Kategori Utama

Perspektif Kristen Tentang Ekonomi (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Artikel yang saya kirim ini cukup panjang, karena itu saya akan persingkat prakatanya dengan menyimpulkan bahwa orang Kristen yang dekat dengan Tuhan dapat dilihat dari pertanggungjawaban sikapnya terhadap uang. Nah, selamat membaca, kiranya bisa menjadi bahan perenungan untuk bulan ini. Nantikan sambungan artikel yang ditulis oleh Paul Hidayat ini di edisi e-Reformed mendatang.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Paul Hidayat
Edisi: 
075/VI/2006
Isi: 

PERSPEKTIF KRISTEN TENTANG EKONOMI (1)

Peristiwa yang belum lama ini menimpa Indonesia dan kawasan Asia Timur dalam bidang ekonomi dan politik, tepat bila dinilai sebagai pengukuhan kebenaran firman yang diucapkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan-Nya "dua macam dasar" (Mat. 7:24-27). Perumpamaan Tuhan Yesus yang diambil dari fakta hidup sehari-hari itu jelas mengandung "common sense" yang berlaku bukan saja bagi pembangunan kehidupan spiritual tetapi juga bagi seluruh aspek kehidupan termasuk pembangunan kehidupan sosial ekonomi-politik. Bila kehidupan sosial- ekonomi-politik tidak dibangun atas dasar-dasar yang kokoh yaitu prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, kerja keras dan cerdas, pelaksanaan hukum secara benar, pencerdasan bangsa, sikap hemat, dlsb., maka hal-hal yang berhasil dibangun betapa pun megahnya ternyata hanya berdiri di atas dasar-dasar yang rapuh.

Kebangkrutan ekonomi dan kejatuhan kepemimpinan politik belum lama ini adalah akibat dari diabaikannya prasyarat-prasyarat tersebut. Penjarahan dan perusakan yang belum lama ini terjadi di berbagai kota kita, betapapun dengan pedih dan marah kita menyikapinya, hanya mungkin terjadi di dalam kondisi di mana para penguasa dan pengusaha lebih dulu telah menjarahi kalangan bawah dan membangun kegemilangan di atas kehancuran banyak pihak. Prinsip yang sama pun berlaku juga untuk lingkup lebih luas. Lautan api yang melahap ratusan ribu hektar hutan-hutan di Kalimantan, Sumatera; perikliman dunia yang beberapa tahun terakhir ini menjadi kacau; malapetaka El Nino yang mungkin sekali akan berkelanjutan dengan datangnya La Nina; semua kemungkinan besar diakibatkan oleh kebijakan dan perilaku ekonomi-politik yang memperkosa prinsip-prinsip ekologis. Badai memang menyukai negeri tempat orang menabur angin.

Tak terduga bahwa ekonomi Asia akan goncang, ekonomi Indonesia akan runtuh. Sejak tahun 1970-an ketika seluruh dunia mengalami lesu darah ekonomi, pertumbuhan ekonomi Asia Timur justru deras mencengangkan. Hong Kong, Taiwan, Singapura, Korea Selatan, disusul Thailand, Indonesia, Malaysia, menjadi naga-naga ekonomi mengikuti kiprah Jepang, sang naga ekonomi besar. Sampai dengan kwartal ketiga tahun 1997, Indonesia mampu mencapai tingkat pertumbuhan antara 6,4 sampai 7% secara berkesinambungan. Selama kurun waktu tersebut, tiap RAPBN selalu mencerminkan gairah pertumbuhan yang tak habis-habis. Karena keberhasilan itulah, Indonesia beroleh reputasi internasional. Indonesia begitu yakin akan segera memasuki "era lepas landas", berkiprah besar dalam era pasar bebas Asia dan berikutnya dunia. Keyakinan ini dipompakan setelah berhasil menjadi negara berswasembada pangan, meningkatkan pendapatan per kapita sampai 18 kali dalam kurun waktu 30 tahun, dari US $ 60 di tahun 1966 menjadi US $ 1100 di tahun 1996, menyebabkan persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan merosot drastis dari 60% menjadi hanya 11% dari total penduduk, berkembang dari negara pertanian menjadi negara industri bahkan tak kepalang tanggung memasuki sektor industri pesawat dirgantara. Ditambah dengan sediaan cadangan devisa yang dianggap cukup dan tingkat inflasi di bawah dua digit, para pemimpin beranggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat baik.

Tetapi bangunan ekonomi megah tersebut ternyata menjulang di atas dasar-dasar yang rapuh dan menggunakan bahan-bahan konstruksi yang keropos. Komentar Paul Krugman yang semula dianggap menyakitkan dan tidak benar namun kemudian ternyata benar bahwa mukjizat ekonomi Asia hanya mitos belaka, justru seharusnya lebih dipertajam dengan 2pernyataan bahwa yang kita alami sekarang adalah kutuk dari membangun mukjizat palsu dalam bidang ekonomi (the curse of fake economic miracle). Tingkah laku yang menyebabkan keruntuhan ekonomi itu adalah hal-hal yang melanggar prinsip moral dan etika. Kebangunan ekonomi Asia terutama didorong oleh faktor suntikan modal asing, upah kerja yang rendah, penggunaan pinjaman asing berbunga rendah bukan untuk produksi tetapi untuk prestise (mega proyek, property yang sering dianggap seperti milik sendiri), sementara sistem ekonominya tidak sehat dan berbiaya tinggi, pelaku manufakturnya tidak andal, teknologinya kepalang tanggung, mentalitas budayanya bapakisme dan wawasan hidupnya tentang realita dan waktu bersifat mistis melihat hidup sebagai roda pedati menghasilkan sikap hidup nrimo.

Ketika imbas gempa moneter di Thailand, bergerak ke Indonesia, mulailah rentetan keruntuhan ekonomi Indonesia. Nilai rupiah terhadap dolar terbanting berulang kali, menjadi tidak sampai seperempatnya dari nilai rupiah pada kwartal ketiga tahun 1997. Harga-harga membubung tinggi, bank-bank bertumbangan, perusahaan-perusahaan hancur, PHK melonjak, jumlah pengangguran meningkat menjadi sekitar 20 juta orang, harga saham anjlok, hutang luar negeri menjadi membengkak hitungannya dalam rupiah dan tidak terbayar, BBM dinaikkan, harga- harga melangit. Hal-hal tadi dan masih banyak lagi lainnya menjadi terowongan gelap yang di dalamnya keruntuhan ekonomi Indonesia terjun bebas belum lagi menyentuh dasar. Ketika tulisan ini disusun, empat bulan pertama 1998 inflasi sudah mendekati 45% (diramalkan akan sekitar 85% tahun 1998) dan tingkat pertumbuhan melorot terus dari 0%, ke -5% dan belakangan diramalkan lagi akan -20%. Tiba-tiba bagaikan mimpi buruk di siang bolong, seluruh Indonesia jatuh miskin. Tingkat pendapatan per kapita anjlok menjadi setara dengan penduduk Zambia. 2Yang sudah miskin makin jatuh ke bawah, yang sempat mencicipi kenikmatan hidup kelas menengah harus kembali lagi paling tidak ke kelas menengah bawah, yang kaya bahkan konglomerat pun jatuh miskin karena andaikan seluruh aset yang dimiliki dijual pun tetap tidak memadai untuk membayar hutang-hutang luar negeri. Dan karena banyak negara tetangga lain sedang menelan pil pahit yang sama, ratusan ribu TKI mulai dipulangkan ke tanah air, membuat masukan devisa menipis dan masalah bertambah seiring bertambahnya pengangguran. "Berkat" dari ekspor yang diharapkan, akibat melorotnya nilai rupiah, ternyata tidak terjadi, sebab harga-harga bahan baku yang harus diimport tidak mungkin lagi dapat dijangkau. Penyakit ekonomi yang dialami Indonesia kini sudah menjadi gejala komplikasi penyakit yang parah: depresiasi rupiah, kenaikan harga-harga, inflasi, kebangkrutan perusahaan dan perbankan, PHK, tingkat pengangguran bertambah, kerawanan politik, ketidakpercayaan investor asing, semua ini membuat perekonomian Indonesia makin terus terpuruk.

Mengapa dengan fundamental ekonomi yang kuat dan sehat itu, ekonomi Indonesia goncang dan hancur juga? Mengapa naga ini kini mendadak berubah menjadi cacing belaka? Lalu ramai-ramai orang membuat berbagai macam analisis. Karena tidak jujur, tidak mawas diri, kambing-kambing hitam pun dicari. "Soros sampai Sosro" (menggunakan permainan kata Wimar Witoelar, Kompas, 23 Nov. 1997, hlm. 2) yaitu para spekulan manca negara dan dalam negeri dituduh sebagai penyebab semua masalah ekonomi ini. Baru sesudah masalah ekonomi ini berubah menjadi masalah politik, krisis moneter berubah menjadi krisis kepercayaan, ramai- ramai; orang meneriakkan pengakuan bahwa penyebab semuanya adalah dilanggarnya prinsip-prinsip moral. Fondasi bangunan ekonomi Indonsia itu ternyata bernama korupsi dan kolusi, lalu bahan-bahan konstruksi yang dipakai untuk mengisi sistem perekonomian Indonesia adalah nepotisme dan koncoisme. Beramai-ramai pula orang menyerukan perlunya reformasi di segala bidang. Semoga saja ramai-ramainya teriakan dan tudingan ini bukan sekadar latah, gejala lain dari sakit yang entah sudah stadium ke berapa diidap bangsa kita.

Kegagalan Gereja

Seharusnya gereja di Indonesia mengaku jujur bahwa problem ekonomi di Indonesia ini tidak lepas juga dari andil kegagalan Gereja, teolog dan umat Kristen di Indonesia dalam menaati kebenaran firman Tuhan. Gereja gagal memberikan pengajaran yang jelas dan benar tentang implikasi- implikasi kebenaran Alkitab ke dalam dunia ekonomi, tentang prinsip- prinsip etika ekonomi dan moral bisnis, baik kepada warganya maupun menyuarakannya sebagai wawasan dan sikap Kristen tentang ekonomi kepada dunia luas. Sebaliknya Gereja sendiri malah cenderung membuat kesalahan fatal memahami berita keselamatan dari Allah dalam simbol- simbol moneter (Albert Widjaja, "Perspektif Ekonomi-Teologis: Peran serta Kekristenan dalam Perkembangan Ekonomi di Era Globalisasi Bagian I," hlm. 8). Kebanyakan gereja yang "maju" adalah gereja-gereja yang bersemangat mengabarkan injil kemakmuran dan kesehatan, gereja-gereja yang pandai memanfaatkan teknik, metode dan alat-alat canggih yang sama seperti dikembangkan dalam teknik-teknik marketing. Kebanyakan teori tentang kemajuan pertumbuhan gereja menggunakan ukuran-ukuran kuantitatif dan bukan perilaku pertobatan sampai ke segi-segi kehidupan ekonomi. Sebaliknya dari menyuarakan pesan kenabian dan mengemban gaya hidup prihatin yang konsisten dengan firman Tuhan, gereja sekadar membeo mengikuti berbagai suara dan aspirasi yang dunia ini canangkan.

Para hamba Tuhan atau teolog pun terbagi ke dalam dua kutub. Yang rohani sempit tidak paham tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia ekonomi-politik. Lalu mereka menyampaikan pesan-pesan surgawi yang tidak kontekstual dengan kenyataan dan pergumulan hidup sehari- hari. Akibatnya, di gereja orang bertingkah rohani, di dunia orang kembali ke sifat asalnya yang sama dengan orang dunia yang tidak kenal Tuhan: serakah, takut berbuat benar, licik, menghalalkan segala cara, dll. Yang duniawi luas tidak lagi memercayai kebenaran-kebenaran rohani seperti yang dinyatakan firman Allah, meski berupaya tetap punya peran dalam dunia ini. Namun karena prinsip, landasan berpikir, dan sumber wibawa yang diandalkan tidak beda dengan yang dipahami orang dunia, usaha mereka menjadi sia-sia. Situasi itu terjadi sebab kebanyakan sekolah-sekolah teologi tidak mampu mengembangkan pola pendidikan yang solid berdasarkan komitmen pada kebenaran Alkitab dan yang jernih menarik implikasi-implikasi teologis kebenaran tersebut ke segala aspek kehidupan.

Tidak heran bila para warga gereja yang dibesarkan dalam suasana kehidupan gereja yang notabene sama memberhalakan mamon dan sama sekularnya dengan dunia ini pun meneruskan itu dalam perilaku bisnis dan kerja mereka. Tidak banyak Kristen yang memiliki prinsip berani membayar harga untuk tidak membayar suap demi melicinkan tender, misalnya. Tidak banyak Kristen yang tidak main tempel penguasa untuk beroleh kemudahan sehingga benar-benar mencapai kemajuan bisnis karena cara-cara yang fair dan benar. Bila tiap kali berurusan dengan aparat pemerintah ketika mengurus KTP, IMB, paspor, pajak, tilang, dlsb. kita selalu siap dengan salam tempel; bila budaya dusta (baca: tidak transparan), suap, sogok, korupsi, kolusi, koncoisme sama biasanya kita lakukan dalam berbagai urusan; bila para pendeta sendiri mengartikan perannya bukan sebagai panggilan tetapi sebagai karir atau profesi; bila gereja sendiri pecah karena hal-hal seperti perebutan aset, penggelapan, ketidakjujuran; tidak heran bila dunia ekonomi kita kini terpuruk dan dunia politik kita terancam hal yang sama.

Kiranya kealpaan gereja selama ini tidak kita teruskan dalam keterlenaan seterusnya. Momentum kini, ketika orang menyadari perlunya reformasi dan pentingnya mentalitas, sikap kerja, etika ekonomi, moral bisnis, justru harus diisi dengan pertobatan gereja dan pribadi Kristen dari dosa-dosa ekonomi yang selama ini telah kita buat, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama kita. Kita yang mengaku telah mengalami kuasa transformasi Allah atas hidup kita seharusnya konsisten mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan ekonomi dan moral bisnis yang Alkitabiah agar boleh terjadi penghayatan dan pewartaan yang memberi arah yang benar dalam momentum reformasi ini. Inilah kesempatan untuk gereja menyatakan kebenaran ekonomi Allah (oikonomia tou Theou = tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, Ef. 3:2) yang meliputi seluruh kehidupan secara lengkap dan utuh. Tulisan ini ingin menelusuri ajaran Alkitab tentang isu-isu ekonomi, mempelajari implikasi ekonomis dari beberapa prinsip teologis Kristen, membandingkannya dengan berbagai pandangan tentang isu-isu ekonomi yang dianut orang, meneropong berbagai permasalahan yang relevan dalam bidang ekonomi dan mencoba menarik petunjuk-petunjuk prinsipil praktis bagi kehidupan ekonomi kita masa kini.

Alkitab tentang Isu-isu Ekonomi

Di awal upaya menemukan petunjuk dan prinsip ekonomi dalam Alkitab, kita harus berhadapan dulu dengan berbagai pertanyaan kritis. Ada tiga keberatan yang sering diajukan orang. Pertama, mungkinkah menarik prinsip-prinsip universal dan permanen dari Alkitab yang lahir di tengah kultur yang zaman dan lokasinya berbeda jauh dari dunia dan negara kita kini? Kedua, tepatkah menarik kesimpulan-kesimpulan tentang prinsip-prinsip ekonomi dari suatu kitab yang pada hakikatnya adalah kitab peribadahan? Ketiga, bagaimana mungkin memberlakukan bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang berbagai isu ekonomi, bila kebanyakan isi Alkitab itu terdapat dalam Perjanjian Lama yang tidak memisahkan kehidupan bernegara dari kehidupan beragama (baca: teokrasi), padahal kita tidak hidup dalam negara yang teokratis. Seiring dengan itu, ada keberatan terhadap diberlakukannya prinsip- prinsip etis ekonomi dalam Perjanjian Baru kepada konteks masyarakat luas karena anggapan bahwa ajaran-ajaran itu hanya bisa diberlakukan di antara umat tebusan Allah dan tidak di antara orang- orang yang belum ditebus.

Terhadap keberatan pertama dapat kita ingat bahwa memang ada perbedaan dan kesenjangan budaya/zaman antara dunia Alkitab dan dunia modern masa kini. Namun justru pengambilan prinsip tersebut bisa terjadi karena mempertimbangkan dan bukan mengabaikan adanya kesenjangan itu. Dengan demikian keberatan tentang kesenjangan budaya ini sebenarnya dapat dijawab melalui usaha-usaha penafsiran Alkitab yang teliti mempertimbangkan perbedaan konteks zaman dan budaya Alkitab dengan konteks zaman dan budaya kita kini.

Terhadap keberatan kedua, kita akui bahwa Alkitab memang bukan buku teks ekonomi, juga bukan buku teks ilmu-ilmu lain, bahkan bukan pula buku teks dogma dan teologi. Dengan mengatakan demikian artinya kita menyadari bahwa Alkitab tidak berisikan uraian deskriptif, analitis, dan sistematis tentang hal-hal tadi seperti yang kita temukan dalam buku-buku sumber pelajaran. Namun mengatakan demikian tidak harus berarti bahwa kita tidak dapat melakukan abstraksi untuk menemukan pola-pola wawasan dan petunjuk-petunjuk prinsipil tentang berbagai segi kehidupan di dunia ini dari dalam isi Alkitab. Bila dari Alkitab kita dapat menarik prinsip-prinsip dogmatis, seyogianya tentang hal- hal yang mencakup segi ekonomi kehidupan manusia pun dapat kita simpulkan dari firman Allah ini sebab Alkitab adalah firman Allah dalam kata-kata manusia, yaitu kata-kata yang lahir untuk dan dari dalam pergumulan-pergumulan nyata kehidupan dengan berbagai aspeknya. Seperti halnya ketika Allah bersabda, Allah tidak saja membentangkan diri-Nya kepada manusia tetapi juga membentangkan bagaimana adanya dan bagaimana harusnya manusia, demikianlah isi Alkitab adalah sekaligus prinsip-prinsip spiritual teologis yang mewujud nyata di dalam segi- segi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politis, pendidikan, dlsb. Oleh karena kita tidak hendak mengambil model-model sistem ekonomi secara rinci yang berasal dari situasi masyarakat nomad dan agraris, melainkan prinsip-prinsip dasar etika ekonomi dan moral bisnis, tentunya keberatan tadi tidak tepat.

Keberatan terakhir dapat kita sanggah dengan mengingat bahwa sebagian besar prinsip-prinsip yang Tuhan nyatakan juga diberlakukan (baca: dikaruniakan) Tuhan atas bangsa-bangsa lain dan orang bukan Kristen pada umumnya. Hal mana dapat kita lihat dari teguran-teguran para nabi seperti Yesaya kepada bangsa-bangsa sekitar Israel. Dengan mengingat bahwa di dalam penyataan dan anugerah umum Allah bekerja juga di dalam seluruh umat manusia, memberikan nurani, kerinduan moral, kepekaan etis dan agamawi, serta kekuatan kehendak untuk memperjuangkan hal-hal yang indah, tertib, dan benar, maka menyuarakan dan memberlakukan prinsip-prinsip wahyu ke dalam masyarakat luas adalah tindakan nyata dari keyakinan bahwa Allah bekerja serasi dalam penyataan umum maupun penyataan khusus. Dengan demikian keberatan ketiga ini pun pada intinya telah teratasi.

Singkat kata, di balik keberatan-keberatan itu terdapat awal dan akhir berwawasan yang harus kita tentang sebagai orang beriman yaitu menyingkirkan Allah dari realitas ekonomi. Justru kebobrokan ekonomi- politik yang sedang kita derita kini adalah akibat dari orang-orang yang berpola pikir dan bertingkah laku memberontak menolak Allah dari percaturan bisnis dan kehidupan ekonomi. Apabila Kristen dan gereja ingin berkontribusi nyata menyebabkan reformasi ekonomi berarah benar, maka haruslah kita mulai dari pemikiran alkitabiah.

