Kategori Utama

Penderitaan Sang Juruselamat


Editorial: 
Penulis: 
Louis Berkhof
Edisi: 
059/III/2005
Isi: 

Sejumlah hal perlu ditekankan berkenaan dengan penderitaan Kristus.

  1. Ia menderita seumur hidup-Nya di dunia.

    Berkenaan dengan kenyataan bahwa Yesus mulai membicarakan penderitaan yang akan dialami-Nya menjelang akhir hidup-Nya, kita sering cenderung untuk berpikir bahwa penderitaan-Nya di atas kayu salib merupakan penggenapan dari seluruh penderitaan-Nya. Tetapi sesungguhnya keseluruhan hidup-Nya adalah penderitaan. Ia harus mengambil rupa seorang hamba, padahal Ia adalah Allah semesta langit. Ia yang tidak berdosa setiap hari harus berhubungan dengan manusia berdosa. Hidup- Nya yang kudus harus menderita di dalam dunia yang terkutuk karena dosa. Jalan ketaatan menjadi milik-Nya bersamaan dengan jalan penderitaan-Nya. Ia menderita karena gangguan iblis yang datang berulang kali, dari kebencian dan ketidakpercayaan umat-Nya, dan dari perlawanan musuh-musuh-Nya. Oleh karena Ia harus masuk ke dalam pemerasan anggur itu sendiri, kesendirian-Nya pastilah merupakan suatu tekanan bagi-Nya, dan rasa tangung jawab-Nya menghancurkan. Penderitaan-Nya adalah penderitaan yang disadari, makin lama makin berat, semakin Ia mendekati akhirnya. Penderitaan yang dimulai sejak inkarnasi akhirnya mencapai titik puncak dalam "pasio magna" (penderitaan terbesar) pada akhir hidup-Nya. Kemudian murka Allah atas dosa segera menghambur ke arah-Nya.

  2. Ia menderita secara tubuh dan jiwa.

    Pernah ada satu masa di mana perhatian terlalu dipusatkan pada pendertiaan jasmani Kristus. Penderitaan ini bukanlah sekedar rasa sakit fisik yang tercakup dalam esensi penderitaan-Nya, tetapi juga rasa sakit yang disertai penderitaan rohani dan kesadaran sebagai seorang pengantara atas dosa umat manusia yang harus ditanggung-Nya. Kemudian menjadi suatu kebiasaan untuk meremehkan arti penting penderitaan secara jasmani, sebab dirasakan bahwa dosa sebagai suatu natur yang sifatnya spiritual. Pandangan-pandangan yang hanya menekankan satu sisi seperti ini harus kita hindari. Baik tubuh maupun jiwa manusia telah dipengaruhi dosa, dan karena itu hukuman atas dosa juga mencakup keduanya. Lebih lanjut Alkitab dengan jelas memberi penjelasan bahwa Kristus menderita dalam keduanya. Ia sangat berdukacita dan menderita di taman Getsemani, di mana jiwa-Nya "sangat takut, seperti mau mati rasanya" dan Ia ditangkap, disiksa, dan disalibkan.

  3. Penderitaan-Nya berasal dari berbagai sebab.

    Dalam pembicaraan sebelumnya kita melihat semua penderitaan Kristus bermula dari kenyataan bahwa Ia harus mengambil tempat orang berdosa sebagai seorang pengganti. Akan tetapi kita dapat membedakan beberapa penyebab secara terinci seperti:

    1. (1) Kenyataan bahwa Ia yang adalah Tuhan atas alam semesta harus menempati kedudukan manusia, bahkan kedudukan sebagai budak atau hamba yang terikat, dan bahwa Ia yang memiliki segala hak untuk memerintah sekarang harus diperintah dan harus taat.

    2. (2) Kenyataan bahwa Ia yang murni dan kudus harus hidup dalam lingkungan dan suasana yang sudah dicemari dosa, tiap hari harus bergaul dengan orang bedosa, dan senantiasa harus diingatkan tentang betapa besarnya dosa yang harus dipikul-Nya oleh karena dosa uamt-Nya.

    3. (3) Kesadaran-Nya yang sempurna dan antisipasi-Nya yang jelas sejak awal kehidupan-Nya tentang penderitaan tertinggi yang akan dialami-Nya pada akhirnya. Ia tahu dengan tepat apa yang akan Ia alami dan pengetahuan ini jelas tidak menimbulkan kegembiraan.

    4. (4) Juga hidup-Nya sendiri, pencobaan iblis, kebencian dan penolakan orang-orang atas diri-Nya, serta perlakuan yang tidak adil serta siksaan yang harus Ia tanggung.

  4. Penderitaan-Nya sangat unik.

    Kadang-kadang kita hanya membicarakan tentang penderitaan Kristus yang "biasa", disaat kita hanya sekedar melihat penderitaan yang disebabkan oleh kesusahan biasa dalam dunia ini. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa penyebab-penyebab ini jauh lebih banyak dialami oleh Juruselamat kita daripada yang kita alami sendiri. Lebih dari itu, bahkan penderitaan yang biasa ini pun sebenarnya memiliki sifat yang luar biasa dalam hal diri Kristus, dan dengan demikian pasti unik sifatnya. Kapasitas penderitaan-Nya berada pada sifat yang tepat dengan kemanusiaan-Nya, dengan kesempurnaan etis-Nya, dan dengan rasa kebenaran serta kesucian-Nya. Tak seorang pun yang dapat merasakan betapa beratnya rasa sakit dan dukacita dan kejahatan moral yang harus ditanggung oleh Yesus. Akan tetapi di samping penderitaan yang umum ini, ada lagi penderitaan yang lebih berat, yaitu bahwa segala pelanggaran dan kesalahan kita ditimpakan oleh Tuhan kepada-Nya seperti air bah. Penderitaan Sang Juruselamat tidaklah sepenuhnya terjadi apa adanya, tetapi juga merupakan tindakan positf yang dilakukan Allah (Yesaya 53:6,10). Pencobaan di padang gurun, penderitaan di taman Getsemani dan Golgota juga merupakan penderitaan yang secara khusus dialami oleh Tuhan Yesus.

  5. Penderitaan-nya dalam pencobaan.

    Pencobaan yang dialami Kristus membentuk bagian integral dari penderitaan-Nya. Pencobaan-pencobaan itu dialami-Nya dalam jalan penderitaan-Nya, Matius 4:1-11 (dan ayat paralelnya), Lukas 22:28; Yohanes 12:27, Ibrani 4:15; 5:7,8. Pelayanan-Nya di depan umum dimulai dengan suatu masa dimana Ia harus dicobai, dan bahkan setelah masa itu, pencobaan-pencobaan terus dialami-Nya dan berulang pada masa-masa makin mendekati taman Getsemani. Hanya melalui setiap pencobaan yang manusia alami, Yesus dapat sepenuhnya menjadi Imam Besar yang turut merasakan penderitaan, dan akhirnya Ia dapat menjadi bukti kesempurnaan dan kemenangan (Ibrani 4:15; 5:7-9). Kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan pencobaan Kristus sebagai Adam yang terakhir, betapa pun sulitnya bagi kita untuk memahami seseorang yang tidak dapat berdosa tetapi harus dicobai. Berbagai upaya pemecahan persoalan ini telah diusahakan, misalnya dengan mengemukakan bahwa dalam natur manusia Kristus, sebagaimana dengan natur dalam diri Adam, ada "nuda possibilitas peccandi", kemampuan abstrak untuk berdosa (Kuyper); bahwa kesucian Yesus adalah kesucian etis yang harus terus mencapai perkembangan dan terus mempertahankan diri dalam pencobaan (Bavinck); dan bahwa pencobaan itu sendiri sebetulnya berdasarkan hukum, dan berkenaan dengan naluri dan nafsu alamiah (Vos). Kendatipun demikian masih ada persoalan yang tinggal, bagaimana mungkin seseorang yang secara kenyataan tidak dapat berdosa, bahkan sama sekali tidak mempunyai kecenderungan terhadap dosa, tetapi harus berada di bawah pencobaan yang sesungguhnya.

KEMATIAN SANG JURUSELAMAT

Penderitaan Juruselamat kita pada akhirnya mencapai titik puncak tertinggi pada waktu kematian-Nya. Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

  1. Derajat kematian-Nya.

    Wajar apabila kita membicarakan kematian Kristus, pertama-tama kita membayangkan kematian jasmani, yaitu terpisahnya tubuh dari jiwa. Pada saat yang sama kita harus juga selalu ingat bahwa hal ini tidak menyingkirkan pengertian tentang kematian sebagaimana dikemukakan oleh Alkitab. Alkitab mempunyai pandangan sintetis (tiruan) tentang kematian, dan memandang kematian jasmani sebagai salah satu manifestasinya. Kematian adalah keterpisahan dengan Allah, akan tetapi keterpisahan ini dapat dipandang dari dua cara yang berbeda. Manusia memisahkan dirinya sendiri dari Allah melalui dosa, dan kematian adalah akibat yang wajar. Tetapi bukan kematian seperti ini yang dialami oleh Yesus, sebab Ia sama sekali tidak mempunyai dosa bagi diri-Nya sendiri. Dalam kaitan ini harus senantiasa diingat bahwa kematian bukanlah satu-satunya konsekuensi dosa yang natural, tetapi di atas semua itu merupakan hukuman atas dosa yang berdasarkan keadilan.

    Kematian adalah bagian manusia dan Tuhan datang menjumpai manusia dalam kemurkaan. Kematian Kristus harus dilihat berdasarkan titik pandang keadilan hukum ini. Allah menjatuhkan hukuman mati atas diri Sang Pengantara secara adil menurut hukum, sebab Sang Pengantara kita dengan sukarela mengambil alih pembayaran atas upah dosa umat manusia. Karena Kristus mengambil natur manusia dalam segala kelemahannya, dan hal ini terjadi setelah kejatuhan manusia, maka Kristus menjadi serupa seperti kita dalam segala sesuatu, kecuali bahwa Ia tidak berdosa, karena itu kematian berkuasa atas diri-Nya sejak awal dan dinyatakan dalam segala bentuk penderitaan yang dialami-Nya.

    Kristus adalah manusia yang penuh penderitaan dan sangat sering mengalami dukacita. Katekismus Heidelberg dengan tepat mengatakan bahwa "sepanjang umur hidup-Nya di dunia, akan tetapi terutama pada akhir masa hidup-Nya, Ia mengalami, dalam tubuh ataupun jiwa, murka Allah atas dosa dari seluruh umat manusia." Penderitaan-penderitaan ini diikuti oleh kematian-Nya di atas kayu salib. Akan tetapi ini bukanlah segalanya; Ia bukan saja harus berada di bawah kematian jasmani; tetapi juga kematian kekal, walaupun Ia menanggungnya secara intensif, bukan secara ekstensif, ketika Ia mengalami penderitaan di taman Getsemani dan ketika Ia di atas salib berteriak: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Dalam suatu masa yang amat singkat Ia menanggung murka yang tiada terbatas sampai akhir, dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Hal ini hanya mungkin bagi-Nya, karena natur diri-Nya yang sangat mulia. Akan tetapi, sampai saat ini kita harus berhati-hati agar tidak salah mengerti. Kematian kekal dalam kaitan dengan Kristus ini tidak termasuk dalam pemutusan keseluruhan hubungan antara Logos dan natur manusia, dan juga bukan berarti bahwa natur Illahi-Nya ditinggalkan oleh Allah, ataupun pemutusan kasih Allah Bapa atau kebaikan kemurahan pada pribadi Sang Pengantara. Logos tetap terikat dengan natur manusia bahkan juga ketika tubuh-Nya berada dalam kuburan; natur Illahi-Nya sama sekali tidak mungkin ditinggalkan oleh Allah; dan pribadi sang Pengantara tetaplah terus berada dalam objek kasih Allah. Kematian itu menyatakan diri dalam kesadaran manusiawi sang Pengantara sebagai suatu perasaan ditinggalkan oleh Allah. Hal ini mengandung arti bahwa natur manusia untuk suatu waktu kehilangan rasa kesadaran kenyamanan yang dapat diperoleh dari persekutuan dengan Logos Ilahi, dan perasaan kasih Ilahi; dengan penuh rasa sakit menyadari kepenuhan murka Allah yang sedang dicurahkan diatas-Nya. Tetapi bagaimanapun juga kita tidak perlu kecewa, sebab bahkan sampai pada waktu yang paling gelap sekalipun, pada saat Ia berteriak bahwa Ia ditinggalkan, Ia tetap mengarahkan doa-Nya pada Allah.

