Kategori Utama

Mazmur 8

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pemahaman kita sebagai orang percaya dibangun atas dasar pengenalan kita akan Allah melalui relasi yang karib dengan Dia. Seseorang tidak dapat menyelami pekerjaan Allah secara benar tanpa membangun cara berpikir yang sesuai dengan pemikiran Allah. Oleh karena itu, kita harus membangun pola pikir yang sesuai dengan kebenaran Allah. Hal ini memang tidak mudah, dan merupakan pergumulan yang berat bagi orang percaya untuk memahami karya-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Lalu, bagaimana kita seharusnya memahami dan menyikapi setiap hal yang terjadi dalam perjalanan kehidupan kita bersama Allah?

Edisi e-Reformed bulan ini, yang mengangkat topik "Mazmur 8", kiranya dapat memberikan wacana kepada kita untuk melihat kemuliaan Allah dan menolong kita untuk melihat seperti apakah Tuhan itu, serta bagaimana seharusnya kita menghormati Tuhan. Dan berikutnya, kita dapat semakin mengenal-Nya dan hidup berpusat pada kehendak-Nya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus!

Tuhan memberkati.

Staf Redaksi e-Reformed,
Ryan
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 155/Agustus 2014
Isi: 

Mazmur ini adalah Mazmur pertama yang merupakan mazmur pujian (hymn of praise). Di sinilah, kita sekali lagi melihat kekayaan kitab ini, yang memiliki nuansa yang beraneka ragam. Mazmur ini dimulai dengan satu pujian karena kemuliaan dan keagungan Tuhan yang mengatasi ciptaan-Nya. Dan, jikalau kita mau mengerti, sesungguhnya ini merupakan suatu berkat yang besar! Tidak setiap orang memiliki mata rohani untuk menyaksikan kemuliaan Tuhan. Ada orang yang hidupnya selalu bertanya-tanya: mengapa Allah mengizinkan ini dan itu, mengapa Allah tidak mencegah, mengapa Dia berdiam diri, dan seterusnya. Orang-orang seperti ini sedang mencurigai Allah, seolah mereka tahu yang lebih baik daripada Allah, mereka tidak melihat kemuliaan dan keagungan Allah, yang mereka lihat adalah kejahatan dan kebusukan semata-mata. Seperti yang pernah dikatakan oleh Nietzsche, "... keretakan pada tembok, itulah Allah!"

Bukankah memang benar, bahwa mereka yang tidak mampu melihat dan menyaksikan kemuliaan Allah cenderung akan menghujat nama-Nya, entah dengan lantang atau diam-diam? Itulah sebabnya, pada ayat yang ketiga dikatakan "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam." Bukan di dalam pengertian bahwa kelak bayi-bayi serta anak-anak itu akan mengalahkan para musuh mereka, melainkan bahwa bahkan bayi-bayi pun tahu bagaimana memberitakan kemuliaan Tuhan dan memuji Dia, sementara orang yang terus mencurigai Tuhan akan dibungkam. Tuhan akan terus menyatakan diri dalam segala kemuliaan-Nya, berbahagialah mereka yang melihat serta mengagumi-Nya.

Ketika pemazmur melihat keindahan ciptaan Tuhan yang begitu dahsyat, kemahabesaran Tuhan dalam ciptaan-Nya, ia dibawa masuk ke dalam kesadaran keterbatasan manusia -- betapa kecilnya manusia, dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Secara ukuran, manusia memang seperti sebutir debu yang menghiasi kerumitan alam semesta. Pemazmur mengetahui keterbatasan dirinya, kerentanannya, kefanaannya, ketidakberartian dirinya jika dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang sangat luas. Kemuliaan Tuhan dalam ciptaan seharusnya membawa manusia untuk mengenal diri dengan benar.

Namun, pemazmur tidak berhenti di situ. Ia tidak menjadi putus asa, kecewa, dan kemudian mengutuki Allah, melainkan justru pada titik ini, ia mendapati bahwa sesungguhnya manusia diciptakan secara khusus dan dengan keunikan yang tiada taranya karena Allah telah membuatnya hampir sama seperti diri-Nya sendiri. Dalam hal ini, ia bukan hanya mengenal keterbatasan dirinya, melainkan juga mengetahui keunikan dan kehormatan yang dimilikinya. Apakah perbedaan pernyataan pemazmur di sini dengan seseorang yang memegahkan kebolehan dirinya, kehebatannya, mungkin kepandaiannya, mungkin segala bakat yang dimiliki, kuasa, pengaruh, dan lain sebagainya? Perbedaannya adalah, tidak seperti pemazmur, orang ini tidak pernah mengenal keterbatasan dirinya, dan karena itu, tidak mungkin pula ia melihat kebesaran dan kemuliaan Allah yang dikaruniakan-Nya kepada dirinya. Yang dilihatnya adalah kemuliaan dirinya sendiri! Inilah paradoks yang ada dalam hidup manusia yang sangat singkat itu. Alangkah indahnya jika kita diberikan mata yang mampu melihat, melihat apa yang Allah lihat, bukan apa yang mau kita lihat.

Pengertian itulah yang membuat pemazmur mengenali tempat dan posisinya dalam alam semesta. Pada ayat 7, kita membaca bahwa manusia, sekalipun terbatas dan kecil, diberi kuasa atas ciptaan yang lain, bahkan segala-galanya telah diletakkan Tuhan di bawah kakinya. Kemuliaan serta kehormatan yang ada pada diri manusia ditandai dengan penguasaan manusia atas alam semesta. Alangkah hinanya ketika kita menyaksikan manusia justru dikuasai oleh ciptaan yang lebih rendah, entah itu uang, emas, minyak, atau bahkan dikuasai oleh kekuasaan itu sendiri! Sekali lagi, manusia memang makhluk yang paradoks. Sesungguhnya, Tuhan sendiri telah memberikan kuasa itu dalam diri manusia, tetapi manusia justru jatuh untuk memperebutkan kekuasaan, seolah-olah itu merupakan sesuatu yang ada di luar diri manusia. Mengapa terjadi kebingungan (confusion) kekuasaan? Mazmur ini mengatakan bahwa itu karena manusia tidak melihat kemuliaan dan keagungan Allah yang mengatasi seluruh ciptaan. Dengan kata lain, manusia tidak melihat kekuasaan dan pemerintahan Allah atas segala ciptaan, termasuk atas hidup manusia itu sendiri.

Kuasa yang diberikan kepada manusia hanya bisa dijalankan dengan benar ketika manusia menundukkan diri di bawah pemerintahan Allah yang berdaulat. Kejatuhan manusia ke dalam dosa sudah diselesaikan oleh Yesus Kristus, yang memulihkan ketaatan manusia di bawah pemerintahan kehendak Allah yang di surga. Yesus Kristus tidak hanya menjadi teladan, sosok seorang manusia yang menundukkan diri di bawah kekuasaan Allah, melainkan Dia sendiri adalah satu-satunya jalan menuju kepada ketaatan yang sejati sehingga barangsiapa percaya dalam nama-Nya akan beroleh keselamatan. Keselamatan yang mencakup pengampunan dosa, kehidupan yang kekal, pemulihan pengenalan diri yang benar, posisi manusia dalam ciptaan, menjalankan kuasa yang ada dalam diri manusia, dan pada akhirnya, bagaimana manusia semakin jelas melihat kemuliaan nama Tuhan di seluruh bumi.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Ajarlah Kami Bergumul
Judul bab : Mazmur 8
Penulis : Billy Kristanto
Penerbit : Momentum, Surabaya 2010
Halaman : 11 -- 14

Peta Perubahan Teknologi Komunikasi dan Dampaknya bagi Pelayanan pada Abad XXI (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel bulan lalu. Setelah kita mengerti pergeseran teknologi yang terjadi, kita harus menyusun strategi untuk dapat tetap menjadi garam dan terang bagi dunia sesuai konteks zamannya. Mari kita simak lanjutan artikel ini. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 154/Juli 2014
Isi: 

Pendidikan jarak jauh juga dapat dilakukan. Gelar-gelar dan kursus-kursus tidak terlokalisasi di satu tempat saja. Bahkan, perguruan tinggi dapat dibuat dengan bermodalkan sebuah ruko atau gedung sederhana, tetapi dengan jangkauan sedunia dan akses data serta pengajar secara luas.

Yang pasti, kehadiran komputer yang semakin murah dengan sejumlah aksesorisnya di Asia Tenggara telah mulai menjadi bagian hidup. Sebuah komputer dapat memainkan musik, film/laser, menjadi alat melalui jaringan internet, alat mengobrol bahkan dapat diprogram untuk mengatur listrik, dan berbagai alat di rumah kita. Jangan lupa, kita pun dapat membeli dan menjual barang melalui komputer serta kartu kredit. Dengan alat itu, pencarian informasi dan berbagai keputusan dapat dimulai di rumah. Lebih lanjut lagi, kalkulator akan digantikan dengan komputer saku yang setiap anak SD pun akan membawanya. Alat ini pun akan berfungsi sebagai telepon tangan, jam, dan alarm. Jadi, alat yang tadinya merupakan pengolah informasi, ternyata menjadi alat yang serba bisa, budak yang penurut dan setia selama kita memperlakukannya dengan baik dan benar.

