya dengan Allah. Hal yang terakhir itu mengacu pada fakta bahwa jiwa memiliki kemampuan mengasihi, memerhatikan, dan melekatkan diri pada Allah dan firman-Nya.

Secara harafiah dapat dikatakan bahwa kemampuan mengasihi dan memberi penghargaan adalah dua hal yang berbeda. Kasih cenderung lebih nyata sedangkan penghargaan berbentuk konkret. Keduanya adalah tanda dari sebuah kondisi dari perasaan dan karya yang benar sebagai suatu ungkapan dari sikapnya terhadap obyek dari keyakinan dan kasihnya. Iman yang sejati mengungkapkan diri sendiri dalam hati dan lewat ucapan. Hati dan ucapan berjalan seiring memercayai dan mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan (Rm. 10:9-10). Iman yang sejati lebih dari sekedar itu, ia tidak akan pernah malu pada injil Yesus Kristus (Rm. 1:16; Mrk. 8:38-39).

Dalam konteks pastoral, iman mengandung aspek mistik dan keajaiban. Iman membawa seseorang yang percaya dalam keberadaan tertawan, sehingga orang itu tidak dapat menahan diri untuk bersaksi di depan umum ataupun menolak dorongan untuk memproklamirkan nama Kristus dan memuliakan-Nya. Sesungguhnya, orang itu begitu bangga menjadi miliki Allah.

Dari zaman ke zaman, kita telah menyaksikan bahwa walaupun memercayai Yesus adalah hal spiritual dan pribadi, namun sejauh kaitannya dengan iman, sekali orang mengakui imannya pada Kristus (?). Dia tidak akan ragu untuk memproklamirkannya di depan umum sekalipun ia harus membayar harga dengan nyawanya sendiri. Bagi orang lain, seorang yang sudah percaya tidaklah perlu begitu offensif. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa orang percaya meyakini dan berdoa secara diam-diam sendiri. Namun bagi orang percaya sejati, iman mereka membara sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain melakukan sesuatu. Seperti Maria dari Betania, orang percaya yang sejati akan menghancurkan kendi minyak narwastu untuk mengurapi kaki Tuhan, meresikokan dirinya diserang oleh kritik tajam dan kecaman orang lain. Hal ini merupakan ekspresi dari penghargaan yang terbaik. Iman yang sejati tidaklah dapat diungkapkan sepenuhnya. Iman sejati dapat memperlihatkan dorongan yang dashyat, yang mampu memindahkan gunung dan membelah lautan. Iman sejati seperti api yang menghanguskan dan seperti air yang tiada henti menetes melubangi batu kerikil yang tebal. Semua hal ini merupakan penjelasan tentang iman, keyakinan yang dirasakan oleh hati.

Kebajikan atau Tindakan Iman

Sebagaimana kita diskusikan dalam tulisan ini, iman sejati tidaklah membutuhkan perbuatan untuk membuktikannya. Iman sejati sebaliknya merupakan perbuatan itu sendiri di hadapan Allah dan diterima oleh Allah. Teologi merujuk kebenaran ini sebagai kebajikan iman atau tindakan iman. Mengikuti Paulus, gereja tradisional menyakini iman, pengharapan, dan kasih sebagai tiga pilar utama dari keutamaan Kristen. Kebajikan iman, dipahami secara umum sebagai hal yang paling jelas di antara ketiganya. Sekalipun demikian, secara ontologis, iman sesungguhnya merupakan sebuah kesadaran diri yang jelas mengenai kehadiran ilahi yang menuntut sebuah ketertundukan total dan komitmen pada Allah dan firman-Nya. Penjelasan berikut ini memberikan gambaran mengenai tindakan iman sebagai kebajikan moral.

