Kategori Utama

Dear e-Reformed Netters,

Siapakah yang disebut dengan "anak Allah"? Dalam Alkitab istilah anak Allah menunjuk pada Yesus Kristus, Putra Allah (Anak Allah); para malaikat (Ayub 38:7); dan orang-orang percaya (Yohanes 1:12). Orang percaya adalah orang yang secara legal diangkat Allah untuk menjadi anak-Nya. Siapa pun boleh dan bisa menyebut dirinya sebagai anak Allah yang hidup, tetapi Alkitab memberikan kejelasan siapa yang disebut sebagai anak Allah yang sejati.

Dalam Kisah Para Rasul 17:28 Paulus juga mengatakan kepada para penyembah berhala di Atena, "Kita ini dari keturunan Allah juga." Namun, ada pengertian yang lebih tinggi, dekat, dan erat, yang menyatakan bahwa hanya orang-orang yang lahir kembali yang benar-benar anak-anak Allah. Yohanes berkata, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah" (Yohanes 1:12). Ketika berbicara dengan jelas kepada orang percaya, dia berkata, "Saudara-saudara kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah." Tidak ada perbedaan di antara Paulus dengan Yohanes. Di satu sisi, ini berbicara tentang anak-anak Allah dalam pengertian luas sebagai manusia, sementara di sisi lainnya ini berbicara dalam pengertian terbatas sebagai anak angkat.

Melalui artikel dalam edisi ini kita dapat belajar lebih dalam tentang anugerah yang telah Allah Bapa berikan kepada kita melalui Kristus, yang memampukan kita untuk menjadi anak-anak Allah yang sejati dan mewarisi berkat-berkat surgawi. Kiranya kita selalu ingat untuk terus mengucapkan syukur kepada Allah, dan bermegah atas kasih karunia-Nya. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.

AyubPemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu kembali pada awal tahun yang baru ini. Kami berharap dan berdoa kita semua terus memiliki kerinduan yang semakin besar untuk mengenal Allah kita di dalam anugerah khusus-Nya. Pada awal tahun, biasanya kita mendengar banyak resolusi yang orang tulis atau katakan karena mereka memiliki harapan agar tahun baru memberi semangat baru untuk hidup lebih baik. Banyak orang mengejar keberhasilan secara materi, tetapi kita berharap orang-orang percaya akan mengejar pertumbuhan rohani, sebab inilah yang seharusnya menjadi aspek hidup terpenting -- bagaimana bertumbuh dan semakin kaya dalam iman kepada Allah.

Pada masa sekarang, gereja banyak mendorong jemaat untuk berkembang dan maju dalam segala aspek hidup. Akan tetapi, pernahkah Saudara mendengar pendeta Saudara mendorong jemaatnya untuk menjadi miskin secara rohani? Mungkin istilah atau kondisi "miskin" akan dihindari oleh banyak orang, termasuk gereja. Padahal, kegagalan menjadi miskin secara rohani justru akan membawa kita pada kehancuran rohani. Bagaimana bisa demikian? Edisi e-Reformed pertama tahun ini akan menyajikan satu artikel yang menarik untuk kita simak, yaitu tentang kemiskinan rohani. Kiranya artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Selamat menjalani tahun baru dan selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub

Dear e-Reformed Netters,

Selamat menyambut hari Natal tahun 2015 bagi Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus. Dalam bulan ini, secara khusus, e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang terkait dengan kelahiran Sang Kristus.

Mari kita melihat dalam Injil Yohanes 1:1. Hal yang menarik dalam ayat ini adalah ayat ini dibuka dengan sebuah susunan kata yang sama seperti dalam kitab Kejadian 1:1: "Pada mulanya". Kitab Kejadian menyatakan bahwa "Pada mulanya Allah menciptakan alam semesta", dan menurut Yohanes, "Firman itu ada bersama-Nya." Lebih dari itu, dalam penciptaan, Allah memakai firman-Nya untuk mencipta segala sesuatu (Yohanes 1:3). Firman yang sama inilah yang juga menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Hal ini sangat penting untuk kita ketahui bersama dalam perenungan Natal tahun ini.

Mari kita menyambut Natal tahun ini dengan penuh sukacita. Kiranya kita boleh semakin mengerti bahwa Kristus Yesus adalah Sang Firman yang telah lahir dan mengambil wujud manusia untuk menggenapi kabar baik bagi semua bangsa di bumi. Mari beritakan kabar sukacita! Soli Deo Gloria.

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub

Dear e-Reformed Netters,

Yohanes Pembaptis dikenal sebagai nabi terakhir Perjanjian Lama. Ia memiliki tugas khusus menjadi seorang utusan/saksi. Yohanes Pembaptis dipersiapkan untuk datang mendahului Kristus dan mempersiapkan jalan bagi-Nya, ini adalah sebuah tugas dan kehormatan yang besar bagi seorang manusia yang secara langsung menyaksikan kedatangan Sang Juru Selamat dunia. Dalam edisi ini, kita akan bersama-sama belajar mengenal sosok Rasul Yohanes. Ia secara konsisten dilukiskan sebagai saksi (Yoh. 1:6-8,15,19,32,34; 3:27-36; 5:32,36; 10:40-42). Yohanes adalah saksi Kristus sejati yang membawa pesan Injil sebagai pusat kesaksiannya.

Artikel ini merupakan bagian dari suatu pembahasan topik teologi yang berjudul "Kepemimpinan Yohanes Pembaptis", tetapi kita hanya akan menyoroti beberapa bagian saja, khususnya yang terkait dengan kehidupan Yohanes sebagai saksi Kristus. Pertama, mengenai sumber otoritas Yohanes Pembaptis sebagai seorang utusan. Kedua, apa isi kesaksian yang ia beritakan sebagai seorang utusan. Ketiga, kepada siapa kesaksian Yohanes Pembaptis ditujukan. Kiranya kita boleh diberkati melalui artikel ini dan semakin mengenal kehidupan yang bersaksi. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed, Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Dear e-Reformed Netters,

Sehubungan dengan hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati tanggal 31 Oktober nanti, maka secara khusus edisi e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang sedikit mengulik kehidupan sosial seorang tokoh besar reformasi, yaitu John Calvin. Di balik pribadinya yang begitu serius dan mungkin terkesan sangat kaku dalam prinsip-prinsip pemikiran Kristen, ternyata John Calvin memiliki sisi lain yang unik yang banyak tidak diketahui orang. Karena kesan sifat kakunya itu, banyak orang berpikir bahwa John Calvin tidak memiliki banyak rekan dan sahabat. Ternyata, pandangan itu salah besar. Jika kita mengenal John Calvin lebih dekat, sebagaimana dialami oleh rekan-rekan dekat John Calvin, kita akan mendapati dia ternyata seorang pribadi yang hangat, setia, dan sangat perhatian. Melalui artikel yang kami sajikan di bawah ini, kita akan lebih mengenal John Calvin, tidak hanya dalam intelektualitas teologinya, tetapi juga dalam hal berelasi dengan orang lain. Kiranya kita juga bisa belajar dari pribadi John Calvin yang tidak hanya serius dalam mengerjakan panggilannya, tetapi juga menjadi pribadi yang hangat dan setia pada sahabat-sahabatnya. Selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Komentar