Kategori Utama

Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Semoga Anda semua baik-baik saja dan menikmati anugerah sukacita dari Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merenungkan tentang apa artinya spiritualitas. Hal ini bermula dari rasa penasaran karena pada kenyataannya tidak hanya para teolog atau orang beragama saja yang membicarakan tentang spiritualitas, tapi juga para intelektual (contohnya pencetus ide SQ -- Spiritual Intelligence). Sayangnya, rasa penasaran saya itu cepat sekali lenyap ketika mengetahui bahwa ternyata yang dimaksud dengan 'spiritual intelligence' tidak harus dihubungkan dengan hal-hal agamawi atau rohani, atau bahkan Tuhan. Menurut mereka, orang yang memiliki kecerdasan spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki agama atau tahu menahu tentang hal-hal rohani, apalagi mempercayai adanya Tuhan. Nah makanya jangan mudah terkecoh dengan istilah yang keren.

Namun, rasa penasaran saya kembali tertantang ketika melihat lunturnya semangat kaum Injili dalam menanggapi isu-isu tentang spiritualitas Kristen yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak lagi terdengar suara-suara orang Injili yang dapat menjadi tonggak dimana orang-orang Kristen bisa menambatkan perhatiannya sehingga terus menghargai keunikan spiritualitas Injili .... Saya tiba-tiba tersentak, ketika menyadari bahwa, mungkin, kalau kita tidak hati-hati, mungkin saja kita bisa kehilangan satu generasi orang Kristen yang tidak lagi menghargai, atau bahkan lebih parah lagi, mengenal apa itu semangat Injili, spiritualitas Injili ...?!

Ketika saya bertanya pada diri sendiri 'Apa yang bisa saya lakukan untuk generasi saya? Maka salah satu jawaban yang muncul adalah saya ingin terus menyuarakan kembali suara-suara kaum Injili. Inilah tujuan saya memilih artikel Stanley J. Grenz berikut ini. Saya harap melalui tulisan ini kita semua diingatkan lagi tentang "warisan" keyakinan yang sangat berharga, yang dibangun oleh para leluhur rohani kita sebelumnya, yang telah menggumuli poin-poin penting spiritualitas Injili yang penting untuk dilestarikan. Tulisan Stanley J. Grenz di bawah ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kita meneruskan semangat kaum Injili, misalnya dengan cara meninjau ulang agar menjadi semakin tajam dan aplikatif bagi generasi kita sekarang dan menjadi inspirasi bagi generasi anak-anak kita yang akan datang.

Mari kita suarakan kembali semangat Kaum Injili!

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Semoga Anda semua baik-baik saja dan menikmati anugerah sukacita dari Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merenungkan tentang apa artinya spiritualitas. Hal ini bermula dari rasa penasaran karena pada kenyataannya tidak hanya para teolog atau orang beragama saja yang membicarakan tentang spiritualitas, tapi juga para intelektual (contohnya pencetus ide SQ -- Spiritual Intelligence). Sayangnya, rasa penasaran saya itu cepat sekali lenyap ketika mengetahui bahwa ternyata yang dimaksud dengan 'spiritual intelligence' tidak harus dihubungkan dengan hal-hal agamawi atau rohani, atau bahkan Tuhan. Menurut mereka, orang yang memiliki kecerdasan spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki agama atau tahu menahu tentang hal-hal rohani, apalagi mempercayai adanya Tuhan. Nah makanya jangan mudah terkecoh dengan istilah yang keren.

Namun, rasa penasaran saya kembali tertantang ketika melihat lunturnya semangat kaum Injili dalam menanggapi isu-isu tentang spiritualitas Kristen yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak lagi terdengar suara-suara orang Injili yang dapat menjadi tonggak dimana orang-orang Kristen bisa menambatkan perhatiannya sehingga terus menghargai keunikan spiritualitas Injili .... Saya tiba-tiba tersentak, ketika menyadari bahwa, mungkin, kalau kita tidak hati-hati, mungkin saja kita bisa kehilangan satu generasi orang Kristen yang tidak lagi menghargai, atau bahkan lebih parah lagi, mengenal apa itu semangat Injili, spiritualitas Injili ...?!

Ketika saya bertanya pada diri sendiri 'Apa yang bisa saya lakukan untuk generasi saya? Maka salah satu jawaban yang muncul adalah saya ingin terus menyuarakan kembali suara-suara kaum Injili. Inilah tujuan saya memilih artikel Stanley J. Grenz berikut ini. Saya harap melalui tulisan ini kita semua diingatkan lagi tentang "warisan" keyakinan yang sangat berharga, yang dibangun oleh para leluhur rohani kita sebelumnya, yang telah menggumuli poin-poin penting spiritualitas Injili yang penting untuk dilestarikan. Tulisan Stanley J. Grenz di bawah ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kita meneruskan semangat kaum Injili, misalnya dengan cara meninjau ulang agar menjadi semakin tajam dan aplikatif bagi generasi kita sekarang dan menjadi inspirasi bagi generasi anak-anak kita yang akan datang.

Mari kita suarakan kembali semangat Kaum Injili!

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
Stanley J. Grenz
Edisi: 
051/VI/2004
Isi: 

Disadur dari buku Stanley J. Grenz Revisioning Evangelical Theology: A Fresh Agenda for the 21th Century Downers Grove, Illinois: IVP, 1993. Hal. 31-59

Lane Dennis mengatakan bahwa ciri khas Kaum Injili adalah penekanannya pada keselamatan yang dialami secara pribadi -- komitmen kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya (pribadi). Kehebatan gerakan ini adalah mempersatukan pengalaman religius dengan bahasa teologis yang sama. Pengertian tentang natur Injili ini menunjukkan perubahan mendasar dari kesadaran Kaum Injili. Perubahan identitas yang berdasar pada pengakuan iman menuju kepada identitas yang berdasarkan spiritualitas.

William W. Wells menyatakan tiga karakteristik unik Gerakan Injili ini: orang Kristen Injili mempercayai otoritas Alkitab; menekankan pengampunan Allah dan hubungan pribadi yang indah dengan Allah melalui Kristus; dan menekankan perjuangan untuk hidup suci melalui disiplin rohani. Meskipun Gerakan Neo-Injili tetap berpegang kepada otoritas Alkitab, penekanan sekarang lebih kepada aspek spiritualitas, yang sebelumnya sering terselubungi oleh dimensi intelektual atau doktrinal.

Penekanan kepada dimensi spiritualitas sebenarnya sejalan dengan sejarah Gerakan Injili itu sendiri. Sebelum abad kedua puluh, Puritanisme dan Pietisme memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Gerakan Injili ini. Puritanisme membangkitkan suatu bentuk kesalehan hidup sebagai respon terhadap Doktrin Pilihan dari Calvinisme. Calvinisme meletakkan keselamatan manusia dalam konteks pilihan Allah yang bersifat misteri. Meskipun teologi ini memelihara kedaulatan Allah, manusia menjadi tidak mempunyai kepastian bahwa dia memiliki status sebagai orang pilihan atau tidak. Karena itu, tidak ada pengakuan iman yang sungguh, tidak ada kesetiaan mengikuti sakramen, maupun serangkaian hidup yang suci, yang dapat menjamin bahwa seseorang merupakan umat pilihan Allah. Di tengah-tengah ketidakpastian inilah kaum Puritan menemukan satu tanda umat pilihan: pengalaman rohani secara pribadi terhadap anugerah keselamatan Allah. Dengan demikian, kepastian status pilihan menjadi bergantung kepada kemampuan seseorang menceritakan pengalaman pertobatannya. Lebih lagi, penekanan kembali kepada hal-hal yang bersifat spiritual ini merupakan pengaruh dari gerakan Pietis, khususnya keinginan mereka untuk mereformasi hidup dan bukan mereformasi doktrin.

Karena itu, seperti John Wesley katakan, titik temu antara Pietisme dan Gerakan Injili adalah pada: panggilan hidup baru, buah-buah rohani, dan suatu hidup yang berbeda dengan kemalasan gereja dan anggota-anggotanya yang sangat duniawi. Kaum Injili bersifat pietist dalam hal fokusnya pada dinamika kehadiran Kristus dalam hidup orang percaya. Hal ini menandai pergeseran dari gerakan sebelumnya yang menekankan pada aktivitas (doing), kepada hal-hal yang bersifat kontemplasi (being). Pembahasan lebih lanjut akan difokuskan kepada keunikkan spiritualitas Kaum Injili.

Menuju Pengertian Spiritualitas Injili

Salah satu definisi ´spiritualitas´ yang cukup baik diberikan oleh Robert Webber:

"Secara luas, spiritualitas dapat didefinisikan sebagai hidup yang sesuai dengan hidup Kristus. Hidup yang menyadari bahwa karya salib Kristus membuat kita menjadi warga negara sorga, dan sorgalah yang menjadi tujuan hidup kita di dunia. Perjalanan hidup ini dikerjakan dalam konteks kita sebagai anggota tubuh Kristus. Melalui ibadah kepada Allah, spiritualitas kita terus menerus dibentuk. Dan misi kita di dunia adalah untuk memberitakan visi Kristen melalui perkataan dan tindakan kita."

Karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah suatu perjuangan mengejar kesucian di bawah pimpinan Roh Kudus bersama-sama dengan seluruh orang percaya. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus.

Sesuai dengan ajaran Paulus dalam 1Korintus 2:14-3:3, Kaum Injili sangat menekankan akan ´pola pikir rohani´ yang dikontraskan dengan manusia duniawi. Dengan menggabungkan salib dan Pentakosta -- yaitu bergantung pada kemenangan Kristus dan kehadiran Roh Kudus -- Kaum Injili menjalani hidup yang disebut oleh Watchman Nee sebagai ´the Normal Christian life´, yaitu hidup yang semakin serupa dengan Kristus yang ditandai dengan ketaatan total kepada kehendak Allah. Dengan demikian Kaum Injili selalu menekankan hidup yang berkemenangan melalui peperangan melawan kuasa setan, manusia lama, dan dunia. Dan dengan kuasa Roh Kudus mengalahkan musuh-musuh rohani orang percaya.