Apa kata Alkitab tentang isu-isu ekonomi? Kita akan terkejut atas fakta bahwa Alkitab begitu banyak berbicara tentang isu-isu ekonomi. Dari kisah yang sedang kita siap untuk masuki, penciptaan, kejatuhan, perjanjian dengan Nuh, perjanjian dengan Abraham, keluaran dari Mesir, pemberian Sepuluh Hukum, kitab-kitab hikmat, kitab-kitab para rabi, ajaran Tuhan Yesus, gaya hidup jemaat mula-mula, ajaran para rasul, kita temui banyak sekali bahan untuk menyimpulkan prinsip-prinsip ekonomi.

Kisah penciptaan (Kej. 1-2) adalah fondasi di atas mana seluruh realitas ciptaan berdiri dan di dalam terangnya realitas harus kita pahami. Apa yang dipaparkan dalam kisah penciptaan, apabila dibandingkan dengan pandangan dan sikap bangsa-bangsa purba di Timur Tengah, adalah sesuatu yang radikal. Di dalamnya kita menjumpai suatu visi ekonomi sebagai implikasi dari kebenaran-kebenaran teologis yang Allah tanamkan dalam umat-Nya. Di tengah pengilahian alam dan benda yang tidak memungkinkan perlakuan objektif eksploratif terhadap alam serta tidak menumbuhkan visi ekonomi, umat Tuhan justru diajar untuk melihat adanya perbedaan ontologis antara Allah dan segenap ciptaan, juga adanya kesamaan dan ketidaksamaan antara manusia dan alam serta makhluk-makhluk lainnya. Terhadap Allah yang menciptakan manusia dan yang menamai manusia, manusia menyapa Allah dengan "Engkau". Terhadap alam, manusia ditempatkan Allah sebagai wakil-Nya yang bertanggung jawab untuk mengelola dan memelihara alam demi kemuliaan Allah dan demi kebaikan manusia dan segenap ciptaan. Di dalam pemahaman demikian, logis bertumbuh sikap ilmiah sebab manusia melihat alam sebagai sesuatu yang boleh diusahakan, ditaklukkan, dan dikelola melalui keahlian, teknologi, institusi untuk membangun peradaban.

Umat Tuhan diajar untuk menerima alam sebagai hal yang baik adanya karena demikianlah keadaannya sebagai ciptaan Tuhan, dan karena itu kita boleh menerima dan memanfaatkan semuanya itu dalam semangat syukur kepada Allah. Di dalam tindakan Adam memberi nama kepada binatang-binatang, terlihat sekaligus posisi Adam yang lebih tinggi daripada binatang dan ciptaan lainnya, tetapi juga sikap Adam yang menghargai, memelihara dan bukan merusak ciptaan-ciptaan Tuhan itu.

Kisah penciptaan memberi kita prinsip ekonomi bahwa hanya Allah yang patut disembah dan dilayani oleh segenap hidup manusia, bahwa manusia diberi makna hidup yang sangat mulia oleh Allah, bahwa panggilan hidup manusia sebagai gambar Allah yang mulia itu adalah menjadi hamba Allah, bahwa alam dan segenap potensinya boleh diterima dan dikelola dengan penuh syukur oleh manusia, dan bahwa kekayaan alam atau pun kekayaan hasil dari tindak kreatif manusia mengelola alam itu bukan milik mutlak manusia tetapi Allah, sehingga tidak boleh diberi tempat mutlak di dalam keberadaan manusia. Tidak ada tempat bagi kehidupan ekonomi yang egosentris, yang serakah, atau yang kebalikannya yaitu merendahkan benda dalam hidup bertarak, atau sikap tidak ilmiah yang melumpuhkan kehidupan ekonomi karena pantang menjamah alam dan materi yang dianggap suci ilahi.

Sayang sekali visi ekonomi yang sedemikian gemilang itu dirusakkan manusia dalam Kejatuhan kita di dalam Adam dan Hawa ke dalam dosa (Kej. 3). Manusia menerima aspirasi sesat, yaitu ingin menyamai Allah. Kisah kejatuhan ini bukan sekadar peristiwa sejarah tetapi pembedahan radikal dan peringatan untuk seluruh umat manusia. Dosa berarti menarik diri dari Allah, menjadikan diri "allah" bagi diri sendiri, membuat norma kita sendiri tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Kejatuhan pada hakikatnya adalah daya yang berbalik membelokkan visi ekonomi penciptaan. Ekonomi Allah yang kini diganti oleh ekonomi manusia, berbalik menjadi mukjizat palsu penuh kutuk. Kerja bukan lagi tanggung jawab yang menyukakan tetapi membuat orang berjerih payah, bumi yang tadinya menjadi sumber penopang hidup berubah mengeluarkan onak duri, dan manusia sendiri yang tadinya makhluk ciptaan mulia sejak itu tinggal debu yang kembali kepada debu saja. Ekonomi manusia itu hanyalah kerajaan yang meluncur menuju kehancuran dan maut. Namun, puji Tuhan bahwa anugerah Tuhan menahan dampak kutuk dosa itu. Meski mengeluarkan onak duri, bumi masih juga mampu menumbuhkan padi yang memberi manusia beras untuk dimakan. Janji benih perempuan yang akan meremukkan kepala si penipu menunjukkan bahwa bumi kini bukan lagi firdaus, namun bukan juga neraka, tetapi adalah arena peperangan rohani yang akan ditebus dan dimenangkan oleh Sang Pengemban Janji itu.

Berturut-turut kita melihat akibat-akibat buruk dari ekonomi manusia (Kej. 4 dan 6). Diawali oleh konflik halus antara Adam dan Hawa, diikuti oleh pembantaian Habel oleh Kain, pembangunan kota penuh aspirasi jumawa manusia (Kain menamai kota itu dengan nama putranya) yang berpuncak pada pemberontakan masal manusia melawan Allah via menara Babel. Ketika Allah menindak manusia dan membuat perjanjian dengan orang pilihan-Nya yaitu Nuh, tampak beberapa hal. Pertama, Allah memperbarui perjanjian-Nya akan mempertahankan bumi dengan berbagai potensi baik yang telah diciptakan-Nya diawal zaman. Kedua, Allah menegaskan ulang wibawa manusia atas alam. Ketiga, meski manusia berkuasa atas binatang namun kini ditandai oleh takut manusia akan binatang buas dan penumpahan darah binatang untuk menopang hidup manusia. Dari ketiga hal ini jelaslah bahwa providensia Allah adalah upaya Allah untuk merombak ekonomi manusia agar berbalik arah kembali ke Ekonomi Allah. Namun providensia adalah sesuatu yang transisional dan temporal yang menantikan kedatangan transformasi total di dalam tindakan Allah dalam kepenuhan waktu.

Kitab Keluaran bukan saja sangat hakiki bagi eksistensi umat Allah Perjanjian Lama tetapi juga sangat fundamental bagi pemahaman kita agar lebih matang tentang visi ekonomi. Kitab Keluaran mengungkapkan kesetiaan Allah untuk mengembalikan manusia kepada Ekonomi Allah. Dosa bukan saja masalah individual tetapi juga masalah institusional. Allah memihak umat-Nya, melepaskan mereka dari perbudakan kejam rejim Firaun. Bila sebelumnya Allah meneguhkan kebaikan bumi ini bagi manusia, dalam Kitab Keluaran Allah memulihkan institusi demi kebaikan umat-Nya dengan menciptakan suatu umat perjanjian yang dianugerahi hukum-hukum kemerdekaan. Bagaimana kemerdekaan hidup individu dan sosial itu harus dihargai dan diisi kini dinyatakan Allah di dalam Sepuluh Hukum (Kel. 20), di dalam hukum-hukum ibadah di Kitab Imamat, di dalam aturan-aturan tentang bagaimana umat Allah harus memperlakukan sesamanya, pekerja-pekerjanya, institusi-institusi hukum dan peradilannya, tanah, binatang-binatang dan harta miliknya, hari kerja dan hari istirahatnya, hutang piutang, dlsb. Kita dapat membaca perhatian Allah yang sedemikian teliti yang mengatur berbagai aspek kehidupan ekonomi manusia agar umat Allah boleh mencerminkan Ekonomi Allah itu dalam Imamat 25, Ulangan 15, Ulangan 25, dll. Pelajaran yang dapat kita jadikan prinsip di sini adalah bahwa kemilikan, kerja, hidup sangat berharga karena berasal dari Allah. Karena itu manusia yang merdeka adalah manusia yang menghormati Allah, menghormati kemilikan dirinya dan sesamanya, mengisi hidup berekonomi dalam suasana syukur dan penuh sikap murah hati. Visi ekonomi Keluaran bukan visi sosialisme atau kapitalisme, tetapi visi ekonomi yang kudus sebagai akibat menghargai kepemilikan mutlak Allah, mensyukuri setiap pemberian Allah dalam sikap penatalayanan, dan ekonomi yang bergerak maju di dalam keadilan, kebenaran, kesucian, kebersyukuran, kepedulian, kemurahan hati, kejuangan ibadah, dan kesemarakan anugerah.

Pada intinya para nabi dan para penulis hikmat juga mengumandangkan visi Ekonomi Ilahi. Sebelum pembuangan, umat Allah kembali berbalik ke visi ekonomi yang berporoskan pada pemberontakan melawan Allah. Kisah Pembuangan adalah kebalikan total dari Kisah Keluaran. Oleh karena berpaling dari Allah kepada berhala-berhala yang intinya adalah memperilah alam dan materi, pada giliran berikutnya umat Tuhan mengalami kemerosotan dalam berbagai aspek hidup. Oleh karena budak- budak yang telah dimerdekakan Allah menjadi umat itu memperbudak sesamanya sendiri (lihat Amos), Allah membuang mereka kembali ke dalam perbudakan. Realisasi dosa manusia itu tampak dalam tingkah laku dan tindakan ekonomi yang menyimpang. Pengalaman ekonomi memang bisa menjadi salah satu ukuran apakah umat di dalam berkat Ekonomi Allah atau kutuk yang dijatuhkan Allah ke atas ekonomi manusia. Hukuman Allah dicanangkan bukan atas kesukaan menikmati kekayaan, tetapi atas kehidupan yang bergelimang dosa dan nafsu yang tidak mencerminkan dengan benar kegemilangan hidup dalam prinsip dominasi yang benar seperti yang Allah inginkan. Apabila kini segelintir orang mengartikan kelimpahan materi dan kesehatan sebagai fakta-fakta berkat Allah, sikap itu sebenarnya ada benarnya. Logikanya adalah, ketaatan kepada kehendak Allah berarti menempatkan diri serasi dengan Allah sumber segala berkat, kesehatan, kemakmuran, kelimpahan hidup. Inisiatif Allah memberikan perjanjian dan menganugerahi berkat-berkat rohani dan jasmani tidak berarti bahwa manusia tinggal pasif saja. Sebaliknya perjanjian dan anugerah justru membangkitkan umat yang tahu bersyukur, taat, berkarya nyata. Dengan demikian, kondisi spiritual terukur objektif di dalam yang material, asalkan tidak kita lepaskan fakta bahwa visi nabi-nabi ini beranjak dari visi ekonomi Kejadian dan Keluaran.

Bagaimana dengan visi ekonomi Tuhan Yesus? Di satu pihak kita mengakui fakta bahwa Yesus lahir dalam kandang miskin di suatu keluarga sederhana. Kita juga mengakui bahwa Yesus banyak berbicara kritis terhadap para penguasa kaya yang hidupnya dan hidup ekonominya dalam dosa. Jadi dapat dimengerti bila sebagian orang beranggapan bahwa Yesus menganjurkan pemahaman ekonomi yang mendekati paham sosialisme. Kesimpulan ini gegabah karena tidak teliti mempertimbangkan banyak faktor dari hidup dan ajaran Yesus. Ia memang dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana. Dibandingkan dengan inkarnasi-Nya dari keberadaan Ilahi-Nya menjadi manusia, tepatlah Paulus menyatakan bahwa Ia telah menjadi miskin (2Kor. 8:9). Yang Paulus maksudkan itu ialah tindakan Yesus menjembatani sedemikian luasnya bentangan antara Allah dan manusia melalui inkarnasi dan kematian-Nya. Namun itu tidak berarti bahwa Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga miskin. Yusuf adalah seorang tukang kayu, berarti tergolong kelas pekerja yang relatif berekonomi cukup baik zaman itu. Yesus pun tidak menolak disokong oleh beberapa perempuan berharta, bergaul dengan orang-orang berharta, tidak segan diejek sebagai pelahap dan peminum (Luk. 7:34,35), memiliki pengikut dari kalangan menengah dan atas seperti Petrus, Andreas, atau Filipus yang memiliki usaha penangkapan ikan, Zakheus, Maria dan Marta, dlsb. Tentu saja Yesus melawan perolehan kekayaan dari usaha memutarbalikkan tujuan ibadah (Yoh. 2:13-25).

Ada kesamaan antara sikap dan ajaran Yesus dengan prinsip-prinsip ekonomi yang telah kita pelajari sebelum ini. Bila Yesus mengajarkan para pengikut-Nya untuk tidak kehilangan kesukaan hidup karena harta (Luk. 6:24-25;18:24-25) dan mendorong hidup yang murah hati (Luk. 18:22), itu disebabkan Yesus menerima ajaran Taurat tentang kepemilikan mutlak Allah atas harta dan tanggung jawab penatalayanan manusia atas hartanya. Namun yang radikal ialah Yesus menyatakan bahwa di dalam diri-Nya, yaitu hidup, ajaran dan karya-karya-Nya seluruh maksud Allah dan segala kuasa di langit dan di bumi bertumpu dan beroperasi, mewujudkan Ekonomi Allah dalam penciptaan suatu umat baru. Umat Perjanjian Baru itu adalah bagian dari Kerajaan Allah, orang- orang yang menikmati berlakunya pemerintahan Allah yang memerdekakan, yang membuat mereka menikmati hidup seutuhnya sepenuhnya, mensyukuri setiap pemberian Allah dalam sikap murah hati, menatalayan, dan karena itu tidak terikat melainkan merdeka. Di dalam Yesus, Ekonomi Allah memungkinkan ekonomi manusia tidak menjadi perhambaan materi, pemberhalaan hartabenda, perbudakan keserakahan, melainkan merdeka penuh syukur, kesemarakan yang saling menumbuhkan dan yang menyukakan hati Allah. Itulah kehidupan ekonomi yang berkualitas penuh harkat sejati karena diporosi oleh Ekonomi Allah.

Suasana koinonia itulah yang kita saksikan dalam kehidupan gereja purba yang juga menjadi inti pengajaran surat-surat rasuli. Kehidupan gereja purba bukanlah komunisme ala Kristen melainkan pewujudnyataan visi Ekonomi Allah di dalam kehidupan umat. Tindakan koinonia di Kisah Para Rasul 7 dan pengiriman bantuan oleh jemaat-jemaat Makedonia ke jemaat Yerusalem lebih dari sekadar simpati membagi-bagi sembako kepada pihak miskin. Tindakan itu adalah tindakan merdeka merayakan tindakan pembebasan, penebusan, pembenaran, pemulihan, pendamaian, penyelamatan, pengayaan, pengutuhan yang Allah selaku Sang Liberator telah aktakan di dalam diri Yesus Kristus, dan yang telah mengikutsertakan umat kepunyaan-Nya sebagai koliberator (baca rekan sekerja-Nya dalam karya penyelamatan-Nya) bagi sesamanya. Lihat gema prinsip-prinsip ini dalam nasihat Paulus agar jemaat bekerja (1Tes. 4:10-11; 2Tes. 3:10), tentang bahaya mencintai uang (2Tim. 3:2), agar orang kaya menjadi kaya dalam kemurahan hati (1Tim. 6:17-19), dan peringatan Yakobus terhadap orang-orang yang mengejar kekayaan (Yak. 2:1-7; 4:13-5:6). Dan ke arah Yerusalem baru yang tanpa cacat cela, oleh oikonomia tou Theou (Ekonomi Allah atau penyelenggaraan kasih karunia Allah) itulah kita semua sedang berarak mengikuti Yesus.

Dari menelusuri drama-drama besar Alkitabiah ini dapat kita tarik kesimpulan awal berikut tentang prinsip-prinsip ekonomi.

  1. Penyataan Allah secara khusus dan penyataan Allah secara umum perlu dilihat sebagai dua kekuatan harmonis berdampak ekonomi, keduanya terang terpercaya bagi pola pikir dan pengambilan keputusan ekonomi manusia.
  2. Allah adalah Pencipta-Pemelihara-Penebus, sumber dan pemilik mutlak dari segala karunia yang manusia nikmati dalam hidup ini. Hanya Allah boleh menerima kepercayaan, ketaatan, dan ketergantungan mutlak manusia.
  3. Manusia diciptakan Allah sebagai wakil Allah, dilimpahi berbagai kemungkinan dan potensi untuk menikmati kebaikan-kebaikan Allah, menggunakan wibawa-Nya dengan penuh tanggung jawab, mengembangkan segenap aspek hidup, ekonomi-sosial-politis dalam semangat syukur dan menatalayan. Harta benda adalah berkat Allah.
  4. Harta benda baik adanya, patut disyukuri, namun bukan yang terpenting dalam hidup, tidak tepat dijadikan andalan dan orientasi hidup, bukan ukuran mutlak tentang kerohanian. Kita hanya pemilik kedua di bawah kepemilikan mutlak Allah yang menciptakan dan mengadakan semua itu demi kebaikan kita
  5. .

  6. Dosa adalah pemutarbalikkan prinsip-prinsip ekonomi tadi, mendatangkan berbagai kutuk yang merusak dan menghancurkan. Wawasan ekonomi yang materialistis, egosentris, kompetitif tak terkendali, sekuler, tidak mensyukuri dan memuliakan Allah, menyingkirkan etika dan moral dari ekonomi dan bisnis, adalah akibat dari kerusakan manusia dalam dosa. Reformasi terhadap kondisi jahat itu dapat terjadi bila manusia pada umumnya kembali kepada prinsip-prinsip yang Tuhan telah nyatakan dalam hati nurani dan prinsip keluhuran hidup dengan pertolongan Allah dan bila manusia Kristen konsisten memberlakukan prinsip etika Kristennya.

Sepanjang sejarah manusia, dari Perjanjian ke Perjanjian sampai puncaknya dalam Sang Penggenap Perjanjian, Allah menyelenggarakan Ekonomi-Nya yang beranugerah, memerdekakan, memanusiawikan. Visi Ekonomi Allah dalam Perjanjian Lama digenapi dalam Ekonomi hidup- ajaran-karya penebusan Yesus Kristus. Gereja Tuhan sebagai pengejawantahan Ekonomi Baru dari Allah itu patut menghayati penuh, membagi dan memberitakan kebenaran Injil berdampak holistik itu bagi sesamanya pada segala tempat dan segala zaman.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Hidup dalam Ritme Allah
Judul Artikel : -
Penulis : Paul Hidayat
Penerjemah : -
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta 2005
Halaman : 107 - 123

Siapakah Kristus Yang Naik Ke Surga?

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Meskipun Hari Kenaikan Tuhan Yesus sudah berlalu seminggu y.l. namun gaung pesan yang muncul dari peristiwa kenaikan tersebut tidak akan pernah berlalu dari muka bumi ini sebelum kedatangan Tuhan Yesus kembali yang kedua kalinya. Oleh karena itu mari kita camkan baik-baik pesan penting yang diberikan Kristus sebelum Ia naik ke surga.