  2. Sifat yuridis kematian-Nya.

    Sangat perlu bahwa Kristus harus mati, bukan kematian alamiah atau kebetulan; dan Ia tidak harus mati di tangan para pembunuh, melainkan di bawah keputusan pengadilan. Ia harus terhitung di antara para pembuat pelanggaran, harus dituduh sebagai seorang terpidana. Lebih jauh lagi, hal ini secara providensia telah diatur oleh Allah bahwa Ia harus diadili dan dijatuhi hukuman oleh seorang hakim Roma. Orang- orang Roma sangat jenius untuk hukum dan keadilan, dan mewakili keadilan hukum tertinggi di dunia. Dapat diharapkan bahwa pengadilan sebelum pengadilan Roma menyajikan suatu pengadilan terhadap Yesus yang tidak bersalah, sehingga jelaslah bahwa Ia dihukum bukan karena perbuatan jahat yang Ia lakukan. Hal ini merupakan kesaksian yang jelas bahwa sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan, "Ia tercabut dari negeri orang hidup dan oleh sebab pelanggaran umat-Ku Ia menderita." Dan ketika pada akhirnya hakim Romawi itu menghukum orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia juga sedang menghukum dirinya sendiri serta juga keadilan manusia yang diterapkannya. Pada saat yang sama, ia sedang menjatuhkan hukuman atas Yesus sebagai wakil dari kuasa pengadilan tertinggi di dalam dunia, berfungsi melalui anugerah Allah dan mengeluarkan keadilan atas nama Tuhan. Putusan hukuman oleh Pilatus adalah putusan hukuman dari Tuhan walaupun dari dasar yang berbeda. Penting juga bahwa Kristus tidak dipenggal atau dirajam batu sampai mati. Penyaliban adalah bentuk hukuman Romawi, bukan hukuman Yahudi. Hukuman salib ini dianggap sedemikian memalukan dan hina sehingga hukuman salib in tidak pernah dijatuhkan atas warga negara Romawi, tetapi hanya dijatuhkan pada orang-orang yang dianggap tak berguna, para pembuat kejahatan yang paling kejam dan para budak. Dengan kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus menggenapi tuntutan hukum yang tertinggi. Pada saat yang sama Ia mati dalam cara kematian yang paling hina dan terkutuk, dan dengan demikian Ia membuktikan kenyataan bahwa Ia menjadi terkutuk karena kita (Ulangan 21:23; Galatia 3:13).

PENGUBURAN SANG JURUSELAMAT

Tampaknya, kematian Kristus adalah keadaan terakhir dari kehinaan-Nya, terutama berkaitan dengan kalimat terakhir yang diucapkan-Nya di atas kayu salib, "Sudah genap". Akan tetapi, sesungguhnya kalimat itu berkaitan dengan penderitaan-Nya yang aktif, yaitu penderitaan dimana Ia sendiri mengambil bagian secara aktif. Tentu saja hal ini benar digenapi pada saat kematian-Nya. Akan tetapi, jelas bahwa kematian-Nya juga mengambil bagian kehinaan-Nya. Perhatikanlah hal berikut ini:

  1. Manusia harus kembali kepada debu tanah, dari mana ia diambil, dinyatakan dalam Alkitab sebagai bagian dari hukuman atas dosa, (Kejadian 3:19).

  2. Sejumlah pernyataan Alkitab mengandung arti bahwa Sang Juruselamat yang dikuburkan itu juga mengalami kehinaan (Mazmur 16:10; Kisah Para Rasul 2:27,31; 13:34,35). Ia turun ke dalam kerajaan maut, yang sangat mengerikan dan menakutkan, suatu tempat yang penuh dengan pelanggaran walaupun Ia sendiri bebas dari segala pelanggaran.

  3. Dikuburkan berarti harus turun dan ini berarti kehinaan. Penguburan atas orang mati diperintahkan Tuhan untuk melambangkan kehinaan dari orang berdosa.

  4. Ada beberapa persetujuan tertentu antara karya objektif penebusan dengan susunan penerapan subjektif karya Kristus. Alkitab mengatakan bahwa orang-orang berdosa dikuburkan bersama dengan Kristus. Hal ini berarti adalah melepaskan manusia lama dan bukan mengenakan yang baru, bandingkan Roma 6:1-6. Penguburan Tuhan Yesus juga membentuk bagian dari kehinaan-Nya. Lebih jauh lagi, penguburan ini bukan saja membuktikan bahwa Yesus benar-benar mati, tetapi juga menyingkirkan segala kengerian kematian bagi orang-orang yang telah ditebus dan juga menyucikan kubur bagi mereka.

JURUSELAMAT KITA TURUN KEDALAM KERAJAAN MAUT

  1. Doktrin ini adalah Pengakuan Iman Rasuli.

    Setelah Pengakuan Iman Rasuli menyebutkan tentang penderitaan Kristus, kematian dan penguburan-Nya, maka pengakuan iman ini dilanjutkan dengan kalimat "turun ke dalam kerajaan maut." Kalimat ini memang tidak disebutkan pada masa pertama kali Pengakuan Rasuli ini ditetapkan. Kalimat ini pertama kali dipakai dalam bentuk Aquileian dari Pengakuan Iman Rasuli (kira-kira 390 AD) "descendit in inferna." Di antara orang-orang Yunani kata "inferna" ada yang menerjemahkannya sebagai "kerajaan maut" tetapi ada juga yang menerjemahkan sebagai "bagian yang lebih rendah". Pada sebagian bentuk dari Pengakuakn Iman ini ada yang tidak menyebutkan tentang penguburan Kristus, sedangkan bentuk Romawi dan Timur pada umumnya menyebutkan penguburan tetapi tidak menyebutkan tentang turun ke dalam kerajaan maut ini telah mengimplikasikan maksudnya dalam "dikuburkan". Akan tetapi, beberapa waktu kemudian bentuk Pengakuan Iman Rasuli dari Roma menambahkan perkataan "turun ke dalam kerajaan maut" setelah mereka menyebutkan tentang penguburan Kristus. Calvin dengan tepat mengatakan bahwa mereka yang menambahkan kalimat itu setelah kata "dikuburkan" tentunya mereka memang bermaksud menambahkannya.

  2. Dasar Alkitab tentang pernyataan tersebut.

    Terutama ada 4 ayat dalam Alkitab yang harus kita perhatikan di sini:

    1. Efesus 4:9, "Bukankah `Ia telah naik` berarti bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?" Mereka yang mencari dukungan dari ayat ini menganggap perkataan "turun ke bagian bumi paling bawah" sama artinya dengan "kerajaan maut". Akan tetapi tafsiran semacam ini masih diragukan. Rasul Paulus berpendapat bahwa kenaikan Kristus memberikan presuposisi turun. Namun, lawan dari kenaikan Kristus ke surga adalah inkarnasi, bandingkan Yohanes 3:13. Sebagian besar para penafsir Alkitab menganggap bahwa kalimat "bagian bumi yang paling bawah" adalah bumi itu saja. Pernyataan itu dapat diperoleh dari Mazmur 139:15 dan lebih menunjuk pada inkarnasi.

    2. 1Petrus 3:18,19, yang membicarakan tentang Kristus "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh di dalam penjara." Ayat ini dianggap menunjuk kepada Kristus yang turun ke dalam kerajaan maut dan menyatakan tujuan tindakan itu. Roh yang disebutkan itu kemudian dianggap sebagai jiwa Kristus dan memberitakan Injil ini dianggap terjadi antara kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi ini pun sama tak mungkinnya dengan yang lain. Roh yang disebutkan bukanlah jiwa Kristus, melainkan Roh yang mengaktifkannya, dan oleh Roh pemberi hidup yang sama itulah Kristus memberitakan Injil. Pandangan Protestan yang umum akan ayat ini adalah bahwa di dalam Roh, Kristus memberitakan Injil melalui Nuh, pada orang-orang yang tidak taat yang hidup sebelum masa air bah. Roh-roh itu ada di dalam penjara ketika Petrus menulis surat ini, oleh karena itu dapat dianggap demikian. Bavinck menganggap hal ini tidak dapat diterima dan menafsirkan ayat ini menunjuk kepada kenaikan Tuhan Yesus, yang dianggapnya sebagai pemberitaan Injil yang kaya, penuh kemenangan, dan kuasa pada roh-roh yang di penjara.

    3. 1Petrus 4:4-6, terutama ayat 6, yang berbunyi: "Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka sama seperti semua manusia dihakimi secara badani; tetapi oleh Roh dapat hidup menurut kehendak Allah". Dalam kaitan ini Petrus memperingatkan para pembaca bahwa mereka tidak boleh hidup seluruhnya dalam daging dan nafsu manusia, tetapi menurut kehendak Allah, bahkan juga jika mereka harus menentang kawan-kawan mereka yang lama dan dihina oleh mereka, sebab mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan, yang siap menghakimi orang yang hidup dan yang mati. "Orang mati" yang kepadanya Injil diberitakan sebetulnya belumlah mati ketika Injil itu diberitakan, sebab tujuan dari pemberitaan itu sebagian adalah "agar mereka dapat dihakimi menurut manusia dalam daging." Hal ini hanya dapat terjadi ketika mereka masih hidup dalam dunia. Bagaimanapun juga Petrus membicarakan roh-roh yang sama yang dipenjarakan, yang disebut dalam pasal sebelumnya.

    4. Mazmur 16:8-10 (Bandingkan Kisah Para Rasul 2:25-27,30,31). Terutama ayat 10 yang kita bicarakan di sini "Sebab Engkau tidak menyerahkan Aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan." Dari ayat ini Pearson menyimpulkan bahwa jiwa Kristus berada dalam neraka (kerajaan maut) sebelum kebangkitan-Nya, sebab kita diberitahu bahwa Ia tidak ditinggalkan di sana. Akan tetapi kita haurs memperhatikan yang berikut:

      1. Kata "nephesh" (jiwa) sering dipakai dalam bahasa Ibrani untuk kata ganti orang, dan "sheol" dipakai untuk menunjukkan keadaan kematian seseorang.
      2. Jika kita memahaminya demikian, maka kita mendapatkan `paralelisme sinonimus` yang jelas. Pengertian yang diungkapkan adalah bahwa Yesus tidak ditinggalkan dalam kauasa maut.
      3. Hal ini selaras benar dengan tafsiran Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:30,31 dan tafsiran Paulus dengan Kisah Para Rasul 13:34,35. Dalam kedua hal tersebut Mazmur dikutip untuk membuktikan kebangkitan Yesus.

  3. Tafisran-tafsiran berbeda dari pernyataan Pengakuan Iman tersebut.

    1. Gereja Katholik menganggap bahwa hal itu berarti setelah Kristus mati Ia pergi ke `Limbus Patrum` di mana orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan wahyu dan penerapan penebusan-Nya, memberitakan Injil kepada mereka dan membawa mereka ke surga.

    2. Lutheran menganggap bahwa Kristus yang dimuliakan, Kristus turun ke bumi paling bawah untuk mengungkapkan dan mencapai penggenapan kemenangan-Nya atas iblis dan kuasa kegelapan, dan mengumumkan hukuman bagi mereka. Sebagian kaum Lutheran menempatkan perjalanan kemenangan ini antara kematian Kristus dan kebangkitan-Nya; sekelompok lain mengatakan hal ini terjadi setelah kebangkitan.

    3. Gereja di Inggris percaya bahwa kendatipun tubuh Kristus berada dalam kuburan, jiwa-Nya pergi ke dalam kerajaan maut, khususnya ke Firdaus, tempat tinggal jiwa-jiwa orang benar, dan memberikan kepada mereka ungkapan kebenaran yang lebih penuh.

    4. Calvin menafsirkannya secara metafora, menunjukkan penderitaan akhir Kristus di atas kayu salib, di mana Ia sungguh-sungguh merasakan rasa sakit dari hempasan neraka. Katekismus Heidelberg juga berpendapat demikian. Menurut pendapat Raformed yang biasa, kalimat itu bukan saja menunjuk pada penderitaan di atas salib, tetapi juga penderitaan di taman Getsemani.

    5. Alkitab sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang Kristus yang secara harafiah turun ke dalam neraka. Lebih dari itu terdapat keberatan-keberatan yang serius terhadap pandangan ini. Kristus tentunya tidak akan mungkin turun ke neraka menurut tubuh, sebab tubuh-Nya ada dalam kubur. Jika seandainya Ia sungguh-sungguh turun ke neraka, maka yang paling mungkin adalah jiwa-Nya, dan itu berarti bahwa hanya setengah dari natur manusiawinya yang mengalami kehinaan ini (atau kemuliaan). Juga, sejauh Kristus belum bangkit dari antara orang mati, maka belumlah tiba waktunya untuk memasuki perjalanan kemenangan seperti yang dianggap kaum Lutheran. Dan akhirnya, pada saat kematian-Nya Kristus menyerahkan Roh-Nya kepada Bapa. Hal ini tampaknya menunjukkan bahwa Ia akan menjadi pasif bukannya aktif sejak kematian-Nya sampai kebangkitan-Nya dari kubur. Secara keseluruhan tampaknya yang terbaik adalah menggabungkan dua pemikiran:

      1. bahwa Kristus menderita sakitnya neraka sebelum kematian-Nya, di Getsemani dan di atas salib; dan
      2. bahwa Ia memasuki kehinaan kematian yang terdalam.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Teologia Sistematika
Judul Artikel : -
Penulis : Louis Berkhof
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1996
Halaman : 79 - 93

Yayasan Lembaga SABDA; Biblical Computing

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Posting saya kali ini adalah tulisan saya sendiri yang berisi ajakan untuk mendoakan pelayanan Biblical Computing di Indonesia. Untuk itu, saya ingin memperkenalkan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), dimana saya sendiri ikut terlibat di dalamnya. YLSA adalah sebuah yayasan yang memiliki pelayanan yang unik dan sangat menarik, khususnya sehubungan dengan pelayanan Biblical Computing. Nah, untuk mengetahui letak keunikan yayasan ini, silakan menyimak tulisan berikut ini.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Yulia Oeniyati, Th.M
Edisi: 
058/I/2005
Isi: 

Visi dan Misi Yayasan Lembaga SABDA

Saya melihat YLSA sebagai yayasan yang unik, karena sampai saat ini, belum ada yayasan Kristen non-profit lain, yang berbasis di Indonesia, yang khusus bergerak dalam bidang pelayanan elektronik (yaitu menggunakan media komputer dan internet). Visi YLSA sebenarnya sangat simple, yaitu menjadi "hamba elektronik" untuk melayani masyarakat Kristen Indonesia, khususnya dalam penyediaan bahan-bahan literatur Kristen (dalam bentuk elektronik/digital). YLSA ingin membuktikan bahwa kemajuan teknologi sebenarnya adalah untuk menunjang kemajuan pekerjaan Tuhan. Tentu, hal ini akan sangat kontradiksi dengan pendapat sebagian orang Kristen (dan gereja) yang percaya bahwa komputer adalah alatnya setan. Sebaliknya, YLSA percaya pada "mandat budaya" yang Alkitab berikan kepada umat-Nya, bahwa kemajuan peradaban manusia seharusnya adalah untuk kemuliaan Tuhan. Setan akan memakainya jika kita membiarkan hal itu terjadi. Komputer bisa menjadi alat yang luar biasa untuk memuliakan Tuhan jika berada di tangan seorang Kristen yang mengasihi Tuhan, yang dipanggil untuk melaksanakan misi- Nya. Gambaran inilah yang saya lihat di YLSA.

