Kategori Utama

Jemaat-jemaat Kristus di Asia Melintasi Abad Ke-21 (Bagian 2)

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia

Edisi: 
047/I/2004
Isi: 

III. PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN DALAM PENGGEMBALAAN DI GEREJA-GEREJA ASEAN

Selama 40 tahun lebih, oleh anugerah Tuhan, penulis menjadi pengajar di seminari, mengadakan penginjilan, membuka ladang baru, mendirikan gereja dan sekolah Kristen. Semuanya itu dilakukan penulis selaku hamba kecil yang menaati dan melakukan kehendak-Nya. Dengan pemahaman yang dangkal, melalui kesempatan ini penulis mencoba memberikan beberapa saran, kiranya pembaca yang terhormat berkenan memberi petunjuk dan koreksi.

  1. Dosen seminari dan pemimpin gereja perlu membentuk kelompok pemahaman Alkitab untuk menyelidiki seluruh doktrin Alkitab, kebenaran Alkitab yang tak pernah berubah itu, untuk mengevaluasi doktrin-doktrin yang telah menjadi tradisi denominasi-denominasi gereja Barat, yang selama ini disebut sebagai kepercayaan ortodoks, namun tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Memisahkan kebenaran Alkitab yang tidak berubah itu dengan kebudayaan barat, agar orang Asean dengan jelas mengenal garis pemisah antara kebenaran agama Kristen dan kebudayaan Barat, untuk mengurangi sikap menentang kebudayaan Barat sebagai alasan menentang kebenaran Kristen.

  2. Dosen seminari dan pemimpin gereja perlu membentuk kelompok kecil untuk mempelajari rencana pembangunan nasional. Berdasarkan kebenaran Alkitab, dengan sikap positif meresponinya, serta mendorong orang Kristen turut berperan serta di berbagai sektor pembangunan nasional. Yusuf, Ester, Mordekai, Daniel dan juga tidak sedikit orang Kristen yang saleh yang mempunyai kontribusi dalam politik negara. Alangkah baiknya jika dapat mengundang politikus Kristen untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan kelompok kecil ini.

  3. Dosen seminari perlu menyelidiki baik buruknya pemikiran, motivasi, langkah-langkah, dan penafsiran. Menjadualkan pengadaan seminar, dengan mengundang Gembala atau hamba Tuhan dan orang Kristen yang berpendidikan tinggi, bersama-sama meneliti dan diskusi, kemudian menjelaskan kembali hasilnya kepada jemaat. Hal ini dapat menghindari agama menyalahgunakan nama kekristenan untuk menentang kebenaran Alkitab, yang berdampak negatif bagi citra gereja, juga dapat mencegah orang Kristen menerima teori yang nampak benar tetapi sesungguhnya salah, dan menggantikannya dengan slogan rohani yang muluk-muluk, dengan sembrono mengikutinya demi keuntungan material.

  4. Perlu adanya kerja sama antara seminari dan gereja setempat untuk membentuk pendidikan teologi kaum awam, di mana dosen teologi dan orang Kristen awam dapat berinteraksi secara langsung selaku guru dan sahabat. Kebenaran yang murni itu disampaikan dengan rinci, konkret, praktis, aplikatif, dan universal. Pendidikan teologi kaum awam dapat menjadi tempat di mana dari tangan pertama seorang dosen teologi mendapatkan persoalan-persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan orang Kristen di tengah-tengah masyarakat dunia, dan orang Kristen memperoleh jawaban yang berbobot yang sesuai dengan kebenaran Alkitab. Gembala Sidang setempat sebaiknya juga menjabat sebagai dosen pendidikan teologi kaum awam, sehingga dalam proses belajar mengajar yang cukup panjang itu, gembala sidang memacu jemaat untuk menyelidiki kebenaran Alkitab dengan saksama.

  5. Gereja harus memberikan kesempatan secara berkala bagi gembala sidang atau hamba Tuhan untuk mengikuti pendidikan teologi lanjutan. Konsep tentang seorang hamba Tuhan cukup berbekalkan pendidikan teologi selama 4 tahun dan kemudian melayani seumur hidup harus diubah. Pada era informatika dan meledaknya pengetahuan kini, jika setiap minggu seorang gembala sidang atau hamba Tuhan tidak secara intensif membaca 1-2 buah buku ilmiah atau yang berbobot, 5-7 tahun kemudian tidak mengikuti 1-2 tahun pendidikan lanjut, maka dengan kerutinan setiap minggu yang harus membuat 2-3 naskah khotbah itu, ia akan terasa begitu sulit dan kering. Setiap kali ia akan merasa letih lesu, kecewa dan putus asa, dengan langkah yang berat dan tidak bersemangat menuju mimbar. Sekalipun jemaat datang beribadah dengan hati yang hormat dan takut kepada Tuhan, rindu untuk memperoleh makanan rohani yang dibutuhkan sebagai pedoman dalam kehidupannya, tetapi kenyataannya ialah: "kata-kata usang atau kata klise belaka, yang tak bermakna", yang tidak dapat memenuhi kebutuhan rohani mereka. Yang lebih fatal, karena pengkhotbah merasa begitu tertekan, seringkali tanpa sadar mengeluarkan kata-kata omelan, sindiran di mimbar, menjadikan jemaat sebagai tempat pelampiasan amarah, akibatnya hubungan antara gembala dengan jemaat akan semakin memburuk. Ini adalah bencana bagi gereja, bahkan bencana yang besar! Jika secara berkala gembala atau hamba Tuhan itu mengikuti pendidikan lanjut, lebih meneliti dan mendalami Alkitab, maka Firman Tuhan akan disampaikannya dengan penuh keyakinan dan suara yang mantap. Ditambah dengan doa serta kuasa Roh Kudus, maka akan seperti air sungai yang mengalir dengan lancar, bersemangat dan mendatangkan berkat bagi yang mendengarkan. Pelayanan mimbar merupakan kesempatan di mana seorang hamba Tuhan bekerja sama dengan Tuhan, juga merupakan suatu kenikmatan rohani. Hal ini merupakan kunci bagi pertumbuhan rohani orang Kristen dan vitalitas gereja.

  6. Setiap minggu gembala sidang atau hamba Tuhan harus berusaha untuk menulis artikel-artikel yang bersifat penelitian dan sistematis, atau mengundang orang Kristen yang pandai dalam kesusasteraan untuk menulisnya. Kemudian dimuat dalam buletin gereja. Di samping melatih diri sendiri agar semakin maju dalam membuat naskah khotbah. (Karena untuk diterbitkan, sudah tentu akan lebih teliti memikirkan secara rinci, dan akan berusaha untuk menggunakan materi yang lebih tepat.) Juga melatih diri melakukan pelayanan literatur. Jikalau dalam satu tahun memiliki 52 naskah khotbah yang ringkas, pada akhir tahun dapat diterbitkan sebagai sebuah buku, baik untuk dijual kepada orang Kristen, atau sebagai kenang-kenangan di hari Natal kepada sanak saudara dan sahabat. Dalam anugerah Tuhan, selama pelayanan 50 tahun, ia akan memiliki 50 buah buku kumpulan khotbah, dengan demikian ia telah menjadi gembala yang mengarang. Yang lebih berharga ialah ketika ia kembali ke pangkuan Bapa, hasil karya ini dapat menjadi kesaksian untuk orang banyak. Pelayanan yang tahan lama ini, juga melatih gembala atau hamba Tuhan untuk memiliki kehidupan yang teratur, ulet dan mau berupaya untuk maju. Selain Gembala sidang atau hamba Tuhan harus memiliki tekad ini, gereja juga harus memberi dukungan kepada mereka. Contoh: John Wesley (abad-18), Charles Spurgeon (abad-19), Harun Hadiwijono, R. Sudarmo, J. L. Ch. Abeneno (abad-20).

IV. STRATEGI YANG DIKEMUKAKAN KRISTUS BAGI GEREJA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SEJARAH

Kristus belum datang kembali, namun gereja telah memasuki abad ke-21. Beberapa pemimpin gereja mengamati sejarah 100 tahun yang lalu, di mana gereja di Eropa dan Amerika semakin melemah dan mundur, sebaliknya agama-agama lain bangkit, bertumbuh, dengan gigih maju mendobrak semua penghalang, menembus masuk ke dalam basis gereja di Eropa dan Amerika. Walaupun di negara-negara Asia memberikan keleluasaan bagi kekristenan, tetapi ketika memperkenalkan anugerah keselamatan Kristus kepada yang lain, seringkali dihalangi karena alasan "kerukunan dan ketenteraman". Sehingga tidak sedikit yang peduli akan masa depan penggembalaan gereja menjadi cemas, dan umumnya bersikap membalas, bahkan untuk menunaikan Amanat Agung sampai ke seluruh dunia, mereka siap membayar harga "lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai." Berdasarkan kebenaran Alkitab, kita akan melihat bagaimana Kristus menangani strategi gereja menghadapi perubahan sejarah.

  1. Dasar Gereja Kristus
  2. Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah dasar bagi gereja (Mat. 16:18-20; lKor. 3:11; Ef. 2:20). Dasar ini bukan bersifat materi, bukan organisasi manusia yang kelihatan, bukan orang banyak yang kenyang karena makan roti, terlebih bukan teologi dari teolog timur dan barat, atau pencerahan khusus para penafsir. Dasar ini adalah: Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi manusia, diam di antara manusia, taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa, dengan darah-Nya yang kudus oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban bagi penebusan dosa umat manusia, yang telah bangkit dari kematian, dan yang telah menang atas segala kuasa. Ia adalah kekal, hidup selama-lamanya, menjadi Pemimpin semua raja-raja di dunia. Dia adalah Raja yang telah diurapi Allah Bapa sejak kekekalan (Mzm. 2:7; Ibr. 1:8-13; Why. 5:9-14; 6:16; 19:11-16; dan sebagainya).

    Dengan hidup yang kekal Kristus telah mempersembahkan korban yang kekal. Hidup yang diberikan-Nya adalah hidup dari Allah, dan gereja didirikan oleh-Nya dan merupakan kumpulan orang-orang yang oleh-Nya telah beroleh hidup. (Yoh. 1:12-13; 10:10-11, 17-18; 17:3; 20:31; Ibr. 9:11-14; 10:10-18 dan sebagainya). Oleh sebab itu, gereja Kristus itu adalah hidup dan rohaniah, yang adalah milik Allah yang esa dan benar. Karena gereja didirikan di atas darah tubuh Kristus yang kekal, maka gereja bersifat kekal dan kokoh.

  3. Ujian Gereja Kristus
  4. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus: "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Mat. 16:18). Hal ini menyatakan: Ketika mendirikan jemaat (gereja), ada kekuatan yang menolak dan merusakkannya, tetapi tidak akan dapat menguasainya.

    Sejarah gereja juga memberitahukan kepada kita, ketika Kristus memberitakan Injil Kerajaan Surga di bumi ini, untuk menyelamatkan semua bangsa, pemimpin-pemimpin Yahudi menolak-Nya, menyerang-Nya bahkan bersiasat untuk membunuh-Nya (bandingkan Yoh. 5:16; 7:1, 30; 8:59, 34; 11:53, 57; 19:6-7, 15; dan sebagainya). Gereja pada zaman para Rasul juga menderita penganiayaan dari golongan Yudaisme. Orang-orang Yahudi berupaya keras untuk memusnahkan orang Kristen (bandingkan Kis. 4:1-3, 5-7, 17-18; 5:17-40; 6:9-14; 7:54-59; 8:1-3; 9:1-2; 13:50; 14:1-6, 19; 17:1-9; 18:12-17; 21:27-36; 23:12-15 dan sebagainya). Sesudah itu, pada masa Kekaisaran Romawi berkuasa pada tahun 60-12 TM, sepuluh kali gereja menderita penganiayaan besar. Pada abad-7, sebuah agama baru muncul di Timur Tengah dan menghancurkan gereja-gereja di Arab, Mesir, Afrika Utara dan Spanyol, serta membunuh ratusan ribu orang Kristen. Pada abad-14 dan 15, agama Timur Tengah di Turki memusnahkan hampir seluruh umat Kristen di negara itu. Pada abad-20, ketika Partai Komunis berkuasa di Rusia, juga hampir memusnahkan Gereja Ortodoks Yunani, Roma Katolik di Eropa Timur Rusia dan Agama Kristen di Cina. Namun selama 2.000 tahun, gereja yang berakar dalam Kristus yang telah bangkit dan hidup selama-lamanya itu, tetap bereksistensi, bahkan seturut kehendak Allah masuk ke dalam semua lapisan masyarakat, bersaksi kepada penganiaya-penganiaya itu. Seperti yang dikatakan dalam surat Wahyu "Kuasa kegelapan berupaya dengan berbagai cara ingin menyerang dan menelan gereja, bagaikan naga merah yang besar itu menelan anak yang dilahirkan perempuan itu, tetapi Allah sendiri menyediakan tempat bagi perempuan dan anaknya di padang belantara, memeliharanya, sehingga tidak ditelan oleh naga merah besar itu" (Why. 12:1-6, 13-17).

  5. Perkembangan Gereja Kristus
  6. Gereja yang ditebus dan didirikan oleh darah Kristus adalah gereja yang hidup dan bersifat rohani. Karena hidup, maka akan terus berkembang biak; karena bersifat rohani, maka tidak dibatasi oleh dunia materi. Kristus pernah memakai perumpamaan benih untuk melukiskan firman yang hidup dan rohani. Ia berkata, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yoh. 12:24). Seorang Kristen yang memiliki hidup dibunuh, berarti sebuah benih yang hidup jatuh ke tanah dan mati. Tidak lama kemudian akan menghasilkan banyak buah. Oleh sebab itu, darah kaum martir adalah benih-benih Injil yang jatuh dan mati. Di mana ada seorang martir Kristen, benih Injil tersebut akan melampaui ruang dan waktu, di situ ia akan menghasilkan banyak buah yaitu orang-orang Kristen yang memiliki hidup Kristus, orang-orang Kristen dari berbagai bangsa dan negara. Contoh: Martir Stefanus (Kis. 7), benih yang mati dan menghasilkan buah yaitu Paulus yang menjadi rasul untuk bangsa bukan Yahudi (Kis. 9).

    Selama 2.000 tahun ini sejarah gereja memberitahukan kepada kita: Eksistensi dan misi gereja yang ditebus dan diselamatkan oleh darah Kristus, di tempat, bangsa, budaya dan zaman yang berbeda, selalu ditentang, didesak, difitnah, dilarang, bahkan diancam untuk dibunuh, namun karena Kepala gereja adalah Kristus yang telah bangkit, yang telah menang atas kematian dan maut, yang hidup untuk selama-lamanya selalu menyertai gereja-Nya, menderita bersama-sama dengan gereja-Nya. Dengan cara yang ajaib, Ia memelihara semua orang Kristen yang mengasihi-Nya, yang taat memberitakan Injil-Nya di seluruh bumi, sehingga Injil dapat diberitakan dari satu tempat ke tempat yang lain. Gereja berkembang dan menyebar dari satu bangsa ke bangsa yang lain, keselamatan oleh darah Kristus diteruskan dari satu generasi ke generasi yang berikut, Alkitab diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Penyebaran gereja bagaikan sebuah perahu yang berlayar, mengarungi lautan, menerpa badai dan ombak, dengan gagah maju terus, untuk menggenapkan amanat pemberitaan Injil yang telah ditetapkan Allah dalam kekekalan, agar semua bangsa menjadi murid Kristus.

