Kategori Utama

Disiplin atau Rutinitas?

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa bulan terakhir ini, waktu saya habis untuk memikirkan tentang pembangunan kantor Yayasan Lembaga SABDA , yayasan yang saya bersama rekan-rekan pelayan lain terlibat dalam pelayanan. Saya menjadi sangat capai, khususnya secara mental dan fisik. Ketika jam sudah menunjukkan saya harus tidur, karena sudah larut, maka badan saya rasanya sudah sedikit "mati rasa". Begitu badan terhempas ke tempat tidur, pikiran sudah tidak ingat apa-apa sampai keesokan harinya. Karena berhari-hari demikian, maka badan "complain" dan "menagih" untuk mendapat "proper treatment". Badan saya mulai merasa tidak "fit" (segar), karena tenaga selalu terkuras habis, bahkan lebih dari yang saya miliki. Mulailah saya menerapkan "disiplin ekstra makan yang bergizi", karena saya tidak mau sakit. Hasilnya cukup lumayan, sampai hari ini saya masih hidup dan tidak sakit (meskipun capai terus).

Ternyata hal ini juga terjadi dengan kondisi kerohanian saya. Kerohanian saya mulai "capai" karena terkuras oleh banyaknya hal, khususnya kekuatiran dalam hal dana dan "accountability" terhadap Tuhan yang harus terus saya perjuangkan. Maka saya pun mulai menerapkan hal yang sama untuk kebutuhan rohani saya, yaitu "disiplin ektra makan yang bergizi". Saya teringat dengan banyak nasehat dari hamba Tuhan yang setia kepada Tuhan, "semakin sibuk dan banyak masalah, semakin banyak waktu untuk berdoa." Nah, mulailah saya melakukan disiplin untuk lebih banyak berdoa, berserah kepada Tuhan, merenung dan berdiam diri dengan Dia, (bahkan suami berpuasa). Hasilnya sangat luar biasa, secara rohani saya terus disegarkan, sehingga saya terus memuji Tuhan (meskipun masalah masih terus datang silih berganti).

Kisah saya di atas tentu ada hubungannya dengan artikel yang saya bagikan pada Anda di bawah ini (meskipun terlambat mengirimkannya, harusnya akhir bulan September, mohon dimaklumi ya). Saya membaca buku "Disciplines of Grace" beberapa bulan yang lalu (April), dan saya sangat terkesan dengan uraian penulis, betapa tepatnya ia menggambarkan tentang perbedaan antara disiplin rohani dan rutinitas rohani. Sejak itu, saya mencoba untuk terus sadar agar saya tidak terjebak dengan rutinitas rohani. Saya mendapat banyak berkat. Oleh karena itu, saya ingin membagikannya pada e-Reformed netters. Terima kasih banyak untuk Sdr. Joko yang membantu saya menerjemahkan artikel ini. Tuhan memberkati!

Artikel di bawah ini sebenarnya hanyalah cuplikan dari Bab I (tidak saya ambil semuanya, hanya bagian yang khusus menguraikan tentang perbedaan antara disiplin dan rutinitas). Semoga menjadi bahan renungan yang dapat menggugah semangat Anda dan memperbarui gaya hidup Anda.

I

n Christ,
Yulia Oen selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa bulan terakhir ini, waktu saya habis untuk memikirkan tentang pembangunan kantor Yayasan Lembaga SABDA , yayasan yang saya bersama rekan-rekan pelayan lain terlibat dalam pelayanan. Saya menjadi sangat capai, khususnya secara mental dan fisik. Ketika jam sudah menunjukkan saya harus tidur, karena sudah larut, maka badan saya rasanya sudah sedikit "mati rasa". Begitu badan terhempas ke tempat tidur, pikiran sudah tidak ingat apa-apa sampai keesokan harinya. Karena berhari-hari demikian, maka badan "complain" dan "menagih" untuk mendapat "proper treatment". Badan saya mulai merasa tidak "fit" (segar), karena tenaga selalu terkuras habis, bahkan lebih dari yang saya miliki. Mulailah saya menerapkan "disiplin ekstra makan yang bergizi", karena saya tidak mau sakit. Hasilnya cukup lumayan, sampai hari ini saya masih hidup dan tidak sakit (meskipun capai terus).

Ternyata hal ini juga terjadi dengan kondisi kerohanian saya. Kerohanian saya mulai "capai" karena terkuras oleh banyaknya hal, khususnya kekuatiran dalam hal dana dan "accountability" terhadap Tuhan yang harus terus saya perjuangkan. Maka saya pun mulai menerapkan hal yang sama untuk kebutuhan rohani saya, yaitu "disiplin ektra makan yang bergizi". Saya teringat dengan banyak nasehat dari hamba Tuhan yang setia kepada Tuhan, "semakin sibuk dan banyak masalah, semakin banyak waktu untuk berdoa." Nah, mulailah saya melakukan disiplin untuk lebih banyak berdoa, berserah kepada Tuhan, merenung dan berdiam diri dengan Dia, (bahkan suami berpuasa). Hasilnya sangat luar biasa, secara rohani saya terus disegarkan, sehingga saya terus memuji Tuhan (meskipun masalah masih terus datang silih berganti).

Kisah saya di atas tentu ada hubungannya dengan artikel yang saya bagikan pada Anda di bawah ini (meskipun terlambat mengirimkannya, harusnya akhir bulan September, mohon dimaklumi ya). Saya membaca buku "Disciplines of Grace" beberapa bulan yang lalu (April), dan saya sangat terkesan dengan uraian penulis, betapa tepatnya ia menggambarkan tentang perbedaan antara disiplin rohani dan rutinitas rohani. Sejak itu, saya mencoba untuk terus sadar agar saya tidak terjebak dengan rutinitas rohani. Saya mendapat banyak berkat. Oleh karena itu, saya ingin membagikannya pada e-Reformed netters. Terima kasih banyak untuk Sdr. Joko yang membantu saya menerjemahkan artikel ini. Tuhan memberkati!

Artikel di bawah ini sebenarnya hanyalah cuplikan dari Bab I (tidak saya ambil semuanya, hanya bagian yang khusus menguraikan tentang perbedaan antara disiplin dan rutinitas). Semoga menjadi bahan renungan yang dapat menggugah semangat Anda dan memperbarui gaya hidup Anda.

I

n Christ,
Yulia Oen

Edisi: 
054/IX/2004
Isi: 
Orang Kristen modern tidak kurang ´relevansinya´ dengan dunia ini.
Kekurangan mereka adalah kehidupan yang disiplin dan pikiran yang
kritis untuk melawan pencobaan-pencobaan yang telah mengubahnya
menjadi seperti yang orang-orang dunia pikirkan dan lakukan.
(Simon Chan)


"Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan
Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan sekarang
dan sampai selama-lamanya.
(2Petrus 3:18)

Ada beberapa perbedaan yang mendasar antara rutinitas dan disiplin. Meskipun keduanya sangat penting bagi kehidupan, namun keduanya tidaklah sama. Karena alasan itulah, maka menjaga kedisiplinan agar tidak berubah menjadi suatu rutinitas sangatlah penting. Hal ini juga penting dalam kehidupan rohani kita, karena banyak sekali pengikut Kristus yang telah mengubah anugerah disiplin, yang diberikan Allah untuk membantu kita bertumbuh di dalam Dia, menjadi aktivitas- aktivitas rutin yang sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mengubah kehidupan.

RUTINITAS DAN DISIPLIN

Rutinitas adalah sesuatu yang kita lakukan untuk menjaga status quo, seperti menyikat gigi dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja, mengganti oli mobil, mengunci pintu, mematikan lampu sebelum tidur, mengatur tempat tidur setiap pagi, dan lain-lain. Rutinitas-rutinitas ini menempati posisi penting dalam kehidupan kita, namun rutinitas- rutinitas ini tidak mengubah atau meningkatkan apa pun. Rutinitas hanya menjaga agar kita tetap berada pada tingkat tertentu, sehingga menolong semua sistem hidup kita berfungsi dengan normal.

Rutinitas tidak membutuhkan banyak usaha keras. Kita tidak perlu bersusah payah untuk melakukannya. Bahkan, mungkin kita melakukan rutinitas tanpa kita sadari -- seperti menyetir mobil ke kantor atau membuang sampah -- tanpa ada energi atau usaha tambahan sama sekali. Selain itu, rutinitas hanya membutuhkan sedikit pemikiran. Mengerjakan rutinitas tidak memerlukan perencanaan, tidak membutuhkan pengawasan yang serius atau evaluasi, dan dilakukan sepanjang waktu tanpa perlu pemikiran. Malah, ketika kita sedang melakukan rutinitas, kita menggunakan pikiran kita untuk memikirkan hal-hal lain. Hal ini sama seperti ketika seseorang mendengarkan radio sambil mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja atau sambil menyetir kendaraan ke kantor. Rutinitas hanya membutuhkan sedikit waktu dan sedikit ketidaknyamanan, yang mana sebenarnya kita rela memberikannya karena kita telah mendapatkan keuntungan dari memeliharanya setiap hari. Rutinitas juga jarang diubah. Kita setiap hari selalu berangkat kerja melewati jalan- jalan yang sama, melakukan persiapan kerja dengan mengikuti urutan yang sama atau membersihkan dapur setelah makan dengan cara yang sama. Kita tidak merasa perlu untuk mengubah rutinitas, sehingga kita terus mengikutinya tanpa banyak berpikir atau menyesuaikan diri dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Rutinitas tersebut baik bagi kita, karena membuat kita tetap berada pada posisi status quo dalam beragam bidang kehidupan kita, namun sebenarnya rutinitas tidak membuat kita berkembang di bidang-bidang kehidupan tersebut.

Sedangkan disiplin berbeda. Disiplin adalah sesuatu yang kita lakukan dengan tujuan agar terjadi perubahan. Seperti yang dikatakan oleh Dallas Willard: "Disiplin adalah setiap aktivitas yang ada di bawah kuasa kita untuk kita lakukan, yang memampukan kita untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan tanpa "usaha terarah". Misalnya, menurunkan berat badan atau membentuk tubuh (sehingga kita tampil dan merasa lebih baik dan berumur lebih panjang); atau belajar ketrampilan baru dalam pekerjaan (sehingga kita bisa mendapatkan promosi atau naik posisi). Kita tidak bisa membuat diri kita merasa lebih baik, dan kita tidak bisa mendapatkan promosi atau naik posisi hanya dengan usaha biasa. Jadi, kita harus melakukan disiplin-disiplin tertentu yang kita percaya bisa memampukan kita untuk mencapai target yang kita inginkan tersebut -- hal-hal yang tidak dapat segera kita peroleh hanya dengan kekuatan biasa saja."

Kedisiplinan bisa menyedot usaha yang besar. Kita memaksa tubuh kita untuk naik ke level yang lebih tinggi melalui latihan setiap hari; atau kita meluaskan wawasan pikiran kita ke arah yang baru untuk memahami prosedur-prosedur baru atau menguasai teknologi baru. Kita memaksa otak dan tubuh kita untuk melakukan aktivitas yang terfokus dan sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri menerima peran dan tanggung jawab baru atau menjalani gaya hidup baru yang diinginkan. Disiplin yang baik membutuhkan keterlibatan intelektual yang serius -- yaitu membuat rencana, mengawasi kemajuan, mengevaluasi tingkat- tingkat penguasaan, dan lain sebagainya.

Lebih jauh lagi, disiplin cenderung melibatkan investasi waktu yang sangat besar. Untuk melakukan disiplin-disiplin tersebut kita harus mengorbankan aktivitas-aktivitas lain yang mungkin sebenarnya lebih kita sukai dan kita sungguh-sungguh akan mengkonsentrasikan waktu dan usaha agar bisa menguasai disiplin-disiplin tersebut karena kita yakin usaha tersebut dapat memberikan apa yang kita inginkan. Kita harus mau mengorbankan sesuatu yang kita senangi -- makanan, aktivitas-aktivitas di waktu luang, atau istirahat -- agar kita dapat mencurahkan waktu dan usaha yang diperlukan, misalnya untuk membentuk tubuh yang lebih sehat, menjadi karyawan yang lebih baik, atau menyiapkan diri untuk memperoleh pekerjaan baru. Disiplin cenderung perlu penyesuaian dari waktu ke waktu. Ketika kita telah mencapai satu tingkat tertentu atau penguasaan suatu hal, kita bisa mengubah disiplin-disiplin yang kita targetkan untuk mendorong kita mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi.

Baik rutinitas maupun kedisiplinan, keduanya sangat penting dalam hidup kita. Namun, dua hal itu jelas tidak sama. Permasalahan timbul ketika kita mengizinkan hal yang disiplin menjadi semacam rutinitas saja. Ketika hal itu terjadi, maka disiplin yang kita terapkan, tidak hanya tidak menghasilkan apa yang kita inginkan tapi juga membuat disiplin menjadi sesuatu yang berat, menjengkelkan dan membosankan. Kita mungkin setia melakukan disiplin tersebut, namun tidak dengan cara sebagaimana seharusnya disiplin itu dirancang dan tentu saja, tidak banyak hasil yang diperoleh dari usaha yang kita lakukan itu.

Masalah ini menjadi hal yang serius, khususnya dalam area kehidupan rohani, yaitu ketika mempraktikkan anugerah disiplin, kita izinkan menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sekedar rutinitas rohani belaka.

Allah memberikan kita anugerah disiplin (disiplin rohani) sebagai cara untuk menolong kita bertumbuh dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama kita. Sarana-sarana yang berharga ini -- doa, Firman Tuhan, penyembahan, waktu sendiri bersama Tuhan (solitude), memberi persembahan, berpuasa, diam di hadirat Tuhan, dan lain-lain -- membawa kita masuk ke dalam hadirat-Nya, dengan cara yang tidak bisa didapatkan hanya dari kegiatan sehari-hari. Disiplin-disiplin ini akan memampukan kita untuk melihat sekilas kemuliaan-Nya dan masuk ke dalam kuasa-Nya yang dapat memberi pembaharuan hidup setiap hari dalam Yesus Kristus. Namun, ketika praktik disiplin rohani diizinkan berubah menjadi aktivitas-aktivitas rutin saja -- maka disiplin rohani itu kehilangan kuasanya untuk membawa kita bertatap muka dengan Tuhan dalam cara-cara yang mentransformasi hidup.

Pada zaman Yesus hidup di dunia, tidak ada kelompok lain yang dikenal lebih disiplin selain para pemimpin agama Yahudi. Semua orang zaman itu mengenal mereka sebagai orang yang paling banyak berdoa, paling mengenal Alkitab, paling setia berpuasa, dan paling sering memberi sedekah kepada orang miskin. Beberapa diantara mereka sangat sungguh- sungguh, misalnya Zakharia dan Nikodemus. Namun, sebagian besar diantara mereka tidaklah demikian. Disiplin-disiplin rohani yang mereka lakukan tidak mampu mempersiapkan hati mereka untuk menyambut kedatangan Mesias dan tidak mampu membuat mereka mengenali Yesus saat Dia muncul di tengah-tengah mereka untuk mengajar dan melakukan hal- hal yang baik. Praktik disiplin rohani yang mereka lakukan, tidak membantu mereka bertumbuh dalam kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama. Banyak diantara mereka malah menjadi sombong, serakah, mengabaikan orang banyak dan sangat melindungi status istimewa mereka di mata masyarakat. Mereka melihat Yesus sebagai ancaman dan setelah tiga tahun mengawasinya, maka kemudian mereka bersekongkol merencanakan pembunuhan terhadap Dia.