IMAN DALAM KOMITMEN

Komitmen merupakan sebuah tindakan sukarela alami dari seorang yang sudah diyakini oleh Kebenaran. Hal ini membawa kita pada beberapa pertanyaan teologis, sejauh pembahasan dalam konteks iman dan komitmen, apakah iman adalah hasil dari kemampuan subyektif manusia, "habitus fidei", ataukah hasil dari anugerah Allah, yang memampukan orang itu untuk secara total menyerahkan dirinya di hadapan Allah? Jika iman adalah inisiatif ilahi, maka apa yang seorang manusia lakukan hanyalah mempraktikkan hak istimewa yang diberikan oleh Allah saat ia berkonfrontasi dengan wahyu ilahi. Manusia tidaklah memiliki pilihan lain selain daripada respons yang sewajarnya kepada panggilan Allah. Berbicara dalam terang keyakinan Reformed, komitmen iman bukanlah usaha manusia, sebaliknya, iman adalah anugerah Allah. Dan dengan demikian, keutamaan iman merupakan pekerjaan Allah itu sendiri. Jelas tidak ada kontribusi manusia sama sekali. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi manusia untuk mengakui bahwa iman itu miliknya. Iman itu ada karena Allah bersedia tinggal di dalam manusia. Sebagaimana pepohonan dihanyutkan oleh banjir badang, demikianlah manusia disandera oleh Allah dan oleh kasih-Nya. Oleh sebab itu, komitmen penulis adalah agar kita dapat tinggal tenang seperti anak yang terlelap, sepenuhnya menyerahkan diri di atas pangkuan sang ibu. Dan hal ini merupakan tanda dari iman yang sejati yang membawa ucapan syukur dan pujian dalam diri kita. Orang yang memiliki iman tidaklah pernah menyombongkan diri, dia lebih memilih untuk berkomitmen total dan hanya bersedia berbicara hal yang besar mengenai Kristus yang tersalib (1Kor. 2:1-5).

IMAN DALAM KETERTUNDUKAN DAN KETAATAN

Iman dan ketaatan tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan ekspresi konkret dari keyakinan terhadap Kristus. Secara teologis, lawan dari iman bukanlah ketidakpercayaan, ataupun keragu-raguan melainkan kesombongan dan ketidaktaatan. Kejatuhan dari Adam dan Hawa, dan seluruh tokoh Alkitab merujuk pada fakta bahwa mereka terlalu sombong dan tidak taat. Alkitab menyatakan bahwa kesombongan mendahului kehancuran. Langkah pertama dari iman yang sejati adalah penyangkalan dan penyerahan diri dalam rangka mengikut Tuhan. Ketaatan dalam iman melibatkan hal berikut:

Pengetahuan akan Allah

Mengenal kedaulatan dan kemuliaan Allah. Keberadaan kita amat bergantung pada diri-Nya. Bagaimana kita dapat mempertanyakan Allah dan meragukan diri-Nya, dan firman-Nya? Pemazmur pernah mengatakan, "Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak" (Mzm. 39:10). Demikian juga kita mendengar pemilik kebun anggur berkata. "Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? (Mat. 20:15) Apakah yang dapat kita lakukan selain berkata "Aku hanya hamba Allah, lakukanlah sebagaimana yang Engkau kehendaki." Ketika Anak Allah datang ke dunia ini, Dia sengaja mengosongkan diri dan merendahkan diri. Mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Saat menjadi seorang manusia, Ia merendahkan diri sedemikian rupa dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib! (Fil. 2:6-8). Dia bahkan tetap taat saat menderita (Ibr. 5:8). Jika kita pernah mengenal Allah, mengapa kita tidak merendahkan diri dan secara penuh merendahkan diri kepada Tuan kita?

Pengetahuan akan Diri Sendiri

Dalam kenyataannya, kita sering membandingkan diri kita pada yang lain. Dengan berbuat demikian, kita akan terjebak di dalam kealpaan terhadap diri, posisi dan pendirian kita sendiri. Sesungguhnya, sebagian besar orang tidaklah puas terhadap hak istimewa yang mereka miliki. Hal ini merupakan hasil dari kealpaan kita terhadap fakta bahwa kita merupakan anggota keluarga sorgawi dan dunia (Ef. 3:15). Saat Petrus masih berpikir banyak mengenai nasib yang akan menimpa Yohanes, Yesus menjawab apa yang harus kamu lakukan adalah mengikuti Aku (Yoh. 21:22).

Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagian dan piala bagi kita; Dia menjaga harta benda kita agar tetap aman. Sebagaimana Pemazmur mengungkapkan "Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya milik pusakaku menyenangkan hatiku." (Mzm. 16:6-8). Oleh sebab itu, mari kita berdiam dan menenangkan diri dan ketahuilah bahwa ialah Allah (Mzm. 46:10). Mari kita dengar perkataan-Nya pada Daniel, "Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapatkan bagianmu pada kesudahan zaman" (Dan. 12:13). Tunduklah pada rencana dan pengaturan-Nya. Lakukan hal terbaik untuk tetap menaati-Nya. Karena Dialah bagian dari warisan dan piala kita (Mzm. 16:5). Jika Anda memiliki iman, akuilah dan puaslah dengan keadaanmu saat ini -- inilah tanda dari pengetahuan yang benar mengenai diri sendiri.

Pengetahuan akan Otoritas

Takut akan orang yang memiliki kuasa merupakan sebuah praktik yang wajar. Oleh sebab itu, otoritas dan kuasa telah menjadi tempat dimana orang mudah untuk menunjukkan ketaatan. Ketakutan jenis ini merupakan hasil dari ketidaktahuan akan otoritas yang sebenarnya. Ketaatan yang sejati menyerahkan diri pada otoritas yang tidak mengenal ketakutan. Otoritas itu adalah buah dari iman yang sejati. Di dalam otoritas seperti ini, kasih dimungkinkan untuk bertumbuh.

Kita percaya dan taat pada Kristus bukan karena kita takut pada-Nya namun karena kita terpaku oleh kedashyatan kasih Allah, dan oleh karenanya kita mengasihi Allah. Dalam konteks ini, ketaatan dan ketertundukan bukan lagi persoalan intelektual dan pemahaman sensasional, melainkan sebuah dorongan dari jiwa menuju pemenuhan. Oleh sebab itu, kita menjadikan hal menyenangkan hati Allah sebagai tujuan hidup kita (2Kor. 5:9). Sekalipun kita tidak pernah melihat Dia, kita mengasihi Dia. Dan sekalipun kita tidak melihat Dia saat ini, kita percaya pada-Nya dan hati kita dipenuhi oleh sukacita yang tidak dapat diungkapkan, karena kita telah menerima tujuan dari iman kita, yakni keselamatan dari jiwa ini (1Pet. 1:8-9). Klarifikasi dari pemahaman kita akan otoritas akan selalu menghasilkan ketaatan batiniah dalam diri kita.

IMAN DAN HAL MENGIKUT YESUS

Apa yang Kristus inginkan dari para pengikut-Nya adalah usaha menyangkal diri mereka sendiri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Orang yang percaya pada Allah, akan mengikut Allah. Hal ini memerlukan iman. Yohanes, murid yang dikasihi Kristus menyatakan bahwa orang yang mengikut Kristus adalah mereka yang menaati firman-Nya, di mana kasih Allah sungguh sempurna berada dalam diri mereka ... sebab barangsiapa yang berkata ia hidup di dalam Dia haruslah ia melakukan apa yang Yesus lakukan (1Yoh. 2:5-6).

Pesan terakhir Kristus kepada para murid-Nya hampir sama dengan ungkapan di atas, Dia berkata: "sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya" (Yoh. 13:15-17). Mengikuti Kristus adalah salah satu karakteristik yang terpenting dari menjadi seorang Kristen. Jika iman didirikan di atas dasar Firman Allah, maka hasilnya adalah kasih terhadap Allah dan meneladani hidup Kristus. Dokumen dan warisan literatur pada masa Abad Pertengahan mengindikasikan bahwa para orang-orang kudus mewariskan praktik hidup yang meneladani Kristus. Mereka mengikut Tuhan secara konstan dan konsisten. Dibandingkan dengan hidup kita hari ini, patutlah kita menjadi malu, karena walaupun kita mengakui telah mengenal Kristus dan memproklamirkan nama-Nya, namun dalam hal ketertundukan dan penyerahan diri untuk mengikuti serta meneladani-Nya, kita masih jauh dari apa yang Tuhan harapkan.

