Kategori Utama

Himne Dalam Gereja Perjanjian Baru (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Setelah kita memahami bahwa gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan, pada artikel bagian dua ini kita akan melihat bersama sisi keindahan kitab Wahyu yang penuh dengan nyanyian kidung pujian, yang juga sarat dengan nuansa kidung kemenangan. Pada akhir artikel ini, terdapat kesimpulan dari artikel bagian satu dan dua. Mari kita simak lanjutan artikel ini. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 162/Maret 2015
Isi: 

Kitab Wahyu

Dalam Wahyu pun bertebaran kidung puji-pujian yang diunjukkan bagi Kristus Pemenang. Wahyu dapat dipahami sebagai Kitab Konflik, Kitab Kemenangan, tetapi lebih dari itu Kitab Perayaan. Kitab ini merayakan kemenangan Kristus, dengan puji-pujian yang berpusatkan Kristus sebagai klimaks karya Allah. Wahyu merekam banyak sekali nyanyian ibadah jemaat yang bernuansa kidung kemenangan (mis. 5:9-10; 11:17-18; 12:10-12; 15:3-4; 19:6-8). Perhatikan Wahyu 4:8,

"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah,
 Yang Mahakuasa, yang sudah ada
 dan yang ada
 dan yang akan datang."

Kata "kudus" yang diulang tiga kali menyatakan penegasan. Dalam ilmu tafsir, pengulangan kata menunjukkan penekanan, maka pengulangan kata "kudus" hingga tiga kali menyatakan penekanan yang lebih lagi. Para ahli menyatakan bahwa Sanctus merupakan teks liturgis tertua yang dimiliki oleh gereja. Tak dapat diragukan, teks ini diambil dari Yesaya 6:3. Kekudusan Tuhan menarik garis antara Allah sebagai The Wholly Other, "Ia yang Sama Sekali Lain," dari ciptaan, dan Allah akan bersegera dalam menjalankan penghakiman-Nya. Allah disebut sebagai "Yang Mahakuasa" (ho pantokrator -- gelar teknis favorit penulis Wahyu bagi Allah), berarti Ia yang memiliki kuasa dan pemerintahan atas segala ciptaan. Yang "sudah ada, ada, dan akan datang" (bdk. Wahyu 1:8) menegaskan kekekalan dan kedaulatan mutlak Allah -- bahwa Allah saja yang mengendalikan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Menurut Robert H. Mounce, ketiga penunjuk waktu ini merentangkan pemahaman mengenai penyataan nama "Yahweh" dalam Keluaran 3:14, "AKU ADALAH AKU."

Wahyu 5:9-10,

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya:
 "Engkau layak menerima gulungan kitab itu
 dan membuka meterai-meterainya;
 karena Engkau telah disembelih
 dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka
 bagi Allah dari tiap-tiap suku
 dan bahasa
 dan kaum
 dan bangsa.
 Dan Engkau telah membuat mereka
 menjadi suatu kerajaan,
 dan menjadi imam-imam bagi Allah kita,
 dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Ide "nyanyian baru" untuk merayakan kedaulatan dan betapa layaknya Allah sering muncul dalam Mazmur, di mana frasa itu mengungkapkan ibadah baru yang diilhami oleh kemurahan atau rahmat Allah. Dalam Yesaya 42:10, "nyanyian baru" berhubungan dengan eskatologi dan penyataan "hamba TUHAN" dan "sesuatu yang baru". Dalam Wahyu 14:3, "nyanyian baru" dihubungkan dengan kehadiran kerajaan akhir, dan di sini nyanyian yang baru merayakan fondasi kerajaan tersebut telah diletakkan, yaitu pengurbanan Sang Anak Domba Allah. Penggunaan kainos, "baru" di sini, dan bukan neos, "baru" -- kata terakhir tidak dipakai dalam Wahyu -- menegaskan sifat kualitatifnya, bukan perihal baru secara temporal, jenis atau gaya baru yang tidak kuno. Sifat kualitatif juga dipakai untuk "Yerusalem baru" serta "langit baru dan bumi baru"; sehingga nyanyian baru tersebut merupakan berita antisipatif akan zaman yang baru, yang akan segera datang itu, pemerintahan Kristus di dalam Kerajaan-Nya yang sempurna. Komposisi nyanyian ini adalah: (1) pernyataan betapa layaknya Sang Anak Domba, 5:9a; (2) karya keselamatan Sang Anak Domba, 5:9b; dan (3) efek bagi para pengikut Sang Anak Domba, 5:10.

Melihat keindahan kitab Wahyu yang penuh kidung pujian, maka tak berlebihan bila John Stott menyebut kitab ini sebagai sebuah sursum corda, "Angkatlah hatimu!" -- suatu seruan agar gereja bersorak-sorai oleh karena mahadaya karya Allah di dalam dan melalui Sang Mesias.

Kesimpulan

Pertama, isi berita nyanyian jemaat di PB merupakan gema crescendo dari nyanyian PL. Pusat pemberitaan nyanyian umat Allah adalah karya Allah yang mahadahsyat. Gereja memahami jati dirinya sebagai pewaris perjanjian Allah, yang sama dengan para leluhur iman di PL, dan karena itu, apa yang dinyatakan PB harus dilihat dalam kacamata teologi perjanjian. PB tidak akan pernah ada tanpa PL. PB juga tak dapat berdiri independen tanpa PL. Karena itu, warta yang terkandung dalam nyanyian-nyanyian jemaat di PB, sesungguhnya merupakan karya Allah yang sudah dinyatakan dalam PL, yang kini mencapai klimaksnya dalam Mesias Yesus dan Roh Kudus yang dicurahkan oleh Bapa serta Sang Mesias. Perhatikan Kolose 1:15-20,

15. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,
 yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
16. karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,
 yang ada di sorga dan yang ada di bumi,
 yang kelihatan dan yang tidak kelihatan,
 baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa;
 segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
17. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu,
 dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
18. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.
 Ialah yang sulung,
 yang pertama bangkit dari antara orang mati,
 sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
19. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
20. dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya,
 baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga,
 sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

Kedua, nyanyian jemaat merupakan suatu dialog, semacam percakapan; subjek dan objek pembicaraan dalam nyanyian jemaat tidak selalu sama. Suatu kali, Allah sebagai subjek berbicara kepada manusia. Di kali lain, manusia kepada Allah. Lain kali lagi, manusia kepada manusia tentang Allah. Dan, pada kesempatan lain, manusia berbicara kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, nyanyian jemaat tidak dibuat dalam bentuk-bentuk esoteris-ekstatis--bahasa-bahasa rahasia yang sulit dipahami, tetapi memakai bahasa yang menjadi alat komunikasi jemaat.

Ketiga, nyanyian jemaat memiliki pola atau patron yang khas. Dalam puisi Ibrani dikenal adanya sajak, paralelisme, dan majas. Puisi disajikan dalam baris baru, teratur dan terikat (tidak bebas), sangat memprioritaskan keselarasan bunyi bahasa, baik berupa kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan. Ma Hopper menegaskan mengenai himne di PB, "These texts are set apart by the formal poetic structure and their ardor of enthusiasm". Nyanyian jemaat, dengan demikian, merupakan karya susastra bermutu tinggi dan dikerjakan dengan sangat serius serta melibatkan aspek intelektual. Inilah bukti bahwa Allah berkehendak agar umat mengasihi-Nya dengan segenap keberadaan mereka (lih. Ulangan 6:5; bdk. Markus 12:30 dan ayat-ayat paralelnya), dan adanya aturan untuk beribadah bagi umat Allah (Mazmur 122:4) sehingga segala sesuatu berlangsung dengan tertib, sopan, dan teratur (1 Korintus 14:33, 40).

