Philip Melanchthon

Dear e-Reformed netters,

Tanggal 31 Oktober ditetapkan oleh gereja Kristen sebagai hari perayaan peristiwa bersejarah "Reformasi Gereja". Banyak orang Kristen yang hanya tahu Martin Luther dan John Calvin sebagai tokoh Reformasi. Tapi sebenarnya ada banyak tokoh-tokoh Reformasi lain yang ikut ambil bagian dalam mempersiapkan, mematangkan dan mengembangkan Reformasi Gereja pada tahun 1517. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah seorang Jerman yang bernama Philips Melanchthon. Nah, dalam rangka memperingati "Hari Reformasi Gereja" 2001, mari kita mengenal lebih dekat Philip Melanchthon dan karya tulisan Teologia Sistematiknya "Loci Communes".

Selamat Hari Reformasi Gereja.

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Tanggal 31 Oktober ditetapkan oleh gereja Kristen sebagai hari perayaan peristiwa bersejarah "Reformasi Gereja". Banyak orang Kristen yang hanya tahu Martin Luther dan John Calvin sebagai tokoh Reformasi. Tapi sebenarnya ada banyak tokoh-tokoh Reformasi lain yang ikut ambil bagian dalam mempersiapkan, mematangkan dan mengembangkan Reformasi Gereja pada tahun 1517. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah seorang Jerman yang bernama Philips Melanchthon. Nah, dalam rangka memperingati "Hari Reformasi Gereja" 2001, mari kita mengenal lebih dekat Philip Melanchthon dan karya tulisan Teologia Sistematiknya "Loci Communes".

Selamat Hari Reformasi Gereja.

In Christ,
Yulia

Edisi: 
021/X/2001
Isi: 

RIWAYAT HIDUP PHILIP MELANCHTHON

Melanchthon dilahirkan dari keluarga yang terhormat dan saleh pada 16 Februari 1497 di Bretten, Palatin, Jerman. Ayahnya adalah seorang penyalur tenaga tentara yang cakap bagi Pangeran Philip dan kaisar Maximilianus I. Ibunya adalah kemenakan Reuchlin yang terkenal itu. Dalam menentukan studinya sangat ditentukan oleh pamannya, Reuchlin.

Melanchthon adalah salah seorang sarjana Jerman yang matang sebelum waktunya. Ia memiliki keahlian dalam banyak bidang ilmu pengetahuan terutama philologi klasik. Pada umur 17 tahun ia telah memperoleh gelar MA dari Universitas Tubingen. Ia menulis dan berbicara dalam bahasa Yunani, Latin lebih baik daripada orang Jerman lainnya. Puisi-puisinya disusun juga dalam bahasa-bahasa itu.

Ia memulai karyanya di depan umum di Universitas Tubingen sebagai dosen bahasa-bahasa klasik. Ia menterjemah karya-karya Plutarch, Aristoteles. Pada tahun 1518 ia menerbitkan Tata Bahasa Yunani yang diterbitkan beberapa kali. Namanya terkenal di mana-mana sehingga datanglah tawaran untuk menjadi mahaguru pada Universitas Ingolstadt, Leipzig dan Wittenberg. Ia memutuskan untuk pergi ke Wittenberg untuk menjadi mahaguru Yunani. Reuchlin memberikan rekomendasi kepada kemenakannya sebagai berikut: "Saya tahu tidak seorangpun di antara orang Jerman yang melebihi Philip Schwarzerd kecuali Eramus Roterdamus, seorang Belanda yang melebihi kita semua dalam bahasa Latin".

Di Wittenberg Philip Melanchthon mendapat penghormatan yang besar dari rekan mahagurunya serta pendengar-pendengarnya. Melanchthon adalah seorang yang berperawakan tinggi, berdahi lebar, bermata biru yang bagus. Kecendekiawannya tidak perlu diragukan dan demikian juga dengan kesalehan dan hidup keagamaannya.

Melanchthon mencurahkan perhatiannya kepada studi bahasa Yunani agar memajukan penelitian terhadap Alkitab. Pada tahun 1519 ia juga memberikan kuliah tafsiran. Sekalipun ia tidak pernah ditahbiskan sebagai imam, namun ia sering menyampaikan khotbahnya kepada mahasiswa-mahasiswa asing yang kurang mengerti bahasa Jerman. Khotbah-khotbah itu diucapkannya dalam bahasa Latin. Ia mendapatkan panggilan ke mana-mana, namun ia lebih suka tinggal di Wittenberg hingga meninggal.

Atas anjuran Luther ia menikah dengan Katharina Krapp, saudara perempuan walikota Wittenberg, yang dengan setia menemaninya dalam suka dan duka. Mereka memperoleh 4 orang anak. Philip Melanchthon biasa mengucapkan pengakuan iman tiga kali sehari dalam keluarganya. Istrinya meninggal tahun 1557 sementara Philip Melanchthon dalam perjalanan ke Diet Worms. Ketika ia mendengar kematian istrinya di Heidelberg, ia berkata: "Syukurlah, saya segera akan mengikutimu".

Melanchthon mempersiapkan suatu theologia yang sistematis untuk golongan reformatis sementara Luther berada di Watburg. Karangannya itu disebut LOCI COMMUNES, yang diselesaikannya pada tahun 1521. Dalam buku ini Philip Melanchthon menguraikan ajaran-ajaran pokok reformatis terutama mengenai dosa dan anugerah; pertobatan dan keselamatan. Loci merupakan buku dogmatik pertama dari kalangan reformatoris serta mempersiapkan jalan kepada Pengakuan Augsburg, di mana Melanchthon menyusunnya sendiri. Pengakuan Augsburg ini adalah salah satu surat pengakuan resmi Gereja Lutheran.

Melanchthon memainkan peranan penting dalam diet-diet yang diadakan oleh kaisar Karel V. Ia hadir dalam Diet Speyer, 1529; di Margburg, 1529. Dalam diet Margburg ia menentang dengan keras ajaran Zwingli tentang perjamuan kudus. Melanchthon di masa-masa akhir hidupnya mencurahkan perhatiannya kepada mengorganisir gerejanya di Saksen atas dasar semi-episkopal. Karena pandangan-pandangan theologinya mirip dengan Calvin, maka Philip Melanchthon sering dicurigai sebagai Cripto-Calvinisme (Calvinisme tersembunyi). Melanchthon meninggal pada tahun 1560 di Wittenberg.

LOCI COMMUNES

Karya Melanchthon "LOCI COMMUNES" ini telah menjadi Buku Pegangan Dogmatika pertama (terbit thn. 1521) yang dibuat untuk kalangan Gereja Lutheran. Isinya antara lain adalah pembahasan tentang kebenaran Firman Allah yang disusun berdasarkan urutan yang dipakai Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma. Menurut Melanchthon seluruh isi Alkitab dapat dibagi menjadi tiga topik/ bagian besar, yaitu: Dosa, Hukum dan Anugerah.

Pada bagian yang pertama, yaitu - Dosa -, dijelaskan bahwa manusia dengan kehendak bebasnya sendiri tidak mungkin melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan pembenaran dari Allah, karena pohon yang jelek akan menghasilkan buah yang jelek pula. Pada bagian - Hukum -, Melanchthon berpendapat bahwa Allah memberikan hukum kepada manusia supaya ia sadar akan keberdosaannya. Hukum Illahi yang diberikan oleh Allah menuntut ketaatan manusia. Di sini manusia sadar bahwa ia tidak mungkin dapat memenuhinya, kecuali jika Tuhan bersedia mengampuni dosa-dosa manusia. BErangkat dari pokok inilah kemudian Melanchthon membahas kebutuhan manusia akan - Anugerah - Allah, yaitu bagian ketiga dari bukunya.

Buku LOCI COMMUNES telah direvisi berkali-kali oleh Melanchthon. Pada edisi aslinya Melanchthon menyetujui semua pendapat Luther, namun pada edisi-edisi perbaikan berikutnya ia memberikan beberapa pandangan yang tidak sepenuhnya setuju dengan Luther. Sebaliknya, Philip Melanchthon mengambil posisi di tengah, antara Luther dan Calvin, khususnya dalam pandangannya tentang Perjamuan Kudus. Juga pada edisi sebelumnya pandangan Melanchthon tentang predistinasi lebih cenderung fatalistis (determination), tetapi dalam edisi perbaikan Philip Melanchthon lebih cenderung mengikuti pandangan Calvin.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
Drs. F.D. Wellem, M.Th.
PT BPK Gunung Mulia Jakarta, tahun 1999
181 - 182

John Calvin Mencari Istri Yang Tepat, Idelette

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, saya minta maaf karena publikasi e-Reformed September terlambat terbit, dan baru sekarang bisa saya kirimkan.

Untuk menyambut hari Reformasi (tgl. 31 Oktober), maka pada kesempatan ini saya ingin mengajak anda mengenal sisi lain dari kehidupan John Calvin, tokoh besar Reformator kita. Mungkin kita lebih sering/biasa mengenal Calvin sebagai seorang teolog yang sangat tegas, keras dan kukuh dalam pendiriannya memerangi ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab. Bahkan karena ketegasan pendiriannya ada orang-orang yang salah mengerti tentang pribadi Calvin. Sering ia dianggap sebagai seorang yang dingin, kasar, kejam dan tidak berperasaan. Betulkah? Siapakah Calvin dan bagaimanakah pergumulan hidup kesehariannya? Artikel di bawah ini adalah salah satu kisah bagian sisi hidup Calvin yang mungkin tidak banyak dilihat orang, bahwa ia juga adalah seorang yang peka, sensitif dan penuh perasaan.

Artikel ini saya ambil dari Majalah Momentum no. 29/Triwulan I/1996 yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia.

Selamat membaca,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, saya minta maaf karena publikasi e-Reformed September terlambat terbit, dan baru sekarang bisa saya kirimkan.

Untuk menyambut hari Reformasi (tgl. 31 Oktober), maka pada kesempatan ini saya ingin mengajak anda mengenal sisi lain dari kehidupan John Calvin, tokoh besar Reformator kita. Mungkin kita lebih sering/biasa mengenal Calvin sebagai seorang teolog yang sangat tegas, keras dan kukuh dalam pendiriannya memerangi ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab. Bahkan karena ketegasan pendiriannya ada orang-orang yang salah mengerti tentang pribadi Calvin. Sering ia dianggap sebagai seorang yang dingin, kasar, kejam dan tidak berperasaan. Betulkah? Siapakah Calvin dan bagaimanakah pergumulan hidup kesehariannya? Artikel di bawah ini adalah salah satu kisah bagian sisi hidup Calvin yang mungkin tidak banyak dilihat orang, bahwa ia juga adalah seorang yang peka, sensitif dan penuh perasaan.

Artikel ini saya ambil dari Majalah Momentum no. 29/Triwulan I/1996 yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia.

Selamat membaca,
Yulia

Edisi: 
020/IX/2001
Isi: 

Kita melihat kehidupan John Calvin sebagai suatu kehidupan yang serius, akan tetapi pada saat kita melihat dia mencari seorang calon istri, ini merupakan suatu hal yang menarik yang cukup menggegerkan khususnya pada abad 20 ini. Sangatlah sulit ditentukan secara pasti kapan masa pencarian itu dimulai. Setelah Calvin menginjak usia 29 tahun dan menjalani masa kependetaanya di gereja berbahasa Perancis di pengungsian Strasbourg, dia tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan masalah perkawinan. Di samping itu, dia pernah menulis bahwa, "Saya tidak akan pernah bercampur dengan orang-orang yang dituduh menyerang Roma, seperti orang-orang Yunani yang bertempur melawan Troy, yang hanya bisa mengambil istri orang lain." Jadi dia sama sekali tidak terburu-buru.

Akan tetapi Strasbourg lebih dari sekedar tempat pengungsian bagi Calvin. Tidak berapa lama setelah dia berada di kota itu, dia tinggal bersama dengan Martin dan Elizabeth Bucer. Martin adalah seorang pendeta yang ramah dari gereja St. Thomas di kota tersebut. Dan Elizabeth adalah seorang tuan rumah yang ramah juga seperti Martin. Rumah mereka terkenal sebagai "pondok kebenaran". John Calvin tidak pernah melihat suatu pernikahan yang begitu bahagia. Bucer sangat bahagia sehingga dia menganjurkan tentang pernikahan kepada semua rekan sepelayanannya "Calvin, kamu harus mencari seorang istri." Martin mengatakan ini kepada Calvin lebih dari satu kali.

Philip Melanchthon pernah sekali memperhatikan bahwa John Calvin kelihatan seperti seorang yang pendiam dan pelupa, walaupun itu bukan merupakan karakternya, setelah menghadiri suatu konprensi yang melelahkan sepanjang hari. "Baiklah! Baiklah!", kata Melanchthon, "...sepertinya theolog kita ini sedang memikirkan seorang calon istri." Pada saat itu, Melanchthon telah menikah selama 19 tahun dan pernikahannya merupakan suatu pernikahan yang bahagia. Ny. Melanchthon, adalah seorang yang humoris, yang merawat Philip dengan sangat baik. Satu-satunya keluhan yang pernah disampaikan Philip kepada John Calvin, adalah, "Dia (Ny. Melanchthon) senantiasa mempunyai pikiran bahwa saya akan mati kelaparan jika saya tidak selalu diberi makan yang banyak."

Demikian juga Calvin, menyadari bahwa dia memerlukan seseorang untuk memperhatikannya. Ketika dia pindah keluar dari "pondok kebenaran" Bucer, dia menyewa satu rumah untuk dirinya sendiri, saudara- saudaranya, adik tirinya dan beberapa murid yang tinggal bersama dengan dia. Dia merasa bahwa beban untuk mengurus suatu rumah tangga sangatlah sulit, dan pada saat yang bersamaan dia juga harus melayani sebagai seorang pendeta di gereja yang sedang berkembang. Ini merupakan alasan lain yang menunjang Calvin untuk mencari seorang pendamping. Oleh sebab itu, dia memberitahukan pada koleganya bahwa dia sekarang siap untuk dicarikan seorang istri dan dia terbuka untuk semua saran-saran.

Tentu saja, seperti biasa, dia tahu apa yang dikehendakinya. Kwalifikasi dari "pekerjaan" tersebut adalah : "Harus diingat bahwa apa yang saya harapkan dari istri saya - dia harus merupakan seseorang yang halus di dalam budi bahasanya, tidak terlalu rewel, hemat, sabar dan apabila memungkinkan dia harus bisa memperhatikan kesehatan saya juga. Saya tidak seperti anak-anak muda umumnya yang hanya jatuh cinta dan tertarik dengan keadaan fisik dari seseorang."

Pada saat itu, Calvin sedang menghadapi masalah sehingga dia berharap bebannya akan sedikit ringan apabila dia mempunyai seorang istri; walaupun sebenarnya tidak menyelesaikan masalahnya. "Saya tidak pandai menyimpan uang. Sangatlah mengherankan bagaimana uang saya semuanya habis untuk semua keperluan di luar keperluan biasa". Seperti apa yang dituliskan oleh T.H.L Parker, "...kesehatan Calvin sangatlah menurun, dia juga bukan merupakan seorang yang bisa mengatur diri sendiri, dia seorang yang tidak sabaran dan kemungkinan akan berubah menjadi lebih baik apabila dia menikah."

Pada kenyataannya, Calvin sangat yakin bahwa langkah berikut di dalam kehidupannya untuk tahun 1539 adalah menikah, sehingga dia menetapkan satu tanggal, beberapa hari setelah Paskah adalah merupakan hari pernikahannya. William Farel, teman dekatnya, yang akan melangsungkan upacara pernikahan tersebut. Tapi kita tidak tahu adalah apakah dia sudah memilih seorang calon istri?

Beberapa bulan kemudian, calon pertama dipertemukan dengan Calvin. Dia adalah seorang wanita Jerman yang kaya, yang mempunyai seorang kakak yang menjadi manajer kampanye wanita itu. Mereka merupakan pendukung Calvin yang setia, dan kakaknya berpendapat bahwa pernikahan di antara mereka berdua akan merupakan suatu pernikahan yang saling menguntungkan. Calvin sering mengatakan bahwa dia ingin sekali hidup sebagai seorang ilmuwan. Dan hasil dari royalti penjualan buku-bukunya tidak memberikan hasil yang cukup memuaskan; ini akan merupakan suatu hal yang membantu kehidupannya apabila dia menikah dengan seorang wanita yang kaya.

Akan tetapi, Calvin mempunyai dua permasalahan dengan calon pertama ini; alasan yang pertama - dia tidak mengerti sama sekali mengenai bahasa Perancis dan tidak menunjukkan itikad untuk mempelajarinya; alasan yang kedua - seperti yang dia jelaskan kepada Farel bahwa, "Dia pasti akan membawa emas kawin yang banyak dan hal tersebut akan sangat memalukan bagi diri saya, sebagai seorang hamba Tuhan yang miskin. Dan saya juga berpendapat bahwa dia juga tidak akan merasa puas hanya dengan menjadi seorang istri hamba Tuhan yang sederhana."

Farel mempunyai seorang calon yang cukup memenuhi syarat untuk dikenalkan dengan Calvin. Dia cukup mahir dalam bahasa Perancis, dan merupakan seorang Protestan yang saleh; akan tetapi berbeda usia mereka cukup jauh, di mana Calvin 15 tahun lebih muda dari wanita tersebut. Calvin tidak pernah menginginkan yang ini.

Calon berikutnya merupakan seorang wanita yang mahir di dalam bahasa Perancis dan dia juga tidak mempunyai harta yang berlimpah; teman- teman Calvin sangat menyetujui. Calvin kelihatannya sangat tertarik, dan merupakan suatu alasan yang cukup kuat untuk mengundang dia ke Strasbourg untuk berkenalan. Calvin sekali lagi mengingatkan Farel, "Apabila semuanya berjalan dengan lancar, dan ini yang sungguh-sungguh kita harapkan semua, maka upacara pernikahannya tidak akan ditunda dan melewati tanggal 10 Maret." Pada saat itu, Calvin telah berusia 31 tahun, tepatnya pada tahun 1540. "Saya harapkan kamu bisa hadir dan memberkati pernikahan ini," tetapi Calvin menambahkan, "saya akan kelihatan seperti orang bodoh apabila semua yang kita harapkan kali ini tidak akan berjalan sesuai dengan rencana." Dan ternyata rencana pernikahan tersebut tidak pernah terlaksana sesuai dengan yang telah ditetapkan.

John sangat malu dengan semua masalah yang ditimbulkannya dan semua surat-surat yang dikirimnya kepada William Farel; dia menulis di salah satu suratnya kepada Farel, "Saya masih belum menemukan seorang istri pun dan saya merasa sungkan untuk melanjutkan "pencarian" tersebut." Akan tetapi, pada saat dia berhenti untuk mencari, dia menemukan pasangannya. Di antara para jemaatnya ada seorang janda muda, Idelette de Bure Stordeur. Dia, suaminya dan kedua anaknya, datang ke Strasbourg sebagai penganut Anabaptis. Setelah mendengarkan khotbah- khorbah dari John Calvin mengenai eksposisi-eksposisi Alkitab, pandangan mereka berubah menjadi pandangan Reformed.

Jean Stordeur, suami Idelette, merupakan seorang pemimpin Anabaptis dan tidak diragukan bahwa John Calvin sering mendiskusikan masalah- masalah theologi dengan keluarga Stordeur di tempat kediaman mereka. Pada tahun 1537, ketika Calvin masih berada di Geneva, Stordeur telah datang ke kota itu untuk berdebat dengan para Reformator di kota itu. Stordeur kalah di dalam perdebatan tersebut dan diperintahkan untuk keluar dari kota itu dan kembali ke Strasbourg. Tidak kita ragukan bahwa diskusi itu dilanjutkan ketika dua tahun kemudian Calvin tiba ke Strasbourg. Pada akhirnya, Calvin berhasil menyakinkan mereka dengan ayat-ayat dari Alkitab mengenai perbedaan-perbedaan yang ada tetapi tidak semuanya. Di dalam beberapa hal, Calvin memasukkan beberapa hal mengenai pemikirannya sendiri. Tetapi setelah itu suami istri Stordeur mengikuti kebaktian di gereja Calvin, dan turut serta di dalam Perjamuan Kudus, anak mereka kemudian di baptis oleh Calvin - setelah melalui diskusi yang cukup lama; pada akhirnya seluruh keluarga Stordeur menjadi anggota jemaat di gereja tersebut yang mana anggota jemaatnya telah mencapai 500 orang pelarian dari Perancis dan negara- negara yang letaknya di bawah Perancis.

Kemudian pada tahun 1540 di musim semi, Jean Stordeur diserang oleh penyakit pes dan tiba-tiba meninggal. Idelleta menangisi kematian suaminya, John Calvin merasa sedih karena kehilangan seorang teman. Pada saat John Calvin sudah menyerah mengenai rencana pernikahan oleh karena kegagalan-kegagalan sebelumnya pada saat itulah teman- temannya, pendeta Martin Bucer menganjurkan kepada Calvin, "Mengapa tidak mempertimbangkan Ideletta sebagai calon istrimu?". Dan John Calvin benar-benar mempertimbangkan saran tersebut.

Idelette adalah seorang wanita yang menarik, cerdas, seorang yang berbudi bahasa, dan dia berasal dari kalangan kelas menengah atas. Dia juga seorang wanita yang berkarakter dan sangat bersemangat. Tidak memerlukan waktu terlalu lama bagi sang Reformator untuk menulis surat kepada William Farel, meminta kesediaan dia untuk datang dan melangsungkan upacara pernikahan tersebut. Kali ini bukanlah alarm yang salah lagi; dan pada bulan Agustus, John dan Idelette resmi dinikahkan.

Untuk Idellette, dia lebih memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya bahwa mereka memiliki seorang ayah yang baik, sedangkan untuk John, dia merasa lega oleh karena telah menemukan seorang istri yang baik. Penyesuaian besar pertama bagi Idellete adalah pindah ke asrama Calvin dan tinggal bersama dengan para murid-muridnya, dan belajar untuk menyesuaikan diri dengan pengurus rumah tangga yang mempunyai lidah yang "tajam".

Idellete juga harus dihadapkan dengan masalah kesehatan. Mereka berdua, jatuh sakit tidak lama setelah hari pernikahan mereka dan diharuskan untuk tinggal di tempat tidur. Calvin mengirimkan kartu ucapan terima kasih kepada William Farel dan mencantumkan, "...sepertinya semua ini telah diatur, sehingga pernikahan kami tidak berkesan terlalu "menggembirakan", Tuhan telah memberikan suatu kebahagiaan yang sepantasnya kami dapatkan."

Di dalam tulisan-tulisannya, John Calvin tidak pernah banyak menyinggung masalah-masalah pribadinya, dan demikian juga mengenai istrinya. Sama sekali berbeda dengan Martin Luther - akan tetapi melalui surat-suratnya kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa Idellete adalah adalah seorang istri yang benar-benar memperhatikan suaminya, demikian juga kepada anak-anaknya. Penulis biografi Calvin menyimpulkan bahwa Idelette adalah seorang wanita yang kuat dan berpribadi; dan John Calvin sendiri menggambarkan dia sebagai seorang penolong yang setia darinya, serta merupakan seorang teman hidup yang paling menyenangkan. John Calvin pastilah tidak kecewa dengan pernikahannya tersebut.

Walaupun dia sangat menikmati kebersamaan Idelette di sampingnya, akan tetapi pada tahun pertama pernikahan mereka - dia tidak begitu mempunyai banyak waktu. Setelah mereka sembuh, John Calvin harus berkeliling, meninggalkan Idellete untuk mengurusi permasalahan- permasalahan yang timbul di asrama, demikian juga kedua anak-anaknya sendiri. Sebenarnya John Calvin tidak ingin pergi, tetapi Raja Charles, penguasa Holy Roman Empire telah memanggil para pemimpin- pemimpin Roma Katholik dan para Sarjana Protestan untuk berkumpul dan mendiskusikan bagaimana mereka bisa menghentikan perdebatan di antara mereka dan membentuk satu kesatuan untuk melawan kerajaan Turki yang hendak menguasai pemerintahannya.

Setelah tiga bulan kemudian, John Calvin kembali ke rumah untuk sebulan lamanya, sebelum dia harus kembali melanjutkan tugas pelayanannya untuk menghadiri suatu konferensi yang dihimpun oleh Raja Charles. "Saya dipaksa untuk pergi", dia menuliskannya, tetapi dia berangkat juga.

Ketika dia menghandiri konprensi tersebut, dia menerima kabar bahwa Strasbourg diserang oleh wabah penyakit pes. Dia sangat mencemaskan istrinya. "Siang dan malam, saya selalu memikirkan istri saya." Dia menyadari bahwa penyakit pes ini telah mengambil nyawa suami Idelette setahun yang lalu, ada kemungkinan Idellete akan terserang oleh penyakit tersebut oleh karena dia belum pulih benar setelah sembuh dari sakitnya. Dia menulis surat kepada istrinya dan meminta dia untuk meninggalkan Strasbourg, sampai wabah penyakit tersebut berlalu.

Akan tetapi, Idelette telah bertindak duluan. Dia telah membawa anak- anaknya untuk mengungsi ke rumah kakaknya, Lambert. Lambert dulunya adalah seorang tuan tanah yang kaya di Liege, sebelum dia dipaksa untuk pergi dan meninggalkan semua yang dimilikinya. Tetapi hanya dalam beberapa tahun saja semenjak kedatangannya di Strasbourg, dia kembali memulihkan reputasinya menjadi seorang penduduk yang terhormat.

Pada penghujung tahun tersebut, John Calvin dipanggil kembali untuk menghadiri suatu konprensi. Dia dan Idelette terpisah selama 32 minggu dari 45 minggu pertama semenjak hari pernikahan mereka. Walaupun demikian, John Calvin masih dihadapkan pada suatu tantangan yang lebih besar daripada hanya sekedar perpisahan mereka yang cukup lama. John Cavin dihadapkan pada suatu dilema dimana dia disuruh untuk kembali ke Geneva. Dia tidak mau pergi, "Saya lebih baik menghadapi "100 kali kematian" daripada diberi kebebasan untuk memilih, saya lebih baik melakukan apa saja yang lain di dunia ini."

Tetapi pada bulan September, tahun 1541. John Calvin menuju Geneva untuk melihat kemungkinan apakah dia harus merubah pikirannya. "Saya menyerahkan hati saya kepada Tuhan sebagai persembahan", dia menuliskan. Idelette tinggal di Strasbourg untuk sementara, sampai Calvin merasa yakin kalau Geneva akan aman untuk Idelette dan anak- anaknya. Geneva memberikan John Calvin banyak hadiah. "Ada jubah baru dari kain beludru hitam, yang dihiasi dengan bulu domba. Dan disediakan rumah di Rue de Chanoines, yang terletak di suatu jalan kecil dekat katederal. Di belakang rumah tersebut didapati taman yang menghadap ke danau yang biru." Para dewan anggota mengirimkan kereta kuda mewah untuk menjemput Ideletta, anak-anaknya dan membawa semua perabotan dari Strasbourg ke Geneva. Ini merupakan suatu perpindahan yang traumatis baik bagi Idelette maupun John Calvin sendiri. Strasbourg telah menjadi rumah bagi Ideletta dan juga anak-anaknya. Apalagi kakaknya, Lambert, beserta keluarganya juga tinggal di Strasbourg. Semua yang diketahui oleh dia mengenai Geneva adalah berdasarkan cerita pengalaman John Calvin selama dia berada di Geneva, dan semuanya itu menggambarkan suatu ketidakpastian dan kebimbangan, jika bukan pencobaan dan penderitaan.

Pada akhirnya, Idelette pergi juga menuju Geneva. Dan setelah dia mulai menetap di rumah baru mereka di Rue de Chanoines No. 11, dia merasa bahagia. Keadaan di Geneva sama sekali berbeda dengan keadaan di asrama Strasbourg yang penuh sesak.

Para dewan kota meminjamkan Calvin perabotan-perabotan, oleh karena mereka tidak memiliki banyak perabotan. Di belakang rumah mereka ada kebun yang ditanami sayur, pohon-pohon untuk obat dan bumbu masak dan juga ditanami berbagai bunga yang mengharumkan udara, semua ini dirawat oleh Idelette. Ketika para tamu berkunjung, dengan bangga John Calvin menunjukkan kepada mereka kebun yang dirawat oleh Idelette.

Pada musim panas mereka yang pertama di Geneva, Idelette melahirkan seorang bayi laki-laki prematur. Si kecil Jacques meninggal dunia pada usia 2 minggu. Ini merupakan suatu pukulan yang berat untuk mereka berdua. "Tuhan memberikan suatu pelajaran kepada kami melalui kematian putera kami." John menuliskan kesedihannya kepada sesama koleganya. "Tetapi Dia sendiri sebagai seorang Bapa, mengetahui apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya."

Tiga tahun kemudian, putri mereka juga meninggal pada saat dilahirkan, dan dua tahun kemudian, ketika John dan Idelette menginjak usia 39 tahun, lahirlah anak ketiga yang prematur, yang juga meninggal kemudiannya. Setelah semua kejadian yang menimpa mereka, kondisi kesehatan Idelette mulai menurun; yang disertai dengan batuk-batuk yang memberatkannya.

Walaupun kehidupan di Geneva bagi John Calvin lebih baik, akan tetapi ini juga bukan merupakan suatu kehidupan yang mudah. Dia mempunyai banyak musuh di kota tersebut sama seperti ia mempunyai banyak sahabat. Beberapa penduduk kota tersebut memanggil anjing-anjing mereka "Calvin". Tetapi yang membuat Calvin lebih marah, apabila mereka juga mengikutsertakan Idelette di dalam gunjingan mereka.

