Kategori Utama

Gereja dan Alkitab (1)

Dear e-Reformed Netters,

Salam dalam kasih,

Maaf, sudah lama saya tidak mengirim artikel ke mailbox Anda. Tapi, meskipun terlambat saya harap artikel e-Reformed tetap dinantikan.

Pada kesempatan kali ini, artikel yang sangat menarik perhatian saya untuk dibagikan kepada Anda adalah tulisan dari T.B. Simatupang, seorang teolog Indonesia yang memiliki pemikiran yang sangat tajam dan pengetahuan yang sangat kaya tentang sejarah keadaan perkembangan gereja dan kekristenan di Indonesia. Artikel ini dipersembahkan sebagai salah satu tulisan bunga rampai dalam rangka peringatan 25 tahun kependetaan Caleb Tong. Silakan menyimak. Jika Anda adalah seorang yang memiliki keprihatinan besar tentang perkembangan kekristenan di Indonesia, saya yakin Anda akan sangat menghargai artikel yang ditulis oleh beliau ini.

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam dalam kasih,

Maaf, sudah lama saya tidak mengirim artikel ke mailbox Anda. Tapi, meskipun terlambat saya harap artikel e-Reformed tetap dinantikan.

Pada kesempatan kali ini, artikel yang sangat menarik perhatian saya untuk dibagikan kepada Anda adalah tulisan dari T.B. Simatupang, seorang teolog Indonesia yang memiliki pemikiran yang sangat tajam dan pengetahuan yang sangat kaya tentang sejarah keadaan perkembangan gereja dan kekristenan di Indonesia. Artikel ini dipersembahkan sebagai salah satu tulisan bunga rampai dalam rangka peringatan 25 tahun kependetaan Caleb Tong. Silakan menyimak. Jika Anda adalah seorang yang memiliki keprihatinan besar tentang perkembangan kekristenan di Indonesia, saya yakin Anda akan sangat menghargai artikel yang ditulis oleh beliau ini.

Jarang saya mendapati karya tulis pemikir Kristen Indonesia yang berbicara tentang sejarah atau tentang kekristenan, tapi ditulis dengan bahasa yang sederhana, jelas, "to the point" (tidak bertele-tele) dan elegan tanpa harus membubuhinya dengan istilah-istilah asing yang justru memberati kepala. Jika Anda membaca tulisan beliau dengan perlahan-lahan, sambil menikmati, tapi dengan perhatian dan konsentrasi yang penuh, Anda serasa sedang mendengarkan seorang tetua, yang sudah makan banyak asam garam kehidupan, sedang bercerita kilas balik tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau. Nah, jika Anda bisa sampai pada taraf ini, Anda sudah menemukan seting yang tepat untuk memikirkan secara lebih dalam pemikiran-pemikiran yang beliau sampaikan dalam tulisan ini.

Saya sempat membaca tulisan beliau ini beberapa kali. Setiap kali selesai membaca, perasaan nasionalis saya seperti dibangkitkan lagi. Sejarah kekristenan di Indonesia, dan juga sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia, seharusnya tidak dianggap "biasa". Sering kita memiliki sikap "take it for granted" dan membiarkan "spiritual treasure" ini dianggap sebagai hal yang sudah sepantasnya terjadi. Alangkah bodohnya kita! Kemutlakkan campur tangan Allah dalam setiap peristiwa sejarah, termasuk di Indonesia, seharusnya membuat kita tak hentinya berkata, "Wow ..., Tuhan itu luar biasa!" Menghargai intervensi Allah membuat kita mengerti bahwa hidup bukan sekadar hidup, tapi hidup adalah anugerah Tuhan. Karena itu, mari kita berjalan di dalam kehendak dan rencana-Nya.

In Christ,
Yulia

< yulia(at)in-christ.net >

NB:
Sekadar pemberitahuan bagi Anda yang ingin bersurat ke saya, mohon tidak mengirimkannya ke alamat Lyris (atau dengan kata lain, jangan tekan "reply") karena surat Anda akan menuju ke mesin pengirim, tapi tidak akan sampai kepada saya. Untuk menulis ke saya tujukan surat Anda ke alamat < yulia(at)in-christ.net >, saya akan membalas surat Anda.

Penulis: 
T.B. Simatupang
Edisi: 
086/IV/2007
Isi: 

Catatan:
Karena artikel ini cukup panjang, saya membaginya menjadi dua bagian dan akan dikirimkan dalam surat terpisah. Jika karena satu dan lain hal Anda hanya mendapatkan satu bagian saja, mohon menghubungi saya untuk meminta bagian yang lain. Terima kasih.

GEREJA DAN ALKITAB (1)
Sejarah perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia
Oleh: T.B. SIMATUPANG

U M U M

Apabila kita percaya dan yakin bahwa Alkitab adalah firman Allah yang harus disampaikan kepada semua bangsa dan yang harus dapat dibaca setiap orang, tentu dengan sendirinya kita menyadari keharusan untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa dari berbagai bangsa. Sebab tidaklah realistis untuk menuntut agar setiap orang yang hendak membaca Alkitab harus terlebih dahulu mempelajari bahasa-bahasa asli di mana Aklkitab ditulis. Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Baru, andaikata Perjanjian Baru itu hanya dapat dibaca dalam bahasa Yunani? Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Lama, andaikata Perjanjian Lama itu hanya dapat dibaca dalam bahasa Ibrani?

Tidak pernah ada semacam "larangan" untuk menerjemahkan Alkitab ke semua bahasa yang ada di dunia ini. Apabila Alkitab hendak disampaikan kepada semua bangsa, justru terdapat keharusan dan bukan "larangan" untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa dari semua bangsa. Dalam hal penerjemahan Kitab Suci terdapat perbedaan pandangan antara agama Kristen dengan beberapa agama lain. Upaya penerjemahan terhadap apa yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Lama telah dimulai sebelum Kristus lahir. Di antara orang-orang Yahudi yang hidup di perantauan (diaspora) banyak yang tidak memahami bahasa Ibrani. Oleh sebab itu, dalam abad ke-2 sebelum Kristus telah ada terjemahan dari Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, yaitu bahasa yang pada waktu itu paling luas tersebar di semua kalangan dan di semua bangsa di kawasan sekitar Laut Tengah. Itulah sebabnya, Perjanjian Baru kemudian ditulis dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu, posisi bahasa Yunani di Kerajaan Roma kurang lebih sama dengan posisi bahasa Indonesia dalam Republik Indonesia kita sekarang ini.

Pada hari pencurahan Roh Kudus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa yang berkumpul di Yerusalem mendengar rasul-rasul berkata dalam bahasa mereka. Sejak itu, dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8), untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan (Matius 28:19), Alkitab mulai diterjemahkan satu per satu ke bahasa-bahasa dari berbagai bangsa agar semua orang dapat membacanya dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa mereka sendiri berarti bahasa mereka sehari-hari, bukan bahasa dari bangsa atau suku sendiri. Apabila yang dimaksud ialah bahasa dari bangsa atau suku sendiri, maka Perjanjian Lama tidak pernah akan diterjermahkan dari bahasa lbrani ke bahasa Yunani seperti yang terjadi pada abad ke-2 sebelum Kristus.

Menerjemahkan sebuah buku dari suatu bahasa ke bahasa lain berarti mengusahakan agar terjemahan itu pada satu pihak setia kepada isi dari buku dalam bahasa asli dan pada pihak lain agar terjemahan itu dapat dibaca dengan jelas dalam bahasa yang ke dalamnya buku asli itu diterjemahkan. Tidak selalu mudah untuk menjunjung tinggi segi kesetiaan dan segi kejelasan ini secara serentak. Terjemahan yang setia sering tidak jelas, sedangkan terjemahan yang jelas sering tidak setia. Oleh sebab itu, menerjemahkan buku selalu merupakan pekerjaan yang berat. Menerjemahkan Alkitab lebih berat lagi. Sebab menerjemahkan Alkitab berarti menerjemahkan firman Allah ke bahasa-bahasa yang belum mengenal firman Allah dan oleh sebab itu, tidak mengenal kata-kata serta pengertian-pengertian yang diperlukan untuk mengungkapkan firman Allah itu. Oleh sebab itu, sering harus dikembangkan atau dipinjam kata-kata yang bersifat baru bagi bahasa yang bersangkutan.

Sering kali Alkitab harus diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal aksara. Sering pula terjadi bahwa terjemahan Alkitab memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan suatu bahasa bahkan perkembangan suatu bangsa. Oleh karena Alkitab merupakan buku yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang ada di dunia ini, pada umumnya dapat kita katakan bahwa terjemahan-terjemahan Alkitab telah memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan peradaban umat manusia pada umumnya.


Terjemahan Alkitab di Eropa, baik di Eropa Barat, maupun di Eropa Timur, dijalankan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal agama-agama "tinggi", yaitu agama-agama yang memiliki sistem pemikiran keagamaan yang berada pada tahap perkembangan yang tinggi, seperti kemudian terjadi waktu Alkitab diterjemahkan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa di Asia. Di antara bahasa-bahasa di Asia banyak yang telah lama dipengaruhi oleh sistem pemikiran dari agama-agama "tinggi", yaitu agama Islam, Hindu, atau Budha.

Di Eropa Barat terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgata memunyai pengaruh yang sangat luas. Di Eropa Timur yang sangat terkenal ialah terjemahan oleh Cyrillus dan Methodius, yang sekaligus mengembangkan aksara yang baru untuk bahasa Slavonik, yang disebut aksara "cyrilik". Orang-orang Rusia, Serbia, dan Bulgaria masih menggunakan terjemahan dalam bahasa Slovonik kuno dalam kebaktian-kebaktian mereka.

Setelah Reformasi, terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman (terjemahan oleh Martin Luther), dalam Bahasa Belanda (Statenvertaling), dan dalam Bahasa Inggris (Standard Version) telah memunyai pengaruh yang besar dan luas dalam perkembangan dari bahasa-bahasa dan perkembangan dari bangsa-bangsa yang bersangkutan. Sebab sebagai akibat dari Reformasi, Alkitab menjadi buku yang dibaca secara luas di kalangan rakyat.

Waktu saya menghadiri Sidang Raya Persekutuan Lembaga-Lembaga Alkitab Sedunia di Budapest pada tahun 1988, saya mendengar bahwa di negara komunis, Hongaria, Alkitab masih tetap dipelajari di sekolah-sekolah pemerintah sebagai buku yang memunyai pengaruh yang besar atas perkembangan bahasa dan kebudayaan Hongaria.

Di Mesir sendiri, Alkitab dalam bahasa Koptik telah melestarikan bahasa itu sejak bahasa Arab menjadi bahasa umum di Mesir setelah negeri itu dikuasai oleh pasukan-pasukan Arab yang menegakkan agama Islam dan bahasa Arab di sana.

Dalam upaya pekabaran Injil "sampai ke ujung Bumi", Alkitab telah diterjemahkan ke beratus-ratus bahasa di Asia dan di Afrika. Seperti telah kita singgung tadi, dalam pertemuan antara Injil dan bangsa-bangsa di Asia, Alkitab diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang telah memiliki aksara dan yang telah banyak dipengaruhi oleh sistem pemikiran agama-agama Hindu, Budha, dan Islam. Terjemahan-terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori pertama. Selain itu, dalam rangka pelebaran Injil itu, Injil juga bertemu dengan peradaban-peradaban suku-suku yang terkait dengan agama suku. Banyak di antara suku-suku itu belum memiliki aksara sehingga Alkitab merupakan buku pertama yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang bersangkutan. Terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori kedua. Menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang temasuk dalam kategori yang pertama dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang termasuk kategori yang kedua, tentu menghadapkan penerjemah dengan masalah-masalah yang memunyai sifat-sifat tersendiri.

Dalam rangka gerakan Oikumenis yang telah berkembang sejak awal abad ke-20 untuk menampakkan kesatuan umat Tuhan di dunia pada umumnya dan demikian juga di masing-masing negara, sebagai kesaksian di hadapan dunia, sesuai dengan firman yang berbunyi "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21), Alkitab telah menjadi salah satu faktor pemersatu yang utama di antara gereja-gereja yang memunyai tradisi yang berbeda-beda, seperti gereja-gereja Reformasi, gereja-gereja Ortodoks, dan gereja-gereja Roma Katolik.

Umat Tuhan di semua tempat dan zaman tidak hanya dipersatukan oleh "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua" (Efesus 4:5-6), tetapi juga oleh satu Alkitab. Dengan latar belakang yang bersifat umum tadi, sekarang klta akan mengemukakan beberapa catatan mengenai "Perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia".

PERTEMUAN INJIL DENGAN INDONESIA

"Perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia" kita tempatkan dalam rangka pertemuan Injil dengan Indonesia. Dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi, pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah barat. Pada pihak lain ada juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah barat itu kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul. Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab. Perjalanan Injil ke arah timur itu hanya kita ketahui dari sejarah saja. Catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah timur ini pun sangat sedikit. Lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.

Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan Alkitab untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.

Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah barat, ke Eropa, dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.

Dalam hubungan itu baiklah kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak memunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia Barat.

Pada waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.

(Bersambung ke bagian ke-2, yang dikirim dalam surat terpisah.)

Sumber: 

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Tantangan Gereja di Indonesia
Editor : Pusat Literatur Euangelion
Penerbit : Pusat Literatur Euangelion dan Yayasan Penerbit Kristen Injili
(YAKIN)
Judul artikel : Gereja dan Alkitab
Penulis : T.B. Simatupang
Halaman : 1 -- 5

Anatomi Kepercayaan Dan Iman: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (2)

Dear e-Reformed netters,

Artikel berikut ini adalah sambungan dari artikel yang diterbitkan di Edisi e-Reformed sebelumnya. Jika Anda belum menerima edisi sebelumnya tersebut, silakan menghubungi saya.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Artikel berikut ini adalah sambungan dari artikel yang diterbitkan di Edisi e-Reformed sebelumnya. Jika Anda belum menerima edisi sebelumnya tersebut, silakan menghubungi saya.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Penulis: 
Joseph Tong, Ph.D.
Edisi: 
082/II/2007
Isi: 

ANATOMI KEPERCAYAAN DAN IMAN: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (1)

MAKNA DAN DAMPAK IMAN

Berbicara dari sudut pandang teologis, iman berarti komitmen total dan memercayakan diri dalam Kebenaran dan memiliki hidup persekutuan dengan Allah sejati yang Esa -- sebuah perpalingan ontologikal kembali kepada Sang Pencipta. Perpalingan kembali ini tidak boleh dimengerti dalam pola pikir struktur pantheistik atau panentheistik, perpalingan kembali ke asal, seperti dalam praktik-praktik kontemplatif para-religius, kembali kepada sifat ketuhanan di dalam. Tidak juga boleh dimengerti sebagai kemampuan mencapai Firman untuk menjadi seperti Tuhan, atau untuk menjadi Tuhan. Sebaliknya, ini adalah sebuah perpalingan kembali yang asasi kepada Allah dalam konteks keselamatan kristiani. Pengertian yang benar akan kekristenan adalah bahwa Kristus adalah Firman yang menjadi daging supaya kita menjadi manusia, bukan menjadi allah. Sewaktu kita kembali kepada Allah, kita menjadi anak-anak Allah. Iman kita di dalam Kristus menghasilkan kepastian dan jaminan di dalam diri kita dengan cara-cara berikut ini dalam pengertian akan realitas:

Kepastian akan Kebaikan dan Kesempurnaan Allah

Masalah kejahatan dalam filsafat hanya dapat dijelaskan dalam konteks iman kristiani, di mana iman menyediakan pembacaan dan interpretasi yang benar akan realitas secara keseluruhan. Tanpa iman dan kepercayaan kepada Firman Allah, tidak akan ada makna bagi keberadaan apa pun. Iman kita dalam Kristus memberikan jaminan kepada kita akan kepastian kebaikan, sekaligus meyakinkan bahwa kejahatan adalah kesia-siaan. Dalam kekristenan, kejahatan tidak memiliki keberadaan yang nyata. Sebenarnya, kejahatan bukanlah lawan dari kebaikan, tetapi ketiadaan atau miskinnya kebaikan. Karya dan tindakan dari Allah yang sempurna selalu baik. Kebaikan seperti itu adalah fondasi dari semua kebaikan. Oleh karena itu, dalam iman, apa yang kita miliki dan apa yang kita alami adalah baik sempurna. Kesempurnaan seperti itu menjadi lengkap dan menjadi subjek pujian dalam keselamatan di dalam Yesus Kristus bagi anak-anak-Nya yang ditebus.

