Kategori Utama

Dear e-Reformed Netters,

Artikel e-Reformed yang saya kirim kali ini memiliki dua tujuan:

1) Merayakan International Day of Prayers (IDOP).

Artikel ini khusus disajikan dalam rangka "International Day of Prayers" yang diadakan secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 9 -- 16 November 2008.

Pada perayaan IDOP ini, gereja-gereja dan umat Kristen di seluruh dunia akan berdoa bersama secara serempak bagi gereja-gereja dan jemaat Tuhan yang teraniaya demi memertahankan iman mereka dalam Kristus Yesus. Saya mengajak Pembaca e-Reformed: para gembala sidang, pengajar, pemimpin, kaum muda, pendoa syafaat, dan semua orang percaya, bergabung dalam acara doa bersama ini.

Jika Anda ingin tahu tentang IDOP, silakan menyimak referensi di bawah ini:

  1. Sekilas Tentang IDOP International Day
  2. International Day of Prayer IDOP
  3. Persecuted Church
  4. The International

2) Mengoreksi pengertian gereja yang salah tentang doa syafaat.

Artikel ini sekaligus diharapkan dapat menolong gereja-gereja melihat konsep yang benar mengenai doa syafaat. Doa syafaat bukanlah doa untuk diri sendiri, atau gereja sendiri, atau anak dan keluarga kita sendiri, atau kegiatan kita sendiri. Artikel ini menjelaskan apa arti doa syafaat yang sesungguhnya bagi jemaat Tuhan.

Harapan saya, jika doa syafaat ini dilakukan dengan benar oleh jemaat, gereja pasti akan mengalami kebangunan rohani karena hati gereja akan diubahkan untuk memiliki hati Tuhan yang mengasihi jiwa-jiwa yang hilang. Kebanyakan gereja-gereja Kristen saat ini sudah kehilangan fungsinya sebagai gereja Tuhan karena lebih banyak berfungsi sebagai gereja manusia, yaitu tempat "christian gathering" (sosialisasi orang-orang Kristen) yang tidak peduli dengan misi Tuhan di dunia. Maka, tidak heran jika ada banyak gereja, yang kalau mau jujur, hanya tinggal papan nama saja, tapi Roh Tuhan sudah tidak ada di sana karena mereka hanya mendahulukan kepentingan manusia, bukan kepentingan Tuhan. Gereja kadang masih dipertahankan, bahkan direnovasi dan dibesarkan bangunannya, tapi sering hanya untuk memertahankan warisan pendiri-pendirinya saja dan menyenangkan kebutuhan jemaat, atau bahkan kalau mau blak-blakan, hanya untuk menyejahterakan hamba-hamba Tuhannya saja. Bagaimana kita tahu apakah gereja kita sudah menyeleweng dari tujuan Tuhan? Mudah, lihat saja dari laporan keuangan gereja, atau dengan kata lain, ke mana uang jemaat pergi. Digunakan untuk apa sebagian besar uang persembahan jemaat itu? - Untuk biaya operasional (administrasi)? - Untuk membangun sarana? - Untuk kegiatan perayaan? - Untuk menggaji hamba Tuhan/staf gereja? - Atau untuk pembinaan rohani jemaat dan penginjilan? Nah, Anda tahu sendiri jawabannya.

Selamat membaca dan selamat berdoa.

Catatan: Jika Anda ingin memberi tanggapan/komentar terhadap artikel di atas, silakan berkomentar di situs SOTeRI.

In Christ, Yulia < yulia(at)in-christ.net > <http://reformed.sabda.org >

Dear e-Reformed Netters,

Dari sejarah gereja, kita mengenal beberapa tokoh yang selalu berjuang mereformasi ajaran-ajaran gereja yang tidak sesuai dengan Alkitab dan berusaha mengembalikan ajaran kekristenan pada otoritas yang benar, yaitu Alkitab yang adalah firman Allah, dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Salah satu tokoh yang kita kenal sebagai reformator yang paling berpengaruh adalah John Calvin.

Teolog asal Perancis ini menjadi tokoh sentral dalam pengembangan dan penyebaran Calvinisme, sebuah sistem teologi yang menekankan pada otoritas Alkitab dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. "Oleh pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk menurut)," kata-kata yang beliau ucapkan inilah yang mungkin menjadi titik awal perannya yang sangat besar dalam gerakan reformasi gereja. Calvinlah yang membangun fondasi ajaran Reformed secara sistematis dan paling lengkap. Bagaimana semua itu terjadi? Tentunya semua ini tak lepas dari perjuangan hidup dan pelayanan beliau yang tak kenal lelah itu.

Menyambut Hari Reformasi tanggal 31 Oktober ini, mari kita simak edisi e-Reformed yang menyajikan riwayat hidup dan pelayanan John Calvin. Kiranya perjuangan dan semangat yang Calvin tunjukkan, dapat memberi inspirasi bagi kehidupan Kristen kita saat ini, khususnya semangat untuk mereformasi gereja kita masing-masing.