Kita dapat melihat bahwa inti dari spiritualitas Injili adalah suatu usaha untuk menyeimbangkan dua prinsip yang kelihatan bertentangan, yaitu: bagian dalam dari manusia (inward) dengan bagian luar (outward), dan dimensi kesucian personal dengan komunal.

Keseimbangan Antara Inward dan Outward

Spiritualitas Kaum Injili mencoba menyeimbangkan kesucian hati dan aktivitas pelayanan. Hati orang percaya harus dipenuhi dengan kasih kepada Yesus Kristus. Komitmen ini lebih dari sekedar pengetahuan tentang karya Kristus dalam sejarah atau menerima doktrin tentang Kristus. Tetapi adanya suatu hubungan pribadi yang dekat dengan Yesus yang bangkit dan hidup. Karena itu, bagian dalam dari manusia (inward) merupakan fondasi dari spiritualitas. Akibatnya, Kaum Injili lebih tertarik kepada respon pribadi seseorang kepada Yesus daripada kemampuan mereka untuk memformulasikan atau menghafalkan pernyataan doktrinal tentang Yesus.

Kaum Injili juga lebih mementingkan motivasi hati dalam mengikuti ibadah dan perjamuan kudus daripada sekedar memenuhi kewajiban itu secara eksternal. Ibadah eksternal tanpa kesadaran internal hanya merupakan ritual yang mati. Karena itu, Kaum Injili tidak datang ke gereja demi memenuhi tuntutan ibadah secara eksternal, tetapi karena dorongan hati untuk memuliakan Allah dan bersekutu bersama umat percaya. Kita termotivasi dari dalam hati dan bukan dipaksa dari luar untuk menghadiri ibadah bersama. Sikap seperti ini dinyatakan dengan suatu pujian dari dari hati, "I´m so glad, I´m a part of the family of God."

Dalam kaitan dengan ini, spiritualitas Injili juga sangat menekankan pengalaman religius dalam hidup orang percaya. Penekanan ini berasal dari Gerakan Pietisme yang sangat menekankan teologi lahir baru yang bersumber pada Injil Yohanes: ´Iman harus menjadi nyata dalam pengalaman! Iman harus mentransformasi hidup!´ Pengalaman lahir baru merupakan bagian sentral dan titik awal perjalanan hidup orang percaya bersama Tuhan, yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Tetapi kelahiran baru ini harus diikuti dengan perjalanan spiritual pribadi yang ditandai dengan pertumbuhan dalam kesucian. Di hadapan Kaum Injili, James Houston menggambarkan spiritualitas sebagai,

´The outworking ... of the grace of God in the soul of man, beginning with conversion to conclusion in death or Christ´s second advent. It is marked by growth and maturity in a Christlike life.´[1] (Karya anugerah Allah dalam jiwa manusia, yang dimulai dengan kelahiran baru dan diakhiri dengan kematian atau kedatangan Kristus ke dua kali. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan dan kedewasaan dalam hidup seperti Kristus.)

Penekanan pada inward, sangat sentral dalam spiritualitas Injili dan akan membentuk ketegangan kreatif ketika digabungkan dengan bagian luar (outward) dari hidup Kristen. Spiritualitas memang bersumber pertama-tama dari dalam hati, tetapi hidup Kristen juga berarti pemuridan. Dan pemuridan bersifat outward. Faktanya, spiritualitas sejati harus dinyatakan dalam perbuatan yang kelihatan. Perubahan hati harus dinyatakan dalam hidup yang nyata. Tetapi perbuatan nyata ini bukan untuk mendapatkan anugerah Allah, melainkan sebagai wujud dari kerinduan kita untuk mengikuti jejak kaki Yesus. Natur dari kehidupan spiritualitas adalah meneladani Yesus (the imitation of Christ). Pemuridan berarti mengikuti model yang telah dinyatakan dalam hidup Yesus, karena orang Kristen sejati akan merefleksikan karakter Yesus dalam hidupnya.

Pengertian ini mempengaruhi Kaum Injili dalam memandang sakramen. Kita menolak pandangan ekstrem dari sakramentalisme maupun penghapusan sakramen. Di satu sisi, kita menolak memandang sakramen sebagai suatu alat magis untuk mendapatkan anugerah Allah (sakramentalisme), tetapi di lain sisi kita juga tidak membuang sakramen. Kita memandang sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus) sebagai suatu ibadah yang sangat penting untuk mengekspresikan secara fisik apa yang sudah dikerjakan Allah di dalam hati. Sakramen merupakan tanda yang kasat mata dari anugerah Allah yang tidak kasat mata.

Penekanan Kaum Injili tentang pemuridan sebagai meneladani Kristus juga mempengaruhi pengertian kita tentang kehidupan gereja. Kita menekankan mengikut Kristus sebagai suatu ibadah setiap hari dan bukan hanya ibadah hari minggu. James Houston menekankan bahwa kekristenan bukanlah suatu acara khusus, tetapi merupakan gaya hidup (life style). Sikap seperti ini mengakibatkan motivasi utama untuk menghadiri ibadah bersama adalah untuk diajar, didorong, dan dikuatkan untuk memiliki gaya hidup yang berkenan kepada Allah. Poin yang terus-menerus ditekankan pada ibadah Minggu adalah: ´Jika engkau adalah orang percaya, hidup suci harus menjadi nyata bukan hanya pada hari Minggu tetapi dari Minggu sampai Sabtu. Apa yang Anda dengar pada hari Minggu harus diterjemahkan dalam perbuatan sepanjang minggu. Jika tidak demikian, imanmu hanya merupakan iman hari Minggu.´

Dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Injili mencoba menyeimbangkan dimensi dalam dan dimensi luar dari hidup Kristen. Kita mencoba menyeimbangkan hati yang hangat oleh kasih kepada Allah dengan hidup yang mengikuti teladan Yesus. Kita memprioritaskan dimensi dalam sebagai sumber dari dimensi luar, tetapi kita menganggap dimensi dalam mati jika tidak menghasilkan ekspresi luar yang seharusnya dalam hidup pemuridan. Lagu yang sering kita nyanyikan mengekspresikan dengan baik kedua dimensi ini, ´Trust and obey, for there´s no other way, to be happy in Jesus, but to trust and obey.´

Keseimbangan Personal dan Komunal

Kekudusan hidup di antara Kaum Injili biasanya hanya dimengerti secara individu. ´Membaca Alkitab´ berarti membaca secara pribadi; ´berdoa´ berarti berdoa secara pribadi; ´keselamatan´ berarti diselamatkan secara pribadi; ´hidup dalam Kristus´ berarti memiliki hubungan pribadi dengan Kristus. Seperti dikatakan Daniel Stevick: "Perjalanan Kristen dijalani sendiri, keselamatan dari Allah ditujukan kepada pribadi. Pertolongan-Nya selalu dalam konteks pribadi. Perjalanan diisi dengan penyucian secara pribadi dan tujuannya adalah istana yang dibangun bagi pribadi."[2]

Dalam pengertian tertentu, karakteristik yang digambarkan ini memang cukup tepat. Namun, pendekatan Kaum Injili terhadap perjalanan iman orang percaya secara pribadi tidak pernah dilihat sebagai bagian yang terisolasi, melainkan selalu dilihat dalam konteks persekutuan orang percaya. Di sinilah terdapat keseimbangan antara kehidupan personal dan komunal dari hidup spiritualitas.

Jelas kita mengerti spiritualitas Kristen sebagai sesuatu yang bersifat individu atau personal. Kelahiran baru dan pertumbuhan iman harus pertama-tama dialami secara individu. Masing-masing orang percaya harus bertanggung jawab terhadap spiritualitasnya secara pribadi. Setiap individu bertanggung jawab untuk hidup suci dan meneladani Kristus.

Penekanan pada tanggung jawab pribadi ini sejalan dengan prinsip tradisional Prostestan tentang keimamatan orang percaya dan terutama penekanannya mengenai ´kompetensi individu´. Prinsip kompetensi individu menyatakan bahwa setiap pribadi bertanggung jawab secara pribadi kepada Allah dan dengan pertolongan Roh Kudus mampu berespons secara pribadi kepada Allah. Prinsip ini memberikan implikasi penting bagi spiritualitas. Hal ini berarti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diperdamaikan dengan Allah oleh orang lain ataupun oleh gereja. Tidak seorang pun dapat mengklaim dirinya sebagai orang Kristen berdasarkan iman orangtua, karena melakukan ritual tertentu, lahir dalam negara tertentu, atau bahkan karena beragama tertentu. Kaum Injili biasanya mengatakan: ´Allah hanya mempunyai anak-anak, tetapi tidak mempunyai cucu.´ Karena itu para penginjil selalu menekankan: ´Keputusan untuk menerima Kristus atau menolak-Nya ada padamu; tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya bagimu.´ Penekanan ini sangat jelas pada lagu yang begitu terkenal: ´Manis lembut, Tuhan Yesus memanggil. Memanggil saya dan kau ... pulang, pulang, kau yang berlelah pulang.´

Karena spiritualitas adalah persoalan pribadi, Kaum Injili sangat menekankan disiplin rohani sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani. Disiplin dalam membaca Alkitab setiap hari dengan apa yang disebut sebagai ´saat teduh´; bersaksi secara pribadi; dan juga hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghadiri kebaktian secara rutin.

Penekanan pada aspek personal ini juga mempengaruhi strategi dalam misi Kaum Injili. Dalam abad-abad permulaan kekristenan mulai tersebar di luar Kerajaan Romawi ke daerah-daerah yang masih belum tersentuh peradaban. Para misionaris biasanya memfokuskan pemberitaan Injil kepada para pemimpin suku atau raja, sehingga ketika pemimpin ini dibaptis, seluruh rakyatnya juga ikut dibaptis. Kaum Injili sangat kuatir bahwa strategi ini hanya menghasilkan kekristenan yang bersifat pura-pura, dangkal dan bahkan bisa bersifat sinkretistik. Meskipun tidak menolak peran penting yang dimiliki para pemimpin, Kaum Injili sangat menekankan Injil yang diberitakan kepada setiap individu. Karena kita mengerti bahwa spiritualitas adalah tugas dari setiap pribadi.