Melalui misi pelayanannya, YLSA diharapkan dapat menjadi fasilitator dan mobilisator bagi lahirnya dan tersebarnya bahan-bahan kekristenan bermutu, berbasis Indonesia yang bermanfaat untuk membangun iman masyarakat Kristen Indonesia. Sedihnya, dari dulu sampai sekarang, dalam hal literatur Kristen, bahkan juga literatur umum, Indonesia masih tergolong sebagai negara yang miskin dalam hal orisinalitas, baik kuantitasnya maupun kualitasnya (tapi bukan berarti tidak ada tulisan bermutu dari orang Indonesia, ada sih... tapi, jumlahnya tidak bisa dikatakan menggembirakan). Literatur Kristen bahasa Indonesia yang beredar pada umumnya terjemahan dari bahasa Inggris (itupun kebanyakan mutunya masih harus dipertanyakan). Literatur yang disukai biasanya adalah bahan-bahan praktika yang masih belum menyentuh hal-hal yang mendasar, sehingga tidak dapat membangun iman dan kehidupan Kristen yang solid. Jika pelayanan literatur Kristen umum masih belum digarap dengan baik di Indonesia, apalagi pelayanan literatur yang khusus berhubungan dengan bidang biblika, lebih tidak menggembirakan lagi. Dalam bidang inilah, YLSA ingin memberikan peran di Indonesia.

Fokus Pelayanan YLSA

Fokus pelayanan YLSA bisa diringkaskan dalam (4) Bidang Pelayanan Utama, yaitu:

  1. Biblical Computing (BC)
    Memproses dan menyediakan bahan-bahan biblika bahasa Indonesia dalam bentuk elektronik (digital) untuk bisa diintegrasikan dengan program software Alkitab yang dikembangkan YLSA, yaitu SABDA (Software Alkitab, Biblika Dan Alat-alat) -- software Alkitab Online Bible versi Indonesia.
  2. Digital Publishing (DP)
    Menerbitkan dan menyebarkan publikasi dan bahan-bahan kekristenan bermutu, yang nantinya akan menjadi pusat sumber bahan online terbesar bagi masyarakat Kristen Indonesia.
  3. Christian Community (XC)
    Membangun masyarakat Kristen online Indonesia yang siap dipakai Tuhan untuk menjadi mobilisator bagi berkembangnya kehidupan Kristen yang sehat dan bertanggung jawab di gereja-gereja di Indonesia.
  4. Digital Learning (DL)
    Membangun infrastruktur bagi berkembangnya pusat belajar online bagi masyarakat Kristen Indonesia.

Melihat apa yang dilakukan YLSA, saya kira YLSA termasuk yayasan yang langka. Tapi pada kesempatan ini, saya tidak akan menjelaskan satu per satu 4 fokus pelayanan YLSA di atas. Hanya satu dulu saja, yaitu Biblical Computing. Namun, ke-4 fokus pelayanan YLSA di atas sebenarnya memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lain.

YLSA dan Pelayanan Biblical Computing

Apakah yang dimaksud dengan BIBLICAL COMPUTING? (Biblical Computing selanjutnya disingkat BC). Melihat kombinasi dua kata yang dipakai, yaitu "biblical" dan "computing", maka secara sederhana, BC dimengerti sebagai perpaduan antara Alkitab dan komputer. Namun penyederhanaan arti BC ini sebenarnya bisa menyesatkan. "Biblical" lebih dari hanya sekadar Alkitab, dan "computing" lebih dari sekadar komputer. Lebih tepat jika BC diartikan sebagai proses penyelidikan dan penggalian Alkitab, yang menyangkut semua aspek dari "biblical studies", yang dilakukan dengan bantuan program komputer.

Dari arti di atas, maka kita dapat melihat bahwa BC adalah jendela bagi dimungkinkannya semua aspek penggalian Alkitab yang luas dan dalam, yang kebanyakan tidak mungkin dilakukan sebelumnya. Dengan kecanggihan pemrograman komputer, hal-hal yang dulu tidak mungkin dikerjakan, sekarang menjadi mungkin, contohnya:

  • menampilkan teks beberapa versi Alkitab secara paralel, termasuk Alkitab dalam bahasa aslinya atau bahasa-bahasa lain/bahasa daerah.
  • melakukan pencarian ayat, kata atau frasa dalam seluruh Alkitab hanya dalam hitungan detik.
  • mengintegrasikan teks Alkitab dengan bahan-bahan lain, seperti konkordansi, referensi silang, kamus Alkitab, peta Alkitab, dan alat-alat biblika lain yang berhubungan,
  • secara cepat melakukan penganalisaan teks Alkitab terjemahan dengan bahasa asli Alkitab, melalui pengintegrasian nomor-nomor Strong di dalamnya.
  • dan masih banyak lagi.

Selain itu, komputer juga telah menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat, bahkan luar biasa, untuk memproses bahan-bahan biblika, dengan memberikan hasil dengan ketelitian dan kecermatan tinggi, dalam waktu yang jauh -- jauh lebih singkat dibandingkan dengan cara manual (tanpa alat bantu komputer).

Pelaksanaan pelayanan Biblical Computing memerlukan paling tidak 2 hal mendasar:

  1. Program software Alkitab untuk memungkinkan pengaksesan dan pengintegrasian dengan teks Alkitab dan bahan-bahan biblika, dan bahan-bahan lain.
  2. Pemrosesan teks dari berbagai versi Alkitab dan alat-alat biblika, yang meliputi: pengetikan (jika belum ada dalam bentuk elektronik/ digital), pembuatan indeks, dan standardisasi format.

YLSA menyadari bahwa pelayanan di bidang BC adalah pelayanan yang sangat mendasar yang diperlukan untuk mendukung kesehatan gereja dan pelayanan Kristen pada umumnya. Melalui pelayanan BC, maka masyarakat Kristen akan belajar bagaimana menggali dan menganalisa teks Alkitab, dengan cara yang lebih bertanggung jawab dan lebih akurat, tanpa harus mengorbankan keyakinan kita pada kebenaran Alkitab sebagai Firman Tuhan yang mutlak dan absolut.

Program SABDA -- Online Bible (versi Indonesia)

Untuk menyiapkan suatu program software Alkitab yang nantinya akan diintegrasikan dengan bahan-bahan biblika/bahan lain, YLSA tidak membuatnya sendiri, tapi YLSA bekerjasama dengan ONLINE BIBLE (yang diciptakan dan di-manage oleh Larry Pierce). Online Bible memiliki program software Alkitab yang cukup canggih, koleksi bahan-bahan biblikanya juga cukup luas, dan mempunyai komunitas pendukung yang mengembangkan program tersebut. Selain itu, Online Bible bersifat "open source" atau gratis. Setelah diskusi dan disetujui oleh Larry Pierce, maka dilakukan modifikasi program dengan penyesuaian pada beberapa bagian. Sebagai hasilnya, lahirlah sebuah program Alkitab yang disebut SABDA (singkatan dari Software Alkitab, Biblika Dan Alat- alat). Program inilah yang akan mengintegrasikan teks berbagai versi Alkitab, dalam beragam bahasa, termasuk bahasa asli Alkitab (Yunani dan Ibrani), dengan bahan-bahan biblika dan banyak bahan kekristenan lain, dengan sumber-sumber dari bahasa Indonesia. Keseluruhan dari paket Biblical Computing ini, kemudian dikemas dalam banyak floppy, sampai akhirnya menjadi sebuah CD, yang untuk selanjutnya dikenal dengan nama CD SABDA -- atau Online Bible versi bahasa Indonesia.

Teks Berbagai Versi Alkitab dan Bahan-bahan Biblika

Selama hampir 10 tahun pelayanannya, YLSA telah berusaha membangun infrastruktur yang diharapkan akan memungkinkan pelayanan bidang BC ini terwujud. Salah satu hal mendasar yang sangat penting dilakukan adalah penyediaan berbagai versi Alkitab, baik dalam bahasa Indonesia Kuno (Melayu)/Modern; bahasa daerah/suku (Jawa, Sunda); bahasa asli Alkitab (Yunani dan Ibrani) maupun bahasa asing lainnya (Inggris, Latin, Belanda, China) dalam bentuk elektronik/digital.

Penggalian informasi dan pengumpulan serta pemrosesan manuskrip- manuskrip Alkitab bahasa Indonesia, baik Bahasa Indonesia kuno maupun modern, merupakan tantangan yang cukup besar. Namun, hal itu dapat teratasi berkat kejujuran, tekad, dan kerja keras dari setiap orang yang terlibat dalam pelayanan ini. Puji Tuhan! kerja keras ini membuahkan hasil yang luar biasa karena saat ini, YLSA telah berhasil memproses secara elektronik 10+ versi Alkitab bahasa Indonesia untuk dipublikasikan dan dipakai oleh masyarakat Indonesia secara luas. Keberhasilan inilah yang memantapkan YLSA untuk selanjutnya membangun pelayanan yang disebut sebagai "e-Bible".

Dalam melaksanakan "biblical studies", memiliki berbagai teks Alkitab saja sangatlah tidak cukup. Diperlukan bahan-bahan biblika lain untuk menjadi sumber referensi yang menunjang proses penggalian dan penyelidikan Alkitab. Untuk itu, bekerja sama dengan berbagai lembaga penerbitan lain, YLSA mengumpulkan dan memproses bahan-bahan yang akan berguna untuk dibuat bentuk elektroniknya/digitalnya. Sebagai hasilnya adalah sebuah "rak buku elektronik" yang berisi:

  • berbagai bahan biblika (konkordansi, sistem referensi silang, sistem catatan ayat, kamus Alkitab, kamus bahasa/leksikon, peta Alkitab, dan masih banyak lagi) dan
  • bahan-bahan pelayanan lain (bahan PA, buku-buku doktrin, buku-buku teologia praktis, dll.).

Peluncuran CD SABDA Versi 2.0

CD SABDA versi 1.0 telah selesai dikerjakan sebelum tahun 1995, yang berupa teks Alkitab versi TB dan BIS dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yang kemudian diberikan kembali ke LAI secara gratis. Versi ini masih memakai program asli dari Online Bible dengan bahan-bahan lain dalam bahasa Inggris. Namun kemudian mulailah dikembangkan interface dalam bahasa Indonesia dan sedikit demi sedikit penambahan bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia.

Selang 4 tahun kemudian (tahun 2000), CD SABDA versi 2.0 secara lengkap selesai dikerjakan, dicetak, dan disebarkan dengan gratis kepada masyarakat Kristen Indonesia secara luas. CD SABDA versi 2.0 berisi program Online Bible dalam bahasa Indonesia yang merupakan pengembangan dari versi 1.0. Bahan-bahan biblika dan bahan-bahan pelayanan yang ada dalam versi 2.0 berjumlah puluhan ribu halaman -- sebagian besar dalam bahasa Indonesia -- merupakan terbitan dan kerjasama dari berbagai penerbit Kristen Indonesia. Namun, karena adanya keterbatasan bahan-bahan biblika dalam bahasa Indonesia yang tersedia, maka beberapa bahan-bahan biblika dalam bahasa Inggris yang diperlukan masih dipertahankan.

Peluncuran CD SABDA Versi 3.0

Selama 5 tahun setelah peluncuran CD SABDA versi 2.0 tahun 2000, YLSA tidak puas dan berhenti sampai di situ saja, karena masih ada banyak sekali pekerjaan Biblical Computing yang belum dikerjakan, khususnya untuk melengkapi kekurangan-kekurangan jumlah versi Alkitab yang ada dalam bahasa Indonesia dan alat-alat biblika dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sejak versi 2.0 diluncurkan, YLSA telah bekerja keras meng-upgrade program SABDA dan memproses bahan-bahan biblika baru hingga akhir tahun 2004 dan awal 2005. Saat ini versi Beta dari CD SABDA 3.0, sejumlah kira-kira 150 buah, sudah dibagikan kepada beberapa kelompok orang sejak bulan Nopember 2004 y.l. Kerinduan YLSA adalah pada Pebruari tahun 2005, CD SABDA versi 3.0 dapat diluncurkan bagi masyarakat Kristen Indonesia!

Media Biblical Computing

Sebelum media CD menjadi populer di Indonesia, YLSA telah menyediakan floppy/disket bagi mereka yang menginginkan SABDA. Selain dalam versi DOS, tersedia juga versi Windows dan MacIntosh. Karena media internet juga mulai populer di Indonesia tahun 1997, maka jalur dan media penting ini pun dipakai agar masyarakat bisa mengakses SABDA dengan mudah -- mereka bisa downloading programnya atau bisa display dan memakai SABDA lewat Web. Ketika keping CD akhirnya mudah didapatkan, maka media CD menjadi pilihan YLSA untuk menyebarkan SABDA kepada masyarakat Kristen Indonesia secara luas.