Keempat, terdapat ruang yang cukup luas untuk berkreasi. Gubahan-gubahan kidung baru bertebaran di PB. Contohnya, Carmen Christi, "Kidung Kristus" dalam Filipi 2:6-11,

6. [Kristus] yang walaupun dalam rupa Allah, 
 tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
 sebagai milik yang harus dipertahankan,
7. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
 dan mengambil rupa seorang hamba,
 dan menjadi sama dengan manusia.
8. Dan dalam keadaan sebagai manusia,
 Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
 bahkan sampai mati di kayu salib.
9. Itulah sebabnya Allah
 sangat meninggikan Dia
 dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10. supaya dalam nama Yesus
 bertekuk lutut
 segala yang ada di langit
 dan yang ada di atas bumi
 dan yang ada di bawah bumi,
11. dan segala lidah mengaku:
 "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Ada semacam deviasi dari kaidah standar puisi Ibrani dalam kidung di atas: tidak ada paralelisme antarbaris, dalam aturan syair, panjangnya serta suku-suku kata yang diberi tekanan. Dapat kita simpulkan, meski Allah menghendaki adanya ketertiban dengan adanya aturan dan patron yang jelas, Allah juga memberikan kemerdekaan dalam ibadah. Patron dan kemerdekaan adalah karakteristik ibadah Kristen yang dipertahankan dalam gereja-gereja Reformasi. Demikian pula seharusnya dalam puji-pujian jemaat.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Jurnal "Veritas" Volume 8 Nomor 2 (Oktober 2007)
Penulis artikel: Nindyo Sasongko
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 207 -- 215

Himne Dalam Gereja Perjanjian Baru (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pujian kepada Allah adalah bagian dari kehidupan Kristen sejati. Hidup Kristen adalah hidup yang memuji Allah sampai selama-lamanya. Kali ini, artikel e-Reformed diambil dari Veritas, Journal Teologi dan Pelayanan. Artikel ini akan membawa kita untuk mengetahui tradisi pujian yang berkembang pada gereja Perjanjian Baru, yang hari ini kita kenal sebagai himne. Gereja dalam Perjanjian Baru sebenarnya mewarisi tradisi memuji Allah dari Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan dengan karakter dan ciri khas yang sama, yaitu lantunan nada dipakai dalam pembacaan kitab, doa-doa, dan bermazmur.

Namun, dalam perkembangannya, Rasul Paulus menyebutkan dalam Efesus 5:19 bahwa ada tiga jenis nyanyian umat pada masa itu: mazmur (psalmos), himne (hymnos), dan nyanyian rohani (ode) yang berkembang dalam gereja Perjanjian Baru. Tentu hal ini membuat kita semakin penasaran karena gereja perdana tampaknya memang memakai kitab kidung Mazmur, tetapi tidak berhenti sampai di situ saja, gereja Perjanjian Baru memiliki kecakapan untuk mengadaptasi tema-tema teologi Perjanjian Lama dan menggubahnya menjadi komposisi nyanyian Kristen. Hingga hari ini, keberadaan himne tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan berharga gereja. Selamat membaca, kiranya artikel ini menjadi berkat bagi diri dan pelayanan Anda. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 161/Februari 2015
Isi: 

Marilah kita mengamati tempat himne dalam gereja Perjanjian Baru (PB). Bila kita amati, gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan.

Prioritas Mazmur

Dalam Alkitab Ibrani, kitab kidung Mazmur tidak hanya berisi lagu-lagu religius, tetapi juga lagu-lagu lain yang mempunyai latar belakang dalam lagu sekuler dan populer pada zaman itu, seperti lagu-lagu untuk bekerja, gita cinta, dan gita pernikahan. Kebanyakan adalah lagu pujian, ucapan syukur, doa, dan pertobatan. Juga dapat ditemukan nyanyian (Yunani ode) bersejarah yang berhubungan dengan peristiwa besar di negara Israel, misalnya Mazmur 30 "untuk penahbisan Bait Suci", dan Mazmur 137, yang memotret penderitaan orang-orang Yahudi di pembuangan. Mazmur sendiri merupakan bagian penting dalam ibadah di Bait Suci; kitab kidung Mazmur menjadi buku kidung liturgis standar ibadah umat Allah.

Himne dalam Gereja Perdana

Gereja sebenarnya mewarisi harta karun di dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) yang memuji Allah dengan: (1) menyanyikan lagu-lagu bernada sederhana dan beritme ajek, (2) nyanyian jemaat dengan pengulangan bercorak antifonal dan responsori (mazmur), (3) melodi-melodi yang diolah untuk satu kata (misalnya Alleluia). Dalam sinagoge Yahudi, gaya membaca dengan lantunan nada dipakai dalam pembacaan kitab, doa-doa, dan bermazmur.

Dari survei di atas, terlihat dengan jelas peran penting nyanyian jemaat dalam gereja PB. Mazmur tetap dipertahankan. Bahkan, Hughes Oliphant Old, teolog reformed sekaligus pakar liturgi Protestan, mengatakan bahwa Mazmur merupakan pusat puji-pujian gereja PB. Bentuk ini juga yang melahirkan "mazmur-mazmur PB", seperti Magnificat atau Nyanyian Maria (Luk. 1:46-55), Benedictus atau Nyanyian Zakharia (Luk. 1:68-79) serta Nunc Dimittis atau Nyanyian Simeon (Luk. 2:29-32).

Mazmur-mazmur PB ini ditulis dalam genre (jenis sastra) mazmur ucapan syukur (lih. Mzm. 100). Dari sudut pandang teologi perjanjian, ada indikasi yang kuat bahwa mazmur PB merupakan pemenuhan mazmur PL. Umat Ibrani mengucap syukur karena Allah memerintah umat dan alam semesta. Sekarang, Mesias Yesus memerintah segala sesuatu. Karena itu, bukanlah suatu konsep asing bila umat perjanjian baru menaikkan syukur atas pemerintahan Allah. Sementara itu, komposisi-komposisi baru kidung puji-pujian (himne) berkembang pula dengan pesatnya. Ada jenis nyanyian kuno lain lagi dalam PB, yakni lirik-lirik pendek yang didendangkan seperti "Amin" (Amen), "Alleluia", dan "Kudus, kudus, kudus" (Sanctus).

Surat-Surat Rasul Paulus

Rasul Paulus menyebut tiga jenis nyanyian umat: mazmur (psalmos), himne (hymnos), dan nyanyian rohani (ode). Ia menasihati jemaat dalam Efesus 5:19, "dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati." Demikian juga dalam Kolose 3:16, "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu."

Menyanyikan mazmur merupakan kebiasaan yang diwarisi dari ibadah di sinagoge, dan kita dapat berasumsi bahwa "mazmur" kristiani mengikuti gaya berkidung Yahudi. Istilah "himne" sangat mungkin mengacu pada teks-teks yang digubah dalam bentuk puisi, bisa jadi mengikuti model mazmur, hanya kini ditujukan untuk memuji Kristus. "Nyanyian" merujuk pada lagu yang lebih spontan, keluar dari hati yang meluap, bergaya kontemporer, dan dinyanyikan secara melismatic (dinyanyikan hanya dalam 1 nada) dan kemungkinan cikal bakal nyanyian Alleluia. Ada dugaan bahwa nyanyian ini mirip dengan yang ditemukan dalam kelompok mistik Yahudi, yakni doa yang dinyanyikan secara ekstatis, atau dendangan tanpa kata-kata. Namun, hal yang baru saja dikemukakan ini tidak dapat dijadikan norma bagi istilah "nyanyian".