Pernikahan Idelette yang pertama dengan John Stordeur bukanlah merupakan suatu pernikahan yang bersifat suatu upacara pemberkatan resmi, oleh karena ajaran Anabaptis mempercayai bahwa pernikahan itu merupakan suatu hal yang sakral, bukan merupakan suatu tindakan hukum. Beberapa tahun kemudian, gunjingan-gunjingan tersebut makin meluas ke seluruh kota dan mereka berpendapat bahwa Idellete adalah seorang wanita yang mempunyai reputasi yang jelek, dan bahwa kedua anaknya tersebut itu lahir di luar nikah. John Calvin dan Idelette pada saat ini tidak bisa mempunyai anak, mereka mengatakan bahwa Tuhan sedang menghukum mereka oleh karena perbuatan-perbuatan amoral Idelette di waktu lampau.

Walaupun kesehatan Idelette semakin menurun, Idelette tetap berusaha unuk menjaga supaya John tetap berada pada keadaan emosi yang stabil. Teman-teman mereka mengatakan bahwa John berada pada keadaan di mana dia bisa mengontrol emosinya dengan baik, walaupun dia harus dihadapkan dengan berbagai macam serangan.

Idelette masih berusia 30 tahunan ketika dia diserang oleh penyakit, kemungkinan tuberkulosa (TBC), yang merupakan penyebab utama dari kemunduran kesehatannya. Di bulan Agustus 1548, John Calvin menulis, "Dia begitu dikuasai rasa sakitnya sehingga dia sendiri hampir sama sekali tidak mampu untuk mendukung dirinya sendiri." Pada tahun 1549, ketika dia berusia 40 tahun, dia terbaring dengan lemahnya. Idelette hanya baru menikah dengan John untuk 9 tahun, pada saat dia terbaring sakit. Di tempat tidurnya, Idelette mempunyai dua masalah yang sangat diperhatikannya. Salah satunya adalah bahwa sakit penyakitnya janganlah sampai menghalangi pelayanannya Jon Calvin. Yang satunya lagi adalah anak-anakNya.

Di kemudian hari, di salah satu surat John Calvin, dia menuliskan, "Semenjak saya mengetahui bahwa kekhawatirannya terhadap anak-anaknya akan sangat menghabiskan tenaganya, saya mengambil kesempatan ini, tiga hari sebelum hari kematiannya untuk mengatakan bahwa saya tidak akan mengecewakan dia di dalam bertanggungjawab terhadap anak- anaknya." Dia kemudian membalas saya dengan berkata bahwa, "Saya (Idelette) telah mempercayakan anak-anak saya ke dalam tangan Tuhan." Ketika saya menjawab dia bahwa biarpun demikian, saya (John Calvin) tidak akan hanya berpangku tangan dan tidak melakukan apa-apa. Kemudian dia menjawab, "Saya mengetahui bahwa kamu tidak akan melalaikan itu semua, walaupun engkau tahu telah saya serahkan sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan."

Pada hari kematiannya, John sangat terkesan dengan ketenangannya. "Dia tiba-tiba berseru sehingga semua orang bisa melihat bahwa rohnya telah meninggalkan dunia ini. Inilah seruan terakhirnya,"Ya kebangkitan yang mulia! Ya Allah Abraham dan Bapa dari kami semua, sungguh semua orang percaya sepanjang abad yang telah percaya kepada-Mu tidak menaruh pengharapan kepada hal yang sia-sia. Dan sekarang saya memusatkan pengharapan hanya kepada-Nya." Kalimat pernyataan yang singkat ini lebih diserukan secara nyaring daripada hanya sekedar suara bisikan. Ini bukan merupakan suatu pernyataan yang didiktekan oleh orang lain kepada dia. Pernyataan tersebut merupakan kata-kata yang keluar dari pemikirannya sendiri."

Satu jam kemudian, Idelette sudah tidak dapat berbicara dan dia berada dalam keadaan setengah sadar. "Akan tetapi raut wajahnya masih mencerminkan suatu tanda kesadaran mentalnya", John berusaha untuk mengingat peristiwa pada saat itu. "saya membisikkan beberapa kata kepada dia mengenai anugerah Kristus, pengharapan akan kehidupan kekal, pernikahan kami dan kematiannya yang diambang pintu. Kemudian saya berpindah ke samping dan berdoa. Tidak lama kemudian, dia secara perlahan-lahan menghembuskan nafasnya yang terakhir."

John menghadapi masa-masa kesedihan yang sangat mendalam. Dia menulis kepada temannya, Viret, "Kamu mengetahui bagaimana pekanya perasaan saya. Jika saya tidak mengontrol diri saya dengan kuat, saya tidak akan mampu menghadapi masa-masa sulit tersebut sampai saat ini. Kesedihannku sangat mendalam. Teman hidupku yang terbaik telah "diambil" dari kehidupanku. Apabila saya menghadapi kesulitan, dia selalu siap untuk mendengarkannya dan saling berbagi-rasa, bukan hanya dalam pembuangan dan kemiskinan bahkan sampai pada saat terakhir kepergiannya pun dia masih mendengarkan saya."

Surat kepada temannya, William Farel, dia menuliskan bahwa "Saya tidak dapat menjauhi diri saya dari kesedihan yang sangat memukul ini. Teman-teman yang lain juga berusaha untuk menghibur saya...Sekiranya Tuhan Yesus... memberikan saya kekuatan di dalam pencobaan yang berat ini." John Calvin baru berusia 40 tahun pada saat Idelette meninggal dunia, tetapi dia tidak pernah menikah lagi. Di kemudian hari, dia menceritakan tentang keunikan Idelette dan dia bermaksud untuk menghabiskan sisa hidupnya di dalam "kesendirian".

Kehidupan Idelette de bure Calvin merupakan suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kepedihan, tetapi dia tidak pernah merajuk, dia membawa kebahagiaan dan damai di manapun dia berada. John telah mengetahui banyak mengenai Allah Bapa itu berdaulat, tetapi melalui kehidupan dan kematian Idelette, Idelette mengajari dia mengenai Roh Kudus sebagai Penghibur.

William J. Petersen adalah senior editor pada penerbit Revell Books

Sumber: 

Sumber :
Artikel tulisan William J. Petersen yang diambil dari Majalah Christian History Volume V. No. 4 th. 1986

Naskah Khotbah: Hamba Tuhan dan Bacaannya

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi bulan Agustus ini akan menyajikan tulisan Daniel Lukas yang saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" Edisi 2, yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).

Setelah membaca artikel ini, silakan anda bagikan pengalaman anda sendiri dalam hal baca-membaca buku. Berapa banyak waktu yang anda luangkan untuk membaca buku-buku bermutu? Buku apakah yang terakhir anda baca? Mengapa hanya ada beberapa glintir penulis-penulis Kristen Indonesia yang menulis karya yang bermutu?

Selamat sharing.....

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi bulan Agustus ini akan menyajikan tulisan Daniel Lukas yang saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" Edisi 2, yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).

Setelah membaca artikel ini, silakan anda bagikan pengalaman anda sendiri dalam hal baca-membaca buku. Berapa banyak waktu yang anda luangkan untuk membaca buku-buku bermutu? Buku apakah yang terakhir anda baca? Mengapa hanya ada beberapa glintir penulis-penulis Kristen Indonesia yang menulis karya yang bermutu?

Selamat sharing.....

In Christ,
Yulia

Edisi: 
019/VIII/2001
Isi: 

Nas Alkitab: II Timotius 4:13: "Jika engkau ke mari bawa juga... kitab- kitabku, terutama perkamen itu."

Antara tahun 1835-1910 hiduplah seorang yang bernama Samuel Langhorne Clemens atau yang lebih dikenal dengan nama Mark Twain. Ia adalah seorang penulis novel Amerika, khususnya novel anak-anak. Dua buah karyanya yang terkenal berjudul Huckleberry Finn dan Tom Sawyer. Sebagai seorang penulis yang cukup dikenal, pada suatu kali Mark Twain mengundang cukup banyak orang ke rumahnya untuk beramah-tamah. Istri Mark Twain yang bernama Olivia sibuk sekali mempersiapkan acara tersebut dan mengatur segala urusan rumah tangga. Tidak heran, karena mereka mengadakan arisan bagi para tamu di mana yang datang terutama adalah ibu-ibu tetangga mereka.

Ketika mereka sedang menikmati makanan kecil, salah seorang tamu bertanya tentang buku-buku yang dimiliki Mark Twain. Ia memang mempunyai banyak sekali buku. Ada yang berderet rapi dan ada juga yang berserakan di sana-sini. "Untuk apa buku sebanyak ini?" demikian tamu tersebut bertanya heran. Olivia yang sederhana dan memang lugu itu menjawab singkat: "Untuk dibaca." Mendengar jawaban singkat itu tamu tersebut bertambah penasaran sehingga ia bertanya lagi "Dibaca semuanya?" "Tentu. Bahkan, kadang-kadang ada buku yang dibaca berulang- ulang," sahut Olivia ringan.

Percakapan tersebut kebetulan didengar Mark Twain. Kemudian sesudah para tamunya pulang, ia berkata kepada istrinya: "Oliv-ku sayang, lain kali kalau ada tamu yang datang dan bertanya seperti itu lagi tentang buku kita, katakan saja bahwa buku-buku itu memiliki banyak kegunaan: buku itu ada yang tebal, yang tipis, dan yang sedang. Yang tebal bisa kita gunakan sebagai bantal, kalau kita tidak punya bantal; bisa juga kita pakai sebagai anak tangga, atau bisa juga untuk tempat duduk darurat kalau engkau sedang bekerja dan kebetulan tidak ada kursi. Sedangkan buku yang berukuran sedang bisa untuk mengganjal meja, kalau misalnya meja kita goyang-goyang, juga untuk mengganjal almari, dan bisa juga untuk melempar ayam, kucing, memukul kecoa atau apa saja. Buku yang tipis bisa dipakai untuk kipas-kipas, atau menyabet anak yang bandel dan anjing yang susah diatur dan perlu didisiplin. jadi, katakan kepada tamu kita bahwa buku itu mempunyai banyak sekali kegunaan." Begitu kira-kira sindiran Mark Twain untuk orang yang tidak mengerti apa artinya buku.

Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, kalau suatu ketika kita berkunjung ke rumah seseorang yang makmur secara materi, kadang-kadang kita juga akan melihat berderet-deret buku diletakkan dengan sangat rapi di rak yang mahal bersama dengan benda-benda antik. Biasanya mereka juga meletakkan berbagai set ensiklopedia yang disorot dengan lampu yang tertata apik. Sebagai tamu mungkin kita masih boleh bertanya tentang apa nama atau judul buku tersebut. Tetapi sedapat mungkin jangan bertanya apa isinya, karena jangan-jangan tuan atau nyonya rumah akan kebingungan untuk menjawabnya. Mengapa? Karena sebagian orang akan lebih siap menjelaskan isi album foto, arti lukisan mahal yang dipajang, dan nilai atau harga barang hiasan dan benda-benda antik seperti patung, guci atau apa saja, daripada harus menjelaskan isi buku tertentu.

Buku ternyata sudah sedemikian bergeser fungsinya bagi sebagian orang. Saya tidak tahu bagaimana kebanyakan hamba Tuhan memperlakukan buku- buku yang dimilikinya. Berkaitan dengan buku, pada kesempatan ini saya mengajak kita memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari rasul Paulus.

Pertama, bagi Paulus buku adalah bagian dari kehidupan yang esensial atau penting sifatnya. Ketika menulis ayat di atas, Paulus sedang bermukim di dalam penjara yang pengap. Bantalkah yang ia perlukan sehingga Paulus mencari buku? Tentunya tidak demikian. Saya kira Paulus juga bukan seperti orang modern yang saya sebutkan tadi yang menginginkan buku sekadar untuk koleksi saja; perkara dibaca atau tidaknya, itu urusan belakangan. Ia juga bukan sekadar ingin memperlihatkan kepada rekan kerja atau temannya dan juga orang lain di kota Roma bahwa ia mempunyai sedemikian banyak koleksi kitab. Sekali lagi, saya kira kita tidak akan berpikir demikian. Kemungkinan besar Paulus meminta kitab itu karena ia rindu untuk bisa membaca, ditengah- tengah kehidupan penjaranya yang terakhir itu. Bayangkan, seorang rasul seperti Paulus saja memerlukan buku untuk dibaca, apalagi kita yang bukan nabi dan rasul. Bayangkan juga, sebagai seorang rasul yang telah melayani selama lebih kurang 30 tahun -- suatu pengalaman yang panjang sekali -- Paulus tetap rindu membaca buku.

Saudara, Paulus adalah seorang rasul yang mempunyai banyak pengalaman spektakuer (mujizat, nubuat, penglihatan). Kita dapat menyimak fakta tersebut di Alkitab. Ia pernah berjumpa dengan Tuhan Yesus, pernah menyaksikan seseorang yang naik ke langit yang ketiga, pernah mendapatkan wahyu atau penyataan seperti yang disebutkan dalam Galatia 1:12. Semua pengalaman tersebut dapat dikatakan tidak pernah kita alami sekarang, kecuali ada tokoh aliran tertentu yang mengaku-aku demikian. Kalau kita perhatikan kesaksian-kesaksian orang-orang terkenal, misalnya seorang pengusaha besar, tokoh bisnis atau artis, atau bahkan kita sendiri yang mempunyai satu pengalaman pertobatan tertentu, seringkali ternyata pengalaman yang itu-itu saja dipakai terus-menerus baik untuk kesaksian, untuk pelayanan, untuk khotbah. Cerita yang disampaikan dari tempat yang satu ke tempat lainnya biasanya yang itu-itu juga. Oleh sebab itu, tidak heran kalau saudara menjumpai bacaan yang berisi kesaksian Catherine Baxter yang katanya dituntun oleh Tuhan Yesus 40 hari 40 malam turun ke neraka, dan ada begitu banyak orang yang tertarik untuk membaca tulisan tersebut. Berbeda sekali dengan rasul Paulus. Walaupun ia telah berjumpa dengan Tuhan Yesus, tetapi ketika menceritakan pengalaman spektakuler itu, Paulus melakukannya dengan sangat hati-hati dan ia tidak membanggakan pengalaman tersebut. justru yang kita lihat disini pada hari tuanya pun Paulus tetap rindu membaca buku. Padahal, kita pasti tahu bahwa biasanya orang-orang tua senang sekali menceritakan pengalaman masa lalunya, mengulang cerita yang itu-itu juga sampai-sampai yang mendengar menjadi jenuh karena terus-menerus mendengar pengulangan ceritanya.

Yang kedua, bagi Paulus semua orang boleh meninggalkan dia, rekan kerja boleh pergi ke tempat yang lain, tetapi harus ada buku yang menemani untuk menghangatkan kehidupan. Kalau saudara membaca ayat 10, di sana dikatakan "Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku ... Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia." Lalu ayat 12, "Tikhikus telah kukirim ke Efesus." Kemudian juga di ayat 14 dan 15 kita membaca tentang seorang bernama Alexander yang menyakiti hati Paulus dengan cara berbuat jahat kepadanya. Pada ayat 16 Paulus mengatakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama, tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku." Di tengah kesepian seperti itulah, Paulus rindu kepada satu itu yaitu kitab-kitab yang bisa dan biasa menemaninya. Memang kalau saudara perhatikan ayat 11, Paulus mengatakan hanya Lukas yang tinggal dengan dia. Dan kalau kita perhatikan sosok pribadi Lukas, selain disebut sebagai seorang dokter dan seorang sejarawan, ia juga dapat disebut sebagai seorang kutu buku, orang kitab. Yang menemani Paulus adalah orang yang mencintai kitab atau mencintai buku. Saya katakan demikian sebab Lukas mengatakan bahwa sebelum ia menulis Injil Lukas ia menyelidiki dengan teliti bahan-bahan yang ada, literatur yang ada. Jadi boleh dikata ia adalah seorang yang suka melakukan riset dan mencintai kitab. Paulus pun sama. Ia adalah seorang yang mencintai kitab.

Suatu kali saya pernah berjumpa dengan seorang teolog Injil ketika saya melanjutkan studi di Trinity Evangelical Divinity School. Ia adalah seorang yang sudah berusia tujuh puluhan dan dari caranya berjalan orang dapat menduga bahwa ia sudah cukup uzur. Orang itu sering memakai topi bila berjalan di udara terbuka karena ia sudah kehilangan banyak rambut alias botak. Walaupun ketika itu musim dingin, ia masih mengajar di sana padahal umurnya sudah kakek. Orang itu adalah Carl F.H. Henry. kalau ia masih hidup sekarang (tahun 2000) pasti usianya sudah 80 tahun lebih. Bayangkan, pada waktu itu ia masih rajin ke perpustakaan, rajin menulis dan rajin membaca buku. Saya yang masih muda merasa malu kalau saya menjadi sedikit malas ketika mengerjakan sesuatu. Setiap kali saya menjadi sedikit malas, saya teringat pada orang itu. Ia telah memberi teladan tentang suatu semangat hidup yang sedemikian besar. Jikalau dalam kehidupan kita sekarang ini kita cenderung bermalas-malasan baik dalam studi, pelayanan atau apa saja, kita seharusnya malu kepada orang-orang yang usianya lebuh tua dari kita tetapi masih tetap rajin. Oleh sebab itu marilah kita mengingat orang rajin yang usianya lebih tua dari kita seperti Carl Henry atau seperti Paulus. Suatu hari nanti, jika dalam pelayanan kita merasa tidak ada orang yang menemani, dan kebanyakan orang sudah meninggalkan kita atau meninggal lebih dulu, kita mewarisi suatu kebiasaan yang baik dari teladan rasul Paulus, yaitu buku yang bisa menemani kita dan tidak ada yang dapat digantikan dengan apa pun juga.

Yang ketiga, bagi Paulus sekalipun buku-buku adalah penting tetapi Kitab itu yang adalah firman Tuhan merupakan bagian yang paling utama. Saya katakan firman Tuhan karena disini ada dua istilah yang berbeda: kitab-kitab dan perkamen. Kitab (biblion) yaitu gulungan atau terjemahan. Biasanya satu gulungan adalah satu buku. Tetapi istilah "perkamen" (dalam bahasa Yunani "membrana"; bahasa Inggris "parchment") diterjemahkan oleh F.F. Bruce sebagai "let it be especially the Bible." Perkamen biasanya dibuat dari kulit binatang, misalnya kulit kambing, antope dan sebagainya. Oleh karena itu perkamen umumnya lebih tahan lama. Tetapi, selain itu, harganya lebih mahal. Dengan demikian jelaslah bagi kita mengapa materi perkamen dipakai untuk penulisan bagian dari firman Tuhan. Jadi yang Paulus maksud ketika ia meminta dibawakan perkamen itu ke penjara tempat ia ditahan, berarti ia minta dibawakan sebagian dari Alkitab Perjanjian Lama atau bagian dari Injil atau bagian dari surat-surat yang pernah ia tulis atau yang ditulis rasul lain. Yang mana yang Paulus minta tidak jelas, tetapi yang pasti itu adalah bagian dari Alkitab yang adalah firman Allah.

Coba kita perhatikan: pada waktu itu rasul Paulus sedang mengalami kesusahan yang besar. Ia harus berada dalam penjara yang sama sekali tidak menyenangkan di hari tuanya. Ia berada dalam keadaan kedinginan, kesepian, tetapi dalam keadaan demikian, selain buku, ia mencari firman Tuhan. Saya rasa Paulus sesungguhnya tahu cukup banyak tentang Alkitab Perjanjian Lama. Bahkan ia mungkin telah hafal bagian-bagian tertentu dari firman Tuhan, apalagi ia pernah mendapatkan wahyu secara langsung. Tetapi pada hari tuanya ia tetap minta dibawakan kitab-kitab dan perkamen dari kota yang bernama Troas yang jaraknya untuk waktu itu jauh sekali, yaitu kurang lebih 500 kilometer.

Bagi kita yang saat ini sedang melayani di ladang Tuhan atau yang sedang menempuh pendidikan di sekolah teologi, kita tidak boleh melupakan pentingnya membaca buku, terutama Alkitab. Jikalau kita tidak membiasakan diri membaca ketika masih berusia muda, tidak ada jaminan bahwa nanti setelah 10, 20 atau 30 tahun kemudian kita masih mau dan mampu membaca. Harapan dan doa saya adalah supaya kita semua yang dipanggil untuk melayani Dia, kita juga akan tetap mencintai buku- buku dan terutama firman Tuhan sepanjang hidup kita di dunia ini. Sebab, jikalau kita tidak melatih tubuh dan jiwa kita sekarang untuk mencintai firman Tuhan dan buku-buku, di tengah-tengah kesibukan pelayanan kita nanti di ladang Tuhan, agaknya kita tidak akan mempunyai cukup waktu lagi baik untuk persiapan pelayanan maupun untuk pertumbuhan kerohanian kita. Kiranya Tuhan mendorong kita semua supaya lebih mencintai literatur tetapi yang terutama adalah mencintai firman Tuhan. Amin.

Pemahaman Alkitab Pribadi dan Penafsiran Pribadi

Dear e-Reformed netters,

Untuk melengkapi diskusi kita tentang "Memakai Terjemahan Alkitab yang Tepat", maka posting artikel untuk bulan Juli adalah artikel pendek yang saya ambil dari buku tulisan R.C. Sproul tentang "Pemahaman Alkitab Pribadi dan Penafsiran Pribadi".

Selamat membaca dan berdiskusi.

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Untuk melengkapi diskusi kita tentang "Memakai Terjemahan Alkitab yang Tepat", maka posting artikel untuk bulan Juli adalah artikel pendek yang saya ambil dari buku tulisan R.C. Sproul tentang "Pemahaman Alkitab Pribadi dan Penafsiran Pribadi".

Selamat membaca dan berdiskusi.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
R.C. Sproul
Edisi: 
018/VII/2001
Isi: 

Dua warisan yang kita peroleh dari gerakan Reformasi adalah prinsip penafsiran pribadi dan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Kedua prinsip tersebut bergandengan tangan dan baru diselesaikan setelah terjadi dua perdebatan sengit dan penganiayaan. Banyak orang menjadi martir dengan menjalani hukuman dibakar hidup-hidup (terutama di negeri Inggris) karena berani menerjemahkan Alkitab ke dalam mereka sendiri. Salah satu pencapaian Luther yang terbesar adalah terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jerman sehingga setiap orang yang melek huruf dapat membacanya sendiri.

Luther sendirilah yang meruncingkan persoalan penafsiran Alkitab secara pribadi pada abad ke-16. Di balik respons Bapak Reformasi itu terhadap penguasa-penguasa gereja dan negara di Majelis Worms, sebenarnya terdapat prinsip penafsiran pribadi.

Pada waktu Luther diminta untuk menarik kembali tulisan-tulisannya, ia menjawab, "Kecuali kalau saya diyakinkan oleh Kitab Suci atau oleh alasan yang nyata, saya tidak dapat menarik diri. Karena hati nurani saya ditawan oleh Firman Allah, maka tidak benar dan tidak aman melawan hati nurani itu. Di sini saya berdiri. Saya tidak dapat berbuat lain. Allah menolong saya." Perhatikan, Luther berkata, "kecuali kalau saya diyakinkan..." Pada perdebatan-perdebatan yang lebih awal di Leipzig dan Augsburg, Luther telah berani menafsir Alkitab berlawanan dengan interpretasi-interpretasi atau penafsiran-penafsiran Paus dan majelis-mejelis gereja. Begitu beraninya ia, sehingga dituduh congkak oleh pejabat-pejabat gereja. Luther tidak menganggap enteng tuduhan-tuduhan itu, melainkan menderita sekali karena mereka. Ia berpendapat ia dapat saja salah, namun ia juga bersikeras mengatakan bahwa Paus dan majelis-majelis juga bisa salah. Bagi dia hanya satu saja sumber kebenaran yang bebas dari salah. Ia berkata, "Alkitab tidak pernah salah." Jadi, kecuali jika pemimpin-pemimpin gereja dapat menyakinkan dia mengenai kesalahannya, ia merasa diikat oleh kewajiban untuk mengikuti apa yang hati nuraninya diyakinkan oleh ajaran Alkitab. Melalui perdebatan ini lahirlah konsep penafsiran pribadi, yang langsung dibaptis oleh api.

Setelah deklarasi Luther yang berani dan menyusul karyanya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman di Wartburg, Gereja Roma Katolik tidak tergelimpang mati. Gereja itu memobilisasikan kekuatannya untuk serangan balasan seolah-olah dengan tombak berujung tiga. Serangan balasan ini dikenal sebagai "Counter Reformation." Salah satu ujung tombak yang ditikamkan adalah seperangkat formulasi melawan Protestanisme oleh Konsili Trent. Trent berbicara melawan banyak pokok bahasan yang dikemukakan oleh Luther dan tokoh-tokoh Reformasi lainnya. Di antara pokok-pokok bahasan itu ada yang mengenai penafsiran. Trent berkata;

Untuk mengekang semangat-semangat liar, Konsili Trent menetapkan bahwa tidak ada seorang pun diperbolehkan menafsirkan secara pribadi persoalan-persoalan iman dan moral yang berhubungan dengan pembangunan doktrin Kristen. Itu berarti membengkokkan Kitab Suci menurut pemikirannya sendiri dan berani melawan penafsiran Gereja Induk Suci (Katolik Roma). Hak menafsirkan makna Kitab Suci yang sebenarnya ada pada Gereja Induk Suci, meskipun penafsiran itu berlawanan dengan pengajaran yang telah disepakati bersama oleh Bapak-bapak gereja. Tidak seorang pun boleh menafsirkan Kitab Suci secara pribadi meskipun tafsirannya itu tidak untuk diterbitkan.

Pernyataan itu antara lain berkata bahwa Gereja Katolik Romalah yang berkewajiban menguraikan dan menyatakan makna Alkitab serta mengajarkannya. Pernyataan Trent ini jelas dirancang untuk melawan prinsip penafsiran pribadi pihak Reformasi.

Namun jika kita memeriksa pernyataan di atas lebih teliti, kita dapat melihat salah pengertian yang serius tentang prinsip Reformasi. Apakah tokoh-tokoh Reformasi mengembangkan ide penafsiran liar? Apakah penafsiran pribadi berarti bahwa setiap orang berhak menafsirkan Alkitab sesuka hatinya, menuruti apa yang cocok dengan dirinya sendiri? Bolehkah orang menafsirkan Alkitab dengan cara tidak keruan, tidak konsisten, tanpa kendali? Apakah setiap pribadi harus menghargai penafsiran-penafsiran orang lain, misalnya yang berspesialisasi dalam mengajar Alkitab? Jawaban-jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut jelas. Tokoh-tokoh Reformasi juga berprihatin terhadap cara-cara dan sarana-sarana untuk mengekang semangat-semangat liar. Ini jugalah salah satu alasan mengapa mereka bekerja giat untuk menjelaskan prinsip-prinsip sehat penafsiran Alkitab sebagai pengekangan dan keseimbangan menghadapi penafsiran yang fantastis. Tetapi cara mereka berusaha mengekang semangat-semangat liar bukanlah dengan menyatakan bahwa pengajaran-pengajaran pemimpin-pemimpin gereja tidak bisa salah.

Mungkin istilah yang paling penting yang muncul dalam deklarasi Trent tersebut ialah kata membengkokkan. Trent mengatakan bahwa tidak seorang pun memiliki hak pribadi untuk membengkokkan Alkitab. Para Reformasi dengan sebulat hati menyetujuinya. Penafsiran pribadi tidak pernah dimaksudkan agar setiap pribadi berhak membengkokkan Alkitab. Bersama dengan hak penafsiran pribadi adalah tanggung jawab yang penuh kesadaran untuk penafsiran akurat. Penafsiran pribadi memberikan izin menafsir tapi tidak memberikan izin membengkokkan Alkitab.

Jika kita melihat kembali pada zaman Reformasi beserta dengan respons kejam pihak Inkuisisi (suatu badan milik Gereja Katolik Roma di abad ke-13 untuk menyelidiki dan menghukum bidat-bidat) dan penganiayaan-penganiayaan terhadap orang-orang yang mengalihbahasakan Alkitab, kita menjadi ngeri. Kita heran bagaimana para pemimpin Gereja Katolik Roma dapat begitu jahat menyiksa orang-orang karena membaca Alkitab. Namun apa yang sering tidak dilihat dalam perenungan historis seperti itu adalah itikad baik orang-orang yang terlibat dalam tindakan tersebut. Roma yakin bahwa jikalau Alkitab diletakkan di tangan kaum awam yang tidak berpendidikan teologi dan membiarkan mereka menafsir Alkitab, maka pembengkokan-pembengkokan atau penyimpangan-penyimpangan besar akan terjadi. Hal ini akan menyesatkan domba-domba, mungkin juga akan membawa mereka ke neraka kekal. Jadi untuk melindungi domba-domba supaya jangan memasuki jalan yang membawa kepada pemusnahan diri pada akhirnya, Gereja menempuh cara hukuman badan, bahkan sampai kepada hukuman mati.

Luther menyadari bahaya-bahaya gerakan Alkitab di tangan awam, tapi yakin tentang kejelasan Alkitab. Jadi meskipun bahaya penyimpangan besar, ia berpendapat bahwa faedah memperlihatkan berita dasar Injil yang jelas kepada orang banyak akan pada akhirnya lebih banyak membawa orang kepada keselamatan daripada kepada kebinasaan. Luther bersedia mengambil resiko mendobrak pintu air yang akan mengakibatkan banjir kesalahan.

