Kategori Utama

Pikullah Salibmu dan Ikutlah Aku

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pertama-tama, kami segenap redaksi e-Reformed mengucapkan SELAMAT PASKAH! Semoga Paskah tahun ini mempunyai makna rohani yang berkesan bagi kita masing-masing.

Artikel e-Reformed untuk bulan April ini diambil dari buku karya John Piper berjudul "Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia". Salah satu tuntutan orang Kristen adalah memikul salib. Memikul salib berarti rela menanggung segala penderitaan sebagai konsekuensi dari mengikut Kristus. Memikul salib berarti rela putus hubungan dengan hal-hal yang kita cintai demi mengikut Kristus. Sebagaimana yang dikatakan Paulus bahwa penderitaan adalah sebuah anugerah, seharusnya kita boleh berbangga dan bersukacita jika suatu saat kita menghadapi penderitaan karena Kristus. Memang hal ini tidak mudah, tetapi itulah yang menjadi identitas seorang pengikut Kristus, seperti yang telah dialami para pendahulu kita yang telah berhasil memperjuangkan dan mempertahankan iman sampai akhir.

Biarlah mengikut Kristus dengan segala konsekuensinya menjadi kerinduan bagi setiap kita. Kiranya Allah Roh Kudus dengan segala kasih karunia-Nya terus menyertai dan memampukan kita untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Penulis: 
John Piper
Edisi: 
edisi 151 - Pikullah Salibmu dan Ikutlah Aku
Tanggal: 
23 April 2014
Isi: 

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:24-25)

"Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Markus 1:17)

"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12)

"Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Matius 8:22)

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21)

Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah (Yohanes 1:1, 14). Ia bukan Allah dalam bungkus manusia, seperti kostum. Ia nyata, manusia dengan darah daging, seorang anak tukang kayu (Markus 6:3). Karena itu, ketika Ia berkata kepada para penangkap ikan dan pemungut cukai, "Ikutlah Aku," ketaatan mereka adalah konkret, perbuatan fisik yang menjejakkan kaki mereka ke tanah dan berjalan di belakang Yesus dan menjadi bagian dari tim perjalanan Yesus.

Mengikut Yesus Ketika Ia Tidak Lagi Di Sini

Yesus tahu bahwa Ia tidak akan selalu berada di bumi bersama pengikut-pengikut-Nya dalam pengertian fisik. "... tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, ... Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yohanes 16:5,7) Yesus sadar sepenuhnya bahwa gerakan yang telah dimulai-Nya akan berlanjut setelah ia kembali kepada Bapa-Nya di surga. Ini adalah rencana-Nya.

Oleh sebab itu, tuntutan-Nya supaya kita mengikut Dia adalah relevan, bukan hanya pada masa Ia hidup secara fisik di dunia, melainkan juga sepanjang waktu. Ia dengan jelas menyatakan ini pada akhir pelayanan-Nya di bumi. Ia telah bangkit dari kematian dan akan kembali kepada Bapa-Nya. Ia mengatakan kepada Petrus bahwa suatu hari, ia akan mengalami mati syahid setelah Yesus naik ke surga. Petrus bertanya-tanya apakah ia orang satu-satunya sehingga ia bertanya kepada Yesus apa yang akan terjadi dengan rekan rasul yang lain, yaitu Yohanes. Yesus menjawab, "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku." (Yohanes 21:22)

Implikasi tentang mengikut Yesus ini terjadi setelah Yesus naik ke surga. Sampai Yesus datang kembali, Ia berharap murid-murid-Nya di dunia tetap mengikut Dia. Jadi, mengikut Yesus tidak dibatasi dengan berjalan secara fisik di sekitar Palestina di belakang Yesus. Yesus menuntut hal ini pada setiap orang, di setiap negara, di setiap zaman.

Mengikut Yesus Berarti Melakukan Seperti yang Yesus Lakukan

Ketika Yesus berkata kepada Petrus dan Andreas, yang pekerjaannya adalah menangkap ikan, "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Markus 1:17), Ia menggunakan perumpamaan yang berhubungan langsung dengan mereka, untuk sesuatu yang dapat diaplikasikan kepada setiap orang yang mengikut Yesus. Tuntutan untuk mengikut Yesus berarti bahwa setiap orang harus bersama Dia, melakukan apa yang Ia lakukan. Dan, berkali-kali Ia mengatakan apa yang Ia maksudkan. "Anak Manusia datang ... untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45) "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10) "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32) "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10) "Apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!" (Yohanes 12:27-28)

Kesimpulannya, Ia datang untuk "mati bagi bangsa (Israel), dan bukan hanya untuk bangsa Israel, namun juga untuk menyatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai di luar (Yohanes 11:51-52). Ia datang untuk mengumpulkan suatu umat, khususnya untuk mengumpulkan suatu umat yang setia kepada-Nya untuk kemuliaan Bapa-Nya, dengan mati untuk menyelamatkan mereka dari dosa dan memberi mereka hidup kekal dan suatu etika kasih yang baru seperti diri-Nya (Yohanes 13:34-35). Oleh sebab itu, ketika Ia menuntut agar kita mengikut Dia, yang Ia maksudkan ialah kita ikut bersama-Nya dalam tugas mengumpulkan. "Siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." (Lukas 11:23) Tidak ada pengikut netral; kalau kita tidak mengumpulkan, kita mencerai-beraikan. Mengikut Yesus berarti melanjutkan pekerjaan-Nya, yang untuk itulah Ia datang -- mengumpulkan umat yang setia kepada-Nya untuk kemuliaan Bapa-Nya.

Mengikut Yesus dalam Penderitaan

Mengajak kita untuk turut melanjutkan pekerjaan-Nya, termasuk menderita bersama-Nya, merupakan tujuan kedatangan Yesus. Mengikut Yesus berarti kita ikut dalam penderitaan-Nya. Ketika Yesus memanggil kita untuk mengikut Dia, dalam hal inilah Ia menekankan, Ia tahu bahwa Ia menuju ke salib dan Ia menuntut kita melakukan hal yang sama. Ia menata seluruh kehidupan dan pelayanan-Nya untuk pergi ke Yerusalem dan dibunuh. "Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem." (Lukas 13:33)

Maka, "Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem." (Lukas 9:51) Dan, Ia tahu secara tepat apa yang akan terjadi di sana. Semuanya itu telah direncanakan Bapa-Nya ketika Bapa mengutus-Nya ke dalam dunia. "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit." (Markus 10:33-34) Itulah rencana-Nya-sampai detail-detail ketika Ia diludahi.

Itulah rancangan kehidupan-Nya. Dan, Ia tahu bahwa penderitaan-Nya juga akan menimpa mereka yang mengikuti Dia. "Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu." (Yohanes 15:20) Maka, fokus yang pantang mundur dari tuntutan-Nya ialah bahwa kita mengikut Dia dalam penderitaan. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24) Yesus menekankan pada kata menyangkal diri dan memikul salib.

Menderita Demi Yesus dengan Sukacita Menunjukkan Nilai Tertinggi Yesus

Yesus tidak mati untuk menjadikan kehidupan kita mudah dan makmur. Ia mati untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi sukacita kekal yang akan kita peroleh dari-Nya. Dan, Ia memanggil kita untuk mengikut Dia dalam penderitaan-Nya karena penderitaan dan sukacita ini adalah demi Yesus (Matius 5:12). Ini menunjukkan bahwa Ia lebih berharga daripada segala pahala yang ditawarkan dunia (Matius 13:44; 6:19-20). Jika Anda mengikut Yesus hanya karena Ia membuat kehidupan Anda mudah saat ini, itu akan memperlihatkan kepada dunia bahwa Anda mencintai apa yang mereka cintai, dan Yesus kebetulan menyediakan itu bagi Anda. Akan tetapi, jika Anda menderita bersama Yesus di jalan kasih karena Ia adalah harta yang tak ternilai bagi Anda, akan menjadi nyata kepada dunia bahwa hati Anda diarahkan kepada harta yang berbeda dari mereka. Itulah sebabnya, Yesus menuntut agar kita menyangkal diri dan memikul salib kita dan mengikut Dia.