"Mazmur" (psalmos) diturunkan dari kata psallo yang artinya "memetik atau memainkan (instrumen berdawai)", maka berarti "suatu nyanyian yang dilantunkan dengan alat musik berdawai". Penemuan Gulungan Laut Mati 1QH dan 11QPsa, dan kitab Mazmur Salomo memberikan titik terang kepada kita bahwa tradisi Yahudi pada abad I S.M., telah mempraktikkan nyanyian-nyanyian mazmur gaya baru untuk digunakan dalam ibadah di sinagoge, dan hal ini berlanjut hingga periode PB. Gereja perdana tampaknya memang memakai kitab kidung Mazmur, tetapi tidak berhenti sampai di situ saja. Gereja memiliki kecakapan untuk mengadaptasi tema-tema teologi PL dan menggubahnya menjadi komposisi nyanyian Kristen. Lebih kurang berpadanan dengan mazmur, yaitu "kidung pujian" (hymnos) merujuk pada kidung yang biasanya ditujukan bagi dewata atau para pahlawan dalam dunia Greko-Romawi. Di Kisah Para Rasul 16:25, Paulus dan Silas menyanyikan hymnos di dalam penjara. Di Ibrani 2:12, penulis mengutip Mazmur 22:23, di mana pemazmur memuji Allah di tengah-tengah jemaat. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa hymnos merupakan "nyanyian untuk memuji-muji Allah." J. B. Lightfoot pernah mengatakan bahwa mazmur adalah nyanyian yang digubah langsung dari Alkitab, sedangkan himne adalah karangan yang khas dari gereja Kristen; tetapi pandangan ini belumlah final. Dari penyelidikannya, James D. G. Dunn akhirnya menyimpulkan bahwa orang-orang Kristen perdana juga memakai himne-himne yang diambil dari luar Alkitab, dan hal ini tidak diperdebatkan hingga abad III M.

Kata ketiga, ode dipakai sebagai lagu penguburan jenazah dalam suatu tragedi, tetapi lebih sering mengacu pada nyanyian sukacita atau sekadar nyanyian saja. Di PB, ode dipakai pula dalam Wahyu 5:9; 14:3; 15:3. Kata sifat yang menyertainya, "rohani", merupakan suatu lagu yang dilantunkan oleh ilham langsung dari Roh Kudus (dalam Efesus 5:19, menyanyi berhubungan dengan kepenuhan Roh Kudus). Apakah ini merujuk pada glossolalia, ricauan ekstatis non-gramatik? (Red. kata-kata diluar bahasa yang bisa dimengerti, keluar secara emosional dan tidak bertata bahasa) Sangat sulit menyimpulkan demikian karena kata ini berada dalam konteks pengajaran dan kehidupan berjemaat yang saling menasihati; mungkinkah berkata-kata satu sama lain dalam bahasa-bahasa yang tidak dimengerti? Akan tetapi, yang jelas yakni adanya unsur spontanitas dari dalam hati. Menurut N. T. Wright, ketiga istilah yang dipakai di ayat ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya nyanyian-nyanyian Kristen, dan kiranya tidak dipersempit menjadi satu jenis saja atau dibatasi hanya untuk keperluan ibadah mingguan. "Pada akhirnya, kita mengerti bahwa gereja Paulin (berdasarkan tradisi Paulus) memandang penting puji-pujian kepada Allah."

Hal di atas semakin dapat kita pahami dengan jelas apabila memperhatikan parafrase Efesus 5:19,

"dengan berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur-mazmur, himne dan nyanyian-nyanyian yang diinspirasikan Roh, dengan menyanyikan nyanyian-nyanyian dan memainkan alat musik dengan segenap hatimu kepada Tuhan."

Tiap-tiap klausa memiliki fokus perhatian yang spesifik: Pertama, klausa pertama berdimensi horisontal dengan titik berat pada hubungan antarjemaat, sangat mungkin dalam ibadah formal tetapi bisa dalam kesempatan lain pula. Di Efesus, kata yang lebih umum dipakai, "berkata-kata", sedangkan di Kolose kata khusus "mengajar dan menegur". Dalam hal ini, rasul memaksudkan hal yang sama, yaitu adanya pengajaran, penguatan iman, dan penghiburan dengan cara beragam nyanyian yang diilhamkan Roh. Ragam nyanyian itu disebut "rohani" tidak semata-mata berciri spontan atau ekstatis (mengalami ekstase); fokus utamanya adalah Sumber inspirasi nyanyian itu -- Roh Kudus. Fakta bahwa seorang jemaat berkata-kata kepada yang lain mengungkapkan bahwa rasul menghendaki adanya komunikasi ibadah yang dapat dimengerti -- bukan meditasi, ucapan yang tidak dapat dimengerti atau glossolalia.

Kedua, klausa kedua berdimensi vertikal dengan titik berat pada menyanyi dengan seluruh keberadaan kepada Tuhan. "Hati" merujuk kepada totalitas kehidupan seorang Kristen. Maka, pujian seharusnya dipersembahkan dari dalam hati kepada Tuhan yang satu itu, yakni Yesus Kristus. Fokus nyanyian rohani adalah Yesus sebagai Tuhan, Sang Putra yang telah mewujudnyatakan pengharapan eskatologis.

Ketiga, keduanya bukan dua aktivitas yang berbeda. Berkata-kata dengan mazmur, kidung pujian, dan nyanyian mengingatkan jemaat yang lain kepada Allah yang berkarya di dalam Tuhan Yesus Kristus, tetapi sekaligus, pada momentum yang sama, jemaat menaikkan pujian kepada Tuhan Yesus "dengan seluruh keberadaannya". Jadi, dengan menyanyi dan memainkan musik, tiap-tiap jemaat diajar dan diteguhkan imannya dan pujian dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Satu nyanyian memiliki dua fungsi dan tujuan sekaligus!

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Jurnal "Veritas" Volume 8 Nomor 2 (Oktober 2007)
Penulis artikel: Nindyo Sasongko
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 207 -- 215

Allah Tidak Berubah

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat melangkah di tahun baru 2015. Suatu kesempatan yang indah untuk menikmati awal tahun baru ini bersama dengan Tuhan. Bulan ini menjadi titik awal dimulainya karya Allah dalam hidup kita sepanjang tahun 2015. Jika sejak awal Allah telah memelihara kita, untuk seterusnya kita pun boleh meyakini bahwa Ia akan memelihara, terutama karena sifat Allah yang terus sama dan akan tetap sama sepanjang masa. Allah yang telah menjelajah waktu, masa, dan sejarah, dari zaman Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, akan terus berkuasa atas segalanya selamanya.

Artikel ini adalah cuplikan dari buku "Christian are Forever", yang ditulis oleh John Owen. Dalam artikel pendek ini, penulis memaparkan satu hal penting, yaitu tentang sifat Allah yang tidak berubah dalam kekekalan natur-Nya, kebesaran kuasa-Nya, dan hikmat-Nya yang tidak terbatas. Sebagai umat yang dipilih Allah, sifat Allah ini merupakan anugerah terbesar di sepanjang sejarah manusia karena dengan sifat Allah ini, kita dapat menaruh iman bahwa Allah akan menjadi Allah bagi umat pilihan-Nya sepanjang masa. Kiranya artikel ini menolong kita untuk semakin beriman kepada Allah dalam menghadapi hari-hari ke depan di tahun 2015 ini.

Tak lupa, segenap Redaksi e-Reformed mengucapkan, "Selamat tahun baru 2015". Mari kita memulai tahun ini dengan kerinduan yang besar untuk giat bertumbuh di dalam Kristus dan berbagi hidup. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub < ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 160/Januari 2015
Isi: 
Allah menampakkan ketidakberubahan kasih-Nya kepada umat-Nya melalui lima hal yang tidak dapat diubah-Nya, yaitu:
  1. Natur-Nya
  2. Rancangan-Nya
  3. "Covenant"-Nya
  4. Janji-Nya
  5. Sumpah-Nya

Ketekunan orang-orang kudus berlandaskan pada masing-masing poin ini. Namun, pada artikel ini, kita hanya akan membahas poin pertama, yaitu sifat ketidakberubahan Allah.

