Kategori Utama

Diselamatkan dalam Pengharapan (3)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Berikut adalah bagian terakhir dari artikel bersambung tulisan Charles Spurgeon yang saya kirimkan untuk e-Reformed. Saya sangat kagum dengan kekayaan kata-kata Spurgeon yang menjelaskan tentang pengharapan akan keselamatan yang kekal. Luar biasa! Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang memikirkan kematian yang menakutkan, saya sangat sarankan Anda untuk membaca keseluruhan artikel ini dan mencernanya dengan perlahan- lahan. Anda akan merasakan jiwa Anda perlahan-lahan mengalami kelegaan dan sukacita akan merayapi pikiran dan hati Anda. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus, Allah yang kekal!

Selamat membaca dan jangan takut mati lagi.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Charles Spurgeon
Edisi: 
130/Juli 2012
Tanggal: 
05-07-2012
Isi: 

Diselamatkan dalam Pengharapan (3)

Menantikan Pengharapan Kita

Dalam kenyataannya, kita telah menerima keselamatan yang lebih besar, yang tentangnya telah saya tuliskan. Ini terjadi ketika kita pertama kali mengerti dan menerima pengharapan akan kehidupan kekal. Dengan iman, kita telah memperoleh bagian pertama dari keselamatan, yaitu pengampunan dari dosa dan pembenaran melalui Kristus. Dan oleh iman, kita juga memiliki persekutuan dengan Allah, dan jalan masuk menuju berkat-berkat-Nya yang tak terhingga. Beberapa dari kita menyadari hal ini sama seperti kita makan dan minum. Tetapi, di samping semuanya ini, melalui pengharapan kita, kita telah menerima uang muka dari jangkauan keselamatan yang lebih penuh, yaitu pembebasan total dari dosa dan penebusan sempurna tubuh kita dari rasa sakit dan kematian. Kita memiliki keselamatan ini dalam pengharapan dan kita "bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Roma 5:2) Nah, apa arti semuanya ini?

Dalam pengharapan kita, kita melihat bahwa keselamatan telah dijamin bagi kita oleh janji kasih karunia. Segera saat kita percaya dalam Kristus, iman kita menjamin pengampunan bagi kita dan kita berseru, "Kami belum dibebaskan dari kecenderungan kami untuk berdosa, tapi karena kami telah percaya di dalam Kristus untuk keselamatan, kami pasti akan disempurnakan. Dia tentu saja tidak akan memberikan kepada kami keselamatan yang sebagian saja dan tidak sempurna. Dia akan menyempurnakan segala sesuatu yang menyangkut kami." Dalam pengharapan, kita melihat banyak hal yang belum kita alami dalam janji keselamatan. Mengetahui bahwa keseluruhan janji tersebut sama pastinya, kita mengharapkan belas kasihan yang akan datang sama pastinya seperti di dalam iman, kita menikmati berkat di masa kini.

Lebih lagi, dalam pengharapan, kita melihat janji tuaian penuh di dalam hasil pertama. Dosa telah ditaklukkan oleh kasih karunia, tapi kita berharap untuk melihatnya benar-benar dimusnahkan. Ketika Roh Kudus datang untuk tinggal di dalam kita, pengharapan kita menyimpulkan bahwa tubuh akan dibebaskan sepasti jiwa telah dibebaskan. Saat iman memperkenalkan pengharapan ke dalam hati, pengharapan berkata, "Aku telah menyelesaikan keselamatan bukan dalam pengertian bahwa aku sedang mengalaminya sekarang, tapi Kristus Yesus menyimpannya untukku."

Seperti imam dalam Perjanjian Lama melambaikan berkas hasil pertamanya di hadapan Tuhan sebagai sebuah persembahan yang berkenan, kita, dalam pengharapan, memberikan hasil pertama dari iman kita kepada Tuhan, dan dengan demikian mengambil kepemilikan atas tuaian penuh keselamatan. Ketika Allah memberikan kepada Anda dan saya kasih akan Yesus dan pembebasan dari kuasa jahat, hasil pertama ini menandakan sebuah keselamatan yang sempurna, yang masih harus disingkapkan di dalam kita. Sukacita pertama kita dalam keselamatan adalah seperti menyetem harpa kita untuk lagu abadi. Kedamaian pertama kita adalah seperti cahaya fajar yang tak pernah berakhir. Ketika kita pertama kalinya melihat Kristus dan menyembah Dia, kekaguman kita adalah tahap awal penyembahan di hadapan takhta Allah dan Anak Domba. Karena itu di dalam pengharapan, kita diselamatkan. Pengharapan membawakan bagi kita sumber kesempurnaan, janji akan kekekalan, permulaan akan kemuliaan.

Lebih lagi, di dalam pengharapan, kita begitu yakin mengenai berkat yang akan datang ini, sehingga kita menganggap bahwa itu sudah diperoleh. Misalkan Anda mendapat konfirmasi dari seorang pedagang, yang dengannya Anda telah mengadakan bisnis luar negeri. Dia berkata, "Barang-barang yang Anda pesan sudah ada dan saya akan mengirimkannya dengan kapal berikutnya, yang kemungkinan akan tiba hari ini." Kemudian pedagang yang lainnya menghubungi dan bertanya kepada Anda, apakah Anda ingin membeli jenis barang yang sama, maka Anda menjawab, "Tidak, saya sudah memilikinya." Apakah Anda telah mengatakan yang sebenarnya? Tentu saja, karena meskipun Anda belum memilikinya di dalam gudang Anda, barang-barang itu telah dibuatkan fakturnya untuk Anda. Anda tahu bahwa barang-barang itu sedang dalam perjalanan, dan Anda begitu terbiasa memercayai pedagang asing Anda, sehingga Anda menganggap barang-barang tersebut sebagai milik Anda. Perjanjian telah dibuat bahwa barang-barang itu milik Anda.

Demikian juga halnya dengan surga, kesempurnaan, dan kekekalan. Perbuatan yang telah dilakukan membuat hal-hal ini menjadi warisan orang-orang percaya. Kita memiliki peneguhan dari Pribadi yang tidak dapat kita ragukan, Tuhan kita Yesus, bahwa Dia telah pergi ke surga untuk menyiapkan sebuah tempat bagi kita, dan bahwa Dia akan datang kembali dan menerima kita sebagai kepunyaan-Nya. Dalam pengharapan, kita begitu yakin terhadap fakta ini, sehingga kita menganggap bahwa itu telah terlaksana. Kita juga bisa menarik kesimpulan-kesimpulan praktis dari pengharapan kita.

Sebuah peribahasa lama mengatakan, "Jangan menghitung laba sebelum berusaha." Namun dalam kasus ini, Anda boleh menghitung labanya sementara berusaha, karena Rasul Paulus mengatakan, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18) Dia begitu yakin terhadap pengharapan akan kehidupan kekal, sehingga dia menuliskannya. Dia menuliskan penderitaan hidupnya di dalam kolom pengeluaran, dan menempatkan kemuliaan yang akan dinyatakan di antara aset-asetnya. Dia menyatakan bahwa aset-asetnya sangat banyak, tetapi pengeluarannya begitu tidak penting sama sekali, sehingga mereka tidak layak untuk diperhatikan.

Lebih lagi, Rasul Paulus begitu yakin bahwa dia akan menerima warisannya, sehingga dia sangat merindukannya. Kita yang berada di dalam tubuh ini mengerang untuk pengangkatan penuh kita sebagai anak-anak Allah. Erangan kita tidak muncul dari keraguan tapi dari keinginan yang kuat. Pengharapan kita yang pasti menyebabkan kita memiliki keinginan yang kuat untuk menerima apa yang telah dijanjikan kepada kita. Tidak ada gunanya menangisi apa yang tidak akan pernah Anda miliki. Seorang anak yang menangis karena dia tidak dapat memiliki bulan adalah kebodohan. Tetapi mengerang untuk sesuatu yang saya yakin akan diterima adalah layak dan pantas dan menunjukkan kekuatan iman saya.

Rasul Paulus begitu yakin bahwa dia menerima pengharapan keselamatannya, sehingga dia berkemenangan di dalamnya. Dia mengatakan bahwa kita "lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37) Dengan kata lain, meskipun kita belum sempurna, dan meskipun tubuh kita belum dibebaskan dari rasa sakit, kita begitu yakin akan kesempurnaan dan pembebasan sepenuhnya, sehingga kita dengan penuh sukacita menanggung segala sesuatu, menang atas setiap kesukaran.

Saudara, Anda tidak akan miskin lebih lama lagi. Anda akan hidup di mana jalan-jalannya terbuat dari emas. Kepala Anda tidak akan sakit lebih lama lagi, karena kepala Anda akan mengenakan sebuah mahkota kemuliaan dan kebahagiaan. Jangan izinkan rasa malu mengganggu Anda, karena orang-orang tidak akan mampu menertawakan Anda lebih lama lagi. Anda akan berada di sebelah kanan Allah Bapa, dan kemuliaan Kristus akan melingkupi Anda selamanya. Merupakan suatu berkat yang tak terhingga bahwa kita memiliki sebuah pengharapan yang demikian, dan begitu yakin akannya, sehingga kita menanti-nantikan sukacita darinya sebelum itu benar-benar datang kepada kita. Ya, kita diselamatkan dalam pengharapan.

Ruang Lingkup Pengharapan Kita

Ruang lingkup pengharapan kita adalah "segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1) Seperti yang dikatakan ayat firman Tuhan, "pengharapan yang dilihat bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?" Oleh karena itu, yang menjadi milik orang Kristen yang sesungguhnya bukanlah apa yang dia lihat. Itu dapat diumpamakan dengan Tuhan yang membuat seorang Kristen menjadi makmur di dunia ini dan dia memiliki kekayaan. Menjadikan dia bersyukur, tapi juga membuat dia mengakui bahwa ini semua bukanlah hartanya. Satu jam bersama Tuhan Yesus Kristus akan memberi lebih banyak kepuasan bagi orang percaya daripada sejumlah besar kekayaan. Meskipun orang percaya mungkin makmur di dunia ini, dia akan menertawakan gagasan untuk membuat dunia sebagai warisannya. Seribu dunia, dengan seluruh sukacita yang dapat mereka berikan, tidak ada artinya dibandingkan dengan warisan yang dijanjikan kepada kita. Pengharapan kita bukanlah mengenai hal-hal yang tidak berarti. Pengharapan kita membubung tinggi pada sayap rajawali, di mana sukacita yang lebih mulia sedang menanti untuk diterima.

Melampaui, melampaui langit yang lebih rendah ini, Di atas sana adalah tempat di mana zaman kekal berputar-putar; Di mana kesenangan-kesenangan yang mendalam tidak pernah mati, Dan buah-buah kekekalan menyenangkan jiwa.

Namun, jelas bahwa pada masa kini, kita tidak menikmati hal-hal mulia yang kita harapkan ini. Orang-orang tidak percaya mengatakan, "Di mana pengharapanmu?" Dan kita mengakui bahwa kita tidak melihat objek-objek pengharapan kita. Contohnya, kita tidak dapat mengklaim bahwa kita sudah sempurna. Ataupun kita berharap menjadi sempurna sewaktu kita berada di dalam tubuh ini. Tetapi kita percaya bahwa kita akan disempurnakan dalam gambar Kristus pada waktu yang ditentukan oleh Bapa. Bukan berarti tubuh kita sama sekali terbebas dari penyakit saat ini. Sakit-penyakit dan keletihan mengingatkan kita bahwa tubuh kita berada di bawah kuasa kematian karena dosa. Namun, keyakinan teguh kita adalah bahwa kita akan mengenakan rupa surgawi, sama seperti kita sekarang mengenakan rupa duniawi.

