Kategori Utama

Kristus adalah Semua ...

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Tak terasa bulan Desember telah kita masuki dan sebentar lagi seluruh umat Kristen di seluruh dunia akan merayakan Hari Kelahiran Kristus di dunia, yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Memang tidak ada sesuatu yang "magic" ketika kita merayakan hari lahir Kristus, bahkan tanggal kelahiran-Nya pun kemungkinan besar bukan tanggal 25 dan bukan bulan Desember.... Namun, ada sesuatu yang sangat amat penting tentang Kristus sehingga hari kelahiran-Nya perlu dirayakan dan menjadi tonggak iman bagi umat Kristen, tidak peduli tanggal berapa dan bulan apa Ia dilahirkan.

Banyak orang Kristen mungkin hanya mengenal dan mengagungkan Kristus karena kelahiran-Nya yang ajaib sebagai Juruselamat. Rasa sukacita muncul ketika kita menyebut Nama-Nya, khususnya pada hari Natal. Tapi banyakkah di antara kita yang memiliki rasa hormat yang tinggi kepada Kristus, bukan hanya karena Dia adalah Juruselamat, tetapi juga karena Dia adalah Pencipta, Pemelihara, Raja dan Hakim yang Mahatinggi, Tuhan yang memiliki seluruh alam semesta ini, serta pusat dari segala sesuatu di dalam hidup kita dan di luar hidup kita? Sejauh manakah kita telah mengagungkan Kristus?

Perayaan Natal sesungguhnya adalah peristiwa sangat penting bagi orang Kristen. Tapi mengapa orang Kristen sering gagal menangkap makna Natal? Apakah karena Natal sekarang ini terlalu banyak dibungkus dengan berbagai keramaian acara yang meniru dunia "showbiz" dan juga makan-makan dan dekorasi yang mengalihkan perhatian kita justru pada hal-hal yang serba non-esensial?

Kita gagal menangkap makna Natal karena kita gagal meletakkan Kristus sebagai pusat dari segala-galanya. Oleh karena itu, marilah pada perayaan Natal tahun ini, kita memberikan hormat yang setinggi- tingginya kepada Kristus, karena "Kristus adalah segala-galanya..." (BIS, Kol. 3:11). Artikel yang Anda akan baca di bawah ini kiranya dapat menolong kita semua memahami betapa luar biasanya Kristus, dan biarlah kita merayakan Natal dengan pikiran yang benar tentang Dia yang Mahatinggi sehingga kita tidak kehilangan esensi dari perayaan Natal yang sesungguhnya; sehingga kita juga tidak kehilangan esensi dari hidup Kristen yang sesungguhnya.

"Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia" (Yoh. 5:23).

Pada kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan "Selamat Hari Natal" kepada para sahabat dan pembaca e-Reformed semua! Biarlah segala kemuliaan adalah bagi Dia, Raja di atas segala raja.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
J.C. Ryle
Edisi: 
068/XI/2005
Isi: 
"Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu"
(Kol. 3:11b)

Kata-kata dalam pernyataan ini sedikit, ringkas, dan cepat selesai bila diucapkan. Tetapi kata-kata ini penuh makna bagi orang percaya sejati. Kata-kata ini merupakan dasar dan intisari dari Kekristenan. Jika kita memahaminya dalam hati kita, maka kita boleh yakin bahwa iman kita sedang memimpin kita ke arah yang benar. Itulah sebabnya saya ingin membahas pernyataan yang luar biasa ini. Barangsiapa mengejar kekudusan tidak akan mengalami kemajuan, kecuali Kristus diberi tempat yang benar dalam pikiran mereka.

  1. Marilah kita memahami bahwa Kristus ada di dalam keseluruhan pikiran Allah mengenai manusia
    1. Ada suatu masa ketika dunia ini tidak ada. Tidak ada gunung- gunung, lautan, dan bintang-bintang. Tidak ada makhluk hidup, tidak ada manusia. Di mana Kristus saat itu? Saat itu Kristus ada bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah dan setara dengan Allah (Yoh. 1:1; Flp. 2:6). Yesus berbicara tentang kemuliaan yang Ia miliki sebelum dunia ada, "Ya Bapa, permuliakanlah Aku ... dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada" (Yoh. 17:5). Dan bahkan saat itu pun Kristus adalah Juruselamat -- Petrus menulis bahwa kita ditebus "... dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan" (1Ptr. 1:19-20).

    2. Ada suatu masa ketika dunia diciptakan dalam bentuknya yang sekarang ini. Matahari, bulan, bintang, laut, daratan, dan semua makhluk diciptakan - dan yang terakhir dari semuanya ialah Adam, manusia pertama, yang dibentuk dari debu tanah. Di mana Kristus saat itu? Bacalah apa yang dikatakan Alkitab: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3). Dan di kemudian hari Paulus menulis, "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi" (Kol. 1:16). Ibrani 1:10 berbunyi, "Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu." Oleh sebab itu, apakah Anda heran kalau Tuhan senantiasa mengajarkan pelajaran-pelajaran yang diambil dari dunia alam? Ketika berbicara tentang domba, ikan, burung, gandum, pohon ara, dan pokok anggur, Ia sedang berbicara tentang benda-benda yang telah Ia ciptakan sendiri!

    3. Ada suatu hari ketika dosa masuk ke dalam dunia melalui ketidaktaatan Adam dan Hawa. Mereka kehilangan natur kudus yang mereka miliki pada saat mereka diciptakan. Mereka kehilangan persahabatan dan dukungan Allah, dan menjadi pendosa-pendosa yang rusak dan tidak berdaya. Dosa mereka menjadi penghalang antara mereka sendiri dan Bapa sorgawi mereka. Jika Ia memperlakukan mereka sesuai dengan apa yang patut mereka terima maka tidak ada yang bisa diharapkan oleh manusia keturunan mereka kecuali maut dan neraka kekal. Di mana Kristus saat itu?

      Pada hari itu juga Kristus dinyatakan sebagai satu-satunya pengharapan keselamatan bagi orang-orang berdosa. Allah berkata kepada ular itu, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kej. 3:15). Dengan kata lain, seorang Juruselamat yang dilahirkan dari seorang perempuan akan mengalahkan Iblis. Tidak pernah ada nama lain yang dikenal yang melakukan hal ini selain nama Yesus Kristus.

    4. Ada suatu masa ketika bangsa-bangsa di bumi tidak mengindahkan Allah. Bangsa-bangsa Mesir, Siria, Persia, Yunani, dan Romawi, semuanya tenggelam dalam dunia takhayul dan penyembahan berhala. Para penyair, sejarawan, dan filsuf, semuanya menunjukkan bahwa dengan segenap kekuatan intelektual mereka, mereka tidak dapat menemukan Allah yang sejati. "Dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya" (1Kor. 1:21). Kecuali sebagian orang Yahudi, seluruh dunia mati secara rohani dalam kebebalan dan dosa. Apa yang dilakukan Kristus saat itu?

      Ia meninggalkan kemuliaan kekal yang Ia miliki bersama Allah Bapa dan datang ke dunia yang durhaka ini untuk menyediakan jalan keselamatan bagi para pendosa semacam itu. Ia mengambil bagi diri-Nya natur manusiawi kita dan dilahirkan sebagai manusia. Sebagai manusia, Ia melakukan kehendak Bapa-Nya dengan sempurna, dan inilah yang seharusnya kita lakukan tetapi tidak mampu kita lakukan karena dosa kita. Di atas salib Ia menanggung murka Allah yang seharusnya kita tanggung. Dan dengan demikian, Ia membawa ke dalam dunia kebenaran-Nya sendiri, yang melaluinya sekarang Ia dapat menebus orang-orang berdosa. "Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita" (Rm. 4:25). Ia naik ke sorga supaya kembali bersama-sama dengan Bapa-Nya, dan dari sana Ia sekarang menganugerahkan keselamatan kepada semua orang yang mau datang kepada-Nya dalam penyerahan diri yang sederhana dan penuh iman.

    5. Akan tiba saatnya ketika dosa akan disingkirkan dari dunia ini. Akan ada langit dan bumi yang baru. "Seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yes. 11:9). Dan di mana Kristus saat itu? Apa yang akan Ia kerjakan? Ia akan menjadi Raja! Ia akan datang kembali dengan kuasa dan kemuliaan besar dan dunia akan menjadi kerajaan-Nya. Di hadapan-Nya semua lutut akan bertelut dan semua lidah akan mengaku bahwa Ia adalah Tuhan. Kerajaan-Nya akan menjadi kerajaan yang kekal, yang tidak akan pernah berlalu atau dihancurkan. Seluruh bumi akan menjadi milik-Nya! Lihat apa yang dikatakan Alkitab sehubungan dengan masa yang menakjubkan ini: Mazmur 2:8; Daniel 7:14; Matius 24:30; Filipi 2:10-11; Wahyu 11:15.

    6. Akan tiba saatnya ketika seluruh umat manusia akan dihakimi. Laut akan menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, maut dan kerajaan maut akan menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya; dan mereka akan dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Dan di mana Kristus saat itu? Kristus sendiri akan menjadi Hakim! "Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat" (2Kor. 5:10).

      Sesungguhnya kita melakukan yang baik jika kita memikirkan perkara-perkara ini. Barangsiapa berpikiran remeh tentang Kristus, ia berpikiran sangat berbeda dengan Allah Bapa! Dalam keseluruhan pikiran Allah tentang masalah-masalah dunia ini dan manusia di dalamnya, Kristus diberi tempat terhormat. Berpikiran remeh tentang-Nya berarti menghina Pribadi yang sangat dijunjung tinggi oleh Allah. Tidak mengherankan jika kita membaca, "Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia" (Yoh. 5:23).

  2. Marilah kita memahami bahwa Kristus ada di dalam semua kitab yang membentuk Alkitab

    Kristus ditemukan di dalam semua kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru - kurang jelas dalam kitab-kitab permulaan, lebih jelas dalam kitab-kitab yang di tengah, dan secara lengkap dalam kitab-kitab yang terakhir - namun secara nyata dan terus terang Ia ditemukan di mana-mana. Pengorbanan Kristus di atas salib dan kerajaan-Nya adalah hal-hal yang harus kita ingat bila membaca bagian mana pun dari Kitab Suci. Dialah yang menjadi kunci untuk memahami banyak bagian yang sukar di dalam Alkitab. Mari saya tunjukkan kepada Anda apa yang saya maksud:

    1. Pengorbanan dan penyaliban Kristuslah yang digambarkan dalam korban-korban binatang sembelihan di Perjanjian Lama. Korban- korban itu menunjukkan bagaimana korban pengganti bagi orang berdosa dapat menghapuskan dosa melalui penumpahan darah; "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr. 9:22). Ingatlah juga perkataan Yesus yang penting, "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Mat. 26:28).

    2. Pengorbanan Kristuslah yang digambarkan Habel ketika ia mempersembahkan korban yang lebih baik daripada Kain, saudaranya (Kej. 4). Dalam mempersembahkan seekor binatang dari kawanan ternak gembalaannya sebagai pengganti dirinya sendiri, Habel menunjukkan bahwa ia memahami bahwasanya tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

    3. Kristuslah yang dinubuatkan Henokh selama merajalelanya kejahatan dahsyat manusia sebelum air bah pada zaman Nuh, ketika ia berkata, "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang" (Yud. 1:14-15).

    4. Kristuslah yang dipikirkan Abraham ketika ia mempercayai janji Allah bahwa melalui salah satu keturunannya semua bangsa akan diberkati. Seperti yang Tuhan Yesus katakan kepada orang-orang Yahudi, "Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari- Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita" (Yoh. 8:56).

    5. Kristuslah yang dibicarakan Yakub kepada anak-anaknya ketika menjelang ajal ia menubuatkan, "Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa" (Kej. 49:10).

    6. Semua upacara yang berkaitan dengan hukum Taurat yang Allah berikan kepada bangsa Israel dirancang untuk mengajar mereka tentang karya Kristus, Mesias yang akan datang itu. Korban- korban pagi dan petang, penumpahan darah yang terus-menerus, perabot kemah suci, imam besar, pasah (Passover), hari pendamaian, kambing Azazel - semua ini adalah gambaran tentang Kristus dan karya-Nya.

    7. Semua mujizat yang setiap hari terjadi di hadapan bangsa Israel di padang gurun ketika mereka meninggalkan Mesir adalah gambaran tentang karya Kristus. Tiang awan dan tiang api yang menuntun, manna dari sorga, air dari gunung batu, ular tembaga yang bila dipandang akan menghindarkan orang dari kematian akibat gigitan ular-ular tedung berbisa - semua ini dan banyak yang lain dimaksudkan untuk mengajarkan tentang natur pelayanan Kristus (1Kor. 10:4).

    8. Kristuslah yang dicontohkan dalam diri para hakim, karena mereka diangkat agar menjadi juruselamat bagi orang-orang yang dalam kesesakan.

    9. Kristuslah yang digambarkan dalam diri Daud. Daud dipilih menjadi raja padahal hanya sedikit orang yang menyegani dan menghormatinya; ia dihina dan dianiaya oleh banyak orang dari bangsanya sendiri, namun pada akhirnya ia menjadi raja besar dan penuh kemenangan - semua ini mengingatkan kita pada Kristus.