Dunia dan media elektronik berkembang terus dengan sangat cepat. Saat ini, selain bentuk CD, ada banyak variasi media/OS untuk melipat ganda, termasuk Audio, HTML, WEB, Linux, PDA, dan lain-lain. Pada tahap berikutnya setelah SABDA versi 3.0 (yang sedang disiapkan dan segera diluncurkan), YLSA siap mengembangkan BC untuk dapat tersedia dalam semua bentuk media elektronik yang ada.

Mohon Dukungan Doa dan Dana

Sampai hari ini, seluruh staf YLSA masih bekerja keras untuk menyelesaikan seluruh pemrosesan bahan dan persiapan percetakan. Oleh karena itu, dukungan para Sahabat YLSA, khususnya dalam doa dan dana, sangat kami harapkan. Mari kita bergandeng tangan guna mendukung pelayanan Biblical Computing di Indonesia, yang sampai saat ini masih sangat kurang dikerjakan.

Bagi Anda yang tergerak memberikan sumbangan untuk membantu penyelesaian proyek CD SABDA versi 3.0, silakan mengirimkannya ke:

YAYASAN LEMBAGA SABDA
a.n. Yulia Oeniyati
BCA Cabang Pasar Legi Solo
No. Rekening: 0790266579

Sumber: 

YLSA

Sumber diambil dari:

Judul Buku : -
Judul Artikel : -
Penulis : -
Penerjemah : -
Penerbit : -
Halaman : -

Apa yang Menggerakkan Kehidupan Anda?

Dear e-Reformed Netters,

Senang sekali bertemu Anda semua di awal tahun 2005 ini. Apakah ada di antara Anda yang punya tradisi/kebiasaan memulai tahun baru dengan suatu RESOLUSI? Saya sering melakukannya, khususnya kalau ada banyak kegagalan/kesalahan/kekecewaan yang saya alami tahun sebelumnya, sehingga hal itu mendorong saya untuk membuat rencana yang diharapkan akan dapat menebus kegagalan/kesalahan/kekecewaan itu. Dorongan rasa bersalah akhirnya mewarnai rencana-rencana hidup yang saya buat.

Berbicara tentang membuat rencana hidup dan resolusi tahun baru, saya teringat dengan buku yang pada akhir tahun 2004 kemarin banyak dibicarakan orang, yaitu bukunya Rick Warren yang berjudul "The Purpose Drive Life", yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "Kehidupan yang Digerakkan oleh Tujuan". Saya kira buku tersebut memang patut mendapat perhatian istimewa karena sangat "inspiring". Berikut adalah satu di antara 40 Bab yang dibahas dalam buku tersebut, yang saya kutipkan untuk Anda, khususnya yang belum kebagian membeli buku tersebut.

Hal yang menarik dari artikel ini (buku ini) adalah kepandaian Rick untuk membuat pemikiran filosofis yang berat dan rumit tentang hidup menjadi suatu hal yang praktis dan simple. Ada beberapa hal yang dapat kita tarik menjadi pelajaran yang berguna:

1. Mengetahui apa yang memotivasi hidup kita, akan membongkar prinsip- prinsip hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Seperti motivasi saya dalam membuat resolusi tahun baru, yaitu rasa bersalah, ternyata tanpa saya sadari telah menghambat rencana Allah bagi hidup saya. Dan yang lebih parah lagi, saya tidak dapat sungguh-sungguh hidup dalam anugerah-Nya.

2. Apa yang memotivasi kita hidup ternyata ada korelasi dengan apa yang memotivasi kita menjadi orang Kristen. Contohnya, jika materialisme yang menjadi motivasi hidup kita, maka tidak heran kalau berkat-berkat Tuhanlah yang kita kejar-kejar terus, bukan Tuhannya.

3. Memikirkan tentang apa yang memotivasi hidup kita, mendorong kita untuk memikirkan apa yang sebenarnya kita anggap paling penting dalam hidup kita. Jika Allahlah yang menjadi sumber motivasi kita untuk melanjutkan hidup ini, maka kita akan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki bagi hidup kita selanjutnya. "Hidup bagiku adalah Kristus", kata Rasul Paulus, maka kita akan terdorong untuk melakukan apa yang penting bagi Tuhan, dan bukan apa yang penting bagi diri kita.

Dan masih banyak lagi yang saya yakin dapat kita timba dari merenungkan artikel ini. Oleh karena itu, saya persilakan Anda menyimaknya sendiri dan selamat mengisi tahun 2005 dengan hal-hal yang berkenan bagi Tuhan.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Senang sekali bertemu Anda semua di awal tahun 2005 ini. Apakah ada di antara Anda yang punya tradisi/kebiasaan memulai tahun baru dengan suatu RESOLUSI? Saya sering melakukannya, khususnya kalau ada banyak kegagalan/kesalahan/kekecewaan yang saya alami tahun sebelumnya, sehingga hal itu mendorong saya untuk membuat rencana yang diharapkan akan dapat menebus kegagalan/kesalahan/kekecewaan itu. Dorongan rasa bersalah akhirnya mewarnai rencana-rencana hidup yang saya buat.

Berbicara tentang membuat rencana hidup dan resolusi tahun baru, saya teringat dengan buku yang pada akhir tahun 2004 kemarin banyak dibicarakan orang, yaitu bukunya Rick Warren yang berjudul "The Purpose Drive Life", yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "Kehidupan yang Digerakkan oleh Tujuan". Saya kira buku tersebut memang patut mendapat perhatian istimewa karena sangat "inspiring". Berikut adalah satu di antara 40 Bab yang dibahas dalam buku tersebut, yang saya kutipkan untuk Anda, khususnya yang belum kebagian membeli buku tersebut.

Hal yang menarik dari artikel ini (buku ini) adalah kepandaian Rick untuk membuat pemikiran filosofis yang berat dan rumit tentang hidup menjadi suatu hal yang praktis dan simple. Ada beberapa hal yang dapat kita tarik menjadi pelajaran yang berguna:

1. Mengetahui apa yang memotivasi hidup kita, akan membongkar prinsip- prinsip hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Seperti motivasi saya dalam membuat resolusi tahun baru, yaitu rasa bersalah, ternyata tanpa saya sadari telah menghambat rencana Allah bagi hidup saya. Dan yang lebih parah lagi, saya tidak dapat sungguh-sungguh hidup dalam anugerah-Nya.

2. Apa yang memotivasi kita hidup ternyata ada korelasi dengan apa yang memotivasi kita menjadi orang Kristen. Contohnya, jika materialisme yang menjadi motivasi hidup kita, maka tidak heran kalau berkat-berkat Tuhanlah yang kita kejar-kejar terus, bukan Tuhannya.

3. Memikirkan tentang apa yang memotivasi hidup kita, mendorong kita untuk memikirkan apa yang sebenarnya kita anggap paling penting dalam hidup kita. Jika Allahlah yang menjadi sumber motivasi kita untuk melanjutkan hidup ini, maka kita akan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki bagi hidup kita selanjutnya. "Hidup bagiku adalah Kristus", kata Rasul Paulus, maka kita akan terdorong untuk melakukan apa yang penting bagi Tuhan, dan bukan apa yang penting bagi diri kita.

Dan masih banyak lagi yang saya yakin dapat kita timba dari merenungkan artikel ini. Oleh karena itu, saya persilakan Anda menyimaknya sendiri dan selamat mengisi tahun 2005 dengan hal-hal yang berkenan bagi Tuhan.

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
Rick Warren
Edisi: 
057/XII/2004
Isi: 

"Kemudian aku melihat bahwa pada dasarnya segala jerih payah dan keberhasilan orang didorong oleh perasaan iri hatinya. ..."

Pengkhotbah 4:4 (FAYH)

Manusia tanpa suatu tujuan adalah ibarat sebuah kapal tanpa kemudi -- anak terlantar, hal sia-sia, bukan siapa-siapa.

Thomas Carlyle

Kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu.

Banyak kamus mendefinisikan kata kerja menggerakkan sebagai "membimbing, mengendalikan, atau mengarahkan". Entah Anda menggerakkan sebuah mobil, sebuah paku, atau bola golf, Anda sedang membimbing, mengendalikan, dan mengarahkannya pada saat itu. Apakah yang menjadi daya penggerak di dalam kehidupan Anda?

Sekarang, Anda mungkin digerakkan oleh suatu masalah, suatu tekanan, atau suatu batas waktu. Anda mungkin digerakkan oleh ingatan yang menyedihkan, ketakutan yang menghantui, atau suatu keyakinan yang tidak disadari. Ada ratusan kondisi, nilai, dan emosi yang bisa menggerakkan kehidupan Anda. Berikut ini adalah lima penggerak yang paling umum:

  1. Banyak orang digerakkan oleh rasa bersalah.

    Mereka menghabiskan seluruh hidup mereka dengan berlari dari rasa penyesalan dan menyembunyikan rasa malu mereka. Orang-orang yang digerakkan oleh rasa bersalah dimanipulasi oleh ingatan-ingatan. Mereka membiarkan masa lalu mereka mengendalikan masa depan mereka. Mereka seringkali secara tidak sadar menghukum diri sendiri dengan merusakkan keberhasilan mereka sendiri. Ketika Kain berdosa, rasa bersalahnya memisahkan diri dari hadirat Allah, dan Allah berfirman, "Engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi. Hal tersebut menggambarkan sebagian besar orang saat ini, yang menjalani kehidupan tanpa suatu tujuan.

    Kita adalah produk dari masa lalu kita sendiri, tetapi kita tidak perlu menjadi tawanan masa lalu. Tujuan Allah tidak dibatasi oleh masa lalu Anda. Dia mengubah seorang pembunuh bernama Musa menjadi seorang pemimpin, dan seorang pengecut bernama Gideon menjadi seorang pahlawan yang gagah berani, dan Dia juga mampu melakukan hal-hal ajaib dalam sisa hidup Anda. Allah ahli dalam memberi orang-orang suatu awal yang baru. Alkitab berkata, "Alangkah bahagianya orang-orang yang kesalahannya telah diampuni!... Alangkah leganya hati orang yang telah mengakui dosa-dosanya dan Allah telah menghapus semua dosa itu"

  2. Banyak orang digerakkan oleh kebencian dan kemarahan.

    Mereka mempertahankan kepahitan dan tidak pernah sembuh darinya. Bukannya melepaskan penderitaan mereka melalui pengampunan, mereka malah mengulanginya berkali-kali dalam pikiran mereka. Sebagian orang yang digerakkan oleh kebencian bersikap "bungkam" dan menyimpan sendiri kemarahan mereka, sementara sebagian lain bersikap "amat marah" dan mencetuskannya kepada orang lain. Kedua tanggapan tersebut tidak sehat dan tidak berguna.

    Kebencian selalu lebih melukai Anda ketimbang orang yang Anda benci. Sementara orang yang menyakiti hati Anda mungkin telah melupakan perbuatannya tersebut dan melanjutkan hidup, Anda terus dipenuhi penderitaan Anda, dengan mengabadikan masa lalu.

    Perhatikan: Orang-orang yang melukai Anda pada masa lalu tidak mungkin terus melukai Anda sekarang, kecuali jika Anda mempertahankan rasa sakit itu melalui kebencian. Masa lalu Anda adalah masa lalu! Tidak ada yang bisa mengubahnya. Anda hanya melukai diri dengan kepahitan Anda. Demi diri Anda sendiri, belajarlah dari masa lalu tersebut, lalu jangan mengingatnya lagi. Alkitab berkata, "Hanyalah orang yang bodoh saja yang mati sebab sakit hatinya."

  3. Banyak orang digerakkan oleh rasa takut.

    Ketakutan-ketakutan mereka mungkin merupakan akibat dari adanya pengalaman traumatis, harapan-harapan yang tidak masuk akal, bertumbuh dalam keluarga dengan pengawasan keras, atau bahkan kecenderungan genetik. Tanpa memandang penyebabnya, orang-orang yang digerakkan oleh ketakutan seringkali kehilangan kesempatan-kesempatan besar karena mereka takut untuk menanggung risiko. Sebaliknya, mereka mencari aman, menghindari risiko-risiko dan berupaya untuk memelihara status quo.

    Ketakutan adalah penjara yang dibangun oleh diri sendiri yang akan menghalangi Anda untuk menjadi apa yang Allah maksudkan bagi Anda. Anda harus bergerak melawannya dengan senjata iman dan kasih. Alkitab mengatakan, "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalamm kasih."

  4. Banyak orang digerakkan oleh materialisme.

    Keinginan mereka untuk memiliki menjadi keseluruhan sasaran kehidupan mereka. Gerakan hati untuk selalu ingin lebih ini didasarkan pada kesalahpahaman bahwa memiliki lebih banyak akan membuat orang lebih bahagia, lebih penting, dan lebih aman, tetapi ketiga gagasan ini tidak benar. Hal-hal yang dimiliki hanya memberikan kebahagiaan sementara. Karena hal-hal tidak berubah, kita akhirnya menjadi bosan dengannya, dan selanjutnya mengingini jenis-jenis yang lebih baru, yang lebih besar, dan lebih baik.