Dalam Maleakhi 3:6, Tuhan berkata, "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, ...." Kemudian, sebagai konsekuensinya, Ia melanjutkannya dengan berkata, "... dan kamu, bani (keturunan) Yakub, tidak akan lenyap." Siapakah keturunan Yakub yang Allah maksudkan? Mereka tentu saja bukan seluruh keturunan Yakub secara fisik, melainkan mereka yang mempunyai iman seperti Yakub. Sebagaimana yang dikatakan Paulus, "... Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel" (Roma 9:6). Di antara mereka yang membanggakan diri sebagai keturunan Abraham, terdapat orang-orang yang terancam oleh penghakiman Allah, dan penghakiman itu akan segera terjadi oleh karena pola hidup mereka yang jahat (Maleakhi 3:5). Kristus diutus "... untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara ...." (Yesaya 49:6). Anak-anak Yakub sejati adalah mereka yang telah dilahirbarukan "... bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah" (Yohanes 1:13). Allah tidak akan pernah berubah pikiran tentang anugerah panggilan-Nya. Paulus berkata dalam Roma 11:29, "Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia [anugerah] dan panggilan-Nya."

Keturunan Yakub sejati adalah mereka yang memiliki iman seperti yang dimiliki Yakub. Mereka inilah Israel baru pilihan Allah. Allah telah memasuki suatu "covenant" yang baru dengan mereka, untuk menggantikan "covenant" sebelumnya yang telah diingkari oleh nenek moyang mereka (Yeremia 31:31-34; Yehezkiel 36:24-28; Ibrani 8:8-12). Mereka yang menikmati manfaat dari "covenant" yang baru ini sebenarnya tidak layak mendapatkannya. Bagaimanakah keadaan rohani orang-orang itu ketika Allah memanggil mereka? Mereka dalam keadaan mati, diliputi kegelapan, dipenuhi kebodohan, dan keterpisahan dari Allah. Tidak ada suatu pun alasan pada mereka yang menyebabkan Allah harus menunjukkan anugerah-Nya kepada mereka. Pengudusan dan pembenaran hanya berasal dari Allah semata.

Salah satu penghiburan yang terbesar dari Tuhan bagi umat-Nya adalah bahwa mereka selamanya tidak akan pernah terpisahkan dari-Nya. Dalam Yesaya 40:27-31, Israel menyatakan ketakutan bahwa mereka akan terpisah dari Allah. Bagaimanakah Allah menjawab mereka? Ia bertanya kepada mereka, "Apakah mereka benar-benar telah mengerti sifat sejati Allah mereka?" Ia mengingatkan mereka akan kekekalan natur-Nya, kebesaran kuasa-Nya, ketidakberubahan-Nya, dan hikmat-Nya yang tidak terbatas. Inilah yang Allah kerjakan untuk orang-orang yang meletakkan pengharapannya pada Tuhan. Ia akan mengaruniakan kekuatan baru; mereka bagaikan rajawali yang terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya; mereka akan berlari tanpa menjadi lesu, dan mereka akan berjalan tanpa lelah. Sebagai jawaban atas rasa takut yang dialami umat-Nya, Allah berkata, "Yakub, hamba-Ku, janganlah takut. Aku telah memilih engkau sejak kekekalan. Engkau merasa dirimu tandus, tidak berguna, kering, dan layu. Aku akan mengubah semuanya dengan memberikan Roh-Ku kepadamu. Kau akan mengerti bahwa engkau adalah milik-Ku dan Aku adalah Tuhan dan Rajamu, Penebusmu, sejak kekekalan." Sama sekali bukanlah suatu kesombongan jika kita percaya bahwa Allah bersungguh-sungguh dengan perkataan-Nya, bahwa Ia menjamin kita dengan kasih-Nya yang abadi bagi kita berdasarkan ketidakberubahan-Nya.

Kita harus membedakan antara pertolongan Allah bagi suatu bangsa, seperti bangsa Yahudi, dan tindakan-tindakan anugerah penyelamatan-Nya bagi masing-masing orang. Allah memperlakukan rakyat bangsa-Nya, bangsa Yahudi, dengan berkat dan hukuman lahiriah yang membedakan mereka dari bangsa lainnya. Ketaatan mereka sebagai sebuah bangsa kepada Allah memengaruhi perlakuan Allah terhadap mereka. Karena itu, pada suatu waktu, Ia meruntuhkan apa yang telah dibangun-Nya. Pada waktu lain, Ia mendirikan kembali apa yang telah diruntuhkan-Nya. Meskipun demikian, perubahan-perubahan yang dilakukan-Nya terhadap bangsa pilihan-Nya tersebut tetap memenuhi seluruh rancangan-Nya yang tidak berubah bagi bangsa-Nya.

Kita dapat meyakini hal tersebut karena natur Allah itu tidak berubah, Ia tidak akan pernah meninggalkan mereka yang telah diterima-Nya secara cuma-cuma dalam Kristus. Orang-orang yang telah diterima itu tidak pernah menjadi orang-orang murtad yang tidak bertobat.

Sumber: 

Diambil dan disesuaikan dari:

Judul asli buku: Christian Are Forever
Judul buku terjemahan : Jaminan Keselamatan Kristen
Judul bab : Allah Tidak Berubah
Penulis : John Owen
Penerjemah : Yvonne Potalangi
Penerbit : Momentum, Surabaya 2005
Halaman : 9 -- 11

Juru Selamat: Yesus Kristus

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Akhir tahun sering menjadi momen untuk melakukan berbagai kegiatan dalam rangka menyambut hari Natal. Namun, akan sangat salah sekali jika Natal hanya dimengerti sebagai hari besar umat Kristen yang dirayakan dengan semangat dan kemeriahan. Natal seharusnya dirayakan orang Kristen sebagai bagian dari rencana Allah yang agung bagi umat manusia. Ia merencanakan kedatangan Kristus dalam rupa manusia sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Di antara ratusan jutaan, bahkan miliaran manusia yang lahir, bagaimana manusia tahu bahwa satu dari mereka adalah Tuhan Yesus yang dijanjikan Allah? Allah memberi tanda bahwa Anak itu akan lahir dari seorang perawan. Bukankah hal ini merupakan suatu hal yang mustahil? Bagaimana hal ini dipahami oleh rasio kita? Bagaimana kita mengerti fakta bahwa Anak inilah yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya?

Artikel yang e-Reformed sajikan bulan Desember ini mengulas dua hal yang penting tentang kedatangan Kristus sebagai Manusia: Pertama, benih yang dijanjikan, kedaulatan Allah bekerja dalam proses biologis kelahiran Kristus melalui rahim Maria yang melampaui dalil genetika manusia. Kedua, kehadiran-Nya dalam sejarah, yang diutus menjadi Juru Selamat, sebagai Injil sejati dan Sang Allah imanen yang hadir dalam kehidupan manusia. Selamat menyimak.

Tak lupa, segenap Redaksi e-Reformed mengucapkan, "Selamat memperingati Kelahiran Yesus Kristus. Selamat Natal." Sampai berjumpa lagi pada tahun baru 2015. Soli Deo Gloria!

Redaksi Tamu e-Reformed,
Ayub
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 159/Desember 2014
Isi: 
  1. Benih yang Dijanjikan

    Kehadiran Yesus Kristus bukanlah kehadiran yang mendadak, yang tak terencana, atau bahkan kebetulan. Kehadiran Kristus merupakan suatu penggenapan nubuat yang telah Allah berikan kepada Adam dan Hawa.