Kiranya artikel dari khotbah Pdt. Stephen Tong ini menolong kita melihat dengan jelas makna kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, karena itulah yang menjadi misi kita orang-orang Kristen selama masih diijinkan Tuhan hidup di dunia ini. Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
074/V/2006
Isi: 

Artikel ini disarikan dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di GRII Jakarta.

Dalam Mazmur 24:7-10, kita membaca mengenai adanya pintu kekekalan yang dibuka menyambut seorang pemenang untuk selama-lamanya. Di Vatikan, di dalam Gereja Basilica of Saint Peter, ada pintu yang hanya boleh dibuka satu kali dalam 50 tahun. Pada waktu mereka membuka pintu itu, kadang-kadang mereka membaca ayat ini. Mereka menganggap itu merupakan suatu upacara yang agung sekali. Sebenarnya pintu itu tidak mempunyai makna yang terlalu berarti bila dibandingkan dengan ayat- ayat yang tercantum di sini.

"Semua pintu gerbang, terbukalah!" Untuk siapa pintu yang kekal dibuka? "Untuk raja yang pernah berperang di dalam medan peperangan." Siapakah raja yang pernah menang perang di medan peperangan? "Yaitu yang diutus oleh Yehovah, yang menjadi Tuhan di atas segala sesuatu."

"Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!" Siapakah dia itu Raja Kemuliaan? "Tuhan semesta alam, Dialah raja semesta alam, Dia Raja Kemuliaan."

Tapi Dia pernah datang, pernah dicobai, pernah diberi kesempatan untuk berjuang dan bertarung dengan kuasa-kuasa kejahatan. Iblis berusaha meremukkan dan menjatuhkan Dia. Tetapi Dia naik ke surga. Ini membuktikan bahwa Dialah Raja yang mulia, Raja yang menang, Raja yang pernah bertempur di dalam medan pertempuran rohani menggantikan engkau dan saya.

"Hai pintu gerbang, gerbang yang mulia, pintu yang kekal, bukalah! Angkatlah kepalamu, bukalah pintumu menyambut Yesus Kristus sebagai yang menang!"

Di dalam Pengakuan Iman Rasuli tertulis, "Dia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa". Bagian ini jangan dimengerti sebagai suatu lokasi atau semacam pengertian secara tata ruang. Jikalau Yesus betul- betul berada di sebelah kanan, berarti ada lokasinya. Bukankah ini juga berarti bahwa Bapa berada di sebelah kiri Yesus? Jikalau Bapa berada di kiri, lalu Yesus di kanan, yang mana yang lebih besar? Yang kanan atau yang kiri? Lalu, di manakah Roh Kudus? Bila demikian, hal ini akan mengaburkan arti rohaninya. Padahal pengertian tempat seperti itu mempunyai arti rohani yang jauh lebih dalam.

Di dalam pemikiran Kitab Suci, tempat kanan mempunyai tiga arti.

Arti pertama, Yesus Kristus adalah orang yang sudah diterima dengan sukacita oleh Tuhan Allah. Ini adalah delighted decision. Suatu tempat yang diterima dengan baik, suatu tempat yang diberikan karena yang memberi begitu senang kepada Dia. Kristus adalah Anak kesayangan Bapa. "Dengarlah Dia! Dengarlah Anak yang Aku suka ini."

Arti kedua, tempat sebelah kanan berarti tempat pemenang. Setelah orang yang bertempur dalam medan peperangan pulang, ia diberikan tempat di sebelah kanan oleh raja. Jenderal yang menang, jenderal yang begitu penting, duduk di sebelah kanan. Yesus Kristus menjadi pemenang di dalam medan peperangan. Itu sebabnya Ia duduk di sebelah kanan Bapa.

Ketiga, tempat kanan berarti tempat penguasa. Tuhan memberikan kekuatan, kuasa, dan mandat yang melampaui apapun di bumi kepada-Nya. Itulah kuasa yang diberikan kepada Yesus Kristus.

Puji Tuhan! "Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan. Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu?" Itulah Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan

Bagian kedua diambil dari Matius 28:18, dst. Yesus Kristus bukan saja seorang pemenang, tapi Dia naik ke surga. Sewaktu naik ke surga, Dia memberikan suatu amanat yang paling agung kepada semua orang yang mengikuti Dia.

Pada zaman reformasi, orang-orang reformasi, khususnya yang berada di Jenewa, menganggap amanat agung hanya diberikan kepada rasul-rasul pada waktu itu. Ini merupakan suatu kelemahan besar yang mengakibatkan kira-kira selama dua abad orang-orang reformasi, orang-orang Lutheran, hanya mengerjakan penggembalaan di Eropa. Mereka tidak mengutus orang keluar untuk mengabarkan Injil. Karena kesalahtanggapan itu, akhirnya gereja menjadi lemah dalam penginjilan.

Lambat laun Tuhan membangkitkan orang-orang untuk membawa kita kembali kepada visi yang benar, bahwa penginjilan itu bukan tugas gereja mula- mula saja. Penginjilan bukan sudah tidak ada, tetapi ada pada setiap zaman. Para rasul dan para nabi memang sudah tidak ada. Namun, fungsi- fungsi kerasulan dan kenabian masih tetap ada. Jadi, yang diutus mewakili Tuhan untuk berbicara adalah fungsi yang masih berada dalam segala zaman. Maka kita juga harus menegaskan hal ini. Pengertian tentang kesadaran semacam ini akan mengubah dan menggugat kembali tugas kita terhadap dunia ini.

Yesus berkata, "Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku." Ini merupakan suatu penanaman visi, semacam pikiran yang begitu besar kepada gereja. Bila suatu zaman tidak memiliki visi, maka zaman itu akan penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman dalam melihat visi akan menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Namun, bila visi itu kembali dipertajam dan menggugah hati manusia, mau tidak mau gereja akan menjadi militan dan dinamis di dalam pelayanan.

Begitu banyak orang Kristen yang malas, yang imannya kendur, yang hidup rohaninya begitu sembarangan dan etikanya begitu tidak bertanggung jawab karena sudah kehilangan ketajaman dan keinsyafan tentang visi dan mandat dari Tuhan! Tetapi puji Tuhan! Yesus bukan memberikan suatu khotbah dan amanat yang agung itu kepada mereka di tempat sembarangan. Mereka naik ke gunung dan di atas gunung itu Yesus mengutus mereka.

Pada waktu naik ke atas bukit, berada di tempat yang tinggi, kita akan melihat suatu dataran yang lebih besar. Kita akan mempunyai pemandangan yang jauh lebih luas dan di situ Tuhan membentuk suatu pemikiran atau semacam wawasan yang luas bagi orang-orang yang mau mengabarkan Injil. Barangsiapa yang tidak mempunyai hati yang luas, yang tidak mempunyai pandangan rohani dengan wawasan yang luas, tidak mungkin mempunyai penginjilan yang kekuatannya lebih besar daripada pelayanan yang lain. Di sini kita melihat, gereja harus kembali mengikuti teladan dan menaati perintah Yesus Kristus.

Kenaikan Kristus ke surga bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tetapi juga suatu amanat. Dia pergi dan tugas-Nya dikerjakan oleh engkau dan saya. Barangsiapa merayakan hari kenaikan Kristus, dia juga harus mengingat pesan Yesus sebelum Ia pergi.

Pesannya adalah "Pergilah ke seluruh dunia, jadikan segala bangsa murid-Ku. Apa yang Aku katakan kepadamu ajarkanlah mereka, supaya mereka menjalankannya dan engkau yang mengabarkan Injil akan Kusertai, sampai kesudahan, sampai selama-lamanya."

Selanjutnya, kita akan melihat apa yang dikaitkan dengan kenaikan Yesus ke surga. Dalam Yohanes 16:7-8, tertera suatu perjanjian yang lebih penting lagi. Jikalau Yesus Kristus, yang sudah memberikan perintah untuk pergi mengabarkan Injil ke seluruh dunia hanya membiarkan pengikut-pengikut-Nya dengan keadaan yang begitu sulit, dengan penganiayaan-penganiayaan yang kejam, yang ganas dan tidak berperikemanusiaan, bukankah Ia adalah Tuhan yang meletakkan kewajiban dan pergi melarikan diri? Tetapi bukanlah demikian. Alkitab mengatakan, "Aku pergi justru berfaedah besar bagimu. Aku pergi untuk kamu karena jikalau Aku tidak pergi Roh Kudus tidak turun." Di sini Yesus Kristus mengaitkan kenaikkan-Nya ke surga dengan rencana yang berkesinambungan di dalam konsistensi pikiran Tuhan Allah yang kekal.

Allah bukanlah Allah yang tidak berprogram. Allah adalah Allah yang mempunyai program yang tertinggi. Allah adalah Allah yang mempunyai cara berorganisasi dan mempunyai cara pemikiran dan jadwal yang paling tepat. Itu sebabnya Tuhan berkata, "Jikalau Aku tidak pergi, tidak ada faedahnya bagimu. Tetapi jikalau Aku pergi, kepergian-Ku akan mendatangkan keuntungan bagimu, sebab setelah Aku pergi, Roh Kudus akan dikirim turun dan menyertai serta menjadi penghibur bagimu."

Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, Raja pemenang. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang mengutus kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang bersama dengan Bapa mengutus Roh Kudus menjadi pendamping bagi gereja.

Jikalau kita melihat abad pertama, kita mengetahui bahwa orang Kristen bukan saja minoritas. Orang Kristen berada di kalangan bawah. Kebanyakan yang menjadi orang Kristen adalah budak, nelayan, orang miskin, orang di pasar, dan sedikit sekali pejabat-pejabat tinggi, konglomerat, atau orang-orang penting di dalam masyarakat yang beriman kepada Yesus Kristus. Dari antara 12 murid Yesus, kita melihat begitu banyak nelayan yang dipanggil. Pengaruh mereka mulai dari grass-root, mulai dari lapisan yang paling bawah sekali.

Yesus menjadi teman dari pemungut cukai, dari orang-orang berdosa. Ia menerima orang-orang yang dibuang oleh masyarakat.

Melalui kira-kira 300 tahun, kita melihat pengaruh kekristenan sudah mengakibatkan Raja Konstantin akhirnya harus berlutut di hadapan Yesus dan mengakui Dia sebagai Tuhan. Di sini kita melihat di dalam 300 tahun permulaan itu, gereja mengalami penganiayaan, pengucilan, pembunuhan, dan penyiksaan. Begitu banyak martir yang mati mengalirkan darah, mati syahid bagi kepercayaan dan iman kekristenan yang mereka yakini.

Siapakah yang memberikan kekuatan? Bagaimana mereka bisa bertahan bila tidak ada penolong yang setiap saat berada dengan mereka, yang mempunyai kuasa ilahi, yang berada di tengah-tengah mereka? Siapakah Penolong itu? Dialah Roh Kudus.

Maka Yesus berkata, "Aku harus pergi. Aku pergi, maka Dia akan datang. Aku pergi dan bersama dengan Bapa mengirim Roh Kudus agar turun ke atas kamu. Roh Kudus turun ke atas kamu, maka kamu akan berkuasa." Berkuasa atas apa? Berkuasa atas penderitaan, penganiayaan, dan segala kesulitan sehingga engkau dapat tetap memegang imanmu.

Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, umumnya masyarakat saat ini memahami kuasa Allah melalui pertolongan dan kelancaran hidup serta pemberian berkat secara materi atau jasmani. Tetapi kuasa yang kita lihat dalam Perjanjian Baru setelah Kristus naik justru sama sekali terbalik. Kalau Tuhan berkuasa, kenapa tidak menyembuhkan saya? Kalau Tuhan berkuasa kenapa tidak menyertai? Kalau Tuhan berkuasa, kenapa situasi politik dan situasi ekonomi begitu jelek? Kalau Tuhan berkuasa, mengapa Nero saja bisa menganiaya rasul? Bisa memaku mati Petrus secara terbalik? Di mana kuasa Tuhan?

Kekristenan justru memahami kuasa dari kerajaan Tuhan secara antitesis. Di dalam penganiayaan, di dalam kesulitan, di dalam desakan, di dalam kesempitan, di dalam segala sesuatu: kesulitan, sengsara, penderitaan politik, ekonomi dan apa pun juga, iman orang Kristen tidak berkompromi. Orang Kristen tidak menyerah kepada musuh. Itulah kuasa Roh Kudus.

Saya sangat takut kalau gereja sudah menjadi sangat kaya. Saya sangat takut kalau hamba Tuhan sudah beroleh segala kelonggaran sehingga tidak lagi bersandar kepada Tuhan. Padahal melalui kemiskinan dan kesulitanlah iman kita memiliki kesempatan untuk dilatih agar memiliki suatu kekayaan rohani. Sebaliknya, saat kita sudah mempunyai segala sesuatu, kita menjadi sangat miskin di dalam iman.

Tuhan berkata, "Aku pergi dan Aku mengirim Roh Kudus. Roh Kudus mendampingi engkau, saat engkau diutus ke dalam dunia sebagai utusan Tuhan."

Saya minta maaf jikalau saya harus memakai suatu kalimat, bahwa itulah pengutusan yang paling kejam dalam sejarah. Jangan heran kalau ada orang Kristen yang dibunuh. Jangan heran kalau gereja dianiaya. Jangan heran kalau kadang-kadang kita dibiarkan miskin dan sulit luar biasa. Jangan mengomel apalagi heran karena itu cara pengutusan dari Tuhan. "Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala!" Bukankah itu hal yang paling kejam? Coba Saudara bayangkan, seekor domba yang dikelilingi oleh kawanan serigala yang begitu kejam. Serigala yang mempunyai gigi begitu tajam, sifat yang begitu keras, kelompok yang begitu banyak kawannya. Itulah namanya utusan Tuhan. "Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah serigala."

Itu sebabnya saya minta maaf kalau saya katakan pengutusan Tuhan adalah pengutusan yang kejam. Tetapi tidak menjadi soal, jikalau domba itu mengerti bahwa Roh Kudus sedang diutus untuk menyertainya. "Aku pergi supaya Roh Kudus turun!" Inilah sudut ketiga yang kita lihat dari kenaikkan Yesus ke surga.

Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia Raja yang menang di dalam pertempuran rohani. Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia adalah Tuhan yang memberikan mandat kepada kita, amanat yang paling agung: mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Yesus yang naik ke surga? Dia adalah yang mengutus Roh Kudus yang menjadi parakletos, menjadi penghibur, pendamping untuk kita.

Keempat, kita membaca dalam Ibrani 4:14-16. Bagian ini menyatakan bahwa kita memiliki seorang Imam Besar yang sudah melintasi segala langit. Yesus naik ke surga bukan berarti menghilang dari bumi ini setelah kurang lebih 33 tahun berada di dunia. Atau seperti yang dikatakan oleh doketisme, keberadaan-Nya hanya suatu dokaio saja. Dia hanya dibayang-bayangkan pernah datang ke dunia, lalu hilang. Setelah pergi, Ia naik ke surga dan melintasi segala langit. Ini merupakan suatu ajaran yang begitu besar.

Pada hari kenaikan ini, saya merenungkan, terus merenungkan kenaikan Yesus Kristus. Lalu saya berkata, "Puji Tuhan! Agama lain tak pernah mempunyai seorang pendiri, tak pernah mempunyai seorang penghulu agama yang datang dari sana ke sini, dan juga tidak pernah ada yang dari sini ke sana dengan melintasi segala langit, kecuali Yesus Kristus." Mereka hanya membayangkan adanya satu allah. Allah, yang belum pernah datang ke dunia. Allah, yang katanya mencipta, menyelamatkan dan mengampuni, satu-satunya yang rahmani, rahimi. Tapi allah yang mereka bayangkan berbeda dengan Yesus Kristus yang adalah Allah yang pernah meninjau sendiri, datang sendiri, menyelamatkan kita, hidup di tengah- tengah kita, yang dengan mulut-Nya memakai bahasa manusia untuk memberikan pengajaran yang terindah di dalam sejarah kepada kita, lalu pergi setelah menyelesaikan tugas-Nya.

Sewaktu mengenang Kristus, kita mengenang Allah yang pernah datang. Wujud-Nya begitu konkrit. Hubungan-Nya dengan manusia juga begitu intim. Dalam bagian Firman ini dikatakan suatu kalimat yang begitu menyentuh. Kita bukan mempunyai seorang Imam yang tidak mengerti segala kelemahan kita. Saya percaya di dalam hidup setiap orang, sedalam-dalamnya ada keluhan kesusahan hidup dalam dunia. Baik orang kaya maupun orang miskin, orang sukses maupun orang yang penuh dengan kegagalan, baik engkau yang kelihatan mempunyai materi yang begitu besar, begitu banyak, atau mereka yang selalu mengejar hanya untuk menyambung hidup saja.

Setiap orang mempunyai keluhan akan hal yang begitu sulit. Namun, siapakah yang sungguh-sungguh dapat mengerti setiap orang? Suami ingin dimengerti oleh isteri. Tapi justru isteri ingin dimengerti oleh suami! Kekuatan kita untuk mengerti dan kemampuan kita untuk mau mengerti dibandingkan dengan kebutuhan kita untuk dimengerti, selalu tidak seimbang.

Adakah yang mengerti? Ada! Yesus Kristus mengerti segalanya. Dia pernah datang. Dia pernah dilahirkan di tempat binatang. Dia pernah diejek oleh bangsanya sendiri. Dia pernah seorang diri mengalami puasa 40 hari dan dicobai oleh iblis. Dia pernah menanggung berat. Dia pernah menderita, berkorban emosi, berkorban perasaan. Yesus Kristus mengerti segala kelemahan kita. Dia mengerti karena Dia sama seperti kita. Dia merasakan segala pengalaman kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai tetapi tidak berbuat dosa.

Yesus yang telah naik ke surga menjadi Imam Besar. Imam Besar inilah yang membawa kesulitan kita kepada Allah yang sulit kita capai. Ia juga membawa anugerah dari Allah kepada kita, anugerah yang tidak layak kita terima. Inilah pekerjaan Imam. Imam yang berada di antara yang hidup dan yang mati. Imam yang berada di antara yang tidak kelihatan dan yang kelihatan. Imam yang berada di antara Allah dan manusia. Kristuslah pengantara yang menjalankan tugas imam sekaligus sebagai korban. Inilah perbedaan imam dalam sejarah orang Yahudi dengan Imam yang paling besar, Yesus Kristus, bagi gereja-Nya. Imam- imam yang lain tidak menjadi korban. Mereka mempersembahkan korban, namun mereka sendiri bukan korban. Hanya Yesus yang bertindak sebagai Imam Besar sekaligus korban.

Dengan bahasanya, manusia tidak akan sanggup untuk mengungkapkan keagungan dan kebesaran cinta kasih Tuhan yang adalah Imam Besar sekaligus korban. Ia mempersembahkan diri dengan roh-Nya yang kekal dan darah-Nya yang suci yang tak bercacat cela untuk membersihkan dan menjadikan kita milik-Nya yang dilayakkan untuk berdamai dengan Tuhan Allah. Inilah Imam kita. Dan inilah bagian keempat yang kita lihat.

Selanjutnya, dalam Ibrani 7:24-25 kita melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai pekerjaan lain setelah naik ke surga. Dalam ayat 26, dikatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai tingkatan tertinggi sebagai pengantara untuk berdoa syafaat bagi setiap kita. Dalam pasal 7 ayat 27-28, serta pasal 9 ayat 27-28 terlihat bahwa Dialah yang menanggung dosa kita dan yang menjadi pengantara yang berdoa syafaat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Siapakah Kristus? Dia pemenang, bukan? Siapakah Kristus? Dia pengutus, bukan? Siapakah Kristus? Dia yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Siapakah Kristus? Dia yang berdoa bagi kita dengan pengertian karena Ia sendiri pernah datang ke dalam dunia ini. Tidak hanya itu, Yesus adalah Tuhan yang kembali ke surga untuk menyiapkan tempat bagi kita.

