Kategori Utama

Yang Lama Dan Yang Baru

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, saya minta maaf untuk keterlambatan pengiriman posting ini, yang seharusnya dikirim akhir bulan April y.l.

Artikel yang saya postingkan kali ini berkisar pada masalah penerimaan otoritas kitab-kitab PL, khususnya bagi masyarakat modern saat ini. Hal ini muncul karena adanya pra-anggapan bahwa kitab-kitab PL adalah kitab-kitab yang lebih banyak berbicara tentang Israel, bahkan ada buku Hermeneutik yang mengatakan bahwa isi kitab PL sebenarnya hanya ditujukan bagi orang Israel saja. Demikian juga dengan hukum-hukum yang disebutkan dalam PL. Orang Kristen sekarang yang digolongkan sebagai orang PB, tidak lagi terikat dengan hukum PL, kecuali jika hukum-hukum dalam kitab-kitab PL itu diulang lagi dalam PB. Apakah anggapan ini benar? Anggapan ini tidak benar.

Di pihak lain, walaupun otoritas PL diakui, banyak orang Kristen memiliki kesulitan menempatkan PL dalam KESELURUHAN KEBENARAN Firman Tuhan. Apakah PL dan PB mempunyai nilai dan bobot yang sama? Apa relevansi kitab-kitab PL dengan hidup kita sekarang. Relevansi kitab- kitab PB jelas, karena hampir setiap minggu, di gereja, kita mendengar khotbah-khotbah yang diambil dari kitab-kitab PB. Kebenaran-kebenaran otoritas PB tidak banyak dipertanyakan karena memang sudah jelas. Tapi otoritas dan relevansi kitab-kitab PL? Gereja sendiri jarang memberi tekanan pada berita-berita PL. Selain sebagai cerita di sekolah Minggu anak-anak, jemaat jarang mendengar kebenaran PL dikhotbahkan sebagai prinsip-prinsip iman Kristen. Lalu bagaimana seharusnya?

Pembahasan oleh John Drane di artikel berikut ini mudah-mudahan menolong kita mengerti bagaimana menempatkan PL secara benar sebagai Firman Tuhan yang berotoritas bagi hidup kita.

Sola Scriptura!

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
-
Edisi: 
073/IV/2006
Isi: 

MASALAHNYA

Bagi orang Kristen, PL senantiasa penting karena kutipannya terdapat pada hampir setiap halaman PB. Namun, PL menjadi masalah bagi kekristenan dan bahkan sejak masa awal gereja makna dan relevansi PL telah menjadi sumber perdebatan dan kontroversi yang hangat. Hal-hal tersebut merupakan salah satu isu yang menyebabkan gesekan dan perpecahan dari gereja-gereja muda di tahun-tahun segera setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Yesus sendiri telah mengklaim bahwa hidup-Nya sendiri adalah penggenapan PL. Namun banyak tindakan-Nya seakan mengabaikan pengajaran-pengajaran utama PL (Matius 5:17), terutama pada subjek seperti peraturan Sabat (Markus 2:23-28), hukum mengenai makanan (Markus 7:14-23), bahkan juga beberapa pengajaran moralnya (Matius 5:21-48). Jadi, otoritas seperti apakah seharusnya dimiliki PL dalam kehidupan pengikut-pengikut Yesus?

Tidak timbul masalah khusus bagi generasi pertama Kristen yang adalah juga orang Yahudi. Sejauh ini, mereka terus mengikuti cara hidup yang sudah mereka terima sejak kecil, yang mendasarkan diri kepada PL sesuai yang dimengerti oleh agama Yahudi abad pertama. Namun, setelah jelas bahwa berita Kristen ditujukan kepada orang-orang non-Yahudi, dan bahwa orang Romawi dan Yunani juga bisa menjadi pengikut Yesus, pertanyaan mengenai otoritas PL muncul dalam bentuk yang lebih mendesak. Apakah orang kafir perlu menjadi Yahudi terlebih dahulu sebelum menjadi Kristen? Paulus dan penulis PB dengan tegas menjawab: tidak perlu (Galatia, 1Petrus, Ibrani). Namun, mereka tetap menerima PL sebagai kitab suci mereka, dan sering menggunakannya sebagai dasar penjelasan iman Kristen.

Justru di sinilah letak masalahnya. Kalau bagian-bagian tertentu PL bisa diabaikan sebagai tidak relevan lagi bagi iman dan tindakan Kristen, bagaimana kita bisa membedakannya, dan apa yang harus kita lakukan dengan bagian sisanya?

MENCARI JALAN KELUAR

Pertanyaan mengenai hubungan antara PL dan PB diungkapkan dengan lantang oleh seorang Kristen abad ke-2, Marcion. Ia bukan hanya melihat sikap para rasul yang ambigu mengenai masalah ini, tetapi ia juga memperhatikan masalah-masalah lain di dalam kepercayaan Kristen kepada PL. Yesus telah berbicara tentang kasih Allah yang mempedulikan kesejahteraan semua manusia. Akan tetapi, ketika membaca PL, Marcion sering melihat gambaran Allah yang agak berbeda, dimana Ia kelihatannya dihubungkan dengan kekejaman dan kebuasan yang ekstrim. Jauh dari kehendak menyelamatkan manusia, Ia kadang-kadang dihubungkan dengan penghancuran mereka. Tentu saja, Marcion sedikit melenceng di dalam melihat gambaran itu: penghakiman yang keras merupakan bagian penting dari pengajaran Yesus, dan kasih Allah tidak pernah absen dari iman PL, seperti yang telah kita lihat dalam berbagai cara.

Namun, bagaimanapun pembaca modern seringkali merasakan hal yang sama, dan beberapa orang Kristen sekarang akan mengalami kesulitan untuk mendamaikan beberapa aspek dari pandangan PL tentang Allah dengan apa yang mereka anggap sebagai pandangan umum Kristen tentang PB. Selain permasalahan yang diangkat oleh Marcion, mereka juga menunjuk kepada perbedaan antara berita kasih Allah yang universal dalam Yesaya 40-55 dengan apa yang tampak sebagai suatu nasionalisme sempit dari kitab seperti Ezra. Bahkan penafsir yang ulung sekalipun sangat kesulitan untuk mendamaikan sikap sentimentil Mazmur 137:8-9 dengan pernyataan untuk mengasihi musuh di dalam khotbah di bukit Yesus (Matius 5:43- 48). Juga, banyak orang sekarang ini sulit memahami beberapa aspek ibadah PL, terutama persembahan korban yang (paling tidak menurut pandangan barat) kelihatannya primitif dan kejam, bahkan sama sekali tidak masuk akal.

Jawaban Marcion terhadap semua ini adalah sederhana: robek PL dan buang ke dalam tempat sampah! Namun pandangan itu tidak didukung secara luas oleh gereja awal, terlebih karena Marcion juga ingin menyingkirkan sebagian besar PB. Hal itu kelihatannya menimbulkan tanda tanya terus akan kesejatian iman Kristennya.

Namun, para pemimpin gereja mula-mula dapat mengerti dengan cukup baik permasalahan yang dipertanyakan Marcion. Pertanyaan mengenai PL itu sungguh nyata. Kalau kedatangan Yesus adalah tindakan yang baru dan menentukan dari Allah dalam dunia ini, lalu apa relevansinya yang dapat dimiliki sejarah umat purba untuk iman di dalam Yesus?

Jawaban umum yang diberikan ialah bahwa ketika PL dimengerti dengan tepat maka PL akan mengatakan hal yang persis sama dengan yang dikatakan PB. Namun, untuk dapat membuktikan hal ini maka perlulah menafsirkan PL sedemikian sehingga dapat menunjukkan bahwa arti sebenarnya entah bagaimana tersembunyi bagi pembaca biasa.

Secara kebetulan, sarjana-sarjana Yahudi telah menghadapi pertanyaan ini dalam konteks yang berbeda. Lebih dari satu abad sebelumnya, penafsir agung Yahudi, Filo (sekitar 20SM-45M), yang tinggal di Aleksandria, Mesir, telah mencoba menyelaraskan PL dengan pemikiran para filsuf besar Yunani. Ada sedikit kaitan yang jelas antara PL dengan filsafat Yunani. Namun, dengan menerapkan penafsiran alegoris yang mistis terhadap PL, Filo berhasil menunjukkan (paling tidak sampai ia merasa puas) bahwa Musa dan para penulis PL lainnya sebenarnya telah menyatakan kebenaran-kebenaran filsafat Yunani beberapa abad sebelum para pemikir Yunani memikirkannya!

Beberapa pemimpin Kristen awal, terutama mereka yang di Aleksandria, mengadopsi pendekatan seperti ini dengan penuh semangat. Mereka segera juga menggunakan teknik yang sama untuk menunjukkan bahwa PL memuat segala sesuatu yang ada dalam PB, bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat.

Bahkan hal-hal mendetail yang kelihatannya tidak penting dari kisah PL dijadikan lambang-lambang bagi Injil Kristen. Apa pun yang berwarna merah dapat dimengerti sebagai referensi kepada kematian Yesus di kayu Salib (sebagai contoh, lembu betina merah dari Bilangan 19, tali kirmizinya Rahab dari Yosua 2:18). Air kemudian menjadi gambaran akan baptisan Kristen. Kisah Keluaran, dengan kombinasi dengan darah (di ambang pintu pada saat Paskah) dan air (ketika menyeberangi laut Teberau), menghasilkan banyak penjelasan yang kompleks akan hubungan antara salib dan keselamatan Kristen, juga dengan dua sakramen Kristen, baptisan dan perjamuan kudus!

Uskup Hilary dari Poitiers, Perancis (315-368 M) menjelaskan cara pembacaan PL ini sebagai berikut:

"Setiap karya yang termuat di dalam kitab-kitab suci mengumumkan melalui kata, menjelaskan melalui fakta, dan mensahkan melalui contoh-contoh kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus .... Sejak permulaan dunia ini, Kristus melalui prafigurasi yang otentik dan mutlak dalam pribadi para patriakh melahirkan, membersihkan, menguduskan, memilih, memisahkan dan menebus gereja: melalui tidurnya Adam, banjir besar pada masa Nuh, berkat dari Melkisedek, pembenaran Abraham, kelahiran Ishak, penawanan Yakub .... Tujuan karya ini adalah untuk menunjukkan bahwa dalam setiap pribadi dalam setiap masa, dan dalam setiap tindakan, gambaran tentang kedatangan, pengajaran, kebangkitan-Nya, dan tentang gereja kita direfleksikan seperti pada cermin" (Hilary, Introduction to The Treatise of Mysteries).

Tidak semua pemimpin gereja senang dengan pendekatan terhadap PL di atas: terutama mereka yang berhubungan dengan pusat kekristenan besar lainnya di Antiokhia, Siria. Namun, biasanya diterima begitu saja bahwa PL adalah kitab Kristen, dan dengan satu dan lain cara isinya berkaitan dengan kepercayaan mendasar teologi Kristen.

Selama Reformasi Protestan, keseluruhan pokok pembicaraan ini sekali lagi dibuka untuk diperiksa. Martin Luther (1483-1546) dan John Calvin (1509-1564) menekankan pentingnya mengerti iman PL berdasarkan konteks sejarah dan sosialnya. Dalam hal ini, pendekatan mereka tidaklah berbeda dari pendekatan banyak sarjana modern. Namun, Luther ingin membedakan nilai PL dari PB dengan melihat PL sebagai Taurat dan PB sebagai Injil. Hal ini memberikan kepadanya alat yang baik untuk memisahkan gandum Injil sejati (menurut Luther ditemukan pada surat- surat Paulus) dari jerami legalisme yang sudah diganti (diidentifikasikan dengan PL dan kekristenan Yahudi). Pemikiran ini telah sangat mempengaruhi kesarjanaan Alkitab sampai masa kini. Akan tetapi, pandangan ini keliru dalam beberapa hal mendasar:

  • Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa Taurat bukan dasar iman PL dan juga tidak sama sekali tidak ada di dalam PB. Di dalam PL maupun PB, Taurat diletakkan di dalam konteks pemahaman perjanjian dengan kasih Allah sebagai prinsip dasarnya.
  • Luther sangat keliru mengidentifikasikan Yudaisme dengan legalisme moralistis. Hal ini sangat tidak adil bahkan terhadap pandangan Farisi yang jelas-jelas ditolak oleh Paulus. Dalam hal ini, Luther membiarkan reaksinya sendiri terhadap kekristenan Roma Katholik untuk mewarnai pandangannya terhadap iman PL.

Calvin mengenali beberapa kekurangan ini, dan sebaliknya menekankan kepentingan dari tema perjanjian di PL dan PB. Dengan perbandingan yang teliti akan hubungan Allah dengan umat Israel purba dan dengan gereja Kristen, Calvin mampu mengklaim bahwa dua bagian dari Alkitab Kristen tersebut disatukan oleh suatu pewahyuan yang progresif, di mana janji-janji purba yang diberikan kepada Israel dalam PL mencapai puncaknya di dalam kehidupan gereja Kristen. Pandangan ini bukan tidak memiliki kesulitannya sendiri. Namun, paling tidak pandangan ini mencoba untuk melihat iman PL secara serius. Pandangan Calvin ini masih dipegang oleh banyak orang dari kelompok Kristen konservatif.

Setelah Reformasi, pertanyaan mengenai PL sebagai kitab Kristen tersimpan dengan rapi sampai pada generasi kita. Zaman pencerahan Eropa, dengan tekanan kepada memahami PL sebagai koleksi kitab-kitab kuno dalam konteks masanya sendiri, membawa penyelidikan para sarjana ke arah lain. Namun, dalam 100 tahun terakhir atau lebih ini, pertanyaan teologis tadi telah mencuat ke permukaan lagi. Hal penting yang mendorongnya adalah gerakan Nazi di negara Jerman modern. Perasaan anti Yahudi yang diciptakan oleh Nazi telah berdampak pada gereja-gereja Jerman sendiri, dan kehadiran PL di dalam Alkitab Kristen menjadi isu politis yang membara sekaligus menjadi bahan kajian teologis. Sejumlah teolog Jerman mulai mengadopsi sikap yang sama seperti Marcion. Namun, banyak sarjana Kristen Jerman yang memberikan penilaian positif terhadap signifikansi PL, walaupun mereka menghadapi tekanan secara politik. Sarjana-sarjana seperti Walter Eichrodt dan Gerhard von Rad bahkan juga teolog Swiss, Karl Barth, justru menghasilkan karya-karya yang paling kreatif pada masa tersebut.

Sekarang ini, umat Kristen mengadopsi berbagai sikap terhadap nilai PL:

  • Ada yang ingin memberikan PL nilai dan otoritas yang sama dengan PB, dengan dasar bahwa setiap kata di dalam keduanya adalah kata-kata Allah sendiri secara langsung. Namun, kita harus cukup berhati-hati untuk tidak terlalu gampang menerima gambaran seperti ini karena ada sejumlah pengajaran Yesus sendiri yang dalam berita-Nya jelas menunjukkan sikap penolakan atau perevisian yang sangat radikal terhadap beberapa aspek mendasar dari pengajaran PL.
  • Orang lain memperdebatkan bahwa PL digantikan seluruhnya oleh PB, sehingga bisa disingkirkan. Di sini kita juga harus memelihara suatu keseimbangan yang teliti yang kita temukan pada pengajaran Yesus sendiri karena Yesus juga menguraikan pelayanan-Nya dalam segi tertentu menggenapi PL. Kita bisa secara sah mendebatkan artinya, namun ini pastilah harus mengikutsertakan asumsi bahwa PL memiliki sesuatu untuk kekristenan dan karenanya memiliki tempat yang sah di dalam Alkitab Kristen.
  • Beberapa orang mencoba membedakan antara beberapa bagian dari PL. Mereka akan memisahkan hal-hal seperti hukum-hukum tentang imam, persembahan korban, dan ketahiran (yang tidak lagi dilakukan oleh Kristen) dari bagian-bagian lain seperti Dekalog dan pengajaran- pengajaran moral dari para nabi (yang dianggap masih relevan). Calvin melakukan pembagian yang serupa. Namun, jauh lebih mudah membagi seperti itu daripada membuktikan kebenarannya. Dengan menyingkirkan unsur-unsur yang kelihatannya tidak relevan itu, kita sebenarnya sedang menggeser beberapa aspek paling dasar dari iman PL. Sebagai tambahan, PB justru paling sering menemukan korelasi antara iman PL dengan kepercayaan Kristen tentang Yesus di dalam konsep-konsep seperti persembahan kurban.
  • Juga umum bagi orang Kristen untuk berbicara tentang pewahyuan progresif kehendak dan sifat Allah yang mengaliri kedua perjanjian tersebut. Pandangan ini mengatakan bahwa kehendak Allah dinyatakan melalui sejumlah tahapan, disesuaikan secara kasar dengan kapasitas manusia untuk memahaminya. Jadi, beberapa dari bagian yang lebih sulit dari PL dapat dijelaskan sebagai sesuai dengan masa primitif, yang kemudian diganti dengan pandangan yang lebih maju, dan memuncak pada pengajaran Yesus tentang Allah yang adalah kasih. Namun ini adalah ide yang tidak menolong karena didasarkan kepada ide evolusioner yang sudah ketinggalan zaman mengenai perkembangan moral yang tidak terhindarkan dalam diri manusia. Pandangan ini juga mencampuradukkan pernyataan tentang Allah sebagaimana Dia adanya dengan pernyataan tentang apa yang manusia pikirkan tentang Dia. Sebagai tambahan pandangan ini memuat juga implikasi yang meragukan bahwa orang modern pasti mengetahui lebih banyak mengenai kehendak Allah dan lebih taat kepadanya daripada para bapa leluhur, nabi-nabi, dan tokoh-tokoh utama kisah PL.

