Kategori Utama

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya kirimkan ke mailbox Anda ini sudah cukup panjang. Jadi, saya tidak perlu menambah dengan komentar lagi. Saya hanya ingin menegaskan bahwa artikel ini akan menjadi jawaban dari dua pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh orang awam.

  1. Mengapa Tuhan menempatkan saya di dunia "sekular" (di mana Tuhan dianggap tidak ada)?
  2. "Bagaimana saya membawa Tuhan ke dunia "sekular" (di mana Tuhan dianggap tidak ada?)

Selamat menemukan jawabannya.

In Christ, Yulia < yulia(at)in-christ.net >

Salam,

Reformasi abad ke-16 yang dimotori oleh Martin Luther adalah momentum Illahi. Sebuah gerakan pembaharuan rohani yang muncul tepat pada puncak penduniawian gereja oleh Katolik Roma. Momen ini dapat ditafsirkan sebagai sejarah yang terulang sejak Reformasi Ezra dan Nehemia dalam sejarah umat Allah untuk pemurnian umat.

Dipublikasikannya 95 Tesis sebagai data akurat dan tidak terbantahkan yang disusun oleh Martin Luther untuk menunjukkan bukti penyimpangan ajaran dan korupsi gereja Katolik Roma di gerbang gereja Wittenburg adalah titik penentu keefektifan Reformasi ini. Efektivitas Reformasi yang terutama adalah revitalisasi religiusitas dan teologis. Reformasi adalah awal babak baru pemurnian iman dan pengajaran dalam gereja Tuhan dan menjadi penentu arah perkembangan teologi dan pengajaran di kemudian hari.

Calvin, penerus Luther, adalah salah seorang reformator yang mampu menafsirkan gerakan itu sebagai momen yang mampu merevitalisasi kehidupan religius dan teologia pada zamannya dan berefek sampai hari ini. Baginya, kebenaran ajaran dan teologi gereja ditentukan dan didasarkan pada Alkitab dan interpretasinya yang benar. Prinsip Sola Scriptura adalah penentu keberhasilan Reformasi. Dari prinsip ini akan ditemui prinsip-prinsip yang menyertainya, seperti Sola Gratia dan Sola Fide, termasuk Sola Gloria.

Tugas Calvin, khususnya sebagai penafsir Alkitab, telah berhasil membawa Reformasi keluar dari mistikisme gereja; corak dominan pengajaran dan teologia gereja abad pertengahan, dengan cara menolak interpretasi Alkitab secara alegoris. Sebaliknya, Calvin, secara realistis sanggup memadukan doktrin dan mengajarkannya dari sudut pandang pembinaan untuk warga jemaat secara sistematis dan alkitabiah. Calvin mampu mengajarkan kemuliaan Allah berdasarkan kebutuhan rohani pada zamannya yang secara esensi tidak bisa dilepaskan dari prinsip Alkitab. Gerakan Reformasi itu sangat biblikal karena menekankan pentingnya penafsiran Alkitab secara literal dan historis.

Alkitab adalah dasar Reformasi dan kedaulatan Allah adalah segala- galanya. Karena Reformasi sangat menekankan Alkitab dan kedaulatan Allah sebagai pusat teologi, maka pada era-era sekarang, teologi Reformasi cenderung menjadi "tolok ukur" untuk menguji teologia- teologia lainnya. Teologi Reformasi "mampu mengukur" konsistensi dan ketepatan, sekaligus mendeteksi penyimpangan berbagai aliran teologi. Dari sinilah prinsip Calvin, "Speak where the Scriptures speak; be silent where they are silent" menjadi terkenal. Bagi Calvin, Alkitab dan Allah tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran dan teologia alkitabiah. Inilah salah satu warisan Reformasi yang sangat berpengaruh sampai saat ini di samping warisan-warisan besar lainnya.

Untuk memperingati Hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati tanggal 31 Oktober 2007 nanti, dan juga untuk mengingat kembali efektivitas gerakan Reformasi abad ke-16 yang lalu dan menguji kembali apakah kebenaran yang telah ditegakkan oleh para reformator, khususnya Calvin, tentang pentingnya Alkitab sebagai sumber final pengajaran dan teologi itu masih relevan, maka, tulisan Dr. Daniel Lucas Lukito di bawah ini mencoba menganalisa kesinambungan esensi dan relevansi gerakan tersebut dalam pengajaran iman dan teologi Kristen hari ini.

Selamat memperingati Hari Reformasi Gereja!

Sola Gratia,
Riwon Alfrey


Dear e-Reformed Netters,

Selamat berjumpa lagi dalam kasih Kristus.

Walaupun tugas penginjilan ditujukan bagi semua orang Kristen, tidak semua orang Kristen mengetahui adanya standar tertentu yang harus dipenuhi ketika kita menginjili. Kebanyakan kita mempelajari penginjilan hanya sekadar metode yang harus dipelajari. Padahal ada esensi penting yang harus diberitakan dan dikerjakan sehingga sebuah penginjilan bisa disebut penginjilan yang bertanggung jawab. Esensi penginjilan adalah perintah Alkitab yang seharusnya memiliki isi yang sama untuk semua orang Kristen di seluruh dunia. Apakah isi esensi penginjilan itu?