KESIMPULAN

Penyederhanaan iman rupanya merupakan paradoks pada kenyataannya. Setelah kejatuhan manusia, tidak ada seorangpun memiliki iman. Kita telah jatuh di dalam perangkap kepercayaan, yakni ketidakpercayaan dan keraguan terhadap hal-hal yang benar dan dapat dipercaya. Inilah sebabnya sejarahwan dan filosof, Will Durant pernah berkata: "Agama datang dan pergi, namun ketakhayulan berlangsung selamanya." Dalam perjalanan sejarah umat manusia, ketakhayulan tampaknya selalu mendahului agama yang sejati. Oleh sebab itu cara terbaik untuk memperlakukan kepalsuan dan ketakhayulan ini bukanlah dengan kekuasaan, politik, ideologi, teori ataupun uang. Bahkan tidak dengan agama ataupun kepercayaan agama, melainkan melalui iman yang sejati -- yakni iman yang berakar dalam Firman Allah dan pemahaman yang benar mengenai Allah dan wahyu-Nya. Allah pernah berkata pada Yeremia: "Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? Demikian Firman Tuhan. Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman Tuhan dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?" (Yer. 23:28-29).

Firman Tuhan adalah satu-satunya perisai yang paling ampuh untuk berhadapan dengan ketakhayulan dan keyakinan yang palsu. Biarkan kita membangun diri kita dengan iman yang paling suci dan berdoa di dalam Roh Kudus. Senantiasa berada di dalam lingkaran kasih Allah sementara kita menunggu belas kasihan Yesus Kristus yang akan membawa kita kepada hidup yang kekal (Yud. 20). Sebagaimana kita telah mengakhiri pertandingan yang baik, "aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2Tim 4:7-8), oleh sebab itu mari kita senantiasa percaya dan dengan gembira menaati Dia. Menjadi orang yang taat dan menjadi manusia beriman yang kelak mendapat pujian dari Allah.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Jurnal Teologi Stulos, Volume 4, Nomor 1, Juni 2005
Judul Artikel :Anatomi Kepercayaan dan Iman: Sebuah Refleksi
Teologis dan Pastoral
Penulis : Joseph Tong, Ph.D.
Penerjemah : -
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung
Halaman : 103 - 108

Anatomi Kepercayaan Dan Iman: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (1)

Dear e-Reformed netters,

Masyarakat Kristen saat ini telah dikacaukan dengan berbagai paham `positif thinking` yang sangat tidak alkitabiah, terutama melalui pengajaran-pengajaran dari teologia kemakmuran dan sejenisnya. Pernahkah Anda mendengar kata-kata seperti berikut ini, "jika Anda beriman, maka Anda akan sembuh" atau "jika Anda beriman maka Anda kaya". Jika ternyata Anda sudah berdoa dan tidak sembuh atau tidak kaya, maka itu tandanya Anda tidak beriman. Iman tak ubahnya dengan rasa percaya diri, karena itu untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan Anda harus beriman lebih keras lagi.

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Masyarakat Kristen saat ini telah dikacaukan dengan berbagai paham `positif thinking` yang sangat tidak alkitabiah, terutama melalui pengajaran-pengajaran dari teologia kemakmuran dan sejenisnya. Pernahkah Anda mendengar kata-kata seperti berikut ini, "jika Anda beriman, maka Anda akan sembuh" atau "jika Anda beriman maka Anda kaya". Jika ternyata Anda sudah berdoa dan tidak sembuh atau tidak kaya, maka itu tandanya Anda tidak beriman. Iman tak ubahnya dengan rasa percaya diri, karena itu untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan Anda harus beriman lebih keras lagi. Ini adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Dari praktik-praktik pengajaran yang sesat seperti ini, tidak heran jika banyak masyarakat Kristen Indonesia yang memiliki kehidupan, cita-cita, dan pemikiran yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang bukan pengikut Kristus. Betapa jauhnya orang mengerti tentang iman sebagaimana yang Alkitab maksudkan.