Semua disiplin rohani orang-orang Farisi tidak berguna untuk menolong mereka mengalami kemuliaan Tuhan dan masuk ke dalam anugerah-Nya. Mereka menjalankan praktik disiplin rohani hanya untuk menjaga status mereka di masyarakat dan bukan supaya mereka bertumbuh dalam anugerah dan pengetahuan akan Tuhan. Disiplin rohani mereka telah menjadi rutinitas, yang hanya memberikan kepuasan diri yang besar dan membuat status mereka terlindungi di mata orang banyak. Namun, kehidupan rohani mereka kosong dan tidak mendapatkan persekutuan yang sungguh- sungguh dengan Tuhan. Mereka telah menjadi "kuburan yang dilabur putih", seperti yang diamati Yesus -- mereka memuaskan diri sendiri, membenarkan diri sendiri, bangga terhadap diri sendiri, dan congkak.

Sebelum kehidupan rohani kita berubah ke arah kondisi seperti itu, dan kita menjadi negatif dan suka menghakimi, kurang mengasihi dan tidak memiliki semangat untuk hidup dalam iman atau melakukan misi Yesus, maka kita perlu mempertimbangkan, apakah praktik disiplin rohani kita benar-benar sesuai dengan yang Tuhan inginkan dan rencanakan.

KONDISI DISIPLIN ROHANI MASA KINI

Melalui gereja masa kini, kita sangat diberkati dengan berlimpahnya sumber bahan dan nasihat dan dorongan semangat yang tiada hentinya untuk menggunakan disiplin rohani bagi kemuliaan Kristus dan kerajaan- Nya. Tidak pernah ada kekurangan Alkitab dan bahan-bahan pemahaman Alkitab, kelompok kecil dan persekutuan untuk bersama-sama mempelajari Firman Tuhan, buku-buku dan konferensi doa, panduan dan juga kesempatan untuk menyembah atau ajakan untuk berpuasa. Kebanyakan orang yang saya kenal, yang menyatakan dirinya sebagai pengikut Kristus, telah melakukan disiplin-disiplin rohani pada tingkat-tingkat tertentu, meskipun banyak diantara mereka, pada saat yang sama, mengakui akan ketidakpuasan mereka pada kehidupan rohaninya. Walaupun demikian, secara keseluruhan, dari tampilan luar, praktik disiplin rohani tampak hidup dan sepertinya dijalankan dengan baik oleh jemaat gereja.

Tetapi, pertanyaan yang muncul adalah mengapa gereja kelihatan kurang kuasa. Mengapa keyakinan alkitabiah memainkan peran yang sangat kecil dalam membentuk budaya dan memberi arah bagi masyarakat kita? Mengapa pamor gereja-gereja semakin menurun bila dibandingkan dengan persentase populasi secara keseluruhan -- tanpa mengabaikan adanya fenomena gereja-gereja berjemaat besar (megachurch)? Mengapa tingkah laku, seperti sikap tidak sopan, kasar, dan asusila semakin berkembang dan ditoleransi oleh masyarakat kita? Mengapa orang percaya secara umum sangat tertutup mengenai iman mereka? Mengapa kita lebih banyak mencurahkan tenaga untuk membahas perdebatan-perdebatan sengit tentang masalah-masalah, seperti cara-cara tertentu dalam penyembahan, peran wanita dalam gereja, dan tempat budaya pop Kristen dalam kehidupan orang percaya? Mengapa kita dipandang rendah, bahkan dibenci oleh mereka dari kalangan elit budaya dan elit sosial dalam masyarakat kita? Dan mengapa, ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat yang seharusnya menjadi ragi Kerajaan Kristus bagi roti zaman yang penuh dosa dan sedang sekarat ini, kita malah tidak menampakkan jati diri kita sebagai warga Kerajaan Surga?

Tidak diragukan, pasti ada banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi satu dari jawaban tersebut yang saya ambil berdasarkan observasi saya secara pribadi, termasuk hasil membaca dan studi saya, membutuhkan penelitian lebih lanjut. Jawaban itu adalah, sebagai sebuah komunitas, orang percaya tidak mengalami apa yang Allah inginkan terjadi dalam hidup mereka melalui praktik disiplin-disiplin rohani yang mereka lakukan. Seperti kutipan kata-kata Simon Chan di awal artikel ini, orang Kristen modern tidak lagi terlibat dalam melakukan disiplin rohani atau kalaupun terlibat, keterlibatan mereka telah menjadi tidak sungguh-sungguh dan tidak bisa menjadi sumber anugerah dan kemuliaan yang mampu mengubah hidup mereka. Hal ini mungkin terjadi karena banyak dari mereka yang telah membiarkan disiplin rohaninya jatuh sebagai rutinitas saja tanpa mereka sadari. Mereka berdoa, membaca Alkitab, dan rajin beribadah, namun tidak terjadi apa-apa dalam kehidupan mereka sebagai warga Kerajaan Allah. Mereka masih terus terikat dengan dosa-dosa yang sama, semakin sulit mempersembahkan diri dalam pelayanan, menjadi cepat untuk mengkritik dan menghakimi orang-orang yang tidak sepaham dengan hal-hal rohani yang mereka percayai, dan enggan berbincang-bincang tentang hal-hal rohani dengan tetangga-tetangga mereka untuk kepentingan penyebaran Injil. Tapi pada saat yang sama mereka aktif menjalankan disiplin- disiplin rohani mereka -- rajin saat teduh, ikut kelompok pemahaman Alkitab, tekun menghadiri persekutuan -- namun, mereka tidak bertumbuh dalam anugerah-Nya. Sebaliknya, mereka malah hampir tidak lagi berusaha kecuali sekedar memelihara semacam status quo kehidupan rohaninya di tengah-tengah tekanan pencobaan-pencobaan, kewajiban dan pesatnya kemajuan masyarakat postmodern.

Untuk orang-orang seperti itu, bisa jadi disiplin-disiplin rohani telah berubah menjadi sekedar rutinitas, yang tidak punya kekuatan dan pengaruh untuk mengubah dunia ini bagi Kristus.

Disiplin-disiplin yang Allah inginkan untuk membawa kita masuk dalam hadirat kemuliaan-Nya dan mengubah kita untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, bagi sebagian besar diantara kita, hanya tinggal rutinitas saja -- tidak lagi dipikirkan, tidak lagi diusahakan, tidak memberikan buah kecuali hanya sekedar untuk memenuhi tanggung jawab. Jika demikian, maka kita sama sekali tidak mungkin memperlengkapi diri untuk bisa hidup bagi Kerajaan-Nya di dunia ini.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku:Disciplines of Grace
Judul Artikel:Disiplines or Routines?
Penulis:T.M. Moore
Penerbit:InterVarsity Press
Tahun:2001
Halaman:14-18

Kemuliaan Bagi Allah

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya kirimkan kepada para pembaca bulan ini, saya ambil dari Buletin Momentum yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia. Saya harap, Anda akan mendapat beberapa 'insight' dari pembahasan tentang 'Kemuliaan bagi Allah" yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong ini.

Selamat membaca dan merenungkan!

In Christ,
Yulia Oen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya kirimkan kepada para pembaca bulan ini, saya ambil dari Buletin Momentum yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia. Saya harap, Anda akan mendapat beberapa 'insight' dari pembahasan tentang 'Kemuliaan bagi Allah" yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong ini.

Selamat membaca dan merenungkan!

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
053/VIII/2004
Isi: 

Catatan: Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di Mimbar Gereja Reformed Injil Indonesia di Jakarta. Kitab Roma 11:36 ini dikhotbahkan sebanyak 4 kali. Renungan ini merupakan khotbah keempat dari 4 seri itu.

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya." (Roma 11:36)

´Glory to God´ menjadi satu istilah, satu pemikiran yang begitu unik di dalam kekristenan dan tidak ditemui pada agama-agama lain. Agama lain lebih merasa takut kepada Tuhan, karena ilah mereka memberikan unsur kontrol kepada kepribadian. Tetapi dalam kekristenan tidaklah demikian. Dalam Kitab Yesaya 43:7 dikatakan dengan jelas, "Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku." We are created in order to glorify God, we are created for His own glory. Sebab itu, di dalam diri manusia, kita melihat peta dan teladan Tuhan, yaitu pancaran kemuliaan Tuhan yang mewakili sang Pencipta.

Apakah arti kemuliaan Tuhan itu? Kemuliaan merupakan satu hal yang abstrak. Jika dilihat dari ´linguistic philosophy´, kemuliaan itu tidak bisa diuji dan diverifikasikan di dalam laboratorium, sehingga tidak perlu banyak dibicarakan. Tetapi justru pada waktu tua, Ludwig Wittgenstein sendiri menarik kembali sedikit pikiran yang ditulis olehnya.

Istilah kemuliaan memang abstrak, tidak konkret, dan tidak berwujud. Tetapi, kemuliaan merupakan satu hal yang mau tidak mau akan mempengaruhi hidup kita. Mengapa kita takut nama kita dicemarkan oleh orang lain? Mengapa kita takut difitnah orang? Mengapa kalau ada orang yang salah ketika memberi informasi tentang kita, kita marah? Mengapa kita selalu membela sesuatu yang seharusnya tidak dirugikan, tetapi sudah dirugikan? Mengapa kita selalu berdebat? Ini semua karena ada unsur abstrak, unsur yang melampaui kekonkretan jasmaniah yang memang berada di dalam kebudayaan. Kita membutuhkan nama baik, membutuhkan kredibilitas, dan membutuhkan kepercayaan dari orang lain. Semua itu karena apa? Unsur kemuliaan. Meskipun sama-sama manusia, tetapi ada yang begitu bercahaya karakternya, ada yang begitu gelap hidupnya, ada yang begitu menyenangkan orang lain, dan ada yang membuat orang lain begitu benci, ini semua karena ada unsur abstrak atau tidak konkret yang ikut berperan di dalam dunia ini. Di dalam dunia bisnis, modal yang paling besar bukan uang yang Anda pinjam dari bank. Tetapi, modal yang paling besar adalah kepercayaan dan perasaan tanggung jawab yang membuat masyarakat mempunyai kesan terhadap diri Anda. Dengan modal seperti ini, meskipun Anda jatuh, mengalami musibah kebakaran, atau bangkrut sekali pun, tidak akan menjadi persoalan. Karena modal Anda adalah kredibilitas. Modal kepercayaan orang lain terhadap diri Anda, lebih kuat daripada modal yang berupa rupiah atau dollar. Jadi, yang konkret tidak lebih penting dari yang abstrak dan yang abstrak jauh lebih berperan daripada yang konkret ini. Itu sebabnya, kemuliaan justru tidak disangkutpautkan dengan materi. Orang biasa beranggapan kalau mempunyai giwang dengan berlian yang beberapa karat besarnya, atau mempunyai mutiara yang begitu cemerlang, tentu akan menarik orang, karena itu adalah kekayaan yang besar. Tetapi tidaklah demikian, kemuliaan tidak terletak pada berlian, pada perhiasan, atau pada pakaian yang bagus, kemuliaan justru terletak di dalam unsur abstrak: karakter atau kepribadian seseorang. Itu sebabnya, kita akan memikirkan tentang kemuliaan.

Kalau kita mengerti tentang kemuliaan, juga secara rohani, barulah kita merenungkan, mengapa segala kemuliaan harus kembali kepada Tuhan Allah? Kemuliaan mempunyai substansi yang menjadi pangkalan bagi penghargaan. Kita menghormati atau menghargai seseorang, justru karena dibalik orang yang kita hormati itu terdapat suatu substansi rohaniah yang melampaui nilai jasmani. Dan substansi rohaniah itu adalah Tuhan sendiri. ´God Himself is the substance and the original reality of the glory´. Apakah arti kemuliaan? Kemulian berasal dari Tuhan dan Tuhan sendiri adalah penghargaan yang tertinggi, nilai yang tertinggi, diri- Nya merupakan sumber segala penghargaan dan kehormatan. Sebab itu, tatkala manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Alkitab menulis, "Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan kehormatan." Manusia adalah manusia, manusia menjadi manusia, dan manusia berharkat manusia karena manusia mempunyai kehormatan dan kemuliaan sebagai mahkota. Mahkota ini berasal dari Tuhan. Itu sebabnya, Tuhan adalah sumber kehormatan, sumber penghargaan, dan sumber kemuliaan. Yesus Kristus berkata, "Kemuliaan yang Kuterima, bukan dari manusia, melainkan dari Allah saja."

Pada waktu Yesus Kristus harus mati di atas kayu salib, pada detik- detik terakhir yang tercatat dalam Injil Yohanes pasal 13 sampai dengan 15, Dia berbicara banyak tentang ajaran-ajaran yang penting kepada murid-murid-Nya. Sedangkan dalam Injil Yohanes pasal 17 merupakan satu-satunya pasal yang mencatat bahwa Anak Allah yang suci itu berbicara kepada Allah Bapa yang suci. Semua isi doa itu diwahyukan kepada manusia. Sebenarnya, apa yang dibicarakan antara Allah Anak, Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus selalu tidak kita ketahui. Tetapi, Injil Yohanes pasal 17 merupakan satu-satunya pasal, di mana seluruh pasal, kecuali kalimat pertama, berisi doa sang Anak kepada Bapa dalam bentuk literatur manusia, tetapi isinya adalah komunikasi antara Anak dan Bapa. Dalam pasal itu, kita melihat doa yang luar biasa. Yesus Kristus mengatakan, "Muliakanlah Aku, sebagaimana Aku di dunia sudah memuliakan Engkau. Istilah mulia di sini menjadi satu ´mutual communication´. Tuhan Yesus meminta supaya Bapa memuliakan Dia, apakah sebabnya? Sebab Dia sudah memuliakan Bapa. Maka, di sini kita dapat melihat, kemuliaan bersubstansi realita pada diri Bapa. Bapa menciptakan manusia dan mengutus Yesus ke dalam dunia ciptaan- Nya, justru untuk menyatakan kemuliaan Bapa itu sendiri. Sebab itu, sesuai dengan Kitab Yesaya 43:7, eksistensi hidup kita justru untuk memuliakan Tuhan Allah. Tetapi, hal ini sering tidak kita sadari atau insyafi.

Dalam Injil Yohanes 12:28, Yesus Kristus berkata, "Bapa, muliakanlah nama-Mu". Maka terdengarlah suara dari surga, "Aku telah memuliakan- Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi." Suara ini didengar oleh begitu banyak orang pada waktu itu. Tuhan Allah, sumber kemuliaan menginginkan manusia untuk memuliakan Dia. Barangsiapa memuliakan Tuhan, Tuhan rela memuliakan Dia pula.

Kemuliaan bersubstansi Tuhan Allah dan kemuliaan itu diwujudkan atau dinyatakan, sehingga kemuliaan menjadi suatu dasar kebudayaan, kredibilitas kepribadian, dan keagungan dari pada sejarah dan pemancaran moral. Kemuliaan itu diwujudkan melalui beberapa tahap:

  1. Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui inkarnasi.