Penafsiran pribadi membuka Alkitab untuk kaum awam, tapi tidak membuang prinsip pendidikan rohaniwan. Kembali kepada zaman-zaman Alkitab, para Reformasi mengakui bahwa dalam praktik dan pengajaran Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ada kedudukan penting untuk para rabi (guru), ahli Taurat dan pelayanan di bidang pengajaran. Bahwa para guru harus ahli dalam bahasa-bahasa asli Alkitab, adat istiadat zaman Alkitab, sejarah suci dan analisis sastra, masih menjadi ciri penting gereja Kristen. Doktrin Luther yang terkenal, "imamat rajani" sering disalahfahami. Doktrin ini tidak berarti tidak ada perbedaan antara rohaniwan dan awam. Doktrin ini hanya menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus berperan dan berfungsi untuk melangsungkan pelayanan gereja secara keseluruhan. Kita semua dipanggil untuk menjadi "Kristus bagi sesama kita" dalam pengertian tertentu. Namun ini tidak berarti bahwa gereja tidak memiliki gembala-gembala atau guru-guru.

Banyak orang telah dikecewakan oleh gereja yang terorganisasi di zaman kebudayaan masa kini. Sebagian di antara mereka bereaksi melampaui batas ke arah anarki gereja. Muncul dari revolusi budaya tahun 60-an dengan kedatangan "Jesus movement" (gerakan Yesus) dan gereja "bawah tanah" muncul pada slogan-slogan pemuda, "Saya tidak perlu mencari pendeta. Saya tidak mempercayai gereja yang terorganisasi ataupun pemerintahan tubuh Kristus yang berstruktur." Di tangan orang-orang seperti itu prinsip penafsiran pribadi dapat menjadi izin untuk subjektivisme radikal.

OBJECTIVITAS DAN SUBJECTIVITAS

Bahaya penafsiran pribadi yang besar adalah bahasa subjectivisme dalam penafsiran Alkitab masa kini. Bahayanya lebih meluas daripada yang dapat kita lihat secara langsung. Saya telah melihat bahaya yang sulit dilihat oleh sembarang orang pada waktu saya ikut serta dalam diskusi dan perdebatan teologis.

Baru-baru ini saya ikut diskusi panel bersama dengan para ahli Alkitab. Kami sedang mendiskusikan pro dan kontra mengenai Perjanjian Baru tertentu yang makna dan penerapannya mengundang perdebatan. Dalam pernyataan pembukaannya, seorang ahli Perjanjian Baru berkata, "Saya berpendapat bahwa kita harus terbuka dan jujur mengenai bagaimana metode pendekatan kita terhadap Perjanjian Baru. Pada analisis terakhir kita akan membacanya seperti apa yang kita ingin baca. Itu tidak menjadi soal." Hampir saya khawatir salah dengar. Saya begitu kaget sehingga tidak membantahnya. Keterkejutan saya bercampur dengan perasaan kesia-siaan dalam mengusahakan kemungkinan bertukar pendapat yang cukup berarti. Jarang sekali mendengar ahli yang menyatakan prasangkanya begitu terang-terangan di depan umum. Kita semua mungkin bergumul melawan kecenderungan yang berdosa melawan keinginan membaca Alkitab sesuai dengan keinginan kita, namun saya harap kita tidak selalu memakai cara itu. Saya percaya ada sarana-sarana yang tersedia bagi kita untuk mengekang kecenderungan itu.

Pada tingkat umum, kemudahan untuk menerima semangat subjectivisme penafsiran Alkitab ini juga sama lazimnya. Sering terjadi, setelah saya selesai membahas makna suatu pasal, orang mendebat pernyataan saya dengan mengatakan, "Ah, itu kan pendapatmu." Komentar itu menunjukkan apa? Pertama, jelas sekali bagi semua orang yang hadir di situ bahwa tafsiran yang saya kemukakan adalah pendapat saya sendiri. Saya hanya seseorang yang baru saja mengemukakan pendapat. Tetapi bukan demikian pendapat orang lain.

Kedua, mungkin komentar itu menunjukkan perdebatan tanpa suara dengan memakai asosiasi yang salah. Dengan cara menunjuk bahwa pendapat yang saya kemukakan itu hanya pendapat saya sendiri, mungkin orang tersebut merasa bahwa itu saja yang diperlukan untuk mendebat, karena setiap orang beranggapan sama menganai saya meskipun tidak dikatakan, yaitu begini: apa saja pendapat yang ke luar dari mulut R.C. Sproul pasti salah karena ia tidak pernah dan tidak akan pernah betul. Betapapun bermusuhannya mereka terhadap pendapat-pendapat saya, saya tidak yakin bahwa itulah yang mereka maksudkan ketika mereka berkata, "Ah, itu kan pendapatmu."

Saya kira alternatif yang paling mungkin dapat digambarkan dengan kata-kata ini, "Itu penafsiranmu yang baik untukmu saja. Saya tidak menyetujuinya, tetapi tafsiran saya sama absahnya. Meskipun tafsiran-tafsiran kita bertentangan, keduanya mungkin betul. Apa yang saya sukai itu betul bagi saya dan apa yang saya sukai itu betul bagimu." Inilah subjektivisme.

Subjektivisme tidak sama dengan subjektivitas. Mengatakan bahwa kebenaran memiliki elemen subjektif, lain daripada mengatakan bahwa kebenaran itu sepenuhnya subjektif. Supaya kebenaran atau kepalsuan dapat bermakna untuk hidup saya, haruslah diterapkan kepada hidup saya dengan cara tertentu. Pernyataan, "Hujan turun di tempat itu" pada kenyataannya boleh benar secara objektif, tetapi tidak relevan dengan hidup saya. Saya baru dapat melihat relevansinya, misalnya, kalau ditunjukkan bahwa hujan itu begitu derasnya sehingga banjir dan merusakkan sawah ladang saya di dekat situ yang baru saja saya tanami. Baru waktu itu pernyataan itu mempunyai relevansi subjektif dengan hidup saya. Pada waktu kebenaran suatu proposisi memukul dan mencekam saya, barulah persoalannya menjadi subjektif. Penerapan teks Alkitab kepada kehidupan saya mungkin bernada sangat subjektif. Tapi ini bukan yang kita maksudkan dengan subjektivisme. Subjektivisme terjadi jikalau kita membengkokkan makna objektif istilah-istilah supaya cocok dengan minat-minat kita sendiri. Mengatakan, "Hujan turun di tempat itu" mungkin tidak berelevansi dengan hidup saya di sini, tetapi perkataan itu tetap bermakna. Perkataan itu bermakna bagi kehidupan manusia di sana, bagi tanaman-tanamannya dan binatang-binatangnya.

Subjektivisme terjadi apabila kebenaran suatu pernyataan tidak hanya diperluas atau diterapkan pada subjeknya, tetapi apabila kebenaran itu secara mutlak ditetapkan oleh subjeknya. Jika kita ingin menghindarkan diri dari pembengkokan atau penyimpangan Alkitab dari awal kita sudah harus menghindari subjektivisme.

Dalam usaha memahami Alkitab secara objektif, kita tidak dapat menciutkan Alkitab menjadi sesuatu yang dingin, abstrak dan mati. Yang harus kita lakukan adalah berusaha memahami apa yang dikatakan olehnya di dalam konteksnya sebelum kita melaksanakan tugas yang sama pentingnya, yaitu menerapkan pada diri kita sendiri. Suatu pernyataan tertentu boleh saja mempunyai kemungkinan adanya sejumlah penerapan-penerapan pribadi, tetapi pernyataan itu hanya dapat memiliki satu arti saja yang benar. Penafsiran-penafsiran yang berlain-lainan yang saling kontradiksi dan tidak dapat disatukan, tidak mungkin benar, kecuali kalau Allah berbicara dengan lidah bengkok. Kita akan membahas persoalan kontradiksi dan makna tunggal pernyataan-pernyataan secara lebih lengkap belakangan. Namun sekarang ini kita membahas penetapan sasaran-sasaran penafsiran Alkitab yang sehat. Sasaran pertama ialah kepada makna Alkitab yang objectif dan menghindari perangkap-perangkap pembengkokan yang disebabkan oleh membiarkan penafsiran-penafsiran dikuasai oleh subjektivisme.

Ahli-ahli Alkitab membuat perbedaan penting antara apa yang mereka sebut sebagai eksegesis dan eisogesis. Eksegesis berarti menerangkan apa yang dikatakan oleh Alkitab. Kata itu berasal dari kata Yunani yang berarti, "memimpin ke luar." Kunci kepada eksegesis ada pada awalan "eks" yang berarti "dari" atau "ke luar dari". Melakukan eksegesis kepada Alkitab berarti mengeluarkan makna yang terdapat pada kata-katanya, tanpa ditambahi dan tanpa dikurangi. Sebaliknya kata eisogesis berasal dari akar kata yang sama, tetapi dengan awalan yang berlainan. Awalan eis, juga berasal dari bahasa Yunani yang berarti "ke dalam". Jadi, eisogesis menyangkut memasukkan ide sendiri ke dalam teks yang sebenarnya sama sekali tidak terdapat dalam kata-kata teks tersebut. Eksegesis adalah usaha yang objektif. Eisogesis menyangkut praktik subjektivisme.

Kita semua harus bergumul dengan problem subjektivisme. Alkitab sering mengatakan hal-hal yang tidak ingin kita dengar. Dalam hal ini kita dapat menutup telinga dan mata kita. Jauh lebih mudah dan jauh lebih tidak menyakitkan untuk tidak mengkritik Alkitab daripada dikritik oleh Alkitab. Tidak heran Yesus sering menutup pembicaraan-Nya dengan, "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" (Luk. 8:8; 14:35).

Subjektivisme tidak saja menghasilkan kesalahan dan penyimpangan, tetapi juga kesombongan. Mempercayai apa yang saya percayai hanya karena saya mempercayainya, atau mempertahankan kebenaran pendapat saya hanya karena itu adalah pendapat saya, adalah contoh kesombongan. Jikalau pandangan-pandangan saya tidak dapat lulus ujian analisis subjektif dan pembuktian, kerendahan hati menuntut supaya saya meninggalkan pandangan itu. Seorang penganut subjektivisme memiliki kesombongan untuk mempertahankan pendapatnya tanpa dukungan atau bukti-bukti objektif. Perkataan, "jika kau ingin mempercayai apa yang kau percayai, baiklah. Saya akan ingin mempercayai apa yang saya percayai," kedengarannya hanya rendah hati di kulit saja.

Pandangan-pandangan pribadi harus dinilai dengan bukti dan pendapat di luar karena kita cenderung membawa kelebihan bobot kepada Alkitab. Tidak ada seorang pun di bumi ini yang memiliki pengertian tentang Alkitab dengan sempurna. Kita semua berpegang pada pandangan-pandangan dan menyukai ide-ide yang bukan dari Allah. Mungkin jika kita tahu secara tepat pandangan-pandangan kita yang mana yang salah itu sulit. Jadi pandangan-pandangan kita memerlukan peralatan yang dapat mengeceknya, yaitu berupa riset dan keahlian orang-orang lain.

PERANAN GURU

Dalam gereja-gereja Reformed pada abad ke-16 diadakan perbedaan antara dua macam tua-tua: tua-tua pengajar dan tua-tua pengatur. Tua-tua pengatur dipanggil untuk memerintah dan mengurus persoalan-persoalan jemaat. Tua-tua pengajar, atau gembala-gembala, terutama bertanggung-jawab untuk mengajar dan melengkapi orang-orang suci untuk pelayanan.

Kira-kira dekade terakhir ini mengalami waktu yang luar biasa dalam pembaruan di banyak tempat. Organisasi-organisasi para gereja (organisasi-organisasi Kristen yang tidak dapat disebut gereja tetapi menjalankan aktivitas-aktivitas yang sejajar dengan gereja) telah berbuat banyak untuk memulihkan fungsi penting kaum awam bagi gereja lokal. Konperensi-konperensi pembaruan kaum awam sudah umum. Penekanannya tidak lagi pada pengkhotbah-pengkhotbah besar, tapi pada program-program besar untuk dan oleh kaum awam. Ini bukan zaman untuk pengkhotbah besar, tetapi zaman untuk jemaat besar.

Salah satu perkembangan penting gerakan pembaruan kaum awam ialah munculnya sejumlah kelompok pemahaman Alkitab kecil-kecil yang dilaksanakan di rumah-rumah tangga. Di sini suasana keakraban dan informalitas terasa. Orang-orang yang dengan cara lain di tempat lain tidak akan tertarik kepada Alkitab di sini maju dalam hal mempelajari Alkitab. Dinamika kelompok dalam bentuk kecil pada dasarnya merupakan kunci untuk membuka hati kaum awam. Kaum awam saling mengajar atau mengumpulkan ide-ide mereka sendiri dalam kelompok-kelompok pemahaman Alkitab seperti itu. Kelompok-kelompok seperti itu telah berhasil membarui gereja. Mereka akan lebih berhasil waktu mereka makin ahli memahami dan menafsir Alkitab. Bahwa orang mulai membuka Alkitab dan mempelajarinya bersama-sama adalah hal yang luar biasa besar. Tetapi ini juga sangat berbahaya. Mengumpulkan pengetahuan membangun gereja. Mengumpulkan ketidaktahuan merusak gereja dan menunjukkan problem orang buta memimpin orang buta.

Meskipun kelompok-kelompok kecil pemahaman Alkitab di rumah-rumah tangga dapat menjadi sarana sangat efektif untuk pembaruan gereja dan perubahan masyarakat, ada waktunya mereka harus menerima pengajaran sehat dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya tetap yakin bahwa gereja memerlukan rohaniwan yang telah terdidik. Studi pribadi dan interpretasi pribadi harus diimbangi oleh kebijaksanaan guru-guru secara kolektif. Jangan salah paham. Saya tidak memanggil gereja untuk kembali pada situasi pra-Reformasi waktu Alkitab ditawan oleh para rohaniwan. Saya bergembira melihat orang mulai mempelajari Alkitab secara berdikari. Dengan demikian darah para martir tidak percuma tumpah. Tapi saya ingin mengatakan bahwa orang awam itu bijaksana kalau mengadakan pemahaman Alkitab yang tidak lepas dari otoritas gembala-gembala atau guru-guru mereka. Kristus sendirilah mengaruniai gereja-Nya dengan karunia mengajar. Karunia itu dan jawatan itu harus dihormati kalau umat Kristus ingin menghormati Kristus.

Penting bagi para guru untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Sudah barang tentu kadang-kadang muncul guru-guru yang meskipun tidak mendapatkan pendidikan formal, namun memiliki wawasan ke dalam Alkitab yang luar biasa. Namun orang-orang seperti itu jarang sekali. Lebih sering kita menghadapi problem dari orang-orang yang mengaku dirinya guru tapi sama sekali tidak berkualitas mengajar. Seorang guru yang baik harus memiliki pengetahuan yang sehat dan keahlian-keahlian yang diperlukan untuk menguraikan bagian-bagian Alkitab yang sulit. Di sini diperlukan penguasaan bahasa asli, sejarah dan teologi, bahkan amat diperlukan.

Jika meneliti sejarah orang Yahudi zaman Perjanjian Lama, kita melihat bahwa ancaman yang paling keras dan terus menerus adalah ancaman dari pihak nabi atau guru palsu. Israel lebih sering jatuh ke dalam kekuasaan guru pembohong yang membujuk mereka daripada jatuh ke dalam tangan orang Filistin.

Perjanjian Baru menyaksikan problem yang sama dalam Gereja Kristen awal. Nabi palsu itu seperti gembala upahan yang hanya berminat kepada upahnya sendiri daripada kepada kesejahteraan domba-dombanya. Tidak semua bermaksud menyesatkan umat Allah, atau memimpin mereka untuk berbuat kesalahan atau kejahatan. Banyak yang melakukannya karena tidak tahu. Kita harus lari dari pemimpin-pemimpin yang tidak berpengetahuan dan tidak berpikir panjang.

Sebaliknya, salah satu berkat besar bagi Israel ialah waktu Allah mengutus kepada mereka nabi-nabi dan guru-guru yang mengajar mereka sesuai dengan pikiran Allah. Dengarlah peringatan yang sungguh-sungguh yang Tuhan sabdakan kepada nabi Yeremia:

"Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri, yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah firman TUHAN. Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?" (Yer. 23:25- 29).

Dengan perkataan penghakiman seperti ini, tidak heran kalau Perjanjian Baru mengingatkan, "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat" (Yak. 3:1). Kita membutuhkan guru-guru yang memiliki pengetahuan sehat dan hatinya tidak melawan Firman Allah.

Pemahaman Alkitab pribadi adalah sarana anugerah yang sangat penting bagi orang Kristen. Itu adalah hak istimewa dan kewajiban kita semua. Dalam anugerah-Nya dan kebaikan-Nya kepada kita, Allah tidak saja menyediakan guru-guru yang berkarunia dalam gereja-Nya untuk menolong kita. Ia juga menyediakan Roh Kudus-Nya sendiri untuk menerangi Firman-Nya dan untuk menunjukkan penerapan-Nya kepada kehidupan kita. Allah memberkati pengajaran sehat dan studi yang rajin.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Judul Artikel : -
Penulis : R.C. Sproul
Penerjemah : -
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1997
Halaman : 26-39

Memakai Terjemahan yang Tepat untuk Menyampaikan Berita yang Benar

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Posting artikel berikut ini saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT). Saya yakin kita dapat belajar banyak dari hasil penelitian Pak Cornelius Kuswanto ini.

Jika ada di antara anggota e-Reformed yang ingin men-sharingkan temuan-temuan seperti contoh-contoh dalam tulisan tsb. silakan mengirimkannya ke seluruh anggota Milis Diskusi e-Reformed di alamat:

< i-kan-untuk-Reformed(at)xc.org >

Selamat belajar,
Yulia

P.S.:
Di dalam artikel ini anda kadang-kadang akan menjumpai: nomor dalam tanda kurung [] atau [Nomor], nomor ini adalah nomor Footnote, yang daftar isinya dapat dilihat pada bagian akhir dari artikel ini. Terima kasih untuk perhatiannya.


Penulis: 
Cornelius Kuswanto
Edisi: 
017/VI/2001
Tanggal: 

18-6-2001

Isi: 

[Catatan : **Angka merah dalam artikel adalah Catatan Kaki yang dapat ditemukan pada akhir artikel]

PENDAHULUAN

Apakah saudara percaya bahwa Ayub menegur isterinya dengan sebutan "perempuan gila"? Apakah saudara yakin kalau Ayub membalas ketiga teman yang sudah menyusahkan hatinya dengan menyebut mereka (maaf untuk pemakaian kata yang "sopan" ini) "penghibur sialan kamu semua?" Saya percaya dan yakin kata-kata ini akan diucapkan oleh seorang jagoan dalam cerita komik. Tetapi saya tidak percaya dan tidak yakin kalau Ayub, seorang yang saleh, jujur dan takut akan Allah (Ayb. 1:1), akan mengucapkan kata-kata "sopan" seperti demikian.

Ternyata "ungkapan sopan" tersebut ada dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia Terjemahan Baru milik saudara dan saya. Dalam artikel yang singkat ini saya mengajak saudara untuk memperhatikan beberapa bagian Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang perlu kita teliti terjemahannya sebelum kita sampaikan beritanya.

Sebagai hamba Tuhan kita dipanggil untuk menyampaikan berita yang benar. Untuk menyampaikan berita yang benar, hamba Tuhan perlu memakai terjemahan Alkitab yang tepat. Orang-orang Kristen di Indonesia mempunyai Alkitab LAI Terjemahan baru (LAI TB 1974) yang merupakan LAI Terjemahan Lama (LAI TL 1965) yang diperbaharui, dan Alkitab dalam Bahasa Indonesia sehari-hari (BIS 1995). Sebelum menyampaikan firman Tuhan, hamba Tuhan perlu melakukan pekerjaan rumah dengan membandingkan lebih dahulu beberapa terjemahan LAI di atas. Alangkah baiknya jika perbandingan versi LAI ini dibandingkan juga dengan beberapa versi bahasa Inggris, umpamanya New International Version (NIV) dan New King James Version (NKJV). Disamping itu, untuk memastikan arti dari beberapa terjemahan di atas, maka hamba Tuhan perlu melihat langsung dari Teks Masoret (TM) untuk Perjanjian Lama dan Alkitab Yunani untuk Perjanjian Baru. Jadi, memilih terjemahan yang tepat bukan sebuah pekerjaan yang mudah dan untuk menyampaikan berita yang benar seorang hamba Tuhan harus berani membayar harganya. Dalam halaman berikut, saya mencoba membandingkan beberapa ayat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang perlu kita analisa terjemahannya. Saya memakai LAI TL**1, LAI TB dan BIS sebagai teks utama, NIV dan NKJV sebagai teks pembanding, TM dan Alkitab Yunani sebagai teks penuntun.

BEBERAPA AYAT PL YANG PERLU DIKOREKSI TERJEMAHANNYA

  1. ADA "BAJINGAN" (IBR. 'ASAPSUP) DI ANTARA ORANG-ORANG ISRAEL YANG KELUAR DARI MESIR) ?
  2. Mari kita perhatikan catatan Bilangan 11:4 dalam beberapa versi di bawah ini:

    LAI TL : "Maka bangsa kacauan, yang di antara mereka itu, beringin- inginlah lalu pulang..."
    LAI TB : "Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus..."
    BIS : "Dalam perjalanan orang-orang Israel itu ada juga orang- orang asing yang ikut."
    NIV : "The rabble with them began to crave other food."
    NKJV : "Now the mix multitude who were among them yielded to intense raving."

    Ketika bangsa Israel mengembara di padang belantara, 'asapsup yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus. Kata yang dipakai di Bilangan 11:4 hanya dipakai satu kali dalam PL, jadi kata ini merupakan sebuah "hapax legomenon"**2. Bagaimana menerjemahkan kata Ibrani 'asapsup ini? Dari konteks Bilangan 11:4, kata 'asapsup mengacu kepada sekelompok orang yang ada di antara bangsa Israel. Kelompok orang yang bagaimana mereka ini? Untuk mengerti arti dari kata Ibrani ini, mari kita membandingkan referensi paralel dari Keluaran 12:38 di mana kelompok orang-orang ini (Ibr. 'ereb**3 rab) disebut sebagai:

    (LAI TB) "Banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka"
    (LAI TL) "Dan lagi suatu tentara besar dari pada pelbagai bangsa itupun berangkat dengan mereka... "
    (BIS) "... Sejumlah besar orang asing juga ikut"
    (NIV) "Many other people went up with them... "
    (NKJV) "A mixed multitude went up with them also..."

    Dari Keluaran 12:38 kita mengetahui bahwa di antara orang Israel yang keluar dari Mesir, ada sekelompok orang asing yang bergabung dengan dengan bangsa Israel. Keluaran 12:38 tidak memberitahu kita bagaimana mentalitas kelompok ini, apakah mereka orang baik-baik atau kelompok preman atau bajingan. Kata benda Ibrani 'ereb hanya berarti "mixture, mixed company, heterogenous body" yang bukan bangsa Israel. LAI TL memberikan pengertian yang berlebihan untuk kata 'ereb, karena istilah "tentara besar" tidak tercakup dalam kata 'ereb.

    Dalam Bilangan 11:4 dicatat bahwa kelompok orang asing ini merasa tidak puas dengan makanan manna yang mereka makan tiap hari. Keluhan mereka menyebabkan orang Israel ikut mengeluh dengan manna yang dianggap membosankan. Kata "bajingan" yang dipakai di LAI TB adalah sebuah kata bernada keras yang mungkin diambil dari kata "sapsup" yang digunakan di Pentateukh orang Samaria**4. Karena Pentateukh orang Samaria menghilangkan 'alep dari kata 'asapsup, maka penggunaan kata 'asapsup di Teks Masoret sepatutnya dipertahankan.

    Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa istilah "bajingan" yang dipakai oleh LAI TB untuk menerjemahkan 'asapsup adalah tidak tepat. "Bangsa kekacauan" yang digunakan oleh LAI TL juga kurang cocok. istilah 'asapsup hanya mengacu kepada sekelompok orang asing. Jadi, menurut Bilangan 11:4 dan ditambah dukungan dari Keluaran 12:38, tidak ada bajingan di antara orang Israel. Yang ada adalah sekelompok orang asing yang ikut keluar dari Mesir bersama orang Israel.

  3. ORANG GIBEON: LICIK ATAU BIJAKSANA?
  4. Orang Gibeon mengetahui bahwa orang Israel di bawah pimpinan Yosua sudah menaklukkan Yerikho dan Ai. Mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat melawan orang Israel. Yosua 9:4 mencatat bagaimana tindakan mereka untuk menghadapi orang Israel.

    LAI T : "maka dipakainya akal, pura-pura mereka itu utusan..."
    LAI TB : "maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal..."
    BIS : "Lalu mereka memutuskan untuk mengelabui Yosua..."
    NIV : "they resorted to a ruse"
    NKJV : "they worked craftily..."

    LAI TL dan LAI TB menerjemahkan kata Ibrani be'orma (preposisi be- dan kata benda 'orma) dengan konotasi positif "akal." Tetapi BIS ("mengelabui"), NIV ("they resorted to a ruse") dan NKJV ("they worked craftily") memberikan konotasi negatif.

    Istilah Ibrani "be'orma" yang dipakai dalam Yosua 9:4 juga dipakai pada Keluaran 21:14 :

    (LAI TB) "Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya, hingga ia membunuhnya dengan tipu daya (be'orma)...."
    (LAI TL) "Tetapi jikalau barang seorang telah membunuh temannya dengan sengajanya..."
    (BIS) "Tetapi jikalau seseorang naik darah dan dengan sengaja membunuh orang lain ..."
    (NIV) "kills another man deliberately ..."
    (NKJV) "to kill him by treachery..."

    Dalam Keluaran 21:14, LAI TB ("dengan tipu daya") dan konotasi negatif yaitu be'orma. Terjemahan LAI TL ("dengan sengaja"), BIS ("dengan sengaja") dan NIV ("deliberately") menjelaskan motif membunuh seseorang yang negatif, yaitu be'orma juga.

    BDB, TWOT dan NIDOTTE**5 menjelaskan kata benda Ibrani 'orma dengan dua macam arti. Arti pertama mempunyai konotasi positif, yaitu "akal" atau "kebijaksanaan." Penggunaan kata 'orma di kitab Amsal 1:4 berkonotasi positif. Arti kedua berkonotasi negatif, yaitu "tipu muslihat" atau "kelicikan." Pemakaian kata 'orma di Keluaran 21:14 dan Yosua 9:4 berkonotasi negatif.

    Dari penjelasan BDB, TWOT dan NIDOTTE di atas, maka 'orma di Yosua 9:4 seharusnya diterjemahkan dengan konotasi negatif. Konteks dekat ayat tersebut juga mendukung pengertian demikian. Kesimpulannya orang Gibeon memakai "tipu daya" untuk mengatasi orang Israel. Jadi, penggunaan kata "akal" di Yosua 9:4 LAI TL dan LAI TB seharusnya diterjemahkan dengan kata "tipu daya" untuk mengatasi orang Israel. Jadi, penggunaan kata "akal" di Yosua 9:4 LAI TL dan LAI TB seharusnya diterjemahkan dengan kata "tipu daya" sebagaimana LAI TB menerjemahkan kata Ibrani 'orma di Keluaran 21:14. Judul perikop Yosua 9 dan LAI TB juga seharusnya "Tipu Daya Orang Gibeon," bukan "Akal Orang Gibeon."

  5. RUT SAMPAI DI LADANG BOAS: KEBETULAN ATAU PENGATURAN TUHAN ?
  6. Kehidupan Rut setelah ia dan Naomi sampai di Betlehem dikisahkan dalam Rut 2:3 sebagai berikut :

    LAI TB : "Pergilah ia [Rut], lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas...."

    LAI TL memakai kata "untung" bagi kata "kebetulan" yang terdapat di
    LAI TB : "Maka pergilah ia lalu sampai ke bendang, dipungutnya mayang di belakang orang pemotong, maka dengan untungnya didapatnya akan sepotong bendang milik Boaz...."

    BIS mengikuti pemakaian kata "kebetulan" dari
    LAI TB : "Maka pergilah Rut ke ladang dan memungut gandum mengikuti para penuai. Kebetulan ia pergi ke ladang milik Boas."
     
    NIV : "As it turned out, she found herself working in a field belonging to Boaz."
    NIV tidak memakai "doktrin kebetulan" dalam Rut 2:3.
     
    NKJV : "And she happened to come to the part of the field be longing to Boaz."

    Yang menjadi fokus perhatian kita pada ayat ini ialah frasa Ibrani "wayyiqer miqreah"**6 yang diterjemahkan menjadi "kebetulan" (LAI TB dan BIS) atau "untung" (LAI TL). Frasa Ibrani miqreh dipakai oleh pengarang kitab Samuel untuk menyatakan kepercayaan para imam dan petenung Filistin. Mereka percaya kepada hal-hal yang terjadi secara kebetulan. Misalnya, dua induk lembu yang baru melahirkan dan mau menarik kereta baru berisi tabut ke arah Bet-Semes dianggap sebuah peristiwa kebetulan (1 Sam. 6:9 "...kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita" [LAI TB]).

    Frasa Ibrani "wayyiqer miqreah" melukiskan apa yang terjadi pada diri Rut saat itu, ia berada di ladang milik Boas**7. Meskipun menurut perkiraan manusia, Rut datang ke ladang Boas kelihatannya seperti sebuah kebetulan, namun sebenarnya langkah Rut dipimpin oleh pengaturan Tuhan. Tuhan campur tangan sepenuhnya atas rencana masa depan Rut. Michael Grisanti mengemukakan arti kata miqreh dalam Rut 2:3 dengan tepat, "In fact, the expression constitutes hyperbolic understatement to stress divine, rather than human involvement."**8

    Kesimpulannya Rut datang ke ladang Boas bukan terjadi secara kebetulan melainkan pengaturan Tuhan sehingga kelak ia menjadi nenek moyang Juru Selamat melalui pernikahannya dengan Boas. Terjemahan yang tepat untuk Rut 2:3 ialah: "Dan terjadilah padanya (ternyata) ia berada di tanah milik Boas...."