Adalah benar bahwa kehidupan di dunia ini penuh kesulitan, penderitaan, dan tragedi. Akan tetapi, bagi orang beriman, hidup itu penuh dengan anugerah dan hal-hal yang menyenangkan. Sebagaimana terang menjadi lebih cemerlang dalam kegelapan, kebaikan menjadi lebih manis di tengah-tengah kepahitan, begitu pula hidup kita lebih bermakna di dalam kesulitan, kesedihan dan penderitaan. Bagi mereka yang memiliki iman, segala sesuatu bekerja bersama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil oleh Allah (Roma 8:28). Dalam imanlah kita melihat keindahan ciptaan, pemeliharaan dan penebusan Allah.

Jaminan akan Makna dan Nilai yang Sejati

Dalam psikologi sosial dan ekonomi, nilai selalu mengikuti harga sedemikian rupa sehingga nilai dapat diciptakan oleh harga. Makna kemudian mengikuti. Oleh karena itu, selama seseorang berani untuk membayar harganya, walaupun mungkin tidak ada pasaran untuk sementara waktu, tetapi bila ia dapat bertahan cukup lama dan berani untuk melipatgandakannya dengan propaganda dan promosi yang baik, orang lain pastinya akan menerima nilai dalam harga tersebut, atau harga yang mereka bayar. Dalam perilaku seperti itu, harga menentukan pasar, dan lebih lanjut lagi, nilai dibentuk ketika harga dibayar. Manusia bahkan akan berpikir bahwa makna yang benar sejalan dengan harga. Walaupun kenyataannya tidak sesederhana itu, akan tetapi, seperti inilah tepatnya bagaimana struktur nilai dalam pola pikir modern berjalan pada saat ini. Kebanyakan orang tidak lagi tertarik dalam mencari makna dan nilai. Inilah penyebab utama dari kerusakan moral pada saat ini: Deskripsi yang murni dari manusia yang tidak mempunyai iman.

Secara teologis, maknalah yang menentukan nilai. Intisari dari makna tidak ditemukan dalam pembacaan dan interpretasi kenyataan, tetapi dalam relasi dan kesatuan antara makna tersebut dengan kebenaran dari kenyataan secara keseluruhan. Kebenaran adalah dasar dari semua makna. Sebenarnya, masalah kita bukanlah bahwa kita menyangkal kenyataan bahwa kebenaran ada, tetapi dalam asumsi kita bahwa kebenaran perlu dimengerti sebagai sesuatu yang nyata dan bermakna. Inilah tepatnya alasan kebanyakan orang menganggap pembacaan dan interpretasi kenyataan sebagai realitas dan kebenaran, meyakini bahwa tanpa pembacaan dan interpretasi, fakta, realitas dan kebenaran tidak memiliki makna dan oleh karena itu tidak memiliki nilai.

Asumsi seperti itu menegaskan bahwa kebenaran adalah murni keberadaan yang pasif. Ini adalah asumsi yang salah. Oleh karena pembacaan dan interpretasi harus dimulai dengan beberapa pendirian dan mengasumsikan dasar-dasar tertentu, yang tanpanya tidak mungkin ada komunikasi. Oleh sebab itu, dapat dicatat bahwa kebenaran tidaklah pasif. Sebaliknya kebenaran harus aktif. Seseorang yang membaca, memahami, dan menginterpretasikan, harus mengambil peran sebagai peran pembantu. Aktor utamanya, dalam hal ini, adalah Kebenaran itu sendiri atau pemberi Kebenaran. Iman hanyalah sebuah agen dalam proses tersebut.

Dalam teologi, kita menganggap iman adalah sesuatu yang dianugerahkan Allah oleh kemurahan-Nya di dalam hati manusia, yang memampukannya untuk membuat tanggapan yang sepatutnya pada saat kebenaran dinyatakan. Iman membuka pikiran manusia untuk menerima wahyu Allah dan berserah kepada Kebenaran, mengenal Kebenaran, menyatakan makna, menegaskan nilai dan mempertandingkan keberadaan kita. Secara sederhana, iman yang sejati membawa kita kepada pengertian yang jelas akan makna, merasakan nilainya, dan menikmati keberadaan kita. Tanpa iman, makna menghilang, nilai terlepas, dan keberadaan dipenuhi dengan kecemasan dan tekanan. Ini menjawab pertanyaan mengapa orang yang tidak beriman selalu hidup dalam kesia-siaan dan berkeluh tanpa harapan.

Kepastian akan Kenikmatan dari Keberadaan

Dalam penciptaan, keberadaan adalah sebuah keharusan ontological. Seperti itu, keberadaan menjadi tidak ada rasanya, tidak bermakna, membuat kita putus asa. Secara filosofis, selain Allah yang membuat keberadaan-Nya sendiri, segala sesuatu penuh keterbatasan. Oleh karena itu, jikalau tidak ada iman, tidak ada suatu apa pun dapat dinikmati. Keberadan tanpa iman menghasilkan ketidakberdayaan dan membawa keputusasaan, frustasi dan kebosanan. Iman membawa kita untuk merasakan kenikmatan dari kehidupan. Inilah tepatnya mengapa Paulus dapat berkata; Aku hidup oleh karena iman di dalam Anak Allah.

Bagi orang Kristen, karena kita percaya dalam Kristus dan mengambil bagian dalam sifat Allah, kita pastinya mengalami kebesaran dan kebaikan Allah, dan juga Allah sendiri, dalam keberadaan kita. Augustine pernah berkata, Allah memberikan segala sesuatu bagi kita untuk digunakan (uti) sehingga kita dapat menikmati (frui) Allah. Dalam pengertian seperti itu, walaupun kita harus melalui pencobaan-pencobaan Ayub, kita masih dapat bersukacita dalam penderitaan, seperti Ayub menyatakan bahwa: "Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan." (Ayub 1:21). Oleh karena itu, sekalipun Ia membunuhku, aku akan tetap percaya kepada-Nya. Iman membawa kita untuk merasakan anugerah-Nya dan Diri-Nya sendiri, membuat kita tidak hanya bersuka dalam kehadiran Allah, tetapi juga bersuka di dalam Tuhan. (Ibrani 11:6; Roma 5:11).

Puncak Kepercayaan dan Iman dalam Tindakan

Bagi kebanyakan orang, iman adalah suatu alat untuk mencapai atau menegaskan anugerah Allah. Hal ini benar hanya dalam pandangan pengertian religius akan iman. Secara teologis, iman bukanlah suatu alat; melainkan iman adalah suatu keadaan hati dan jiwa sebagai kepercayaan dan komitmen yang total kepada Allah. Kata "fiducia" dalam teologi mengandung banyak makna yang dalam. Kadang kala disebut "fiducia cordis" sebagai hati dan inti dari iman. Dalam bagian penggunaannya sepanjang sejarah Gereja, kata itu tampaknya kehilangan maksud dan maknanya seiring berlalunya waktu. Gereja secara bertahap telah bergeser dari penekanannya pada aspek percaya seperti yang dituntut oleh objek yang kita percayai, kepada aspek-aspek percaya tertentu dari seseorang yang percaya. Bergeser dari penekanan teosentris kepada penekanan antroposentris, dari teologi ke antropologi.

Bagi manusia, perwujudan kepercayaan dan iman adalah tindakan dan perilaku yang baik, secara umum dikenal sebagai pembenaran di hadapan manusia dan dipuji oleh orang lain. Karena Allah tidak memerhatikan penampilan, Allah tidak perlu untuk mendasarkan pembenarannya pada perbuatan baik manusia. Oleh karena itu, walaupun iman selalu didukung oleh perbuatan baik, tetapi iman dalam ciri-cirinya sendiri adalah perbuatan baik dihadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Inilah mengapa iman kadang-kadang disebut tindakan baik semata. (Lihat Lukas 12:8). Iman adalah tindakan kepada Allah dan di hadapan Allah. Inilah mengapa Allah membenarkan manusia karena imannya bukan perbuatannya. Dengan kata-kata biasa, karena iman adalah percaya dalam Allah, percaya adalah penyerahan diri yang total kepada Allah, seperti Paulus menyatakan bahwa kita dapat percaya pada-Nya dan juga menderita bagi-Nya. (Filipi 1:29).

Sisa makalah ini akan mendedikasikan dirinya pada penjelasan mengenai iman dalam arti "fiducia", dimana teologi Kristen menjelaskan lebih lanjut maknanya dalam istilah-istilah "iman yang takut" (apprehensio fiducialis); "iman inti atau hati yang percaya" (fiducia cordis), dan "kebaikan iman atau tindakan iman" (actus fidei).

Aspek-aspek yang Takut dari Iman

Apa yang kita maksud dengan iman yang takut adalah hasil dari tindakan dan pekerjaan yang mulia dari Roh Kudus, membuat manusia mampu mengamati dan memahami anugerah, karya, dan kehendak sempurna dari Allah dalam tindakan-Nya. Dengan kata lain, dalam iman yang takut, pikiran manusia ditangkap oleh Firman Allah. Karenanya, dia akan sepenuhnya mengerti dalam pengetahuan dan penyerahan kepada Allah dan Firman-Nya yang dinyatakan, dan dengan rela menerima penghakiman dan pengampunan-Nya.

Seperti Abraham, dia percaya apa yang telah Allah janjikan, dan Allah menganggap hal ini sebagai kebajikan-Nya. Inilah dasar dari iman kristiani, tantangan dan pencobaan yang utama yang dihadapi orang-orang Kristen saat ini. Pemazmur berkata, apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu? (Mazmur 11:2). Inilah tepatnya dimana penyakit-penyakit Gereja modern dan teologi modern dihasilkan. Baru-baru ini, banyak usaha didedikasikan pada diskusi-diskusi dan rekonstruksi teologi kristiani, mengabaikan fakta bahwa kita telah meragukan dasar iman kita dan mencoba untuk menggantikan Allah dengan nama-nama yang lain. (Mazmur 16:4). Ini adalah sebuah tanda yang nyata akan kurangnya iman yang takut. Usaha seperti itu dianggap gagal, karena bibit kerusakan ditanam pada saat itu bahkan sebelum usaha itu memulai rekonstruksi.

Iman yang sejati memahami kehadiran Allah dan kebesaran Allah, bahkan sebuah pengertian akan membawa kita pada pengalaman dari Yusuf muda yang pernah berkata, "Bagaimana bisa aku melakukan dosa yang begitu besar terhadap Allah! Bahkan ketika tak seorangpun tahu!"

Iman Inti atau Hati yang Percaya

Kata "cordis fiducia" mengandung dua arti: 1) sebagai sebuah indikasi bahwa tempat iman adalah dalam hati manusia, dan 2) bahwa inti dari iman adalah ketika hati menyatu dengan iman mengarahkan diri pada Kebenaran. Hal yang terakhir menunjuk pada fakta bahwa iman senantiasa melampaui intelektual dan ia berada pada jiwa yakni bagian utama dari eksistensi manusia. "Cordis fiduca" menentukan religiusitas manusia dan hubungannya dengan Allah. Hal yang terakhir itu mengacu pada fakta bahwa jiwa memiliki kemampuan mengasihi, memerhatikan, dan melekatkan diri pada Allah dan firman-Nya.

Secara harafiah dapat dikatakan bahwa kemampuan mengasihi dan memberi penghargaan adalah dua hal yang berbeda. Kasih cenderung lebih nyata sedangkan penghargaan berbentuk konkret. Keduanya adalah tanda dari sebuah kondisi dari perasaan dan karya yang benar sebagai suatu ungkapan dari sikapnya terhadap obyek dari keyakinan dan kasihnya. Iman yang sejati mengungkapkan diri sendiri dalam hati dan lewat ucapan. Hati dan ucapan berjalan seiring memercayai dan mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan (Rm. 10:9-10). Iman yang sejati lebih dari sekedar itu, ia tidak akan pernah malu pada injil Yesus Kristus (Rm. 1:16; Mrk. 8:38-39).

Dalam konteks pastoral, iman mengandung aspek mistik dan keajaiban. Iman membawa seseorang yang percaya dalam keberadaan tertawan, sehingga orang itu tidak dapat menahan diri untuk bersaksi di depan umum ataupun menolak dorongan untuk memproklamirkan nama Kristus dan memuliakan-Nya. Sesungguhnya, orang itu begitu bangga menjadi miliki Allah.

Dari zaman ke zaman, kita telah menyaksikan bahwa walaupun memercayai Yesus adalah hal spiritual dan pribadi, namun sejauh kaitannya dengan iman, sekali orang mengakui imannya pada Kristus (?). Dia tidak akan ragu untuk memproklamirkannya di depan umum sekalipun ia harus membayar harga dengan nyawanya sendiri. Bagi orang lain, seorang yang sudah percaya tidaklah perlu begitu offensif. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa orang percaya meyakini dan berdoa secara diam-diam sendiri. Namun bagi orang percaya sejati, iman mereka membara sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain melakukan sesuatu. Seperti Maria dari Betania, orang percaya yang sejati akan menghancurkan kendi minyak narwastu untuk mengurapi kaki Tuhan, meresikokan dirinya diserang oleh kritik tajam dan kecaman orang lain. Hal ini merupakan ekspresi dari penghargaan yang terbaik. Iman yang sejati tidaklah dapat diungkapkan sepenuhnya. Iman sejati dapat memperlihatkan dorongan yang dashyat, yang mampu memindahkan gunung dan membelah lautan. Iman sejati seperti api yang menghanguskan dan seperti air yang tiada henti menetes melubangi batu kerikil yang tebal. Semua hal ini merupakan penjelasan tentang iman, keyakinan yang dirasakan oleh hati.

Kebajikan atau Tindakan Iman

Sebagaimana kita diskusikan dalam tulisan ini, iman sejati tidaklah membutuhkan perbuatan untuk membuktikannya. Iman sejati sebaliknya merupakan perbuatan itu sendiri di hadapan Allah dan diterima oleh Allah. Teologi merujuk kebenaran ini sebagai kebajikan iman atau tindakan iman. Mengikuti Paulus, gereja tradisional menyakini iman, pengharapan, dan kasih sebagai tiga pilar utama dari keutamaan Kristen. Kebajikan iman, dipahami secara umum sebagai hal yang paling jelas di antara ketiganya. Sekalipun demikian, secara ontologis, iman sesungguhnya merupakan sebuah kesadaran diri yang jelas mengenai kehadiran ilahi yang menuntut sebuah ketertundukan total dan komitmen pada Allah dan firman-Nya. Penjelasan berikut ini memberikan gambaran mengenai tindakan iman sebagai kebajikan moral.

IMAN DALAM KOMITMEN

Komitmen merupakan sebuah tindakan sukarela alami dari seorang yang sudah diyakini oleh Kebenaran. Hal ini membawa kita pada beberapa pertanyaan teologis, sejauh pembahasan dalam konteks iman dan komitmen, apakah iman adalah hasil dari kemampuan subyektif manusia, "habitus fidei", ataukah hasil dari anugerah Allah, yang memampukan orang itu untuk secara total menyerahkan dirinya di hadapan Allah? Jika iman adalah inisiatif ilahi, maka apa yang seorang manusia lakukan hanyalah mempraktikkan hak istimewa yang diberikan oleh Allah saat ia berkonfrontasi dengan wahyu ilahi. Manusia tidaklah memiliki pilihan lain selain daripada respons yang sewajarnya kepada panggilan Allah. Berbicara dalam terang keyakinan Reformed, komitmen iman bukanlah usaha manusia, sebaliknya, iman adalah anugerah Allah. Dan dengan demikian, keutamaan iman merupakan pekerjaan Allah itu sendiri. Jelas tidak ada kontribusi manusia sama sekali. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi manusia untuk mengakui bahwa iman itu miliknya. Iman itu ada karena Allah bersedia tinggal di dalam manusia. Sebagaimana pepohonan dihanyutkan oleh banjir badang, demikianlah manusia disandera oleh Allah dan oleh kasih-Nya. Oleh sebab itu, komitmen penulis adalah agar kita dapat tinggal tenang seperti anak yang terlelap, sepenuhnya menyerahkan diri di atas pangkuan sang ibu. Dan hal ini merupakan tanda dari iman yang sejati yang membawa ucapan syukur dan pujian dalam diri kita. Orang yang memiliki iman tidaklah pernah menyombongkan diri, dia lebih memilih untuk berkomitmen total dan hanya bersedia berbicara hal yang besar mengenai Kristus yang tersalib (1Kor. 2:1-5).