Inilah subjek-subjek dari pengharapan, dan karena itu mereka melampaui pengalaman kita saat ini. Biarlah kita tidak menjadi patah semangat tentang hal ini. Pengharapan harus memiliki sesuatu untuk dimakan. Kita tidak dapat memiliki seluruh surga namun tetap berada di bumi. Saudara seiman yang terkasih, jika Anda merasa disiksa oleh dosa di dalam Anda dan kekudusan Anda tampak terpukul dan ternoda, Anda dapat sepenuhnya yakin bahwa Dia yang telah menjanjikan keselamatan yang sempurna, sanggup untuk melakukannya.

Jangan lagi menilai diri Anda sendiri dengan apa yang Anda lakukan, Anda lihat, Anda rasakan, atau siapa Anda. Bangkitlah menuju ruang lingkup berbagai hal yang akan terjadi. Ketika tidak ada sukacita di masa kini, Anda bisa tahu bahwa ada sukacita yang tak terbatas di masa depan. Jangan katakan, "Oh, tapi itu masih lama waktunya." Itu tidak benar. Banyak orang yang membaca buku ini mungkin berusia enam puluh, tujuh puluh, atau bahkan delapan puluh tahun. Waktu Anda untuk bersama Kristus tidak pernah terlampau jauh, karena benang kehidupan Anda putus. Beberapa dari kita berusia paruh baya, tapi karena kita telah mencapai usia kehidupan rata-rata, kita harus mengakui bahwa kesempatan kita akan segera berakhir juga. Dan, karena begitu banyak orang diambil pada usia terbaik mereka, kita mungkin dapat ditangkap menuju negeri yang kita harapkan kapan saja.

Kita seharusnya tidak khawatir mengenai apa yang akan kita lakukan sepuluh tahun dari sekarang, karena sangat besar kemungkinannya dari waktu itu kita telah masuk menuju perhentian yang dijanjikan. Kita akan melayani Tuhan siang dan malam di bait-Nya, dan akan memandang wajah-Nya dengan sukacita yang tak terkatakan. Bahkan, jika beberapa dari kita harus dihukum dan dibuang dari surga selama lima puluh tahun, waktu tersebut akan segera berakhir.

Marilah kita bekerja sekuat-kuatnya bagi kemuliaan Tuhan selagi kita masih berada di bumi ini, karena waktu-waktu itu akan berakhir. Apakah Anda ingat waktu ini tahun lalu? Tampaknya itu baru saja terjadi kemarin. Anak-anak perempuan dan laki-laki berpikir bahwa satu tahun merupakan waktu yang panjang, tapi orang-orang yang lebih tua memiliki opini yang berbeda. Tahun-tahun tidak lagi kelihatan panjang bagi kita, karena kita sedang bertumbuh semakin tua. Bagi saya, waktu bepergian begitu cepat, sehingga as rodanya panas karena kecepatannya.

Ketakutan berseru, "Oh, tinggal sedikit ruang untuk bernapas!" Tetapi pengharapan menjawab, "Tidak, biarkan tahun-tahun berlalu, karena dengan demikian kita akan lekas tiba di rumah."

Hanya ada selangkah antara kita dengan surga. Janganlah kita khawatir tentang hal-hal yang ada di bawah. Kita sama seperti orang-orang yang menaiki kereta api ekspres, yang melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dari jendela; pemandangan tersebut hilang sebelum mereka memiliki waktu untuk memikirkannya. Dan, jika mereka mengalami ketidaknyamanan di sepanjang perjalanan, jika mereka ditempatkan di kelas tiga padahal mereka memiliki tiket kelas satu, mereka tidak mengkhawatirkan hal itu jika itu adalah perjalanan yang singkat. "Tidak apa-apa," kata mereka. "Kami baru saja melewati stasiun terakhir dan tidak lama lagi akan tiba di terminal."

Mari kita memproyeksikan diri kita sendiri menuju masa depan. Kita tidak memerlukan banyak dinamit imajinasi untuk mengirim kita ke sana. Kita dapat melompati jarak yang pendek itu dengan pengharapan dan mendudukkan diri kita di antara takhta-takhta di atas. Putuskan, paling tidak untuk hari ini, bahwa Anda tidak akan tetap tinggal dalam kerangka berpikir dunia yang tidak jelas, tapi akan naik menuju kekekalan yang cemerlang dan jelas. Oh, tinggalkan aliran-aliran yang berlumpur ini, dan berendamlah di dalam sungai pengharapan, di mana airnya sejernih kristal mengalir dari air mancur sukacita ilahi yang murni.

Efek dari Pengharapan Kita

Sekarang mari kita lihat efek dari pengharapan kita, yang digambarkan ayat Alkitab demikian: "Kita dengan sabar menantikannya." Kita menanti dan kita harus menanti, tapi tidak seperti penjahat yang menantikan hukuman mati mereka. Kita menanti seperti seorang mempelai wanita yang mengharapkan pernikahannya. Kita menanti dengan kesabaran, kekonsistenan, kerinduan yang kuat, dan penundukan diri. Sukacita pasti akan datang; kita tidak meragukannya. Karena itu, kita tidak mengeluh dan menggerutu, seakan-akan Tuhan telah melalaikan janji-Nya dan telah menunda kita dengan tidak semestinya. Tidak, waktu yang telah Tuhan putuskan adalah yang terbaik, dan kita puas dengannya.

Kita seharusnya tidak menginginkan untuk tetap tinggal di sini ataupun pergi dari dunia ini kapan saja, kecuali pada waktu yang ditetapkan Tuhan. Rowland Hill, pembaru kartu pos Inggris, dikatakan harus mencari seorang teman berusia lanjut yang sedang sekarat, supaya dia dapat mengirimkan sebuah pesan kepada teman-temannya yang berada di surga. Dengan kata-kata lucu, dia menambahkan sebuah kata pengharapan agar sang Tuan tidak melupakan si tua Rowland, dan mau mengizinkan dia kembali "ke rumah" pada waktunya. Namun, dia tidak pernah memimpikan bahwa sesungguhnya dia bisa tertinggal. Di antara ucapan-ucapan terakhir dari John Donne yang terkenal adalah berikut ini: "Saya sedih bila saya mungkin tidak mati." Memang ini akan menjadi sebuah dunia yang mengerikan jika kita dihukum untuk hidup di dalamnya selamanya. Bayangkan kenyataan yang mengerikan seperti itu.

Saya bertemu dengan seorang pria beberapa waktu yang lalu, yang memberi tahu saya bahwa dia tidak akan pernah mati, tapi pada jangka waktu tertentu, akan menanggalkan efek-efek penuaan dan memulai fase baru kehidupan. Dia dengan berbaik hati datang untuk memberi tahu saya bagaimana saya dapat menikmati hal yang sama, tapi karena saya tidak memiliki ambisi untuk kekekalan duniawi, tawaran seperti itu tidak menggoda saya. Dia memberi tahu saya bahwa dia bisa memperbarui keremajaan saya dan menjadi muda kembali selama beratus-ratus tahun, tapi saya menolaknya. Saya tidak memiliki keinginan pada apa pun yang berlangsung hanya sementara saja. Harapan yang paling menyenangkan saya tentang kehidupan ini adalah bahwa itu akan beralih menjadi kehidupan yang kekal.

Bagi saya, hal yang paling menggembirakan tentang kehidupan yang paling penuh dengan sukacita di bumi ini adalah bahwa itu mengangkat kita ke suatu keadaan yang berbeda dan lebih baik. Saya bukannya tidak bahagia atau tidak puas, pengharapan yang baik bahwa jiwa dan tubuh saya akan disempurnakan, dan sebuah harapan yang pasti bahwa saya akan bersekutu muka ke muka dengan Allah, bagaimana mungkin saya bisa mengucapkan sesuatu yang baik tentang hal apa pun yang memisahkan saya dari sukacita saya itu?

Ya, kehidupan kekal pasti akan datang; karena itu, biarlah kita bersabar menantikannya. Ketika setan menyerang kita, ketika godaan mengancam untuk mengalahkan kita, ketika penderitaan melelahkan kita, ketika keraguan menyiksa kita, biarlah kita berdiri teguh dan menanggung pencobaan sementara itu, karena kita segera akan terbebas dari semuanya itu. Penyempurnaan akan datang; itu harus datang, dan ketika itu datang, kita tidak lagi akan mengingat penderitaan kita lagi. Kita akan dipenuhi dengan sukacita, karena surga telah dilahirkan bagi kita dan kita bagi surga.

Lalu sekarang, jika Anda tidak percaya kepada Tuhan, beri tahu saya apa pengharapan Anda. Biarkan itu diketahui dan biarkan setiap orang menilainya. Apakah pengharapan Anda? Hidup lebih lama? Ya, kemudian apa? Membesarkan sebuah keluarga? Ya, kemudian apa? Melihat anak-anak Anda hidup nyaman? Ya, kemudian apa? Menjadi kakek-nenek dari cucu-cucu yang banyak? Ya, kemudian apa? Menghabiskan masa pensiun penuh kedamaian pada usia yang sangat lanjut? Ya, kemudian apa? Waktu berakhir. Kuburan. Takhta Allah. Roh Anda dihukum. Sangkakala kebangkitan terdengar. Penghukuman terakhir. Tubuh dan roh di neraka selamanya.

Tanpa Kristus, Anda tidak memiliki pengharapan yang lebih baik dari pada itu. Saya memohon dengan sangat kepada Anda untuk membuka mata Anda dan melihat apa yang harus dilihat. Kiranya Tuhan berbelas kasihan kepada Anda, dan memberikan sebuah pengharapan yang lebih baik kepada Anda. Bagi Anda yang memercayai Kristus, saya mendorong Anda untuk mulai menyanyikan lagu-lagu kehidupan kekal. Ringankan kehidupan ziarah Anda dengan lagu-lagu Pengharapan.

(selesai)

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Finding Peace in Life`s Storms
Judul buku :Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan
Judul artikel :Diselamatkan dalam Pengharapan
Penulis :Charles Spurgeon
Penerjemah :Marlina Nadeak
Penerbit :Light Publishing, 2009
Halaman :1 -- 27

Diselamatkan dalam Pengharapan (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Berikut adalah lanjutan artikel e-Reformed edisi 128. Doa saya, kiranya artikel yang kita baca ini semakin memberanikan kita untuk menyongsong hari kematian jasmani, karena tubuh sempurna sudah menanti bagi kita, dimana kita tidak lagi akan mengalami sakit penyakit dan kelemahan badan. Dan kita akan hidup bersama DIA yang memberikan keselamatan sempurna. Soli Deo gloria!

Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Charles Spurgeon
Edisi: 
129/Juni 2012
Tanggal: 
30 Juni 2012
Isi: 

Diselamatkan dalam Pengharapan (2)

Penebusan Tubuh Kita

Tujuan lainnya adalah penebusan tubuh kita. Bacalah ayat ini di mana Paulus mengajarkan kebenaran itu: "Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh roh-Nya, yang diam di dalam kamu." (Roma 8:10-11)

Waktu kita mati, kita akan meninggalkan tubuh kita untuk sementara. Oleh karena itu, berkenaan dengan seluruh tubuh kita, kita tidak akan menjadi sempurna sampai kebangkitan. Secara moral kita akan menjadi sempurna, tapi karena seorang pribadi yang sempurna terbuat dari tubuh dan jiwa, secara fisik kita tidak akan menjadi sempurna jika satu bagian dari kita tetap tinggal di dalam kubur. Saat sangkakala kebangkitan berbunyi, tubuh kita akan bangkit, tapi mereka akan bangkit dalam keadaan ditebus. Roh kita yang diperbarui sangat berbeda dari roh kita sebelumnya, di mana mereka berada di bawah perbudakan dosa. Dengan cara yang sama, saat tubuh kita dibangkitkan, mereka akan menjadi sangat berbeda dari yang sekarang ini.