Konferensi Internasional Bagi Penginjil Keliling, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penginjilan Billy Graham di Amsterdam pada tahun 1983, telah melahirkan Lima Belas Pengukuhan penting tentang esensi penginjilan itu. Sebagai pemrakarsa konprensi ini, Billy Graham didaulat untuk memberikan uraian/penjelasan tentang Lima Belas Pengukuhan yang telah disampaikan dalam konferensi tersebut dalam sebuah buku, yang dalam terjemahan bahasa Indonesianya berjudul "Beritakan Injil: Standar Alkitabiah bagi Penginjil". Nah, saya anjurkan Anda membeli buku tersebut sehingga dapat membaca dengan jelas uraian yang disampaikan di dalamnya.

Bagi Anda yang tidak dapat menikmati bukunya, saya ingin memberikan cuplikannya saja, khususnya prakata buku tersebut yang disampaikan oleh Billy Graham sendiri. Bagian prakata ini sangat penting untuk memahami latar belakang dan motivasi lahirnya Lima Belas Pengukuhan yang dideklarasikan dalam konferensi internasional bagi para penginjil ini. Untuk itu, silakan simak artikel berikut ini yang sebenarnya adalah prakata dari buku yang aslinya berjudul "A Biblical Standard for Evangelists."

Untuk melengkapinya, saya tambahkan juga pokok penting dari Lima Belas Pengukuhan di bagian bawah artikel ini. Namun, saya minta maaf karena isinya hanyalah rumusannya saja dan tidak ada uraiannya. Untuk mendapatkan uraiannya, belilah bukunya.

In Christ, Yulia Oeniyati < yulia(a t)in-christ.net >

Dear e-Reformed Netters,

Artikel berikut ini merupakan sambungan dari bagian (1) yang sudah saya kirim sebelumnya. Jika Anda ternyata belum mendapatkan bagian sebelumnya, silakan berkirim surat ke saya dan saya akan mengirimkannya untuk Anda.

Selamat melanjutkan perenungan Anda.

In Christ, Yulia yulia(at)in-christ.net

Dear e-Reformed Netters,

Salam dalam kasih,

Maaf, sudah lama saya tidak mengirim artikel ke mailbox Anda. Tapi, meskipun terlambat saya harap artikel e-Reformed tetap dinantikan.

Pada kesempatan kali ini, artikel yang sangat menarik perhatian saya untuk dibagikan kepada Anda adalah tulisan dari T.B. Simatupang, seorang teolog Indonesia yang memiliki pemikiran yang sangat tajam dan pengetahuan yang sangat kaya tentang sejarah keadaan perkembangan gereja dan kekristenan di Indonesia. Artikel ini dipersembahkan sebagai salah satu tulisan bunga rampai dalam rangka peringatan 25 tahun kependetaan Caleb Tong. Silakan menyimak. Jika Anda adalah seorang yang memiliki keprihatinan besar tentang perkembangan kekristenan di Indonesia, saya yakin Anda akan sangat menghargai artikel yang ditulis oleh beliau ini.

Jarang saya mendapati karya tulis pemikir Kristen Indonesia yang berbicara tentang sejarah atau tentang kekristenan, tapi ditulis dengan bahasa yang sederhana, jelas, "to the point" (tidak bertele-tele) dan elegan tanpa harus membubuhinya dengan istilah-istilah asing yang justru memberati kepala. Jika Anda membaca tulisan beliau dengan perlahan-lahan, sambil menikmati, tapi dengan perhatian dan konsentrasi yang penuh, Anda serasa sedang mendengarkan seorang tetua, yang sudah makan banyak asam garam kehidupan, sedang bercerita kilas balik tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau. Nah, jika Anda bisa sampai pada taraf ini, Anda sudah menemukan seting yang tepat untuk memikirkan secara lebih dalam pemikiran-pemikiran yang beliau sampaikan dalam tulisan ini.

Saya sempat membaca tulisan beliau ini beberapa kali. Setiap kali selesai membaca, perasaan nasionalis saya seperti dibangkitkan lagi. Sejarah kekristenan di Indonesia, dan juga sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia, seharusnya tidak dianggap "biasa". Sering kita memiliki sikap "take it for granted" dan membiarkan "spiritual treasure" ini dianggap sebagai hal yang sudah sepantasnya terjadi. Alangkah bodohnya kita! Kemutlakkan campur tangan Allah dalam setiap peristiwa sejarah, termasuk di Indonesia, seharusnya membuat kita tak hentinya berkata, "Wow ..., Tuhan itu luar biasa!" Menghargai intervensi Allah membuat kita mengerti bahwa hidup bukan sekadar hidup, tapi hidup adalah anugerah Tuhan. Karena itu, mari kita berjalan di dalam kehendak dan rencana-Nya.

In Christ,
Yulia

< yulia(at)in-christ.net >

NB:
Sekadar pemberitahuan bagi Anda yang ingin bersurat ke saya, mohon tidak mengirimkannya ke alamat Lyris (atau dengan kata lain, jangan tekan "reply") karena surat Anda akan menuju ke mesin pengirim, tapi tidak akan sampai kepada saya. Untuk menulis ke saya tujukan surat Anda ke alamat < yulia(at)in-christ.net >, saya akan membalas surat Anda.

Komentar