Semuanya hanya menyiratkan satu hal bagi keluarga kita, yaitu dunia yang tadinya didominasi oleh ciptaan alamiah (biosphere), kini mulai didominasi dengan alat-alat buatan manusia (techno-sphere). Banyak alat komunikasi dan informasi tadi sudah demikian canggihnya. Kita tidak mengerti cara kerjanya, tetapi toh dapat menggunakannya. Kita mulai semakin tergantung padanya. Bila hal ini membuat manusia lebih menyukai hubungan dengan alat daripada hubungan antarpribadi secara nyata, jumlah manusia yang kesepian akan semakin bertambah. Kecenderungan ini akan membuat pola hubungan suami istri semakin steril. Demikian pun dengan anak. Keluarga sangat rentan terhadap penyakit kehilangan kehangatan emosi. Jadilah dikenal dengan apa yang dinamakan "virtual home" atau "virtual family". Hanya namanya saja masih satu keluarga, tetapi kebersamaan selalu jarang terjadi, semua penataan keluarga berjalan secara remote/jarak jauh.

VI. Dampak bagi Pelayanan Khusus di Indonesia

Indonesia dikenal dengan berbagai hal yang khas. Pertama, Indonesia adalah kerumunan manusia. Sekitar 250 juta jiwa manusia tersebar dengan tidak teratur di negara ini, hampir 80%-nya mungkin bertumpuk di pulau Jawa yang kian bergerak ke tengah kota-kota. Manusia-manusia ini juga mencerminkan pluralitas atau keberbagaian corak yang membuat Indonesia bagaikan sepiring rujak raksasa. Pluralitas tadi dapat berupa pluralitas orientasi nilai, pola hidup, kekuatan ekonomi, dan etnis serta pluralitas dalam bidang spiritual. Pengaruh perubahan tren yang telah kita bahas akan dirasakan berbeda di berbagai kelompok yang ada. Namun, jumlah orang yang merasa keder dan tercabut dari akar semakin nyata--hal mana sering terlihat dalam menumpuknya jumlah orang yang meminta pelayanan pastoral konseling. Mereka kehilangan dunia stabil yang dulu mereka huni secara kejiwaan, sedangkan dunia baru begitu beragam dan mungkin mereka belum memiliki tempat di dalamnya.

Dari sudut perubahan komunikasi, ketika sebagian besar rakyat meloncat dari pola lisan langsung ke komunikasi televisi tanpa menguasai komunikasi tertulis, guncangan besar terasa. Yang pasti, perbedaan antara kota besar dan kecil serta desa akan semakin terasa.

Bagi pelayanan Kristiani, kesulitan yang diakibatkan oleh pluralitas tadi adalah luar biasa. Dari pengamatan penulis, agaknya bagi lingkup antargereja, kecenderungan untuk menghasilkan keberagaman sama kuatnya dengan kecenderungan untuk mencari bentuk kesatuan atau keesaan. Sifat individualis yang diakibatkan oleh pendidikan kita juga membuat orang sulit bekerja sama dan memiliki wawasan yang luas. Kalaupun dipaksakan keesaan tadi, sering kali totalitarianisme yang tersamar serupa dengan yang terjadi di masyarakat feodal kuno menjadi modus kerja.

Kedua, situasi politik dan budaya Indonesia menunjukkan suatu pergeseran yang serius. Keenam sentra kuasa politik sedang bergerak saling memengaruhi secara lebih aktif. Keenam sentra tadi adalah kuasa lembaga presiden, birokrat, ABRI, massa Islam, para pelaku bisnis, dan lain-lain. Media massa juga menonjolkan istilah demokratisasi, suatu proses pemberian dan penyadaran kuasa kepada lebih banyak orang yang semakin popular dituntutkan, bertentangan dengan kecenderungan pemusatan kuasa yang juga meningkat. Internet semakin memungkinkan falsafah ini tersebar luas. Apakah pelimpahan kuasa tadi sejalan dengan perkembangan kesiapan orang banyak untuk memikul tanggung jawab yang lebih kompleks, tentu dapat dipertanyakan. Dunia bisnis memberikan contoh bahwa perusahaan yang menekankan struktur organisasi raksasa dan serupa piramid mengalami kerugian yang serius, sedangkan beberapa dari mereka yang berpedoman pada ukuran yang ramping, jaringan yang luas, serta pendekatan hi-tech dan hi-touch mengalami pesatnya pertumbuhan. Namun, sering kali, banyak perusahaan yang membelah diri ke dalam sentra-sentra yang lebih kecil malah ambruk karena "empowerment" tidak sejalan dengan pembinaan pelaku-pelakunya sehingga mereka tidak siap secara mental dan keterampilan, untuk mengikuti strategi yang lebih lincah dan organisasi yang lebih ramping. Di pihak lain, angin demokratisasi tadi berembus di berbagai negara dengan sangat kuatnya. Khusus untuk Indonesia, agaknya masih perlu dikaji akibat kemungkinan tren ini berhadapan langsung dengan tren penyatuan kuasa bisnis, teknologi, dan komunikasi bersama aparat-aparat pemerintah.

Ketiga, gereja-gereja di Indonesia terus bertumbuh, tetapi dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan penduduk, serta pertumbuhan di kalangan Buddha, Hindu, dan Islam, mungkin pertumbuhan gereja tidak menimbulkan dampak makro secara nasional dan berjangka panjang. Dialog eksternal sering dilaksanakan secara sporadis, tetapi dialog internal di dalam kelompok sendiri malah lebih sulit dijalankan dengan tulus. Antar tiga unsur perubahan di dalam organisasi menurut teori Vijay Sathe, yaitu kepemimpinan, struktur organisasi, serta iklim kerja atau budaya organisasi gereja dan lembaga-lembaganya tidak bergerak seirama.

Dengan kata lain, di dalam pelayanan, dalam berbagai terobosan harus terjadi sesuatu yang menghasilkan dampak pada generasi yang akan datang. Di sini, pada dasarnya memang kita perlu mengkaji apakah perubahan di bidang komunikasi serta pergerakan manusia ke kota-kota di Indonesia merupakan alat Tuhan untuk memberikan kita kesempatan membuat terobosan serupa itu atau merupakan ancaman yang dapat menyulitkan kita.

VII. Tantangan dan Apa yang Dapat Dilakukan?

Pada zaman yang lalu, ketika para misionaris memasuki suatu ladang baru, mereka umumnya bekerja dengan pola yang serupa, yaitu membentuk sistem pendidikan, rumah sakit/kesehatan, percetakan, dan kemudian tempat pemeliharaan iman/gereja. Demikianlah kajian Thomas van den End. Jelaslah mereka menggunakan pendekatan yang holistik, yang masih relevan untuk zaman ini, yaitu melalui pendidikan, sistem pemeliharaan kesehatan, sistem komunikasi, serta sistem pemeliharaan dan pembinaan iman untuk menggarami masyarakat di mana mereka melayani. Namun, apakah cara kerja kita untuk menggarami lingkup-lingkup tadi perlu diubah? Tentunya masih harus diperjelas. Untuk itu, kita perlu merangkum situasi pelayanan masa kini.

Bagaimana dengan situasi sekarang? Masyarakat sekarang jelas digarami oleh media massa. Selain itu, pluralitas di dalam tubuh gereja terus menjadi-jadi di samping usaha pengembangan kerja sama. Untuk situasi yang dinamis dengan perkotaan sebagai pusat orientasi, cara kerja pelayanan yang berabad-abad tidak pernah diubah agaknya perlu pengkajian ulang. Cara yang lama mungkin tidak lagi dapat meraih kesepian orang-orang yang sedang bingung, tergoyah (displaced), serta lelah mengkaji alternatif jalur hidup karena perubahan yang demikian cepat sehingga mereka melarikan diri dengan mencari-cari kenikmatan dan hal-hal yang baru. Gereja yang lahir dari dalam budaya lisan dan menyelam ke budaya tulisan, sekarang harus meraih manusia yang berbudaya elektronis. Gereja mungkin mengalami kesulitan untuk memahami manusia yang berbudaya elektronis, apalagi untuk mampu berkomunikasi dengan mereka tentang Injil dan menyimak mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi tentu merupakan tantangan besar yang bersifat teologis dan budaya yang menuntut kerendahan hati kita dalam menjawabnya. Kita perlu menggumuli apa inti pelayanan dan bagian manakah yang dapat ditawar karena itu merupakan alas dalam menjalankan pelayanan tadi.

Tantangan lain terjadi pada tingkat manajerial pelayanan. Bila pada abad pertengahan dan zaman sebelum abad X gereja-gereja menguasai kota bersama para bangsawan dan kemudian bersama para pedagang, sekarang keadaan sudah lain. Tidak lagi mungkin sistem sekolah, rumah sakit, media massa, dan gedung-gedung gereja dimiliki oleh satu kelompok gereja yang bercorak iman yang sama walaupun gereja tadi berpusat di perkotaan, di mana segala sumber daya dan dana tersedia. Biaya overhead dan operasional akan terus berkembang melebihi daya dukung finansial yang dapat dikumpulkan oleh gereja dari warga dan donatur-donatur besarnya. Kompleksitas dan ragam pelayanan yang semakin membutuhkan pelayan-pelayan spesialis dan bukan hanya generalis membuat pembiayaan untuk SDM semakin cepat meningkat pula.