Dalam Injil Yohanes 14:1-4 Yesus berkata, "Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada di sana pun engkau akan berada."

Adakah penghiburan yang lebih besar dari ini? Tidak ada. Adakah seorang Juruselamat seperti Kristus? Tidak ada. Dialah satu-satunya dan Dialah yang paling sempurna di dalam menyediakan segala sesuatu bagi umat-Nya. "Di jalan itu Aku pergi. Jalan satu-satunya dan engkau tahu juga."

Pada waktu Filipus bertanya kepada Dia, "Hai Guru, tunjukkan jalan itu kepada kami," maka Yesus Kristus dengan menggelengkan kepala bertanya, "Sudah sekian lama engkau mengikut Aku, engkau masih belum tahu di mana jalan itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: `Akulah jalan, Akulah kebenaran, dan Akulah hidup.`"

Saya melihat ketiga butir ini sebagai suatu gambaran tentang seluruh dunia, yaitu di dalam filsafat, kebudayaan agama, dan kebijaksanaan, yang terkristalisasi di dalam dunia mental manusia.

"Akulah jalan, Akulah kebenaran." Mengapa Yesus mengatakan: "Akulah jalan"? Karena semua agama mencari jalan. Itulah yang dibutuhkan oleh orang di Timur. "Akulah kebenaran." Mengapa Yesus menyatakan kebenaran diidentikkan dengan diri-Nya? Karena manusia di Barat yang mencari filsafat ingin mengetahui kebenaran dan Yesus mengisi kebutuhan itu. Pada waktu Yesus mengatakan: "Akulah jalan", Ia sedang menunjukkan kepada orang Timur yang mau mendapatkan jalan di dalam agama. Ia berkata, "The way is not there. The way you are seeking is not in religion, but in Me, in My life."

Yesus telah mengajak dunia Timur dan Barat untuk menerima kesimpulan- Nya, "Akulah hidup yang tidak ada pada agama-agama, tidak ada pada filsafat-filsafat dan sistem epistemologi dunia." Semua pendiri agama akhirnya mati di tengah usahanya mencari jalan. Para filsuf juga akhirnya mati di tengah usahanya mencari kebenaran. Dan Kristus akhirnya berkata, "Di manakah jalan itu? Akulah jalan itu. Di manakah kebenaran itu? Akulah kebenaran itu. Dan Akulah hidup."

Inilah satu-satunya solusi. The only solution, the only answer, for seeking the truth in way thru philosophy, religion, culture, and human wisdom concluded only in Jesus Christ, the truth revelation of God in human form. Puji Tuhan! Dialah pernyataan Allah yang berbentuk manusia, yang telah menyimpulkan segala sesuatu yang sedang digumuli dan dicari agama maupun filsafat.

Paul Tillich, seorang teolog besar mengatakan, munculnya Yesus di dalam sejarah harus menghentikan usaha semua agama dalam mencari apa pun yang paling berharga yang mereka inginkan. The revelation of Christ, the appearance of Christ in history is to cease off the effort of seeking truth and way in religions. Puji Tuhan!

"Akulah jalan. Dan jalan itu bukan dari sini ke sana melainkan dari sana ke sini. Akulah yang menghampiri manusia."

Manusia tidak akan pernah dapat menghampiri takhta Allah dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Allah yang suci dan kekal tidak akan dapat dijangkau oleh manusia yang berdosa dan terbatas. Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas, yang dicipta, yang bisa rusak dapat menghampiri Tuhan yang tak terbatas dan kekal? Hal ini hanya mungkin bila Allah, dari takhta yang tidak terbatas, yang kekal, yang tidak bisa rusak, rela turun, lalu pergi kembali untuk menjadi jaminan kita.

Kalau agama-agama lain hanyalah one way traffic in human effort, jalan yang hanya satu arah dari usaha manusia, kekristenan percaya kepada suatu sistem keselamatan berupa two way traffic which initiative from God and assured in the term of God. Kita percaya pada sistem dua jalur, dari sana telah ke sini, yang membawa kita dari sini ke sana, yang dijamin di dalam segala kekuatan yang kekal di dalam takhta Tuhan. Puji Tuhan!

"Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Aku pergi untuk mempersiapkan segala sesuatu bagimu dan Aku akan datang kembali untuk menyambut engkau sebagai seorang mempelai lelaki yang akan menyambut mempelai perempuan." Gereja harus siap sedia. Gereja harus senantiasa mempersiapkan diri dengan tidak menodai, tidak mencemari tubuh Kristus. Gereja harus bersiap untuk menjadi mempelai perempuan Kristus yang akan bersatu di dalam cinta kasih yang paling inti yang digambarkan dalam hubungan suami isteri.

Ia yang akan datang kembali telah menyediakan tempat bagi kita. Ia berkata, "Di mana Aku berada, di situ engkau berada."

Bagian terakhir ialah Kisah Para Rasul 1:9-11. "Hai orang Galilea, mengapa engkau melihat seperti ini? Ingatlah, Yesus yang kau lihat diangkat ke surga, akan datang dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia ini."

Seluruh Kitab Suci mempunyai suatu konsistensi, mempunyai suatu hubungan organis yang begitu erat, sehingga tidak bisa dipisah- pisahkan sembarangan, kecuali oleh mereka yang sengaja atau mereka yang tidak mengerti. Di dalamnya kita melihat rencana Allah yang sudah terbentuk begitu sempurna. Yesus Kristus naik ke surga bukan karena Ia melarikan diri. Ia tidak menyembunyikan diri. Ia pergi dengan tugas. Ia pergi dengan rencana Allah yang sudah ditetapkan dan itu bukan titik yang terakhir. Itu merupakan suatu janji bahwa suatu hari kelak Ia akan datang kembali dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia.

Saya membayangkan orang-orang Galilea seperti Petrus dan Yohanes yang sudah terbiasa didampingi oleh Yesus, yang bila ada kesulitan langsung beralih kepada Yesus dan bertanya, "Bagaimanakah Tuhan? Bagaimanakah cara-Mu menangani kesulitan ini, Guru?" Mereka sudah terbiasa disertai, ditolong, dan berada bersama dengan Yesus Kristus. Sekarang, untuk pertama kali dalam hidupnya, mereka sadar bahwa Yesus tidak selamanya berada di samping mereka. Yesus harus pergi dan mereka harus menghadapi dunia secara faktual, menghadapi dunia ini dengan segala sesuatu yang tidak terlalu bersahabat dengan orang Kristen. "Akan bagaimana perlakuan Herodes terhadap kita? Akan bagaimana Pilatus terhadap kita? Dan bagaimana prinsip Kaisar dan politikus-politikus Romawi? Dan jika berganti gubernur yang lain, akan bagaimana? Kami tidak tahu."

Mereka hanya tahu Yesus pergi. "Lalu, hanya mimpikah 3 1/2 tahun yang lampau itu? Janji kosongkah itu? Hanya menjadi catatan sejarahkah itu semua? Ataukah kedatangan-Nya itu suatu kesempatan yang belum pernah ada dalam sejarah sehingga kami dapat menikmatinya? Kalau Tuhan sudah pernah turun, kenapa pergi lagi? Kalau Dia sudah menyertai, kenapa naik lagi? Setelah naik lalu bagaimana?"

Kenaikan Yesus Kristus memaksa mereka untuk memikirkan pertangungjawaban iman dan respon mereka terhadap kalimat nubuat yang pernah diucapkan Yesus. Mereka harus memberikan semacam tantangan kepada setiap orang percaya. Mereka harus mempertanggungjawabkan tentang bagaimana meresponi, mengimani, dan mengaplikasikan setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan Yesus saat Ia ada di dunia.

Kadang-kadang saat papa dan mama ada kita tidak menghargai mereka. Saat Tuhan memanggil mereka pulang, barulah kita sadar dan kalang kabut. Sekarang kita harus menghadapi kenyataan bagaimana hidup di dalam dunia ini. Baru kita ditantang untuk berpikir kembali, "Apa yang pernah papa katakan dulu kalau menghadapi orang yang begini?" Sekarang kita mulai mengingat-ingat. Sama persis dengan keadaan sewaktu Yesus naik ke surga.

Waktu naik ke surga Yesus berkata, "Aku akan mengirim Roh Kudus untuk kembali mengingatkan perkataan-perkataan yang sudah pernah Aku katakan kepadamu."

Itu sebabnya kita ditantang untuk berespon, bertanggung jawab, dan berdikari. Gereja ditantang untuk menjadi wakil Tuhan di dunia dengan memuliakan Tuhan, merefleksikan segala moral kesucian, keadilan, cinta kasih Allah dari zaman ke zaman. Inilah tugas gereja.

"Hai orang Galilea, untuk apa melihat terus ke awan? Mengapa melihat terus ke langit? Yesus yang pernah beserta denganmu, yang pernah kau saksikan pelayanan-Nya, sekarang sudah naik ke surga dan akan datang kembali."

Setelah membaca enam bagian Kitab Suci yang begitu penting ini, dan jikalau kita sungguh-sungguh menunggu dan mengharapkan Yesus Kristus datang kembali, maka ada dua hal penting yang harus kita kerjakan.

Pertama, kita harus mengabarkan Injil kepada sesama. Tidak ada jalan lain. Ini merupakan keikhlasan orang yang menantikan kedatangan Yesus Kristus. Jikalau Injil ini dikabarkan ke seluruh dunia, maka hari itu akan tiba. Berarti sebelum Injil dikabarkan kepada segala bangsa, segala suku, segala sudut, Kristus tidak akan kembali.

Saya betul-betul salut, sedalam-dalamnya dari dalam hati saya, kepada orang-orang di Wiclyffe Bible Translation Association. Mereka berada di lembaga Alkitab yang khusus menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa- bahasa yang terpencil di daerah-daerah yang dilupakan oleh manusia. Mereka pergi ke tempat yang begitu terpelosok, begitu dalam, begitu sulit dicapai. Saya salut melihat mereka.

Saya berdoa dan mengajak kita semua supaya menjadikan gereja kita sebagai gereja yang mau mendukung penginjilan, gereja yang menghasilkan penginjil, gereja yang mengerti makna Injil, dan gereja yang mau melibatkan diri ke dalam penginjilan misi seluruh dunia. Bila kita menunggu kedatangan-Nya dengan hati yang sungguh-sungguh ikhlas haruslah kita tunjukkan dengan menunjang dan melibatkan diri ke dalam penginjilan.

"Hai orang-orang Galilea, mengapa melihat seperti ini? Mengapa terus menengadah ke langit? Memang Yesus sudah naik, tapi tugasmu bukan memandang Dia, tetapi pergi ke dunia mengabarkan Injil!"

Kedua, orang yang sungguh-sungguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah orang yang menjaga hidup di dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima dan diterima oleh-Nya. Barangsiapa yang menaruh pengharapan seperti ini kepada-Nya, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1Yohanes 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus.

Terakhir kita akan melihat ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat.

Siapakah Ia, yang dalam ayat 20 berfirman dan memberi kesaksian tentang semuanya? Jadi, Yesus Kristus berkata, "Ya, Aku datang segera. Aku akan datang kembali secepat mungkin." "Amin. Datanglah Tuhan Yesus." Atau terjemahan lain: "Oh Yesus, aku mengharapkan Engkau datang!" Yesus berkata, "Ya, Aku datang segera." Gereja menjawab, "Amin. Kami menunggu kedatangan-Mu."

Dengan mengingat kenaikan-Nya ke surga, kita kembali menyadari bahwa Ialah pemenang, pemberi Roh Kudus, sekaligus pendoa syafaat yang mengerti kesengsaraan kita. Ia pula yang menyediakan tempat di surga yang akan datang kembali bagi kita. Kita pun bersedia menanti kedatangan Tuhan kedua kalinya. Kiranya Tuhan memberkati kita masing- masing di dalam hidup kita sebagai orang Kristen di dunia.(EL)

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Momentum, 40, Triwulan II/1999
Judul Artikel : -
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 3 - 13

Yang Lama Dan Yang Baru

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, saya minta maaf untuk keterlambatan pengiriman posting ini, yang seharusnya dikirim akhir bulan April y.l.

Artikel yang saya postingkan kali ini berkisar pada masalah penerimaan otoritas kitab-kitab PL, khususnya bagi masyarakat modern saat ini. Hal ini muncul karena adanya pra-anggapan bahwa kitab-kitab PL adalah kitab-kitab yang lebih banyak berbicara tentang Israel, bahkan ada buku Hermeneutik yang mengatakan bahwa isi kitab PL sebenarnya hanya ditujukan bagi orang Israel saja. Demikian juga dengan hukum-hukum yang disebutkan dalam PL. Orang Kristen sekarang yang digolongkan sebagai orang PB, tidak lagi terikat dengan hukum PL, kecuali jika hukum-hukum dalam kitab-kitab PL itu diulang lagi dalam PB. Apakah anggapan ini benar? Anggapan ini tidak benar.

Di pihak lain, walaupun otoritas PL diakui, banyak orang Kristen memiliki kesulitan menempatkan PL dalam KESELURUHAN KEBENARAN Firman Tuhan. Apakah PL dan PB mempunyai nilai dan bobot yang sama? Apa relevansi kitab-kitab PL dengan hidup kita sekarang. Relevansi kitab- kitab PB jelas, karena hampir setiap minggu, di gereja, kita mendengar khotbah-khotbah yang diambil dari kitab-kitab PB. Kebenaran-kebenaran otoritas PB tidak banyak dipertanyakan karena memang sudah jelas. Tapi otoritas dan relevansi kitab-kitab PL? Gereja sendiri jarang memberi tekanan pada berita-berita PL. Selain sebagai cerita di sekolah Minggu anak-anak, jemaat jarang mendengar kebenaran PL dikhotbahkan sebagai prinsip-prinsip iman Kristen. Lalu bagaimana seharusnya?

Pembahasan oleh John Drane di artikel berikut ini mudah-mudahan menolong kita mengerti bagaimana menempatkan PL secara benar sebagai Firman Tuhan yang berotoritas bagi hidup kita.

Sola Scriptura!

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
-
Edisi: 
073/IV/2006
Isi: 

MASALAHNYA

Bagi orang Kristen, PL senantiasa penting karena kutipannya terdapat pada hampir setiap halaman PB. Namun, PL menjadi masalah bagi kekristenan dan bahkan sejak masa awal gereja makna dan relevansi PL telah menjadi sumber perdebatan dan kontroversi yang hangat. Hal-hal tersebut merupakan salah satu isu yang menyebabkan gesekan dan perpecahan dari gereja-gereja muda di tahun-tahun segera setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Yesus sendiri telah mengklaim bahwa hidup-Nya sendiri adalah penggenapan PL. Namun banyak tindakan-Nya seakan mengabaikan pengajaran-pengajaran utama PL (Matius 5:17), terutama pada subjek seperti peraturan Sabat (Markus 2:23-28), hukum mengenai makanan (Markus 7:14-23), bahkan juga beberapa pengajaran moralnya (Matius 5:21-48). Jadi, otoritas seperti apakah seharusnya dimiliki PL dalam kehidupan pengikut-pengikut Yesus?

Tidak timbul masalah khusus bagi generasi pertama Kristen yang adalah juga orang Yahudi. Sejauh ini, mereka terus mengikuti cara hidup yang sudah mereka terima sejak kecil, yang mendasarkan diri kepada PL sesuai yang dimengerti oleh agama Yahudi abad pertama. Namun, setelah jelas bahwa berita Kristen ditujukan kepada orang-orang non-Yahudi, dan bahwa orang Romawi dan Yunani juga bisa menjadi pengikut Yesus, pertanyaan mengenai otoritas PL muncul dalam bentuk yang lebih mendesak. Apakah orang kafir perlu menjadi Yahudi terlebih dahulu sebelum menjadi Kristen? Paulus dan penulis PB dengan tegas menjawab: tidak perlu (Galatia, 1Petrus, Ibrani). Namun, mereka tetap menerima PL sebagai kitab suci mereka, dan sering menggunakannya sebagai dasar penjelasan iman Kristen.

Justru di sinilah letak masalahnya. Kalau bagian-bagian tertentu PL bisa diabaikan sebagai tidak relevan lagi bagi iman dan tindakan Kristen, bagaimana kita bisa membedakannya, dan apa yang harus kita lakukan dengan bagian sisanya?

MENCARI JALAN KELUAR

Pertanyaan mengenai hubungan antara PL dan PB diungkapkan dengan lantang oleh seorang Kristen abad ke-2, Marcion. Ia bukan hanya melihat sikap para rasul yang ambigu mengenai masalah ini, tetapi ia juga memperhatikan masalah-masalah lain di dalam kepercayaan Kristen kepada PL. Yesus telah berbicara tentang kasih Allah yang mempedulikan kesejahteraan semua manusia. Akan tetapi, ketika membaca PL, Marcion sering melihat gambaran Allah yang agak berbeda, dimana Ia kelihatannya dihubungkan dengan kekejaman dan kebuasan yang ekstrim. Jauh dari kehendak menyelamatkan manusia, Ia kadang-kadang dihubungkan dengan penghancuran mereka. Tentu saja, Marcion sedikit melenceng di dalam melihat gambaran itu: penghakiman yang keras merupakan bagian penting dari pengajaran Yesus, dan kasih Allah tidak pernah absen dari iman PL, seperti yang telah kita lihat dalam berbagai cara.

Namun, bagaimanapun pembaca modern seringkali merasakan hal yang sama, dan beberapa orang Kristen sekarang akan mengalami kesulitan untuk mendamaikan beberapa aspek dari pandangan PL tentang Allah dengan apa yang mereka anggap sebagai pandangan umum Kristen tentang PB. Selain permasalahan yang diangkat oleh Marcion, mereka juga menunjuk kepada perbedaan antara berita kasih Allah yang universal dalam Yesaya 40-55 dengan apa yang tampak sebagai suatu nasionalisme sempit dari kitab seperti Ezra. Bahkan penafsir yang ulung sekalipun sangat kesulitan untuk mendamaikan sikap sentimentil Mazmur 137:8-9 dengan pernyataan untuk mengasihi musuh di dalam khotbah di bukit Yesus (Matius 5:43- 48). Juga, banyak orang sekarang ini sulit memahami beberapa aspek ibadah PL, terutama persembahan korban yang (paling tidak menurut pandangan barat) kelihatannya primitif dan kejam, bahkan sama sekali tidak masuk akal.

Jawaban Marcion terhadap semua ini adalah sederhana: robek PL dan buang ke dalam tempat sampah! Namun pandangan itu tidak didukung secara luas oleh gereja awal, terlebih karena Marcion juga ingin menyingkirkan sebagian besar PB. Hal itu kelihatannya menimbulkan tanda tanya terus akan kesejatian iman Kristennya.

Namun, para pemimpin gereja mula-mula dapat mengerti dengan cukup baik permasalahan yang dipertanyakan Marcion. Pertanyaan mengenai PL itu sungguh nyata. Kalau kedatangan Yesus adalah tindakan yang baru dan menentukan dari Allah dalam dunia ini, lalu apa relevansinya yang dapat dimiliki sejarah umat purba untuk iman di dalam Yesus?

Jawaban umum yang diberikan ialah bahwa ketika PL dimengerti dengan tepat maka PL akan mengatakan hal yang persis sama dengan yang dikatakan PB. Namun, untuk dapat membuktikan hal ini maka perlulah menafsirkan PL sedemikian sehingga dapat menunjukkan bahwa arti sebenarnya entah bagaimana tersembunyi bagi pembaca biasa.