Menderita Sementara Untuk Yesus; Bersukacita di dalam Yesus Itu Kekal

Tentu saja, penderitaan itu sementara. Tuhan tidak memanggil kita untuk penderitaan yang kekal. Ia menyelamatkan kita dari penderitaan. "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal." (Yohanes 12:25) "Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, Ia akan menyelamatkannya." (Markus 8:35) Menderita bagi Yesus adalah sementara. Sukacita di dalam Yesus adalah kekal. Ketika Petrus berkata (mungkin dengan sedikit nada mengasihani diri), "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau, ...." Yesus menjawab tanpa memanjakan rasa mengasihani diri Petrus, "Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (Matius 19:27,29) Dengan kata lain, tidak ada pengorbanan yang paling tinggi dalam mengikut Yesus. "... engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar." (Lukas 14:14) "... upahmu besar di sorga ..." (Matius 5:12)

Bahkan, sebelum surga, sukacita sudah berkelimpahan di sepanjang jalan yang keras dan memimpin kita melalui kematian menuju kebangkitan. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan sukacita berjalan di dalam terang bersama Yesus, sebagai lawan dari berjalan di dalam kegelapan tanpa Dia. Yesus berkata, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Mengikut Yesus memang dapat membawa kita mengalami penderitaan dan kematian. Namun, jalan-Nya menuju kepada terang, kehidupan, dan kebenaran. Yesus berjanji, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20) Dan, di mana Yesus hadir, di situ ada sukacita, sukacita di dalam penderitaan sekarang, namun tetap adalah sukacita. "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11)

Terputusnya Relasi dengan Sesama

Inilah sebabnya, terputusnya relasi sebagai konsekuensi dari mengikut Yesus tidak menghancurkan hidup kita, meskipun sangat mungkin terjadi putus relasi dengan orang lain, harta milik, atau dengan pekerjaan. Yesus mempunyai cara yang mengejutkan untuk menjelaskan harga mengikut Dia di dalam relasi dengan orang. "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Matius 8:22) "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." (Lukas 14:26) Dengan kata lain, mengikut Yesus begitu pentingnya sehingga Ia menuntut perilaku yang terkadang terlihat seperti membenci dunia. Saya melihat pilihan yang menyakitkan ini telah dihayati oleh para misionaris ketika mereka membawa anak-anak mereka yang masih kecil ke tempat-tempat yang berbahaya dan meninggalkan orang tua mereka yang telah lanjut usia, tak memelihara mereka, dan mungkin tidak akan melihat mereka lagi di dunia. Sebagian orang menyebutnya "tanpa kasih". Namun, Yesus melihat pada bangsa-bangsa dan apa yang dituntut oleh kasih demi bangsa-bangsa tersebut.

Putus Relasi dengan Harta Milik

Mengikut Yesus juga membuat kita putus relasi dengan harta milik. Suatu kali, ada seorang pemuda kaya yang sangat mencintai harta miliknya. Maka, Yesus memutus berhala dalam hatinya dengan tuntutan, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari, dan ikutlah Aku." (Matius 19:21) Jikalau ada sesuatu yang menghalangi jalan kita untuk mengikut Yesus, kita harus menyingkirkannya.

Hal ini bukan khusus untuk orang kaya tersebut, namun berlaku untuk kita semua. "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku." (Lukas 14:33) Melepaskan diri dari apa yang Anda miliki tidak selalu berarti menjual semua milik Anda. Yesus memuji Zakheus yang memberikan separuh dari harta miliknya untuk orang-orang miskin (Lukas 19:8-9). Akan tetapi, menjual semua berarti semua yang kita miliki tersedia sepenuhnya bagi Yesus untuk tujuan-tujuan yang menyenangkan Dia, dan bahwa harta itu tidak menghalangi ketaatan yang radikal terhadap perintah untuk mengasihi.

Putus Relasi dengan Pekerjaan

Juga ada putus relasi saat kita mengikut Yesus, yang berkenaan dengan pekerjaan kita. Ketika Yesus memanggil kedua belas murid untuk mengikut Dia, tidak seorang pun yang secara penuh menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah penangkap-penangkap ikan, pemungut cukai, dan sebagainya. Mereka mempunyai pekerjaan. Yang luar biasa adalah terjadi hal seperti ini: "Kemudian ketika Ia (Yesus) lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: 'Ikutlah Aku!' Maka berdirilah Lewi lalu mengikut Dia." (Markus 2:14) Itu yang terjadi (sejauh yang kita ketahui). Bagi kebanyakan kita, tentu tidak sesederhana itu. Namun, bisa terjadi demikian.

Mungkin hal ini terjadi pada Anda. Tidak setiap orang harus meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Yesus. Ketika seseorang mau meninggalkan kampung halamannya dan mengikut Yesus, Yesus berkata, "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau." (Markus.5:19) Kebanyakan dari kita tetap tinggal pada posisi dan relasi sekarang. Namun, tidak semuanya. Untuk sebagian orang, mungkin Anda (ketika Anda membaca ini), mengikut Yesus bisa berarti putus relasi yang riskan dengan pekerjaan Anda. Janganlah takut untuk mengikut Dia dan menjauh dari keadaan yang tidak asing bagi Anda.

Mengikut Yesus Itu Mahal dan Berharga

Yesus tidak ingin menjebak Anda dengan semacam umpan atau tombol untuk mengikut Dia. Ia sangat jelas tentang harga yang harus dibayar. Sebenarnya, Ia mendesak Anda untuk menghitung harganya. "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? ... Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?" (Lukas 14:28,31) Biarlah panggilan untuk mengikut Yesus menjadi jelas dan tulus. "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33) Sangat mahal dan sangat berharga.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul asli buku : What Jesus Demands From The Lord
Judul buku terjemahan: Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia
Judul bab : Pikullah Salibmu dan Ikutlah Aku
Penulis : John Piper
Penerjemah : Miriam Santoso
Penyunting : Chilianha Jusuf
Penerbit : SAAT, Malang 2012
Halaman : 69 - 75

Dietrich Bonhoeffer dan Konteks Gereja Pada Zamannya

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sudah lama kita tidak membahas tentang tokoh dan sejarah. Oleh karena itu, pada bulan ini, saya memilih artikel yang membahas tentang seorang tokoh gereja yang berani memperjuangkan kebenaran sampai mati pada zamannya, yaitu Dietrich Bonhoeffer. Beliau dengan berani dan tegas melawan pemerintahan diktator Hitler, yang pada saat itu melumpuhkan peran gereja dalam masyarakat. Karena kekejaman dan kekuasaan Hitler saat itu, bahkan gereja pun tutup mulut dan tutup mata. Gereja tidak berani memberikan teguran dan kritikan pada pemerintahan Hitler. Sosok seperti Bonhoeffer inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Orang yang di dalam minoritas, namun tetap berani bersuara memperjuangkan kebenaran.

Meskipun pada akhirnya beliau terlibat dalam organisasi yang merencanakan pembunuhan Hitler, tetapi kita dapat mengambil makna dari keberaniannya dalam memperjuangkan kebenaran. Untuk selengkapnya, silakan menyimak artikel berikut ini. Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed, Teddy Wirawan < teddy(at)in-christ.net > < http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 150/Maret 2014
Isi: 

Gereja dan negara adalah dua lembaga dalam masyarakat. Keduanya memiliki peran yang berbeda. Gereja adalah lembaga agama, sedangkan negara adalah lembaga politik. Dampak sekularisme menyebabkan gereja hanya berperan di wilayah privat, sedangkan negara berperan di wilayah publik. Akan tetapi, benarkah dikotomi seperti ini? Apakah gereja tidak memiliki peran apa pun dalam publik karena statusnya sebagai lembaga agama? Apakah gereja harus diam terhadap masalah-masalah sosial dan politik di dalam masyarakat? Dietrich Bonhoeffer akan menjawab dengan tegas, "Tidak."

Bonhoeffer adalah seorang teolog Jerman yang melakukan perlawanan terhadap rezim Hitler. Beliau menyadari kelumpuhan yang terjadi dalam gereja yang menutup mata terhadap kebijakan-kebijakan Hitler sampai akhirnya berujung pada Holocaust. Beliau menganggap urusan rohani bukan hanya terbatas di dalam gereja, melainkan juga di luar gereja.

Kehidupan Bonhoeffer

Sebelum melihat perlawanan Bonhoeffer, kita perlu memahami latar belakang kehidupannya. Bonhoeffer hidup pada tahun 1906-1945. Dia dilahirkan dalam keluarga terpelajar yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Ayahnya bernama Karl Ludwig Bonhoeffer, seorang profesor psikiatri dan saraf di Universitas Berlin, sedangkan ibunya bernama Paula von Hase, seorang guru yang menjadi ibu rumah tangga. Pada tahun 1924, Bonhoeffer mendaftar menjadi mahasiswa fakultas teologi di Universitas Berlin dan pada tahun 1927, ia mendapat gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Communio Sanctorum". Pada tahun 1929, ia memperoleh jabatan profesor setelah menyelesaikan habilitasi atau disertasi kedua yang berjudul "Act and Being".

Bonhoeffer adalah seorang akademisi. Dia menghabiskan waktunya dengan mengajar dan menulis. Beberapa karyanya yang sangat terkenal adalah "The Cost of Discipleship", "Life Together", dan "Ethics". Selain itu, dia juga aktif di dalam forum gereja-gereja, baik di Jerman maupun di dunia.

Ketika Bonhoeffer hidup, Jerman sedang mengalami perubahan politik. Perubahan yang pertama adalah kehancuran Kekaisaran Wilhelmine (Kaiserreich) yang disebabkan oleh Perang Dunia I. Kekaisaran Wilhelmine didirikan oleh Otto von Bismarck pada tahun 1871 untuk menjadikan Jerman sebagai negara paling kuat di Eropa. Pada masa itu, negara yang paling disegani di Eropa adalah Kerajaan Inggris Raya, dan untuk mengalahkan Inggris, Bismarck meningkatkan kekuatan militer dan industri Jerman. Keadaan ini membawa Jerman dalam Perang Dunia I, yang berakhir dengan kekalahan Jerman tahun 1918.