  7. Kesaksian Gereja Kristus
  8. Alkitab Perjanjian Baru secara konkret menjelaskan isi iman Kristen, amanat orang Kristen dalam kehidupan dan karir sehari-hari, baik atau tidak baik waktunya, harus memberitakan keselamatan dalam Kristus. 2.000 tahun silam, kepercayaan Kristen tak putus-putusnya mengalami penolakan dan penyerangan dari kekuatan pikiran filsafat manusia dan arus kejahatan yang ada dalam budaya sekular, agar moral orang Kristen yang bersih dan murni itu dinodai, serta menurunkan standar yang ditetapkan Alkitab. Namun, Kristus yang bangkit, oleh darah-Nya yang tetap berkhasiat, dan kuasa Roh Kudus, senantiasa menyucikan, memelihara kekudusan gereja dan orang Kristen (bandingkan 1Yoh. 1:5-2:2; Why. 7:14; dan sebagainya). Membangun yang gagal, menopang yang lemah, memanggil yang bertekad meneladani Kristus, menyangkal diri, memikul salib-Nya (bandingkan Luk. 22:31-34, 60-62; Yoh. 10:28-29; 1Tes. 5:23-24; Yud. 24-25 dan sebagainya). Roh Kudus seturut kehendak-Nya mengaruniakan berbagai karunia rohani kepada setiap orang Kristen di posisi masing-masing: berkata-kata dengan hikmat, pengetahuan, iman, kasih, mengajar, menasihati, memimpin, membedakan bermacam-macam roh, memberitakan Injil, menggembala-kan jemaat, menafsirkan kebenaran Alkitab dan sebagainya, agar saling melengkapi, membangun kerohanian orang Kristen, di tiap zaman, tiap tempat, tiap bangsa, tiap lapisan masyarakat (bandingkan Rm. 12:6-8; Ef. 4:11; 1Kor. 12:8-10, 28-29; lPtr. 4:10-11 dan sebagainya).

    Selama 2.000 tahun, dalam kondisi seperti inilah gereja Kristus bereksistensi, bertumbuh dan menyebar sampai ke semua bangsa. Sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya, gereja dan orang Kristen akan tetap menghadapi tantangan dan penganiayaan, serangan dan kebejatan moral, ketidaktenteraman di dalam dan agresi dari luar, sekalipun secara bentuk dan kualitas berbeda, tetapi satu motivasi yaitu untuk menentang dan memusnahkan gereja. Namun, bagaimanapun dahsyatnya penolakan dan pukulan itu, gereja tetap bereksistensi dan berkembang. Seturut kehendak Kristus, gereja terus maju dan berani bersaksi kepada orang-orang yang tidak percaya, di zaman yang jahat dan kacau balau ini.

    Jikalau gembala sidang, hamba Tuhan dan orang Kristen tidak mengerti bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dialami itu adalah kesempatan bersaksi yang Tuhan berikan, dan di bawah pengontrolan Kristus, maka ketika orang-orang yang mengasihi Tuhan ini menghadapi ketidaktenteraman di dalam dan agresi dari luar, akan menjadi kecewa dan putus asa, merasa sendiri dan tak berdaya untuk menunaikan amanat beritakan Injil ke seluruh bumi. Bahkan ada sebagian gembala sidang dan hamba Tuhan yang pasif, ketika menghadapi kegarangan tantangan dan serangan iblis, akan menyerah, berkhianat menyangkal Tuhan, menjual saudara seiman, juga menjual diri sendiri.

    Perjalanan sejarah gereja selama 2.000 tahun ini membuktikan bahwa Kristus senantiasa beserta dengan gereja-Nya dalam penderitaan, menderita dan menang bersama-sama. Gereja telah melewati milenium ke-2, 20 abad, yakinlah bahwa sebelum Kristus datang lagi, gereja-Nya tetap akan sanggup dan tenang melewati milenium ke-3, abad-21, bahkan memiliki kekuatan bersaksi pada setiap zaman, kepada setiap umat manusia yang kosong hatinya, yang hidup tanpa berpengharapan dan tanpa tujuan yang pasti.

    Gembala sidang gereja-gereja di Indonesia yang mengerti dengan baik strategi Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab, baiklah bersandar pada bimbingan dan pertolongan Roh Kudus untuk memanfaatkannya. Barulah dapat bersama-sama dengan gembala-gembala sidang yang ada pada setiap zaman menggenapkan amanat misi di seluruh bumi, serta mengalami kemenangan dalam Kristus.

[ Catatan: Artikel ini diterjemahkan (dari bahasa Chinese ke bahasa Indonesia) oleh Ev. Amy Kho, Sm. Th. ]

Sumber: 

Sumber:

Judul Buku : Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus yang Melintasi Zaman
Pengarang : Dr. Peter Wongso
Penerbit:Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)
Tahun:1997/2002
Halaman:7 - 23

Jemaat-jemaat Kristus di Asia Melintasi Abad Ke-21 (Bagian 1)

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia

Edisi: 
046/I/2004
Isi: 

Bagaimana penggembalaan gerejawi di Asia menghadapi tendensi perkembangan gereja dan masyarakat abad ke-21?

Ladang pelayanan penggembalaan gereja Asia adalah negara-negara di Asia, maka sebelum membicarakan bagaimana menyusun strategi penggembalaan gerejawi di Asia dalam menghadapi tendensi perkembangan gereja dan masyarakat abad ke-21, perlu meninjau kembali prinsip dan strategi perkembangan sejarah tiap suku bangsa, sambil juga meninjau bagaimana pemimpin-pemimpin negara di Asia merancangkan rencana pembangunan negara untuk masa mendatang. Selain itu, yang terpenting adalah cara-cara Allah. Penguasa sejarah dalam menangani segala perkara dengan benar, yang tercantum dalam Alkitab itu perlu didiskusikan dan dipanuti sebagai strategi yang terbaik.

I. MENINJAU KEMBALI PRINSIP DAN STRATEGI PERKEMBANGAN SEJARAH NEGARA- NEGARA DI ASIA

Suku bangsa tertua di Asia adalah suku Jawa. Menurut catatan arkeologi, telah ditemukan fosil "manusia Jawa" yang berumur 10.000-100.000 tahun. Karena belum ada kesimpulan akhir, maka kita tidak perlu membicarakannya. Memang benar bahwa suku Jawa telah 4.000 tahun lebih dapat menerima sejarah itu. Menurut Buku Sejarah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 3.000 tahun yang lalu sejumlah besar suku Mongol berimigrasi ke Kepulauan Indonesia. Rute perjalanan suku Mongol ini mula-mula ke Han Chong (daratan Cina Tengah), kemudian Yun Nan, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, akhirnya tersebar ke Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan lainnya. Imigrasi kedua terjadi pada 2.000 tahun yang lampau, sekitar abad ke-1, termasuk sejumlah suku Yun Nan yang berimigrasi ke Selatan. Suku Yun Nan sebenarnya adalah suku Mongol yang mula-mula, setelah imigrasi ke Selatan berbaur dengan suku setempat. Jalur perjalanan imigran kedua ini sama dengan yang pertama. Alasan imigrasi adalah karena kekacauan akibat peperangan, perdagangan, mencari tempat tinggal yang lebih aman dan sejahtera.

Imigrasi besar ketiga berasal dari India. Mereka memakai jalur darat dan laut: Lautan Hindia, Thailand, Myanmar ke Sumatra, Jawa, dan kemudian pada abad ke-2 mendirikan Kerajaan Prambanan di Jawa Tengah. Sampai pada abad ke 8, penganut agama Budha dari Cina dan India datang dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan.

Imigrasi besar keempat adalah penganut agama Islam dari Arabia, di Timur Tengah. Kebanyakan di antaranya yang kini menjadi orang-orang Pakistan. Pada abad ke-12, dengan amanat untuk menaklukkan dunia bagi Islam, mereka datang ke Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan, kemudian ke Selatan, tiba di Pulau Jawa, dan mendirikan Kerajaan Majapahit. Sesudah itu ekspansi ke Timur Laut menaklukkan Sulawesi, dan ke Utara sampai ke Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Pada abad ke-15, tentara Spanyol menaklukkan Pulau Luzon, kemudian ke Selatan menghambat rencana ekspansi Islam ke utara ke Pulau Luzon itu.

Kolonialisme Eropa Barat pertama yang berekspansi ke Timur adalah Portugis, yang mulai menaklukkan Goa di pantai Barat India, kemudian menyeberangi selat Malaka di Lautan Hindia, tiba di Pulau Jawa, memerintah Indonesia selama kurang lebih 100 tahun lamanya. Bangsa Spayol menjajah pulau Luzon. Pada abad ke-16, Belanda menyerang Indonesia, mengusir Portugis dan menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Pada abad ke-18, kolonialisme Inggris menjajah negara-negara Arab, India, Myanmar, Malaysia, Borneo Utara (sekarang Sarawak, Sabah dan Brunei). Sampai Perang Dunia II, negara-negara Eropa dikalahkan Jepang. Abad ke-19, Perancis menjajah daratan Indocina: Vietnam, Kamboja, Laos. Melihat negara-negara Eropa memiliki negara jajahan di Asia Tenggara, Timur Tengah, daratan India dan memiliki kekayaan yang besar, maka tentara Amerika Serikat maju ke Timur, mengusir Spanyol, dan menjajah Filipina selama 50 tahun lamanya. Usia Perang Dunia II, Amerika Serikat menang atas Jerman, Italia dan Jepang, dan mengusir kolonialisme Inggris, Perancis dan Belanda kembali ke Eropa, bersikap sebagai pahlawan mendukung negara-negara di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat mulai menanam modal di Asia Tenggara, melalui pendidikan dan teknologi menarik para cendekiawan untuk melakukan berbagai penelitian. Dengan demikian Amerika Serikat menjadi negara adikuasa dalam bidang pendidikan, kesenian, ekonomi, militer dan dunia hiburan (catatan: Materi di atas dikutip dari Sejarah Indonesia, dan artikel Ensiklopedia Britanica tentang perkembangan kolonialisme di Asia).

Di masa 500 tahun yang silam, kolonialisme yang menjajah negara-negara di Asia Tenggara, memiliki angkatan laut yang kuat, dan menguasai perniagaan dan ekonomi. Dengan filsafat Romawi dan Yunani, serta kemajuan teknologi (sebenarnya adalah relatif), membuat rasa superioritas bangsa dan budaya, yang meremehkan bangsa dan budaya Timur. Pandangan tersebut kemudian berubah sejalan dengan kemajuan ekonomi yang telah dicapai negara-negara Asia akhir-akhir ini.

Meninjau kembali sejarah singkat di atas, Asia didiami oleh berbagai suku bangsa, dan pemeluk berbagai agama, memiliki beraneka ragam budaya dan pemikiran filsafat, serta berbagai sistem pemerintahan. Wilayah ini memiliki sumber daya alam yang kaya raya, oleh sebab itu beratus-ratus tahun lamanya terjadi perebutan kekuasaan, yang kuat menindas yang lemah. Mungkin karena iklim yang baik sepanjang tahun, alam yang indah, sehingga yang pernah datang mengunjungi negeri-negeri di sini, ingin datang lagi, bahkan berusaha menetap untuk jangka waktu yang panjang. Penduduknya ramah dan sopan, lapang dada dan terbuka, mudah menerima kebudayaan dan agama lain yang masuk. Tidak demikian dengan para pendatang yang kuat itu, yang sering menindas, merampok dan membunuh. Namun setelah lewat puluhan, ratusan tahun, yang tidak membaur, setelah tiba waktunya, di saat kekuatan makin melemah, mereka pun kembali ke negerinya.

Dari perkembangan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa prinsip: Dengan sikap yang sabar dan lapang dada menerima budaya, agama dan bangsa lain, memberikan ruang gerak bagi mereka dan waktulah yang akan menentukan semuanya. Kebijakan yang diambil oleh negara-negara Asia adalah bersatu berjuang untuk bangsa dan negara, walaupun cara atau strategi berbeda, tetapi tujuannya adalah sama.

II. RENCANA PEMBANGUNAN NEGARA-NEGARA DI ASIA UNTUK MASA MENDATANG

Di masa 30 tahun silam (1965-1995), kebanyakan pemimpin-pemimpin politik di negara-negara Asia berunding dengan kelompok pemikir internasional untuk menggariskan rencana politik negara jangka panjang. Seperti Indonesia, Rencana Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun tahap pertama: tahun 1969-1994. Pembangunan tersebut meliputi: Wajib belajar 9 tahun (bebas biaya) untuk warga negara Indonesia. Minimal mendirikan sebuah Perguruan Tinggi di setiap ibukota kabupaten, mendorong lembaga-lembaga keagamaan berperan serta dalam pembangunan di sektor pendidikan. Anggaran pendidikan mencapai 12% dari Rancangan Anggaran Belanja Negara. Mendirikan satu poliklinik dengan tim dokter di setiap desa yang berpenduduk 500 kepala keluarga. Mengupayakan listrik masuk desa. Demi kelancaran transportasi, dibangun jalan-jalan raya, pelabuhan laut, lapangan udara, dan jalan kereta api. Juga membangun tempat-tempat pariwisata. Di sektor perekonomian, mengupayakan kemajuan di bidang industri, perdagangan dan pertanian. Membangun industri minyak bumi, petrokimia, pertambangan, pertanian, perikanan, industri mobil dan pesawat terbang, bank-bank dan perusahaan asuransi yang bertaraf internasional, investasi modal asing. Laporan akhir dari hasil pembangunan jangka panjang tahap pertama ini menunjukkan peningkatan: 12% warga negara sudah dapat mengenyam pendidikan perguruan tinggi, 28% pendidikan menengah dan 48% pendidikan dasar 6 tahun. Pendapatan per kapita setiap tahun meningkat dari US$ 15 menjadi US$ 1,000, 1997. Perdagangan internasional meningkat dari US$ 800 juta menjadi US$ 67,6 miliar. Laju perekonomian tiap tahun meningkat 6,5%-7,8%. Rencana Pembangunan Jangka Panjang tahap kedua dimulai tahun 1994 sampai tahun 2019.