    Selain penciptaan, di mana Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk menyatakan kemuliaan-Nya, pernyataan kemuliaan yang paling konkret di dalam sejarah adalah melalui inkarnasi. Dari Injil Yohanes 1:14,18, kita melihat: pertama, substansi kemuliaan adalah Allah sendiri. Pernyataan kemuliaan, pertama-tama dapat kita lihat di dalam inkarnasi, yaitu Kristus menjadi manusia. Allah datang ke dalam dunia manusia, Roh menjadi daging, yang tidak kelihatan sekarang menjadi kelihatan, dari dunia mutlak masuk ke dalam dunia relatif, ´from the invisible world, He come into visible realm, to become man´. Dia menjadi manusia. Di sini dikatakan, kita sudah melihat kemuliaan Allah di dalam diri Kristus, Anak Allah yang tunggal yang dikaruniakan kepada manusia. Dalam ayat 18 dikatakan, "Tidak ada orang yang pernah melihat Allah, hanya Kristus, Anak tunggal Allah, yang berada di dalam pangkuan Allah itu, menyatakan Tuhan Allah kepada kita." Baca lagi, Kitab Ibrani 1:1-3. Ayat yang paling jelas, menjelaskan siapakah Kristus di dalam alam semesta; ´the cosmic Christ, not only the historical Christ, not only the Christ in the church´. Kita melihat Kristus, jauh lebih besar daripada apa yang kita tahu.

    Di University of Iowa, saya memberi judul khotbah saya, ´How big is Christ?´ Pada waktu mereka mendengar judul itu, mereka kaget, mengapa judul khotbah ini "Berapa Besarnya Kristus?" Saya berkata kepada mereka, berapa besar menurut pengertian Anda, akan mempengaruhi iman dan nilai hidup dalam seumur hidup Anda. Seluruh hidup Anda akan ditetapkan penilaiannya dengan pengertianmu tentang berapa besar Kristus, ´Christ is always bigger than you can imagine´, Kristus selalu lebih besar daripada apa yang bisa kita bayangkan. Kalau kita mengira Kristus sedemikian besar, Dia lebih besar daripada itu. Di sini kita melihat, ´the biggest posibility of understanding Christ´. Siapakah Kristus?

    1. Kristus ditetapkan berhak mewarisi sesuatu.
    2. Kristus ditetapkan menjadi pencipta segala sesuatu.
    3. Kristus ditetapkan menjadi penopang segala sesuatu.

    Segala sesuatu bersandar kepada Kristus, segala sesuatu diciptakan oleh Dia, dan segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kitab Ibrani 1:1-3 ini adalah ayat yang supplementary bila dibandingkan dengan Roma 11:36. "Nya" di sini adalah Tuhan Allah, yang di dalam Kristus. Maka, saya memberikan judul pada ayat-ayat ini: ´Christ in the Cosmic Christ´; Kristus adalah Kristus kosmos, Kristus alam semesta, Pencipta alam semesta, Penopang alam semesta, dan Pewaris alam semesta. Segala sesuatu adalah dari Dia, segala sesuatu bersandar kepada Dia, dan segala sesuatu kembali kepada Dia. Puji Tuhan!

    Di sini kita dapat melihat bahwa Dia adalah cahaya dari kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah, yaitu ´the visible glory and the visible light of the invisible God´; Allah berada di dalam cahaya yang tidak kelihatan, tetapi Kristus adalah cahaya Allah yang dapat kita lihat. Umpama saya bertanya kepada Saudara, pernahkah Saudara melihat matahari? Saudara akan menjawab, setiap hari saya melihat matahari, bahkan sejak kecil saya sudah melihatnya. Saya bertanya lagi, sanggupkah Saudara menatap matahari? Saudara mulai merasa ragu, apa maksud pertanyaan ini? mengapa Anda menanyakan hal ini? Saya berkata, Saudara belum pernah melihat matahari secara langsung. Dari ketiga pertanyaan tadi, pernahkah melihat matahari? Betulkah Saudara sudah melihatnya? Saudara belum pernah melihat langsung, tapi Saudara pasti tahu, ada suatu rahasia dibalik pertanyaan itu. Sebenarnya, kita tidak pernah melihat matahari, kita hanya melihat cahaya matahari. Yang kita lihat bukan mataharinya, tapi cahayanya. Kita belum pernah melihat matahari, kita hanya melihat satu substansi yang bercahaya begitu jelas, waktu kita melihat, kita tahu itu matahari, padahal yang kita lihat bukan elemen dari matahari sendiri, namun hanyalah cahaya yang mengeluarkan sinar, yang bersumber dan beradiasi dari matahari. Itu sebabnya, ´no one can see God´, tak seorang pun yang bisa melihat Allah, yang kita lihat adalah cahaya Allah itu sendiri. Ayat tadi mengatakan, "Dia adalah cahaya kemuliaan Allah, dan gambar wujud Allah", itu sebabnya kita masuk ke bagian lebih yang dalam.

    Pada waktu inkarnasi itu sudah terjadi, maka keberadaan Yesus, itu adalah wujud yang konkret, wakil yang mewakili kemuliaan Allah. Sebab itu, Yesus Kristus berani mengatakan satu kalimat, yang belum pernah, tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin, tidak ada yang berani atau boleh diucapkan oleh siapa pun di dalam sejarah. "Kamu melihat Aku, bukan melihat Aku, melainkan melihat Dia, yang mengutus Aku." Adakah orang lain yang pernah mengatakan, "Kamu melihat aku, bukan melihat aku, melainkan melihat presiden Soeharto?" Tidak ada orang yang berani mengatakan hal itu, karena orang yang mengatakan hal itu bukan presiden Soeharto. Tetapi, Yesus berani mengatakan kalimat itu. Ini merupakan satu lompatan yang luar biasa. Dari fenomena agama umum, orang Yahudi tak mungkin pernah mengerti kalimat itu. Karena mereka tahu, Allah tidak bisa dilihat. Saat manusia melihat Allah dengan mata jasmani, saat itu pula manusia mati. Inilah pengertian orang Yahudi. Itu sebabnya, waktu Yesus mengatakan kalimat itu, mereka mengatakan Dia kurang ajar dan menghujat Allah. Padahal, Yesus Kristus tidak menghujat Allah. Tetapi Dia mengatakan satu fakta, karena Dia adalah satu- satunya cahaya kemuliaan Allah, satu-satunya wujud Dia, Dia adalah satu-satunya cahaya kemuliaan Allah, satu- satunya wujud substansi Allah, dan satu-satunya yang bisa menyatakan Allah yang tidak tampak. Kristus adalah wakil Allah di dalam dunia.

    Yesus Kristus berkata lagi, "Kamu percaya kepada-Ku, bukan percaya kepada-Ku, melainkan percaya kepada Dia yang mengutus Aku." Aku mewakili Allah. Inilah cahaya kemuliaan. Goethe, seorang Jerman, waktu dia muda, dia patah hati dan ingin bunuh diri, tetapi tidak jadi. Dia menuliskan niatnya ketika hendak bunuh diri ke dalam satu buku. Buku itu dicetak dan dalam 6 bulan, lebih dari 200 orang yang membaca buku itu bunuh diri. Lalu selama puluhan tahun, dia menyusun sebuah buku yang berjudul "Force" untuk menyatakan seluruh filsafat hidupnya dan akhirnya harus diakui, ´no one can surpass Jesus´, biar kebudayaan manusia terus maju, tidak akan mungkin melampaui orang Nazaret itu, tidak mungkin melampaui moral dan kemuliaan Yesus yang dicatat di dalam keempat Injil.

    Waktu saya membaca kalimat itu, saya sangat tergerak. Goethe, orang yang besar, yang hidup sezaman dengan Beethoven, Mendelssohn. Beethoven mati terlebih dulu dan dia masih hidup. Dia memanggil Mendelssohn ke rumahnya untuk memainkan piano, musik yang terbesar, yang pernah diciptakan di dalam sejarah. Mendelssohn yang muda menabuh dari Bach sampai pada Mozart, Haydn, Bethoven I, II, III, dan IV. Sampai Mendelssohn memainkan Beethoven symphoni V, baru selesai movement pertama, Goethe mengatakan, "Sudah Mendelssohn, stop jangan mainkan lagi." Mengapa? Karena waktu kau memainkan Beethoven V, sejahtera yang saya pupuk dan saya latih melalui meditasi dan lain-lain sejak saya muda, langsung hilang semuanya. Kamu telah mengacaukan sejahteraku. Apa artinya? Sejahtera manusia tidak bisa bertahan, hanya sejahtera yang dari Tuhan yang dapat bertahan. Waktu dia sudah tua, dia mengira sudah melatih sifat manusianya dan sudah sukses. Justru saat itulah, dia sama sekali gagal. Pada waktu Kristus akan dibunuh di atas kayu salib, Dia mengatakan, "Aku memberikan sejahtera-Ku kepadamu, dan sejahtera yang Kuberikan kepadamu, tidak mungkin diberikan oleh orang lain." Yesus mati dengan sejahtera, Yesus bangkit dengan sejahtera, setelah bangkit Dia mengatakan, "peace on you". Goethe mengetahui, ´no one can surpass Jesus´, tidak ada orang seperti Yesus, maka dia menuliskan, "Biar pun kebudayaan kebudayaan manusia terus maju, tak mungkin melampaui kemuliaan yang pernah dipancarkan Kristus."

    Kemuliaan yang bagaimana yang dipancarkan Yesus? Tema ini membutuhkan penguraian yang lebih panjang lagi. Tetapi secara singkat, saya berkata kepada Saudara, "Kemuliaan dipancarkan melalui hidup-Nya, melalui sengsara-Nya." Pada waktu Dia diumpat, difitnah, Dia sangat tenang. Kemuliaan Yesus, kemuliaan Ilahi mutlak dan tidak terbatas. Perhatikan teladan Yesus yang menyatakan kemuliaan Allah, pernah dinyatakan sampai puncaknya secara konkret di Alkitab. Injil Matius 17:2 mengatakan, "Wajah-Nya seperti matahari, pakaian-Nya seperti terang yang besar." Di dalam Alkitab, hal seperti ini pernah terjadi 3 kali: Pertama kali, waktu Yesus masih hidup di dunia. Kedua, waktu Dia memanggil Paulus. Lalu ketiga, waktu Dia menyatakan diri kepada Yohanes, rasul termuda di pulau Patmos. Ketiga-tiganya memberikan satu kesan bahwa Dia lebih bercahaya dibanding dengan matahari, sehingga pada waktu siang hari, waktu paling terang, Paulus justru melihat cahaya yang lebih terang daripada matahari. Bukan saja demikian, Yohanes melihat, Dia mempunyai mata seperti api yang menyala-nyala. Yesus Kristus adalah kemuliaan yang diwujudkan di dalam dunia. Pada waktu Petrus tua, dia melukiskan istilah kemuliaan hanya satu kali saja, istilah yang luar biasa berbeda dengan semua istilah yang ada di dalam Kitab Suci. 2Petrus 1:16, dalam terjemahan bahasa Indonesia "kebesaran- Nya", tetapi dalam bahasa Inggris "His majesty", dalam bahasa Mandarin, kemuliaan yang sangat serius dan berwibawa. Kata ´majesty´ dipakai untuk melukiskan keagungan seorang raja. Pada waktu Petrus menulis ayat ini, dia membandingkannya dengan berita isapan jempol. Ia berkata, "Karena kami pernah melihat dengan mata sendiri, satu ´majesty´ atau kemuliaan yang dahsyat dari Tuhan sendiri." Mengapa Petrus yang menuliskan hal ini? Karena Petrus, Yakobus, dan Yohanes tiga orang yang pernah melihat Yesus Kristus menyatakan kemuliaan Allah, melalui perubahan wajah; transfiguration; ´change His figure´. Bukan saja demikian, kita juga dapat membaca dari Wahyu 1:16-17, Kristus menyatakan diri dengan begitu mulia.

  2. Apa yang disebut dengan kemuliaan Allah?

    Pertama, kemuliaan Allah di dalam diri Kristus melalui inkarnasi. Kedua, kemuliaan Allah di dalam anugerah penebusan. Ini merupakan kemuliaan yang paling puncak, yang boleh kita terima di dalam pengalaman kita masing-masing. Kita bukan hanya mengenal Dia, tetapi kita mengalami. Kita bukan hanya mengetahui Dia, tetapi kita memiliki Dia melalui anugerah kemuliaan. Baca Efesus 1:6. "Kasih karunia yang mulia atau anugerah kemuliaan Tuhan. Apakah ini? Ini adalah kemuliaan yang bersifat paradoks. Anugerah kemuliaan di dalam penebusan itu bersifat paradoks artinya, justru semua kemuliaan itu tersimpan. Hal ini, dalam theologia Martin Luther disebut sebagai ´the hiddeness of God´: suatu ketersembunyian dari Tuhan Allah. Martin Luther menggambarkan dua macam hal yang kita kenal tentang Kristus, ´the glory of Christ and the cross of Christ´. Kita harus mengerti mengenai Kristus yang tersalib dan Kristus yang mulia. Banyak orang hanya mau Kristus yang mulia, tetapi tidak mau Kristus yang tersalib. Martin Luther mengatakan, "Dua-duanya penting. Sebagaimana kita menyaksikan bulan, yang menghadapkan kita pada satu aspek, sedangkan aspek yang lain tidak pernah bisa kita lihat, kecuali kita melintasinya dengan roket yang melebihi tempat itu, barulah kita bisa melihat belakangnya." Demikian juga Allah menyatakan kepada kita, aspek-aspek yang rela Dia wahyukan, tetapi aspek yang tidak dinyatakan, kita tidak tahu itu. Itu disebut sebagai ´the hiddenness of God´.

    Perhatikan, kemuliaan Allah yang kita lihat adalah Kristus yang menjadi contoh teladan moral dan hidup yang mewakili Allah di dalam dunia ini dan yang dahsyat kemuliaan-Nya, yang pernah Dia nyatakan kepada tiga orang murid-Nya dan Paulus. Tetapi kita mau melihat sifat paradoks dari aspek yang lain, yaitu kemuliaan yang terembunyi. Ketika raja menutup pakaian kerajaannya dengan pakaian pengemis, jangan Anda kira bahwa dia adalah seorang pengemis. Biar pun secara lahiriah, dia seorang yang miskin, tetapi dia adalah tetap seorang raja yang berhak duduk di atas tahta. Demikian juga pada waktu kita melihat kemuliaan yang tersembunyi, itu berarti kemuliaan paradoks. Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, di manakah kemuliaan Allah? Tidak ada. Pada waktu itu, seluruhnya sudah menjadi tertutup, kebijaksanaan dan kuasa-Nya tidak kelihatan dan segala kemungkinan kemuliaan sudah tertudung, sehingga orang melihat salib, tempat yang bukan menyatakan kemuliaan, melainkan tempat yang memalukan. Orang yang dipaku di atas kayu salib, pakaiannya dilepas, mungkin hanya sisa satu helai kain untuk menutupi kemaluannya, seluruh tubuh ditelanjangi dan dipamerkan di atas kayu salib. Itu adalah tempat yang sangat memalukan, tetapi Allah justru menyatakan bahwa inilah anugerah kemuliaan (bandingkan 1Korintus 1:25). Pada waktu kita tidak melihat kemuliaan Allah, tidak melihat pertolongan Allah, pada saat kita melihat hal demikian di bukit Golgota, justru Tuhan mengatakan, "Open your inner eyes, look penetrate into all the bondage, and you should understand more than just superficial fenomena. Then look at the inner side: the glory of God." Kemuliaan penebusan adalah kemuliaan yang ditudung anugerah yang tersembunyi, yaitu kemuliaan yang menjadi ujian bagi iman seluruh umat manusia. Puji Tuhan!