    1. Benih Perempuan: Kelahiran-Nya

      Pada hari pertama Adam berdosa, ia diusir keluar. Akan tetapi, sebelum diusir, Tuhan menegaskan bahwa Juru Selamat akan datang. Ia akan datang melalui seorang perempuan. Mungkin kita bertanya, "Apa istimewanya? Bukankah setiap orang pasti dilahirkan oleh seorang perempuan?" Benar, tetapi setiap anak dikandung dan dilahirkan oleh seorang perempuan yang sudah menikah atau sudah bersetubuh dengan laki-laki. Saudara dan saya dilahirkan karena ayah dan ibu kita bersetubuh, menurut dalil genetika. Akan tetapi, Yesus tidak demikian. Yesus bukan hasil pernikahan seorang pria dan seorang wanita, bukan kehamilan hasil dari suatu persetubuhan. Yesus dinaungi oleh Roh Kudus sehingga seorang dara, seorang perawan, bisa mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.

      Jika Saudara sempat mempelajari ilmu biologi, Saudara akan mengetahui bahwa dalam sel telur wanita ada kandungan gen XX dan tidak mengandung unsur Y sama sekali, sementara di dalam sperma pria ada kandungan gen XY. Dari sini, kita melihat bahwa bagaimanapun juga, perempuan tidak mungkin melahirkan anak laki-laki dengan cara apa pun jika tidak mendapat benih dari laki-laki karena benih laki-laki yang mempunyai kandungan Y. Dalam Yesaya 7:14, Tuhan berkata, "Sesungguhnya, seorang perempuan muda [perawan] mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." Juga dalam Yesaya 9:5, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Jelas Allah telah menyatakan suatu mukjizat. Kalau orang mengatakan bahwa orang Reformed tidak memercayai mukjizat, saya tegaskan bahwa saya memercayai mukjizat yang paling besar, yaitu pengertian bagaimana pekerjaan Allah benar-benar tidak mungkin ditiru oleh siapa pun juga, atau dipalsukan oleh setan. Inilah mukjizat. Dalam pengertian yang mendalam, mukjizat berarti "suatu tanda bahwa Allah adalah Allah (the sign that God is God)", yaitu suatu tanda yang membuktikan bahwa Allah adalah Allah, karena hal-hal itu tidak mungkin ditiru oleh setan. Inilah mukjizat yang sesungguhnya. Allah mengatakan bahwa ada satu "tanda besar" yang akan diberikan kepada manusia, yaitu seorang anak dara akan melahirkan seorang anak laki-laki.

    2. Benih Perempuan: Karya-Nya

      Jika seorang perempuan melahirkan anak laki-laki, itu adalah hal yang biasa. Ibu saya seorang perempuan, melahirkan saya yang adalah seorang laki-laki, ibu Saudara adalah seorang perempuan, dan melahirkan Saudara yang juga seorang laki-laki. Akan tetapi, seorang anak dara, seorang yang tidak menikah dan tidak pernah bersetubuh dengan laki-laki, bisa melahirkan seorang anak laki-laki, itu adalah mukjizat. Ini hanya boleh terjadi satu kali di sepanjang sejarah umat manusia. Inilah tanda yang tidak bisa terulang kembali dan tidak seorang pun yang bisa berbuat hal yang sama. Inilah pengertian bahwa pekerjaan ini dari Tuhan Allah, bukan dari setan.

      Tuhan Allah mengirimkan Anak-Nya ke dalam dunia, Yesus Kristus, dilahirkan seperti seorang biasa yang harus dikandung dalam rahim ibu, tetapi ibu-Nya tidak menikah dan tidak bersetubuh. Mungkin ada orang-orang yang mengatakan bahwa hal itu sulit dan tidak bisa dipercaya karena hal itu tidak mungkin terjadi. Ada orang yang menganggap itu adalah mitos. Namun, sesungguhnya pemahaman dan pemikiran sedemikian adalah bodoh karena bagi Allah tidak ada hal yang mustahil! Itu hanya karena ada orang yang tidak percaya. Karena itu, saya akan memberikan kepada Saudara pengertian agar pemikiran kita menjadi lebih tajam. Ketika Adam diciptakan, Adam tidak memiliki ayah dan ibu. Jadi, Adam ada tanpa ayah dan tanpa ibu. Inilah cara kerja Allah yang pertama. Tanpa pria, tanpa wanita, Allah menciptakan Adam. Ketika Hawa diciptakan, ia dicipta dari tulang rusuk Adam, setelah Tuhan membuat Adam tertidur. Jadi, Hawa datang dari tubuh Adam sehingga Adam berkata, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kejadian 2:23). Maka, modus kedua, Hawa dicipta dari pria, tanpa wanita. Tuhan mencipta dengan memakai pria, tanpa wanita, maka terciptalah Hawa. Ini adalah cara penciptaan manusia yang kedua. Ketika Allah menjadikan Saudara dan saya, Tuhan memakai pria dan memakai wanita. Inilah cara yang ketiga. Karena itu, tinggal satu cara lagi yang tersisa, yaitu tanpa pria, dengan memakai wanita. Dengan cara yang keempat inilah, Tuhan Yesus lahir. Jikalau Allah adalah Allah yang hidup, mengapa kita berhak membatasi Allah hanya dengan memakai tiga cara dan tidak memperbolehkan Allah memakai cara yang keempat? Itu sebabnya, orang Kristen percaya bahwa Allah sanggup memakai anak dara Maria untuk melahirkan Yesus Kristus. Itu sesuatu yang sangat logis dan masuk akal. Jika selama ini Saudara sempat diragukan oleh orang atau pemikiran lain, biarlah saat ini iman Saudara kembali diteguhkan. Jika selama ini Saudara meragukan Alkitab, biarlah saat ini Saudara boleh meneguhkan iman Saudara. Allah tidak boleh dibatasi oleh pemikiran dan kehendak manusia. Allah yang sanggup menciptakan manusia tanpa lelaki dan tanpa perempuan, juga adalah Allah yang sanggup menciptakan manusia dengan memakai laki-laki tanpa perempuan.

      Cara 1: Tanpa laki-laki, tanpa perempuan - Adam
      Cara 2: Dengan laki-laki, tanpa perempuan - Hawa
      Cara 3: Dengan laki-laki, dengan perempuan - kita semua
      Cara 4: Tanpa laki-laki, dengan perempuan - Yesus Kristus

      Allah yang menciptakan Adam, juga adalah Allah yang menciptakan Hawa. Dan, Allah yang menjadikan kita semua dengan memakai laki-laki dan perempuan, juga adalah Allah yang bisa memakai perempuan tanpa laki-laki untuk melahirkan Yesus Kristus. Jika Adam dan Hawa dicipta, Yesus bukan dicipta, melainkan dilahirkan. Melalui pekerjaan dan naungan Roh Kudus yang memenuhi Maria, maka Yesus boleh dikandung dan dilahirkan olehnya. Yesus dilahirkan sebagai laki-laki, di mana Dia tidak bergantung pada wanita yang di dalam kromosomnya tidak mengandung faktor XY. Inilah tanda pekerjaan besar, suatu mukjizat besar dari Tuhan Allah yang sedemikian mengasihi isi dunia. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16) Biarlah kita sungguh-sungguh mengerti dengan sedalam-dalamnya keajaiban Tuhan. Kita bisa mengakui betapa dalamnya, betapa besarnya, betapa ajaibnya, betapa tingginya dan mulianya Allah yang hidup. Dengan perasaan yang gentar, kita boleh kembali kepada-Nya dan berkata, "Tuhan, berikanlah iman yang sejati kepadaku sehingga aku bisa sungguh-sungguh percaya kepada-Mu. Aku boleh berkait dalam iman dengan takhta-Mu yang ada di dalam surga."

      Tuhan telah memberikan nubuat-nubuat di halaman-halaman awal Kitab Suci; begitu Adam jatuh ke dalam dosa, Tuhan langsung menjanjikan Juru Selamat. Inilah cara Tuhan, inilah keajaiban Tuhan, dan inilah kuasa Tuhan. Selanjutnya, Tuhan melalui nabi-nabi-Nya menubuatkan bahwa Yesus tidak dilahirkan di sembarang kota, di Yerusalem, di Kapernaum, atau di kota-kota besar lainnya, tetapi Mesias atau Juru Selamat itu akan dilahirkan di kota Daud, yaitu Betlehem. Sekitar enam ratus tahun sebelum Yesus lahir, hal ini sudah dinubuatkan oleh Nabi Mikha: "Hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan" (Mikha 5:1-2). Yesus yang permulaannya di dalam kekekalan, sejak dunia belum diciptakan, inilah yang dibicarakan di dalam ayat ini.