Berbagai penyakit yang disebabkan oleh penyakit dan usia akan tidak dikenal di antara orang-orang percaya yang dimuliakan, karena mereka akan menjadi seperti malaikat-malaikat Tuhan. Tidak seorang pun akan masuk ke dalam kemuliaan dalam keadaan timpang, buntung, lemah, atau cacat. Tidak seorang pun akan menjadi buta atau tuli. Tidak akan ada kelumpuhan atau TBC. Kita akan memiliki kemudaan yang berlangsung selamanya. Tubuh yang ditabur dalam kelemahan, akan dibangkitkan dalam kuasa dan akan segera menaati perintah Tuhannya. Paulus mengatakan, "yang ditaburkan adalah tubuh alamiah" (1 Korintus 15:44), pantas untuk jiwa, dan "yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah" (ayat 44), pantas untuk roh, sifat alamiah manusia yang tertinggi. Saya menduga kita akan mendiami jenis tubuh yang digunakan kerubim saat mereka terbang, "Ia mengendarai kerub, lalu terbang" (2 Samuel 22:11), atau jenis tubuh yang didiami serafim ketika seperti "nyala api" (Ibrani 1:7), mereka tergesa-gesa untuk menaati perintah-perintah Yehova. Akan menjadi apa pun mereka, tubuh kita yang buruk akan menjadi sangat berbeda dari keadaan mereka yang sekarang. Sekarang ini mereka adalah bola lampu-bola lampu redup, yang akan ditempatkan ke dalam dunia. Tapi, mereka akan bangkit seperti bunga-bungaan yang mulia, cangkir-cangkir emas untuk menampung pancaran wajah Tuhan yang bagaikan cahaya matahari.

Kita belum mengetahui kebesaran dari kemuliaan mereka, kecuali bahwa mereka akan dibentuk seperti tubuh kemuliaan Tuhan Yesus. Karena itu, ini adalah tujuan kedua dari pengharapan kita, bahwa kita akan menerima tubuh kemuliaan yang akan mampu untuk menyatu dengan roh kita yang dimurnikan.

Warisan Rohani Kita

Dipandang dari terang lainnya, tujuan dari pengharapan kita adalah bahwa kita akan masuk ke dalam warisan rohani kita. Paulus berkata, "Dan jika kita adalah anak maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus." (Roma 8:17) Entah kita hanya memiliki sedikit atau banyak di dalam hidup ini, kekayaan kita tidak ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang Tuhan simpan untuk kita, apa yang telah Dia janjikan bahwa kita akan menerimanya pada hari di mana kita mengalami akil balik. Kepenuhan Allah adalah warisan orang-orang percaya. Semua yang dapat membuat seseorang diberkati, mulia, dan sempurna disediakan bagi kita. Ukurlah, jika Anda bisa, warisan dari Kristus, yang merupakan ahli waris dari segala sesuatu! Apa yang seharusnya menjadi bagian dari Anak yang terkasih dari Allah yang Mahatinggi? Apa pun itu, warisan tersebut adalah milik kita, karena kita adalah ahli waris bersama dengan Kristus. Kita akan bersama Dia dan melihat kemuliaan-Nya; kita akan mengenakan gambaran-Nya; kita akan duduk di takhta-Nya. Saya tidak dapat mengatakan lebih banyak kepada Anda, karena kata-kata saya sangat terbatas. Saya berharap agar kita semua, mau merenungkan apa yang dinyatakan Alkitab tentang hal ini, sampai kita mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui tentang hal tersebut. Pengharapan kita mencari banyak hal; pengharapan kita mencari segala sesuatu. Sungai kebahagiaan, kebahagiaan untuk selamanya, sedang mengalir untuk kita dari tangan kanan Allah.

Paulus menulis tentang "kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Dia mengatakan bahwa itu merupakan "kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya" (2 Korintus 4:17). Kemuliaan -- sungguh sebuah kata yang luar biasa! Kemuliaan akan menjadi milik kita, meskipun kita adalah orang-orang berdosa yang malang. Kasih karunia sungguh indah, tetapi betapa lebih lagi kemuliaan itu? Dan kemuliaan ini akan dinyatakan di dalam kita, di sekeliling kita, atas kita, dan melalui kita, untuk kekekalan.

Paulus juga menulis tentang "kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah" (Roma 8:21). Kemerdekaan merupakan sebuah kata yang menyukakan! Kita menyukai gagasan tentang kemerdekaan, terutama ketika kita mendengar suara kemerdekaan yang datang dari terompet perak milik mereka yang berperang melawan para pemimpin yang lalim. Tetapi, betapa lebih menyukakan lagi ketika sangkakala surga memproklamasikan kemerdekaan kekal bagi setiap budak rohani! Tidak ada bandingannya antara kemerdekaan manusia dengan kemerdekaan surgawi, kemerdekaan dari anak-anak Allah. Kita akan memiliki kemerdekaan itu untuk masuk ke dalam Ruang Mahakudus, untuk tinggal dalam hadirat Allah, dan untuk memandang wajah-Nya selama-lamanya.

Rasul Paulus juga berbicara tentang "saat anak-anak Allah dinyatakan" (ayat 19). Di bumi ini, kita disembunyikan di dalam Kristus sebagai mutiara-mutiara dalam sebuah kotak perhiasan. Nantinya, kita akan dinyatakan sebagai perhiasan-perhiasan dalam sebuah mahkota. Kristus dinyatakan kepada orang-orang non Yahudi, setelah Dia disembunyikan untuk sementara waktu. Dengan cara yang sama, kita yang saat ini tidak dikenal akan dinyatakan di hadapan manusia dan para malaikat. "Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan Bapa mereka." (Matius 13:43) Saya tidak dapat mengatakan kepada Anda akan seperti apa manifestasi ini. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9) Dan, meskipun kepada kita "Allah telah menyatakannya oleh Roh" (ayat 10), roh kita hanya mampu menerima sebagian kecil dari pewahyuan ini.

Saya menduga, bahwa hanya seseorang yang telah memiliki hak istimewa untuk melihat rumah kekal milik mereka yang telah disempurnakan di dalam Kristuslah yang dapat memberi tahu kita seperti apa itu kelihatannya. Dan saya membayangkan, kalau dia bahkan tidak dapat melakukannya karena kata-kata tidak dapat menggambarkannya. Ketika Paulus berada di firdaus, dia mendengar perkataan, tetapi dia tidak memberi tahu kita apa perkataan itu, karena dia mengatakan bahwa itu tidak boleh diucapkan manusia. Itu terlalu kudus untuk diucapkan oleh lidah yang fana.

Objek pengharapan kita belum dinyatakan kepada kita, tapi nantinya itu akan dinyatakan. Jangan lengah untuk memikirkan tentang hal itu karena itu akan tiba di masa mendatang, karena jarak waktu tidak bertalian. Apakah itu berbulan-bulan atau bertahun-tahun? Bagaimana jika beratus-ratus tahun berselang sebelum kita dibangkitkan? Mereka dengan cepat akan terlewatkan oleh kita, seperti sayap dari seekor burung, dan kemudian! Oh, kemudian! Apa yang tak kelihatan akan menjadi kelihatan; apa yang tak dapat diucapkan akan didengar; kehidupan kekal akan menjadi milik kita selama-lamanya. Ini adalah pengharapan kita.

Sifat Pengharapan Kita

Sekarang, pengharapan ini yang di dalamnya kita diselamatkan, terdiri dari tiga hal: kepercayaan, kerinduan, dan pengharapan.

Pengharapan kita untuk benar-benar dibebaskan dari dosa di dalam roh kita dan untuk diselamatkan dari semua penyakit di dalam tubuh kita, muncul dari suatu kepastian yang sungguh-sungguh akan keselamatan kita. Pewahyuan tentang Dia yang telah membawa kehidupan dan kekekalan disingkapkan, memberi kesaksian kepada kita bahwa kita juga akan memperoleh kemuliaan dan kekekalan. Kita akan dibangkitkan dalam gambaran Kristus dan akan berbagi dalam kemuliaan-Nya. Ini adalah kepercayaan kita, karena kita tahu bahwa Kristus telah dibangkitkan dan dimuliakan, dan bahwa kita satu dengan Dia.

Kita tidak hanya memercayai ini, tapi kita sungguh merindukannya. Kita sangat merindukannya sehingga, terkadang, kita ingin mati supaya kita boleh masuk ke dalamnya. Sepanjang waktu, khususnya ketika kita mendapatkan sebuah kilasan tentang Kristus, jiwa kita rindu untuk bersama-sama dengan Dia.

Kerinduan ini disertai dengan pengharapan yang penuh keyakinan. Kita berharap melihat kemuliaan Kristus dan berbagi di dalamnya, sebesar kita mengharapkan datangnya fajar. Sesungguhnya, kita mungkin saja tidak hidup untuk melihat matahari esok, tapi kita pasti akan melihat Raja dalam keindahan-Nya di negeri yang sangat jauh.

Kita memercayainya, merindukannya, dan mengharapkannya. Itulah sifat dasar dari pengharapan kita. Itu bukanlah pengharapan yang tak tentu, tak jelas, dan tak berdasar bahwa segalanya akan baik-baik saja, seperti ketika orang-orang berkata, "Saya harap segalanya akan berjalan dengan baik dalam hidup saya," meskipun mereka hidup dengan ceroboh dan tidak mencari Allah. Tetapi pengharapan yang dimaksud lebih kepada pengharapan yang terbentuk dari pengetahuan yang akurat, kepercayaan yang teguh, kerinduan rohani, dan sebuah pengharapan yang sepenuhnya terjamin.

Pengharapan ini didasarkan pada firman Allah. Tuhan telah menjanjikan kepada kita keselamatan yang sempurna; oleh karena itu, kita memercayainya, merindukannya, dan mengharapkannya. Yesus telah berkata, "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan." (Markus 16:16) Arti yang paling luas, yang dapat kita berikan kepada kata diselamatkan, haruslah sesuai dengan apa yang Allah maksudkan dengan kata itu, karena pemikiran-Nya selalu di atas pemikiran kita. Kita mengharapkan Tuhan untuk melakukan apa yang telah Dia katakan, dengan segala janji yang Dia berikan, karena Dia tidak akan pernah mundur dari firman-Nya atau gagal untuk menepati komitmen-Nya. Kita telah memberikan jiwa kita ke dalam pemeliharaan Juru Selamat, yang telah menyatakan bahwa Dia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Kita percaya kepada Penebus kita.

"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah." (Ayub 19:25-26)

Tubuh kita akan dibangkitkan dengan keadaan tidak dapat dibinasakan. Firman Tuhan berisi banyak kata berharga yang memiliki maksud yang sama, dan kita berpegang padanya, yakin bahwa Allah sanggup melaksanakan apa yang telah Dia janjikan. Kita akan mati tanpa keraguan apa pun bahwa kita akan bangkit kembali, bahkan saat kita telah bergabung bersama debu dari orang-orang yang kita kasihi dalam pengharapan yang kuat dan pasti akan kebangkitan mereka pada kehidupan kekal. Petani menaburkan benihnya ke tanah dan tidak ragu bahwa dia akan melihat benih itu muncul kembali. Demikian juga kita menguburkan tubuh orang-orang percaya, dan pada akhirnya akan menyerahkan tubuh kita sendiri ke dalam kubur dalam pengharapan yang pasti bahwa mereka akan hidup kembali sepasti mereka telah hidup. Ini adalah sebuah pengharapan yang layak dimiliki, karena itu didasarkan pada firman Tuhan, kesetiaan Allah, dan kuasa-Nya untuk melaksanakan janji-Nya sendiri. Oleh karena itu, kita memiliki sebuah pengharapan yang pasti dan tetap, dan orang yang memilikinya tidak akan dipermalukan.