Perubahan yang kedua adalah kegagalan Republik Weimar. Setelah Perang Dunia I berakhir, Jerman kembali menata kehidupannya. Kekalahan Jerman dalam perang dianggap sebagai kegagalan sistem monarki yang didukung oleh kelompok intelektual dan industrialis. Sebab itu, kelompok oposisi, yaitu buruh, mengusulkan sistem parlementer. Gagasan ini kemudian dijalankan dalam bentuk republik yang dikenal sebagai Republik Weimar. Republik ini dibentuk dari koalisi kelompok-kelompok yang antimonarki. Akan tetapi, pemerintahan ini tidak berjalan dengan baik karena kelompok yang konservatif tetap ingin mempertahankan sistem monarki Wilhelmine. Dengan demikian, dalam negara Jerman terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu kelompok antimonarki dan kelompok antidemokrasi.

Keadaan ini diperparah oleh masalah ekonomi. Pasca-Perang Dunia I, Jerman mengalami inflasi yang tinggi karena harus membayar utang perangnya, akibatnya pemerintah tidak sanggup mengatasi kekacauan ekonomi. Pemerintahan Weimar tidak dapat mengatasi keadaan ini sehingga harus berakhir pada tahun 1933.

Perubahan yang terakhir adalah berdirinya pemerintahan Nazi (Nasionalis Sosialis). Pada tahun 1933, Partai Nazi yang dipimpin oleh Hitler mengambil alih kekuasaan. Hitler diangkat menjadi kanselir dan berjanji akan mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran di Jerman. Sejarah masa lampau yang begitu gemilang dan kenyataan di depan mata yang begitu menyedihkan menyebabkan rakyat Jerman mengharapkan seorang pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan Jerman seperti di era Bismarck dan Wilhelmine. Bagi rakyat Jerman, pengembalian harga diri dan kebanggaan Jerman adalah prioritas utama dan siapa pun yang dapat melakukannya akan didukung sepenuhnya. Tidak mengherankan jika saat itu tidak banyak yang melakukan perlawanan terhadap Hitler.[1]

Hitler kemudian mengubah sistem parlementer menjadi sistem totaliter. Dia mengangkat dirinya menjadi Führer, yaitu pemimpin tertinggi. Walaupun hampir sama dengan monarki absolut, tetapi ada perbedaannya. Dalam monarki absolut masih terdapat hukum yang dibakukan, tetapi raja berada di atas hukum tersebut, sedangkan dalam sistem totaliter Hitler, seluruh hukum adalah produk dari nilai-nilai dan pengalaman pribadi Sang Führer.[2]

Kemunculan Hitler memang memberikan pengharapan kepada bangsa Jerman, tetapi menghasilkan ketakutan kepada bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman. Demi mempersatukan semangat seluruh bangsa Jerman, Hitler meluncurkan propaganda tentang keunggulan ras Arya. Propaganda ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa Jerman. Akan tetapi, propaganda ini kemudian diikuti dengan propaganda anti-Yahudi. Hitler menjadikan bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman sebagai permasalahan bersama sehingga harus disingkirkan jika bangsa Jerman ingin mendapatkan kembali kejayaannya. Tentu saja propaganda ini mendapatkan dukungan dari rakyat Jerman yang sangat menginginkan Jerman kembali berjaya seperti dulu.

Hitler kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang memisahkan bangsa Jerman dari bangsa Yahudi. Semua orang Yahudi, yang memiliki jabatan di pemerintahan ataupun universitas, diberhentikan. Bahkan, pada tanggal 1 April 1933, Hitler mengumumkan pemboikotan terhadap toko-toko yang dimiliki orang Yahudi. Toko-toko orang Yahudi dijaga oleh tentara dan diberi tanda supaya orang Jerman tidak berbelanja ke sana. Selain itu, seluruh percetakan dan penerbitan yang dimiliki orang Yahudi juga ditutup karena dituduh menyebarkan kebohongan tentang pemerintahan Nazi.

Sejak Sang Führer menduduki tampuk kekuasaan, Jerman memasuki kekelaman yang tidak disadari oleh semua orang, kecuali beberapa orang yang masih berhati nurani seperti Bonhoeffer.

Anugerah Murahan dan Harga Sebuah Pemuridan

Kebijakan anti-Yahudi ini juga berimbas pada gereja karena Hitler membuat sebuah aturan pada gereja yang disebut dengan Paragraf Aryan. Peraturan ini bertujuan agar gereja sinkron dengan kebijakan Hitler. Dalam peraturan tersebut dikatakan gereja Protestan Jerman hanya untuk keturunan Arya, dengan demikian semua orang Kristen keturunan Yahudi yang sudah dibaptis di gereja tersebut harus dikeluarkan dari keanggotaan gereja. Selain itu, semua pendeta yang berdarah Yahudi juga tidak boleh melayani dalam gereja tersebut.

Kebijakan ini disambut baik oleh sebagian besar tokoh gereja Protestan pada saat itu. Akan tetapi, bukankah kebijakan ini salah? Mengapa gereja malah mendukungnya? Semuanya ini hanya bisa dipahami dengan melihat kondisi gereja Protestan di Jerman saat itu.

Gereja Protestan di Jerman telah menempati posisi yang penting dalam negara sejak zaman Martin Luther. Penguasa negara memberikan perlindungan penuh kepada gereja Protestan dan sebaliknya, gereja pun memberikan dukungan kepada penguasa. Hubungan ini terus berlangsung pada zaman Kekaisaran Wilhelmine. Para tokoh gereja memberikan dukungan mereka kepada cita-cita Bismarck untuk menjadikan Jerman sebagai negara terkuat di seluruh Eropa dan dunia sekalipun sampai harus berperang dengan negara lain. Para tokoh gereja pada saat itu sangat dipengaruhi oleh filsafat Hegel yang menyatakan bahwa sejarah merupakan pewahyuan dari roh yang absolut sehingga mereka berpikir bahwa Jerman merupakan perwujudan dari roh yang absolut tersebut. Dengan demikian, jika Jerman menjadi penguasa dunia, berarti Kerajaan Allah sudah hadir.

Hubungan antara gereja dan negara telah menyebabkan gereja menganggap kebanggaan Jerman sebagai kebanggaan mereka juga. Dengan demikian, kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I menyebabkan tokoh-tokoh gereja kehilangan kebanggaannya. Mereka menginginkan Jerman seperti pada era Kaisar Wilhelmine, maka tidak heran jika mereka menolak pemerintahan Republik Weimar.

Ketika Hitler muncul menjadi penguasa, dia berjanji akan mengembalikan kejayaan bangsa Jerman seperti masa lampau, tentu saja sebagian tokoh gereja bergairah mendengarkan hal ini. Selain itu, Hitler juga menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada gereja. Dia tidak melarang gereja Protestan di Jerman bahkan menyatakan gereja merupakan sumber kebudayaan yang penting bagi rakyat Jerman. Selain itu, Hitler menyatakan ketegasannya terhadap pemerintah Stalin di Soviet yang komunis yang dianggap sebagai musuh Tuhan oleh tokoh gereja di Jerman. Keadaan inilah yang menyeret gereja kepada kampanye anti-Yahudi Hitler.

Bonhoeffer melihat kondisi ini lebih jauh. Dia menyatakan sikap gereja seperti ini disebabkan karena anugerah murahan yang telah diajarkan dalam gereja Protestan. Gereja mengajarkan tentang keselamatan melalui iman sehingga yang penting adalah percaya dan setelah itu menjadi anggota gereja dan mengikuti rutinitas gerejawi. Anugerah murahan ini menyebabkan orang-orang Kristen di Jerman sangat menyukai kenyamanan, khususnya di dalam gereja. Tidak mengherankan jika gereja tidak berani untuk menyatakan kesalahan Hitler karena Hitler tidak mengusik kenyamanan di gereja.

Bonhoeffer mengingatkan gereja pada saat itu bahwa Kristus bukan memberikan anugerah yang murah, tetapi anugerah yang mahal. Anugerah yang mahal menuntut setiap orang yang menerimanya untuk mengikut Yesus Kristus seumur hidupnya dan harus menyangkal diri dan memikul salib. Bonhoeffer menyatakan ini dalam kalimatnya yang terkenal, "Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia memanggilnya untuk mati." Inilah yang disebut dengan harga sebuah pemuridan. Dengan demikian, setiap orang Kristen tidak boleh memikirkan kenyamanannya melainkan harus berani membayar harga demi ketaatannya pada Yesus Kristus, termasuk berani melawan pemerintah yang salah.

Gereja tidak boleh takut melawan kehendak Hitler jika memang tidak sesuai dengan kebenaran firman Allah. Bonhoeffer berkata, "The church has only one altar, the altar of the Almighty ... before which all creatures must kneel. Whoever seeks something other than this must keep away, he cannot join us in the house of God ... the church has only one pulpit, and from that pulpit, faith in God will be preached, and no other faith, and no other will than the will of God, however well-intentioned."