    10. Kristuslah yang dibicarakan semua nabi, mulai dari Yesaya sampai Maleakhi. Kadang-kadang mereka berbicara tentang penderitaan- Nya, kadang-kadang kemuliaan-Nya. Kadang-kadang mereka diilhami untuk berbicara tentang kedatangan-Nya yang pertama dalam kerendahan hati, kadang-kadang tentang kemuliaan kedatangan-Nya yang kedua. Kadangkala mereka melihat kedua kedatangan-Nya dan membicarakannya seolah-olah keduanya itu satu, tetapi Kristuslah yang selalu ada dalam pikiran mereka.

    11. Perjanjian Baru penuh dengan Kristus. Kitab-kitab Injil berbicara tentang kehidupan-Nya di tengah-tengah umat-Nya; Kisah Para Rasul berbicara tentang Kristus yang diberitakan oleh orang-orang percaya mula-mula; Surat-surat para rasul memberikan penjelasan yang teliti tentang pengajaran-pengajaran Kristus, kitab Wahyu menjelaskan tentang akhir dari semuanya, ke mana Kristus akan membawa segala sesuatu.

      Kapan saja Anda mempelajari Alkitab, saya mendesak Anda untuk mengingat bahwa Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu!

  3. Marilah kita memahami bahwa Kristus ada di dalam semua pengalaman religius semua orang Kristen sejati

    Dengan mengatakan ini saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kebenaran-kebenaran Alkitab lainnya seperti doktrin Trinitas, doktrin pemilihan Allah Bapa atas umat-Nya, atau doktrin Roh Kudus yang menguduskan umat Allah tidak penting. Saya sungguh yakin bahwa saat sampai di sorga setiap orang percaya akan memuji dan memegahkan tiga Pribadi dalam diri Allah, yakni Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

    Walaupun begitu, saya melihat bukti yang jelas dalam Kitab Suci bahwa Allah memaksudkan agar Kristus khususnya menangani masalah penyelamatan manusia. Kelahiran dan kematian-Nya adalah dasar dari keselamatan yang sepenuhnya. Kristus adalah jalan dan pintu yang melaluinya semua orang percaya harus datang kepada Allah. Paulus menulis kepada orang percaya di Kolose, "Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia [Kristus]" (Kol. 1:19). Matahari memiliki arti bagi langit kita, begitu pula Kristus bagi Kekristenan.

    1. Kristus adalah semua dalam pembenaran orang berdosa di hadapan Allah. Bagaimanakah kita dapat diterima di hadapan Allah? Bukan karena apa pun yang pernah kita lakukan! Kita semua bersalah dalam hal melanggar hukum-hukum Allah. Jadi, bagaimana kita dapat mendekati Allah? Kita bisa datang kepada-Nya hanya dalam nama Yesus, sembari menyatakan bahwa Ia mati bagi orang-orang durhaka dan bahwa kita mempercayai-Nya. Nama Kristus adalah satu-satunya nama, satu-satunya jasa yang melaluinya siapa saja dapat mencapai sorga.

      Jangan pernah kita lupa bahwa Kristus harus menjadi semua bagi siapa pun yang ingin dibenarkan di hadapan Allah. Kita harus puas dengan pergi ke sorga sebagai pengemis-pengemis rohani, yang hanya mengandalkan kasih karunia Allah dan karunia keselamatan-Nya untuk semua orang yang beriman hanya kepada Kristus.

    2. Kristus adalah semua dalam pengudusan orang percaya. Jangan salah mengerti saya bila saya mengatakan hal ini. Saya tidak bermaksud mengecilkan pekerjaan Roh Kudus yang berdiam di dalam diri orang-orang percaya. Tetapi yang saya maksudkan ialah bahwa tidak seorang pun dapat menjadi kudus jika mereka tidak datang terlebih dahulu kepada Kristus dan dipersatukan dengan-Nya oleh iman. Yesus sendiri berkata, "Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:5). Tidak seorang pun dapat bertumbuh dalam kekudusan kecuali mereka menjadi satu dengan Kristus.

    3. Kristus adalah semua dalam memberikan penghiburan bagi orang- orang percaya dalam kehidupan ini. Orang percaya mempunyai dukacita mereka sendiri sama seperti orang lain. Mereka mempunyai tubuh yang sama lemahnya seperti orang lain. Mereka mempunyai natur yang sensitif, barangkali lebih sensitif daripada banyak orang lainnya. Mereka harus menanggung kesedihan karena kematian, melawan pola pikir dunia, menjalani kehidupan yang tak bercela. Mereka kerap dianiaya, dan sama seperti orang lainnya, mereka harus mati. Tetapi orang-orang Kristen semacam ini mempunyai suatu penghiburan yang besar; "dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih" (Flp. 2:1). Kristus adalah sahabat yang lebih dekat daripada seorang saudara kandung; hanya Dia yang dapat menghibur umat-Nya. Bagaimana orang percaya menanggung kesusahan-kesusahan hidup kelihatan luar biasa, tetapi alasan di balik semuanya itu adalah bahwa Kristus memberi penghiburan yang luar biasa.

    4. Kristus adalah semua dalam pengharapan orang Kristen tentang masa depan. Hampir semua orang mempunyai harapan-harapan pribadi untuk masa depan. Tetapi kebanyakan harapan itu tidak mempunyai dasar yang kuat. Orang yang tidak percaya tidak mempunyai kepastian tentang harapan di masa depan. Harapan orang Kristen untuk masa depan didasarkan pada fakta bahwa Yesus Kristus akan datang kembali - datang kembali untuk mengumpulkan semua keluarga-Nya agar mereka bersama-sama dengan Dia untuk selamanya. Oleh karenanya, orang percaya mampu menunggu masa depan mereka dengan sabar. Mereka dapat menanggung berbagai kesukaran tanpa bersungut-sungut sebab mereka sedang menunggu kedatangan Tuhan kembali dengan pengetahuan yang pasti.

      Sekarang orang percaya dapat menjadi moderat dalam segala perkara sebab mereka tahu bahwa harta mereka ada di sorga, hal- hal yang terbaik bagi mereka masih akan datang! Dunia ini bukan tempat perhentian kita, melainkan sebuah hotel. Hotel bukan rumah. Kristus akan datang, sorga akan datang - dan itu sudah cukup. "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku" (Mzm. 62:6).

  4. Marilah kita memahami bahwa Kristus adalah semua di sorga

    Tidak mudah untuk berbicara tentang pokok bahasan ini, karena saya tidak bisa bicara banyak tentang suatu dunia yang tidak terlihat dan tidak dikenal, seperti sorga! Tetapi inilah yang saya tahu, bahwa semua orang yang mencapai sorga akan menemukan bahwa di sana pun Kristus adalah semua.

    Seperti mezbah di Kemah Suci dan Bait Allah di Perjanjian Lama, luka-luka Kristus yang disalib akan menjadi objek puji-pujian yang besar di sorga. Di tengah-tengah takhta Allah akan ada Dia yang menyerupai "Anak Domba seperti telah disembelih" (Why. 5:6). Nyanyian semua penghuni sorga adalah, "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Why. 5:12).

    Kehadiran Kristus di sorga adalah semua. Kita akan melihat wajah- Nya, mendengar suara-Nya, dan berbicara dengan-Nya seperti sahabat dengan sahabat. Kehadiran-Nya akan memuaskan semua kebutuhan kita. Melayani Tuhan Yesus Kristus akan menjadi pekerjaan abadi bagi penghuni sorga. Pada akhirnya, orang-orang percaya akan dapat bekerja bagi-Nya tanpa gangguan dan melayani Dia tanpa merasa lelah.

    Betapa sorga akan menjadi tempat yang manis dan mulia bagi mereka yang telah mengasihi Tuhan Yesus selagi mereka masih berada di bumi. Tetapi yang menyedihkan adalah ada banyak orang yang berbicara tentang kepergian menuju sorga bila mereka meninggal, tetapi tidak mempunyai hubungan yang benar dengan Kristus. Di dunia, mereka tidak menghormati-Nya, jadi apa yang akan mereka lakukan di sorga? Di dunia, mereka tidak mempunyai persekutuan dengan-Nya, jadi apa yang akan mereka lakukan di sorga? Di dunia, mereka tidak menikmati perkara-perkara rohani, jadi bagaimana mereka bisa mendapatkan sukacita di sorga?

Saya harap saya telah mulai menunjukkan kepada Anda betapa dalamnya makna yang ada dalam frasa "Kristus adalah semua." Ada lebih banyak lagi yang semestinya bisa saya katakan. Misalnya, Kristus seharusnya adalah semua dalam kehidupan dan ibadah semua gereja Kristen. Upacara- upacara yang semarak, gedung-gedung yang indah, jajaran hamba Tuhan yang profesional, semua ini tidak ada artinya jika Tuhan Yesus tidak diberi penghormatan yang tertinggi. Gereja di mana Kristus bukan semua hanyalah menjadi kerangka yang mati.

Saya dapat menegaskan bahwa Kristus seharusnya adalah semua dalam pengajaran seluruh pelayanan Kristiani. Para pengkhotbah dan guru Kristen harus menjadi duta-duta yang membawa berita tentang Anak Allah kepada dunia yang tidak percaya, dan jika mereka mengajar orang untuk memikirkan lebih banyak hal yang lain selain Anak Allah, maka mereka tidak cocok menjadi pengkhotbah dan guru Kristen. Allah tidak akan pernah menghormati suatu pelayanan yang tidak mengajarkan bahwa Kristus adalah semua.

Saya pun dapat menunjukkan betapa Alkitab tampaknya menghabiskan bahasa dalam menggambarkan semua pelayanan Tuhan Yesus yang beraneka ragam. Imam Besar, Pengantara, Penebus, Juruselamat, Pembuka Jalan, Jaminan, Panglima, Sang Amin, Yang Mahakuasa, Allah yang Perkasa, Penasihat - semua ini dan masih banyak lagi adalah sebutan yang diberikan kepada Kristus dalam Kitab Suci. Cara-cara yang menggambarkan kepenuhan Kristus ini kelihatannya hampir tidak ada habis-habisnya!

Apakah Kristus adalah semua bagi Anda, hai pembaca? Jika tidak, maka belajarlah dari apa yang telah saya katakan di sini bahwa iman kepercayaan tanpa Kristus itu sama sekali tidak ada gunanya. Apakah Kristus adalah semua bagi Anda? Jika tidak, maka belajarlah dari apa yang telah saya katakan di sini bahwa sama sekali tidak ada gunanya untuk berusaha menambahkan apa pun pada apa yang telah Kristus kerjakan bagi keselamatan orang-orang berdosa. Anda jangan pernah berpikir bahwa keselamatan ialah oleh Kristus ditambah dengan sesuatu yang telah Anda kerjakan. Hal itu berarti mengubah rencana keselamatan Allah yang di dalamnya Kristus adalah semua.

Apakah Kristus adalah segala bagi Anda? Jika tidak, maka langsunglah berhubungan dengan Kristus sekarang! Hanya memandang sekoci penyelamat tidak akan menyelamatkan pelaut yang mengalami karam kapal, kecuali ia benar-benar masuk ke dalamnya. Hanya memandang roti tidak akan menyelamatkan orang dari kelaparan kecuali ia sungguh-sungguh memakannya. Demikian juga, yang akan menyelamatkan Anda bukan pengetahuan tentang Kristus, atau bahkan kepercayaan Anda bahwa Ia seorang Juruselamat, tetapi harus ada transaksi yang sebenarnya antara Anda dan Dia, yaitu dengan sengaja Anda mengikatkan diri kepada-Nya. Anda harus dapat berkata, "Kristus adalah Juruselamat saya, karena saya telah datang kepada-Nya dengan rasa percaya dan iman dan telah mengambil Dia sebagai milik saya."

Martin Luther berkata, "Ternyata dalam Kekristenan banyak digunakan kata ganti milik. Ambillah kata "ku" (my) dari saya, maka Anda telah mengambil Allah-ku!" Marilah kita hidup bergantung pada Kristus. Marilah kita hidup bersama Kristus. Marilah kita hidup mengarah pada Kristus. Dengan berbuat demikian, kita akan mencapai damai sejahtera yang besar dan membuktikan bahwa "tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan" (Ibr. 12:14).

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Aspek-aspek Kekudusan
Judul Artikel : -
Penulis : J.C. Ryle
Penerjemah : -
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2003
Halaman : 149 - 160

Sola Fides Justificate

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Di tengah-tengah gencarnya arus pengajaran gereja yang hanya menggembar-gemborkan tentang "berkat-berkat" Tuhan, mari kita duduk diam untuk merenungkan, apakah inti iman Kristen sebenarnya?

Sangat disayangkan banyak gereja, termasuk jemaatnya, yang saat ini terlena dalam penyesatan zaman. Secara perlahan tapi pasti, pijakan gereja beralih dari "Batu Karang" yang teguh dan keras, kepada pijakan yang lebih empuk dan enak, yaitu kenikmatan dunia yang terselubung dalam pameran karunia-karunia rohani dan berkat-berkat rohani.

Alangkah enaknya mendengar khotbah-khotbah yang menghibur bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan berharga, bahwa dosa itu hal yang kecil yang bisa diatasi cukup dengan meminta doa dari para pengkhotbah terkenal, dan sekarang kita berhak hidup dengan sebebas-bebasnya menikmati semua berkat-berkat Tuhan?

Kapan terakhir kali Anda mendengar khotbah pendeta gereja Anda yang membuka borok-borok hati kita yang penuh kenajisan dan dosa-dosa yang tersembunyi? Kapan terakhir kali Anda mendengar bahwa manusia pada dasarnya adalah durhaka dan patut dimurkai Allah? Kapan Anda mendengar khotbah yang mengatakan bahwa Anda tidak lagi memiliki hak atas hidup Anda, tetapi Kristus?