    Mari kita melihat satu ayat lagi dari kitab Rut di mana kata "kebetulan" dipakai di LAI TB. "Boas telah pergi ke pintu gerbang dan duduk di sana. Kebetulan lewatlah penebus yang disebutkan Boas itu" (Rut 4:1). LAI TL mengganti pemakaian kata "kebetulan" dengan "maka sesungguhnya": "Arakian, maka Boazpun pergilah ke pintu gerbang, lalu duduklah di sana, maka sesungguhnya penebus yang telah dikatakan Boaz itupun lalu dari sana." Dalam Rut 4:1 kata "kebetulan" dari LAI TB adalah terjemahan dari partikel Ibrani "hinneh"**9," lalu diikuti oleh subjek (Ibr. Hago'el: "penebus") dan kata kerja partisip (Ibr. 'ober. "lewat"). partikel Ibrani "hinneh" biasa dipakai untuk menekankan pentingnya sebuah peristiwa yang terjadi (akan terjadi), setelah kata "hinneh" dipakai. Penulis kitab Rut menekankan pentingnya penebus yang lewat di pintu gerbang di mana Boas duduk. Lewatnya penebus di pintu gerbang menurut penulis kitab Rut bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan campur tangan atau pengaturan Tuhan.

    Sintaks "hinneh" + subjek + kata kerja partisip seperti pada Rut 4:1 dipakai juga di Kejadian 24:15 dan diterjemahkan oleh LAI TB dengan tepat: "Sebelum ia (hamba Abraham) selesai berkata, maka (Ibr. "hinneh") datanglah Ribka...." (dalam bahasa Ibrani: hinneh + Ribka + datanglah). LAI TL memberikan terjemahan TM secara harfiah dengan baik,".....bahwa sesungguhnya keluar Ribkah...." NIV tidak menerjemahkan pemakaian "hinneh" di Kejadian 24:15 "Before he had finished praying, Rebekah came out...," NKJV menerjemahkan "hinneh" dengan kata behold:**10: "... before he had finished speaking, that behold, Rebekah...came out..."

    Sebagaimana lewatnya Ribka di depan hamba Abraham bukan suatu kebetulan (Kej. 24:15), demikian juga lewatnya penebus di pintu gerbang kota Betlehem bukan kebetulan (Rut 4:1). Kesimpulannya, kata "kebetulan" di Rut 4:1 LAI TB sebaiknya diganti dengan "maka/maka sesungguhnya/bahwa sesungguhnya," sehingga kalimatnya akan berbunyi: "Boas telah pergi ke pintu gerbang dan duduk disana. Maka lewatlah penebus yang disebutkan Boas itu."

  7. HAMAN DAN ANAK-ANAKNYA: DISULA ATAU DIGANTUNG ?
  8. Akar kata "sula" (LAI TB) merupakan sebuah Leitwort dalam kitab Ester dan dipakai sembilan kali dalam kitab ini (Est. 2:23; 5:14; 6:4; 7:9,10; 8:7; 9:13,14,25). Terjemahan kata "sula" berasal dari kata Ibrani "tlh". Kata ini pertama kali dipakai sebagai hukuman terhadap para pengkhianat yang diketahui oleh Mordekhai (2:23). Kemudian dalam peristiwa lain yakni ketika istri Haman mengusulkan agar Mordekhai disulakan (5:14 LAI TB). Ironisnya, justru Haman dan anak-anaknyalah yang disula di atas tiang yang dibuatnya (7:10; 9:25 LAI TB).

    Orang yang disula ialah seseorang yang dihukum mati pada tongkat yang runcing atau tajam ujungnya.**11 Hukuman "sula" hanya dicatat satu kali dalam Alkitab, yaitu terhadap orang yang melanggar perintah raja Darius, "Selanjutnya telah dikeluarkan perintah olehku, supaya setiap orang yang melanggar keputusan ini, akan dicabut sebatang tiang dari rumahnya, untuk menyulakannya**12 pada ujung tiang itu...." (Ezr. 6:11).

    Pertanyaan kita ialah, apakah benar terjemahan kata "sula" untuk kata Ibrani "tlh"? Akar kata "tlh" dalam bahasa Ibrani berarti "menggantung (to hang)." Baik NIDOTTE maupun BDB menerjemahkan "tlh" dengan kata "menggantung"**13. Di luar kitab Ester, kata kerja ini juga dipakai untuk menggantung benda. Umpamanya, orang-orang Israel yang hidup di pembuangan di Babilon menggantung kecapi-kecapi mereka di pohon- pohon gandarusa (Mzm. 137:2); penduduk Tirus menggantung perisai- perisai mereka di tembok-tembok kota mereka (Yeh. 27:10, 11).

    Kesimpulannya, LAI TL dan BIS**14 memberikan terjemahan yang tepat untuk kata "tlh" dalam kitab Ester, yaitu "menggantung." Jadi LAI TB sepatutnya juga menerjemahkan seluruh kata "tlh" di kitab Ester dengan kata "menggantung." Raja Ahasyweros mengeluarkan undang-undang di Susan untuk menggantung Haman dan anak-anaknja (Est.9:14, 25). Haman dan anak-anaknya bukan disula, tetapi digantung.

  9. APAKAH AYUB SEORANG YANG SUKA BICARA KOTOR ?
  10. Mari kita melihat dua peristiwa dalam kehidupan Ayub untuk menjawab pertanyaan di atas:

    1. Teguran Ayub kepada isterinya sebagai 'ahat hannebalot di Ayub 2:10 diterjemahkan:
    2. LAI TL : "Katamu ini seperti kata perempuan yang sangat gila."
      LAI TB : "Engkau berbicara seperti perempuan gila."
      BIS : "Kau bicara seperti orang dungu."
      NIV : "You are talking like a foolish woman."
      NKJV : "You speak as one of the foolish women speaks."

      Frasa Ibrani 'ahat hanebalot terdiri dari "ahat" (bentuk feminin konstruk untuk nominal satu) dan "hannebalot" (definitif article dan kata sifat feminin plural dari "nabal"). Frasa Ibrani ini sebenarnya mudah untuk diterjemahkan. Terjemahan harfiahnya seperti NKJV "one of the foolish women" atau "seorang dari wanita-wanita bodoh/bebal."

      Kata sifat Ibrani "nabal" (dalam bentuk maskulin tunggal) dipakai di Perjanjian Lama sebanyak 15 kali, sedangkan "hanebalot" (dalam bentuk feminin plural) hanya dipakai satu kali yaitu di Ayub 2:10. BDB menerjemahkan "nabal" dengan pengertian "bodoh atau dungu"**15, yaitu orang yang bodoh bukan secara intelek tetapi secara moral dan etika.

      Kata Ibrani "nabal" dipakai pertama kali di Ulangan 32:6 "Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap Tuhan, hai bangsa yang bebal..." (LAI TB). Di kitab Mazmur, kata "nabal" dipakai misalnya di: Mazmur 14:1 "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah'" (LAI TB); 39:9 "Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal" (LAI TB); 74:22 "Bangunlah, ya Allah, lakukanlah perjuangan-Mu! Ingatlah akan cela kepada-Mu dari pihak orang bebal sepanjang hari" (LAI TB). Agaknya penerjemah LAI TB untuk kitab Mazmur berbeda dengan penerjemah LAI TB untuk kitab Ayub, sedangkan kata "nabal" di kitab Ayub diterjemahkan dengan kata "gila" oleh penerjemah LAI TB. Terjemahan LAI TL lebih menyimpang lagi dari LAI TB.

      Kesimpulannya, terjemahan yang baik untuk Ayub 2:10 ialah "Engkau berbicara seperti perempuan bebal," atau seperti terjemahan BIS, "Engkau seperti perempuan dungu."

    3. Jawab Ayub kepada Elifas, Bildad dan Zofar - ketiga temannya yang menuduh Ayub sudah berdosa kepada Tuhan - sebagai penghibur 'amal (Ayb. 16:2).
    4. Perhatikanlah perbandingan terjemahan 'amal di bawah ini:

      LAI TL : "maka kamu ini penghibur yang tiada tertahan."
      LAI TB : "Penghibur sialan kamu semua."
      BIS : "penghiburanmu hanyalah siksaan"
      NIV dan NKJV : "... miserable comforters are you all..."

      Jawaban Ayub kepada ketiga temannya menurut LAI TL, BIS, NIV dan NKJV tidak sekeras atau sekotor LAI TB. Apakah yang dimaksud dengan kata Ibrani "'amal" di Ayub 16:2? NIDOTTE menjelaskan "'amal" sebagai "trouble, misery, adversity,"**16 dan menurut BDB "'amal" berarti "trouble, labour, toil."**17 TWOT**18 memberikan 16 macam arti untuk "'amal" di mana pada dasarnya "'amal" berhubungan dengan "unpleasant factors of work and toil." Kata benda ini dipakai 53 kali di PL, kebanyakan di kitab Pengkhotbah (22 kali), Mazmur (13 kali) dan Ayub (8 kali).

      Perbandingan terjemahan kedelapan kata "'amal" di kitab Ayub menurut LAI TB ialah:

      3:10 "...tidak disembunyikannya kesusahan dari mataku...."
      4:8 "...orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga..."
      5:6 "...bukan dari tanah tumbuh kesusahan."
      5:7 "...melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya..."
      7:3 "...malam-malam penuh kesusahan."
      11:16 "...Bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu..."
      15:35 "Mereka (orang-orang fasik) menghamilkan bencana..."
      16:2 "...Penghibur sialan kamu semua."

      Beberapa contoh terjemahan dari kata "amal" di kitab Mazmur menurut LAI TB ialah:

      10:4 "... engkaulah yang melihat kesusahan.."
      25:18 "tiliklah...kesukaranku..."
      73:5 "... mereka tidak mengalami kesusahan manusia..."

      Dalam kitab Pengkhotbah, "'amal" di LAI TB diterjemahkan dengan "usaha atau jerih payah," contoh: "Aku membenci segala usaha yang kulakukan ..." (2:18); "... aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan..." (2:20); "...tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya," (5:14).

      Dari beberapa contoh terjemahan "'amal" yang ada di kitab Ayub, Mazmur dan Pengkhotbah, ternyata LAI TB menerjemahkan "'amal" dengan pengertian "kesusahan," "kesukaran," "usaha," "jerih payah." Arti ini sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh NIDOTTE dan BDB. Tidak ada satu pun pengertian yang berkonotasi kasar atau kotor dalam kata "'amal".

      Kesimpulannya, memang Ayub menegur ketiga temannya yang telah menuduh dia sebagai orang berdosa, tetapi Ayub bukan menegur dengan kata-kata yang kotor atau kasar. Kita perlu mengingat sekali lagi bahwa Ayub tidak membiarkan mulutnya berbuat dosa dengan mengucapkan sumpah serapah (Ayb. 2:10; 31:30). Teguran Ayub kepada ketiga temannya ialah: "Penghibur yang menyusahkan kamu semua."

  11. SAPAN ITU PELANDUK, KELINCI ATAU MARMOT ?
  12. Amsal 30:24-28 mencatat tentang empat binatang kecil**19 di bumi yang sangat bijaksana**20. Salah satu dari keempat binatang kecil yang sangat bijaksana itu ialah sapan (Ams. 30:26). Perhatikan perbedaan terjemahan sapan dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris di bawah ini:

    LAI TL : "Kelinci itu suatu bangsa yang lemah, maka diperbuatkannya juga sarangnya dalam batu gunung."
    LAI TB : "Pelanduk bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu."
    BIS : "Pelanduk binatang yang lemah, tetapi membuat rumahnya di bukit batu."
    NIV : "Coneys are creatures of little power, yet they make their home in the crag."
    NKJV : "The rock badgers are a feeble folk, yet they make their homes in the crags."

    Hewan sapan hanya dipakai empat kali di PL, yaitu di Imamat 11:5; Ulangan 14:7; Mazmur 104:18 dan Amsal 30:26. Mari kita memperhatikan perbandingan terjemahan LAI TL, LAI TB, BIS, NIV dan NKJV untuk hewan sapan di keempat bagian Alkitab tersebut:

    i. Imamat 11:15
      LAI TL : Kelinci   LAI TB : pelanduk   BIS : pelanduk  
      NIV : coney**21   NKJV : rock hyrax
     
    ii. Ulangan 14:7
      LAI TL : kelinci   LAI TB : marmot   BIS : marmot  
      NIV : coney   NKJV : rock hyrax
     
    iii. Mazmur 104:8
      LAI TL : pelanduk   LAI TB : pelanduk   BIS : pelanduk  
      NIV : coneys   NKJV : rock badgers**22
     
    iv. Amsal 30:26
      LAI TL : kelinci   LAI TB : pelanduk   BIS : pelanduk  
      NIV : coneys   NKJV : rockbadgers

    Istilah sapan dalam bahasa Ibrani mengacu kepada "coney/rock badger/hyrax"**23. Terjemahan kata Ibrani sapan di keempat bagian Alkitab di atas jelas tidak tepat untuk pelanduk. Pelanduk termasuk jenis rusa yang tidak termasuk hewan kecil sebagaimana disebut di Amsal 30:24. Kelinci boleh termasuk hewan kecil, tidak berkuku belah, tetapi kelinci bertelinga panjang. Pengertian sapan di NIV dan NKJV, "coney, rock badger, hyrax" mengacu kepada hewan kecil seukuran kelinci tetapi bertelinga pendek dan tidak berkuku belah.

    Binatang sapan memang tidak ada di Indonesia, tetapi "marmot" cukup menjelaskan istilah sapan. Gambar yang dicantumkan dalam BIS halaman 156 untuk menjelaskan sapan di Imamat 11:5 sudah tepat, yaitu "marmot." Sayangnya BIS menerjemahkan sapan di Imamat 11:5; Mazmur 105:18 dan Amsal 30:26 dengan "pelanduk." Terjemahan "pelanduk" dari BIS di Imamat 11:5 tidak cocok dengan gambar yang ada.

    Kesimpulannya, sapan pada Imamat 11:5; Ulangan 14:7; Mazmur 104:18 dan Amsal 30:26 dapat diterjemahkan dengan "marmot."

  13. APAKAH ADA SEBUTAN NAMA TUHAN DALAM KITAB KIDUNG AGUNG ?
  14. Kidung Agung 8:6b merupakan ayat yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Mari kita perhatikan perbandingan beberapa terjemahan dari ayat ini di mana kecemburuan dilambangkan seperti "salhebtya":

    LAI TL : "....nyalanya seperti nyala api, seperti halilintar Tuhan."
    LAI TB : "....nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan."
    BIS : "Nyalanya seperti nyala api yang berkobar dengan dahsyat."
    NIV : "It burns like blazing fire, like a mighty flame."
    NKJV : "Its flames are flames of fire, a most vehement flame."

    Dari perbandingan terjemahan di atas, ternyata terjemahan LAI TL dan LAI TB memasukkan nama Tuhan (LAI TL)/TUHAN (LAI TB), sedangkan terjemahan BIS, NIV dan NKJV tidak memasukkan nama Tuhan. Mengapa dapat terjadi perbedaan seperti demikian? Hal ini disebabkan karena perbedaan dalam menerjemahkan suku kata -ya di akhir kata "salhebetya".

    Akhiran -ya dalam bahasa Ibrani dapat diterjemahkan sebagai kependekan dari nama Yahweh, nama dari TUHAN Perjanjian. Misalnya: (i) Azarya berarti: "Tuhan sudah menolong"; (ii) Yesaya berarti: "Tuhan sudah menyelamatkan."

    Ternyata LAI TL dan LAI TB menerjemahkan suku kata -ya dari "salhebetya" dengan arti "Tuhan." Tetapi perlu diketahui bahwa akhiran - ya dalam bahasa Ibrani juga dapat diterjemahkan untuk pengertian superlatif**24. Umpamanya, frasa Ibrani "'eres mapelya" dalam Yeremia 2:31 diterjemahkan oleh LAI TL, LAI TB dan BIS dengan pengertian superlatif:

    "...Sudahkah Aku menjadi padang gurun bagi Israel atau tanah yang gelap gulita?" (LAI TB)
    "...Adakah pernah Aku bagi orang Israel seperti padang tekukur atau seperti tanah yang gelap gulita?" (LAI TL)
    "...Pernahkah Aku seperti padang gurun bagimu atau seperti tanah yang gelap gulita?"

    NIV juga memberikan pengertian superlatif untuk frasa Ibrani ini:

    "Have I been a desert to Israel or land of great darkness?"
    Frasa "tanah gelap" sebenarnya sudah cukup menjelaskan bahwa tanah itu gelap. Dengan memakai kata majemuk "gelap gulita" berarti bahwa tanah itu amat gelap.

    Dari penjelasan di atas ternyata kita melihat bahwa: (i) Suku kata terakhir -ya tidak selalu harus diterjemahkan untuk kependekan dari nama Tuhan; (ii) Suku kata terakhir -ya dapat diterjemahkan dengan pengertian superlatif. Jadi, kata "salhebetya" di Kidung Agung 8:6 dapat diterjemahkan dengan pengertian superlatif. Pengertian kedua ini juga mempunyai dukungan dari isi kitab ini. Dalam kitab Kidung Agung tidak ada ajaran tentang doa, persembahan, ibadah, pengakuan dosa atau pertobatan. Pokok utama kitab ini ialah tentang kasih di antara seorang wanita dengan seorang pria.

    Kesimpulannya, terjemahan dengan pengertian superlatif untuk kata Ibrani "salhebetya" di Kidung 8:6b ialah: "nyalanya seperti nyala api yang dahsyat." Bandingkan NIV: "It burns like blazing fire, like a mighty flame,"**25 Bandingkan NKJV: "It flames are flames of fire."

BEBERAPA AYAT PB YANG PERLU DIKOREKSI TERJEMAHANNYA

  1. ZAKHEUS MEMANJAT POHON ARA ATAU POHON ARA HUTAN ?
  2. Versi-versi Alkitab untuk Lukas 19:4 memberikan jawab yang berbeda:

    LAI TL : "Maka berlarilah ia dahulu, lalu memanjat sepohon ara hendak melihat Yesus..."
    LAI TB : "Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat, pohon ara untuk melihat Yesus..."
    BIS : "Jadi ia berlari mendahului orang-orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus.."
    NIV : "So he ran ahead and climbed a sycamore fig tree (pohon ara hutan) to see him..."
    NKJV : "So he ran ahead and climbed up into a sycamore tree (pohon ara hutan) to see Him..."

    LAI TL dan LAI TB memberitahukan jenis pohon yang dipanjat oleh Zakheus yaitu pohon ara. BIS tidak memberitahukan jenis pohon yang dipanjat oleh Zakheus, BIS hanya menyebut Zakheus memanjat sebatang pohon. Yang menarik perhatian kita ialah meskipun BIS tidak menyebut jenis pohon yang dipa

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Jurnal Teologi dan Pelayanan "Veritas"
Judul Artikel : -
Penulis : -
Penerjemah : -
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).
Halaman : -

Hermeneutik: Ilmu Tafsir

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Pada kesempatan kali ini saya mengangkat tema "Hermeneutik", yang secara sederhana diartikan sebagai Ilmu Menafsir. Masalah Hermeneutik saya kira adalah masalah yang sangat relevan dibicarakan oleh umat Kristen, lebih-lebih oleh para pelayan Tuhan yang melayani Firman. Oleh karena itu semoga artikel ini membawa berkat dan selamat membaca.

In Christ,
Yulia Oen


Penulis: 
R.C. Sproul
Edisi: 
016/IV/2001
Tanggal: 
27-4-2001
Isi: 

Banyak perdebatan modern mengenai Alkitab berkisar sekitar persoalan- persoalan mengenai hermeneutika. Ilmu Hermeneutika adalah ilmu penafsiran Alkitab. Dalam mitos Yunani, dewa Hermes adalah pembawa berita para dewa. Tugasnya adalah menafsirkan kehendak dewa-dewa. Karena itu hermeneutika berhubungan dengan penyampaian berita yang dapat dimengerti.

Tujuan hermeneutika adalah menetapkan garis-garis pedoman dan aturan- aturan menafsir. Hermeneutika telah berkembang menjadi ilmu yang teknis dan rumit. Dokumen tertulis mana saja adalah subjek salah tafsir. Karena itu kita telah mengembangkan aturan-aturan untuk menjaga kita dari kesalahpahaman seperti itu. Penelitian ini akan kita batasi hanya sampai pada aturan-aturan dan garis-garis pedoman yang dasar saja.

Secara historis Amerika Serikat memiliki badan khusus yang secara teoritis berfungsi sebagai majelis agung hermeneutika negaranya. Badan ini disebut Mahkamah Agung. Salah satu tugasnya yang utama ialah menafsirkan Konstitusi Amerika Serikat. Konstitusi itu merupakan dokumen tertulis dan memerlukan penafsiran. Asalnya, prosedur menafsir konstitusi itu mengikuti apa yang disebut metode gramatis historis. Maksudnya, konstitusi itu ditafsirkan dengan cara mempelajari kata-kata dokumennya sendiri melalui arti kata-kata tersebut pada waktu dipakai untuk menyusun dokumen itu.

Sejak karya Oliver Wendell Holmes, metode penafsiran konstitusi itu telah berubah secara radikal. Krisis dalam hukum dan kepercayaan masyarakat yang terjadi sekarang ini terhadap mahkamah agung nasional langsung berhubungan dengan problem dasarnya, yaitu metode penafsiran. Pada waktu Mahkamah Agung menafsirkan konstitusi menurut cara-cara modern, hasilnya adalah perubahan konstitusi itu melalui penafsiran ulang. Hasil akhirnya ialah bahwa dengan cara yang sangat halus Mahkamah Agung itu menjadi badan legislatif, jadi telah berubah dari fungsinya yang semula sebagai badan penafsir.

Krisis yang sama telah terjadi dengan penafsiran Alkitab. Ketika ahli- ahli Alkitab memakai metode penafsiran yang menyangkut "memodernkan Alkitab" melalui penafsiran ulang, maka makna asli Alkitab menjadi kabur dan beritanya dikompromikan dengan tren-tren (kecenderungan) zaman ini.

ANALOGI IMAN

Ketika para tokoh Reformasi memisahkan diri dari Roma dan menyatakan pandangan mereka bahwa Alkitab harus menjadi otoritas utama gereja (Sola Scriptura), dengan cermat mereka mendefinisikan prinsip-prinsip dasar penafsiran. Aturan utama penafsiran disebut "analogi iman." Analogi iman adalah aturan yang mengatakan bahwa Alkitab harus menafsirkan Alkitab: Sacra Scriptura sui interpres (Kitab Suci adalah penafsirnya sendiri). Artinya cukup sederhana, yaitu bahwa tidak ada bagian Alkitab yang dapat ditafsirkan sedemikian rupa sehingga konflik dengan apa yang dengan jelas diajarkan di bagian Alkitab yang lain. Misalnya, jika suatu ayat tertentu memungkinkan adanya dua macam penerjemahan atau penafsiran yang berlainan dan salah satu penafsiran itu berlawanan dengan bagian-bagian Alkitab yang lain, dan penafsiran yang kedua itu cocok dengan keseluruhan makna Alkitab, maka penafsiran yang kedualah yang harus dipakai.

Prinsip itu bertumpu pada kepercayaan sebelumnya kepada Alkitab sebagai Firman Allah yang diwahyukan. Karena itu mereka juga percaya bahwa Alkitab itu konsisten dan koheren (tetap dan berkaitan). Mereka beranggapan bahwa Allah tidak akan berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Karena itu memilih suatu interpretasi yang menyebabkan Alkitab bertentangan dengan dirinya sendiri, yang sebenarnya tak perlu demikian adalah sama dengan menghujat Roh Kudus. Di zaman kita sekarang ketelitian inspirasi Alkitab sering diabaikan. Sudah umum terdapat para penafsir modern yang tidak hanya menafsirkan Alkitab dengan melawan Alkitab sendiri, tetapi juga menyimpang untuk melakukannya. Usaha-usaha oleh ahli-ahli Alkitab ortodoks untuk menyerasikan pasal-pasal yang sulit dihina dan sangat diabaikan oleh mereka.

Terpisah dari persoalan inspirasi, metode analogi iman adalah metode yang sehat untuk menafsir buah sastra. Norma sederhana mengenai kesopanan yang umum seharusnya melindungi penulis mana saja dari tuduhan-tuduhan berkontradiksi dengan diri sendiri yang tidak berdasar. Jikalau saya dihadapkan kepada pilihan untuk menafsirkan ulasan-ulasan seseorang. Pilihan pertama ialah menyatakan bahwa ulasan-ulasan tersebut konsisten (tetap, tidak berubah-ubah dan tidak kontradiksi). Pilihan kedua ialah menyatakan bahwa ulasan-ulasan tersebut perlu berkontradiksi. Jikalau demikian tampaknya orang tersebut perlu dibebaskan dari tuduhan bahwa ulasan-ulasannya berkontradiksi, karena saya yakin tidak mungkin seseorang berkontradiksi dengan dirinya sendiri.

Pernah orang-orang bertanya kepada saya mengenai pasal-pasal yang telah saya tulis dalam buku-buku saya. Misalnya mengapa saya dapat mengatakan begini dalam pasal 6, sedangkan dalam pasal 4 saya mengatakan begini dan begitu. Saya kemudian menjelaskan apa yang saya maksudkan dalam pasal 6, maka orang tersebut lalu melihat bahwa pada akhirnya kedua macam pemikiran saya itu sebenarnya tidak bertentangan. Perspektif saya dalam pasal 6 agak berbeda dengan perspektif saya dalam pasal 4. Pada pandangan pertama tampaknya kedua perspektif tersebut bertentangan, namun dengan memakai "falsafah melihat kembali kedua kalinya" maka problem itu dapat dipecahkan. Kita semua telah melakukan kesalahfahaman seperti itu, sebab itu kita perlu peka terhadap kata-kata orang lain kalau kita ingin memahaminya.

Sudah barang tentu, mungkin kata-kata saya memang bertentangan. Jadi metode kepekaan dan falsafah "pembebasan dari tuduhan karena diragukan si pelaku memang bersalah" itu hanya dapat diterapkan kalau ada keragu- raguan. Kalau tidak ada keraguan bahwa saya telah berkontradiksi dengan diri saya sendiri, maka yang boleh dilakukan hanyalah mengevaluasi saja. Meskipun demikian, jikalau kita tidak berusaha untuk menafsirkan kata-kata dengan cara konsisten, maka kata-kata yang kita baca itu menjadi sangat kacau. Kalau hal ini terjadi dalam penafsiran Alkitab, maka Alkitab menjadi seperti bunglon yang berubah-ubah warna kulitnya kalau latar belakangnya berubah. Jadi yang dimaksud ialah penafsiran berubah kalau yang menafsir lain.

Jadi jelas bahwa pandangan kita mengenai hakiki dan asal Alkitab memberikan dampak penting pada bagaimana kita akan menafsirkannya. Jika kita memandang Alkitab sebagai Firman Allah yang diwahyukan, maka analogi iman bukanlah metode pilihan, tetapi merupakan tuntutan penafsiran.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Mengenali Alkitab
Judul Artikel : -
Penulis : R.C. Sproul
Penerjemah : -
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1994
Halaman : -

Jika Kristus Tidak Dibangkitkan

Dear Reformed Netters,

Saya ingin mengucapkan, "SELAMAT PASKAH" kepada semua anggota e-Reformed. Sehubungan dengan perayaan PASKAH 2001 kita akan menikmati kotbah Pak Bob Jokiman yang disampaikan pada perayaan PASKAH y.l.

"Thanks, Pak Bob."

In His mercy,
Yulia

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Saya ingin mengucapkan, "SELAMAT PASKAH" kepada semua anggota e-Reformed. Sehubungan dengan perayaan PASKAH 2001 kita akan menikmati kotbah Pak Bob Jokiman yang disampaikan pada perayaan PASKAH y.l.

"Thanks, Pak Bob."

In His mercy,
Yulia

Edisi: 
015/IV/2001
Isi: 

Rasul Paulus, salah seorang pengikut Kristus yang sebelumnya bertobat menjadi penantang Tuhan bahkan membunuh orang-orang Kristen, menulis bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita (1Korintus 15:14,17), karena seluruh iman kristiani di dasarkan pada kebangkitan tersebut. Josh McDowell, seorang apologet dari Campus Crusade for Christ, dalam bukunya yang telah menjadi klasik "Evidence That Demands a Verdict", mengutip H.P.Liddon yang berkata: "Faith in the resurrection is the very keystone of the arch of Christian faith, and, when it is removed, all must inevitably crumble into ruin." Iman kristiani yang didasarkan pada kenyataan dan kepercayaan bahwa Tuhan Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit kembali pada hari yang ketiga kurang-lebih 2000 tahun yang lalu di Yerusalem, bukan saja merupakan dasar iman kristiani yang kokoh tetapi juga bila terus-menerus dihayati akan menjadi sumber sukacita dan harapan yang tidak dapat surut dalam hidup kita sebagai orang-orang percaya. Tanpa Kebangkitan Kristus tiada Jaminan Pengampunan Dosa. Kebangkitan Kristus dapat menjadi sumber sukacita karena menjamin pengampunan bagi umat manusia.

Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia telah berusaha dengan berbagai cara untuk kembali kepada Allah. Umat manusia yang berdosa menganggap bahwa untuk memperoleh pengampunan Allah adalah dengan melakukan perbuatan baik, amal dan memberikan korban atau sesajian. Namun sayang semuanya itu tidak berhasil, semuanya itu tidak menjamin pengampunan dosa umat manusia. Firman Allah menyatakan dengan tegas bahwa kita sekalian seperti orang najis dan segala kesalehan kita seperti kain kotor, kita seperti daun yang layu dan akan dilenyapkan oleh kejahatan kita seperti daun layu yang dilenyapkan oleh angin (Yesaya 64:6). Itulah sebabnya semua agama di dunia ini mendoakan kerabat dan keluarganya yang meninggal supaya dosa-dosa mereka diampuni dan semoga diterima disisi Allah, membuktikan bahwa pengampunan dosa bagi mereka belum merupakan suatu kepastian, pengampunan dosa belum terjamin. Sekalipun selama hidupnya mereka dikenal saleh bahkan menjadi tokoh agama atau rohaniwan sekalipun.

Namun tidak demikian dengan iman kristiani. Alkitab mengajarkan bahwa pengampunan dosa dan kepastian memasuki sorga hanya dapat tercapai apabila kita mengikuti cara yang ditentukan oleh Allah, yang empunya sorga. Seperti halnya kita yang datang ke Amerika, kita baru dapat masuk ke Amerika secara sah apabila kita mendapatkan visa yang dikeluarkan Pemerintah Amerika, yang punya negara ini. Hanya dengan visa tersebut barulah kita dapat masuk ke negara ini. Anda boleh menganggap, berpikir, merencanakan dan melakukan apa saja, tetapi tanpa visa anda tidak boleh masuk, titik! Siapapun anda, pejabat atau jelata, konglomerat atau kaum melarat, profesor atau buta huruf persyaratannya sama, harus punya visa! Kita tidak boleh masuk menurut kehendak dan cara sendiri, tanpa visa kita adalah ilegal dan dapat dideportasi. Kalau dideportasi dari Amerika, masih lumayan kita bisa kembali ke negara kita; Indonesia tercinta. Namun kalau dideportasi dari sorga, mau ke mana kita, tiada tempat lain hanya neraka jahanam, yang sebenarnya disediakan bagi iblis dan para begundalnya!

Kita patut bersyukur, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal supaya barang siapa yang percaya padaNya tidak binasa melainkan peroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). AnakNya itu telah mati di kayu salib dan dikuburkan, namun pada hari yang ketiga telah bangkit dari antara orang mati, seperti yang dinubuatkan-Nya sendiri (Markus 9:30-32). Kebangkitan tersebut bukan saja menyatakan kebenaran Yesus dengan tergenapi nubuatan tersebut, tetapi juga menyatakan bahwa pengorbanan-Nya diterima Allah. Dalam surat Roma 4:25 dikatakan bahwa Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita! Itulah permakluman Allah terhadap karya penebusan Kristus! Kematian Kristus menyatakan kasih serta pengorbannanNya bagi umat manusia dan kebangkitanNya menyatakan pembenaran Allah terhadap pengorbanan Kristus, pengorbananNya untuk penebusan umat manusia telah diterima Allah! KebangkitanNya adalah bukti bahwa Allah mengesahkan pengorbanan Kristus dan dengan demikian mengesahkan pula pengampunan dan penebusanNya bagi umat manusia! Itulah berita sukacita teragung dan yang didambakan seluruh umat manusia. Pengampunan dan penebusan bagi umat manusia dijamin oleh kebangkitan Kristus. Yesus Kristus adalah visa ke sorga, Dialah satu-satunya jalan menuju sorga (Yohanes 14:6)!

Tanpa Kebangkitan Kristus tiada Harapan Hidup Kekal Kebangkitan Kristus dapat menjadi sumber harapan kekal karena menyatakan bahwa Kristus adalah Allah yang tidak terkalahkan oleh maut, sehingga kematian bagi orang percaya tidak lagi menakutkan. Dalam pergaulan sehari-hari, di mana dan kapan saja, kita sering mendengar keluhan- keluhan tanpa harapan dalam hidup seseorang entah ia itu anggota keluarga, teman sekerja maupun sesama umat beragama. Mengapa banyak orang tidak punya harapan dalam hidupnya? Memang ada banyak alasan yang dapat kita berikan, namun dalam pengamatan penulis semua itu terjadi karena kita tidak mempunyai konsep yang benar terhadap kematian sehingga kita tidak memiliki perspektif yang tepat dalam hidup ini.

Salah satu cara untuk mendapatkan konsep yang benar terhadap kematian dan perspektif yang tepat terhadap hidup ini adalah melalui penghayatan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang kita peringati pada Paskah tanggal 15 April ini. Sebagai Gembala Sidang, penulis sering memimpin dan menghadiri Kebaktian-kebaktian Pemakaman, Pengenangan (Memorial Service) atau Penghiburan yang diadakan bagi saudara/i seiman yang ditinggalkan oleh ayahanda, ibunda atau anggota keluarga dekat baik di Los Angeles maupun di Indonesia. Khusus bagi mereka yang ditinggalkan oleh anggota keluarga yang di Indonesia tentu membawa kesedihan tersendiri. Sebagai perantau-perantau di negara asing ini, adalah merupakan kesedihan tersendiri apabila kita tidak sempat mendampingi orang-tua kita tatkala beliau akan menghembuskan nafas terahkir ataupun menghadiri pemakaman orang yang melahirkan, mengasuh, membesarkan serta yang kita kasihi dan hormati. Sebagai manusia biasa; kita patut bersedih namun sebagai orang-orang percaya bagaimanakah kita menanggapi dan menyikapi kematian tersebut?

Melalui kebangkitan Tuhan, maut dan kematian telah dikalahkan. Kebangkitan Tuhan menyatakan bahwa maut tidak sanggup dan tidak berkuasa menawan atau mengalahkan Kristus, karena Dia adalah Allah, Sumber Hidup itu sendiri, bahkan sebaliknya Kristus telah mengalahkan maut! Sehingga dengan gagah kita dapat berkata seperti Paulus:" Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut dimanakah sengatmu?" (1Korintus 15:54-55). Karena kebangkitan Kristus, maut dan kematian tidak lagi menakutkan bagi orang-orang percaya bahkan maut telah menjadi batu loncatan bagi kita menuju kebahagiaan yang tidak bersudahan di sorga.

Maut bukanlah akhir dari segala-galanya melainkan awal dari kekekalan. Kematian bagi orang percaya bukanlah perpisahan yang abadi melainkan perpisahan sementara yang menuju ke pertemuan kekal, penuh sukacita sorgawi. Dan kelak pada kedatanganNya yang kedua kali, semua orang percaya baik yang sudah mati atau yang masih hidup dalam sekejap mata akan memperoleh tubuh yang mulia, tubuh yang akan hidup selama- lamanya, tubuh yang tidak dapat binasa, tubuh yang layak sebagai penghuni sorga karena kebangkitan Kristus adalah buah sulung dan jaminan bagi kebangkitan semua orang percaya! Maut bukan lagi sesuatu yang perlu kita takuti atau sesuatu yang menakutkan, itulah konsep yang benar terhadap kematian. Oleh karena itu perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi tidak harus melarutkan kita dalam kesedihan terus- menerus melainkan menghibur kita bahwa mereka telah bersama Tuhan Yesus, di rumah Bapa di mana masih banyak tempat yang tersedia bagi kita. Di sana mereka telah bebas dari semua penderitaan duniawi! Andaikata Kristus tidak dibangkitkan mereka semua akan binasa selama- lamanya, kita menjadi orang-orang yang tidak berpengharapan.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa tanpa kebangkitan Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia (1Korintus 15:19b), namun kita bersyukur bahwa kubur yang kosong bukan suatu khayalan melainkan kenyataan. Kebangkitan Kristus, adalah fakta sejarah, sehingga iman kristiani tidak didasarkan pada dongeng. Tubuh kebangkitan Kristus mungkin sesuatu yang misterius namun tubuhNya yang lenyap dari kubur adalah bukti sejarah yang tidak dapat disangkal. Kebangkitan Kristus bukan hanya penting sebagai bukti sejarah serta makna teologis; tetapi sangat penting dalam membentuk perspektif yang tepat dalam kehidupan umat manusia yaitu hidup dengan penuh harapan yang tidak pernah mengecewakan di tengah dunia yang mengecewakan ini, sehingga hidup ini dapat menjadi berkat bagi orang banyak dan lebih bermakna. Tuhan yang Bangkit Menantikan Undangan Anda. Allah tidak pernah menghendaki umat manusia mati.

Di dalam Taman Firdaus tidak ada kematian, tidak ada kesakitan, tidak ada air-mata dan tidak ada penderitaan. Tetapi karena dosa, maut telah datang dan menguasai seluruh umat mansuia hingga hari ini. Alkitab mengajarkan bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23), seluruh umat manusia; termasuk anda dan saya tanpa terkecuali adalah orang- orang berdosa, itulah sebabnya kita menjadi tua dan merosot kesehatan kita untuk menuju kepada kematian. Semua itu adalah akibat dosa! Namun Alkitab juga mengajarkan bahwa musuh tersebut, yaitu dosa dan maut telah dikalahkan oleh kematian Kristus di kayu salib dan kebangkitanNya dari kubur. Di atas kayu salib Yesus mati menggantikan kita, di situ Dia menanggung dosa dan hukuman yang harus kita terima. Namun kisah tersebut tidak berhenti sampai di sana saja, pada hari yang ketiga setelah kematianNya Dia bangkit, kuburNya telah kosong! Dia hidup dan akan datang kembali untuk menjemput umatNya.

Keyakinan dan kepastian pengampunan dosa serta hidup kekal di dalam Kristus yang bangkit itu terungkap dengan jelas dalam iman Rasul Paulus:"Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu (Filipi 1:21-24). Orang percaya yang mati di dalam Tuhan, rohnya tidak akan menjelajah atau singgah ke mana-mana, tempat yang akan dituju sudah pasti yaitu rumah Bapa di sorga, karena Tuhan berkata:'... apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (Yohanes 14:3).

Di mana sekarang Tuhan Yesus yang telah dibangkitkan itu berada? Ibrani 8:1 menyatakan:"Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga," Hanya di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus ada pengampunan dosa dan kepastian keselamatan kekal. Apakah Anda telah memiliki keyakian tersebut? Apakah Anda merindukan keyakinan yang sama dengan keyakinan yang dimiliki Rasul Paulus? Sudahkah Anda percaya pada-Nya? Maukah Anda percaya pada- Nya? Ucapkanlah dengan iman dan penuh percaya doa yang singkat dan sederhana ini: "Tuhan Yesus, saya bersyukur mengetahui dengan pasti bahwa hanya di dalam Dikau yang telah mati disalibkan dan dibangkitkan ada pengampunan dan keselamatan kekal. Saya adalah orang berdosa, saya mengakui dan menyesali dosa-dosa saya saat ini. Ampunilah saya dan masuklah dalam hati serta hidup saya sebagai Juruselamat dan Tuhan. Dalam nama-Mu yang berkuasa saya berdoa. Amin." Jika Anda sudah dengan tulus dan sungguh-sungguh hati mengundang Tuhan Yesus masuk ke dalam hati Anda maka percayalah bahwa sekarang juga ia sudah berada dalam hati Anda, Sebab Dia berkata:'Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku' (Wahyu 3:20) Semoga dalam merayakan Paskah kali ini bukan saja Anda lebih mengenal Tuhan yang bangkit itu, tetapi juga telah mengundang-Nya dalam hati dan hidup Anda, serta memperoleh Jaminan serta Harapan kekal di dalam Dia. Semoga Anda hidup dengan penuh sukacita dan harapan kekal.

Selamat Hari Paskah. Amin.

Sumber: 

Sumber : Khotbah Pdt. Bob Jokiman,
(Gembala Sidang Gereja Kristen Indonesia Monrovia di California)

Hamba Tuhan dan Khotbah

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Edisi: 
014/III/2001
Isi: 

Tugas apakah yang terpenting bagi seorang hamba Tuhan? Berdasarkan pengalaman penulis selama 56 tahun, penulis mengambil kesimpulan bahwa tugas yang terpenting dari seorang hamba Tuhan adalah menyampaikan Firman (berkotbah). Jika seorang hamba Tuhan tidak menyampaikan Firman, maka ia ibarat seekor kucing yang tidak mau menangkap tikus, seekor anjing yang tidak mau menjaga pintu, sehingga ia kehilangan fungsi dan tugasnya yang terpenting.

Dari pengamatan penulis selama puluhan tahun, penulis menemukan banyak sekali hamba Tuhan yang hanya berkhotbah satu kali sebulan dalam Kebaktian Hari Minggu di gerejanya dan jika sudah ditahbiskan menjadi pendeta, maka akan ditambah dengan khotbah pendek sebelum Perjamuan Kudus. Selebihnya selama tiga minggu gereja mengundang para dosen teologia, pimpinan organisasi rohani, pendeta yang sudah pensiun atau tamu yang kebetulan lewat untuk mengisi mimbar gereja. Gereja-gereja yang demikian ini, secara umum pasti tidak mempunyai program tema khotbah dan karena pengkhotbahnya terlalu sibuk maka ia selalu menyampaikan khotbah yang sudah pernah disampaikan sehingga penyampaiannya tidak lagi sesuai kebutuhan dan akibatnya anggota jemaat tentu tidak memperoleh apa-apa dari khotbahnya.

Memang diakui bahwa menyiapkan naskah khotbah tidak mudah. Apalagi naskah khotbah yang bisa mencukupi kebutuhan anggota jemaat, ini akan jauh lebih sulit. Penulis ingin membagikan pengalaman masa lalu yang cukup pahit. Pada waktu itu penulis memegang jabatan rangkap, disamping menjadi pendeta gereja juga menjadi dosen di sekolah teologia. Tugas "berkhotbah" penulis rasakan sebagai suatu beban yang berat. Jika Minggu itu kebetulan ada pendeta lain yang sedang lewat dan dapat diundang untuk berkhotbah, maka penulis merasa seperti baru saja terlepas dari pikulan yang berat dan sepanjang minggu itu, khususnya malam minggu, hati merasa ringan dan enak sekali.

Seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk menggembalakan, ia sebenarnya bukan saja bertanggung-jawab terhadap Tuhan dan bertanggung-jawab kepada gereja yang digembalakan tetapi ia juga bertanggung-jawab kepada ribuan jiwa yang belum diselamatkan. Menurut hemat penulis, tugas penting seorang hamba Tuhan dalam menggembalakan sidang adalah "menyampaikan Firman" (berkhotbah).

Hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada pendeta tamu. Rasul Paulus menganggap hubungannya dengan anggota jemaat adalah seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Ia pernah berkata kepada anggota jemaat di Tesalonika, "Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya" (1 Tes. 2:7). Tugas seorang ibu adalah menyusui bayi, dan ia tidak akan mengizinkan ibu lain untuk menggantikan tugasnya. Demikian juga, seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, ia akan menganggap bahwa "berkhotbah" adalah tugas yang mendesak, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis, berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan gereja dan masyarakat, mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

URGENSI KHOTBAH

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Lloyd-Jones, dalam bukunya yang berjudul "I Believe in Preaching" mengatakan, "Menurut hematku, 'berkhotah' adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati." Lebih lanjut ia mengatakan, "Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib." Apakah pernyataan Dr. Lloyd-Jones ini berlebihan? Jawaban penulis adalah, "Tidak!".

Dalam bukunya yang berjudul "History of Preaching, E. C. Dargon mengatakan, "Berkhotbah adalah unsur dan ciri penting dari agama Kristen." Lebih lanjut ia mengatakan bahwa "Khotbah" adalah ciptaan dari agama Kristen. Mengapa demikian? Ia mengatakan, "Karena Pendiri Agama Kristen adalah seorang 'Pengkhotbah'. Baik pendahuluNya, yaitu Yohanes Pembaptis maupun penerusNya, yaitu para rasul, semuanya adalah pengkhotbah yang menyampaikan Firman Allah. Sebab itu, khotbah yang mengajar dan memproklamasikan Firman Tuhan, merupakan karakteristik dasar yang tidak berubah dari agama Kristen."

Injil Matius 9:35, "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

Dengan berdirinya gereja hasil Pentakosta, para rasul disibukkan dengan urusan sosial, akhirnya mereka meminta pada anggota jemaat, agar mereka dilepaskan dari tugas sosial, sehingga dapat mengkonsentrasikan diri pada doa dan khotbah (Kis. 6:4).

Setelah itu, rasul Paulus yang dikenal sebagai rasulnya orang kafir, juga berpendapat bahwa tugas "berkhotbah" itu sangat penting. Ia mengatakan bahwa Kristus mengutusnya bukan untuk membaptis, melainkan untuk mengabarkan Injil. Ia menekankan bahwa "berkotbah" adalah model yang ditentukan Tuhan agar orang berdosa mendengar berita Injil dan dapat diselamatkan. Paulus dengan nada tanya, berkata, "Bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya." (Rom. 10:14). Ia bersaksi di dalam 2 Timotius 4:6, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." Waktu menjelang ajalnya, ia merasa perlu menyampaikan pesan terakhirnya kepada Timotius. Apakah pesan terakhirnya itu? Tidak lain, yaitu: "Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya...." (2 Tim. 4:2)

Mari kita membaca sejarah dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang dipakai Tuhan tentang urgensinya "khotbah".

Reformator Martin Luther mengatakan, "Keberadaan dan hidup gereja adalah bersandarkan pada 'Firman' yang penuh berisi perjanjian Tuhan dan karena "Firman' inilah gereja didirikan, dibina dan bertahan. Lebih lanjut ia mengatakan, "Jiwa roh manusia, boleh tidak diisi oleh apapun, tapi tidak bisa jika tidak diisi oleh 'Firman Tuhan'.... dengan adanya 'Firman Tuhan' ia menjadi kaya dan tidak kekurangan apapun". Luther berpendapat bahwa "penyampaian Firman" tidak dapat ditawar-tawar, karena dengan menyampaikan tentang Kristus, berarti memberi makan pada jiwa roh manusia.

Yohanes Kalvin juga sangat menitik-beratkan Firman Tuhan. Ia menekankan bahwa ciri gereja yang sejati adalah kesetiaannya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Ia mengatakan, "Di mana saja, asal Firman Tuhan dijaga kemurniannya, lalu dikabarkan, diterima dan Perjamuan Kudus dilaksanakan sesuai dengan yang diadakan oleh Tuhan, maka di sana pasti gereja Tuhan itu eksis."

Pendiri gereja Methodis, John Wesley dalam buku hariannya menulis, "Aku dilahirkan adalah untuk menyampaikan Firman Tuhan." Pada usia yang ke 86, ia pernah berkunjung ke Irlandia memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani. Ia menggunakan waktu selama sembilan minggu, mengunjungi 60 kota dan desa dan berkotbah sebanyak seratus kali dan enam kali berkotbah di lapangan terbuka.

Meskipun kita tidak menyetujui pandangan teologia Karl Barth, tapi kesaksiannya tentang penyampaian Firman Tuhan perlu kita dengar. Ia mengatakan, "Semua orang mengakui bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bernilai, lebih mendesak, lebih berguna, lebih bisa menyelamatkan, lebih berfaedah dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan. Dari sudut langit dan bumi kita boleh melihat, tidak ada perkara yang situasinya lebih praktis dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan."

Deitrich Benhoeffer meskipun pandangan teologianya dipermasalahkan, tapi mempunyai pandangan yang baik tentang penyampaian Firman Tuhan. Ia mengatakan "Keberadaan semua bahasa di dunia, dipakai untuk menyampaikan Firman Tuhan. Dengan berkotbah telah diletakkan dasar dunia baru. Melalui khotbah orang mendengarkan Firman Tuhan ....., setiap hamba Tuhan harus berkeyakinan bahwa Kristus akan masuk ke dalam setiap hati manusia melalui khotbah yang berlandaskan pada Alkitab."

KESUAMAN GEREJA DAN KHOTBAH

Mungkin banyak orang tidak menyetujui sebutan "kesuaman gereja" untuk mengungkapkan keadaan gereja masa kini. Memang benar, secara lahiriah, keadaan gereja sekarang menunjukkan kemajuan. Gereja-gereja di Amerika ramai dikunjungi orang dan gejala seperti ini belum pernah terlihat pada waktu-waktu sebelumnya. Dari segi kepadatan penduduk, Jamaika yang berada di Amerika Latin Tengah adalah negara yang paling banyak gedung gerejanya di seluruh dunia. Filipina adalah negara Katolik satu-satunya di Asia yang boleh dikatakan di setiap rumah ada tanda salib dan gereja setiap minggu dipenuhi dengan orang yang berbakti.

Tetapi jika diamati dengan seksama keadaan masyarakat Amerika, maka jelas terlihat kejahatan, kerawanan di bidang keamanan, kemerosotan moral dan kehancuran rumah tangga yang menjamur, menunjukkan ketimpangan yang menyolok dengan keadaaan pertumbuhan gereja. Kejahatan yang terjadi di Jamaika merupakan suatu pelecehan terhadap banyak gedung gereja di sana. Demikian pula dengan keadaaan yang terjadi di Filipina.

Pada abad ke-20 gereja dan jemaat di berbagai daerah Afrika dikabarkan makin bertambah dan berkembang secara pesat. Tetapi Afrika, yang pada abad ke 18 dikenal sebagai "tempat pemakaman para misionaris" yang gelap ini, sampai saat ini tetap dinaungi oleh suasana kegelapan, bahkan makin hari makin kelam. Banyak terjadi pembantaian etnis, sistem politik yang bobrok, perekonomian yang memprihatinkan, kemiskinan yang meluas, ditambah lagi dengan bencana alam dan sebagainya, sehingga nyawa penduduk tidak terjamin. Peristiwa yang terjadi di Afrika, menimbulkan suatu tanda tanya besar, berapa besarkah sebenarnya pengaruh pertambahan gereja dan Injil bagi suasana yang "gelap" di Afrika ini?

Penulis sudah melayani selama 56 tahun, sebagian besar hidup penulis hanya mengerjakan satu hal, yaitu mengabarkan tentang Yesus Kristus. Melalui pengalaman dan penyelidikan selama 56 tahun ini, secara jujur dalam lubuk hati selalu timbul satu pertanyaan: pada abad yang menggalakkan gerakan misi ini, seberapa besarkah pengaruh yang telah diberikan oleh agama Kristen terhadap dunia ini? Kita sering melagukan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya yang menyediakan keselamatan yang sejati, tapi sebenarnya berapakah diantara mereka yang ada di dunia ini sudah mendengar tentang berita keselamatan?

Sepertinya unsur yang ditekankan oleh "Ilmu Pertumbuhan Gereja", adalah "pertumbuhan" dari segi kwantitas di dalam gereja saja. Pimpinan gereja sering bergembira dan puas dengan bertambahnya anggota tetapi terhadap permintaan Tuhan Yesus agar anggota jemaat menjadi "garam dunia" dan gereja menjadi "terang dunia", masih jauh dari kenyataan.

Tidak dapat disangkal bahwa gereja masa kini termasuk gereja yang disebut Tuhan sebagai "Gereja Laodikia", yaitu gereja yang suam-suam. Memang tidak salah jika gereja masa kini disebut 'tidak dingin', karena seruan untuk mengerjakan pelayanan misi keluar begitu nyaring, tetapi didalamnya tidak ada kehangatan dan kegairahan. Tata ibadah dipersiapkan sedemikian baik, sehingga para pengunjung kebaktian merasa keenakan; khotbah yang disampaikan dengan sebutan yang terbaik itu, sering menjadi "irama yang membuaikan". Tetapi Tuhan mengatakan, "Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas, jadi karena kamu suam-suam kuku.... Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu." (Wahyu 3:15-16).

Tuhan menghendaki gereja menjadi "panas" dan cobalah kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah jiwa pelayanan kita "panas" (bergairah)? Apakah pelayanan mimbar kita "panas"? apakah kehidupan doa kita, juga "panas"? Apakah kita yang sering meninggikan "rasio", mencela "emosi" dan "gerakan" ini bersikap "suam-suam kuku" dalam memimpin jemaat, sehingga akhirnya menjadi orang dan gereja yang "dimuntahkan" Tuhan?

Menurut pendapat penulis, jika gereja mau memperoleh "kebangunan", tidak ada jalan lain kecuali kembali ke hadirat Tuhan yang menunggu "kebangunan" itu. Mencari kehendakNya, mentaati pimpinan Roh Kudus agar Tuhan memakai alat yang membangunkan gereja selama dua ribu tahun ini, yaitu: Khotbah!

Tuhan Yesus di dalam Matius 24:45 mengatakan, "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makan pada waktunya?" Siapakah yang dimaksud hamba yang setia dan bijaksana itu? Mereka adalah hamba-hamba yang memberi makan orang-orang pada waktunya! Untuk memberi "pada waktunya", dibutuhkan "kesetiaan" sedangkan untuk memberi "makan", dibutuhkan "kebijaksanaan". Jika dipakai istilah masa kini, maka yang dimaksudkan memberi "makan" adalah "menyampaikan khotbah".

Dr. W. Sangster dalam bukunya yang berjudul "Skill Berkhotbah" tidak mempunyai kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keagungan pekerjaan dari hamba Tuhan ini. Ia hanya menulis demikian, "Hamba Tuhan yang dipanggil, adalah orang yang diutus untuk mengajarkan kebenaran; adalah utusan dari Maha Raja adalah saksi dari Injil yang kekal! Adakah pekerjaan yang lebih mulia dari pekerjaan ini? Allah Bapa mengutus PutraNya adalah untuk mengerjakan pekerjan yang tidak ada bandingnya ini." Pada akhir dari bukunya, ia mengungkapkan kesannya dengan mengatakan, "Mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus, adalah persembahan aktivitas yang tertinggi yang bisa dilakukan seseorang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat dirindukan para malaekat, bahkan penghulu malaekat akan rela meninggalkan kedudukan tinggi di sorga, asal bisa mendapatkan pekerjaan ini."

Profesor Homiletik terkenal di Amerika, Dr. Andrew Blackwood mengatakan, "Profesi sebagai pengkhotbah, seyogyanya ditempatkan dijajaran yang tertinggi dari semua profesi yang ada." Berdasarkan penelitian pendeta terkenal asal Inggris, Dr. John Stott, ditemukan bahwa sejak tahun 60-an, secara umum kesan orang terhadap "khotbah" semakin hari semakin merendah. Menurut pendapatnya "kemerosotan" penilaian terhadap khotbah adalah suatu tanda dari kemerosotan gereja."

Pentingnya pengajaran "khotbah" yang dulu sering diabaikan oleh pihak Katolik, sekarang sudah mendapat tempat yang penting. Teolog Karl Rahner berpandangan bahwa hal yang urgen dan yang perlu diselesaikan sekarang adalah "kesulitan dalam berkhotbah". Masalah yang sangat berat yang sedang dihadapi gereja masa kini adalah ketidak serasian keyakinan Kristen dengan dunia nyata, ia mengatakan, "Banyak orang meninggalkan gereja, karena apa yang disampaikan melalui mimbar tidak berarti bagi mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka. Banyak masalah dan tekanan yang dialami dalam kehidupan tetapi tidak dibicarakan dalam pelayanan mimbar; .... hal ini membawa problem yang semakin besar dalam "khotbah".

Uskup Agung gereja Anglikan di Inggris, Donald Logen berusaha menggalakkan pembaharuan dalam hal berkhotbah. Ia mengatakan, "Allah mengerjakan satu hal yang mengherankan, yaitu: yang berdiri di antara Allah Sang Pengampun dengan manusia yang berdosa adalah "pengkhotbah"; yang berdiri di antara Allah sebagai Pemberi dengan manusia sebagai penerima adalah "Pengkhotbah; yang berdiri di antara Allah sebagai Kebenaran dan manusia sebagai pencari Kebenaran adalah "pengkhotbah". Sebab itu fungsi dari pengkhotbah adalah pekerjaan "menyatukan" antara dosa manusia dengan pengampunan Allah, antara kebutuhan manusia dan kemahakuasaan Allah, antara yang didambakan manusia dengan wahyu dari Allah.

PEMBAHARUAN KHOTBAH

Kunci kebangunan gereja yang sebenarnya terletak pada kebangunan hamba Tuhan itu sendiri, dan salah satu tanda kebangunan hamba Tuhan tersebut adalah kesungguhannya, kehangatannnya dan kerajinan sikapnya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Yang dimaksudkan dengan "kesungguhan" adalah sikapnya terhadap Tuhan; "kehangatan" adalah sikapnya terhadap orang yang mendengarkan khotbahnya; "kerajinan" adalah sikapnya dalam menyiapkan diri dalam khotbah.

KESUNGGUHAN - SIKAP TERHADAP TUHAN

Hamba Tuhan adalah orang yang berdiri antara Allah dan manusia, sebab itu seyogyanya ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan", sehingga dirinya disebut "tukang khotbah" ... melainkan dengan sikap gentar dan takut ia akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mohon rahmatMu untuk memakai dan memimpin saya, agar sebelum menyampaikan khotbah di depan orang banyak, saya tahu bahwa terlebih dahulu saya akan berkhotbah bagi diri sendiri. Dan saya lebih dulu akan memberi contoh dengan melaksanakan kebenaran tersebut; biarlah keberadaan saya di depan orang, bukan hanya menjadi "terompet" dari kebenaran itu, melainkan menjadi fakta kebenaran itu sendiri.