Iman bukan sesuatu yang diusahakan, tapi diterima. Iman juga bukan sesuatu yang menghasilkan keuntungan bagi manusia, tapi ketaatan dan kemuliaan bagi Allah. Lawan kata dari `iman` bukan `keragu-raguan` atau `ketidakyakinan`, tapi `ketidaktaatan` atau kesombongan. Bagaimana menjelaskannya?

Artikel yang saya baca beberapa waktu yang lalu dari Jurnal Teologi Stulos, yang ditulis oleh Dr. Joseph Tong, telah menggugah saya untuk mempelajari lebih dalam pengertian tentang iman. Saya sangat terkesan dan melihat iman seakan-akan seperti melihatnya dengan cara pandang yang baru, lain dari yang biasa saya lakukan. Sangat filosofis, karena itu Anda harus membacanya perlahan-lahan dan dikunyah satu persatu, kalau tidak Anda bisa tersedak alias mabok! Tapi percaya saya, `it`s worth reading`. Ada banyak pokok-pokok pemikiran penting yang perlu mendapat perhatian, khususnya bagi Anda yang dulunya merasa sudah mengerti tentang arti iman. Biarlah kita semua semakin diperkaya dengan kekayaan Firman-Nya, yaitu Firman yang hidup dan menghidupkan. Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Penulis: 
Joseph Tong, Ph.D.
Edisi: 
081/I/2007
Isi: 

ANATOMI KEPERCAYAAN DAN IMAN: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (1)

PENDAHULUAN

Pada umumnya, kepercayaan dan iman dimengerti sebagai hal yang identik. Secara harafiah, "kepercayaan" kurang lebih dianggap bersifat subjektif dan pribadi, sedangkan "iman" dianggap sebagai sesuatu yang condong obyektif, yaitu sebagai 'pengakuan kepercayaan di depan publik.' Namun, dalam konteks studi keagamaan, penggunaan dua kata dapat dipertukarkan dan menunjuk pada suatu keadaan khusus dalam diri seseorang, atau pendirian yang dimiliki seseorang, ketika menghadap suatu Pribadi yang kudus, yang mulia atau yang tak terpahami. Kepercayaan dan iman diperlakukan secara berbeda hanya ketika aspek-aspek khusus ingin ditekankan dalam wacana-wacana keagamaan atau teologis.

Sebenarnya, kata "iman" telah beberapa kali mengalami perubahan makna sepanjang zaman. Secara keagamaan, iman tentunya adalah pengetahuan akal dan hati yang mengindikasikan soal dasar dan menyeluruh dari jiwa dan pikiran manusia sebagai 'suatu keadaan dasar yang menentukan perilaku dan keberadaan manusia.' Berbeda dengan kepercayaan, iman bukan semata-mata masalah pribadi, atau hanyalah keputusan yang bersifat pribadi yang tidak berhubungan dengan yang lainnya. Sebenarnya, dalam teologi Kristen, baik kepercayaan maupun iman tidak dapat dianggap hal pribadi atau hasil dari pikiran, emosi atau keinginan pribadi; sebaliknya kepercayaan dan iman berasal dari Allah dan wahyu Allah. Itulah sebabnya dikatakan, "Walaupun kepercayaan adalah hasil dari pikiran, pendirian atau pengalaman religius dari komitmen pribadi, tetapi kepercayaan bukanlah semata-mata hal pribadi." Iman adalah tanggapan atau pernyataan tanggapan, ketika seseorang merenungkan Allah serta karya dan penyataan-Nya. Secara sederhana, sifat positif dari tanggapan seperti itu disebut "iman," sedangkan sifat negatifnya disebut "ketidakpercayaan" atau "kepercayaan jahat atau sesat."