Bonhoeffer mendorong orang percaya agar tidak memerhatikan kenyamanan sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain termasuk orang tidak percaya. Gereja tidak boleh hanya memedulikan urusan internalnya, tetapi juga urusan lain yang terjadi di luar gereja. Bonhoeffer berkata, "The church is the church only when it exist for others. To make a start, it should give away all its property to those in need ... The church must share in the secular problems of ordinary human life, not dominating, but helping and serving."

Penutup

Kehidupan Bonhoeffer ditutup dengan tindakannya yang kontroversial, yaitu keterlibatannya dalam rencana pembunuhan Hitler. Hal ini menimbulkan sejumlah perdebatan etika di kalangan orang percaya. Kita tidak harus menyetujui tindakannya. Akan tetapi, Bonhoeffer menunjukkan sisi lain dari hubungan gereja dengan negara. Pada saat pemerintah melakukan keadilan, gereja harus menghormati otoritasnya tetapi ketika pemerintah melakukan ketidakadilan, bahkan kepada orang-orang di luar gereja, gereja seharusnya memberikan teguran kepada pemerintah.

Catatan Kaki:

  1. John A. Moses. Bonhoeffer’s Germany: the political context” dalam John W. de Gruchy (Ed.) “The Cambridge Companion to Dietrich Bonhoeffer” (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 17.

  2. Ibid, 16.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs atau URL : http://www.buletinpillar.org
Judul artikel : Dietrich Bonhoeffer
Penulis artikel : Calvin Bangun
Tanggal akses : 4 Februari 2014

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dalam edisi ini, kita akan melanjutkan bahasan tentang konteks teologi John Calvin dalam usahanya menjelaskan Predestinasi serta aplikasinya bagi hidup orang percaya. Kiranya dari artikel lanjutan ini, Anda semakin mengerti secara lengkap pendekatan-pendekatan yang Calvin lakukan dalam mengaitkan relevansi doktrin ini dengan hidup orang percaya, dan bersyukur atas pemilihan yang Allah lakukan dalam hikmat-Nya yang tak terukur. Mari langsung saja kita simak artikel ini. Selamat menyimak!

Tuhan memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 145/Oktober 2013
Isi: 

PREDESTINASI SEBAGAI JAMINAN KESELAMATAN DAN PANGGILAN HIDUP KRISTEN YANG SALEH

Dengan ditempatkannya predestinasi di bawah topik keselamatan, Calvin ingin menunjukkan bahwa predestinasi pun merupakan bagian dari berkat-berkat yang diperoleh orang-orang percaya di dalam Kristus. Pengertian ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Itu sebabnya, sekalipun faktanya doktrin predestinasi mengandung "labyrinth" yang tak terselami sebagai bagian dari wahyu Allah, Calvin percaya bahwa predestinasi adalah "very sweet fruit",[18] atau sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang percaya.

Permasalahannya adalah dalam hal apa dan bagaimana memahami predestinasi secara benar sehingga doktrin ini benar-benar memberi manfaat bagi orang percaya? Ini merupakan tanggung jawab yang Calvin merasa yakin terpanggil untuk menjawabnya. Calvin percaya sepenuhnya bahwa rahasia kehendak Allah berdiri di balik realitas orang percaya dan tidak percaya. Namun, ia tidak mau berspekulasi lebih lanjut, tentang mengapa, bagaimana, atau seperti apa persisnya hal itu terjadi di dalam kekekalan karena Alkitab tidak mengatakannya.

Calvin yakin sepenuhnya berdasarkan Alkitab bahwa kehendak Allah sebagai dasar utama keselamatan harus ditegakkan. Kepentingannya adalah sebagai jaminan keselamatan, yaitu bahwa keselamatan bukan berdasarkan perbuatan baik kita, melainkan sepenuhnya karena kemurahan Allah. Masalahnya, jika kebebasan manusia memiliki peran yang signifikan dalam hal keselamatan, keselamatan menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sebab, apa standarnya? Sampai batas mana manusia harus melakukan kebaikan? Belum lagi adanya realitas dosa yang sangat serius dalam diri manusia. Namun, jika keselamatan bergantung pada ketetapan Allah sendiri, tidak ada hal apa pun juga di bumi maupun di surga yang bisa membatalkan ketetapan Allah tersebut.

Dalam satu bab terakhir tentang predestinasi di dalam buku III "Institutes" (1559), ia menjelaskan relasi yang erat antara predestinasi dan soteriologi secara induktif (ordo cognoscendi) sehingga manfaat doktrin predestinasi sebagai jaminan keselamatan nampak sangat jelas. Ada beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari pola pendekatan ordo cognoscendi dalam konteks soteriologi untuk memahami predestinasi yang akan diuraikan berikut ini.

Dari Sebab Dekat (Proximate Cause) ke Sebab Utama (Ultimate Cause)

Dalam tafsirannya terhadap Efesus 1:5-8, Calvin menyimpulkan ada empat sebab keselamatan yang terjadi pada diri seseorang: pertama, kehendak Allah (God's will) sebagai yang menyebabkan pilihan-Nya pasti terlaksana (efficient cause); kedua, sebab yang dapat dilihat (material cause), yaitu Yesus Kristus; ketiga, sebab yang membuat pilihan Allah teraplikasi dalam diri orang berdosa (final cause), yaitu anugerah; dan keempat, sebab yang membuat kebaikan atau anugerah Allah sampai kepada umat manusia (formal cause), yaitu pemberitaan Injil. Di antara keempat sebab ini, efficient dan final cause adalah bagian dari misteri Allah, yang pasti terjadi, tetapi tidak mungkin dapat diselami. Karena itu, pemilihan sebagai jaminan keselamatan hanya dapat dipahami ketika kita mulai menggumulinya mulai dari bagaimana anugerah pemilihan itu sampai kepada kita, yaitu jika kita memulainya dari material dan formal cause. Yesus Kristus sebagai material cause akan kita bahas kemudian. Pada bagian ini, kita akan membahas sedikit lebih jauh arti formal cause.

Formal cause -- sebab yang membuat anugerah atau kebaikan Allah itu sampai kepada kita -- terdiri dari tiga hal yang saling berkaitan, yaitu panggilan firman (calling), pekerjaan Allah Roh Kudus secara internal, dan iman. Menurut Calvin, jaminan keselamatan itu memang bersumber dari takhta Allah yang Mahakudus, tetapi Ia tidak pernah meminta kita untuk naik ke hadirat-Nya yang kudus (selama kita di bumi). Dengan menggumuli firman di dalam iman dan pekerjaan Roh Kudus itulah, kita akan dibawa kepada posisi rohani, yang membuat panggilan (klesis) dan pilihan (ekloge) kita semakin teguh (2 Petrus 1:10). Namun sekali lagi, di sini Calvin sama sekali bukan mengatakan bahwa usaha manusialah yang menyebabkan pilihan. Calvin lebih ingin menekankan bagaimana kita sampai kepada "pemilihan kekal Allah" sebagai jaminan keselamatan.

Kristus sebagai "The Mirror of Election"

Dari penjelasan sebelumnya, telah ditunjukkan keyakinan Calvin bahwa manusia tidak mungkin sanggup mendaki secara langsung ke dalam misteri ketetapan kekal Allah. Namun, terdorong oleh panggilan untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa pemilihan kekal Allah merupakan jaminan keselamatan manusia dan bukan sebagai problem metafisika, maka berikutnya ia berusaha untuk tidak secara langsung menarik hubungan antara apa yang terjadi di dalam kekekalan (eternity) dan keselamatan yang terjadi pada manusia di dalam dunia ini (temporal). Artinya, ia tidak ingin terjebak di dalam silogisme: "Karena aku dipilih, maka aku diselamatkan". Sekalipun secara ontologi kalimat ini pasti ia setujui, tetapi ia memandang hal itu berbahaya.

Ia lebih mengarahkan argumentasi kepada keberadaan Yesus Kristus, yang adalah Allah sekaligus Manusia, sebagai titik temu antara apa yang terjadi di dalam kekekalan dan keselamatan yang dialami oleh manusia. Di sinilah, terjadi interpenetrasi antara paham tentang Kristus dan predestinasi. Mengarahkan iman kepada Kristus di sini memiliki makna yang sangat dalam, sebab berarti kita bukan sekadar "believe in Him" (Yohanes 3:16), tetapi lebih dari itu, kita percaya: (1) kepada Yesus Kristus sebagai dasar pilihan Allah di dalam kekekalan, yang sekaligus merupakan jaminan kekal yang tak tergoyahkan (Efesus 1:4-6); (2) Kristus di dalam sejarah, menyatakan pemilihan kita oleh Allah di dalam kekekalan (Efesus 1:7-9); (3) Kristus menyingkapkan tujuan pemilihan Allah, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29), mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang (Roma 13:14), dan bertumbuh ke arah Kristus (Efesus 4:15). Hal yang terakhir ini menurut Calvin, sekaligus merupakan panggilan bagi setiap orang percaya untuk memiliki ketekunan dan hidup yang kudus. Melalui "union with Christ" inilah, kita juga akan dibawa kepada jaminan keselamatan yang berdasarkan pada pemilihan kekal Allah.