Keadaan serupa ini menuntut gereja dan umat Kristen untuk menempuh strategi yang berbeda dari abad pertengahan dan abad lain sebelum abad XX. Pertama, pelayanan harus ditangani, baik oleh gereja maupun oleh organisasi yang bercorak Kristen, walaupun organisasi tadi tidak dimiliki oleh gereja. (Pertanggungjawaban dan kaitan organisasi tadi ke gereja adalah melalui pertanggungjawaban moral-spiritual, bukan lagi struktural dan organisasional.) Dengan demikian, hubungan antara "church" dan "parachurch", yang notabene sudah ada lama di tanah air ini, harus dijadikan sinergi daripada dipandang sebagai persaingan, serentak dengan semakin lancarnya komunikasi antara pribadi orang Kristen yang saling berbeda serta telah ditembusnya batas-batas denominasi dan gaya spiritual serta gaya kerja pelayanan masing-masing.

Kedua, hubungan sinergisme antargereja sendiri menjadi hal yang tidak lagi dapat ditawar dalam rangka mewujudkan pelayanan yang berdaya raih luas dan mendalam. Hal ini tidak berarti bahwa gereja harus meleburkan diri dengan wujud yang besar. Pendekatannya harus bagaikan internet, yaitu independen, tetapi interdependen dalam network. Tidak lagi mungkin pada zaman yang berubah cepat ini kita berkomunikasi sendiri, mengatur jalur kerja dan pelayanan sendiri, serta membuat pelayanannya sendiri pula. Zaman ini menuntut kerja sama dan aliansi strategis seperti yang disampaikan konsultan internasional Keniichi Ohmae. Menarik sekali bahwa berita ini disampaikan dari luar gereja dan sangat menggemakan apa yang disampaikan oleh firman Tuhan. Jadi, pengelolaan dan pembangunan rumah sakit, wisma pelatihan, atau sharing gedung gereja besar, dan sebagainya perlu dipikirkan sebagai suatu pilihan. Hal ini semakin mendesak terutama dengan terbukanya kesempatan untuk pengabaran Injil secara utuh melalui media massa, suatu usaha yang membutuhkan modal, sumber daya manusia, dan network yang sangat besar dan tidak mungkin dikelola untuk jangka panjang oleh satu dua kelompok Kristen.

Ketiga, network merupakan salah satu tiang utama dalam usaha apa saja di Indonesia. Tanpa network yang memadai di dalam dan luar negeri, informasi serta relasi yang dimiliki tidak akan cukup membuat terobosan inovasi yang bersifat nasional dan berdampak untuk jangka panjang. Di sini, kita menyadari bahwa kebutuhan untuk membuat pusat informasi bersama untuk seluruh kelompok Kristen akan menjadi tugas besar dalam waktu dekat. Pusat ini mungkin tidak harus besar dalam arti fisik, tetapi besar di dalam kemampuannya mengolah data dan memperoleh data dari berbagai sentra informasi yang telah ada. Teknologi komunikasi jelas sangat memungkinkan hal tadi. Network juga membuat kita terhindar dari duplikasi. Misalnya, antar sekian banyak sekolah teologi dan perpustakaannya di Jawa Barat dapat dilakukan sistem sharing peminjaman majalah, sistem transfer kredit, dan sebagainya.

Keempat, keseluruhan kemungkinan pelayanan yang dipaparkan di atas memanggil kita untuk menoleh sepenuhnya kepada Salib Kristus dan tidak terpaku untuk memandang diri sendiri, gereja sendiri, atau luka-luka hubungan antara gereja dan organisasi parachurch pada masa lalu. Selanjutnya, kita harus mengadopsi apa yang disebut oleh Taichi Sakaiya sebagai sikap "outward looking". Untuk menyiapkan sikap mental tadi dan sikap iman serupa itu, suatu crash program dapat dilaksanakan, khususnya dalam pelatihan pembentukan wadah muda-mudi Kristen antargereja atau menghidupkan salah satu wadah yang masih berpotensi. Masa depan kota dengan teknologi dan pluralitasnya membutuhkan kaum pemimpin muda yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Memiliki sikap ingin bekerja sama,
  2. lebih berporos pada visi kerajaan Allah daripada visi yang terikat hanya pada denominasi, mampu membuat konsep pelayanan bersama para teolog,
  3. mampu mengenali kesempatan melayani, antara lain melalui dunia komunikasi dan lingkup kota-kota,
  4. andal dalam menyusun strategi,
  5. mampu menjamin pelaksanaan operasionalnya dan mampu memiliki hati yang peka pada kehendak dan kuasa Allah bagi kenyataan di Indonesia, antara lain lajunya pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya jumlah mereka yang lebih lemah secara pendidikan, ekonomi, dan politis daripada kita,
  6. mampu menangani pertumbuhan iman pribadinya secara serius.

VIII. Penutup

Kesimpulan sejauh ini ialah dunia Asia dan Indonesia bergerak ke kota dengan berbagai pola komunikasi dan pluralitas yang dihasilkannya. Kota berarti kebutuhan untuk pegangan hidup dan peta perjalanan iman di tengah dinamika yang sering membingungkan. Teknologi komunikasi dan polanya yang beragam berarti tersedianya kemungkinan kita meningkatkan daya jangkau dalam usaha penginjilan dalam arti yang holistik. Pluralitas berarti kita perlu menggunakan pendekatan network dalam menjalin keesaan dan bukan pendekatan struktural birokratis. Di pihak lain, perkembangan kota, teknologi komunikasi, dan pluralitas juga dapat menghasilkan manusia yang bingung, mau enak saja, dan terbius kesan.

Dari mana kita memulainya? Berbeda dari lembaga lain dan umat lain, gereja dan orang percaya tidak bisa tidak harus mulai merespons perubahan yang ada dengan kaitan yang kian mendalam dengan Allah di dalam Tuhan Yesus. Kerinduan untuk mengungkapkan kasih dan perasaan berutang pada karya keselamatan dan kasih-Nya yang demikian luhur, harus menjadi tumpuan dari segala karya pelayanan dan strategi baru yang akan ditempuh dalam rangka kita melaksanakan tugas sebagai saksi-Nya. Lebih lanjut lagi, perubahan yang ada harus dipandang selaku kesempatan untuk lebih mengkaji dan mendalami makna hubungan kita dengan Bapa. Dengan demikian, perubahan tidak dilihat sebagai ancaman yang harus ditangkal, tetapi sebagai kesempatan mencari kehendak-Nya dan menjalani lagi langkah kepatuhan bagi Kristus dan kerajaan-Nya, serta sekaligus menunjukkan kasih kita bagi-Nya. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi dan demikian mendasar mempertanyakan sedalam-dalamnnya siapa diri kita dan sejauh mana kita bersedia bergantung pada kehendak-Nya.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Jurnal Pelita Zaman, Volume 12, Nomor 01 (Mei 1997)
Judul bab : Peta Perubahan Teknologi Komunikasi dan Dampaknya Bagi Pelayanan Pada Abad XXI
Penulis : Robby I. Chandra
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman
Halaman : 53 -- 67

Roh Kudus: Oknum Ketiga Allah Tritunggal

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selama bulan April -- Juni, kita merayakan empat peristiwa berturut-turut yang sangat penting dalam sejarah kekristenan, yaitu kematian Tuhan Yesus di kayu salib, kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian, kenaikan-Nya ke surga, dan penggenapan janji-Nya tentang Penolong yang akan datang, yaitu Roh Kudus, yang jatuh tepat pada Hari Raya Pentakosta. Dalam artikel bulan ini, kita akan melihat kepada Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Pribadi Allah yang peran-Nya mungkin paling sering diremehkan oleh orang Kristen masa kini. Banyak orang Kristen salah dalam mengenali Roh Kudus: mereka sering kali menganggap bahwa Roh Kudus hanyalah kuasa dari Allah, keberadaan-Nya dibatasi hanya pada munculnya fenomena-fenomena rohani yang spektakuler, bahkan tidak jarang orang Kristen yang berusaha mengendalikan atau bersikap tidak hormat kepada Roh Kudus. Banyak juga lembaga gereja yang menuduh gereja lain "tidak ada Roh Kudusnya" hanya karena tidak pernah menggunakan "bahasa roh" di dalam ibadah.

Artikel di bawah ini diambil dari buku berjudul "Allah Tritunggal" yang ditulis oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Artikel ini berusaha meluruskan pandangan orang Kristen terhadap Roh Kudus dengan menunjukkan beberapa pengajaran yang salah mengenai Roh Kudus serta memberikan bukti-bukti bahwa Roh Kudus adalah Pribadi, Oknum ketiga dari Allah Tritunggal. Kiranya artikel ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
edisi 152 - Roh Kudus: Oknum Ketiga Allah Tritunggal
Isi: 

Pada waktu Yesus baru memulai pekerjaan-Nya sebagai Mesias, Dia mengutip dari Kitab Yesaya, sebagai berikut:

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19)

Dalam ayat ini, kita melihat dengan jelas ketiga Pribadi: Allah Bapa mengurapi Yesus Kristus dengan pengurapan Roh Kudus dan mengutus Dia masuk ke dalam dunia. Hal yang sama terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:38,

"yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia."