Pengharapan ini dikobarkan di dalam kita oleh Roh Allah. Kita tidak akan pernah mengetahui pengharapan ini jika Roh Kudus tidak membangkitkannya di dalam hati kita. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tidak memiliki pengharapan seperti itu, dan mereka tidak akan pernah memilikinya. Hanya ketika orang-orang diperbarui barulah pengharapan ini memasuki mereka, karena sejak saat itu Roh Kudus tinggal di dalam mereka. Dan, karena hal ini, saya bergirang dengan sukacita yang tak terkatakan. Jika pengharapan saya akan kesempurnaan dan keabadian telah ditanam di dalam saya oleh Tuhan, maka itu harus digenapi, karena Tuhan tidak akan pernah menginspirasikan sebuah pengharapan yang akan mempermalukan umat-Nya. Allah yang benar tidak akan pernah memberikan sebuah pengharapan palsu kepada umat manusia. Itu tidak akan pernah bisa terjadi. Allah pengharapan, yang telah mengajar Anda untuk mengharapkan keselamatan dari dosa dan semua dampaknya, akan melakukan bagi Anda menurut pengharapan yang telah diinspirasikan oleh diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, jadilah orang yang yakin dan dengan sabar menantikan hari yang penuh sukacita di mana Tuhan akan muncul.

Pengharapan ini bekerja di dalam kita dengan cara yang kudus, seperti yang harus dilakukan setiap hal yang baik dan kudus yang berasal dari Allah. Itu menyucikan kita, sebagaimana Yohanes mengatakan: "Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (1 Yohanes 3:3) Kita begitu yakin akan warisan ini, sehingga kita bersiap sedia untuknya, dengan menanggalkan semua hal yang bertentangan dengannya dan mengenakan semua hal yang cocok dengannya. Kita berusaha untuk hidup dalam pengharapan akan kemuliaan.

Berapa sering terjadi pada saya (dan saya membayangkan itu terjadi pada Anda juga), di mana saya mengatakan mengenai sesuatu, "Bagaimana ini akan terlihat pada Hari Penghakiman?" Kita telah bertindak dengan murah hati atau menyucikan diri kita, bukan karena kita peduli dengan apa pun yang akan dipikirkan orang mengenainya, tetapi karena kita memandangnya dalam terang kemuliaan yang akan datang. Motivasi terbesar kita adalah bahwa ada sebuah mahkota kehidupan yang tidak akan pernah pudar tersedia bagi kita.

Pengharapan yang diberkati ini membuat kita merasa bahwa adalah memalukan bagi kita untuk berbuat dosa, memalukan kalau putra dan putri kerajaan harus bermain di dalam lumpur seperti anak-anak gelandangan. Sebaliknya, kita dengan rela hidup seperti mereka yang ditakdirkan untuk hidup selamanya dalam terang yang tak terkatakan. Kita tidak dapat berjalan dalam kegelapan, karena kita akan hidup dalam sebuah kemegahan yang membuat matahari tampak pucat. Kita harus tenggelam dalam persekutuan dengan Tritunggal. Oleh karenanya, haruskah kita menjadi budak setan atau hamba dosa? Sekali-kali tidak! Pengharapan yang diberkati ini menarik kita mendekat kepada Allah dan mengangkat kita keluar dari lubang dosa.

(bersambung ke Edisi e-Reformed 130)

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Finding Peace in Life`s Storms
Judul buku :Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan
Judul artikel :Diselamatkan dalam Pengharapan
Penulis :Charles Spurgeon
Penerjemah :Marlina Nadeak
Penerbit :Light Publishing, 2009
Halaman :1 -- 27

Diselamatkan dalam Pengharapan (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya tampilkan dalam e-Reformed bulan ini, yaitu "Diselamatkan dalam Pengharapan", diambil dari buku tulisan Charles Spurgeon yang berjudul: "Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan". Artikel ini sangat bagus tapi juga sangat panjang, dan pasti akan menyulitkan Anda yang membacanya lewat alat mobile (HP). Karena itu, saya akan membaginya menjadi 3 bagian, yang akan diterbitkan dalam 3 edisi, yaitu edisi e-Reformed Mei (28), Juni (29) dan Juli (30).

Supaya Anda tidak menunggu terlalu lama, maka 3 edisi ini akan saya kirimkan 3 hari berturut-turut, mulai hari ini, sehingga Anda bisa mendapatkan seluruh artikel walaupun dikirim dalam 3 surat terpisah.

Tulisan Spurgeon ini semoga mengingatkan kita semua, orang-orang Kristen pada umumnya, yang mulai merasa nyaman tinggal di dunia ini dan melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu tinggal bersama Tuhan kita Yesus Kristus di surga. Biarlah kepenuhan keselamatan terus menjadi pengharapan kita bersama, dan kerinduan untuk bertemu Bapa di surga menjadi cita-cita utama kita.

Selamat membaca.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Charles Spurgeon
Edisi: 
128/Mei 2012
Tanggal: 
5 Juli 2012
Isi: 

Diselamatkan dalam Pengharapan (1)

"Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25)

Kita -- orang-orang percaya, diselamatkan sekarang juga. Tanpa ragu-ragu, kita benar-benar diselamatkan. Kita sepenuhnya diselamatkan dari kesalahan akibat dosa. Tuhan Yesus mengambil dosa kita dan menanggung itu pada tubuh-Nya di atas kayu salib. Dia memberikan sebuah penebusan yang berkenan, yang menghapuskan kesalahan seluruh umat-Nya sekali untuk selamanya. Hukum dosa telah dibayar oleh Pengganti agung kita dan oleh iman kita telah menerima pengorbanan-Nya. "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum." (Yohanes 3:18)

Saat kita menerima Kristus dengan iman, kita dengan segera diselamatkan dari kejahatan yang mencemari dan memiliki akses bebas kepada Allah Bapa kita. Dengan iman, kita diselamatkan dari kuasa dosa yang menguasai hidup kita. Seperti yang dikatakan di dalam Roma 6:14, "Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." Di dalam hati setiap orang Kristen, mahkota tersebut telah diangkat dari kepala dosa dan kekuatan lengannya telah dihancurkan oleh kuasa iman. Dosa berusaha keras untuk memperoleh kendali, tapi dosa tidak bisa menang, karena mereka yang lahir dari Allah tidak bersuka dalam melakukan dosa. Mereka tidak melakukan dosa sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebaliknya, orang-orang percaya menjaga dan melindungi diri mereka supaya si jahat tidak menyentuh mereka.

Ayat firman Tuhan yang akan kita fokuskan sekarang terambil dari Roma 8, yang menuliskan, "kita diselamatkan dalam pengharapan". Namun, kelihatannya ini tidak selaras dengan bagian-bagian lain dari Alkitab. Di mana pun dalam firman Tuhan, kita diberi tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman. Sebagai contoh, Roma 5:1, "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman." Iman bukan pengharapan, yang merupakan anugerah yang menyelamatkan, kecuali bahwa dalam beberapa hal, pengharapan sama dengan iman. Di dalam bahasa Yunani, arti dari Roma 8:24 adalah, "Kita diselamatkan dalam pengharapan." Jika ayat tersebut diterjemahkan dengan cara ini, maka itu akan mencegah kesalahpahaman, seperti yang dikatakan oleh Bengel -- komentator terkenal:

"Kata-kata tersebut tidak menggambarkan artinya, tetapi cara dari keselamatan. Setelah kita diselamatkan, mungkin masih tersisa sesuatu yang dapat kita harapkan, baik keselamatan maupun kemuliaan."

Orang-orang percaya menerima keselamatan jiwa mereka sebagai puncak dari iman mereka. Mereka menerima keselamatan oleh iman, sehingga mereka juga menerimanya dengan kasih karunia. Kita diselamatkan oleh iman dan dalam pengharapan.

Oleh karena itu, kita bersukacita saat ini di dalam keselamatan yang telah kita peroleh dan nikmati oleh iman di dalam Kristus Yesus. Namun, kita sadar bahwa ada sesuatu yang lebih dari ini untuk diperoleh. Kita akan menerima keselamatan dalam pengertian yang lebih luas, yang belum kita lihat. Pada saat ini kita menemukan diri kita sendiri hidup di dalam kemah yang fana -- "Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan." (2 Korintus 5:4) Dan di sekeliling kita, makhluk ciptaan dengan jelas mengalami rasa sakit bekerja. Kita dapat melihat tanda-tanda dari penyusutan bumi dalam kejadian di alam yang bergolak, rusuh, dan penuh penderitaan.

Segala sesuatu tidak lagi sesuai dengan bentuk asli saat Tuhan menciptakannya. Duri-duri bertumbuh di ladang-ladang yang dibajak di bumi; penyakit menjangkiti bunga-bunganya; ada jamur di atas padinya. Langit menangis dan memenuhi hasil panen; kedalaman bumi bergerak dan mengguncangkan kota-kota kita dengan gempa bumi. Berbagai tragedi dan bencana yang sering kali terjadi memberi pertanda sebuah masa depan besar akan dilahirkan sebagai hasil dari rasa sakit bekerja ini.

Tidak ada firdaus yang sempurna, yang dapat ditemukan di belahan bumi mana pun. Bahkan, hal-hal terbaik dari dunia kita menunjuk kepada sesuatu yang lebih baik. Dan semua makhluk ciptaan mengerang bersama kita dalam rasa sakit bekerja. Bahkan, kita yang telah menerima buah sulung dari Roh, diberkati, dan diselamatkan, mengerang di dalam diri kita sendiri, menantikan sesuatu yang lebih jauh, suatu kemuliaan yang belum terlihat. Kita belum mencapai keselamatan, tapi sedang mengejarnya. Kehausan yang pertama dari jiwa kita yang berdosa telah dipuaskan, tapi kita masih memiliki keinginan-keinginan yang lebih besar di dalam kita. Kita lapar dan haus akan kebenaran dengan kerinduan yang tidak pernah puas. Sebelum kita memakan Roti dari Surga, kita lapar akan sesuatu yang sama dengan makanan babi. Namun sekarang, sifat dasar kelahiran baru kita telah membawakan kita pada suatu hasrat yang baru, yang tidak dapat dipuaskan oleh seluruh dunia.

Apakah penyebab dari rasa lapar ini? Itu bukan sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Dukacita, kerinduan, dan hasrat kita yang tak terpuaskan mencakup dua area umum. Pertama, kita rindu untuk sepenuhnya bebas dari dosa dalam setiap bentuk. Kedua, kita rindu untuk dibebaskan dari tubuh jasmani kita dan menerima tubuh kebangkitan kita.