    Juga hanya mitos yang menyatakan bahwa jika saya mendapat lebih banyak, saya akan menjadi lebih penting. Nilai diri sendiri dan nilai hal-hal yang Anda miliki tidaklah sama. Nilai Anda tidak ditentukan oleh barang-barang berharga Anda. Dan Allah berfirman bahwa hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan bukanlah barang-barang!

    Mitos yang paling umum mengenai uang adalah bahwa memiliki lebih banyak uang akan membuat saya lebih aman. Tidak akan demikian. Kekayaan bisa hilang dalam sekejap -- melalui berbagai faktor yang tidak bisa dikendalikan. Rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam apa yang tidak pernah bisa diambil dari Anda, yaitu hubungan Anda dengan Allah.

  5. Banyak orang digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan.

    Mereka membiarkan harapan-harapan orangtua atau pasangan atau anak atau guru-guru atau teman mengendalikan kehidupan mereka. Banyak orang dewasa tetap berusaha untuk mendapatkan pengakuan orangtua yang tidak bisa disenangkan. Orang lain digerakkan oleh tekanan teman sebaya, selalu kuatir dengan apa yang mungkin dipikirkan orang lain. Sayangnya, orang-orang yang mengikuti orang banyak biasanya terpengaruh oleh pantangan orang banyak itu.

    Saya tidak mengetahui semua kunci menuju keberhasilan, tetapi salah satu kunci menuju kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang. Dikendalikan oleh pendapat orang lain adalah cara yang pasti untuk kehilangan tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan Anda. Yesus berkata, "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan."

    Ada kekuatan lain yang bisa menggerakkan kehidupan Anda, tetapi semuanya akan membawa kepada jalan buntu yang sama: potensi yang tidak digunakan, rasa tertekan yang tidak perlu, dan kehidupan yang tidak memuaskan.

Perjalanan empat puluh hari ini akan menunjukkan kepada Anda, bagaimana menjalani suatu kehidupan yang memiliki tujuan - suatu kehidupan yang dituntun, dikendalikan, dan dipimpin oleh tujuan-tujuan Allah. Tidak ada hal yang lebih penting daripada mengetahui tujuan- tujuan Allah bagi kehidupan Anda, dan tidak ada yang bisa mengganti kerugiannya jika Anda tidak mengetahui tujuan-tujuan tersebut, entah itu keberhasilan, kekayaan, kepopuleran, atau pun kesenangan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan bagaikan gerakan tanpa makna, kegiatan tanpa arah, dan peristiwa tanpa alasan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan tidak berarti.

BERBAGAI MANFAAT KEHIDUPAN YANG DIGERAKKAN OLEH TUJUAN

Ada lima manfaat besar dari kehidupan yang memiliki tujuan:

  1. Mengenali tujuan Anda memberi makna bagi kehidupan Anda.

    Kita diciptakan untuk memiliki makna. Itulah sebabnya manusia mencoba metode-metode yang meragukan, seperti astrologi atau fisika, untuk menemukan makna tersebut. Apabila kehidupan memiliki makna, Anda bisa menanggung hampir segala hal; tanpa makna, tidak ada sesuatu pun yang bisa ditanggung.

    Seorang anak muda yang berusia dua puluhan menulis, "Saya merasa gagal karena saya berjuang untuk menjadi sesuatu, dan saya bahkan tidak mengetahui apa sesuatu itu. Satu-satunya cara bertindak yang saya ketahui adalah bertahan. Suatu hari, jika saya menemukan tujuan saya, saya akan merasa mulai hidup."

    Tanpa Allah, kehidupan tidak memiliki tujuan, dan tanpa tujuan, kehidupan tidak memiliki makna. Tanpa makna, kehidupan tidak memiliki arti atau harapan. Dalam Alkitab, bermacam-macam orang mengekspresikan keputusasaan ini. Yesaya mengeluh, "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna." Ayub berkata, "Hari-hari hidupku meluncur dengan cepatnya, habis tanpa harapan," dan "Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama- lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja." Tragedi terbesar bukanlah kematian, melainkan kehidupan tanpa tujuan.

    Harapan sama pentingnya seperti udara dan air bagi kehidupan Anda. Anda membutuhkan harapan untuk bertahan hidup. Dr. Bernie Siegel merasa dia bisa memperkirakan pasien kanker yang mana yang akan mengalami pengurangan penyakit dengan bertanya, "Apakah Anda ingin hidup sampai umur seratus?" Pasien dengan perasaan memiliki tujuan hidup menjawab ya dan merupakan orang-orang yang paling mungkin bertahan hidup. Harapan muncul karena ada tujuan.

    Jika Anda merasa putus asa, bertahanlah! Perubahan-perubahan yang mengagumkan akan terjadi dalam kehidupan Anda ketika Anda mulai menjalaninya dengan suatu tujuan. Allah berfirman, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,... yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Anda mungkin merasa sedang menghadapi suatu situasi yang mustahil, tetapi Alkitab berkata, "Allah... dapat melakukan jauh lebih banyak hal daripada yang berani kita bayangkan -- sama sekali melebihi segala doa, keinginan, pikiran dan pengharapan kita."

  2. Mengenali tujuan Anda memuduhkan kehidupan Anda.

    Tujuan hidup menetapkan apa yang Anda kerjakan dan apa yang tidak Anda kerjakan. Tujuan Anda menjadi patokan yang Anda pakai untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan mana yang penting dan mana yang tidak. Anda hanya bertanya, "Apakah kegiatan ini membantu saya memenuhi salah satu dari tujuan Allah bagi kehidupan saya?"

    Tanpa suatu tujuan yang jelas, Anda tidak memiliki dasar di mana Anda melandasi keputusan Anda, membagi waktu Anda, dan menggunakan sumber daya Anda. Anda akan cenderung membuat pilihan-pilihan berdasarkan situasi, tekanan dan suasana hati Anda kala itu. Orang-orang yang tidak mengenali tujuan mereka berusaha untuk melakukan terlalu banyak hal -- dan hal itulah yang menyebabkan rasa tertekan, kelelahan, dan konflik.

    Mustahil melakukan segala hal yang orang lain ingin Anda lakukan. Anda hanya memiliki cukup waktu untuk melakukan kehendak Allah. Jika Anda tidak bisa menyelesaikan semuanya, itu berarti Anda sedang mencoba melakukan lebih dari apa yang Allah maksudkan untuk Anda lakukan (atau, mungkin, Anda terlalu banyak menonton televisi. Kehidupan yang memiliki tujuan membawa pada gaya hidup yang lebih sederhana dan jadwal yang lebih terkendali. Alkitab berkata, "Kehidupan yang mewah dan suka pamer adalah kehidupan yang kosong; kehidupan yang biasa dan sederhana adalah kehidupan yang penuh." Kehidupan yang memiliki tujuan juga membawa kepada ketenangan pikiran: "Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtera yang sempurna kepada orang-orang yang mengikuti dengan teguh tujuan mereka dan menaruh kepercayaan mreka kepada-Mu."

  3. Mengenali tujuan Anda membuat kehidupan Anda memiliki fokus.

    Tujuan itu akan memusatkan usaha dan energi Anda pada apa yang penting. Anda menjadi efektif karena bersikap selektif.

    Sudah merupakan sifat manusia untuk bingung karena soal-soal kecil. Kita bermain Trivial Pursuit (mengejar hal-hal sepele) dengan hidup kita. Henry David Thoreau mengamati bahwa banyak orang menjalani kehidupan "putus asa secara diam," tetapi sekarang gambaran yang lebih baik adalah bingung tanpa tujuan. Banyak orang seperti giroskop, yang berputar dengan kecepatan luar biasa, tetapi tidak pernah beranjak ke mana pun.

    Tanpa tujuan yang jelas, Anda akan terus mengubah arah, pekerjaan, hubungan, gereja, atau lingkungan - dengan berharap bahwa setiap perubahan akan menghentikan kebingungan atau mengisi kekosongan di dalam hati Anda. Anda berpikir, Mungkin sekarang akan berbeda, tetapi itu tidak memecahkan masalah Anda yang sesungguhnya, yaitu kurangnya fokus dan tujuan.

    Alkitab berkata, "Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

    Kuasa karena memiliki fokus adalah ibarat cahaya. Cahaya yang menyebar memiliki sedikit kuasa atau pengaruh, tetapi Anda bisa memusatkan energinya dengan memfokuskannya. Dengan kaca pembesar, sinar matahari bisa difokuskan untuk membakar rumput atau kertas. Ketika cahaya lebih difokuskan lagi seperti sinar laser, ia bisa memotong baja.

    Kekuatan dari suatu kehidupan yang terfokus hampir tidak ada duanya, yaitu kehidupan yang dijalani berdasarkan tujuan. Laki-laki dan perempuan yang berpengaruh paling besar dalam sejarah adalah orang- orang yang sangat terfokus. Misalnya, Rasul Paulus nyaris sendirian menyebarkan Agama Kristen di seluruh kekaisaran Romawi. Rahasianya adalah kehidupan yang terfokus. Paulus berkata, "Aku memfokuskan seluruh tenagaku pada satu hal ini: Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku."

    Jika Anda ingin hidup Anda memiliki pengaruh, fokuslah! Berhentilah bermain-main. Berhentilah mencoba melakukan segala hal. Kurangi hal- hal yang Anda lakukan. Bahkan kurangi kegiatan-kegiatan yang baik dan hanya melakukan hal-hal yang paling penting. Jangan pernah mengacaukan antara aktivitas dengan produktivitas. Anda bisa sibuk tanpa memiliki tujuan, tetapi apa gunanya? Paulus berkata, "Marilah kita tetap fokus pada sasaran itu, kita yang ingin mencapai segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita."

  4. Mengenali tujuan Anda akan memotivasi kehidupan Anda.

    Tujuan selalu menghasilkan keinginan yang kuat. Tidak ada yang bisa membangkitkan energi seperti tujuan yang jelas. Sebaliknya, keinginan yang kuat memudar bila Anda tidak mempunyai tujuan. Bangun dari tempat tidur saja menjadi suatu tugas besar. Biasanya pekerjaan yang tidak berarti, dan bukan kelebihan kerja, yang meletihkan kita, menguras tenaga kita, dan merampas sukacita kita.

    George Bernard Shaw menulis, "Inilah sukacita sejati dalam hidup: dipakai untuk suatu tujuan yang disadari oleh diri Anda sebagai tujuan yang hebat; menjadi suatu kekuatan alam dan bukannya sedikit penyakit dan keluhan yang bersifat mementingkan diri, dengan mengeluh bahwa dunia tidak mau memberikan segalanya untuk membuat Anda bahagia."

  5. Mengenali tujuan Anda akan mempersiapkan Anda untuk menghadapi kekekalan.

    Banyak orang menghabiskan hidupnya dengan berupaya menciptakan warisan yang tanpa akhir di bumi. Mereka ingin dikenang ketika mereka meninggal. Namun, apa yang akhirnya paling penting bukanlah apa yang orang lain katakan tentang kehidupan Anda tetapi apa yang Allah katakan. Apa yang gagal disadari oleh orang-orang adalah bahwa segala pencapaian pada akhirnya lewat, catatan-catatan rusak, reputasi memudar, dan pujian dilupakan. Di kampus, sasaran James Dobson adalah menjadi juara tenis sekolah. Dia merasa bangga ketika pialanya ditempatkan secara menonjol di lemari piala sekolah. Bertahun-tahun kemudian, seseorang mengiriminya piala tersebut. Mereka menemukannya di sebuah tempat sampah ketika sekolah tersebut diperbaiki. Jim berkata, "Sesudah waktu yang cukup lama, semua piala Anda akan dianggap sampah oleh orang lain!"

    Hidup untuk menghasilkan warisan dunia adalah sasaran yang dangkal. Adalah lebih bijaksana kalau orang menggunakan waktunya untuk membangun suatu warisan kekal. Anda tidak ditempatkan di bumi untuk diingat. Anda ditempatkan di sini untuk bersiap-siap menghadapi kekekalan.

    Suatu hari, Anda akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan memeriksa kehidupan Anda, suatu ujian akhir, sebelum Anda memasuki kekekalan. Alkitab mengatakan, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah... Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah." Untunglah, Allah ingin kita lulus ujian tersebut, karena itu Dia telah memberi kita pertanyaan-pertanyaannya sebelumnya. Dari Alkitab kita bisa menyimpulkan bahwa Allah akan menanyai kita dengan dua pertanyaan penting:

    PERTAMA, "Apa yang telah kamu lakukan terhadap Anak-Ku, Yesus Kristus?" Allah tidak akan bertanya tentang latar belakang agama atau pandangan doktrin Anda. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah Anda menerima apa yang Yesus kerjakan bagi Anda dan apakah Anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai-Nya? Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

    KEDUA, "Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu?" Apa yang telah Anda lakukan dengan kehidupan Anda, yakni semua karunia, talenta, kesempatan, energi, hubungan, dan kekayaan yang telah Allah berikan kepada Anda? Apakah Anda menggunakannya bagi diri Anda sendiri, ataukah Anda menggunakannya bagi tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan Anda?

BERPIKIR TENTANG TUJUAN SAYA

Pokok untuk Direnungkan:
Hidup berdasarkan tujuan adalah jalan menuju damai sejahtera.

Ayat untuk Diingat:
"Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtera yang sempurna kepada orang- orang yang dengan teguh memelihara tujuan mereka dan percaya kepada- Mu."

Yesaya 26:3 (TEV)

Pertanyaan untuk Dipikirkan:
Apakah yang menurut keluarga dan teman-teman saya merupakan daya penggerak kehidupan saya? Apa yang saya inginkan untuk menjadi penggerak kehidupan saya?