Sejak 30 tahun silam, Singapura juga melaksanakan pembangunan jangka panjang. Penduduk yang dapat mengenyam pendidikan telah mencapai 98%, pendapatan per kapita sebesar US$ 22,520, 98,3% penduduk telah beroleh pekerjaan. Perdagangan internasional mencapai US$ 200 miliar tiap tahun. Laju ekonomi tiap tahun meningkat 6,8-8,3%. Kini Singapura telah mengembangkan industri elektronik yang canggih dan mahal, dan menjadi pusat moneter, pusat perhubungan di Asia, dan kota internasional.

Sejak merdeka di tahun 1957, Malaysia dipimpin oleh lebih dari sepuluh partai politik. Malaysia juga melaksanakan rencana pembangunan jangka panjang tahun 1991-2020. 90% penduduk sudah bisa mengenyam pendidikan. Pendapatan per kapita telah mencapai US$ 3,530. 97,1% penduduk telah beroleh pekerjaan. Perdagangan internasional mencapai US$ 120 miliar lebih per tahun. Laju perekonomian tiap tahun meningkat 8,5-10%. Negara ini kaya akan hasil tambang: minyak bumi, batu bara, timah, tembaga dan sebagainya. Kekayaan hutan yang besar terdapat di Sabah dan Sarawak. Dalam kurun waktu yang tidak lama lagi, negara ini bisa menjadi negara terkaya ke-5 di Asia.

Sistem pemerintahan Thailand adalah monarki konstitusional, dipimpin oleh Kabinet Parlementer. Pada masa lalu secara bergantian dipimpin oleh kekuatan militer, namun kini dikuasai oleh kaum cendekiawan. Walaupun selalu berganti kabinet, tetapi dengan dilaksanakannya rencana pembangunan jangka panjang, maka tercapailah kemajuan di sektor pendidikan dan ekonomi. Pemerataan pendidikan baik pendidikan umum juga pendidikan wihara. 87% penduduk telah mengenyam pendidikan dasar. Pendapatan per kapita telah mencapai US$ 2,315. 96,3% penduduk telah beroleh pekerjaan. Perdagangan internasional mencapai US$ 100 miliar per tahun. Laju perekonomian tiap tahun meningkat sejumlah 7-8%. Setelah Perang Dunia II, negara ini menjadi markas besar ASEAN. Pada masa 20 tahun perang di daratan Indocina, negara ini dijadikan markas bagi tentara PBB dan Amerika Serikat.

Sejak Filipina merdeka di tahun 1946, karena dijajah dan dididik selama 500 tahun lebih oleh Spanyol dan Amerika Serikat, negara ini telah menjadi negara Timur yang sangat dipengaruhi oleh budaya barat. Agama Roma Katolik ditetapkan sebagai agama negara. Pemerataan pendidikan menengah ke atas mencapai angka 90%. Pendapatan per kapita US$ 1,010. 89,1% penduduk telah mendapat pekerjaan. Tetapi diperkirakan ada 600.000 tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri, yang menghasilkan devisa negara sebesar US$ 2,5 miliar tiap tahun. Sejak tahun 1986, dibawah kekuatan pemerintahan rakyat, sangat mengutamakan kesejahteraan dan keamanan masyarakat, kemajuan ekonomi, investasi modal asing dan sebagainya.

Brunei adalah sebuah negara kecil yang berpenduduk 300.000 orang. Yang dipimpin oleh Sultan. Secara geografis letaknya tidak terlalu menonjol, namun produksi minyaknya mencapai 200.000 barel per hari, sehingga pendapatan per kapita mencapai US$ 18,500 per tahun. Semua penduduk dapat menikmati pendidikan dan pengobatan gratis. Setiap tahun Departemen Pendidikan menyediakan bea siswa untuk 1.000 orang pemuda yang diutus belajar di universitas-universitas terkemuka di dunia. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali untuk membangun tanah air. Tidak ada pengangguran di negara ini (0%), sebaliknya kira-kira ada 17.000 orang asing yang bekerja di negara ini. Perdagangan internasional mencapai US$ 6 miliar. Laju perekonomian tiap tahun meningkat 3%.

Setelah usai perang Vietnam tahun 1975, walaupun Vietnam menganut paham komunis, pada tahun 1985 Vietnam mulai mengubah perekonomian pasar, dengan memberi kesempatan bagi penanam modal asing untuk mendirikan industri-industri. Walaupun kini pendapatan per kapita hanya US$ 220 per tahun tetapi laju perekonomian telah meningkat 8%. Volume perdagangan internasional telah mencapai US$ 10 miliar. 88% warga negara yang telah beroleh pekerjaan. (Materi di atas diambil dari laporan dalam Majalah Tahunan Bank Dunia edisi 1994, dan Asiaweek edisi Juni 1995).

Dalam segi keagamaan, mayoritas penduduk Indonesia, Malaysia dan Brunei adalah pemeluk agama Islam, juga ada pemeluk agama Kristen, Budha dan Hindu. Mayoritas penduduk Thailand dan Vietnam adalah pemeluk agama Budha, tetapi diberikan juga ruang gerak yang luas bagi agama Islam, Kristen dan agama tradisional Cina. Penduduk di Singapura memeluk agama tradisional Cina, Budha, Kristen, Hindu dan Islam, dan ada kerukunan beragama di sana. Walaupun Filipina adalah negara Roma Katolik, tetapi penduduk di Pulau Mindanao (Selatan Filipina) adalah pemeluk agama Islam, juga ada agama tradisional Cina dan Agama Kristen.

Kini penduduk Asean sudah berjumlah 420 juta jiwa, pertambahan pendudukan per tahun 2,2%, berarti setiap tahun akan bertambah ± 10 juta jiwa. Sampai tahun 2.000, jika Kamboja, Myanmar dan Laos masuk ASEAN, maka jumlah penduduk akan menjadi 500 juta jiwa. Sedangkan umat Kristen, termasuk umat Roma Katolik hanya berjumlah sekitar 100 juta, 20% dari jumlah seluruhnya. Setiap negara berusaha untuk mencapai masyarakat yang sejahtera, agar dapat memajukan perekonomian, sehingga sikap terhadap kemajuan di bidang agama adalah "terbatas tapi bebas, bebas tapi terbatas." Dilarang menyerang kegiatan agama lain. Dilarang melanggar apa yang telah menjadi ketetapan pemerintah. Sebaliknya mendukung semua kegiatan yang memasyhurkan dan mengharumkan nama bangsa dan negara di mata internasional. Meninjau tendensi-tendensi di atas, bagaimanakah gereja-gereja Asean menggariskan strategi dan langkah-langkah untuk menghadapi era pemerataan pendidikan, era informatika, era globalisasi, pluralis, dan teknologi canggih ini? Semuanya ini harus menjadi perenungan bagi para pemimpin gereja. Berdoalah kepada Kristus, Kepala Gereja itu, agar Ia mengutus Roh Kudus untuk memimpin kita, bagaimana berlandaskan kepada prinsip-prinsip Alkitab untuk mendobrak tradisi-tradisi denominasi gereja, berembuk menyusun rencana dan strategi, yang mendukung rencana pembangunan pemerintah, menunaikan Amanat Agung Kristus, menunggu Kristus datang kembali.

III. PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN DALAM PENGGEMBALAAN DI GEREJA-GEREJA ASEAN

(Bersambung ke Bagian 2)

Sumber: 

Sumber:

Judul Buku : Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus yang Melintasi Zaman
Pengarang : Dr. Peter Wongso
Penerbit:Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)
Tahun:1997/2002
Halaman:7 - 23

Mengenang Dr. Cornelius Van Til: Tokoh Apologetika Reformed

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Pdt. Cornelius Kuswanto
Edisi: 
045/XI/2003
Tanggal: 
1988
Isi: 

Cornelius Van Til dilahirkan di dalam sebuah keluarga Kristen yang mengasihi Tuhan di Nederland pada tanggal 5 Mei 1895. Selain mendapat pendidikan agama Kristen di rumah, Cornelius Van Til juga mendapat pendidikan yang baik dari sekolah Kristen. Melalui latar belakang yang baik ini, Cornelius Van Til mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan ia menyadari bahwa semua bidang kehidupan manusia ada di bawah pengaturan Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

Pada usia sepuluh tahun, Cornelius Van Til pindah ke Amerika Serikat. Beliau menjadi besar bersama kaum imigran Belanda yang tinggal di negara bagian Indiana. Kemudian beliau melanjutkan sekolah di Calvin College dan Princeton Theological Seminary.

Beliau mendapat gelar Ph.D dari Princeton Seminary. Setelah melayani Tuhan sebagai pendeta di Spring Lake, Michigan, beliau mengajar Apologetika di Princeton Seminary selama satu tahun (1928-1929). Pada tahun 1929, tokoh-tokoh dari PCUSA (Presbyterian Church in the United States of America) mencoba mengubah Princeton Seminary agar tidak menekankan kesetiaan kepada doktrin Reformed. Hal ini menyebabkan beberapa dosen dari Princeton keluar dan mendirikan sebuah seminari yang berdiri teguh pada doktrin Reformed. Tokoh-tokoh yang keluar dari Princeton dan turut serta dalam mendirikan Westminster Seminary ialah Robert Dick Wilson, J. Gresham Machen, Oswald T. Allis, Cornelius Van Til, dan John Murray yang ikut keluar pada tahun berikutnya.

Di Westminster Seminary Dr. Van Til mengajar Apologetika dari tahun 1929-1972. Dari tahun 1972-1987 Dr. Van Til menjadi guru besar pensiun di Westminster.

Selain merupakan salah seorang tokoh pendiri Westminster Seminary, Dr. Van Til juga merupakan seorang pendiri dari sebuah sekolah Kristen yang terkenal di Philadelphia. Sekolah ini didirikan pada tahun 1942 dan dikenal dengan nama Philadelphia-Montgomery Christian Academy. Sekarang sekolah itu sudah berkembang menjadi tiga sekolah, masing- masing mulai dari TK sampai SMA.

Dr. Van Til meninggal pada tanggal 17 April 1987 dan dimakamkan pada tanggal 22 April. Upacara pemakaman dipimpin oleh Pendeta Steven F. Miller dari Calvary Orthodox Church di mana Dr. Van Til mengetahui bahwa ia akan meninggal, beliau minta Pendeta Miller membacakan dua pasal terakhir dari kitab Wahyu. Bagian Alkitab ini merupakan tujuan dari hidup beliau. Iman beliau menengadah kepada janji Tuhan, yang akan memberikan kesembuhan kepada bangsa-bangsa melalui pohon kehidupan yang ada di taman Tuhan dimana tidak ada lagi kutukan. Dr. Van Til hidup selama 91 tahun dan 11 bulan. Untuk mengenang jasa beliau yang besar terhadap Westminster Seminary, bangunan kelas Westminster diberi nama Van Til Hall.

PANDANGAN DAN PIKIRAN PENTING DARI DR. VAN TIL

Sumbangsih yang terbesar dari Dr. Van Til bagi gereja Tuhan ialah dalam bidang Apologetika. Ayat pegangan bagi beliau untuk melakukan apologetika ialah 2Korintus 10:5,

"Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus."
Dr. Van Til menekankan bahwa ketika Paulus mengajar kita mengenai menawan segala pikiran, Paulus mau agar kita menaklukkan setiap argumentasi dan dalih dari dunia yang menentang Tuhan. Kita harus membawa semua kebenaran kepada kemuliaan Tuhan. Dalam melakukan apologetika, Dr. Van Til setia kepada Alkitab. Beliau menghendaki agar kita juga mengritik pikiran dan pandangan yang bukan Kristen sesuai dengan ajaran Alkitab.

Ajaran ahli filsafat Jerman, Immanuel Kant, merupakan "musuh" Dr. Van Til. Menurut Kant, pengetahuan kita terbatas oleh pengalaman kita. Pengetahuan seseorang dibatasi oleh bidang phenomenal (phenomenal realm) atau bidang pengalaman dan penglihatan manusia. Kita tak dapat menyelidiki kenyataan-kenyataan yang berada di luar batas pengalaman kita. Semua yang berada di luar batas pengalaman kita, menurut Kant. termasuk dalam bidang noumenal (noumenal realm). Dr. Van Til melukiskan posisi Kant sebagai berikut:

noumenal -----> di luar kemampuan kita untuk mengetahui
phenomenal ---> sumber dari semua pengetahuan kita

Kelemahan Kant yang terbesar menurut Dr. Van Til adalah:

  1. Semua pengetahuan adalah bersifat subyektif (tergantung dari orang yang mengetahuinya);
  2. Manusia tidak dapat mempunyai pengetahuan tentang Allah, karena pengetahuan ini termasuk dalam bidang noumenal.
Dualisme ini menurut Dr. Van Til tidak perlu ada. Beliau menyelesaikan persoalan ini dengan membuat sebuah lingkaran yang mengelilingi baik bidang noumenal maupun bidang phenomenal. Tuhan menciptakan kedua bidang ini dan Tuhan dinyatakan dalam dua bidang ini. Baik bidang noumenal maupun bidang phenomenal ada di bawah kekuasaan Tuhan dan mereka adalah satu di dalam ciptaan dan wahyu-Nya. Perbedaan yang dibuat oleh Kant adalah salah.

Dr. Van Til memakai apologetika yang berkeyakinan pada Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus berbicara kepada kita melalui Alkitab. Alkitab mengajar bahwa kita harus melihat perbedaan posisi yang besar antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Sebagai Pencipta, Allah tidak bergantung kepada manusia. Sebaliknya semua manusia sebagai ciptaan Allah, bergantung kepada Allah.

Menurut Dr. Van Til, pikiran manusia yang sudah jatuh dalam dosa tidak dapat menjadi jawaban untuk menyelesaikan persoalan hidup manusia. Alkitab adalah jawaban yang final untuk menjawab persoalan manusia. Dr. Van Til dengan tegas menolak prinsip manusia yang mau hidup secara otonom, tidak mau bergantung pada Allah. Manusia yang mau hidup otonom adalah manusia yang tidak menyadari bahwa ia adalah ciptaan Allah.

Dr. Van Til berkata bahwa Kristus yang diberitakan dalam Alkitab selalu menjadi titik pusat dari apa yang beliau ajarkan. Seorang guru besar kesayangan Dr. Van Til waktu beliau masih belajar di Princeton Seminary ialah Dr. Geerhardus Vos. Kekaguman Dr. Van Til pada Dr. Vos disebabkan karena Dr. Vos mengajarkan Alkitab yang berpusat pada Kristus. Bertitik tolak dari hal ini, Dr. Van Til meninggikan Kristus dalam apologetika. Segenap bidang kehidupan harus berpusat pada Kristus; bukan saja di gereja, tetapi juga di rumah, di sekolah, di universitas, di pasar, di bidang politik, bahkan segala sesuatu di dalam hidup bermasyarakat.