    Maafkan saya sekali lagi untuk mengatakan kalimat yang saya ucapkan dua tahun yang lalu, bahwa di dalam seluruh Kitab Suci, saya percaya orang yang imannya paling besar, bukan Paulus atau Petrus, melainkan perampok yang diselamatkan di atas kayu salib. Saya tercengang, apakah yang menyebabkan dia mempercayai Kristus? Kalau Petrus, Paulus, atau orang lain percaya Yesus adalah Kristus karena mereka melihat sesuatu yang agung, bukan ´the hidden side´, tapi ´the expose side´, bukan pada anugerah yang paradoks, tapi pada anugerah yang dipancarkan, yang kelihatan. Namun, perampok itu sama sekali tidak melihat apa-apa dalam diri Yesus Kristus, dia hanya melihat Yesus yang mengalirkan darah, menerima ketidakadilan, disiksa, menderita, tidak bisa membalas, tidak bisa berbuat apa- apa, dicemooh, dipaku, dihina, dan dibuang. Tetapi dia mempunyai iman, yang melampaui fenomena, yang menembus paradoks, langsung menanamkan imannya di dalam esensi yang melebihi lahiriah. Kalau Anda bertanya kepada perampok itu, mengapa Anda percaya kepada Yesus Kristus? Dia akan menjawab, saya tidak melihat kedahsyatan kemuliaan yang dinyatakan, justru saya melihat ke dalam sumsum, yang berada di balik penderitaan yang besar itu.

  3. Dengan apa kita memuliakan Allah?

    Sekarang, kita masuki bagian terakhir, saya akan membahas dengan ringkas, dengan apa kita memuliakan Allah?

    1. Dengan hidup yang ada, hidup yang diciptakan.
    2. Dengan pengalaman penebusan, kita memuliakan Allah.
    3. Dengan perbuatan dan kesempatan untuk bersaksi (Matius 5:13-16).
    4. Di dalam kesengsaraan dan dengan mulut kita.

    Kita perlu menderita bagi Tuhan supaya bisa mendapat kemuliaan. Sebab itu, waktu kita menderita bagi Tuhan, biarlah kita memakai mulut kita untuk memuliakan Allah. Pada waktu penganiayaan, kita tetap harus memuliakan Allah. Puji Tuhan! Ia ada dalam seumur hidup kita, kita harus memuliakan Allah.

    Siapakah orang yang memuliakan Allah? Mungkin Saudara berkata, orang-orang yang pandai menyanyi atau yang sering berkhotbah. Jika hanya orang yang berkhotbah dan yang menyanyi, yang memuliakan Allah, maka hanya segelintir orang Kristen di mimbar saja yang bisa memuliakan Allah. Setiap orang Kristen dapat memuliakan Allah dengan kesaksiannya. Masyarakat mengetahui bahwa kita adalah orang Kristen, kita tidak bisa omong kosong saja, kita harus melakukan semuanya dengan baik untuk memuliakan nama Tuhan.

    Ayat ini mudah kita baca, namun masyarakat akan mempermalukan Allah Saudara karena hidup Saudara yang sembrono. Saudara harus memuliakan Allah di dalam usaha Saudara, di dalam keluarga Saudara, dan di dalam pergaulan Saudara (el).

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Momentum 28 Desember 1995 -- Buletin
Judul Artikel : Kemulian bagi Allah
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995
Halaman : 3 - 11

Langkah-langkah Mencari Kehendak Allah

Dear e-Reformed Netters,

Kiriman artikel saya bulan Juli ini adalah tentang "Langkah-langkah Mencari Kehendak Allah". Memang, sudah ada banyak buku, artikel, bahkan seminar-seminar yang membahas tentang topik bagaimana mencari kehendak Allah. Bahan yang saya bagikan ini, kiranya bukan hanya menjadi pelengkap dari bahan-bahan yang sudah ada karena setelah membaca, saya melihat bahwa dalam memaparkan prinsip-prinsipnya, Dr. Stephen Tong sangat lengkap dan teliti. Pembahasan bukan hanya dari sisi teori saja, tapi juga dari pengalaman dan keduanya saling terintegritas.

Harapan saya, kiranya melalui artikel ini, para pembaca dapat hidup semakin dekat dengan kehendak Allah, khususnya untuk mereka yang sedang menggumulkan tentang masa depan.

"Di manakah manusia bisa mendapatkan keamanan
dan ketentraman hidup yang sejati di dunia ini?
Keamanan dan ketentraman hidup yang sejati hanya
akan Anda dapatkan dari hidup yang menjalankan
kehendak Allah."

In Christ,
Yulia Oen selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kiriman artikel saya bulan Juli ini adalah tentang "Langkah-langkah Mencari Kehendak Allah". Memang, sudah ada banyak buku, artikel, bahkan seminar-seminar yang membahas tentang topik bagaimana mencari kehendak Allah. Bahan yang saya bagikan ini, kiranya bukan hanya menjadi pelengkap dari bahan-bahan yang sudah ada karena setelah membaca, saya melihat bahwa dalam memaparkan prinsip-prinsipnya, Dr. Stephen Tong sangat lengkap dan teliti. Pembahasan bukan hanya dari sisi teori saja, tapi juga dari pengalaman dan keduanya saling terintegritas.

Harapan saya, kiranya melalui artikel ini, para pembaca dapat hidup semakin dekat dengan kehendak Allah, khususnya untuk mereka yang sedang menggumulkan tentang masa depan.

"Di manakah manusia bisa mendapatkan keamanan
dan ketentraman hidup yang sejati di dunia ini?
Keamanan dan ketentraman hidup yang sejati hanya
akan Anda dapatkan dari hidup yang menjalankan
kehendak Allah."

In Christ,
Yulia Oen

Edisi: 
052/VII/2004
Isi: 

Alkitab berkata kepada kita bahwa ada orang yang akan binasa beserta dengan dunia yang penuh dengan nafsu. Tetapi, ada orang-orang yang akan tetap hidup kekal di hadapan Tuhan karena menjalankan kehendak Allah. Yesus Kristus berkata bahwa suatu hari akan datang orang-orang yang berkata, "Tuhan bukankah kami sudah melakukan mujizat demi nama-Mu, menyembuhkan orang lain demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu?" Yesus akan menjawab, "Pergilah engkau, karena Aku belum pernah mengenal kamu." (Matius 7:22,23). Maka, jangan menganggap bahwa mereka yang menyebut Tuhan pasti masuk ke dalam kerajaan Allah. Hanya mereka yang menjalankan kehendak Allah yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah.

Ayat-ayat ini sangat membuat kita gentar. Siapakah orang Kristen yang sejati itu? Banyak orang yang menggunakan nama Yesus untuk melakukan mujizat menyembuhkan orang lain, sepertinya Roh Kudus bekerja, tetapi hidup mereka tidak mengenal Allah, sehingga Allah harus mengatakan, "Aku belum pernah mengenal engkau."

Kalau perkataan itu keluar dari mulut seorang hamba Tuhan, ia akan dianggap terlalu keras. Tetapi, jikalau perkataan itu keluar dari mulut Yesus Kristus, maka tidak ada tempat untuk naik banding lagi. Tuhan Yesus begitu jelas mengajarkan kepada kita untuk menjalankan kehendak Allah lebih baik daripada memiliki karunia dan talenta dan memakai nama-Nya di dalam melakukan pelayanan.

  1. Tidak Ada Jalan Pintas untuk Mengenal Kehendak Allah.

    Siapa yang bisa mengenal kehendak Allah? Mungkinkah manusia mengenal kehendak Allah? Dengan cara bagaimana manusia mengenal kehendak Allah? Kita akan masuk ke dalam uraian yang lebih praktis dan pragmatis. Tetapi, pada zaman yang serba pragmatis ini, justru membuat manusia lebih sulit untuk mengenal kehendak Allah.

    Kita tidak ingin belajar tata bahasa, tetapi ingin dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan baik. Kita tidak mau belajar teori musik dan vokal, tetapi ingin masuk televisi. Kita tidak mau belajar hal-hal yang penting dari Tuhan, tetapi ingin langsung menjadi hamba Tuhan yang menonjol. Itu adalah jalan pintas, dan jalan pintas ini adalah hal yang melawan kehendak Allah.

    Tidak ada jalan yang pendek. Yang ada adalah menurut jalan yang sudah ditetapkan dalam prinsip-prinsip Alkitab! Jika Allah mau memakai jalan pendek, mudah sekali Ia menyelamatkan kita. Kuasa-Nya terlalu besar. Tetapi tidak ada jalan pintas dalam rencana Allah. Ia harus mengutus Tuhan Yesus masuk ke dalam dunia melalui proses dilahirkan oleh anak dara, menjadi bayi, dibesarkan lewat makanan, menjadi dewasa, dan menyerahkan tubuh-Nya untuk disalib.

    Saya tidak mau langsung masuk ke dalam hal praktis, oleh karena saya mau mempersiapkan zaman ini menjadi generasi yang bertanggung jawab, yang belajar baik-baik di hadapan Tuhan. Itu panggilan yang tidak boleh saya tolak. Gereja didirikan bukan untuk hura-hura, tetapi mempersiapkan generasi yang memiliki prinsip yang ketat dan konsisten terhadap Firman Tuhan.

    Mungkinkah kita mengenal kehendak Allah? Manusia mungkin mengenal kehendak Allah! Jika manusia menganggap tidak mungkin mengenal kehendak Allah, itu berarti kita sudah menerima pandangan yang salah dari filsafat Skeptisisme dan Agnostisisme yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengenal realitas yang terakhir. Itu bukan ajaran Kristen!

    Jikalau manusia tidak mungkin mengenal kehendak Allah, maka Allah tidak perlu mewahyukan Alkitab kepada kita. Allah tidak perlu susah payah melewati 1600 tahun dengan 40 orang nabi dan rasul mencatatkan kehendak-Nya bagi kita masing-masing. Tetapi sekarang, banyak orang Kristen yang menginginkan jalan pintas, tidak mau membaca Kitab Suci, tetapi langsung mencuplik ayat sana-sini. Orang yang demikian, tidak mungkin mengenal kehendak Allah dengan tepat dan total.

  2. Mengenal Kehendak Allah Secara Total.

    Apa yang Allah inginkan agar manusia mengerti kehendak dan rencana-Nya secara total?

    1. Menjadi murid yang mau mendengar dan taat.

      Telinga kita bukan cuma untuk mendengar musik rock, gosip, teori manusia, dan berita tiap hari yang tidak ada habisnya. Itu adalah hal yang lebih remeh dan tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah mendengar Firman Tuhan dan prinsip-prinsip Alkitab untuk mengenal rencana Allah secara total. Utamakanlah segala potensi Saudara berfungsi untuk mengerti rencana Allah yang benar.

      Nabi Yesaya mengatakan, "Berikanlah padaku lidah yang mau diajar." (Bdk. Yesaya 50:4). Mengapa tidak dikatakan "lidah yang pandai mengajar?" Bukankah itu dibutuhkan oleh seorang nabi? Maksudnya di sini, seorang yang mau mengajar harus diajar lebih dulu, seorang yang mau memberitakan Firman harus lebih dulu peka mendengar suara Tuhan.

      Saya dilahirkan dalam suasana yang tidak baik. Saya lahir dalam suasana perang, tidak lama kemudian ayah saya meninggal, sehingga saya tumbuh sebagai anak yang minder. Tetapi, setelah dewasa, sebagai seorang pemberita Injil, saya menjadi berani. Selama menjadi pendeta saya gentar, karena harus baik-baik mendengar Firman Tuhan yang akan saya sampaikan untuk memenuhi kebutuhan rohani Saudara. Saya harus taat lebih dulu kepada Tuhan, itulah lidah yang mau menerima pengajaran.

      Jangan terlalu cepat melibatkan diri dalam pelayanan yang muluk-muluk tanpa memiliki iman yang sehat dan benar. Itu akan merusak iman orang lain. Alkitab mengingatkan, jangan banyak orang menjadi guru karena mereka akan menerima hukuman yang lebih berat (Yakobus 3:1). Bukannya saya mau menahan Saudara dari keberanian mengajar dan semangat pelayanan. Tetapi, tunggu dulu! Seperti Amanat Agung diberikan, tetapi harus menunggu sampai Roh Kudus turun (Kisah Para Rasul 1:4). Ini adalah paradoks, di satu pihak harus mengabar Injil, di pihak lain harus menunggu dulu; harus mengajar, tapi harus belajar dulu. Ini semua dilakukan untuk kepentingan kita masing-masing untuk menjadi hamba Tuhan yang stabil.

      Langkah pertama adalah menetapkan dulu untuk taat. Yesus Kristus berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak Allah, ia akan tahu bahwa ajaran-Ku berasal dari Bapa." (Yohanes 7:17)

      Pernyataan ini bertentangan dengan dua filsafat Tiongkok. Pertama, filsafat yang mengatakan: "Lebih mudah untuk tahu, tetapi menjalankan susah." Misalnya, orang yang berdagang, secara teori mungkin dia banyak tahu, tetapi begitu terjun dalam perdagangan, belum tentu bisa sukses.

      Yang kedua mengatakan: "Lebih mudah menjalankan, tetapi untuk mengetahui sesuatu itu tidak mudah." Misalnya, bayi menyusu dari ibunya. Ia tahu bagaimana menyusu, tapi ia tidak tahu bagaimana susu bisa menyehatkan dia. Jadi menurut Saudara, pendapat mana yang benar? Pendapat pertama atau yang kedua?

      Sadar atau tidak, kita sudah terjerumus di dalam salah satu pandangan ini. Namun, kedua pandangan ini ditolak oleh ayat di atas. Bukan karena tahu baru bisa menjalankan atau karena menjalankan akhirnya menjadi tahu. Tetapi, jika seseorang mau mengenal kehendak Allah, dengan niat mau menjalankannya, maka barulah ia akan tahu! Di sini, Kristus menetapkan kemauan yang taat mendahului hal mengetahui dan menjalankan. The will to know, the will to do, and the will to submit yourself to do the will of God is prior to the knowledge and to the practical action. Ini merupakan suatu ajaran yang besar sekali dan menjadi filsafat yang lebih tinggi dari filsafat manusia serta menjadi jaminan bahwa kita pasti mengetahui kehendak Allah.

      Allah tidak akan menyatakan pimpinan kehendak-Nya kepada mereka yang tidak berniat taat kepada Tuhan. Jikalau Saudara tidak berniat untuk taat kepada Tuhan dan hanya ingin bermain-main saja, Allah tidak akan memberitahukan kepada Saudara apa yang harus Saudara jalankan. Di dalam Allah, ada anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, tetapi tidak dijual murah. "The grace of God is free but not cheap." Kalimat ini diucapkan oleh Dietrich Boenhoefer yang dibunuh oleh Hitler.

      Begitu banyak orang menganggap Allah terlalu murah hati, sehingga bermain-main dan mengira Tuhan gampang mengampuninya. Allah kita seperti api yang menghanguskan. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati di hadapan-Nya. Jika kita mau sungguh-sungguh menjalankan kehendak Allah, maka Allah akan menyatakan kehendak-Nya. Kalau tidak, Allah akan membiarkan Saudara sembarangan menerima ajaran yang tidak beres dan seumur hidup engkau akan dibuang ke dalam tangan setan.

    2. Berada di dalam jalur Alkitab.

      Tidak mungkin ada sesuatu yang dikatakan kehendak Tuhan, tetapi bertentangan dan di luar jalur Kitab Suci. Apa yang dicantumkan dalam Kitab Suci merupakan patokan dan lingkar batasan di mana di dalamnya kita menemukan cara Tuhan memimpin kita. Tetapkan hati Saudara hanya mengerti Firman Tuhan di dalam Alkitab saja.