Apa yang sebenarnya menjadi inti iman Kristen kita? Bukankah pada kasih Allah yang besar sehingga manusia yang seharusnya dibuang ke dalam hukuman kekal, sekarang mendapat anugerah pengampunan dosa dalam Yesus Kristus? Bahwa hidup yang dulu bagi diri sendiri, sekarang hidup hanya bagi Dia dan kesukaan Dia?

Tepat tanggal 31 Oktober ini umat Kristen akan memperingati hari yang sangat bersejarah bagi gereja, yaitu Hari Reformasi Gereja. Untuk itu saya hadirkan sebuah artikel tulisan Pak Paul Hidayat, ketua Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA), yang sangat bagus untuk kita renungkan bersama. Saya harap menjadi berkat bagi kita semua.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Paul Hidayat
Edisi: 
067/X/2005
Isi: 

Pertanyaan: "Bagaimanakah Anda dibenarkan di hadapan Allah?" Jawab: "Hanya oleh iman yang sejati kepada Yesus Kristus sehingga, walaupun setahu hati saya mengemukakan tuduhan, bahwa saya berdosa sekali terhadap segala Firman Allah, dan tidak ada yang saya taati, dan bahwa saya masih tetap cenderung kepada segala macam kejahatan, namun Allah, dengan tak ada jasa barang apapun dari pihak saya, tetapi semata-mata karena anugerah saja, memberikan dan menghitungkan kepada saya penggantian dan pelunasan yang sempurna, kebenaran dan kesucian dari Kristus, seolah-olah saya belum pernah berdosa atau berbuat dosa, bahkan seolah-olah saya sendirilah mengerjakan, jikalah saya menerima kebajikan itu dengan hati yang percaya."

(Katekismus Heidelberg: Pertanyaan 60)

Bulan Oktober bagi orang Kristen Protestan adalah bulan bersejarah. Bila bangsa kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila tiap 1 Oktober, gereja-gereja Protestan memperingati Hari Reformasi, yaitu hari kemenangan Firman Injil kebenaran tiap tanggal 31 Oktober. Di hari itulah, pada tahun 1517, Martin Luther dengan berani telah menempelkan 95 pernyataan teologis yang tanpa dimaksudkannya semula telah mengobarkan api reformasi. Reformasi adalah suatu revolusi teologis dan spiritual. Bila kita membandingkannya dengan revolusi Copernicus yang menemukan tempat di bumi sesungguhnya sebagai satelit matahari; Reformasi mengakui kedudukan manusia sesungguhnya yang harus bergantung penuh pada kemurahan dan anugerah Allah.

Pergumulan Martin Luther

Sesudah beralih studi dari hukum ke teologi karena suatu peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawanya, Martin Luther banyak dibimbing oleh seorang profesor teologi dari ordo Agustinian bernama Johann Staupitz. Meskipun Luther adalah seorang biarawan yang taat, namun ia banyak bergumul tentang dosa-dosanya. Dalam terang Roma 1:17 yang diartikannya sebagai pernyataan keadilan Allah, dia hanya mampu melihat dirinya sebagai orang yang tidak mungkin mencapai standar kebenaran Allah. Dia hanyalah seorang berdosa yang harus dimurkai Allah.

Sesuai dengan ajaran gereja pada waktu itu, Luther berusaha memperoleh anugerah Allah dengan berdoa, berpuasa, berjaga dalam doa semalam suntuk, melakukan berbagai perbuatan kebajikan. Namun, dalam tulisan-tulisannya terbaca bahwa pada saat yang sama jiwanya tetap merana, seolah sedang menenggak hukuman kekal Allah.

Karena itu, berulangkali ia menjumpai mentor teologis dan spiritualnya: Johann Staupitz, mengakui dosa-dosanya. Seringkali ia memerlukan waktu berjam-jam, mengakui dosa di hadapan Staupitz. Yang diakuinya itu kebanyakan adalah hal-hal yang timbul dalam hati dan angan-angannya. Seringkali sesudah satu sesi pengakuan dosa selesai, ia kembali lagi kepada Staupitz untuk mengakui hal yang teringat dan belum diakuinya. Itu sebabnya pada suatu kesempatan Staupitz mengatakan demikian: "Saudara Martin, jika begitu banyak hal yang ingin kauakui, mengapa tidak kau buat sesuatu yang nyata yang memang patut untuk diakui? Bunuhlah ayah atau ibumu. Berzinahlah. Jangan lagi bolak-balik ke sini hanya mengakui dosa-dosa yang hanya merupakan angan-angan dan semu belaka!"

Ucapan itu tentu tidak dimaksudkan Staupitz secara harafiah. Namun, ucapan itu membuat Martin Luther menggumuli dosa bukan saja secara pribadi, melainkan juga secara teologis, dalam kadar sangat dalam yang mungkin tak seorang pun pernah menggumulinya sedalam itu. Pada saat itu ajaran gereja menganggap dosa sebagai penyimpangan, atau penyakit, atau kelemahan. Dengan kata lain, dosa adalah ketidakberdayaan moral. Padahal, ajaran gereja saat itu juga mengatakan bahwa secara kodrati manusia masih memiliki kemampuan budi pekerti, intelektual, moral yang baik yang dapat dikembangkan untuk mengupayakan anugerah Allah. Jelas dua posisi teologis yang bertentangan ini yang membuat orang semacam Luther mengalami frustrasi yang berat. Tambahan, ajaran tentang anugerah pun tidak memberinya jalan keluar. Allah memang memberikan pengampunan aktual, yaitu mengampuni dosa-dosa aktual. Tetapi anugerah pengampunan dosa-dosa aktual itu harus dilengkapi dengan anugerah untuk dosa-dosa habitual yang ditanamkan ke dalam manusia untuk mengubah kecenderungan hatinya. Anugerah habitual itu harus diusahakan. Jelas semakin berat saja tindihan di hati Luther. Bagaimana mungkin orang yang dibuat tidak berdaya oleh dosa berupaya untuk beroleh anugerah dengan usahanya sendiri?

Puncak kegelapan jiwa Luther dialaminya ketika ia menyadari bahwa dosa bukan saja kelemahan, tetapi yang ada di hatinya itu juga diinginkannya sebab itu adalah sifat berontak dirinya yang terdalam melawan kehendak Allah. Dalam kegelapan itu, Luther membuat suatu pernyataan penting: "Jika ada orang yang sungguh merasakan besarnya dosanya, ia tidak mungkin lagi sesaat pun melanjutkan hidupnya. Alangkah besar dan berkuasanya dosa!"

Terang Firman Tuhan

Selain dibimbing oleh Staupitz dan banyak membaca buku-buku rohani, terang yang mengenyahkan kegelapan hatinya itu terbit ketika ia mulai menafsirkan Kitab Mazmur dan kemudian Kitab Roma. Dalam perspektif Mazmur, dilihatnya bahwa Daud beroleh anugerah dan pengampunan bukan karena usahanya untuk mengubah kondisi hidupnya, melainkan karena Allah tidak memperhitungkan dosa-dosanya itu kepadanya. Pembenaran bukan seperti pernyataan dokter yang memeriksa pasiennya dan menemukan bahwa kondisi pasien itu sehat-sehat saja. Pembenaran lebih tepat diumpamakan sebagai pernyataan seorang hakim yang menyatakan seorang terdakwa bebas dari hukuman karena dinyatakan tidak bersalah. Pernyataan Allah yang membebaskan seseorang dari salah itu tidak didasarkan atas usaha atau kondisi manusia, tetapi atas hidup dan karya Yesus Kristus yang diimani oleh orang bersangkutan.

Itu sebabnya, reformasi dikenal dengan slogan-slogan teologis penting: Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura. Keselamatan hanya karena iman berdasarkan anugerah semata. Kebenaran penting yang membangkitkan kehidupan penuh syukur dan bebas untuk hidup benar itu dialami karena Martin Luther mempersilakan Allah berbicara kepadanya melalui Alkitab. Di dasar terdalam semua prinsip penting itu adalah Kristus saja: Solo Christo!

Iman yang hidup

Reformasi meletakkan anugerah Allah dalam Yesus Kristus sebagai pusat pengharapan untuk manusia. Tetapi, pemberian Allah yang tanpa syarat itu yang berkhasiat untuk menyelamatkan siapa saja, hanya akan bermanfaat bagi orang yang beriman kepada Kristus.

Luther melihat iman sesuai yang Firman Allah ajarkan. Tidak cukup beriman bahwa Kristus untuk Petrus, untuk Paulus, dan lain sebagainya. Tidak cukup beriman tentang fakta-fakta sejarah kehidupan dan perbuatan Yesus Kristus. Iman itu harus merupakan langkah yang melaluinya seseorang percaya masuk dalam relasi yang hidup: "Kristus untukku, untuk kita": Christo pro me, pro nobis! Iman yang merupakan uluran tangan menyambut uluran tangan Allah itu harus bersifat fiducia, sikap mempercayakan diri penuh terhadap janji-janji Allah dalam Firman Injil dan pada realitas sifat Allah yang membuat janji- janji-Nya patut dipercayai. Luther juga melihat iman seumpama tindakan seorang wanita menerima cincin pernikahan dari suaminya, suatu ungkapan komitmen dan persekutuan hidup timbal-balik yang dinamis.

Bebas untuk Allah

Luther melihat dengan jelas bahwa di dalam dirinya sendiri manusia sejati (dalam tulisannya: The Freedom of a Christian), ia merdeka dari murka Allah. Kemerdekaan itu memungkinkan orang tidak lagi hidup di sekitar poros keakuannya yang berdosa, tetapi di sekitar poros anugerah Allah dalam Yesus Kristus, suatu hidup yang penuh dengan kegembiraan karena keselamatan, penuh dengan suasana syukur yang pada waktu berikutnya mendorong orang untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan.

Prinsip-prinsip penting reformasi ini patut kita hayati ulang secara segar dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang direguk dalam suasana iman. Orang benar akan hidup dari iman kepada iman. Hanya bila kita sudah mengalami anugerah Allah yang membenarkan diri kita, kita dimungkinkan hidup bagi Allah, bebas bagi Dia. Bahkan, iman dan semua perbuatan baik kita pun adalah akibat dari bekerjanya anugerah Allah itu dalam diri kita.

Sumber: 

Bahan di atas diambil dari sumber:

Judul buku : Menerbangi Terowongan Cahaya
Penulis : Paul Hidayat
Penerbit : PPA, Jakarta, 2002
Hal : 29 - 33

Kitab Suci: Perkataan Manusia, Mitos atau Firman Tuhan?

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Senang bisa berjumpa lagi di awal bulan Oktober ini.

Posting saya kali ini adalah artikel yang saya ambil dari salah satu situs dari orang Malaysia, tepatnya sebuah blog, milik "bobjots".

Seperti biasanya, Pdt. Dr. Stephen Tong tidak menulis sendiri tulisan -tulisannya, tapi ini adalah transkrip dari seminarnya atau khotbahnya. Namun metode apapun yang dipakai untuk menyajikan artikel ini tidaklah mengubah kualitas isinya, yang padat berisi.

Salah satu serangan yang paling gencar ditujukan untuk menjatuhkan orang Kristen adalah mencari kelemahan Alkitab; baik dari keabsahan isinya ataupun dari keautentikan penulisannya. Tulisan di bawah ini seperti amunisi yang siap dipakai manakala serangan dari musuh datang dengan tiba-tiba. Isinya yang sangat jelas dan to the point, membuat pembacanya menyadari bahwa penulisnya bukanlah orang baru, tapi orang yang sudah lama berkecimpung dan menguasai obyek sasaran itu. Pengetahuannya yang sangat luas menolong kita memahami bahwa dia tahu persis apa yang sedang ia bicarakan dan menyadari betul pergumulan apa yang sedang dihadapi pembaca/pendengarnya.

Nah, kalau Anda penasaran ingin mengetahui apa yang dimaksudkan, silakan membaca tulisan beliau di bawah ini dengan teliti.

In Christ,
Yulia
< yulia@in-christ.net >

Penulis: 
Rev. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
066/IX/2005
Isi: 

Jika Kitab Suci bukan Firman Tuhan, lalu perkataan siapakah yang terdapat didalamnya? Kita hanya dapat membuat dua perkiraan, yang satu Kitab Suci adalah perkataan manusia dan yang lain Kitab Suci adalah perkataan setan.

Apakah Kitab Suci merupakan Firman Tuhan? Kita perlu mempertimbangkan beberapa faktor di bawah ini untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kitab Suci ditulis oleh para pengarang dari berbagai masa. Namun demikian tema dan isi utamanya mengandung pemikiran yang sama.

Kitab Suci ditulis oleh kurang lebih 40 pengarang yang berbeda, masing-masing memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Diantaranya terdapat raja-raja seperti Daud dan Salomo, orang biasa seperti Petrus seorang nelayan, atau Amos seorang penggembala. Ada juga ahli militer seperti Joshua dan seorang dokter seperti Lukas. Mereka semua berasal dari waktu dan generasi yang berbeda, sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk bekerja sama dalam menulis Kitab Suci. Meskipun demikian, semua hal yang telah mereka tulis menunjukkan arah dan tema yang sama, yaitu rencana keselamatan dari Tuhan bagi manusia yang berdosa melalui kasih Kristus. Tema yang telah melampaui sejarah ini menggambarkan kehendak Allah yang abadi dan merupakan faktor pemersatu yang ditemukan dalam Kitab Suci.