Persoalannya menjadi lebih rumit pembahasannya ketika kita merenungkan atau menganalisis masalah tersebut secara teologis. Hal ini dikarenakan oleh kenyataan bahwa kepercayaan dan iman tidak hanya tentang pendirian, agama dan komitmen seseorang. Iman sebenarnya adalah jumlah keseluruhan dari pikiran, perilaku dan keberadaan seseorang, bahkan jaminan dan kepastian eksistensi seseorang. Inilah sebabnya mengapa penulis kitab Ibrani memberikan pernyataan yang membingungkan, tetapi meyakinkan itu, bahwa, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat!" (Ibrani 11:1)

Makalah ini dimaksudkan untuk membahas di dalam kerangka filosofis, dengan menyajikan suatu refleksi anatomi yang positif, di dalam wacana teologis dan disertai kepedulian pastoral, tentang masalah tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk menjelaskan secara terperinci unsur-unsur iman, hakikat, makna, konsekuensi dan dampak-dampak iman kepercayaan dalam kehidupan orang-orang yang memilikinya. Penulis berharap bahwa gereja akan memiliki pengertian yang lebih baik tentang Kebenaran yang dipercayakan kepada kita dalam konteks pastoral, sehingga kita dapat memegang teguh iman yang kita miliki dan lebih berbuah dan setia di dalam gereja, maupun di dalam masyarakat kita.

PENJELASAN MENGENAI UNSUR-UNSUR IMAN

Secara Alkitabiah, Allah adalah satu-satunya sumber iman dan Firman-Nya adalah dasar iman kita. Tanpa Allah dan Firman Allah, tidak akan pernah ada iman, dan kita pun tidak membutuhkan iman. Sebagaimana hubungan antara Allah dan Firman-Nya, demikian pula seharusnya hubungan iman dengan Firman Tuhan. Iman selalu berkembang ketika Roh Allah bekerja dan manusia menanggapi secara kooperatif. Secara sederhana, iman tidak dapat datang dari manusia, atau atas inisiatif manusia, juga tidak dapat dilengkapi oleh manusia. Seperti yang pernah dikemukakan Paulus, "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus ...." "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 10:17; 11:36). Allah ialah yang pertama memberi kita Firman-Nya, dan Roh Kudus yang bekerja dalam cara yang khusus untuk membuat kita berbalik kepada Allah dari berhala-berhala untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar (1Tesalonika 1:9).

Oleh karena itu, secara teologis, iman itu murni pemberian Allah. Adalah Allah, yang dalam kemurahan-Nya, menyatakan Firman-Nya kepada kita melalui wahyu, inkarnasi, pengilhaman dan penulisan Alkitab, dan penyataan, untuk membawa kita mendengar Firman-Nya dan menanggapi panggilan-Nya kepada pertobatan dan pengampunan dosa.

Namun, dari sudut pandang manusia, iman harus dimengerti sebagai tanggapan dan perilaku manusia yang sepantasnya serta aktual terhadap kehadiran Allah melalui penyajian Firman-Nya. Dalam teologi tradisional, Alkitab menggambarkan iman dalam 3 cara, yaitu, iman intelektual (noticia), iman perasaan (assensus), dan iman kehendak (fiducia); untuk mengindikasikan unsur-unsur intelektual, emosional dan kemauan dalam iman serta pengaruh-pengaruhnya pada keberadaan manusia, secara berurutan. Semua ini dihasilkan dari pekerjaan Roh Kudus melalui Firman dari penyajian Firman serta pernyataan-Nya. Firman itu membuka hati manusia dan memperbarui pikiran mereka agar mereka dapat mengenal Allah dan wahyu-Nya. Demikianlah, manusia mulai mengetahui kebodohan, kesia-siaan, kebandelan dan kegelapan dari keberadaannya yang mula-mula. Di bawah penerangan Allah, pikiran kita mulai menyadari dan merasakan kesedihan yang mendalam akan kehidupan kita yang berdosa, kemudian dengan rela dan senang menyetujui teguran dari Roh, selagi hati kita tersayat dan berbalik kepada Allah (lihat Kisah Para Rasul 2:37). Akhirnya, kita dapat dengan bahagia mempercayakan diri kepada Allah dan Firman-Nya, dan menerima penghakiman-Nya tanpa syarat, untuk kemudian menerima anugerah pengampunan-Nya menuju regenerasi untuk memasuki kerajaan dari Anak-Nya yang terkasih (Kolose 1:13).