Meskipun sangat menekankan dimensi personal bagi spiritualitas orang Kristen, Kaum Injili juga menyeimbangkannya dengan dimensi komunal atau korporat. Tidak ada seorang pun dapat hidup dan bertumbuh dalam mengikuti Yesus dalam isolasi. Tetapi setiap kita harus bersekutu supaya dapat bertumbuh secara dewasa. Analogi yang sering digunakan adalah bara api. Bara api akan saling membakar ketika dikumpulkan bersama. Tetapi ketika satu bara api dikeluarkan dari kelompoknya, dia akan segera padam dan menjadi dingin. Begitu juga hidup Kristen: orang Kristen yang menarik diri dari komunitas orang percaya akan sulit untuk bertumbuh dan cepat menjadi dingin. Tetapi ketika bersekutu bersama, orang Kristen akan saling mendukung dan dengan demikian akan terus hidup dan berapi-api bagi Tuhan.

Jadi dalam pandangan Kaum Injili, meskipun setiap orang bertanggung jawab atas pertumbuhan imannya sendiri, setiap orang juga bergantung kepada kelompok orang percaya. Setiap orang percaya membutuhkan dorongan dan nasihat dari saudara-saudara seiman lainnya.

Pandangan ini memberikan pengertian yang penting mengenai gereja. Jemaat gereja lokal harus merupakan suatu komunitas yang saling menasihatkan, mendukung, dan mengajar satu dengan yang lainnya. Lebih jauh, setiap anggota dari persekutuan orang percaya harus terlibat dalam tugas-tugas yang dikerjakan bersama. Kita terpanggil bukan saja untuk beribadah bersama, tetapi juga untuk masuk menjadi bagian dari kehidupan keseharian anggota yang lain. Dengan demikian, setiap orang berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan komunitas Kristen. Inilah esensi dari jemaat lokal dalam pandangan Injili.

Prinsip bahwa setiap orang percaya perlu bersekutu dengan yang lainnya menghasilkan suatu penekanan klasik Injili terhadap kehadiran dalam kebaktian. Kita harus hadir dalam kegiatan-kegiatan gerejawi secara bersama. Tetapi tujuan penekanan ini berbeda dengan gereja-gereja liturgikal. Kita tidak melihat kehadiran dalam kegiatan gereja sebagai sarana mendapat anugerah, tetapi dalam perkumpulan orang percaya inilah pengajaran dan kekuatan dinyatakan.

Pengertian di atas memberikan dampak terhadap apa yang dianggap paling penting dalam ibadah Minggu. Roma Katolik menekankan perjamuan kudus dalam ibadah, sedangkan gereja-gereja Injili memfokuskan ibadah Minggu pada pemberitaan Firman Tuhan. Di atas segalanya, kita datang untuk mendengar kotbah, yang kita pandang sebagai sarana utama manusia bertemu dengan Allah. Kita mendengarkan kotbah dengan kerinduan untuk mendengar ´Allah sedang berkata-kata kepada saya secara pribadi´. Sebagai akibatnya, kita mendapat peringatan, kekuatan, dan bahkan arahan hidup melalui kehadiran kita dalam ibadah bersama. Kita berkumpul untuk mendengar Firman (Word), supaya kita bisa tersebar sebagai umat Allah di tengah-tengah dunia (world).

Tetapi akhir-akhir ini Kaum Injili memiliki pengertian yang lebih dalam lagi mengenai kepentingan ibadah bersama sebagai elemen yang sentral di samping kotbah. Salah satu pemimpin dalam hal ini adalah Robert Webber yang mengatakan:

´Worship is the rehearsal of our relationship to God. It is at that point through the preaching of the Word and through the administration of the sacrament, that God makes himself uniquely present in the body of Christ. Because worship is not entertainment, there must be a restoration of the incarnational understanding of worship, that is, in worship the divine meets the human. God speaks to us in his Word. He comes to us in the sacrament. We respond in faith and go out to act on it!´[3] (Ibadah adalah gladi-bersih dari hubungan kita dengan Allah. Pada titik itulah melalui pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen, Allah hadir secara khusus dalam tubuh Kristus. Karena ibadah bukan merupakan hiburan, harus ada pengertian baru dari ibadah yang bersifat inkarnasi, yaitu Allah bertemu dengan manusia dalam ibadah. Allah berbicara kepada kita melalui Firman. Dia datang kepada kita dalam sakramen. Kita berespon dengan iman dan keluar untuk hidup sesuai dengan itu!)

Seperti dikatakan Webber, penekanan pada ibadah bersama bukan berarti meniadakan sentralitas kotbah dalam ibadah Minggu. Tetapi hal ini lebih merupakan suatu usaha untuk kembali mendapat keseimbangan yang lebih baik demi menjalankan tugas gereja dengan lebih efektif.

Di tengah-tengah penekanan Injili untuk ´menemukan pelayanan dalam gereja´, kita mendiskusikan interaksi yang penting antara dimensi personal dan korporal dari iman Kristen. Kita mendorong setiap individu untuk ´menemukan pelayanan´ dalam konteks gereja lokal. Dan hal ini jelas berkaitan dengan dimensi korporal dari spiritualitas Kristen. Sewaktu kita terlibat pelayanan dalam komunitas Kristen, kita berpartisipasi dalam tugas mendorong pertumbuhan orang lain dan juga secara tidak langsung kepada diri kita sendiri. Keterlibatan dalam hidup orang lain merupakan kesempatan untuk mendorong, menasihati, dan memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi tujuannya lebih dari itu: supaya mereka yang menerima pelayanan bisa bertumbuh dewasa secara rohani dan kemudian akhirnya ikut melayani anggota lain dalam tubuh Kristus.

Pandangan ini berimplikasi pada eklesiologi. Bagi kita, gereja adalah persekutuan orang percaya, persekutuan murid Kristus, komunitas orang- orang yang dengan serius bertanggung jawab secara pribadi bagi spiritualitasnya dan pada saat yang sama terjun dalam pelayanan untuk mendorong pertumbuhan rohani secara korporal. Kaum Injili yang bertanggung jawab bernyanyi bersama: ´Kami akan berjalan bersama, kami akan berjalan bergandengan tangan.´ Karena jalan spiritualitas adalah jalan yang mengikat setiap individu bersama-sama. (BS)

[1] James M. Houston, "Spirituality" in The Evangelical Dictionary of Theology, ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1984),1047.
[2] Daniel B. Stevick, Beyond Fundamentalism (Richmond, Va: John Knox Press, 1964),127.
[3] Robert Webber, The Majestic Tapestry (Nashville: Thomas Nelson,1986),129.
Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku: Momentum, Edisi 44, Triwulan III/Oktober 2000
Judul Artikel: Spiritualitas Injili: Suatu Tinjuan Ulang
Penulis: Stanley J. Grenz
Penerjemah : -
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman: 29-36

Postmodernis Cilik

Dear e-Reformed Netters,

Sebelum saya sendiri memiliki anak, saya tidak pernah membayangkan bahwa ternyata anak-anak itu bukan hanya malaikat-malaikat kecil, tapi mereka adalah filosof-filosof kecil. Jika kita cukup peka mengamati apa yang mereka katakan, apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka lakukan, maka kita akan sering dikejutkan dengan kepolosan pandangan mereka terhadap dunia sekelilingnya. Ternyata mereka sangat sensitif. Tapi, pernah tidak kita meluangkan waktu memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari anak-anak kita itu?

Tulisan J. Mack Stiles yang saya sajikan untuk Publikasi e-Reformed bulan ini membuktikan bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari anak kecil, ... kalau kita mau .... :( J. Mack Stiles adalah Direktur Regional InterVarsity Christian Fellowship di kawasan Amerika Tenggara yang tinggal di Lexington, Kentucky. Ketiga anak laki- lakinya, Tristan, David, dan Isaac, memberi inspirasi bagi bukunya yang berjudul: 17 HAL YANG DIAJARKAN ANAKKU TENTANG ALLAH. (Salah satu hal tersebut dapat Anda simak melalui artikel di bawah ini).
Nah, selamat membaca dan merenungkan.

In Christ,
Yulia Oen selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sebelum saya sendiri memiliki anak, saya tidak pernah membayangkan bahwa ternyata anak-anak itu bukan hanya malaikat-malaikat kecil, tapi mereka adalah filosof-filosof kecil. Jika kita cukup peka mengamati apa yang mereka katakan, apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka lakukan, maka kita akan sering dikejutkan dengan kepolosan pandangan mereka terhadap dunia sekelilingnya. Ternyata mereka sangat sensitif. Tapi, pernah tidak kita meluangkan waktu memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari anak-anak kita itu?

Tulisan J. Mack Stiles yang saya sajikan untuk Publikasi e-Reformed bulan ini membuktikan bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari anak kecil, ... kalau kita mau .... :( J. Mack Stiles adalah Direktur Regional InterVarsity Christian Fellowship di kawasan Amerika Tenggara yang tinggal di Lexington, Kentucky. Ketiga anak laki- lakinya, Tristan, David, dan Isaac, memberi inspirasi bagi bukunya yang berjudul: 17 HAL YANG DIAJARKAN ANAKKU TENTANG ALLAH. (Salah satu hal tersebut dapat Anda simak melalui artikel di bawah ini).
Nah, selamat membaca dan merenungkan.

In Christ,
Yulia Oen

Edisi: 
050/V/2004
Isi: 

Anak saya Isaac, sewaktu berusia 23 bulan dan masih terlalu kecil untuk memahami hari-hari dalam seminggu, telah mulai menyadari suatu pola di sekitarnya: panekuk berarti hari Sabtu, bunyi jam weker David berarti hari sekolah, bila setiap orang berpakaian bagus berarti perjalanan menuju tempat penitipan anak di gereja, yang tidak disukainya.

Hari itu hari Minggu. Kami telah berganti pakaian dan siap ke gereja. Saya sedang menghirup kopi dan membaca koran bagian rubrik olahraga di meja makan ketika Isaac bertanya, "Yah, sekarang hari apa?"

"Isaac," jawab saya dari balik koran, "Sekarang Minggu pagi. Hari ini kita akan pergi ke gereja." Saya menghirup kopi sekali lagi.