Bila Anda membuat perbandingan antara Kitab Suci dan sistem teoritis lain yang dibuat manusia, maka Anda akan menemukan bahwa tak satu pun sistem teoritis buatan manusia dapat mempertahankan tema aslinya setelah berpindah tangan melalui 40 pengarang dengan rentang waktu 1600 tahun.

Dari kesatuan Kitab Suci, maka kita dapat diyakinkan bahwa Kitab Suci ditulis oleh Tuhan yang menciptakan dunia, Tuhan yang melampui sejarah, yang telah menggerakkan orang-orang sepanjang sejarah untuk menulis Firman-Nya bagi umat manusia.

Kitab Suci atau kitab tabu?
Apakah Kitab Suci benar-benar suci? Jika demikian, mengapa dalam Kitab Suci terdapat cerita inses tentang Yehuda yang tidur dengan menantu perempuannya? Inikah Kitab Suci ataukah ini kitab tabu? Bayangkan saja ada dua cermin di hadapan Anda, yang satu kotor dan yang satu bersih. Semakin kotor cermin di hadapan Anda, semakin kurang jelas bayangan yang dipantulkan. Sebaliknya, semakin jernih cerminnya, semakin jelas pula bayangan yang dipantulkan. Demikian pula Kitab Suci seperti cermin. Melalui Kitab Suci Allah ingin kita melihat betapa merosotnya umat manusia setelah jatuh dalam dosa dan itulah sifat dosa yang sebenarnya.

Tuhan memerintahkan Musa menuliskan 10 Perintah Allah, salah satunya berbunyi, "Jangan membunuh!". Musa pernah membunuh satu orang sebelumnya. Sehingga merupakan hal yang manusiawi jika Musa mungkin ingin menutupi perbuatannya agar reputasinya tidak tercemar. Namun inilah Firman Tuhan, Tuhan ingin Musa menulisnya. Sehingga tidak ada kesempatan bagi Musa untuk bernegosiasi. Daud adalah orang yang dekat dengan Tuhan, namun ia juga membunuh seseorang sehingga Daud dapat mengambil istri orang tersebut menjadi selirnya. Kejadian ini ditulis dengan jelas dan tepat. Hal ini terjadi sebab Allah yang Kudus ingin menyatakan kemerosotan manusia melalui Firman-Nya.

Apakah ramalan dalam Kitab Suci terpenuhi?
Sebelum kelahiran Yesus Kristus, Kitab Suci telah menubuatkan bahwa Dia akan lahir di Bethlehem. Tidak hanya itu, Kitab Suci juga menubuatkan bahwa dalam kematian-Nya, Ia akan dikuburkan dalam sebuah gua milik orang kaya, bahwa Ia akan disalibkan pada kayu salib, bahwa tangan dan kaki-Nya akan dipaku. Yang lebih menakjubkan, Kitab Suci juga menubuatkan bahwa tak satu pun tulang-Nya yang patah. Dua penjahat yang ikut disalibkan bersama-Nya, kakinya dipatahkan, namun Yesus tidak mengalaminya.

Tidak hanya itu, Kitab Suci juga menubuatkan kejadian-kejadian yang berubah di dunia ini. Misalnya pelabuhan Mediteranian kuno seperti Tirus dan Sidon telah dinubuatkan akan menjadi dua desa kecil yang lemah dimana para nelayan akan menebarkan jalanya. Meskipun Babilonia memiliki benteng kota yang kuat, namun demikian kota ini dinubuatkan akan tertutup pasir dan burung-burung akan bersarang di kota yang telah ditinggalkan tersebut. Semua nubuatan ini tampaknya tidak mungkin, namun semuanya ini benar-benar terjadi. Masih banyak lagi contoh-contoh nubuatan tentang dunia yang dapat ditemukan dalam Kitab Suci.

Yesus pun menubuatkan dalam Kitab Suci bahwa sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali, akan ada kelaparan dan gempa bumi. Sejak abad 14, banyak gempa bumi yang terjadi. Abad 19, gempa bumi yang terjadi lebih banyak apabila dibandingkan dengan gabungan gempa bumi yang terjadi pada abad 17 dan 18. Pada 60 tahun pertama dalam abad 20 jumlah total gempa bumi yang terjadi melampaui jumlah gempa yang terjadi pada abad 19,18, dan 17. Hal ini membuat kita percaya bahwa Yesus akan segera datang.

Apakah Kitab Suci adalah buku paling sempurna di dunia?
Kitab Suci bukanlah buku yang dibuat dari potongan-potongan kejadian dalam sejarah, atau satu koleksi artikel-artikel yang dipilih secara acak. Dilihat dari perspektif struktur sejarahnya dan kelengkapan isinya, Kitab Suci memang buku yang paling sempurna di dunia. Kitab Suci memiliki struktur yang paling baik di antara buku-buku yang ada, selain itu isinya telah memberikan sumbangan besar terhadap hidup dan iman manusia.

Banyak orang yang percaya bahwa Yesus hanyalah seorang petani biasa yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Namun jika kita menganalisa dengan lebih teliti seperti khotbah di gunung, Doa Bapa kami, kita akan menemukan bahwa dari awal sampai akhir, struktur keseluruhan Kitab Suci sangat sempurna sehingga Anda tidak dapat menemukan kesalahan didalamnya.

Sepanjang sejarah manusia, ada banyak orang yang memiliki talenta kepekaan yang kuat dalam struktur, seperti Johan Sebastian Bach. Jika Anda mencoba melihat karyanya yang berjudul `Johannes Passion`, `Mattheus Passion`, `B Minor Mass` atau `Bradenburg Concertos`, dan menganalisanya dengan komputer, Anda akan dapat melihat betapa harmonisnya karya-karya tersebut dan tak satu pun not di dalamnya yang salah tempat. Hal ini disebabkan karena Allah memberikan otak yang sangat khusus kepada Bach. Saat Bach membuat komposisi karya-karyanya, pikirannya sangat cermat sehingga tak satu pun not yang dapat dipindah dengan mudah. Bach memiliki satu proses berpikir yang hampir sempurna, dan dia benar-benar seorang musikus kreatif yang jenius. Jika pada abad 20 ini kita menikmati musiknya, maka kita hanya dapat berpikir bahwa orang sehebat dia pernah ada dalam sejarah kita.

Namun demikian, Bach hanyalah seorang individu, satu kesatuan yang lengkap. Bandingkanlah dengan Kitab Suci yang ditulis oleh 40 pengarang. Bagaimana bisa 40 pengarang ini tidak memiliki perbedaan pendapat tentang apa yang mereka tulis dari awal hingga akhir? Musa menulis 10 Firman Tuhan di padang gurun, Lukas menulis `Kitab Lukas` di zaman kerajaan Roma, dan Raja Daud menulis Mazmur di zaman Israel kuno. Dengan latar belakang sejarah dan proses berpikir yang berbeda, mereka menulis buku yang paling sempurna di dunia tentang iman, penyembahan, dan moral. Tak ada buku yang dapat diperbandingkan dengan Kitab Suci.

Apakah Kitab Suci ketinggalan zaman bagi orang-orang modern?
Meskipun Kitab Suci memiliki keterbatasan sejarah, namun aspek yang luar biasa dari Kitab Suci adalah kualitasnya telah teruji melalui waktu. Inilah sebabnya Allah dapat membawa Anda dalam sukacita yang kekal saat Anda membaca Kitab Suci. Dalam filsafat Cina dikatakan status tertinggi dari manusia adalah kesatuan antara manusia dan surga. Status inilah yang ingin dicapai Confusius, tetapi ia tidak dapat mencapainya. Dengan bimbingan Roh Kudus, Anda dapat bersekutu dengan Bapa di surga melalui Kitab Suci.

Kualitas Kitab Suci yang abadi meyakinkan kita bahwa tidak masalah bagaimana kita memperoleh kemajuan, Kitab Suci tak akan pernah lekang dimakan waktu. Kata-kata Mao Tze Tong dulu dipuja-puja, tetapi sekarang sudah menjadi masa lalu. Bahkan jika kita sendiri telah tertinggal jauh oleh kemajuan teknologi, Kitab Suci tidak pernah menjadi barang antik. Kitab Suci adalah buku yang selalu baru.

Best-seller dunia.
Kitab Suci merupakan Firman Tuhan karena Kitab Suci memiliki kualitas yang tak dapat dipenuhi oleh buku-buku lain. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci dikatakan universal. Kitab Suci adalah Kitab pertama yang bersifat universal. Hal ini disebabkan karena Kitab Suci berisi pesan bagi seluruh umat manusia. Tuhan mengasihi umat manusia di seluruh dunia. Setelah Yesus bangkit dari mati, Ia memerintahkan murid-murid- Nya "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Markus 16:15). Ketika Yesus lahir, Malaikat berkata, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Lukas 2:10). Apakah ada buku lain di dunia ini yang terjual sebanyak Kitab Suci, atau memiliki pembaca sebanyak Kitab Suci? Reader`s Digest, majalah yang paling laris di dunia, telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan memiliki lebih dari 28 juta pembaca yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Namun demikian, bila dibandingkan dengan Reader`s Digest, Kitab Suci diterjemahkan ke dalam lebih dari seribu bahasa dan merupakan buku yang paling laris dengan jumlah pembaca yang paling besar.

Apakah Kitab Suci merupakan buku terbaik bagi sumber inspirasi etika dan budaya?
Kitab Suci merupakan buku yang dapat memberikan inspirasi terbesar bagi pemikiran etika dan budaya. Tak ada buku lain yang dapat menstimulasi kebudayaan manusia sedemikian rupa sebaik Kitab Suci. Kitab Suci tidak hanya memberi inspirasi bagi para penulis, tetapi juga menjadi sumber utama bagi etika dan dasar hukum di berbagai negara. Dalam ruang konferensi dari gedung Konggres, di Washington D.C., tersimpan patung-patung untuk memperingati para ahli di masa lalu. Sebelah kanan atas mimbar tempat Presiden dan Juru Bicara kepresidenan berpidato, Anda akan menemukan tanda mengenai kesukaan terhadap Musa. Mengapa Musa begitu penting? Ini karena hukum Musa menjadi dasar hukum utama di dunia. Hukum Musa adalah dasar bagi etika. Tak ada buku yang dapat mempengaruhi kebudayaan dan kebijaksanaan manusia seperti Kitab Suci. Jika Anda mencoba meneliti bagaimana Kitab Suci mempengaruhi para musikus-musikus dunia, mungkin Anda tak akan pernah mampu menyelesaikan penelitian Anda walaupun Anda telah menghabiskan seluruh hidup Anda untuk melakukan hal ini. Seniman-seniman besar zaman Renaisans seperti Michelangello, Correggio, Leonardo da Vinci, Raphael dan Andrea Palladio, semuanya mendapat inspirasi dari Kitab Suci. Banyak orang dalam bidang-bidang lain termasuk dalam bidang sastra, arsitektur, lukis, musik dan filsafat mendapat inspirasi dari Kitab Suci. Benarlah bila Kitab Suci merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis.

Jika Anda membuka Kitab Suci dan membacanya, Anda akan merasakan bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Suci tersebut tidak masuk akal; ini bukan mitos. Isi Kitab Suci di luar pemahaman manusia dan melampaui budaya-budaya yang ada di dunia ini. Kitab Suci ditulis oleh tangan manusia, seperti halnya pidato presiden yang ditulis oleh sekretarisnya. Jika Anda membacanya dengan penuh kerendahan hati, Anda akan tahu bahwa Kitab Suci bukanlah buku biasa. Kitab Suci adalah Firman Allah, yang menyatakan pada seluruh manusia tentang Kasih Kristus dan harapan bagi semua umat manusia.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : -
Judul Artikel : -
Penulis : -
Penerjemah : -
Penerbit : http://www.bobjots.org/archives/001283.php
Halaman : -

Bimbingan dan Rencana Allah (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Berikut ini adalah Bagian (2) dari posting bulan lalu. Selamat menyimak.

P.S. Bagi Anda yang belum/tidak mendapatkan Bagian (1) dari artikel ini, silakan berkunjung ke arsip Publikasi e-Reformed di alamat:

==> http://www.sabda.org/publikasi/reformed/064/>

In Christ,
Yulia
in-christ.net>

Penulis: 
James C. Petty
Edisi: 
065/VIII/2005
Isi: 

Providensi Allah dalam Keselamatan dan Penghakiman

Di sini kita memasuki area providensi yang paling kudus. Kita akan segera dijadikan rendah hati oleh ketakjuban dan kedahsyatan dari bagian Kitab Suci yang akan kita baca. Jika kita mendekati perikop klasik Alkitab yang berkaitan dengan "predestinasi" dan meyakini pernyataannya yang paling gamblang, maka sangatlah jelas bahwa orang percaya bisa menjadi percaya karena mereka dipilih oleh Allah. Kita memilih Dia karena Dia memilih kita. Berikut adalah beberapa ayat yang mengajarkan hal itu:

"Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." (Efesus 1:5)

"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu ... supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap." (Yohanes 15:16)

"Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.... Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman." (Yohanes 6:37,39)

Di ayat-ayat ini Yesus menyatakan bahwa Allah memberi-Nya sekelompok orang tertentu untuk diselamatkan, dan masing-masing dari mereka akan sungguh-sungguh diselamatkan. Perhatikan bagaimana Yesus menyeimbangkan ajaran-Nya dengan mengatakan bahwa setiap orang yang datang kepada-Nya menginginkan keselamatan akan menemukannya. Ia tidak akan menolak seorang pun. Keselamatan ini bersifat pribadi dan eksklusif, tetapi sekaligus terbuka bagi semua orang. Di sini kembali kita perhatikan paradoks agung itu, yang tercipta oleh cara Allah yang bertingkat dan misterius (bagi kita), memerintah atas ciptaan-Nya. Ia memiliki rencana yang kekal dan tidak mungkin berubah, yang tidak dapat digagalkan oleh apa pun juga, namun Allah dapat menciptakan dunia dengan martabat dan tanggung jawab yang sesungguhnya.