Pendeta Amerika yang terkenal di abad ke 19, Dr. Philips Brooks mengatakan, "Pengkhotbah adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada khalayak ramai. Di dalamnya terdapat dua unsur, yaitu: kebenaran dan karakter...... Pengkhotbah melalui karakternya menunjukkan kebenaran.... Kebenaran itu sendiri adalah unsur yang tidak berubah, tetapi karakter adalah unsur yang berubah dan bertumbuh."

Colin Morris mengatakan, "Berita yang mengandung kuasa, bukan disampaikan melalui mimbar, melainkan melalui salib. Khotbah yang berhasil, bukan hanya "didengar" tapi juga "dilihat". Jika hanya mengandalkan "kefasihan lidah", "skill berkhotbah", "pengetahuan Alkitab" hal itu belumlah cukup, karena masih perlu ditambah dengan kesedihan yang sangat, penderitaan, pergumulan, keringat, darah, sehingga bisa mengekspresikan kebenaran yang disampaikan. Hanya dengan demikianlah baru kita bisa menaklukkan hati para pendengar.

KEHANGATAN - SIKAP TERHADAP PARA PENDENGAR

Abad ini dikenal dengan abad yang menitik-beratkan pada "rasio". Banyak sekali cendekiawan dan pendeta besar berpendapat bahwa kita hanya bisa menggunakan "rasio" untuk menaklukkan hati para pendengar dan bukan dengan "emosi". Ada seorang pendeta yang bertemu dengan seorang aktor dan bertanya, bagaimana bisa memainkan peran yang begitu mengesankan dan menarik? Dimana letak rahasianya? Dan pendeta itu juga mengemukakan bahwa dalam menyampaikan khotbah, ia tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Dengan tertawa aktor itu menjawabnya, "Peran yang kami tampilkan bisa sedemikian menarik karena cerita fiktif itu telah kami mainkan dengan sungguh-sungguh, sehingga cerita itu seperti sungguh-sungguh terjadi. Tetapi tidak demikian dengan kalian yang menyampaikan kebenaran yang sejati, anda menampilkannya dengan sembrono, sehingga orang menerimanya seperti berita yang hanya bohong-bohongan saja.

Siapa yang mengatakan bahwa dalam berkhotbah tidak diperlukan "emosi"? Tuhan Yesus menangis untuk penduduk Yerusalem yang tidak mau bertobat (Luk. 19:4). Paulus sangat marah terhadap orang Atena yang menyembah kepada berhala; demi Allah yang benar, hatinya menjadi panas (Kis. 17:16). Ia sangat peduli terhadap kemuliaan Allah, sebab itu ia memberitahukan orang di Filipi, "karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus." (Flp. 3:18). Paulus juga memberitahukan para penatua di Efesus, "Sebab itu, berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata." (Kis. 20:31).

Jangan mengira mempunyai perasaan demikian (mengucurkan air mata), hanya berlaku pada masa Perjanjian Baru saja, karena kita juga harus memilikinya pada masa kini. James Alexander mengatakan, "Hamba Tuhan yang tidak memiliki perasaan yang demikian besar tidak akan bisa menjadi hamba Tuhan yang besar pula."

Pada waktu berdiri di atas mimbar, hendaklah ingat bahwa kita sedang mengurusi masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan kita berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Sebab itu, hendaklah kita memandang penting pelayanan mimbar dan jauhkanlah sikap apatis dan anggapan bahwa mimbar hanya sebagai sarana untuk berbicara saja.

Richard Baxter pernah mengutarakan kata-kata bagi dirinya sebagai berikut: "Aku merasa heran terhadap diriku, bagaimana aku bisa berkhotbah dengan sikap yang dingin tanpa perasaan dan bagaimana aku bisa bersikap apatis terhadap mereka yang sedang berada di dalam belenggu dosa? Seharusnya aku mendatangi mereka dan memohon dengan sangat agar mereka demi kasih Tuhan bertobat.... Aku sering turun dari mimbar dengan hati nurani yang tidak tenang, karena merasa khotbahku tadi kurang sungguh-sungguh dan kurang semangat. Aku tidak mempersalahkan diri karena kurang fasih dalam berkata-kata dan aku juga tidak menyalahkan diri karena tidak menggunakan kata-kata yang tepat, tapi aku sering bertanya pada diri sendiri, 'bagaimana kamu bisa bersikap demikian di dalam menyampaikan masalah besar yang mempunyai kaitan mati dan hidupnya manusia, bukankah seharusnya aku menangis untuk mereka dan membiarkan air mataku menyela khotbahku? Bukankah seharusnya aku berteriak dengan kesungguhan untuk mengatakan dosa dan kesalahan mereka dan dengan sangat memohon seperti seorang yang sedang menghadapi pilihan antara hidup dan mati?"

John Stott menganggap sikap yang penuh dengan kesungguhan sangat mudah menarik hati dan perhatian orang. Dr. John R. Rice mengatakan, "Pada waktu seorang hamba Tuhan berdiri di mimbar, menyampaikan tema yang sangat penting dan serius tentang neraka dan api yang tanpa padam; seharusnya ini menyebabkan ia bertelut di hadapan Tuhan dan bersikap sungguh-sungguh dalam penyampaiannya. Tapi patut disesalkan, karena banyak hamba Tuhan dalam menyampaikan tema yang penting dan serius ini dengan sikap santai tanpa perasaaan. Berbicara panjang lebar tentang teologi "nekara" tanpa bara api dalam hati dan air di mata. Gembala Sidang di Inggris, Campbell Morgan mengatakan, tiga unsur khotbah adalah: kebenaran, kejelasan dan emosi."

RAJIN - SIKAP MEREVISI KHOTBAH

Seorang hamba Tuhan yang bersikap sungguh-sungguh pada Tuhan dan hangat pada para pendengarnya, pasti pula seorang hamba Tuhan yang rajin untuk selalu merevisi bahan khotbahnya. Ia pasti rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin pula menunggu berita dari hadirat Tuhan; rajin membaca buku-buku rohani dan buku-buku lain yang bisa menambah wawasannya; rajin berkunjung dan mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gereja; rajin mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan khotbahnya.

Dr. Harry E. Jesssop mengatakan, "Seorang hamba Tuhan yang tidak putus-putusnya menuntut kemajuan, bisa menjaga hati yang bersifat rohani dan sensitif akan memiliki otak yang terisi dengan pengetahuan yang luas. Seorang hamba Tuhan yang sudah berusia pertengahan, yang tidak lagi menuntut kemajuan, yang tidak lagi membaca buku-buku akan mendatangkan malapetaka bagi gereja. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja sering mengulang khotbah yang sudah disampaikan tapi juga malas untuk mengubah dan menyempurnakan bahan khotbahnya. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja kehilangan semangat untuk menyelamatkan jiwa yang tersesat, bahkan semangat untuk berdoa bagi jiwa-jiwa yang tersesat pun sudah tidak ada lagi.... Tidak ada hamba Tuhan yang karena usia tua tidak lagi perlu berkhotbah. Jika ia benar-benar rajin membaca, rajin berpikir, rajin berdoa, maka usianya yang tua bukan menjadi penghalang tapi sebaliknya menjadi sumber berkat!"

Sumber: 

Judul Buku
Pengarang
Penerbit

Tahun
Halaman
:
:
:

:
:
Problematika Hamba Tuhan
Rev. Yap Un Han, Th.M.
Persekutuan Alumni Singapore Bible College, Jakarta
dan Yayasan Daud Family, Menado,
1998
67 - 83

Etos Postmodern

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat bahan tentang Postmodernisme yang berjudul "POSTMODERNISME; Sebuah Pengenalan" yang ditulis oleh Stanley J. Grenz. Tulisan yang saya bagikan berikut ini adalah salah satu bagian dari buku tsb. Mudah-mudahan artikel ini menolong kita untuk mengenal fenomena Postmodernisme yang sedang terjadi di sekitar kehidupan kita.

In His grace,
Yulia Oen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat bahan tentang Postmodernisme yang berjudul "POSTMODERNISME; Sebuah Pengenalan" yang ditulis oleh Stanley J. Grenz. Tulisan yang saya bagikan berikut ini adalah salah satu bagian dari buku tsb. Mudah-mudahan artikel ini menolong kita untuk mengenal fenomena Postmodernisme yang sedang terjadi di sekitar kehidupan kita.

In His grace,
Yulia Oen

Edisi: 
013/III/2001
Isi: 

Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme.

Masyarakat kita berada dalam pergolakan dan pergeseran kebudayaan. Seperti proyek bangunan Pruitt-Igoe, pemikiran dan kebudayaan modernisme sedang hancur berkeping-keping. Ketika modernisme mati di sekeliling kita, kita sedang memasuki sebuah era baru - postmodern.

Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi dari masyarakat kontemporer. Pada intinya, Postmodern adalah suasana intelektual atau "isme"- postmodernisme.

Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernism. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal. Etos postmodern menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains, yang merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pada dasarnya, postmodernisme adalah anti-modern.

Tetapi kata "postmodern" mencakup lebih dari sekedar suasana intelektual. Penolakan postmodernisme terhadap rasionalitas terwujud dalam banyak dimensi dari masyarakat kini. Tahun-tahun belakangan ini, pola pikir postmodern terwujud dalam banyak aspek kebudayaan, termasuk arsitektur, seni, dan drama. Postmodernisme telah merasuk ke dalam seluruh masyarakat. Kita dapat mencium pergeseran dari modern kepada postmodern dalam budaya pop, mulai dari video musik sampai kepada serial Star Trek. Tidak terkecuali, hal-hal seperti spiritualitas dan cara berpakaian juga terpengaruh.

Postmoderisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Postmodernitas menunjuk kepada era yang sedang muncul, era di mana kita hidup, zaman di mana postmodernisme mencetak masyarakat kita. Postmodernitas adalah era di mana ide-ide, sikap-sikap, dan nilai-nilai postmodern bertahta - ketika postmodernisme membentuk kebudayaan. Inilah era masyarakat postmodern. Tujuan kita dalam bab ini adalah melihat dari dekat fenomena postmodern dan memahami sedikit tentang etos postmodernisme. Apakah tanda-tanda ekspresi budaya dan dimensi hidup sehari-hari dari "generasi mendatang ini?" Apakah buktinya bahwa pola pikir baru sedang menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini?

FENOMENA POSTMODERN

Postmodernisme menunjuk kepada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat kini. Sekonyong-konyong kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, postmodernisme, tetapi kita harus memperinci apa saja yang tercakup dalam fenomena postmodern.

KESADARAN POSTMODERN

Bukti-bukti awal dari etos postmodernisme senantiasa negatif. Etos tersebut merupakan penolakan terhadap pola pikir Pencerahan yang melahirkan modernisme. Kita dapat melacak etos postmodern di mana-mana dalam masyarakat kita. Yang terpenting, postmodernisme telah merasuk jiwa dan kesadaran generasi sekarang ini. Ini merupakan perceraian radikal dengan pola pikir masa lalu.

Kesadaran postmodern telah melenyapkan optimisme "kemajuan" (progress) dari Pencerahan. Postmodern tidak mau mengambil sikap optimisme dari masa lalu. Mereka menumbuhkan sikap pesimisme. Untuk pertama kalinya, anak-anak pada masa kini berbeda keyakinan dengan orang tuanya. Mereka tidak percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Dari lubang yang besar di lapisan Ozon sampai kepada kekerasan antar remaja, mereka menyaksikan permasalahan semakin besar. Mereka tidak lagi percaya kalau manusia dapat menyelesaikan masalahnya dan kehidupan mereka akan lebih baik daripada orangtua mereka.

Generasi postmodern yakin bahwa hidup di muka bumi bersifat rawan. Mereka melihat bahwa model "manusia menguasai alam" dari Francis Bacon harus segera digantikan dengan sikap kooperatif dengan alam. Masa depan umat manusia sedang di persimpangan jalan.

Selain sikap pesimis, orang-orang postmodern mempunyai konsep kebenaran yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pemahaman modern menghubungkan kebenaran dengan rasio sehingga rasio dan logika menjadi tolok ukur kebenaran. Kaum postmodern meragukan konsep kebenaran universal yang dibuktikan melalui usaha-usaha rasio. Mereka tidak mau menjadi rasio sebagai tolok ukur kebenaran. Postmodern mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada rasio. Mereka menemukan cara-cara nonrasial untuk mencari pengetahuan, yaitu: melalui emosi dan intuisi.

Keinginan mencari model kooperatif dan penghargaan kepada cara nonrasional menciptakan sebuah dimensi holistik bagi kaum postmodern. Postmodern dengan holismenya menolak cita-cita Pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional. Orang-orang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi "seutuhnya".

Postmodern dengan holisme-nya mencakup integrasi seluruh dimensi dari kehidupan pribadi - perasaan, intuisi, dan kognitif. Keutuhan juga mencakup kesadaran akan lingkungan dari mana kita berasal. Tentu saja area ini mencakup "alam" (ekosistem). Tetapi ia juga komunitas. Konsep "keutuhan" postmodernisme mencakup aspek-aspek agama dan kerohanian. Postmodernisme menegaskan bahwa keberadaan diri dapat dikenal dalam lingkup ketuhanan.

Karena setiap orang selalu termasuk dalam konteks komunitas tertentu, maka memahami kebenaran haruslah bersama-sama. Keyakinan dan pemahaman kita akan kebenaran, berakar kepada komunitas dimana kita berada. Mereka menolak konsep Pencerahan yang universal, supra-kultur, dan permanen. Mereka lebih suka melihat kebenaran sebagai ekspresi dari komunitas tertentu. Mereka yakin bahwa kebenaran adalah aturan-aturan dasar yang bertujuan bagi kesejahteraan diri dan komunitas bersama- sama.

Dalam pengertian ini, kebenaran postmodern berhubungan dengan komunitas. Karena ada banyak komunitas, pasti ada kebenaran yang berbeda-beda. Banyak kaum postmodern percaya bahwa keanekaragaman kebenaran ini dapat hidup berdampingan bersama-sama. Kesadaran postmodern menganut sikap relativisme dan pluralisme.

Tentu saja, relativisme dan pluralisme bukanlah barang baru. Tetapi jenis pluralisme dan relativisme dari postmodern ini berbeda. Relatif pluralisme dari modernisme bersifat individualistik: pilihan dan cita rasa pribadi diagung-agungkan. Mottonya adalah "setiap orang berhak mengeluarkan pendapat."

Sebaliknya postmodernisme menekankan kelompok. Kaum postmodern hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang memadai, dengan bahasa, keyakinan, dan nilai-nilainya tersendiri. Akibatnya pluralisme dan relativisme postmodern menyempitkan lingkup kebenaran menjadi "lokal". Suatu kepercayaan dianggap benar hanya dalam konteks komunitas yang meyakininya.

Karena itu ketika kaum postmodern memikirkan tentang kebenaran. Mereka tidak terlalu mementingkan pemikiran yang sistematis atau logis. Apa yang dahulu dianggap tidak cocok, kaum postmodern dengan tenang mengawinkannya. Mereka mengkombinasikan sistem-sistem kepercayaan yang dulu dianggap saling berbenturan, Misalnya, seorang Kristen postmodern percaya kepada doktrin-doktrin gereja sekaligus juga percaya kepada ajaran non-Kristen seperti reinkarnasi.

Orang-orang postmodern tidak merasa perlu membuktikan diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/kepercayaan adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan,"Apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi Anda," dan "Apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda."

KELAHIRAN POSTMODERNITAS

Sebenarnya postmodernisme telah mengalami masa-masa inkubasi yang cukup lama. Meskipun para ahli saling berdebat mengenai siapakah yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, terdapat kesepakatan bahwa istilah tersebut muncul pada suatu waktu pada tahun 1930-an.

Salah satu pemikir postmodernisme, Charles Jencks, menegaskan bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya "Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana" (1934), de Onis memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme.

Yang lebih sering dianggap sebagai pencetus istilah tersebut adalah Arnold Toynbee, dengan bukunya yang terkenal berjudul "Study of History". Toynbee yakin benar bahwa sebuah era sejarah baru telah dimulai, meskipun ia sendiri berubah pikirannya mengenai awal munculnya, entah pada saat Perang Dunia I berlangsung atau semenjak tahun 1870-an.

Menurut analisa Toynbee, era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasaan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non- Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru.

Meskipun istilah ini muncul pada tahun 1930-an, postmodernisme sebagai sebuah fenomena kultural belum menjadi sebuah momentum sampai 40 tahun setelahnya. Ia muncul pertama-tama dalam lingkup kecil masyarakat. Selama tahun 1960-an, suasana yang menandai postmodernisme sangat menarik bagi para seniman, arsitek, dan pemikir yang sedang mencari alternatif untuk melawan dominasi kebudayaan modern. Bahkan beberapa teolog ikut tertarik dengan trend tersebut, antara lain William Hamilton dan Thomas J.J. Altizer yang "mengundang arwah" Nietzsche untuk memberitakan matinya Allah. Perkembangan yang beraneka ragam ini membuat "pengamat kebudayaan" Leslie Fiedler pada tahun 1965 menambahkan istilah "post" kepada kata modern sehingga menjadi postmodernisme yang menjadi simbol kontra-kultural pada zaman itu.

Selama tahun 1970-an tantangan postmodern menembus kepada arus budaya utama. Pada pertengahan tahun tersebut, muncullah seorang pembela postmodern yang paling konsisten mempropagandakan ide postmodern, yakni: Ihab Hassan. Ia menghubungkan postmodernisme dengan eksperimentalisme dalam bidang seni dan ultra teknologi dalam bidang arsitektur.

Tetapi etos postmodern secara tepat menjalar terus ke bidang-bidang lain. Profesor-profesor di universitas dalam berbagai fakultas mulai berbicara mengenai postmodernisme. Bahkan beberapa di antara mereka tenggelam dalam konsep-konsep postmodern.

Akhirnya penerimaan etos baru begitu menjalar terus ke mana-mana sehingga istilah "postmodern" menjadi label yang digunakan bagi berbagai fenomena sosial dan budaya. Gelombang postmodern menyeret berbagai aspek kebudayaan dan beberapa disiplin ilmu, khususnya sastra, arstektur, film, dan filsafat.

Pada tahun 1980-an, pergeseran dari lingkup kecil kepada lingkup besar terjadi. Secara bertahap, suasana postmodern menyerang budaya pop bahkan juga hidup sehari-hari masyarakat. Konsep-konsep postmodern bahkan bukan hanya diterima tetapi populer: sangat menyenangkan menjadi seorang postmodern. Akibatnya, para kritikus kebudayaan dapat berbicara mengenai "nikmatnya menjadi seorang postmodern." Ketika postmodernisme diterima sebagai bagian dari kebudayaan, lahirlah postmodernitas.

PENCETUS POSTMODERNITAS

Antara tahun 1960 dan 1990, postmodernisme muncul sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Mengapa? Bagaimana kita menjelaskan munculnya etos ini dalam masyarakat kita? Banyak pengamat menghubungkan transisi ini dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada paruh kedua dari abad ke-20. Faktor pencetus terbesar adalah lahirnya era informasi. Penyebaran postmodernisme sejajar dan bergantung kepada transisi ke era informasi.

Banyak sejarahwan menyebut era modern sebagai "era" industrialisasi, karena era ini didominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernisme menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya adalah pabrik. Sebaliknya era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan sebuah transisi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah komputer.

Statistik kerja membuktikan bahwa kita sedang mengalami perubahan dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi. Pada era modern, mayoritas lapangan pekerjaan terbuka dalam bidang produksi barang. Pada tahun 1970-an, hanya 13% dari buruh-buruh di Amerika bekerja dalam produksi barang; 60% bekerja dalam bidang informasi. Pelatihan untuk karir yang berkaitan dengan informasi - baik prosesor data maupun konsultan - menjadi sangat penting.

Masyarakat informasi menghasilkan sekelompok orang baru. Ploretariat telah menyerahkan tempatnya kepada "cognitariat." Dan untuk bisnis, munculnya masyarakat postmodern berarti perubahan dari model "sentralisasi" kepada model "network." Struktur hirarki dalam pengambilan keputusan diganti dengan keputusan bersama.

Era informasi bukan hanya mengubah pekerjaan kita tetapi juga menghubungkan seluruh belahan dunia. Masyarakat informasi berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh muka bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa lalu, informasi tidak secepat perjalanan manusia. Tetapi sekarang informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat.

Karena sistem komunikasi global yang begitu canggih, kita dapat mengetahui peristiwa apa saja di mana saja di dunia ini. Kita sedang menghuni sebuah desa global.

Munculnya desa global menghasilkan dampak yang kontradiktif. Budaya massal dan ekonomi global yang dihasilkan era informasi berusaha menyatukan dunia menjadi "McWorld." Ketika planet ini menyatu pada satu sisi, saat yang sama ia hancur berantakan pada sisi lainnya. Munculnya postmodernisme menghasilkan kesadaran global dan menipiskan nasionalisme.

Nasionalisme semakin suram dengan munculnya gerakan menuju "retribalisasi," menuju loyalitas kepada lingkungan lokal seseorang. Ini bukan hanya terjadi di Afrika tetapi juga di Kanada. Kanada berkali-kali terancam oleh disintegrasi antara kelompok berbahasa Perancis di propinsi Quebec dan propinsi-propinsi di sebelah barat. Orang-orang sedang mengikuti motto: "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal."

Munculnya masyarakat informasi memberikan dasar berpijak bagi etos postmodern. Hidup di desa global menyadarkan penduduknya mengenai keanekaragaman budaya di bumi ini. Kesadaran ini memaksa kita mengadopsi pola pikir pluralisme. Pola pikir ini bukan hanya bersikap toleran kepada kelompok lain, tetapi ia menegaskan dan merayakan keanekaragaman. Perayaan keanekaragaman budaya menuntut gaya baru - eklektisisme - gaya postmodernitas.

Masyarakat informasi telah menyaksikan perubahan besar dari poduksi massal kepada produksi segmen. Produksi barang-barang yang sama telah berubah menjadi produksi barang-barang yang beraneka ragam. Kita berada pada "budaya citarasa" yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya. Dulu siswa-siswi SMP dan SMU hanya memiliki tren suka-olahraga dan malas-belajar, sekarang mereka dapat mengadopsi tren apa saja sesuai cita-rasa dan gaya yang mereka sukai.

ALAM POSTMODERNISME TANPA TITIK PUSAT

Ciri khas postmodernisme adalah tidak adanya titik pusat yang mengontrol segala sesuatu. Meskipun postmodern dalam masyarakat bermacam-macam bentuknya, mereka sama-sama sepakat bahwa tidak ada fokus atau titik pusat. Tidak ada lagi standar umum yang dapat dipakai mengukur, menilai atau mengevaluasi konsep-konsep dan gaya hidup tertentu. Lenyaplah sudah usaha mencari sumber otoritas pusat. Lenyaplah sudah usaha untuk mencari kekuasaan yang absah dan berlaku untuk semua.

Titik pusat sudah bergeser, masyarakat kita seperti kumpulan barang- barang yang beraneka ragam. Unit-unit sosial yang lebih kecil hanya disatukan secara geografis.

Filsuf postmodern, Michel Foucault, menawarkan sebuah usulan nama bagi dunia tanpa titik pusat, yaitu "heterotopia." istilah Foucault menggarisbawahi perubahan besar yang sedang kita alami. Keyakinan Pencerahan akan suatu kemajuan ayng terus-menerus melahirkan visi modernisme. Arsitek modernisme berusaha membangun sebuah bangunan masyarakat yang sempurna. Kasih, keadilan, dan perdamaian akan memerintah masyarakat tersebut. kaum postmodern membuang jauh-jauh impian kosong tersebut. Mereka hanya menawarkan keanekaragaman yang tak terhitung banyaknya, "multiverse" telah menggantikan model "universe" dari modernisme.

POSTMODERNISME SEBAGAI SEBUAH FENOMENA KULTURAL

"Lenyapnya titik pusat" yang dipopulerkan oleh etos postmodern merupakan ciri utama situasi masa kini. Ini nampak jelas dalam kehidupan kultur masyarakat kita. Seni telah mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan modern menjadi postmodern.

POSTMODERN MERAYAKAN KEANEKARAGAMAN

Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme.

Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda,ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme.

Charles Jencks, What is Post-Modernisme? 3d ed. (New York: St Martin's Press, 1989), hal. 7

Salah satu tehnik campuran yang sering digunakan adalah "collage". "Collage" menawarkan suatu cara alamiah untuk mencampurkan bahan-bahan yang saling bertentangan. "Collage" menjadi wahana kritik postmodern terhadap mitos pengarang/seniman tunggal. Teknik lainnya adalah "bricolage", yaitu: penyusunan kembali berbagai objek untuk menyampaikan pesan ironis bagi situasi masa kini.

Seniman postmodern menggunakan berbagai gaya yang mencerminkan suatu eklektisisme yang diambil dari berbagai era dalam sejarah. Seniman umumnya menganggap cara demikian harus ditolak karena menghancurkan keutuhan gaya-gaya historis. Para kritikus tersebut menyalahkan gaya postmodern karena tidak ada ke dalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah hanya demi memberikan kesan untuk masa kini. Gaya dan historis dibuat saling tumpang tindih. Mereka mendapatkan postmodernisme sangat kurang dalam orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali.

Namun ada prinsip lebih mendalam yang ditampilkan melalui ekspresi budaya postmodernisme. Maksud dan tujuan karya-karya postmodernisme bukanlah asal-asalan saja. Sebaliknya postmodern berusaha menyingkirkan konsep mengenai "seorang pengarang/pelukis asli yang merupakan pencetus suatu karya seni". Mereka berusaha menghancurkan ideologi "gaya tunggal" dari modernisme dan menggantikannya dengan budaya "banyak gaya". Untuk mencapai maksud tersebut, para seniman ini memperhadapkan para peminatnya dengan beraneka ragam gaya yang saling bertentangan dan tidak harmonis. Teknik ini - yang mencabut gaya dari akar sejarahnya - dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berusaha meruntuhkan sejarah.

Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya.

ARSITEKTUR POSTMODERN

Modernisme mendominasi arsitektur (juga bidang lainnya) sampai pada tahun 1970-an. Para arsitek modern mengembangkan gaya yang terkenal dengan International style (gaya internasional). Arsitektur modern mempunyai keyakinan kepada rasio manusia dan pengharapan untuk menciptakan manusia idaman.

Berdasarkan prinsip tersebut, arsitek-arsitek modern mendirikan bangunan sesuai dengan prinsip kesatuan (unity). Frank Llyod Wright menjadi contoh bagi arsitek lainnya. Ia mengatakan bangunan-bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan "kesatuan yang agung" (one great thing) dan bukan kumpulan "bahan yang tidak agung" (little things). Sebuah bangunan harus mengekspresikan makna tunggal.

Karena memegang prinsip kesatuan, arsitektur modern mempunyai ciri khas "univalence." Bangunan-bangunan modern menunjukkan bentuk yang sederhana dan ini nyata dari pola glass-and-steel boxes. Arsitektur mencari bentuk sederhana yang dapat menyampaikan sebuah makna tunggal. Cara yang digunakan adalah "repetisi"(pengulangan). Karena mereka juga hendak sempurna dalam geometri, bangunan-bangunannya menyerupai model "dunia lain."

Arsitektur modern berkembang dan menjadi arus yang dominan. Ia memajukan program industrialisasi dan menyingkirkan aneka ragam corak lokal. Akibatnya ekspansi arsitektur modern sering menghancurkan struktur bangunan tradisional. Ia hampir meratakan semua bangunan tradisional dengan bulldozer. Bulldozer adalah alat yang merupakan cetusan jiwa modern untuk "maju"(progress).

Beberapa arsitek modern belum puas jika perubahan hanya dalam bidang arsitektur. Mereka ingin agar perubahan dalam bidang arsitek, terjadi juga dalam bidang-bidang seni, ilmu pengetahuan, dan industri.

Mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis, sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal.

Walter Gropius," Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar" (1919), dalam Programmes and Manifestos on Twentieth-Century Architecture,ed. Ulrich Conrads, terj. Michael Bullock (London: Lund Humphries, 1970), Hal. 25.

Arsitektur postmodern muncul sebagai reaksi terhadap arsitektur modern. Postmodern merayakan sebuah konsep "Multivalence" (melawan "univalence" dari modernisme). Arsitektur postmodern menolak tuntutan modern di mana sebuah bangunan harus mencerminkan kesatuan. Justru sebaliknya buah karya postmodern berusaha menunjukkan dan memperlihatkan gaya, bentuk, corak, yang saling bertentangan.

Penolakan terhadap arsitektur modern nampak jelas dalam beberapa contoh. Misalnya, arsiterktur postmodern sengaja memberikan ornamen (hiasan). Ini merupakan lawan dari arsitektur modern yang membuang segala hiasan-hiasan yang tidak perlu. Contoh lain, arsitektur postmodern menggunakan beberapa teknik dan gaya seni tradisional, sedangkan arsitektur modern membuang segala gaya dan teknik seni tradisional.

Penolakan oleh postmodern terhadap modern di dasarkan kepada sebuah prinsip. Prinsip arsitektur postmodern adalah semua arsitektur bersifat simbolik. Semua bangunan, termasuk banguan modern, sebenarnya sedang berbahasa dengan bahasa tertentu. Karena terlalu memikirkan fungsi banyak arsitek modern menyingkirkan dimensi tersebut. Justru karena terlalu berfokus kepada fungsi (utility), karya seni modern hanya, merupakan sebuah teknik membangun tanpa nuansa artistik. Dimensi artistik telah lenyap dari karya seni modern. Padahal sebuah struktur bangunan memerlukan dimensi artistik agar dapat menyampaikan suatu kisah atau melambangkan suatu dunia imajiner. Karena terlalu menekankan fungsi. keajaiban dunia seperti bangunan Katedral masa silam tidak lagi populer pada zaman modern. Padahal bangunan seperti Katedral mengarahkan mata kita kepada suatu dunia lain. Ini yang dikritik oleh kaum postmodern terhadap kaum modern.

Sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut.

Charles Moore, dalam Conversations with Architecs, ed. John Cook Heeinrich dan Klotz (New York: Praeger, 1973), hal. 243.

Kaum Postmodern berusaha mengembalikan elemen "fiksi" dari sebuah arsitektur maka mereka menambahkan ornamen-ornamen pada arsitektur. Mereka ingin agar bidang arsitektur tidak terperangkap oleh pertanyaan "apa fungsinya?" Arsitektur harus kembali berperan untuk menciptakan "bangunan-bangunan yang kreatif dan imajinatif."

Kritik postmodern terhadap modern semakin menjadi-jadi. Kaum modern menekankan adanya universalitas dan adanya nilai-nilai yang tidak terbatas sejarah, dan ini ditolak secara tegas oleh kaum postmodern. Selama ini kaum kodern menganggap karya-karya mereka sebagai hasil rasio dan logika. Padahal kaum postmodern melihat dengan jelas semuanya itu hanyalah usaha mendapatkan kekuasaan dan menguasai orang lain. Bahasa modern adalah bahasa kekuasaan. Bangunan-bangunan modern menggunakan bahan-bahan industri dan mereka melayani sistem industri. Bentuk-bentuk demikian mewujudkan dunia baru yang dikuasai sains dan teknologi.

Kaum postmodern mau melenyapkan bahasa kekuasaan tersebut. Kaum modern menekankan konsep kesatuan dan keseragaman (uniformity) arsitektur yang ternyata sangat tidak manusiawi. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa produksi massal dan standar. Kaum postmodern menolak secara tegas konsep dan bahasa demikian. Mereka ingin menemukan sebuah bahasa baru yang menghargai keanekaragaman dan pluralisme.

POSTMODERN DALAM BIDANG SENI

Arsitektur postmodern lahir sebagai penolakan terhadap prinsip-prinsip arsitektur modern pada abad ke-20. Kehadiran postmodern dalam bidang seni juga menampakkan gejala penolakan yang serupa.

Arsitektur modern tidak menghargai gaya masa lalu. Pakar seni seperti Clement Greenberg menyatakan bahwa seni modern juga menolak gaya-gaya seni sebelumnya. Kaum modern menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para seniman modern mengatakan bahwa hasil karya seni mereka bersifat "murni" (orisinal). Kecenderungan modern dalam bidang seni sama dengan bidang arsitektur, yaitu: "univalence". Melalui ini, kebanggaan seniman modern hanyalah jika mereka mempunyai "stylistic integrity" (integritas gaya).

Sebaliknya seni postmodern berangkat dengan kesadaran adanya hubungan erat antara miliknya dan milik orang lain. Karena itulah, seni postmodern menganut keanekaragaman gaya atau "multivalence". Kalau modern menyukai "murni." maka postmodern menyukai "tidak murni."

Pada dasarnya seni postmodern tidak eksklusif dan sempit tetapi berbauran (sintetis). Karya seni tersebut dengan bebas memasukkan berbagai macam kondisi, pengalaman, dan pengetahuan jauh melampaui obyek yang ada. Karya ini tidak melukiskan pengalaman tunggal dan utuh. Justru yang hendak dicapai adalah keadaan seperti sebuah ensiklopedia, yaitu: masuknya jutaan elemen, penafsiran, dan respons.

Howard Fox, "Avant-Garde in the Eighties", dalam The Post-Avant- Garde: Painting in the Eighties, ed. Charles Jencks (London: Academy Editions, 1987), hal. 29-30.

Banyak seniman postmodern menggabungkan keanekaragaman dengan teknik pencampuradukan. Seperti kita ketahui, teknik yang mereka sukai adalah "collage". Kenyataanya, Jacques Derrida (dijuluki "Aristoteles tukang campur") menegaskan collage sebagai bentuk utama dari wacana postmodern. Perlahan namun pasti, "collage" menarik para pecinta seni ke dalam makna yang dihasilkan "collage" tersebut. Karena "collage" bersifat heterogen, maka makna yang dihasilkannya tidak mungkin tunggal dan stabil. "Collage" menarik para pecinta seni untuk selalu memperoleh makna baru melalui aneka ragam campuran di dalamnya.

Akhirnya seni pencampuradukan menjadi sebuah "pastiche". Tujuan teknik ini (yang digunakan oleh high-culture dan Video MTV) adalah memperhadapkan para penonton dengan gambar-gambar yang saling bertentangan sehingga tidak ada lagi makna objektif. Dengan pola yang saling bertentangan, warna yang tidak selaras, dan tata huruf yang kacau, "pastiche" menyebar dari dunia seni menuju kehidupan sehari- hari. Ini nampak dari sampul buku, sampul majalah, dan iklan-iklan yang ada.

Segala campuran dan keanekaragaman itu bukan hanya untuk menarik perhatian. Daya tarik sebenarnya tidak sedangkal itu, namun jauh lebih dalam. Ini merupakan bagian dari sikap postmodern, yaitu: menantang kekuatan modernisme yang ada dalam berbagai lembaga, tradisi, dan aturan. Seniman postmodern tidak suka kepada pengagung-agungan seorang seniman modern karena kemurnian hasil karyanya. Mereka tidak suka kepada apa yang disebut "stylistic integrity" (integritas gaya). Bagi mereka, tidak ada hasil karya seni yang tunggal. Mereka sengaja menggunakan metode pinjaman dari hasil karya lain, kutipan, petikan, kumpulan, dan pengulangan dari karya-karya yang ada. bagi mereka, "seniman tunggal yang menghasilkan karya tunggal" hanyalah dongeng belaka.

Kritik postmodern sangat radikal. Kritik tersebut dapat ditemukan dalam karya fotografi seorang bernama Sherrie Levine. Levine memfoto ulang foto-foto indah hasil karya dua fotografer terkenal Walker Evans dan Edward Weston. Setelah memfoto ulang, Levine menegaskan bahwa foto- foto itu adalah karya pribadinya. Pembajakannya sangat jelas sehingga orang lain tidak mudah mengecapnya sebagai plagiat (pengekor) biasa. Memang tujuannya bukanlah menipu orang-orang dengan mengatakan bahwa itu adalah hasil karyanya dan bukan hasil karya orang lain. Tujuan utamanya adalah membuat orang berfikir keras untuk membedakan manakah "yang asli" dan manakah yang "tiruan". Maka kesimpulannya: tidak ada perbedaan antara "karya asli" dan "karya tiruan."

POSTMODERN DALAM BIDANG TEATER

Teater adalah wujud penolakan postmodern terhadap modern yang paling jelas. Kaum modern melihat jelas sebuah karya seni sebagai karya yang tidak terikat waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi waktu. Etos postmodern menyukai tragedi, dan tragedi selalu ada dalam setiap karya seni. Kaum postmodern melihat hidup ini seperti sebuah kumpulan cerita sandiwara yang terpotong-potong. Maka teater adalah sarana terbaik untuk menggambarkan tragedi dan pertunjukan.

Tidak setiap karya teater merupakan wujud nyata etos postmodern. Karya teater postmodern mulai timbul pada tahun 1960-an. Akarnya sudah ada sebelum tahun 1960-an, yaitu karya seorang penulis Perancis bernama Antonin Artaud pada tahun 1930-an.

Artaud menantang para seniman (khususnya dalam bidang drama) untuk memprotes dan menghancurkan pemujaan kepada karya seni klasik. Ia sangat mendukung pergantian drama tradisional dengan 'teater keberingasan." Ia berseru agar dihapuskannya gaya kuno yang berpusat kepada naskah. Ia mengusulkan gaya baru yang berpusat kepada simbol- simbol teater termasuk di dalamnya adalah: pencahayaan, susunan warna, pergerakan, gaya tubuh, dan lokasi. Artaud juga meniadakan perbedaan antara aktor dan penonton. Ia ingin agar penonton juga mengalami suasana dramatis seperti sang aktor. Tujuan Artaud adalah memaksa penonton untuk berhadapan dengan momentum kenyataan hidup secara langsung pada saat itu, yang bagaimanapun juga tidak akan terulang melalui aturan-aturan sosial sehari-hari.

Pada tahun 1960-an, sebagian impian Artaud menjadi kenyataan. Para ahli mulai memikirkan kembali hakikat dari teater. Maka mereka menyerukan agar terdapat kebebasan dalam penampilan. Penampilan tidak boleh diatur oleh otoritas apa pun.

Beberapa ahli ini menemukan bahwa naskah atau teks adalah otoritas yang menindas kebebasan. Untuk memecahkan masalah ini, mereka mengurangi naskah atau teks sehingga setiap penampilan menjadi spontan dan unik. Setelah beberapa sekali ditampilkan, tidak ada lagi pengulangan. Penampilan itu sekali saja dan akan hilang selama-lamanya setelah itu.

Ahli lainnya menganggap sutradara adalah orang yang menindas kebebasan penampilan. Mereka berusaha memecahkan masalah ini, dengan menekankan improvisasi dan memakai sutradara lebih dari satu orang. Maka produksi teater/film bukan lagi produksi tunggal dan utuh.

Teater postmodern menampilkan usulan-usulan para ahli di atas. Mereka membuat berbagai elemen dalam teater, seperti suara, cahaya, musik, bahasa, latar-belakang, dan gerakan saling berbenturan. Dengan demikian, teater postmodern sedang menggunakan teori tertentu yang disebut dengan estetika ketiadaan (berbeda dengan estetika kehadiran). Teori estetika ketiadaan menolak adanya konsep kebenaran yang mendasari dan mewarnai setiap penampilan. Yang ada dalam setia penampilan adalah kekosongan ("empty presence"). Seperti etos postmodern, makna sebuah penampilan hanya bersifat sementara, tergantung dari situasi dan konteksnya.

Panggung teater tidak lagi menjadi tempat pengulangan suatu peristiwa atau suatu obyek, entah yang ada sekarang atau sebelumnya. Teater tetap berfungsi tanpa kehadiran Allah.

Jacques Darrida, Writing and Difference, terj: Alan Bass (Chicago: Chicago University Press, 1978), hal. 237.

POSTMODERN DALAM BIDANG TULISAN-TULISAN FIKSI

Pengaruh etos postmodern dalam literatur sulit dicari. Para ahli sastra terus berdebat mengenai ciri utama fiksi postmodern yang membedakannya dari fiksi-fiksi sebelumnya. Namun gaya penulisan ini mencerminkan ciri utama yang telah kita saksikan dalam bidang-bidang lain.

Seperti gaya postmodern umumnya, tulisan fiksi postmodern menggunakan teknik pencampuradukan. Beberapa penulis mengambil elemen-elemen tradisional dan mencampurkannya secara berantakan untuk menyampaikan suatu ironi mengenai topik-topik yang biasa dibahas. Bahkan beberapa penulis lainnnya mencampurkan kejadian nyata dan khayalan.

Pencampuradukan ini terjadi bahkan kepada tokoh-tokoh fiksi tersebut. Beberapa penulis postmodern memusatkan perhatian kepada tokoh-tokoh khayalan dengan segala perilakunya. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh khayalan itu adalah tokoh-tokoh yang nyata dalam sejarah manusia. Dengan cara ini, sang penulis berhasil menarik perhatian dan respons emosional dan moral para pembaca.

Beberapa penulis postmodern mencampuradukkan yang nyata dan yang khayal dengan menyisipkan diri mereka ke dalam cerita itu. Bahkan mereka pun turut membicarakan berbagai masalah dan proses yang diceritakannya. Melalui ini, sang penulis mencampurkan yang nyata dan yang fiksi. Teknik ini menekankan hubungan yang erat antara penulis dan tulisan fiksinya.

Tulisan fiksi adalah sarana yang dipakai oleh penulis untuk berbicara sehingga suara penulis tidak dapat dipisahkan dari kisah fiksi tersebut. Tulisan fiksi postmodern mencampuradukan dua dunia yang tidak ada hubungan satu sama lain. Dunia-dunia tersebut masing-masing otonom. Tokoh-tokoh dalam tulisan fiksi itu merasa bingung di dunia mana mereka berada, dan apa tindakan mereka berikutnya di tengah dunia- dunia yang saling bertubrukan.

Teknik pencampuradukan ini digunakan untuk menunjukkan sikap anti- modernisme. Tujuan para penulis modern adalah memperoleh makna tunggal. Sebaliknya, kaum postmodern ingin mengetahui bagaimana kenyataan-kenyataan yang amat berbeda, dapat berjalan dan saling bercampur.

Seperti kebudayaan postmodern lainnya, tulisan-tulisan ini memusatkan perhatian kepada kefanaan dan kesementaraan. Mereka menolak konsep kebenaran kekal dari kaum modern. Tulisan fiksi ini sengaja mengarahkan fokus kepada kesementaraan agar para pembaca tidak lagi melihat dunia ini dari titik puncak yang tidak terbatas oleh waktu. Mereka ingin agar para pembaca menyaksikan sebuah dunia yang hampa, tanpa adanya hal-hal yang kekal dan selalu berada dalam gelombang kesementaraan.

Dan perlukah kita berkata bahwa semakin jelas sang penulis menyatakan dirinya sendiri dalam teks-teks yang dia buat, secara paradoks juga makin tidak terelakan adanya kenyataan bahwa sang penulis tersebut, sebagai sebuah suara, hanyalah sebuah fungsi dari fiksinya sendiri, sebuah bangunan retorika, bukan seorang yang berotoritas tetapi justru menjadi obyek dan sasaran penafsiran pembaca?

David Lodge,"Mimesis and Diegesis in Modern Fiction," dalam The Post-Modern Reader, ed. Charles Jencks (New York: St. Martin's Press,1992), hal. 194-195.

Kadang-kadang para penulis tersebut menciptakan efek serupa dengan memasukkan bahasa yang membongkar struktur pikiran yang sudah baku. Mereka juga menolak rasio sebagai hakim yang memutuskan apakah sebuah cerita mampu memaparkan kejadian nyata.

Contoh umum dari fiksi modern adalah kisah detektif. Katakanlah cerita mengenai seorang detektif bernama Sherlock Holmes. Ia bertugas membongkar kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Kisah seperti ini hendak menunjukkan kekuatan rasio dan logika dalam memecahkan sebuah masalah atau misteri. Maka cerita ini merupakan sebuah cerita yang lengkap dan selesai.

Contoh dari fiksi postmodern adalah kisah mata-mata. Meskipun terjadinya dalam dunia nyata, kisah demikian selalu mencampurkan dua macam dunia yang berbeda. Apa yang dianggap nyata, ternyata terbukti hanyalah khayalan. Ada suatu dunia lain di balik dunia nyata ini, yang lebih jahat namun lebih nyata daripada dunia nyata.

Dengan mencampurkan dua macam dunia itu, kisah tersebut membuat pembaca merasa tidak tenang dan tidak nyaman. Apakah penampilan seseorang menunjukkan dirinya yang sesungguhnya? Manakah yang sebenarnya dan manakah yang tipuan?

Kisah mata-mata mendorong kita mempertanyakan dunia kehidupan kita. Apakah kita juga hidup dalam dua macam dunia? Apakah orang-orang di sekitar kita benar-benar seperti penampilan mereka di hadapan kita? Apakah peristiwa-peristiwa di sekitar kita benar-benar seperti yang nampak di depan mata kita?

Novel fiksi sains adalah salah satu bentuk sastra postmodern. Novel ini merupakan penolakan terhadap penelitian modern. Novel fiksi ini lebih suka mencari sesuatu yang baru, dan bukan menyibak misteri alam untuk menemukan rumus-rumus pasti. Novel ini mempertentangkan berbagai dunia dan realitas supaya nampak perbedaan dan pertentangan di antara mereka.

Novel fiksi sains tersebut membuat kita bertanya-tanya mengenai dunia kita: Apakah realitas itu? Apa yang mungkin? Kekuatan apa yang sedang bekerja sekarang?

POSTMODERNISME SEBUAH FENOMENA DALAM BUDAYA POP

Kebanyakan dari kita berhubungan langsung postmodernisme melalui novel fiksi sains dan novel mata-mata. Keduanya sangat berpengaruh dalam budaya populer kita sekarang. Namun secara tidak sadar, kita telah terbuka kepada etos postmodern.

Keterbukaan kepada etos postmodern melalui budaya pop adalah ciri khas postmodern. Ciri khas lainnya adalah tidak mau menempatkan "seni klasik tinggi" di atas budaya "pop." Postmodern unik karena ia menjangkau bukan kelas elite tetapi kelas masyarakat biasa, masyarakat yang terbiasa dengan budaya pop dan media massa.

Hasil karya postmodern juga bermakna ganda. Mereka berbicara dengan sebuah bahasa dan menggunakan elemen-elemen yang dapat diterima oleh orang-orang awam ataupun seniman dan arsitek handal. Dengan cara demikian, postmodernisme berhasil menyatukan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan populer.

PEMBUATAN FILM SEBAGAI DASAR PIJAKAN BUDAYA POSTMODERN

Perkembangan teknologi membantu penyebaran postmodern ke dalam sisi- sisi penting dan budaya pop. Salah satu sisi terpenting adalah industri film.

Teknologi pembuatan film sangat cocok dengan etos postmodern, yakni: film menggambarkan yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Sekilas lalu, film adalah sebuah cerita utuh yang ditampilkan oleh para aktor dan aktris. Kenyataannya, film adalah rekayasa teknologi dengan bantuan ahli-ahli spesialis dari berbagai bidang yang tidak jarang kelihatan dalam film. Adanya kesatuan dalam sebuah film sebenarnya adalah ilusi.

Film berbeda dengan teater. Film tidak pernah berisi penampilan sekelompok aktor/aktris sekaligus secara utuh dan berkesinambungan. Apa yang penonton lihat "berkesinambungan" adalah semacam sisa dari berbagai adegan dalam proses pembuatan film itu sendiri, yang tidak saling berhubungan baik secara waktu maupun tempat.

Alur cerita sebuah film hanyalah tipuan. Apa yang nampak "berhubungan" atau "berkesinambungan" sebenarnya hanyalah kumpulan adegan yang diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Alur sebuah film yang kita lihat, ternyata tidak seperti demikian alurnya pada waktu film berada dalam proses pembuatan tersebut. Yang menyatukan adegan-adegan yang terpecah-pecah itu adalah seorang editor. Dialah yang menyambungkan adegan-adegan yang tidak ada hubungannya satu sama lain.

Kadang-kadang peran yang sama belum tentu diperankan oleh satu aktor. Sutradara sering menggunakan peran pengganti (stunt-man) untuk adegan- adegan berbahaya. Kemajuan teknologi memungkinkan edit untuk menduplikasi wajah sang aktor sehingga wajahnya dalam film lama dapat diambil dan dimasukkan dalam film yang baru. Semuanya ini adalah hasil rekayasa komputer.

Akhirnya, film yang kita tonton adalah produk kecanggihan teknologi. Tim-tim yang berbeda menggunakan fotografi dan metode lainnya untuk mengumpulkan bahan-bahan. Bahan-bahan ini digabungkan oleh editor untuk menghasilkan apa yang nampak sebagai "kesatuan" di depan mata penonton. Berbeda dengan teater, kesatuan dan kesinambungan sebuah film adalah jasa teknologi, dan bukan jasa aktor-aktornya.

Karena kesatuan sebuah film terletak dalam teknik pembuatannya, maka sutradara dan editor mempunyai kebebasan untuk mengatur dan memanipulasi jalannya cerita dengan berbagai cara. Mereka dapat mencampurkan adegan-adegan yang tidak saling berhubungan tanpa harus mengorbankan kesatuan film itu.

Pembuat film postmodern senang mengubah konsep tempat dan konsep waktu menjadi di sini dan kini selamanya. Usaha mereka dalam hal ini dipacu oleh banyaknya film yang telah diproduksi sebelumnya sehinga mereka mempunyai bahan untuk mencampurkannya. Misalnya: adegan Humphrey Bogart dalam film "The Last Action Hero" dan Groucho Marx dalam iklan Diet Pepsi. Kemajuan teknologi memungkinkan penggabungan keduanya, penggabungan "dunia nyata" dengan kenyataan lain. Contoh lain adalah penggabungan tokoh kartun dan tokoh manusia dalam film "Who Framed Roger Rabbit?"

Kemampuan seorang sutradara menggabungkan berbagai potongan menjadi sebuah film yang utuh, memungkinkannya untuk melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan dongeng, kenyataan dan khayalan. Sutradara- sutradara postmodern menggunakan kesempatan ini untuk mewujudnyatakan etos postmodern. Misalnya, film-film postmodern membuat film fiksi dan fantasi seperti layaknya kejadian nyata (film "Groundhog Day"). Mereka menggabungkan kisah film fiksi dengan aspek dokumenter (film "The Gods Must Be Crazy"). Mereka mencampurkan sebagian catatan sejarah dengan spekulasi dan mencampurkan dunia-dunia yang tidak berhubungan yang dihuni oleh tokoh-tokoh yang tidak jelas majakah yang asli (film "Blue Velvet").

Hidup dalam era postmodern berarti hidup di dalam dunia yang menyerupai film. Sebuah dunia dimana kebenaran dan dongeng bercampur. Kita melihat dunia sama seperti kita melihat film, dan kita curiga apakah yang kita lihat hanyalah sebuah ilusi. Kita dapat memahami sesuatu dalam pikiran sang sutradara. Ia mengajak kita melihat sesuatu yang sering terabaikan/terlupakan dalam dunia yang film itu gambarkan. Sebaliknya ketika melihat dunia sebenarnya, kaum postmodern tidak lagi percaya adanya sebuah Pikiran di baliknya.

TELEVISI DAN PENYEBARAN BUDAYA POSTMODERN

Teknologi pembuatan film memberikan dasar pijakan untuk budaya pop postmodern. Namun televisi merupakan sarana yang lebih efisien untuk menyebarkan etos postmodern ke seluruh lapisan masyarakat.

Dilihat dari satu sisi, televisi hanyalah saranan yang efektif untuk menantikan turunnya film dari bioskop ke televisi. Banyak program televisi yang isinya hanya film-film, mulai dari yang pendek sampai miniseri. Televisi adalah sebuah sarana yang digunakan oleh film-film untuk menyerbu kehidupan sehari-hari jutaan orang. Sejauh ini, televisi hanyalah perpanjangangan tangan dari industri film.

Tetapi lepas dari hubungan dengan film, televisi memperlihatkan ciri khasnya sendiri. Dalam banyak hal, televisi jauh lebih fleksibel daripada film. Televisi melampaui film dengan menyajikan siaran langsung. Kamera televisi dapat menayangkan gambar kejadian langsung kepada pemirsa di seluruh belahan dunia.

Kemampuan untuk menyiarkan secara langsung membuat orang percaya bahwa televisi menyajikan peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, tanpa adanya penafsiran, edit, atau komentar. Karena inilah televisi telah menjadi kriteria untuk membedakan yang nyata dan tidak. Banyak pemirsa tidak menganggap penting banyak hal. Tetapi jika CNN, Sixty Minutes menayangkannya, mereka akan segera merasa hal tersebut penting. Segala sesuatu tidak penting jika tidak ditayangkan televisi.

Televisi mampu menayangkan fakta secara langsung dan mampu menyebutkan produksi-produksi film. Kemampuan ganda demikian membuat televisi memiliki kekuatan yang unik. Ia mampu mencampurkan "kebenaran" (apa yang orang banyak anggap sebagai kejadian nyata) dengan "fiksi" (apa yang orang banyak anggap sebagai khayalan yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan). Film tidak dapat melakukan ini. Televisi masa kini melakukan hal tersebut terus-menerus. Ketika ada siaran langsung, di tengah-tengah siaran itu selalu diputus oleh "pesan dari sponsor."

Televisi melampaui film untuk mewujudkan etos postmodern. Televisi komersil menyajikan berbagai gambar kepada permirsa. Berita sore akan menghantam penonton dengan gambar-gambar yang tidak saling berhubungan: perang di suatu daerah terpencil, pembunuhan di dekat rumah, ucapan dari seorang politikus, skandal seks terbaru, penemuan ilmiah baru, berita olahraga. Campuran-campuran ini disisipkan dengan iklan baterai yang tahan lama, sabun mandi yang lebih bersih, makan pagi yang lebih sehat, dan liburan yang lebih menyenangkan. Dengan menampilkan berbagai gambar tersebut (berita dan iklan), televisi menciptakan kesan bahwa berita dan iklan sama pentingnya.

Siaran berita diikuti oleh program-program utama yang terlalu banyak untuk menarik dan membuat pemirsa bertahan. Maka isi program-program tersebut adalah film laga, skandal, kekerasan, dan seks. Drama-drama malam hari mempunyai bobot yang sama dengan berita sebelumnya. Dengan cara ini, televisi melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan fiksi, antara peristiwa yang benar-benar memilukan hati dan peristiwa sepele.

Ini terjadi bukan hanya pada satu saluran televisi, tetapi berpuluh bahkan ratusan saluran yang berbeda-beda. Hanya dengan sebuah remote control di tangan, seseorang dapat memilih apa pun yang ia suka, mulai dari berita terbaru, pertandingan tinju, laporan ekonomi, film kuno, laporan cuaca, film komedi, film dokumenter, dan sebagainya.

Dengan menawarkan begitu banyak campuran gambar, secara tidak sengaja televisi menyejajarkan hal-hal yang tidak saling cocok. Televisi membutuhkan kejelasan waktu dan tempat. Televisi mencampuradukkan masa lalu dan masa kini, yang jauh dan yang dekat, segala sesuatunya di- bawa menjadi kini dan di sini, di hadapan pemirsa televisi. Dengan cara ini, televisi memperlihatkan dua ciri khas postmodern: menghapus batas antara masa lalu dan masa kini; dan menempatkan pemirsa dalam ketegangan terus-menerus. Banyak pengamat sosial menganggap televisi sebagai cermin dari kondisi psikologis dan budaya postmodern. Televisi menyajikan begitu banyak gambar yang tidak berhubungan dengan realitas, gambar-gambar yang saling berinteraksi terus-menerus tanpa henti.

Film dan televisi telah di persatukan oleh sebuah alat yang lebih baru - komputer pribadi.

Lenyapnya ego adalah tanda kemenangan postmodernisme.... Sang diri diubahkan menjadi sebuah tampilan kosong yang berisi kebudayaan yang telah jenuh namun hiperteknis.

Arthur Kroker, Marilouise Kroker dan David Cook, "Panic Alphabet", dalam Panic Encyclopedia: The Definitive Guide to the Postmodern Scene (Montreal: New World Perspectives, 1989), hal. 16.

Munculnya "monitor" - layar bioskop, layar kaca televisi ataupun monitor computer, melenyapkan perbedaan antara diri sebagai subjek dan dunia sebagai objek. "Monitor" bukan sekadar objek di luar diri kita yang kita sedang lihat. Yang terjadi dalam monitor bukan sesuatu kejadian di luar sana dan diri kita di sini. "Monitor" membawa kita ke dunia luar sama seperti dunia luar masuk ke dalam diri kita. Yang terjadi dalam televisi merupakan manifestasi diri kita, yang terjadi dalam diri kita adalah penjelmaan televisi. Televisi telah menjadi sebuah wujud nyata dari jiwa kita.

Hidup dalam era postmodern berarti hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai gambar yang bercampur-aduk. Dunia televisi memecahkan gambar-gambar menjadi potongan-potongan dan kaum postmodern tetap yakin bahwa itu hanyalah campuran gambar-gambar.

WUJUD-WUJUD LAIN POSTMOERNISME DALAM BUDAYA POP

Film telah menyajikan budaya postmodern, dan televisi menyebarkannya , tetapi musik rock merupakan ciri yang paling khas dari budaya pop postmodern. Lirik lagu-lagu rock mencerminkan semboyan postmodern. Hubungan antara music rock dan budaya postmodern lebih mendalam lagi. Musik rock memiliki ciri utama dari postmodern, yaitu: fokus kepada global dan lokal.

Musik rock kontemporer mendapatkan banyak penggemar dan mampu menyatukan seluruh dunia. Tentunya kita ingat dengan tokoh-tokoh musik rock yang melakukan tur keliling dunia. Pada saat yang sama, musik rock mempertahankan selera lokal. Dalam penampilan grup-grup rock yang besar maupun yang kecil (tidak terkenal), musik rock memperlihatkan pluralitas gaya yang diambil dari gaya musik setempat (lokal dan etnis tertentu).

Yang tidak kalah penting, musik rock juga menggunakan sarana produksi elektronik sebagaimana televisi dan film. Dimensi penting dari budaya rock adalah penampilan langsung dari bintang-bintangnya. Konser musik rock tidak seperti konser tradisional dimana sang penyanyi berusaha berkomunikasi secara akrab dengan penonton. Yang terjadi dalam konser musik rock adalah "kedekatan massal yang dibuat-buat."

Konser rock kini merupakan peristiwa massal, melibatkan puluhan ribu penggemar. Kebanyakan penggemar tidak dapat melihat penampilan sang bintang dari dekat. Namun mereka masih berusaha mengalami pengalaman tersebut. Penampilan tersebut diperlihatkan kepada mereka melalui banyak layar video yang menyorot wajah sang bintang dari dekat.

Tehnik ini menciptakan jarak antara sang bintang dan penonton. Penggemar kelompok rock Jubilant merasa dekat dengan idola mereka sekalipun hanya lewat layar televisi. Teknologi mengubah kedekatan dalam sebuah pertunjukkan langsung menjadi kumpulan ribuan penggemar yang menonton layar video bersama-sama sementara mereka diserbu dengan berbagai-bagai efek cahaya, suara dan sebagainya.

Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan aslinya dan tayangannya di televisi. Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan langsung dan duplikasinya dalam musik. Penampilan langsung bukan lagi realitas yang terdapat dalam konteks khusus. Ia adalah campuran antara apa yang sang bintang tampilkan dan apa yang teknologi hasilkan. Penampilan itu dibungkus dalam kemasan teknologi setelah itu baru disajikan kepada para penggemar.

Wujud etos postmodern yang lebih sederhana adalah cara berpakaian. Model pakaian postmodern mempunyai kecenderungan yang mirip dengan budaya pop lainnya. Kita melihat ditonjolkannya merek dan label produk. Ini melenyapkan perbedaan antara pakaian dan iklan pakaian.

Wajah postmodern nampak dalam "bricolage." Berbeda dengan pola pakaian tradisional yang menyatukan berbagai corak secara harmonis, gaya postmodern sengaja menggabungkan elemen-elemen yang bertentangan, misalnya: pakaian dan aksesoris dari 10, 20, 30 dan 40 tahun lalu dipakai bersama-sama.

Percampuran yang bertentangan tersebut dimaksudkan sebagai sebuah ironi atau ejekan terhadap model pakaian modern, bahkan terhadap seluruh industri pakaian modern.

Dari musik rock ke turisme ke televisi sampai ke bidang pendidikan, yang dipromosikan oleh iklan dan yang dicari oleh konsumen bukan lagi barang-barang, tetapi pengalaman.

Steven Connor, Postmodernist Culture (Oxford: Basil Blackwell, 1989), hal 154.

Budaya pop zaman kita mempunyai dua ciri khas postmodern: pluralisme dan anti-rasionalisme. Seperti nyata dari cara mereka berpakaian dan musik yang mereka dengar, kaum postmodern tidak lagi percaya kalau dunia mereka mempunyai sebuah fokus. mereka tidak lagi percaya bahwa rasio manusia dapat menangkap struktur logika alam semesta. Mereka hidup dalam dunia yang tidak membedakan antara kebenaran dan dongeng. Akibatnya mereka menjadi pengumpul bermacam-macam pengalaman, gudang yang brisi berbagai hal sementara, jembatan yang dilintasi bermacam-macam gambar, dan dihujani dengan aneka ragam media dalam masyarakat postmodern.

Postmodernisme memiliki asumsi yang bermacam-macam. Ini terbukti dari berbagai sikap dan ekspresi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan tersebut, kita menemukan bermacam-macam orang dalam masyarakat. Ekpresinya bervariasi dari cara berpakaian sampai televisi, termasuk musik dan film di dalamnya. Postmodernisme menjelma dalam beraneka ragam ekspresi budaya, termasuk arsitektur, seni, dan sastra. Lebih dari segalanya, postmodernisme adalah sebuah pemandangan intelektual.

Postmodernisme menolak gambaran mengenai seorang pemikir tunggal yang dilahirkan oleh Pencerahan. Postmodern mengejek mereka yang merasa yakin dapat melihat dunia dari suatu titik puncak seolah-olah mereka dapat berbicara demi kepentingan seluruh umat manusia. Postmodernisme telah menggantikan cita-cita pencerahan tersebut dengan keyakinan baru, yaitu: semua pernyataan mengenai kebenaran dan kebenaran itu sendiri terbatas oleh kondisi sosial.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penterjemah
Penerbit
:
:
:
:
Postmodernisme; Sebuah Pengenalan
Stanley J. Grenz
Wilson Suwanto
Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia

Natal: Nubuat yang Digenapkan

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Sebuah artikel yang saya ambil dari Situs REFORMED MOVEMENT di alamat:

http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

sangat cocok kita renungkan untuk menyambut datangnya Natal.

Selamat membaca dan merenungkan,

In His grace,
Yulia

Red.: Sumber artikel ini mungkin dari Majalah Momentum, yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia.
Edisi: 
011/XI/2000
Isi: 

David Martyn Llyod-Jones (1899-1981) adalah pengkotbah eksposisi sistematis di Westminster Chapel, London. Kotbah Eksposisinya tentang Efesus (8 vol.), Roma 3-8 (6 vol) telah diterbitkan. Artikel ini disadur dari bukunya 2 Peter terbitan The Banner of Truth Trust.

Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. 2 Petrus 1:19.

Di sini rasul Petrus sedang memberikan apologetikanya. Ia sedang menghibur umat yang dalam kesusahan dan banyak kesukaran. Rasul Petrus mengingatkan mereka tentang ajaran-ajaran inti dan paling penting dari iman Kristen. Ia sedang melawan suatu pertanyaan. Pertanyaan ini ditanyakan oleh orang-orang pada abad pertama dan hingga kini masih tetap ditanyakan. Pertanyaan itu adalah: "Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja adalah benar? Apa dasar atau alasan yang kita miliki sehingga membuat kita bisa yakin, mempercayai dan menerima hal-hal ini?"

Rasul Petrus memberikan serangkaian jawaban terhadap pertanyaan tersebut dalam ayat 2 Ptr 1:16-18. Pertama adalah bahwa kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, tetapi bukti dan kesaksian rasuli. Rasul Petrus berkata, "Apa yang telah kami lihat dan dengar... ketika kami bersama-sama dengan-Nya di atas gunung yang kudus." Ada bukti dan kesaksian rasuli terhadap kehidupan dan mujizat Kristus, dan khususnya apa yang terjadi di Gunung di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Kedua, unsur penting lain dalam keyakinan kita, yakni, fakta pewahyuan, penginspirasian Alkitab (2Ptr 1:20-21). Petrus secara khusus mengingatkan orang-orang ini tentang natur umum nubuat dan Alkitab, yakni, Allah berbicara. Alkitab bukanlah gagasan dari pikiran dan imajinasi manusia, tetapi semuanya adalah hasil dari intervensi Allah, di mana Allah yang penuh kemurahan menyatakan dan memanifestasi kan Diri-Nya kepada kita.

Tetapi itu belum semua; karena perlu mempertimbangkan: "kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi." atau "kita juga memiliki suatu kata nubuat membuat kita lebih yakin". Ini menjadi suatu sumber dari penghiburan. Jika rasul Petrus hanya berkata bahwa nubuat itu lebih meyakinkan daripada dongeng-dongeng yang licik, ia tidak akan menegakkan sesuatu. Karena untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu lebih baik daripada yang tidak ada, sesungguhnya sama sekali tidak perlu dipuji. Hal itu hanyalah seharusnya saja.

Selanjutnya, apakah rasul Petrus berkata bahwa kata nubuatan adalah lebih meyakinkan daripada kesaksian dan bukti rasuli? Meskipun banyak ekspositor yang setuju, tetapi bagi saya ini bukanlah penjelasan yang benar dari kata-kata ini, karena ada suatu pengertian bahwa tidak ada yang lebih besar dan penuh daripada yang mereka telah lihat di gunung, di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Di sana mereka melihat Anak Allah itu berubah bentuk, sungguh-sungguh mendengar langsung suara dari surga yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan bahkan dengan suara yang sama yang berbicara melalui para nabi, yang diinspirasikan. Tetapi bagi saya yang membuat semua pendapat itu tidak dapat diterima adalah kalimat yang Petrus katakan "kami juga memiliki". Dengan perkataan lain, rasul Petrus tidak hanya-menunjuk kepada orang-orang lain, tetapi termasuk dirinya sendiri, dan ia berkata "kami", "para rasul" memiliki satu kata nubuatan yang lebih meyakinkan. Hanya ada satu dan satu-satunya penjelasan yang memadai dari kata-kata ini. Rasul Petrus tidak sedang membandingkan perkataan nubuat ini dengan apa yang telah ia jelaskan. Sebenamya ia sedang membandingkan perkataan nubuat yang diberikan pada zaman dulu kepada umat yang hidup pada waktu itu, dengan perkataan nubuat yang sama pada zamannya di mana banyak nubuat yang telah terjadi. Hal ini membuat perkataan nubuat itu makin diyakini. Ini berarti bahwa perkataan nubuat itu lebih meyakinkan dibandingkan yang lain karena penggenapannya dan karena fakta-faktanya. Dengan demikian rasul Petrus berkata bahwa ada fondasi-fondasi di mana kita berdiri dan mendasarkan segala sesuatu yang lain. Para nabi berbicara tentang hal-hal yang pasti akan terjadi. Bagi para nabi dan segenap umat yang kepadanya para nabi itu berbicara adalah suatu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tetapi ketika kami memperhatikan dan merenungkan segala hal-hal itu jelas tetap akan lebih menakjubkan. Itulah argumentasi yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru (bandingkan Ibrani 11). Tidak ada cara yang lebih menguntungkan selain cara yang diberikan Petrus di sini yaitu ketika kita merenungkan kelahiran Anak Allah dan kedatangan-Nya di dalam dunia, dengan cara kita merenungkannya dalam terang penggenapan dari nubuatannya. Rasul Petrus berpendapat ini cara yang paling menguatkan iman. Sesungguhnya ketika kita mempertimbangkan bukti dan kesaksian rasul, kita tidak lagi ragu-ragu. Tetapi lebih itu di dalam pengertian Perjanjian Baru segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal dihubungkan langsung dengan penggenapan, yang sempurna tentang nubatan-nubuatan. Sebab inilah yang akan memberikan kita keyakinan yang tidak dapat digoyahkan ketika kita berada di dalam hari gelap dan sukar.

Saya akan menyatakan ini dalam bentuk beberapa proposisi. Pertama, Kristus dan kelahiran-Nya itu menggenapkan nubuat Perjanjian Lama. "Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi." Dengan perkataan lain, kita mempunyai hak untuk mengatakan bahwa Perjanjian Lama dapat dimengerti sungguh-sungguh hanya di dalam Yesus Kristus. Inilah cara yang benar untuk membaca Perjanjian Lama; dengan sedapat mungkin memahaminya sebagai suatu kitab janji, sebuah kitab bayang-bayang, sebuah kitab contoh/type. Tetapi kejadian-kejadian yang dicatat di dalam Perjanjian Lama merupakan tindakan-tindakan yang tidak diragukan di dalam diri mereka sendiri dan mempunyai kepentingan serta signifikansi mereka sendiri.

Seluruh Perjanjian Lama merupakan buku bayangan dan pengharapan, mencari, menunggu dan memperhatikan sesuatu. Sekarang kalimat agung yang diucapkan oleh rasul Petrus, yakni, kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah menggenapkan segala sesuatu dan setiap hal yang telah dikatakan di Perjanjian Lama. Saudara tentu ingat bagaimana rasul Paulus meletakkan hal yang sama di dalam bahasa dan caranya sendiri ketika ia berkata, "Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah." Ada janji- janji di Perjanjian Lama, di dalam Kristus ada jawaban "ya" , "amin" membenarkan penggenapan segala sesuatu yang Allah telah katakan melalui para nabi-Nya di dalam Perjanjian Lama itu. Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mengerti Alkitab yang sekali lagi mendemonstrasikan kesatuan yang menakjubkan dan ajaib dari Alkitab.

Kristus adalah pusat dari Alkitab; setiap bagian dari Perjanjian Lama melihat ke depan kepada-Nya, segala sesuatu di dalam Perjanjian Baru melihat ke belakang kepada-Nya. Kristus adalah pusat dari sejarah. Kristus adalah titik api dari seluruh pergerakan umat manusia mulai dari penciptaan hingga akhir zaman. Saudara dapat mengumpulkan semua janji Allah sekaligus di dalam Kristus, di dalam Pribadi-Nya. Tetapi perhatikan momen penggenapan itu secara terperinci; karena ini sekali lagi merupakan suatu yang sungguh-sungguh sangat mengherankan dan ajaib. Kita juga tidak dapat melakukan suatu lebih baik selain mendekati Natal dengan mengingatkan diri kita sendiri akan natur penggenapan au secara sangat detail. Bahkan jika hanya satu kalimat umum saja yang berkorespondensi dengan Perjanjian Baru itu akan menjadi sangat mengagumkan. Tetapi di sini ada penggenapan secara detail yang hanya dapat dijelaskan dengan dipandang dari fakta bahwa orang yang menulis nubuatan-nubuatan ini menulis dengan diinspirasikan oleh Allah.

Ini merupakan bukti lebih lanjut dari pernyataan bahwa nubuat-nubuat Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, karena nubuat-nubuat masa lalu itu bukan datang dari kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Sekarang marilah kita secara cepat dan sepintas meninjau penggenapan detail ini. Detail-detail penggenapan ini adalah nilai yang agung. Perhatikan! Bayi yang dilahirkan di Betlehem itu termasuk suku apa? Jawabannya adalah dari suku Yehuda. Dari keturunan siapa di dalam suku Yehuda itu? Dari keturunan Daud. Kita berbalik ke belakang ke seribu tahun sebelum Natal pertama, bahkan sebelum itu, janji itu telah diberikan bahwa Kristus akan dari suku Yehuda dan dari keturunan Daud. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem merupakan verifikasi dari janji itu.

Kapan kedatangan-Nya yang pertama itu terjadi? Ini adalah suatu hal yang sangat menarik dan penting jika Saudara mendekati kelahiran Kristus itu hanya melalui sudut pandang filsafat sejarah. Ketika Anak Allah, Sang Mesias, itu datang secara umum disetujui bahwa itu merupakan kemungkinan paling kecil untuk Ia datang. Sebab sesungguhnya waktu itu adalah waktu tampaknya tongkat kerajaan akan pindah dari suku Yehuda. Tetapi tepat apa yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, ketika tongkat kerajaan tampaknya lepas dari tangan suku Yehuda pada hari-hari yang akan datang, maka saat itu Raja dan Pemerintah yang sesungguhnya datang. Jika membaca sejarah kontemporer Saudara akan menemukan bahwa ini merupakan pandangan orang-orang Israel ketika Tuhan kita lahir.

Dipandang dari segi nubuat nabi Daniel (Daniel 9) dengan nubuatan tentang 70 minggu, maka di sana. Saudara akan menemukan kembali secara terperinci sekali, keadaan sebelum waktu kedatanganNya secara tepat. Proses yang luar biasa ini, ketepatan ini, dan nubuat yang disampaikan oleh nabi yang terperinci sekah ini merupakan suatu yang sangat mengherankan.

Kemudian mengenai ibu-Nya. Saudara akan ingat nubuat yang mengatakan bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak. Saya tahu bahwa nubuat ini segera dan paling langsung berhubungan dengan suatu peristiwa yang terjadi dalam sejarah pada saat itu. Namun tidak dapat membatasi hanya dalam hal itu saja. Ada suatu elemen ganda, fakta yang segera dan suatu penggenapan tersendiri "seorang anak dara akan melahirkan seorang anak". Juga mengenai tempat kelahiran-Nya. Saudara ingat bagaimana tempat itu telah diberikan oleh nabi Mikha; bahwa Ia harus dilahirkan di Betlehem. Saudara akan ingat kunjungan orang majus kepada Herodes ketika sudah genap waktunya Tuhan kita lahir. Karena Herodes tidak mengerti apa yang mereka laporkan maka ia berkonsultasi dengan para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka memberikan jawaban bahwa Kristus harus lahir di Betlehem, tanah Yehuda, karena demikianlah ada tertulis kitab nabi.

Sekarang ketika melihat Perjanjian Lama, kita melihat secara konstan dibentangkan kepada kita hal-hal yang luar ini - bagaimana Allah memberikan kepada seseorang suatu fakta, kepada orang fakta yang lain. Hanya Mikha yang menyebutkan Betlehem. Allah memberikan kepada Mikha untuk menubuatkan fakta dan detail khusus yaitu tempat kelahiran-Nya.

Sekarang marilah kita memikirkan tentang perkataan-perkataan Tuhan Yesus sendiri. Jika Saudara membaca Yesaya 61, Saudara akan menemukan di sana bahwa nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan mengucapkan kata-kata dan melakukan hal-hal tertentu. Pikirkanlah bahwa kejadian di rumah ibadat di Nazaret ketika Tuhan kita masuk ke rumah ibadat menurut kebiasaan­- Nya. Kepada-Nya diberikan kitab suci untuk dibaca. Ia membaca dari Yesaya 61, dan setelah membaca, Ia berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Setiap perkataan-Nya, metode berbicara-Nya, cara mengajar-Nya, semua tindakannya ini telah dinubuatkan secara detail. Sekarang kita juga berpikir tentang karya-karya dan mujizat-mujizat-Nya. Kita membaca dalam Yesaya 35, bagaimana Ia mencelikkan mata orang-orang buta dan membuka telinga-telinga orang tuli, dan orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan orang bisu akan bersorak-sorai. Kemudian kita sampai ke Perjanjian Baru dan kita membaca laporan tentang hal-hal yang dikerjakan-Nya. Ingatlah! Yohanes Pembaptis di masa kesukarannya di penjara mengirim dua orang muridnya kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?". Tuhan Yesus berkata kedua orang ini, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar," dst. Di sini Yohanes diingatkan kembali kepada Yesaya 35. Tidak hanya itu, Saudara ingat Yesaya 53 tentang nubuat Hamba Tuhan yang memikul sakit-penyakit kita, dan ingat bagaimana Matius di dalam melukiskan mujizat penyembuhan yang dilakukan Tuhan kita dengan mengacu kepada nubuat itu, bahwa Ia akan memikul sakit-penyakit kita.

Ia memasuki Yerusalem dengan cara yang bagaimanapun telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia, yaitu, mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ini terjadi ketika ia memasuki Yerusalem dengan kemenangan. Ia akan dijual karena 30 keping perak pun telah dinubuatkan. Penderitaan-Nya dideskripsikan secara detail, tidak hanya di dalam Yesaya 53 tetapi jugs khususnya pada Mazmur 22 - bagaimana fakta bahwa tangan dan kaki-Nya ditusuk telah dinubuatkan -bagaimana setiap hal telah dinubuatkan secara detail. Semua nubuat ini telah dinubuatkan ratusan tahun sebelum semua nubuat itu terjadi. Fakta bahwa Ia akan dikubur di tempat khusus, kuburan milik orang kaya telah dinubuatkan. Memang ketika wafat, Ia dikuburkan dalam kuburan Yusuf Arimatea. Baik kebangkitan maupun hari Pentakosta telah dinubuatkan juga. Saudara ingat bagaimana setelah kenaikan-Nya Ia mengirim Roh Kudus sesuai dengan janji-Nya, dan ketika orang-orang bingung dan mulai bertanya, apakah artinya ini? Rasul Petrus menjawab, "Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel." Segala contoh ini, dan masih banyak contoh lain, menunjukkan bagaimana, secara detail, Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya, dan melalui segala yang dikerjakan dan dikatakan, telah membuat segala nubuat itu lebih meyakinkan. Semua penggenapan ini menakjubkan di dalam detailnya, tetapi juga memperlihatkan kemuliaan secara utuh. Saat kedatangan Kristus, kelahiran-Nya, Hidup-Nya dan segala tindakan-Nya di bumi menunjukkan Allah memelihara firman telah disampaikan-Nya kepada orang-orang dalam masa Perjanjian Lama. Orang yang membaca Alkitab matanya akan terbuka melihat kemuliaan kitab suci yang unik

Beberapa dari umat itu berteriak di masa kesesakan mereka, "Berapa lama lagi Tuhan Engkau lupa untuk bermurah hati?" Kami membaca janji-janji yang diberikan, tetapi melihat situasi demikian berlawanan. Apakah Allah lupa, apakah Ia lupa bermurah hati dan lupa akan janji-janji- Nya itu? Ketika bayi itu lahir di kandang di Betlehem, keputusan agung yang dibuat sini- Allah telah memelihara firman-Nya. Allah telah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Segala sesuatu yang Allah pernah janjikan digenapi di sini. Ini adalah deklarasi yang agung tentang ketidakberubahan Allah dalam rencana-Nya. Firman Allah itu pasti, mutlak dan kekal.

Saya akan coba menunjukkan kemuliaan semuanya ini dengan cara ini. Kita melihat bahwa Allah telah menggenapi semua janji-janji yang pernah Ia berikan kepada manusia yang berkenaan dengan keselamatan manusia. Alkitab adalah sejarah manusia di dalam hubungannya dengan Allah, sehingga kita dapat mendeskripsikan Alkitab sebagai sejarah keselamatan. Ini adalah sejarah dari seluruh umat manusia dari awal hingga akhir. Allah menciptakan manusia itu sempurna, sehing­ga manusia memiliki persekutuan yang sempurna dengan Allah. Tetapi dosa masuk sehingga persekutuan itu hancur. Manusia membuat dirinya sendiri ada di bawah murka Allah dan menderita. Apa yang akan terjadi pada manusia?

Di sini Alkitab datang dengan beritanya yang agung. Segera sesudah kejatuhan itu Allah mulai membuat janji-janji dan semua janji itu berkenaan dengan manusia dan keselamatannya. Sekarang mulai dari kelahiran Kristus segala janji-janji itu terlaksana dan tergenapi. Jadi sejak semula ketika manusia itu jatuh, Allah menerangi kegelapan itu dengan memberikan suatu janji yang sangat berharga.

Manusia jatuh karena ditipu oleh ular, tetapi suatu saat Allah di dalam anugerah-Nya yang tidak terbatas itu memberikan suatu janji, bahwa "keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala dari ular." Hal ini dikatakan sekitar 4000 tahun sebelum kelahiran Kristus. Janji ini merupakan janji Allah yang pertama, janji yang orisinil. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem janji itu dilaksanakan - benih perempuan itu telah datang dan Ia telah bertindak menghancurkan kepala dari ular itu.

Salah satu janji agung yang lain adalah ketika kita ingat di dalam Kis.3, bagaimana Musa berkata, "Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku." Orang-orang pada masa Perjanjian Lama menyebutnya sebagai "kedatangan Nabi". Inilah yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika ia bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?" Mereka sedang menunggu Nabi itu, Pemimpin itu, mereka menunggu seseorang yang lebih besar daripada Musa yang melepaskan mereka dari Mesir, yang akan memimpin mereka lepas dari perbudakan dosa dan perhambaan kesalahan. Di dalam Bayi Betlehem itulah kalian mendapatkan Seorang yang dirindukan dan diharapkan yang juga adalah Nabi, Guru dan Pemimpin umat.

Dengan cara yang sama diberikan janji bahwa korban persembahan suatu hari akan cukup untuk menutup segala dosa. Di dalam periode Perjanjian Lama banyak tertulis tentang persembahan-persembahan dan korban-korban, mengenai darah lembu jantan dan domba jantan, mengenai korban anak domba dsb. Namun itu semuanya bersifat sementara. Seperti yang dikatakan penulis surat Ibrani, "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." Diperlukan korban yang agung, yang sungguh-sungguh berhasil dan yang memuaskan hati Allah. Hal ini terus berlangsung dalam Perjanjian Lama. "Orang ini" telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya dan yang sempurna. Perjanjian Lama juga menubuatkan bahwa seorang Imam Besar yang agung akan datang untuk mewakili kita dan memuliakan kita di hadapan Allah. Saudara ingat bahwa Harun diizinkan masuk ke ruangan "mahakudus" satu kali setahun, dan ia masuk dalam keadaan takut dan gentar. Tetapi Dia adalah merupakan Imam Besar yang sempurna, yang mengerti kelemahan kita, namun tidak berdosa.

Dia telah masuk ke dalam ruang yang mahakudus dengan suatu persembahan dan korban, yakni darah-Nya sendiri. Ia mewakili kita selama-lamanya dan terus menerus melayani, sehingga Ia dapat menyelamatkan semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Ada suatu janji tentang Perjanjian baru. Allah membuat suatu perjanjian dengan manusia melalui Musa. Ini adalah suatu perjanjian hukum yang tidak dapat diperlihara oleh siapapun. Tetapi Allah juga berkata melalui nabi Yeremia, "Aku akan membuat perjanjian yang baru dengan kamu", bukan seperti perjanjian yang lama, yang menggunakan hukum-hukum yang di luar, tetapi Aku akan menulis hukum itu dalam hati dan batinmu, yakni suatu perjanjian yang baru. Nabi mana yang dapat menjadi pengantara perjanjian yang demikian? Tidak ada satu manusiapun yang layak; bahkan malaikatpun tidak memadai. Tetapi di sini, Bayi Betlehem itu adalah pengantara dari Perjanjian yang baru, seseorang yang dapat memberikan Roh Kudus dan yang akan meletakkan hukum Allah itu ke dalam batin dan hati serta memberikan hidup kepada kita. Ia akan mengangkat hati yang membatu dan memberikan kita hati yang baru yang dengan hati itu kita dapat mengasihi Dia.

Tetapi di atas itu semua, ada suatu janji tentang datangnya suatu kerajaan. Melalui Perjanjian Lama gagasan tentang seorang raja yang akan datang dan memerintah, yang akan menaklukan semua musuh dari umat serta menegakkan suatu kerajaan kebenaran dan damai sejahtera. Di mana Oknum yang demikian dapat ditemukan? Ia hanya dapat ditemukan di satu tempat. Ia adalah Bayi yang ada di palungan di Betlehem, yang adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Karena itu orang Majus datang dan bersembah sujud serta memberikan persembahan mereka. Ia telah menaklukkan semua musuh, Setan, kematian dan neraka. Segala hal yang jahat telah dikalahkan - Ia adalah Raja universal, Yang Mahakuasa, dan Ia akan memerintah dari kutub ke kutub dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Anak Allah, Raja yang kekal. Dengan demikian Saudara lihat bahwa Allah telah menggenapi, telah menyelesaikan segala janji-Nya. Akhir kata, apa yang saya simpulkan dari kata nubuat yang makin meneguhkan kita ini? Ada beberapa kesimpulan yang jelas dan tidak dapat ditolak. Keselamatan jelas hanya ada di dalam Kristus dan hanya di dalam Kristus. Kristus telah menggenapi semua janji itu. Di dalam Dialah Allah menyelamatkan umat manusia. Allah berjanji untuk menyelamatkan manusia. Kristus adalah penggenap segala janji.

Tidak ada juruselamat yang lain, dan tidak ada jalan yang lain seperti yang dikatakan rasul Petrus (Kis 4:12). Bayi Betlehem itu menggenapkan segala janji itu. Ia satu-satunya Juruselamat, satu-satunya jalan kepada Allah, satu-satu pengharapan akan pelepasan. Ia adalah Nabi, Ia adalah Imam, dan Ia adalah Raja. Kedua kita menyimpulkan bahwa seperti halnya kedatangan-Nya dan segala yang. telah dilakukan dan dikatakan-Nya merupakan penggenapan dari semua yang telah dijanjikan oleh Allah, sehingga fakta itu sendiri telah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa segala sesuatu yang lain yang telah dijanjikan akan digenapi-Nya juga. Segala sesuatu yang telah dinubuatkan, diberitahukan lebih dulu, dijanjikan berkenaan dengan kedatangan-Nya yang pertama telah dilaksanakan secara tepat. Tetapi yang akan datang ada sesuatu yang lebih. Petrus sedang berbicara mengenai kedatangan-Nya yang kedua; dan meskipun kedatangan-Nya yang kedua aneh bagi kita saat ini sama seperti kedatangan-Nya yang pertama bagi orang-orang Perjanjian Lama, mari kita mengerjakan logika yang tidak dapat ditolak ini. Meskipun mereka tidak mengharapkan Dia, Ia tetap datang; meskipun banyak menertawakan gagasan itu, tidak menyiapkan Kedatangan-Nya; dan meskipun hal-hal ini tampak sebagai hal yang tidak mungkin bagi kita, apa yang telah terjadi merupakan bukti bahwa semua janji itu akan tiba juga.

Terakhir, mengenai penghiburan, kemuliaan dan sukacita. Karena inkarnasi Kristus dan segala sesuatu yang mengikuti meneguhkan nubuat. Ini memberitahukan saya bahwa Allah memelihara Firman-Nya dan melaksanakan rencana, janji dan maksud-Nya sendiri secara penuh di atas bumi. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa, Firman Allah merupakan sesuatu yang terus dapat saya percaya. Firman Allah merupakan "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar". Janji-janji yang diberikan kepadamu tatkala sakit, kehilangan, menjadi janda, yatim-piatu, menghadapi masalah, berduka-cita atau setiap kondisi yang mungkin terjadi dalam hidup anda dan saya itu dapat diselesaikan dengan janji-janji tersebut. Saudara, percayalah kepada janji­-janji-Nya, simpanlah janji janji itu dalam hatimu, buktikan bahwa Allah selalu setia kepada janji-janji-Nya. Ia tidak pernah gagal untuk memelihara Firman-Nya; setiap janji yang Ia berikan kepadamu adalah suatu janji yang bisa dipercaya dan turuti. Karena itu ketika saya membaca Firman-Nya lagi dan saya melihat janji janji yang demikian seperti "Aku sekali-kali tidak pernah meninggallkanmu", "Aku akan menyertai kamu senantiasa", saya akan mempercayai janji janji itu, Saya akan menerimanya. Saya menyatakan bahwa kedatangan Kristus membenarkan segala janji-Nya dan membuktikan segala bahwa segala janji-Nya itu benar. Ia. telah memberikan Firman-Nya, dan Firman-Nya dapat disandari; karena itu saya menerima-Nya berdasarkan pada Firman-Nya. Puji Tuhan! "Bersyukurlah kepada Tuhan atas karunia-karunia yang tak terkatakan itu" Bersyukurlah kepada Allah karena Kristus di mana di dalam Dia segala janji Allah adalah ya dan amin tanpa suatu keraguan dan ketidaktentuan.

Sumber: 

Sumber :
Reformed Movement,
geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

Komentar


Syndicate content