MENGADAKAN HUBUNGAN

Ada kesulitan yang nyata di dalam menafsirkan PL dalam Alkitab Kristen. Kita perlu mengenali bahwa PL adalah kitab yang dalam banyak hal aneh dan asing bagi orang modern, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Penilaian apapun yang kita berikan kepada iman PL, itu tidak sama dengan iman Kristen. Dalam praktiknya, orang Kristen yang membacanya sering menemukan kesulitan untuk mengerti PL. Hal ini terjadi karena PL berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengan pengalaman iman mereka. Banyak keanehan itu dapat menjadi sirna ketika kita menempatkan iman PL pada konteks sejarah dan sosialnya yang tepat. Itulah yang telah kita coba lakukan. Walaupun kita mungkin tidak menemukan hal seperti kurban persembahan menjadi lebih menarik, paling tidak kita bisa mulai menghargai maknanya di dalam konteks iman Israel. Namun, bukan berarti kita boleh menyingkirkan PL karena pada praktiknya tidaklah mungkin untuk menjelaskan dengan baik iman Kristen tanpa referensi kepada PL.

Pada tingkatan paling dasar, adalah fakta sederhana bahwa kita tidak dapat mengerti PB itu sendiri bila kita tidak mengetahui PL. Yesus dan murid-murid-Nya adalah orang Yahudi. Bagi mereka pikiran PL adalah bagian yang hidup dan penting bagi keberadaan total mereka. Memang dalam banyak hal, mereka melampaui ajaran Yudaisme ketika mereka menemukan bal-hal yang harus dibuang atau dikembangkan dalam terang ajaran baru yang menarik akan tindakan Allah di dalam Kristus. Namun secara keseluruhan mereka terus mengerti pengalaman baru Kristen mereka dalam kategori iman dari mana mereka telah dibesarkan.

Gereja-gereja Kristen paling awal menggunakan PL Yunani sebagai Alkitab mereka - dan bahasa dalam PB sendiri memiliki lebih banyak persamaan dengannya dibandingkan dengan sastra kebudayaan sekuler Yunani dan Romawi. Bahasa ini mempengaruhi cara mereka menjelaskan pengertian mereka akan kekristenan. Sesungguhnya, bahasa PL masih mempengaruhi pemikiran Kristen sekarang. Orang Kristen modern yang tidak pernah melihat kurban bakaran binatang masih menyanyikan di gereja-gereja akan Kurban yang sejati dan kekal dari Yesus. Banyak di antara mereka yang masih menyebutkan suatu bagian dari gedung gereja mereka sebagai altar, walaupun tidak pernah terjadi penumpahan darah di situ. Mungkin kita perlu memeriksa semua perlambangan ini dan menyajikan ulang beritanya dalam konsep berbeda untuk orang modern. Namun, agar dapat melakukan hal tersebut dengan baik, kita perlu mengerti semuanya terlebih dahulu sebab kalau tidak kita akan selalu ada dalam bahaya membuang fakta bahwa Kristus mati bagi dosa-dosa kita bersama dengan bahasa persembahan kurban, mezbah, dan penebusan. Tempat untuk menemukan arti yang tepat akan hal-hal ini tentu saja adalah PL.

Akan tetapi, PL bukan hanya menjadi latar belakang bahasa dan kebudayaan bagi pemikiran penulis-penulis PB. Perjanjian Lama juga mengandung pernyataan-pernyataan kebenaran yang penting akan Allah dan hubungan-Nya dengan umat manusia dan dunia yang sampai sekarang masih sama benarnya dengan dulu. Jika kita melihat kembali judul setiap pasal yang menaungi eksplorasi kita terhadap iman PL, dapat mudah terlibat bagaimana konsep-konsep kunci dari tiap bagian membentuk dasar teologis yang sangat penting bagi iman Kristen sebagaimana yang disajikan dalam PB. Ada suatu keterkaitan yang erat antarkedua Perjanjian ini sehinga tidaklah berlebihan kalau kita mengklaim bahwa iman Kristen sendiri menjadi kurang sempurna kalau kita menyingkirkan penegasan-penegasan dasar iman PL dari Alkitab Kristen.

Allah yang hidup

Kesimpulan-kesimpulan di atas tampak paling jelas dalam hal kepercayaan-kepercayaan mengenai Allah sendiri.

  • Ada kebenaran bahwa hanya ada satu Allah, dan bahwa Ia adalah mahakuasa dan juga secara pribadi memikirkan kesejahteraan manusia biasa. Istilah yang sering dipakai oleh para teolog masa kini untuk dua aspek sifat Allah ini ialah transendensi dan imanensi. Kita boleh sangat yakin bahwa istilah ini tidak banyak berarti bagi umat PL. Sesungguhnya, mungkin saja kebenaran tentang Allah ini tidak dimengerti secara sama oleh semua kelompok dari umat Israel. Namun pengertian ini secara pasti tersirat dalam pengakuan iman yang paling awal yang mendorong umat untuk menyembah satu Allah saja (Kel. 15:11- 18)- walaupun mungkin baru beberapa abad kemudian para nabi agung menegaskannya secara sistematis tentang kendali tunggal Allah atas dunia dan yang terjadi dalamnya (Yes. 40:12-31; 41:21-29; 44:1-20).
  • Berkaitan dengan fakta bahwa Allah adalah satu adalah kepercayaan bahwa tuntutan Allah kepada umat-Nya adalah terutama dalam hal moral ketimbang ibadah keagamaan dan larangan ritus. Kita telah membahas bahwa ini adalah hal yang baru karena kebanyakan agama purba lebih tertarik kepada korban dan ritus daripada moral. Namun, pengertian keseluruhan PL tentang ibadah menjadi tidak berarti bila dua aspek ini dipisahkan.
  • Kemudian, ada gagasan tentang anugerah Allah - kenyataan bahwa Ia memberikan pemberian-pemberian yang sebenarnya tidak layak diterima umat. Seluruh kisah PL disatukan atas pengetahuan tentang Allah yang telah melakukan hal-hal besar terhadap umat-Nya, dan atas dasar itulah Allah dapat menuntut kesetiaan dan ketaatan mereka. Setiap tahapan kisah tersebut menunjukkan tindakan kepedulian Allah untuk secara aktif berkarya bagi keselamatan umat-Nya. Prinsip perjanjian ini masih merupakan dasar untuk pengertian setiap orang Kristen mengenai Allah dan jalan-jalan-Nya. Perjanjian Lama seperti PB menggambarkan Allah bekerja dalam kasih untuk kebaikan umat-Nya. Walaupun dalam PB ada pergeseran fokus dari peristiwa seperti keluaran dari Mesir atau pembuangan kepada Yesus sebagai pusat, asumsi dasarnya adalah sama, yaitu Allah adalah Allah yang aktif dan pengasih, yang karya-karya-Nya dapat terlihat di dalam kehidupan sehari-hari orang-orang biasa.
  • Kita telah melihat dalam beberapa hal bahwa PL tidak menguraikan Allah secara metafisis, misalnya dengan menanyakan, "Terbuat dari apakah Dia?," tetapi secara fungsional, dengan menanyakan: "Bagaimanakah Dia bertindak?" Perjanjian Baru juga memakai pendekatan yang sama, ketika secara praktis PB mengatakan: "Lihatlah Yesus: seperti inilah Allah."

Allah dan dunia

Tidaklah terlalu sulit untuk menunjukkan kesamaan PL dan PB dalam hal aspek-aspek penting dari sifat Allah. Namun, tanpa PL, iman Kristen juga akan kekurangan secara serius suatu perspektif dalam cara Allah merelasikan diri-Nya dengan dunia alam.

  • Dalam dunia kekristenan awal, adalah umum untuk mempercayai bahwa dunia fisik, alam tempat kita hidup ini pada dasarnya adalah jahat. Jadi, suatu keselamatan yang berarti harus melibatkan kelepasan dari dunia ini ke dunia lain yang lebih rohani dan dengan sendirinya dunia yang lebih sempurna. Ini adalah bagian penting dari pandangan Yunani. Ketika kekristenan bergerak ke luar Palestina meluas ke wilayah kekaisaran Romawi lainnya, selalu merupakan godaan bagi orang Kristen untuk menerima pandangan Yunani ini. Walaupun ada banyak perdebatan yang hangat mengenai hal ini, kekristenan tidak pernah menerima pandangan bahwa eksistensi fisik adalah nomor dua. Namun, mereka mampu menegaskan bahwa hidup itu pada dasarnya baik hanya karena keyakinan PL yang kukuh yang mempengaruhi pemikiran mereka. Sebagai akibatnya: para penulis PB tidak melihat keselamatan sebagai kelepasan dari dunia ini. Mereka menyatakan bahwa dalam rencana keselamatan Allah, dunia sendiri ada bagiannya. Kedatangan Yesus berarti penghidupan dan pembaruan bagi dunia ini (Rm. 8:18-25; Kol. 1:15-20; Why. 21-22). Tanpa pandangan seperti ini, orang Kristen modern tidak dapat berkata banyak mengenai isu-isu abad ke-20 ini, seperti perlombaan senjata nuklir dan penggunaan sumber-sumber alam dunia ini. Namun, dengan mengikutsertakan dunia fisik ini ke dalam pengharapan keselamatan, para penulis PB memiliki dasar yang teguh pada iman PL yang telah mendahului mereka.
  • Ketika PB menjelaskan hubungan Yesus Kristus dengan umat manusia, PB sekali lagi memakai dasar pandangan PL tentang umat manusia dan hubungan mereka dengan Allah. Perjanjian Baru memakai begitu saja dasar-dasar konsep teologis dari kisah penciptaan, dan melihat dosa manusia sebagai penghalang antara Allah dengan manusia yang perlu disingkirkan kalau persekutuan itu akan dipulihkan. Keseluruhan struktur pemikiran ini begitu penting bagi teologi Kristen sehingga tanpa pemahaman PL ini kita meragukan apakah iman rasuli dapat berkembang seperti yang ada sekarang ini.

Allah dan umat-Nya

Etika PB juga berhutang banyak kepada PL.

  • Ide hukum alam yang telah kita diskusikan dalam kaitannya dengan PL merupakan prasyarat dasar bagi iman Kristen. Paulus memakai hukum alam ini sebagai kunci penting untuk menjelaskan bagaimana kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dapat diaplikasikan kepada semua manusia, tanpa memandang asal-usul sosial dan ras mereka (Rm. 1:18- 2:16).
  • Kerangka perjanjian yang menjadi tempat moralitas PL beroperasi tetap menjadi pusat di dalam PB. Kedatangan Yesus dipandang sebagai lanjutan tindakan agung Allah yang bisa dibandingkan dengan kisah Keluaran, dan menuntut respons ketaatan dan komitmen yang serupa. Akan tetapi, keseluruhan pola etika Kristen juga bergantung kepada tekanan dasariah PL bahwa manusia harus bertingkah laku seperti Allah (Mat. 5:48). Satu-satunya perbedaan ialah bahwa pola Ilahi ini dinyatakan secara lebih eksplisit karena teladan dari Yesus sendiri, di mana orang Kristen dipanggil untuk meneladaninya (Flp. 2:5-11; 2Kor. 8:8-9).
  • Kemudian, ada etika sosial Kristen yang juga bergantung begitu banyak kepada warisan PL. Dengan berbagai alasan, PB sedikit sekali berbicara mengenai bagaimana Allah bersikap terhadap bangsa-bangsa lain. Tanpa PL, iman Kristen akan menjadi sangat miskin dalam hal ini karena di dalam iman PL kita mendapatkan dasar-dasar bagi filsafat Kristen tentang sejarah. Tentu pandangan PL memerlukan modifikasi di sana sini berdasarkan terang ajaran Yesus sendiri. Namun, bukanlah suatu hal kebetulan bila orang-orang Kristen modern di dalam menyatakan sikap terhadap masalah-masalah sosial dan politik mereka begitu sering bergantung kepada pemahaman para nabi dan pemberi hukum Israel purba.

Menyembah Allah

Di sini juga, iman PB berutang kepada PL lebih dari yang biasa kita duga.

  • Corak ibadah gereja awal, demikian juga banyak gereja modern, bertumbuh dari pola pujian dan perayaan sukacita yang kita temukan di dalam lembaran-lembaran PL.
  • Korelasi antara makna ibadah di dua perjanjian itu lebih menonjol lagi. Prinsip yang mendasari ibadah PL maupun Kristen adalah demikian: walaupun Allah adalah kudus - dalam setiap aspek yang terkandung dari kata itu - Ia juga Allah yang penuh pengampunan, dan realitas pengampunan itu dapat diwujudkan di dalam peristiwa ibadah di hadapan umat Allah.
  • Kita tentu saja tidak dapat mengabaikan bagaimana tema persembahan korban telah menjadi sangat penting di dalam pemikiran Kristen. Para penulis PB menegaskan bahwa semua yang dijanjikan oleh ibadah persembahan korban di dalam PL telah digenapi di dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Tidak mungkin untuk membicarakan apa yang Yesus dapat lakukan di dalam hidup umat-Nya tanpa merujuk kepada pengharapan dan aspirasi umat yang beribadah di zaman Israel purba. Sesungguhnya, seluruh konsep persembahan kurban begitu pentingnya di dalam tradisi Kristen, sehingga setidaknya ada sebagian besar gereja berpikir bahwa persembahan kurban bukan hanya semata perlambangan atau metafora teologis, tetapi juga sebagai bagian simbol yang berkesinambungan dari liturgi yang terus berlangsung dari ibadah komunitas Kristen.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Bagaimana Memahami Perjanjian Lama III
Judul Artikel : Yang Lama dan yang Baru
Penulis : John Drane
Penerjemah : Hans Wuysang, M.Th.
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2003
Halaman : 116 - 124

Mengenal Yesus Kristus

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kali ini saya akan menjumpai Anda dalam suasana PASKAH. Oleh karena itu saya pilihkan satu artikel yang pas yang saya kutip dari buku hasil seminar dari Pdt. Stephen Tong, yang berjudul: SIAPAKAH KRISTUS?

Jika orang bertanya kepada Anda, "ceritakan kepada saya, siapakah Kristus?" Apakah jawaban Anda? Ada banyak orang Kristen yang mengenal Kristus hanya sebatas dalam pengertian kognitif saja. Ibarat burung beo yang pandai menirukan apa yang diajarkan tuannya. Bagaimana dengan Anda? Pdt. Stephen Tong menyinggung satu fakta yang ironis, bahwa jika kita dapat mendengar jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang Kristen di Indonesia tentang siapakah Kristus, maka kita akan mengetahui betapa simpang-siurnya kekristenan pada zaman ini.

Melalui peristiwa perayaan PASKAH, marilah kita mengambil waktu untuk merenungkan pertanyaan ini: siapakah Kristus menurut Anda? Apakah Anda mengenal Kristus secara pribadi, ataukah masih sebatas menurut apa kata orang? Mengenal Kristus menurut apa yang orang lain katakan tentu tidak sama dengan jika Anda mengenal-Nya sendiri secara pribadi. Pengenalan pribadi melibatkan bukan hanya pikiran, tapi juga emosi, yang kemudian tentu akan melahirkan satu tindakan yang nyata. Nah, kiranya artikel berikut ini dapat menjadi pengantar akan perenungan Anda tentang siapakah Kristus.

Selamat Hari PASKAH 2006.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
072/III/2006
Isi: 

Secara lahiriah, Yesus tidak berbeda dengan manusia lainnya. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dibesarkan di desa, dan berkata- kata dalam bahasa manusia. Ia tidak memiliki hal yang begitu hebat sehingga kita harus memikirkan Dia sedalam-dalamnya. Namun, selain menjadi batu sandungan bagi banyak orang, kemanusiaan Yesus ini juga menimbulkan daya tarik dan tanda tanya yang mengagumkan sekaligus memusingkan banyak orang.