IMAN DALAM KETERTUNDUKAN DAN KETAATAN

Iman dan ketaatan tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan ekspresi konkret dari keyakinan terhadap Kristus. Secara teologis, lawan dari iman bukanlah ketidakpercayaan, ataupun keragu-raguan melainkan kesombongan dan ketidaktaatan. Kejatuhan dari Adam dan Hawa, dan seluruh tokoh Alkitab merujuk pada fakta bahwa mereka terlalu sombong dan tidak taat. Alkitab menyatakan bahwa kesombongan mendahului kehancuran. Langkah pertama dari iman yang sejati adalah penyangkalan dan penyerahan diri dalam rangka mengikut Tuhan. Ketaatan dalam iman melibatkan hal berikut:

Pengetahuan akan Allah

Mengenal kedaulatan dan kemuliaan Allah. Keberadaan kita amat bergantung pada diri-Nya. Bagaimana kita dapat mempertanyakan Allah dan meragukan diri-Nya, dan firman-Nya? Pemazmur pernah mengatakan, "Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak" (Mzm. 39:10). Demikian juga kita mendengar pemilik kebun anggur berkata. "Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? (Mat. 20:15) Apakah yang dapat kita lakukan selain berkata "Aku hanya hamba Allah, lakukanlah sebagaimana yang Engkau kehendaki." Ketika Anak Allah datang ke dunia ini, Dia sengaja mengosongkan diri dan merendahkan diri. Mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Saat menjadi seorang manusia, Ia merendahkan diri sedemikian rupa dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib! (Fil. 2:6-8). Dia bahkan tetap taat saat menderita (Ibr. 5:8). Jika kita pernah mengenal Allah, mengapa kita tidak merendahkan diri dan secara penuh merendahkan diri kepada Tuan kita?

Pengetahuan akan Diri Sendiri

Dalam kenyataannya, kita sering membandingkan diri kita pada yang lain. Dengan berbuat demikian, kita akan terjebak di dalam kealpaan terhadap diri, posisi dan pendirian kita sendiri. Sesungguhnya, sebagian besar orang tidaklah puas terhadap hak istimewa yang mereka miliki. Hal ini merupakan hasil dari kealpaan kita terhadap fakta bahwa kita merupakan anggota keluarga sorgawi dan dunia (Ef. 3:15). Saat Petrus masih berpikir banyak mengenai nasib yang akan menimpa Yohanes, Yesus menjawab apa yang harus kamu lakukan adalah mengikuti Aku (Yoh. 21:22).

Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagian dan piala bagi kita; Dia menjaga harta benda kita agar tetap aman. Sebagaimana Pemazmur mengungkapkan "Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya milik pusakaku menyenangkan hatiku." (Mzm. 16:6-8). Oleh sebab itu, mari kita berdiam dan menenangkan diri dan ketahuilah bahwa ialah Allah (Mzm. 46:10). Mari kita dengar perkataan-Nya pada Daniel, "Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapatkan bagianmu pada kesudahan zaman" (Dan. 12:13). Tunduklah pada rencana dan pengaturan-Nya. Lakukan hal terbaik untuk tetap menaati-Nya. Karena Dialah bagian dari warisan dan piala kita (Mzm. 16:5). Jika Anda memiliki iman, akuilah dan puaslah dengan keadaanmu saat ini -- inilah tanda dari pengetahuan yang benar mengenai diri sendiri.

Pengetahuan akan Otoritas

Takut akan orang yang memiliki kuasa merupakan sebuah praktik yang wajar. Oleh sebab itu, otoritas dan kuasa telah menjadi tempat dimana orang mudah untuk menunjukkan ketaatan. Ketakutan jenis ini merupakan hasil dari ketidaktahuan akan otoritas yang sebenarnya. Ketaatan yang sejati menyerahkan diri pada otoritas yang tidak mengenal ketakutan. Otoritas itu adalah buah dari iman yang sejati. Di dalam otoritas seperti ini, kasih dimungkinkan untuk bertumbuh.

Kita percaya dan taat pada Kristus bukan karena kita takut pada-Nya namun karena kita terpaku oleh kedashyatan kasih Allah, dan oleh karenanya kita mengasihi Allah. Dalam konteks ini, ketaatan dan ketertundukan bukan lagi persoalan intelektual dan pemahaman sensasional, melainkan sebuah dorongan dari jiwa menuju pemenuhan. Oleh sebab itu, kita menjadikan hal menyenangkan hati Allah sebagai tujuan hidup kita (2Kor. 5:9). Sekalipun kita tidak pernah melihat Dia, kita mengasihi Dia. Dan sekalipun kita tidak melihat Dia saat ini, kita percaya pada-Nya dan hati kita dipenuhi oleh sukacita yang tidak dapat diungkapkan, karena kita telah menerima tujuan dari iman kita, yakni keselamatan dari jiwa ini (1Pet. 1:8-9). Klarifikasi dari pemahaman kita akan otoritas akan selalu menghasilkan ketaatan batiniah dalam diri kita.

IMAN DAN HAL MENGIKUT YESUS

Apa yang Kristus inginkan dari para pengikut-Nya adalah usaha menyangkal diri mereka sendiri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Orang yang percaya pada Allah, akan mengikut Allah. Hal ini memerlukan iman. Yohanes, murid yang dikasihi Kristus menyatakan bahwa orang yang mengikut Kristus adalah mereka yang menaati firman-Nya, di mana kasih Allah sungguh sempurna berada dalam diri mereka ... sebab barangsiapa yang berkata ia hidup di dalam Dia haruslah ia melakukan apa yang Yesus lakukan (1Yoh. 2:5-6).

Pesan terakhir Kristus kepada para murid-Nya hampir sama dengan ungkapan di atas, Dia berkata: "sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya" (Yoh. 13:15-17). Mengikuti Kristus adalah salah satu karakteristik yang terpenting dari menjadi seorang Kristen. Jika iman didirikan di atas dasar Firman Allah, maka hasilnya adalah kasih terhadap Allah dan meneladani hidup Kristus. Dokumen dan warisan literatur pada masa Abad Pertengahan mengindikasikan bahwa para orang-orang kudus mewariskan praktik hidup yang meneladani Kristus. Mereka mengikut Tuhan secara konstan dan konsisten. Dibandingkan dengan hidup kita hari ini, patutlah kita menjadi malu, karena walaupun kita mengakui telah mengenal Kristus dan memproklamirkan nama-Nya, namun dalam hal ketertundukan dan penyerahan diri untuk mengikuti serta meneladani-Nya, kita masih jauh dari apa yang Tuhan harapkan.

KESIMPULAN

Penyederhanaan iman rupanya merupakan paradoks pada kenyataannya. Setelah kejatuhan manusia, tidak ada seorangpun memiliki iman. Kita telah jatuh di dalam perangkap kepercayaan, yakni ketidakpercayaan dan keraguan terhadap hal-hal yang benar dan dapat dipercaya. Inilah sebabnya sejarahwan dan filosof, Will Durant pernah berkata: "Agama datang dan pergi, namun ketakhayulan berlangsung selamanya." Dalam perjalanan sejarah umat manusia, ketakhayulan tampaknya selalu mendahului agama yang sejati. Oleh sebab itu cara terbaik untuk memperlakukan kepalsuan dan ketakhayulan ini bukanlah dengan kekuasaan, politik, ideologi, teori ataupun uang. Bahkan tidak dengan agama ataupun kepercayaan agama, melainkan melalui iman yang sejati -- yakni iman yang berakar dalam Firman Allah dan pemahaman yang benar mengenai Allah dan wahyu-Nya. Allah pernah berkata pada Yeremia: "Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? Demikian Firman Tuhan. Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman Tuhan dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?" (Yer. 23:28-29).

Firman Tuhan adalah satu-satunya perisai yang paling ampuh untuk berhadapan dengan ketakhayulan dan keyakinan yang palsu. Biarkan kita membangun diri kita dengan iman yang paling suci dan berdoa di dalam Roh Kudus. Senantiasa berada di dalam lingkaran kasih Allah sementara kita menunggu belas kasihan Yesus Kristus yang akan membawa kita kepada hidup yang kekal (Yud. 20). Sebagaimana kita telah mengakhiri pertandingan yang baik, "aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2Tim 4:7-8), oleh sebab itu mari kita senantiasa percaya dan dengan gembira menaati Dia. Menjadi orang yang taat dan menjadi manusia beriman yang kelak mendapat pujian dari Allah.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Jurnal Teologi Stulos, Volume 4, Nomor 1, Juni 2005
Judul Artikel :Anatomi Kepercayaan dan Iman: Sebuah Refleksi
Teologis dan Pastoral
Penulis : Joseph Tong, Ph.D.
Penerjemah : -
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung
Halaman : 103 - 108

Anatomi Kepercayaan Dan Iman: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (1)

Dear e-Reformed netters,

Masyarakat Kristen saat ini telah dikacaukan dengan berbagai paham `positif thinking` yang sangat tidak alkitabiah, terutama melalui pengajaran-pengajaran dari teologia kemakmuran dan sejenisnya. Pernahkah Anda mendengar kata-kata seperti berikut ini, "jika Anda beriman, maka Anda akan sembuh" atau "jika Anda beriman maka Anda kaya". Jika ternyata Anda sudah berdoa dan tidak sembuh atau tidak kaya, maka itu tandanya Anda tidak beriman. Iman tak ubahnya dengan rasa percaya diri, karena itu untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan Anda harus beriman lebih keras lagi.

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Masyarakat Kristen saat ini telah dikacaukan dengan berbagai paham `positif thinking` yang sangat tidak alkitabiah, terutama melalui pengajaran-pengajaran dari teologia kemakmuran dan sejenisnya. Pernahkah Anda mendengar kata-kata seperti berikut ini, "jika Anda beriman, maka Anda akan sembuh" atau "jika Anda beriman maka Anda kaya". Jika ternyata Anda sudah berdoa dan tidak sembuh atau tidak kaya, maka itu tandanya Anda tidak beriman. Iman tak ubahnya dengan rasa percaya diri, karena itu untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan Anda harus beriman lebih keras lagi. Ini adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Dari praktik-praktik pengajaran yang sesat seperti ini, tidak heran jika banyak masyarakat Kristen Indonesia yang memiliki kehidupan, cita-cita, dan pemikiran yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang bukan pengikut Kristus. Betapa jauhnya orang mengerti tentang iman sebagaimana yang Alkitab maksudkan.

Iman bukan sesuatu yang diusahakan, tapi diterima. Iman juga bukan sesuatu yang menghasilkan keuntungan bagi manusia, tapi ketaatan dan kemuliaan bagi Allah. Lawan kata dari `iman` bukan `keragu-raguan` atau `ketidakyakinan`, tapi `ketidaktaatan` atau kesombongan. Bagaimana menjelaskannya?

Artikel yang saya baca beberapa waktu yang lalu dari Jurnal Teologi Stulos, yang ditulis oleh Dr. Joseph Tong, telah menggugah saya untuk mempelajari lebih dalam pengertian tentang iman. Saya sangat terkesan dan melihat iman seakan-akan seperti melihatnya dengan cara pandang yang baru, lain dari yang biasa saya lakukan. Sangat filosofis, karena itu Anda harus membacanya perlahan-lahan dan dikunyah satu persatu, kalau tidak Anda bisa tersedak alias mabok! Tapi percaya saya, `it`s worth reading`. Ada banyak pokok-pokok pemikiran penting yang perlu mendapat perhatian, khususnya bagi Anda yang dulunya merasa sudah mengerti tentang arti iman. Biarlah kita semua semakin diperkaya dengan kekayaan Firman-Nya, yaitu Firman yang hidup dan menghidupkan. Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Penulis: 
Joseph Tong, Ph.D.
Edisi: 
081/I/2007
Isi: 

ANATOMI KEPERCAYAAN DAN IMAN: Sebuah Refleksi Teologis Dan Pastoral (1)

PENDAHULUAN

Pada umumnya, kepercayaan dan iman dimengerti sebagai hal yang identik. Secara harafiah, "kepercayaan" kurang lebih dianggap bersifat subjektif dan pribadi, sedangkan "iman" dianggap sebagai sesuatu yang condong obyektif, yaitu sebagai 'pengakuan kepercayaan di depan publik.' Namun, dalam konteks studi keagamaan, penggunaan dua kata dapat dipertukarkan dan menunjuk pada suatu keadaan khusus dalam diri seseorang, atau pendirian yang dimiliki seseorang, ketika menghadap suatu Pribadi yang kudus, yang mulia atau yang tak terpahami. Kepercayaan dan iman diperlakukan secara berbeda hanya ketika aspek-aspek khusus ingin ditekankan dalam wacana-wacana keagamaan atau teologis.

Sebenarnya, kata "iman" telah beberapa kali mengalami perubahan makna sepanjang zaman. Secara keagamaan, iman tentunya adalah pengetahuan akal dan hati yang mengindikasikan soal dasar dan menyeluruh dari jiwa dan pikiran manusia sebagai 'suatu keadaan dasar yang menentukan perilaku dan keberadaan manusia.' Berbeda dengan kepercayaan, iman bukan semata-mata masalah pribadi, atau hanyalah keputusan yang bersifat pribadi yang tidak berhubungan dengan yang lainnya. Sebenarnya, dalam teologi Kristen, baik kepercayaan maupun iman tidak dapat dianggap hal pribadi atau hasil dari pikiran, emosi atau keinginan pribadi; sebaliknya kepercayaan dan iman berasal dari Allah dan wahyu Allah. Itulah sebabnya dikatakan, "Walaupun kepercayaan adalah hasil dari pikiran, pendirian atau pengalaman religius dari komitmen pribadi, tetapi kepercayaan bukanlah semata-mata hal pribadi." Iman adalah tanggapan atau pernyataan tanggapan, ketika seseorang merenungkan Allah serta karya dan penyataan-Nya. Secara sederhana, sifat positif dari tanggapan seperti itu disebut "iman," sedangkan sifat negatifnya disebut "ketidakpercayaan" atau "kepercayaan jahat atau sesat."

Persoalannya menjadi lebih rumit pembahasannya ketika kita merenungkan atau menganalisis masalah tersebut secara teologis. Hal ini dikarenakan oleh kenyataan bahwa kepercayaan dan iman tidak hanya tentang pendirian, agama dan komitmen seseorang. Iman sebenarnya adalah jumlah keseluruhan dari pikiran, perilaku dan keberadaan seseorang, bahkan jaminan dan kepastian eksistensi seseorang. Inilah sebabnya mengapa penulis kitab Ibrani memberikan pernyataan yang membingungkan, tetapi meyakinkan itu, bahwa, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat!" (Ibrani 11:1)

Makalah ini dimaksudkan untuk membahas di dalam kerangka filosofis, dengan menyajikan suatu refleksi anatomi yang positif, di dalam wacana teologis dan disertai kepedulian pastoral, tentang masalah tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk menjelaskan secara terperinci unsur-unsur iman, hakikat, makna, konsekuensi dan dampak-dampak iman kepercayaan dalam kehidupan orang-orang yang memilikinya. Penulis berharap bahwa gereja akan memiliki pengertian yang lebih baik tentang Kebenaran yang dipercayakan kepada kita dalam konteks pastoral, sehingga kita dapat memegang teguh iman yang kita miliki dan lebih berbuah dan setia di dalam gereja, maupun di dalam masyarakat kita.

PENJELASAN MENGENAI UNSUR-UNSUR IMAN

Secara Alkitabiah, Allah adalah satu-satunya sumber iman dan Firman-Nya adalah dasar iman kita. Tanpa Allah dan Firman Allah, tidak akan pernah ada iman, dan kita pun tidak membutuhkan iman. Sebagaimana hubungan antara Allah dan Firman-Nya, demikian pula seharusnya hubungan iman dengan Firman Tuhan. Iman selalu berkembang ketika Roh Allah bekerja dan manusia menanggapi secara kooperatif. Secara sederhana, iman tidak dapat datang dari manusia, atau atas inisiatif manusia, juga tidak dapat dilengkapi oleh manusia. Seperti yang pernah dikemukakan Paulus, "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus ...." "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 10:17; 11:36). Allah ialah yang pertama memberi kita Firman-Nya, dan Roh Kudus yang bekerja dalam cara yang khusus untuk membuat kita berbalik kepada Allah dari berhala-berhala untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar (1Tesalonika 1:9).