PENGARUH DR. CORNELIUS VAN TIL BAGI ORANG KRISTEN

Selain menjadi berkat di bidang Apologetika, Dr. Van Til juga memberikan sumbangsih yang besar di bidang-bidang lain. Teologi Sistematika juga tak lepas dari perhatian Dr. Van Til. Dalam bukunya, "In Defense of the Faith" jilid ke-5, Dr. Van Til membahas mengenai pentingnya Teologi Sistematika. Dr. Richard Gaffin, seorang dosen Teologi Sistematika di Westminster Seminary berkata, "Saya tidak dapat membayangkan Teologi Sistematika tanpa Van Til." Dr. Van Til membedakan antara Teologi Sistematika dan Apologetika. Kedua bidang ini mengajarkan hal yang sama, yaitu Alkitab, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Teologi Sistematika dipakai untuk menghadapi gereja, sedangkan Apologetika dipakai untuk menghadapi dunia. Sebagaimana Alkitab merupakan dasar untuk melakukan Apologetika, demikian pula Alkitab merupakan dasar untuk Teologi Sistematika. Menurut Dr. Van Til, kita tak dapat menjadi seorang apologet Kristen yang baik, kalau kita belum mengetahui teologi secara sistematis. Untuk melakukan apologetika dengan baik, kita harus mengetahui Teologi Sistematika dengan baik juga. Kedua bidang ini saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Dr. Van Til juga berpengaruh dalam bidang misi dan penginjilan. Dalam 1Petrus 3:15, Petrus mengimbau kita agar kita siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada pada kita. Penginjilan lebih menekankan apa yang kita percaya, sedangkan Apologetika lebih menekankan mengapa kita percaya. Apologetika merupakan langkah lebih lanjut dari penginjilan, di mana kita berusaha membela kebenaran Alkitab dan berusaha meyakinkan orang yang tidak percaya mengenai berita penghukuman dan pengharapan yang ada di dalam Alkitab. Baik dalam melakukan apologetika maupun dalam penginjilan, Dr. Van Til menekankan pentingnya keyakinan Kristen (Dr. Van Til memakai istilah Christian presupposition) dan epistemologi Kristen. Dosen Harvie Conn yang mengepalai Departemen Misi di Westminster Seminary memakai prinsip ini dalam melaksanakan penginjilan. Kita dapat mengenal ajaran Dr. Conn yang bertitik tolak dari prinsip Dr. Van Til melalui bukunya yang berjudul "Eternal Word in Changing World".

Departemen Sejarah Gereja dan Konseling di Westminster Seminary juga mengikuti jejak pendirian Dr. Van Til yang berdiri teguh di atas Alkitab. Van Til tidak menghendaki Sejarah Gereja berada dalam bidang yang netral. Konseling yang diajarkan di Westminster juga bertitik tolak dari ajaran Van Til. Profesor John Bettler, seorang dosen konseling di Westminster berkata, "Kita berusaha mempraktekkan apologetika Van Til di dalam bidang psikologi."

Kita mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat Tuhan yang besar pada gereja-Nya melalui kehidupan Dr. Van Til. Kalau Dr. Van Til beserta pikiran dan karya tulisnya sudah menjadi berkat yang besar untuk gereja Tuhan di Amerika, biarlah berkat-berkat tersebut juga boleh menjadi berkat yang besar bagi gereja dan umat Tuhan di Indonesia.

Dr. Van Til gemar mengutip Abraham Kuyper (pendeta, pendiri Free University of Amsterdam, juga mantan perdana menteri Belanda), yang pernah berkata, "Tidak ada satu sentimeter pun dari kehidupan di mana Kristus tidak berkata, 'Itu adalah milik-Ku.'" Biarlah segenap bidang pendidikan dan hidup kita dikuasai seluruhnya oleh Kristus dan dipakai untuk meninggikan serta memuliakan Dia, Raja atas segala raja dan Tuhan atas sekalian yang dipertuan.

KEPUSTAKAAN

Beberapa buku (yang penulis miliki) yang ditulis mengenai Van Til:
  • Churchill, Robert K. Lest We Forget. A Personal Reflection on the Formation of the Orthodox Presbyterian Church. Philadelphia: The Committee for the Historian of the Orthodox Presbyterian Church.
  • Notaro, Thom. "Van Til and the Use of Evidence. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1980.
  • Pratt, Richard L. Every Thought Captive. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1979.
Beberapa buku (yang penulis miliki) yang ditulis oleh Van Til:
  • Van Til, Cornelius. Why I Believe in God. Philadelphia: Great Commission Publication, no date.
  • A Christian Theory of Knowledge. Philipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1969.
  • The Defense of the Faith. Phillipsburg, New Jersey, Presbyterian and Reformed, 1967. Cetakan ketiga.
  • In Defense of the Faith Vol. 2. A Survey of Christian Epistemology. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, no date.
  • In Defense of the Faith. Vol. 5. An Introduction to Systematic Theology. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1974.
Catatan:
Pdt. Cornelius Kuswanto selama 8 tahun menempuh studi lanjut di Amerika Serikat, terakhir di Westminster Theological Seminary. Beliau saat ini mengajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.
Sumber: 

Sumber:

Judul Majalah : Momentum 5
Judul Artikel : Mengenang Dr. Cornelius Van Til: Tokoh Apologetika Reformed Gereja
Penulis:Pdt. Cornelius Kuswanto
Penerbit:Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, Des 1988
Halaman:40 - 42

Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja (Bag. 2)

Dear e-Reformed Netters,

Selamat Hari Reformasi Gereja 2003!!
Mari kita hayati perjuangan para reformator dalam mengembalikan kemurnian ajaran gereja dengan hidup yang memelihara kesatuan Tubuh Kristus sesuai dengan Firman-Nya!

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat Hari Reformasi Gereja 2003!!
Mari kita hayati perjuangan para reformator dalam mengembalikan kemurnian ajaran gereja dengan hidup yang memelihara kesatuan Tubuh Kristus sesuai dengan Firman-Nya!

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Hidalgo B. Garcia
Edisi: 
044/X/2003
Isi: 

PELAYANAN GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Salah satu isu yang Calvin bahas dengan Sadoleto adalah masalah jabatan-jabatan gereja. Ia mengamati dari surat Sadoleto bahwa Sadoleto menuntut ketaatan dan kesetiaan kepada pejabat-pejabat gereja dengan landasan bahwa mereka dianugerahkan otoritas. Calvin mengoreksi gagasan yang keliru ini. Baginya, otoritas dan kekuasaan orang-orang yang ditunjuk untuk jabatan gereja dibatasi dalam limit-limit tertentu sesuai jabatan mereka menurut firman Allah. Dalam limitasi ini Kristus membatasi penghormatan yang Ia haruskan untuk diberikan kepada para rasul dan, karena itu, juga kepada para gembala. Tugas utama para gembala adalah memberitakan dan mengajarkan sabda Tuhan guna memajukan gereja. Inilah satu-satunya tujuan kekuasaan rohani, yakni "to avail only for edification, to wear no semblance of domination, and not to be employed in subjugating faith."**46 Paus, meskipun mengklaim sebagai pengganti Petrus, juga tidak dibebaskan dari limitasi ini. Kemerosotan disiplin di kalangan para uskup Roma, menurut pengamatan Calvin, adalah salah satu alasan mengapa gereja telah jatuh ke dalam kondisi yang demikian menyedihkan. Disiplin gereja mempunyai beberapa implikasi bagi kesatuannya karena menurutnya, agar gereja bersatu harus diikat bersama-sama melalui disiplin seperti halnya tubuh yang diikat otot-ototnya. Dalam hal ini menuduh balik para pejabat Katolik Roma yang telah menghancurkan integritas gereja melalui penyalahgunaan jabatan eklesiastikal; merekalah yang menabur benih-benih perpecahan. Ia secara tegas menyangkal tuduhan Sadoleto yang mengatakan bahwa para Reformator melepaskan diri dari kuk tirani gereja agar mereka sendiri bebas untuk melakukan tindakan amoral yang tak terkendalikan.**47

Dalam The Necessity of Reforming the Church, Calvin mengevaluasi pertanyaan tentang suksesi yang berhubungan dengan masalah disiplin gereja, dan dengan demikian, seperti telah kita lihat di atas, berhubungan juga dengan kesatuan gereja. Mengenai hubungan antara kontinuitas (atau suksesi) dan kesatuan ia mengatakan, "no one, therefore, can lay claim to the right of ordaining, who does not, by purity of doctrine, preserve the unity of the Church."**48 Pernyataan ini merupakan reaksi terhadap klaim Katolik Roma bahwa hanya merekalah yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menahbiskan orang-orang ke dalam pelayanan gereja dan menentukan bentuk ordinasinya. Para pengikut Paus menyebut kanon-kanon kuno yang mereka klaim telah memberikan superintendensi untuk masalah-masalah mengenai para uskup dan klerus.**49 Suksesi yang konstan telah dilimpahkan kepada mereka, bahkan itu berasal dari para rasul. Mereka menyangkal bahwa jabatan itu bisa ditransfer secara sah kepada orang lain. Dengan demikian, berkaitan dengan klaim suksesi ini, para Reformator yang menjalankan pelayanan tanpa otoritas Katolik Roma, telah merampas kekuasaan eklesiastikal dan telah melakukan invasi terhadap wewenang hierarki Katolik Roma.**50

Calvin membantah klaim suksesi ini dengan menyatakan bahwa suksesi apostolik telah lama diinterupsi oleh keuskupan Katolik Roma.

But if we consider, first, the order in which for several ages have been advanced to this dignity, next the manner in which they conduct themselves in it, and lastly, the kind of persons whom they are accustomed to ordain, and to whom they commit the goverment of churches, we shall see that this succession on which they pride themselves was long ago interrupted.**51
Ia menguraikan tiga kategori aturan penunjukan para uskup, cara bagaimana mereka mengatur diri mereka sendiri dalam jabatan itu, dan jenis orang yang mereka tunjuk.**52 Pertama, oleh karena hierarki Katolik telah merebut bagi diri mereka sendiri kekuasaan tunggal untuk menunjuk para klerus, Calvin mendebatnya dengan bertitik tolak dari sejarah gereja, "the magistracy and people had a discretionary power (arbitrium) of approving or refusing the individual who was nominated by the clergy, in order that no man might be intruded on the unwilling or not consenting."**53 Dalam hal cara para uskup mengatur diri mereka, ia bersikeras agar siapapun yang mengatur gereja, hendaknya ia juga mengajar.**54 Tujuan Kristus menunjuk para uskup dan gembala ialah, seperti dinyatakan Paulus, agar mereka mengajar gereja dengan doktrin yang sehat. Menurut pandangan ini, seorang gembala gereja yang baik tidak mungkin tidak melaksanakan tugas mengajar.**55 Ia mengamati bahwa para uskup tidak melaksanakan tugas ini dengan setia. "As if they had been appointed to secular dominion, there is nothing they less think of than episcopal duty."**56 Tidak heran jika kemudian orang-orang yang mereka promosikan untuk mendapat kehormatan sebagai imam adalah mereka yang memiliki karakter serupa. Ia menuntut dengan tegas agar ada eksaminasi yang ketat terhadap kehidupan dan doktrin mereka yang ingin menjadi pendeta, seperti yang sekarang dilakukan di gereja-gereja para Reformator.**57 Mengenai upacara ordinasi, Calvin berargumen bahwa praktek Katolik Roma tidak bersumber dari Alkitab.**58 "Satu-satunya yang kita baca, seperti yang biasa dilakukan pada zaman kuno, adalah penumpangan tangan."**59

Hal yang sangat kritis dalam semua klaim suksesi apostolik ini ialah doktrin Injil yang murni. Keprihatinannya ini ia rangkum dengan kalimat, "Setiap orang yang melalui tingkah lakunya memperlihatkan bahwa ia adalah musuh dari doktrin yang sehat, apapun gelar yang mungkin ia banggakan, ia telah kehilangan semua otoritasnya dalam gereja,"**60 karena itu ia pun tidak bisa mengklaim suksesi apostolik. Pernyataan-pernyataan ini begitu signifikan sebab telah menggoncangkan fondasi utama gereja Roma.

KESATUAN DAN FIRMAN ALLAH

Pemahaman yang benar mengenai gereja dalam relasinya dengan firman Allah, batasan-batasan dan tujuan jabatan otoritas gereja dan disiplin, serta suksesi apostolik yang tepat telah meletakkan dasar bagi pembelaan Calvin terhadap tuduhan skisma dan bidat. Dalam jawabannya kepada Sadoleto, ia membuat pembelaan ini dengan mempertentangkan pengakuan dari orang Kristen Reformed dengan kesetiaan Katolik yang dipaparkan oleh Sadoleto. Reformator itu mengaku bahwa tidak ada hal lain yang ia lakukan kecuali percaya bahwa tidak ada kebenaran yang dapat mengarahkan jiwa seseorang menuju jalan kehidupan selain dari apa yang dikobarkan melalui firman itu. Segala hal lain yang berasal dari penemuan manusia adalah kesombongan yang sia-sia dan pemberhalaan.

Calvin berusaha menghadirkan dan menguraikan apa yang dipercayainya sebagai doktrin yang murni dan kebenaran Injil. Melalui hal ini ia memperjelas bahwa tujuan para Reformator adalah untuk kebangkitan gereja kembali. Ia memperhatikan bahwa sejumlah besar kebenaran dari doktrin kenabian dan evangelikal telah musnah dan telah "diusir dengan kasar oleh api dan pedang"**61 dalam gereja Roma. Ia menolak tuduhan Sadoleto bahwa semua yang coba dilakukan oleh para Reformator hanyalah untuk menghancurkan semua doktrin sehat yang telah disetujui oleh orang-orang beriman selama lima belas abad. Dengan gamblang ia menjelaskan bahwa para Reformator jauh lebih sesuai dengan zaman awal kekristenan dibanding gereja Roma,**62 dan Sadoleto sendiri tidak dapat menyangkalnya.