Cara Allah merencanakan dan menggenapi keselamatan untuk umat pilihan- Nya ini tercatat dalam Roma 8:28-30, yang berbunyi demikian:

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil- Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dipermuliakan-Nya."

Seluruh garis waktu keselamatan kita -- sejak sebelum penciptaan hingga pemuliaan berjalan sesuai "rencana Allah". Setiap orang yang dipilih-Nya (bdk. Roma 11:2, yaitu Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya) telah ditentukan, dan setiap orang yang ditentukan akhirnya dipermuliakan. Tidak ada orang yang dapat menyimpang dari sistem ini.

Kitab Roma lebih jauh menyatakan bahwa bahkan mereka yang tidak pernah bertobat dan yang dihakimi karena kebencian mereka terhadap Allah, juga berbuat demikian sesuai rencana Allah, yang telah ditetapkan sebelum penciptaan.

Roma 9:11 berbicara tentang anak-anak Ribka (Yakub dan Esau), "Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan- Nya dikatakan kepada Ribka: `Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,` ... Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau." Paulus kemudian menjelaskan maksud kebenaran ini di ayat 16: "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."

Paulus tidak menyatakan pokok-pokok filsafat yang dapat dipakai oleh pikiran-pikiran yang kreatif sesuka mereka. Tidak, ia menyingkapkan tirai yang ada di ruang tahta Allah supaya kita dapat melihat bahwa keselamatan kita adalah karena anugerah semata, bersumber di dalam kasih Allah yang murni dan pribadi. Sekali lagi, yang dapat kita kerjakan hanyalah menyembah.

Sementara kita merasa begitu sulit untuk mencerna obat keras yang menyembuhkan kesombongan manusia ini, doktrin ini tidak akan terlalu menyulitkan bila kita memakainya di dalam tujuan pastoral yang memang menjadi maksud diwahyukannya kebenaran ini. Saya harus kembali berkata bahwa kebenaran-kebenaran teologis, tidak peduli betapa alkitabiahnya, harus dipakai secara alkitabiah. Kebenaran-kebenaran ini bukan peluru yang dapat kita tembakkan ke semua arah, melainkan hanya kepada arah yang dinyatakan dalam Alkitab.

Misalnya, kita tidak dapat memakai hak Allah untuk memilih sebagai alasan untuk menyangkal tanggung jawab manusia atau untuk meyakinkan diri bahwa usaha kita menginjili atau berdoa bagi orang-orang yang belum percaya tidak ada gunanya. Sebaliknya, predestinasi dan pengendalian Allah memberi harapan bahwa Allah akan bertindak. Karena itu, kita berdoa agar Allah menyelamatkan mereka. Allah dapat menyelamatkan atau menghukum dengan adil, dan Ia memiliki otoritas dan kuasa untuk melakukan keduanya.

Paulus menampilkan sikap yang benar tentang para kerabat Yahudinya yang belum diselamatkan.

"Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Sebab mereka adalah orang Israel." (Roma 9:1-4)

Paulus memahami pergumulan kita dan menyuarakan kesedihan yang kita rasakan saat memikirkan kesesatan orang-orang yang kita kasihi. Tetapi ia menanggapi kerinduannya akan keselamatan mereka dengan memberitakan Injil tanpa gentar kepada saudara sebangsanya di tiap kota, dan dengan berdoa agar mereka diselamatkan (Roma 10:1).

Rencana dan kehendak Allah yang dilaksanakan dalam providensi merupakan realitas yang sangat besar dan tidak terlihat aktif setiap menit untuk melindungi, membimbing, dan menentukan aliran nasib kita. Jika kita ada di dalam Kristus, kita memiliki hak untuk mempercayakan diri kepada kehendak Allah yang kekal dan tidak berubah, yang menopang hidup kita sehari-hari. Anda berada dalam keharmonisan yang tidak terlihat dengan rencana Allah atas hidup Anda. Tidak ada Rencana B, C, atau D. Yang ada hanya apa yang Allah tetapkan dalam rencana-Nya, dan tindakan kita yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam kedaulatan-Nya yang misterius (bagi kita), keduanya menjadi satu.

Kristus menawarkan keamanan yang tidak terbayangkan bagi siapa pun yang ingin datang kepada-Nya untuk beroleh keselamatan. Kebenaran bahwa Kristus dapat menawarkan pilihan kepada ciptaan mana pun yang menginginkannya rasanya merupakan "hal yang terlalu muluk untuk bisa dianggap sebagai kenyataan" bagi pikiran manusia yang merasa dirinya mandiri. Kristus dapat menawarkan pilihan dan kasih Allah yang dari kekal hingga kekal kepada orang-orang yang datang kepada-Nya dan meminta hal itu. Mungkin Injil adalah satu-satunya hal yang sungguh- sungguh "terlalu muluk untuk bisa dianggap sebagai kenyataan" di alam semesta ini, tetapi toh Injil tetap merupakan kenyataan. Sekali lagi, tidak seorang pun dapat membayangkan bagaimana Allah melakukan hal tersebut, namun Allah benar-benar melakukannya. Kita hanya dapat menarik nafas melihat kebesaran dan keluarbiasaan Allah dalam menyatakan kuasa dan kemurahan-Nya.

Pengetahuan yang Beracun?

Anda mungkin seperti saya di bulan-bulan pertama saya di seminari. Saya marah dan meremehkan pemikiran bahwa saya tidak bisa memahami pengaturan Allah atas kebaikan dan kejahatan. Saya menuntut, "Bagaimana Anda bisa mempercayai Allah Alkitab tanpa memahami hal ini? Bagaimana Anda bisa tahu bahwa kekristenan benar jika Anda tidak dapat memeriksanya?" Banyak orang rindu untuk bisa mengetahui seperti Allah mengetahui, tetapi saya menuntut untuk mengetahuinya.

Itulah godaan yang dialami Adam dan Hawa di taman Eden (Kejadian 3:5). Tetapi inilah esensi kuasa dan kekuatan Allah yang memampukan diri-Nya untuk menetapkan dan mengetahui setiap peristiwa yang akan terjadi di surga dan alam semesta. Pengetahuan akan masa depan seperti ini tidak diberikan kepada kita demi kebaikan kita sendiri. Ada sejumlah alasan mengapa kita akan mendapatkan masalah bila kita memiliki pengetahuan semacam itu.

PERTAMA, pengetahuan Allah mencakup segalanya. Pengetahuan itu menciptakan dan meliputi gerakan setiap partikel atom sejak awal penciptaan. Bahkan, Daud mengakui bahwa pikiran Allah tentang dirinya saja lebih banyak dari pasir yang ada di tepi laut (Mazmur 139:7), yang mungkin ratusan juta jumlahnya. Singkat kata, rencana Allah dalam memerintah dunia jauh melampaui tingkatan kita -- baik dalam kerumitan maupun kuantitas informasinya. Sebagai misal, ketika Allah menjelaskan apa sebenarnya relasi antara teori kuantum dan gravitasi, Ia bahkan tidak mungkin menemukan satu orang ilmuwan di bumi yang dapat memahaminya. Bahkan, kata gravitasi dan kuantum bisa begitu dangkal dan sama sekali tidak berguna. Bahkan, pemahaman kita mengenai proses- proses yang telah Allah jadikan begitu jelas tetapi seperti lelucon primitif. Contohnya, para ilmuwan telah mempelajari bentuk kehidupan yang paling sederhana selama ratusan tahun, dan meskipun kita memiliki begitu banyak contoh kehidupan "primitif", kita tetap belum mampu menghasilkan bentuk kehidupan yang paling sederhana sekalipun. Pertanyaan Allah kepada Ayub mengenai alam (psl. 38-42) menantang Ayub hingga ia meminta Allah berhenti bertanya.

Tetapi, kita dapat bertanya apakah kita setidaknya bisa memiliki sebagian kecil saja dari sketsa rencana Allah yang begitu luas atas hidup kita. Hal ini membawa kita kepada alasan KEDUA mengapa kita tidak dapat mengetahui rencana Allah. Informasi itu akan merusak kita. Hal itu terlalu beracun untuk bisa kita tangani. Mari saya jelaskan.

Misalnya, kita mungkin berpikir bahwa akan sangat menentramkan hati bila kita dapat melihat daftar orang yang Allah pilih untuk menerima hidup kekal. Kita ingin memastikan apakah kita termasuk di dalam daftar, atau justru tidak terdaftar, sehingga kita bisa berhenti berusaha dan mulai bersantai, makan, minum, dan bergembira sepanjang sisa waktu yang kita miliki. Tetapi, mengetahui dengan pasti pengetahuan Allah bahwa kita akan diselamatkan, tidak peduli apa yang kita lakukan atau percayai, akan merusak kita sehingga tidak lagi dapat dikenali sebagai orang Kristen. Pengetahuan itu akan menjadi racun bagi perjalanan kekristenan kita.

Saya pernah mengkonseling sepasang suami istri Kristen yang secara menyedihkan berusaha menghujat Roh Kudus agar mereka bisa memastikan kebinasaan mereka. Demikian besar obsesi mereka untuk "mengetahui dengan pasti". Mereka pikir hal itu setidaknya dapat membuat mereka bisa mengendalikan masa depan dan tempat di mana mereka akan menjalani kekekalan. Mereka percaya mereka dapat merampas kendali Allah atas masa depan. Mereka menyimpulkan dengan tepat bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengetahui dengan kepastian seperti yang dimiliki Allah mengenai apakah mereka akan pergi ke surga atau ke neraka. Namun, mereka berencana bahwa jika mereka menghujat Roh Kudus, mereka (dengan kuasa seperti yang dimiliki Allah) dapat memutuskan sendiri nasib mereka dan lepas dari ketidakpastian dan kecemasan. Mereka bernafsu mendapatkan kepastian pengetahuan Allah akan masa depan dan mereka bersedia menukarnya dengan nyawa!

Pengetahuan akan kematian merupakan contoh lain dari pengetahuan beracun. Kita mungkin berpikir akan sangat menarik bila dapat mengetahui hari dan cara kematian kita, atau kematian anak-anak dan orang yang kita cintai. Kita pikir akan sangat menolong bila kita dapat mengetahui lebih dulu hal-hal mengerikan dan hal-hal ajaib yang akan terjadi bertahun-tahun sebelum kejadiannya. Tidakkah menentramkan hati bila kita dapat mengetahui lebih dulu apakah karir kita akan sukses atau tidak? Apakah usaha kita akan sukses? Ketika kita memikirkan hal ini, ada hal yang jelas muncul di benak kita. Jika kita tahu apa yang tercakup dalam sebagian besar tindakan kita, kita mungkin tidak akan pernah memulainya. Kita dapat mengatasi permasalahan yang muncul sehari-hari, namun kita tidak akan dapat mengatasi masalah jika kita telah terlebih dahulu mengetahuinya.

Pengetahuan kita tentang kebaikan dan kejahatan dibatasi oleh kasih Allah kepada kita. Yang baik terlalu baik dan yang jahat terlalu jahat bagi kita. Sebagai contoh, Allah tidak memberi tahu Ayub asal-usul malapetaka yang menimpanya, padahal ia adalah orang yang saleh dan benar, yang takut akan Allah dalam semua jalannya. Ia juga tidak memberi tahu Ayub tentang peperangan kosmis antara diri-Nya dan Iblis yang terjadi melalui penderitaan Ayub. Sama dengan hal ini, Allah juga tidak menyingkapkan rencana dekritif-Nya kepada ciptaan-Nya -- dan ini demi kebaikan kita.

Problema kejahatan telah mengesalkan hati orang Kristen selama berabad-abad (khususnya generasi Kristen yang kedua). Orang-orang non- Kristen dengan gembira menolak pernyataan Kristus sambil berkata, "Jika Allah begitu baik dan berdaulat, mengapa Ia mengizinkan kejahatan ada?" Karena Allah tidak menyingkapkan jawaban yang spesifik bagi pertanyaan itu, maka itulah yang harus kita katakan kepada mereka. Bagi orang tidak percaya, hal tersebut otomatis berarti Allah tidak baik atau Ia tidak berdaulat atau Allah tidak baik dan sekaligus tidak berdaulat. Mereka secara naluriah membatasi pilihan Allah sebatas yang dapat mereka bayangkan. Itu meliputi apa yang dapat mereka pahami, dengan pengetahuan manusia yang ditempatkan sebagai titik awal, tertinggi, dan penentu kebenaran.