Di sini, sekali lagi, muncul tiga Pribadi; Allah Bapa mengurapi Allah Anak dengan Allah Roh Kudus. Yang mengurapi adalah Bapa, yang diurapi adalah Kristus, dengan urapan Roh Kudus.

Pada waktu Yesus Kristus berada di dunia, Ia pernah mengajarkan mengenai Roh Kudus kepada murid-murid-Nya. Dalam pengajaran-Nya itu, dengan sangat jelas Ia memberitahukan beberapa sifat Roh Kudus yang hanya dimiliki oleh Allah. Yesus pernah mengajar murid-murid-Nya dengan berkata,

"Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni." (Lukas 12:10)

Apa arti ayat di atas? Ada dua kemungkinan interpretasi yang salah terhadap ayat ini, yaitu (1) Tafsiran yang salah menganggap Roh Kudus lebih besar daripada Pribadi yang lain (Yesus Kristus, Anak Allah) sehingga kalau berdosa terhadap Anak masih bisa diampuni, sedangkan berdosa terhadap Roh Kudus tidak bisa diampuni lagi, sebab tingkatnya lebih tinggi. (2) Roh Kudus mempunyai sifat yang lebih keras sehingga tidak mau mengampuni kesalahan orang; sedangkan Pribadi yang lain (Anak Allah) lebih bersifat rahmani, murah hati, dan suka mengampuni. Walaupun kedua interpretasi di atas salah, tetapi paling tidak kita mengetahui bahwa Roh Kudus mempunyai hak, kedudukan sebagai Allah yang tidak bisa lebih rendah dari Pribadi yang lain (Anak Allah). Siapakah Roh Kudus itu?

Dalam Wahyu yang progresif (Progressive Revelation) dan dalam mengajarkan tentang Roh Kudus yang akan datang, Kristus sudah memberitahukan beberapa sifat Roh Kudus yang penting berikut ini:

"Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya," (Yohanes 14:16)

Ada Alkitab bahasa Indonesia yang tidak mencantumkan kata "selama-lamanya" pada ayat ini. Kata ini memang tidak ada di dalam Alkitab bahasa aslinya. Namun, kala yang dipakai (aorist tense) di sini menunjukkan arti selama-lamanya. Jadi, sifat kekal dari Roh Kudus dinyatakan oleh Tuhan Yesus di sini. Adakah, pernahkah, seorang nabi atau seorang rasul yang hidup di dunia ini menyertai murid-muridnya atau para pengikutnya sampai selama-lamanya? Tidak ada. Jika demikian, siapakah Dia yang dijanjikan oleh Kristus kepada mund-murid-Nya ini? Dalam ayat selanjutnya (ayat 17) dijawab:

"yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu."

Justru inilah yang membuat jaminan hidup kekal menjadi mungkin karena Roh itu adalah Roh Pemberi Hidup, dan Roh itu akan bersama-sama dengan kita untuk selama-lamanya. Itulah sifat kekekalan yang dimiliki oleh Roh Kudus, sifat Allah, sifat yang tidak lebih kecil daripada Anak. Sifat ilahi dari Roh Kudus juga diberitahukan di dalam Yohanes 3:34:

"Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas."

Tidak terbatas adalah "ousia" atau sifat asasi dari Allah. Siapakah yang tidak terbatas, selain Allah sendiri? Di sini, dikatakan bahwa Roh Kudus tidak terbatas, berarti Roh Kudus mempunyai sifat yang hanya ada pada Allah.

Sifat-sifat ilahi Roh Kudus muncul dalam banyak ayat lainnya. Hal ini disangkal oleh aliran-aliran yang disebut Saksi Yehovah, Unitarianisme, Monarchianisme, Modalistic Monarchianisme atau yang disebut juga Sabelianisme, serta Liberalisme. Kita hanya akan membahas sedikit mengenai Sabelianisme di sini karena secara tidak disadari, ajaran ini sekarang sedang menjalar di Indonesia.

Sabelianisme mengajarkan bahwa Allah itu Esa, tetapi mereka tidak percaya adanya tiga Pribadi. Mereka berusaha menjelaskan segala indikasi yang menunjukkan bahwa Allah Tritunggal di dalam Alkitab hanya sebagai semacam persona (Pribadi) yang diartikan sebagai topeng. (Sangat disesalkan, bahwa istilah persone dalam bahasa Latin, yang kemudian diterjemahkan menjadi person di dalam bahasa Inggris dan menjadi pribadi dalam bahasa Indonesia, mula-mula mempunyai pengertian topeng, yaitu topeng yang dipakai di dalam sandiwara.) Maksudnya, seorang pelaku sandiwara dapat berperan sebagai dua atau lebih tokoh dengan menggunakan topeng. Misalnya, pada babak pertama, dia berperan sebagai orang tua dengan memakai topeng orang tua, kemudian pada babak yang lain dia berperan sebagai anaknya sendiri dengan memakai topeng seorang anak. Dengan demikian, seorang pelaku dapat muncul beberapa kali dengan topeng yang berbeda-beda. Tentu saja, para penontonnya tidak tahu; mereka tertipu oleh topeng-topeng itu. Istilah persone inilah yang diambil oleh segolongan orang dan mengartikannya sebagai topeng-topeng untuk memainkan peranan yang berbeda-beda. Maka, golongan Sabelianisme merasa mudah untuk mengartikan Allah Tritunggal, yaitu sebagai Allah Yang Esa yang mempunyai tiga peranan: dalam zaman Perjanjian Lama, Allah berperan sebagai pelaku pertama dengan memakai topeng Bapa; kemudian dalam zaman Perjanjian Baru, Allah yang sama muncul dengan memakai topeng Anak berperan sebagai Allah Anak; dan setelah Yesus naik ke surga, Dia datang kembali dengan memakai topeng ketiga sebagai Roh Kudus. Bandingkan dengan, misalnya: Pada waktu saya di mimbar, saya berperan sebagai pengkhotbah; di rumah saya sebagai seorang ayah atau kepala keluarga; pada waktu saya mengajar di sekolah saya sebagai seorang guru atau dosen.

Itu bukan konsep Tritunggal, melainkan tunggal yang tritopeng, triperanan atau tripelaku, dan trifungsi. Seorang pelaku yang memerankan tiga tokoh dengan tiga topeng; kelihatannya seperti ada tiga pelaku, padahal cuma seorang pelaku dengan tiga peranan. Demikianlah Sabelianisme (dari seorang yang bernama Sabelius yang hidup pada abad kedua) atau Modalistic Monarchianime menjelaskan mengenai Tritunggal. Ajaran ini termasuk bidat, bukan ajaran Tritunggal yang sesuai dengan Alkitab.

Di dalam Tritunggal, Pribadi Pertama bukan Pribadi Kedua, dan Pribadi Kedua bukan Pribadi Ketiga. Berlainan Pribadi bukan berarti lain Allah, melainkan tetap satu Allah; satu Allah mempunyai tiga Pribadi, dan tiga Pribadi berada di dalam satu esensi Allah; inilah Tritunggal.

Jika kita menerima ajaran Sabelianisme, kita menerima bahwa ketika Allah mengutus Anak-Nya di dunia, berarti Allah mengutus dan diutus oleh diri-Nya sendiri karena pribadi yang bertopeng pertama itu mengutus dirinya sendiri yang bertopeng kedua. Jadi, yang mengutus adalah yang diutus. Kalau demikian, kita tidak bisa menghindarkan diri dari kesalahan teologis yang lain, yang disebut Patripachianisme, yaitu kesengsaraan Bapa sendiri. Maksudnya, pada waktu Yesus Kristus disalibkan, berarti Allah Bapa yang dipaku karena Bapa sedang memakai topeng Anak, datang ke dunia, dan disalibkan; Dia sendiri yang mengalami penderitaan dan sampai mati. Kalau Pribadi Pertama yang memakai topeng Pribadi Kedua itu mati, berarti Allah itu mati; dan pada waktu Allah mati, siapakah yang menopang alam, semesta ini? Teologi tidak semudah apa yang mungkin kita pikirkan. Bukankah banyak orang tidak menyukai teologi; mereka lebih menyukai khotbah-khotbah yang berisi banyak cerita, pengalaman, kesaksian, yang enak dan mudah didengar, yang lucu-lucu, serta yang ajaib. Tetapi, sadarkah kita bahwa orang-orang bidat yang menamakan diri Saksi-saksi Yehovah telah mendapatkan 70% anggotanya dari Protestan dan Katolik, Mormon 80%. Celakalah kalau gereja-gereja dan para pemimpinnya tidak mengajarkan doktrin-doktrin yang benar dan penting kepada anggota-anggotanya. Alkitab selalu memperingatkan, "Peliharalah firman Tuhan! Peganglah ajaran-ajaran yang benar! Bertekunlah di dalam pengajaran-pengajaran yang murni! Jangan berkompromi, tetapi lawanlah ajaran-ajaran yang sesat! Pertahankanlah ajaran yang benar sampai Tuhan Yesus datang kembali!" Sejarah sudah menjadi guru besar bagi kita. Seorang filsuf Jerman bernama Hegel pernah mengucapkan suatu kalimat yang mengejutkan, "Pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa manusia tidak menerima pengajaran sejarah." Sejarah sudah mengajarkan kepada kita bahwa ajaran-ajaran bidat sudah muncul; isi ajarannya dan cara munculnya sudah dipelajari, namun manusia masih saja tidak waspada. Pintu selalu dibiarkan terbuka sehingga generasi berikutnya juga ditelan oleh ajaran-ajaran bidat itu. Mari kita menantang arus pengajaran yang tidak beres di zaman ini dengan menanamkan ajaran-ajaran secara ketat.