Jika kita berbicara dan berpikir tentang Kristus, maka kita harus kembali pada satu waktu di mana Kristus menuntut manusia memberikan penilaian tentang diri-Nya. Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, "Menurut orang-orang, siapakah Aku?" Kalimat ini merupakan kalimat yang sering kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Setiap orang juga pasti pernah mempunyai pertanyaan seperti itu dalam dirinya. Dalam pertanyaan "siapakah saya?" terkandung tiga pertanyaan kecil.

  1. SIAPA YANG BERTANYA?

    Pertanyaan ini menimbulkan satu kesulitan karena adanya percampuran subjek dengan objek. Saat kita menanyakan siapakah diri kita, ada sesuatu yang tidak bisa dianalisa dengan jelas karena yang bertanya adalah yang ditanya; yang ingin mengetahui adalah yang ingin diketahui; yang diketahui adalah yang tidak diketahui dan yang ingin mengetahui sedang menanyakan tentang apa yang sedang diketahuinya. Ini merupakan suatu pertanyaan yang tidak mungkin dibereskan oleh manusia itu sendiri. Pada waktu Tuhan Yesus menanyakan hal tersebut, Ia bukan menanyakan hal itu kepada diri-Nya sendiri, tetapi kepada pengikut- pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat penyataan Kristus. Dialah yang memberikan penyataan kepada manusia dan diri-Nyalah yang dinyatakan. Dialah pewahyu sekaligus inti dari wahyu tersebut, yang mewahyukan diri-Nya kepada manusia.

    Waktu murid-murid-Nya secara mendadak menerima pertanyaan ini, mau tidak mau mereka harus mempertanggungjawabkan pemikiran mereka tentang Kristus. Momen seperti ini tidak bisa diciptakan manusia, tetapi diberikan oleh Tuhan. Sebagai orang Kristen, apakah setelah mendengar khotbah bertahun-tahun, membaca Kitab Suci, dibaptiskan dan menjadi orang Kristen sekian lama, kita sudah dapat menjawab pertanyaan tentang siapakah Kristus? Siapakah Dia?

    Murid-murid Yesus mulai memberikan evaluasi tentang Kristus kepada Dia yang menuntut evaluasi. Dari gudang pikiran mereka, mulailah timbul jawaban-jawaban; mereka mulai memikirkan kembali tentang siapakah Kristus. Ada yang menjawab bahwa Dia adalah seorang nabi; seorang nabi yang besar; yang lain menjawab bahwa Dia adalah Yeremia[1]. Yesus dinilai sebagai Yeremia karena dalam zaman yang sedang dilanda kesedihan, Ia mempunyai tangisan dan perasaan yang sama dengan seluruh zaman. Yang lain menjawab bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian. Orang-orang itu menganggap bahwa kuasa Tuhan yang begitu besar dinyatakan-Nya dengan membangkitkan Yohanes Pembaptis yang sudah dibunuh oleh Raja Herodes. Dan Yohanes Pembaptis yang bangkit kembali itu adalah Yesus. Yang lain lagi menjawab bahwa Yesus adalah nabi yang pernah disebutkan Musa "barangsiapa yang mendengarkan Dia, akan hidup, tetapi barangsiapa tidak mendengarkan Dia akan binasa".

    Semua penilaian zaman itu diberikan kepada Yesus Kristus dalam waktu tidak lebih dari tiga setengah tahun. Yesus telah melakukan begitu banyak hal. Ia menyembuhkan, mengajar, dan membuktikan bahwa Dialah Allah yang berkuasa yang diutus ke dunia. Lalu pada waktu semua sudah memberikan penilaian-penilaiannya, Yesus tidak menanggapi apa-apa, tapi Ia mendorong lagi dengan satu kalimat, "Menurutmu, siapakah Aku?"[2] Pertanyaan ini penting karena bila kita memiliki pengenalan pribadi tentang Kristus berdasarkan firman Tuhan, barulah kita mempunyai kekuatan yang cukup untuk bersaksi bagi Dia. Apakah Kristus itu sekadar dokter yang paling mujarab? Apakah Kristus itu hakim yang keras? Mak comblang yang mencarikan jodoh bagi orang-orang muda? Ahli sulap yang membuat Anda kaya? Apakah Kristus itu sekadar pemuas emosi yang kita peroleh melalui kebaktian-kebaktian doa dan puji-pujian? Jika Anda mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang Kristen di Indonesia, maka Anda akan mengetahui betapa simpang-siurnya kekristenan pada zaman ini.

  2. KEPADA SIAPA PERTANYAAN ITU DIAJUKAN?

    Pernahkah Anda memikirkan dengan baik tentang siapakah Kristus? Apakah artinya mengikut Kristus? Apakah artinya menjadi orang Kristen? Bukankah di Indonesia ada lebih banyak orang yang bukan Kristen daripada orang Kristen? Bukankah ada banyak agama-agama lain di Indonesia? Mengapa Anda menjadi orang Kristen? Yesus tidak menolak ataupun menghina jawaban dari dunia akademis tentang siapakah diri- Nya. Ia tahu apakah Anda memiliki penilaian-penilaian yang bersifat otoritatif. Tetapi Ia menuntut Anda secara pribadi untuk berakar, mempunyai iman yang sungguh-sungguh, dan mengenal-Nya dengan benar. Pada waktu Yesus menantang dengan pertanyaan demikian, maka seolah- olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid yang menjawab dengan tegas, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup." Kalimat ini keluar dari mulut Petrus. Inilah suatu pengakuan iman pertama dalam sejarah gereja. Petruslah orang pertama yang mengaku tentang siapakah Yesus di hadapan orang banyak. Tidaklah mudah bagi Petrus untuk menyimpulkan dan mengatakan pengertiannya tentang siapakah Kristus. Ia bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, juga bukan pengikut dari ahli-ahli Taurat yang belajar Perjanjian Lama dengan ketat, tapi dia hanyalah seorang nelayan. Seorang rakyat jelata yang mendengar bahwa seorang nabi telah muncul. Jadi selain menangkap ikan, Petrus juga mengikuti dan mendengarkan khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Rupanya Petrus memperhatikan bahwa Yohanes Pembaptis membawa berita yang berfokuskan pada firman Allah, yaitu tentang kedatangan Kristus. Kedatangan Kristus adalah sumber pengharapan bangsa Israel sehingga mereka berdoa siang malam memohon kedatangan Mesias.

    Konsep bangsa Israel tentang Kristus pada masa itu adalah konsep yang sudah dibatasi oleh persepsi selektif. Pada waktu Petrus mengikut Yohanes Pembaptis, ia melihat perbedaan antara Yohanes dengan para ahli Taurat dan yang lainnya yang juga mengajarkan tentang kedatangan Kristus yang pertama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga belajar tentang Kristus yang akan datang. Tetapi pada waktu mengajarkan tentang Kristus, pengajaran mereka dibatasi oleh persepsi selektif yang begitu sempit dan subjektif. Mereka tidak mau mengenal Allah melalui apa yang sudah diberikan Allah. Mereka tidak mau mengenal Kristus melalui wahyu yang sudah diberikan mengenai Dia. Mereka hanya memilih bagian-bagian yang cocok dengan apa yang mereka inginkan. Pada zaman sekarang juga ada begitu banyak orang yang tidak mau mengenal Kristus yang tersalib, tapi hanya mau Kristus yang menyembuhkan; mereka tidak mau mengenal Kristus yang menderita tetapi hanya mau Kristus yang memberikan kekayaan.

    Orang Yahudi terdampar dan dibuang oleh Tuhan karena mereka tidak mencapai fokus Kristologi dari seluruh Kitab Suci. Di dalam Perjanjian Lama Allah sudah berjanji bahwa Kristus akan datang, lahir di kota Bethlehem, dijual seharga 30 keping perak, menderita, dipaku di atas kayu salib, bahkan kedua tangan dan kaki-Nya akan ditusuk tanpa satu tulang pun dari tubuh-Nya yang akan patah. Semua ditulis dengan begitu jelas. Lalu pada aspek yang lain Alkitab menulis juga bahwa Kristus akan menjadi Raja, dan seluruh kuasa akan berada di atas bahu-Nya dan kuasa-Nya lebih besar daripada siapa pun. Dia akan melenyapkan kuasa musuh, membangun kembali kerajaan Israel, membalas dendam kepada mereka yang menginjak-injak kehormatan bani Israel; Kristus yang menang, yang memberikan keadilan, menegakkan satu sistem dan ordo politik dan militer yang baru di dalam dunia.

    Pada waktu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempelajari Perjanjian Lama, mereka mempelajarinya dengan satu persepsi selektif[3] yang sudah menjadi kaku dan keras dalam hati mereka sehingga mereka menilai nubuat-nubuat mengenai Kristus yang dihina, dipaku dan tidak memiliki kemuliaan lahiriah sebagai hal-hal yang tidak benar. Mereka berdoa memohon kedatangan Kristus yang membalas dendam kepada orang- orang Romawi yang menjajah bangsa Yahudi serta yang akan mencuci noda sejarah bangsa Israel yang dijajah. Orang-orang Yahudi umumnya memohonkan kedatangan Kristus yang akan membawa bangsa Yahudi ke dalam zaman keemasan yang dulu pernah mereka capai dalam masa pemerintahan Daud. Doa-doa mereka dipengaruhi oleh persepsi selektif atas Kristologi yang sudah dicemarkan oleh keinginan dunia dan tidak lagi berfokus kepada Kristus dan salib-Nya.

    Petrus adalah murid dari Yohanes Pembaptis sebelum ia mengenal Yesus. Ia tidak tertarik oleh kedatangan Mesias seperti yang diajarkan oleh ahli-ahli Taurat dengan persepsi selektifnya yang subjektif. Tetapi ia tertarik dengan pengajaran Kristologi yang benar, yang lengkap, menyeluruh, dan harmonis.

    Pada waktu Adam makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, maka Allah membunuh binatang-binatang dan mengajarkan kepada Adam bahwa tanpa ada pengaliran darah, tidak ada pengampunan bagi manusia. Yohanes Pembaptis melihat dengan jelas bahwa Yesus Kristus adalah Domba Allah yang dijanjikan itu, yang menjadi korban pengganti manusia. Yohanes menyerukan, "Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!" Jadi semua khotbah yang muluk-muluk dan yang sudah diseleksi oleh para ahli tidak masuk ke telinga Petrus; khotbah yang berfokus kepada Kristus yang akan mati mengganti dosa umat manusia langsung masuk ke dalam hati dan pikiran Petrus. Itulah sebabnya pada waktu Yesus Kristus menanyakan tentang siapakah diri-Nya, Petrus langsung menjawab dengan tepat, "Engkaulah Kristus, Anak Allah yang hidup!" Pengakuan iman yang akurat dan dinamis yang pertama di dalam sejarah telah diucapkannya.

    Hari itu Yesus langsung menjawab Petrus dengan satu kalimat, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, karena apa yang kamu katakan itu bukan berasal dari manusia tetapi dari Bapa-Ku yang ada di surga." Yesus tidak pernah meremehkan doktrin-doktrin yang benar yang membuat Anda menyatakan pengakuan iman yang sungguh-sungguh berasal dari pengenalan yang benar yang merupakan sari dan kristalisasi tentang Dia. Bukan saja tidak meremehkan bahkan Kristus mengonfirmasikan bahwa hal itu bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah. Pada saat itu juga Kristus memberikan wahyu selanjutnya yang kedua yaitu mulai berdirinya gereja.

  3. BERTANYA TENTANG APA?

    Sekarang marilah kita memperhatikan beberapa hal berikut ini.

    Gereja yang tidak mempunyai pengakuan iman tidak seharusnya berdiri sebagai gereja. Tidak seharusnya gereja berdiri hanya karena membawa orang beramai-ramai ikut kebaktian, tetapi tidak tahu apa yang akan didirikan. Kristus tak pernah mengatakan sebelumnya tentang ekklesia sampai Petrus mengeluarkan pengakuan iman yang benar itu. Gereja harus mempunyai pengakuan iman yang berfokus kepada Kristus. Jikalau gereja tidak mengaku Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun hanya berfokus kepada-Nya sebagai sumber kepercayaan, maka gereja itu pada suatu hari harus menutup pintunya sendiri. Bukankah pada saat ini begitu banyak orang mengakui Yesus? Tetapi sebagai apakah Yesus itu diakui? Sebagai pembagi rotikah? Sebagai pemberi berkatkah? Sumber anugerahkah? Tabibkah? Atau satu-satunya Juruselamat yang diutus Allah ke dalam dunia?

    Pada waktu Petrus mengatakan, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!" kita dapat memahami hal itu dalam pengertian sejarah dan suprasejarah yang difokuskan menjadi satu. Sepanjang sejarah, Kristus adalah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia sepanjang zaman. Berarti pada titik kedatangan Kristus, apa yang diharapkan manusia dari zaman ke zaman sudah konkrit. Titik kedatangan Kristus juga berkait dengan kekekalan. Kristus yang datang ke dalam sejarah adalah Kristus yang berada dalam kekekalan yang melampaui sejarah. Pengharapan ini adalah suatu pengharapan sejati seluruh umat manusia, bukan hanya pengharapan dari bangsa Israel saja. Kekekalan dan kesementaraan hanya mempunyai satu titik kontak yaitu inkarnasi. Kita semua berada di dalam dunia yang bersifat sementara sedangkan Allah berada di surga yang bersifat kekal. Agama-agama lain begitu takut dan gentar kepada Allah karena mereka mengetahui bahwa yang sementara tidak mungkin mencapai yang kekal, tetapi yang kekal itu mungkin memberikan kemurahan kepada manusia. Namun, kemurahan itu belum dipastikan sehingga mereka hanya dapat berkata, "Mudah-mudahan dapat tempat yang baik di sisi Tuhan." Hal ini terjadi karena titik kontak itu tidak ada. Mengakui adanya Allah tidak berarti bahwa manusia pasti menikmati keberadaan-Nya. Tidak mengakui adanya Allah, tidak berarti bahwa manusia bisa meniadakan keberadaan-Nya. Mengakui adanya Allah dengan menikmati keberadaan Allah itu sama sekali berbeda.Perbedaannya terletak pada adanya titik kontak antara yang sementara dan yang kekal itu. Dan Kristus berada di titik kontak itu.

    Manusia dicipta di tengah-tengah dua wilayah yaitu wilayah yang kelihatan dan wilayah yang tidak kelihatan. Dalam wilayah yang kelihatan, manusia harus menerima segala sesuatu yang meneruskan keberadaannya di dalam alam materi, alam yang lebih rendah dari manusia itu sendiri. Tuhan Yesus berkata, "Manusia hidup bukan hanya bersandarkan roti saja, melainkan kepada setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah." Wilayah kedua, adalah wilayah yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Jadi, Allah mencipta dan menempatkan manusia untuk hidup sekaligus dalam dua dunia yang bersifat berbeda secara kualitas. Kaum komunis yang hanya mengakui keberadaan dunia materi akhirnya akan hancur sendiri. Demikian pula orang-orang yang hanya mengakui dunia spiritual seperti penganut-penganut ajaran mistik, akan hidup menjadi schizoprenis sehingga terlepas dari kebutuhan dan kesaksian sebagai wakil Tuhan di dalam dunia materi. Di dalam dunia materi yang tercampur dengan dunia spiritual ini, mau tidak mau kita harus mengakui terputusnya hubungan antara manusia dengan dunia yang tidak kelihatan sebagai akibat dosa. Hal ini tercantum dalam kitab Yes. 59:1,2. Dosa merupakan pemisah antara kita dan Pencipta dan Sumber hidup kita.

    Orang bisa menjadi kaya tanpa merasa sejahtera. Orang bisa mempunyai banyak uang tanpa mempunyai pengharapan. Orang boleh mempunyai kenikmatan dunia sebanyak mungkin, tapi tidak akan mempunyai kepuasan hidup sebab manusia sudah terpisah dari Allah. Manusia berusaha mencari titik kontak antara kesementaraan dan kekekalan, dan mereka mencarinya di dalam dirinya sendiri, di dalam agama, di dalam nabi-nabi dan pengajar-pengajar yang akhirnya juga mati dengan sendirinya. Ketidakmungkinan merajalela sehingga manusia mati dalam kekecewaan dan keputusasaan tanpa memiliki pengharapan apa pun. Mereka mati dan tidak tahu mau ke mana. Karena Tuhan mengasihi manusia, Ia menurunkan satu titik kontak; titik kontak ini bersumber dari atas ke bawah dan mengakibatkan inkarnasi. Inkarnasi berarti Tuhan menjadi daging; Tuhan yang tidak kelihatan sekarang bisa dilihat; Allah menyatakan diri dalam tubuh dan hidup sebagai manusia. Inilah fokus dari Kristologi.