Secara kebetulan, sarjana-sarjana Yahudi telah menghadapi pertanyaan ini dalam konteks yang berbeda. Lebih dari satu abad sebelumnya, penafsir agung Yahudi, Filo (sekitar 20SM-45M), yang tinggal di Aleksandria, Mesir, telah mencoba menyelaraskan PL dengan pemikiran para filsuf besar Yunani. Ada sedikit kaitan yang jelas antara PL dengan filsafat Yunani. Namun, dengan menerapkan penafsiran alegoris yang mistis terhadap PL, Filo berhasil menunjukkan (paling tidak sampai ia merasa puas) bahwa Musa dan para penulis PL lainnya sebenarnya telah menyatakan kebenaran-kebenaran filsafat Yunani beberapa abad sebelum para pemikir Yunani memikirkannya!

Beberapa pemimpin Kristen awal, terutama mereka yang di Aleksandria, mengadopsi pendekatan seperti ini dengan penuh semangat. Mereka segera juga menggunakan teknik yang sama untuk menunjukkan bahwa PL memuat segala sesuatu yang ada dalam PB, bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat.

Bahkan hal-hal mendetail yang kelihatannya tidak penting dari kisah PL dijadikan lambang-lambang bagi Injil Kristen. Apa pun yang berwarna merah dapat dimengerti sebagai referensi kepada kematian Yesus di kayu Salib (sebagai contoh, lembu betina merah dari Bilangan 19, tali kirmizinya Rahab dari Yosua 2:18). Air kemudian menjadi gambaran akan baptisan Kristen. Kisah Keluaran, dengan kombinasi dengan darah (di ambang pintu pada saat Paskah) dan air (ketika menyeberangi laut Teberau), menghasilkan banyak penjelasan yang kompleks akan hubungan antara salib dan keselamatan Kristen, juga dengan dua sakramen Kristen, baptisan dan perjamuan kudus!

Uskup Hilary dari Poitiers, Perancis (315-368 M) menjelaskan cara pembacaan PL ini sebagai berikut:

"Setiap karya yang termuat di dalam kitab-kitab suci mengumumkan melalui kata, menjelaskan melalui fakta, dan mensahkan melalui contoh-contoh kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus .... Sejak permulaan dunia ini, Kristus melalui prafigurasi yang otentik dan mutlak dalam pribadi para patriakh melahirkan, membersihkan, menguduskan, memilih, memisahkan dan menebus gereja: melalui tidurnya Adam, banjir besar pada masa Nuh, berkat dari Melkisedek, pembenaran Abraham, kelahiran Ishak, penawanan Yakub .... Tujuan karya ini adalah untuk menunjukkan bahwa dalam setiap pribadi dalam setiap masa, dan dalam setiap tindakan, gambaran tentang kedatangan, pengajaran, kebangkitan-Nya, dan tentang gereja kita direfleksikan seperti pada cermin" (Hilary, Introduction to The Treatise of Mysteries).

Tidak semua pemimpin gereja senang dengan pendekatan terhadap PL di atas: terutama mereka yang berhubungan dengan pusat kekristenan besar lainnya di Antiokhia, Siria. Namun, biasanya diterima begitu saja bahwa PL adalah kitab Kristen, dan dengan satu dan lain cara isinya berkaitan dengan kepercayaan mendasar teologi Kristen.

Selama Reformasi Protestan, keseluruhan pokok pembicaraan ini sekali lagi dibuka untuk diperiksa. Martin Luther (1483-1546) dan John Calvin (1509-1564) menekankan pentingnya mengerti iman PL berdasarkan konteks sejarah dan sosialnya. Dalam hal ini, pendekatan mereka tidaklah berbeda dari pendekatan banyak sarjana modern. Namun, Luther ingin membedakan nilai PL dari PB dengan melihat PL sebagai Taurat dan PB sebagai Injil. Hal ini memberikan kepadanya alat yang baik untuk memisahkan gandum Injil sejati (menurut Luther ditemukan pada surat- surat Paulus) dari jerami legalisme yang sudah diganti (diidentifikasikan dengan PL dan kekristenan Yahudi). Pemikiran ini telah sangat mempengaruhi kesarjanaan Alkitab sampai masa kini. Akan tetapi, pandangan ini keliru dalam beberapa hal mendasar:

  • Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa Taurat bukan dasar iman PL dan juga tidak sama sekali tidak ada di dalam PB. Di dalam PL maupun PB, Taurat diletakkan di dalam konteks pemahaman perjanjian dengan kasih Allah sebagai prinsip dasarnya.
  • Luther sangat keliru mengidentifikasikan Yudaisme dengan legalisme moralistis. Hal ini sangat tidak adil bahkan terhadap pandangan Farisi yang jelas-jelas ditolak oleh Paulus. Dalam hal ini, Luther membiarkan reaksinya sendiri terhadap kekristenan Roma Katholik untuk mewarnai pandangannya terhadap iman PL.

Calvin mengenali beberapa kekurangan ini, dan sebaliknya menekankan kepentingan dari tema perjanjian di PL dan PB. Dengan perbandingan yang teliti akan hubungan Allah dengan umat Israel purba dan dengan gereja Kristen, Calvin mampu mengklaim bahwa dua bagian dari Alkitab Kristen tersebut disatukan oleh suatu pewahyuan yang progresif, di mana janji-janji purba yang diberikan kepada Israel dalam PL mencapai puncaknya di dalam kehidupan gereja Kristen. Pandangan ini bukan tidak memiliki kesulitannya sendiri. Namun, paling tidak pandangan ini mencoba untuk melihat iman PL secara serius. Pandangan Calvin ini masih dipegang oleh banyak orang dari kelompok Kristen konservatif.

Setelah Reformasi, pertanyaan mengenai PL sebagai kitab Kristen tersimpan dengan rapi sampai pada generasi kita. Zaman pencerahan Eropa, dengan tekanan kepada memahami PL sebagai koleksi kitab-kitab kuno dalam konteks masanya sendiri, membawa penyelidikan para sarjana ke arah lain. Namun, dalam 100 tahun terakhir atau lebih ini, pertanyaan teologis tadi telah mencuat ke permukaan lagi. Hal penting yang mendorongnya adalah gerakan Nazi di negara Jerman modern. Perasaan anti Yahudi yang diciptakan oleh Nazi telah berdampak pada gereja-gereja Jerman sendiri, dan kehadiran PL di dalam Alkitab Kristen menjadi isu politis yang membara sekaligus menjadi bahan kajian teologis. Sejumlah teolog Jerman mulai mengadopsi sikap yang sama seperti Marcion. Namun, banyak sarjana Kristen Jerman yang memberikan penilaian positif terhadap signifikansi PL, walaupun mereka menghadapi tekanan secara politik. Sarjana-sarjana seperti Walter Eichrodt dan Gerhard von Rad bahkan juga teolog Swiss, Karl Barth, justru menghasilkan karya-karya yang paling kreatif pada masa tersebut.

Sekarang ini, umat Kristen mengadopsi berbagai sikap terhadap nilai PL:

  • Ada yang ingin memberikan PL nilai dan otoritas yang sama dengan PB, dengan dasar bahwa setiap kata di dalam keduanya adalah kata-kata Allah sendiri secara langsung. Namun, kita harus cukup berhati-hati untuk tidak terlalu gampang menerima gambaran seperti ini karena ada sejumlah pengajaran Yesus sendiri yang dalam berita-Nya jelas menunjukkan sikap penolakan atau perevisian yang sangat radikal terhadap beberapa aspek mendasar dari pengajaran PL.
  • Orang lain memperdebatkan bahwa PL digantikan seluruhnya oleh PB, sehingga bisa disingkirkan. Di sini kita juga harus memelihara suatu keseimbangan yang teliti yang kita temukan pada pengajaran Yesus sendiri karena Yesus juga menguraikan pelayanan-Nya dalam segi tertentu menggenapi PL. Kita bisa secara sah mendebatkan artinya, namun ini pastilah harus mengikutsertakan asumsi bahwa PL memiliki sesuatu untuk kekristenan dan karenanya memiliki tempat yang sah di dalam Alkitab Kristen.
  • Beberapa orang mencoba membedakan antara beberapa bagian dari PL. Mereka akan memisahkan hal-hal seperti hukum-hukum tentang imam, persembahan korban, dan ketahiran (yang tidak lagi dilakukan oleh Kristen) dari bagian-bagian lain seperti Dekalog dan pengajaran- pengajaran moral dari para nabi (yang dianggap masih relevan). Calvin melakukan pembagian yang serupa. Namun, jauh lebih mudah membagi seperti itu daripada membuktikan kebenarannya. Dengan menyingkirkan unsur-unsur yang kelihatannya tidak relevan itu, kita sebenarnya sedang menggeser beberapa aspek paling dasar dari iman PL. Sebagai tambahan, PB justru paling sering menemukan korelasi antara iman PL dengan kepercayaan Kristen tentang Yesus di dalam konsep-konsep seperti persembahan kurban.
  • Juga umum bagi orang Kristen untuk berbicara tentang pewahyuan progresif kehendak dan sifat Allah yang mengaliri kedua perjanjian tersebut. Pandangan ini mengatakan bahwa kehendak Allah dinyatakan melalui sejumlah tahapan, disesuaikan secara kasar dengan kapasitas manusia untuk memahaminya. Jadi, beberapa dari bagian yang lebih sulit dari PL dapat dijelaskan sebagai sesuai dengan masa primitif, yang kemudian diganti dengan pandangan yang lebih maju, dan memuncak pada pengajaran Yesus tentang Allah yang adalah kasih. Namun ini adalah ide yang tidak menolong karena didasarkan kepada ide evolusioner yang sudah ketinggalan zaman mengenai perkembangan moral yang tidak terhindarkan dalam diri manusia. Pandangan ini juga mencampuradukkan pernyataan tentang Allah sebagaimana Dia adanya dengan pernyataan tentang apa yang manusia pikirkan tentang Dia. Sebagai tambahan pandangan ini memuat juga implikasi yang meragukan bahwa orang modern pasti mengetahui lebih banyak mengenai kehendak Allah dan lebih taat kepadanya daripada para bapa leluhur, nabi-nabi, dan tokoh-tokoh utama kisah PL.

MENGADAKAN HUBUNGAN

Ada kesulitan yang nyata di dalam menafsirkan PL dalam Alkitab Kristen. Kita perlu mengenali bahwa PL adalah kitab yang dalam banyak hal aneh dan asing bagi orang modern, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Penilaian apapun yang kita berikan kepada iman PL, itu tidak sama dengan iman Kristen. Dalam praktiknya, orang Kristen yang membacanya sering menemukan kesulitan untuk mengerti PL. Hal ini terjadi karena PL berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengan pengalaman iman mereka. Banyak keanehan itu dapat menjadi sirna ketika kita menempatkan iman PL pada konteks sejarah dan sosialnya yang tepat. Itulah yang telah kita coba lakukan. Walaupun kita mungkin tidak menemukan hal seperti kurban persembahan menjadi lebih menarik, paling tidak kita bisa mulai menghargai maknanya di dalam konteks iman Israel. Namun, bukan berarti kita boleh menyingkirkan PL karena pada praktiknya tidaklah mungkin untuk menjelaskan dengan baik iman Kristen tanpa referensi kepada PL.

Pada tingkatan paling dasar, adalah fakta sederhana bahwa kita tidak dapat mengerti PB itu sendiri bila kita tidak mengetahui PL. Yesus dan murid-murid-Nya adalah orang Yahudi. Bagi mereka pikiran PL adalah bagian yang hidup dan penting bagi keberadaan total mereka. Memang dalam banyak hal, mereka melampaui ajaran Yudaisme ketika mereka menemukan bal-hal yang harus dibuang atau dikembangkan dalam terang ajaran baru yang menarik akan tindakan Allah di dalam Kristus. Namun secara keseluruhan mereka terus mengerti pengalaman baru Kristen mereka dalam kategori iman dari mana mereka telah dibesarkan.

Gereja-gereja Kristen paling awal menggunakan PL Yunani sebagai Alkitab mereka - dan bahasa dalam PB sendiri memiliki lebih banyak persamaan dengannya dibandingkan dengan sastra kebudayaan sekuler Yunani dan Romawi. Bahasa ini mempengaruhi cara mereka menjelaskan pengertian mereka akan kekristenan. Sesungguhnya, bahasa PL masih mempengaruhi pemikiran Kristen sekarang. Orang Kristen modern yang tidak pernah melihat kurban bakaran binatang masih menyanyikan di gereja-gereja akan Kurban yang sejati dan kekal dari Yesus. Banyak di antara mereka yang masih menyebutkan suatu bagian dari gedung gereja mereka sebagai altar, walaupun tidak pernah terjadi penumpahan darah di situ. Mungkin kita perlu memeriksa semua perlambangan ini dan menyajikan ulang beritanya dalam konsep berbeda untuk orang modern. Namun, agar dapat melakukan hal tersebut dengan baik, kita perlu mengerti semuanya terlebih dahulu sebab kalau tidak kita akan selalu ada dalam bahaya membuang fakta bahwa Kristus mati bagi dosa-dosa kita bersama dengan bahasa persembahan kurban, mezbah, dan penebusan. Tempat untuk menemukan arti yang tepat akan hal-hal ini tentu saja adalah PL.

Akan tetapi, PL bukan hanya menjadi latar belakang bahasa dan kebudayaan bagi pemikiran penulis-penulis PB. Perjanjian Lama juga mengandung pernyataan-pernyataan kebenaran yang penting akan Allah dan hubungan-Nya dengan umat manusia dan dunia yang sampai sekarang masih sama benarnya dengan dulu. Jika kita melihat kembali judul setiap pasal yang menaungi eksplorasi kita terhadap iman PL, dapat mudah terlibat bagaimana konsep-konsep kunci dari tiap bagian membentuk dasar teologis yang sangat penting bagi iman Kristen sebagaimana yang disajikan dalam PB. Ada suatu keterkaitan yang erat antarkedua Perjanjian ini sehinga tidaklah berlebihan kalau kita mengklaim bahwa iman Kristen sendiri menjadi kurang sempurna kalau kita menyingkirkan penegasan-penegasan dasar iman PL dari Alkitab Kristen.

Allah yang hidup

Kesimpulan-kesimpulan di atas tampak paling jelas dalam hal kepercayaan-kepercayaan mengenai Allah sendiri.

  • Ada kebenaran bahwa hanya ada satu Allah, dan bahwa Ia adalah mahakuasa dan juga secara pribadi memikirkan kesejahteraan manusia biasa. Istilah yang sering dipakai oleh para teolog masa kini untuk dua aspek sifat Allah ini ialah transendensi dan imanensi. Kita boleh sangat yakin bahwa istilah ini tidak banyak berarti bagi umat PL. Sesungguhnya, mungkin saja kebenaran tentang Allah ini tidak dimengerti secara sama oleh semua kelompok dari umat Israel. Namun pengertian ini secara pasti tersirat dalam pengakuan iman yang paling awal yang mendorong umat untuk menyembah satu Allah saja (Kel. 15:11- 18)- walaupun mungkin baru beberapa abad kemudian para nabi agung menegaskannya secara sistematis tentang kendali tunggal Allah atas dunia dan yang terjadi dalamnya (Yes. 40:12-31; 41:21-29; 44:1-20).
  • Berkaitan dengan fakta bahwa Allah adalah satu adalah kepercayaan bahwa tuntutan Allah kepada umat-Nya adalah terutama dalam hal moral ketimbang ibadah keagamaan dan larangan ritus. Kita telah membahas bahwa ini adalah hal yang baru karena kebanyakan agama purba lebih tertarik kepada korban dan ritus daripada moral. Namun, pengertian keseluruhan PL tentang ibadah menjadi tidak berarti bila dua aspek ini dipisahkan.
  • Kemudian, ada gagasan tentang anugerah Allah - kenyataan bahwa Ia memberikan pemberian-pemberian yang sebenarnya tidak layak diterima umat. Seluruh kisah PL disatukan atas pengetahuan tentang Allah yang telah melakukan hal-hal besar terhadap umat-Nya, dan atas dasar itulah Allah dapat menuntut kesetiaan dan ketaatan mereka. Setiap tahapan kisah tersebut menunjukkan tindakan kepedulian Allah untuk secara aktif berkarya bagi keselamatan umat-Nya. Prinsip perjanjian ini masih merupakan dasar untuk pengertian setiap orang Kristen mengenai Allah dan jalan-jalan-Nya. Perjanjian Lama seperti PB menggambarkan Allah bekerja dalam kasih untuk kebaikan umat-Nya. Walaupun dalam PB ada pergeseran fokus dari peristiwa seperti keluaran dari Mesir atau pembuangan kepada Yesus sebagai pusat, asumsi dasarnya adalah sama, yaitu Allah adalah Allah yang aktif dan pengasih, yang karya-karya-Nya dapat terlihat di dalam kehidupan sehari-hari orang-orang biasa.
  • Kita telah melihat dalam beberapa hal bahwa PL tidak menguraikan Allah secara metafisis, misalnya dengan menanyakan, "Terbuat dari apakah Dia?," tetapi secara fungsional, dengan menanyakan: "Bagaimanakah Dia bertindak?" Perjanjian Baru juga memakai pendekatan yang sama, ketika secara praktis PB mengatakan: "Lihatlah Yesus: seperti inilah Allah."

Allah dan dunia

Tidaklah terlalu sulit untuk menunjukkan kesamaan PL dan PB dalam hal aspek-aspek penting dari sifat Allah. Namun, tanpa PL, iman Kristen juga akan kekurangan secara serius suatu perspektif dalam cara Allah merelasikan diri-Nya dengan dunia alam.

  • Dalam dunia kekristenan awal, adalah umum untuk mempercayai bahwa dunia fisik, alam tempat kita hidup ini pada dasarnya adalah jahat. Jadi, suatu keselamatan yang berarti harus melibatkan kelepasan dari dunia ini ke dunia lain yang lebih rohani dan dengan sendirinya dunia yang lebih sempurna. Ini adalah bagian penting dari pandangan Yunani. Ketika kekristenan bergerak ke luar Palestina meluas ke wilayah kekaisaran Romawi lainnya, selalu merupakan godaan bagi orang Kristen untuk menerima pandangan Yunani ini. Walaupun ada banyak perdebatan yang hangat mengenai hal ini, kekristenan tidak pernah menerima pandangan bahwa eksistensi fisik adalah nomor dua. Namun, mereka mampu menegaskan bahwa hidup itu pada dasarnya baik hanya karena keyakinan PL yang kukuh yang mempengaruhi pemikiran mereka. Sebagai akibatnya: para penulis PB tidak melihat keselamatan sebagai kelepasan dari dunia ini. Mereka menyatakan bahwa dalam rencana keselamatan Allah, dunia sendiri ada bagiannya. Kedatangan Yesus berarti penghidupan dan pembaruan bagi dunia ini (Rm. 8:18-25; Kol. 1:15-20; Why. 21-22). Tanpa pandangan seperti ini, orang Kristen modern tidak dapat berkata banyak mengenai isu-isu abad ke-20 ini, seperti perlombaan senjata nuklir dan penggunaan sumber-sumber alam dunia ini. Namun, dengan mengikutsertakan dunia fisik ini ke dalam pengharapan keselamatan, para penulis PB memiliki dasar yang teguh pada iman PL yang telah mendahului mereka.
  • Ketika PB menjelaskan hubungan Yesus Kristus dengan umat manusia, PB sekali lagi memakai dasar pandangan PL tentang umat manusia dan hubungan mereka dengan Allah. Perjanjian Baru memakai begitu saja dasar-dasar konsep teologis dari kisah penciptaan, dan melihat dosa manusia sebagai penghalang antara Allah dengan manusia yang perlu disingkirkan kalau persekutuan itu akan dipulihkan. Keseluruhan struktur pemikiran ini begitu penting bagi teologi Kristen sehingga tanpa pemahaman PL ini kita meragukan apakah iman rasuli dapat berkembang seperti yang ada sekarang ini.