Gnostiksisme dan Arianisme yang hanya mempertahankan Keesaan Allah tanpa memedulikan kemungkinan adanya tiga Pribadi di dalam diri Allah Yang Esa itu, akhirnya jatuh kepada kepercayaan terhadap Yesus yang moralis saja, tanpa bersifat ilahi, dan menganggap Roh Kudus sebagai yang tidak berpribadi. Mereka tidak mau memerhatikan kesaksian Alkitab yang demikian banyak mengenai ketiga Pribadi Allah.

Apakah Roh Kudus hanya kuasa? Apakah Roh Kudus hanya semacam prinsip? Apakah Roh Kudus berpribadi? Yang disebut pribadi paling tidak mempunyai tiga unsur: (1) Unsur rasio, sehingga dapat berpikir serta mempunyai pengertian akan kebenaran; (2) Unsur emosi, sehingga bisa mencintai, membenci, sedih, berduka, sukacita, dan sebagainya; (3) Unsur kemauan, sehingga mempunyai kebebasan untuk bertindak menurut kemauan yang ada. Jika demikian, apakah Roh Kudus hanya semacam embusan angin atau kuasa, atau prinsip pekerjaan Allah saja? Ataukah sebaliknya, Roh Kudus adalah satu Pribadi?

Alkitab memberikan penjelasan mengenai Roh Kudus di dalam ayat-ayat berikut:

  1. Roh Kudus adalah Kebenaran

  2. "Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran." (1 Yohanes 5:6)

    Yesus Kristus pernah berkata, "Akulah Kebenaran," maka kebenaran yang ada pada Kristus itu menjadi "ousia" ilahi. Demikian juga, kebenaran yang ada pada diri Roh Kudus itu pun menjadi "ousia" ilahi, sebab Roh Kudus adalah kebenaran. Lain halnya jika kita memikirkan mengenai kebenaran, maka kita hanya sebagai orang yang berhak untuk mempunyai dan melakukan fungsi intelek memikirkan tentang kebenaran. Namun, Roh Kudus adalah diri Kebenaran itu sendiri. Roh Kudus bukan saja berintelek, tetapi juga menjadi sumber segala intelek. Roh Kudus bukan hanya mempunyai rasio, tetapi juga merupakan Sumber segala rasio yang benar karena Dia adalah Kebenaran itu. Bukan saja demikian, Roh Kudus adalah Roh yang mewahyukan kebenaran, dan Roh yang memimpin masuk ke dalam segala kebenaran.

    "yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak dapat melihat Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, Sebab Dia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu" (Yohanes 14:17).

    "Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku." (Yohanes 15:26)

    "Tetapi apabila Dia datang, yaitu Roh Kebenaran, Dia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Dia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Dia akan memberikan kepadamu hal hal yang akan datang." (Yohanes 16:13)

    Roh Kebenaran bukan saja mempunyai kebenaran pada diri-Nya, tetapi Dia adalah diri kebenaran itu sendiri; bukan saja diri kebenaran, tetapi Dia juga adalah Pewahyu kebenaran; bukan saja Pewahyu kebenaran, tetapi juga yang memimpin pikiran manusia masuk ke dalam kebenaran. Dia bukan saja mempunyai rasio, tetapi Dia adalah Sumber dari semua makhluk yang berasio. Inilah unsur pertama yang dimiliki Roh Kudus, yang menunjukkan Dia adalah satu Pribadi, yaitu rasio.

  3. Roh Kudus Memiliki Emosi

  4. Roh Kudus mempunyai kasih, dan kasih Allah dicurahkan kepada kita justru melalui Roh Kudus.

    "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:5)

    Roh Kudus juga bisa merasa sedih dan berduka, sebagaimana tertulis di dalam Efesus 4:30,

    "Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan."

    Apa yang dimaksud mendukakan Roh Kudus di sini? Ini berarti membuat Dia sedih dan susah karena ketidaktaatan manusia. Sebagaimana seorang ibu yang penuh kasih sayang sedih melihat anaknya yang tidak taat kepadanya, demikianlah Roh Kudus menjadi sedih apabila kita tidak taat kepada-Nya karena Dia dikaruniakan kepada setiap orang yang percaya; Roh Kudus menjadi materai dan berdiam di dalam diri setiap orang yang sungguh-sungguh telah diperanakkan kembali oleh-Nya sendiri.

  5. Roh Kudus Memiliki Kemauan, Kebebasan, Ketetapan

  6. "Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu ini." (Kisah Para Rasul 15:28)

    Ayat ini mengenai larangan makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala dan daging dari binatang yang mati lemas, larangan minum darah, serta percabulan. Ini adalah keputusan Roh Kudus dan rasul-rasul. Jadi, kita melihat, Roh Kudus mempunyai kemauan untuk mengambil keputusan. Roh Kudus bukan hanya kuasa, gerakan, atau prinsip kerja Allah; Roh Kudus adalah satu Pribadi yang mempunyai kemauan serta kemampuan memberikan keputusan atau ketetapan.

    "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah." (Roma 8:14) Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut." (Roma 8:2)

    Roh Kudus, bukan saja memberikan keputusan bagi manusia, tetapi juga memimpin manusia. Roh Kudus bukan saja memimpin manusia, tetapi juga memberikan kebebasan kepada manusia sehingga di tempat Roh Kudus berada, di situ juga ada kebebasan. Roh Kudus bukan saja mempunyai kebebasan memimpin manusia masuk ke dalam manusia, tetapi juga memimpin manusia masuk ke dalam kebebasan. Roh Kudus juga mengutus orang untuk melayani Tuhan. Misalnya, Roh Kudus mengutus Barnabas dan Saulus dari Antiokhia untuk mengabarkan Injil keluar:

    "Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus,'Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.'" (Kisah Para Rasul 13:2)

    Pengutusan itu direncanakan dan ditetapkan oleh Roh Kudus. Roh Kudus bukan saja memberikan pimpinan positif, namun kadang-kadang juga memberikan pimpinan negatif. Roh Kudus bisa merintangi seseorang pada saat-saat dan di tempat-tempat tertentu dalam hal tertentu. Misalnya, Roh Kudus mencegah Paulus dan Silas untuk memberitakan Injil di Asia karena Roh Kudus ingin agar mereka memberitakan Injil ke Makedonia yang menjadi pintu gerbang untuk Injil masuk ke daratan Eropa (Kisah Para Rasul 16:6-12).

    Siapakah Roh Kudus? Jika Roh Kudus bukan Pribadi, bagaimanakah Dia dapat mengambil keputusan, bagaimanakah Dia dapat mengutus, bagaimanakah Dia dapat membebaskan kita dan memimpin kita masuk ke dalam kebebasan? Roh Kudus adalah satu Pribadi, yaitu Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Allah Tritunggal
Judul bab : Roh Kudus Oknum Ketiga Allah Tritunggal
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993
Halaman : 75 -- 85

Pikullah Salibmu dan Ikutlah Aku

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pertama-tama, kami segenap redaksi e-Reformed mengucapkan SELAMAT PASKAH! Semoga Paskah tahun ini mempunyai makna rohani yang berkesan bagi kita masing-masing.

Artikel e-Reformed untuk bulan April ini diambil dari buku karya John Piper berjudul "Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia". Salah satu tuntutan orang Kristen adalah memikul salib. Memikul salib berarti rela menanggung segala penderitaan sebagai konsekuensi dari mengikut Kristus. Memikul salib berarti rela putus hubungan dengan hal-hal yang kita cintai demi mengikut Kristus. Sebagaimana yang dikatakan Paulus bahwa penderitaan adalah sebuah anugerah, seharusnya kita boleh berbangga dan bersukacita jika suatu saat kita menghadapi penderitaan karena Kristus. Memang hal ini tidak mudah, tetapi itulah yang menjadi identitas seorang pengikut Kristus, seperti yang telah dialami para pendahulu kita yang telah berhasil memperjuangkan dan mempertahankan iman sampai akhir.