Untuk melengkapi artikel ini, kami ajak Anda pula untuk menyimak referensi seputar Reformasi, teologi Reformed, dan tokoh Reformasi yang kami tambahkan di bagian bawah artikel ini. Kiranya menjadi berkat.

Redaksi Tamu e-Reformed,
Dian Pradana

http://reformed.sabda.org

Dear e-Reformed Netters,

Saya membeli sebuah buku kecil dengan judul yang sangat menarik, "The Readable TULIP". Buku tersebut ditulis oleh seorang Pendeta Gereja Covenant Evangelical Reformed di Singapura yang bernama Cheah Fook Meng. Belum pernah terbayang dalam benak saya ada buku yang membahas TULIP (Lima Inti Calvinisme), sekecil dan setipis itu. Tentu menyenangkan sekali menemukan kenyataan bahwa itu bukan mimpi lagi.

Saya kira kata "Readable" yang dipakai di sini bukan dimaksudkan sebagai sindiran (kalau untuk sindiran, kata-katanya mungkin akan seperti ini: "TULIP for the Dumies"), tapi sebagai pembelaan, bahwa walaupun kebenaran iman Reformed memang tidak mudah (harus berpikir), namun bukan berarti tidak bisa dijelaskan dengan sederhana, khususnya bagi orang Reformed baru. Yang menjadi masalah adalah, yang mempersulitnya justru orang Reformed itu sendiri. Selain bahasanya yang sederhana, cara penyampaian gagasan dalam buku ini kelihatan bersahaja. Memang ada kesan tegas, solid, dan bertahan pada pendirian, namun tidak sombong. Memang ada kesan elite, tapi tidak eksklusif.

Bagian pertama buku ini menjelaskan tentang TULIP. Namun, saya sengaja tidak mengambil bagian ini untuk saya bagikan kepada Anda karena saya berasumsi bahwa kebanyakan dari Anda sudah tahu. Saya justru mengambil dua artikel pendek lain sesudahnya karena bagi saya, bagian ini lebih menarik. Dua bab yang saya ambil adalah:

  • Why We are Reformed?
  • What if We Reject the Reformed Faith?

Silakan menyimak. Jika Anda ingin memberi komentar, silakan berkunjung (tapi harus mendaftar menjadi anggota dulu) ke situs Soteri di:
==> http://reformed.sabda.org

In Christ,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >

Dear e-Reformed Netters,

Benar, bahwa semua pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan itu baik, tak peduli jabatan atau peran yang kita emban dalam melayani. Namun, kita harus selalu waspada karena tidak semua pelayanan yang kita lakukan menyenangkan hati Tuhan, meskipun apa yang kita lakukan itu baik. Salah satu hal yang membedakan pelayanan yang menyenangkan-Nya dan yang tidak adalah bagaimana cara kita memandang dan melakukan pelayanan yang saat ini sedang kita lakukan -- apakah sebagai panggilan atau sebagai karier?

Saat ini banyak orang yang menganggap bahwa pelayanan yang mereka lakukan adalah sebuah panggilan, padahal bukan. Mereka sebenarnya menghidupi pelayanan mereka sebagaimana layaknya dalam berkarier. Pelayanan semacam itu jelas dapat merusak hubungan kita dengan Allah karena pada dasarnya hal inilah merupakan esensi dari sebuah panggilan untuk melayani.

Melalui sajian di bawah ini, bersama-sama kita akan dibawa dalam suatu pemahaman mengenai apa artinya panggilan dan apa bedanya dengan pelayanan yang hanya merupakan karier. Tentu saja kami berharap agar kita semua memiliki jiwa pelayanan yang benar dan menghidupi pelayanan kita sebagai sebuah panggilan -- sebuah pelayanan yang Dia inginkan dan yang pasti berkenan di hati-Nya.

Selamat menyimak.

Redaksi Tamu e-Reformed,
Dian Pradana

Dear e-Reformed Netters,

Sering kali kita kelihatan memiliki konsep dan pola pikir yang rohani, namun ternyata tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Seperti isu tentang "kebangunan rohani" yang dikemukakan oleh A.W. Tozer dalam bukunya yang berjudul "Keys to the Deeper Life" di bawah ini. Kecenderungannya, kebaktian "kebangunan rohani" diadakan untuk membangkitkan kembali iman orang Kristen agar hidup sesuai dengan firman Tuhan. Padahal, yang benar adalah jika kita hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka Dia yang akan memberikan kebangunan rohani tersebut. Kebangunan rohani bukanlah sebab, tetapi akibat.

Janganlah mengulangi kesalahan yang telah dilakukan oleh gereja dan orang Kristen pada masa lalu. "Kita harus kembali pada kekristenan Perjanjian Baru, bukan hanya dalam hal doktrin, melainkan seluruh tata cara hidup," demikian ajakan A.W. Tozer beberapa puluh tahun yang lalu. Biarlah kita mendengarkan ajakannya tersebut sehingga pembaharuan dalam kehidupan gereja masa kini dapat terjadi. Kebangunan rohani tidak lagi sekadar kegiatan kebaktian, namun menjadi kesaksian yang nyata dalam kehidupan setiap orang Kristen. Amin!

In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >

Komentar