Bagi Calvin, bentuk gereja yang telah diinstitusikan oleh para rasul merupakan satu-satunya model yang benar, dan bentuk kuno gereja itu yang dibuktikan dalam tulisan-tulisan bapa-bapa gereja kini telah menjadi puing-puing. Ia memperjelas tujuan tindakan para Reformator yaitu untuk memperbarui gereja, dan perlunya melakukan hal itu bukan disebabkan oleh imoralitas dari keuskupan Roma seperti yang diklaim oleh Sadoleto. Menurut Calvin, yang mendorong para Reformator melakukan reformasi ialah karena "cahaya kebenaran ilahi itu telah dipadamkan, firman Allah telah dikubur, kebaikan Kristus tertinggal dalam pengabaian yang dalam, dan jabatan gembala ditumbangkan."**63 Dengan berjuang menentang kejahatan-kejahatan seperti itu, mereka tidak berperang melawan gereja, namun justru mendampingi gereja di tengah penderitaannya yang sangat.**64 Ia bertanya kepada Sadoleto dengan tajam, apakah seseorang yang "sangat giat untuk kesalehan dan kekudusan seperti pada zaman gereja mula-mula, yang tidak puas dengan kondisi yang ada dalam gereja yang pecah dan rusak, dan berusaha untuk memperbaiki kondisi gereja serta merestorasinya agar mencapai kemegahan yang sejati" akan dianggap sebagai musuh?**65 Pastor Jenewa itu menyebut dua tanda dari gereja yang telah disebutkan di atas dan bertanya kepada kardinal Katolik itu, "dengan yang manakah dari hal- hal ini yang kalian ingin kami gunakan untuk menilai gereja?"**66

Apa yang disebut skisma oleh orang-orang Katolik Roma, Calvin menyatakannya sebagai usaha para Reformator untuk membawa gereja yang terdisintegrasi itu kepada kesatuan.**67 Ia membuat sebuah analogi menarik antara orang yang melakukan Reformasi dan seseorang yang mengangkat panji pimpinan militer untuk memanggil prajurit-prajurit yang terpencar agar kembali ke pos mereka. Pemimpin militer itu adalah Kristus dan prajurit-prajurit yang terpencar itu ialah para pemimpin gereja. Orang yang mengangkat bendera pemimpin itu adalah Reformator, dan diangkatnya bendera menandakan sebuah panggilan bagi kesatuan, yang diekspresikan Calvin dengan tajam,

In order to bring them together, when thus scattered, I raised not a foreign standard, but that noble banner of thine whom we must follow, if we would classed among thy people .... Always, both by word and deed, have I protested how eager I was for unity. Mine, however, was a unity of the Church, which should begin with thee and end in thee. For as oft as thou didst recommend to us peace and concord, thou, at the same time, didst show that thopu wert the only bond for preserving it. But if I desired to be at peace with those who boasted of being the heads of the Church and pillars of faith, I behoved to purchase it with the denial of thy truth. I thought that any thing was to be endured sooner than stoop to such a nefarious paction.**68
Calvin menyamakan para klerus Roma dengan serigala yang sangat lapar dan nabi-nabi palsu yang Kristus prediksikan akan ada di antara umat- Nya. Tindakan para Reformator dibandingkan dengan pelayanan para nabi zaman kuno, yang tidak dianggap skismatik ketika mereka mengharapkan bangkitnya kembali agama yang telah terdekadensi. Mereka tetap berada di dalam kesatuan gereja,**69 "walaupun mereka ditetapkan untuk dihukum mati oleh para pendeta yang jahat, dan dianggap tidak layak memperoleh tempat di antara manusia ..... **70 Jelaslah bahwa motif para Reformator bukan untuk memecah-belah gereja tetapi untuk memperbaharuinya dan memimpin kelompok-kelompok Kristen ke dalam kesatuan.**71 Baginya ada perbedaan besar antara "skisma dari gereja dan belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di mana gereja sendiri pun telah terkontaminasi."**72 Skisma muncul ketika gereja Roma menolak untuk dikoreksi:
Thou, O Lord, knowest, and the fact itself has testified to men, that the only thing I asked was, that controversies should be decided by thy word, that thus both parties might unite with one mind to establish thy kingdom; and I declined not to restore peace to the Church at the expense of my head, if I were found to have been unnecessarily the cause of tumult. But what did our opponents?... Did they not spurn at all methods of pacification?**73
Ia mengakhiri jawabannya kepada Sadoleto dengan sebuah doa yang merefleksikan esensi responsnya atas tuduhan skisma Katolik Roma:
The Lord grant, Sadolet(o), that you and all your party may at length perceive, that the only true bond of Ecclesiastical unity would exist if Christ the Lord, who hath reconciled us to God the Father, were to gather us out of our present dispersion into the fellowship of his body, that so, through his one Word and Spirit, we might join together with one heart and one soul.**74

OTORITAS GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Kini kita akan mempertimbangkan Response (or Antidote) to Articles Agreed Upon by the Faculty of Sacred Theology of Paris (1543) dari Calvin. Walaupun kepentingan utama dari artikel itu adalah untuk menentukan doktrin-doktrin yang harus diajarkan dan dipercayai, artikel tersebut memiliki implikasi-implikasi penting bagi pemahaman Katolik Roma mengenai kesatuan. Artikel-artikel inilah yang mendefinisikan gereja Katolik yang satu dan kudus. Apa yang mereka sebar luaskan adalah cara Katolik Roma berjuang dengan kekuatan- kekuatan yang memecah-belah di dalamnya; artikel-artikel ini dimaksudkan untuk "menenangkan gelombang opini yang menentang."**75 Prolog dari artikel-artikel ini menyebut peringatan Paulus untuk kesatuan dalam kitab Efesus, yaitu agar mereka jangan "seperti anak- anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran." Menanggapi hal ini Calvin memberikan antidot pertama di mana ia menekankan firman Allah, dan bersikeras bahwa inilah (firman Allah) yang menjadi otoritas satu-satunya untuk menyelesaikan atau memutuskan kontroversi-kontroversi. Ia menyebut beberapa bagian dari Alkitab dan bapa-bapa leluhur gereja untuk membuktikan bahwa otoritas satu-satunya yang membuat gereja tetap bereksistensi adalah firman Allah. Ia menyimpulkan,

Oleh karena itu, di tengah pertanyaan-pertanyaan yang bertentangan di masa sekarang ini, marilah kita mengikuti nasihat yang menurut Theodoret, (Lib. I. Hist. Eccles. cap. 7) diberikan oleh Constantine kepada para uskup di konsili Nicea -- marilah kita mencari kebulatan hati dari sabda Allah yang murni.**76
Otoritas Alkitab menjadi sangat berarti ketika kita memperhatikan cara Calvin meletakkannya di atas dan terhadap otoritas gereja seperti yang diajukan dalam Artikel-artikel Iman, khususnya bab XVIII-XXIII, oleh Fakultas Teologi di Paris. Dengan berdasar pada otoritas Alkitab ia menantang klaim gereja mengenai otoritas. Pada Artikel XVII, bersama dengan orang-orang Katolik Roma, ia mengakui bahwa hanya ada satu gereja yang universal. Kendati demikian, pertanyaan yang lebih krusial bagi Calvin adalah bagaimana seseorang mengenali penampakan dari gereja. Jawabannya sederhana, yaitu firman Allah. "Kita menempatkannya di dalam firman Allah, atau, dengan kata lain, karena Kristus adalah Kepalanya, kita percaya bahwa gereja harus dilihat dalam Kristus sebagaimana seseorang dikenali melalui wajahnya."**77 Apa yang ia maksud dengan firman Allah dan Kristus adalah pemberitaan Injil? Baginya, pemberitaan Injil dan visibilitas Kristus dan gereja saling berkorelasi. "Sebagaimana pemberitaan Injil yang murni tidak selalu dinyatakan, maka wajah Kristus pun tidak selalu menarik perhatian,"**78 demikian juga gereja tidak selalu dapat dilihat.**79 Orang-orang Katolik Roma mendasarkan visibilitas dan otoritas gereja Katolik yang satu pada hierarkinya, sedangkan Calvin mendasarkannya pada pemberitaan firman.**80

Pada Artikel XIX, berkenaan dengan otoritas gereja yang visibel dalam mendefinisikan dan menentukan isu-isu kontroversial, Calvin menantang pemikiran bahwa yang visibel selalu benar seperti yang diperlihatkan dalam sejarah. Sikap ini berbahaya karena mereka "yang menerima definisi gereja yang visibel tanpa penilaian, dan tanpa terkecuali, bisa membuat seseorang terpaksa menyangkal Kristus."**81 Sekali lagi ia memberi penekanan pada firman untuk menyelesaikan perbantahan.

Jika muncul pertikaian diantara gereja-gereja, kita mengakui bahwa metode yang sah untuk menciptakan keharmonisan, yang selalu dicari-cari, adalah para pendeta itu berkumpul, dan mendefinisikan dari firman Allah tentang apa yang harus diikuti.**82
Pada artikel XX, berkaitan dengan hal-hal yang tidak diungkapkan secara jelas dan khusus di dalam Alkitab namun bagaimanapun juga harus dipercaya dan diterima oleh gereja melalui tradisi, Calvin mengutip Agustinus dan Chrysostom, selain dari Alkitab, segala sesuatu yang penting untuk keselamatan telah dinyatakan kepada kita dan hal-hal selain Injil tidak boleh dipercaya.

Berkaitan dengan kekuasaan ekskomunikasi, dalam artikel XXI ia mengakui bahwa kekuasaan untuk mengekskomunikasi telah diserahkan kepada gereja, begitu pula cara penggunaannya telah ditentukan (dalam firman Allah). Ini berarti ekskomunikasi harus dilakukan melalui "mulut Allah" dan tujuannya haruslah untuk pertumbuhan kerohanian/ kebaikan.**83 Hal ini jelas merupakan sebuah kontrol atau pembatasan terhadap penyalahgunaan kekuasaan ini yang dilakukan oleh hierarki Katolik yang, Fakultas Teologi di Paris mengakui, tidak boleh mempersoalkan apakah ekskomunikasi itu adil asalkan itu dilakukan dalam nama-Nya (Kristus).**84

Artikel XXII menyatakan bahwa otoritas konsili-konsili tidak dapat salah asal Paus memimpinnya dan bentuk-bentuk legal serta protokol dipelihara sebagaimana mestinya. Terhadap hal ini Calvin menekankan otoritas atau kepemimpinan Kristus. Ia tidak percaya konsili apapun yang hanya bersidang menurut aturan-aturan manusia sebagaimana mestinya, kecuali jika konsili itu dikumpulkan dalam nama Kristus. Maksudnya, Kristuslah yang memimpin, karena jika tidak konsili- konsili itu dipimpin berdasarkan pemikiran mereka sendiri dan karena itu yang mereka lakukan tidak lain dari kesalahan. Sebuah konsili yang berkumpul di dalam nama Kristus dipimpin oleh Roh Kudus, dan di bawah bimbingan-Nya, dipimpin kepada kebenaran.**85

Hal ini mengarah pada pertanyaan mengenai keutamaan Paus dalam Artikel XXII. Artikel ini lebih merupakan suatu pertahanan atas kepausan dari serangan kaum Lutheran, yang bersikeras bahwa Batu Karang itu adalah Kristus sebagai dasar gereja, dan menyangkal suksesi kepausan, serta tidak mau mengakui keutamaan Roma. Bagi Calvin, Kristuslah Kepala Gereja yang universal, bukannya Paus. Alkitab tidak berbicara mengenai pelayanan Paus, dan rasul Paulus pun tidak berpikir bahwa gereja merupakan satu keuskupan yang universal. "Sebagai penghargaan atas kesatuan, ia (Paulus) menyebut satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Efesus 4:11). Mengapa ia tidak menambahkan satu Paus sebagai kepala pelayanan?"**86 Ia menggambarkan relasi antara Petrus dan Paulus dan rasul-rasul yang lain, dan di dalam relasi itu tidak ada isyarat bahwa Petrus superior dibanding yang lain.**87 Bagi Calvin, gereja adalah tubuh Kristus di mana kepada setiap anggotanya diberikan "suatu ukuran yang pasti dan fungsi tertentu serta terbatas agar kekuasaan yang utama dari pemerintah terletak hanya pada Kristus."**88 Dalam keutamaan Kristus yang universal inilah terletak kesatuan dan katolisitas gereja, yang telah terbukti kebenarannya oleh bapa-bapa gereja, antara lain Cyprian dan Gregory. Cyprian secara khusus membuat analogi-analogi tentang satu cahaya (light) dengan banyak berkas cahaya (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, satu sumber air dan banyak sungai, "demikian juga gereja, dengan diliputi cahaya dari Tuhan, ia mengirim berkas-berkas cahayanya tersebar ke mana-mana; gereja juga memperbanyak cabang-cabangnya, ia mencurahkan sungai-sungai turun ke seluruh dunia; namun tetap semuanya itu berasal dari satu kepala dan satu sumber."**89 Calvin berkomentar bahwa, menurut Cyprian, keuskupan Kristus ialah satu-satunya yang universal, dan ia mengajarkan agar bagian-bagian itu dipegang oleh para pelayan-Nya.**90

KESIMPULAN

Polemik-polemik Calvin dengan Roma mengenai tuduhan skisma tidak diragukan lagi telah menghasilkan refleksi-refleksi yang sangat dalam mengenai gereja dan kesatuannya. Isu dasarnya adalah pemahaman tentang gereja, tetapi tidak terlepas dari Kristus dan firman Allah. Gereja adalah milik Kristus dan dipersatukan di dalam Dia. Hal ini paling jelas terlihat melalui pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen- sakramen yang tepat. Di dalam firman itulah terletak otoritas gereja. Semua kuasa dan fungsi pelayanan gereja dibatasi dalam firman Allah. Jabatan gereja, disiplin, dan aturan suksesi diatur oleh Roh Kristus menurut firman Allah dan semuanya itu dimaksudkan guna memajukan gereja. Calvin dan para Reformator percaya bahwa gereja Roma telah mengkorupsi doktrin Injil yang murni, menyalahgunakan kekuasaannya, dan mempromosikan segala jenis takhayul. Oleh karena itu, tujuan yang jelas dari para Reformator adalah membantu memulihkan atau memperbarui gereja Roma kepada keadaannya yang lebih murni sesuai pola gereja mula-mula seperti yang dikenal oleh bapa-bapa leluhur gereja. Calvin menganggap tuduhan skisma terhadap mereka sebagai suatu pertanyaan untuk memilih Kristus atau gereja Roma. Itu adalah pertanyaan mengenai yang manakah gereja sejati itu. Karena para Reformator taat kepada Kristus dan firman-Nya, mereka tetap berada dalam satu gereja yang sejati, dan oleh sebab itu mereka tidak dapat dianggap memisahkan diri dari gereja atau memecah-belahnya.

Calvin mencintai gereja seperti ia mencintai Kristus; kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Ia mengabdikan seluruh buku IV dari Institutes untuk menguraikan secara detail mengenai gereja Katolik yang kudus. Ia menyebut gereja itu sebagai ibu, karena Allah telah menyerahkan kita kepadanya agar kita bertumbuh dalam iman.**91 Itu sebabnya sangat penting untuk mengenalnya dan tidak mengabaikannya. Mereka yang tidak memiliki hubungan dengannya berarti juga tidak memiliki hubungan dengan Kristus, dan oleh karena itu mereka tidak memiliki keselamatan. Mereka yang mengabaikannya adalah orang-orang yang murtad, yang membelot dari kebenaran dan dari keluarga Allah, mereka adalah penyangkal-penyangkal Allah dan Kristus. Calvin percaya bahwa gereja terdiri dari semua orang pilihan Allah, termasuk mereka yang telah meninggal dunia. Gereja adalah katolik atau universal, yang berarti gereja adalah satu.