    Melalui iman Petrus sudah mencapai pengertian yang jelas tentang pertemuan dua dunia, antara yang kekal dan yang sementara. Inilah kristalisasi iman Kristen yang benar. Kalau kita mempunyai pengenalan Kristologi seperti ini, kita tidak akan terjerumus seperti orang yang tidak mengenal Kristus. Kalau orang lain mengenal Kristus hanya sebagai pengubah moral, sosiolog yang besar, revolusionis dalam politik, pemimpin agama yang paling jenius, maka semua itu menjadi nihil pada akhirnya. Petrus berkata, "You are The Christ, The Son of The Living God." Istilah "are" berarti istilah yang menunjukkan kejadian yang terjadi sekarang, secara nyata dan jelas. Dengan kedatangan Kristus, kita tidak perlu lagi kembali kepada satu pengharapan yang hari depannya tidak diketahui dengan pasti, yang secara abstrak ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang tidak mengenal Yesus Kristus. Kata "The Son of The Living God", menunjukkan bahwa Yesus berasal dari dunia yang tidak kelihatan, dunia kekekalan dan sekarang Ia ada dan berwujud dalam dunia yang kelihatan, dunia sejarah. Inilah berkat terbesar di mana manusia boleh bertemu dengan Tuhan yang begitu prihatin kepada umat manusia.

    Sebenarnya, sebelum Petrus mengatakan hal itu, ada perkataan yang mirip yang keluar dari mulut seorang bernama Simeon kepada Yesus Kristus, kira-kira tiga puluh tahun sebelumnya. Simeon yang saat itu menggendong Yesus Kristus yang masih bayi, berkata, "Ya Allah, lepaskanlah kini hamba-Mu ke dalam damai karena hari ini dengan mataku sendiri, aku sudah melihat keselamatan yang dari pada-Mu." Kalimat itu merupakan kalimat yang agung karena sudah diurapi oleh Roh Kudus dan keluar dari bibir seseorang dengan begitu tepat, "Aku sudah melihat keselamatan yang dari pada-Mu."

    Keberadaan Kristus dalam sejarah merupakan suatu realisasi dari keselamatan yang dikaruniakan kepada manusia. Maka Tuhan Yesus berkata, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." Apakah artinya istilah batu karang? Orang-orang Katolik mengatakan bahwa istilah itu dikenakan kepada Petrus. Pengertian semacam ini tidak benar karena jika demikian, maka seluruh pemberitaan Kitab Suci harus mengubah arahnya karena seluruh Kitab Suci tidak pernah menyebut bahwa gereja didirikan di atas Petrus. Satu ayat pun tidak ada yang menunjang kalimat dari pengakuan iman Katolik tentang hal ini.

    Kitab Suci mengatakan bahwa gereja didirikan di atas nabi dan rasul, dan bentuk kata yang digunakan adalah bentuk yang jamak, bukan tunggal, nabi-nabi dan rasul-rasul, bukan hanya di atas Petrus. Istilah nabi-nabi dan rasul-rasul merupakan istilah yang menerangkan bahwa nabi-nabi mewakili Perjanjian Lama dan rasul-rasul mewakili Perjanjian Baru. Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru itulah yang menjadi fondasi berdirinya gereja. Tapi inipun belum mencapai finalnya karena Alkitab mengatakan bahwa gereja didirikan di atas Batu Karang yang tidak pernah berubah. Siapakah Dia? Dialah Yesus Kristus. Gereja didirikan di atas para nabi dan para rasul. Ini berarti bahwa gereja yang benar, berdiri di atas kepercayaan pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan isi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru difokuskan kepada Kristus. Tuhan tidak mengatakan bahwa Petruslah satu-satunya yang menjadi fondasi didirikannya gereja; tak pernah demikian. Kita menolak penafsiran demikian, tapi kita menerima kesaksian Kitab Suci yang mengatakan bahwa Petrus adalah nama baru yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya. Yesus adalah Kristus di dalam sejarah dan Anak Allah dalam supra- sejarah. Iman menjelajah kedua wilayah, terlepas dari dunia yang kelihatan. Kita juga menikmati sekaligus dunia yang tidak kelihatan karena kita berada di dalam Kristus.

Catatan kaki:

  1. Yeremia adalah seorang nabi yang penuh dengan perasaan cinta kasih kepada orang-orang yang perlu dikasihani dan ia juga penuh dengan kesedihan dan prihatin. Jadi mereka berpendapat bahwa Yesus adalah orang penuh dengan prihatin dan penuh dengan belas kasihan. Di dalam Kitab Suci dicatat ada sepuluh kali Yesus "jatuh hati oleh belas kasihan" (compassion); Dia sehati dengan mereka yang menangis, dengan mereka yang membutuhkan, dengan mereka yang sedih.

  2. Saya sangat tertarik dengan pertanyaan ini karena ada begitu banyak pemuda-pemudi yang belajar Kristologi, belajar tentang Tuhan, tetapi tidak belajar dari Tuhan sendiri melainkan belajar dari orang-orang lain tentang Tuhan. Cara mereka menerangkan Tuhan adalah dengan mengutip pandangan Kristus menurut Karl Barth, Emille Brunner, Rudolf Bultmann, Jurgen Moltmann, Wolfhart Panennberg, dsb. Tetapi jika ditanya tentang Kristus berdasarkan pengertian pribadi mereka, ternyata mereka melarikan diri dari tanggung jawab kepercayaan mereka.

  3. Tukang parkir tidak memperhatikan suara apa pun yang masuk ke telinganya selain dari bunyi mobil yang baru distarter. Setiap suara yang masuk ke telinga disaringnya. Tapi hanya suara mobil yang baru distarter yang membuatnya bereaksi untuk menagih uang parkir. Konsep penyaringan seperti itulah yang kita sebut sebagai persepsi selektif.

Sumber: 

Bahan di atas diambil dan diedit dari sumber:

Judul Buku : Siapakah Kristus? Sifat dan Karya Kristus
Judul Artikel : -
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 2002
Halaman : 11 - 21

Kematian Kristus

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Senang sekali bisa berjumpa Anda lagi. Posting saya kali ini ingin saya pakai untuk mempersiapkan kita semua dalam menyambut perayaan hari penting umat Kristen, yaitu PASKAH, hari kematian Kristus. Namun sebelum Anda membacanya, saya ingin minta maaf terlebih dahulu, khususnya kepada para pembaca e-Reformed yang memiliki keyakinan pada Doktrin Penebusan Universal, yaitu doktrin yang percaya bahwa Kristus mati untuk semua orang. Tiga artikel pendek yang diambil dari bukunya John Owen ini akan menjelaskan tentang beberapa masalah dari Doktrin Penebusan Universal.

Saya perkirakan, sebagian besar umat Kristen di Indonesia lebih mempercayai/menyukai Doktrin Penebusan Universal dibandingkan dengan Doktrin Pilihan. Selain lebih mudah dinalar, Doktrin Penebusan Universal juga dirasa lebih manusiawi. Namun demikian, kebenaran yang kita pegang seharusnya berdiri di atas Kebenaran yang sejati, bukan di atas penalaran dan perasaan manusia. Oleh karena itu, saya ingin mengajak Anda untuk meninjau kembali kebenaran tentang "untuk siapa Kristus mati" dengan meneliti kebenaran Alkitab. Artikel-artikel John Owen yang saya kutipkan dari bukunya "The Death of Death in the Death of Christ" ini saya pikir dapat menolong kita untuk melihat secara teliti apa yang sebenarnya Alkitab katakan tentang tujuan kematian Kristus.

Salah satu ayat yang sering dipakai untuk mendukung Doktrin Penebusan Universal adalah Yohanes 3:16. Ayat ini banyak ditafsirkan dengan cara yang tidak sesuai dengan maksud penulisan bahasa aslinya. Artikel ketiga yang saya sajikan di sini akan membahas secara khusus tentang penafsiran ayat tersebut. Nah, supaya Anda tidak semakin penasaran, silakan simak posting saya di bawah ini.

Selamat membaca dan merenungkan.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
John Owen
Edisi: 
71/II/2006
Isi: 
Artikel 1: JAWABAN TERHADAP EMPAT ALASAN UMUM YANG SERING DIPAKAI OLEH DOKTRIN PENEBUSAN UNIVERSAL
Artikel 2: PENJELASAN PENDAHULUAN MENGENAI AYAT-AYAT YANG MENGGUNAKAN KATA "DUNIA"
Artikel 3: STUDI TERPERINCI MENGENAI YOHANES 3:16

JAWABAN TERHADAP EMPAT ALASAN UMUM YANG SERING DIPAKAI OLEH DOKTRIN PENEBUSAN UNIVERSAL

Alasan 1.
Terdapat ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai apa yang dicapai Kristus melalui kematian-Nya dengan istilah-istilah yang sangat umum dan tidak jelas. Oleh karena itu timbul pendapat bahwa kematian-Nya bukanlah bagi tujuan tertentu atau terbatas.

Sebagai contoh, Alkitab berbicara mengenai nilai kematian Kristus yang tak terbatas. Di mana dikatakan mengenai pengucuran "darah Anak-Nya sendiri" (Kis. 20:28). Kematian Kristus dikatakan sebagai suatu persembahan "tanpa cacat" yang dipersembahkan oleh "Roh yang kekal" (Ibr. 9:14). Darah Kristus dikatakan "mahal", lebih mahal dari perak atau emas (lPtr. 1:18). Jika kematian Anak Allah memiliki nilai yang begitu nyata dan tak terbatas, mungkinkah itu tidak cukup untuk menebus semua manusia?

Kita tidak menyangkal bahwa kematian Kristus adalah pembayaran yang cukup untuk menebus semua manusia. Apa yang kita tekankan ialah Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa kematian Kristus tidak dimaksudkan untuk menjadi tebusan bagi setiap manusia. Sebagian orang mungkin keberatan: Jika Kristus tidak mati untuk semua manusia, maka tidak ada gunanya untuk memberitakan Injil kepada semua orang, seperti yang diperintahkan kepada kita (Mat. 28:19). Saya menjawab:

  1. Terdapat sejumlah orang yang akan diselamatkan dari setiap bangsa. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa pengabaran Injil kepada seluruh bangsa.
  2. Karena sekarang tidak ada lagi perlakuan khusus untuk Bangsa Yahudi, maka Injil harus diberitakan kepada semua bangsa tanpa pembedaan.
  3. Panggilan kepada manusia untuk percaya, pertama-tama bukanlah panggilan untuk percaya bahwa Kristus telah mati secara khusus bagi mereka, tetapi panggilan untuk percaya bahwa di luar Kristus tidak ada yang dapat membawa keselamatan.
  4. Para Pendeta tidak pernah dapat mengetahui siapa di antara jemaatnya yang adalah orang-orang pilihan Allah. Karena itu, mereka harus memanggil semuanya untuk percaya, dan meyakinkan bahwa semua yang percaya akan diselamatkan karena kematian Kristus cukup untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Pembahasan tersebut seharusnya sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua orang, meskipun tidak semua orang diselamatkan.

(Uraian panjang lebar penggunaan istilah-istilah "dunia" dan "semua manusia" akan di bahas di dua artikel selanjutnya)

Alasan 2.
Alkitab terkadang memberikan kesan bahwa sebagian orang yang untuknya Kristus mati tidak benar-benar diselamatkan. Hal ini berarti bahwa Kristus pasti telah mati untuk semua orang, tetapi hanya beberapa orang saja yang berhasil memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.

Kita perlu memahami bahwa Alkitab sering menggambarkan manusia dengan penampilan luarnya dan bukan keadaan sebenarnya di dalam dirinya. Contohnya, Yerusalem disebut "kota kudus" (Mat. 27:53). Bukan berarti kita harus berpikir bahwa Yerusalem sungguh-sungguh kudus.

Demikian juga, Alkitab seringkali menggambarkan orang-orang sebagai "kudus" atau "orang-orang suci" atau bahkan sebagai "pilihan" karena mereka secara lahiriah berkaitan dengan komunitas orang percaya. Paulus berkata mengenai orang-orang percaya di Filipi: "Memang sudah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua" (Fil. 1:7). Dari perkataan tersebut, tidak dapat disimpulkan bahwa semua penerima surat Paulus adalah orang percaya. Paulus menilai mereka berdasarkan pengenalan terbaik yang dimilikinya mengenai mereka. Jadi jika beberapa orang gagal diselamatkan, kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah berniat untuk menyelamatkan semua tetapi hanya beberapa yang terjangkau. Barangsiapa gagal, sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh menjadi orang percaya, meskipun dari luar tampak seperti orang percaya.

Alasan 3.
Alkitab terkadang mengesankan bahwa keselamatan ditawarkan secara umum kepada semua orang, asal saja mereka mau percaya akan diselamatkan. Dengan demikian, disimpulkan bahwa Kristus pasti mati untuk semua orang.

Dalam Alkitab, memang iman dan keselamatan selalu berkaitan. Orang yang percaya akan diselamatkan. Tetapi ini tidak lebih dari berarti bahwa semua orang percaya pasti akan diselamatkan. Ini tidak berarti bahwa Allah bermaksud untuk menyelamatkan semua orang jika mereka mau percaya. Alasannya:

  1. Kenyataan Allah tidak menawarkan hidup kekal pada semua manusia. Sebagian besar umat manusia tidak pernah mendengar Injil.
  2. Perintah umum Allah tidak memberitahukan kita akan maksud-maksud khusus-Nya. Secara umum, Allah memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya. Tetapi dalam contoh kasus Firaun, maksud Allah berbeda dengan perintah-Nya, karena Ia mengeraskan hati Firaun (Kel. 4:21), sementara itu juga memerintahkannya untuk taat.
  3. Janji Injil mengajarkan kepada kita hubungan yang tak terpisahkan antara iman dan keselamatan. Tetapi ini tidak berarti Allah menghendaki semua orang bertobat dan percaya, karena jika demikian mengapa ada pemilihan ilahi? Jika Ia bermaksud menyelamatkan semua orang, mengapa hanya memilih sebagian? Dan bagaimanapun juga, jika Ia bermaksud untuk menyelamatkan semua orang, mengapa Ia gagal untuk mencapai maksud-Nya? (Tidak ada gunanya untuk berpendapat bahwa Ia gagal karena manusia tidak mau percaya; Ia seharusnya sudah mengetahui sebelumnya bahwa mereka tidak akan percaya; lalu mengapa Ia merencanakan sesuatu yang Ia sudah tahu tidak akan terlaksana?)

Juga fakta bahwa orang percaya dan yang tidak percaya hidup campur bersama, dan para pendeta tidak dapat memastikan siapa yang dipilih dan siapa yang tidak dipilih Allah, berarti ia harus berkhotbah secara umum bagi semua orang. Ini tidak berarti bahwa janji Injil diperuntukkan bagi semua orang secara umum, melainkan ia hanya dikabarkan kepada semua orang. Karena Kristus hanya diterima berdasarkan iman, dan iman merupakan pemberian Allah bagi mereka yang dikehendaki-Nya, maka jelas bahwa Ia tidak mungkin merencanakan keselamatan mereka yang tidak diberi-Nya iman.

Alasan 4.
Jika Kristus tidak mati untuk semua orang, bukankah seruan Alkitab kepada semua orang bahwa mereka harus percaya tidak ada gunanya?

Perlu dipahami bahwa iman yang dibicarakan dalam Alkitab memiliki berbagai tahap pertumbuhan dan urutan penggunaan yang logis. Kita tidak boleh berpikir seruan Alkitab untuk percaya secara pasti akan menjadikan setiap orang percaya Kristus mati untuknya secara khusus. Ada hal-hal lain yang dipercayai, yang dapat diterima oleh semua manusia. Tak seorang pun yang diperintahkan untuk mempercayai sesuatu yang tidak memiliki cukup bukti. Sebagai contoh:

  1. Hal pertama yang harus dipercayai oleh manusia adalah bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri, karena mereka adalah orang berdosa. Setiap manusia mempunyai bukti mengenai hal ini di dalam dirinya sebagaimana yang ditunjukkan Paulus dalam Roma 1-3. Berapa banyak orang yang tidak mau mempercayai hal ini meskipun mereka mempunyai banyak bukti untuknya!
  2. Injil memanggil orang-orang berdosa untuk percaya bahwa Allah telah menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Berjuta-juta orang telah mendengarnya tetapi menolak untuk menerima hal itu meskipun ada banyak bukti untuknya.
  3. Injil memanggil orang-orang berdosa untuk percaya bahwa tidak ada Juruselamat yang lain selain Yesus Kristus. Hal ini merupakan hal yang paling ditolak orang Yahudi. Mereka malah menganggap Kristus sebagai musuh Allah!