Sebenarnya, baik iman intelektual maupun iman perasaan adalah keadaan pikiran dalam alam intelektual dan emosional. Secara berurutan keduanya disebut "pengetahuan intelektual" dan "pengetahuan indrawi. Keduanya disebut "iman yang sementara," karena keduanya dibatasi oleh hal-hal fisik dan eksistensial atau pengalaman. Karena fakta bahwa iman yang sementara berserah kepada bukti-bukti faktual dan fisik, maka iman sementara itu rentan untuk berubah dan menghilang dalam ruang dan waktu. Tidak diragukan, iman intelektual dan iman indra memiliki kepastian faktual; namun keduanya bersifat sementara sehingga tidak bertahan lama. Inilah tepatnya, alasan mengapa kebanyakan gereja tradisional menemukan dirinya mengalami kesulitan untuk menerima gerakan Karismatik dan pekerjaannya di dalam gereja.

Sejauh berbicara mengenai iman, pengetahuan intelektual dan pengetahuan indera memerlukan keputusan yang berkemauan dan komitmen untuk menyelesaikan bagiannya. Keduanya membutuhkan penanaman Firman untuk membangun kepenuhannya untuk dapat disebut "iman yang sejati."

Dalam teologi, komitmen yang berkemauan disebut "fiducia", atau 'mempercayakan diri' (trust). Dalam konteks ini, keimanan yang mempercayakan diri adalah suatu bentuk yang sama sekali berbeda dari iman. Iman yang mempercayakan diri tidak hanya peduli tentang kemauan, pilihan, keputusan, komitmen dan tindakan semata-mata. Sebenarnya, iman yang mempercayakan diri untuk dinilai oleh obyek iman, yang merupakan sasaran iman, bukan oleh iman itu sendiri. Yang dipercaya, dan bukan yang memercayai, yang menentukan kepastiannya, maknanya dan nilai dari iman yang memercayakan diri itu. Dengan perkataan lain, dalam iman yang memercayakan diri, fokusnya bukan hanya kepada keputusan dan tindakan iman yang memercayakan diri itu saja; melainkan haruslah pada apa yang seseorang percayai dan siapa yang dia percayai. Dalam doktrin kristiani, orang Kristen mempunyai dua objek iman yang memercayakan diri itu, yakni: Kebenaran atau Firman Allah dan Allah sendiri. Yang pertama disebut "iman berpreposisi" atau "iman doktrinal," sedangkan yang kemudian disebut "iman relasional" atau "iman yang hidup," yakni isi kebenaran atau isi kehidupan dari iman. Secara sederhana, itu berarti mengetahui apa yang engkau percayai dan siapa yang engkau percayai; dan mau mati bagi imanmu, seperti halnya mau hidup baginya (atau bagi-Nya) pada saat situasi mengharuskannya.

Walaupun orang-orang setia tidak takut mati; tetapi mereka lebih suka hidup bagi iman mereka. Dilaporkan, ketika Uni Soviet yang dulu terpecah, banyak pejabat-pejabat tingkat tinggi melakukan bunuh diri. Alasannya antara lain, adalah: bahwa mereka memiliki iman dalam komunisme dan percaya bahwa ada sesuatu yang layak untuk ditebus dengan kematian, tetapi sekarang mereka tidak menemukan sesuatu yang layak untuk dijalani dalam kehidupan. Sementara kematian memang memberi kesaksian pada sesuatu yang dipercayai seseorang, tetapi ketika ia menemukan bahwa hidup tidak menyatakan kebenaran, apa gunanya lagi hidup baginya? Sejauh berbicara mengenai Kebenaran, ketika seseorang berkomitmen pada ideologi yang tidak benar, mungkin akan ada banyak alasan yang layak untuk mati baginya, karena kematian mengakhiri segala hal secara tidak dapat dikembalikan lagi, tetapi tidak ada satupun alasan untuk hidup baginya, karena untuk hidup terus adalah suatu penantian yang tidak ada akhirnya dan sia-sia.