Merindukan Kemerdekaan dari Dosa

Kita dibebani oleh kejahatan yang ada di dalam dunia. Kita diganggu oleh percakapan-percakapan jahat dari orang-orang yang tidak saleh, dan kita berduka oleh godaan dan penganiayaan mereka. Kenyataannya adalah "seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:19), dan orang-orang yang menolak Kristus dan binasa dalam ketidakpercayaan itu merupakan sumber dari kesedihan besar bagi kita. Kita bahkan mungkin berharap untuk hidup di sebuah daerah yang sunyi, jauh dari peradaban, supaya kita dapat bersekutu dengan Tuhan dalam damai dan tidak pernah mendengar apa pun tentang hujatan, gosip, kebejatan moral, dan kejahatan. Dunia ini bukan rumah kita, karena dunia ini telah tercemar. Kita sedang mencari suatu kelepasan yang besar, ketika kita akan diambil dari dunia ini untuk tinggal di dalam persekutuan yang sempurna dengan yang lainnya.

Bahkan, kehadiran orang-orang jahat bisa menjadi sebuah masalah yang kecil, jika kita dapat sepenuhnya dibebaskan dari dosa di dalam diri kita sendiri. Ini berada di antara "segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1), yang akan digenapi pada waktu yang akan datang. Jika seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk berbuat dosa, dia tidak lagi akan mempan terhadap godaan. Dia tidak perlu menjaga diri terhadapnya. Jika sesuatu tidak mungkin dibakar dan dijadikan abu, api tidak akan bisa menyakitinya. Namun, kita merasa bahwa kita harus menghindari godaan karena kita sadar kalau ada balok-balok kayu atau ranting-ranting kecil di dalam kita, yang dapat dengan mudah tersulut oleh api. Tuhan kita berkata, "penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku" (Yohanes 14:30). Tetapi ketika musuh menghampiri kita, dia tidak hanya menemukan sesuatu, tapi banyak yang cocok dengan tujuan-tujuannya. Hati kita semua terlalu mudah menggemakan suara setan. Ketika dia menyebarkan ilalangnya, ladang-ladang dari sifat lama kita segera menghasilkan tuaian. Yang jahat tetap tinggal bahkan di dalam mereka yang telah ditebus, dan itu menjangkiti kemampuan berpikir mereka.

Oh, seandainya saja kita dapat membuang ingatan akan dosa! Sungguh suatu siksaan bagi kita mengingat kata-kata kotor dari lagu-lagu cabul. Seandainya saja pikiran kita dibebaskan dari dosa! Apakah kita cukup berduka atas dosa-dosa dalam pikiran dan imajinasi kita? Seseorang bisa berdosa, dan berdosa dengan sangat mengerikan dalam pikirannya, meskipun dia mungkin tidak berdosa dalam perbuatan-perbuatannya. Banyak orang telah melakukan perzinahan, percabulan, pencurian, dan bahkan pembunuhan di dalam imajinasi mereka dengan menemukan kesenangan ketika memikirkannya, namun mereka mungkin tidak pernah jatuh ke dalam dosa-dosa ini secara terang-terangan. Seandainya saja imajinasi dan seluruh sifat-sifat dasar batiniah kita dibersihkan dari kecemaran yang ada di dalamnya.

Ada sesuatu yang jahat di dalam diri kita, yang membuat kita berseru dari hari ke hari, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?" (Roma 7:24) Jika seseorang yang sedang membaca buku ini berkata, "Saya tidak pernah merasa seperti itu," saya berdoa kepada Tuhan agar kiranya dia segera mengalaminya. Mereka yang puas dengan diri mereka sendiri sangat sedikit tahu tentang kesempurnaan kerohanian yang sejati. Seorang anak yang sehat bertumbuh, demikian juga seorang anak Tuhan yang sehat. Semakin dekat kita kepada kebersihan hati yang sempurna, semakin kita akan berduka atas noda-noda dosa terkecil sekalipun dan semakin kita akan mengakui hal-hal berdosa yang dahulu kita maklumi. Orang yang paling serupa dengan Kristus adalah orang yang paling menyadari tentang ketidaksempurnaan, dan tidak sabar untuk mengenyahkan dosa yang paling kecil sekalipun. Ketika seseorang berkata, "Saya telah mencapai tujuan itu," saya sangat prihatin terhadapnya, karena saya percaya dia bahkan belum mulai berlari.

Untuk saya sendiri, saya menanggung banyak penderitaan yang semakin bertumbuh, dan merasa sangat kurang disenangkan dengan diri saya sendiri daripada yang dulu saya rasakan. Saya memiliki pengharapan yang kuat akan sesuatu yang lebih baik, tapi jika bukan karena pengharapan, saya akan menganggap diri saya benar-benar tidak bahagia karena menjadi begitu sadar akan kebutuhan saya dan begitu tersiksa dengan keinginan-keinginan. Oleh karena itu, ini adalah satu sumber utama dari erangan rohani kita. Kita diselamatkan, tapi kita tidak sepenuhnya dibebaskan dari kecenderungan-kecenderungan untuk berbuat dosa. Kita juga belum mencapai kekudusan penuh. "Dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki." (Yosua 13:1)

Merindukan Tubuh Kebangkitan Kita

Alasan lainnya untuk "ketidakpuasan kita" adalah tubuh kita. Paulus menyebut tubuh tersebut "hina" (Filipi 3:21), dan memang demikian ketika dibandingkan dengan akan menjadi apa tubuh itu ketika dibentuk di dalam gambar Yesus Kristus. Tubuh itu sendiri tidak hina, dipandang sebagai ciptaan Tuhan, karena tubuh itu diciptakan dengan dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:14). Ada sesuatu yang sangat mulia mengenai tubuh manusia, yang telah diciptakan untuk berjalan dengan dua kaki dan untuk melihat ke atas dan memandang ke surga. Sebuah tubuh yang telah dipersiapkan dengan begitu mengagumkan untuk menjadi tempat kediaman pikiran dan untuk menaati perintah-perintah jiwa, bukan untuk dipandang hina. Sebuah tubuh yang dapat menjadi bait Roh Kudus bukanlah struktur rendahan; oleh karenanya, biarlah kita tidak memandangnya dengan hina. Kita seharusnya selalu bersyukur, bahwa kita telah diciptakan sebagai manusia -- yang artinya kita juga telah dibuat menjadi ciptaan baru di dalam Kristus Yesus dan telah "mengenakan manusia baru" (Efesus 4:24). Tubuh sekarang berada di bawah kuasa maut karena "kejatuhan" manusia dalam dosa, dan itu tetap tinggal di bawah kuasanya. Karena itu cepat atau lambat, tubuh tersebut ditujukan untuk mati, kecuali jika Tuhan secara tiba-tiba datang kembali. Dan bahkan pada waktu itu, tubuh tersebut harus diubahkan, karena darah dan daging, dalam keadaannya saat ini, tidak dapat mewarisi kerajaan Allah.

Demikian juga tubuh kita yang lemah, tidak cocok dengan jiwa kita yang lahir baru, karena mereka belum dilahirkan kembali. Tubuh kita adalah tempat tinggal yang membosankan dan suram bagi roh yang dilahirkan oleh surga! Dengan rasa sakit dan penderitaan, mereka mengalami kelelahan dan kelemahan; kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tidur; rentan terhadap sesuatu yang dingin, panas, kecelakaan, dan kerusakan, dan juga terhadap kerja yang berlebihan dan kerja keras yang melelahkan, mereka dengan menyedihkan tidak mampu melayani orang-orang yang dikuduskan. Mereka menarik turun dan menghalangi roh yang sebenarnya dapat membumbung sangat tinggi. Pikirkan betapa seringnya kesehatan yang buruk memadamkan kobaran mulia yang dihasilkan oleh keteguhan hati yang kuat dan keinginan-keinginan yang kudus. Pikirkan betapa seringnya penderitaan dan kelemahan membekukan aliran jiwa yang gembira. Kapan kita akan dibebaskan dari rantai tubuh alamiah ini dan mengenakan pakaian pengantin tubuh rohaniah? Karena dosa tinggal di dalam hati kita dan kita berada dalam tubuh tanah liat yang fana, kita bersuka karena keselamatan kita lebih dekat pada kita sekarang daripada ketika kita percaya pertama kali, dan kita rindu untuk masuk ke dalam kenikmatan yang dihasilkan olehnya.

Ayat Alkitab memberikan kita sejumlah dorongan mengenai ini. Akan tiba suatu waktu, di mana kita akan sepenuhnya dibebaskan dari penyebab kita mengerang saat ini. Kita akan menerima sebuah keselamatan yang begitu besar, sehingga itu akan menutupi semua kebutuhan kita dan bahkan semua keinginan kita. Sebuah keselamatan menantikan kita yang batasannya kekal dan sangat luas. Apa pun yang dapat kita harapkan tercakup di dalamnya. Inilah yang sedang dibicarakan oleh ayat kita ketika dikatakan, "kita diselamatkan dalam pengharapan." Dengan pengharapan, kita berpegang pada keselamatan yang besar dan luas ini.

Dengan mengetahui hal ini, saya ingin menjelaskan untuk Anda jenis pengharapan, yang memiliki suatu genggaman yang kuat pada keselamatan yang lebih besar yang kita rindukan.

Tujuan dari Pengharapan Kita

Kesempurnaan yang Menyeluruh

Pengharapan kita yang terutama, berada di dalam kesempurnaan kita yang menyeluruh di dalam Kristus. Kita telah mengarahkan wajah kita kepada kekudusan, dan oleh kasih karunia Allah kita tidak akan pernah beristirahat sampai kita mencapainya. Setiap dosa yang ada di dalam kita adalah malapetaka, tidak hanya untuk ditaklukkan, tetapi kita harus mematikannya. Kasih karunia Allah tidak menolong kita untuk menyembunyikan dosa-dosa kita, tapi untuk menghancurkan mereka.

Kita harus menangani dosa sama seperti Yosua menangani lima raja musuh ketika mereka bersembunyi di dalam gua di Makeda. Sementara Yosua sibuk dengan peperangan tersebut, dia berkata, "Gulingkanlah batu-batu yang besar ke mulut gua itu." (Yosua 10:18) Untuk sementara waktu, dosa-dosa kita dikunci oleh kasih karunia yang menahan, seperti di dalam sebuah gua. Batu-batu yang besar digulingkan ke mulut gua, karena dosa-dosa kita akan melarikan diri jika mereka bisa, dan sekali lagi mengambil kendali atas hidup kita dengan cepat. Namun, kita bermaksud untuk berurusan dengan dosa-dosa kita dengan lebih efektif dalam kuasa Roh Kudus. Ketika Yosua berkata, "Bukalah mulut gua dan keluarkanlah kelima raja itu dari dalam dan bawa kepadaku" (Yosua 10:22), dia menyerang dan membunuh mereka, kemudian menggantung mereka. Oleh kasih karunia Allah, kita tidak akan pernah puas sampai kita membenci dan meninggalkan semua kecenderungan-kecenderungan alami kita terhadap dosa dan mereka benar-benar dihancurkan. Kita berharap dalam pengharapan untuk suatu hari, di mana tidak ada sebuah noda dari dosa masa lalu, atau suatu kecenderungan untuk melakukan dosa di masa yang akan datang akan tetap tinggal di dalam kita. Kita akan tetap memakai kehendak bebas dan kebebasan untuk memilih, tapi kita hanya akan memilih yang baik. Orang-orang percaya yang sekarang berada di surga, bukanlah orang-orang yang pasif, yang digerakkan di sepanjang jalan ketaatan oleh sebuah kekuatan yang tidak dapat mereka tahan. Sebagai makhluk yang berakal budi dengan kehendak bebas, mereka bebas memilih untuk menjadi kudus di hadapan Tuhan. Kita juga akan menikmati kebebasan anak-anak Allah yang mulia untuk selamanya, yang selalu memilih apa yang baik dan benar secara terus-menerus. Dengan cara ini, kita akan mengalami kebahagiaan yang terus-menerus. Kebodohan tidak lagi akan ada, karena kita semua akan diajar oleh Tuhan dan akan kenal seperti kita sendiri dikenal. Kita akan menjadi sempurna di dalam pelayanan kita kepada Tuhan, dan sepenuhnya dibebaskan dari semua keinginan diri dan hasrat daging; kita akan dekat kepada Tuhan kita dan akan menjadi serupa dengan Dia. Seperti yang telah dituliskan oleh Isaac Watts:

Dosa, musuh terburuk saya sebelumnya,
Tidak lagi akan menyakiti mata dan telinga saya;
Musuh-musuh di dalam saya semuanya akan dibunuh,
Setan tidak lagi menghancurkan kedamaian saya.