All the elect of God are so joined together in Christ, that as they depend on one head, so they are as it were compacted into one body, being knit together like its different members; made truly one by living together under the same Spirit of God in one faith, hope, and charity, called not only to the same inheritance of eternal life, but to participation in one God and Christ.**92
Sekalipun Calvin berbicara mengenai gereja yang tidak kelihatan, ia tidak mengabaikan berbicara tentang manifestasinya yang kelihatan, tentang jemaat lokal. Ia juga memberi perhatian besar untuk memperlihatkan karakternya yang visibel, yang ditandai terutama sekali dengan kesatuan:
This article of the Creed relates in some measure to the external Church, that every one of us must maintain brotherly concord with all the children of God, give due authority to the Church and, in short, conduct ourselves as sheep of the flock. And hence the additional expression, the "communion of the saints;"...just as it had been said, that saints are united in the fellowship of Christ on this condition, that all the blessings which God bestows upon them are mutually communicated to each other.**93
Tetapi kesatuan ini, agar terpelihara, harus diikat dengan aturan yang telah ditentukan Allah**94 dan dengan kebenaran doktrin ilahi.**95 Hal ini mungkin memberi kita suatu kesan bahwa Calvin adalah seorang pendeta yang tidak fleksibel. Namun bagaimanapun juga ia mengakui bahwa ketidaksempurnaan bisa timbul di dalam pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen-sakramen. Ia membuat perbedaan antara doktrin-doktrin yang fundamental dengan yang sekunder (adiaphora), dan menyatakan bahwa semuanya ini tidak memiliki nilai yang sama**96. Semua perbedaan minor ini dalam cara apapun seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan gereja atau untuk menciptakan kelompok lain. "what I say is, that we are not on account of every minute difference to abandon a church, provided it retain sound and unimpaired that doctrine in which the safety of piety consists."**97 Ia juga tidak merekomendasikan agar seseorang meninggalkan gereja karena adanya penyelewengan moral di antara para anggotanya. "Kita terlalu sombong bila kita dengan segera membenarkan diri untuk keluar dari persekutuan gereja, karena kehidupan semua orang tidak sesuai dengan penilaian kita, atau bahkan dengan pernyataan Kristen."**98

Dari presentasi pandangan Calvin mengenai gereja dan kesatuannya, jelaslah bahwa perbedaan-perbedaan antara para Reformator dan gereja Roma pada hakikatnya bersifat fundamental, dan bahwa natur dari Reformasi pada dasarnya bersifat pembaharuan. Tetapi Calvin juga banyak berbicara menentang denominasionalisme dan fundamentalisme yang kaku, yang begitu tidak fleksibelnya sehingga hanya karena ketidaksepakatan doktrinal yang minor dan bahkan karena konflik- konflik pribadi, mereka memecah-belah atau memisahkan diri dari gereja. Boleh dibilang Calvin adalah seorang injili yang ekumenikal.



Catatan Kaki (Bag. 1):
  1. Ibid. 52. Bdk. "Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France" dalam Tracts and Treatises 2.150-152; Institutes IV.iii.6.
  2. Ibid. 54.
  3. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.10-12.
  4. Ibid. 170. Bdk. Institutes IV.ii.3.
  5. Ibid. 172.
  6. Ibid. 171.
  7. Institutes IV.ii.1-3.
  8. Tracts and Treatises 1.172. Bdk. Institutes IV.v.2. Pada zaman sebelum Calvin, pemerintah dan masyarakat memiliki kekuasaan dalam pengangkatan dan penolakan pejabat gerejawi.
  9. Ibid. 170.
  10. Ibid. 140.
  11. Ibid. 172. Bdk. 197, 198, 203, 204, 219; Institutes IV.v.1.
  12. Ibid. 170, 171, 204, 205. Bdk. "On Ceremonies and the Calling of the Ministers" dalam Calvin Ecclesiastical Advice (tr. Mary Beaty & Benjamin W. Farley; Louisville: Westminster/John Knox, 1991) 90,91.
  13. Ibid. 174, 175.
  14. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.16.
  15. Ibid. 173.
  16. Ibid. 38.
  17. Ibid. 37-39, 48, 49, 66. Calvin sering menyebut bapa-bapa gereja untuk menyangkal tuduhan bahwa pengajaran para Reformator itu adalah inovasi-inovasi dan merupakan sesuatu yang baru. Ia tidak hanya yakin bahwa bapa-bapa gereja ada di pihaknya, tetapi ia juga yakin bahwa mereka adalah oposisi bagi gereja Roma sekarang. Untuk studi yang lebih jelas mengenai Calvin dan bapa-bapa gereja, lihat Anthony N. S. Lane, John Calvin: Student of the Church Fathers (Grand Rapids: Baker, 1999)
  18. Ibid. 49. Suatu pembelaan yang lebih singkat terhadap tuduhan skisma itu tetapi dalam konteks berbeda diberikan dalam "On Book One (of Pighius)" dalam The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice Against Pighius (ed. A. N. S. Lane; tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996) 7-34. Karya itu (1543) adalah respons Calvin terhadap karya Albert Pighius, Ten Books on Human Free Choice and Divine Grace (1542), yang merupakan evaluasi atas Institutesnya Calvin (edisi 1539), khususnya bab 2 dan 8: "The Knowledge of Humanity and Free Choice," dan "The Predestination and Providence of God" secara berturut-turut.
  19. Ibid.
  20. Ibid.
  21. Ibid.
  22. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  23. Tracts and Treatises, 1.59.
  24. Ibid. 60. Bdk. Institutes IV.ii.9, 10.
  25. Ibid. Bdk. Institutes IV.ii.10.
  26. Ibid. 67.
  27. Ibid. 63. Bdk. Institutes IV.ii.5
  28. Ibid.
  29. Ibid. 68.
  30. Tracts and Treatises 1.71.
  31. Ibid. 73. Bdk. Institutes IV.ii.10; IV.viii.5.
  32. Ibid. 102. Bdk. Institutes IV.viii.7.
  33. Ibid.
  34. Ibid.Bdk. G. C. Berkouwer, "Calvin and Rome" 185. Berkouwer menganggap pertanyaan mengenai otoritas gereja sebagai isu utama terhadap apa yang diarahkan Calvin dalam polemik-polemiknya.
  35. Ibid. 104.
  36. Ibid.
  37. Ibid. 106. Bdk. Institutes IV.xii.5.
  38. Ibid.
  39. Ibid. 108. Bdk. Institutes IV.viii.10,11;IV.ix.1-4. Dalam The Necessity of Reforming the Church and Canon and Decrees of the Council of Trent, with the Antidote, Calvin tidak melihat adanya pengharapan di dalam konsili yang bersidang atas inisiasi Paus. Dalam traktatnya yang pertama ia menyerukan kepada kaisar Charles V agar mengadakan konsili persidangan propinsi, yang memiliki preseden sejarah. "Sesering bidat-bidat baru muncul, ataupun gereja diganggu oleh beberapa perselisihan, bukankah merupakan suatu kebiasaan untuk segera mengadakan persidangan sinode secara propinsi, sehingga gangguan itu kemudian dapat diakhiri? Tidak pernah menjadi suatu kebiasaan untuk lagi-lagi mengadakan konsili umum sampai suatu cara lain telah diusahakan" (Tracts and Treatises 1.223). Di dalam pendahuluan antidotnya terhadap konsili Trent, Calvin memunculkan pertanyaan-pertanyaan serius mengenai persidangan dari konsili itu. Ia mengangkat pertanyaan mengenai masalah waktu, komposisi Trent, prosedur-prosedur, dan tujuannya. Menyadari bahwa Paus telah menentukan semua hal ini sebelumnya, Calvin membuang semua harapan akan adanya Reformasi di gereja Roma. "Apakah ini? Seluruh dunia mengharapkan adanya sebuah konsili di mana butir-butir yang bertentangan bisa tetap didiskusikan. Orang-orang ini mengakui bahwa mereka hadir tidak lain hanya untuk menghakimi apapun yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Dapatkah seseorang tetap sedemikian bodohnya dengan berpikir untuk mendapat bantuan atas kesusahan-kesusahan kita dari suatu konsili?" (Tracts and Treatises 3.39). Hal yang sama diungkapkan dalam artikel "If Christians Can be Given a Plan for a General Council" dalam Calvin's Ecclesiastical Advice 46-48.
  40. Ibid. 110. Bdk. "Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France" dalam Tracts and Treatises 2.150, 151; Institutes IV.vi.10.
  41. Bdk. Institutes IV.vi.4.
  42. Ibid. 111. Bdk. Institutes IV.vi.1, 3, 6
  43. Ibid. 112. Bdk. Institutes IV.ii.6;IV.iv.16, 17.
  44. Ibid. Bdk. "The Necessity" 218, di mana Calvin menentang keutamaan Paus berdasarkan pada pemikiran apakah gereja Roma adalah gereja sejati dan apakah Paus adalah uskup yang benar. Demi kepentingan argumentasi jika kita mengatakan "bahwa keutamaan itu adalah dicurahkan secara ilahi pada keuskupan Roma, dan telah didukung oleh persetujuan bersama dari gereja mula-mula; kendati demikian keutamaan ini hanya mungkin jika Roma memiliki gereja dan juga uskup yang sejati. Karena penghormatan terhadap kursi jabatan tersebut tidak bisa tetap bertahan setelah kursi jabatan itu tidak ada lagi."
  45. Institutes IV.i.5.
  46. Ibid.IV.i.2. Bdk."Cathechism of the Church of Geneva" (1541, 1545) dalam Tracts and Treatises 2.50, 51.
  47. Ibid.IV.i.3.
  48. Ibid.IV.i.5.
  49. Ibid.IV.i.9.
  50. Ibid.IV.i.12.
  51. Ibid.
  52. Ibid.IV.i.18.


Sumber: 

Sumber diambil dari:


Judul Buku : Veritas Vol. 3/1 (April 2002)
Judul Artikel : Calvin dan Tuduhan Skisma Dari Katolik Roma Terhadap
Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja
Penulis : Hidalgo B. Garcia
Penerjemah : -
Penerbit : SAAT, Malang (2002)
Halaman : 48 - 59

Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja (Bag. 1)

Dear e-Reformed Netter,

Seperti yang Anda ketahui pada akhir Oktober nanti kita akan merayakan HARI REFORMASI GEREJA, jadi saya sengaja pilihkan artikel yang sesuai untuk menyambut hari besar gereja itu. Judulnya adalah:

CALVIN DAN TUDUHAN SKISMA DARI KATOLIK ROMA TERHADAP PARA
REFORMATOR: SEBUAH STUDI TENTANG KESATUAN GEREJA
oleh: HIDALGO B. GARCIA

Namun karena artikel ini sangat panjang maka akan bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan saya kirimkan untuk Publikasi e-Reformed edisi September 2003 (maaf, baru dikirim awal Oktober 2003). Sedangkan bagian kedua akan saya kirimkan sebagai edisi akhir Oktober 2003. Semoga bahan ini bisa memperluas pemahaman kita tentang pandangan para Reformator, khususnya pandangan John Calvin tentang Kesatuan Gereja. Kiranya menjadi berkat.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netter,

Seperti yang Anda ketahui pada akhir Oktober nanti kita akan merayakan HARI REFORMASI GEREJA, jadi saya sengaja pilihkan artikel yang sesuai untuk menyambut hari besar gereja itu. Judulnya adalah:

CALVIN DAN TUDUHAN SKISMA DARI KATOLIK ROMA TERHADAP PARA
REFORMATOR: SEBUAH STUDI TENTANG KESATUAN GEREJA
oleh: HIDALGO B. GARCIA

Namun karena artikel ini sangat panjang maka akan bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan saya kirimkan untuk Publikasi e-Reformed edisi September 2003 (maaf, baru dikirim awal Oktober 2003). Sedangkan bagian kedua akan saya kirimkan sebagai edisi akhir Oktober 2003. Semoga bahan ini bisa memperluas pemahaman kita tentang pandangan para Reformator, khususnya pandangan John Calvin tentang Kesatuan Gereja. Kiranya menjadi berkat.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Hidalgo B. Garcia
Edisi: 
043/IX/2003
Isi: 

Calvin bisa dianggap sebagai seorang pemimpin gereja yang ekumenikal. Namun, dalam kebanyakan studi tentang sikap ekumenikal Calvin, mau tidak mau kita merasakan adanya prasuposisi yang tidak semestinya, yang tidak berhubungan dengan situasi aktual abad keenam belas dan tujuh belas. Mungkin sulit diperlihatkan sampai sejauh mana sikap seseorang terhadap gerakan ekumenikal saat ini mempengaruhi kesimpulannya tentang ekumenisme para Reformator. Studi-studi ekumenikal merupakan subjek persoalan yang sensitif dan melibatkan loyalitas subjektif yang tidak selalu diakui secara terbuka.

Masalah subjektivitas ini merupakan problem metodologis dalam studi mengenai ekumenisme Calvin. Sebelum melakukan pendekatan secara objektif mengenai posisinya terhadap gereja Katolik Roma, pertama- tama kita harus menyadari prasuposisinya yang mendasar dan harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Menurut saya, dari perspektif para Reformator, terutama Calvin, pertanyaannya bukanlah apakah seharusnya ada reuni dengan gereja Roma, tetapi, dengan cara bagaimana gereja itu bisa direformasi ke dalam keadaannya yang lebih murni. Ia tidak ragu-ragu mengatakan bahwa gereja Roma telah kehilangan status privilesenya sebagai gereja sejati.

Richard Stauffer, menurut hemat saya, melakukan pendekatan yang tepat terhadap posisi Calvin berkenaan dengan gereja Roma. Ia mengatakan bahwa kita harus kembali ke latar belakang polemik-polemik abad ke-16 untuk memahami pemosisian Calvin tentang Reformasi berkaitan dengan gereja Roma. "Dalam pandangan Reformator Jenewa itu, sesungguhnya hal itu merupakan masalah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu.".**1 Ia bersikeras bahwa hanya ada satu gereja yang katolik dan kudus dan bahwa para Reformator tidak sedang menciptakan gereja yang lain. Baginya, maksud dari Reformasi adalah untuk mereformasi gereja Roma, bukannya membentuk gereja yang lain. Ia mengakui bahwa jemaat-jemaat Protestan memang telah muncul sebagai akibat dari Reformasi, namun semuanya ini merupakan bagian atau ekspresi dari gereja katolik yang satu dan kudus, dan itu tidak dapat menghalangi seseorang dari persekutuan dengan orang-orang Kristen dari komunitas persekutuan lainnya. Dengan kata lain, bagi Calvin, denominasionalisme sebagaimana yang kita kenal sekarang merupakan sebuah anomali. Seharusnya ada partisipasi penuh dan pengakuan mutual serta penerimaan terhadap orang-orang Kristen dari jemaat manapun. Calvin bahkan akan mengingkari gagasan tentang "Calvinisme." Dalam kesemuanya ini, baik pendiriannya terhadap gereja Roma maupun relasinya dengan gereja-gereja Protestan, ia memperlihatkan bahwa maksud dari Reformasi adalah untuk merestorasi gereja katolik yang satu dan kudus itu ke dalam keadaan yang lebih murni. Menurut saya, setiap studi tentang sikap ekumenisme Calvin seharusnya bertolak dari maksud Reformasi ini.