Biarlah mengikut Kristus dengan segala konsekuensinya menjadi kerinduan bagi setiap kita. Kiranya Allah Roh Kudus dengan segala kasih karunia-Nya terus menyertai dan memampukan kita untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Penulis: 
John Piper
Edisi: 
edisi 151 - Pikullah Salibmu dan Ikutlah Aku
Tanggal: 
23 April 2014
Isi: 

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:24-25)

"Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Markus 1:17)

"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12)

"Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Matius 8:22)

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21)

Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah (Yohanes 1:1, 14). Ia bukan Allah dalam bungkus manusia, seperti kostum. Ia nyata, manusia dengan darah daging, seorang anak tukang kayu (Markus 6:3). Karena itu, ketika Ia berkata kepada para penangkap ikan dan pemungut cukai, "Ikutlah Aku," ketaatan mereka adalah konkret, perbuatan fisik yang menjejakkan kaki mereka ke tanah dan berjalan di belakang Yesus dan menjadi bagian dari tim perjalanan Yesus.

Mengikut Yesus Ketika Ia Tidak Lagi Di Sini

Yesus tahu bahwa Ia tidak akan selalu berada di bumi bersama pengikut-pengikut-Nya dalam pengertian fisik. "... tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, ... Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yohanes 16:5,7) Yesus sadar sepenuhnya bahwa gerakan yang telah dimulai-Nya akan berlanjut setelah ia kembali kepada Bapa-Nya di surga. Ini adalah rencana-Nya.

Oleh sebab itu, tuntutan-Nya supaya kita mengikut Dia adalah relevan, bukan hanya pada masa Ia hidup secara fisik di dunia, melainkan juga sepanjang waktu. Ia dengan jelas menyatakan ini pada akhir pelayanan-Nya di bumi. Ia telah bangkit dari kematian dan akan kembali kepada Bapa-Nya. Ia mengatakan kepada Petrus bahwa suatu hari, ia akan mengalami mati syahid setelah Yesus naik ke surga. Petrus bertanya-tanya apakah ia orang satu-satunya sehingga ia bertanya kepada Yesus apa yang akan terjadi dengan rekan rasul yang lain, yaitu Yohanes. Yesus menjawab, "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku." (Yohanes 21:22)

Implikasi tentang mengikut Yesus ini terjadi setelah Yesus naik ke surga. Sampai Yesus datang kembali, Ia berharap murid-murid-Nya di dunia tetap mengikut Dia. Jadi, mengikut Yesus tidak dibatasi dengan berjalan secara fisik di sekitar Palestina di belakang Yesus. Yesus menuntut hal ini pada setiap orang, di setiap negara, di setiap zaman.

Mengikut Yesus Berarti Melakukan Seperti yang Yesus Lakukan

Ketika Yesus berkata kepada Petrus dan Andreas, yang pekerjaannya adalah menangkap ikan, "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Markus 1:17), Ia menggunakan perumpamaan yang berhubungan langsung dengan mereka, untuk sesuatu yang dapat diaplikasikan kepada setiap orang yang mengikut Yesus. Tuntutan untuk mengikut Yesus berarti bahwa setiap orang harus bersama Dia, melakukan apa yang Ia lakukan. Dan, berkali-kali Ia mengatakan apa yang Ia maksudkan. "Anak Manusia datang ... untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45) "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10) "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32) "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10) "Apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!" (Yohanes 12:27-28)

Kesimpulannya, Ia datang untuk "mati bagi bangsa (Israel), dan bukan hanya untuk bangsa Israel, namun juga untuk menyatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai di luar (Yohanes 11:51-52). Ia datang untuk mengumpulkan suatu umat, khususnya untuk mengumpulkan suatu umat yang setia kepada-Nya untuk kemuliaan Bapa-Nya, dengan mati untuk menyelamatkan mereka dari dosa dan memberi mereka hidup kekal dan suatu etika kasih yang baru seperti diri-Nya (Yohanes 13:34-35). Oleh sebab itu, ketika Ia menuntut agar kita mengikut Dia, yang Ia maksudkan ialah kita ikut bersama-Nya dalam tugas mengumpulkan. "Siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." (Lukas 11:23) Tidak ada pengikut netral; kalau kita tidak mengumpulkan, kita mencerai-beraikan. Mengikut Yesus berarti melanjutkan pekerjaan-Nya, yang untuk itulah Ia datang -- mengumpulkan umat yang setia kepada-Nya untuk kemuliaan Bapa-Nya.

Mengikut Yesus dalam Penderitaan

Mengajak kita untuk turut melanjutkan pekerjaan-Nya, termasuk menderita bersama-Nya, merupakan tujuan kedatangan Yesus. Mengikut Yesus berarti kita ikut dalam penderitaan-Nya. Ketika Yesus memanggil kita untuk mengikut Dia, dalam hal inilah Ia menekankan, Ia tahu bahwa Ia menuju ke salib dan Ia menuntut kita melakukan hal yang sama. Ia menata seluruh kehidupan dan pelayanan-Nya untuk pergi ke Yerusalem dan dibunuh. "Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem." (Lukas 13:33)

Maka, "Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem." (Lukas 9:51) Dan, Ia tahu secara tepat apa yang akan terjadi di sana. Semuanya itu telah direncanakan Bapa-Nya ketika Bapa mengutus-Nya ke dalam dunia. "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit." (Markus 10:33-34) Itulah rencana-Nya-sampai detail-detail ketika Ia diludahi.

Itulah rancangan kehidupan-Nya. Dan, Ia tahu bahwa penderitaan-Nya juga akan menimpa mereka yang mengikuti Dia. "Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu." (Yohanes 15:20) Maka, fokus yang pantang mundur dari tuntutan-Nya ialah bahwa kita mengikut Dia dalam penderitaan. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24) Yesus menekankan pada kata menyangkal diri dan memikul salib.

Menderita Demi Yesus dengan Sukacita Menunjukkan Nilai Tertinggi Yesus

Yesus tidak mati untuk menjadikan kehidupan kita mudah dan makmur. Ia mati untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi sukacita kekal yang akan kita peroleh dari-Nya. Dan, Ia memanggil kita untuk mengikut Dia dalam penderitaan-Nya karena penderitaan dan sukacita ini adalah demi Yesus (Matius 5:12). Ini menunjukkan bahwa Ia lebih berharga daripada segala pahala yang ditawarkan dunia (Matius 13:44; 6:19-20). Jika Anda mengikut Yesus hanya karena Ia membuat kehidupan Anda mudah saat ini, itu akan memperlihatkan kepada dunia bahwa Anda mencintai apa yang mereka cintai, dan Yesus kebetulan menyediakan itu bagi Anda. Akan tetapi, jika Anda menderita bersama Yesus di jalan kasih karena Ia adalah harta yang tak ternilai bagi Anda, akan menjadi nyata kepada dunia bahwa hati Anda diarahkan kepada harta yang berbeda dari mereka. Itulah sebabnya, Yesus menuntut agar kita menyangkal diri dan memikul salib kita dan mengikut Dia.

Menderita Sementara Untuk Yesus; Bersukacita di dalam Yesus Itu Kekal

Tentu saja, penderitaan itu sementara. Tuhan tidak memanggil kita untuk penderitaan yang kekal. Ia menyelamatkan kita dari penderitaan. "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal." (Yohanes 12:25) "Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, Ia akan menyelamatkannya." (Markus 8:35) Menderita bagi Yesus adalah sementara. Sukacita di dalam Yesus adalah kekal. Ketika Petrus berkata (mungkin dengan sedikit nada mengasihani diri), "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau, ...." Yesus menjawab tanpa memanjakan rasa mengasihani diri Petrus, "Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (Matius 19:27,29) Dengan kata lain, tidak ada pengorbanan yang paling tinggi dalam mengikut Yesus. "... engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar." (Lukas 14:14) "... upahmu besar di sorga ..." (Matius 5:12)

Bahkan, sebelum surga, sukacita sudah berkelimpahan di sepanjang jalan yang keras dan memimpin kita melalui kematian menuju kebangkitan. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan sukacita berjalan di dalam terang bersama Yesus, sebagai lawan dari berjalan di dalam kegelapan tanpa Dia. Yesus berkata, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Mengikut Yesus memang dapat membawa kita mengalami penderitaan dan kematian. Namun, jalan-Nya menuju kepada terang, kehidupan, dan kebenaran. Yesus berjanji, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20) Dan, di mana Yesus hadir, di situ ada sukacita, sukacita di dalam penderitaan sekarang, namun tetap adalah sukacita. "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11)

Terputusnya Relasi dengan Sesama

Inilah sebabnya, terputusnya relasi sebagai konsekuensi dari mengikut Yesus tidak menghancurkan hidup kita, meskipun sangat mungkin terjadi putus relasi dengan orang lain, harta milik, atau dengan pekerjaan. Yesus mempunyai cara yang mengejutkan untuk menjelaskan harga mengikut Dia di dalam relasi dengan orang. "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Matius 8:22) "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." (Lukas 14:26) Dengan kata lain, mengikut Yesus begitu pentingnya sehingga Ia menuntut perilaku yang terkadang terlihat seperti membenci dunia. Saya melihat pilihan yang menyakitkan ini telah dihayati oleh para misionaris ketika mereka membawa anak-anak mereka yang masih kecil ke tempat-tempat yang berbahaya dan meninggalkan orang tua mereka yang telah lanjut usia, tak memelihara mereka, dan mungkin tidak akan melihat mereka lagi di dunia. Sebagian orang menyebutnya "tanpa kasih". Namun, Yesus melihat pada bangsa-bangsa dan apa yang dituntut oleh kasih demi bangsa-bangsa tersebut.