Mereka tidak pernah berpikir bahwa Allah sedang menjaga kita dari informasi yang tidak dapat kita tangani. Suatu hari kelak, saya percaya kita akan belajar lebih banyak tentang pemberontakan Iblis yang terjadi sebelum penciptaan [dunia]. Kita akan belajar lebih banyak tentang asal mula Iblis. Mungkin kita akan belajar lebih banyak tentang mengapa Allah memilih untuk menyelamatkan dunia yang telah dirusak oleh pengaruh Iblis, dan bukannya memusnahkan dan memulai lagi dari awal. Ada berbagai tingkatan irasionalitas mengenai asal-usul kejahatan yang tidak dapat dipahami oleh ciptaan yang terbatas, atau akan melumpuhkan jika kita berusaha menyingkapkannya saat ini. Kita berada pada posisi dimana kita harus bergantung pada penilaian yang baik dari Allah yang mengasihi kita dan yang berketetapan memberi hidup sekalipun kita pernah memberontak melawan- Nya.

Allah telah berketetapan, dengan beberapa pengecualian, bahwa nama- nama umat pilihan dan orang binasa harus tetap menjadi rahasia. Kitab kehidupan dan "kitab" lainnya itu tidak dibuka hingga Hari Penghakiman (Wahyu 20:12). Perang ultimat antara kebaikan dan kejahatan, dan refleksi perang itu dalam providensi Allah, paling baik kita serahkan kepada Allah.

Yesus mengajarkan bahwa kita "dimampukan" untuk mengatasi kekuatiran sehari untuk sehari tidak lebih daripada itu (Matius 6:34). Dalam praktik konseling, saya mendapati bahwa hampir semua masalah yang berkaitan dengan kekuatiran, disebabkan oleh kebutuhan yang dipaksakan untuk mengetahui masa depan. Itulah yang ditawarkan oleh astrolog, pelihat, penyihir, dan seluruh armada ilmu gaib. Semua itu jelas bertentangan dengan orang yang takut akan Tuhan, yang percaya bahwa Allah sanggup memerintah semesta seorang diri.

"Pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan" yang sekarang kita pahami secara terbatas adalah akibat pemberontakan manusia terhadap Allah (Kejadian 3:5). Manusia ingin mengetahui dan memahami dasar dari segala yang Allah perintahkan, namun karena kita bukan Allah, pengetahuan ini memicu problema yang mengancam hidup kita. Pemahaman akan kejahatan tampaknya mengandung unsur yang mematikan. Bahkan apa yang Allah nyatakan sepertinya dipaparkan dalam bahasa kiasan, dan sepertinya Ia sengaja membiarkan pertanyaan-pertanyaan kita tidak terjawab, demi kebaikan kita.

Musa dengan indah mengungkapkan perbedaan antara dua macam pengetahuan ini dalam Ulangan 29:29.

"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal- hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."

Dalam ayat ini Musa mengajar kita untuk tidak mencari tahu hal-hal yang Allah sembunyikan, dan mendorong kita untuk memusatkan diri pada apa yang telah Allah nyatakan, yaitu hukum-hukum-Nya, dan bagaimana kita dapat menerapkannya pada masa kini. Ia menasihati kita untuk tidak memboroskan tenaga dan waktu mencari cara membuka rencana- rencana Allah yang tersembunyi, baik bagi kita maupun bagi orang lain. Allah ingin kita mempercayai-Nya untuk hal itu. Allah menghendaki kita memusatkan diri untuk menata hidup kita sesuai dengan apa yang telah Ia nyatakan, yaitu Firman-Nya.

Kebanyakan pengetahuan gaib berusaha menerobos batasan pemahaman yang bermanfaat yang telah Allah tetapkan. Para penyihir menawarkan komunikasi dengan arwah orang mati. Para petenung berupaya menembus batasan alam berpikir seseorang. Para pelaku praktik semacam itu tidak mempercayai kuasa Allah atas masa depan ataupun keterbatasan mereka. Mereka menginginkan pengetahuan yang dapat memberikan kuasa dan kelegaan yang muncul dari ketidakpercayaan mereka. Bruce Waltke menunjukkan bahwa gagasan tentang "menemukan kehendak Allah" adalah gagasan kafir (Waltke 1995, 30) karena gagasan itu biasanya berusaha menembus rencana Allah yang bersifat rahasia (dekritif).

Mendapatkan arahan semacam itu dari para dewa merupakan kegiatan utama di dalam hampir semua masyarakat pra-Kristen. Hal ini menghabiskan banyak uang dan waktu dari para praktisi agama-agama non-Kristen (Waltke 1995, 30). Kuasa atas masa depan juga dianggap sangat bermanfaat. Manfaat ini dicari mulai dari Afrika pedalaman (Oosthuizen dkk. 1988, 47-62) hingga kebudayaan Druids yang paling maju (Ellis 1994, 248).

Bertolak belakang dengan pengetahuan yang menjanjikan terbatasnya manusia dari ketergantungan kepada Allah, Yesus menyingkapkan Allah dalam bentuk yang memberi hidup, tidak beracun, dan tidak mematikan. Ia memberi tahu kita apa yang kita perlu ketahui agar dapat diperdamaikan dengan Allah dan mendapatkan hidup baru di dalam-Nya. Kematian-Nya di atas kayu salib mengubah hati kita yang menakutkan dan sombong agar kita dapat menjadi ciptaan yang penuh sukacita, bukan dewa-dewi yang frustrasi. Kini kita dapat mempercayai Allah yang mengendalikan masa depan kita, dan memusatkan diri untuk hidup bagi- Nya di masa sekarang ini.

Terangkatnya seluruh beban kekuatiran akan masa depan dari pundak kita merupakan pengalaman yang sangat membebaskan. Yesus tidak datang untuk memberi kita akses ke dalam hal-hal rahasia yang ada di dalam providensi Allah, namun untuk menyingkapkan misteri tersembunyi tentang bagaimana Allah menebus dunia yang berdosa ini. Ia memberikan kebenaran yang membebaskan kita. Kebenaran-Nya memusatkan kekuatan kita pada ketaatan dan pelayanan saat ini. Kita dapat berkata seperti Salomo, "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:6) Allah berjanji memperhatikan setiap rintangan yang ada di jalan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Yesus berjanji, "Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) Kini kita dapat kembali pada situasi yang dihadapi Rick dengan memegang semua konsep ini.

Saat Rick bergumul menentukan apakah ia harus berwiraswasta atau tidak, ia tidak akan mampu membedakan rencana Allah bagi dirinya seketika itu juga. Namun, ia dapat mengetahui bahwa karena karya Kristus, ia tidak berada di Rencana B, C, atau Z. Di dalam Kristus hanya ada satu rencana: Rencana A. Ia harus berusaha keras menemukan prinsip-prinsip Alkitab dan mengaplikasikannya pada situasi yang ia hadapi. Ia harus mengumpulkan informasi tentang dirinya dan situasi yang dihadapinya. Ia harus berdoa lalu mengambil keputusan. Rick akan sangat diteguhkan jika ia tahu bahwa ia membuat keputusan dalam keadaan terlindung. Sang Gembala Agung, Allah Yang Mahakuasa, mengawasinya. Pengawasan itulah yang disebut providensi.

Pagar Pengaman Providensi

Providensi Allah mirip dengan pagar pengaman di pegunungan. Di suatu musim panas ketika saya masih kuliah, saya pergi ke Amerika Selatan dalam suatu perjalanan misi bersama dua belas rekan musisi muda lain. Suatu hari kami harus melintasi dua kota di Kolombia yang terletak di pegunungan Andes. Kami berangkat jam enam pagi dan mengembara hingga jam enam sore melintasi sebuah jalan kecil berkerikil. Jalan yang mengerikan ini tingginya ratusan kaki dari permukaan lembah, dengan belokan tajam setiap menit.

Tidak ada pagar pengaman, satu pun tidak! Saya ingat si sopir meluncur diiringi bunyi klakson di setiap tikungan untuk memperingatkan pengendara lain dari arah berlawanan yang hampir tertabrak oleh kami. Sepanjang jalan ada tanda peringatan bagi korban yang meninggal di lokasi itu. Ada catatan angka pada setiap rambu peringatan di sepanjang jalan itu. Karena bus yang seharusnya berkapasitas empat puluh dua telah diisi hingga enam puluh lima orang penumpang, saya mendapat kehormatan harus berdiri dalam bus itu seharian. Saya sangat tertolong karena bisa bersandar pada tiga orang ketika saya muntah dari jendela bus (saya mabuk darat bila naik mobil).

Tetapi kemudian saya sadar bahwa sesungguhnya terdapat pagar pengaman di tepian jalan itu: providensi Allah yang berdaulat. Saya terhibur oleh fakta bahwa saya tidak akan bisa disentuh oleh kematian, kecuali Allah menyetujui terjadinya kecelakaan. Saya bayangkan pagar pengaman yang tidak terlihat dan tidak dapat ditembus, ditopang, dan dijaga oleh Allah yang hidup. Saya pikir kami benar-benar telah menabrak pagar pengaman yang tidak terlihat itu beberapa kali.

Bagi keputusan yang kita ambil, providensi Allah yang berdaulat menyerupai pagar pengaman itu. Kita meluncur cepat di gunung kehidupan dengan melintasi belokan-belokan tajam dan jalur-jalur pindah yang terus ada di depan kita. Namun, kita memiliki keyakinan bahwa Allah telah menetapkan batasan hidup kita. Ia menggandeng kita dengan hati- hati di tangan-Nya meskipun ada bahaya yang harus kita hadapi dan keputusan-keputusan bodoh yang telah kita buat. Hanya di surga kita akan mengetahui berapa kali kita telah menabrak pagar pengaman rencana Allah dan kita tetap dilindungi demi rencana-Nya yang penuh kemurahan itu.

Bagaimana mungkin kita tidak sujud dan menyembah Allah yang berdaulat seperti ini, yang mempedulikan baik perkara kecil maupun besar dalam hidup kita? Ia adalah Allah yang melindungi kita, melatih kita dengan providensi-Nya, dan cukup mengasihi kita sehingga bersedia mengajar kita untuk percaya kepada-Nya di saat kita merasa sulit memahami-Nya. Bukankah pengetahuan bahwa ada rencana berdaulat semacam itu seharusnya membuat kita menyembah, hormat, bersyukur, dan berkeyakinan penuh di dunia yang semakin kacau ini?

Mereka yang ada di dalam Kristus tahu bahwa terlepas dari semua keputusan yang dihadapi, kesalahan yang diperbuat, dosa yang ditinggalkan, dan hal-hal yang tidak diperkirakan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan yang mengubah kita menjadi serupa dengan gambar Kristus, Anak Allah (Roma 8:28). Melalui providensi Allah atas anak-anak-Nya, Allah, Gembala Agung kita, memimpin kita dengan tongkat-Nya yang perkasa menuju hidup yang kekal. Jika itu tujuan hidup Anda, Anda pasti akan aman-aman saja!

Untuk Tinjauan dan Refleksi

  1. Apa perbedaan penting antara kehendak dekritif Allah dan kehendak preseptif Allah?
  2. Bagaimana pemahaman yang kacau atas kedua bentuk kehendak itu dapat menimbulkan masalah bagi orang Kristen yang sedang menghadapi berbagai pilihan dalam kehidupan?
  3. Bagaimana kita menyelaraskan antara kendali Allah yang berdaulat atas seluruh kehidupan dan tanggung jawab moral kita?
  4. Mengapa Allah tidak menjawab pertanyaan kita tentang problema kejahatan?
  5. Mengapa pengetahuan kita tentang kedaulatan Allah harus membuat kita menyembah dan percaya kepada-Nya?
Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Step By Step
Judul Artikel : -
Penulis : James C. Petty
Penerjemah : -
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2004
Halaman : 55 - 67

Bimbingan dan Rencana Allah (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Dalam perjalanan hidup Kristen kita, sejak bertobat sampai bertumbuh menjadi murid-murid Kristus, saya kira pertanyaan yang paling sering kita tanyakan adalah tentang bagaimana mengetahui "kehendak Allah" bagi hidup kita. Kebanyakan dari kita terjebak pada pemikiran bahwa Allah sejak semula sudah menetapkan rencana-Nya yang terbaik bagi hidup kita, tapi sekarang tugas kita adalah mencari tahu apa rencana terbaik itu supaya kita tidak salah melangkah. Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau dalam perjalanan hidup kita, kita sudah mengambil langkah yang salah? Apakah berarti rencana Tuhan yang terbaik itu menjadi tidak mungkin terjadi dalam hidup kita? Apakah Tuhan memiliki rencana cadangan bagi kita?

Menurut James C. Petty, penulis buku "STEP BY STEP", orang Kristen perlu memahami Doktrin Providensia Allah dengan benar agar pengertian kita ditopang oleh pengajaran yang alkitabiah. Nah, untuk itu saya kirimkan tulisan James C. Tetty ini, agar kita semua dapat memahami dengan jelas dimana letak kesalahan kita ketika kita memikirkan tentang kehendak dan rencana Tuhan bagi hidup kita.

Selamat menyimak.

In Christ,
Yulia
in-christ.net>

Penulis: 
James C. Petty
Edisi: 
064/VII/2005
Isi: 

RICK adalah perancang grafis berbakat yang saya kenal beberapa tahun lalu. Ia telah sepuluh tahun bekerja di sebuah perusahaan periklanan yang sukses, namun ia tertekan oleh persaingan yang tajam di antara para karyawan yang berebut untuk menjadi rekanan di perusahaan tersebut. Ia juga mencemaskan kondisi moral yang rendah dan tekanan kerja yang berat. Wajar jika ia mulai berpikir untuk berwiraswasta, namun ia sangat takut untuk bersaing dengan perusahaan lamanya. Ia bermimpi bahwa jika ia dapat memulai perusahaannya sendiri, ia tentu akan dapat mengatur hidupnya sendiri. Ia dapat menetapkan jam kerjanya dan dapat lebih banyak terlibat dalam pelayanan. Namun, ia juga memiliki seorang istri dengan tiga anak yang masih kecil. Jika ia gagal dalam usahanya untuk berwiraswasta, semua akan menderita. Ia mungkin akan kehilangan rumah dan tabungannya.