Oleh karena itu, secara teologis, iman itu murni pemberian Allah. Adalah Allah, yang dalam kemurahan-Nya, menyatakan Firman-Nya kepada kita melalui wahyu, inkarnasi, pengilhaman dan penulisan Alkitab, dan penyataan, untuk membawa kita mendengar Firman-Nya dan menanggapi panggilan-Nya kepada pertobatan dan pengampunan dosa.

Namun, dari sudut pandang manusia, iman harus dimengerti sebagai tanggapan dan perilaku manusia yang sepantasnya serta aktual terhadap kehadiran Allah melalui penyajian Firman-Nya. Dalam teologi tradisional, Alkitab menggambarkan iman dalam 3 cara, yaitu, iman intelektual (noticia), iman perasaan (assensus), dan iman kehendak (fiducia); untuk mengindikasikan unsur-unsur intelektual, emosional dan kemauan dalam iman serta pengaruh-pengaruhnya pada keberadaan manusia, secara berurutan. Semua ini dihasilkan dari pekerjaan Roh Kudus melalui Firman dari penyajian Firman serta pernyataan-Nya. Firman itu membuka hati manusia dan memperbarui pikiran mereka agar mereka dapat mengenal Allah dan wahyu-Nya. Demikianlah, manusia mulai mengetahui kebodohan, kesia-siaan, kebandelan dan kegelapan dari keberadaannya yang mula-mula. Di bawah penerangan Allah, pikiran kita mulai menyadari dan merasakan kesedihan yang mendalam akan kehidupan kita yang berdosa, kemudian dengan rela dan senang menyetujui teguran dari Roh, selagi hati kita tersayat dan berbalik kepada Allah (lihat Kisah Para Rasul 2:37). Akhirnya, kita dapat dengan bahagia mempercayakan diri kepada Allah dan Firman-Nya, dan menerima penghakiman-Nya tanpa syarat, untuk kemudian menerima anugerah pengampunan-Nya menuju regenerasi untuk memasuki kerajaan dari Anak-Nya yang terkasih (Kolose 1:13).

Sebenarnya, baik iman intelektual maupun iman perasaan adalah keadaan pikiran dalam alam intelektual dan emosional. Secara berurutan keduanya disebut "pengetahuan intelektual" dan "pengetahuan indrawi. Keduanya disebut "iman yang sementara," karena keduanya dibatasi oleh hal-hal fisik dan eksistensial atau pengalaman. Karena fakta bahwa iman yang sementara berserah kepada bukti-bukti faktual dan fisik, maka iman sementara itu rentan untuk berubah dan menghilang dalam ruang dan waktu. Tidak diragukan, iman intelektual dan iman indra memiliki kepastian faktual; namun keduanya bersifat sementara sehingga tidak bertahan lama. Inilah tepatnya, alasan mengapa kebanyakan gereja tradisional menemukan dirinya mengalami kesulitan untuk menerima gerakan Karismatik dan pekerjaannya di dalam gereja.

Sejauh berbicara mengenai iman, pengetahuan intelektual dan pengetahuan indera memerlukan keputusan yang berkemauan dan komitmen untuk menyelesaikan bagiannya. Keduanya membutuhkan penanaman Firman untuk membangun kepenuhannya untuk dapat disebut "iman yang sejati."

Dalam teologi, komitmen yang berkemauan disebut "fiducia", atau 'mempercayakan diri' (trust). Dalam konteks ini, keimanan yang mempercayakan diri adalah suatu bentuk yang sama sekali berbeda dari iman. Iman yang mempercayakan diri tidak hanya peduli tentang kemauan, pilihan, keputusan, komitmen dan tindakan semata-mata. Sebenarnya, iman yang mempercayakan diri untuk dinilai oleh obyek iman, yang merupakan sasaran iman, bukan oleh iman itu sendiri. Yang dipercaya, dan bukan yang memercayai, yang menentukan kepastiannya, maknanya dan nilai dari iman yang memercayakan diri itu. Dengan perkataan lain, dalam iman yang memercayakan diri, fokusnya bukan hanya kepada keputusan dan tindakan iman yang memercayakan diri itu saja; melainkan haruslah pada apa yang seseorang percayai dan siapa yang dia percayai. Dalam doktrin kristiani, orang Kristen mempunyai dua objek iman yang memercayakan diri itu, yakni: Kebenaran atau Firman Allah dan Allah sendiri. Yang pertama disebut "iman berpreposisi" atau "iman doktrinal," sedangkan yang kemudian disebut "iman relasional" atau "iman yang hidup," yakni isi kebenaran atau isi kehidupan dari iman. Secara sederhana, itu berarti mengetahui apa yang engkau percayai dan siapa yang engkau percayai; dan mau mati bagi imanmu, seperti halnya mau hidup baginya (atau bagi-Nya) pada saat situasi mengharuskannya.

Walaupun orang-orang setia tidak takut mati; tetapi mereka lebih suka hidup bagi iman mereka. Dilaporkan, ketika Uni Soviet yang dulu terpecah, banyak pejabat-pejabat tingkat tinggi melakukan bunuh diri. Alasannya antara lain, adalah: bahwa mereka memiliki iman dalam komunisme dan percaya bahwa ada sesuatu yang layak untuk ditebus dengan kematian, tetapi sekarang mereka tidak menemukan sesuatu yang layak untuk dijalani dalam kehidupan. Sementara kematian memang memberi kesaksian pada sesuatu yang dipercayai seseorang, tetapi ketika ia menemukan bahwa hidup tidak menyatakan kebenaran, apa gunanya lagi hidup baginya? Sejauh berbicara mengenai Kebenaran, ketika seseorang berkomitmen pada ideologi yang tidak benar, mungkin akan ada banyak alasan yang layak untuk mati baginya, karena kematian mengakhiri segala hal secara tidak dapat dikembalikan lagi, tetapi tidak ada satupun alasan untuk hidup baginya, karena untuk hidup terus adalah suatu penantian yang tidak ada akhirnya dan sia-sia.

Signifikansi iman Kristen yang sangat menonjol adalah, bahwa iman Kristen memiliki Kebenaran sebagai presuposisinya; juga memiliki Kristus yang hidup, Sang Juruselamat, sebagai dasar hidup dan relasi bagi imannya. Dalam konteks seperti itu, iman percaya membuat seorang percaya tidak hanya rela mati bagi apa yang diyakininya, tetapi juga membuatnya mampu untuk terus menjalani apa yang diyakininya dalam kehidupan. Karena Ia hidup, maka kita hidup, dan kita akan melayani-Nya dengan gembira (Yohanes 14:19, 12:24-26). Karena memiliki iman yang mempercayakan diri seperti ini, kita dapat berseru seperti Paulus, "Karena bagiku hidup adalah Kristus ..." dan "... hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Filipi 1:21; Galatia 2:20).

INTISARI IMAN - FIRMAN ALLAH

Analisis filosofis menghasilkan fakta bahwa segala sesuatu yang memiliki makna kekal atau nilai kekal harus memiliki hubungan langsung dengan Kebenaran. Manusia tidak dapat hidup tanpa iman. Ini adalah akibat fakta bahwa Allah telah membebankan kekekalan pada manusia (Pengkhotbah 3:10). Jiwa yang kekal menjadi pemacu yang tidak ada akhirnya, mendorong manusia untuk mengejar apa yang kekal dan abadi -- Kebenaran. Kita semua tahu bahwa manifestasi-manifestasi kebenaran yang luar biasa di dalam dunia fisik adalah fakta-fakta yang konkrit. Kita juga pasti tahu bahwa manifestasi-manifestasi kongkrit/pengaktualisasian kebenaran itu (fakta-fakta) belum tentu Kebenaran itu sendiri. Namun demikian, kita tetap tidak henti-hentinya mencari fakta-fakta, seolah-olah kebenaran adalah jumlah keseluruhan dari fakta-fakta. Meskipun ini tidak jelas, kita tetap rela dan bahkan terus-menerus menderita begitu banyak untuk pengejaran yang demikian sia-sia. Mengambil dalil kerangka struktur pengertian dari Kant, pengejaran terus-menerus yang seperti itu dengan jelas mengindikasikan kita yakin bahwa Kebenaran betul-betul ada. Kita bahkan rela mendedikasikan diri kita pada pengejarannya yang tiada akhir dan dengan gembira menyerahkan diri kita di bawahnya.

Dalam pandangan kristiani, kebenaran tidak hanya bersandar pada Allah yang kekal semata; kebenaran juga bersandar pada wahyu yang Allah telah berikan kepada manusia. Inilah alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa intisari dari iman bukanlah pada fakta-fakta, atau keyakinan seseorang, ataupun pada kepercayaan diri seseorang atas fakta-fakta semacam itu, tetapi pada Firman Allah yang diwahyukan. Karena Firman berasal dari Allah yang kekal, Firman adalah saksi-Nya. Firman itu telah menjadi daging dalam Kristus dan tinggal di antara kita. Firman itu dinyatakan dan dipelihara oleh gereja yang telah ditebus Kristus. Untuk alasan ini, teologi menjadikan Gereja sebagai pelindung iman, sebagai yang memiliki simpanan iman. Alkitab menyebut gereja sebagai tiang penopang dan dasar dari Kebenaran. (1Timotius 3:15).

Seseorang yang berada di dalam Gereja tidak akan hanya memiliki iman terhadap Injil (fides evangelica) untuk menjadi anak Allah; ia akan terpelihara dengan baik dalam Firman Allah dan bertambah dalam iman dan berkepenuhannya. Oleh karena itu, iman yang sejati tidak hanya dimulai oleh Firman, iman yang sejati juga harus ditanam di tanah yang subur: Gereja. Iman yang sejati perlu dilestarikan dan dipelihara dalam persekutuan yang penuh kasih dari orang-orang pilihan Allah. Dalam konteks ini, Roh Kudus akan menyucikan kita dan memurnikan iman kita dengan Firman-Nya untuk membuat kita berbuah. Inilah tujuan utama teologi pastoral dan pelayanan.

(Bersambung)

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Jurnal Teologi Stulos, Volume 4, Nomor 1, Juni 2005
Judul Artikel :Anatomi Kepercayaan dan Iman: Sebuah
Refleksi Teologis dan Pastoral
Penulis : Joseph Tong, Ph.D.
Penerjemah : -
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung
Halaman : 103-108

Perspektif Kristen Tentang Ekonomi (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Artikel yang saya kirim ini cukup panjang, karena itu saya akan persingkat prakatanya dengan menyimpulkan bahwa orang Kristen yang dekat dengan Tuhan dapat dilihat dari pertanggungjawaban sikapnya terhadap uang. Nah, selamat membaca, kiranya bisa menjadi bahan perenungan untuk bulan ini. Nantikan sambungan artikel yang ditulis oleh Paul Hidayat ini di edisi e-Reformed mendatang.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Paul Hidayat
Edisi: 
075/VI/2006
Isi: 

PERSPEKTIF KRISTEN TENTANG EKONOMI (1)

Peristiwa yang belum lama ini menimpa Indonesia dan kawasan Asia Timur dalam bidang ekonomi dan politik, tepat bila dinilai sebagai pengukuhan kebenaran firman yang diucapkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan-Nya "dua macam dasar" (Mat. 7:24-27). Perumpamaan Tuhan Yesus yang diambil dari fakta hidup sehari-hari itu jelas mengandung "common sense" yang berlaku bukan saja bagi pembangunan kehidupan spiritual tetapi juga bagi seluruh aspek kehidupan termasuk pembangunan kehidupan sosial ekonomi-politik. Bila kehidupan sosial- ekonomi-politik tidak dibangun atas dasar-dasar yang kokoh yaitu prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, kerja keras dan cerdas, pelaksanaan hukum secara benar, pencerdasan bangsa, sikap hemat, dlsb., maka hal-hal yang berhasil dibangun betapa pun megahnya ternyata hanya berdiri di atas dasar-dasar yang rapuh.

Kebangkrutan ekonomi dan kejatuhan kepemimpinan politik belum lama ini adalah akibat dari diabaikannya prasyarat-prasyarat tersebut. Penjarahan dan perusakan yang belum lama ini terjadi di berbagai kota kita, betapapun dengan pedih dan marah kita menyikapinya, hanya mungkin terjadi di dalam kondisi di mana para penguasa dan pengusaha lebih dulu telah menjarahi kalangan bawah dan membangun kegemilangan di atas kehancuran banyak pihak. Prinsip yang sama pun berlaku juga untuk lingkup lebih luas. Lautan api yang melahap ratusan ribu hektar hutan-hutan di Kalimantan, Sumatera; perikliman dunia yang beberapa tahun terakhir ini menjadi kacau; malapetaka El Nino yang mungkin sekali akan berkelanjutan dengan datangnya La Nina; semua kemungkinan besar diakibatkan oleh kebijakan dan perilaku ekonomi-politik yang memperkosa prinsip-prinsip ekologis. Badai memang menyukai negeri tempat orang menabur angin.

Tak terduga bahwa ekonomi Asia akan goncang, ekonomi Indonesia akan runtuh. Sejak tahun 1970-an ketika seluruh dunia mengalami lesu darah ekonomi, pertumbuhan ekonomi Asia Timur justru deras mencengangkan. Hong Kong, Taiwan, Singapura, Korea Selatan, disusul Thailand, Indonesia, Malaysia, menjadi naga-naga ekonomi mengikuti kiprah Jepang, sang naga ekonomi besar. Sampai dengan kwartal ketiga tahun 1997, Indonesia mampu mencapai tingkat pertumbuhan antara 6,4 sampai 7% secara berkesinambungan. Selama kurun waktu tersebut, tiap RAPBN selalu mencerminkan gairah pertumbuhan yang tak habis-habis. Karena keberhasilan itulah, Indonesia beroleh reputasi internasional. Indonesia begitu yakin akan segera memasuki "era lepas landas", berkiprah besar dalam era pasar bebas Asia dan berikutnya dunia. Keyakinan ini dipompakan setelah berhasil menjadi negara berswasembada pangan, meningkatkan pendapatan per kapita sampai 18 kali dalam kurun waktu 30 tahun, dari US $ 60 di tahun 1966 menjadi US $ 1100 di tahun 1996, menyebabkan persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan merosot drastis dari 60% menjadi hanya 11% dari total penduduk, berkembang dari negara pertanian menjadi negara industri bahkan tak kepalang tanggung memasuki sektor industri pesawat dirgantara. Ditambah dengan sediaan cadangan devisa yang dianggap cukup dan tingkat inflasi di bawah dua digit, para pemimpin beranggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat baik.

Tetapi bangunan ekonomi megah tersebut ternyata menjulang di atas dasar-dasar yang rapuh dan menggunakan bahan-bahan konstruksi yang keropos. Komentar Paul Krugman yang semula dianggap menyakitkan dan tidak benar namun kemudian ternyata benar bahwa mukjizat ekonomi Asia hanya mitos belaka, justru seharusnya lebih dipertajam dengan 2pernyataan bahwa yang kita alami sekarang adalah kutuk dari membangun mukjizat palsu dalam bidang ekonomi (the curse of fake economic miracle). Tingkah laku yang menyebabkan keruntuhan ekonomi itu adalah hal-hal yang melanggar prinsip moral dan etika. Kebangunan ekonomi Asia terutama didorong oleh faktor suntikan modal asing, upah kerja yang rendah, penggunaan pinjaman asing berbunga rendah bukan untuk produksi tetapi untuk prestise (mega proyek, property yang sering dianggap seperti milik sendiri), sementara sistem ekonominya tidak sehat dan berbiaya tinggi, pelaku manufakturnya tidak andal, teknologinya kepalang tanggung, mentalitas budayanya bapakisme dan wawasan hidupnya tentang realita dan waktu bersifat mistis melihat hidup sebagai roda pedati menghasilkan sikap hidup nrimo.