Reprobasi sebagai Misteri Penyataan Keadilan Allah

Ketika kita masuk ke dalam pembicaraan tentang reprobasi -- di mana Allah membiarkan sebagian orang dalam dosanya untuk menerima hukuman (reprobat) --, Calvin menekankan bahwa kita tidak bisa memikirkan reprobasi dan pemilihan Allah sebagai dua hal yang bersifat paralel. Artinya, sekalipun pemilihan dan reprobasi adalah dua hal yang memiliki "ultimate cause" di dalam misteri kehendak Allah, dan juga memiliki sebab yang dekat dengan manusia (proximate cause), tetapi ia melihat bahwa yang membedakan keduanya adalah jikalau dalam hal anugerah pemilihan proximate cause itu sama sekali tidak berasal dari manusia (perbuatan manusia tidak diperhitungkan sebagai penyebab), maka di dalam hal penghukuman kekal Allah (reprobation), proximate cause mengandung aspek kebebasan dan natur berdosa manusia (perbuatan berdosa manusia turut menyebabkan penghukuman). Namun, apakah hal ini berarti Allah secara aktif menyebabkan manusia berbuat dosa?

Calvin memang mengatakan bahwa "Kehendak dan ketetapan abadi Allah adalah penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada".[19] Namun, ia sama sekali tidak bermaksud untuk melemparkan tanggung jawab atas perbuatan dosa kepada "divine causality" (sebab ilahi) sehingga seolah-olah manusia tidak bertanggung jawab atau hanya merupakan alat saja di tangan Allah. Di dalam kasus kejatuhan Adam ke dalam dosa, ia mengatakan, "Adam dapat tetap teguh jika ia mau, namun kejatuhannya semata-mata karena kehendaknya sendiri".[20] Tetapi, bagaimana hal ini tidak berkontradiksi dengan pernyataan Calvin sebelumnya bahwa ketetapan Allah adalah "penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada?"

Pertama-tama, ia mengajak kita untuk menjauhkan Allah dari posisi yang secara aktif menyebabkan terjadinya dosa. Kedua, untuk menjawab problem di atas, Calvin tidak memilih argumentasi yang membedakan ketetapan Allah dengan izin Allah. Sebuah pembedaan yang pada hakikatnya sama saja. Namun, Calvin tetap percaya bahwa kehendak Allah adalah penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada. Jika demikian, bagaimana Allah bukan sebagai penyebab aktif perbuatan dosa manusia? Di dalam buku yang sama (Calvin's Calvinism), ia berangkat dari asumsi bahwa sebuah tindakan dikatakan berdosa adalah karena motivasi yang salah dan tujuan yang jahat. Jadi, ketika seseorang membunuh atau mencuri, perbuatan itu berdosa adalah karena motivasi yang salah dan tujuan yang jahat.

Dengan demikian, di dalam kasus-kasus seperti pengerasan hati Firaun atau Yudas, Calvin berpendapat, pertama, kita mesti melihat adanya tujuan mulia dari Allah yang tak terselami dan hikmat-Nya yang Mahabenar yang tak tergapai. Kedua, adanya perbedaan kategori yang tak terseberangi antara kekekalan dan kesementaraan sehingga kita tidak bisa mengukur apa yang Allah lakukan di dalam kekekalan dengan kategori temporal. Itu sebabnya, ia menutup penjelasannya tentang predestinasi dengan pernyataan, "Seperti pernyataan Agustinus, mereka yang mengukur keadilan ilahi dengan standar keadilan manusia telah bertindak salah."

Namun, kembali kepada konteks soteriologi dalam pembicaraan tentang predestinasi, maka fungsi paham reprobasi bagi orang-orang percaya menurut Calvin sebenarnya sama halnya dengan anugerah pemilihan Allah, yaitu menyadarkan orang-orang percaya supaya patuh, kagum, heran, rendah hati, dan gemetar di hadapan kemahakuasaan Allah yang tak terselami, namun yang telah dinyatakan dalam Alkitab.[21] Sebagai bagian dari predestinasi, maka sama seperti pemilihan Allah pula, paham reprobasi juga ada di ujung pergumulan iman orang-orang yang percaya kepada Kristus.

Kesimpulan

Dengan menempatkan doktrin predestinasi dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan berangkat dari tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai "the mirror of election". Cara seperti ini sudah tentu bukan jaminan untuk meniadakan sifat misteri doktrin predestinasi, melainkan justru karena kesadaran bahwa doktrin ini penuh dengan misteri ilahi.

Dengan demikian, cara yang dipakai oleh Calvin ini membawa orang percaya kepada sebuah relasi yang paradoks antara pergumulan iman tentang jaminan keselamatan dan predestinasi. Di satu pihak, predestinasi sebagai misteri (tetapi yang telah dinyatakan oleh Allah) adalah penyebab iman, di lain pihak, hal itu hanya bisa dipahami ketika iman sebagai jaminan yang membawa kita kepada rahasia predestinasi Allah. Jadi di sini, pergumulan dengan kebenaran predestinasi bersifat dua arah. Artinya, kita berangkat dari keyakinan akan berita Alkitab tentang ketetapan Allah sebagai sumber keselamatan kita, namun keyakinan itu baru dapat benar-benar kita gapai ketika kita menempatkan ketetapan Allah di ujung pergumulan iman kita.

Mengutip perkataan Agustinus, Calvin berkeyakinan bahwa menggumuli predestinasi berarti kita telah memasuki jalur iman.[22] Ketika iman kita membawa kepada keyakinan akan anugerah pemilihan Allah, dampak baliknya adalah penghiburan dan sekaligus panggilan untuk hidup suci. Namun, yang terpenting dalam usaha memahami predestinasi adalah "Mari kita berpegang teguh pada iman. Ia memimpin kita ke kamar Raja, tempat tersimpan seluruh harta pengetahuan dan kebijaksanaan."[23]

Catatan Kaki:

18. Institutes III.xxi.1.
19. Ibid. I.xvi.8; bdk. III.xxiii.7-8.
20. Ibid. I.xv.1, 8 [huruf tegak dari saya].
21. Ibid. III.xxi.1; III.xxiii.5; III.xxiv.17.
22. Ibid III.xxi.2.
23. Ibid.
Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal : Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 2001
Halaman : 159 -- 175

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Maafkan kami atas keterlambatan terbit yang sering terjadi akhir-akhir ini. Kami harap Anda dapat terus menikmati artikel-artikel yang kami kirimkan.

Artikel e-Reformed bulan September ini membahas seputar doktrin Predestinasi yang pasti sering kita dengar. Namun, dalam edisi ini, kita akan lebih berfokus pada konteks berteologi John Calvin ketika menggumuli doktrin ini. Sebagaimana yang kita tahu, doktrin ini menjadi perdebatan yang tidak pernah terselesaikan, terutama oleh kaum Calvinis dan Armenian. Hal ini terjadi karena banyak orang yang sesungguhnya tidak mengerti konteks ketika doktrin ini dicetuskan, dan menjadi salah kaprah ketika mengartikannya lepas dari konteks.

Oleh karena itu, artikel ini berusaha meluruskan kembali konteks pergumulan yang sebenarnya dialami oleh John Calvin ketika mencetuskan doktrin ini. Karena artikel yang asli relatif panjang untuk dimuat, redaksi berusaha memadatkan isi artikel ini sehingga dapat dimuat dalam 2 (dua) edisi September dan Oktober. Kiranya artikel ini dapat membukakan pengertian yang benar akan keagungan dan kekayaan Diri Allah yang tak terselami oleh pikiran manusia. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 144/September 2013
Isi: 

Pendahuluan

Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. Hal ini perlu kita lakukan karena di satu pihak, Calvin percaya bahwa doktrin predestinasi memberikan manfaat yang tidak sedikit dalam kehidupan orang percaya, tetapi di lain pihak, sejak awal ia sendiri telah menyadari banyaknya orang yang akan menyimpangkan ajarannya tentang predestinasi.

Penyimpangan-penyimpangan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Henry Cole, telah mengakibatkan orang yang mempelajari doktrin predestinasi Calvin tidak dari sumber aslinya bukan saja menjadi salah mengerti, melainkan juga kehilangan "religious spirit" sebenarnya yang membangun.[1] Hal ini dapat terjadi karena doktrin predestinasi Calvin sering kali hanya dibicarakan secara terpotong-potong, lepas dari konteksnya.