      Pada waktu malaikat bertemu dengan Yusuf, malaikat itu berkata, "Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Matius 1:20b). Maria bukan perempuan nakal, anak yang dikandungnya bukan anak haram, tetapi anak yang dikandung dari Roh Kudus. Roh Kudus menaungi dia sehingga kini ia mengandung, dan bayi yang dikandungnya itu disebut Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. Juga firman Tuhan mengatakan di dalam Galatia 4:4, bahwa "... setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat." Puji Tuhan! Tuhan menyediakan seorang Juru Selamat. Yesus Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat.

  2. Kehadiran dalam Sejarah
    1. Diutus Sebagai Juru Selamat

      Sekarang, kita akan melihat keunikan khusus Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat. Ia dikirim tidak sekadar sebagai nabi. Orang muslim mengerti Yesus sebagai orang suci, memandangnya sebagai salah seorang nabi di antara enam nabi yang terbesar. Akan tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Yesus datang bukan hanya sebagai nabi, atau hanya sebagai imam, atau hanya sebagai raja, tetapi Yesus Kristus dikirim menjadi Juru Selamat satu-satunya bagi umat manusia. Yesus Kristus diutus menjadi Juru Selamat. Ada banyak nabi, ada banyak rasul, dan juga ada banyak pendiri agama, tetapi Juru Selamat hanya satu. Apa artinya Juru Selamat? Juru Selamat bukan sekadar guru pengajar kebajikan, juga bukan hanya sekadar pemberi teladan moral, atau memberikan pengajaran-pengajaran etika. Juru Selamat adalah Dia yang menyelamatkan Saudara dan saya, yang mengampuni dosa Saudara dan saya, dan yang memberikan hidup yang baru, hidup yang kekal bagi Saudara dan saya. Juru Selamat adalah Dia yang melepaskan Saudara dari hukuman akibat dosa-dosa Saudara. Juru Selamat adalah Dia yang melepaskan Saudara dari kutukan Taurat, melepaskan Saudara dari kuasa dosa, dan melepaskan Saudara dari kuasa setan! Itulah Juru Selamat yang sejati. Siapakah Dia? Yesus Kristus.

      Siapakah yang menghibur hati kita? Mungkin, kita bisa berpikir ada banyak orang yang bisa menghibur kita. Suami atau istri bisa menghibur, anak bisa menghibur, pendeta bisa menghibur, teman dan sahabat bisa menghibur.

      Siapakah yang sanggup menghapus air mata kita? Juga banyak orang bisa menghapus air mata kita. Mungkin istri atau suami bisa menghapus air mata kita, ibu kita bisa menghapus air mata kita, sahabat kita juga bisa menghapus air mata kita, kekasih kita bisa menghapus air mata kita.

      Akan tetapi, siapakah yang bisa mengampuni dan menanggung dosa kita? Hanya Yesus Kristus, tidak ada siapa pun lain yang bisa melakukannya. Bukan para nabi, bukan para rasul, bukan orang-orang saleh, bukan pemimpin-pemimpin agama, bahkan juga bukan para pendiri agama, karena mereka tidak mungkin menanggung dosa kita. Para pendiri agama paling banyak bisa mengajar dan menasihati bagaimana kita bisa berbuat kebajikan agar tidak berdosa dan tidak dihukum oleh Tuhan. Pendiri agama sendiri mengatakan kepada orang-orang yang ada di dekatnya, bahwa ia tidak mungkin bisa menyelamatkan mereka. Mereka masing-masing harus berbuat baik sendiri agar bisa diterima oleh Tuhan Allah. Bahkan, ia berharap murid-muridnya mendoakan dia agar dia pun bisa diperkenan di sisi Tuhan Allah.

      Akan tetapi, Alkitab mengatakan kepada kita bahwa ada keselamatan! Ada Juru Selamat! Ada rencana Tuhan Allah agar manusia berdosa bisa diampuni dosanya sehingga manusia masih beroleh pengharapan untuk bisa diselamatkan, dan nantinya bisa bergabung kembali dengan Allah di surga dan memperoleh hidup yang kekal. Inilah ajaran Kristen. Inilah ajaran Alkitab.

    2. Injil yang Sejati

      Istilah "Injil" dari bahasa Yunani, euanggelion, yang berarti "kabar atau berita baik". Berita baik yang paling baik dan paling hakiki hanya satu, yaitu bagaimana orang berdosa bisa diselamatkan melalui penebusan Yesus Kristus. Inilah Injil yang sejati. Injil adalah berita bagaimana Yesus sudah datang bagi manusia, Yesus sudah mati bagi Saudara, Yesus sudah bangkit mengalahkan kuasa kematian dan kuasa dosa, Yesus sudah menggenapi keselamatan yang direncanakan Tuhan Allah, dan menjadi Juru Selamat bagi manusia. Setiap kali Injil diberitakan di seluruh dunia, biarlah orang berdosa berkata, "Oh Tuhan, sekarang mataku telah dicelikkan, pikiranku sudah terbuka, dan hatiku sudah dibongkar. Aku tahu bahwa aku adalah orang berdosa, dan aku tahu Engkau adalah Juru Selamat. Aku datang kepada-Mu dan aku mau kembali kepada-Mu. Hari ini juga, Tuhan, terimalah aku, ampunilah dosa-dosaku. Tuhan, dengarlah doaku." Biarlah kita boleh berespons kepada Yesus Kristus yang adalah satu-satunya Juru Selamat. "Selain di dalam Dia ... di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita bisa diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Tidak siapa pun selain Yesus yang bisa menebus dosa, yang bisa memberikan pengampunan dosa, dan yang bisa menyelamatkan manusia.

    3. Allah Beserta Kita

      Juru Selamat bukanlah nabi karena nabi diutus Tuhan untuk memberitakan Firman, membawa nubuat Allah; juga bukan rasul karena rasul dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia; juga bukan para pendiri agama karena sekalipun mereka adalah orang-orang yang agung, yang sedemikian baik dan patut dihormati, tetapi mereka sendiri adalah orang berdosa yang membutuhkan keselamatan dari Juru Selamat. Hanya Yesus satu-satunya Juru Selamat karena Dia adalah Anak Allah yang dikirim ke dunia, menjelma menjadi manusia, sehingga Ia bisa menebus Saudara dan saya yang berdosa, dan datang untuk menyertai kita.

      Imanuel, berarti Allah menyertai kita. Kristus dikirim untuk membuktikan bahwa Allah tetap setia. Ia yang merencanakan keselamatan, Ia juga yang mengirimkan Kristus untuk menyertai kita. Imanuel, berarti Tuhan Allah masih mau menyertai kita selalu dan senantiasa. Maukah Saudara tidak berjalan seorang diri lagi? Maukah Saudara membuka hati dan berkata, "Di sini saya, Tuhan. Saya adalah orang berdosa. Saya seharusnya binasa. Akan tetapi, Engkau memberikan pengharapan kepada saya untuk saya boleh mendapatkan pengampunan-Mu. Tuhan, masuklah ke dalam hati saya, sertai saya saat ini juga, sampai selama-lamanya. Amin."