Putus Relasi dengan Harta Milik

Mengikut Yesus juga membuat kita putus relasi dengan harta milik. Suatu kali, ada seorang pemuda kaya yang sangat mencintai harta miliknya. Maka, Yesus memutus berhala dalam hatinya dengan tuntutan, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari, dan ikutlah Aku." (Matius 19:21) Jikalau ada sesuatu yang menghalangi jalan kita untuk mengikut Yesus, kita harus menyingkirkannya.

Hal ini bukan khusus untuk orang kaya tersebut, namun berlaku untuk kita semua. "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku." (Lukas 14:33) Melepaskan diri dari apa yang Anda miliki tidak selalu berarti menjual semua milik Anda. Yesus memuji Zakheus yang memberikan separuh dari harta miliknya untuk orang-orang miskin (Lukas 19:8-9). Akan tetapi, menjual semua berarti semua yang kita miliki tersedia sepenuhnya bagi Yesus untuk tujuan-tujuan yang menyenangkan Dia, dan bahwa harta itu tidak menghalangi ketaatan yang radikal terhadap perintah untuk mengasihi.

Putus Relasi dengan Pekerjaan

Juga ada putus relasi saat kita mengikut Yesus, yang berkenaan dengan pekerjaan kita. Ketika Yesus memanggil kedua belas murid untuk mengikut Dia, tidak seorang pun yang secara penuh menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah penangkap-penangkap ikan, pemungut cukai, dan sebagainya. Mereka mempunyai pekerjaan. Yang luar biasa adalah terjadi hal seperti ini: "Kemudian ketika Ia (Yesus) lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: 'Ikutlah Aku!' Maka berdirilah Lewi lalu mengikut Dia." (Markus 2:14) Itu yang terjadi (sejauh yang kita ketahui). Bagi kebanyakan kita, tentu tidak sesederhana itu. Namun, bisa terjadi demikian.

Mungkin hal ini terjadi pada Anda. Tidak setiap orang harus meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Yesus. Ketika seseorang mau meninggalkan kampung halamannya dan mengikut Yesus, Yesus berkata, "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau." (Markus.5:19) Kebanyakan dari kita tetap tinggal pada posisi dan relasi sekarang. Namun, tidak semuanya. Untuk sebagian orang, mungkin Anda (ketika Anda membaca ini), mengikut Yesus bisa berarti putus relasi yang riskan dengan pekerjaan Anda. Janganlah takut untuk mengikut Dia dan menjauh dari keadaan yang tidak asing bagi Anda.

Mengikut Yesus Itu Mahal dan Berharga

Yesus tidak ingin menjebak Anda dengan semacam umpan atau tombol untuk mengikut Dia. Ia sangat jelas tentang harga yang harus dibayar. Sebenarnya, Ia mendesak Anda untuk menghitung harganya. "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? ... Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?" (Lukas 14:28,31) Biarlah panggilan untuk mengikut Yesus menjadi jelas dan tulus. "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33) Sangat mahal dan sangat berharga.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul asli buku : What Jesus Demands From The Lord
Judul buku terjemahan: Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia
Judul bab : Pikullah Salibmu dan Ikutlah Aku
Penulis : John Piper
Penerjemah : Miriam Santoso
Penyunting : Chilianha Jusuf
Penerbit : SAAT, Malang 2012
Halaman : 69 - 75

Dietrich Bonhoeffer dan Konteks Gereja Pada Zamannya

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sudah lama kita tidak membahas tentang tokoh dan sejarah. Oleh karena itu, pada bulan ini, saya memilih artikel yang membahas tentang seorang tokoh gereja yang berani memperjuangkan kebenaran sampai mati pada zamannya, yaitu Dietrich Bonhoeffer. Beliau dengan berani dan tegas melawan pemerintahan diktator Hitler, yang pada saat itu melumpuhkan peran gereja dalam masyarakat. Karena kekejaman dan kekuasaan Hitler saat itu, bahkan gereja pun tutup mulut dan tutup mata. Gereja tidak berani memberikan teguran dan kritikan pada pemerintahan Hitler. Sosok seperti Bonhoeffer inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Orang yang di dalam minoritas, namun tetap berani bersuara memperjuangkan kebenaran.

Meskipun pada akhirnya beliau terlibat dalam organisasi yang merencanakan pembunuhan Hitler, tetapi kita dapat mengambil makna dari keberaniannya dalam memperjuangkan kebenaran. Untuk selengkapnya, silakan menyimak artikel berikut ini. Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed, Teddy Wirawan < teddy(at)in-christ.net > < http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 150/Maret 2014
Isi: 

Gereja dan negara adalah dua lembaga dalam masyarakat. Keduanya memiliki peran yang berbeda. Gereja adalah lembaga agama, sedangkan negara adalah lembaga politik. Dampak sekularisme menyebabkan gereja hanya berperan di wilayah privat, sedangkan negara berperan di wilayah publik. Akan tetapi, benarkah dikotomi seperti ini? Apakah gereja tidak memiliki peran apa pun dalam publik karena statusnya sebagai lembaga agama? Apakah gereja harus diam terhadap masalah-masalah sosial dan politik di dalam masyarakat? Dietrich Bonhoeffer akan menjawab dengan tegas, "Tidak."

Bonhoeffer adalah seorang teolog Jerman yang melakukan perlawanan terhadap rezim Hitler. Beliau menyadari kelumpuhan yang terjadi dalam gereja yang menutup mata terhadap kebijakan-kebijakan Hitler sampai akhirnya berujung pada Holocaust. Beliau menganggap urusan rohani bukan hanya terbatas di dalam gereja, melainkan juga di luar gereja.

Kehidupan Bonhoeffer

Sebelum melihat perlawanan Bonhoeffer, kita perlu memahami latar belakang kehidupannya. Bonhoeffer hidup pada tahun 1906-1945. Dia dilahirkan dalam keluarga terpelajar yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Ayahnya bernama Karl Ludwig Bonhoeffer, seorang profesor psikiatri dan saraf di Universitas Berlin, sedangkan ibunya bernama Paula von Hase, seorang guru yang menjadi ibu rumah tangga. Pada tahun 1924, Bonhoeffer mendaftar menjadi mahasiswa fakultas teologi di Universitas Berlin dan pada tahun 1927, ia mendapat gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Communio Sanctorum". Pada tahun 1929, ia memperoleh jabatan profesor setelah menyelesaikan habilitasi atau disertasi kedua yang berjudul "Act and Being".

Bonhoeffer adalah seorang akademisi. Dia menghabiskan waktunya dengan mengajar dan menulis. Beberapa karyanya yang sangat terkenal adalah "The Cost of Discipleship", "Life Together", dan "Ethics". Selain itu, dia juga aktif di dalam forum gereja-gereja, baik di Jerman maupun di dunia.

Ketika Bonhoeffer hidup, Jerman sedang mengalami perubahan politik. Perubahan yang pertama adalah kehancuran Kekaisaran Wilhelmine (Kaiserreich) yang disebabkan oleh Perang Dunia I. Kekaisaran Wilhelmine didirikan oleh Otto von Bismarck pada tahun 1871 untuk menjadikan Jerman sebagai negara paling kuat di Eropa. Pada masa itu, negara yang paling disegani di Eropa adalah Kerajaan Inggris Raya, dan untuk mengalahkan Inggris, Bismarck meningkatkan kekuatan militer dan industri Jerman. Keadaan ini membawa Jerman dalam Perang Dunia I, yang berakhir dengan kekalahan Jerman tahun 1918.

Perubahan yang kedua adalah kegagalan Republik Weimar. Setelah Perang Dunia I berakhir, Jerman kembali menata kehidupannya. Kekalahan Jerman dalam perang dianggap sebagai kegagalan sistem monarki yang didukung oleh kelompok intelektual dan industrialis. Sebab itu, kelompok oposisi, yaitu buruh, mengusulkan sistem parlementer. Gagasan ini kemudian dijalankan dalam bentuk republik yang dikenal sebagai Republik Weimar. Republik ini dibentuk dari koalisi kelompok-kelompok yang antimonarki. Akan tetapi, pemerintahan ini tidak berjalan dengan baik karena kelompok yang konservatif tetap ingin mempertahankan sistem monarki Wilhelmine. Dengan demikian, dalam negara Jerman terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu kelompok antimonarki dan kelompok antidemokrasi.

Keadaan ini diperparah oleh masalah ekonomi. Pasca-Perang Dunia I, Jerman mengalami inflasi yang tinggi karena harus membayar utang perangnya, akibatnya pemerintah tidak sanggup mengatasi kekacauan ekonomi. Pemerintahan Weimar tidak dapat mengatasi keadaan ini sehingga harus berakhir pada tahun 1933.