"Minggu itu apa?" tanyanya.

"Minggu adalah hari pertama dalam sepekan, dan itulah hari Tuhan."

"Kemarin hari apa?"

"Hmm ... Isaac, kemarin hari Sabtu, akhir pekan, hari Sabat orang Yahudi."

"Hari ini hari apa?" ulang Isaac.

"Hari ini harinya Tuhan, Isaac. Hari yang kita rayakan untuk memperingati kebangkitan Tuhan, hari saat Dia bangkit dengan penuh kemenangan atas maut dan kubur. Inilah hari Sabat orang kristiani." Saya meliriknya dari balik koran. Saya bangga bisa memberikan jawaban ini sambil membaca berita tentang kemenangan kelompok Wildcat atas Georgia.

Sebaliknya, Isaac malah mengernyitkan alis dan merenung, kemudian menghela napas panjang, pertanda ia sangat tidak puas dengan jawaban saya. Ia menyilangkan kedua lengannya yang montok dan mencondongkan tubuhnya ke arah saya, sampai sikunya menggilas Cheerios. "Bukan, Ayah," sanggahnya, "sekarang bukan hari Minggu."

"Maaf, Isaac, kenyataannya sekarang hari Minggu," sahut saya seraya membalik halaman koran.

Namun, Isaac telah membuat suatu keputusan. "Ini hari Kamis," ia mengumumkan.

Saya meletakkan koran yang saya baca, lalu saya tatap matanya. Saya memutuskan untuk menyisihkan aspek teologi dan segera menangani pokok persoalannya. "Isaac, sekarang hari Minggu dan kau harus ke gereja."

"Tidaaaaak!" katanya mempertahankan pendapat. "Sekarang hari Kamis."

"Isaac, sekarang hari Minggu."

"Kamis!"

"Minggu!" kata saya tidak mau kalah.

Leeann (istri saya) meletakkan selembar roti panggang di piring saya dan mengingatkan bahwa saya sedang berdebat dengan seorang anak berumur dua tahun. "Ingat," katanya sambil tersenyum, "berdebat dengan seorang anak berumur dua tahun tidak mungkin menang."

"Ayah," kata Isaac ngotot, "sekarang bukan hari Minggu ... karena ini hari Kamis -- bagiku."

Tiba-tiba terbersitlah kesadaran yang membuat saya melihat bahwa ini bukan diskusi tentang hari-hari dalam sepekan -- dan bukan sekadar tentang tempat penitipan anak. Ini merupakan diskusi tentang pandangan mengenai dunia. Selagi saya menatap matanya yang tak berkedip (saya juga tidak berkedip), semuanya jadi jelas: saya sedang berbicara dengan seorang postmodernis cilik! [Catatan: Postmodernis ialah orang yang berfaham menentang segala dogma dan aturan yang diyakini oleh orang lain karena menganggap ia bebas bertindak atau berpendapat apa saja.]

Bagaimana Pandangan Anda Tentang Dunia?

Hari Minggu benar-benar jadi hari Kamis! Isaac jelas-jelas telah menolak cerita saya tentang hari Minggu yang merupakan suatu metanarasi yang menindas, yakni suatu unjuk kekuatan yang dirancang untuk memaksanya tinggal di tempat penitipan anak yang tidak disukainya. Isaac, di usianya yang masih sangat muda, telah menolak atau tepatnya, memandang rendah segala realisme yang kritis! Pikiran saya melayang ke awang-awang.

"Halo, Michel Foucault? ... Ya, saya menelepon hanya untuk memberi tahu bahwa saya lihat anak laki-laki saya telah memakai kebebasan individunya untuk mendapatkan kesenangan sepuas-puasnya, padahal saya dan ibunya telah bersekongkol untuk melumpuhkan hasratnya dalam mengekspresikan keinginan .... Tidak, astaga, tidak, tidak begitu ya, ia menggunakan yogurt .... Hm-em, ya... ya... kelihatannya ia setuju dengan penilaian Beiner bahwa hukum adalah sama dengan penindasan, dan pembebasan dari tuduhan kriminal sama dengan kebebasan .... Tidak, kami tidak akan hadir di acara Pesta Dansa Amal Para Anarkis .... Ia harus dititipkan ke tempat penitipan anak -- ia baru berumur dua tahun, dan kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menetapkan satu metanarasi padanya .... Terima kasih .... baiklah, ya ... tidak jadi masalah. Sampai jumpa."

Sewaktu saya mengamati pengungkapan relativistis Isaac yang ia nyatakan dengan mengusapkan yogurt rasberi dan Cheerios bergantian di atas kepalanya, saya terus bertanya-tanya kesalahan apa yang telah Leeann dan saya lakukan. Apakah Isaac telah mulai menganut nihilisme [penolakan total atas semua organisasi sosial, politik, dan agama traditional serta nilai-nilai moral] karena kesalahan orangtua dalam mengasuhnya? Saya hampir tak dapat memahaminya.

Akan tetapi, mungkin, cuma mungkin, saya dan Leeann tidak salah. Mungkin, para realitivis bingung sekarang hari apa dan merekalah yang bertingkah laku seperti Isaac, dan bukan Isaac yang meniru mereka. Apakah mereka sedang melakukan pemberontakan kanak-kanak terhadap Allah? Mungkin mereka telah merancang suatu argumentasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, bukan untuk memperoleh kebenaran.

Pandangan Dunia Berdasarkan Stiker Mobil

Dalam bukunya "The Universe Next Door", Jim Sire menuliskan, "Hanya sedikit orang yang melakukan pendekatan filsafat yang jelas, paling tidak seperti dicontohkan para filsuf besar. Bahkan saya kira lebih sedikit lagi orang yang memiliki pandangan teologi yang terkonstruksi dengan hati-hati. Namun, setiap orang memiliki pandangan dunia dalam benaknya." Bahkan anak-anak pun punya! Namun, ada masalah terbesar: dalam dunia nyata, kebanyakan orang menjalankan pandangan dunia yang belum teruji. Demikian pula saya. Saya seolah membentuk pandangan saya sendiri tentang dunia berdasarkan kata-kata klise dan slogan-slogan yang biasanya tertulis pada stiker mobil. Saya cenderung menyomot dan memilih kata-kata klise yang kedengarannya paling baik di antara berbagai pandangan dunia yang berlaku atau bahkan yang bertentangan. Saya memegang faham teisme ketika menghadiri pemakaman, faham eksistensialisme saat mencari sosok pahlawan, dan naturalisme ketika ke dokter. Kalau dicampur jadi satu, "isme-isme" ini menjadi sebuah pandangan dunia yang benar-benar baru, yang saya sebut pandangan dunia berdasarkan stiker mobil (disingkat pandangan dunia SM). Inilah prinsip dasar pandangan SM: segala sesuatu itu relatif, dan tak ada kebenaran mutlak, baik atau buruk: Anda memegang kebenaran Anda, dan saya memegang kebenaran saya. Namun, Anda salah kalau memercayai kemutlakan. Tidak baik menjadi seorang moralis atau orang yang suka menghakimi -- Alkitab pun berkata demikian. Terlalu fanatik pada ajaran agama juga tidak baik. Sebuah pandangan SM membenci orang-orang yang membenarkan diri sendiri -- mereka itu bodoh. (Ingat, Anda tak perlu mengkhawatirkan kontradiksi dalam pandangan SM.)

Pandangan SM meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah untuk dunia nyata sedangkan agama untuk dunia rohani, jadi jangan mencampuradukkan keduanya. Ilmu pengetahuan menyanggah Alkitab dan tentu saja Alkitab tidak mungkin membantah ilmu pengetahuan; Alkitab adalah untuk orang- orang yang "beriman". (Jadi, pastilah ilmu pengetahuan tidak membutuhkan iman!) Bagaimana pun, proses evolusi telah menghasilkan dunia yang menakjubkan. Kita merupakan perwujudan dari apa kita makan, kita dilahirkan untuk berbelanja, dan jajak pendapat merupakan satu- satunya sumber kebenaran dan moral karena hal itu ilmiah.

Menurut pandangan dunia SM kita telah sangat maju, bahkan melampaui orang-orang zaman dahulu karena kita tahu banyak hal yang tidak mereka ketahui. Alkitab juga ditulis dalam konteks bertahun-tahun yang lalu. Jadi tidak masalah kalau ada sedikit pemikiran keagamaan atau filosofi baru yang berharga. Meski ada hal-hal yang bertentangan, yang jelas segalanya menjadi lebih baik. Sebuah jajak pendapat telah membuktikan hal itu.

Pandangan dunia SM mengakui Yesus sebagai seorang guru besar moral, kecuali ajaran moral-Nya tentang uang, perceraian, orang miskin, dan bagaimana memperlakukan sesama. Orang Yahudi, Muslim, dan Kristiani, semuanya mengimani hal yang sama -- mereka hanya perlu saling bersikap baik dan menyadari bahwa semua agama hanya menempuh jalan yang berbeda, tetapi menuju puncak yang sama. Tidak masalah bila ada perbedaan-perbedaan ajaran agama mengenai surga, neraka, sejarah, dosa, kenyataan utama, dan bagaimana cara untuk sampai kepada Allah. Karena Allah yang baik tidak boleh, tidak dapat, dan tidak akan mengirimkan orang baik ke neraka, kita semua pasti akan masuk surga! Kecuali Hitler dan Stalin, tentu saja ... dan orang yang memotong jalan Anda minggu lalu. (Ingatlah selalu pada beberapa perkecualian itu). Selain orang-orang seperti itu, kita semua secara unik cukup baik ... unik seperti setiap orang lain. Dan karena kita semua baik, kita tidak butuh pengampunan -- rasa bersalah kita lah yang buruk, bukan kita. Lagi pula, kita kan cuma manusia. Jadi lakukanlah dan jadilah yang terbaik. Jangan pusingkan orang lain yang benar-benar menjadi seorang yang rasis, atau pemerkosa, dan yang lain ahli dalam penipuan pajak. (Mungkin itulah kebenaran menurut mereka; paling tidak itulah yang dikatakan Michael Foucault). Namun, jangan khawatir; Allah itu pengampun. Itu memang tugas-Nya. Dosa yang lain merupakan kesalahan orangtua Anda. Alangkah hebatnya sistem itu!