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : The Purpose Drive Life
-- Kehidupan yang Digerakkan oleh Tujuan
Judul Artikel : Apa yang Menggerakkan Kehidupan Anda?
Penulis : Rick Warren
Penerjemah : -
Penerbit : Gandum Mas, Malang Tahun 2004
Halaman : 29 - 37

Bukan Damai, Melainkan Pedang

Dear e-Reformed Netters,

Karena sebentar lagi akan tiba Hari Natal, maka saya pikir akan sangat baik kalau pada kesempatan pengiriman kali ini, saya mengambil artikel yang sedikit berbau Natal .... :)

Saya yakin, dalam banyak tahun mengikuti perayaan Natal, Anda pasti ingat tema-tema Natal yang menggunakan kata 'damai', seperti, "Damai di Bumi", "Natal yang Membawa Damai", "Kristus Raja Damai", "Pesan Damai dari Kristus", "Damai di Hati", dan masih banyak lagi .... Intinya, kedatangan Kristus diidentikkan dengan datangnya damai di dunia. Pesan Natal ini diambil dari pernyataan malaikat yang tertulis dalam Lukas 2:14.

Artikel di bawah ini, yang berjudul "BUKAN DAMAI, MELAINKAN PEDANG", sepertinya bertentangan dengan pesan-pesan Natal yang selama ini biasa kita dengar. Tapi judul yang diambil dari Injil Matius 10:34 ini adalah kata-kata Kristus sendiri, maka sekarang pertanyaannya, apakah dua kalimat tersebut bertentangan? Sebagai orang Kristen yang mengerti Alkitab, tentu saja kita tidak mau memberikan jawaban yang terlalu apologetik (dalam arti yang sesungguhnya), ... 'wah kata-kata Tuhan Yesus itu sulit untuk kita tafsirkan sendiri, mungkin seharusnya dijawab oleh mereka yang ahli bahasa Yunani dan bla ... bla ... bla ....'

Kalau kita dihadapkan pada pilihan, maka secara akal sehat dan etika, tentu saja kita akan mengganggap kata-kata malaikatlah yang lebih enak kita dengar. Menerima pernyataan Matius 10:34, sepertinya mempercayai bahwa Yesus datang sebagai pembawa onar. Maka kita akan cenderung mencoba menghindari memberikan jawaban atas masalah ini dan berkata bahwa kita tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus.

Menanggapi sikap-sikap seperti ini, maka Kata Pengantar dalam buku dari mana artikel ini diambil, yang berjudul "Ucapan Yesus yang Sulit", sangat menarik untuk kita simak:

"Satu alasan dari keluhan bahwa perkataan Yesus itu sulit adalah karena Dia membuat pendengar-Nya berpikir. Bagi sebagian orang, berpikir merupakan suatu pekerjaan yang sulit dan tidak enak, terutama bila menyangkut penilaian kembali yang kritis dari prasangka dan pendirian yang kuat, atau bila menyangkut tantangan terhadap konsensus pemikiran zaman sekarang. Oleh karena itu, setiap perkataan yang mengundang mereka untuk mengikutsertakan pemikiran yang demikian dianggap perkataan yang sulit. Banyak perkataan Yesus dianggap sulit dalam pengertian demikian."

Nah, silakan merenungkan penjelasan F.F. Bruce (seorang pakar biblika Perjanjian Baru) dalam artikel berikut ini. Harapan saya dengan mengerti lebih dalam kata-kata Tuhan Yesus ini, kita bisa lebih menyadari bahwa dengan menerima Kristus sebagai Raja dalam kehidupan kita, bukan berarti bahwa kehidupan Kristen kita akan selalu dilimpahi dengan 'rasa damai' seperti yang kita inginkan atau kita mengerti. Justru kadang kita lihat sebaliknya, ketika kita dengan taat menjalankan prinsip-prinsip iman Kristen, maka kita mendapati hidup kita tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip yang selama ini kita (lingkungan) pegang. "Rasa damai' tiba-tiba berubah menjadi konflik, meskipun sebenarnya bukan itu yang kita harapkan. Sementara kita mempersiapkan hati untuk menyambut Natal, marilah kita renungkan, bagaimana damai sejahtera yang sejati bisa betul-betul menguasai hati kita pada peringatan Natal tahun 2004?

SELAMAT HARI NATAL 2004!
"Damai sejahtera Yesus Kristus kiranya menyertai kita selamanya."

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Karena sebentar lagi akan tiba Hari Natal, maka saya pikir akan sangat baik kalau pada kesempatan pengiriman kali ini, saya mengambil artikel yang sedikit berbau Natal .... :)

Saya yakin, dalam banyak tahun mengikuti perayaan Natal, Anda pasti ingat tema-tema Natal yang menggunakan kata 'damai', seperti, "Damai di Bumi", "Natal yang Membawa Damai", "Kristus Raja Damai", "Pesan Damai dari Kristus", "Damai di Hati", dan masih banyak lagi .... Intinya, kedatangan Kristus diidentikkan dengan datangnya damai di dunia. Pesan Natal ini diambil dari pernyataan malaikat yang tertulis dalam Lukas 2:14.

Artikel di bawah ini, yang berjudul "BUKAN DAMAI, MELAINKAN PEDANG", sepertinya bertentangan dengan pesan-pesan Natal yang selama ini biasa kita dengar. Tapi judul yang diambil dari Injil Matius 10:34 ini adalah kata-kata Kristus sendiri, maka sekarang pertanyaannya, apakah dua kalimat tersebut bertentangan? Sebagai orang Kristen yang mengerti Alkitab, tentu saja kita tidak mau memberikan jawaban yang terlalu apologetik (dalam arti yang sesungguhnya), ... 'wah kata-kata Tuhan Yesus itu sulit untuk kita tafsirkan sendiri, mungkin seharusnya dijawab oleh mereka yang ahli bahasa Yunani dan bla ... bla ... bla ....'

Kalau kita dihadapkan pada pilihan, maka secara akal sehat dan etika, tentu saja kita akan mengganggap kata-kata malaikatlah yang lebih enak kita dengar. Menerima pernyataan Matius 10:34, sepertinya mempercayai bahwa Yesus datang sebagai pembawa onar. Maka kita akan cenderung mencoba menghindari memberikan jawaban atas masalah ini dan berkata bahwa kita tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus.

Menanggapi sikap-sikap seperti ini, maka Kata Pengantar dalam buku dari mana artikel ini diambil, yang berjudul "Ucapan Yesus yang Sulit", sangat menarik untuk kita simak:

"Satu alasan dari keluhan bahwa perkataan Yesus itu sulit adalah karena Dia membuat pendengar-Nya berpikir. Bagi sebagian orang, berpikir merupakan suatu pekerjaan yang sulit dan tidak enak, terutama bila menyangkut penilaian kembali yang kritis dari prasangka dan pendirian yang kuat, atau bila menyangkut tantangan terhadap konsensus pemikiran zaman sekarang. Oleh karena itu, setiap perkataan yang mengundang mereka untuk mengikutsertakan pemikiran yang demikian dianggap perkataan yang sulit. Banyak perkataan Yesus dianggap sulit dalam pengertian demikian."

Nah, silakan merenungkan penjelasan F.F. Bruce (seorang pakar biblika Perjanjian Baru) dalam artikel berikut ini. Harapan saya dengan mengerti lebih dalam kata-kata Tuhan Yesus ini, kita bisa lebih menyadari bahwa dengan menerima Kristus sebagai Raja dalam kehidupan kita, bukan berarti bahwa kehidupan Kristen kita akan selalu dilimpahi dengan 'rasa damai' seperti yang kita inginkan atau kita mengerti. Justru kadang kita lihat sebaliknya, ketika kita dengan taat menjalankan prinsip-prinsip iman Kristen, maka kita mendapati hidup kita tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip yang selama ini kita (lingkungan) pegang. "Rasa damai' tiba-tiba berubah menjadi konflik, meskipun sebenarnya bukan itu yang kita harapkan. Sementara kita mempersiapkan hati untuk menyambut Natal, marilah kita renungkan, bagaimana damai sejahtera yang sejati bisa betul-betul menguasai hati kita pada peringatan Natal tahun 2004?

SELAMAT HARI NATAL 2004!
"Damai sejahtera Yesus Kristus kiranya menyertai kita selamanya."

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
F.F. Bruce
Edisi: 
056/XI/2004
Isi: 

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi: Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (Matius 10:34)

Ini perkataan keras bagi semua orang yang mengingat berita para malaikat pada malam kelahiran Tuhan Yesus: ´Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya´. Bagian akhir dari berita ini seolah-olah berarti ´damai sejahtera di bumi di antara manusia adalah sasaran kasih Allah´. Memang, malaikat-malaikat hanya muncul dalam Lukas 2:14, sedang perkataan keras yang kita kutip terambil dari Matius. Tetapi, Lukas juga mencatat perkataan keras ini, hanya saja ia mengganti kata metafora ´pedang´ dengan kata bukan metafora, yaitu ´pertentangan´ (Lukas 12:51). Kedua penginjil kemudian melanjutkan tulisannya tentang Tuhan Yesus yang berkata, "Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya" (Matius 10:35; Lukas 12:53). Lalu, Matius menutup perkataan ini dengan kutipan dari Perjanjian Lama yang berbunyi ´musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya´ (Mikha 7:6).

Satu hal yang sudah pasti: Tuhan Yesus tidak menyokong pertentangan. Ia mengajar pengikut-Nya untuk jangan melawan atau membalas kalau mereka diserang atau diperlakukan tidak baik, "Berbahagialah orang yang membawa damai", kata-Nya, "karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9). Artinya, Allah ialah Allah Damai Sejahtera, sehingga orang yang mencari dan meneruskan damai mencerminkan sifat Allah. Ketika Ia melakukan kunjungan terakhir ke Yerusalem, berita yang Ia bawa menyangkut ´apa yang perlu untuk damai sejahtera´, dan Ia menangis karena kota itu menolak berita-Nya dan cenderung kepada jalan yang menuju kebinasaan (Lukas 19:41-44). Berita yang dikumandangkan pengikut-pengikut-Nya dalam nama-Nya setelah kepergian-Nya disebut ´Injil damai sejahtera´ (Efesus 6:15) atau ´berita perdamaian´ (2Korintus 5:19). Disebut demikian bukan hanya sebagai ajaran doktrin, tetapi sebagai kenyataan yang dialami. Individu-individu dan kelompok- kelompok yang dahulunya saling berjauhan mengalami bagaimana mereka saling akur karena pengabdian yang sama kepada Kristus. Hal semacam ini bahkan dialami lebih awal dalam rangkaian pelayanan di Galilea. Kalau Simon orang Zelot dan Matius si pemungut cukai mampu hidup berdampingan sebagai dua rasul di antara dua belas rasul, tentunya rasul-rasul yang lain memandangnya sebagai mujizat dari kasih karunia Allah.

Tetapi ketika Tuhan Yesus berbicara tentang ketegangan dan konflik dalam keluarga, Ia mungkin berbicara berdasarkan pengalaman pribadi. Ada indikasi dalam kisah Injil bahwa beberapa anggota keluarga-Nya sendiri tidak bersimpati dengan pelayanan-Nya: orang-orang yang dalam suatu kesempatan berusaha untuk mengambil-Nya dengan paksa karena orang yang mengatai-ngatai ´Ia tidak waras lagi´ disebut ´sahabat-Nya´ dalam RSV tetapi lebih tepat ´kaum keluarga-Nya´ dalam NEB dan juga dalam terjemahan bahasa Indonesia (Markus 3:21). Sebab saudara- saudara-Nya sendiri tidak percaya kepada-Nya, demikian dikatakan dalam Yohanes 7:5. (Kalau orang bertanya mengapa saudara-saudara-Nya ini menduduki kursi-kursi kepemimpinan bersama para rasul dalam gereja mula-mula, maka jawabannya dengan pasti terdapat dalam pernyataan 1Korintus 15:7, yaitu bahwa Tuhan Yesus yang bangkit menyatakan diri kepada Yakobus saudara-Nya.)

Jadi, kalau Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang, yang Ia maksudkan ialah bahwa itu adalah akibat kedatangan-Nya, bukan karena itu menjadi tujuan kedatangan-Nya. Kata-kata-Nya menjadi kenyataan dalam kehidupan gereja yang mula-mula. Dan kebenaran kata-kata ini telah dibuktikan kemudian dalam sejarah pelayanan misi-misi Kristen. Waktu satu atau dua anggota keluarga atau golongan masyarakat lainnya menerima iman Kristen, maka hal ini selalu menimbulkan pertentangan dari anggota-anggota yang lain. Paulus, yang rupanya juga mengalami pertentangan semacam ini dalam keluarganya sebagai akibat pertobatannya, membuat perlengkapan bagi situasi semacam ini dalam hidup kekeluargaan para petobatnya. Ia tahu bahwa ketegangan bisa timbul bila seorang suami istri menjadi Kristen, sedang pasangannya tetap tidak percaya. Bila pasangan yang tidak percaya merasa berbahagia hidup bersama orang Kristen, itu baik. Seluruh keluarga dalam waktu yang tidak lama bisa menjadi Kristen. Tetapi, bila pasangan yang tidak percaya bersikeras untuk meninggalkan dan mengakhiri perkawinan, maka orang Kristen tidak boleh menggunakan kekerasan atau tindakan-tindakan legal, karena ´Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera´ (1Korintus 7:12-16).