      Saya paling takut kalau melihat orang yang mengaku rohani, tetapi sebenarnya melawan prinsip-prinsip rohani; mereka yang sering mengatakan "ini kehendak Tuhan" justru kebanyakan tidak mengerti kehendak Tuhan. Mereka memakai Kitab Suci dan mengutip ayat-ayat, padahal di antara mereka ada yang sama sekali tidak mengerti Alkitab dengan baik. Itulah gejala-gejala yang berlainan dengan esensi kekristenan yang sejati.

      Jika Saudara mengaku mendapat mimpi dan ternyata mimpi itu tidak sesuai dengan Kitab Suci, buang mimpi itu! Pengalaman dan perasaan itu tidak boleh disamaratakan dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan lebih besar dari pengalaman manusia. Kebenaran yang memimpin pengalaman, bukan pengalaman memimpin kebenaran. Firman ini adalah kebenaran yang mengadili pengalaman manusia.

      Ada seseorang yang mendapat mimpi-mimpi luar biasa, kemudian mimpi-mimpi itu dilukiskan dan dipigurakan. Baginya, lukisan mimpi itu penting dan terus diingat, bahkan sampai ia lebih mementingkan lukisan itu daripada Alkitab. Ia berdoa kepada Tuhan di hadapan lukisan-lukisan ini karena merasa di situlah ia bisa betul-betul berkonsentrasi dalam berdoa. Ia berniat untuk mewariskan lukisan itu kepada keturunannya.

      Baginya, wahyu kepada nabi sejajar dengan wahyu lewat mimpinya. Bahkan yang didapatnya itu lebih sempurna, karena diberi belakangan. Saya katakan kepadanya, "Buang dan bakar lukisan itu supaya keturunanmu tidak menjadi bidat. Bawa mereka kembali kepada Alkitab."

    3. Jangan mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab.

      Kalau Saudara bertanya, "Bagaimana kalau Alkitab tidak memberitahu hal yang saya ingin tahu, misalnya tentang berjudi, merokok dan sebagainya?" Banyak hal yang tidak ditulis oleh Alkitab, namun bukan berarti kita boleh melakukan sesuatu dengan sembarangan. Alkitab memang tidak menyatakan berbagai hal secara jelas, tetapi tetap ada prinsip-prinsip yang diberikan. Paulus memberikan tiga prinsip Alkitab terhadap hal-hal yang demikian, yaitu:

      1. AKU BOLEH BERBUAT SEGALA SESUATU, TETAPI HARUS MEMULIAKAN ALLAH.
        Janganlah melakukan apa yang tidak memuliakan Allah, meskipun tidak dilarang oleh Alkitab! Pada prinsip pertama ini memang terlihat bahwa orang Kristen mempunyai kebebasan, tetapi kebebasan Kristen bukan kebebasan yang liar. Kebebasan Kristen harus berada di dalam jalur kebenaran, kesucian, keadilan, dan cinta kasih. Hal-hal ini melingkari kita, menjadi batasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

      2. APAKAH YANG SAYA LAKUKAN INI BERFAEDAH DAN MEMBANGUN ORANG LAIN?
        Satu kalimat saja bisa membangun atau menjatuhkan seseorang! Mulut kita harus hati-hati di dalam berkata-kata. Bukan karena kebebasan kita, maka kita boleh sembarangan saja. Tetapi, kebebasan yang sudah kita letakkan di bawah kedaulatan Tuhan Allahlah yang mengakibatkan saya harus memilih cara berbicara, berlaku dan berbuat sesuatu sehingga membangun orang lain. Jikalau apa yang hendak Saudara lakukan itu mempermalukan Allah dan merusak iman orang lain, bagaimanapun juga jangan lakukan itu, karena itu pasti bukan kehendak Allah.

      3. TIDAK ADA IKATAN YANG AKAN MEMBATASI ATAU MEMBELENGGU.
        Jika kita pergi ke suatu tempat, akhirnya tempat itu mengikat kita, jangan pergi ke situ lagi. Jika ada satu buku yang mengikat Saudara, berhentilah membaca buku itu. Kalau apa yang Saudara kerjakan telah merebut tempat yang seharusnya Tuhan bertakhta, jangan lakukan itu. Alkitab tidak mengatakan tidak boleh merokok, mengisap ganja atau mabuk-mabukan. Tetapi Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa kita tidak boleh terbelenggu oleh segala apapun yang kita kerjakan.

        Pertama kali Saudara merokok, mungkin karena diajak teman, atau tergiur iklan. Tetapi akhirnya Saudara terikat, kecanduan, dan tidak bisa berhenti. Tahukah Saudara bahwa sebatang rokok bisa membunuh tujuh ekor burung gelatik? Ingatlah: yang bermain-main dengan dosa justru akan dipermainkan oleh dosa!

      Di dalam cerita Tiongkok kuno, ada seseorang, setelah perang melewati perkebunan yang tidak bertuan lagi. Ia sangat haus, sementara di kebun itu banyak buah semangka. Temannya menyarankan untuk mengambil saja, karena tanah itu tidak ada pemiliknya. Tetapi ia tidak mau mengambil, karena sekalipun tanah itu tidak ada pemiliknya, di hatinya ada pemiliknya. Janganlah kita mau dikuasai oleh yang jahat, tetapi kita mau dikuasai oleh yang baik. Tidak ada tempat yang lebih aman daripada cara Tuhan memelihara kita masing-masing.

      Saya tidak mau Saudara bertindak ekstrim dalam menjalankan kehendak Allah. Maksudnya, kita tidak perlu sampai menjadi orang schizophrenik, tiap hari bertanya kepada Tuhan untuk hal-hal yang remeh, seperti harus pakai baju apa dan sebagainya. Yang penting prinsip-prinsip Alkitab tidak dilanggar.

      Orang Kristen hidup diberi kebebasan. Kita bukan hidup hanya berdasarkan larangan, tidak boleh ini dan itu, tetapi berdasarkan kesadaran untuk tidak mau melakukan hal-hal yang tidak Tuhan kehendaki.

    4. Sejahtera Kristus memerintah di dalam hati.

      Bagaimana kalau tiga prinsip ini tidak terlanggar, tetapi Saudara masih belum yakin kehendak Tuhan atau bukan? Kita masuk ke dalam prinsip ke-4, yaitu damai sejahtera Kristus memerintah hati Saudara atau tidak. Memang, prinsip-prinsip di atas tidak terlanggar, tetapi sewaktu ingin melakukannya kenapa hati merasa tidak tenang, ada ketegangan? Itu karena Roh Kudus adalah Roh yang hidup, Roh Kudus adalah Allah. Dan Allah yang sudah memberi hidup baru kepada Saudara adalah Allah yang bertanggung jawab memelihara hidup itu dalam diri orang yang sudah lahir baru. Roh Kudus akan memimpin orang itu seperti seorang ibu yang tidak akan membiarkan bayinya begitu saja. Ia akan terus menjaga bayi itu. Hati nurani kita yang sudah dibaharui dan dibersihkan oleh darah Yesus Kristus akan menjadi hati yang peka terhadap suara Roh Kudus. Kita harus memiliki kepekaan untuk taat kepada Tuhan. Paulus mengatakan, "Biarlah sejahtera Kristus memerintah hatimu." Maksudnya, waktu Saudara mengerjakan sesuatu, biarlah hatimu sejahtera. Kalau tidak sejahtera, jangan lakukan!

      Kalau ada orang yang mengatakan, "Saya selalu sejahtera melakukan segala sesuatu. Membunuh orang, rasanya sejahtera; menipu orang juga rasanya sejahtera saja." Hal ini terbentur pada dua hal:

      PRINSIP PERTAMA: bertekad bulat untuk taat.

      Orang yang melakukan segala sesuatu dengan sejahtera tanpa ketaatan, berarti orang itu berada di luar jalur kehendak Allah.

      PRINSIP KEDUA: 1Yohanes 3:20. Lakukan segala sesuatu, tetapi ingat bahwa Tuhan lebih besar dari hati kita.

      Yohanes memberikan prinsip yang penting sekali. Ketika Saudara melakukan suatu perbuatan salah pertama kali, mungkin merasa tidak sejahtera, tetapi semakin diulang, perasaan tidak sejahtera itu semakin berkurang, pada akhirnya Saudara melakukannya tanpa ada tuduhan dari hati nurani. Tetapi ingat bahwa Allah lebih besar dari hati kita. Maka, berlutut dan berdoalah kembali. Waktu berdoa lagi, sesuatu penyegaran ulang terjadi dan suara Tuhan akan bekerja dalam hatimu.

      Sejahtera Kristus adalah istilah khusus yang bersangkut paut dengan penganiayaan dalam menjalankan kehendak Allah. Pada waktu kita mau menjalankan kehendak Allah, kita mungkin akan mengalami penganiayaan atau kesulitan. Di sinilah sejahtera Allah memelihara Saudara. Dalam Yohanes 14:27; 16:33, dua kali Tuhan Yesus mengatakan bahwa di dalam Dia ada sejahtera yang berbeda dengan sejahtera dunia yang mau diberikan kepada para murid. Itu sebabnya, Yesus begitu tenang di kayu salib, bahkan Ia mendoakan para musuh-Nya. Setelah Kristus bangkit, Ia terus mengulang istilah ini kepada para murid.

      Damai sejahtera Kristus adalah suatu istilah khusus untuk mereka yang menjalankan kehendak Tuhan. Mereka akan mempunyai ketenangan dan damai yang tidak mungkin direbut siapapun. Sejahtera Kristus penting bagi mereka yang mau melayani dalam penderitaan. Kerjakan sesuatu dengan perintah dari sejahtera Kristus dalam hatimu.

    5. Proses pengujian.

      Waktu seseorang memutuskan untuk menikah, ia tetap perlu mencari kehendak Tuhan. Ia perlu berdoa dengan setia tanpa terpengaruh dengan unsur dari luar. Saya gambarkan: bila seseorang jatuh cinta, maka waktu ia berdoa, makin berdoa, makin yakin bahwa pilihannya itu adalah kehendak Allah. Karena ketika tutup mata yang terbayang adalah wajah orang yang dicintainya, sehingga ia makin merasa yakin ini adalah kehendak Tuhan. Tetapi, ketika ia mengatakan kepada pilihannya bahwa Tuhan berkehendak agar mereka berdua menikah, maka pilihannya itu perlu pula untuk merasa tahu bahwa Tuhan memang menghendaki demikian. Dalam hal ini jika benar itu adalah kehendak Allah, maka kedua belah pihak akan mengerti. Karena itu, jangan pakai istilah ini untuk menakut-nakuti orang yang kurang rohani. Kehendak Tuhan harus berkaitan dengan orang yang bersangkutan.

      Contoh: Eliezer mencari menantu untuk Abraham (Kejadian 24). Eliezer berdoa kepada Tuhan meminta pimpinan Tuhan dengan jelas, sehingga ia tidak salah mengambil keputusan. Eliezer berdoa, "Tuhan, di sini aku berdiri di dekat mata air, dan gadis-gadis kota ini datang keluar untuk menimba air. Tuhan tunjukkan siapa gadis yang rela memberikan air bagiku dan unta-untaku, sehingga aku tahu dialah yang Kau tentukan bagi Ishak."

      Apa yang didoakannya kemudian terjadi, di mana seorang gadis cantik bernama Ribka melakukan semua yang diminta Eliezer. Dengan demikian, Eliezer baru berani meminang gadis itu dan membawanya bagi Ishak. Eliezer tidak memaksa Ribka. Ia hanya meminta, kalau boleh Tuhan menggerakkan hati gadis ini. Kemudian hal yang luar biasa terjadi, Ribka dan keluarganya mau menerima pinangan Eliezer. Sekarang tinggal satu hal lagi, yaitu apakah Ishak sendiri mau menerima Ribka atau tidak. Alkitab mencatat reaksi Ishak dengan jelas, setelah melihat Ribka ia jatuh cinta dan mau mengambil Ribka menjadi istrinya. Di sini kita melihat semua pihak tidak ada yang berkontradiksi dengan pimpinan Tuhan satu sama lain.

      Dua puluh tahun yang lalu, di kota Semarang ada seorang wanita berkata kepada saya bahwa hidupnya begitu susah karena ia tidak mencintai suaminya. Tiap hari mereka bertengkar dan hidup seperti di dalam neraka, sehingga ia mau bunuh diri. Saya tanyakan mengapa ia dulu memutuskan mau menikah dengan pria itu. Ia katakan karena ada seorang pendeta yang mengaku dipenuhi Roh Kudus dan mendapat pimpinan Tuhan untuk menikahkan mereka berdua. Karena takut melawan kehendak Tuhan, akhirnya mereka mau dinikahkan, tapi tak pernah satu haripun mereka lalui dengan damai. Celakalah pendeta seperti ini, yang tidak mau membimbing dengan baik-baik, sehingga mengorbankan dua orang seumur hidup berada di dalam kesulitan.

      Jangan sembarangan menerima nasihat seperti itu. Alkitab mengatakan, ujilah apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Hati-hati kepada mereka yang memakai nama Tuhan tetapi telah merusak kekristenan dan iman banyak orang.

      Cari kehendak Allah dalam suatu pengujian. Tanpa proses pengujian ini kita tidak akan mengenal kehendak Allah dengan jelas. Kita akan menjadi orang yang sembrono dan menipu diri serta menipu orang lain.

    6. Berdiskusi dan rendah hati mencari pengertian dari mereka yang dewasa rohaninya.

      Carilah nasihat dari orang yang dewasa rohani. Meskipun ini tidak mutlak, namun baik untuk dilakukan. Coba dengarkan apa yang orangtua atau pembimbing rohani Saudara katakan, karena mereka setia berdoa bagi Saudara dan mengerti Firman Tuhan dengan baik. Mereka mempunyai pengalaman dan pertimbangan yang lebih banyak daripada Saudara. Biarlah mereka memberikan pandangan dan prinsip-prinsip yang penting, sehingga Saudara taat.

      Bukan berarti mereka 100% benar, karena orang rohani pun bisa salah. Tetapi, tidak ada ruginya kalau Saudara mau mendengarkan pandangan mereka. Dengan demikian, Saudara bisa menghindarkan diri dari jalan-jalan yang tidak berguna, dan tidak perlu menghamburkan waktu dan energi.

    7. Tunggu dan sabar terhadap waktu Tuhan.

      Waktu merupakan faktor yang terpenting. Mengapakah kita tidak betul-betul mengerti kehendak Tuhan? Karena sebelum waktu Tuhan sampai, Saudara sudah tidak sabar dan melangkahi Tuhan. Padahal, jika genap waktunya di dalam rencana Allah, maka pekerjaan Tuhan tidak akan salah. Mungkin kita harus menunggu bertahun-tahun sampai genap waktu Tuhan.

      Musa pada umur 80 tahun baru dipanggil oleh Tuhan. Ini tidak berarti ia menghambur waktu selama 80 tahun, tetapi 40 tahun berikutnya yang dijalani dalam hidupnya dapat ia pakai untuk melayani Tuhan dengan matang tanpa melakukan kesalahan yang besar. Meskipun ada cacat, tetapi tidak fatal.