Sungguh sesuatu yang luar biasa! Saya rasa jika saya dapat menjadi benar-benar bebas dari setiap kecenderungan untuk berdosa, saya tidak akan peduli di mana saya hidup di bumi atau di surga, di dasar laut bersama Yunus atau di penjara bawah tanah bersama Yeremia. Kemurnian adalah kedamaian; kekudusan adalah kebahagiaan. Mereka yang kudus seperti Allah adalah kudus akan menjadi bahagia seperti Allah bahagia. Ini adalah tujuan utama dari pengharapan kita.

(bersambung ke Edisi e-Reformed 129)

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Finding Peace in Life`s Storms
Judul buku :Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan
Judul artikel :Diselamatkan dalam Pengharapan
Penulis :Charles Spurgeon
Penerjemah :Marlina Nadeak
Penerbit :Light Publishing, 2009
Halaman :1 -- 27

Perspikuitas dan Holoskopositas Alkitab

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Edisi e-Reformed April akan mengajak Anda memikirkan tentang kekhasan doktrin Reformed mengenai Alkitab, khususnya seputar inspirasi. Tulisan yang kami sajikan ini diambil dari buku yang berisi kumpulan transkrip artikel oleh Pdt. Dr. Joseph Tong, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Bandung.

Kiranya melalui pemikiran yang dibagikan oleh Dr. Joseph Tong ini kita semakin mengerti pentingnya menerima Alkitab sebagai firman Allah, dalam keseutuhannya, sehingga tidak ada celah yang membuat kita meragukan Alkitab dari sisi/sudut pandang apapun. Dengan demikian, kita dimungkinkan menikmati kebenaran Alkitab yang membawa kepada pengenalan kepada Allah dengan sepuas-puasnya.

Tuhan memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Dr. Stephen Tong
Edisi: 
127/April 2012
Tanggal: 
2 Mei 2012
Isi: 

Perspikuitas dan Holoskopositas Alkitab

Banyak literatur yang berbicara tentang pengertian teori inspirasi Kristen. Sebagian besar dari literatur tersebut menekankan pada penggambaran Doktrin Inspirasi dalam konteks pewahyuan Allah. Inspirasi pada dasarnya adalah sebuah bentuk khusus dari wahyu ilahi, di mana Allah melakukan sebuah tindakan pengakomodasian, dengan membiarkan kebenaran-Nya yang absolut dan tidak terbatas, menjadi sebuah bentuk yang terbatas dan relatif dalam ekspresi bahasa manusia. Di dalam pengertian semacam itu, Roh Kudus bekerja secara misterius di dalam hati para hamba—Nya yang terpilih, mengangkat individualitas dan kemampuan khusus mereka, untuk merekam wahyu Allah. Sedangkan Roh Kudus "menghidupi" tulisan tersebut, sehingga tulisan tersebut membawa tanda inspirasi. Roh Kudus juga bekerja di dalam hati orang-orang percaya dan gereja dalam bentuk sebuah kesaksian internal (testimonium intern), yang menuntun gereja dan umat-Nya dalam proses kanonisasi, untuk menerima tulisan-tulisan yang telah diinspirasikan sebagai firman Allah dalam bahasa manusia. Pendapat ini dapat disimpulkan dan disingkat dalam hal-hal berikut ini.

  1. Inspirasi Alkitab adalah organik, bukan mekanik atau sesederhana inspirasi literal, seperti penulis-penulis literatur secara umum.

  2. Inspirasi Alkitab bersifat mandat penuh, bukan sebagian. Dengan kata lain, inspirasi melingkupi totalitas keseluruhan Alkitab. Semua dan setiap bagian dari Alkitab merupakan karya Allah melalui pekerjaan Roh Kudus, yang diselesaikan pada saat, tempat, serta latar belakang budaya yang berbeda. Roh Kudus bergerak dan menuntun hamba-hamba Allah untuk menyelesaikan semua tulisan dengan satu tema, dalam keharmonisan, tanpa konflik atau kontradiksi.

  3. Inspirasi Alkitab dilakukan secara verbal. Kepercayaan ini meneguhkan bahwa inspirasi Allah adalah dalam bentuk bahasa manusia, dan itu merupakan bahasa Alkitab. Sekalipun muncul dalam banyak budaya dan sejarah yang berbeda, akan tetapi saling terikat dan terhubung satu dengan yang lainnya di dalam pekerjaan Roh Kudus.

  4. Inspirasi Alkitab adalah "inerrant" (tidak dapat bersalah) dan sempurna. Itu merupakan catatan manusia tentang kebenaran Allah sampai keselamatan, kebenaran, kepastian, ketidakberubahan, serta nilai yang paling tinggi. Alkitab tidak pernah menggagalkan umat-Nya.

Singkatnya, inspirasi dari Alkitab bukan merupakan bentuk pendiktean, atau melihat para penulis sebagai sebuah pena dalam tangan Allah. Mereka adalah para hamba Allah yang sederhana dan jujur, yang dipanggil dan dipilih dalam anugerah Allah, di mana Roh Allah datang kepada mereka, menggunakan kecerdasan, kemampuan, dan kepribadian, untuk menuliskan wahyu Allah yang telah diberikan kepada mereka. Mereka menuliskannya dalam bentuk kata-kata bagi umat-Nya di sepanjang generasi. Alkitab merekam apa yang dinyatakan serta meneguhkannya di bawah pemeliharaan yang ilahi, untuk menjadi warisan gereja.

Berdasarkan asumsi semacam itulah kita melihat Alkitab secara serius. Sekalipun kita tidak mengambil Alkitab sebagai dasar yang absolut bagi iman, namun kita tetap dengan serius harus menegaskan bahwa tanpa Alkitab, tidak mungkin ada kebenaran dan pengetahuan yang komprehensif tentang Allah dan wahyu Allah. Hal ini berada dalam konteks wahyu Allah yang khusus; Allah memberi kita Kristus dan Alkitab. Karena alasan inilah, gereja tidak hanya percaya bahwa Alkitab adalah firman yang menyaksikan Kristus serta membawa manusia kepada Kristus, tetapi benar-benar adalah firman Allah -- firman Allah yang hidup dari Allah yang hidup!

Berdasarkan penekanan iman kita yang semacam itulah, kita melihat ada dua karakteristik unik dari Alkitab yang tidak dimiliki oleh kanon atau kitab iman yang lainnya, yaitu "perspicuity" (sifat Alkitab yang jelas dan menjelaskan diri sendiri) dan "holoscopicity" (sifat Alkitab yang utuh).

Kejelasan Alkitab

Sekalipun Alkitab bukan merupakan keseluruhan dari wahyu Allah, Alkitab merupakan penyataan diri Allah dalam bentuk yang tertulis, yang diselesaikan melalui karya inspirasi. Alkitab merupakan wahyu yang berisi kebenaran yang jelas (conspicuity) dan tajam (perspicuity). "Conspicuity" artinya wahyu yang sangat jelas, yang merupakan sebuah penyataan yang didampingi oleh wahyu umum dalam ciptaan, yang menyaksikan kuasa yang mulia, kemurahan yang absolut, serta ketuhanan Allah. "Perspicuity" berarti bahwa wahyu bertujuan untuk memberi manusia hikmat dan pengetahuan yang cukup tentang Allah untuk keselamatan. Dalam konteks "perspicuity" dari Alkitab, manusia berseru dalam ketaatan bahwa, "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." (Ulangan 29:29)

Berdasarkan keyakinan terhadap "perspicuity" Allah, kita percaya bahwa manusia yang tidak berpendidikan, atau buta huruf sekalipun, akan dapat mengerti dengan baik wahyu Alkitab dan mendapatkan pengetahuan tentang Allah ke arah kebenaran dan keselamatan. Sebaliknya, orang yang berpendidikan baik, tidak akan menghabiskan pengetahuan tentang Allah dengan membaca Alkitab bagi dirinya sendiri. Bagi mereka yang merindukan Allah di dalam Roh, mereka akan menemukan kepuasan di dalam firman Allah dalam Alkitab, sehingga tidak ada kebutuhan untuk wahyu khusus di luar Alkitab.

"Perspicuity" Alkitab menggambarkan kesenangan Allah untuk mengundang anak-anak-Nya, agar dapat menerima pernyataan diri-Nya dalam Alkitab, sehingga mereka dapat menikmati keindahan yang tidak pernah berakhir dari kebenaran dan kuasa firman-Nya, dan menjadi puas di dalam Alkitab dan semua yang ada di dalamnya. Gagasan "perspicuity" ini disempurnakan dalam pengertian "holoscopicity" dari Alkitab, yang dijelaskan sebagai berikut:

Kesatuan Alkitab

Kata "holoscopicity" berasal dari pelajaran fisika, biologi, dan fotografi. Kata ini secara umum disebut dengan "holography". Kata ini mengacu pada kenyataan bahwa bagian-bagian tubuh mewakili seluruh tubuh. Seperti sebuah gambar holographic, bahkan bagian yang paling kecil sekalipun mengandung gambar secara keseluruhan, ketika observasi dipresentasikan. Hal ini juga berlaku dalam ilmu fisika, biologi, arkeologi, dan astronomi. Seorang peneliti mendapat pengetahuan biologi secara keseluruhan melalui memelajari sel-sel, bahkan melalui satu gen di dalam sel; atau spesialis pohon dapat mengetahui kondisi pohon hanya dengan memelajari daunnya; seorang arkeologis dapat menarik kesimpulan tentang kehidupan manusia kuno dengan hanya memiliki satu buah gigi, sebatang tulang atau fosil; seorang astronomologis dapat memiliki pengetahuan tentang alam semesta dengan mengobservasi mikrosom dalam hubungannya dengan makrosom, dan seterusnya. Bisa dikatakan bahwa "holoscpicity" merupakan salah satu asumsi dasar bagi semua peneliti ilmu pengetahuan.

Alkitab adalah Firman Allah yang Jelas

Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah, bukan merupakan sebuah kumpulan dari `kata-kata` Allah. Dengan kata lain, seluruh pesan Alkitab dapat dilihat dari bagian-bagiannya, sebaliknya totalitas dari bagian-bagian tersebut adalah firman Allah. Dengan kerangka pengertian semacam ini, kita mengambil posisi sebagai berikut:

  1. Teks Alkitab Tidak Dapat Dimengerti di Luar Konteksnya
    Mengambil pesan Alkitab keluar dari konteks merupakan sebuah tindakan egois dari ketidakpercayaan, serta pemberontakan terhadap kebenaran. Konsekuensinya adalah penghancuran diri sendiri. Seseorang yang melakukan hal tersebut, secara langsung akan menemukan bahwa dia memiliki pola pikir yang kontradiktif tanpa penyelesaian. Jalannya buntu dan menjadi lebih sempit serta ke arah penghancuran diri sendiri. Ini merupakan peringatan yang jelas bagi para ekstremis dan bidat dalam kekristenan.