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:
Judul buku: Yesus Kristus Juru Selamat Dunia
Judul bab : Juru Selamat: Yesus Kristus: Benih yang Dijanjikan
Penulis : Stephen Tong
Penerbit : Penerbit Momentum, Surabaya 2004
Halaman : 74 -- 85

Penyebab Utama Stagnasi Total dalam Pelayanan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Stagnasi dalam pelayanan kerap dialami oleh hamba-hamba Tuhan dalam kehidupan pelayanan mereka. Tak jarang, stagnasi atau kemacetan hubungan dengan rekan sepelayanan ini membuahkan perpecahan dalam gereja atau tubuh Kristus. Paulus dan Barnabas pun mengalami stagnasi dalam pelayanan mereka sehingga menimbulkan perpisahan di antara keduanya. Walau keduanya adalah nama besar dalam gereja mula-mula, mereka toh tetap dapat tersandung akibat perbedaan pendapat. Untuk mengulas lebih jauh mengenai stagnasi dalam pelayanan ini, artikel e-Reformed kali ini akan membahas mengenai stagnasi total dalam pelayanan dari contoh kasus Paulus dan Barnabas yang terdapat dalam Kisah Para Rasul, serta cara-cara untuk mengatasinya. Selamat membaca, kiranya ini menjadi berkat bagi pelayanan Anda.

Staf Redaksi e-Reformed, N. Risanti < http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 158/November 2014
Isi: 

Kisah Para Rasul mencoba mengetengahkan dan menerjemahkan stagnasi dalam pelayanan menurut konsep dan pemikiran Lukas. Kisah Para Rasul 9:11-13 mengisahkan indah persahabatan Barnabas dan Paulus. Barnabas adalah seorang yang penuh Roh Kudus dan mempunyai karunia khusus "mengajar", yang telah membina dan memberikan kesempatan kepada Paulus untuk menjadi seorang pahlawan besar rohani untuk segala zaman. Barnabas adalah seorang berhati mulia, juga seorang yang berpikir positif yang telah menjadikan Paulus seorang rasul besar yang dipakai oleh Tuhan Yesus pada abad permulaan. Ia merekomendasikan Paulus agar diterima oleh jemaat Yerusalem, dan ia juga menghargai karunia dan panggilan Paulus. Ketika gereja Antiokhia berkembang dan membutuhkan seorang hamba Tuhan yang melayani, ia memilih Paulus karena mengerti dan menghargai panggilan Paulus. Untuk kepentingan itu, Barnabas tak segan-segan pergi ke Tarsus dan membawa Paulus ke Antiokhia. Ia berusaha seobjektif mungkin dan ingin menerapkan sistem "the right man in the right place" di bawah terang pimpinan Roh Kudus. Dalam perjalanan misi mereka yang pertama, Barnabas dan Paulus telah mengukir keberhasilan besar -- mendirikan banyak jemaat dan memilih para pemimpin Kristen melalui bimbingan Roh Kudus, dan hal ini merupakan awal sejarah perkembangan kekristenan di dunia kafir. Akan tetapi, siapakah yang mampu menghindarkan kegagalan dari tengah-tengah keberhasilan? Hal ini dapat dilihat dari tim Paulus dan Barnabas. Betapa pun hebatnya seseorang, pasti pernah mengalami kegagalan, satu atau dua kali. Barnabas dan Paulus telah mendirikan banyak gereja dan melahirkan banyak pemimpin Kristen pada perjalanan misi mereka yang pertama. Jemaat pengutusnya, Antiokhia, sangat bersukacita mendengar laporan mereka yang telah dipilih oleh Roh Kudus, dan yang mereka ulas melalui doa yang diadakan oleh jemaat. Mereka telah pulang kembali kepada jemaat dengan penuh tanggung jawab.

Tidak dapat disangkal dan ditutup-tutupi oleh siapa pun, bahwa mereka telah mengalami suatu kegagalan yang akhirnya memisahkan persahabatan mereka. Hal ini terkuak pada permulaan perjalanan misi mereka yang kedua. Pertengkaran Paulus dan Barnabas memang tidak sedap didengar karena mereka berdua adalah tokoh-tokoh Kristen yang menjadi contoh bagi orang Kristen lainnya. Namun, kejadian tersebut harus dilihat dari sudut sejarah keselamatan dunia. Pada perjalanan misi mereka yang kedua, Barnabas mengusulkan Yohanes Markus yang pernah mengikuti mereka di Salamis untuk menjadi tim mereka kembali. Barnabas menyadari bahwa Yohanes Markus pernah meninggalkan mereka di Perga dan kembali ke Yerusalem. Yang menjadi alasan memang tidak disebutkan secara jelas, tetapi dapat diperkirakan bahwa yang menjadi masalah utama adalah Markus telah meninggalkan tim mereka karena masih terlalu muda dan belum siap mental menjadi seorang misionaris di dunia orang kafir. Barnabas ingin memberikan kesempatan kedua kepada Markus. Hal ini justru menjadi masalah besar yang menimbulkan bukan hanya stagnasi dalam berkomunikasi, melainkan juga pertengkaran yang seru dan tajam, dan berakhir dengan perpisahan yang menyedihkan. Peristiwa sedih ini kemungkinan besar disebabkan karena kurang bersandarnya mereka kepada pimpinan Tuhan.

Dalam hal ini, Paulus dilihat sebagai seorang yang menekankan dan menerapkan disiplin keras dalam mencapai suatu tujuan akhir dari perjalanan misinya, sedangkan Barnabas adalah seorang tokoh pendidik yang sabar, yang siap memberikan kesempatan kedua bagi orang lain seperti Yohanes Markus yang pernah melakukan kesalahan. Selanjutnya, Kisah Para Rasul mengisahkan keberhasilan Paulus menjelajah provinsi Galatia, Asia, Makedonia, Akhaya, dan akhirnya sebagai seorang tawanan, ia sampai di pusat dunia: kota Roma. Injil telah diberitakan dari Yerusalem sampai ke kota Roma.

Sedangkan Barnabas bersama Yohanes Markus berlayar menuju Siprus dan kehidupan mereka seterusnya tidak diceritakan lagi oleh Lukas dalam buku sejarahnya. Namun, karena kesabaran, Barnabas telah menjadikan Markus sebagai penulis Injil Sinoptik Pertama, yang kemungkinan besar menjadi buku acuan Matius dan Lukas dalam menulis Injil. Dapat dipastikan, meskipun tidak diungkapkan oleh Lukas, bahwa Barnabas telah memperkenalkan Yohanes kepada murid-murid Yesus lainnya. Dari merekalah, Yohanes Markus mendapatkan sumber sejarah dari para saksi mata tentang hidup dan kegiatan Yesus, yang kemudian ditulis di dalam Injilnya. Nama Barnabas memang tidak begitu populer dalam Kisah Para Rasul, tetapi harus diakui dialah orang yang telah menjadikan Paulus dan Markus hamba-hamba Tuhan besar yang mengawali penulisan sejarah keselamatan dalam Perjanjian Baru. Meskipun Paulus telah menolak Markus dengan keras, tetapi ketika menulis surat kepada Filemon, ia menyampaikan salam dari Markus yang disebut sebagai teman sekerja (Filipi 2:24,25), dan juga dalam suratnya kepada jemaat Kolose, ia menyampaikan salam Markus yang adalah kemenakan Barnabas (Kolose 4:10). Paulus adalah orang yang sangat objektif, siap berekonsiliasi dan melupakan segala peristiwa, dan membangun kembali persahabatan dan kerja sama baru, seperti yang dilakukannya kepada Yohanes Markus. Sampai akhir hidupnya, ia tetap menghormati Barnabas sebagai orang yang pernah berjasa dalam hidup dan pelayanannya. Walaupun tidak ada uraian yang jelas tentang jalannya rekonsiliasi antara Paulus dan Barnabas beserta Yohanes Markus, kalau diteliti dari surat-surat Paulus secara keseluruhan, pasti ia adalah seorang yang terbuka untuk minta maaf kepada orang lain atau menerima maaf dari orang lain, karena itulah yang menjadi inti dalam pengajarannya. Paulus, Barnabas, dan Markus adalah hamba-hamba Tuhan yang berjiwa besar dan berpikir positif, berani berbeda pendapat tetapi tetap memelihara kualitas persahabatan mereka, dan hal itulah yang mendorong untuk rekonsiliasi dan bekerja sama kembali seperti semula. Kalau Paulus telah menerima Yohanes Markus, ia pasti juga telah menerima Barnabas. Penyebab utama dari stagnasi adalah ketertutupan dan sikap arogansi seseorang serta penyakit "vested interest".