Ada masalah yang mengganjal dalam pikiran saya apabila saya menganut pandangan SM seperti di atas. Saya berpikir bahwa mungkin percampuran hal-hal klise yang membingungkan ini, hanyalah slogan. Mungkin ada Allah yang selalu mengamati dosa saya. Mungkin Dia membenci kesombongan dan kecongkakan saya yang tersembunyi. Mungkin Dia muak dengan kebiasaan saya yang suka membenarkan diri sendiri dan merasa paling benar. Mungkin Dia tidak menanggungkan dosa leluhur kepada saya sampai tibanya Hari Penghakiman. Pada hari itu, saya akan segera dibebaskan dari pengadilan. Dan hari itu merupakan hari yang disebut- sebut Yesus dengan penuh keyakinan, hari yang pasti akan datang karena hasil jajak pendapat terakhir membenarkan hal tersebut: setiap orang pasti mati. Hei, mungkin sekarang memang hari Minggu, dan bukan hari Kamis seperti yang dipercayai oleh pandangan SM!

Mengakhiri Pandangan Dunia Berdasarkan Stiker Mobil

Yesus selalu berbicara dengan memakai pengertian yang mendalam. Maka jika kita hanya puas dengan pandangan dunia yang semata-mata merupakan gabungan kata-kata klise dan kepalsuan sebagai suatu filosofi, itu berbahaya. Pandangan itu merupakan suatu sistem terselubung yang terpusat pada diri sendiri untuk membenarkan tindakan sesuatu yang diimpikan oleh anak berumur dua tahun.

Pandangan dunia SM sangat berbahaya bagi orang-orang kristiani -- orang-orang kristiani yang bermaksud baik, yang berhati baik -- karena tanpa sadar, kita bisa terjebak dan hidup dalam pandangan dunia SM yang tidak sesuai dengan Kitab Suci. Kita menjadi buta terhadap kenyataan rohani dalam dunia di sekitar kita. Yesus berkata,

"Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" (Lukas 12:54-56).

Saya suka stiker mobil yang berbunyi, "Kita ini cukup muda; tapi apakah kita cukup cerdas?" Camkanlah ini: kalau kita boleh memilih, kita tidak ingin diberitahu mana yang benar dan mana yang salah, tidak beda jauh dengan Isaac yang enggan ke penitipan anak atau saya yang enggan membayar pajak. Semua ciptaan memberontak terhadap Allah. Tak seorang pun baik kecuali Allah. Menyerahkan hidup kita kepada Kristus berarti menyerahkan pikiran kita juga.

Saya ingin mengajukan sebuah permintaan. Pertama kepada Isaac, kemudian kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Jauhilah semua kata klise yang pada mulanya terdengar bijak. Periksalah kata-kata tersebut dalam terang Kitab Suci. Perangilah pandangan dunia SM. Jadikan Injil sebagai pandangan dunia Anda: kenalilah, pelajarilah, dan hiduplah di dalamnya. Tenggelamkan diri Anda dalam pesan Injil Kristus, karena Injil Kristus dapat mengusir pandangan dunia yang membawa konflik dan pandangan dunia yang penuh persaingan dengan terang-Nya.

Kenyataannya, hari itu memang benar-benar hari Minggu, bahkan bagi Isaac. Tempat penitipan anak yang penuh dengan mainan dan kehadiran anak-anak lain telah meyakinkannya. Kita yang terlalu terikat dengan pandangan dunia kita sendiri akan lebih sulit berubah. Jangan salah: ada kalanya sukar membangun pandangan berdasarkan Injil, seperti yang ditulis G. K. Chesterton,

"Bukan karena kekristenan telah dicoba dan ternyata di situ terdapat kekurangan, tetapi karena kekristenan terbukti sukar untuk dipraktikkan, karenanya tak pernah dicoba."

Namun, pada akhirnya kekristenan memberikan pencerahan. Tak perlu lagi jajak pendapat.

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku:17 Hal yang Diajarkan Anakku tentang Allah
Judul Artikel:Postmodernis Cilik
Penulis:J. Mack Stiles
Penerbit:Gloria Graffa, Yogyakarta
Tahun:2004
Halaman:27-34

"Yang Sangat Penting ..... Kristus Telah Mati"

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Kematian Kristus dan Hari Kebangkitan Kristus (PASKAH), perayaan dari peristiwa terbesar dalam sejarah kekristenan. Artikel yang saya sajikan berikut ini akan menolong kita memikirkan lebih dalam lagi tentang arti kematian dan kebagnkitan Kristus bagi kita, umat manusia yang dikasihi-Nya. Memang betul bahwa pikiran dan otak manusia tidak mungkin bisa mengetahui dan memahami dengan sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya kesengsaraan yang dialami Kristus menjelang kematiannya. Tapi bukan berarti dengan demikian maka itu tidak penting untuk kita pikirkan. Uraian yang disampaikan Samuel Zwemer dalam artikel di bawah ini menolong kita melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa kematian Kristus adalah segala-galanya bagi orang Kristen. Inilah inti dan pusat dari berita keselamatan yang dibawa Kristus ketika Ia datang ke dunia. Oleh karena itu jika seorang Kristen berbahagia menjadi orang Kristen bukan karena berita keselamatan bahwa "Kristus telah mati bagiku, bagi dosa- dosaku", maka kemungkinan besar ia sedang salah mengerti tentang kekristenan. Mengapa demikian? Silakan membaca artikel berikut ini.

SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS!

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Kematian Kristus dan Hari Kebangkitan Kristus (PASKAH), perayaan dari peristiwa terbesar dalam sejarah kekristenan. Artikel yang saya sajikan berikut ini akan menolong kita memikirkan lebih dalam lagi tentang arti kematian dan kebagnkitan Kristus bagi kita, umat manusia yang dikasihi-Nya. Memang betul bahwa pikiran dan otak manusia tidak mungkin bisa mengetahui dan memahami dengan sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya kesengsaraan yang dialami Kristus menjelang kematiannya. Tapi bukan berarti dengan demikian maka itu tidak penting untuk kita pikirkan. Uraian yang disampaikan Samuel Zwemer dalam artikel di bawah ini menolong kita melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa kematian Kristus adalah segala-galanya bagi orang Kristen. Inilah inti dan pusat dari berita keselamatan yang dibawa Kristus ketika Ia datang ke dunia. Oleh karena itu jika seorang Kristen berbahagia menjadi orang Kristen bukan karena berita keselamatan bahwa "Kristus telah mati bagiku, bagi dosa- dosaku", maka kemungkinan besar ia sedang salah mengerti tentang kekristenan. Mengapa demikian? Silakan membaca artikel berikut ini.

SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS!

In Christ,
Yulia Oen

Catatan:
Ayat-ayat Alkitab yang dikutip dalam artikel ini diambil dari Alkitab LAI, Terjemahan Lama (TL).

Penulis: 
Samuel Zwemer
Edisi: 
049/IV/2004
Isi: 

"Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu," kata Paulus dalam Surat Pertama kepada Gereja Korintus, "yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci," [Lihat 1Kor. 15:3] Pembaca yang teliti akan memperhatikan dari konteksnya, bahwa ini adalah pokok dari amanat Rasul Paulus, inti dari ajarannya, satu-satunya injilnya. Paulus mengatakan, bahwa dia menerimanya tidaklah terutama dan hanya dari anggota-anggota jemaat asli, tetapi langsung melalui wahyu (Gal. 1:15-19). Maka jemaat itu, dan Rasul Paulus sendiri, percaya, bahwa kebenaran pertama dan azasi dari iman Kristen adalah kematian Kristus karena dosa-dosa kita. Dan Rasul Paulus menerima dan mengajarkan kebenaran ini dalam waktu tujuh tahun setelah Kristus mati -- menurut penanggalan lain bahkan dalam waktu yang lebih pendek.

Kata Yunani yang diterjemahkan dengan "yang sangat penting" dapat juga diartikan "yang pertama-tama" atau paling depan dari segala kebenaran. Kematian Kristus disalib bagi Rasul Paulus adalah yang paling penting dan pasal yang berpengaruh dalam kepercayaannya. Ini adalah fundamental. Ini adalah rukun syarat dari batu pertama, batu pojok dari kuil kebenaran. Bahwa ini benar nampak jelas dari tempat yang diambil tentang kematian Kristus dalam Alkitab, dalam amanat kerasulan, dalam liturgi-liturgi dari kedua sakramen yang diselenggarakan oleh semua cabang Gereja dan dalam perbendaharaan nyanyian-nyanyian Kristus yang pertama-tama, maupun yang terakhir. Bukti itu bertambah-tambah dan melimpah. Salib itu bukan hanya merupakan lambang universil dari kekristenan; itu adalah amanatnya yang universal dan yang tak dapat disangsikan. Itu adalah pokok dari Injil -- firman yang "hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua."[Lihat Ibr. 4:12] Sebab tidak ada yang menimbulkan kesadaran akan dosa seperti salib.

Salib Kristus adalah lampu sorot Allah. Dia memperlihatkan kasih Allah dan dosa manusia, kekuasaan Allah dan kedaifan manusia, kesucian Allah dan kekotoran manusia. Bila mezbah dan korban penebusan adalah "yang pertama-tama" dalam Perjanjian Lama, maka salib dan perdamaian adalah "yang terutama" dalam Perjanjian Baru. Maka doktrin keselamatan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan segala sesuatu yang dicakupnya mengenai hati baru dan masyarakat baru, sorga baru dan dunia baru, dalam garis yang lurus menuju kembali ke arah pusat segala-galanya - "Anak Domba yang telah disembelih."[Lihat Wah. 13:8]

  1. Perhatikanlah tempat ditulisnya cerita mengenai penyaliban dalam Perjanjian Baru. Dia disebut dalam tiap buku kecuali dalam tiga surat-surat pendek, Filemon dan Yohanes 2 dan 3. Matius, Markus, dan Lukas memberikan tempat yang lebih banyak padanya daripada untuk aspek manapun dari hidup dan ajaran Kristus. Matius menceritakan tragedi ini dalam dua pasal dengan seratus empatpuluh satu ayat. Markus menulis seratus sembilan belas ayat mengenai cerita itu, dua pasal yang merupakan yang terpanjang dari enam belas pasal. Lukas menyediakan dua pasal panjang untuk melukiskan penangkapan dan penyaliban itu. Hampir separo dari Injil Yohanes mengisahkan minggu kesengsaraan Kristus.