Perubahan yang terakhir adalah berdirinya pemerintahan Nazi (Nasionalis Sosialis). Pada tahun 1933, Partai Nazi yang dipimpin oleh Hitler mengambil alih kekuasaan. Hitler diangkat menjadi kanselir dan berjanji akan mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran di Jerman. Sejarah masa lampau yang begitu gemilang dan kenyataan di depan mata yang begitu menyedihkan menyebabkan rakyat Jerman mengharapkan seorang pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan Jerman seperti di era Bismarck dan Wilhelmine. Bagi rakyat Jerman, pengembalian harga diri dan kebanggaan Jerman adalah prioritas utama dan siapa pun yang dapat melakukannya akan didukung sepenuhnya. Tidak mengherankan jika saat itu tidak banyak yang melakukan perlawanan terhadap Hitler.[1]

Hitler kemudian mengubah sistem parlementer menjadi sistem totaliter. Dia mengangkat dirinya menjadi Führer, yaitu pemimpin tertinggi. Walaupun hampir sama dengan monarki absolut, tetapi ada perbedaannya. Dalam monarki absolut masih terdapat hukum yang dibakukan, tetapi raja berada di atas hukum tersebut, sedangkan dalam sistem totaliter Hitler, seluruh hukum adalah produk dari nilai-nilai dan pengalaman pribadi Sang Führer.[2]

Kemunculan Hitler memang memberikan pengharapan kepada bangsa Jerman, tetapi menghasilkan ketakutan kepada bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman. Demi mempersatukan semangat seluruh bangsa Jerman, Hitler meluncurkan propaganda tentang keunggulan ras Arya. Propaganda ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa Jerman. Akan tetapi, propaganda ini kemudian diikuti dengan propaganda anti-Yahudi. Hitler menjadikan bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman sebagai permasalahan bersama sehingga harus disingkirkan jika bangsa Jerman ingin mendapatkan kembali kejayaannya. Tentu saja propaganda ini mendapatkan dukungan dari rakyat Jerman yang sangat menginginkan Jerman kembali berjaya seperti dulu.

Hitler kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang memisahkan bangsa Jerman dari bangsa Yahudi. Semua orang Yahudi, yang memiliki jabatan di pemerintahan ataupun universitas, diberhentikan. Bahkan, pada tanggal 1 April 1933, Hitler mengumumkan pemboikotan terhadap toko-toko yang dimiliki orang Yahudi. Toko-toko orang Yahudi dijaga oleh tentara dan diberi tanda supaya orang Jerman tidak berbelanja ke sana. Selain itu, seluruh percetakan dan penerbitan yang dimiliki orang Yahudi juga ditutup karena dituduh menyebarkan kebohongan tentang pemerintahan Nazi.

Sejak Sang Führer menduduki tampuk kekuasaan, Jerman memasuki kekelaman yang tidak disadari oleh semua orang, kecuali beberapa orang yang masih berhati nurani seperti Bonhoeffer.

Anugerah Murahan dan Harga Sebuah Pemuridan

Kebijakan anti-Yahudi ini juga berimbas pada gereja karena Hitler membuat sebuah aturan pada gereja yang disebut dengan Paragraf Aryan. Peraturan ini bertujuan agar gereja sinkron dengan kebijakan Hitler. Dalam peraturan tersebut dikatakan gereja Protestan Jerman hanya untuk keturunan Arya, dengan demikian semua orang Kristen keturunan Yahudi yang sudah dibaptis di gereja tersebut harus dikeluarkan dari keanggotaan gereja. Selain itu, semua pendeta yang berdarah Yahudi juga tidak boleh melayani dalam gereja tersebut.

Kebijakan ini disambut baik oleh sebagian besar tokoh gereja Protestan pada saat itu. Akan tetapi, bukankah kebijakan ini salah? Mengapa gereja malah mendukungnya? Semuanya ini hanya bisa dipahami dengan melihat kondisi gereja Protestan di Jerman saat itu.

Gereja Protestan di Jerman telah menempati posisi yang penting dalam negara sejak zaman Martin Luther. Penguasa negara memberikan perlindungan penuh kepada gereja Protestan dan sebaliknya, gereja pun memberikan dukungan kepada penguasa. Hubungan ini terus berlangsung pada zaman Kekaisaran Wilhelmine. Para tokoh gereja memberikan dukungan mereka kepada cita-cita Bismarck untuk menjadikan Jerman sebagai negara terkuat di seluruh Eropa dan dunia sekalipun sampai harus berperang dengan negara lain. Para tokoh gereja pada saat itu sangat dipengaruhi oleh filsafat Hegel yang menyatakan bahwa sejarah merupakan pewahyuan dari roh yang absolut sehingga mereka berpikir bahwa Jerman merupakan perwujudan dari roh yang absolut tersebut. Dengan demikian, jika Jerman menjadi penguasa dunia, berarti Kerajaan Allah sudah hadir.

Hubungan antara gereja dan negara telah menyebabkan gereja menganggap kebanggaan Jerman sebagai kebanggaan mereka juga. Dengan demikian, kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I menyebabkan tokoh-tokoh gereja kehilangan kebanggaannya. Mereka menginginkan Jerman seperti pada era Kaisar Wilhelmine, maka tidak heran jika mereka menolak pemerintahan Republik Weimar.

Ketika Hitler muncul menjadi penguasa, dia berjanji akan mengembalikan kejayaan bangsa Jerman seperti masa lampau, tentu saja sebagian tokoh gereja bergairah mendengarkan hal ini. Selain itu, Hitler juga menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada gereja. Dia tidak melarang gereja Protestan di Jerman bahkan menyatakan gereja merupakan sumber kebudayaan yang penting bagi rakyat Jerman. Selain itu, Hitler menyatakan ketegasannya terhadap pemerintah Stalin di Soviet yang komunis yang dianggap sebagai musuh Tuhan oleh tokoh gereja di Jerman. Keadaan inilah yang menyeret gereja kepada kampanye anti-Yahudi Hitler.

Bonhoeffer melihat kondisi ini lebih jauh. Dia menyatakan sikap gereja seperti ini disebabkan karena anugerah murahan yang telah diajarkan dalam gereja Protestan. Gereja mengajarkan tentang keselamatan melalui iman sehingga yang penting adalah percaya dan setelah itu menjadi anggota gereja dan mengikuti rutinitas gerejawi. Anugerah murahan ini menyebabkan orang-orang Kristen di Jerman sangat menyukai kenyamanan, khususnya di dalam gereja. Tidak mengherankan jika gereja tidak berani untuk menyatakan kesalahan Hitler karena Hitler tidak mengusik kenyamanan di gereja.

Bonhoeffer mengingatkan gereja pada saat itu bahwa Kristus bukan memberikan anugerah yang murah, tetapi anugerah yang mahal. Anugerah yang mahal menuntut setiap orang yang menerimanya untuk mengikut Yesus Kristus seumur hidupnya dan harus menyangkal diri dan memikul salib. Bonhoeffer menyatakan ini dalam kalimatnya yang terkenal, "Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia memanggilnya untuk mati." Inilah yang disebut dengan harga sebuah pemuridan. Dengan demikian, setiap orang Kristen tidak boleh memikirkan kenyamanannya melainkan harus berani membayar harga demi ketaatannya pada Yesus Kristus, termasuk berani melawan pemerintah yang salah.

Gereja tidak boleh takut melawan kehendak Hitler jika memang tidak sesuai dengan kebenaran firman Allah. Bonhoeffer berkata, "The church has only one altar, the altar of the Almighty ... before which all creatures must kneel. Whoever seeks something other than this must keep away, he cannot join us in the house of God ... the church has only one pulpit, and from that pulpit, faith in God will be preached, and no other faith, and no other will than the will of God, however well-intentioned."

Bonhoeffer mendorong orang percaya agar tidak memerhatikan kenyamanan sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain termasuk orang tidak percaya. Gereja tidak boleh hanya memedulikan urusan internalnya, tetapi juga urusan lain yang terjadi di luar gereja. Bonhoeffer berkata, "The church is the church only when it exist for others. To make a start, it should give away all its property to those in need ... The church must share in the secular problems of ordinary human life, not dominating, but helping and serving."

Penutup

Kehidupan Bonhoeffer ditutup dengan tindakannya yang kontroversial, yaitu keterlibatannya dalam rencana pembunuhan Hitler. Hal ini menimbulkan sejumlah perdebatan etika di kalangan orang percaya. Kita tidak harus menyetujui tindakannya. Akan tetapi, Bonhoeffer menunjukkan sisi lain dari hubungan gereja dengan negara. Pada saat pemerintah melakukan keadilan, gereja harus menghormati otoritasnya tetapi ketika pemerintah melakukan ketidakadilan, bahkan kepada orang-orang di luar gereja, gereja seharusnya memberikan teguran kepada pemerintah.

Catatan Kaki:

  1. John A. Moses. Bonhoeffer’s Germany: the political context” dalam John W. de Gruchy (Ed.) “The Cambridge Companion to Dietrich Bonhoeffer” (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 17.

  2. Ibid, 16.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs atau URL : http://www.buletinpillar.org
Judul artikel : Dietrich Bonhoeffer
Penulis artikel : Calvin Bangun
Tanggal akses : 4 Februari 2014

Komentar