Ketika imbas gempa moneter di Thailand, bergerak ke Indonesia, mulailah rentetan keruntuhan ekonomi Indonesia. Nilai rupiah terhadap dolar terbanting berulang kali, menjadi tidak sampai seperempatnya dari nilai rupiah pada kwartal ketiga tahun 1997. Harga-harga membubung tinggi, bank-bank bertumbangan, perusahaan-perusahaan hancur, PHK melonjak, jumlah pengangguran meningkat menjadi sekitar 20 juta orang, harga saham anjlok, hutang luar negeri menjadi membengkak hitungannya dalam rupiah dan tidak terbayar, BBM dinaikkan, harga- harga melangit. Hal-hal tadi dan masih banyak lagi lainnya menjadi terowongan gelap yang di dalamnya keruntuhan ekonomi Indonesia terjun bebas belum lagi menyentuh dasar. Ketika tulisan ini disusun, empat bulan pertama 1998 inflasi sudah mendekati 45% (diramalkan akan sekitar 85% tahun 1998) dan tingkat pertumbuhan melorot terus dari 0%, ke -5% dan belakangan diramalkan lagi akan -20%. Tiba-tiba bagaikan mimpi buruk di siang bolong, seluruh Indonesia jatuh miskin. Tingkat pendapatan per kapita anjlok menjadi setara dengan penduduk Zambia. 2Yang sudah miskin makin jatuh ke bawah, yang sempat mencicipi kenikmatan hidup kelas menengah harus kembali lagi paling tidak ke kelas menengah bawah, yang kaya bahkan konglomerat pun jatuh miskin karena andaikan seluruh aset yang dimiliki dijual pun tetap tidak memadai untuk membayar hutang-hutang luar negeri. Dan karena banyak negara tetangga lain sedang menelan pil pahit yang sama, ratusan ribu TKI mulai dipulangkan ke tanah air, membuat masukan devisa menipis dan masalah bertambah seiring bertambahnya pengangguran. "Berkat" dari ekspor yang diharapkan, akibat melorotnya nilai rupiah, ternyata tidak terjadi, sebab harga-harga bahan baku yang harus diimport tidak mungkin lagi dapat dijangkau. Penyakit ekonomi yang dialami Indonesia kini sudah menjadi gejala komplikasi penyakit yang parah: depresiasi rupiah, kenaikan harga-harga, inflasi, kebangkrutan perusahaan dan perbankan, PHK, tingkat pengangguran bertambah, kerawanan politik, ketidakpercayaan investor asing, semua ini membuat perekonomian Indonesia makin terus terpuruk.

Mengapa dengan fundamental ekonomi yang kuat dan sehat itu, ekonomi Indonesia goncang dan hancur juga? Mengapa naga ini kini mendadak berubah menjadi cacing belaka? Lalu ramai-ramai orang membuat berbagai macam analisis. Karena tidak jujur, tidak mawas diri, kambing-kambing hitam pun dicari. "Soros sampai Sosro" (menggunakan permainan kata Wimar Witoelar, Kompas, 23 Nov. 1997, hlm. 2) yaitu para spekulan manca negara dan dalam negeri dituduh sebagai penyebab semua masalah ekonomi ini. Baru sesudah masalah ekonomi ini berubah menjadi masalah politik, krisis moneter berubah menjadi krisis kepercayaan, ramai- ramai; orang meneriakkan pengakuan bahwa penyebab semuanya adalah dilanggarnya prinsip-prinsip moral. Fondasi bangunan ekonomi Indonsia itu ternyata bernama korupsi dan kolusi, lalu bahan-bahan konstruksi yang dipakai untuk mengisi sistem perekonomian Indonesia adalah nepotisme dan koncoisme. Beramai-ramai pula orang menyerukan perlunya reformasi di segala bidang. Semoga saja ramai-ramainya teriakan dan tudingan ini bukan sekadar latah, gejala lain dari sakit yang entah sudah stadium ke berapa diidap bangsa kita.

Kegagalan Gereja

Seharusnya gereja di Indonesia mengaku jujur bahwa problem ekonomi di Indonesia ini tidak lepas juga dari andil kegagalan Gereja, teolog dan umat Kristen di Indonesia dalam menaati kebenaran firman Tuhan. Gereja gagal memberikan pengajaran yang jelas dan benar tentang implikasi- implikasi kebenaran Alkitab ke dalam dunia ekonomi, tentang prinsip- prinsip etika ekonomi dan moral bisnis, baik kepada warganya maupun menyuarakannya sebagai wawasan dan sikap Kristen tentang ekonomi kepada dunia luas. Sebaliknya Gereja sendiri malah cenderung membuat kesalahan fatal memahami berita keselamatan dari Allah dalam simbol- simbol moneter (Albert Widjaja, "Perspektif Ekonomi-Teologis: Peran serta Kekristenan dalam Perkembangan Ekonomi di Era Globalisasi Bagian I," hlm. 8). Kebanyakan gereja yang "maju" adalah gereja-gereja yang bersemangat mengabarkan injil kemakmuran dan kesehatan, gereja-gereja yang pandai memanfaatkan teknik, metode dan alat-alat canggih yang sama seperti dikembangkan dalam teknik-teknik marketing. Kebanyakan teori tentang kemajuan pertumbuhan gereja menggunakan ukuran-ukuran kuantitatif dan bukan perilaku pertobatan sampai ke segi-segi kehidupan ekonomi. Sebaliknya dari menyuarakan pesan kenabian dan mengemban gaya hidup prihatin yang konsisten dengan firman Tuhan, gereja sekadar membeo mengikuti berbagai suara dan aspirasi yang dunia ini canangkan.

Para hamba Tuhan atau teolog pun terbagi ke dalam dua kutub. Yang rohani sempit tidak paham tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia ekonomi-politik. Lalu mereka menyampaikan pesan-pesan surgawi yang tidak kontekstual dengan kenyataan dan pergumulan hidup sehari- hari. Akibatnya, di gereja orang bertingkah rohani, di dunia orang kembali ke sifat asalnya yang sama dengan orang dunia yang tidak kenal Tuhan: serakah, takut berbuat benar, licik, menghalalkan segala cara, dll. Yang duniawi luas tidak lagi memercayai kebenaran-kebenaran rohani seperti yang dinyatakan firman Allah, meski berupaya tetap punya peran dalam dunia ini. Namun karena prinsip, landasan berpikir, dan sumber wibawa yang diandalkan tidak beda dengan yang dipahami orang dunia, usaha mereka menjadi sia-sia. Situasi itu terjadi sebab kebanyakan sekolah-sekolah teologi tidak mampu mengembangkan pola pendidikan yang solid berdasarkan komitmen pada kebenaran Alkitab dan yang jernih menarik implikasi-implikasi teologis kebenaran tersebut ke segala aspek kehidupan.

Tidak heran bila para warga gereja yang dibesarkan dalam suasana kehidupan gereja yang notabene sama memberhalakan mamon dan sama sekularnya dengan dunia ini pun meneruskan itu dalam perilaku bisnis dan kerja mereka. Tidak banyak Kristen yang memiliki prinsip berani membayar harga untuk tidak membayar suap demi melicinkan tender, misalnya. Tidak banyak Kristen yang tidak main tempel penguasa untuk beroleh kemudahan sehingga benar-benar mencapai kemajuan bisnis karena cara-cara yang fair dan benar. Bila tiap kali berurusan dengan aparat pemerintah ketika mengurus KTP, IMB, paspor, pajak, tilang, dlsb. kita selalu siap dengan salam tempel; bila budaya dusta (baca: tidak transparan), suap, sogok, korupsi, kolusi, koncoisme sama biasanya kita lakukan dalam berbagai urusan; bila para pendeta sendiri mengartikan perannya bukan sebagai panggilan tetapi sebagai karir atau profesi; bila gereja sendiri pecah karena hal-hal seperti perebutan aset, penggelapan, ketidakjujuran; tidak heran bila dunia ekonomi kita kini terpuruk dan dunia politik kita terancam hal yang sama.

Kiranya kealpaan gereja selama ini tidak kita teruskan dalam keterlenaan seterusnya. Momentum kini, ketika orang menyadari perlunya reformasi dan pentingnya mentalitas, sikap kerja, etika ekonomi, moral bisnis, justru harus diisi dengan pertobatan gereja dan pribadi Kristen dari dosa-dosa ekonomi yang selama ini telah kita buat, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama kita. Kita yang mengaku telah mengalami kuasa transformasi Allah atas hidup kita seharusnya konsisten mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan ekonomi dan moral bisnis yang Alkitabiah agar boleh terjadi penghayatan dan pewartaan yang memberi arah yang benar dalam momentum reformasi ini. Inilah kesempatan untuk gereja menyatakan kebenaran ekonomi Allah (oikonomia tou Theou = tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, Ef. 3:2) yang meliputi seluruh kehidupan secara lengkap dan utuh. Tulisan ini ingin menelusuri ajaran Alkitab tentang isu-isu ekonomi, mempelajari implikasi ekonomis dari beberapa prinsip teologis Kristen, membandingkannya dengan berbagai pandangan tentang isu-isu ekonomi yang dianut orang, meneropong berbagai permasalahan yang relevan dalam bidang ekonomi dan mencoba menarik petunjuk-petunjuk prinsipil praktis bagi kehidupan ekonomi kita masa kini.

Alkitab tentang Isu-isu Ekonomi

Di awal upaya menemukan petunjuk dan prinsip ekonomi dalam Alkitab, kita harus berhadapan dulu dengan berbagai pertanyaan kritis. Ada tiga keberatan yang sering diajukan orang. Pertama, mungkinkah menarik prinsip-prinsip universal dan permanen dari Alkitab yang lahir di tengah kultur yang zaman dan lokasinya berbeda jauh dari dunia dan negara kita kini? Kedua, tepatkah menarik kesimpulan-kesimpulan tentang prinsip-prinsip ekonomi dari suatu kitab yang pada hakikatnya adalah kitab peribadahan? Ketiga, bagaimana mungkin memberlakukan bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang berbagai isu ekonomi, bila kebanyakan isi Alkitab itu terdapat dalam Perjanjian Lama yang tidak memisahkan kehidupan bernegara dari kehidupan beragama (baca: teokrasi), padahal kita tidak hidup dalam negara yang teokratis. Seiring dengan itu, ada keberatan terhadap diberlakukannya prinsip- prinsip etis ekonomi dalam Perjanjian Baru kepada konteks masyarakat luas karena anggapan bahwa ajaran-ajaran itu hanya bisa diberlakukan di antara umat tebusan Allah dan tidak di antara orang- orang yang belum ditebus.

Terhadap keberatan pertama dapat kita ingat bahwa memang ada perbedaan dan kesenjangan budaya/zaman antara dunia Alkitab dan dunia modern masa kini. Namun justru pengambilan prinsip tersebut bisa terjadi karena mempertimbangkan dan bukan mengabaikan adanya kesenjangan itu. Dengan demikian keberatan tentang kesenjangan budaya ini sebenarnya dapat dijawab melalui usaha-usaha penafsiran Alkitab yang teliti mempertimbangkan perbedaan konteks zaman dan budaya Alkitab dengan konteks zaman dan budaya kita kini.

Terhadap keberatan kedua, kita akui bahwa Alkitab memang bukan buku teks ekonomi, juga bukan buku teks ilmu-ilmu lain, bahkan bukan pula buku teks dogma dan teologi. Dengan mengatakan demikian artinya kita menyadari bahwa Alkitab tidak berisikan uraian deskriptif, analitis, dan sistematis tentang hal-hal tadi seperti yang kita temukan dalam buku-buku sumber pelajaran. Namun mengatakan demikian tidak harus berarti bahwa kita tidak dapat melakukan abstraksi untuk menemukan pola-pola wawasan dan petunjuk-petunjuk prinsipil tentang berbagai segi kehidupan di dunia ini dari dalam isi Alkitab. Bila dari Alkitab kita dapat menarik prinsip-prinsip dogmatis, seyogianya tentang hal- hal yang mencakup segi ekonomi kehidupan manusia pun dapat kita simpulkan dari firman Allah ini sebab Alkitab adalah firman Allah dalam kata-kata manusia, yaitu kata-kata yang lahir untuk dan dari dalam pergumulan-pergumulan nyata kehidupan dengan berbagai aspeknya. Seperti halnya ketika Allah bersabda, Allah tidak saja membentangkan diri-Nya kepada manusia tetapi juga membentangkan bagaimana adanya dan bagaimana harusnya manusia, demikianlah isi Alkitab adalah sekaligus prinsip-prinsip spiritual teologis yang mewujud nyata di dalam segi- segi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politis, pendidikan, dlsb. Oleh karena kita tidak hendak mengambil model-model sistem ekonomi secara rinci yang berasal dari situasi masyarakat nomad dan agraris, melainkan prinsip-prinsip dasar etika ekonomi dan moral bisnis, tentunya keberatan tadi tidak tepat.

Keberatan terakhir dapat kita sanggah dengan mengingat bahwa sebagian besar prinsip-prinsip yang Tuhan nyatakan juga diberlakukan (baca: dikaruniakan) Tuhan atas bangsa-bangsa lain dan orang bukan Kristen pada umumnya. Hal mana dapat kita lihat dari teguran-teguran para nabi seperti Yesaya kepada bangsa-bangsa sekitar Israel. Dengan mengingat bahwa di dalam penyataan dan anugerah umum Allah bekerja juga di dalam seluruh umat manusia, memberikan nurani, kerinduan moral, kepekaan etis dan agamawi, serta kekuatan kehendak untuk memperjuangkan hal-hal yang indah, tertib, dan benar, maka menyuarakan dan memberlakukan prinsip-prinsip wahyu ke dalam masyarakat luas adalah tindakan nyata dari keyakinan bahwa Allah bekerja serasi dalam penyataan umum maupun penyataan khusus. Dengan demikian keberatan ketiga ini pun pada intinya telah teratasi.

Singkat kata, di balik keberatan-keberatan itu terdapat awal dan akhir berwawasan yang harus kita tentang sebagai orang beriman yaitu menyingkirkan Allah dari realitas ekonomi. Justru kebobrokan ekonomi- politik yang sedang kita derita kini adalah akibat dari orang-orang yang berpola pikir dan bertingkah laku memberontak menolak Allah dari percaturan bisnis dan kehidupan ekonomi. Apabila Kristen dan gereja ingin berkontribusi nyata menyebabkan reformasi ekonomi berarah benar, maka haruslah kita mulai dari pemikiran alkitabiah.

Apa kata Alkitab tentang isu-isu ekonomi? Kita akan terkejut atas fakta bahwa Alkitab begitu banyak berbicara tentang isu-isu ekonomi. Dari kisah yang sedang kita siap untuk masuki, penciptaan, kejatuhan, perjanjian dengan Nuh, perjanjian dengan Abraham, keluaran dari Mesir, pemberian Sepuluh Hukum, kitab-kitab hikmat, kitab-kitab para rabi, ajaran Tuhan Yesus, gaya hidup jemaat mula-mula, ajaran para rasul, kita temui banyak sekali bahan untuk menyimpulkan prinsip-prinsip ekonomi.

Kisah penciptaan (Kej. 1-2) adalah fondasi di atas mana seluruh realitas ciptaan berdiri dan di dalam terangnya realitas harus kita pahami. Apa yang dipaparkan dalam kisah penciptaan, apabila dibandingkan dengan pandangan dan sikap bangsa-bangsa purba di Timur Tengah, adalah sesuatu yang radikal. Di dalamnya kita menjumpai suatu visi ekonomi sebagai implikasi dari kebenaran-kebenaran teologis yang Allah tanamkan dalam umat-Nya. Di tengah pengilahian alam dan benda yang tidak memungkinkan perlakuan objektif eksploratif terhadap alam serta tidak menumbuhkan visi ekonomi, umat Tuhan justru diajar untuk melihat adanya perbedaan ontologis antara Allah dan segenap ciptaan, juga adanya kesamaan dan ketidaksamaan antara manusia dan alam serta makhluk-makhluk lainnya. Terhadap Allah yang menciptakan manusia dan yang menamai manusia, manusia menyapa Allah dengan "Engkau". Terhadap alam, manusia ditempatkan Allah sebagai wakil-Nya yang bertanggung jawab untuk mengelola dan memelihara alam demi kemuliaan Allah dan demi kebaikan manusia dan segenap ciptaan. Di dalam pemahaman demikian, logis bertumbuh sikap ilmiah sebab manusia melihat alam sebagai sesuatu yang boleh diusahakan, ditaklukkan, dan dikelola melalui keahlian, teknologi, institusi untuk membangun peradaban.