Allah dan umat-Nya

Etika PB juga berhutang banyak kepada PL.

  • Ide hukum alam yang telah kita diskusikan dalam kaitannya dengan PL merupakan prasyarat dasar bagi iman Kristen. Paulus memakai hukum alam ini sebagai kunci penting untuk menjelaskan bagaimana kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dapat diaplikasikan kepada semua manusia, tanpa memandang asal-usul sosial dan ras mereka (Rm. 1:18- 2:16).
  • Kerangka perjanjian yang menjadi tempat moralitas PL beroperasi tetap menjadi pusat di dalam PB. Kedatangan Yesus dipandang sebagai lanjutan tindakan agung Allah yang bisa dibandingkan dengan kisah Keluaran, dan menuntut respons ketaatan dan komitmen yang serupa. Akan tetapi, keseluruhan pola etika Kristen juga bergantung kepada tekanan dasariah PL bahwa manusia harus bertingkah laku seperti Allah (Mat. 5:48). Satu-satunya perbedaan ialah bahwa pola Ilahi ini dinyatakan secara lebih eksplisit karena teladan dari Yesus sendiri, di mana orang Kristen dipanggil untuk meneladaninya (Flp. 2:5-11; 2Kor. 8:8-9).
  • Kemudian, ada etika sosial Kristen yang juga bergantung begitu banyak kepada warisan PL. Dengan berbagai alasan, PB sedikit sekali berbicara mengenai bagaimana Allah bersikap terhadap bangsa-bangsa lain. Tanpa PL, iman Kristen akan menjadi sangat miskin dalam hal ini karena di dalam iman PL kita mendapatkan dasar-dasar bagi filsafat Kristen tentang sejarah. Tentu pandangan PL memerlukan modifikasi di sana sini berdasarkan terang ajaran Yesus sendiri. Namun, bukanlah suatu hal kebetulan bila orang-orang Kristen modern di dalam menyatakan sikap terhadap masalah-masalah sosial dan politik mereka begitu sering bergantung kepada pemahaman para nabi dan pemberi hukum Israel purba.

Menyembah Allah

Di sini juga, iman PB berutang kepada PL lebih dari yang biasa kita duga.

  • Corak ibadah gereja awal, demikian juga banyak gereja modern, bertumbuh dari pola pujian dan perayaan sukacita yang kita temukan di dalam lembaran-lembaran PL.
  • Korelasi antara makna ibadah di dua perjanjian itu lebih menonjol lagi. Prinsip yang mendasari ibadah PL maupun Kristen adalah demikian: walaupun Allah adalah kudus - dalam setiap aspek yang terkandung dari kata itu - Ia juga Allah yang penuh pengampunan, dan realitas pengampunan itu dapat diwujudkan di dalam peristiwa ibadah di hadapan umat Allah.
  • Kita tentu saja tidak dapat mengabaikan bagaimana tema persembahan korban telah menjadi sangat penting di dalam pemikiran Kristen. Para penulis PB menegaskan bahwa semua yang dijanjikan oleh ibadah persembahan korban di dalam PL telah digenapi di dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Tidak mungkin untuk membicarakan apa yang Yesus dapat lakukan di dalam hidup umat-Nya tanpa merujuk kepada pengharapan dan aspirasi umat yang beribadah di zaman Israel purba. Sesungguhnya, seluruh konsep persembahan kurban begitu pentingnya di dalam tradisi Kristen, sehingga setidaknya ada sebagian besar gereja berpikir bahwa persembahan kurban bukan hanya semata perlambangan atau metafora teologis, tetapi juga sebagai bagian simbol yang berkesinambungan dari liturgi yang terus berlangsung dari ibadah komunitas Kristen.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Bagaimana Memahami Perjanjian Lama III
Judul Artikel : Yang Lama dan yang Baru
Penulis : John Drane
Penerjemah : Hans Wuysang, M.Th.
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2003
Halaman : 116 - 124

Mengenal Yesus Kristus

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kali ini saya akan menjumpai Anda dalam suasana PASKAH. Oleh karena itu saya pilihkan satu artikel yang pas yang saya kutip dari buku hasil seminar dari Pdt. Stephen Tong, yang berjudul: SIAPAKAH KRISTUS?

Jika orang bertanya kepada Anda, "ceritakan kepada saya, siapakah Kristus?" Apakah jawaban Anda? Ada banyak orang Kristen yang mengenal Kristus hanya sebatas dalam pengertian kognitif saja. Ibarat burung beo yang pandai menirukan apa yang diajarkan tuannya. Bagaimana dengan Anda? Pdt. Stephen Tong menyinggung satu fakta yang ironis, bahwa jika kita dapat mendengar jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang Kristen di Indonesia tentang siapakah Kristus, maka kita akan mengetahui betapa simpang-siurnya kekristenan pada zaman ini.

Melalui peristiwa perayaan PASKAH, marilah kita mengambil waktu untuk merenungkan pertanyaan ini: siapakah Kristus menurut Anda? Apakah Anda mengenal Kristus secara pribadi, ataukah masih sebatas menurut apa kata orang? Mengenal Kristus menurut apa yang orang lain katakan tentu tidak sama dengan jika Anda mengenal-Nya sendiri secara pribadi. Pengenalan pribadi melibatkan bukan hanya pikiran, tapi juga emosi, yang kemudian tentu akan melahirkan satu tindakan yang nyata. Nah, kiranya artikel berikut ini dapat menjadi pengantar akan perenungan Anda tentang siapakah Kristus.

Selamat Hari PASKAH 2006.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
072/III/2006
Isi: 

Secara lahiriah, Yesus tidak berbeda dengan manusia lainnya. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dibesarkan di desa, dan berkata- kata dalam bahasa manusia. Ia tidak memiliki hal yang begitu hebat sehingga kita harus memikirkan Dia sedalam-dalamnya. Namun, selain menjadi batu sandungan bagi banyak orang, kemanusiaan Yesus ini juga menimbulkan daya tarik dan tanda tanya yang mengagumkan sekaligus memusingkan banyak orang.

Jika kita berbicara dan berpikir tentang Kristus, maka kita harus kembali pada satu waktu di mana Kristus menuntut manusia memberikan penilaian tentang diri-Nya. Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, "Menurut orang-orang, siapakah Aku?" Kalimat ini merupakan kalimat yang sering kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Setiap orang juga pasti pernah mempunyai pertanyaan seperti itu dalam dirinya. Dalam pertanyaan "siapakah saya?" terkandung tiga pertanyaan kecil.

  1. SIAPA YANG BERTANYA?

    Pertanyaan ini menimbulkan satu kesulitan karena adanya percampuran subjek dengan objek. Saat kita menanyakan siapakah diri kita, ada sesuatu yang tidak bisa dianalisa dengan jelas karena yang bertanya adalah yang ditanya; yang ingin mengetahui adalah yang ingin diketahui; yang diketahui adalah yang tidak diketahui dan yang ingin mengetahui sedang menanyakan tentang apa yang sedang diketahuinya. Ini merupakan suatu pertanyaan yang tidak mungkin dibereskan oleh manusia itu sendiri. Pada waktu Tuhan Yesus menanyakan hal tersebut, Ia bukan menanyakan hal itu kepada diri-Nya sendiri, tetapi kepada pengikut- pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat penyataan Kristus. Dialah yang memberikan penyataan kepada manusia dan diri-Nyalah yang dinyatakan. Dialah pewahyu sekaligus inti dari wahyu tersebut, yang mewahyukan diri-Nya kepada manusia.

    Waktu murid-murid-Nya secara mendadak menerima pertanyaan ini, mau tidak mau mereka harus mempertanggungjawabkan pemikiran mereka tentang Kristus. Momen seperti ini tidak bisa diciptakan manusia, tetapi diberikan oleh Tuhan. Sebagai orang Kristen, apakah setelah mendengar khotbah bertahun-tahun, membaca Kitab Suci, dibaptiskan dan menjadi orang Kristen sekian lama, kita sudah dapat menjawab pertanyaan tentang siapakah Kristus? Siapakah Dia?

    Murid-murid Yesus mulai memberikan evaluasi tentang Kristus kepada Dia yang menuntut evaluasi. Dari gudang pikiran mereka, mulailah timbul jawaban-jawaban; mereka mulai memikirkan kembali tentang siapakah Kristus. Ada yang menjawab bahwa Dia adalah seorang nabi; seorang nabi yang besar; yang lain menjawab bahwa Dia adalah Yeremia[1]. Yesus dinilai sebagai Yeremia karena dalam zaman yang sedang dilanda kesedihan, Ia mempunyai tangisan dan perasaan yang sama dengan seluruh zaman. Yang lain menjawab bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian. Orang-orang itu menganggap bahwa kuasa Tuhan yang begitu besar dinyatakan-Nya dengan membangkitkan Yohanes Pembaptis yang sudah dibunuh oleh Raja Herodes. Dan Yohanes Pembaptis yang bangkit kembali itu adalah Yesus. Yang lain lagi menjawab bahwa Yesus adalah nabi yang pernah disebutkan Musa "barangsiapa yang mendengarkan Dia, akan hidup, tetapi barangsiapa tidak mendengarkan Dia akan binasa".

    Semua penilaian zaman itu diberikan kepada Yesus Kristus dalam waktu tidak lebih dari tiga setengah tahun. Yesus telah melakukan begitu banyak hal. Ia menyembuhkan, mengajar, dan membuktikan bahwa Dialah Allah yang berkuasa yang diutus ke dunia. Lalu pada waktu semua sudah memberikan penilaian-penilaiannya, Yesus tidak menanggapi apa-apa, tapi Ia mendorong lagi dengan satu kalimat, "Menurutmu, siapakah Aku?"[2] Pertanyaan ini penting karena bila kita memiliki pengenalan pribadi tentang Kristus berdasarkan firman Tuhan, barulah kita mempunyai kekuatan yang cukup untuk bersaksi bagi Dia. Apakah Kristus itu sekadar dokter yang paling mujarab? Apakah Kristus itu hakim yang keras? Mak comblang yang mencarikan jodoh bagi orang-orang muda? Ahli sulap yang membuat Anda kaya? Apakah Kristus itu sekadar pemuas emosi yang kita peroleh melalui kebaktian-kebaktian doa dan puji-pujian? Jika Anda mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang Kristen di Indonesia, maka Anda akan mengetahui betapa simpang-siurnya kekristenan pada zaman ini.

  2. KEPADA SIAPA PERTANYAAN ITU DIAJUKAN?

    Pernahkah Anda memikirkan dengan baik tentang siapakah Kristus? Apakah artinya mengikut Kristus? Apakah artinya menjadi orang Kristen? Bukankah di Indonesia ada lebih banyak orang yang bukan Kristen daripada orang Kristen? Bukankah ada banyak agama-agama lain di Indonesia? Mengapa Anda menjadi orang Kristen? Yesus tidak menolak ataupun menghina jawaban dari dunia akademis tentang siapakah diri- Nya. Ia tahu apakah Anda memiliki penilaian-penilaian yang bersifat otoritatif. Tetapi Ia menuntut Anda secara pribadi untuk berakar, mempunyai iman yang sungguh-sungguh, dan mengenal-Nya dengan benar. Pada waktu Yesus menantang dengan pertanyaan demikian, maka seolah- olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid yang menjawab dengan tegas, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup." Kalimat ini keluar dari mulut Petrus. Inilah suatu pengakuan iman pertama dalam sejarah gereja. Petruslah orang pertama yang mengaku tentang siapakah Yesus di hadapan orang banyak. Tidaklah mudah bagi Petrus untuk menyimpulkan dan mengatakan pengertiannya tentang siapakah Kristus. Ia bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, juga bukan pengikut dari ahli-ahli Taurat yang belajar Perjanjian Lama dengan ketat, tapi dia hanyalah seorang nelayan. Seorang rakyat jelata yang mendengar bahwa seorang nabi telah muncul. Jadi selain menangkap ikan, Petrus juga mengikuti dan mendengarkan khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Rupanya Petrus memperhatikan bahwa Yohanes Pembaptis membawa berita yang berfokuskan pada firman Allah, yaitu tentang kedatangan Kristus. Kedatangan Kristus adalah sumber pengharapan bangsa Israel sehingga mereka berdoa siang malam memohon kedatangan Mesias.

    Konsep bangsa Israel tentang Kristus pada masa itu adalah konsep yang sudah dibatasi oleh persepsi selektif. Pada waktu Petrus mengikut Yohanes Pembaptis, ia melihat perbedaan antara Yohanes dengan para ahli Taurat dan yang lainnya yang juga mengajarkan tentang kedatangan Kristus yang pertama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga belajar tentang Kristus yang akan datang. Tetapi pada waktu mengajarkan tentang Kristus, pengajaran mereka dibatasi oleh persepsi selektif yang begitu sempit dan subjektif. Mereka tidak mau mengenal Allah melalui apa yang sudah diberikan Allah. Mereka tidak mau mengenal Kristus melalui wahyu yang sudah diberikan mengenai Dia. Mereka hanya memilih bagian-bagian yang cocok dengan apa yang mereka inginkan. Pada zaman sekarang juga ada begitu banyak orang yang tidak mau mengenal Kristus yang tersalib, tapi hanya mau Kristus yang menyembuhkan; mereka tidak mau mengenal Kristus yang menderita tetapi hanya mau Kristus yang memberikan kekayaan.

    Orang Yahudi terdampar dan dibuang oleh Tuhan karena mereka tidak mencapai fokus Kristologi dari seluruh Kitab Suci. Di dalam Perjanjian Lama Allah sudah berjanji bahwa Kristus akan datang, lahir di kota Bethlehem, dijual seharga 30 keping perak, menderita, dipaku di atas kayu salib, bahkan kedua tangan dan kaki-Nya akan ditusuk tanpa satu tulang pun dari tubuh-Nya yang akan patah. Semua ditulis dengan begitu jelas. Lalu pada aspek yang lain Alkitab menulis juga bahwa Kristus akan menjadi Raja, dan seluruh kuasa akan berada di atas bahu-Nya dan kuasa-Nya lebih besar daripada siapa pun. Dia akan melenyapkan kuasa musuh, membangun kembali kerajaan Israel, membalas dendam kepada mereka yang menginjak-injak kehormatan bani Israel; Kristus yang menang, yang memberikan keadilan, menegakkan satu sistem dan ordo politik dan militer yang baru di dalam dunia.

    Pada waktu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempelajari Perjanjian Lama, mereka mempelajarinya dengan satu persepsi selektif[3] yang sudah menjadi kaku dan keras dalam hati mereka sehingga mereka menilai nubuat-nubuat mengenai Kristus yang dihina, dipaku dan tidak memiliki kemuliaan lahiriah sebagai hal-hal yang tidak benar. Mereka berdoa memohon kedatangan Kristus yang membalas dendam kepada orang- orang Romawi yang menjajah bangsa Yahudi serta yang akan mencuci noda sejarah bangsa Israel yang dijajah. Orang-orang Yahudi umumnya memohonkan kedatangan Kristus yang akan membawa bangsa Yahudi ke dalam zaman keemasan yang dulu pernah mereka capai dalam masa pemerintahan Daud. Doa-doa mereka dipengaruhi oleh persepsi selektif atas Kristologi yang sudah dicemarkan oleh keinginan dunia dan tidak lagi berfokus kepada Kristus dan salib-Nya.

    Petrus adalah murid dari Yohanes Pembaptis sebelum ia mengenal Yesus. Ia tidak tertarik oleh kedatangan Mesias seperti yang diajarkan oleh ahli-ahli Taurat dengan persepsi selektifnya yang subjektif. Tetapi ia tertarik dengan pengajaran Kristologi yang benar, yang lengkap, menyeluruh, dan harmonis.

    Pada waktu Adam makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, maka Allah membunuh binatang-binatang dan mengajarkan kepada Adam bahwa tanpa ada pengaliran darah, tidak ada pengampunan bagi manusia. Yohanes Pembaptis melihat dengan jelas bahwa Yesus Kristus adalah Domba Allah yang dijanjikan itu, yang menjadi korban pengganti manusia. Yohanes menyerukan, "Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!" Jadi semua khotbah yang muluk-muluk dan yang sudah diseleksi oleh para ahli tidak masuk ke telinga Petrus; khotbah yang berfokus kepada Kristus yang akan mati mengganti dosa umat manusia langsung masuk ke dalam hati dan pikiran Petrus. Itulah sebabnya pada waktu Yesus Kristus menanyakan tentang siapakah diri-Nya, Petrus langsung menjawab dengan tepat, "Engkaulah Kristus, Anak Allah yang hidup!" Pengakuan iman yang akurat dan dinamis yang pertama di dalam sejarah telah diucapkannya.

    Hari itu Yesus langsung menjawab Petrus dengan satu kalimat, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, karena apa yang kamu katakan itu bukan berasal dari manusia tetapi dari Bapa-Ku yang ada di surga." Yesus tidak pernah meremehkan doktrin-doktrin yang benar yang membuat Anda menyatakan pengakuan iman yang sungguh-sungguh berasal dari pengenalan yang benar yang merupakan sari dan kristalisasi tentang Dia. Bukan saja tidak meremehkan bahkan Kristus mengonfirmasikan bahwa hal itu bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah. Pada saat itu juga Kristus memberikan wahyu selanjutnya yang kedua yaitu mulai berdirinya gereja.

  3. BERTANYA TENTANG APA?

    Sekarang marilah kita memperhatikan beberapa hal berikut ini.

    Gereja yang tidak mempunyai pengakuan iman tidak seharusnya berdiri sebagai gereja. Tidak seharusnya gereja berdiri hanya karena membawa orang beramai-ramai ikut kebaktian, tetapi tidak tahu apa yang akan didirikan. Kristus tak pernah mengatakan sebelumnya tentang ekklesia sampai Petrus mengeluarkan pengakuan iman yang benar itu. Gereja harus mempunyai pengakuan iman yang berfokus kepada Kristus. Jikalau gereja tidak mengaku Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun hanya berfokus kepada-Nya sebagai sumber kepercayaan, maka gereja itu pada suatu hari harus menutup pintunya sendiri. Bukankah pada saat ini begitu banyak orang mengakui Yesus? Tetapi sebagai apakah Yesus itu diakui? Sebagai pembagi rotikah? Sebagai pemberi berkatkah? Sumber anugerahkah? Tabibkah? Atau satu-satunya Juruselamat yang diutus Allah ke dalam dunia?

    Pada waktu Petrus mengatakan, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!" kita dapat memahami hal itu dalam pengertian sejarah dan suprasejarah yang difokuskan menjadi satu. Sepanjang sejarah, Kristus adalah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia sepanjang zaman. Berarti pada titik kedatangan Kristus, apa yang diharapkan manusia dari zaman ke zaman sudah konkrit. Titik kedatangan Kristus juga berkait dengan kekekalan. Kristus yang datang ke dalam sejarah adalah Kristus yang berada dalam kekekalan yang melampaui sejarah. Pengharapan ini adalah suatu pengharapan sejati seluruh umat manusia, bukan hanya pengharapan dari bangsa Israel saja. Kekekalan dan kesementaraan hanya mempunyai satu titik kontak yaitu inkarnasi. Kita semua berada di dalam dunia yang bersifat sementara sedangkan Allah berada di surga yang bersifat kekal. Agama-agama lain begitu takut dan gentar kepada Allah karena mereka mengetahui bahwa yang sementara tidak mungkin mencapai yang kekal, tetapi yang kekal itu mungkin memberikan kemurahan kepada manusia. Namun, kemurahan itu belum dipastikan sehingga mereka hanya dapat berkata, "Mudah-mudahan dapat tempat yang baik di sisi Tuhan." Hal ini terjadi karena titik kontak itu tidak ada. Mengakui adanya Allah tidak berarti bahwa manusia pasti menikmati keberadaan-Nya. Tidak mengakui adanya Allah, tidak berarti bahwa manusia bisa meniadakan keberadaan-Nya. Mengakui adanya Allah dengan menikmati keberadaan Allah itu sama sekali berbeda.Perbedaannya terletak pada adanya titik kontak antara yang sementara dan yang kekal itu. Dan Kristus berada di titik kontak itu.