Jadi, dalam kata-kata-Nya ini, Tuhan Yesus memperingatkan pengikut- pengikut-Nya bahwa kesetiaan mereka kepada-Nya bisa mengakibatkan konflik di rumah, bahkan pengusiran dari lingkungan keluarga. Adalah baik bahwa mereka diperingatkan sebelumnya, jadi mereka tidak bisa berkata, "Kami tidak pernah membayangkan bahwa kami harus membayar harga ini untuk mengikut Dia!"

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Ucapan Yesus yang Sulit
Judul Artikel : Bukan Damai, Melainkan Pedang
Penulis : F.F. Bruce
Penerjemah : -
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
Halaman : 141 - 143

Permulaaan Pembaharuan Gereja (Reformasi)

Dear e-Reformed Netters,

Selamat Hari Reformasi Gereja yang tahun ini kita peringati tanggal 31 Oktober 2004. Kiranya semangat untuk terus memperbaharui gereja tetap menyala-nyala sebagaimana para Reformator dulu. Jangan hanya memperbaharui tampilan gereja saja (seperti tempatnya dan gedungnya), tapi yang terutama doktrin dan pengajarannya (teologianya).

Sola Scriptura, Sola fide, Sola gracia.
Soli Deo gloria!

In Christ,
Yulia Oen selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat Hari Reformasi Gereja yang tahun ini kita peringati tanggal 31 Oktober 2004. Kiranya semangat untuk terus memperbaharui gereja tetap menyala-nyala sebagaimana para Reformator dulu. Jangan hanya memperbaharui tampilan gereja saja (seperti tempatnya dan gedungnya), tapi yang terutama doktrin dan pengajarannya (teologianya).

Sola Scriptura, Sola fide, Sola gracia.
Soli Deo gloria!

In Christ,
Yulia Oen

Edisi: 
055/X/2004
Isi: 
  1. Yang menyebabkan timbulnya pembaruan gereja ialah perbedaan antara teologi serta praktik gereja dengan ajaran Alkitab seperti yang ditemukan oleh Luther. Peristiwa yang membuat Reformasi itu mulai adalah penjualan surat-surat penghapusan siksa di Jerman oleh Tetzel. Menentang ucapan-ucapan Tetzel, Luther menyusun ke-95 dalilnya.

    Apa yang telah ditemukan oleh seorang guru teologi jauh di daerah, merupakan bahan peledak yang nanti akan meruntuhkan susunan gereja. Tetapi pemimpin-pemimpin gereja di pusat tidak menyadari bahaya yang mengancam. Paus Leo X dan tokoh-tokoh gereja lainnya sibuk merencanakan pembangunan gereja raksasa, yaitu gereja Santo Petrus di Roma, yang harus melambangkan keagungan Gereja Barat. Untuk mengumpulkan dana bagi proyek itu, mereka memaklumkan penghapusan siksa bagi orang-orang yang akan memberi sumbangan. Di Jerman, surat-surat penghapusan siksa itu diperdagangkan oleh Tetzel. Dan perdagangan itulah yang menjadi pendorong dimulainya Reformasi.

    Meskipun Tetzel seorang anggota Ordo Dominikan, namun ia tidak begitu mengindahkan rumusan-rumusan teologi yang halus. Ajaran resmi mengenai penghapusan siksa itu menentukan bahwa penghapusaan itu hanya berlaku, kalau orang sungguh-sungguh menyesali dosanya dan kalau dosa itu telah diampuni melalui sakramen pengakuan dosa. Namun, Tetzel berusaha meningkatkan penjualan barangnya dengan mengatakan bahwa surat-surat yang ditawarkannya itu menghapuskan dosa juga dan memperdamaikan orang dengan Allah. Demikianlah orang mendapat kesan bahwa pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah bisa diperoleh dengan uang, di luar penyesalan hati dan di luar sakramen-sakramen juga.

    Luther, sebagai seorang imam juga harus menerima pengakuan dosa dari pihak anggota-anggota jemaat. Karena pengalamannya sendiri, maka ia sangat bersungguh-sungguh dalam hal ini. Kini ia didatangi oleh orang-orang yang menganggap sepi ajakan yang diberikannya sesudah pengakuan, agar mereka betul-betul menyesal dan menunjukkan penyesalan mereka dengan perbuatannya. Mereka memperlihatkan kepadanya surat penghapusan siksa sambil berkata: dosa kami sudah diampuni. Luther kaget. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menjadikan hal ini sebagai pokok pembicaraan antara sarjana-sarjana teologi. Begitulah ia menyusun 95 dalil mengenai penghapusan siksa, dalam bahasa Latin, bahasa kaum cendekiawan. Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia memperkenalkan dalil-dalil itu dengan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg (bacaan 1).

  2. Dalil-dalil Luther menyangkut perkara yang sudah menghebohkan masyarakat Jerman, meskipun biasanya dengan alasan lain (harta Jerman yang mengalir ke luar negeri). Dari sebab itu, tulisan tersebut dibaca dengan asyik oleh orang banyak. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin gereja di Roma menuding Luther sebagai seorang penyesat.

    Dalam dalil-dalilnya itu, Luther menentang perkataan-perkataan Tetzel. Bahkan, ia menegaskan pula bahwa penyesalan sejati bukanlah sesuatu hal yang dapat diselesaikan orang dengan memenuhi syarat- syarat yang ditentukan oleh iman setelah pengakuan dosa, misalnya dengan mengucapkan Doa Bapa Kami sekian kali. Penyesalan itu berlangsung selama hidup! Itulah makna dalil yang pertama, yang berbunyi: "Apabila Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus berkata: Bertobatlah, dan seterusnya, yang dimaksudkanNya ialah bahwa seluruh kehidupan orang percaya haruslah merupakan pertobatan (= penyesalan)." Siapa yang betul-betul mengasihi Allah, tidak akan berusaha secara egoistis menebus hukuman atas dosanya, apalagi dengan uang; yang penting baginya ialah agar Allah mengampuni kesalahannya. Luther belum menyangkal adanya api penyucian, sama seperti ia belum menyangkal kekuasaan sri paus dan banyak hal lain yang di kemudian hari ditolaknya. Maksudnya, hanyalah untuk melawan pendapat seakan-akan surat-surat penghapusan siksa itu dapat memberi keselamatan, seperti yang didengung-dengungkan oleh para penjajanya untuk menipu rakyat biasa. Namun, sebenarnya Luther telah merombak seluruh ajaran Gereja Abad Pertengahan, bila ia mengatakan, "Bukan sakramen, melainkan imanlah yang menyelamatkan."

    Dalil-dalil diterjemahkan oleh mahasiswa-mahasiswanya ke dalam bahasa Jerman, dan dalam waktu empat minggu saja sudah tersiar ke seluruh Jerman. Umat Kristen, yang sudah lama tidak senang lagi mengenai keadaan gereja, kini mendengar suara yang menyatakan keberatannya dan yang sekaligus menunjukkan jalan lain. Sebaliknya, pemimpin-pemimpin gereja tidak begitu senang. Dalam waktu yang singkat saja hasil penjualan surat-surat penghapusan siksa telah menjadi sangat berkurang. Luther dituduh di hadapan paus sebagai seorang penyesat, dan Leo X menuntut supaya ia menarik kembali ajaran yang salah itu. Luther menjelaskan maksud dalil-dalilnya kepada paus dalam sepucuk surat yang penuh penghormatan. Tetapi paus memberi perintah kepadanya untuk menghadap hakim-hakimnya di Roma dalam waktu 60 hari. Itu berarti bahwa Luther akan dibunuh.

    Akan tetapi, keadaan politik di Jerman menolong Luther. Sebenarnya negeri Jerman adalah kekaisaran, namun kekuasaan kaisar sangat terbatas. Jerman terbagi atas ratusan daerah yang praktis yang merupakan negara-negara merdeka. Salah satu yang terbesar di antara daerah-daerah itu ialah Kerajaan Sachsen, di mana Luther tinggal. Kalau rajanya, Raja Friedrich yang Bijaksana, berbuat sesuatu yang menentang gereja, kaisar atau paus tidak bisa berbuat apa-apa. Friedrich tidak mau menyerahkan Luther, namun paus tidak berani melawan Friedrich, sebab memerlukan dukungan Friedrich dalam pemilihan seorang kaisar baru (Charles V, 1519-1555).

    Lalu Luther diperiksa di Jerman sendiri, tetapi di luar wilayah Saksen, oleh Kardinal Cajetanus (1518). Sudah barang tentu ia mengira bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh. Di tengah jalan, orang- orang meneriakkan kepadanya, "Balik, balik!" Tetapi Luther menjawab, "Di sana pun berkuasa Kristus. Semoga Kristus hidup, Martinus binasa, bersama dengan setiap orang berdosa!" Ia menghadap sang kardinal dengan berlutut dan ia mencoba membujuk Luther baik-baik, tetapi dengan segera toh terjadi perdebatan. Pegawai-pegawai istana paus menertawakan Luther yang begitu bodoh membenarkan dirinya berdasarkan Kitab Suci. Akibatnya, sang kardinal menjadi marah, dan Luther terpaksa diselundupkan ke luar kota, supaya ia lolos dari bahaya maut. Baru dua tahun kemudian Luther dihukum secara resmi.

  3. Sementara itu, gerakan Reformasi semakin meluas. Luther sendiri makin sadar bahwa pengertiannya yang baru itu akan berpengaruh terhadap seluruh ajaran dan tata gereja: makin banyak unsur dari teologi dan praktik Gereja Roma yang ia tolak.

    Banyak kota dan daerah di Jerman yang memihak kepada Luther dan namanya mulai terkenal di luar negeri juga. Kalangan humanis bergelora semangatnya karena pembaruan-pembaruan yang dianjurkannya. Salah seorang humanis yang selama hidupnya bersahabat dengan Luther ialah rekannya di Universitas Wittenberg, Melanchthon (1497-1560), yang pada tahun 1518 menjadi guru besar bahasa Yunani di sana. Pengajaran sekolah umum di negeri Jerman disusunnya secara baru, menurut asas-asas Reformasi. Dialah yang menulis buku dogmatika protestan yang pertama, yang berjudul: Loci Communes ("Pokok-pokok Teologi", 1521). Ia juga merupakan pembantu Luther dalam hal penerjemahan Alkitab.

    Pandangan-pandangan baru Luther tidak berkembang dengan cepat, sebab ia berwatak konservatif, dan tidak suka melepaskan apa yang pernah dianutnya. Namun justru dialah yang terpanggil untuk memelopori pembaruan gereja! Baru pada tahun 1519, ia menginsafi bahwa paus bisa keliru juga, bahwa konseli-konseli gereja pun bisa sesat. Dengan demikian, seluruh tradisi gereja, yaitu anggapan-anggapan dan kebiasaan-kebiasaan yang telah muncul dan dipelihara berabad-abad lamanya, kehilangan kekuasaannya di samping Alkitab. Tradisi itu hanya masih berlaku di bawah kekuasaan Alkitab: apa yang berlawanan dengan ajaran Alkitab harus dihapuskan.

  4. Pada tahun 1520 Luther menerbitkan tiga tulisan yang di dalamnya, ia menguraikan pandangannya yang baru. Yang paling terkenal ialah "Kebebasan Seorang Kristen", yang merupakan buku etika protestan yang pertama.

    Dalam ketiga karangan itu, Luther merobohkan seluruh sistem Abad Petengahan. Yang pertama ialah" Kepada para pemimpin Kristen Jerman, mengenai perbaikan masyarakat Kristen. Di sini Luther menyatakan bahwa paus dan kaum rohaniwan tidak boleh berkuasa atas "kaum awam". Setiap orang Kristen adalah seorang imam dan ikut bertanggung jawab dalam gereja. Dunia juga tidak "bertingkat dua". Berkhotbah atau bercocok tanam sama tingkatnya, sebab sama-sama bertujuan melayani Allah. Jadi, tidak dengan sepatutnya kaum "rohaniwan", khususnya paus, menuntut kekuasaan atas negara dan masyarakat. Bangsa Jerman, dengan diwakili oleh pemimpin-pemimpinnya, boleh dan harus memperbaiki sendiri keadaan gerejanya.

    Karangan yang kedua berjudul: Pembuangan Babel untuk Gereja. Buku itu berisi uraian tentang sakramen-sakramen. Hanya baptisan dan Perjamuan Kudus yang bisa ditemukan dasarnya dalam Alkitab. Tentang pengakuan dosa, Luther masih ragu-ragu; keempat sakramen lainnya ditolaknya. Arti sakramen dan hubungan antara sakramen dengan Firman Tuhan dirumuskannya secara baru juga: sakramen bukanlah saluran anugerah ke dalam diri kita. Sakramen, menurut Luther adalah tanda dari apa yang dinyatakan oleh Firman itu, Firman dalam rupa tanda, dan jawaban kita atas penerimaan sakramen itu hanyalah iman.

    Pada karangan pertama, Luther berbicara kepada para penguasa. Pada karangan kedua, ia berdiskusi dengan teolog-teolog. Pada karangan ketiga, Kebebasan Seorang Kristen, ia menulis bagi rakyat Kristen. Buku itu menguraikan soal perbuatan-perbuatan baik. Luther mulai dengan merumuskan dua dalil yang tampaknya saling bertentangan:

    "Seorang Kristen bebas dari segala ikatan dan bukanlah hamba kepada siapa pun";

    "Seorang Kristen terikat pada segala sesuatu dan hamba dari semua orang".