Umat Tuhan diajar untuk menerima alam sebagai hal yang baik adanya karena demikianlah keadaannya sebagai ciptaan Tuhan, dan karena itu kita boleh menerima dan memanfaatkan semuanya itu dalam semangat syukur kepada Allah. Di dalam tindakan Adam memberi nama kepada binatang-binatang, terlihat sekaligus posisi Adam yang lebih tinggi daripada binatang dan ciptaan lainnya, tetapi juga sikap Adam yang menghargai, memelihara dan bukan merusak ciptaan-ciptaan Tuhan itu.

Kisah penciptaan memberi kita prinsip ekonomi bahwa hanya Allah yang patut disembah dan dilayani oleh segenap hidup manusia, bahwa manusia diberi makna hidup yang sangat mulia oleh Allah, bahwa panggilan hidup manusia sebagai gambar Allah yang mulia itu adalah menjadi hamba Allah, bahwa alam dan segenap potensinya boleh diterima dan dikelola dengan penuh syukur oleh manusia, dan bahwa kekayaan alam atau pun kekayaan hasil dari tindak kreatif manusia mengelola alam itu bukan milik mutlak manusia tetapi Allah, sehingga tidak boleh diberi tempat mutlak di dalam keberadaan manusia. Tidak ada tempat bagi kehidupan ekonomi yang egosentris, yang serakah, atau yang kebalikannya yaitu merendahkan benda dalam hidup bertarak, atau sikap tidak ilmiah yang melumpuhkan kehidupan ekonomi karena pantang menjamah alam dan materi yang dianggap suci ilahi.

Sayang sekali visi ekonomi yang sedemikian gemilang itu dirusakkan manusia dalam Kejatuhan kita di dalam Adam dan Hawa ke dalam dosa (Kej. 3). Manusia menerima aspirasi sesat, yaitu ingin menyamai Allah. Kisah kejatuhan ini bukan sekadar peristiwa sejarah tetapi pembedahan radikal dan peringatan untuk seluruh umat manusia. Dosa berarti menarik diri dari Allah, menjadikan diri "allah" bagi diri sendiri, membuat norma kita sendiri tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Kejatuhan pada hakikatnya adalah daya yang berbalik membelokkan visi ekonomi penciptaan. Ekonomi Allah yang kini diganti oleh ekonomi manusia, berbalik menjadi mukjizat palsu penuh kutuk. Kerja bukan lagi tanggung jawab yang menyukakan tetapi membuat orang berjerih payah, bumi yang tadinya menjadi sumber penopang hidup berubah mengeluarkan onak duri, dan manusia sendiri yang tadinya makhluk ciptaan mulia sejak itu tinggal debu yang kembali kepada debu saja. Ekonomi manusia itu hanyalah kerajaan yang meluncur menuju kehancuran dan maut. Namun, puji Tuhan bahwa anugerah Tuhan menahan dampak kutuk dosa itu. Meski mengeluarkan onak duri, bumi masih juga mampu menumbuhkan padi yang memberi manusia beras untuk dimakan. Janji benih perempuan yang akan meremukkan kepala si penipu menunjukkan bahwa bumi kini bukan lagi firdaus, namun bukan juga neraka, tetapi adalah arena peperangan rohani yang akan ditebus dan dimenangkan oleh Sang Pengemban Janji itu.

Berturut-turut kita melihat akibat-akibat buruk dari ekonomi manusia (Kej. 4 dan 6). Diawali oleh konflik halus antara Adam dan Hawa, diikuti oleh pembantaian Habel oleh Kain, pembangunan kota penuh aspirasi jumawa manusia (Kain menamai kota itu dengan nama putranya) yang berpuncak pada pemberontakan masal manusia melawan Allah via menara Babel. Ketika Allah menindak manusia dan membuat perjanjian dengan orang pilihan-Nya yaitu Nuh, tampak beberapa hal. Pertama, Allah memperbarui perjanjian-Nya akan mempertahankan bumi dengan berbagai potensi baik yang telah diciptakan-Nya diawal zaman. Kedua, Allah menegaskan ulang wibawa manusia atas alam. Ketiga, meski manusia berkuasa atas binatang namun kini ditandai oleh takut manusia akan binatang buas dan penumpahan darah binatang untuk menopang hidup manusia. Dari ketiga hal ini jelaslah bahwa providensia Allah adalah upaya Allah untuk merombak ekonomi manusia agar berbalik arah kembali ke Ekonomi Allah. Namun providensia adalah sesuatu yang transisional dan temporal yang menantikan kedatangan transformasi total di dalam tindakan Allah dalam kepenuhan waktu.

Kitab Keluaran bukan saja sangat hakiki bagi eksistensi umat Allah Perjanjian Lama tetapi juga sangat fundamental bagi pemahaman kita agar lebih matang tentang visi ekonomi. Kitab Keluaran mengungkapkan kesetiaan Allah untuk mengembalikan manusia kepada Ekonomi Allah. Dosa bukan saja masalah individual tetapi juga masalah institusional. Allah memihak umat-Nya, melepaskan mereka dari perbudakan kejam rejim Firaun. Bila sebelumnya Allah meneguhkan kebaikan bumi ini bagi manusia, dalam Kitab Keluaran Allah memulihkan institusi demi kebaikan umat-Nya dengan menciptakan suatu umat perjanjian yang dianugerahi hukum-hukum kemerdekaan. Bagaimana kemerdekaan hidup individu dan sosial itu harus dihargai dan diisi kini dinyatakan Allah di dalam Sepuluh Hukum (Kel. 20), di dalam hukum-hukum ibadah di Kitab Imamat, di dalam aturan-aturan tentang bagaimana umat Allah harus memperlakukan sesamanya, pekerja-pekerjanya, institusi-institusi hukum dan peradilannya, tanah, binatang-binatang dan harta miliknya, hari kerja dan hari istirahatnya, hutang piutang, dlsb. Kita dapat membaca perhatian Allah yang sedemikian teliti yang mengatur berbagai aspek kehidupan ekonomi manusia agar umat Allah boleh mencerminkan Ekonomi Allah itu dalam Imamat 25, Ulangan 15, Ulangan 25, dll. Pelajaran yang dapat kita jadikan prinsip di sini adalah bahwa kemilikan, kerja, hidup sangat berharga karena berasal dari Allah. Karena itu manusia yang merdeka adalah manusia yang menghormati Allah, menghormati kemilikan dirinya dan sesamanya, mengisi hidup berekonomi dalam suasana syukur dan penuh sikap murah hati. Visi ekonomi Keluaran bukan visi sosialisme atau kapitalisme, tetapi visi ekonomi yang kudus sebagai akibat menghargai kepemilikan mutlak Allah, mensyukuri setiap pemberian Allah dalam sikap penatalayanan, dan ekonomi yang bergerak maju di dalam keadilan, kebenaran, kesucian, kebersyukuran, kepedulian, kemurahan hati, kejuangan ibadah, dan kesemarakan anugerah.

Pada intinya para nabi dan para penulis hikmat juga mengumandangkan visi Ekonomi Ilahi. Sebelum pembuangan, umat Allah kembali berbalik ke visi ekonomi yang berporoskan pada pemberontakan melawan Allah. Kisah Pembuangan adalah kebalikan total dari Kisah Keluaran. Oleh karena berpaling dari Allah kepada berhala-berhala yang intinya adalah memperilah alam dan materi, pada giliran berikutnya umat Tuhan mengalami kemerosotan dalam berbagai aspek hidup. Oleh karena budak- budak yang telah dimerdekakan Allah menjadi umat itu memperbudak sesamanya sendiri (lihat Amos), Allah membuang mereka kembali ke dalam perbudakan. Realisasi dosa manusia itu tampak dalam tingkah laku dan tindakan ekonomi yang menyimpang. Pengalaman ekonomi memang bisa menjadi salah satu ukuran apakah umat di dalam berkat Ekonomi Allah atau kutuk yang dijatuhkan Allah ke atas ekonomi manusia. Hukuman Allah dicanangkan bukan atas kesukaan menikmati kekayaan, tetapi atas kehidupan yang bergelimang dosa dan nafsu yang tidak mencerminkan dengan benar kegemilangan hidup dalam prinsip dominasi yang benar seperti yang Allah inginkan. Apabila kini segelintir orang mengartikan kelimpahan materi dan kesehatan sebagai fakta-fakta berkat Allah, sikap itu sebenarnya ada benarnya. Logikanya adalah, ketaatan kepada kehendak Allah berarti menempatkan diri serasi dengan Allah sumber segala berkat, kesehatan, kemakmuran, kelimpahan hidup. Inisiatif Allah memberikan perjanjian dan menganugerahi berkat-berkat rohani dan jasmani tidak berarti bahwa manusia tinggal pasif saja. Sebaliknya perjanjian dan anugerah justru membangkitkan umat yang tahu bersyukur, taat, berkarya nyata. Dengan demikian, kondisi spiritual terukur objektif di dalam yang material, asalkan tidak kita lepaskan fakta bahwa visi nabi-nabi ini beranjak dari visi ekonomi Kejadian dan Keluaran.

Bagaimana dengan visi ekonomi Tuhan Yesus? Di satu pihak kita mengakui fakta bahwa Yesus lahir dalam kandang miskin di suatu keluarga sederhana. Kita juga mengakui bahwa Yesus banyak berbicara kritis terhadap para penguasa kaya yang hidupnya dan hidup ekonominya dalam dosa. Jadi dapat dimengerti bila sebagian orang beranggapan bahwa Yesus menganjurkan pemahaman ekonomi yang mendekati paham sosialisme. Kesimpulan ini gegabah karena tidak teliti mempertimbangkan banyak faktor dari hidup dan ajaran Yesus. Ia memang dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana. Dibandingkan dengan inkarnasi-Nya dari keberadaan Ilahi-Nya menjadi manusia, tepatlah Paulus menyatakan bahwa Ia telah menjadi miskin (2Kor. 8:9). Yang Paulus maksudkan itu ialah tindakan Yesus menjembatani sedemikian luasnya bentangan antara Allah dan manusia melalui inkarnasi dan kematian-Nya. Namun itu tidak berarti bahwa Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga miskin. Yusuf adalah seorang tukang kayu, berarti tergolong kelas pekerja yang relatif berekonomi cukup baik zaman itu. Yesus pun tidak menolak disokong oleh beberapa perempuan berharta, bergaul dengan orang-orang berharta, tidak segan diejek sebagai pelahap dan peminum (Luk. 7:34,35), memiliki pengikut dari kalangan menengah dan atas seperti Petrus, Andreas, atau Filipus yang memiliki usaha penangkapan ikan, Zakheus, Maria dan Marta, dlsb. Tentu saja Yesus melawan perolehan kekayaan dari usaha memutarbalikkan tujuan ibadah (Yoh. 2:13-25).

Ada kesamaan antara sikap dan ajaran Yesus dengan prinsip-prinsip ekonomi yang telah kita pelajari sebelum ini. Bila Yesus mengajarkan para pengikut-Nya untuk tidak kehilangan kesukaan hidup karena harta (Luk. 6:24-25;18:24-25) dan mendorong hidup yang murah hati (Luk. 18:22), itu disebabkan Yesus menerima ajaran Taurat tentang kepemilikan mutlak Allah atas harta dan tanggung jawab penatalayanan manusia atas hartanya. Namun yang radikal ialah Yesus menyatakan bahwa di dalam diri-Nya, yaitu hidup, ajaran dan karya-karya-Nya seluruh maksud Allah dan segala kuasa di langit dan di bumi bertumpu dan beroperasi, mewujudkan Ekonomi Allah dalam penciptaan suatu umat baru. Umat Perjanjian Baru itu adalah bagian dari Kerajaan Allah, orang- orang yang menikmati berlakunya pemerintahan Allah yang memerdekakan, yang membuat mereka menikmati hidup seutuhnya sepenuhnya, mensyukuri setiap pemberian Allah dalam sikap murah hati, menatalayan, dan karena itu tidak terikat melainkan merdeka. Di dalam Yesus, Ekonomi Allah memungkinkan ekonomi manusia tidak menjadi perhambaan materi, pemberhalaan hartabenda, perbudakan keserakahan, melainkan merdeka penuh syukur, kesemarakan yang saling menumbuhkan dan yang menyukakan hati Allah. Itulah kehidupan ekonomi yang berkualitas penuh harkat sejati karena diporosi oleh Ekonomi Allah.

Suasana koinonia itulah yang kita saksikan dalam kehidupan gereja purba yang juga menjadi inti pengajaran surat-surat rasuli. Kehidupan gereja purba bukanlah komunisme ala Kristen melainkan pewujudnyataan visi Ekonomi Allah di dalam kehidupan umat. Tindakan koinonia di Kisah Para Rasul 7 dan pengiriman bantuan oleh jemaat-jemaat Makedonia ke jemaat Yerusalem lebih dari sekadar simpati membagi-bagi sembako kepada pihak miskin. Tindakan itu adalah tindakan merdeka merayakan tindakan pembebasan, penebusan, pembenaran, pemulihan, pendamaian, penyelamatan, pengayaan, pengutuhan yang Allah selaku Sang Liberator telah aktakan di dalam diri Yesus Kristus, dan yang telah mengikutsertakan umat kepunyaan-Nya sebagai koliberator (baca rekan sekerja-Nya dalam karya penyelamatan-Nya) bagi sesamanya. Lihat gema prinsip-prinsip ini dalam nasihat Paulus agar jemaat bekerja (1Tes. 4:10-11; 2Tes. 3:10), tentang bahaya mencintai uang (2Tim. 3:2), agar orang kaya menjadi kaya dalam kemurahan hati (1Tim. 6:17-19), dan peringatan Yakobus terhadap orang-orang yang mengejar kekayaan (Yak. 2:1-7; 4:13-5:6). Dan ke arah Yerusalem baru yang tanpa cacat cela, oleh oikonomia tou Theou (Ekonomi Allah atau penyelenggaraan kasih karunia Allah) itulah kita semua sedang berarak mengikuti Yesus.

Dari menelusuri drama-drama besar Alkitabiah ini dapat kita tarik kesimpulan awal berikut tentang prinsip-prinsip ekonomi.

  1. Penyataan Allah secara khusus dan penyataan Allah secara umum perlu dilihat sebagai dua kekuatan harmonis berdampak ekonomi, keduanya terang terpercaya bagi pola pikir dan pengambilan keputusan ekonomi manusia.
  2. Allah adalah Pencipta-Pemelihara-Penebus, sumber dan pemilik mutlak dari segala karunia yang manusia nikmati dalam hidup ini. Hanya Allah boleh menerima kepercayaan, ketaatan, dan ketergantungan mutlak manusia.
  3. Manusia diciptakan Allah sebagai wakil Allah, dilimpahi berbagai kemungkinan dan potensi untuk menikmati kebaikan-kebaikan Allah, menggunakan wibawa-Nya dengan penuh tanggung jawab, mengembangkan segenap aspek hidup, ekonomi-sosial-politis dalam semangat syukur dan menatalayan. Harta benda adalah berkat Allah.
  4. Harta benda baik adanya, patut disyukuri, namun bukan yang terpenting dalam hidup, tidak tepat dijadikan andalan dan orientasi hidup, bukan ukuran mutlak tentang kerohanian. Kita hanya pemilik kedua di bawah kepemilikan mutlak Allah yang menciptakan dan mengadakan semua itu demi kebaikan kita
  5. .

  6. Dosa adalah pemutarbalikkan prinsip-prinsip ekonomi tadi, mendatangkan berbagai kutuk yang merusak dan menghancurkan. Wawasan ekonomi yang materialistis, egosentris, kompetitif tak terkendali, sekuler, tidak mensyukuri dan memuliakan Allah, menyingkirkan etika dan moral dari ekonomi dan bisnis, adalah akibat dari kerusakan manusia dalam dosa. Reformasi terhadap kondisi jahat itu dapat terjadi bila manusia pada umumnya kembali kepada prinsip-prinsip yang Tuhan telah nyatakan dalam hati nurani dan prinsip keluhuran hidup dengan pertolongan Allah dan bila manusia Kristen konsisten memberlakukan prinsip etika Kristennya.