      Yesus Kristus harus menunggu sampai berumur 30 tahun dan hanya melayani tiga setengah tahun lamanya. Sepertinya hal ini amat disayangkan. Bukankah kalau Kristus memulai pelayanan pada umur 16 tahun, Ia bisa dipakai lebih banyak? Tidak bisa! Itu adalah waktu Tuhan sendiri. Kadang-kadang, semua prinsip sudah kita jalankan dan tidak ada yang terlanggar, tetapi kita mesti menunggu sampai suatu hari kita akan jelas mengerti waktu Tuhan untuk bertindak.

      Alangkah indahnya jika hidup Saudara mulai digarap Tuhan. Meskipun belum jelas tahu kehendak Tuhan, tetapi jika Saudara mau sungguh-sungguh taat kepada Tuhan dan mengetahui prinsip Alkitab dengan jelas, maka beranilah melangkah!

Kutipan Ayat-ayat Alkitab:

  1. 1Yohanes 3:19,20
    Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.

  2. Kolose 3:15
    Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh dan bersyukurlah.

  3. 1Korintus 6:12
    Segala sesuatu halal bagiku tetapi bukan semuanya berguna, segala sesuatu halal bagiku tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
    Terj. lain:
    Saya boleh berbuat segala sesuatu, karena tidak ada larangan bagiku untuk berbuat segala sesuatu, tetapi bukan berarti segala sesuatu yang saya perbuat ada faedahnya bagiku. Waktu saya mengerjakan sesuatu saya tidak boleh diikat oleh apa yang saya perbuat.

  4. 1Korintus 10:23,24,31
    "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. Aku menjawab. Jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan segala sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

  5. Yohanes 7:17
    Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah entah Aku berkata kata dari diri-Ku sendiri.
    Terj. lain:
    Barangsiapa yang berkehendak untuk menjalankan kehendak Allah, pasti ia mengakui ajaran-Ku ini berasal dari Bapa, bukan dari diri-Ku sendiri.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku:Mengetahui Kehendak Allah
Judul:Langkah-langkah Mencari Kehendak Allah
Penulis:Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit:Pusat Literatur Kristen Momentum - 1999
Hal:169 - 182

Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Semoga Anda semua baik-baik saja dan menikmati anugerah sukacita dari Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merenungkan tentang apa artinya spiritualitas. Hal ini bermula dari rasa penasaran karena pada kenyataannya tidak hanya para teolog atau orang beragama saja yang membicarakan tentang spiritualitas, tapi juga para intelektual (contohnya pencetus ide SQ -- Spiritual Intelligence). Sayangnya, rasa penasaran saya itu cepat sekali lenyap ketika mengetahui bahwa ternyata yang dimaksud dengan 'spiritual intelligence' tidak harus dihubungkan dengan hal-hal agamawi atau rohani, atau bahkan Tuhan. Menurut mereka, orang yang memiliki kecerdasan spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki agama atau tahu menahu tentang hal-hal rohani, apalagi mempercayai adanya Tuhan. Nah makanya jangan mudah terkecoh dengan istilah yang keren.

Namun, rasa penasaran saya kembali tertantang ketika melihat lunturnya semangat kaum Injili dalam menanggapi isu-isu tentang spiritualitas Kristen yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak lagi terdengar suara-suara orang Injili yang dapat menjadi tonggak dimana orang-orang Kristen bisa menambatkan perhatiannya sehingga terus menghargai keunikan spiritualitas Injili .... Saya tiba-tiba tersentak, ketika menyadari bahwa, mungkin, kalau kita tidak hati-hati, mungkin saja kita bisa kehilangan satu generasi orang Kristen yang tidak lagi menghargai, atau bahkan lebih parah lagi, mengenal apa itu semangat Injili, spiritualitas Injili ...?!

Ketika saya bertanya pada diri sendiri 'Apa yang bisa saya lakukan untuk generasi saya? Maka salah satu jawaban yang muncul adalah saya ingin terus menyuarakan kembali suara-suara kaum Injili. Inilah tujuan saya memilih artikel Stanley J. Grenz berikut ini. Saya harap melalui tulisan ini kita semua diingatkan lagi tentang "warisan" keyakinan yang sangat berharga, yang dibangun oleh para leluhur rohani kita sebelumnya, yang telah menggumuli poin-poin penting spiritualitas Injili yang penting untuk dilestarikan. Tulisan Stanley J. Grenz di bawah ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kita meneruskan semangat kaum Injili, misalnya dengan cara meninjau ulang agar menjadi semakin tajam dan aplikatif bagi generasi kita sekarang dan menjadi inspirasi bagi generasi anak-anak kita yang akan datang.

Mari kita suarakan kembali semangat Kaum Injili!

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Semoga Anda semua baik-baik saja dan menikmati anugerah sukacita dari Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merenungkan tentang apa artinya spiritualitas. Hal ini bermula dari rasa penasaran karena pada kenyataannya tidak hanya para teolog atau orang beragama saja yang membicarakan tentang spiritualitas, tapi juga para intelektual (contohnya pencetus ide SQ -- Spiritual Intelligence). Sayangnya, rasa penasaran saya itu cepat sekali lenyap ketika mengetahui bahwa ternyata yang dimaksud dengan 'spiritual intelligence' tidak harus dihubungkan dengan hal-hal agamawi atau rohani, atau bahkan Tuhan. Menurut mereka, orang yang memiliki kecerdasan spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki agama atau tahu menahu tentang hal-hal rohani, apalagi mempercayai adanya Tuhan. Nah makanya jangan mudah terkecoh dengan istilah yang keren.

Namun, rasa penasaran saya kembali tertantang ketika melihat lunturnya semangat kaum Injili dalam menanggapi isu-isu tentang spiritualitas Kristen yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak lagi terdengar suara-suara orang Injili yang dapat menjadi tonggak dimana orang-orang Kristen bisa menambatkan perhatiannya sehingga terus menghargai keunikan spiritualitas Injili .... Saya tiba-tiba tersentak, ketika menyadari bahwa, mungkin, kalau kita tidak hati-hati, mungkin saja kita bisa kehilangan satu generasi orang Kristen yang tidak lagi menghargai, atau bahkan lebih parah lagi, mengenal apa itu semangat Injili, spiritualitas Injili ...?!

Ketika saya bertanya pada diri sendiri 'Apa yang bisa saya lakukan untuk generasi saya? Maka salah satu jawaban yang muncul adalah saya ingin terus menyuarakan kembali suara-suara kaum Injili. Inilah tujuan saya memilih artikel Stanley J. Grenz berikut ini. Saya harap melalui tulisan ini kita semua diingatkan lagi tentang "warisan" keyakinan yang sangat berharga, yang dibangun oleh para leluhur rohani kita sebelumnya, yang telah menggumuli poin-poin penting spiritualitas Injili yang penting untuk dilestarikan. Tulisan Stanley J. Grenz di bawah ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kita meneruskan semangat kaum Injili, misalnya dengan cara meninjau ulang agar menjadi semakin tajam dan aplikatif bagi generasi kita sekarang dan menjadi inspirasi bagi generasi anak-anak kita yang akan datang.

Mari kita suarakan kembali semangat Kaum Injili!

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
Stanley J. Grenz
Edisi: 
051/VI/2004
Isi: 

Disadur dari buku Stanley J. Grenz Revisioning Evangelical Theology: A Fresh Agenda for the 21th Century Downers Grove, Illinois: IVP, 1993. Hal. 31-59

Lane Dennis mengatakan bahwa ciri khas Kaum Injili adalah penekanannya pada keselamatan yang dialami secara pribadi -- komitmen kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya (pribadi). Kehebatan gerakan ini adalah mempersatukan pengalaman religius dengan bahasa teologis yang sama. Pengertian tentang natur Injili ini menunjukkan perubahan mendasar dari kesadaran Kaum Injili. Perubahan identitas yang berdasar pada pengakuan iman menuju kepada identitas yang berdasarkan spiritualitas.

William W. Wells menyatakan tiga karakteristik unik Gerakan Injili ini: orang Kristen Injili mempercayai otoritas Alkitab; menekankan pengampunan Allah dan hubungan pribadi yang indah dengan Allah melalui Kristus; dan menekankan perjuangan untuk hidup suci melalui disiplin rohani. Meskipun Gerakan Neo-Injili tetap berpegang kepada otoritas Alkitab, penekanan sekarang lebih kepada aspek spiritualitas, yang sebelumnya sering terselubungi oleh dimensi intelektual atau doktrinal.

Penekanan kepada dimensi spiritualitas sebenarnya sejalan dengan sejarah Gerakan Injili itu sendiri. Sebelum abad kedua puluh, Puritanisme dan Pietisme memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Gerakan Injili ini. Puritanisme membangkitkan suatu bentuk kesalehan hidup sebagai respon terhadap Doktrin Pilihan dari Calvinisme. Calvinisme meletakkan keselamatan manusia dalam konteks pilihan Allah yang bersifat misteri. Meskipun teologi ini memelihara kedaulatan Allah, manusia menjadi tidak mempunyai kepastian bahwa dia memiliki status sebagai orang pilihan atau tidak. Karena itu, tidak ada pengakuan iman yang sungguh, tidak ada kesetiaan mengikuti sakramen, maupun serangkaian hidup yang suci, yang dapat menjamin bahwa seseorang merupakan umat pilihan Allah. Di tengah-tengah ketidakpastian inilah kaum Puritan menemukan satu tanda umat pilihan: pengalaman rohani secara pribadi terhadap anugerah keselamatan Allah. Dengan demikian, kepastian status pilihan menjadi bergantung kepada kemampuan seseorang menceritakan pengalaman pertobatannya. Lebih lagi, penekanan kembali kepada hal-hal yang bersifat spiritual ini merupakan pengaruh dari gerakan Pietis, khususnya keinginan mereka untuk mereformasi hidup dan bukan mereformasi doktrin.

Karena itu, seperti John Wesley katakan, titik temu antara Pietisme dan Gerakan Injili adalah pada: panggilan hidup baru, buah-buah rohani, dan suatu hidup yang berbeda dengan kemalasan gereja dan anggota-anggotanya yang sangat duniawi. Kaum Injili bersifat pietist dalam hal fokusnya pada dinamika kehadiran Kristus dalam hidup orang percaya. Hal ini menandai pergeseran dari gerakan sebelumnya yang menekankan pada aktivitas (doing), kepada hal-hal yang bersifat kontemplasi (being). Pembahasan lebih lanjut akan difokuskan kepada keunikkan spiritualitas Kaum Injili.

Menuju Pengertian Spiritualitas Injili

Salah satu definisi ´spiritualitas´ yang cukup baik diberikan oleh Robert Webber:

"Secara luas, spiritualitas dapat didefinisikan sebagai hidup yang sesuai dengan hidup Kristus. Hidup yang menyadari bahwa karya salib Kristus membuat kita menjadi warga negara sorga, dan sorgalah yang menjadi tujuan hidup kita di dunia. Perjalanan hidup ini dikerjakan dalam konteks kita sebagai anggota tubuh Kristus. Melalui ibadah kepada Allah, spiritualitas kita terus menerus dibentuk. Dan misi kita di dunia adalah untuk memberitakan visi Kristen melalui perkataan dan tindakan kita."

Karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah suatu perjuangan mengejar kesucian di bawah pimpinan Roh Kudus bersama-sama dengan seluruh orang percaya. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus.

Sesuai dengan ajaran Paulus dalam 1Korintus 2:14-3:3, Kaum Injili sangat menekankan akan ´pola pikir rohani´ yang dikontraskan dengan manusia duniawi. Dengan menggabungkan salib dan Pentakosta -- yaitu bergantung pada kemenangan Kristus dan kehadiran Roh Kudus -- Kaum Injili menjalani hidup yang disebut oleh Watchman Nee sebagai ´the Normal Christian life´, yaitu hidup yang semakin serupa dengan Kristus yang ditandai dengan ketaatan total kepada kehendak Allah. Dengan demikian Kaum Injili selalu menekankan hidup yang berkemenangan melalui peperangan melawan kuasa setan, manusia lama, dan dunia. Dan dengan kuasa Roh Kudus mengalahkan musuh-musuh rohani orang percaya.

Kita dapat melihat bahwa inti dari spiritualitas Injili adalah suatu usaha untuk menyeimbangkan dua prinsip yang kelihatan bertentangan, yaitu: bagian dalam dari manusia (inward) dengan bagian luar (outward), dan dimensi kesucian personal dengan komunal.

Keseimbangan Antara Inward dan Outward

Spiritualitas Kaum Injili mencoba menyeimbangkan kesucian hati dan aktivitas pelayanan. Hati orang percaya harus dipenuhi dengan kasih kepada Yesus Kristus. Komitmen ini lebih dari sekedar pengetahuan tentang karya Kristus dalam sejarah atau menerima doktrin tentang Kristus. Tetapi adanya suatu hubungan pribadi yang dekat dengan Yesus yang bangkit dan hidup. Karena itu, bagian dalam dari manusia (inward) merupakan fondasi dari spiritualitas. Akibatnya, Kaum Injili lebih tertarik kepada respon pribadi seseorang kepada Yesus daripada kemampuan mereka untuk memformulasikan atau menghafalkan pernyataan doktrinal tentang Yesus.

Kaum Injili juga lebih mementingkan motivasi hati dalam mengikuti ibadah dan perjamuan kudus daripada sekedar memenuhi kewajiban itu secara eksternal. Ibadah eksternal tanpa kesadaran internal hanya merupakan ritual yang mati. Karena itu, Kaum Injili tidak datang ke gereja demi memenuhi tuntutan ibadah secara eksternal, tetapi karena dorongan hati untuk memuliakan Allah dan bersekutu bersama umat percaya. Kita termotivasi dari dalam hati dan bukan dipaksa dari luar untuk menghadiri ibadah bersama. Sikap seperti ini dinyatakan dengan suatu pujian dari dari hati, "I´m so glad, I´m a part of the family of God."

Dalam kaitan dengan ini, spiritualitas Injili juga sangat menekankan pengalaman religius dalam hidup orang percaya. Penekanan ini berasal dari Gerakan Pietisme yang sangat menekankan teologi lahir baru yang bersumber pada Injil Yohanes: ´Iman harus menjadi nyata dalam pengalaman! Iman harus mentransformasi hidup!´ Pengalaman lahir baru merupakan bagian sentral dan titik awal perjalanan hidup orang percaya bersama Tuhan, yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Tetapi kelahiran baru ini harus diikuti dengan perjalanan spiritual pribadi yang ditandai dengan pertumbuhan dalam kesucian. Di hadapan Kaum Injili, James Houston menggambarkan spiritualitas sebagai,

´The outworking ... of the grace of God in the soul of man, beginning with conversion to conclusion in death or Christ´s second advent. It is marked by growth and maturity in a Christlike life.´[1] (Karya anugerah Allah dalam jiwa manusia, yang dimulai dengan kelahiran baru dan diakhiri dengan kematian atau kedatangan Kristus ke dua kali. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan dan kedewasaan dalam hidup seperti Kristus.)

Penekanan pada inward, sangat sentral dalam spiritualitas Injili dan akan membentuk ketegangan kreatif ketika digabungkan dengan bagian luar (outward) dari hidup Kristen. Spiritualitas memang bersumber pertama-tama dari dalam hati, tetapi hidup Kristen juga berarti pemuridan. Dan pemuridan bersifat outward. Faktanya, spiritualitas sejati harus dinyatakan dalam perbuatan yang kelihatan. Perubahan hati harus dinyatakan dalam hidup yang nyata. Tetapi perbuatan nyata ini bukan untuk mendapatkan anugerah Allah, melainkan sebagai wujud dari kerinduan kita untuk mengikuti jejak kaki Yesus. Natur dari kehidupan spiritualitas adalah meneladani Yesus (the imitation of Christ). Pemuridan berarti mengikuti model yang telah dinyatakan dalam hidup Yesus, karena orang Kristen sejati akan merefleksikan karakter Yesus dalam hidupnya.

