Kategori Utama

Dear e-Reformed Netters,

Apakah filsafat memiliki peran dalam teologi? Pemakaian filsafat dalam disiplin teologi memiliki sejarah yang panjang, dan sering kali diterima dengan rasa curiga dan was-was oleh banyak kalangan gereja. Mengapa demikian? Sebab, filsafat dianggap memiliki potensi membuat orang teracuni dalam memahami kebenaran Alkitab. Dalam edisi kali ini, e-Reformed menyajikan sebuah artikel yang ditulis oleh Kalvin S. Budiman, yang membahas kiprah seorang tokoh utama dalam sejarah gereja pada abad pertengahan, Thomas Aquinas, yang terkenal karena tafsirannya terhadap tulisan-tulisan filsuf besar Yunani, Aristoteles, dan karena usahanya untuk memakai filsafat dalam teologi.

Dalam perkembangannya, Aquinas lebih diingat sebagai seorang filsuf ketimbang seorang teolog, apalagi penafsir Alkitab. Padahal jabatan yang diemban oleh Aquinas semasa hidupnya adalah sebagai baccalaureus biblicus dan magister in theologia. Khususnya di kalangan kaum Injili, Aquinas memiliki reputasi yang kurang baik karena dianggap telah mencemari kemurnian Injil atau teologi Kristen dengan racun pemikiran manusia atau filsafat. Hal ini mungkin mengusik kita untuk mengenal kiprah seorang Aquinas dalam usahanya memakai filsafat dalam teologi. Mari menyimak bersama artikel berikut ini. Semoga ini menjadi berkat bagi kita semua. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Dear e-Reformed Netters,

Bertepatan dengan hari pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Mei, maka e-Reformed dengan sengaja mengambil artikel yang membahas tentang tantangan pendidikan Kristen di ranah formal abad 21. Mari kita simak, dan semoga menjadi berkat bagi kita semua. Untuk memberi komentar tentang isi artikel ini, silakan bergabung di Facebook e-Reformed < http://fb.sabda.org/reformed >. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Dear e-Reformed Netters,

Dalam edisi kali ini, e-Reformed menyajikan sebuah artikel dari Billy Kristanto mengenai Mazmur 23. Mazmur ini merupakan salah satu mazmur yang sudah dikenal banyak orang. Mazmur ini begitu meneduhkan hati ketika dibaca dan menggambarkan relasi yang sederhana, tetapi mendalam, antara sang Gembala dan kawanan domba-Nya. Kiranya mata hati kita semakin terbuka melalui sajian yang kami berikan, dan relasi kita dengan Allah semakin intim. Solus Christos!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Setelah kita memahami bahwa gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan, pada artikel bagian dua ini kita akan melihat bersama sisi keindahan kitab Wahyu yang penuh dengan nyanyian kidung pujian, yang juga sarat dengan nuansa kidung kemenangan. Pada akhir artikel ini, terdapat kesimpulan dari artikel bagian satu dan dua. Mari kita simak lanjutan artikel ini. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Dear e-Reformed Netters,

Pujian kepada Allah adalah bagian dari kehidupan Kristen sejati. Hidup Kristen adalah hidup yang memuji Allah sampai selama-lamanya. Kali ini, artikel e-Reformed diambil dari Veritas, Journal Teologi dan Pelayanan. Artikel ini akan membawa kita untuk mengetahui tradisi pujian yang berkembang pada gereja Perjanjian Baru, yang hari ini kita kenal sebagai himne. Gereja dalam Perjanjian Baru sebenarnya mewarisi tradisi memuji Allah dari Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan dengan karakter dan ciri khas yang sama, yaitu lantunan nada dipakai dalam pembacaan kitab, doa-doa, dan bermazmur.

Namun, dalam perkembangannya, Rasul Paulus menyebutkan dalam Efesus 5:19 bahwa ada tiga jenis nyanyian umat pada masa itu: mazmur (psalmos), himne (hymnos), dan nyanyian rohani (ode) yang berkembang dalam gereja Perjanjian Baru. Tentu hal ini membuat kita semakin penasaran karena gereja perdana tampaknya memang memakai kitab kidung Mazmur, tetapi tidak berhenti sampai di situ saja, gereja Perjanjian Baru memiliki kecakapan untuk mengadaptasi tema-tema teologi Perjanjian Lama dan menggubahnya menjadi komposisi nyanyian Kristen. Hingga hari ini, keberadaan himne tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan berharga gereja. Selamat membaca, kiranya artikel ini menjadi berkat bagi diri dan pelayanan Anda. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Komentar