CARA-CARA MENGATASI STAGNASI DALAM PELAYANAN

Banyak orang berkomentar bahwa sebenarnya tidak perlu terjadi stagnasi apabila para pemimpin Kristen itu dewasa, berjiwa besar, berpikir positif, dan saling menghargai seorang terhadap yang lain. Mungkin ungkapan ini dapat dikatakan sebagai suatu yang terlalu ekstrem, tetapi kalau mau mengerti maksud yang sesungguhnya, ungkapan itu mengandung kebenaran yang sejati. Kalau dilihat dari sederet daftar panjang masalah yang dianggap sangat potensial menyebabkan stagnasi, baik di dalam gereja maupun di dalam organisasi sekuler, dapat dikatakan bahwa yang menjadi penyebab utama dari stagnasi adalah manusianya, dan bukan sistemnya. Sudah jelas dari awal bahwa modernisasi, arus globalisasi, penerapan teknologi canggih, dan profesionalisme tidak dapat dijadikan jaminan mutlak untuk tidak terjadinya "deadlock" atau "stagnasi total" atau "kemacetan total" dalam suatu organisasi. Segala ilmu pengetahuan hanyalah merupakan alat bagi manusia. Manusialah yang akan menentukan macet atau tidaknya suatu organisasi. Dipandang dari sudut perkembangan sejarah manusia, bahwa perbedaan pendapat justru akan memperkaya kepustakaan hidup manusia. Dari analisis secara praksis, stagnasi yang ditimbulkan oleh perbedaan pendapat ternyata jumlahnya sangat kecil sekali. Perbedaan pendapat dapat diperkecil melalui dialog, interaksi, komunikasi, dan apresiasi. Perbedaan pendapat justru menjadi sarana untuk mematangkan suatu ide, dan apabila dikembangkan melalui dialog akan menghasilkan suatu program yang dapat dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Yang sering kali menimbulkan kemacetan total dalam kehidupan bergereja atau pelayanan pada umumnya adalah masalah-masalah teologis yang berbau dogmatis, yang diwarnai dengan jiwa advonturir dan didorong oleh suatu gerakan untuk pemenuhan kepentingan pribadi serta ambisi pribadi. Bila diadakan analisis secara kritis terhadap stagnasi-stagnasi yang sedang terjadi sekarang ini dan dibandingkan dengan konsep Petrus dalam 2 Petrus 2:5-8, dapat disimpulkan bahwa kemacetan-kemacetan tersebut justru disebabkan oleh dangkalnya iman seseorang kepada Yesus Kristus, kurangnya kedisiplinan dan ketulusan yang dilandaskan di atas dasar kasih, yang telah menyebabkan menurunnya jiwa berpikir positif, sehingga mengakibatkan mengaburnya nilai suatu kebajikan. Dampak luas yang dirasakan oleh masyarakat adalah jalan buntu dalam pengambilan keputusan, yang disebabkan oleh macetnya komunikasi, dialog, dan interaksi dari pihak-pihak yang terkait. Untuk mengatasi masalah krusial ini diperlukan pemimpin-pemimpin yang dewasa, berjiwa besar, berlapang dada, berpikir positif, tidak berjiwa advonturir, bersedia mendengar, mengakui kelebihan dan kebenaran orang lain, serta mendahulukan kepentingan organisasi daripada kepentingan pribadi. Gereja dan lembaga kristiani seharusnya meletakkan prinsip-prinsip hidup bergereja dan bermasyarakat di bawah terang firman Tuhan dan menurut pimpinan Roh Kudus, di atas landasan teologia yang sesuai dengan Alkitab dan mampu berinteraksi dengan semua golongan melalui sistem komunikasi dan dialog yang jelas, serta menekankan kepada kepemimpinan yang partisipatif. Perlunya berpikir kritis, analitis, dan realistis, tetapi masih bersifat lentur dengan situasi lingkungan (konteksnya). Untuk mencegah timbulnya stagnasi dalam lingkungan bergereja diperlukan loyalitas yang tinggi terhadap sistem dan disiplin organisasi, dan memerhatikan nilai-nilai moral etis dalam melaksanakan aktivitas hidup bergereja dan berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Sistem yang rapi dan terbuka dapat menghindarkan terjadinya stagnasi di semua aras organisasi. Sistem yang terbuka akan membangkitkan rasa saling menghargai, menghormati, dan saling mendukung sesama teman. Hal ini harus dijadikan filosofi hidup bergereja yang didukung dengan etos kerja yang tinggi, berdasarkan konsep yang jelas dengan menekankan kepada perencanaan terpadu dan kontrol yang memadai, dengan sistem "the right man in the right place", serta memberikan kesempatan kepada semua orang yang terlibat dalam organisasi untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan. Proses yang wajar dengan sistem yang jelas akan dapat menghilangkan kompetisi yang kurang sehat karena setiap orang yang menjadi bagian yang bersifat integral dalam organisasi pasti akan memiliki kesempatan yang besar, melalui peningkatan keterampilan yang sesuai dengan kemampuannya. Perlunya pelayanan pastoral yang kondusif bagi setiap orang yang terlibat dalam pelayanan. Dengan demikian, semua hal yang sangat potensial mendukung terjadinya stagnasi dapat diubah menjadi sarana yang dapat memperkaya dan memperkuat kehidupan organisasi melalui suatu sistem kepemimpinan yang partisipatif. Ancaman yang dapat menghancurkan dapat diubah menjadi suatu kesempatan untuk kemajuan dalam perkembangan suatu organisasi.

KESIMPULAN

Stagnasi dapat terjadi kalau penyebabnya dibiarkan hidup terus dan tidak dicarikan jalan keluar untuk mengatasinya. Sebagai murid-murid Yesus, yang telah dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan, kita seharusnya berusaha dengan pimpinan Roh Kudus untuk menghindarkan terjadinya suatu stagnasi dalam organisasi yang kita pimpin. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, tetapi ada satu cara yang terbaik, yaitu menjadi pelayan Tuhan yang memiliki loyalitas tinggi kepada Kristus dan firman-Nya, berjiwa besar, berpikir positif, dan terus berusaha memperkecil masalah dan tidak membuat sebaliknya, membesar-besarkan masalah, yang akan menyebabkan stagnasi total. Menempatkan seseorang sesuai karunia dan kemampuannya akan menghindarkan terjadinya stagnasi dalam suatu organisasi.

Bagaimanapun, bergantung kepada Tuhan adalah inti dari segala-galanya karena modernisasi, globalisasi, dan teknologi bukanlah jaminan untuk tidak terjadinya suatu stagnasi. Bagi pemimpin Kristen, rekonsiliasi merupakan kebutuhan yang terutama bertujuan agar tidak terjadi benturan antarpemimpin secara terus-menerus, yang hanya akan berakhir pada stagnasi total serta perpisahan. Tentu, hal ini bukan yang diharapkan oleh semua pihak. Dengan demikian, Barnabas, Paulus, dan Markus adalah suatu ilustrasi yang sangat cocok bagi para pemimpin Kristen dalam melaksanakan rekonsiliasi untuk dapat mencairkan kebekuan dalam organisasi atau stagnasi dalam pelayanan.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Pelita Zaman, vol. 11 no. 1
Judul bab : Stagnasi dalam Pelayanan
Penulis artikel : Eddy Paimoen
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman, Bandung 1996
Halaman : 8 -- 13

Komentar