Rick berdoa agar Allah menyatakan rencana-Nya. Ia bertanya apakah Allah mau memanggilnya untuk berwiraswasta atau tetap bertahan dengan pekerjaannya sekarang. Ia mulai mencari cara-cara yang mungkin Allah gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Ia mencari pelanggan potensial yang mungkin datang dengan cara yang tidak seperti biasanya. Ia mulai berusaha mendengarkan suara Allah dalam pikirannya beberapa "kesan" khusus yang akan meyakinkannya bahwa pikiran tersebut sungguh berasal dari Allah. Ia mencari-cari alat uji yang dapat ia pakai untuk mengambil keputusan. Misalnya, jika ada fitnah, gosip yang tidak wajar, atau hal-hal buruk lain saat ia merayakan hari pertobatannya, mungkin itu menjadi tanda bahwa tempat kerjanya sudah terlalu rusak.

Saat ia merenungkan semua ini, sebuah gagasan yang menggelisahkan mulai menyusup dalam benaknya. Ia tidak yakin, tapi ia takut kalau- kalau ia sudah keluar dari rencana Allah sejak saat ia masih kuliah dulu. Ia telah menghadiri Konvensi Misionaris Mahasiswa Urbana dan telah menyerahkan diri untuk pelayanan misi. Namun saat kembali ke kampus, dengan mudah pembimbing akademisnya meyakinkannya untuk meninggalkan niat tersebut. Apa yang akan terjadi seandainya ia memakai kemampuan komunikasinya bukan untuk menciptakan iklan, melainkan untuk menyebarkan Injil? Mungkin ia telah berada jauh dari kehendak Allah bagi hidupnya sehingga sia-sia untuk mencoba kembali, atau untuk meminta Allah membimbingnya dalam rencana yang "tidak taat" ini.

Masalah yang dihadapi Rick dalam mencari bimbingan Allah sangat lazim terjadi pada umat Kristen. Bagi Rick dan sebagian besar orang, pemahaman mereka tentang rencana dan kehendak Allah tidak pernah dipertajam oleh konsep yang alkitabiah. Salah satu masalah utama yang dihadapi Rick adalah mencampuradukkan dua penggunaan yang sangat berbeda di dalam Alkitab untuk istilah "kehendak Allah".

Dalam Alkitab, frasa "kehendak Allah" bisa berarti rencana atau perintah Allah. Para teolog menjelaskan hal ini sebagai dua bentuk kehendak Allah: "Kehendak-Nya yang dekritif" (dekrit/ketetapan atau rencana Allah) dan "kehendak-Nya yang preseptif" (titah atau perintah Allah) (Hodge 1865, 1:405). Kehendak Allah yang dekritif mengarahkan segala sesuatu yang terjadi di bawah kendali Allah. Kehendak Allah yang preseptif berkaitan dengan perintah Allah apa yang Ia perintahkan supaya kita lakukan. Karena Alkitab memakai kata "kehendak Allah" untuk menyebut keduanya, maka kerancuan mudah sekali terjadi dan mengacaukan upaya kita dalam mencari bimbingan. Inilah salah satu masalah Rick.

Supaya Anda terhindar dari jebakan ini, mari kita memeriksa kedua konsep yang Alkitab ajarkan tentang kehendak Allah ini. Dalam bab ini kita akan melihat "kehendak Allah" yang merujuk kepada rencana Allah yang berdaulat (yang dalam teologi sering disebut sebagai ketetapan atau kehendak-Nya yang dekritif). Dalam bab berikut kita akan mempelajari "kehendak Allah" sebagai perintah-perintah Allah.

Kehendak Allah: Rencana-Nya

Alkitab sering memakai frasa "kehendak Allah" untuk menyebut rencana Allah. Paulus dalam Efesus 1:5 berbicara tentang rencana Allah yang berdaulat, "Ia [Allah] telah menentukan kita dari semula ... sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." Setiap orang percaya seharusnya terhibur jika mengetahui bahwa ia telah dipilih sebelum penciptaan untuk mewarisi keselamatan. Pilihan itu dilakukan oleh Allah dalam rencana-Nya yang berdaulat. Paulus melanjutkan tema ini dalam Efesus 1:11, "Di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya."

Yakobus 4:15 merupakan contoh lain yang serupa. Yakobus mendorong pembacanya untuk tidak membuat rencana (berangkat ke sebuah kota, tinggal dan berdagang) dengan bersandar pada diri sendiri. Mereka seharusnya berkata, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini atau itu." Yakobus tidak mengecam perencanaan; ia mengecam rencana yang tidak melibatkan rencana Allah di dalamnya. Yakobus mengajarkan kepada kita untuk tidak memberikan perhatian yang berlebihan pada rencana kita, karena hidup kita adalah seperti uap yang terlihat hanya sebentar kemudian lenyap begitu saja.

Dalam Roma 15:32, Paulus menerapkan ajaran Yakobus. Ia meminta jemaat Roma untuk berdoa demikian, "Agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu." Paulus ingin mengunjungi orang-orang Kristen di Roma, namun ia sadar bahwa ia bisa datang hanya oleh karena providensi dan rencana Allah, yaitu jika Allah menetapkannya.

Jika kita bermaksud memaksakan makna lain kepada frasa "kehendak Allah" yang ada dalam perikop ini, hasilnya tidak akan masuk akal. Paulus tidak meminta agar orang-orang Roma berdoa supaya ia dapat melakukan kehendak Allah (seperti memenuhi perintah Allah). Paulus ingin mereka berdoa supaya Allah mengizinkannya datang ke Roma dengan menyediakan kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi.

Contoh terakhir: Petrus memakai kata "kehendak Allah" juga dalam arti ini di 1Petrus 3:17: "Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat." Ketika mendorong umat Kristen untuk menderita karena berbuat baik daripada menderita karena berbuat jahat, Petrus mengemukakan pokok tambahan bahwa penderitaan itu sendiri datang melalui izin dan rencana Allah. Karena itu, ia berbicara tentang penderitaan yang bisa terjadi "jika hal itu dikehendaki Allah". Sekali lagi, kita bertemu dengan pelaksanaan rencana Allah.

Rick tidak hanya mengacaukan kedua istilah ini, tetapi kekacauan ini menjeratnya ke dalam apa yang saya sebut sebagai "Sindrom Rencana B". Menurut pemikiran Rick: jika Allah memiliki rencana yang sudah ditetapkan secara mendetail bagi kehidupan setiap orang percaya dan Ia ingin kita mengikuti rencana itu, apa yang harus kita lakukan ketika kita terlanjur menyimpang dari rencana itu? Kita akan turun ke Rencana B dan harus memulainya dari sana.

Saya akan memberikan contoh. Setiap tahun saya menghadapi rutinitas yang menyusahkan karena harus menentukan rencana mana yang akan saya pilih untuk kontrak servis bagi alat panggangan tua saya. Menurut penjual bensin langganan kami yang ramah, Rencana A tampaknya akan menjauhkan semua kekuatiran saya. Dengan Rencana A mereka akan memperbaiki segala kerusakan, tetapi tentu biayanya mahal. Biaya Rencana B lebih terjangkau, tapi hanya mengatasi permasalahan yang perlu saja. Rencana C hanya memberikan servis tanpa perbaikan apa-apa. Jika saya memiliki uang cukup, maka saya cenderung memilih Rencana A. Jika tidak, maka saya akan memilih Rencana C, dan dengan Rencana C itu berarti tukang reparasi akan sering datang ke rumah saya tiap tahun.

Kita pun cenderung berpikir bahwa meskipun Allah memiliki sebuah rencana yang "terbaik" bagi hidup kita, Ia juga memiliki rencana lain yang "lebih murah" bagi mereka yang telah meleset dari rencana yang terbaik itu. Kita teringat keputusan bodoh dan berdosa yang pernah kita ambil dan, akibatnya, kita melihat diri kita berada dalam "Rencana B" kehendak Allah bagi hidup kita. Jika kita tetap membuat keputusan yang jelek, maka kita akan turun lagi ke Rencana C, Rencana D, dan karena kita orang berdosa kita akan segera kehabisan daftar abjad yang tersedia. Kita berpikir tentang "apa yang mungkin terjadi" seandainya kita tidak menikahi pasangan hidup kita yang sekarang, seandainya kita tidak hamil sebelum hari pernikahan, seandainya kita tidak mengambil pekerjaan yang mengerikan ini dan menerima pekerjaan satunya yang mungkin akan membuat kita sukses, atau seandainya kita tidak meledak dalam kemarahan kepada anak kita yang masih remaja.

Dalam bab ini kita akan melihat bahwa bagi mereka yang berada di dalam Kristus, hanya ada satu rencana, Rencana A. Rencana ini tetap tergenapi meskipun kita melakukan berbagai dosa dan kesalahan. Kita akan melihat keajaiban perhatian Allah sebagai Gembala, dan detail kasih-Nya di sepanjang rencana yang telah Ia tetapkan bagi hidup kita. Kebenaran agung ini sungguh mencerahkan, menghiburkan, dan terkadang menakutkan ciptaan Allah yang sombong.

Satu Rencana yang Berdaulat

Alkitab mengajarkan bahwa (1) Allah memiliki satu rencana khusus bagi hidup Anda dan (2) peristiwa-peristiwa dan pilihan-pilihan dalam hidup Anda secara tak dapat ditolak dan secara berdaulat mengerjakan rencana itu dalam setiap detailnya. Berlawanan dengan pandangan Rick tentang rencana Allah, seseorang tidak mungkin bisa "gagal ujian" dalam rencana itu. Semua kesalahan, kebutaan, dan dosa Anda telah diperhitungkan sebelumnya. Kebenaran ini diajarkan dalam doktrin providensi Allah. Tanpa memahami providensi, kita tidak akan dapat memahami keterlibatan Allah secara jelas dalam hidup kita sehari-hari. Kekacauan dalam hal bimbingan Allah di kalangan Kristen banyak disebabkan oleh kurangnya pemahaman akan doktrin ini.

Doktrin providensi telah diringkaskan dengan sangat cemerlang pada tahun 1648 dalam Pengakuan Iman Westminster (Westminster Confession of Faith, dokumen yang mendasari theologi gereja Kongregasional, Reformed, Presbiterian, dan Baptis yang berbahasa Inggris). Bab 5 yang diberi judul "Mengenai Providensi" dimulai demikian:

"Allah, Pencipta yang agung atas segala sesuatu, menopang, memimpin, mengatur, dan memerintah atas semua ciptaan, tindakan, dan segala sesuatu; mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil; dengan providensi-Nya yang agung dan suci; menurut pra-pengetahuan-Nya yang tak dapat bersalah (infallible) dan pertimbangan kehendak-Nya yang bebas dan kekal; untuk mendatangkan pujian bagi kemuliaan hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kemurahan-Nya."

Pernyataan ini meringkaskan jawaban bagi banyak pertanyaan yang muncul saat kita mencoba memahami apa yang Alkitab katakan tentang pengendalian Allah atas dunia ini. Perhatikan, doktrin ini menegaskan bahwa Allah mengerjakan setiap detail "menurut pertimbangan kehendak- Nya yang kekal [tidak berubah]". Jika hal ini benar, dampaknya sangat luas sekali terhadap Rick ketika ia mengevaluasi pilihannya. Rick tidak perlu memanjat keluar dari lubang yang telah ia gali sendiri agar dapat kembali pada kehendak Allah bagi hidupnya. Sejarah hidup Rick dan keputusan-keputusan yang menyebabkan hal itu terjadi, berada di dalam rencana keselamatan yang Allah siapkan baginya.

Jika hal ini benar, itu berarti keputusan yang harus diambilnya sekarang juga adalah sah, karena ia tidak terjerat dalam situasi terbaik kedua atau situasi terbaik kedua puluh. Ia berada dalam program providensi Allah yang Mahabijaksana dan Mahasempurna. Ia bukan seperti pemain golf yang harus memulai pertandingan dengan dua puluh pukulan penalti. Jika doktrin ini benar, ada harapan yang besar ketika kita membuat keputusan-keputusan dalam hidup kita.

Namun sebelum kita melihat lebih jauh implikasi dari kebenaran ini, kita harus bertanya, "Apakah ini sungguh-sungguh benar?" Dan jika ini benar, bagaimana dengan tanggung jawab dan kebebasan manusia? Bagaimana dengan masalah yang diakibatkan oleh dosa dan kebebalan kita? Bagaimana dengan masalah kejahatan yang ada di dunia ini? Apakah itu menempatkan Allah sebagai sumber kejahatan? Mari kita uji beberapa bagian kunci Alkitab yang dipakai untuk mendasari doktrin providensi. Semua ini akan menolong kita memahami implikasi providensi terhadap banyak bidang kehidupan kita yang penting.

Berbagai Situasi

Apakah Allah mengendalikan segala keadaan dalam semua situasi? Kristus sendiri menjawab pertanyaan itu dalam Matius 10:29-31. Ia berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya." Yesus menjelaskan pemeliharaan dan pengendalian Allah yang luar biasa ini untuk menenangkan ketakutan para murid ketika mereka menghadapi ujian dan penganiayaan. Hal-hal yang terlihat kebetulan (menemukan seekor burung mati di tepi jalan) tidak terjadi tanpa seizin Allah. Kristus berkata (ay. 31), "Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."