Pengertian ini mempengaruhi Kaum Injili dalam memandang sakramen. Kita menolak pandangan ekstrem dari sakramentalisme maupun penghapusan sakramen. Di satu sisi, kita menolak memandang sakramen sebagai suatu alat magis untuk mendapatkan anugerah Allah (sakramentalisme), tetapi di lain sisi kita juga tidak membuang sakramen. Kita memandang sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus) sebagai suatu ibadah yang sangat penting untuk mengekspresikan secara fisik apa yang sudah dikerjakan Allah di dalam hati. Sakramen merupakan tanda yang kasat mata dari anugerah Allah yang tidak kasat mata.

Penekanan Kaum Injili tentang pemuridan sebagai meneladani Kristus juga mempengaruhi pengertian kita tentang kehidupan gereja. Kita menekankan mengikut Kristus sebagai suatu ibadah setiap hari dan bukan hanya ibadah hari minggu. James Houston menekankan bahwa kekristenan bukanlah suatu acara khusus, tetapi merupakan gaya hidup (life style). Sikap seperti ini mengakibatkan motivasi utama untuk menghadiri ibadah bersama adalah untuk diajar, didorong, dan dikuatkan untuk memiliki gaya hidup yang berkenan kepada Allah. Poin yang terus-menerus ditekankan pada ibadah Minggu adalah: ´Jika engkau adalah orang percaya, hidup suci harus menjadi nyata bukan hanya pada hari Minggu tetapi dari Minggu sampai Sabtu. Apa yang Anda dengar pada hari Minggu harus diterjemahkan dalam perbuatan sepanjang minggu. Jika tidak demikian, imanmu hanya merupakan iman hari Minggu.´

Dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Injili mencoba menyeimbangkan dimensi dalam dan dimensi luar dari hidup Kristen. Kita mencoba menyeimbangkan hati yang hangat oleh kasih kepada Allah dengan hidup yang mengikuti teladan Yesus. Kita memprioritaskan dimensi dalam sebagai sumber dari dimensi luar, tetapi kita menganggap dimensi dalam mati jika tidak menghasilkan ekspresi luar yang seharusnya dalam hidup pemuridan. Lagu yang sering kita nyanyikan mengekspresikan dengan baik kedua dimensi ini, ´Trust and obey, for there´s no other way, to be happy in Jesus, but to trust and obey.´

Keseimbangan Personal dan Komunal

Kekudusan hidup di antara Kaum Injili biasanya hanya dimengerti secara individu. ´Membaca Alkitab´ berarti membaca secara pribadi; ´berdoa´ berarti berdoa secara pribadi; ´keselamatan´ berarti diselamatkan secara pribadi; ´hidup dalam Kristus´ berarti memiliki hubungan pribadi dengan Kristus. Seperti dikatakan Daniel Stevick: "Perjalanan Kristen dijalani sendiri, keselamatan dari Allah ditujukan kepada pribadi. Pertolongan-Nya selalu dalam konteks pribadi. Perjalanan diisi dengan penyucian secara pribadi dan tujuannya adalah istana yang dibangun bagi pribadi."[2]

Dalam pengertian tertentu, karakteristik yang digambarkan ini memang cukup tepat. Namun, pendekatan Kaum Injili terhadap perjalanan iman orang percaya secara pribadi tidak pernah dilihat sebagai bagian yang terisolasi, melainkan selalu dilihat dalam konteks persekutuan orang percaya. Di sinilah terdapat keseimbangan antara kehidupan personal dan komunal dari hidup spiritualitas.

Jelas kita mengerti spiritualitas Kristen sebagai sesuatu yang bersifat individu atau personal. Kelahiran baru dan pertumbuhan iman harus pertama-tama dialami secara individu. Masing-masing orang percaya harus bertanggung jawab terhadap spiritualitasnya secara pribadi. Setiap individu bertanggung jawab untuk hidup suci dan meneladani Kristus.

Penekanan pada tanggung jawab pribadi ini sejalan dengan prinsip tradisional Prostestan tentang keimamatan orang percaya dan terutama penekanannya mengenai ´kompetensi individu´. Prinsip kompetensi individu menyatakan bahwa setiap pribadi bertanggung jawab secara pribadi kepada Allah dan dengan pertolongan Roh Kudus mampu berespons secara pribadi kepada Allah. Prinsip ini memberikan implikasi penting bagi spiritualitas. Hal ini berarti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diperdamaikan dengan Allah oleh orang lain ataupun oleh gereja. Tidak seorang pun dapat mengklaim dirinya sebagai orang Kristen berdasarkan iman orangtua, karena melakukan ritual tertentu, lahir dalam negara tertentu, atau bahkan karena beragama tertentu. Kaum Injili biasanya mengatakan: ´Allah hanya mempunyai anak-anak, tetapi tidak mempunyai cucu.´ Karena itu para penginjil selalu menekankan: ´Keputusan untuk menerima Kristus atau menolak-Nya ada padamu; tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya bagimu.´ Penekanan ini sangat jelas pada lagu yang begitu terkenal: ´Manis lembut, Tuhan Yesus memanggil. Memanggil saya dan kau ... pulang, pulang, kau yang berlelah pulang.´

Karena spiritualitas adalah persoalan pribadi, Kaum Injili sangat menekankan disiplin rohani sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani. Disiplin dalam membaca Alkitab setiap hari dengan apa yang disebut sebagai ´saat teduh´; bersaksi secara pribadi; dan juga hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghadiri kebaktian secara rutin.

Penekanan pada aspek personal ini juga mempengaruhi strategi dalam misi Kaum Injili. Dalam abad-abad permulaan kekristenan mulai tersebar di luar Kerajaan Romawi ke daerah-daerah yang masih belum tersentuh peradaban. Para misionaris biasanya memfokuskan pemberitaan Injil kepada para pemimpin suku atau raja, sehingga ketika pemimpin ini dibaptis, seluruh rakyatnya juga ikut dibaptis. Kaum Injili sangat kuatir bahwa strategi ini hanya menghasilkan kekristenan yang bersifat pura-pura, dangkal dan bahkan bisa bersifat sinkretistik. Meskipun tidak menolak peran penting yang dimiliki para pemimpin, Kaum Injili sangat menekankan Injil yang diberitakan kepada setiap individu. Karena kita mengerti bahwa spiritualitas adalah tugas dari setiap pribadi.

Meskipun sangat menekankan dimensi personal bagi spiritualitas orang Kristen, Kaum Injili juga menyeimbangkannya dengan dimensi komunal atau korporat. Tidak ada seorang pun dapat hidup dan bertumbuh dalam mengikuti Yesus dalam isolasi. Tetapi setiap kita harus bersekutu supaya dapat bertumbuh secara dewasa. Analogi yang sering digunakan adalah bara api. Bara api akan saling membakar ketika dikumpulkan bersama. Tetapi ketika satu bara api dikeluarkan dari kelompoknya, dia akan segera padam dan menjadi dingin. Begitu juga hidup Kristen: orang Kristen yang menarik diri dari komunitas orang percaya akan sulit untuk bertumbuh dan cepat menjadi dingin. Tetapi ketika bersekutu bersama, orang Kristen akan saling mendukung dan dengan demikian akan terus hidup dan berapi-api bagi Tuhan.

Jadi dalam pandangan Kaum Injili, meskipun setiap orang bertanggung jawab atas pertumbuhan imannya sendiri, setiap orang juga bergantung kepada kelompok orang percaya. Setiap orang percaya membutuhkan dorongan dan nasihat dari saudara-saudara seiman lainnya.

Pandangan ini memberikan pengertian yang penting mengenai gereja. Jemaat gereja lokal harus merupakan suatu komunitas yang saling menasihatkan, mendukung, dan mengajar satu dengan yang lainnya. Lebih jauh, setiap anggota dari persekutuan orang percaya harus terlibat dalam tugas-tugas yang dikerjakan bersama. Kita terpanggil bukan saja untuk beribadah bersama, tetapi juga untuk masuk menjadi bagian dari kehidupan keseharian anggota yang lain. Dengan demikian, setiap orang berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan komunitas Kristen. Inilah esensi dari jemaat lokal dalam pandangan Injili.

Prinsip bahwa setiap orang percaya perlu bersekutu dengan yang lainnya menghasilkan suatu penekanan klasik Injili terhadap kehadiran dalam kebaktian. Kita harus hadir dalam kegiatan-kegiatan gerejawi secara bersama. Tetapi tujuan penekanan ini berbeda dengan gereja-gereja liturgikal. Kita tidak melihat kehadiran dalam kegiatan gereja sebagai sarana mendapat anugerah, tetapi dalam perkumpulan orang percaya inilah pengajaran dan kekuatan dinyatakan.

Pengertian di atas memberikan dampak terhadap apa yang dianggap paling penting dalam ibadah Minggu. Roma Katolik menekankan perjamuan kudus dalam ibadah, sedangkan gereja-gereja Injili memfokuskan ibadah Minggu pada pemberitaan Firman Tuhan. Di atas segalanya, kita datang untuk mendengar kotbah, yang kita pandang sebagai sarana utama manusia bertemu dengan Allah. Kita mendengarkan kotbah dengan kerinduan untuk mendengar ´Allah sedang berkata-kata kepada saya secara pribadi´. Sebagai akibatnya, kita mendapat peringatan, kekuatan, dan bahkan arahan hidup melalui kehadiran kita dalam ibadah bersama. Kita berkumpul untuk mendengar Firman (Word), supaya kita bisa tersebar sebagai umat Allah di tengah-tengah dunia (world).

Tetapi akhir-akhir ini Kaum Injili memiliki pengertian yang lebih dalam lagi mengenai kepentingan ibadah bersama sebagai elemen yang sentral di samping kotbah. Salah satu pemimpin dalam hal ini adalah Robert Webber yang mengatakan:

´Worship is the rehearsal of our relationship to God. It is at that point through the preaching of the Word and through the administration of the sacrament, that God makes himself uniquely present in the body of Christ. Because worship is not entertainment, there must be a restoration of the incarnational understanding of worship, that is, in worship the divine meets the human. God speaks to us in his Word. He comes to us in the sacrament. We respond in faith and go out to act on it!´[3] (Ibadah adalah gladi-bersih dari hubungan kita dengan Allah. Pada titik itulah melalui pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen, Allah hadir secara khusus dalam tubuh Kristus. Karena ibadah bukan merupakan hiburan, harus ada pengertian baru dari ibadah yang bersifat inkarnasi, yaitu Allah bertemu dengan manusia dalam ibadah. Allah berbicara kepada kita melalui Firman. Dia datang kepada kita dalam sakramen. Kita berespon dengan iman dan keluar untuk hidup sesuai dengan itu!)

Seperti dikatakan Webber, penekanan pada ibadah bersama bukan berarti meniadakan sentralitas kotbah dalam ibadah Minggu. Tetapi hal ini lebih merupakan suatu usaha untuk kembali mendapat keseimbangan yang lebih baik demi menjalankan tugas gereja dengan lebih efektif.

Di tengah-tengah penekanan Injili untuk ´menemukan pelayanan dalam gereja´, kita mendiskusikan interaksi yang penting antara dimensi personal dan korporal dari iman Kristen. Kita mendorong setiap individu untuk ´menemukan pelayanan´ dalam konteks gereja lokal. Dan hal ini jelas berkaitan dengan dimensi korporal dari spiritualitas Kristen. Sewaktu kita terlibat pelayanan dalam komunitas Kristen, kita berpartisipasi dalam tugas mendorong pertumbuhan orang lain dan juga secara tidak langsung kepada diri kita sendiri. Keterlibatan dalam hidup orang lain merupakan kesempatan untuk mendorong, menasihati, dan memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi tujuannya lebih dari itu: supaya mereka yang menerima pelayanan bisa bertumbuh dewasa secara rohani dan kemudian akhirnya ikut melayani anggota lain dalam tubuh Kristus.

Pandangan ini berimplikasi pada eklesiologi. Bagi kita, gereja adalah persekutuan orang percaya, persekutuan murid Kristus, komunitas orang- orang yang dengan serius bertanggung jawab secara pribadi bagi spiritualitasnya dan pada saat yang sama terjun dalam pelayanan untuk mendorong pertumbuhan rohani secara korporal. Kaum Injili yang bertanggung jawab bernyanyi bersama: ´Kami akan berjalan bersama, kami akan berjalan bergandengan tangan.´ Karena jalan spiritualitas adalah jalan yang mengikat setiap individu bersama-sama. (BS)

[1] James M. Houston, "Spirituality" in The Evangelical Dictionary of Theology, ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1984),1047.
[2] Daniel B. Stevick, Beyond Fundamentalism (Richmond, Va: John Knox Press, 1964),127.
[3] Robert Webber, The Majestic Tapestry (Nashville: Thomas Nelson,1986),129.
Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku: Momentum, Edisi 44, Triwulan III/Oktober 2000
Judul Artikel: Spiritualitas Injili: Suatu Tinjuan Ulang
Penulis: Stanley J. Grenz
Penerjemah : -
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman: 29-36

Postmodernis Cilik

Dear e-Reformed Netters,

Sebelum saya sendiri memiliki anak, saya tidak pernah membayangkan bahwa ternyata anak-anak itu bukan hanya malaikat-malaikat kecil, tapi mereka adalah filosof-filosof kecil. Jika kita cukup peka mengamati apa yang mereka katakan, apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka lakukan, maka kita akan sering dikejutkan dengan kepolosan pandangan mereka terhadap dunia sekelilingnya. Ternyata mereka sangat sensitif. Tapi, pernah tidak kita meluangkan waktu memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari anak-anak kita itu?

Tulisan J. Mack Stiles yang saya sajikan untuk Publikasi e-Reformed bulan ini membuktikan bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari anak kecil, ... kalau kita mau .... :( J. Mack Stiles adalah Direktur Regional InterVarsity Christian Fellowship di kawasan Amerika Tenggara yang tinggal di Lexington, Kentucky. Ketiga anak laki- lakinya, Tristan, David, dan Isaac, memberi inspirasi bagi bukunya yang berjudul: 17 HAL YANG DIAJARKAN ANAKKU TENTANG ALLAH. (Salah satu hal tersebut dapat Anda simak melalui artikel di bawah ini).
Nah, selamat membaca dan merenungkan.

In Christ,
Yulia Oen selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sebelum saya sendiri memiliki anak, saya tidak pernah membayangkan bahwa ternyata anak-anak itu bukan hanya malaikat-malaikat kecil, tapi mereka adalah filosof-filosof kecil. Jika kita cukup peka mengamati apa yang mereka katakan, apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka lakukan, maka kita akan sering dikejutkan dengan kepolosan pandangan mereka terhadap dunia sekelilingnya. Ternyata mereka sangat sensitif. Tapi, pernah tidak kita meluangkan waktu memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari anak-anak kita itu?