Panggilan umum ini dilakukan bukan karena Kristus mati untuk semua orang, tetapi karena kebenaran-kebenaran ini merupakan bukti untuk semua orang. Dan hanya setelah penjelasan ini diberikan, orang baru dipanggil untuk percaya bahwa Yesus mati untuknya secara khusus. Sebagian orang telah memperhatikan bahwa Pengakuan Iman Rasuli (Ringkasan kuno agama Kristen) menempatkan frasa "pengampunan dosa dan hidup yang kekal" di bagian akhir. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebelum kita sampai pada pengampunan dosa dan hidup yang kekal, ada hal-hal lain yang harus dipercayai dulu; dan telah ada banyak bukti bagi hal itu.


PENJELASAN PENDAHULUAN MENGENAI AYAT-AYAT YANG MENGGUNAKAN KATA "DUNIA"

Sebenarnya saya enggan untuk menyebutkan pasal-pasal Alkitab yang telah digunakan untuk mendukung pendapat bahwa Kristus mati untuk semua manusia. Bukan karena ayat-ayat tersebut sulit saya jelaskan, tetapi karena saya tidak ingin menyinggung ketidakbenaran ini. Saya menduga bahwa ayat-ayat tersebut telah disampaikan kepada para pembaca oleh mereka yang meyakini kesalahan tersebut. Jadi sekarang saya harus memberikan jawaban kepada Anda untuk menjawab mereka.

Jangan terbawa oleh kelogisan kata-kata semata. Ingatlah selalu apa yang menjadi garis besar pengajaran Alkitab, dan jangan pernah menafsirkan satu ayat bertentangan dengan garis besar tersebut. Sebagai contoh, kata "dunia" dalam suatu ayat dapat diartikan berdasarkan ayat-ayat di sekitarnya; ada 5 penggunaan yang berbeda dari kata "dunia":

  1. Alam semesta atau bumi sebagai tempat tinggal

  2. [Ayub 34:13
    Matius 13:38
    Kisah Para Rasul 17:24
    Efesus 1:4
    dan banyak ayat lainnya]

  3. Penduduk dunia:

  4. Semua orang tanpa terkecuali
    [Roma 3:6
    Semua tanpa perbedaan
    Yohanes 7:4
    Banyak orang Kebanyakan orang
    Matius 18:7
    Kerajaan Roma
    Roma 1:8
    Orang-orang yang baik
    Lukas 2:1
    Yohanes 6:33
    Orang-orang yang jahat
    Yohanes 14:17
    dan banyak ayat lainnya]

  5. Dunia sebagai sistim yang rusak

  6. [Galatia 6:14]
    dan banyak ayat lainnya

  7. Pemerintahan manusia

  8. [Yohanes 18:36
    dan banyak ayat lainnya]

  9. Kerajaan setan

  10. [Yohanes 14:30
    dan banyak ayat lainnya]

Sebagian orang mungkin mengajukan keberatan bahwa sebuah kata harus selalu mempunyai makna yang sama di manapun letaknya dalam Alkitab. Saya menjawab: Hal itu tidak benar, karena ada beberapa bagian di mana Alkitab menggunakan arti yang berbeda untuk kata yang sama dalam kalimat yang sama. Dalam Mat. 8:22, kata "mati" yang pertama berarti kematian rohani dan yang kedua berarti kematian jasmani. Dalam Yoh 1:10, kata "dunia" yang pertama berarti bumi tempat tinggal, sedangkan yang kedua berarti planet bumi, dan ketiga berarti sebagian manusia di atas bumi.

Demikianlah, jika kata "dunia" kadangkala digunakan untuk mengartikan sebagian manusia, maka kata ini tidak boleh dipaksakan harus selalu berarti semua manusia. Dan ada beberapa bagian di mana kata tersebut secara jelas tidak mengacu pada semua manusia.

Lukas 2:1 - "seluruh dunia". Ini jelas mengacu pada Kerajaan Romawi. Tidak mungkin mengacu pada setiap orang di dunia.

Yohanes 1:10 - "dunia tidak mengenal-Nya". Tetapi sebagian manusia mengenal-Nya. Oleh karena itu kata "dunia" di sini tidak dapat diartikan setiap orang.

Yohanes 8:26 - "Kukatakan kepada dunia". Tetapi hanya beberapa orang Yahudi yang mendengarNya berbicara. Kata "dunia" tidak dapat diartikan setiap orang.

Yohanes 12:19 - "seluruh dunia datang mengikuti Dia". Ini hanya dapat diartikan sebagian besar bangsa Yahudi datang mengikuti Dia. Tidak dapat diartikan setiap orang.

1 Yohanes 5:19 - "seluruh dunia". Tetapi ada banyak orang percaya dalam dunia ini yang tidak berada dalam kuasa si jahat. Kata "dunia" tidak dapat diartikan setiap orang.

Jadi secara umum kata "dunia" hanya mengacu pada sebagian orang di dunia. Saya tidak tahu mengapa kata tersebut diartikan lain pada bagian-bagian di atas dalam hubungannya dengan keselamatan.

Setelah pengamatan-pengamatan umum ini, marilah kita melihat beberapa ayat Alkitab yang menggunakan istilah "dunia", antara lain Yoh. 1:29; 3:16; 4:42; 6:51; 2Kor. 5:19 dan 1 Yoh. 2:2. Dengan menggunakan ayat- ayat tersebut, beberapa orang berpendapat:

  1. Dunia meliputi semua dan setiap manusia.
  2. Kristus dikatakan mati untuk dunia.
  3. Jadi Kristus mati untuk semua dan setiap manusia.

Logika semacam ini salah karena kata "dunia" digunakan dalam dua pengertian yang berbeda. Dalam pernyataan pertama, "dunia" mengacu pada bumi sebagai planet. Dalam pernyataan kedua, kata ini mengacu pada orang-orang di dalam dunia. Tidak ada titik temu di antara kedua pernyataan tersebut. Jadi kesimpulan yang dihasilkan juga salah (kecuali Anda ingin mengatakan bahwa Kristus mati untuk planet bumi).

Beberapa orang berusaha untuk merumuskan kembali argumen tersebut secara demikian:

  1. Di dalam beberapa bagian Alkitab, "dunia" mengacu pada semua dan setiap manusia.
  2. Kristus dikatakan mati untuk dunia.
  3. Jadi Kristus mati untuk semua dan setiap manusia.

Argumen ini juga salah, karena Anda tidak dapat menarik suatu kesimpulan umum jika pernyataan pertama hanya mengacu pada makna sempit dari sebuah kata atau frasa, seperti kata "beberapa bagian". Juga saya harus menegaskan bahwa pada banyak bagian, kematian Kristus hanya dikaitkan pada "domba-domba-Nya" atau "jemaat-Nya".

Jadi argumentasi tersebut harus ditulis ulang, seperti ini:

  1. Pada beberapa bagian Alkitab kata "dunia" berarti semua dan setiap manusia.
  2. Pada beberapa bagian Alkitab, Kristus dikatakan mati untuk seluruh dunia.
  3. Jadi Kristus mati untuk semua dan setiap manusia.

Jelas bagi siapa pun, argumentasi ini tampak menggelikan! Harus ditunjukkan bahwa "beberapa bagian" dari pernyataan pertama adalah sama dengan "beberapa bagian" pada pernyataan kedua. Bila tidak, argumentasi tersebut tidak membuktikan apa-apa. Dan dalam kasus apapun, sebuah kesimpulan umum tidak dapat diambil dari pernyataan pertama yang terbatas, seperti yang telah kita lihat sebelumnya.

Jadi sebagai pembukaan, saya kira saya telah memaparkan kesalahan dari argumen-argumen yang didasarkan pada penggunaan kata "dunia". Saya berani mengatakan bahwa argumen-argumen lemah tersebut tidak pernah dipakai oleh orang-orang yang berpikir baik-baik! Tinggalkanlah argumen-argumen itu, marilah kita kembali kepada Alkitab itu sendiri.


STUDI TERPERINCI MENGENAI YOHANES 3:16

Ayat ini sering dipakai untuk mengajarkan bahwa:

"mengasihi" =
  1. Allah mempunyai kerinduan alamiah bagi kebaikan dari
"dunia" =
  1. seluruh umat manusia dari segala suku bangsa di segala tempat dan waktu, sehingga
"memberikan" =
  1. Ia memberikan Anak-Nya untuk mati, bukan untuk secara aktual menyelamatkan orang-orang tertentu, tetapi
"Barangsiapa" =
  1. supaya setiap orang yang memiliki kemampuan alamiah untuk percaya
"beroleh" =
  1. dengan demikian dapat beroleh hidup yang kekal.

Seharusnya, kita memahami ayat tersebut sebagai berikut:

"mengasihi" =
  1. Allah mempunyai kasih yang begitu khusus dan agung sehingga Ia menghendaki
"dunia" =
  1. Semua umat-Nya yang berasal dari segala suku bangsa pasti akan diselamatkan
"memberikan" =
  1. dengan menetapkan Anak-Nya menjadi Juruselamat yang berdaulat untuk menyelamatkan semua orang pilihan-Nya
"Barangsiapa" =
  1. Ia memastikan bahwa semua orang percaya [umat pilihan-Nya], siapa pun juga, dan hanya mereka
"beroleh" =
  1. yang sungguh-sungguh memiliki semua hal mulia yang disediakan-Nya untuk mereka.

Ada tiga hal yang harus dipelajari dengan hati-hati di sini.
Pertama, kasih Allah;
kedua, penerima kasih Allah, yang di sini disebut sebagai "dunia";
ketiga, maksud dari kasih Allah, yaitu supaya orang-orang percaya "tidak binasa".

  1. Penting untuk dipahami di sini bahwa tidak ada suatu ketidaksempurnaan apa pun yang dapat dikatakan mengenai Allah.

  2. Pekerjaan-Nya adalah sempurna. Tetapi jika dikatakan bahwa Ia mempunyai kerinduan alamiah untuk menyelamatkan semua orang, maka kegagalan bagi semua orang untuk diselamatkan mengesankan bahwa keinginan-Nya lemah, dan kebahagiaan-Nya tidak lengkap.

    Demikian juga, tidak ada bagian Alkitab yang mengajarkan kerinduan alamiah Allah bagi "kebaikan" (baca: keselamatan - ed.) semua orang. Sebaliknya, justru dikatakan bahwa Allah secara bebas dan berdaulat menyatakan belas kasihan kepada siapa Ia ingin menaruh belas kasih- Nya. Kasih-Nya merupakan tindakan bebas dari kehendak-Nya, bukan sebuah emosi yang muncul di dalam diri-Nya karena keadaan kita yang menderita. (Jika penderitaanlah yang menimbulkan keinginan alamiah Allah untuk menolong maka Ia harus berbelaskasih pada Iblis dan orang- orang terkutuk!)

    Kasih yang digambarkan di sini adalah tindakan khusus dan berdaulat dari kehendak Allah, dan diarahkan secara khusus kepada orang-orang percaya. Kata-kata "begitu" dan "supaya" menekankan pada tindakan luar biasa dari kasih ini, dan tujuan yang jelas bagi penyelamatan orang- orang percaya dari kebinasaan. Oleh karena itu, kasih ini tidak mungkin merupakan perasaan kasih-sayang yang umum terhadap semua orang yang sebagian darinya akan binasa.

    Ayat-ayat Alkitab yang lain juga membenarkan bahwa kasih Allah ini merupakan sebuah tindakan agung, yang ditujukan secara khusus bagi orang-orang percaya, contohnya Rm. 5:8 atau 1 Yoh. 4:9-10. Orang tidak akan berbicara mengenai kecenderungan alamiah bagi kebaikan semua orang dengan ayat-ayat yang begitu tegas seperti ini.

    Adalah jelas bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi mereka yang Ia kasihi .... [Kasih yang khusus] inilah yang menyebabkan Ia memberikan Kristus, dan semua hal lain yang mereka butuhkan. "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Rm. 8:32). Karena itu, kasih Allah yang khusus ini hanya mungkin dialami oleh orang-orang yang kepadanya diberikan anugerah dan kemuliaan.

    Sekarang Anda harus menentukan; mungkinkah kasih Allah, yang telah memberikan Anak-Nya ini dimengerti sebagai sebuah keinginan baik Allah yang bersifat umum kepada semua orang? Tidakkah ini lebih merupakan kasih Allah yang khusus untuk orang-orang percaya pilihan-Nya?

  3. Selanjutnya, kita akan menyelidiki siapakah penerima kasih Allah, yang disebut "dunia" itu.

  4. Sebagian orang mengatakan: ini pasti berarti semua dan setiap manusia. Saya tidak mengerti bagaimana bisa berarti demikian. Di depan, kita telah diperlihatkan pengertian-pengertian yang berbeda dari kata "dunia" dalam Alkitab. Dan dalam Yoh. 3:16, kasih disebutkan di bagian awal, dan tujuan kasih itu di bagian akhir, tidak mungkin sesuai dengan pengertian "semua dan setiap manusia" yang oleh sebagian orang diselipkan pada kata "dunia" di tengah-tengah ayat ini!

    Bagi kita, kata "dunia" ini dipahami sebagai orang-orang pilihan Allah yang tersebar di seluruh dunia dari antara segala bangsa. Bukan sebagai anugerah khusus Allah yang ditujukan hanya bagi orang Yahudi saja. Pengertiannya adalah, "Allah, begitu mengasihi orang-orang pilihan-Nya yang ada di seluruh dunia, sehingga Ia memberikan Anak-Nya dengan tujuan supaya oleh-Nya orang-orang percaya dapat diselamatkan". Ada beberapa alasan untuk mendukung pandangan ini.

    Sifat kasih Allah, sebagaimana yang telah kita bahas di sini, tidak mungkin dapat dipikirkan sebagai pemberian kepada semua dan setiap manusia. Kata "dunia", dalam ayat ini harus mengacu pada suatu dunia yang menerima hidup kekal. Hal ini ditegaskan oleh ayat berikutnya - Yoh. 3:17 - di mana, untuk ketiga kalinya kata "dunia" disebutkan. Dikatakan bahwa tujuan Allah dalam mengirimkan Kristus adalah "supaya dunia diselamatkan". Jika "dunia" di sini diartikan selain orang-orang percaya yang dipilih, maka Allah telah gagal mencapai tujuannya, kita tidak dapat membenarkan penjelasan seperti ini.

    Dalam kenyataannya, bukan hal yang aneh kalau orang percaya disebut dengan istilah-istilah semacam "dunia", "seluruh manusia", "seluruh bangsa" dan "seluruh keluarga di atas bumi". Sebagai contoh, dalam Yoh. 4:42, Kristus dikatakan sebagai Juruselamat dunia. Juruselamat orang yang tidak diselamatkan akan merupakan suatu pertentangan istilah. Jadi, mereka yang disebut di sini sebagai "dunia" harus merupakan mereka yang diselamatkan.

    Ada beberapa alasan mengapa orang-orang percaya disebut "dunia". Alasannya adalah untuk membedakan mereka dari malaikat-malaikat; untuk menolak orang-orang Yahudi sombong yang menganggap hanya mereka yang merupakan umat Allah; untuk mengajarkan perbedaan antara Kovenan Lama yang dibuat dengan satu bangsa, dengan Kovenan Baru - di mana seluruh bagian dunia dijadikan taat kepada Kristus; dan untuk memperlihatkan kondisi orang percaya sebenarnya, sebagai ciptaan yang hidup di atas bumi, di dalam dunia.

    Jika tetap bersikeras bahwa kata "dunia" di sini mempunyai pengertian seluruh dan setiap manusia sebagai penerima kasih Allah, maka mengapa Allah tidak menyatakan Yesus kepada setiap orang yang begitu Ia kasihi? Sungguh aneh, jika dikatakan Allah memberikan Anak-Nya kepada mereka, namun Ia tidak pernah memberitahu mereka mengenai kasih-Nya - berjuta-juta orang tidak pernah mendengar berita Injil! Bagaimana mungkin Ia dikatakan mengasihi setiap manusia [dalam arti khusus], jika ketetapan-Nya ini tidak diketahui oleh setiap orang?

    Akhirnya, kata "dunia" tidak mungkin berarti seluruh dan setiap manusia kecuali Anda siap untuk menerima bahwa:

    Kasih Allah kepada sebagian orang adalah sia-sia,
    karena mereka binasa.
    Kristus diberikan kepada berjuta-juta orang yang tidak pernah
    mengenal-Nya.
    Kristus diberikan kepada berjuta-juta orang yang tidak
    dapat mempercayai-Nya.
    Allah merubah kasih-Nya, dengan mengabaikan mereka yang binasa (atau
    sebaliknya, Ia tetap mengasihi mereka dalam neraka).
    Allah gagal untuk memberikan segala sesuatu kepada orang-orang yang
    baginya Ia telah memberikan Kristus.
    Allah sebelumnya tidak mengetahui siapa yang akan percaya dan
    diselamatkan.