Para sarjana baru-baru ini cenderung terfokus pada pertanyaan tentang apakah Calvin melakukan separasi atau mengupayakan kesatuan dengan gereja Roma. Jean Cadier**2 dan Martin Klauber**3, misalnya, yakin bahwa posisi Calvin adalah separasi dengan gereja Roma. Menurut saya, "separasi" bukanlah kategori yang tepat karena mengandung ambiguitas tertentu di dalamnya. Sebagaimana akan kita lihat yang terlibat adalah soal-soal yang lebih dalam daripada separasi dan Calvin bersikeras bahwa para Reformator bukanlah skismatik. Cadier menyebut konferensi-konferensi dengan Katolik Roma di mana Calvin berpartisipasi dengan begitu aktif. Jika pendirian Calvin terhadap gereja Roma pada intinya adalah separasi, satu pertanyaan perlu diajukan, biar bagaimanapun mengapa ia mau berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan seperti itu? Di sisi lain, pengakuan iman fundamental yang dipresentasikan Klauber, dapat, dan seharusnya, dilihat dengan cara berbeda, bukan hanya "sebagai basis untuk usaha persatuan eklesiastikal di antara berbagai kubu Protestan,"**4 namun juga sebagai dasar untuk diskusi dengan orang-orang Katolik.

Ada sekelompok sarjana lain**5 yang lebih positif memandang relasi Calvin dengan gereja Roma, dan mereka percaya bahwa meski Calvin bersikap nonkompromis dalam keyakinan teologisnya, namun ia tetap mengharapkan kesatuan gereja-gereja, termasuk gereja Roma. John T. McNeil memberikan analisa historis yang baik mengenai usaha-usaha ekumenikal Calvin dan menyimpulkan bahwa ia tidak akan mengalah untuk apa yang ia anggap sebagai kebenaran hakiki, demi memperoleh kedamaian di antara gereja dan menegakkan kebersamaan di antara mereka. Namun McNeil juga setuju dengan kebanyakan sarjana Calvin bahwa ia akan menyambut dengan senang hati setiap kesempatan berunding guna membentuk relasi maksimum dengan setiap gereja, termasuk gereja Roma.**6 I. John Hesselink tiba pada kesimpulan serupa dengan McNeill, meskipun melalui pendekatan berbeda.

Menurut Robert M. Kingdon, posisi Calvin bersifat terbuka dan sikap ini bisa ia pakai sebagai pendekatan ekumenikal. Kingdon mengakui adanya kesepakatan antara Katolikisme Tridentine dan Protestantisme Ortodoks dan ini dapat dipelajari oleh semua orang yang berusaha memahami kepedulian Protestan yang dalam, agar semua doktrin Kristen terkokoh berdasar pada Alkitab.**7 Theodore W. Casteel melihat reaksi Calvin terhadap konsili Trent dalam konteks pemikiran konsiliar sang Reformator. Ia menyimpulkan, "Reformator Jenewa itu melihat harapan terbaik akan adanya rekonsiliasi dalam sebuah konsili yang benar-benar ekumenikal--sebuah proyek yang ia perjuangkan hingga akhir hidupnya.**8

Pada dasarnya saya mengikuti kelompok kedua yang berpendapat bahwa Calvin bersikap nonkompromi dalam keyakinannya, kendati demikian ia tetap mengharapkan reformasi gereja Roma yang akan mengarah pada kesatuan. Saya akan mencoba menunjukkan hal ini dengan cara yang belum pernah ditempuh sebelumnya, yakni, menganalisa jawaban Calvin terhadap tuduhan Katolik Roma bahwa para Reformator adalah skismatik. Artikel ini berisi sebagai berikut: tuduhan skismatik dari Katolik Roma terhadap para Reformator, pemahaman Katolik Roma tentang kesatuan, respons Calvin atas tuduhan skisma, dan akhirnya, pada bagian kesimpulan, pengertian Calvin tentang kesatuan gereja, yang diintisarikan dari responsnya terhadap tuduhan skisma dan dari Institutes. Yang pertama dari tiga bagian ini akan diambil terutama dari traktat-traktat dan risalah-risalah yang berhubungan langsung dengan polemik-polemik Calvin-Roma Katolik.**9 Semua isu yang dipresentasikan dalam artikel ini, tentu saja, terdapat dalam Institutes, dan dengan demikian, saya akan mengutip bagian-bagian Institutes yang paralel dan relevan pada catatan kaki.

TUDUHAN SKISMA ROMA KATOLIK

Tuduhan skisma yang paling menonjol terdapat dalam surat yang ditulis oleh uskup Roma, Sadoleto, kepada senat dan masyarakat Jenewa (1539). Melalui surat ini, ia memanfaatkan kesempatan dalam peristiwa pengusiran Calvin dari Jenewa untuk membujuk penduduk Jenewa agar kembali ke sisi gereja Roma. Ia menggambarkan para Reformator sebagai musuh-musuh kesatuan dan kedamaian Kristen, yang menabur benih-benih perselisihan, dan membuat jemaat Kristus yang setia berbalik dari jalan bapa-bapa dan para leluhur mereka.**10 Ia membandingkan mereka seperti abses, "by which some corrupted flesh being torn off, is separated from the spirit which animates the body, and no longer belongs in substance to the body Ecclesiastic."**11 Paus Paulus III dalam suratnya kepada kaisar Charles V (1544) melukiskan para Reformator sebagai pengacau yang senang dengan pertikaian: "Nay, they rather entirely deprive the Church of all discipline, and of all order, without which no human society can be governed."**12

Sadoleto, dalam surat yang sama, meragukan ajaran-ajaran para Reformator sebab ajaran itu merupakan inovasi yang baru tercipta, yang usianya baru 25 tahun. Ia mengagungkan kemuliaan usia gereja Katolik Roma yang menurutnya telah hadir selama lebih dari 1500 tahun dan mengklaim bahwa bapa-bapa leluhur gereja berada di pihaknya. Klaim atas otoritas bapa-bapa leluhur gereja merupakan salah satu pokok persengketaan dalam polemik Calvin-gereja Roma. Bagi Sadoleto, yang menjadi soal perdebatan adalah apakah ia harus mengikuti gereja Katolik Roma kuno ataukah membenarkan para pendatang baru yang skismatik itu. "Inilah tempatnya, saudara yang terkasih, inilah jalan raya di mana jalan itu terbagi ke dua arah, yang satu mengarah pada kehidupan, dan yang lain pada kematian abadi."**13 Ini merupakan seruan kepada orang Katolik untuk memisahkan diri dari para Reformator, sebuah seruan yang semata-mata dibuat berdasar pada otoritas gereja dan tradisi yang diwarisi dari para orang tua. Dasar seruan ini dibuat menjadi lebih eksplisit melalui gambaran Sadoleto tentang dua pilihan atau dua cara, dengan menghadirkan dua orang yang diuji di hadapan Allah. Orang pertama, anggap saja seorang Katolik yang setia, akan mengakui imannya berdasar otoritas gereja Katolik dengan semua hukum, nasihat dan dekritnya. Ia tampil di hadapan Allah berdasar pada ketaatannya pada gereja bapa-bapanya dan bapa-bapa leluhurnya. Dalam pengakuannya itu terefleksikan tuduhan tanpa bukti terhadap para Reformator:

And though new men had come with the Scripture much in their mouths and hands, who attempted to stir some novelties, to pull down what was ancient, to argue against the Church, to snatch away and wrest from us the obedience which we all yielded to it, I was still desirous to adhere firmly to that which had been delivered to me by my parents, and observed from antiquity, with the consent of most holy and most learned Fathers.**14

Kesetiaan kepada gereja merupakan definisi dari hierarki Katolik tentang orang Kristen yang baik, karena di dalam gerejalah keselamatan kekal seseorang yang setia paling terjamin. Paulus III dalam surat tersebut di atas menasihati kaisar Charles V untuk tidak memberi kelonggaran pada kelompok Protestan dan tetap berpegang pada otoritas gereja:

But, dear son, everything depends on this, that you do not allow yourself to be withdrawn from the unity of the Church, that you do not backslide from the custom of the most religious Princes, your forefathers, but in everything pertaining to the discipline, order, and institutions of the Church, pursue the course by which you have, for many years, given the strongest proofs of heart-felt piety.**15

Selanjutnya, Sadoleto menggambarkan orang yang lain, anggaplah mewakili para Reformator, sebagai seorang yang iri dan dengki pada kekuasaan dan privilese hierarki Roma. Kegagalan para Reformator untuk berbagi kekayaan eklesiastikal telah menggerakkan mereka untuk menyerang gereja dan, "induced a great part of the people to contemn those rights of the Church, which had long before been ratified and inviolate."**16 Ia menuduh mereka semata-mata memberontak pada otoritas konsili, bapa-bapa gereja, para Paus Roma dan tradisi- tradisi.**17 Impresi yang ingin ia bentuk ialah bahwa pemberontak Reformed itu mengklaim mereka tahu lebih banyak dari ajaran-ajaran kuno. Tetapi rasa frustasi karena gagal untuk mengubah gereja akhirnya membuat mereka memecah-belahnya. Pernyataan terakhir sang Reformator yang merasa tidak puas itu, seperti digambarkan oleh Sadoleto, mengatakan demikian:

Having thus by repute for learning and genius acquired fame and estimation among the people, though, indeed, I was not able to overturn the whole authority of the Church, I was, however, the author of great seditions and schisms in it.**18

Di samping itu, tuduh Sadoleto, para Reformator bukan saja memecah gereja tetapi juga mengoyak-ngoyaknya. Ia mengamati bahwa sejak masa Reformasi sekte-sekte berkembang biak. "Sects not agreeing with them, and yet disagreeing with each other--a manifest indication of falsehood, as all doctrine declares."**19. Pemecahan dan pengoyakan gereja yang kudus itu, menurutnya, sepatutnya adalah pekerjaan setan, bukan pekerjaan Allah.

PEMAHAMAN KATOLIK ROMA MENGENAI KESATUAN

Tuduhan skisma yang sama dilakukan dalam Adultero-German Interim (1548),**20 meskipun tidak langsung seperti dalam surat-surat Sadoleto dan Paulus III. Menurut dekrit imperial ini ada dua tanda yang membedakan gereja dari kawanan skismatik dan bidat, yaitu kesatuan dan katolisitas. Di sini kesatuan dijabarkan sebagai ikatan kasih dan damai yang mempersatukan anggota-anggota gereja bersama-sama.**21 Perhatikan bahwa dalam kesatuan tersebut tidak disebutkan adanya fondasi doktrinal dan spiritual, kecuali ketaatan yang mutlak terhadap ajaran dan disiplin gereja. Lebih jauh lagi, gereja Roma menyombongkan diri sebagai katolik melalui klaimnya atas ekspansi geografis dan temporal serta suksesi apostolik: "diffused through all times and places, and through means of the Apostles and their successors, continued even to us, being propagated by succession even to the ends of the earth, according to the promises of God."**22 Skismatik dan bidat-bidat, sebagaimana dituduhkan kepada para Reformator, "break the bond of peace, and to their own destruction deprive themselves of Catholic union, while they prefer their own party to the whole universal Church."**23. Untuk memelihara kesatuan dan integritas gereja Katolik seseorang harus tunduk pada otoritasnya dengan kerendahan dan ketaatan. Sadoleto mengungkapkan sikap demikian:

For we do not arrogate to ourselves anything beyond the opinion and authority of the Church; we do not persuade ourselves that we are wise above what we ought to be; we do not show our pride in contemning the decrees of the Church; we do not make a display among the people of towering intellect or ingenuity, or some new wisdom; but (I speak of true and honest Christians) we proceed in humility and in obedience, and the things delivered to us, and fixed by the authority of our ancestors, (men of the greatest wisdom and holiness) we receive with all faith, as truly dictated and enjoined by the Holy Spirit.**24

Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa bagi gereja Roma makna kesatuan tidak lain dari sikap tunduk, yang menjadi dasar klaim infalibilitas dan otoritas gereja. Terhadap dasar inilah sekarang kita beralih.

Kesatuan gereja, menurut Katolik Roma, bertumpu pada infalibilitasnya. Hal ini terungkap jelas dalam Articles Agreed Upon by the Faculty of the Sacred Theology of Paris (1542).**25 Artikel XVIII menyatakan:

Every Christian is bound firmly to believe, that there is on earth one universal visible Church, incapable of erring in faith and manners, and which, in things which relate to faith and manners, all the faithful are bound to obey.**26

Dari artikel ini jelas terbukti bahwa otoritas gereja merupakan otoritas hierarki. Hierarki disamakan dengan gereja yang visibel dan infalibel. Karena visibilitas gereja didasarkan atas visibilitas hierarki, maka yang belakangan juga dianggap infalibel. Bukti kedua untuk infalibilitas hierarki (dan karena itu, otoritasnya juga) ialah suksesi yang terus-menerus dari Petrus. Karena doktrin inilah apapun yang telah ditentukan gereja Roma bersifat otoritatif. Hal ini juga didukung oleh klaim bahwa gereja dipimpin langsung oleh Roh Kudus, karena Roh Kudus tidak bisa salah, maka gereja pun demikian.**27

Infalibilitas gereja merupakan dasar otoritas gereja, dan menjadi perisai yang tak terkalahkan yang melindungi gereja dari serangan musuh-musuhnya, seperti dinyatakan oleh artikel XVII. Di atas dasar inilah bertumpu doktrin-doktrin dan kekuatan gereja. Artikel-artikel berikut**28 memperlihatkan otoritas infalibel gereja yang berakar dari artikel XVIII yang mendahuluinya:

Article XIX: That to the visible Church belongs definitions in doctrine. If any controversy or doubt arises with regard to any thing in the Scriptures, it belongs to the foresaid Church to define and determine.

Article XX: It is certain that many things are to be which are not expressly and specially delivered in the sacred Scriptures, but which are necessarily to be received from the Church by tradition.

Article XXI: With the same full conviction of its truth ought it to be received, that the power of excommunicating is immediately and of divine right granted to the Church of Christ, and that, on that account, ecclesiastical censures are to be greatly feared.

Article XXII: It is certain that a General Council, lawfully convened, representing the whole Church, cannot err in its determination of faith and practice

Article XXIII: Nor is it less certain that in the Church militant there is, by divine right, a Supreme Pontiff whom all christians are bound to obey, and who, indeed, has the power of granting indulgences.

Semua artikel iman ini dimaksudkan untuk memelihara kesatuan gereja, yang menurut pemahaman hierarki gereja Roma, berdasar pada infalibilitas dan otoritasnya. Calvin menolak semua ini dalam polemik- polemiknya dengan gereja Roma. Sebelum kita melihat penolakannya terhadap artikel-artikel iman Paris ini, kita akan menganalisa responsnya atas tuduhan skisma dari hierarki Katolik Roma.