    Manusia dicipta di tengah-tengah dua wilayah yaitu wilayah yang kelihatan dan wilayah yang tidak kelihatan. Dalam wilayah yang kelihatan, manusia harus menerima segala sesuatu yang meneruskan keberadaannya di dalam alam materi, alam yang lebih rendah dari manusia itu sendiri. Tuhan Yesus berkata, "Manusia hidup bukan hanya bersandarkan roti saja, melainkan kepada setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah." Wilayah kedua, adalah wilayah yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Jadi, Allah mencipta dan menempatkan manusia untuk hidup sekaligus dalam dua dunia yang bersifat berbeda secara kualitas. Kaum komunis yang hanya mengakui keberadaan dunia materi akhirnya akan hancur sendiri. Demikian pula orang-orang yang hanya mengakui dunia spiritual seperti penganut-penganut ajaran mistik, akan hidup menjadi schizoprenis sehingga terlepas dari kebutuhan dan kesaksian sebagai wakil Tuhan di dalam dunia materi. Di dalam dunia materi yang tercampur dengan dunia spiritual ini, mau tidak mau kita harus mengakui terputusnya hubungan antara manusia dengan dunia yang tidak kelihatan sebagai akibat dosa. Hal ini tercantum dalam kitab Yes. 59:1,2. Dosa merupakan pemisah antara kita dan Pencipta dan Sumber hidup kita.

    Orang bisa menjadi kaya tanpa merasa sejahtera. Orang bisa mempunyai banyak uang tanpa mempunyai pengharapan. Orang boleh mempunyai kenikmatan dunia sebanyak mungkin, tapi tidak akan mempunyai kepuasan hidup sebab manusia sudah terpisah dari Allah. Manusia berusaha mencari titik kontak antara kesementaraan dan kekekalan, dan mereka mencarinya di dalam dirinya sendiri, di dalam agama, di dalam nabi-nabi dan pengajar-pengajar yang akhirnya juga mati dengan sendirinya. Ketidakmungkinan merajalela sehingga manusia mati dalam kekecewaan dan keputusasaan tanpa memiliki pengharapan apa pun. Mereka mati dan tidak tahu mau ke mana. Karena Tuhan mengasihi manusia, Ia menurunkan satu titik kontak; titik kontak ini bersumber dari atas ke bawah dan mengakibatkan inkarnasi. Inkarnasi berarti Tuhan menjadi daging; Tuhan yang tidak kelihatan sekarang bisa dilihat; Allah menyatakan diri dalam tubuh dan hidup sebagai manusia. Inilah fokus dari Kristologi.

    Melalui iman Petrus sudah mencapai pengertian yang jelas tentang pertemuan dua dunia, antara yang kekal dan yang sementara. Inilah kristalisasi iman Kristen yang benar. Kalau kita mempunyai pengenalan Kristologi seperti ini, kita tidak akan terjerumus seperti orang yang tidak mengenal Kristus. Kalau orang lain mengenal Kristus hanya sebagai pengubah moral, sosiolog yang besar, revolusionis dalam politik, pemimpin agama yang paling jenius, maka semua itu menjadi nihil pada akhirnya. Petrus berkata, "You are The Christ, The Son of The Living God." Istilah "are" berarti istilah yang menunjukkan kejadian yang terjadi sekarang, secara nyata dan jelas. Dengan kedatangan Kristus, kita tidak perlu lagi kembali kepada satu pengharapan yang hari depannya tidak diketahui dengan pasti, yang secara abstrak ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang tidak mengenal Yesus Kristus. Kata "The Son of The Living God", menunjukkan bahwa Yesus berasal dari dunia yang tidak kelihatan, dunia kekekalan dan sekarang Ia ada dan berwujud dalam dunia yang kelihatan, dunia sejarah. Inilah berkat terbesar di mana manusia boleh bertemu dengan Tuhan yang begitu prihatin kepada umat manusia.

    Sebenarnya, sebelum Petrus mengatakan hal itu, ada perkataan yang mirip yang keluar dari mulut seorang bernama Simeon kepada Yesus Kristus, kira-kira tiga puluh tahun sebelumnya. Simeon yang saat itu menggendong Yesus Kristus yang masih bayi, berkata, "Ya Allah, lepaskanlah kini hamba-Mu ke dalam damai karena hari ini dengan mataku sendiri, aku sudah melihat keselamatan yang dari pada-Mu." Kalimat itu merupakan kalimat yang agung karena sudah diurapi oleh Roh Kudus dan keluar dari bibir seseorang dengan begitu tepat, "Aku sudah melihat keselamatan yang dari pada-Mu."

    Keberadaan Kristus dalam sejarah merupakan suatu realisasi dari keselamatan yang dikaruniakan kepada manusia. Maka Tuhan Yesus berkata, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." Apakah artinya istilah batu karang? Orang-orang Katolik mengatakan bahwa istilah itu dikenakan kepada Petrus. Pengertian semacam ini tidak benar karena jika demikian, maka seluruh pemberitaan Kitab Suci harus mengubah arahnya karena seluruh Kitab Suci tidak pernah menyebut bahwa gereja didirikan di atas Petrus. Satu ayat pun tidak ada yang menunjang kalimat dari pengakuan iman Katolik tentang hal ini.

    Kitab Suci mengatakan bahwa gereja didirikan di atas nabi dan rasul, dan bentuk kata yang digunakan adalah bentuk yang jamak, bukan tunggal, nabi-nabi dan rasul-rasul, bukan hanya di atas Petrus. Istilah nabi-nabi dan rasul-rasul merupakan istilah yang menerangkan bahwa nabi-nabi mewakili Perjanjian Lama dan rasul-rasul mewakili Perjanjian Baru. Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru itulah yang menjadi fondasi berdirinya gereja. Tapi inipun belum mencapai finalnya karena Alkitab mengatakan bahwa gereja didirikan di atas Batu Karang yang tidak pernah berubah. Siapakah Dia? Dialah Yesus Kristus. Gereja didirikan di atas para nabi dan para rasul. Ini berarti bahwa gereja yang benar, berdiri di atas kepercayaan pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan isi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru difokuskan kepada Kristus. Tuhan tidak mengatakan bahwa Petruslah satu-satunya yang menjadi fondasi didirikannya gereja; tak pernah demikian. Kita menolak penafsiran demikian, tapi kita menerima kesaksian Kitab Suci yang mengatakan bahwa Petrus adalah nama baru yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya. Yesus adalah Kristus di dalam sejarah dan Anak Allah dalam supra- sejarah. Iman menjelajah kedua wilayah, terlepas dari dunia yang kelihatan. Kita juga menikmati sekaligus dunia yang tidak kelihatan karena kita berada di dalam Kristus.

Catatan kaki:

  1. Yeremia adalah seorang nabi yang penuh dengan perasaan cinta kasih kepada orang-orang yang perlu dikasihani dan ia juga penuh dengan kesedihan dan prihatin. Jadi mereka berpendapat bahwa Yesus adalah orang penuh dengan prihatin dan penuh dengan belas kasihan. Di dalam Kitab Suci dicatat ada sepuluh kali Yesus "jatuh hati oleh belas kasihan" (compassion); Dia sehati dengan mereka yang menangis, dengan mereka yang membutuhkan, dengan mereka yang sedih.

  2. Saya sangat tertarik dengan pertanyaan ini karena ada begitu banyak pemuda-pemudi yang belajar Kristologi, belajar tentang Tuhan, tetapi tidak belajar dari Tuhan sendiri melainkan belajar dari orang-orang lain tentang Tuhan. Cara mereka menerangkan Tuhan adalah dengan mengutip pandangan Kristus menurut Karl Barth, Emille Brunner, Rudolf Bultmann, Jurgen Moltmann, Wolfhart Panennberg, dsb. Tetapi jika ditanya tentang Kristus berdasarkan pengertian pribadi mereka, ternyata mereka melarikan diri dari tanggung jawab kepercayaan mereka.

  3. Tukang parkir tidak memperhatikan suara apa pun yang masuk ke telinganya selain dari bunyi mobil yang baru distarter. Setiap suara yang masuk ke telinga disaringnya. Tapi hanya suara mobil yang baru distarter yang membuatnya bereaksi untuk menagih uang parkir. Konsep penyaringan seperti itulah yang kita sebut sebagai persepsi selektif.

Sumber: 

Bahan di atas diambil dan diedit dari sumber:

Judul Buku : Siapakah Kristus? Sifat dan Karya Kristus
Judul Artikel : -
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 2002
Halaman : 11 - 21

Kematian Kristus

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Senang sekali bisa berjumpa Anda lagi. Posting saya kali ini ingin saya pakai untuk mempersiapkan kita semua dalam menyambut perayaan hari penting umat Kristen, yaitu PASKAH, hari kematian Kristus. Namun sebelum Anda membacanya, saya ingin minta maaf terlebih dahulu, khususnya kepada para pembaca e-Reformed yang memiliki keyakinan pada Doktrin Penebusan Universal, yaitu doktrin yang percaya bahwa Kristus mati untuk semua orang. Tiga artikel pendek yang diambil dari bukunya John Owen ini akan menjelaskan tentang beberapa masalah dari Doktrin Penebusan Universal.

Saya perkirakan, sebagian besar umat Kristen di Indonesia lebih mempercayai/menyukai Doktrin Penebusan Universal dibandingkan dengan Doktrin Pilihan. Selain lebih mudah dinalar, Doktrin Penebusan Universal juga dirasa lebih manusiawi. Namun demikian, kebenaran yang kita pegang seharusnya berdiri di atas Kebenaran yang sejati, bukan di atas penalaran dan perasaan manusia. Oleh karena itu, saya ingin mengajak Anda untuk meninjau kembali kebenaran tentang "untuk siapa Kristus mati" dengan meneliti kebenaran Alkitab. Artikel-artikel John Owen yang saya kutipkan dari bukunya "The Death of Death in the Death of Christ" ini saya pikir dapat menolong kita untuk melihat secara teliti apa yang sebenarnya Alkitab katakan tentang tujuan kematian Kristus.

Salah satu ayat yang sering dipakai untuk mendukung Doktrin Penebusan Universal adalah Yohanes 3:16. Ayat ini banyak ditafsirkan dengan cara yang tidak sesuai dengan maksud penulisan bahasa aslinya. Artikel ketiga yang saya sajikan di sini akan membahas secara khusus tentang penafsiran ayat tersebut. Nah, supaya Anda tidak semakin penasaran, silakan simak posting saya di bawah ini.

Selamat membaca dan merenungkan.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
John Owen
Edisi: 
71/II/2006
Isi: 
Artikel 1: JAWABAN TERHADAP EMPAT ALASAN UMUM YANG SERING DIPAKAI OLEH DOKTRIN PENEBUSAN UNIVERSAL
Artikel 2: PENJELASAN PENDAHULUAN MENGENAI AYAT-AYAT YANG MENGGUNAKAN KATA "DUNIA"
Artikel 3: STUDI TERPERINCI MENGENAI YOHANES 3:16

JAWABAN TERHADAP EMPAT ALASAN UMUM YANG SERING DIPAKAI OLEH DOKTRIN PENEBUSAN UNIVERSAL

Alasan 1.
Terdapat ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai apa yang dicapai Kristus melalui kematian-Nya dengan istilah-istilah yang sangat umum dan tidak jelas. Oleh karena itu timbul pendapat bahwa kematian-Nya bukanlah bagi tujuan tertentu atau terbatas.

Sebagai contoh, Alkitab berbicara mengenai nilai kematian Kristus yang tak terbatas. Di mana dikatakan mengenai pengucuran "darah Anak-Nya sendiri" (Kis. 20:28). Kematian Kristus dikatakan sebagai suatu persembahan "tanpa cacat" yang dipersembahkan oleh "Roh yang kekal" (Ibr. 9:14). Darah Kristus dikatakan "mahal", lebih mahal dari perak atau emas (lPtr. 1:18). Jika kematian Anak Allah memiliki nilai yang begitu nyata dan tak terbatas, mungkinkah itu tidak cukup untuk menebus semua manusia?

Kita tidak menyangkal bahwa kematian Kristus adalah pembayaran yang cukup untuk menebus semua manusia. Apa yang kita tekankan ialah Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa kematian Kristus tidak dimaksudkan untuk menjadi tebusan bagi setiap manusia. Sebagian orang mungkin keberatan: Jika Kristus tidak mati untuk semua manusia, maka tidak ada gunanya untuk memberitakan Injil kepada semua orang, seperti yang diperintahkan kepada kita (Mat. 28:19). Saya menjawab:

  1. Terdapat sejumlah orang yang akan diselamatkan dari setiap bangsa. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa pengabaran Injil kepada seluruh bangsa.
  2. Karena sekarang tidak ada lagi perlakuan khusus untuk Bangsa Yahudi, maka Injil harus diberitakan kepada semua bangsa tanpa pembedaan.
  3. Panggilan kepada manusia untuk percaya, pertama-tama bukanlah panggilan untuk percaya bahwa Kristus telah mati secara khusus bagi mereka, tetapi panggilan untuk percaya bahwa di luar Kristus tidak ada yang dapat membawa keselamatan.
  4. Para Pendeta tidak pernah dapat mengetahui siapa di antara jemaatnya yang adalah orang-orang pilihan Allah. Karena itu, mereka harus memanggil semuanya untuk percaya, dan meyakinkan bahwa semua yang percaya akan diselamatkan karena kematian Kristus cukup untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Pembahasan tersebut seharusnya sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua orang, meskipun tidak semua orang diselamatkan.

(Uraian panjang lebar penggunaan istilah-istilah "dunia" dan "semua manusia" akan di bahas di dua artikel selanjutnya)

Alasan 2.
Alkitab terkadang memberikan kesan bahwa sebagian orang yang untuknya Kristus mati tidak benar-benar diselamatkan. Hal ini berarti bahwa Kristus pasti telah mati untuk semua orang, tetapi hanya beberapa orang saja yang berhasil memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.

Kita perlu memahami bahwa Alkitab sering menggambarkan manusia dengan penampilan luarnya dan bukan keadaan sebenarnya di dalam dirinya. Contohnya, Yerusalem disebut "kota kudus" (Mat. 27:53). Bukan berarti kita harus berpikir bahwa Yerusalem sungguh-sungguh kudus.

Demikian juga, Alkitab seringkali menggambarkan orang-orang sebagai "kudus" atau "orang-orang suci" atau bahkan sebagai "pilihan" karena mereka secara lahiriah berkaitan dengan komunitas orang percaya. Paulus berkata mengenai orang-orang percaya di Filipi: "Memang sudah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua" (Fil. 1:7). Dari perkataan tersebut, tidak dapat disimpulkan bahwa semua penerima surat Paulus adalah orang percaya. Paulus menilai mereka berdasarkan pengenalan terbaik yang dimilikinya mengenai mereka. Jadi jika beberapa orang gagal diselamatkan, kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah berniat untuk menyelamatkan semua tetapi hanya beberapa yang terjangkau. Barangsiapa gagal, sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh menjadi orang percaya, meskipun dari luar tampak seperti orang percaya.

Alasan 3.
Alkitab terkadang mengesankan bahwa keselamatan ditawarkan secara umum kepada semua orang, asal saja mereka mau percaya akan diselamatkan. Dengan demikian, disimpulkan bahwa Kristus pasti mati untuk semua orang.

Dalam Alkitab, memang iman dan keselamatan selalu berkaitan. Orang yang percaya akan diselamatkan. Tetapi ini tidak lebih dari berarti bahwa semua orang percaya pasti akan diselamatkan. Ini tidak berarti bahwa Allah bermaksud untuk menyelamatkan semua orang jika mereka mau percaya. Alasannya:

  1. Kenyataan Allah tidak menawarkan hidup kekal pada semua manusia. Sebagian besar umat manusia tidak pernah mendengar Injil.
  2. Perintah umum Allah tidak memberitahukan kita akan maksud-maksud khusus-Nya. Secara umum, Allah memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya. Tetapi dalam contoh kasus Firaun, maksud Allah berbeda dengan perintah-Nya, karena Ia mengeraskan hati Firaun (Kel. 4:21), sementara itu juga memerintahkannya untuk taat.
  3. Janji Injil mengajarkan kepada kita hubungan yang tak terpisahkan antara iman dan keselamatan. Tetapi ini tidak berarti Allah menghendaki semua orang bertobat dan percaya, karena jika demikian mengapa ada pemilihan ilahi? Jika Ia bermaksud menyelamatkan semua orang, mengapa hanya memilih sebagian? Dan bagaimanapun juga, jika Ia bermaksud untuk menyelamatkan semua orang, mengapa Ia gagal untuk mencapai maksud-Nya? (Tidak ada gunanya untuk berpendapat bahwa Ia gagal karena manusia tidak mau percaya; Ia seharusnya sudah mengetahui sebelumnya bahwa mereka tidak akan percaya; lalu mengapa Ia merencanakan sesuatu yang Ia sudah tahu tidak akan terlaksana?)

Juga fakta bahwa orang percaya dan yang tidak percaya hidup campur bersama, dan para pendeta tidak dapat memastikan siapa yang dipilih dan siapa yang tidak dipilih Allah, berarti ia harus berkhotbah secara umum bagi semua orang. Ini tidak berarti bahwa janji Injil diperuntukkan bagi semua orang secara umum, melainkan ia hanya dikabarkan kepada semua orang. Karena Kristus hanya diterima berdasarkan iman, dan iman merupakan pemberian Allah bagi mereka yang dikehendaki-Nya, maka jelas bahwa Ia tidak mungkin merencanakan keselamatan mereka yang tidak diberi-Nya iman.

Alasan 4.
Jika Kristus tidak mati untuk semua orang, bukankah seruan Alkitab kepada semua orang bahwa mereka harus percaya tidak ada gunanya?

Perlu dipahami bahwa iman yang dibicarakan dalam Alkitab memiliki berbagai tahap pertumbuhan dan urutan penggunaan yang logis. Kita tidak boleh berpikir seruan Alkitab untuk percaya secara pasti akan menjadikan setiap orang percaya Kristus mati untuknya secara khusus. Ada hal-hal lain yang dipercayai, yang dapat diterima oleh semua manusia. Tak seorang pun yang diperintahkan untuk mempercayai sesuatu yang tidak memiliki cukup bukti. Sebagai contoh:

  1. Hal pertama yang harus dipercayai oleh manusia adalah bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri, karena mereka adalah orang berdosa. Setiap manusia mempunyai bukti mengenai hal ini di dalam dirinya sebagaimana yang ditunjukkan Paulus dalam Roma 1-3. Berapa banyak orang yang tidak mau mempercayai hal ini meskipun mereka mempunyai banyak bukti untuknya!
  2. Injil memanggil orang-orang berdosa untuk percaya bahwa Allah telah menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Berjuta-juta orang telah mendengarnya tetapi menolak untuk menerima hal itu meskipun ada banyak bukti untuknya.
  3. Injil memanggil orang-orang berdosa untuk percaya bahwa tidak ada Juruselamat yang lain selain Yesus Kristus. Hal ini merupakan hal yang paling ditolak orang Yahudi. Mereka malah menganggap Kristus sebagai musuh Allah!