Tulisan J. Mack Stiles yang saya sajikan untuk Publikasi e-Reformed bulan ini membuktikan bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari anak kecil, ... kalau kita mau .... :( J. Mack Stiles adalah Direktur Regional InterVarsity Christian Fellowship di kawasan Amerika Tenggara yang tinggal di Lexington, Kentucky. Ketiga anak laki- lakinya, Tristan, David, dan Isaac, memberi inspirasi bagi bukunya yang berjudul: 17 HAL YANG DIAJARKAN ANAKKU TENTANG ALLAH. (Salah satu hal tersebut dapat Anda simak melalui artikel di bawah ini).
Nah, selamat membaca dan merenungkan.

In Christ,
Yulia Oen

Edisi: 
050/V/2004
Isi: 

Anak saya Isaac, sewaktu berusia 23 bulan dan masih terlalu kecil untuk memahami hari-hari dalam seminggu, telah mulai menyadari suatu pola di sekitarnya: panekuk berarti hari Sabtu, bunyi jam weker David berarti hari sekolah, bila setiap orang berpakaian bagus berarti perjalanan menuju tempat penitipan anak di gereja, yang tidak disukainya.

Hari itu hari Minggu. Kami telah berganti pakaian dan siap ke gereja. Saya sedang menghirup kopi dan membaca koran bagian rubrik olahraga di meja makan ketika Isaac bertanya, "Yah, sekarang hari apa?"

"Isaac," jawab saya dari balik koran, "Sekarang Minggu pagi. Hari ini kita akan pergi ke gereja." Saya menghirup kopi sekali lagi.

"Minggu itu apa?" tanyanya.

"Minggu adalah hari pertama dalam sepekan, dan itulah hari Tuhan."

"Kemarin hari apa?"

"Hmm ... Isaac, kemarin hari Sabtu, akhir pekan, hari Sabat orang Yahudi."

"Hari ini hari apa?" ulang Isaac.

"Hari ini harinya Tuhan, Isaac. Hari yang kita rayakan untuk memperingati kebangkitan Tuhan, hari saat Dia bangkit dengan penuh kemenangan atas maut dan kubur. Inilah hari Sabat orang kristiani." Saya meliriknya dari balik koran. Saya bangga bisa memberikan jawaban ini sambil membaca berita tentang kemenangan kelompok Wildcat atas Georgia.

Sebaliknya, Isaac malah mengernyitkan alis dan merenung, kemudian menghela napas panjang, pertanda ia sangat tidak puas dengan jawaban saya. Ia menyilangkan kedua lengannya yang montok dan mencondongkan tubuhnya ke arah saya, sampai sikunya menggilas Cheerios. "Bukan, Ayah," sanggahnya, "sekarang bukan hari Minggu."

"Maaf, Isaac, kenyataannya sekarang hari Minggu," sahut saya seraya membalik halaman koran.

Namun, Isaac telah membuat suatu keputusan. "Ini hari Kamis," ia mengumumkan.

Saya meletakkan koran yang saya baca, lalu saya tatap matanya. Saya memutuskan untuk menyisihkan aspek teologi dan segera menangani pokok persoalannya. "Isaac, sekarang hari Minggu dan kau harus ke gereja."

"Tidaaaaak!" katanya mempertahankan pendapat. "Sekarang hari Kamis."

"Isaac, sekarang hari Minggu."

"Kamis!"

"Minggu!" kata saya tidak mau kalah.

Leeann (istri saya) meletakkan selembar roti panggang di piring saya dan mengingatkan bahwa saya sedang berdebat dengan seorang anak berumur dua tahun. "Ingat," katanya sambil tersenyum, "berdebat dengan seorang anak berumur dua tahun tidak mungkin menang."

"Ayah," kata Isaac ngotot, "sekarang bukan hari Minggu ... karena ini hari Kamis -- bagiku."

Tiba-tiba terbersitlah kesadaran yang membuat saya melihat bahwa ini bukan diskusi tentang hari-hari dalam sepekan -- dan bukan sekadar tentang tempat penitipan anak. Ini merupakan diskusi tentang pandangan mengenai dunia. Selagi saya menatap matanya yang tak berkedip (saya juga tidak berkedip), semuanya jadi jelas: saya sedang berbicara dengan seorang postmodernis cilik! [Catatan: Postmodernis ialah orang yang berfaham menentang segala dogma dan aturan yang diyakini oleh orang lain karena menganggap ia bebas bertindak atau berpendapat apa saja.]

Bagaimana Pandangan Anda Tentang Dunia?

Hari Minggu benar-benar jadi hari Kamis! Isaac jelas-jelas telah menolak cerita saya tentang hari Minggu yang merupakan suatu metanarasi yang menindas, yakni suatu unjuk kekuatan yang dirancang untuk memaksanya tinggal di tempat penitipan anak yang tidak disukainya. Isaac, di usianya yang masih sangat muda, telah menolak atau tepatnya, memandang rendah segala realisme yang kritis! Pikiran saya melayang ke awang-awang.

"Halo, Michel Foucault? ... Ya, saya menelepon hanya untuk memberi tahu bahwa saya lihat anak laki-laki saya telah memakai kebebasan individunya untuk mendapatkan kesenangan sepuas-puasnya, padahal saya dan ibunya telah bersekongkol untuk melumpuhkan hasratnya dalam mengekspresikan keinginan .... Tidak, astaga, tidak, tidak begitu ya, ia menggunakan yogurt .... Hm-em, ya... ya... kelihatannya ia setuju dengan penilaian Beiner bahwa hukum adalah sama dengan penindasan, dan pembebasan dari tuduhan kriminal sama dengan kebebasan .... Tidak, kami tidak akan hadir di acara Pesta Dansa Amal Para Anarkis .... Ia harus dititipkan ke tempat penitipan anak -- ia baru berumur dua tahun, dan kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menetapkan satu metanarasi padanya .... Terima kasih .... baiklah, ya ... tidak jadi masalah. Sampai jumpa."

Sewaktu saya mengamati pengungkapan relativistis Isaac yang ia nyatakan dengan mengusapkan yogurt rasberi dan Cheerios bergantian di atas kepalanya, saya terus bertanya-tanya kesalahan apa yang telah Leeann dan saya lakukan. Apakah Isaac telah mulai menganut nihilisme [penolakan total atas semua organisasi sosial, politik, dan agama traditional serta nilai-nilai moral] karena kesalahan orangtua dalam mengasuhnya? Saya hampir tak dapat memahaminya.

Akan tetapi, mungkin, cuma mungkin, saya dan Leeann tidak salah. Mungkin, para realitivis bingung sekarang hari apa dan merekalah yang bertingkah laku seperti Isaac, dan bukan Isaac yang meniru mereka. Apakah mereka sedang melakukan pemberontakan kanak-kanak terhadap Allah? Mungkin mereka telah merancang suatu argumentasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, bukan untuk memperoleh kebenaran.

Pandangan Dunia Berdasarkan Stiker Mobil

Dalam bukunya "The Universe Next Door", Jim Sire menuliskan, "Hanya sedikit orang yang melakukan pendekatan filsafat yang jelas, paling tidak seperti dicontohkan para filsuf besar. Bahkan saya kira lebih sedikit lagi orang yang memiliki pandangan teologi yang terkonstruksi dengan hati-hati. Namun, setiap orang memiliki pandangan dunia dalam benaknya." Bahkan anak-anak pun punya! Namun, ada masalah terbesar: dalam dunia nyata, kebanyakan orang menjalankan pandangan dunia yang belum teruji. Demikian pula saya. Saya seolah membentuk pandangan saya sendiri tentang dunia berdasarkan kata-kata klise dan slogan-slogan yang biasanya tertulis pada stiker mobil. Saya cenderung menyomot dan memilih kata-kata klise yang kedengarannya paling baik di antara berbagai pandangan dunia yang berlaku atau bahkan yang bertentangan. Saya memegang faham teisme ketika menghadiri pemakaman, faham eksistensialisme saat mencari sosok pahlawan, dan naturalisme ketika ke dokter. Kalau dicampur jadi satu, "isme-isme" ini menjadi sebuah pandangan dunia yang benar-benar baru, yang saya sebut pandangan dunia berdasarkan stiker mobil (disingkat pandangan dunia SM). Inilah prinsip dasar pandangan SM: segala sesuatu itu relatif, dan tak ada kebenaran mutlak, baik atau buruk: Anda memegang kebenaran Anda, dan saya memegang kebenaran saya. Namun, Anda salah kalau memercayai kemutlakan. Tidak baik menjadi seorang moralis atau orang yang suka menghakimi -- Alkitab pun berkata demikian. Terlalu fanatik pada ajaran agama juga tidak baik. Sebuah pandangan SM membenci orang-orang yang membenarkan diri sendiri -- mereka itu bodoh. (Ingat, Anda tak perlu mengkhawatirkan kontradiksi dalam pandangan SM.)

Pandangan SM meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah untuk dunia nyata sedangkan agama untuk dunia rohani, jadi jangan mencampuradukkan keduanya. Ilmu pengetahuan menyanggah Alkitab dan tentu saja Alkitab tidak mungkin membantah ilmu pengetahuan; Alkitab adalah untuk orang- orang yang "beriman". (Jadi, pastilah ilmu pengetahuan tidak membutuhkan iman!) Bagaimana pun, proses evolusi telah menghasilkan dunia yang menakjubkan. Kita merupakan perwujudan dari apa kita makan, kita dilahirkan untuk berbelanja, dan jajak pendapat merupakan satu- satunya sumber kebenaran dan moral karena hal itu ilmiah.

Menurut pandangan dunia SM kita telah sangat maju, bahkan melampaui orang-orang zaman dahulu karena kita tahu banyak hal yang tidak mereka ketahui. Alkitab juga ditulis dalam konteks bertahun-tahun yang lalu. Jadi tidak masalah kalau ada sedikit pemikiran keagamaan atau filosofi baru yang berharga. Meski ada hal-hal yang bertentangan, yang jelas segalanya menjadi lebih baik. Sebuah jajak pendapat telah membuktikan hal itu.

Pandangan dunia SM mengakui Yesus sebagai seorang guru besar moral, kecuali ajaran moral-Nya tentang uang, perceraian, orang miskin, dan bagaimana memperlakukan sesama. Orang Yahudi, Muslim, dan Kristiani, semuanya mengimani hal yang sama -- mereka hanya perlu saling bersikap baik dan menyadari bahwa semua agama hanya menempuh jalan yang berbeda, tetapi menuju puncak yang sama. Tidak masalah bila ada perbedaan-perbedaan ajaran agama mengenai surga, neraka, sejarah, dosa, kenyataan utama, dan bagaimana cara untuk sampai kepada Allah. Karena Allah yang baik tidak boleh, tidak dapat, dan tidak akan mengirimkan orang baik ke neraka, kita semua pasti akan masuk surga! Kecuali Hitler dan Stalin, tentu saja ... dan orang yang memotong jalan Anda minggu lalu. (Ingatlah selalu pada beberapa perkecualian itu). Selain orang-orang seperti itu, kita semua secara unik cukup baik ... unik seperti setiap orang lain. Dan karena kita semua baik, kita tidak butuh pengampunan -- rasa bersalah kita lah yang buruk, bukan kita. Lagi pula, kita kan cuma manusia. Jadi lakukanlah dan jadilah yang terbaik. Jangan pusingkan orang lain yang benar-benar menjadi seorang yang rasis, atau pemerkosa, dan yang lain ahli dalam penipuan pajak. (Mungkin itulah kebenaran menurut mereka; paling tidak itulah yang dikatakan Michael Foucault). Namun, jangan khawatir; Allah itu pengampun. Itu memang tugas-Nya. Dosa yang lain merupakan kesalahan orangtua Anda. Alangkah hebatnya sistem itu!

Ada masalah yang mengganjal dalam pikiran saya apabila saya menganut pandangan SM seperti di atas. Saya berpikir bahwa mungkin percampuran hal-hal klise yang membingungkan ini, hanyalah slogan. Mungkin ada Allah yang selalu mengamati dosa saya. Mungkin Dia membenci kesombongan dan kecongkakan saya yang tersembunyi. Mungkin Dia muak dengan kebiasaan saya yang suka membenarkan diri sendiri dan merasa paling benar. Mungkin Dia tidak menanggungkan dosa leluhur kepada saya sampai tibanya Hari Penghakiman. Pada hari itu, saya akan segera dibebaskan dari pengadilan. Dan hari itu merupakan hari yang disebut- sebut Yesus dengan penuh keyakinan, hari yang pasti akan datang karena hasil jajak pendapat terakhir membenarkan hal tersebut: setiap orang pasti mati. Hei, mungkin sekarang memang hari Minggu, dan bukan hari Kamis seperti yang dipercayai oleh pandangan SM!

Mengakhiri Pandangan Dunia Berdasarkan Stiker Mobil

Yesus selalu berbicara dengan memakai pengertian yang mendalam. Maka jika kita hanya puas dengan pandangan dunia yang semata-mata merupakan gabungan kata-kata klise dan kepalsuan sebagai suatu filosofi, itu berbahaya. Pandangan itu merupakan suatu sistem terselubung yang terpusat pada diri sendiri untuk membenarkan tindakan sesuatu yang diimpikan oleh anak berumur dua tahun.

Pandangan dunia SM sangat berbahaya bagi orang-orang kristiani -- orang-orang kristiani yang bermaksud baik, yang berhati baik -- karena tanpa sadar, kita bisa terjebak dan hidup dalam pandangan dunia SM yang tidak sesuai dengan Kitab Suci. Kita menjadi buta terhadap kenyataan rohani dalam dunia di sekitar kita. Yesus berkata,

"Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" (Lukas 12:54-56).

Saya suka stiker mobil yang berbunyi, "Kita ini cukup muda; tapi apakah kita cukup cerdas?" Camkanlah ini: kalau kita boleh memilih, kita tidak ingin diberitahu mana yang benar dan mana yang salah, tidak beda jauh dengan Isaac yang enggan ke penitipan anak atau saya yang enggan membayar pajak. Semua ciptaan memberontak terhadap Allah. Tak seorang pun baik kecuali Allah. Menyerahkan hidup kita kepada Kristus berarti menyerahkan pikiran kita juga.

Saya ingin mengajukan sebuah permintaan. Pertama kepada Isaac, kemudian kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Jauhilah semua kata klise yang pada mulanya terdengar bijak. Periksalah kata-kata tersebut dalam terang Kitab Suci. Perangilah pandangan dunia SM. Jadikan Injil sebagai pandangan dunia Anda: kenalilah, pelajarilah, dan hiduplah di dalamnya. Tenggelamkan diri Anda dalam pesan Injil Kristus, karena Injil Kristus dapat mengusir pandangan dunia yang membawa konflik dan pandangan dunia yang penuh persaingan dengan terang-Nya.

Kenyataannya, hari itu memang benar-benar hari Minggu, bahkan bagi Isaac. Tempat penitipan anak yang penuh dengan mainan dan kehadiran anak-anak lain telah meyakinkannya. Kita yang terlalu terikat dengan pandangan dunia kita sendiri akan lebih sulit berubah. Jangan salah: ada kalanya sukar membangun pandangan berdasarkan Injil, seperti yang ditulis G. K. Chesterton,

"Bukan karena kekristenan telah dicoba dan ternyata di situ terdapat kekurangan, tetapi karena kekristenan terbukti sukar untuk dipraktikkan, karenanya tak pernah dicoba."

Namun, pada akhirnya kekristenan memberikan pencerahan. Tak perlu lagi jajak pendapat.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku:17 Hal yang Diajarkan Anakku tentang Allah
Judul Artikel:Postmodernis Cilik
Penulis:J. Mack Stiles
Penerbit:Gloria Graffa, Yogyakarta
Tahun:2004
Halaman:27-34

Komentar