    Kemustahilan-kemustahilan semacam ini tidak dapat kita terima; Kata "dunia" hanya berarti orang-orang pilihan yang tersebar di seluruh dunia.

  5. Cara supaya orang pilihan Allah menerima hidup yang ada di dalam Anak-Nya adalah dengan percaya. Dikatakan "Setiap orang yang percaya tidak akan binasa".[*]
  6. Jika dikatakan bahwa Kristus mati untuk seluruh dan setiap manusia, dan kita tahu bahwa hanya orang-orang percaya saja yang akan diselamatkan, lalu apa perbedaan antara orang-orang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya? Mereka tidak mungkin membuat perbedaan itu sendiri (lihat 1Kor. 4:7). Maka pasti Allah yang membuat perbedaan antara mereka. Tetapi jika Allah yang membuat mereka berbeda, maka bagaimana mungkin Ia dapat memberikan Kristus kepada mereka semua?

    Ayat tersebut menyatakan maksud Allah bahwa orang-orang percaya akan diselamatkan. Hal itu berarti bahwa Allah tidak memberikan Anak-Nya untuk mereka yang tidak percaya. Bagaimana mungkin Ia memberikan Anak- Nya bagi orang-orang yang kepadanya Ia tidak berikan anugerah untuk percaya?

    Sekarang silakan pembaca menimbang semua ini, pertama-tama dan khususnya, mengenai kasih Allah, dan dengan serius menanyakan apakah mungkin itu merupakan kasih kepada semua orang, yang membiarkan kebinasaan begitu banyak orang yang dikasihi-Nya? Ataukah kasih ini lebih baik dimengerti sebagai kasih yang unik dan khusus dari Bapa untuk anak-anak-Nya yang percaya, yang menjamin masa depan mereka? Maka Anda akan mendapatkan jawaban mengenai apakah Alkitab mengajarkan bahwa Kristus mati sebagai tebusan umum - tidak berguna bagi sebagian orang yang seharusnya telah ditebus - atau sebagai penebusan khusus yang berlaku bagi setiap orang percaya secara berkemenangan. Dan ingatlah ayat ini, Yoh. 3:16, yang begitu sering digunakan untuk mendukung pendapat bahwa Kristus mati untuk setiap manusia - meskipun, seperti yang telah saya jelaskan, sangat tidak sesuai dengan pendapat demikian!

Ket. [*]:
Tidak ada gunanya mendukung penebusan universal dengan berpendapat bahwa "barangsiapa" berarti "setiap orang", secara tidak definit.

  1. Bentuk kata Yunaninya sebenarnya adalah "setiap orang percaya".
  2. Mengusulkan "setiap orang" berarti menyangkal bahwa kasih Allah diberikan secara merata kepada setiap orang! Jika hanya sebagian yang diperkenan-Nya - "barangsiapa", maka Allah tidak mungkin mengasihi semua manusia secara merata. Namun bagaimanapun juga tampak jelas bahwa Ia lebih mengasihi sebagian "barangsiapa" dari yang lainnya.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul buku : Kematian yang Menghidupkan
Penulis : John Owen
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2001
Halaman :95 - 114

Firman Menjadi Daging (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Berikut ini adalah lanjutan dari artikel bulan lalu. Semoga menjadi berkat. Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia Oeniyati
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Paul David Tripp
Edisi: 
070/I/2006
Isi: 

SUMBER YANG TEPAT UNTUK MENGHADAPI PERGUMULAN

Apa yang telah diberikan Firman kepada kita sehingga kita dapat berbicara dengan standar Allah dan menurut rancangan-Nya? Dalam doa singkat di Efesus (1:15-23), Paulus memakai empat kata yang dinamis untuk menyatakan sumber-sumber daya yang menjadi milik kita karena karya penebusan Kristus.

Kata yang pertama adalah harapan. Di dalam Sang Firman kita menemukan harapan bagi perkataan kita. Harapan ini bukan keinginan dalam mimpi atau pengharapan yang tidak berdasar. Tidak, harapan yang alkitabiah tidak kurang dari suatu pengharapan penuh keyakinan akan hasil yang pasti. Di dalam Dia kita dapat menang dalam perang dengan kata-kata. Kita tidak perlu berkompromi dengan komunikasi yang penuh dengan kegetiran, kemarahan, perusakan, dan usaha memecah belah. Kita boleh memiliki standar yang tinggi dan menentukan target yang tinggi, bukan karena siapa kita ini, tetapi karena apa yang telah Dia lakukan. Oleh karena itu, kita menolak status quo, kita menolak membiarkan kesinisan yang ditimbulkan oleh keputusasaan merambat dan menyebabkan kita menyerah di dalam pergumulan. Tidak, kita hidup dan berbicara dengan iman dan keberanian, kita percaya bahwa sesuatu yang lebih baik dapat dicapai karena apa yang telah Dia lakukan.

Sebagai istri, Anda tidak boleh membiarkan diri Anda percaya bahwa komunikasi di dalam pernikahan Anda tidak akan pernah membaik. Dalam Sang Firman ada harapan. Sebagai suami, Anda tidak boleh menyerah pada kemarahan Anda dan kata-kata yang dicetuskan oleh kemarahan itu. Ada harapan. Sebagai seorang teman, Anda tidak boleh menolak berbicara di saat Anda terluka, dengan mengira itu tidak apa-apa. Ada harapan. Sebagai orang tua, Anda harus percaya bahwa Anda dapat melayani anak- anak Anda sekalipun Anda sendiri terluka dan terkuras, karena Sang Firman telah datang, dan bersama-Nya juga, ada harapan. Pembaca, tanyakanlah pada diri Anda, "Apakah komunikasi saya mengalir dari keyakinan saya akan karya Firman yang memberikan sumber kekuatan?"

Apa yang menjadi harapan kita untuk berbicara dengan sikap saleh ketika anak remaja yang membangkang menolak kita? Apa yang menjadi harapan kita untuk berbicara seperti yang dirancang oleh Allah kepada suami yang menjauh, istri yang kritis, teman Kristen yang getir, atau tetangga yang suka bertengkar? Dari mana kita mendapatkan kekuatan untuk berbicara dengan benar kepada majikan yang keras, penuntut, dan tidak berterima kasih, atau kepada anak-anak yang mementingkan diri sendiri dan terus mengeluh? Harapan apa yang kita miliki untuk komunikasi yang utuh ketika kita memulai pembicaraan yang sulit dalam keadaan lelah dan patah semangat? Apa yang akan kita lakukan ketika kita bergumul dengan kegetiran kita sendiri, ketika kita marah, atau bergumul dengan keinginan mengikuti jalan kita sendiri? Apa yang akan menolong kita ketika tuduhan kepada kita tidak benar, ketika kita merasa tidak dihargai, tidak diperhatikan, atau kebaikan kita dianggap sudah menjadi kewajiban kita? Apa yang menjadi harapan kita untuk berbicara dengan cara yang menunjukkan karya Allah dalam diri kita dan bukannya menurut keinginan dari sifat dosa kita? Harapan kita satu- satunya adalah Sang Firman. Karya-Nya bagi kita mengubah sama sekali cara yang dapat kita pakai untuk menanggapi pergumulan kata-kata kita.

Anda mengetahui bagaimana cara kerjanya. Kebanyakan dari komunikasi kita sehari-hari tidak ditata atau ditulis. Kita terus-menerus hanyut ke dalam saat-saat yang bukan merupakan bagian dari agenda kita untuk hari itu.

Misalnya anak laki-laki saya datang kepada saya pada Kamis malam jam 10:30 dan berkata, "Papa, saya harus menyerahkan tugas pelajaran sains besok dan ada beberapa hal yang saya butuhkan." Ingat, dia telah mendapat tugas ini selama berminggu-minggu! Sambil mencoba menjaga ketenangan, saya menanyakan apa yang dia butuhkan. "Oh, saya memerlukan sedikit papan untuk poster," dia mengatakan dengan ragu- ragu. "Itu masih lumayan," saya berpikir. "Kita dapat menyatukan karton-karton yang ada di rumah." "Ada lagi?" saya bertanya. Dia berkata, "Oh, mungkin saya perlu beberapa spidol." Saya dapat merasakan tingkat kemarahan saya meningkat, tetapi saya berdalih bahwa kita mungkin dapat menuangkan air ke dalam beberapa spidol kering yang ada di rumah untuk menyelesaikan satu proyek lagi. Sekali lagi saya bertanya, "Ada lagi yang lain?" Dengan suara yang ketakutan dia berkata, "Dua belas anak ayam." Saya tidak dapat mempercayai apa yang saya dengar! Saya merasakan wajah saya merah padam. "Tentu saja, saya akan pergi ke toko ayam 24 jam dan membeli selusin yang segar!"

Dalam sekejap mata perang ini berkecamuk -- bukan, bukan antara anak laki-laki saya dan saya, tetapi di dalam hati saya. Saya marah dan frustrasi. Saya sudah lelah dengan ranjau-ranjau kesulitan yang tidak terduga. Dengan menghantamnya dengan kata-kata, saya dapat dengan berkuasa membuat kedudukan menjadi seri. Saya ingin mengatakan kepadanya betapa bodohnya dia dan bahwa dia gila kalau dia pikir saya akan membantunya. Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa di zaman saya, saya tidak pernah menunda-nunda tugas. Banyak sekali yang ingin saya katakan, dan pada saat itu, sebaiknya saya mempunyai harapan yang memampukan saya untuk melawan semua yang ingin saya lakukan secara naluriah!

Jika perang berkecamuk di dalam hati kita pada momen-momen kecil dan biasa, betapa hebatnya perang ini akan hadir pada momen-momen yang menyakitkan dalam pernikahan, momen-momen yang mengecewakan sebagai orang tua, dan kegagalan yang mengecewakan di dalam tubuh Kristus! Kebanyakan dari momen-momen ini tidak dapat dihindarkan, tetapi Anda akan menghadapinya dengan cara yang sama sekali berbeda jika Anda percaya bahwa karena karya Firman, ada harapan bagi kita. Tiga kata berikut yang dipakai Paulus untuk melukiskan harapan itu.

SEGALA SESUATU YANG KITA PERLUKAN

Kata kedua yang dipakai Paulus dalam Efesus 1:15-23 untuk menunjukkan manfaat dari karya Sang Firman pada saat ini adalah kekayaan. Paulus mengatakan tentang "betapa kayanya kemuliaan di dalam Kristus". Apa yang dia sampaikan di sini? Petrus menangkapnya dengan baik ketika dia mengatakan bahwa "kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh" (2Petrus 1:3). Bukan hanya banyak, melainkan segala sesuatu yang berguna. Perhatikan kata-kata itu di sini. Kata kerja di dalam ayat Alkitab ini ("telah menganugerahkan") memakai bentuk waktu perfektif, yang menunjukkan suatu tindakan di masa lalu dengan akibat yang terus berlangsung hingga ke masa yang akan datang. Artinya, Kristus telah memasukkan segala sesuatu yang saya perlukan ke dalam perbendaharaan saya. Mungkin Anda bertanya, "Untuk apa?" Petrus mengatakan, "Untuk hidup yang saleh." Kepada saya telah dianugerahkan bukan hanya segala sesuatu yang saya perlukan untuk hidup yang kekal, melainkan juga segala sesuatu yang saya perlukan untuk menjalankan kehidupan yang saleh sejak saya diselamatkan sampai Allah membawa saya pulang kepada Dia!

Biarlah kuasa dari kata-kata ini diserap. Tuhan tidak akan pernah membiarkan Anda di dalam suatu keadaan tanpa memberikan semua yang Anda butuhkan untuk melaksanakan panggilan-Nya bagi Anda.

Misalnya, Anda adalah seorang istri yang berada dalam pembicaraan yang sangat sulit dengan suami Anda. Untuk saat seperti ini sudah ada kekayaan di dalam perbendaharaan Anda. Mungkin Anda adalah pekerja yang bergumul menghadapi majikan yang sangat kritis. Segala sesuatu yang Anda butuhkan untuk berbicara dengan saleh telah diberikan. Sebagai orang tua, Anda menghadapi satu hari lagi dimana anak remaja Anda membangkang dan tidak hormat. Tuhan telah memberikan semua kekayaan yang Anda perlukan untuk melewati luka dan kemarahan Anda sendiri, serta untuk berfungsi sebagai alat-Nya. Firman telah datang dan di dalam tangan-Nya ada kekayaan yang mulia. Karunia-Nya adalah satu-satunya alat yang dapat menjinakkan lidah manusia!

Hal ketiga di dalam daftar sumber daya yang diberikan Paulus adalah kuasa. Paulus mengatakan, "Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya" (Efesus 1:19). Karena karya Sang Firman, kita mempunyai kuasa untuk menang dari perang yang menjadi penyebab pergumulan kita dengan kata-kata. Kita tidak bergumul dalam komunikasi hanya karena kita kekurangan ketrampilan atau kata-kata. Masalah kita adalah ketidakberdayaan. Masalah kita adalah ketidakmampuan. Itulah sebabnya Yakobus mengajukan pertanyaan retorika, siapa yang dapat menjinakkan lidah? Jawaban Alkitab yang terbaik untuk pertanyaan ini adalah tidak seorang pun di dunia ini yang mampu! Tetapi Kristus telah datang, dengan menunjukkan kuasa-Nya dalam pelayanan-Nya, menjalankan kuasa- Nya terhadap kejahatan di atas salib, dan memberkati umat-Nya dengan kuasa di dalam pribadi Roh Kudus yang berdiam di dalam mereka. Paulus mengatakan bahwa Allah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, sedang bekerja dengan kuasa- Nya di dalam kita (lihat Efesus 3:20).

Perhatikan ini sebentar. Allah tidak mengeluarkan serangkaian perintah agung dan tinggi, kemudian duduk bersandar untuk melihat apakah kita mentaatinya. Tidak, Dia memahami bahwa dosa kita telah membuat kita tidak berdaya, dan bahwa kita tidak akan mengetahui apa yang kita perlu ketahui dan tidak dapat melakukan apa yang perlu kita lakukan tanpa Dia. Oleh sebab itu Dia telah membebaskan kita dan masuk ke dalam diri kita dengan Roh-Nya. Kuasa-Nya yang tidak terbayangkan ada di dalam kita! Dan bukan hanya di dalam, kuasa-Nya sedang bekerja! Paulus mengatakan bahwa kita telah diberikan kuasa yang hanya dapat dibandingkan dengan kuasa yang telah membangkitkan Kristus dari kematian.

Ini mengubah segala sesuatu. Sang Firman telah menjadikan kita tempat tinggal-Nya sehingga kita mempunyai kuasa untuk berbicara seperti yang telah dirancang-Nya. Di dalam Dia apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Perang dapat dimenangkan. Lidah dapat dijinakkan sehingga bukan lagi menjadi alat kejahatan, melainkan penghasil kebaikan.

Apa yang membuat buku ini berbeda dari buku komunikasi yang lain bukanlah besarnya perbendaharaan hikmat dan pengalaman dari penulis buku. Tetapi hanya satu: Injil. Injil mengubah sama sekali cara kita memahami dan melakukan perang dengan kata-kata yang merupakan bagian terbesar dari pegumulan manusia.

Injil menghindarkan kita dari model komunikasi kekuatan independen yang mengasumsikan bahwa masalah kita dapat diselesaikan dengan pemahaman dan ketrampilan yang benar. Injil memaksa kita untuk menghadapi ketidakmampuan kita. Injil juga menghindarkan kita dari model komunikasi lemah dan tidak mampu yang membuat kita melihat target Tuhan dan mengatakan, "Kalau saja kita sanggup!" Di dalam Kristus kita merangkul ketidakmampuan dan kemampuan. Firman datang dan memenuhi kita dengan kuasa-Nya karena kita begitu lemah. Tetapi di dalam Kristus, kita yang dulunya tidak sanggup berdiri, sekarang sanggup berdiri!

Terapkan ini ke dalam dunia pembicaraan Anda. Kuasa telah diberikan. Ia tinggal di dalam Anda oleh Roh dan menjangkau sampai kelemahan komunikasi Anda yang terdalam. Hai, istri, Anda menyangkal Injil jika Anda melihat suami Anda lalu berkata kepada diri Anda sendiri, "Untuk apa lagi? Dia tidak dapat berubah." Hai, suami, Anda menyangkal Injil dengan membela diri dan merasa benar sendiri ketika istri Anda mencoba berbicara kepada Anda tentang dosa di dalam percakapan Anda. Hai, orang tua, Anda menyangkal Injil ketika Anda membiarkan komunikasi Anda dengan anak Anda dikuasai oleh emosi dan keinginan yang tidak terkendalikan. Karena Firman telah datang dan telah memberikan kepada kita kuasa-Nya, kita dapat melangkah maju dengan penuh keberanian, percaya bahwa kita akan berkembang dalam dunia pembicaraan kita.