  2. Jaminan Pengetahuan yang Cukup akan Kebenaran
    Menjawab pertanyaan tentang sejauh mana pengetahuan seseorang tentang Alkitab dan kebenaran alkitabiah akan menjamin keselamatannya? Kita harus menjawab pertanyaan ini dalam terang "holoscopicity" Alkitab. Pertanyaan tersebut pada dasarnya tidak mengarah pada hal yang sifatnya kuantitatif dari pengetahuan tentang kebenaran, akan tetapi kualitatif tentang kepastian dari kebenaran. Ketika kita mengetahui bahwa Alkitab adalah firman Allah, sehingga bagian yang paling kecil, bahkan satu kata dari Alkitab, adalah firman Allah secara keseluruhan. Dengan kata lain, "holoscopicity" dari Alkitab meyakinkan bahwa kapan pun seseorang mendengarkan firman Allah, apabila Roh Kudus membuka hati dan pikirannya, dia dimampukan untuk percaya dan diselamatkan di dalam Kristus, menuju kehidupan yang kekal (Kisah Para Rasul 16:13-15). "Holoscopicity" Alkitab meyakinkan kita akan pengetahuan tentang kebenaran yang mengarah pada keselamatan, bahkan dengan menguraikan hanya satu kata dalam Alkitab.

  3. Kerinduan Umat Allah dan Kepuasan Mereka
    "Holoscopicity" Alkitab meyakinkan bahwa sekali kita membaca, maka kita akan selalu merasa haus akan kebenaran. Alkitab menuntun kita untuk mencari kebenaran, untuk meninggalkan doktrin yang dangkal dan masuk ke dalam kesempurnaan (Ibrani 6:1). Ini adalah alasan mengapa ketika seseorang mulai membaca Alkitab, dia akan menemukan kesukaan dalam pembacaannya, dan terdorong ke dalam usaha yang tidak pernah berakhir untuk mengejar dan mencari kehendak Allah, sampai akhirnya dia menjadi puas di dalam Kristus (Filipi 3:12).

  4. Keharusan Prinsip-Prinsip Hermeneutika
    Arus utama teologi ortodoks mengasumsikan bahwa prinsip dasar hermeunetika diekspresikan dalam formula "Scriptura Scripturae interpres". Prinsip ini telah dimengerti secara luas dan diterapkan oleh orang-orang injili ketika mereka mengutip ayat Alkitab. Akan tetapi, apabila kita memahami makna dari "holoscopicity" Alkitab, maka prinsip "Scriptura Scripturae interpres" harus dimengerti dalam prinsip Alkitab menafsirkan dirinya sendiri. Di atas penekanan semacam itulah, kita dapat melihat koherensi dan saling keterkaitan dari setiap bagian Alkitab, dan melihat bagaimana semua bagian bertemu menjadi sebuah tema sentral. Berdasarkan asumsi kesatuan organik dari Alkitab yang semacam itulah, Allah telah memelihara kontinuitas, kesatuan, dan kelengkapan Alkitab. Kemudian kita memiliki keberanian untuk bersaksi tentang kesetiaan Allah yang pasti dengan mengatakan, "...dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah firman TUHAN" (Yeremia 23:28).

  5. Wahyu yang Sempurna dan Keseluruhan Inspirasi Allah
    Seperti yang telah kita katakan, sekalipun Alkitab bukan merupakan wahyu Allah secara keseluruhan, akan tetapi itu merupakan penyataan Allah yang lengkap, yang diberikan kepada kita melalui inspirasi. Ini merupakan pengakuan iman gereja bagi semua generasi, untuk menerima Alkitab sebagai sebuah kanon yang tertutup. Berdasarkan pengakuan semacam itulah, gereja menolak segala macam tulisan di luar Alkitab sebagai kanon yang memiliki otoritas atau yang dapat digunakan sebagai fondasi bagi iman dan praktik kristiani.

Menurut pendapat Agustinus, kita menyadari bahwa gereja memerlukan iluminasi untuk mengerti kebenaran Alkitab, sekalipun wahyu atau karya iluminasi serta inspirasi lainnya dapat dipertimbangkan, khususnya bagi pemupukan rohani pribadi dan instruksi di dalam gereja. Akan tetapi, mereka tidak pernah diberlakukan sebagai fondasi atau arah iman gereja. Konsep ini merupakan konsekuensi dari penekanan sifat yang lengkap dari "perspicuity" dan "holoscopicity" Alkitab. Alkitab sebagai kanon yang tertutup sangat jelas. Oleh karena itu, kita tidak memerlukan wahyu lainnya, baik itu personal maupun komunal, untuk melengkapi iman berdasarkan sifat "holographic" dari setiap bagiannya. Seseorang yang gagal untuk menghargai "holoscopicity" Alkitab, pasti mengalami kegagalan untuk membuka pintu bagi kebenaran itu sendiri.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, teologi dalam pendekatan Reformed menyatakan bahwa Alkitab merupakan wahyu khusus yang diberikan Allah bagi gereja dalam bentuk inspirasi, di mana Allah menyatakan diri-Nya sendiri dan mengizinkan pernyataan diri-Nya direkam dalam bahasa manusia dalam bentuk tulisan. Alkitab merupakan wahyu khusus, firman Allah yang dikomunikasikan kepada kita dalam bahasa manusia, yang telah melewati proses kanonisasi, dan meliputi juga pemeliharaan melalui kesaksian internal dari Roh Kudus. Gereja menerima Alkitab sebagai kanon tertutup bagi semua gereja, di mana saja dan kapan saja. Alkitab juga merupakan satu bentuk wahyu Allah yang umum, yang merupakan hikmat yang terbaik dan literatur yang paling indah di seluruh dunia dan tidak ada duanya.

Di samping itu, konteks dari pengertian wahyu khusus dalam keselamatan adalah meneguhkan bahwa Alkitab merupakan anugerah Allah yang khusus. Alkitab merupakan buku yang kudus, yang diberikan Allah bagi umat-Nya. Di bawah karya dari Roh Kudus dan dalam bentuk kesaksian internal, gereja dituntun untuk mengonfirmasikan keotentikannya, serta menyatakan bahwa ia merupakan kanon yang tertutup, untuk dibaca dan dinikmati bagi anak-anak-Nya. Untuk itu Alkitab merupakan sesuatu yang diterima sebagai doktrin, teguran, koreksi, serta instruksi dalam kebenaran, bahwa umat Allah harus menerima lengkap sepenuhnya bagi setiap pekerjaan baik (2 Timotius 3:16), ... untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci (Roma 15:4), ... sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu (2 Petrus 1:19). Untuk alasan semacam inilah, di bawah jaminan penuh dari "perspicuity" dan "holoscopicity" Alkitab, kita harus seperti orang Berea, menerima firman dengan segenap kesiapan, serta menyelidiki Kitab Suci setiap hari (Kisah Para Rasul 17:11).

Tulisan ini telah dimuat dalam Jurnal Teologi STULOS 2/1, STT Bandung, Mei 2003, Hal. 113-120

Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku :Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Tentang Iman Kristen
Judul artikel:Perspikuitas dan Holoskopositas Alkitab
Penyusun :Dr. Joseph Tong
Penerbit :Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman :85 -- 93

10 Nubuatan yang Terjadi Pada Hari Kristus Disalibkan (Yohanes 19:28)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kami yakin Anda sudah mulai mempersiapkan diri untuk merayakan Paskah, salah satu hari besar yang dirayakan oleh umat Kristen di seluruh dunia. Memang hari Natal sering dirayakan lebih meriah dibandingkan hari Paskah. Tetapi makna kematian dan kebangkitan Kristus merupakan inti terbesar dari keselamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Mengapa?

Saya ingin mengutipkan kata-kata DR. Pdt. Stephen Tong dalam transkrip seminarnya yang berjudul "7 Perkataan Salib": "Siapakah Anda dan saya yang boleh diberi pengertian oleh Roh Kudus untuk mengetahui akan rahasia cinta kasih Tuhan? Yang kita ketahui mungkin hanya sepersepuluh, seperseratus, atau bahkan sepersejuta, tetapi puji Tuhan karena Dia tidak mau kita tidak mengetahui apa-apa tentang sengsara dan salib-Nya. Orang yang mengenal kesengsaraan Kristus adalah orang yang bisa mencintai Tuhan. Kita tidak mencintai Tuhan karena kita tidak sadar akan kasih Tuhan."

Saya cukup tersentak ketika pertama kali membaca pernyataan beliau bahwa "Orang yang mengenal kesengsaraan Kristus adalah orang yang bisa mencintai Tuhan". Berbahagialah kita yang oleh anugerah-Nya dapat mengerti kasih Kristus melalui kesengsaraan-Nya, walaupun cuma sepersejuta yang bisa kita mengerti. Dengan mengerti kesengsaraan Kristus kita memiliki keberanian untuk percaya bahwa hidup kita memiliki arti, memiliki sesuatu yang perlu kita perjuangan.

Cuplikan artikel yang saya ingin bagikan kepada Anda berikut ini adalah transkrip seminar "7 Perkataan Salib" yang dibawakan oleh DR. Pdt. Stephen Tong, yang secara khusus membahas Yohanes 19:28 yang berkata: "Karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah terjadi...lalu Dia berteriak: "Aku haus!" Ucapan, "Aku haus" adalah perkataan kelima dari Tuhan Yesus ketika berada di kayu salib. DR. Pdt Stephen Tong membahas panjang lebar tentang kata "Aku haus", tetapi yang menarik perhatian saya adalah kalimat sebelum kata itu, "Karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah terjadi..." Bagian inilah yang ingin saya bagikan kepada Anda, karena dalam istilah "segala sesuatu sudah terjadi", menurut DR. Pdt. Stephen Tong, ada sepuluh nubuatan yang sudah digenapkan pada hari itu juga. Nah, untuk mengetahui, apa sajakah sepuluh nubuatan yang dimaksud, silakan menyimak tulisan di bawah ini. Harapan saya, Anda akan sama tercengangnya dengan saya, dan mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Allah yang lahir menjadi manusia.

Melalui kesempatan ini, saya dan teman-teman di Yayasan Lembaga SABDA juga ingin mengucapkan: SELAMAT MERAYAKAN PASKAH. Biarlah melalui perayaan Paskah ini, kasih kita terus dikobarkan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang hilang dan memelihara jiwa-jiwa yang Tuhan telah percayakan kepada kita. To God be the glory!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Dr. Stephen Tong
Edisi: 
126/Maret 2012
Tanggal: 
4 April 2012
Isi: 

10 Nubuatan yang Terjadi Pada Hari Kristus Disalibkan (Yohanes 19:28)

Kita akan melihat belasan nubuat yang khusus berkata tentang kematian-Nya. Nubuat kematian Kristus yang terjadi di Golgota, dari sejak Yudas menjual Dia sampai Kristus mengembuskan napas terakhir, di dalam beberapa jam itu saja Allah memerlukan waktu kira-kira seribu tahun untuk menubuatkan hal-hal itu. Melalui mulut Daud, Yesaya maupun pemazmur dan penulis lain, Allah telah dengan begitu limpah dan lengkap menubuatkan tentang kematian Yesus Kristus. Nubuat-nubuat yang terjadi selama seribu tahun digenapi dalam satu hari. Nubuat sepanjang seribu tahun, dikonsentrasikan di dalam satu Oknum di dalam satu hari. Jika Yesus bukan Kristus, siapakah Dia? Jika apa yang terjadi pada-Nya bukan menurut rencana Allah, maka itu terjadi menurut rencana siapa? Yohanes 19:28 berkata: "Karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah terjadi...lalu Dia berteriak: "Aku haus!" Apakah arti ayat ini? Istilah "segala sesuatu sudah terjadi", meliputi sepuluh hal yang sudah digenapkan pada hari itu juga.