Signifikansi iman Kristen yang sangat menonjol adalah, bahwa iman Kristen memiliki Kebenaran sebagai presuposisinya; juga memiliki Kristus yang hidup, Sang Juruselamat, sebagai dasar hidup dan relasi bagi imannya. Dalam konteks seperti itu, iman percaya membuat seorang percaya tidak hanya rela mati bagi apa yang diyakininya, tetapi juga membuatnya mampu untuk terus menjalani apa yang diyakininya dalam kehidupan. Karena Ia hidup, maka kita hidup, dan kita akan melayani-Nya dengan gembira (Yohanes 14:19, 12:24-26). Karena memiliki iman yang mempercayakan diri seperti ini, kita dapat berseru seperti Paulus, "Karena bagiku hidup adalah Kristus ..." dan "... hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Filipi 1:21; Galatia 2:20).

INTISARI IMAN - FIRMAN ALLAH

Analisis filosofis menghasilkan fakta bahwa segala sesuatu yang memiliki makna kekal atau nilai kekal harus memiliki hubungan langsung dengan Kebenaran. Manusia tidak dapat hidup tanpa iman. Ini adalah akibat fakta bahwa Allah telah membebankan kekekalan pada manusia (Pengkhotbah 3:10). Jiwa yang kekal menjadi pemacu yang tidak ada akhirnya, mendorong manusia untuk mengejar apa yang kekal dan abadi -- Kebenaran. Kita semua tahu bahwa manifestasi-manifestasi kebenaran yang luar biasa di dalam dunia fisik adalah fakta-fakta yang konkrit. Kita juga pasti tahu bahwa manifestasi-manifestasi kongkrit/pengaktualisasian kebenaran itu (fakta-fakta) belum tentu Kebenaran itu sendiri. Namun demikian, kita tetap tidak henti-hentinya mencari fakta-fakta, seolah-olah kebenaran adalah jumlah keseluruhan dari fakta-fakta. Meskipun ini tidak jelas, kita tetap rela dan bahkan terus-menerus menderita begitu banyak untuk pengejaran yang demikian sia-sia. Mengambil dalil kerangka struktur pengertian dari Kant, pengejaran terus-menerus yang seperti itu dengan jelas mengindikasikan kita yakin bahwa Kebenaran betul-betul ada. Kita bahkan rela mendedikasikan diri kita pada pengejarannya yang tiada akhir dan dengan gembira menyerahkan diri kita di bawahnya.

Dalam pandangan kristiani, kebenaran tidak hanya bersandar pada Allah yang kekal semata; kebenaran juga bersandar pada wahyu yang Allah telah berikan kepada manusia. Inilah alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa intisari dari iman bukanlah pada fakta-fakta, atau keyakinan seseorang, ataupun pada kepercayaan diri seseorang atas fakta-fakta semacam itu, tetapi pada Firman Allah yang diwahyukan. Karena Firman berasal dari Allah yang kekal, Firman adalah saksi-Nya. Firman itu telah menjadi daging dalam Kristus dan tinggal di antara kita. Firman itu dinyatakan dan dipelihara oleh gereja yang telah ditebus Kristus. Untuk alasan ini, teologi menjadikan Gereja sebagai pelindung iman, sebagai yang memiliki simpanan iman. Alkitab menyebut gereja sebagai tiang penopang dan dasar dari Kebenaran. (1Timotius 3:15).

Seseorang yang berada di dalam Gereja tidak akan hanya memiliki iman terhadap Injil (fides evangelica) untuk menjadi anak Allah; ia akan terpelihara dengan baik dalam Firman Allah dan bertambah dalam iman dan berkepenuhannya. Oleh karena itu, iman yang sejati tidak hanya dimulai oleh Firman, iman yang sejati juga harus ditanam di tanah yang subur: Gereja. Iman yang sejati perlu dilestarikan dan dipelihara dalam persekutuan yang penuh kasih dari orang-orang pilihan Allah. Dalam konteks ini, Roh Kudus akan menyucikan kita dan memurnikan iman kita dengan Firman-Nya untuk membuat kita berbuah. Inilah tujuan utama teologi pastoral dan pelayanan.

(Bersambung)

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Jurnal Teologi Stulos, Volume 4, Nomor 1, Juni 2005
Judul Artikel :Anatomi Kepercayaan dan Iman: Sebuah
Refleksi Teologis dan Pastoral
Penulis : Joseph Tong, Ph.D.
Penerjemah : -
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung
Halaman : 103-108

Komentar


Syndicate content