Perhatikan tujuan pengajaran Yesus. Ia tidak bertujuan menyusun suatu prinsip abstrak yang dapat diterapkan dalam segala hal yang kita angankan. Ia mengajarkan hal ini untuk mengatasi ketakutan umat-Nya akan kehilangan, kematian, penderitaan, penganiayaan, dan lain-lain. Pengajaran ini dengan jelas menegaskan pengendalian Allah yang berdaulat dan menyeluruh atas kehidupan, tetapi doktrin ini juga memiliki maksud pastoral yang harus dihormati.

Sebagian orang mungkin bertanya, "Bagaimana saya dapat menerima penghiburan dari doktrin yang mengajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan, yang implikasinya adalah bahwa tidak ada gunanya saya berdoa dan berupaya?" Orang non-Kristen mungkin akan menolak dan berkata, "Mengapa saya harus menerima pandangan yang menempatkan Allah sebagai sumber kejahatan?" Kesalahan mereka adalah melihat doktrin ini sebagai kebenaran yang terisolasi, yang bertentangan dengan logika mereka. Alkitab tidak pernah memakai doktrin kedaulatan Allah untuk meremehkan doa atau upaya manusia, yang benar justru sebaliknya. Karena Allah dapat campur tangan, kita harus berdoa dan berupaya. Doktrin ini tidak pernah dipakai untuk mengesahkan Allah sebagai sumber kejahatan. Hal ini jelas dibantah dalam Yakobus 1:13 dan banyak bagian Alkitab lain. Iblis dan dosa umat manusialah yang dilihat sebagai penyebab semua kejahatan.

Mari kita perhatikan tujuan doktrin ini dalam Alkitab. Doktrin ini bertujuan menjadikan makhluk ciptaan Allah rendah hati (Roma 9:20), membangkitkan pujian bagi kasih Allah yang besar atas para pendosa (Efesus 1:11), meyakinkan orang percaya kepada kasih Allah yang tidak dapat dirusak dan sangat praktis (Roma 8:28), dan untuk menegur para musuh akan pemberontakan dan perlawanan mereka yang sia-sia (Mazmur 2:9-10; Daniel 4:34-35). Doktrin ini menggarisbawahi fakta bahwa individualitas dan musim-musim kehidupan kita diatur oleh Allah (Mazmur 139:13-16). Daud merenungkan betapa bernilainya pemahaman bahwa Allah terus memperhatikannya. Ia berkata:

"Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir." (Mazmur 139:17-18)

Berapa banyak dari antara kita yang sungguh-sungguh percaya bahwa Allah yang kita sembah begitu menyadari kondisi-kondisi kehidupan kita? Bahwa Ia memperhatikan kondisi-kondisi kita bahkan secara lebih mendetail daripada yang kita bayangkan? Daud berkata bahwa kita bahkan tidak dapat menghitung pikiran Allah, apa lagi memberikan perhatian yang begitu berlimpah dan mendetail kepada kondisi-kondisi kita sendiri. Saya menangisi orang Kristen yang telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat menikmati keyakinan kepada providensi Allah karena takut membuat Allah menjadi sumber kejahatan.

Kita mungkin pernah bertemu dengan orang-orang yang menyalahgunakan doktrin providensi, seperti seorang Calvinis garis keras (yang percaya bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu) yang suatu pagi terjatuh di tangga saat ia akan sarapan pagi. "Untungnya" tangga itu dilapisi karpet sehingga ia masih mampu bangkit berdiri, mengebaskan debu, dan berjalan terpincang-pincang menuju meja. Ia duduk, memandang istrinya, dan berkata, "Saya lega semua ini telah berakhir." Meski secara logis (dan humoris) respons itu mungkin menarik, respons itu hanya mengalihkan perhatiannya dari tugas untuk memikirkan apa yang salah dan mengambil langkah pencegahan untuk masa mendatang. Allah tidak menyingkapkan realitas providensi-Nya untuk membuat kita tidak lagi mengurus hidup kita. Tetapi panggilan intim seperti itu terkadang memang mengingatkan kita kepada perhatian Allah yang tidak kelihatan.

Saya pernah mendengar kisah tentang John Witherspoon, presiden Princeton University dan juga penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Suatu hari dalam perjalanan menuju Princeton, ia terlempar dari kereta kudanya. Kereta kuda itu masuk ke selokan, dan ia terlempar sampai tergeletak di tanah dan berlumuran kotoran. Sesampainya di kantor, ia mulai membersihkan diri dan mengomentari providensi Allah yang begitu ajaib dalam melindungi hidupnya pada situasi yang amat berbahaya. Asistennya yang masih muda mengamati dengan bijak, "Tetapi Dr. Witherspoon, bukankah perhatian Allah bahkan lebih ajaib dalam ratusan pagi hari saat Anda berangkat kerja tanpa mengalami kecelakaan?" Witherspoon mendapat pelajaran berharga tentang mensyukuri providensi Allah saat hal itu tidak terlihat dan tidak dramatis.

Sebuah gambaran indah mengenai providensi Allah tercatat di Kejadian 50:20. Pada bagian itu dikisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf menjualnya menjadi budak, bagaimana ia secara keliru dituduh memperkosa dan dipenjara secara tidak adil, bagaimana ia mendapat kekuasaan yang besar di Mesir, lalu menyelamatkan Mesir dan keluarganya dari bencana kelaparan. Setelah semua itu, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya mengapa ia tidak membalas dendam atas pengkhianatan mereka. Katanya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Setiap tindakan saudara-saudara Yusuf, Yusuf sendiri, Firaun, dan bahkan cuaca yang mendatangkan bencana, semua sesuai dengan kendali Allah yang berdaulat.

Singkatnya, tidak ada situasi mulai dari jumlah rambut hingga pergerakan bangsa-bangsa yang dalam segala halnya tidak menggenapi rencana Allah.

Jika kita mengakui bahwa semua situasi ditentukan oleh providensi Allah, bagaimana dengan akibat tindakan umat manusia yang jahat? Kisah Yusuf memperlihatkan jawabannya.

Orang Baik, Orang Jahat, dan Politikus

Apakah rencana Allah digenapi oleh tindakan manusia yang bebas dan bertanggung jawab, entah itu baik atau jahat? Inilah pertanyaan yang ditimbulkan oleh Hitler, Pol Pot, dan penjahat keji yang menyerang anak Anda. Inilah pertanyaan Wilberforce dan Martin Luther King, yang memperjuangkan hak asasi dan martabat keturunan Afrika.

Pertanyaan ini wajar sehubungan dengan realitas penghakiman terakhir yang akan menuntut setiap pria, wanita, dan anak-anak untuk bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Menurut Yohanes 5:28-29:

"Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum."

Implikasi dari kisah Yusuf di atas secara khusus diajarkan dalam Alkitab: setiap tindakan yang dilakukan setiap individu adalah sesuai dengan cetak biru Allah yang tidak dapat berubah. Alkitab menekankan fakta bahwa orang yang paling "bebas" (para raja dan penguasa) mengerjakan rencana Allah. Amsal 21:1 menyatakan, "Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini." Bagian-bagian lain Alkitab juga membawa pesan yang sama tentang kedaulatan Allah:

"Tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun." (Mazmur 33:11)

"Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?" (Yesaya 14:27)

"Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, Yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, Yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan." (Yesaya 46:9-10)

"Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21)

Tidak ada tindakan musuh-musuh Allah atau para penguasa yang berpengaruh terhadap kemampuan Allah untuk melaksanakan setiap detail dari rencana-Nya. Sebaliknya, tindakan-tindakan mereka tidak terpisah dari rencana yang telah Allah tetapkan, sama seperti tindakan Firaun yang sia-sia ketika menentang Musa dalam Keluaran. Roma 9:17 mencatat perkataan Allah kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi." Sangat menarik bahwa di dalam catatan Keluaran tentang pemberontakan Firaun, dikatakan Allah mengeraskan hati Firaun tetapi juga dikatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Keluaran 14:4; 9:34). Firaun bertindak menurut kehendaknya sendiri, namun kehendaknya itu melaksanakan rencana kekal Allah.

Kedaulatan Allah atas tindakan jahat manusia dinyatakan dengan paling murni dalam khotbah Petrus di Kisah Para Rasul 2:23. "Dia [Yesus] yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka." Perhatikan, sekalipun Petrus menyatakan bahwa kejahatan terkeji dalam sejarah manusia itu telah ditetapkan oleh rencana Allah, namun ia tetap berani meletakkan tanggung jawab atas kejahatan itu secara langsung kepada para permimpin rohani bangsa Israel.

Pemahaman bahwa semua tindakan manusia tercakup di dalam rencana Allah sungguh sangat menghibur saya setiap hari. Istri saya adalah staf pengerja kampus di InterVarsity Christian Fellowship [Perkantas]. Tiga atau empat kali dalam seminggu ia pergi ke kampus hingga larut malam (anak-anak kami sudah beranjak remaja). Baru-baru ini, seorang siswi diculik di pinggiran jalan sekitar jam delapan malam. Padahal istri saya baru saja melewati jalan itu sekitar sepuluh menit sebelumnya. Siswi itu dibawa ke sebuah parkiran kosong lalu diperkosa. Dengan kondisi seperti itu, saya sangat mengkuatirkan istri saya yang sering keluar malam, dan kami mengambil beberapa langkah pencegahan. Tetapi hal yang paling menghibur kami adalah pemahaman bahwa tak seorang pun, termasuk pemerkosa paling tangguh, yang dapat menyentuh istri saya tanpa menggenapi rencana keselamatan Allah.

Anda mungkin bertanya, "Bukankah mustahil, bahwa Allah yang mengendalikan, namun manusia tetap menjadi penyebab bagi kebaikan dan kejahatan?" Hal ini terbukti tidak mustahil bagi Allah. Pikiran kita tidak dapat memahami bagaimana Allah dapat menciptakan makhluk bertanggung jawab yang benar-benar harus memberi pertanggungjawaban kepada-Nya meskipun semua dosa mereka, sejak Adam di taman hingga pedihnya kebinasaan akhir si Iblis, terlaksana sesuai dengan rencana- Nya. Kehidupan berada di bawah kendali yang sedemikian rumit, yang melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya. Dengan kehendak kita sendiri yang bertanggung jawab, kita mengerjakan rencana Allah meskipun Allah sama sekali tidak mencobai atau secara langsung memaksa kehendak kita. Meski kita tidak tahu bagaimana Allah mengendalikan segala sesuatu, tampaknya Ia biasanya tetap "lepas tangan" terhadap mekanisme kehendak kita. Tetapi kita bertanggung jawab dan dengan bebas memilih untuk melakukan semua yang Ia rencanakan.

Selama bertahun-tahun begitu banyak orang percaya berkata kepada saya, "Anda tidak mungkin bisa mempercayai kedua-duanya secara bersamaan; Anda harus memilih antara tindakan manusia yang sepenuhnya bertanggung jawab, atau rencana Allah yang sedang bekerja." Kita harus dengan tegas menolak pendapat bahwa karena kita tidak tahu bagaimana Allah melakukan hal ini, maka kita harus memilih antara tanggung jawab manusia atau kedaulatan ilahi; kita menolak anggapan bahwa kita hanya bisa memilih satu, dan bukan kedua-duanya.

Fakta bahwa keduanya benar merupakan kemuliaan bagi hikmat Allah. Kita harus sujud dan menyembah, bukannya terhanyut dalam pikiran kita yang dengan sombong memikirkan apa yang bisa atau tidak bisa Allah kerjakan. Kita adalah ciptaan yang terbatas dan tidak memiliki akses untuk menjangkau tingkat pemikiran atau eksistensi Allah. Sesungguhnya ini merupakan inti dari logika dan pemahaman yang baik, yang mempercayai pewahyuan Allah tentang diri-Nya. Kita harus menikmati kepenuhan providensi Allah yang begitu mulia, dan penghiburan dari pengendalian-Nya yang misterius dan berdaulat. Seharusnya ini mendorong kita untuk menanggapi dengan gentar sebagai orang-orang yang mengetahui bahwa diri mereka yang harus bertanggung jawab, sebagai penyandang gambar dan rupa Allah.

Bukan hanya perbuatan-perbuatan jahat yang tercakup di dalam providensi Allah, tetapi perbuatan-perbuatan baik manusia juga telah ditetapkan sebelumnya. Efesus 2:10 menyatakan, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Tetapi kita tetap berulang kali diperintahkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik (1Timotius 6:18; Ibrani 10:24). Dalam Filipi 2:12-13, Paulus menyingkapkan tirai metafisika dan mengizinkan kita melihat dua fakta ini berfungsi bersamaan. Ia berkata, "... tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, ... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Bukannya mengurangi tanggung jawab orang Kristen, kebenaran ini justru meningkatkan tanggung jawab dengan mengaitkannya kepada kuasa yang tidak dapat ditolak Allah sedang mengerjakan rencana-Nya yang baik di dalam diri kita. Dari sini kita melihat providensi Allah sedang berkarya di dalam keselamatan kita.

(Redaksi: Bagian 2 dari artikel di atas akan dikirimkan pada pengiriman e-Reformed edisi berikutnya.)

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Step By Step
Judul Artikel : -
Penulis : James C. Petty
Penerjemah : -
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2004
Halaman : 41 - 54

Komentar