Karena kehadiran Roh Allah yang tinggal di dalam kita, ada harapan bahwa lidah dapat melakukan kebaikan yang telah ditentukan Allah. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa kita terlalu lemah ("Kalau saja saya lebih beriman" atau "Kalau saja saya sedikit lebih berani atau "Kalau saja saya dapat memikirkan hal yang tepat untuk dikatakan"). Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menyalahkan kepribadian kita ("Saya orangnya terbuka" atau "Saya sangat pemalu" atau "Maaf, saya bukan orang yang mudah bangun pagi"). Tidak seorang pun dari kita yang dapat menyalahkan masa lalu kita ("Saya tidak pernah diberikan contoh komunikasi yang baik" atau "Saya selalu diajarkan untuk melawan" atau "Orang tua saya tidak pernah sungguh-sungguh memakai waktu untuk mengajar kami"). Tidak seorang pun dari kita yang boleh menyalahkan orang-orang di sekeliling kita ("Kalau saja saya mempunyai anak-anak yang lebih penurut" atau "Kalau saja suami saya lebih mengasihi dan lebih perhatian, maka saya akan ..." atau "Kalau saja istriku tidak selalu mengkritik saya" atau "Kalau saja majikan saya lebih menghargai apa yang saya lakukan bagi dia setiap hari"). Tidak seorang pun di antara kita yang boleh menyalahkan situasi kita sekarang ini ("Kalau saja saya mempunyai lebih banyak waktu" atau "Kalau saja pekerjaan saya tidak begitu banyak menuntut saya").

Benar, kita hidup dengan orang berdosa, jadwal kita padat, banyak di antara kita dibesarkan di lingkungan yang negatif, dan kita semua telah diberikan kepribadian yang berbeda yang membantu dan menghambat kita dalam berbagai cara. Tetapi ini yang penting: Allah telah memberikan kita Roh-Nya, bukan sekalipun, melainkan oleh karena kenyataan ini. Roh Kudus diberikan agar kita dapat melakukan kehendak Allah sekalipun kita adalah orang berdosa di dunia yang berdosa, sehingga hidup dan kuasa-Nya dapat menutupi semua akibat dosa kita sendiri dan dosa orang lain terhadap kita, sehingga kita benar-benar dapat melakukan kehendak Allah! Kuasa-Nya tidaklah jauh atau terlelap, tetapi sedang bekerja di dalam kita! Kita dapat berbicara menurut standar Allah dan menurut rancangan-Nya karena Dia hidup di dalam kita dengan kuasa yang aktif.

PEMERINTAHAN KRISTUS YANG PERSONAL DAN YANG MENEBUS

Kata terakhir yang merangkum sumber daya yang telah dikaruniakan kepada kita di dalam Kristus adalah kendali. Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah "Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh- Nya" (Efesus 1:22-23). Tidak ada situasi yang akan kita hadapi yang tidak dikendalikan oleh Kristus. Kehidupan kita tidak berada di luar kendali. Kristus secara hati-hati mengaturnya demi kebaikan kita dan kemuliaan-Nya.

Konsep tentang pengepalaan dan kendali Kristus secara tepat masuk ke dalam komunikasi kita yang paling bermasalah. Sering kata-kata kita menunjukkan suatu usaha untuk mengendalikan segala sesuatu demi kepentingan kita. Kita didorong oleh suatu perasaan pribadi tentang apa yang kita inginkan atau apa yang kita anggap baik, sehingga kita berbicara dengan cara yang menjamin bahwa kita akan mendapatkannya. Kita membela diri, menuduh, menimbulkan rasa bersalah, memanipulasi, merasionalisasi, bertengkar, mendesak, memohon, atau mengancam, semuanya dengan tujuan mengendalikan seseorang atau suatu situasi.

Adakalanya kita melakukannya karena rasa takut. Rasanya sungguh seolah-olah kehidupan kita sedang berguling di luar kendali kita. Memang kelihatannya orang-orang di sekeliling kita sedang menghambat apa yang kelihatannya paling baik. Kelihatannya tepat bagi kita untuk mengambil kendali, kalau tidak, apa yang akan terjadi? Tetapi pembicaraan yang didorong rasa takut melupakan salah satu janji paling berharga dari Injil: bahwa Kristus sekarang ini, pada saat ini, sedang mengendalikan segala sesuatu bagi kebaikan kita secara khusus sebagai anak-anak Allah. Mungkin saya tidak selalu melihat tangan-Nya dan saya tidak selalu melihat kebaikan yang Dia lakukan, tetapi Dia tetap aktif dan memegang kendali. Komunikasi yang mencoba untuk mencari keamanan pribadi dengan mengambil kendali telah melupakan salah satu karunia paling manis dari Firman, yaitu kendali Allah atas segala sesuatu bagi anak-anak-Nya.

Cara lain untuk mengatakan hal ini adalah bahwa kata-kata kita sering menunjukkan bahwa kita tidak begitu percaya kepada Tuhan karena kita mencoba menjadi Dia. Kita mencoba melakukan dengan kata-kata kita apa yang hanya dapat dilakukan-Nya.

Sebagai contoh, seorang ayah tidak seharusnya begitu takut pada apa yang akan terjadi pada anaknya sampai-sampai dia mencoba melakukan dengan kata-katanya apa yang hanya dapat dilakukan Allah dengan anugerah-Nya, "Kalau ini adalah hal terakhir yang akan saya lakukan, saya akan membuat kamu, menghormati saya" (ancaman). "Pikirkan semua kerja keras kami, pikirkan semua uang yang kami keluarkan, pikirkan semua waktu yang kami tanamkan -- apakah ini ucapan terima kasih yang kami dapatkan?" (rasa bersalah). "Ingat mobil yang kamu minta untuk ulang tahunmu? Kalau kamu ____, kita tidak tahu -- mungkin kamu akan memegang kuncinya" (manipulasi). Dalam masing-masing contoh, pembicara mencoba memutar hati anaknya dengan sejenis alat verbal.

Tetapi usaha untuk mengendalikan dengan kata-kata tidak selalu muncul dari rasa takut. Usaha ini sering juga timbul dari keangkuhan. Sebagai orang berdosa, kita cenderung mementingkan diri sendiri. Kita cenderung bergumul dengan rasa puas diri dan memasuki setiap keadaan penuh dengan keinginan kita sendiri.

Ketika saya bangun pagi, sering sekali orang pertama yang saya pikirkan adalah saya! Saya sudah dipenuhi dengan keinginan saya sendiri, membayangkan di dalam pikiran saya seperti apa hari itu jadinya. Ketika saya duduk di kantor dan telepon berbunyi, saya sering berpikir, "Apa lagi?" karena takut kalau-kalau seseorang akan mengganggu rencana saya. Ketika saya pulang sambil mengemudikan mobil di malam hari, saya sering memimpikan seperti apa malam itu, mengkuatirkan bencana apa yang akan dibawa orang lain ke dalam rumah yang akan merusak mimpi saya. Kata-kata kita sering menunjukkan betapa kita berfokus pada diri sendiri dan betapa inginnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan dari orang lain.

"Tidak dapatkah saya menikmati kedamaian satu malam saja!" teriak seorang ayah kepada anaknya yang datang meminta bantuannya untuk proyek yang perlu waktu semalam suntuk. "Saya rasa kamu tidak sungguh- sungguh mencintai saya!" kata seorang istri kepada suaminya yang keluar dengan bergegas karena sudah terlambat dan sekarang menjadi marah dan frustrasi pula. Kata-kata si istri terfokus pada diri sendiri, dikatakan pada waktu yang tidak tepat, dan tidak mempedulikan kebutuhan suaminya. "Kalau saya tidak tinggal di sini, separuh dari persoalan saya akan selesai!" gerutu seorang remaja yang ditegur karena sikapnya yang buruk. Karena didorong oleh keinginannya, dia balik menyerang orang tuanya yang kelihatan selalu menghambatnya.

Injil membahas pergumulan ini juga. Kristus memanggil kita untuk suatu agenda yang lebih tinggi daripada kesenangan kita sendiri. Kristus mengendalikan segala sesuatu bagi kita, tetapi pengendalian-Nya bukan dilakukan demi kesenangan kita. Kita dipanggil untuk mentaati Kristus agar kita menjadi kudus dan supaya kekudusan kita memberikan kemuliaan kepada-Nya.

Sang Firman telah datang dan telah membawa ke dalam dunia kita pengendalian yang mulia, menyeluruh, setia, dan menebus. Pembicaraan kita harus bersumber pada kedamaian yang kita temukan di dalam pengendalian-Nya.

Sumber daya yang tersedia dalam Kristus merupakan satu-satunya harapan kita agar kata-kata kita dapat diucapkan sesuai dengan standar-Nya dan menurut rancangan-Nya. Di dalam Firman kita menemukan harapan ketika segala sesuatu sepertinya tidak ada harapan, kita menemukan kekayaan ketika kita merasa miskin, kita menemukan kuasa ketika kita melihat kelemahan kita, dan kita menemukan pengendalian ketika segala sesuatu di sekeliling kita kelihatannya di luar kendali.

INJIL DAN PEMBICARAAN ANDA

Pembicaraan yang utuh dari tubuh Kristus di rumah, gereja, atau tempat kerja berakar pada kenyataan Injil yang mulia. Firman telah datang dan membawa beserta-Nya segala sesuatu yang kita butuhkan untuk melalui kehidupan dengan pembicaraan yang saleh. Karena Dia telah datang, kita dapat mempunyai harapan bahwa kata-kata kita akan mengikuti pola dari Sang Pembicara Agung dan bukan mengikuti si Pendusta Besar itu. Firman telah datang untuk membebaskan kita dari kerusakan besar yang ditimbulkan kejatuhan, dimana karunia komunikasi yang luar biasa menjadi dunia kesusahan yang mengerikan. Kristus telah datang untuk menjinakkan apa yang tidak akan pernah dijinakkan manusia. Dia telah datang untuk memakai apa yang kelihatannya tidak dapat dipakai bagi tujuan-Nya. Dia telah datang untuk memberikan kepada kita kekayaan yang mulia dan kuasa yang tidak terimbangi sehingga lidah kita dapat dipakai sebagai alat kebenaran-Nya. Dunia pembicaraan kita tidak perlu menjadi dunia kesulitan karena satu alasan yang andal ini: Firman telah datang.

PENDALAMAN DAN PENERAPAN PRIBADI: KRISTUS DAN PEMBICARAAN ANDA

Ujilah pembicaraan Anda dengan orang lain minggu ini. Apakah pembicaraan Anda dibangun di atas fondasi kokoh yang telah Kristus dirikan bagi kita? Contohnya:

  1. Apakah Anda dengan rendah hati mengakui ketidakmampuan Anda dan memohon pertolongan Tuhan sebelum tiba waktunya untuk melakukan komunikasi yang penting?

  2. Dalam hubungan Anda yang penting, apakah Anda mencoba melakukan dengan kata-kata hal yang hanya dapat dilakukan Tuhan dengan anugerah dan kuasa-Nya?

  3. Apakah Anda menjadi korban keputusasaan sehingga Anda tidak mau berbicara ketika kata-kata Anda dibutuhkan atau menyerah pada pola pembicaraan yang berdosa?

  4. Apakah Anda mau mengakui kelemahan Anda dalam komunikasi, mengenal adanya tema yang timbul berulang-ulang, mengaku pada Tuhan dan orang-orang yang telah Anda sakiti, dan berkomitmen pada pola pembicaraan yang baru? (Semua ini didasarkan pada merangkul janji Kristus bahwa kekuatan-Nya disempurnakan di dalam kelemahan kita.)

  5. Apakah Anda mampu memikirkan dengan rendah hati apa yang ditunjukkan orang lain sebagai dosa dalam pembicaraan Anda? Ataukah Anda menyangkal, merasionalisasi, menyerang balik, mencari kambing hitam, atau bersenang-senang di dalam kegagalan Anda?

  6. Apakah Anda bersyukur kepada Tuhan setiap hari atas karunia-Nya, dan harapan yang diberikan sehingga Anda dapat berbicara dengan memberkati orang lain dan memuliakan-Nya?

Bacalah Efesus 1:15-23. Mintalah Tuhan untuk membuka mata Anda terhadap kebaikan yang mulia dari karya Kristus dan harapan yang diberikan bagi kata-kata Anda. Mintalah agar Dia menunjukkan kepada Anda di mana perubahan dibutuhkan dan melangkahlah dengan iman. Terakhir, tinggallah di dalam kenyataan akan apa yang dikatakan Yohanes tentang Firman itu: "Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia" (Yohanes 1:16), dan percaya bahwa aliran anugerah-Nya yang terus menerus mengalir dapat mengubah dunia pembicaraan Anda secara radikal.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul buku : War of Words
Penulis : Paul David Tripp
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2004
Halaman : 53 - 66

Firman Menjadi Daging (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Akhirnya, kita sampai dipenghujung tahun. Tahun 2006 sudah siap menanti kedatangan kita semua. Apakah tahun 2006 akan lebih baik dari tahun 2005? atau sebaliknya apakah akan lebih buruk? "Hanya Tuhan dan Anda yang tahu ...." Mungkin Anda akan bertanya, "Kalau Tuhan saya percaya pasti tahu, tapi apakah kita tahu? Hmmm ....

Menjelang tahun baru ada sebagian orang yang memiliki kebiasaan untuk membuat "resolusi tahun baru". Apakah Anda termasuk orang yang demikian? Di dalam resolusi ini, biasanya orang akan membuat janji- janji untuk melakukan sesuatu yang baik, yang bermakna, yang memberi kemajuan ... dll, pokoknya yang baik-baik, dengan harapan tahun di depan nati kita bisa mewujudkannya. Nah ... pernahkah Anda membuat resolusi agar tahun depan bisa lebih berhati-hati dalam berbicara?

Kelihatannya sepele, ya ... tapi ini seperti "musuh dalam selimut", sangat berbahaya. Apalagi kalau kita melihat ke belakang dan menyadari betapa banyaknya "kecelakaan" yang terjadi gara-gara mulut kita yang kurang bijaksana atau kurang bisa mengontrol diri sehingga menghancurkan hubungan dengan rekan kerja, teman dekat, bahkan dengan anggota-anggota keluarga yang kita cintai, terutama istri atau suami atau anak. Lalu terjadilah "sesal kemudian tak berguna", karena sudah terlanjur, minta maaf pun sering tidak menolong. Tentu kecelakaan "perang mulut" yang terjadi bukan sesuatu yang disengaja atau direncanakan, tapi herannya hal-hal seperti ini terjadi begitu saja, dan tiba-tiba yang kita alami adalah "shock" karena melihat hasilnya yang tak terduga dan sangat menyakitkan, bukan dari satu pihak, tapi dari dua belah pihak, sama-sama sedih dan menyesal. Tapi sayangnya "nasi sudah menjadi bubur". Yang tinggal hanya kemampuan berandai- andai, "Seandainya aku tahu akan begini, nggak bakal aku ngomong gitu tadi ..." atau "kenapa cuman omongan yang sepele gitu aja bisa bikin 'perang', andaikan aku tadi tutup mulut, mungkin ...."

Buku menarik yang saya baca beberapa waktu yang lalu, dengan judul yang sangat provokatif "War of Words", menolong saya melihat masalah komunikasi ini dari sudut pandang kebenaran Firman Tuhan. Wah ... sangat bagus sampai saya ingin sekali mensharingkan hal ini dengan Anda semua. Nah, selamat menikmati posting saya untuk menyambut Tahun Baru 2006 ini. Kiranya dapat menolong kita semua untuk bisa melihat masalah hidup kita yang sangat sensitif ini (khususnya dalam hal dosa lidah) dengan lebih jelas dan lebih mendasar.

Tak lupa, sekali lagi saya mengucapkan: Selamat Tahun Baru!

In Christ,
Yulia Oen
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Paul David Tripp
Edisi: 
069/XII/2005
Isi: 
"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita."
(Yohanes 1:14)

SAYA telah menikah selama lebih dari seperempat abad. Allah telah memberikan kepada saya seorang istri yang saleh yang karakternya lebih baik dari pada saya. Luella dan saya menikmati hubungan yang indah dalam berbagai hal. Kami dibesarkan dalam keluarga Kristen dimana kami diajarkan kebenaran sejak kecil. Kami berdua mengenal Kristus ketika masih anak-anak dan dididik di perguruan tinggi Kristen. Kami telah mempergunakan waktu kami untuk pelayanan dan telah diberkati dengan pengajaran alkitabiah yang baik. Kami telah bekerja keras untuk mengikuti rancangan Kristus bagi pernikahan kami.