Calvin memang bukan orang pertama dan satu-satunya yang mencetuskan doktrin predestinasi. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak memakai argumentasi Agustinus untuk menjelaskan beberapa masalah predestinasi. Namun, bila kemudian doktrin ini sering kali diidentikkan dengan Calvin, tidak lain karena dalam pemikirannya, paham predestinasi memperoleh pengupasan secara lebih komprehensif dan utuh.[2] Di samping itu, ia adalah tokoh yang paling gigih mengajarkan dan membela kebenaran doktrin ini, lebih dari siapa pun, bahkan teolog-teolog di masa kini.[3]

Barangkali, prinsip awal dan pertama yang kita bisa pelajari dari Calvin adalah sikapnya yang percaya sepenuhnya dan apa adanya terhadap wahyu Allah di dalam Alkitab. Sikap ini memberikan dua dampak. Pertama, ia berani masuk ke kedalaman firman Tuhan dan mengajarkannya, bahkan hal-hal yang tampaknya kontroversial, dengan suatu keyakinan bahwa baginya, tidak ada hal yang Allah wahyukan yang sifatnya sia-sia, termasuk kebenaran predestinasi. Ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah dan firman-Nya adalah sumber kebenaran doktrin ini. Kedua, ia bukan saja dengan penuh rasa hormat kepada Allah berani mengajarkan doktrin predestinasi secara jujur, melainkan juga secara berhati-hati berusaha untuk tidak melampaui apa yang Alkitab katakan sehingga tidak jatuh ke dalam spekulasi metafisika.

Walaupun menelusuri sejarah pemikiran Calvin untuk mendapatkan keutuhan kerangka berpikirnya adalah hal yang hampir mustahil, tetapi saya berangkat dari keyakinan sebagaimana dikatakan oleh Richard Muller bahwa selama tulisan-tulisan Calvin masih dapat kita pelajari, berarti masih ada harapan.[4] Itu sebabnya, melalui tulisan ini, saya berharap cukup untuk memberikan kerangka dasar pemikiran Calvin tentang predestinasi, melalui penelusuran secara historis dan teologis terhadap tulisan-tulisan Calvin, khususnya "Institutes".[5]

Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman bagian pertama dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi, dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud.

Survei Historis dan Teologis Pola Dasar Pemikiran Predestinasi Calvin

Doktrin predestinasi Calvin tidak ditulis dalam suasana yang "aman dan tentram". Doktrin ini mengalami proses perkembangan hingga menjadi benar-benar matang di dalam karya-karyanya, khususnya "Institutes" edisi 1559, setelah melalui berbagai perlawanan frontal dari lawan-lawannya. Perlawanan dari teolog Roma Katolik, Albertus Pighius, pada tahun 1543, mendorongnya untuk menulis "The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice against Pighius",[6] guna menolak konsep Pighius yang terlalu menekankan kebebasan manusia. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1545, ia menulis "Treatises Against the Anabaptists and Against the Libertines",[7] sebagai jawaban terhadap kelompok Libertines yang menolak dosa asal. Tahun 1552, ia menulis "Concerning the Eternal Predestination of God",[8] yang isinya bukan saja menjawab Georgius the Sicily, melainkan juga diarahkan kepada Pighius dalam kaitannya dengan problem prapengetahuan Allah dan, lagi-lagi, kebebasan manusia.

Di samping karya di atas, masih banyak karya lainnya yang hampir semuanya ditulis dalam suasana "pembelaan iman". Ia juga banyak dibantu oleh murid dan asistennya yang setia, Theodore Beza, dalam menegakkan kebenaran predestinasi, khususnya ketika ia terlibat dalam perdebatan panjang (tahun 1551 -- 1555) dengan Jerome Bolsec, menyangkut kekekalan, prapengetahuan Allah, dan iman.[9]

Dalam seluruh rangkaian perdebatan ini, Calvin tetap berpegang teguh pada tradisi monergisme Agustinian, sementara kebanyakan lawannya mengekspresikan pola teologi sinergisme yang merupakan sasaran utama penolakan para tokoh Reformasi. Tradisi monergisme Agustinian menekankan keselamatan yang sepenuhnya berdasarkan anugerah Allah, sedangkan tradisi sinergisme mendasarkan keselamatan kepada pra-pengetahuan Allah (divine foreknowledge) dan usaha iman dari manusia.

Pergumulan Calvin di atas, dan tulisan-tulisan lainnya, sudah tentu banyak memengaruhi tulisannya tentang predestinasi, terutama tafsirannya terhadap kitab Roma yang disebut-sebut paling banyak memengaruhi Calvin dalam menulis "Institutes" edisi terakhir (1559).[10] Mulai edisi pertama, 1536, hingga yang terakhir, 1559, "Institutes" mengalami perkembangan yang tidak sedikit, tetapi bukan dalam arti adanya pergeseran posisi atau pengubahan isi yang mendasar dari waktu ke waktu, melainkan usahanya untuk terus menambahkan pokok-pokok ajaran yang ia anggap penting. Sebuah fakta yang mengherankan ialah, ketika memberikan tambahan-tambahan, secara prinsip ia senantiasa konsisten dengan apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Ketika Calvin menulis "Institutes" pada tahun 1536, doktrin predestinasi belum memperoleh pembahasan secara khusus. Di dalam enam bab tulisannya ini, paham predestinasi ia sisipkan dalam pembahasan tentang "turun ke dalam kerajaan maut" dari pengakuan iman rasuli dan penjelasan tentang hakikat gereja. Dalam penjelasan kalimat yang berdasarkan 1 Petrus 3:19 tersebut -- yang ia mengerti bukan secara harfiah, melainkan sebagai manifestasi kuasa penebusan Kristus kepada mereka yang telah mati pada zaman sebelum Kristus -- ia menyisipkan prinsip perbedaan dampak penebusan Kristus kepada orang-orang percaya dan orang-orang fasik. Sedangkan dalam pembahasan tentang gereja, pengertian predestinasi mendominasi penjelasannya tentang hakikat gereja. Berdasarkan Efesus 1:4, misalnya, ia mendefinisikan gereja sejati sebagai "orang-orang yang telah dipilih di dalam Dia sebelum dunia dijadikan, dengan tujuan agar semua dapat berkumpul di dalam Kerajaan Allah".[11] Gereja adalah universal karena orang-orang percaya di dalamnya dipilih dan dipersatukan di dalam Kristus (Efesus 1:22-23).[12] Hakikat gereja adalah kudus karena "orang-orang yang telah dipilih oleh providensi Allah untuk ditetapkan sebagai anggota-anggota gereja -- mereka dikuduskan oleh Tuhan (Yohanes 17:17-19)".[13]

Dari semua contoh di atas, jelas bahwa Calvin senantiasa berusaha untuk tidak melepaskan predestinasi dalam kaitannya dengan landasan bagi identitas umat tebusan Kristus. Pada tahun 1539, ketika "Institutes" bertambah menjadi tujuh belas bab, satu hal yang tetap konsisten adalah bahwa konteks praktis, eklesiologis, dan soteriologis, terus mewarnai pembicaraan tentang predestinasi. Namun, di dalam edisi ini, ia juga membahas predestinasi secara lebih luas sebagai penjelasan ontologis tentang kedaulatan Allah terhadap ciptaan-Nya, dengan tambahan konsep tentang providensi Allah.

Barangkali, progresivitas yang paling radikal ada di dalam edisi terakhir, tahun 1559, ketika "Institutes" jadi lima kali lebih panjang dari edisi pertama, dan dibagi menjadi empat "buku", masing-masing dengan topik utama: "The Knowledge of God the Creator", "The Knowledge of God the Redeemer", "The Receiving of the Grace of Christ", dan "The Holy Catholic Church". Di dalam edisi ini, ia bukan saja membahas predestinasi secara khusus dan panjang (empat bab), tetapi ia juga memisahkan pembicaraan predestinasi dari providensi. Jika providensi ditempatkan di akhir pembahasan tentang doktrin Allah (I.xvi-xviii), maka ia meletakkan predestinasi di dalam konteks pembahasan soteriologi, di bawah topik besar "The Receiving of the Grace of Christ", atau tepatnya, sesudah pembicaraan tentang iman, pembenaran, dan doa (III.xxi-xxiv).

Dampak pemisahan ini, sekali lagi, bukan karena adanya perubahan konsep teologis dalam diri Calvin mengenai providensi dan predestinasi. Bukan pula pemisahan dalam arti pembedaan secara tajam antara providensi dan predestinasi.[14] Pemisahan tersebut dilakukan karena ia lebih memilih pendekatan "ordo cognoscendi" (urutan secara logis atau mana yang harus diketahui terlebih dahulu) dalam memahami predestinasi, ketimbang "ordo essendi" (urutan secara esensi atau ontologis).[15] Pola semacam ini tampaknya cukup berhasil membuatnya menjauhkan diri dari pembahasan spekulasi metafisika dan determinisme, dan sebaliknya, mendekatkan diri kepada pemahaman tentang predestinasi yang lebih menampung relevansi rohani secara praktis, khususnya dengan jaminan keselamatan orang percaya.