  1. Dia dijual oleh kawan-Nya sendiri (Mazmur 55:13-15), digenapi dalam Matius 26:47-56. Melalui pemazmur, Tuhan berkata bahwa jikalau musuh yang menjual-Nya, itu masih wajar. Tetapi, yang menjual Kristus adalah kawan yang dekat, yang dipercaya. Yesus tidak dijual oleh orang Farisi, tetapi justru dijual oleh Yudas, yang siang malam selama tiga setengah tahun ada bersama dengan Dia.

  2. Dia akan dijual dengan tiga puluh keping perak (Zakharia 11:12), digenapi dalam Matius 26:15-16. Yudas telah menjual Yesus dengan upah tiga puluh keping perak. Yudas sudah menerima pikiran dari Iblis dan menetapkan hatinya untuk berbuat kejahatan serta menjual Yesus Kristus. Yudas sudah mengambil tekad yang tidak akan berubah.

  3. Penggembala harus dibunuh dan domba-dombanya akan bercerai-berai (Zakharia 13:7), digenapi dalam Matius 26:56. Siapakah Yesus Kristus? Dia adalah Gembala. Gembala yang besar, Gembala yang sulung. Tetapi, Alkitab berkata bahwa Gembala itu akan dibunuh dan domba-domba-Nya akan bercerai-berai ke sana-kemari. Pada waktu Yesus Kristus ditangkap, murid-murid-Nya pergi ke sana-kemari. Pada waktu dipaku di atas kayu salib, Dia tahu bahwa Dia akan menggembalakan domba-domba-Nya. Dan domba-domba di luar kandang akan dibawa-Nya kembali untuk bersatu dengan domba-domba yang sudah ada di dalam kandang (Yohanes 10:16). "Akulah Gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yohanes 10:11). Yesus tahu bahwa diri-Nya adalah Gembala yang dipukul, yang dilukai. Waktu dipaku di atas kayu salib, baik Petrus, Andreas maupun murid-murid-Nya yang lain yang biasanya melayani Dia dengan giat kini tidak ada. Orang-orang Kristen yang biasanya sibuk melayani di dalam persekutuan kini tidak kelihatan lagi bahkan bayang-bayangnya sekalipun tidak. Karena apa? Karena sudah dinubuatkan bahwa domba-domba-Nya akan berkeliaran ke sana-sini dan tersesat. Gembala yang baik sudah dipukul. Yesus tahu bahwa nubuat ini sudah tergenapi.

  4. Mesias akan dituduh dan difitnah oleh saksi-saksi dusta. Tuduhan-tuduhan itu akan menjadi penodaan bagi-Nya, tetapi Dia tidak berbicara apa-apa karena Dia rela menerima tanpa membalas segala perkataan jahat yang ditimpakan kepada-Nya. Ini dinubuatkan oleh Tuhan melalui nabi- Nya dalam Mazmur 109:2-5 dan penggenapannya berada dalam Matius 27:12. Pada waktu disalib, Dia melihat bahwa hal ini sudah terjadi. Semua tuduhan orang Yahudi yang ditimpakan kepada Yesus, didengarkan oleh Pilatus. Sebagai orang Romawi, tuduhan bahwa Kristus melakukan penghujatan terhadap Allah tidaklah penting bagi Pilatus. Tetapi, bagi orang Yahudi, hal itu sebaliknya. Bagi orang Yahudi, Yesus yang berani menyebut diri sebagai Anak Allah yaitu Kristus, adalah seorang penghujat. Itu adalah dosa besar! Satu-satunya manusia yang di hadapan umum berani mengatakan bahwa diri-Nya mengampuni dosa orang lain (Matius 9:1-3, Markus 2:6-7) dan di hadapan umum berani mengatakan bahwa diri-Nya adalah Yesus Kristus Anak Allah (Yohanes 5:17-18).

  5. Tuduhan menghujat Allah yang didengar oleh Pilatus, tidaklah penting. Baginya, Yesus itu Anak Allah atau bukan, tidaklah penting. Yesus itu Kristus atau bukan, tidaklah penting. Tetapi, kalau Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah Raja orang Yahudi, maka tuduhan itu menjadi penting bagi Pilatus, karena saat itu orang Yahudi ada di bawah jajahan orang Romawi. Pilatus adalah salah satu gubernur Romawi. Bagaimana jika ternyata Yesus adalah raja baru bagi orang Yahudi? Apakah Dia akan mengganti kedudukan Herodes? Bukankah Herodes adalah raja boneka orang Yahudi yang ditunjuk dan dikuasai oleh pemerintah Romawi? Bukankah Yesus ingin mengadakan suatu pemberontakan politis? Bukankah Yesus ingin mengadakan revolusi? Karena itu, Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" (Lukas 23:3). Yesus Kristus menjawab Pilatus: "Aku dilahirkan dalam dunia sebagai Raja dan Aku bersaksi tentang kebenaran" (lihat Yohanes 18:37-38). Pilatus bertanya lagi kepada Yesus: "Apakah kebenaran itu?"

    Pilatus bertanya demikian karena dia memunyai satu dasar atau tradisi pengenalan kebenaran ala Romawi yang dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani. Istilah "kebenaran" (Yunani = aletheia) adalah satu istilah yang maknanya terus dicari oleh filsuf-filsuf Yunani seperti Protagoras, Georgias, Sokrates, Plato, Aristoteles, orang-orang Stoik, orang-orang Epikurian dan sampai Pilatus. Mungkin Pilatus pernah menerima pengaruh dari Seneca atau pemikir Yunani yang lain. Jika orang-orang Romawi sudah dipengaruhi oleh filsafat Yunani yang begitu dalam menyelidiki tentang kebenaran, maka kebenaran macam apakah yang Yesus berani katakan, demikian pikir Pilatus. Bukankah Yesus berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk bersaksi tentang kebenaran? Apakah kebenaran? Pilatus hanya bertanya dan tidak menantikan jawabannya. Inilah sikap manusia yang tidak menghormati Tuhan. Dan Tuhan Yesus juga tidak menjawab Pilatus. Kini di atas kayu salib, semua umpatan-umpatan, fitnahan-fitnahan maupun segala olokan sudah terlewati. Nubuat keempat sudah lewat.

  6. Orang-orang akan mencambuk, memukuli, melukai serta meludahi muka-Nya. Berapa kali Kristus menerima segala penghinaan, dera dan fitnahan? Pada waktu Kristus dihadapkan kepada Herodes, Herodes mengharapkan agar Dia mengadakan mukjizat di hadapannya (Lukas 23:8). Tetapi, di hadapan tentara Herodes, tidak ada satu mukjizat pun yang akan diadakan-Nya untuk pamer ataupun untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Herodes adalah manusia yang ingin mengetahui mukjizat dan menyuruh Allah melayani dia. Herodes ingin supaya Yesus Kristus mendemonstrasikan dan memamerkan kuasa-Nya kepada dia. Di atas Golgota, tidak ada hal ini. Di atas sengsara Kristus, tidak ada hal ini. Pada waktu Yesus Kristus mendengarkan perkataan Herodes, Dia diam dan tidak menjawabnya. Dia memutar tubuh-Nya. Pukulan dan cambukan datang menghantam tubuh-Nya. Dia menerima segala pukulan dan cambukan yang merobek-robek daging dan kulit-Nya. Dia tetap membiarkan mereka. Nubuat sudah mengatakan bahwa Mesias akan membiarkan mereka memukul Dia dan membiarkan supaya badan-Nya dicambuk (Mikha 5:1, Yesaya 50:6). Dengan bilur-Nya, Anda dan saya disembuhkan (Yesaya 53:3-8). Di dalam bilur-Nya ada keselamatan yang lengkap bagi kita. Penderitaan Kristus sudah dinubuatkan kira-kira tujuh ratus tahun sebelumnya dan itu digenapkan dalam Matius 26:67-68; 27:30. Inilah nubuat kelima yang sudah tergenapi.

  7. Dia akan dihukum beserta dengan perampok-perampok. Kristus akan dihukum dengan para kriminal. Bahasa asli Ibrani menunjukkan bahwa Mesias akan mati di antara orang-orang (bentuk jamak) kriminal. Nubuat ini ada tujuh ratus tahun sebelum Yesus disalibkan (Yesaya 53:9, 12) dan digenapi dalam Markus 15:7, 28.

  8. Tangan dan kaki Mesias akan ditusuk. Orang-orang tidak akan mengerti bagaimana cara Mesias akan mati meskipun Perjanjian Lama sudah jelas mengatakan hal ini. Sampai pada suatu hari Kristus mati, barulah kita mengetahui bagaimana Kristus akan mati. Kristus mati dengan tangan dan kaki tertembus paku. Masa, cara mati Kristus juga dinubuatkan dalam Alkitab? Ya, memang dinubuatkan. "Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku" (Mazmur 22:16-17). Mazmur ini ditulis kira-kira seribu tahun sebelum Yesus dipakukan di atas kayu salib. Orang akan menusuk tangan dan kaki-Nya. Nubuat tentang penderitaan Mesias yang paling penting terdapat dalam Mazmur 22. Lalu, di manakah ayat-ayat yang menggenapi hal ini? Di dalam ketiga Injil sinopsis (Matius, Markus, Lukas) tidak dikatakan bahwa tangan Yesus ditusuk. Tetapi, Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, maka salah satu dari murid yang bernama Tomas tidak percaya hal ini. Akhirnya, Tomas bertemu dengan Tuhan Yesus dan melihat dengan jelas bekas paku di tangan dan bekas tusukan tombak di lambung-Nya (Yohanes 20:25-29). Tomas tidak ada pada hari pertama kebangkitan Yesus. Tetapi, pada hari ke delapan dari kebangkitan-Nya, Ia menemui Tomas dan menunjukkan kepadanya bekas tusukan paku.

  9. Pakaian-Nya akan direbut dan dibagi-bagi di antara orang-orang yang menyalibkan Dia (Mazmur 22:18), hal ini digenapi dalam Yohanes 19:23-24.

  10. Dia berdoa untuk orang-orang kriminal yang disalibkan bersama-sama Dia (Yesaya 53:12). Ini digenapi dalam Lukas 23:34: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

  11. Kegelapan menudungi Kristus (Amos 8:9), ini tergenapi dalam Matius 27:45.

Sepuluh nubuat yang besar tentang kematian Kristus sudah tergenapi dalam satu hari. Sepanjang seribu tahun sebelum Kristus lahir ke dunia, sudah ada nubuat-nubuat tentang bagaimana Dia akan mati. Semua nubuatan itu terkonsentrasi pada satu Orang. Dan kini Kristus menggenapi semua nubuat itu. Apakah ini suatu kebetulan? Tidak. Ini semua menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias. Selain sepuluh nubuat di atas, masih ada tujuh nubuat yang penting tentang kematian Kristus. Satu nubuat yang sedang terjadi kini adalah kehausan. "Aku haus!" Pada waktu Alkitab mengatakan, "Pada waktu Yesus mengetahui bahwa segala hal ini sudah terjadi, berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: `Aku haus!`"

Sumber: 

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku :7 Perkataan Salib
Judul bab :Aku Haus!
Penulis :Dr. Stephen Tong
Penerbit :Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta 1995
Halaman :94 -- 99

Komentar