    Dalam Kisah Para Rasul-rasul semua ajaran berpusat pada kematian dan kebangkitan. Inilah "Berita Baik." "Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup." Puncak dari kotbah Rasul Petrus pada Pentakosta adalah mengenai Yesus "yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya ....... disalibkan dan dibunuh oleh tangan orang-orang kafir". "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."[Lihat Kis. 1:3; 2:23, 36]

    Amanat itu diulangi lagi oleh Rasul Petrus dalam Bait Allah: "Kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh." "Dengan jalan demikian," Petrus kemukakan, "Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Kristus yang diutus-Nya harus menderita," tetapi "Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu." Esok harinya dia kembali lagi pada tema "Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan." Dalam doa upacara pertama dari Gereja Mula-mula kita diingatkan kembali pada penderitaan dan kematian dari "Yesus Hamba-Mu yang kudus." Hasil dari amanat demikian dinyatakan dalam kata-kata yang isinya tidak meragukan: "Kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Tetapi rasul-rasul menjawab, "Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh ....... telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat."[Lihat Kis. 3:14, 18, 26; 4:10, 27; 5:28, 30-31]

    Stefanus menjadikan kematian Yesus Kristus sebagai tema pembelaannya yang disusul cepat dengan kesyahidannya sendiri (Kis. 7:51-54). Filipus mulai berbicara dan bertolak dari nas itu saat ia memberitakan Injil Yesus kepada sida-sida Ethiopia (Kis. 8:26-40). Kornelius menerima amanat yang sama mengenai Dia: "Mereka telah membunuh Dia dan menggantungkan Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga."[Lihat Kis. 10:39-40]

    Di Antiokia Rasul Paulus bercerita tentang Kristus: "Mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh ......... mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati." Selama tiga sabat Rasul Paulus memberi uraian dari Perjanjian Lama di Tesalonika, "bahwa Kristus harus menderita dan bangkit dari antara orang mati." Di Anthena dia berkhotbah tentang kematian Yesus Kristus, di Korintus dia hanya mau tahu tentang Yesus Kristus dan bahwa Dia disalibkan. Sebagai kata yang searti dengan Injil dia pakai "pemberitaan tentang salib" atau "berita pendamaian." Festus melukiskan amanat Rasul Paulus sebagai sesuatu yang bersangkutan dengan "seorang yang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup." Dalam pembelaannya di depan Festus, Rasul Paulus mengatakan, bahwa dia tidak mempunyai amanat lain "kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain daripada yang sebelumnya yang telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu bahwa Kristus harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang Pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada orang-orang kafir."[Lihat Kis. 13:28-30; 17:3 1Kor. 1:18; 2Kor. 5:19; Kis. 25:19; 26:22-23]

    Dalam surat-surat Rasul Paulus kita sungguh kagum melihat jumlah yang berlimpah-limpah dari bukti-bukti, bahwa satu-satunya amanatnya adalah salib dan pendamaian. Dia telah memberitakan kabar baik ini selama limabelas tahun sebelum sepucukpun dari surat-suratnya dia tulis. Kita tidak dapat menemukan adanya perbedaan dalam tekanan antara surat- suratnya yang pertama dan yang terakhir dalam hal ini. Itulah yang menjadi pokok dari amanatnya kepada orang-orang Roma dan orang-orang Tesalonika. Kepada jemaat Galatia ia mengatakan dalam kata pendahuluannya bahwa Kristus Yesus "telah menyelamatkan diri-Nya karena dosa-dosa kita," dan (sesudah beberapa kalimat) dia meletus dengan perasaan berang: "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."[Lihat Gal. 1:4, 8]

    Bahwa Golgota yang menjadi pusat dari Injil Paulus, adalah jelas dari semua suratnya. Inkarnasi itu ada agar penebusan itu mungkin. Salib itu adalah luhur dan menentukan bagi Allah, bagi manusia dan bagi alam semesta. "Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa." "Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesuskah, yang telah mati?" "Kami memberitakan Kristus yang disalibkan ........ sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia, dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia," "Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri." Semua orang Kristen, apabila mereka minum dari Cawan itu "memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." Kristus adalah "kekasih-Nya" yang "oleh darah-Nya kita beroleh penebusan. "Ini adalah rahasia dari abad-abad pelbagai ragam hikmat Allah yang dibukakan bagi kerajaan-kerajaan dan kekuasaan-kekuasaan melalui Gereja. Mereka yang merupakan "seteru salib Kristus," Rasul Paulus menceritakan kepada kita dengan airmata, bermegah dalam keaibannya dan mereka akan binasa. Kristus "yang lebih utama dalam segala sesuatu ........ dan oleh Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya ........ sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus." Salib itu adalah pusat dari alam semesta dan dari sejarah. Dia masih akan melihat pendamaian segala sesuatu baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga melalui darah-Nya."[Lihat Rom. 5:8; 8:33-34; 1Kor. 1:23, 25; Kis. 20:28; 1Kor. 11:26; Gal. 6:14; Ef. 1:6-7; Fil. 3:18; Kol. 1:18-20]

    Dalam surat kepada orang-orang Ibrani, kematian Kristus (Dia sendiri sebagai imam, korban, dan mezbah) begitu menonjol sehingga kita tidak perlu menunjukkannya lagi. Kristus adalah Imam Besar yang Agung, yang "menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya." Darah Yesus Kristus adalah darah perjanjian. Kristus adalah yang mengadakan dan menyempurnakan iman kita karena Dia telah "memikul salib." Darah-Nya yang dipercikkan "berbicara lebih kuat dari pada darah Habel" -- itu adalah "darah perjanjian yang kekal" ditumpahkan oleh "Gembala Agung dari segala domba."[Lihat Ibr. 9:26; 12:2, 24; 13:20]

    Surat-surat Petrus menggemakan pengajarannya yang paling pertama dan sangat banyak menyinggung kesengsaraan Kristus yang "sendiri telah memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib ........ oleh bilur- bilur-Nya kamu telah sembuh". Akhirnya dalam surat 1 Yohanes dan dalam Wahyu salib itu masih tetap merupakan yang utama. Melaluinya Yesus Kristus merupakan "perdamaian untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." "Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita." "Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya ........ bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin." "Lihatlah, Ia datang dengan awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia."[Lihat 1Pet. 2:24; 1Yoh. 2:2; 3:16; Wah. 1:5-7]

  2. Kedua sakramen yang diterima oleh Gereja-gereja Timur dan Barat langsung menyebutkan kematian Kristus untuk dosa-dosa kita. Ini jelas, bukan hanya dari penempatan kata-katanya dalam Perjanjian Baru, melainkan juga dari banyak liturgi-liturgi dalam administrasinya. Di sini kita dapat katakan lagi bahwa "yang sangat penting" mereka memberitakan kematian Kristus yang merupakan penebusan kita dari dosa. Pembaptisan adalah upacara penerimaan dalam Kristus. Dimanapun Perjanjian Baru tidak ada menyebut orang-orang Kristen yang tidak dibaptiskan, dan orang-orang percaya yang primitif ini tahu apa yang dimaksudkan Rasul Paulus ketika ia mengatakan, bahwa semua "yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya." Pengampunan dosa dan pembaptisan berhubungan erat dalam pikiran mereka dengan air dan darah yang mengalir dari sisi Kristus yang robek itu. Kedua sakramen itu dimaksud untuk mengantar amanat Injil dalam perlambangan yang tak dapat disangsikan. Selama sakramen-sakramen itu mempertahankan tempatnya dalam Gereja, mereka adalah -- dengan adanya segala yang ditambahkan dengan upacara dan tahyul sekalipun -- saksi dari arti penyelamatan kematian Kristus, saksi dari sifat penggantiannya, keharusannya, dan wataknya yang menentukan. Gereja Mula-mula terus "bertekun dalam ....... memecahkan roti," karena dengan itu mereka ingin memberitakan kematian Kristus dan pengampunan dosa melalui darah-Nya. Itu adalah "persekutuan dengan darah Kristus ........ dengan tubuh Kristus," turutnya kita dalam "satu Roh," "pengampunan dosa," penyucian "batin kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia." Inilah yang membuat pemecahan roti itu begitu berharga bagi Gereja Mula-mula dan bagi semua Gereja selama duapuluh abad. [Lihat Rom. 6:3; Kis. 2:42; 1Kor. 10:16; 12:13; Mat. 26:28; Ibr. 9:14]

  3. Bila kita beralih dari liturgi pada kumpulan nyanyian gereja, kita akan mempunyai kesaksian yang sama. Dalam nyanyian-nyanyian Latin dan Yunani masa-masa pertama, dalam nyanyian Gereja-gereja Kopt dan Armenia, maupun dalam nyanyian-nyanyian Gereja Reformasi, salib itu adalah "yang sangat penting", dan kesengsaraaan Tuhan Yesus merupakan tema. Dalam nyanyian Gereja inilah kita menemukan kesatuan dan kedalaman teologi yang kadang-kadang tidak terdapat dalam kepercayaan- kepercayaan sekalipun.

    "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" "Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu." Apapun yang tercipta turut dalam Paduan Suara Haleluya.[Lihat Wah. 5:12; 7:17]

    Anak-anak kecil di berbagai negeri dan bahasa menyanyikan inti dari Injil itu:

    "Yesus mati bagiku. Sorga, buka pintumu! Hutang dosa terhapus, Aku sudah ditebus."

    Betapa besar bagian dari nyanyian-nyanyian dari Gereja itu merupakan nyanyian kesengsaraan atau tafsiran dari penebusan yang dibuat di atas salib! Siapakah yang dapat melupakan pelukisan dalam begitu banyak bahasa dari "O, Haupt voll Blut und Wunden" (O, kepala yang penuh darah dan luka) atau kepiluan lagunya seperti yang dinyanyikan oleh orang Kristen Jerman?