Secara praktis, prinsip di atas dapat dibahasakan sebagai berikut. Ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat secara deduktif dari pernyataan seperti: "Kehendak Allah adalah penyebab segala sesuatu," akan menjadi lebih sulit dan tak terselami daripada jika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat dari pertanyaan seperti: "Mengapa Tuhan mau mengampuni dosaku? Mengapa Yesus Kristus mau mati untukku?" Melalui pola pendekatan ordo cognoscendi, Calvin ingin paham predestinasi itu muncul melalui pemahaman terhadap aspek-aspek penebusan di dalam diri orang percaya. Begitu pemilihan itu telah muncul dalam pikiran dan dipercayai, atau paling tidak, secara samar-samar diterima oleh orang percaya, esensi pemilihan, sejauh yang Alkitab wahyukan, harus segera diajarkan.

Belajar dari Calvin, Beza menegaskan bahwa ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan memulainya dari "first" atau "final causality" dalam rahasia kekekalan Allah, itu hanya menyebabkan kita tidak bisa menarik makna barang sedikit pun karena pada akhirnya, mata kita akan tertutup terhadap dinamika karya Allah dalam sejarah keselamatan manusia.[16] Sedangkan, Wendel menafsirkan bahwa Calvin memilih ordo cognoscendi dalam konteks soteriologis karena seseorang yang mempelajari doktrin predestinasi dengan berangkat dari hakikat ketetapan-ketetapan Allah atau providensi Allah, atau membawa predestinasi ke dalam kategori pembicaraan providensi Allah, hal itu memang bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat dan bahkan berbahaya.[17]

Catatan kaki:

  1. Kata pengantar H. Cole dalam terjemahan buku "Calvin's Calvinism 6".

  2. McNeill, John T (ed.). "Calvin: On the Christian Faith". (New York: Bobbs-Merill, 1957) xxii.

  3. Cole. "Calvin's Calvinism 6".

  4. Muller, Richard A. "The Unaccommodated Calvin: Studies in the Foundation of Theological Tradition". (New York: Oxford, 2000) 3.

  5. Tentunya dengan tidak mengabaikan sumber-sumber tulisan Calvin lainnya.

  6. (Ed. A. N. S. Lane, tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996); bah. Latin: Defensio sanae et orthodoxae doctrinae de servitute et liberatione humani arbitrii adversus calumnies Alberti Pighii Coampensis.

  7. (Tr. & ed. Benjamin W. Farley; Grand Rapids: Baker, 1982)&h. Prancis: Contre la secte phantastique et furieuse des Libertins que se nomment Spirituels.

  8. (Tr. J. K. S. Reid; London: Clarke, 1961); bah. Latin: Da aetema Dei praedestinatione; dan idem, Calvin's Calvinism.

  9. Lihat Muller, Richard A. "The Use and Abuse of a Document: Beza's Tabula Praedestinationis, The Bolsec Controversy, and the Origins of the Reformed Orthodoxy". dalam "Prostestant Scholasticism: Essays in Reassessment" (ed. Carl R. Trueman & R. Scott Clark; Cumbria: Paternoster, 1999) 40-41.

  10. Lihat Klooster. "Calvin's Doctrine of Predestination 21".

  11. Ibid. III.xxii.1.

  12. Ibid. IV i.2.

  13. Ibid. IV i.17.

  14. Providensi sering dimengerti sebagai ketetapan-ketetapan rahasia dan kekal Allah secara umum terhadap dunia ciptaan-Nya, sedangkan predestinasi berkaitan dengan pemilihan untuk hidup kekal atau membiarkan (passing by) orang di dalam dosa-dosanya (reprobation).

  15. Dowey, Edward A. Jr. "The Knowledge of God in Calvin's Theology". (Grand Rapids: Eerdmans, 1995) 218.

  16. Ibid.

  17. Wendel. "Calvin: Origins and Development of His Religious Thought". 268.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal : Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
Halaman : 159 -- 175

Budaya dan Alkitab (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Edisi kali ini masih merupakan kelanjutan dari artikel edisi yang lalu, yaitu tentang prinsip menafsirkan Alkitab berkaitan dengan konteks budaya. Pada edisi ini akan dijelaskan pedoman-pedoman praktis yang akan membantu kita untuk mengatasi masalah-masalah di dalam penafsiran. Tidak perlu berlama-lama, mari kita simak kelanjutan artikel berikut ini.

Selamat membaca. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 143/Agustus 2013
Isi: 

Satu hal sudah jelas. Kita memerlukan semacam garis pedoman praktis untuk membantu kita menguraikan problem-problem seperti itu. Garis pedoman praktis berikut ini mestinya berfaedah.

Garis Pedoman Praktis

  1. Periksalah Alkitab itu sendiri untuk mencari bagian-bagiannya yang jelas berhubungan dengan adat.

  2. Dengan meneliti cermat Alkitab sendiri, kita dapat mengetahui bahwa Alkitab menunjukkan suatu ruang gerak adat tertentu. Misalnya, prinsip-prinsip ilahi dari budaya Perjanjian Lama telah dinyatakan ulang dalam budaya Perjanjian Baru. Dengan melihat hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang dinyatakan ulang dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat bahwa sejumlah prinsip inti yang umum dapat melampaui adat, budaya dan kebiasaan sosial. Pada saat yang sama, kita melihat sejumlah prinsip Perjanjian Lama (seperti hukum-hukum mengenai apa saja yang halal dan apa yang haram dalam Pentateukh atau kelima kitab Musa) dibatalkan dalam Perjanjian Baru. Ini tidak berarti bahwa hukum-hukum mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan semata-mata hanya adat Yahudi, tetapi kita dapat melihat sebuah perbedaan dalam situasi sejarah penebusan waktu Kristus membatalkan hukum yang lama. Apa yang harus kita perhatikan dengan cermat ialah, bahwa baik pemikiran untuk memindahkan prinsip-prinsip Perjanjian Lama seluruhnya ke dalam Perjanjian Baru maupun sama sekali tidak mengindahkannya sedikit pun, tidak dapat dibenarkan oleh Alkitab sendiri.

    Adat-adat budaya macam apa yang mampu pindah? Bahasa adalah salah satu faktor budaya yang mudah pindah. Hukum-hukum Perjanjian Lama dapat dialihbahasakan dari bahasa Ibrani kepada bahasa Yunani. Paling tidak, hal ini memberikan kepada kita sebuah kunci kepada berbagai macam komunikasi verbal (bahasa). Ini berarti bahwa bahasa adalah sebuah aspek budaya yang terbuka untuk perubahan. Ini tidak berarti bahwa isi Alkitab dapat dibengkokkan secara linguistik, tetapi berarti bahwa Injil dapat dikhotbahkan, baik dalam bahasa Yunani maupun dalam bahasa Inggris.

    Kedua, kita lihat bahwa metode-metode pakaian Perjanjian Lama tidak selalu cocok di segala zaman untuk umat Allah. Prinsip-prinsip kesederhanaan tetap unggul, tetapi mode-mode pakaian lokal boleh berubah. Perjanjian Lama tidak memerintahkan supaya orang beriman harus memakai pakaian seragam ilahi yang bermode sama untuk segala abad. Perubahan-perubahan budaya lain yang normal, seperti sistem-sistem uang, jelas terbuka untuk perubahan. Orang-orang Kristen tidak diharuskan memakai dinar sebagai ganti dolar.

    Analisis cara-cara pengungkapan budaya seperti itu mungkin sederhana karena berhubungan dengan pakaian atau uang, tetapi persoalan-persoalan institusi-institusi budaya lebih sulit analisisnya. Misalnya, topik mengenai perbudakan sering diperkenalkan ke dalam perdebatan modern mengenai tidak adanya oposisi terhadap hukum atas dasar hati nurani, juga topik mengenai struktur-struktur otoritas pernikahan. Dalam konteks yang sama, waktu Paulus mengimbau wanita-wanita supaya tunduk pada suami-suami mereka, ia juga mengimbau para budak untuk tunduk kepada tuan-tuan mereka. Sejumlah orang telah berpendapat bahwa karena benih-benih penghapusan perbudakan, demikian juga benih-benih penghapusan sikap tunduk para wanita. Kedua hal tersebut mewakili struktur-struktur institusional yang dipengaruhi budaya jika ditinjau dari segi garis penalaran ini.

    Di sini, kita harus berhati-hati untuk membedakan antara institusi-institusi yang diakui oleh Alkitab hanya keberadaannya saja, seperti "pemerintah-pemerintah yang ada" (Roma 13:1), dan institusi-institusi yang jelas didirikan, diabsahkan dan ditahbiskan oleh Alkitab. Prinsip tunduk kepada struktur-struktur otoritas yang ada (misalnya pemerintah Roma), tidak mempunyai pengertian yang diperlukan untuk pengabsahan dari pihak Allah mengenai struktur-struktur, tetapi hanya merupakan panggilan untuk kerendahan hati dan kepatuhan hukum dan pemerintah. Allah, di dalam pemeliharaannya yang utama dan rahasia, dapat menetapkan bahwa ada Kaisar Agustus, tanpa mengabsahkan Kaisar sebagai teladan kebajikan Kristen. Namun, institusi struktur-struktur dan pola-pola otoritas pernikahan diberikan dalam konteks institusi dan pengabsahan yang positif dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tindakan menurut struktur-struktur alkitabiah mengenai rumah tangga setingkat dengan persoalan perbudakan, sama dengan usaha mengaburkan banyak perbedaan antara keduanya. Jadi, Alkitab menyediakan dasar bagi perilaku kristiani di tengah situasi-situasi yang menekan atau yang jahat, Alkitab juga menahbiskan struktur-struktur yang harus menjadi cermin bagi rancangan-rancangan penciptaan yang baik.