Sepanjang sejarah manusia, dari Perjanjian ke Perjanjian sampai puncaknya dalam Sang Penggenap Perjanjian, Allah menyelenggarakan Ekonomi-Nya yang beranugerah, memerdekakan, memanusiawikan. Visi Ekonomi Allah dalam Perjanjian Lama digenapi dalam Ekonomi hidup- ajaran-karya penebusan Yesus Kristus. Gereja Tuhan sebagai pengejawantahan Ekonomi Baru dari Allah itu patut menghayati penuh, membagi dan memberitakan kebenaran Injil berdampak holistik itu bagi sesamanya pada segala tempat dan segala zaman.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Hidup dalam Ritme Allah
Judul Artikel : -
Penulis : Paul Hidayat
Penerjemah : -
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta 2005
Halaman : 107 - 123

Siapakah Kristus Yang Naik Ke Surga?

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Meskipun Hari Kenaikan Tuhan Yesus sudah berlalu seminggu y.l. namun gaung pesan yang muncul dari peristiwa kenaikan tersebut tidak akan pernah berlalu dari muka bumi ini sebelum kedatangan Tuhan Yesus kembali yang kedua kalinya. Oleh karena itu mari kita camkan baik-baik pesan penting yang diberikan Kristus sebelum Ia naik ke surga.

Kiranya artikel dari khotbah Pdt. Stephen Tong ini menolong kita melihat dengan jelas makna kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, karena itulah yang menjadi misi kita orang-orang Kristen selama masih diijinkan Tuhan hidup di dunia ini. Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
074/V/2006
Isi: 

Artikel ini disarikan dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di GRII Jakarta.

Dalam Mazmur 24:7-10, kita membaca mengenai adanya pintu kekekalan yang dibuka menyambut seorang pemenang untuk selama-lamanya. Di Vatikan, di dalam Gereja Basilica of Saint Peter, ada pintu yang hanya boleh dibuka satu kali dalam 50 tahun. Pada waktu mereka membuka pintu itu, kadang-kadang mereka membaca ayat ini. Mereka menganggap itu merupakan suatu upacara yang agung sekali. Sebenarnya pintu itu tidak mempunyai makna yang terlalu berarti bila dibandingkan dengan ayat- ayat yang tercantum di sini.

"Semua pintu gerbang, terbukalah!" Untuk siapa pintu yang kekal dibuka? "Untuk raja yang pernah berperang di dalam medan peperangan." Siapakah raja yang pernah menang perang di medan peperangan? "Yaitu yang diutus oleh Yehovah, yang menjadi Tuhan di atas segala sesuatu."

"Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!" Siapakah dia itu Raja Kemuliaan? "Tuhan semesta alam, Dialah raja semesta alam, Dia Raja Kemuliaan."

Tapi Dia pernah datang, pernah dicobai, pernah diberi kesempatan untuk berjuang dan bertarung dengan kuasa-kuasa kejahatan. Iblis berusaha meremukkan dan menjatuhkan Dia. Tetapi Dia naik ke surga. Ini membuktikan bahwa Dialah Raja yang mulia, Raja yang menang, Raja yang pernah bertempur di dalam medan pertempuran rohani menggantikan engkau dan saya.

"Hai pintu gerbang, gerbang yang mulia, pintu yang kekal, bukalah! Angkatlah kepalamu, bukalah pintumu menyambut Yesus Kristus sebagai yang menang!"

Di dalam Pengakuan Iman Rasuli tertulis, "Dia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa". Bagian ini jangan dimengerti sebagai suatu lokasi atau semacam pengertian secara tata ruang. Jikalau Yesus betul- betul berada di sebelah kanan, berarti ada lokasinya. Bukankah ini juga berarti bahwa Bapa berada di sebelah kiri Yesus? Jikalau Bapa berada di kiri, lalu Yesus di kanan, yang mana yang lebih besar? Yang kanan atau yang kiri? Lalu, di manakah Roh Kudus? Bila demikian, hal ini akan mengaburkan arti rohaninya. Padahal pengertian tempat seperti itu mempunyai arti rohani yang jauh lebih dalam.

Di dalam pemikiran Kitab Suci, tempat kanan mempunyai tiga arti.

Arti pertama, Yesus Kristus adalah orang yang sudah diterima dengan sukacita oleh Tuhan Allah. Ini adalah delighted decision. Suatu tempat yang diterima dengan baik, suatu tempat yang diberikan karena yang memberi begitu senang kepada Dia. Kristus adalah Anak kesayangan Bapa. "Dengarlah Dia! Dengarlah Anak yang Aku suka ini."

Arti kedua, tempat sebelah kanan berarti tempat pemenang. Setelah orang yang bertempur dalam medan peperangan pulang, ia diberikan tempat di sebelah kanan oleh raja. Jenderal yang menang, jenderal yang begitu penting, duduk di sebelah kanan. Yesus Kristus menjadi pemenang di dalam medan peperangan. Itu sebabnya Ia duduk di sebelah kanan Bapa.

Ketiga, tempat kanan berarti tempat penguasa. Tuhan memberikan kekuatan, kuasa, dan mandat yang melampaui apapun di bumi kepada-Nya. Itulah kuasa yang diberikan kepada Yesus Kristus.

Puji Tuhan! "Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan. Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu?" Itulah Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan

Bagian kedua diambil dari Matius 28:18, dst. Yesus Kristus bukan saja seorang pemenang, tapi Dia naik ke surga. Sewaktu naik ke surga, Dia memberikan suatu amanat yang paling agung kepada semua orang yang mengikuti Dia.

Pada zaman reformasi, orang-orang reformasi, khususnya yang berada di Jenewa, menganggap amanat agung hanya diberikan kepada rasul-rasul pada waktu itu. Ini merupakan suatu kelemahan besar yang mengakibatkan kira-kira selama dua abad orang-orang reformasi, orang-orang Lutheran, hanya mengerjakan penggembalaan di Eropa. Mereka tidak mengutus orang keluar untuk mengabarkan Injil. Karena kesalahtanggapan itu, akhirnya gereja menjadi lemah dalam penginjilan.

Lambat laun Tuhan membangkitkan orang-orang untuk membawa kita kembali kepada visi yang benar, bahwa penginjilan itu bukan tugas gereja mula- mula saja. Penginjilan bukan sudah tidak ada, tetapi ada pada setiap zaman. Para rasul dan para nabi memang sudah tidak ada. Namun, fungsi- fungsi kerasulan dan kenabian masih tetap ada. Jadi, yang diutus mewakili Tuhan untuk berbicara adalah fungsi yang masih berada dalam segala zaman. Maka kita juga harus menegaskan hal ini. Pengertian tentang kesadaran semacam ini akan mengubah dan menggugat kembali tugas kita terhadap dunia ini.

Yesus berkata, "Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku." Ini merupakan suatu penanaman visi, semacam pikiran yang begitu besar kepada gereja. Bila suatu zaman tidak memiliki visi, maka zaman itu akan penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman dalam melihat visi akan menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Namun, bila visi itu kembali dipertajam dan menggugah hati manusia, mau tidak mau gereja akan menjadi militan dan dinamis di dalam pelayanan.

Begitu banyak orang Kristen yang malas, yang imannya kendur, yang hidup rohaninya begitu sembarangan dan etikanya begitu tidak bertanggung jawab karena sudah kehilangan ketajaman dan keinsyafan tentang visi dan mandat dari Tuhan! Tetapi puji Tuhan! Yesus bukan memberikan suatu khotbah dan amanat yang agung itu kepada mereka di tempat sembarangan. Mereka naik ke gunung dan di atas gunung itu Yesus mengutus mereka.

Pada waktu naik ke atas bukit, berada di tempat yang tinggi, kita akan melihat suatu dataran yang lebih besar. Kita akan mempunyai pemandangan yang jauh lebih luas dan di situ Tuhan membentuk suatu pemikiran atau semacam wawasan yang luas bagi orang-orang yang mau mengabarkan Injil. Barangsiapa yang tidak mempunyai hati yang luas, yang tidak mempunyai pandangan rohani dengan wawasan yang luas, tidak mungkin mempunyai penginjilan yang kekuatannya lebih besar daripada pelayanan yang lain. Di sini kita melihat, gereja harus kembali mengikuti teladan dan menaati perintah Yesus Kristus.

Kenaikan Kristus ke surga bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tetapi juga suatu amanat. Dia pergi dan tugas-Nya dikerjakan oleh engkau dan saya. Barangsiapa merayakan hari kenaikan Kristus, dia juga harus mengingat pesan Yesus sebelum Ia pergi.

Pesannya adalah "Pergilah ke seluruh dunia, jadikan segala bangsa murid-Ku. Apa yang Aku katakan kepadamu ajarkanlah mereka, supaya mereka menjalankannya dan engkau yang mengabarkan Injil akan Kusertai, sampai kesudahan, sampai selama-lamanya."

Selanjutnya, kita akan melihat apa yang dikaitkan dengan kenaikan Yesus ke surga. Dalam Yohanes 16:7-8, tertera suatu perjanjian yang lebih penting lagi. Jikalau Yesus Kristus, yang sudah memberikan perintah untuk pergi mengabarkan Injil ke seluruh dunia hanya membiarkan pengikut-pengikut-Nya dengan keadaan yang begitu sulit, dengan penganiayaan-penganiayaan yang kejam, yang ganas dan tidak berperikemanusiaan, bukankah Ia adalah Tuhan yang meletakkan kewajiban dan pergi melarikan diri? Tetapi bukanlah demikian. Alkitab mengatakan, "Aku pergi justru berfaedah besar bagimu. Aku pergi untuk kamu karena jikalau Aku tidak pergi Roh Kudus tidak turun." Di sini Yesus Kristus mengaitkan kenaikkan-Nya ke surga dengan rencana yang berkesinambungan di dalam konsistensi pikiran Tuhan Allah yang kekal.

Allah bukanlah Allah yang tidak berprogram. Allah adalah Allah yang mempunyai program yang tertinggi. Allah adalah Allah yang mempunyai cara berorganisasi dan mempunyai cara pemikiran dan jadwal yang paling tepat. Itu sebabnya Tuhan berkata, "Jikalau Aku tidak pergi, tidak ada faedahnya bagimu. Tetapi jikalau Aku pergi, kepergian-Ku akan mendatangkan keuntungan bagimu, sebab setelah Aku pergi, Roh Kudus akan dikirim turun dan menyertai serta menjadi penghibur bagimu."

Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, Raja pemenang. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang mengutus kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang bersama dengan Bapa mengutus Roh Kudus menjadi pendamping bagi gereja.

Jikalau kita melihat abad pertama, kita mengetahui bahwa orang Kristen bukan saja minoritas. Orang Kristen berada di kalangan bawah. Kebanyakan yang menjadi orang Kristen adalah budak, nelayan, orang miskin, orang di pasar, dan sedikit sekali pejabat-pejabat tinggi, konglomerat, atau orang-orang penting di dalam masyarakat yang beriman kepada Yesus Kristus. Dari antara 12 murid Yesus, kita melihat begitu banyak nelayan yang dipanggil. Pengaruh mereka mulai dari grass-root, mulai dari lapisan yang paling bawah sekali.

Yesus menjadi teman dari pemungut cukai, dari orang-orang berdosa. Ia menerima orang-orang yang dibuang oleh masyarakat.

Melalui kira-kira 300 tahun, kita melihat pengaruh kekristenan sudah mengakibatkan Raja Konstantin akhirnya harus berlutut di hadapan Yesus dan mengakui Dia sebagai Tuhan. Di sini kita melihat di dalam 300 tahun permulaan itu, gereja mengalami penganiayaan, pengucilan, pembunuhan, dan penyiksaan. Begitu banyak martir yang mati mengalirkan darah, mati syahid bagi kepercayaan dan iman kekristenan yang mereka yakini.

Siapakah yang memberikan kekuatan? Bagaimana mereka bisa bertahan bila tidak ada penolong yang setiap saat berada dengan mereka, yang mempunyai kuasa ilahi, yang berada di tengah-tengah mereka? Siapakah Penolong itu? Dialah Roh Kudus.

Maka Yesus berkata, "Aku harus pergi. Aku pergi, maka Dia akan datang. Aku pergi dan bersama dengan Bapa mengirim Roh Kudus agar turun ke atas kamu. Roh Kudus turun ke atas kamu, maka kamu akan berkuasa." Berkuasa atas apa? Berkuasa atas penderitaan, penganiayaan, dan segala kesulitan sehingga engkau dapat tetap memegang imanmu.

Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, umumnya masyarakat saat ini memahami kuasa Allah melalui pertolongan dan kelancaran hidup serta pemberian berkat secara materi atau jasmani. Tetapi kuasa yang kita lihat dalam Perjanjian Baru setelah Kristus naik justru sama sekali terbalik. Kalau Tuhan berkuasa, kenapa tidak menyembuhkan saya? Kalau Tuhan berkuasa kenapa tidak menyertai? Kalau Tuhan berkuasa, kenapa situasi politik dan situasi ekonomi begitu jelek? Kalau Tuhan berkuasa, mengapa Nero saja bisa menganiaya rasul? Bisa memaku mati Petrus secara terbalik? Di mana kuasa Tuhan?

Kekristenan justru memahami kuasa dari kerajaan Tuhan secara antitesis. Di dalam penganiayaan, di dalam kesulitan, di dalam desakan, di dalam kesempitan, di dalam segala sesuatu: kesulitan, sengsara, penderitaan politik, ekonomi dan apa pun juga, iman orang Kristen tidak berkompromi. Orang Kristen tidak menyerah kepada musuh. Itulah kuasa Roh Kudus.

Saya sangat takut kalau gereja sudah menjadi sangat kaya. Saya sangat takut kalau hamba Tuhan sudah beroleh segala kelonggaran sehingga tidak lagi bersandar kepada Tuhan. Padahal melalui kemiskinan dan kesulitanlah iman kita memiliki kesempatan untuk dilatih agar memiliki suatu kekayaan rohani. Sebaliknya, saat kita sudah mempunyai segala sesuatu, kita menjadi sangat miskin di dalam iman.

Tuhan berkata, "Aku pergi dan Aku mengirim Roh Kudus. Roh Kudus mendampingi engkau, saat engkau diutus ke dalam dunia sebagai utusan Tuhan."

Saya minta maaf jikalau saya harus memakai suatu kalimat, bahwa itulah pengutusan yang paling kejam dalam sejarah. Jangan heran kalau ada orang Kristen yang dibunuh. Jangan heran kalau gereja dianiaya. Jangan heran kalau kadang-kadang kita dibiarkan miskin dan sulit luar biasa. Jangan mengomel apalagi heran karena itu cara pengutusan dari Tuhan. "Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala!" Bukankah itu hal yang paling kejam? Coba Saudara bayangkan, seekor domba yang dikelilingi oleh kawanan serigala yang begitu kejam. Serigala yang mempunyai gigi begitu tajam, sifat yang begitu keras, kelompok yang begitu banyak kawannya. Itulah namanya utusan Tuhan. "Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah serigala."

Itu sebabnya saya minta maaf kalau saya katakan pengutusan Tuhan adalah pengutusan yang kejam. Tetapi tidak menjadi soal, jikalau domba itu mengerti bahwa Roh Kudus sedang diutus untuk menyertainya. "Aku pergi supaya Roh Kudus turun!" Inilah sudut ketiga yang kita lihat dari kenaikkan Yesus ke surga.

Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia Raja yang menang di dalam pertempuran rohani. Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia adalah Tuhan yang memberikan mandat kepada kita, amanat yang paling agung: mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Yesus yang naik ke surga? Dia adalah yang mengutus Roh Kudus yang menjadi parakletos, menjadi penghibur, pendamping untuk kita.

Keempat, kita membaca dalam Ibrani 4:14-16. Bagian ini menyatakan bahwa kita memiliki seorang Imam Besar yang sudah melintasi segala langit. Yesus naik ke surga bukan berarti menghilang dari bumi ini setelah kurang lebih 33 tahun berada di dunia. Atau seperti yang dikatakan oleh doketisme, keberadaan-Nya hanya suatu dokaio saja. Dia hanya dibayang-bayangkan pernah datang ke dunia, lalu hilang. Setelah pergi, Ia naik ke surga dan melintasi segala langit. Ini merupakan suatu ajaran yang begitu besar.