FIRMAN ALLAH DAN GEREJA: RESPONS CALVIN TERHADAP TUDUHAN SKISMA

Isu mendasar berkaitan dengan tuduhan skisma ialah pemahaman tentang gereja. Pada prinsipnya Calvin sependapat dengan Sadoleto bahwa tidak ada yang lebih membahayakan bagi keselamatan kita daripada ibadah yang sia-sia dan menentang aturan Allah. Ia menganggap prinsip ini sebagai batu loncatan bagi pembelaannya atas tuduhan Sadoleto. Namun pertanyaannya, menurut Calvin, dari dua pihak ini manakah yang memelihara ibadah yang benar pada Allah? Bagi Sadoleto, tulis Calvin, ibadah yang benar adalah seperti yang ditentukan oleh gereja. Namun, ia mengajukan sebuah pertanyaan serius sehubungan dengan penggunaan kata "gereja" oleh Sadoleto dan para pengikut Paus. Ia menuduh Sadoleto memiliki delusi tentang istilah "gereja," atau paling tidak, secara sadar ia memberikan keterangan yang tampaknya mengesankan tetapi palsu. Dalam the Necessity of Reforming the Church, ia mendesak audiensinya untuk tidak merasa takut terhadap penggunaan kata "gereja" oleh para pengikut Paus.**29 Para nabi dan rasul telah berjuang melawan "gereja pura-pura" pada masa mereka. Mereka juga dituduh telah menghina kesatuan gereja. Namun pertanyaannya, gereja yang mana? Bagi Calvin tidaklah cukup hanya menggunakan nama gereja seperti yang dilakukan para pengikut Paus yang berusaha mengejutkan orang-orang dengan memutarbalikkan istilah gereja. "Penilaian harus dilakukan untuk memastikan yang mana gereja sejati, dan apa natur kesatuannya."**30

Menurutnya, ada dua tanda gereja yang sejati, yakni pemberitaan firman yang setia dan pelaksanaan sakramen yang tepat. Berkaitan dengan kesatuan gereja maka hal yang pertama-tama perlu diperhatikan adalah berhati-hati supaya gereja tidak terpisah dari Kristus, Kepalanya.**31 Ia menjabarkan apa yang ia maksud dengan Kristus, "Ketika saya mengatakan Kristus, maka termasuk dalam pengertiannya adalah doktrin-Nya yang Ia meteraikan dengan darah-Nya."**32 Melalui kesatuan antara gereja dan Kristus inilah Calvin menyangkal tuduhan bahwa ia dan para Reformator tidak sependapat dengan gereja.**33 Tuduhan skisma harus dianggap sebagai ketaatan kepada Kristus lebih dari ketaatan kepada gereja Roma. Dalam The Method of Giving Peace to Christendom and Reforming the Church, Calvin, mengutip Hilary, berkeyakinan bahwa satu-satunya kedamaian gereja ialah yang berasal dari Kristus. Ikatan kedamaian adalah kebenaran Injil.**34 Implikasi kesatuan itu diekspresikan demikian: "Wherefore, if we would unite in holding a unity of the Church, let it be by a common consent only to the truth of Christ."**35 Selanjutnya, dalam Remarks on the Letter of Pope Paul III (to the Emperor Charles V), ia mengusulkan sebuah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu berdasar pada kesetiaan kepada Kristus, yang merupakan dasar kesatuan.

Let Farnese (Pope) then show that Christ is on his side, and he will prove that unity of the Church is with him. But seeing it is impossible to adhere to him without denying Christ, he who turns aside from him makes no departure from the Church, but discriminates between the true Church and a church adulterous and false.**36

Calvin menekankan firman Allah dalam pemahamannya tentang gereja. Yang ia maksud dengan gereja ialah, "from incorruptible seed begets children for immortality, and, when begotten, nourishes them with spiritual food (the seed and food being the Word of God)."**37 Tempat bagi firman Allah adalah sesuatu yang hilang dalam pengertian gereja Roma. Kepada Sadoleto ia menyatakan,

In defining the term, you omit what would have helped you, is no small degree, to the right understanding of it. When you describe it as that which in all parts, as well as at the present time, in every region of the earth, being united and consenting in Christ, has been always and every where directed by the one Spirit of Christ, what comes of the Word of the Lord, that clearest of all marks, and which the Lord himself, in pointing out the Church, so often recommends to us? For seeing how dangerous it would be to boast of the Spirit without the Word, he declared that the Church is indeed governed by the Holy Spirit, but in order that that government might be not be vague and unstable, he annexed it to the Word of God.**38

Bagi Calvin, Roh dan firman tidak dapat dipisahkan. "Learn, then by your own experience, that it is no less unreasonable to boast of the Spirit without the Word, than it would be absurd to bring forward the Word itself without the Spirit."**39 Dengan prinsip ini, ia memberikan definisi yang lebih tepat tentang gereja, yaitu "sebuah kumpulan dari semua orang kudus, sebuah kumpulan yang menyebar ke seluruh dunia dan hadir di sepanjang zaman, namun terikat bersama- sama oleh satu doktrin, dan satu Roh Kristus, yang mempererat dan memelihara kesatuan iman dan harmoni persaudaraan."**40 Dari definisi ini ia kemudian membuat klaim yang pasti tentang kesatuan: "With this Church we deny that we have any disagreement. Nay, rather, as we revere her as our mother, so we desire to remain in her bosom."**41 Calvin menyatakan bahwa para Reformator menganggap kesatuan gereja sebagai sesuatu yang kudus dan mereka menyampaikan kutuk terhadap semua orang yang dengan cara apapun melanggarnya.**42 Ia memahami kesatuan gereja sebagai sesuatu yang berakar dari prinsip Kitab Suci, "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua." Ia mencirikan iman dengan mengatakan, "Lebih jauh, kita harus ingat apa yang dikatakan dalam perikop lain, 'bahwa iman datang dari firman Allah.' Karena itu, biarlah itu menjadi poin yang pasti bahwa kesatuan yang kudus hadir di antara kita, ketika kita sepakat dalam doktrin yang murni kita dipersatukan dalam Kristus saja."**43 Syarat kedamaian adalah "Kebenaran Allah yang murni, suara dari Sang Gembala semata," sedangkan "terhadap suara orang-orang asing penjaga menentang dan menolaknya."**44 Melalui hal ini ia menekankan kesepakatan doktrinal lebih dari sekadar ketaatan eksternal kepada gereja. Ia memberikan komentar terhadap perkataan Paulus di Efesus 4:12-15:

Could he [Paul] more plainly comprise the whole unity of the Church in a holy agreement in a true doctrine, than when he calls us back to Christ and to faith, which is included in the knowledge of him, and to obedience to the truth?**45

[Bersambung -- ke Publikasi e-Reformed yang akan terbit pada akhir Oktober 2003.]



Catatan Kaki (Bag. 1):
  1. The Quest for Church Unity from John Calvin to Isaac d'Huisseau (Allison Park: Pickwick, 1986) 3. Pendirian ini dan yang saya anut mirip dengan pendirian Daniel Lucas Lukito dalam artikelnya, "Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi," Veritas 2/2 (Oktober 2001) 149-157. Bdk. G. C. Berkouwer, "Calvin and Rome" dalam John Calvin: Contemporary Prophet, A. Symposium (ed. Jacob T. Hoogstra; Grand Rapids: Baker, 1959) 185. Untuk pengertian Calvin mengenai kebenaran, lih. Charles Partee, "Calvin's Polemic: Foundational Convictions in the Service of God's Truth" dalam Calvinus Sincerioris: Calvin as Protector of the Purer Religion (Sixteenth Century Essays and Studies vol. XXXVI; ed. Wilhelm Neuser & Brian G. Armstrong; Kirksville: Sixteenth Century Journal) 97-122.
  2. "Calvin and the Union of the Churches" dalam John Calvin (ed. G. E. Duffield; Grand Rapids: Eerdmans, 1966) 118.
  3. "Calvin on Fundamental Articles and Ecclesiastical Union," Westminster Theological Journal 54 (1992) 342-343.
  4. Ibid. 341
  5. John T. McNeill, "Calvin as an Ecumenical Churchman," Church History 32 (1963) 379 dst. Robert M. Kingdon, "Some French Reactions to the Council of Trent," Church History 33 (1964) 149 dst.; I. John Hesselink, "Calvinus Oecumenicus: Calvin's Vision of the Unity and Catholicity of the Church," Reformed World XXX; Theodore W. Casteel, "Calvin and Trent: Calvin's Reaction to the Council of Trent in the Context of His Conciliar Thought," Harvard Theological Review 63 (1970) 91 dst.
  6. "Calvin as an Ecumenical Churchman" 390-391.
  7. "Some French Reactions" 151.
  8. "Calvin and Trent" 117. Untuk pendapat kontra lih. Robert E. McNally, "The Council of Trent and the German Protestants," Theological Studies 25 (1964) 1-22.
  9. H. Beveridge memberikan introduksi yang baik untuk The Tracts and Treatises on the Reformation of the Church by John Calvin (3 vol.; tr. Henry Beveridge; Grand Rapids: Eerdmans, 1958) v-xli. Referensi selanjutnya bersumber dari buku ini, kecuali jika saya sebutkan lain. Untuk diskusi tentang risalah polemik Calvin, lih. Francis Higman, "I Came Not to Send Peace, But a Sword" dalam Calvinus Sincerioris 123-135.
  10. Tracts and Treatises 1.4,5.
  11. Ibid. 14.
  12. Ibid. 240. Surat Paus Paulus III kepada Charles V (1544) adalah teguran kepada sang kaisar yang memberi kelonggaran, meskipun hanya berupa sedikit keringanan dari tuduhan yang tidak adil kepada kaum Protestan, dan yang telah mengambil yurisdiksi dalam masalah-masalah agama yang berada di luar lingkup jabatannya. Paulus III mengeluh, "the Emperor, in claming illegal jurisdiction, had committed two sins: first, he had presumed, without consulting him, to promise a Council: and secondly, he had not hesitated to undertake an investigation alien to his office" (ibid. 238). Calvin memberi tanggapan yang tajam mengenai surat ini (1544). Ia mengekspos hipokrisi Paus dengan menunjukkan fakta bahwa semua konsili besar gereja pada masa-masa awal diputuskan bukan oleh para Paus atau uskup, tetapi oleh kaisar.
  13. Ibid. 16.
  14. Ibid. 16, 17.
  15. Ibid. 239.
  16. Ibid. 17, bdk. h.5.
  17. Ibid.
  18. Ibid. 18.
  19. Ibid. 19.
  20. Diumumkan secara resmi oleh kaisar Charles V, Interim diduga sebagai rencana kompromis antara orang-orang Katolik dan Protestan selama menunggu keputusan konsili umum. Kecuali artikel-artikel tentang Communion mengenai jenis dan pernikahan para imam, konstitusi imperial itu condong ke arah Katolik Roma. Apa yang dinamakan Common States (negeri-negeri Katolik) yang tetap setia kepada gereja Roma harus terus memelihara ordonansi-ordonansi dan anggaran dasar gereja yang universal, yakni, Katolik Roma, dan States (negeri-negeri protestan) yang telah memeluk apa yang disebut inovasi-inovasi itu diperingatkan untuk menghubungkan diri mereka kembali dengan Common States, dan sepakat dalam memelihara anggaran dasar dan upacara-upacara gereja Katolik yang universal (Tracts and Treatises 3.192).
  21. Ibid. 205.
  22. Ibid.
  23. Ibid.
  24. Tracts and Treatises 1.11.
  25. Sorbonne Theological Faculty pada tahun 1543, dengan otoritas dari Francis I, menyusun dan menerbitkan 25 artikel yang menolak ajaran Reformasi. Calvin menyangkal dan menerbitkan artikel-artikel tersebut pada tahun 1544. Di dalamnya ia memberikan teks dari setiap artikel diikuti dengan komentarnya terhadap artikel tersebut. Dengan status magisterial, artikel-artikel tersebut menentukan bahwa doktrin-doktrin itu mengikat dan harus diajar oleh para doktor dan pendeta dan dipercayai oleh orang-orang yang setia. Bahwa gereja adalah ekuivalen atau di atas Alkitab, terungkap secara eksplisit dalam dokumen ini. "The place ought to have very great authority in the Church; and although our masters are deficient in proofs from Scripture, they compensate the defect by another authority which they have, viz., that of the Church, which is equivalent to Scripture, or even (according to the Doctors) surpassed it in certainty" (ibid. 71, 72).
  26. Ibid. 101.
  27. Ibid. 102.
  28. Ibid. 103-112.
  29. Tracts and Treatises 1.212. "The Necessity of Reforming the Church" dipresentasikan di hadapan Imperial Diet di Spires tahun 1544, menyampaikan sebuah "Supplicatory Remonstrance" kepada kaisar Charles V, sehubungan dengan konsili umum gereja menurut cara gereja mula-mula. Bdk. Institutes IV.ii.2, 4.
  30. Ibid. 213.
  31. Ibid. Dalam Institutes IV.i.2-7, Calvin mengacu pada gereja bukan hanya gereja yang terlihat tetapi juga orang-orang pilihan Allah. Pemilihan sebagai dasar kesatuan gereja bukanlah tema umum dalam polemik-polemiknya dengan gereja Roma. Bdk. Arthur C. Cochrane, "The Mystery of the Continuity of the Church: A Study in Reformed Symbolics," Journal of Ecumenical Studies 2 (1965) 81-96. Cochrane mencatat bahwa menurut pengajaran Reformed misteri kontinuitas gereja terdapat dalam pilihan dan panggilannya, di dalam dan oleh Yesus Kristus.
  32. Ibid.
  33. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  34. Tracts and Treaties 3.240. Salah satu traktat terpenting dan serupa isinya dengan "The Necessity of Reforming the Church," "The True Method of Giving Peace to Christendom and of Reforming the Church" (1547), adalah penolakan Calvin terhadap "The Adultero- German Interim."
  35. Ibid. 266.
  36. Tracts anda Treatises 1.259.
  37. Ibid. 214.
  38. Tracts and Treatises 1.35.
  39. Ibid. 37.
  40. Ibid.
  41. Ibid. Bdk. Institutes IV.i.1.
  42. Ibid. 214
  43. Ibid. 215. Bdk. Institutes IV.ii.5.
  44. "The True Method of Giving Peace" dalam Tracts and Treatises 3.242.
  45. Ibid.
Sumber: 

Sumber diambil dari:


Judul Buku : Veritas Vol. 3/1 (April 2002)
Judul Artikel : Calvin dan Tuduhan Skisma Dari Katolik Roma Terhadap
Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja
Penulis : Hidalgo B. Garcia
Penerjemah : -
Penerbit : SAAT, Malang (2002)
Halaman : 37 - 59

Komentar