    "..... Tidak cukup kuatku: hanya oleh sayang-Mu, oleh darah-Mu kudus, dapat aku ditebus."

    Andaikata Yesus dari Nasaret hanyalah manusia belaka dan bukan Anak Allah dan Juruselamat kita, kematian-Nya yang menyedihkan itu akan merupakan peristiwa yang terbesar juga dalam sejarah manusia. Banyaknya keterangan-keterangan yang teliti dalam catatan masanya mengenai kesengsaraaan-Nya dan penyaliban-Nya, segala hal-hal yang dahsyat yang menyertainya dalam alam; ketujuh kata dari salib, pengaruhnya terhadap mereka yang melihatnya dan terhadap segala abad dan bangsa -- semuanya ini jelas menunjukkan kepentingannya. Kita jangan mengubah tekanannya. Peristiwa yang utama dalam hidup Yesus Kristus dan bagi Dia sendiri, adalah kematian-Nya di atas salib karena dosa.

    Kata-kata dari James Denny tidaklah terlalu keras:

    "Jika penebusan itu, terlepas dari perumusan yang tepat, berarti sesuatu bagi jiwa, maka dia adalah segala-galanya. Penebusan itu adalah yang paling mendalam dari segala kebenaran dan yang paling kreatif. Lebih dari apapun juga dia menentukan konsepsi kita mengenai Tuhan, manusia, sejarah dan bahkan mengenai alam. Penebusan itu menentukan semuanya ini, karena dengan satu dan lain jalan kita harus menyesuaikan semuanya ini dengan pengertian ini. Penebusan itu adalah tema dari segala pikiran, yang akhir-akhirnya merupakan kunci bagi segala penderitaan. Penebusan manusia dari dosa ini adalah suatu kenyataan yang demikian rupa, sehingga dia tak dapat berkompromi. Maka bagi jiwa modern, maupun bagi yang kolot, daya penarik dan penolakan dari kekristenan itu berpusat pada suatu titik yang sama. Salib Kristus adalah satu-satunya kemuliaan manusia atau perintangannya yang terakhir."

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber :

Judul Buku:Kemuliaan Salib
Judul Artikel : -
Penulis:Samuel Zwemer
Penerjemah : -
Penerbit:Badan Penerbit Kristen untuk OMF, 1970
Halaman:9-15

Kitab yang Terbuka

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Artikel yang ingin saya bagikan kali ini mungkin agak lain dari biasanya. Tidak ada analisa teologis, yang ada adalah pengamatan sederhana (bahkan terkesan lambat) tentang hidup Kristen yang jujur. Sangat penting bagi kita untuk introspeksi ke dalam diri sendiri, khususnya para pelayan Tuhan yang aktif melayani Tuhan, betulkah hidup bak "Kitab yang Terbuka" itu menjadi salah satu ciri khas hidup Kristen kita, sebagaimana hal itu menjadi Trademark Tuhan?

Artikel ini diambil dari buku "Trademark Tuhan" karangan George Otis Jr. Untuk menolong kita mengerti seluruh buku itu, maka berikut ini saya kutipkan Prakata bukunya:

"Saya sering mengajukan pertanyaan kepada para pemirsa Kristen, apa yang perlu dibawa oleh seseorang, jika ia ingin memancing perhatian kawanan Winnie the Pooh (beruang kartun dari Walt Disney - red) yang lucu. Jawab mereka dengan cepat dan pasti: "Madu -- dan bila perlu dua atau tiga panci!".
Sayangnya ketika para pendengar yang sama ditanya apa yang diperlukan untuk menarik hadirat Allah, jawaban mereka jauh dari mantap. Barangkali doa? Mungkin penyembahan? Atau kekudusan? Jawaban- jawaban yang tidak mengandung kepastian tersebut menunjukkan bahwa kita sesungguhnya lebih mengenal tokoh beruang kartun daripada karakter Bapa kita yang di sorga.
Buku ini berusaha untuk mengubah ketidak-akraban kita terhadap sifat ilahi, dengan menyoroti tujuh karakteristik (atau Trademark) Tuhan yang menonjol -- otoritas, kejujuran, kerendahan hati, kasih, kreativitas, produktivitas, dan kesabaran. Karakter-karakter ini tidak hanya menunjukkan kepada kita seperti apa Bapa itu, tetapi juga apa yang akan terjadi terhadap diri kita jika kita mengizinkan hadirat-Nya meresap dalam hidup dan pelayanan kita."

Nah, Anda tertarik untuk membaca buku ini? Baca terlebih dulu artikel di bawah ini.

In Christ,
Yulia selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Artikel yang ingin saya bagikan kali ini mungkin agak lain dari biasanya. Tidak ada analisa teologis, yang ada adalah pengamatan sederhana (bahkan terkesan lambat) tentang hidup Kristen yang jujur. Sangat penting bagi kita untuk introspeksi ke dalam diri sendiri, khususnya para pelayan Tuhan yang aktif melayani Tuhan, betulkah hidup bak "Kitab yang Terbuka" itu menjadi salah satu ciri khas hidup Kristen kita, sebagaimana hal itu menjadi Trademark Tuhan?

Artikel ini diambil dari buku "Trademark Tuhan" karangan George Otis Jr. Untuk menolong kita mengerti seluruh buku itu, maka berikut ini saya kutipkan Prakata bukunya:

"Saya sering mengajukan pertanyaan kepada para pemirsa Kristen, apa yang perlu dibawa oleh seseorang, jika ia ingin memancing perhatian kawanan Winnie the Pooh (beruang kartun dari Walt Disney - red) yang lucu. Jawab mereka dengan cepat dan pasti: "Madu -- dan bila perlu dua atau tiga panci!".
Sayangnya ketika para pendengar yang sama ditanya apa yang diperlukan untuk menarik hadirat Allah, jawaban mereka jauh dari mantap. Barangkali doa? Mungkin penyembahan? Atau kekudusan? Jawaban- jawaban yang tidak mengandung kepastian tersebut menunjukkan bahwa kita sesungguhnya lebih mengenal tokoh beruang kartun daripada karakter Bapa kita yang di sorga.
Buku ini berusaha untuk mengubah ketidak-akraban kita terhadap sifat ilahi, dengan menyoroti tujuh karakteristik (atau Trademark) Tuhan yang menonjol -- otoritas, kejujuran, kerendahan hati, kasih, kreativitas, produktivitas, dan kesabaran. Karakter-karakter ini tidak hanya menunjukkan kepada kita seperti apa Bapa itu, tetapi juga apa yang akan terjadi terhadap diri kita jika kita mengizinkan hadirat-Nya meresap dalam hidup dan pelayanan kita."

Nah, Anda tertarik untuk membaca buku ini? Baca terlebih dulu artikel di bawah ini.

In Christ,
Yulia

Edisi: 
048/II/2004
Isi: 

"Satu-satunya cara supaya Anda dapat benar-benar mengendalikan perilaku Anda adalah dengan terus menerus bersikap jujur."
(Tom Hanks)

Diskusi mengenai kejujuran terjadi jutaan kali dalam sehari di ribuan tempat yang berbeda. Ibu-ibu berbincang dengan putrinya mengenai teman- teman cowoknya yang baru; pemilik toko berbincang dengan pegawainya mengenai pelanggannya yang tidak jujur; para pria setengah baya berbincang dengan tukang cukur mengenai tokoh-tokoh politik. Kebanyakan dari perbincangan ini, khususnya yang menyangkut tokoh publik atau situasi yang berkembang, diselingi dengan anekdot dan lelucon sarkastis.

Dua di antara peribahasa yang sering digunakan adalah "Anda tidak selalu dapat menilai sebuah buku hanya dari sampulnya" dan "Apa yang Anda lihat itulah yang Anda dapat". Yang pertama bertujuan untuk mengingatkan para pendengar dengan hikmat agar tidak terburu-buru memberikan suatu penilaian sedangkan yang kedua menegaskan bahwa penampilan adalah kenyataan -- kesan pertama merefleksikan dasar kebenaran. Yang pertama tadi menyamaratakan permasalahan dan objektif sedangkan yang kedua hampir sepenuhnya tergantung dari kejujuran yang menyatakannya.

Keterangan-keterangan yang otentik sungguh membantu, sehingga seringkali kita berusaha keras untuk mendapatkannya. Para wartawan memeriksa dengan teliti pidato-pidato pembukaan, dan catatan-catatan pemungutan suara para kandidat politik, para majikan mewawancarai banyak referensi sebelum menggaji calon karyawan-karyawatinya; para wanita muda berusaha mengorek keterangan sebanyak mungkin dari cowok yang baru dikenalnya (terutama mengenai para mantan pacar). Sayangnya, sekalipun kita telah berhasil mengorek banyak keterangan, namun keterangan tersebut jarang yang memberikan kita suatu kepastian. Kebanyakan kita telah belajar dari pengalaman pahit bahwa apa yang kita lihat hampir tidak pernah kita dapatkan. Untuk lebih amannya kita mengambil pendekatan yang tidak terburu-buru dan menangguhkan penilaian.

Salah satu kecenderungan manusia yang kurang menarik ialah adanya agenda-agenda tersembunyi. Sedemikian terampilnya kita dengan permainan ini, sehingga kita kadang dijuluki tukang sulap moral. Tetapi inilah susahnya: Apa yang mampu kita lakukan terhadap orang lain, mereka juga mampu melakukannya terhadap kita. Memang inilah yang terus menerus menjadi kekhawatiran kita. Dalam percintaan yang sedang bersemi, dalam negosiasi bisnis, dalam wawancara media massa, dalam kemitraan pelayanan, otak kita selalu was-was: Bagaimana jika orang ini mengkhianati saya? Kita hampir terus menerus bersikap defensif.

"Ada beberapa hal yang menyenangkan di dalam hidup ini," Malcolm Muggeridge menulis di dalam bukunya 'Chronicle of Waste Time', "mungkinkah persahabatan didasarkan atas pikiran yang benar-benar jujur dan transparan". Pertanyaannya adalah, di mana kita dapat menemukan pikiran-pikiran yang demikian? Jika semua itu bukanlah hal- hal yang asing di masyarakat kita, pastilah merupakan hal yang langka.