    Demikian yang dimaksud Luther: Seorang Kristen bebas dari hukum atau taurat mana pun, dan tidak terikat pada peraturan yang dikeluarkan oleh siapa pun, biar sri paus sekalipun, sebab ia telah memiliki kebenaran Kristus dan tidak membutuhkan lagi perbuatan-perbuatan amal. Tetapi di dalam diri orang Kristen itu masih ada kemauan yang buruk, tubuhnya yang penuh hawa nafsu (Luther pernah menjadi rahib!) dan tubuh itu harus dikekang dengan banyak "perbuatan-perbuatan": dengan askese juga. Namun, perbuatan-perbuatan itu tidak mengandung amal - bukankah kita telah mendapat seluruh amal yang kita butuhkan di dalam Kristus? (bacaan 2).

  5. Gereja Roma dan Negara Jerman mengutuk dan mengucilkan Luther. Akan tetapi, Raja Friedrich yang Bijaksana tetap melindungi dia.

    Pada tahun 1520, keluarlah bulla (surat resmi) dari paus, yang telah lama ditunggu-tunggu. Jikalau Luther tak mau menarik kembali ajarannya yang sesat itu, ia akan dijatuhi hukuman gereja. Luther membalas bulla itu dengan karangan yang berjudul: "Melawan bulla yang terkutuk dari si Anti-Krist". Lalu bulla itu dibakarnya di muka pintu gerbang kota Wittenberg di hadapan para guru besar dan mahasiswa. Kemudian, keluarlah bulla-kutuk paus.

    Menurut anggapan abad pertengahan, negara tidak bisa tidak menghukum seorang penyesat yang telah dikutuk oleh gereja. Tetapi karena banyak kepala daerah (bnd. pasal 2) menyetujui ajarannya, maka Luther dipanggil ke "sidang kekaisaran" yang pada bulan April 1521 diadakan di kota Worms untuk mempertanggungjawabkan perbuatan- perbuatan dan karangan-karangannya. Sahabat-sahabat Luther takut kalau-kalau ia akan ditangkap dan oleh sebab itu memohon kepadanya supaya jangan pergi juga. Tetapi Luther berkata, "Biarpun di Worms ada setan sebanyak genteng di atas rumah, aku pergi juga! "

    Pembelaannya di hadapan kaisar dan raja-raja pada tanggal 18 April 1521 menjadi termasyhur. Wakil paus menuntut kepadanya supaya ia memungkiri segala pandangannya yang sesat itu, tetapi Luther menunjuk pada Alkitab, "Bahwa saya bisa sesat sebagai manusia, tentang itu saya yakin. Akan tetapi, hendaknya saya diperbolehkan menuntut supaya dari Firman Allah dibuktikan kepada saya bahwa saya sesat." Namun, bukti itu tidak akan diberikan, karena ajarannya sudah lebih dahulu ditolak oleh gereja. Lalu kata Luther, "Saya tidak percaya kepada paus atau kepada konseli-konseli saja, karena sudahlah jelas seperti siang bahwa mereka berkali-kali sesat dan seringkali bertentangan dengan dirinya sendiri. Suara hati saya sudah terikat oleh perkataan Kitab Suci dan saya tertangkap dalam Firman Allah: menarik kembali, saya tidak dapat dan saya tidak mau sama sekali. Semoga Allah menolong saya. Amin!"

    Beberapa minggu kemudian, dalam Edik Worms, Luther bersama pengikut- pengikutnya dikucilkan dari masyarakat dengan "kutuk kekaisaran". Segala karangan Luther juga harus dibakar. Ia sendiri boleh ditangkap atau dibunuh oleh siapa saja yang menemukan dia. Karena kaisar telah memberi jaminan keamanan, maka Luther boleh pulang dulu ke kotanya. Ketika keretanya melintasi suatu hutan, sekonyong-konyong ia disergap oleh sepasukan orang berkuda yang bersenjata. Orang menyangka Luther telah dibunuh seteru-seterunya, tetapi sebenarnya ia dilarikan atas perintah Friedrich yang Bijaksana, yang hendak meluputkan sahabatnya itu dari bahaya maut. Luther dibawa ke puri Wartburg, supaya ia aman dan tersembunyi untuk sementara waktu.

    Sepuluh bulan lamanya, Luther tinggal di Wartburg dengan berpakaian ksatria dan memakai nama samaran, yaitu "Pangeran Georg". Di tempat yang sunyi itu, hatinya digoda oleh banyak kebimbangan. Benarkah ia mengikuti jalan Tuhan dengan gerakannya itu? Kata orang, pernah Luther melemparkan sebotol tinta kepada Iblis yang tampak olehnya dalam biliknya dan yang mengganggu dia. Yang pasti ialah bahwa ia melawan Iblis dengan tinta yang keluar dari penanya: Luther bekerja keras di Wartburg, dan dalam beberapa bulan saja Perjanjian Baru sudah siap diterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman, dengan memakai juga naskah Yunani terbitan Erasmus. Di samping itu, ia mengarang sebuah kitab rencana khotbah untuk pendeta-pendeta Protestan yang sangat membutuhkan pimpinan dalam hal berkhotbah.

  6. Sesudah satu tahun, Luther kembali lagi ke Wittenberg dan meneruskan pekerjaan Reformasi. Sekarang ia mulai memperbarui tata kebaktian.

    Luther berwatak konservatif (pasal 3), sehingga ia mau mempertahankan sebanyak mungkin tata kebaktian yang lama. Asasnya ialah bahwa yang perlu diubah hanyalah apa yang nyata bertentangan dengan Alkitab. Jadi, kebaktian Protestan, khususnya yang memakai aturan Lutheran, tetap berjalan seperti Misa Katholik: sesudah salam-berkat, jemaat mengaku dosanya dan pengampunan diberitakan, lalu Alkitab dibacakan, khotbah diadakan, kemudian ada perayaan sakramen.

    Akan tetapi, dalam beberapa hal harus ada perubahan. Pertama: bahasa. Misa biasanya dilayankan dengan memakai bahasa Latin. Sulit bagi rakyat untuk memahami bahasa itu. Padahal, kebaktian itu justru dimaksudkan untuk menyampaikan Firman kepada mereka! Jadi, bahasa Latin diganti dengan bahasa Jerman (dan di negeri-negeri lainnya yang menerima Reformasi, dengan bahasanya sendiri). Kedua: pengertian mengenai makna ibadah berubah secara asasi. Dalam teologi Katholik, Misa adalah pengulangan korban Kristus secara tak berdarah. Melalui penerimaan sakramen itu, berlangsung penyaluran anugerah yang menjadikan manusia sanggup berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, yang menjadi pusat ibadah ialah perayaan sakramen Misa. Kebaktian tanpa khotbah tetap merupakan ibadah yang lengkap, tetapi kebaktian tanpa Ekaristi tidaklah lengkap. Malah, kebaktian dimana satu dua orang imam sendiri merayakan Ekaristi dengan tidak dihadiri jemaat, merupakan ibadah juga. Kedua wawasan tentang makna sakramen Misa itu tadi ditolak oleh Luther. Baginya, makna ibadah bukan pengorbanan Kristus dalam Misa, bukan juga penyaluran anugerah, melainkan pemberitaan rahmat Tuhan kepada setiap orang yang mau mendengar. Pemberitaan itu terjadi dalam pemberitaan Firman, dan dalam perayaan sakramen, yang menandai dan memperlihatkan apa yang dinyatakan dalam pemberitaan Firman itu. Maka, khotbah diberi tempat yang lebih wajar dalam kebaktian. Khotbah harus ada; itu dilakukan beberapa kali seminggu; perayaan Perjamuan Kudus "hanya" ada pada setiap Minggu pagi, sesudah khotbah. Sama halnya seperti sebuah buku yang teksnya bisa dipahami walau tidak ada gambar; tetapi gambar itu ditambahkan supaya teksnya lebih jelas lagi. Luther berpegang pada kehadiran nyata tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi (Perjamuan); hanya tubuh dan darah itu tidak hadir sebagai ganti roti dan anggur (trans-substansiasi), tetapi bersama dengannya (con-substansiasi, con/cum = bersama dengan).

    Perubahan ketiga yang membuat Misa Katholik menjadi kebaktian Protestan ialah kegiatan jemaat di dalamnya. Pada zaman Ambrosius, kebaktian diselingi nyanyian jemaat (Kid. Jemaat 245 berasal dari Ambrosius). Tetapi dalam Abad Pertengahan, jemaat semakin tidak aktif. Sekarang Luther sendiri dan ahli-ahli musik serta penyair lain menyusun lagu-lagu dalam bahasa Jerman untuk jemaat yang tidak biasa menyanyi itu, sehingga bisa dipakai sebagai nyanyian dalam kebaktian gereja dan di rumah.

Bacaan-bacaan:
  1. Beberapa di antara ke-95 dalil Luther

    37. Setiap orang Kristen telah mengambil bagian dalam segala harta Kristus dan gereja; hal itu dianugerahkan kepadanya oleh Allah, biarpun tidak ada surat penghapusan siksa dari gereja.

    43. Patutlah kepada orang-orang Kristen diajarkan: "Kalau seorang memberikan sesuatu kepada orang miskin, atau meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkannya, ia berbuat lebih baik, ketimbang kalau ia membeli surat penghapusan siksa."

    44. Karena oleh perbuatan kasih, kasih bertambah dan manusia bertambah baik; tetapi oleh penghapusan siksa ia tidak bertambah baik, hanya saja lebih bebas dari hukuman.

    65. Harta Injil ialah jala-jala, yang dengannya dahulu kala orang ditangkap dari kekayaan (Matius 4:9; Lukas 18:18-27).

    66. Harta penghapusan siksa ialah jala-jala, yang dengannya sekarang ditangkaplah kekayaan orang.

  2. Dari Kebebasan Seorang Kristen

    Seorang Kristen bebas dari semuanya dan atas seluruhnya, sehingga dia tidak membutuhkan sesuatu perbuatan untuk menjadikan dia benar dan menyelamatkannya, karena hanya iman saja yang menganugerahkan semuanya berlimpah-limpah.

    Walaupun seseorang cukup dibenarkan oleh iman, namun ia masih hidup di dunia yang fana ini. Dalam hidup ini, ia harus menguasai tubuhnya (= segala nafsunya yang menentang kehendak Allah) dan bergaul dengan sesamanya. Dia menemukan tantangan kehendak di dalam tubuhnya yang berdaya upaya melayani dunia dan yang mencari segala kepuasan. Hal ini tak dapat dibiarkan oleh roh iman. Karena melalui iman, jiwa kita disucikan dan digerakkan untuk mengasihi Allah, maka jiwa itu menghendaki segala sesuatu. Teristimewa tubuhnya sendiri, menjadi suci-murni, sehingga segala sesuatu akan turut serta dengannya dalam mengasihi dan memuji Allah. Oleh karena itu, manusia tidak lagi malas, karena kebutuhan tubuhnya mendorongnya dan memaksanya mengerjakan banyak perbuatan yang baik supaya tubuh itu dapat ditaklukkan. Dengan jalan ini, tiap-tiap orang sangat mudah mempelajari bagi dirinya sendiri, pembatasan dan kebijaksanaan dari penyiksaan badannya, karena ia akan berpuasa, berjaga-jaga dan bekerja sebanyak yang diperlukan untuk menahan keinginan hawa-nafsu tubuhnya.

    Akhirnya, kita akan membicarakan juga hal-hal perbuatan kepada sesama manusia. Seseorang tidak hidup untuk dirinya sendiri saja dalam tubuh yang fana ini, dan bekerja untuk dirinya saja, tetapi ia hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Untuk tujuan inilah, ia menaklukkan tubuhnya, supaya dapat lebih ikhlas dan lebih bebas melayani orang lain. Dari iman mengalirlah kasih dan kegembiraan dalam Tuhan, dan dari kasih pikiran yang gembira, tulus dan bebas, yang melayani sesama manusia dengan rela hati dan tidak memikirkan penghargaan atau olok-olok, pujian atau celaan, untung atau rugi.

  3. Luther mengenai "rohaniwan " dan "awam ". (Dari: Kepada para pemimpin bangsa Jerman, pasal 1).

    Menamakan para paus, uskup, imam, biarawan, dan biarawati "golongan rohaniwan", sedangkan para pangeran, tuan, tukang, dan petani "golongan duniawi", merupakan akal yang direka-reka oleh orang-orang lihai. Karena semua orang Kristen, tanpa kecuali, benar-benar dan sungguh-sungguh termasuk golongan rohaniwan, dan tidak ada perbedaan di antara mereka, kecuali pekerjaan mereka yang berlainan. (...) Tidak ada di antaranya perbedaan dalam hal kedudukan Kristen. Semuanya bersifat rohani kedudukannya, dan semuanya sungguh-sungguh imam, uskup, dan paus. Mereka yang sekarang dinamakan kaum rohaniwan , tidak lebih luas atau lebih besar pangkatnya daripada orang Kristen lainnya, kecuali dalam hal bahwa mereka mempunyai tugas menerangkan Firman Allah dan melayankan sakramen-sakramen. Tukang sepatu, pandai besi, petani, masing-masing mempunyai kesibukan tangan dan pekerjaannya; sementara itu, mereka semuanya dapat dipilih pula untuk bertindak sebagai imam dan uskup.

Sumber: 

Bahan di atas diedit dari sumber:

Judul Buku: Harta dalam Bejana - Sejarah Gereja Ringkas
Judul Artikel: Permulaan Pembaruan Gereja (Reformasi)
Penulis: Dr. Th. Van Den End
Penerbit: PT BPK Gunung Mulia Jakarta
Tahun: 2001
Halaman : 162 - 172

Komentar