Panggilan umum ini dilakukan bukan karena Kristus mati untuk semua orang, tetapi karena kebenaran-kebenaran ini merupakan bukti untuk semua orang. Dan hanya setelah penjelasan ini diberikan, orang baru dipanggil untuk percaya bahwa Yesus mati untuknya secara khusus. Sebagian orang telah memperhatikan bahwa Pengakuan Iman Rasuli (Ringkasan kuno agama Kristen) menempatkan frasa "pengampunan dosa dan hidup yang kekal" di bagian akhir. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebelum kita sampai pada pengampunan dosa dan hidup yang kekal, ada hal-hal lain yang harus dipercayai dulu; dan telah ada banyak bukti bagi hal itu.


PENJELASAN PENDAHULUAN MENGENAI AYAT-AYAT YANG MENGGUNAKAN KATA "DUNIA"

Sebenarnya saya enggan untuk menyebutkan pasal-pasal Alkitab yang telah digunakan untuk mendukung pendapat bahwa Kristus mati untuk semua manusia. Bukan karena ayat-ayat tersebut sulit saya jelaskan, tetapi karena saya tidak ingin menyinggung ketidakbenaran ini. Saya menduga bahwa ayat-ayat tersebut telah disampaikan kepada para pembaca oleh mereka yang meyakini kesalahan tersebut. Jadi sekarang saya harus memberikan jawaban kepada Anda untuk menjawab mereka.

Jangan terbawa oleh kelogisan kata-kata semata. Ingatlah selalu apa yang menjadi garis besar pengajaran Alkitab, dan jangan pernah menafsirkan satu ayat bertentangan dengan garis besar tersebut. Sebagai contoh, kata "dunia" dalam suatu ayat dapat diartikan berdasarkan ayat-ayat di sekitarnya; ada 5 penggunaan yang berbeda dari kata "dunia":

  1. Alam semesta atau bumi sebagai tempat tinggal

  2. [Ayub 34:13
    Matius 13:38
    Kisah Para Rasul 17:24
    Efesus 1:4
    dan banyak ayat lainnya]

  3. Penduduk dunia:

  4. Semua orang tanpa terkecuali
    [Roma 3:6
    Semua tanpa perbedaan
    Yohanes 7:4
    Banyak orang Kebanyakan orang
    Matius 18:7
    Kerajaan Roma
    Roma 1:8
    Orang-orang yang baik
    Lukas 2:1
    Yohanes 6:33
    Orang-orang yang jahat
    Yohanes 14:17
    dan banyak ayat lainnya]

  5. Dunia sebagai sistim yang rusak

  6. [Galatia 6:14]
    dan banyak ayat lainnya

  7. Pemerintahan manusia

  8. [Yohanes 18:36
    dan banyak ayat lainnya]

  9. Kerajaan setan

  10. [Yohanes 14:30
    dan banyak ayat lainnya]

Sebagian orang mungkin mengajukan keberatan bahwa sebuah kata harus selalu mempunyai makna yang sama di manapun letaknya dalam Alkitab. Saya menjawab: Hal itu tidak benar, karena ada beberapa bagian di mana Alkitab menggunakan arti yang berbeda untuk kata yang sama dalam kalimat yang sama. Dalam Mat. 8:22, kata "mati" yang pertama berarti kematian rohani dan yang kedua berarti kematian jasmani. Dalam Yoh 1:10, kata "dunia" yang pertama berarti bumi tempat tinggal, sedangkan yang kedua berarti planet bumi, dan ketiga berarti sebagian manusia di atas bumi.

Demikianlah, jika kata "dunia" kadangkala digunakan untuk mengartikan sebagian manusia, maka kata ini tidak boleh dipaksakan harus selalu berarti semua manusia. Dan ada beberapa bagian di mana kata tersebut secara jelas tidak mengacu pada semua manusia.

Lukas 2:1 - "seluruh dunia". Ini jelas mengacu pada Kerajaan Romawi. Tidak mungkin mengacu pada setiap orang di dunia.

Yohanes 1:10 - "dunia tidak mengenal-Nya". Tetapi sebagian manusia mengenal-Nya. Oleh karena itu kata "dunia" di sini tidak dapat diartikan setiap orang.

Yohanes 8:26 - "Kukatakan kepada dunia". Tetapi hanya beberapa orang Yahudi yang mendengarNya berbicara. Kata "dunia" tidak dapat diartikan setiap orang.

Yohanes 12:19 - "seluruh dunia datang mengikuti Dia". Ini hanya dapat diartikan sebagian besar bangsa Yahudi datang mengikuti Dia. Tidak dapat diartikan setiap orang.

1 Yohanes 5:19 - "seluruh dunia". Tetapi ada banyak orang percaya dalam dunia ini yang tidak berada dalam kuasa si jahat. Kata "dunia" tidak dapat diartikan setiap orang.

Jadi secara umum kata "dunia" hanya mengacu pada sebagian orang di dunia. Saya tidak tahu mengapa kata tersebut diartikan lain pada bagian-bagian di atas dalam hubungannya dengan keselamatan.

Setelah pengamatan-pengamatan umum ini, marilah kita melihat beberapa ayat Alkitab yang menggunakan istilah "dunia", antara lain Yoh. 1:29; 3:16; 4:42; 6:51; 2Kor. 5:19 dan 1 Yoh. 2:2. Dengan menggunakan ayat- ayat tersebut, beberapa orang berpendapat:

  1. Dunia meliputi semua dan setiap manusia.
  2. Kristus dikatakan mati untuk dunia.
  3. Jadi Kristus mati untuk semua dan setiap manusia.

Logika semacam ini salah karena kata "dunia" digunakan dalam dua pengertian yang berbeda. Dalam pernyataan pertama, "dunia" mengacu pada bumi sebagai planet. Dalam pernyataan kedua, kata ini mengacu pada orang-orang di dalam dunia. Tidak ada titik temu di antara kedua pernyataan tersebut. Jadi kesimpulan yang dihasilkan juga salah (kecuali Anda ingin mengatakan bahwa Kristus mati untuk planet bumi).

Beberapa orang berusaha untuk merumuskan kembali argumen tersebut secara demikian:

  1. Di dalam beberapa bagian Alkitab, "dunia" mengacu pada semua dan setiap manusia.
  2. Kristus dikatakan mati untuk dunia.
  3. Jadi Kristus mati untuk semua dan setiap manusia.

Argumen ini juga salah, karena Anda tidak dapat menarik suatu kesimpulan umum jika pernyataan pertama hanya mengacu pada makna sempit dari sebuah kata atau frasa, seperti kata "beberapa bagian". Juga saya harus menegaskan bahwa pada banyak bagian, kematian Kristus hanya dikaitkan pada "domba-domba-Nya" atau "jemaat-Nya".

Jadi argumentasi tersebut harus ditulis ulang, seperti ini:

  1. Pada beberapa bagian Alkitab kata "dunia" berarti semua dan setiap manusia.
  2. Pada beberapa bagian Alkitab, Kristus dikatakan mati untuk seluruh dunia.
  3. Jadi Kristus mati untuk semua dan setiap manusia.

Jelas bagi siapa pun, argumentasi ini tampak menggelikan! Harus ditunjukkan bahwa "beberapa bagian" dari pernyataan pertama adalah sama dengan "beberapa bagian" pada pernyataan kedua. Bila tidak, argumentasi tersebut tidak membuktikan apa-apa. Dan dalam kasus apapun, sebuah kesimpulan umum tidak dapat diambil dari pernyataan pertama yang terbatas, seperti yang telah kita lihat sebelumnya.

Jadi sebagai pembukaan, saya kira saya telah memaparkan kesalahan dari argumen-argumen yang didasarkan pada penggunaan kata "dunia". Saya berani mengatakan bahwa argumen-argumen lemah tersebut tidak pernah dipakai oleh orang-orang yang berpikir baik-baik! Tinggalkanlah argumen-argumen itu, marilah kita kembali kepada Alkitab itu sendiri.


STUDI TERPERINCI MENGENAI YOHANES 3:16

Ayat ini sering dipakai untuk mengajarkan bahwa:

"mengasihi" =
  1. Allah mempunyai kerinduan alamiah bagi kebaikan dari
"dunia" =
  1. seluruh umat manusia dari segala suku bangsa di segala tempat dan waktu, sehingga
"memberikan" =
  1. Ia memberikan Anak-Nya untuk mati, bukan untuk secara aktual menyelamatkan orang-orang tertentu, tetapi
"Barangsiapa" =
  1. supaya setiap orang yang memiliki kemampuan alamiah untuk percaya
"beroleh" =
  1. dengan demikian dapat beroleh hidup yang kekal.

Seharusnya, kita memahami ayat tersebut sebagai berikut:

"mengasihi" =
  1. Allah mempunyai kasih yang begitu khusus dan agung sehingga Ia menghendaki
"dunia" =
  1. Semua umat-Nya yang berasal dari segala suku bangsa pasti akan diselamatkan
"memberikan" =
  1. dengan menetapkan Anak-Nya menjadi Juruselamat yang berdaulat untuk menyelamatkan semua orang pilihan-Nya
"Barangsiapa" =
  1. Ia memastikan bahwa semua orang percaya [umat pilihan-Nya], siapa pun juga, dan hanya mereka
"beroleh" =
  1. yang sungguh-sungguh memiliki semua hal mulia yang disediakan-Nya untuk mereka.

Ada tiga hal yang harus dipelajari dengan hati-hati di sini.
Pertama, kasih Allah;
kedua, penerima kasih Allah, yang di sini disebut sebagai "dunia";
ketiga, maksud dari kasih Allah, yaitu supaya orang-orang percaya "tidak binasa".

  1. Penting untuk dipahami di sini bahwa tidak ada suatu ketidaksempurnaan apa pun yang dapat dikatakan mengenai Allah.

  2. Pekerjaan-Nya adalah sempurna. Tetapi jika dikatakan bahwa Ia mempunyai kerinduan alamiah untuk menyelamatkan semua orang, maka kegagalan bagi semua orang untuk diselamatkan mengesankan bahwa keinginan-Nya lemah, dan kebahagiaan-Nya tidak lengkap.

    Demikian juga, tidak ada bagian Alkitab yang mengajarkan kerinduan alamiah Allah bagi "kebaikan" (baca: keselamatan - ed.) semua orang. Sebaliknya, justru dikatakan bahwa Allah secara bebas dan berdaulat menyatakan belas kasihan kepada siapa Ia ingin menaruh belas kasih- Nya. Kasih-Nya merupakan tindakan bebas dari kehendak-Nya, bukan sebuah emosi yang muncul di dalam diri-Nya karena keadaan kita yang menderita. (Jika penderitaanlah yang menimbulkan keinginan alamiah Allah untuk menolong maka Ia harus berbelaskasih pada Iblis dan orang- orang terkutuk!)

    Kasih yang digambarkan di sini adalah tindakan khusus dan berdaulat dari kehendak Allah, dan diarahkan secara khusus kepada orang-orang percaya. Kata-kata "begitu" dan "supaya" menekankan pada tindakan luar biasa dari kasih ini, dan tujuan yang jelas bagi penyelamatan orang- orang percaya dari kebinasaan. Oleh karena itu, kasih ini tidak mungkin merupakan perasaan kasih-sayang yang umum terhadap semua orang yang sebagian darinya akan binasa.

    Ayat-ayat Alkitab yang lain juga membenarkan bahwa kasih Allah ini merupakan sebuah tindakan agung, yang ditujukan secara khusus bagi orang-orang percaya, contohnya Rm. 5:8 atau 1 Yoh. 4:9-10. Orang tidak akan berbicara mengenai kecenderungan alamiah bagi kebaikan semua orang dengan ayat-ayat yang begitu tegas seperti ini.

    Adalah jelas bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi mereka yang Ia kasihi .... [Kasih yang khusus] inilah yang menyebabkan Ia memberikan Kristus, dan semua hal lain yang mereka butuhkan. "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Rm. 8:32). Karena itu, kasih Allah yang khusus ini hanya mungkin dialami oleh orang-orang yang kepadanya diberikan anugerah dan kemuliaan.

    Sekarang Anda harus menentukan; mungkinkah kasih Allah, yang telah memberikan Anak-Nya ini dimengerti sebagai sebuah keinginan baik Allah yang bersifat umum kepada semua orang? Tidakkah ini lebih merupakan kasih Allah yang khusus untuk orang-orang percaya pilihan-Nya?

  3. Selanjutnya, kita akan menyelidiki siapakah penerima kasih Allah, yang disebut "dunia" itu.

  4. Sebagian orang mengatakan: ini pasti berarti semua dan setiap manusia. Saya tidak mengerti bagaimana bisa berarti demikian. Di depan, kita telah diperlihatkan pengertian-pengertian yang berbeda dari kata "dunia" dalam Alkitab. Dan dalam Yoh. 3:16, kasih disebutkan di bagian awal, dan tujuan kasih itu di bagian akhir, tidak mungkin sesuai dengan pengertian "semua dan setiap manusia" yang oleh sebagian orang diselipkan pada kata "dunia" di tengah-tengah ayat ini!

    Bagi kita, kata "dunia" ini dipahami sebagai orang-orang pilihan Allah yang tersebar di seluruh dunia dari antara segala bangsa. Bukan sebagai anugerah khusus Allah yang ditujukan hanya bagi orang Yahudi saja. Pengertiannya adalah, "Allah, begitu mengasihi orang-orang pilihan-Nya yang ada di seluruh dunia, sehingga Ia memberikan Anak-Nya dengan tujuan supaya oleh-Nya orang-orang percaya dapat diselamatkan". Ada beberapa alasan untuk mendukung pandangan ini.

    Sifat kasih Allah, sebagaimana yang telah kita bahas di sini, tidak mungkin dapat dipikirkan sebagai pemberian kepada semua dan setiap manusia. Kata "dunia", dalam ayat ini harus mengacu pada suatu dunia yang menerima hidup kekal. Hal ini ditegaskan oleh ayat berikutnya - Yoh. 3:17 - di mana, untuk ketiga kalinya kata "dunia" disebutkan. Dikatakan bahwa tujuan Allah dalam mengirimkan Kristus adalah "supaya dunia diselamatkan". Jika "dunia" di sini diartikan selain orang-orang percaya yang dipilih, maka Allah telah gagal mencapai tujuannya, kita tidak dapat membenarkan penjelasan seperti ini.

    Dalam kenyataannya, bukan hal yang aneh kalau orang percaya disebut dengan istilah-istilah semacam "dunia", "seluruh manusia", "seluruh bangsa" dan "seluruh keluarga di atas bumi". Sebagai contoh, dalam Yoh. 4:42, Kristus dikatakan sebagai Juruselamat dunia. Juruselamat orang yang tidak diselamatkan akan merupakan suatu pertentangan istilah. Jadi, mereka yang disebut di sini sebagai "dunia" harus merupakan mereka yang diselamatkan.

    Ada beberapa alasan mengapa orang-orang percaya disebut "dunia". Alasannya adalah untuk membedakan mereka dari malaikat-malaikat; untuk menolak orang-orang Yahudi sombong yang menganggap hanya mereka yang merupakan umat Allah; untuk mengajarkan perbedaan antara Kovenan Lama yang dibuat dengan satu bangsa, dengan Kovenan Baru - di mana seluruh bagian dunia dijadikan taat kepada Kristus; dan untuk memperlihatkan kondisi orang percaya sebenarnya, sebagai ciptaan yang hidup di atas bumi, di dalam dunia.

    Jika tetap bersikeras bahwa kata "dunia" di sini mempunyai pengertian seluruh dan setiap manusia sebagai penerima kasih Allah, maka mengapa Allah tidak menyatakan Yesus kepada setiap orang yang begitu Ia kasihi? Sungguh aneh, jika dikatakan Allah memberikan Anak-Nya kepada mereka, namun Ia tidak pernah memberitahu mereka mengenai kasih-Nya - berjuta-juta orang tidak pernah mendengar berita Injil! Bagaimana mungkin Ia dikatakan mengasihi setiap manusia [dalam arti khusus], jika ketetapan-Nya ini tidak diketahui oleh setiap orang?

    Akhirnya, kata "dunia" tidak mungkin berarti seluruh dan setiap manusia kecuali Anda siap untuk menerima bahwa:

    Kasih Allah kepada sebagian orang adalah sia-sia,
    karena mereka binasa.
    Kristus diberikan kepada berjuta-juta orang yang tidak pernah
    mengenal-Nya.
    Kristus diberikan kepada berjuta-juta orang yang tidak
    dapat mempercayai-Nya.
    Allah merubah kasih-Nya, dengan mengabaikan mereka yang binasa (atau
    sebaliknya, Ia tetap mengasihi mereka dalam neraka).
    Allah gagal untuk memberikan segala sesuatu kepada orang-orang yang
    baginya Ia telah memberikan Kristus.
    Allah sebelumnya tidak mengetahui siapa yang akan percaya dan
    diselamatkan.

    Kemustahilan-kemustahilan semacam ini tidak dapat kita terima; Kata "dunia" hanya berarti orang-orang pilihan yang tersebar di seluruh dunia.

  5. Cara supaya orang pilihan Allah menerima hidup yang ada di dalam Anak-Nya adalah dengan percaya. Dikatakan "Setiap orang yang percaya tidak akan binasa".[*]
  6. Jika dikatakan bahwa Kristus mati untuk seluruh dan setiap manusia, dan kita tahu bahwa hanya orang-orang percaya saja yang akan diselamatkan, lalu apa perbedaan antara orang-orang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya? Mereka tidak mungkin membuat perbedaan itu sendiri (lihat 1Kor. 4:7). Maka pasti Allah yang membuat perbedaan antara mereka. Tetapi jika Allah yang membuat mereka berbeda, maka bagaimana mungkin Ia dapat memberikan Kristus kepada mereka semua?

    Ayat tersebut menyatakan maksud Allah bahwa orang-orang percaya akan diselamatkan. Hal itu berarti bahwa Allah tidak memberikan Anak-Nya untuk mereka yang tidak percaya. Bagaimana mungkin Ia memberikan Anak- Nya bagi orang-orang yang kepadanya Ia tidak berikan anugerah untuk percaya?

    Sekarang silakan pembaca menimbang semua ini, pertama-tama dan khususnya, mengenai kasih Allah, dan dengan serius menanyakan apakah mungkin itu merupakan kasih kepada semua orang, yang membiarkan kebinasaan begitu banyak orang yang dikasihi-Nya? Ataukah kasih ini lebih baik dimengerti sebagai kasih yang unik dan khusus dari Bapa untuk anak-anak-Nya yang percaya, yang menjamin masa depan mereka? Maka Anda akan mendapatkan jawaban mengenai apakah Alkitab mengajarkan bahwa Kristus mati sebagai tebusan umum - tidak berguna bagi sebagian orang yang seharusnya telah ditebus - atau sebagai penebusan khusus yang berlaku bagi setiap orang percaya secara berkemenangan. Dan ingatlah ayat ini, Yoh. 3:16, yang begitu sering digunakan untuk mendukung pendapat bahwa Kristus mati untuk setiap manusia - meskipun, seperti yang telah saya jelaskan, sangat tidak sesuai dengan pendapat demikian!

Ket. [*]:
Tidak ada gunanya mendukung penebusan universal dengan berpendapat bahwa "barangsiapa" berarti "setiap orang", secara tidak definit.

  1. Bentuk kata Yunaninya sebenarnya adalah "setiap orang percaya".
  2. Mengusulkan "setiap orang" berarti menyangkal bahwa kasih Allah diberikan secara merata kepada setiap orang! Jika hanya sebagian yang diperkenan-Nya - "barangsiapa", maka Allah tidak mungkin mengasihi semua manusia secara merata. Namun bagaimanapun juga tampak jelas bahwa Ia lebih mengasihi sebagian "barangsiapa" dari yang lainnya.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul buku : Kematian yang Menghidupkan
Penulis : John Owen
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2001
Halaman :95 - 114

Komentar