Pada hari kenaikan ini, saya merenungkan, terus merenungkan kenaikan Yesus Kristus. Lalu saya berkata, "Puji Tuhan! Agama lain tak pernah mempunyai seorang pendiri, tak pernah mempunyai seorang penghulu agama yang datang dari sana ke sini, dan juga tidak pernah ada yang dari sini ke sana dengan melintasi segala langit, kecuali Yesus Kristus." Mereka hanya membayangkan adanya satu allah. Allah, yang belum pernah datang ke dunia. Allah, yang katanya mencipta, menyelamatkan dan mengampuni, satu-satunya yang rahmani, rahimi. Tapi allah yang mereka bayangkan berbeda dengan Yesus Kristus yang adalah Allah yang pernah meninjau sendiri, datang sendiri, menyelamatkan kita, hidup di tengah- tengah kita, yang dengan mulut-Nya memakai bahasa manusia untuk memberikan pengajaran yang terindah di dalam sejarah kepada kita, lalu pergi setelah menyelesaikan tugas-Nya.

Sewaktu mengenang Kristus, kita mengenang Allah yang pernah datang. Wujud-Nya begitu konkrit. Hubungan-Nya dengan manusia juga begitu intim. Dalam bagian Firman ini dikatakan suatu kalimat yang begitu menyentuh. Kita bukan mempunyai seorang Imam yang tidak mengerti segala kelemahan kita. Saya percaya di dalam hidup setiap orang, sedalam-dalamnya ada keluhan kesusahan hidup dalam dunia. Baik orang kaya maupun orang miskin, orang sukses maupun orang yang penuh dengan kegagalan, baik engkau yang kelihatan mempunyai materi yang begitu besar, begitu banyak, atau mereka yang selalu mengejar hanya untuk menyambung hidup saja.

Setiap orang mempunyai keluhan akan hal yang begitu sulit. Namun, siapakah yang sungguh-sungguh dapat mengerti setiap orang? Suami ingin dimengerti oleh isteri. Tapi justru isteri ingin dimengerti oleh suami! Kekuatan kita untuk mengerti dan kemampuan kita untuk mau mengerti dibandingkan dengan kebutuhan kita untuk dimengerti, selalu tidak seimbang.

Adakah yang mengerti? Ada! Yesus Kristus mengerti segalanya. Dia pernah datang. Dia pernah dilahirkan di tempat binatang. Dia pernah diejek oleh bangsanya sendiri. Dia pernah seorang diri mengalami puasa 40 hari dan dicobai oleh iblis. Dia pernah menanggung berat. Dia pernah menderita, berkorban emosi, berkorban perasaan. Yesus Kristus mengerti segala kelemahan kita. Dia mengerti karena Dia sama seperti kita. Dia merasakan segala pengalaman kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai tetapi tidak berbuat dosa.

Yesus yang telah naik ke surga menjadi Imam Besar. Imam Besar inilah yang membawa kesulitan kita kepada Allah yang sulit kita capai. Ia juga membawa anugerah dari Allah kepada kita, anugerah yang tidak layak kita terima. Inilah pekerjaan Imam. Imam yang berada di antara yang hidup dan yang mati. Imam yang berada di antara yang tidak kelihatan dan yang kelihatan. Imam yang berada di antara Allah dan manusia. Kristuslah pengantara yang menjalankan tugas imam sekaligus sebagai korban. Inilah perbedaan imam dalam sejarah orang Yahudi dengan Imam yang paling besar, Yesus Kristus, bagi gereja-Nya. Imam- imam yang lain tidak menjadi korban. Mereka mempersembahkan korban, namun mereka sendiri bukan korban. Hanya Yesus yang bertindak sebagai Imam Besar sekaligus korban.

Dengan bahasanya, manusia tidak akan sanggup untuk mengungkapkan keagungan dan kebesaran cinta kasih Tuhan yang adalah Imam Besar sekaligus korban. Ia mempersembahkan diri dengan roh-Nya yang kekal dan darah-Nya yang suci yang tak bercacat cela untuk membersihkan dan menjadikan kita milik-Nya yang dilayakkan untuk berdamai dengan Tuhan Allah. Inilah Imam kita. Dan inilah bagian keempat yang kita lihat.

Selanjutnya, dalam Ibrani 7:24-25 kita melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai pekerjaan lain setelah naik ke surga. Dalam ayat 26, dikatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai tingkatan tertinggi sebagai pengantara untuk berdoa syafaat bagi setiap kita. Dalam pasal 7 ayat 27-28, serta pasal 9 ayat 27-28 terlihat bahwa Dialah yang menanggung dosa kita dan yang menjadi pengantara yang berdoa syafaat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Siapakah Kristus? Dia pemenang, bukan? Siapakah Kristus? Dia pengutus, bukan? Siapakah Kristus? Dia yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Siapakah Kristus? Dia yang berdoa bagi kita dengan pengertian karena Ia sendiri pernah datang ke dalam dunia ini. Tidak hanya itu, Yesus adalah Tuhan yang kembali ke surga untuk menyiapkan tempat bagi kita.

Dalam Injil Yohanes 14:1-4 Yesus berkata, "Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada di sana pun engkau akan berada."

Adakah penghiburan yang lebih besar dari ini? Tidak ada. Adakah seorang Juruselamat seperti Kristus? Tidak ada. Dialah satu-satunya dan Dialah yang paling sempurna di dalam menyediakan segala sesuatu bagi umat-Nya. "Di jalan itu Aku pergi. Jalan satu-satunya dan engkau tahu juga."

Pada waktu Filipus bertanya kepada Dia, "Hai Guru, tunjukkan jalan itu kepada kami," maka Yesus Kristus dengan menggelengkan kepala bertanya, "Sudah sekian lama engkau mengikut Aku, engkau masih belum tahu di mana jalan itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: `Akulah jalan, Akulah kebenaran, dan Akulah hidup.`"

Saya melihat ketiga butir ini sebagai suatu gambaran tentang seluruh dunia, yaitu di dalam filsafat, kebudayaan agama, dan kebijaksanaan, yang terkristalisasi di dalam dunia mental manusia.

"Akulah jalan, Akulah kebenaran." Mengapa Yesus mengatakan: "Akulah jalan"? Karena semua agama mencari jalan. Itulah yang dibutuhkan oleh orang di Timur. "Akulah kebenaran." Mengapa Yesus menyatakan kebenaran diidentikkan dengan diri-Nya? Karena manusia di Barat yang mencari filsafat ingin mengetahui kebenaran dan Yesus mengisi kebutuhan itu. Pada waktu Yesus mengatakan: "Akulah jalan", Ia sedang menunjukkan kepada orang Timur yang mau mendapatkan jalan di dalam agama. Ia berkata, "The way is not there. The way you are seeking is not in religion, but in Me, in My life."

Yesus telah mengajak dunia Timur dan Barat untuk menerima kesimpulan- Nya, "Akulah hidup yang tidak ada pada agama-agama, tidak ada pada filsafat-filsafat dan sistem epistemologi dunia." Semua pendiri agama akhirnya mati di tengah usahanya mencari jalan. Para filsuf juga akhirnya mati di tengah usahanya mencari kebenaran. Dan Kristus akhirnya berkata, "Di manakah jalan itu? Akulah jalan itu. Di manakah kebenaran itu? Akulah kebenaran itu. Dan Akulah hidup."

Inilah satu-satunya solusi. The only solution, the only answer, for seeking the truth in way thru philosophy, religion, culture, and human wisdom concluded only in Jesus Christ, the truth revelation of God in human form. Puji Tuhan! Dialah pernyataan Allah yang berbentuk manusia, yang telah menyimpulkan segala sesuatu yang sedang digumuli dan dicari agama maupun filsafat.

Paul Tillich, seorang teolog besar mengatakan, munculnya Yesus di dalam sejarah harus menghentikan usaha semua agama dalam mencari apa pun yang paling berharga yang mereka inginkan. The revelation of Christ, the appearance of Christ in history is to cease off the effort of seeking truth and way in religions. Puji Tuhan!

"Akulah jalan. Dan jalan itu bukan dari sini ke sana melainkan dari sana ke sini. Akulah yang menghampiri manusia."

Manusia tidak akan pernah dapat menghampiri takhta Allah dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Allah yang suci dan kekal tidak akan dapat dijangkau oleh manusia yang berdosa dan terbatas. Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas, yang dicipta, yang bisa rusak dapat menghampiri Tuhan yang tak terbatas dan kekal? Hal ini hanya mungkin bila Allah, dari takhta yang tidak terbatas, yang kekal, yang tidak bisa rusak, rela turun, lalu pergi kembali untuk menjadi jaminan kita.

Kalau agama-agama lain hanyalah one way traffic in human effort, jalan yang hanya satu arah dari usaha manusia, kekristenan percaya kepada suatu sistem keselamatan berupa two way traffic which initiative from God and assured in the term of God. Kita percaya pada sistem dua jalur, dari sana telah ke sini, yang membawa kita dari sini ke sana, yang dijamin di dalam segala kekuatan yang kekal di dalam takhta Tuhan. Puji Tuhan!

"Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Aku pergi untuk mempersiapkan segala sesuatu bagimu dan Aku akan datang kembali untuk menyambut engkau sebagai seorang mempelai lelaki yang akan menyambut mempelai perempuan." Gereja harus siap sedia. Gereja harus senantiasa mempersiapkan diri dengan tidak menodai, tidak mencemari tubuh Kristus. Gereja harus bersiap untuk menjadi mempelai perempuan Kristus yang akan bersatu di dalam cinta kasih yang paling inti yang digambarkan dalam hubungan suami isteri.

Ia yang akan datang kembali telah menyediakan tempat bagi kita. Ia berkata, "Di mana Aku berada, di situ engkau berada."

Bagian terakhir ialah Kisah Para Rasul 1:9-11. "Hai orang Galilea, mengapa engkau melihat seperti ini? Ingatlah, Yesus yang kau lihat diangkat ke surga, akan datang dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia ini."

Seluruh Kitab Suci mempunyai suatu konsistensi, mempunyai suatu hubungan organis yang begitu erat, sehingga tidak bisa dipisah- pisahkan sembarangan, kecuali oleh mereka yang sengaja atau mereka yang tidak mengerti. Di dalamnya kita melihat rencana Allah yang sudah terbentuk begitu sempurna. Yesus Kristus naik ke surga bukan karena Ia melarikan diri. Ia tidak menyembunyikan diri. Ia pergi dengan tugas. Ia pergi dengan rencana Allah yang sudah ditetapkan dan itu bukan titik yang terakhir. Itu merupakan suatu janji bahwa suatu hari kelak Ia akan datang kembali dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia.

Saya membayangkan orang-orang Galilea seperti Petrus dan Yohanes yang sudah terbiasa didampingi oleh Yesus, yang bila ada kesulitan langsung beralih kepada Yesus dan bertanya, "Bagaimanakah Tuhan? Bagaimanakah cara-Mu menangani kesulitan ini, Guru?" Mereka sudah terbiasa disertai, ditolong, dan berada bersama dengan Yesus Kristus. Sekarang, untuk pertama kali dalam hidupnya, mereka sadar bahwa Yesus tidak selamanya berada di samping mereka. Yesus harus pergi dan mereka harus menghadapi dunia secara faktual, menghadapi dunia ini dengan segala sesuatu yang tidak terlalu bersahabat dengan orang Kristen. "Akan bagaimana perlakuan Herodes terhadap kita? Akan bagaimana Pilatus terhadap kita? Dan bagaimana prinsip Kaisar dan politikus-politikus Romawi? Dan jika berganti gubernur yang lain, akan bagaimana? Kami tidak tahu."

Mereka hanya tahu Yesus pergi. "Lalu, hanya mimpikah 3 1/2 tahun yang lampau itu? Janji kosongkah itu? Hanya menjadi catatan sejarahkah itu semua? Ataukah kedatangan-Nya itu suatu kesempatan yang belum pernah ada dalam sejarah sehingga kami dapat menikmatinya? Kalau Tuhan sudah pernah turun, kenapa pergi lagi? Kalau Dia sudah menyertai, kenapa naik lagi? Setelah naik lalu bagaimana?"

Kenaikan Yesus Kristus memaksa mereka untuk memikirkan pertangungjawaban iman dan respon mereka terhadap kalimat nubuat yang pernah diucapkan Yesus. Mereka harus memberikan semacam tantangan kepada setiap orang percaya. Mereka harus mempertanggungjawabkan tentang bagaimana meresponi, mengimani, dan mengaplikasikan setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan Yesus saat Ia ada di dunia.

Kadang-kadang saat papa dan mama ada kita tidak menghargai mereka. Saat Tuhan memanggil mereka pulang, barulah kita sadar dan kalang kabut. Sekarang kita harus menghadapi kenyataan bagaimana hidup di dalam dunia ini. Baru kita ditantang untuk berpikir kembali, "Apa yang pernah papa katakan dulu kalau menghadapi orang yang begini?" Sekarang kita mulai mengingat-ingat. Sama persis dengan keadaan sewaktu Yesus naik ke surga.

Waktu naik ke surga Yesus berkata, "Aku akan mengirim Roh Kudus untuk kembali mengingatkan perkataan-perkataan yang sudah pernah Aku katakan kepadamu."

Itu sebabnya kita ditantang untuk berespon, bertanggung jawab, dan berdikari. Gereja ditantang untuk menjadi wakil Tuhan di dunia dengan memuliakan Tuhan, merefleksikan segala moral kesucian, keadilan, cinta kasih Allah dari zaman ke zaman. Inilah tugas gereja.

"Hai orang Galilea, untuk apa melihat terus ke awan? Mengapa melihat terus ke langit? Yesus yang pernah beserta denganmu, yang pernah kau saksikan pelayanan-Nya, sekarang sudah naik ke surga dan akan datang kembali."

Setelah membaca enam bagian Kitab Suci yang begitu penting ini, dan jikalau kita sungguh-sungguh menunggu dan mengharapkan Yesus Kristus datang kembali, maka ada dua hal penting yang harus kita kerjakan.

Pertama, kita harus mengabarkan Injil kepada sesama. Tidak ada jalan lain. Ini merupakan keikhlasan orang yang menantikan kedatangan Yesus Kristus. Jikalau Injil ini dikabarkan ke seluruh dunia, maka hari itu akan tiba. Berarti sebelum Injil dikabarkan kepada segala bangsa, segala suku, segala sudut, Kristus tidak akan kembali.

Saya betul-betul salut, sedalam-dalamnya dari dalam hati saya, kepada orang-orang di Wiclyffe Bible Translation Association. Mereka berada di lembaga Alkitab yang khusus menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa- bahasa yang terpencil di daerah-daerah yang dilupakan oleh manusia. Mereka pergi ke tempat yang begitu terpelosok, begitu dalam, begitu sulit dicapai. Saya salut melihat mereka.

Saya berdoa dan mengajak kita semua supaya menjadikan gereja kita sebagai gereja yang mau mendukung penginjilan, gereja yang menghasilkan penginjil, gereja yang mengerti makna Injil, dan gereja yang mau melibatkan diri ke dalam penginjilan misi seluruh dunia. Bila kita menunggu kedatangan-Nya dengan hati yang sungguh-sungguh ikhlas haruslah kita tunjukkan dengan menunjang dan melibatkan diri ke dalam penginjilan.

"Hai orang-orang Galilea, mengapa melihat seperti ini? Mengapa terus menengadah ke langit? Memang Yesus sudah naik, tapi tugasmu bukan memandang Dia, tetapi pergi ke dunia mengabarkan Injil!"

Kedua, orang yang sungguh-sungguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah orang yang menjaga hidup di dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima dan diterima oleh-Nya. Barangsiapa yang menaruh pengharapan seperti ini kepada-Nya, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1Yohanes 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus.

Terakhir kita akan melihat ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat.

Siapakah Ia, yang dalam ayat 20 berfirman dan memberi kesaksian tentang semuanya? Jadi, Yesus Kristus berkata, "Ya, Aku datang segera. Aku akan datang kembali secepat mungkin." "Amin. Datanglah Tuhan Yesus." Atau terjemahan lain: "Oh Yesus, aku mengharapkan Engkau datang!" Yesus berkata, "Ya, Aku datang segera." Gereja menjawab, "Amin. Kami menunggu kedatangan-Mu."

Dengan mengingat kenaikan-Nya ke surga, kita kembali menyadari bahwa Ialah pemenang, pemberi Roh Kudus, sekaligus pendoa syafaat yang mengerti kesengsaraan kita. Ia pula yang menyediakan tempat di surga yang akan datang kembali bagi kita. Kita pun bersedia menanti kedatangan Tuhan kedua kalinya. Kiranya Tuhan memberkati kita masing- masing di dalam hidup kita sebagai orang Kristen di dunia.(EL)

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Momentum, 40, Triwulan II/1999
Judul Artikel : -
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 3 - 13

Komentar