Kami menghabiskan waktu bersama-sama setiap minggu di luar rumah untuk membicarakan hal-hal yang perlu didiskusikan. Selama bertahun-tahun kami telah mencoba untuk mengadakan ibadah keluarga setiap hari. Namun, saya mengakui bahwa sekalipun dengan semuanya itu, sampai saat saya mempersiapkan buku ini, kami tidak bebas dari kesulitan dalam komunikasi kami. Saya tidak mengatakan bahwa kami menjerit dan berteriak. Kami tidak selalu marah-marah dan bersitegang urat leher satu sama lain. Tetapi kami tidak perlu melihat terlalu jauh untuk menemukan dosa dalam percakapan kami. Dosa itu mungkin adalah perkataan yang diucapkan terburu-buru dan tanpa pikir panjang, kata- kata kekesalan, tuduhan yang terlalu cepat, tuntutan atau komentar yang mementingkan diri sendiri, kalimat "Kan sudah saya bilang," sementara yang diperlukan sebenarnya adalah kata-kata penghiburan dan pemberi semangat. Dosa itu mungkin juga berupa jawaban yang tidak sabar, saat-saat mengorek detail yang tidak perlu, komentar yang bernada membenarkan diri atau mengasihani diri, atau situasi dimana dosa masa lalu diungkit kembali.

Sekalipun dengan semua ajaran Alkitab yang telah kami terima, dengan semua komitmen pribadi dan usaha-usaha praktis kami, dengan semua permohonan pengampunan kami dan doa kami meminta pertolongan, sebagai pasangan kami masih bermasalah dengan percakapan kami. Begitulah besarnya kebutuhan kami! Begitulah dalamnya persoalan kami!

KECENDERUNGAN KITA UNTUK LUPA

Ketika saya mengunjungi toko buku Kristen, kadang saya merasa heran apakah kita telah melupakan persoalan kita yang sesungguhnya. Apakah kita benar-benar merasa bahwa kita bisa menyelesaikan persoalan komunikasi yang kronis dengan pengertian manusia dan teknik yang pintar? Apakah kita telah melupakan bahwa masalah komunikasi menunjukkan masalah yang jauh lebih mendalam dan tingkatan yang lebih mendasar? Jika kita tidak mengatasi masalah yang lebih mendalam ini, kita tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan komunikasi kita sehari-hari. Jika yang kita perlukan hanyalah pengetahuan dan ketrampilan, Luella dan saya sudah menyelesaikan persoalan pembicaraan kami jauh sebelumnya. Tetapi kami membutuhkan sesuatu yang lebih mendalam daripada teknik, ketrampilan, dan pengetahuan. Kebutuhan yang mendalam ini ditunjukkan setiap hari ketika kami berkomunikasi.

Baru-baru ini saya memperhatikan dua anak laki-laki saya yang sedang bertengkar. Ini bukan sesuatu yang baru; usia mereka terpaut dua tahun dan telah sering bertengkar. Sebenarnya, pertengkaran ini adalah pertengkaran yang telah sering mereka alami sebelumnya. Tetapi, sekali ini pertengkaran mereka menarik perhatian saya. Kata-kata mereka penuh dengan tuduhan. Nada bicara mereka penuh kemarahan. Tidak ada di antara mereka yang berhenti untuk mendengarkan pada saat berondongan perkataan mereka meningkat dan volume suara mereka meninggi. Tidak begitu lama kemudian mereka telah meninggalkan masalah yang mereka hadapi dan saling melemparkan luka masa lalu. Mereka berdua berbicara dengan penuh rasa sakit, frustrasi dan kemarahan, ketidaksabaran dan kecemburuan. Mereka tidak berbicara untuk menyelesaikan persoalan atau mendengar untuk memahami. Kata-kata mereka hanyalah senjata dalam peperangan. Masing-masing dari mereka ingin membungkam lawannya dan menang. Kalimat-kalimat mereka penuh dengan "kamu selalu" dan "kamu tidak pernah". Mereka berdua berdiri di sana, terbungkus oleh jubah perasaan benar sendiri, merasa cukup beralasan untuk menuduh yang lain. Dan sekalipun mereka terus mengeluarkan keluhan mereka, mereka berdua mengkomunikasikan keyakinan mereka bahwa mereka hanya sedang membuang-buang waktu. Mereka merasa yakin bahwa lawannya tidak akan pernah "memahaminya".

Ketika saya mendengarkan itu, dua pikiran muncul dan menarik perhatian saya. Yang PERTAMA adalah bahwa saya tidak ingin mengatasi "perang" ini sebagai hal pertama di pagi hari. Tetapi pikiran yang KEDUA lebih teologis dan lebih mencengkeram. Saya menyadari bahwa saya tidak pernah mengajar kedua anak laki-laki saya bagaimana bertengkar dan berkelahi. Saya tidak pernah mengajar mereka bagaimana melukai satu sama lain dengan kata-kata. Saya tidak pernah mengkuliahi mereka tentang saat yang tepat untuk melemparkan catatan kesalahan pada orang lain. Saya tidak pernah mencoba mengajari mereka ketrampilan menuduh dan mengutuk. Tetapi anak-anak saya berduel dengan percaya diri dan trampil. Mereka memiliki bakat yang alamiah untuk memakai kata-kata persis seperti apa yang diinginkan hati mereka yang marah.

Ketika saya mulai campur tangan, hati saya penuh dengan kesedihan. Saya dapat menghentikan pertengkaran itu, tetapi saya tidak dapat mengubah apa yang benar-benar membutuhkan perubahan. Lagi pula, saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang perlu diubah di dalam diri mereka masih perlu diubah di dalam diri saya! Di rumah kami, jarang ada beberapa jam (apalagi sehari penuh) yang berlalu tanpa konflik dalam bentuk apa pun! (Dan, percaya atau tidak, kami memiliki keluarga yang lumayan baik.) Betapa dalamnya kebutuhan kami! Saya berbicara kepada anak-anak saya pagi itu dengan air mata, karena sekali itu saya lebih dikuasai oleh beratnya kebutuhan rohani kami daripada oleh frustrasi saya yang timbul karena pertengkaran kecil yang harus diselesaikan.

Mungkin Anda sedang berpikir apakah anak-anak saya akan mendapat manfaat dengan mempelajari teknik komunikasi yang lebih baik atau kejelian untuk mengenal tempat dan momen yang lebih baik. Tidak diragukan lagi mereka akan mendapat manfaatnya. Tetapi, perang perkataan pagi itu lebih dalam lagi sifatnya. Yang ditunjukkan adalah kebutuhan rohani yang mendalam, yang tidak dapat dipuaskan dengan beberapa prinsip komunikasi yang baik.

KEDATANGAN SANG FIRMAN

Bagaimana Allah, Sang Pembicara Agung, memenuhi kebutuhan kita dalam bidang ini? Dia tidak menuntut kita untuk mencapai standar-Nya dengan kekuatan kita. Tidak, Dia mengutus Anak-Nya, Sang Firman, untuk menjadi daging, lalu hidup sebagai manusia dan menjadi yang paling mulia dari seluruh wahyu Allah kepada kita! Firman itu telah menjadi daging. Dengarkanlah perkataan Yohanes.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya ...

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang- orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

... Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan- Nya. (Yohanes 1:1-5, 10-14, 16-18)

Renungkanlah. Allah yang menciptakan perkataan dan menciptakan dunia ini dengan berfirman, Allah yang memakai perkataan manusia untuk menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya sepanjang zaman, datang ke dunia- Nya sebagai Firman, kepada manusia yang telah meninggalkan-Nya. Dia bukan hanya Pemberita kebenaran, Dia adalah Kebenaran, dan hanya di dalam Dia ada harapan bagi kita. Hanya di dalam Firman kita menemukan harapan untuk membereskan perang dengan kata-kata dan kembali berbicara menurut contoh dan rancangan Pencipta kita. Firman itu telah menjadi daging karena tidak ada jalan lain untuk mengoreksi kerusakan di dalam diri kita.

Kenyataan bahwa Firman datang dalam daging memberi tahu kita akan sesuatu yang sangat penting mengenai kesulitan kita dalam hal pembicaraan: Persoalan kita pada dasarnya bukan persoalan ketidaktahuan atau tidak adanya ketrampilan. Ingatlah perkataan Yakobus: "Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang- binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan" (Yakobus 3:7-8). Maksud Yakobus adalah bahwa masalah komunikasi kita tidak dapat diselesaikan dengan cara manusia yang lazim. Perubahan pada lokasi, situasi, pendidikan, pelatihan, dan pengulangan, atau sifat dari hubungannya tidak akan menyelesaikan masalah. Lidah itu tidak dapat dijinakkan secara manusiawi! Ia adalah sesuatu yang berkuasa, buas, dan tidak terkuasai yang membuat kita semua kebingungan.

PERANG DI BALIK PERANG DENGAN KATA-KATA

Di sini ada satu pengamatan alkitabiah yang mendasar yang perlu kita kemukakan: Firman tidak akan datang ke dunia kita kalau pergumulan kita pada dasarnya adalah pergumulan darah dan daging. Masalah kata- kata kita adalah masalah kerohanian yang sangat kental, masalah hati manusia. Mungkin Anda adalah seorang istri yang sangat dilukai oleh cara suami Anda berkomunikasi dengan Anda. Atau, mungkin Anda adalah seorang remaja, dan sulit untuk tidak merasa terkutuk oleh cara orangtua berbicara kepada Anda. Mungkin Anda adalah seorang suami yang merasa getir karena kurangnya penghormatan yang diberikan oleh keluarga kepada Anda. Masing-masing kita pernah secara pribadi dilukai oleh kata-kata orang lain, dan masing-masing kita pernah mengucapkan kata-kata yang telah menyengat orang lain. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengakui bahwa perang dengan kata-kata sebenarnya adalah buah dari perang yang lebih besar dan lebih mendasar. Perang ini adalah perang dari segala perang; ini adalah masalah kehidupan. Paulus menunjuk kepada perang ini di Efesus 6:12 ketika dia mengatakan, "Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."

Di Efesus 4 Paulus berbicara panjang lebar tentang percakapan di dalam tubuh Kristus. Dia menyerukan, "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera ... dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih ... buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Dia mengatakan, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu." Dia memberi dorongan kepada kita, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun." Dia mengatakan, "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian juga segala kejahatan, hendaklah kamu ramah seorang terhadap lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Dalam Efesus 5 dan 6, Paulus menerapkan prinsip-prinsip ini kepada gereja, rumah tangga, dan dunia di luar.

Anda tidak dapat membaca apa yang telah dikatakan Paulus tanpa merasa terkesan oleh kedalaman dan jangkauan dari perintah-perintah ini. Mungkin ketika Anda membaca, Anda berpikir, Paulus, Anda pasti bercanda! Pembicaraan yang selalu rendah hati dan lemah lembut di rumah kami? Tidak mungkin! Komunikasi yang bebas dari segala kemarahan dan kejahatan? Itu akan menjadi hari yang penuh keajaiban! Namun, ini adalah seruan Paulus kepada kita. Dan perintah-perintah ini dimaksudkan untuk menolong ki�a.

Anda berkata, "Perintah-perintah ini tidak membantu saya -- malahan meninggalkan saya dalam keadaan putus harapan!" Tetapi, mungkin ini adalah masalahnya. Ketika Anda menghadapi standar Allah yang tinggi bagi kata-kata kita dan melihat betapa jauhnya kejatuhan kita dari standar itu, Anda dibuat untuk mengakui dua hal yang merupakan fokus dari bab ini. Pertama-tama, Anda dan saya segera dihadapkan dengan kenyataan bahwa kita menghadapi masalah yang menyedihkan dalam komunikasi kita, masalah yang jauh lebih mendasar daripada ketrampilan, teknik, dan perbendaharaan kata. Fakta kedua berasal dari yang pertama: Oleh karena kebutuhan kita lebih mendalam daripada teknik, kita memerlukan lebih daripada sekadar kelas latihan atau seperangkat ketrampilan yang baru. Kita memerlukan pertolongan yang hanya dapat diberikan Yesus, Firman yang hidup dan Penebus kita.

Oleh sebab itu, ketika usaha terbaik kita untuk memenangkan perang dengan kata-kata gagal, kita menjumpai harapan terbesar. Tetapi, bukan di dalam diri atau potensi kita, melainkan di dalam diri Sang Firman dan penyertaan-Nya, kuasa-Nya, dan janji-Nya. Karena Kristus telah datang untuk hidup, mati, dan dibangkitkan bagi kita, ada harapan bagi kita untuk berbicara menurut rancangan Allah.

KEHIDUPAN ADALAH PEPERANGAN

Dengan demikian, kata-kata Paulus di Efesus 6:12 adalah paling praktis. Ketika Paulus menulis tentang peperangan rohani di akhir surat ini, dia tidak mengganti topik; tetapi merangkum apa yang telah dia katakan sebelumnya (termasuk apa yang telah dia katakan tentang komunikasi). Paulus sangat antusias agar kita menyadari bahwa kehidupan adalah peperangan, bukan dengan orang lain, melainkan dengan roh-roh jahat di udara!

Kehidupan adalah peperangan. Suatu konflik yang dramatis sedang berlangsung antara kekuatan dari Sang Pembicara Agung dan Penipu Besar. Sementara Allah mencoba memperdalam akar kita di dalam kehidupan, damai sejahtera, dan kebenaran-Nya, Iblis mencoba mencabut kita dari semua itu dengan rencana yang menipu, dusta yang pintar, dan jebakan yang jahat. Seperti semua peperangan, peperangan ini juga untuk merebut kendali. Ini adalah peperangan untuk merebut hati kita. Dan jika peperangan rohani ini tidak terjadi, maka tidak akan ada perang dengan kata-kata.

Ini memperkuat pemahaman kita akan Injil, yaitu tentang mengapa Yesus perlu datang. Yesus, Firman yang hidup, datang sebagai Wahyu dan Penebus sehingga kita memiliki apa yang kita perlukan untuk teguh berdiri di tengah-tengah konflik. Pada diri kita sendiri, kita tidak sanggup melawan "roh-roh jahat di udara" ini. Maka Kristus datang, bukan hanya sebagai Firman, melainkan juga sebagai Adam kedua. Adam pertama mewakili kita semua, dan ketika dia menghadapi Iblis, dia percaya kepada dustanya, menyerah kepada jebakannya, dan jatuh ke dalam dosa. Kristus harus datang sebagai Adam kedua, kembali sebagai Wakil kita untuk menghadapi Iblis. Oleh sebab itu, sebelum memulai pelayanan-Nya kepada orang banyak, Kristus menghadapi musuh-Nya. Tiga kali Dia dicobai dengan dusta dan jebakan yang sama. Tiga kali Dia menaklukkan Iblis, menunjukkan kuasa-Nya terhadap kekuatan jahat dan mencapai kemenangan besar bagi kita (lihat Matius 4:1-11, 12:22-29; Roma 5:12-21).

Melalui karya-Nya, Kristus memberi kita kuasa dan membekali kita untuk peperangan ini, sehingga ketika datang hari yang jahat, kita mampu berdiri teguh dan tidak ada sesuatu apa pun yang menggeser kita dari kehidupan yang untuknya Dia memanggil kita. Kehidupan ini mencakup berbicara dengan cara yang layak bagi Injil. Kemenangan Yesus memberi kita kemampuan untuk hidup damai dengan-Nya dan dengan sesama.

Ini memberi kita pandangan yang sama sekali berbeda tentang rebutan memakai kamar mandi atau siapa yang menghabiskan sereal yang paling disenangi keluarga. Masalah pada momen-momen seperti ini melampaui masalah yang tampak di permukaan, seperti terlalu banyak orang, terlalu sedikit kamar mandi, dan terlalu banyak kotak sereal yang kosong. Kita adalah masalahnya dalam setiap keadaan itu. Dan sangat penting bahwa kita tidak mengecilkan masalah kita (dengan mengatakan bahwa momen-momen ini tidak penting) atau menjadi pesimis (dengan mengatakan bahwa tidak ada harapan untuk berubah). Momen-momen kecil ini penting, karena di situlah kita hidup setiap hari. Namun ada harapan untuk perubahan besar karena Yesus Kristus, Firman itu, Penebus itu, telah memberi kita setiap sumber daya yang kita perlukan untuk berbicara sebagaimana layaknya.

(Redaksi: Lanjutan dari artikel di atas akan dikirimkan pada pengiriman e-Reformed edisi berikutnya.)

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul buku : War of Words
Penulis : Paul David Tripp
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2004
Halaman : 43 - 53

Komentar