  3. Biarlah ada kekhususan-kekhususan Kristen abad pertama.

  4. Usaha memahami isi Alkitab dengan lebih gamblang, dengan cara menyelidiki situasi budaya abad pertama, tidak sama dengan usaha menafsir Perjanjian Baru seolah-olah itu hanya gema budaya abad pertama. Menyamakan kedua usaha tersebut sama dengan mengalami kegagalan dalam usaha menerangkan pertentangan yang serius, yang dialami oleh gereja waktu itu dalam menghadapi dunia abad pertama. Orang-orang Kristen waktu itu tidak dilemparkan ke dalam kandang singa kalau mereka cenderung menjadi konformis.

    Cara-cara halus untuk merelatifkan teks ialah dengan memasukkan pertimbangan-pertimbangan kultural kita sendiri ke dalam teks, yang sesungguhnya tidak ada dalam teks itu sendiri. Misalnya, sehubungan dengan persoalan kerudung di Korintus, banyak penafsir Epistola itu menunjukkan bahwa tanda lokal wanita tunasusila di Korintus adalah tidak berkerudung. Karena itu, mereka berpendapat inilah alasannya mengapa Paulus ingin para wanita mengerudungi kepala mereka ialah untuk menghindari penampilan wanita-wanita Kristen yang mirip wanita skandal.

    Apa yang salah pada spekulasi seperti ini? Problem dasar di sini ialah bahwa pengetahuan kita mengenai orang-orang Korintus dari abad pertama yang dikonstruksikan ulang, telah mengakibatkan kita melengkapi Paulus dengan rasional (dasar penalaran) yang asing bagi Paulus sendiri. Jikalau Paulus hanya menyuruh kaum wanita Korintus berkerudung, tanpa memberikan rasional untuk instruksi seperti itu, kita akan sangat cenderung untuk melengkapinya dengan pengetahuan kita sendiri mengenai budaya. Namun hal ini, Paulus menyediakan sebuah rasional yang didasarkan atas imbauan kepada yang alami, bukan kepada adat tunasusila Korintus. Kita harus berhati-hati agar semangat kita terhadap pengetahuan budaya tidak mengaburkan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Alkitab. Meletakkan alasan Paulus yang telah dinyatakannya di bawah kekuasaan penalaran kita yang berperspektif spekulatif, sama dengan memfitnah rasul itu dan mengubah eksegesis menjadi metode eisegesis.

  5. Peraturan alam ciptaan Allah menunjukkan adanya prinsip-prinsip transtruktural.

  6. Jikalau prinsip-prinsip Alkitab melampaui adat-adat lokal, maka berarti prinsip-prinsip tersebut diambil dari yang alami. Dukungan dari peraturan-peraturan alam menunjukkan peraturan-peraturan Allah yang mengikat janji secara hukum dengan manusia dalam fungsi atau sifatnya sebagai manusia. Hukum-hukum alam tidak dibenarkan hanya kepada manusia Ibrani atau manusia Kristen atau manusia Korintus saja, tetapi berakar dalam tanggung jawab dasar semua manusia terhadap Allah. Menyingkirkan prinsip-prinsip alam dengan memandangnya sebagai adat lokal, sama dengan merelatifkan isi Alkitab dan menghilangkan isi Alkitab yang historis. Inilah cara penafsiran yang termasuk paling buruk. Namun, tepatnya dengan cara inilah banyak ahli telah merelatifkan prinsip-prinsip Alkitab. Di sinilah, kita melihat metode eksistensial beroperasi dengan cara yang paling nyata.

    Untuk menggambarkan pentingnya peraturan-peraturan alam ciptaan Allah, kita dapat meneliti bagaimana Tuhan Yesus menangani persoalan perceraian. Pada waktu orang-orang Farisi menguji Tuhan Yesus dengan bertanya apakah perceraian dibenarkan oleh hukum untuk alasan apa saja, Tuhan Yesus menjawab dengan cara menunjuk kepada aturan penciptaan mengenai pernikahan, "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:4-6).

    Dengan jalan menyusun kembali situasi kehidupan narasi ini, mudah untuk melihat bahwa ujian dari pihak orang-orang Farisi berkaitan dengan keinginan mendapatkan pendapat Tuhan Yesus mengenai pokok persoalan yang secara tajam memisahkan mazhab-mazhab rabi yang bernama Shammai dan Hillel. Tuhan Yesus tidak berpihak kepada salah satu mazhab sepenuhnya, tetapi mengembalikan persoalannya kepada aturan-aturan alam penciptaan untuk mendapatkan norma-norma pernikahan secara tepat. Sudah barang tentu, Ia mengakui modifikasi Musa terhadap hukum penciptaan, tetapi Ia tidak bersedia untuk melemahkan norma itu lebih lanjut, dengan cara menyerah kepada tekanan orang banyak atau pendapat-pendapat budaya orang-orang yang hidup di zaman-Nya. Kesimpulan yang harus kita tarik ialah bahwa aturan-aturan penciptaan adalah normatif, kecuali jikalau secara eksplisit telah dimodifikasi oleh wahyu Alkitab yang lebih belakangan.

  7. Dalam hal-hal yang tidak pasti pakailah prinsip kerendahan hati.

  8. Bagaimana kalau setelah kita mempertimbangkan dengan cermat sebuah mandat Alkitab, kita masih saja belum yakin mengenai hakikinya, apakah itu prinsip ataukah itu adat? Jikalau kita dihadapkan kepada pilihan untuk memutuskan yang mana di antara keduanya yang betul, tetapi kita tidak mendapatkan sarana-sarana yang cukup dapat dipakai untuk pertimbangan bagi keputusan yang betul, apa yang harus kita lakukan? Di sini, prinsip Alkitab mengenai kerendahan hati dapat berfaedah. Persoalannya mudah. Mana yang lebih baik, menganggap apa yang kemungkinan adalah adat, sebagai prinsip, sehingga bersalah karena dalam usaha kita untuk mematuhi Allah ternyata tidak sesuai dengan kehendak-Nya; Ataukah lebih baik menganggap apa yang kemungkinan adalah prinsip, hanya sebagai adat saja, sehingga kita bersalah karena menurunkan kadar tuntutan Allah yang transenden (di luar pengertian dan pengalaman manusia biasa) kepada tingkat kebiasaan manusiawi saja? Saya harap jawabannya jelas.

    Jikalau prinsip kerendahan hati dipisahkan dari garis-garis pedoman lain yang telah disebutkan, sangat mudah disalahartikan sebagai dasar untuk legalisme. Kita tidak berhak mengatur hati nurani orang-orang Kristen padahal Allah sendiri tidak mengaturnya. Prinsip ini tidak dapat juga diterapkan, kalau Alkitab sendiri diam mengenai suatu hal yang sedang ditafsir. Prinsip ini dapat diterapkan di tempat yang jelas ada mandat-mandat Alkitab, tetapi hakikinya saja yang tidak pasti (apakah yang ditafsir itu memang adat, ataukah prinsip?), setelah kita bekerja keras untuk mengatasi kesulitan menafsir, dengan metode eksegesis secara tuntas.

    Kerja keras seperti ini tidak dapat digantikan hanya dengan berhati-hati secara biasa saja (seperti umumnya dilakukan orang yang tidak memakai metode eksegesis). Sikap pokoknya hati-hati menafsir meskipun tanpa eksegesis, berbahaya. Bahayanya ialah mengaburkan antara yang adat dan yang prinsip. Eksegesis harus dilakukan sejak dari awal penyelidikan Alkitab, bukan kalau sudah jalan lain tidak berhasil. Sikap ini dapat merusak kebenaran penafsiran.

    Problem persyaratan budaya benar-benar problem. Rintangan-rintangan waktu, tempat, dan bahasa sering menyulitkan komunikasi. Namun, rintangan-rintangan budaya tidak begitu keras sehingga menyebabkan kita bersikap skeptis atau putus asa memahami firman Allah. Untungnya, Alkitab benar-benar menunjukkan kemampuan khusus untuk berbicara kepada kebutuhan-kebutuhan manusia yang terdalam dan untuk mengomunikasikan Injil dengan efektif kepada segala bangsa dari segala waktu, tempat dan adat. Halangan budaya tidak dapat mengosongkan kuasa firman Allah.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Mengenal Alkitab
Judul bab : Budaya dan Alkitab
Penulis : R. C. Sproul
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang
Halaman : 121 -- 127

Komentar