Perjalanan kita menyelusuri pikiran yang benar-benar jujur harus dimulai, seperti yang berlaku untuk semua kebajikan mutlak, dari Allah sendiri. Hanya dengan kita datang ke hadirat-Nya tanpa syarat, barulah kita mampu menanggalkan semua hikmat manusia. Terbebas dari segala pertimbangan yang membebani pikiran kita, dan mengarahkan kembali waktu serta tenaga kita untuk menggali karakter ilahi.

Trademark Tuhan yang kedua adalah apa yang saya sebut dengan "kitab yang terbuka", suatu pernyataan kejujuran dan integritas yang mutlak. Setiap penelitian terhadap cara-cara-Nya meyakinkan kita bahwa apa yang kita lihat sesungguhnya adalah apa yang kita dapatkan. Namun juga sebaliknya dengan apa yang tidak kita lihat. Sebab kedalaman karakter- Nya tidak terukur -- bukannya seperti jurang maut yang gelap tetapi sebagai sumber kemuliaan yang tiada habis-habisnya. Meskipun pencerahan-pencerahan baru muncul setiap hari, tidak ada yang tidak konsisten dengan apa yang telah kita ketahui mengenai hal-hal pokok dalam Pribadi Allah. Wahyu-wahyu tersebut merupakan ekstrapolasi (perluasan data di luar data yang tersedia, tetapi masih mengikuti kecenderungan pola data yang tersedia - red) bukan penemuan-penemuan baru. Pewahyuan-pewahyuan tersebut memberi kita alasan untuk meneliti perkara-perkara ilahi yang belum terungkap bukannya menjadi takut terhadap hal-hal tersebut.

Allah itu jujur, tetapi Ia tidak seperti sindiran yang ditulis oleh seorang pujangga abad ke 17, sebuah "bantal duduk yang empuk dan enak yang di atasnya para bajingan beristirahat dan menjadi gemuk." (Pelajarilah Pengkhotbah 8:11 dan Zefanya 1:12 mengenai bahaya dari penundaan hukuman.) Sebaliknya, sebagaimana ditulis oleh C.S. Lewis di dalam bukunya 'The Lion, the Witch dan the Wardrobe', "[Ia] bagaikan seekor singa -- Singa, Singa yang besar."

"Ooh!" kata Susan, "Saya kira ia seorang manusia. Apakah ia - benar-benar aman? Saya merasa agak gugup kalau bertemu seekor singa."

"Pasti Anda akan senang melihatnya, sayang, dan tidak salah," kata nyonya Beaver, "jika ada orang-orang yang berani tampil di hadapan Aslan tanpa gemetaran kakinya, mereka itu pasti lebih berani dari orang kebanyakan atau orang bodoh.

"Jadi, ia tidak aman?" kata Lucy.

"Aman?" kata tuan Beaver. "Apakah Anda tidak mendengar apa yang dikatakan nyonya Beaver kepada Anda? Siapa yang bilang aman? Tentu saja tidak aman. Tetapi ia baik. Saya beritahukan kepada Anda, Ia adalah Raja."

"Saya rindu melihatnya," kata Peter, "walaupun saya merasa takut ..."

Di dalam buku-bukunya yang lain. Lewis menyebut reaksi ini sebagai "rasa hormat yang kudus". Hadirat Allah yang sebenarnya merupakan perasaan yang tidak terdefinisikan, menakutkan sekaligus membanggakan suatu kemuliaan yang tidak terlukiskan:

... Orang-orang Yahudilah yang sepenuhnya mampu mengidentifikasikan dengan jelas. Hadirat-Nya yang sangat dahsyat dan menakutkan di puncak gunung yang gelap, dengan awan dan guntur yang bergema "Tuhan yang adil" yang "mengasihi keadilan" ... (Mazmur 11:7). Ada seorang yang lahir di antara orang Yahudi ini yang mengklaim sebagai, atau menjadi anak dari, atau menjadi "satu dengan," suatu Pribadi yang sangat dahsyat dan menakutkan di alam ini yang memberi hukum moral."

Melihat di Balik Sampul

Benar jika dikatakan bahwa sebuah buku yang bagus berisi kekayaan yang lebih banyak daripada bank yang terkenal. Kekayaannya yang berlimpah dapat mencakup pengetahuan yang teruji, inspirasi-inspirasi baru dan kemampuan yang mengagumkan yang dapat mengantar kita ke alam yang nyata maupun alam khayal. Namun, sebelum kita dapat menambang kekayaan ini, pertama-tama kita harus menentukan apakah isi buku itu benar- benar baik.

Sampul, sebagaimana pepatah kuno mengingatkan, hanya sedikit membantu. Bentuknya yang menarik dan kata-kata sambutannya yang mantap akan mendorong kita untuk menelaah lebih jauh buku tersebut, atau bahkan membelinya, tetapi sampul tersebut tidak dapat menjawab mengenai nilai intrinsiknya. Sampul dirancang untuk menarik perhatian kita, tidak untuk memberikan kita suatu analisis yang objektif mengenai bab-bab yang ada di dalamnya.

Tidak mengherankan, sampul buku yang bagus kadang dapat mengecoh kita karena subjek pembahasannya ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita cari. Sampul juga dipakai untuk menutupi keterbatasan atau bobotnya yang di bawah standar. Satu-satunya cara agar kita tidak terkecoh (dan timbul kekecewaan lagi) adalah buka sampulnya dan membaca semua huruf cetaknya yang halus.

Hal yang seperti ini dapat kita lakukan dengan berjilid-jilid buku, tetapi tidak dengan manusia. Manusia lebih rumit dan seringkali segan membuka pintu masuk bagi orang luar untuk mengetahui keadaan diri mereka yang sebenarnya. Banyak yang memiliki kelemahan-kelemahan atau dosa-dosa tersembunyi. Yang lainnya cenderung mempertahankan suatu persepsi publik yang palsu (dan seringkali membumbung) mengenai karakter, kemampuan, prestasi atau tujuan-tujuan mereka.

Sedemikian meresapnya kecenderungan membungkus diri dan "bersandiwara" sehingga orang jadi bertanya-tanya apakah ada pelayanan yang benar- benar dapat mengetahuinya. Beberapa orang, seperti pujangga abad 18 Susanna Centlivre merasa pesimis. "Dia hanya si jujur yang tidak dapat kutemukan," ia menulisnya dalam buku 'The Artifice'. Sementara penilaian ini dihasilkan karena banyaknya perkataan-perkataan sinis, tanggapan tersebut dapat dipahami mengingat pola perilaku di antara para pemimpin Kristen dan organisasi-organisasinya yang semakin hari semakin menggelisahkan.

Banyak "hamba Tuhan" yang bersikap manis dan terbuka sampai ada orang yang berani melontarkan pertanyaan-pertanyaan "salah", seperti: "Dari mana Anda memperoleh sumber mengenai kisah tersebut?" atau "Bagaimana Anda mengimbangi antara pelayanan dan kehidupan berkeluarga?" atau "Apakah laporan keuangan Anda sudah diperiksa oleh auditor luar?" Ketika perkataan ini meluncur dari mulut salah seorang jemaat atau pengerja gereja, segera sikap mereka menjadi gelap bagaikan hujan badai yang disertai kilat dan petir. Mereka ingin kita hanya melihat kepada sampul mereka, jangan membukanya.

Barangsiapa yang mengklaim reputasinya dapat dipertanggungjawabkan tetapi secara diam-diam meremehkan tanggung jawab tersebut, umumnya memiliki sesuatu yang disembunyikan (atau paling tidak mempunyai keinginan untuk melakukan hal tersebut). Saya teringat kepada tiga orang -- diantaranya adalah seorang penginjil televisi, seorang pemusik Kristen terkenal dan seorang pembicara radio terkenal -- yang akhir-akhir ini berjuang keras untuk membantah penyelidikan mengenai gaya hidup mereka yang bermewah-mewah. Saya mengenal seorang gembala yang masih memimpin suatu gereja besar di Northwest yang secara tidak sengaja tertangkap dalam foto, ketika baru keluar dari suatu bioskop XXX khusus untuk orang dewasa. Bukan tujuan saya untuk mempersalahkan orang-orang tersebut, namun hal ini mengingatkan kita bahwa isi suatu buku tidak selalu sebanding dengan sampulnya. Mereka seperti wanita yang merajah dandanannya, sehingga tetap kelihatan sempurna. Selama orang-orang tetap melihatnya dari kejauhan. Dan selama ia tidak menjerit, tidak seorangpun yang tahu.

Seorang pengusaha situs pornografi yang sudah bertobat, Steve Lane, pernah dipancing oleh pemirsa di ruang tanya jawab suatu acara Kristen. "Steve, apakah Anda mempunyai catatan tentang berapa dari mereka yang menjadi pelanggan situs tersebut," dengan menyesal Steve mengatakan "Kira-kira 5 dari 10." Lane percaya bahwa pornografi merupakan suatu rahasia kecil yang terdapat pada banyak pemimpin Kristen, terutama pria. "Saya mengenal gereja-gereja di mana semuanya kelihatan baik: penyembahan, persepuluhan; penutup kursinya yang indah dan panji-panjinya yang megah -- tetapi tidak seorangpun di gereja tersebut yang mengetahui bahwa gembala mereka sudah diperbudak oleh pornografi selama 20 tahun ..." Kejatuhan Lane sendiri ke dalam hawa nafsu dan kemarahan berawal dari masa kanak-kanaknya, ketika itu ibunya berselingkuh dengan sang gembala, yang kemudian dinikahinya. Tidak seorangpun yang mengetahui bahwa si pengkhotbah "api dan belerang" ini sangat ketagihan pornografi. "Dari luar kelihatannya seperti rumah tangga Kristen yang sempurna," kenang Lane, "tetapi di dalamnya kehidupan saya seperti di neraka. "

Hamba yang saleh tidak boleh bermuka dua. Seperti yang dikatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, "[Haruslah] bagi seorang murid menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba menjadi sama seperti tuannya" (Matius 10:25). Hidup kita seharusnya transparan sehingga kita dapat berkata seperti Kristus, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Siapapun yang memeriksa catatan sejarah Anda tidak boleh ada yang menemukan sampul yang lain atau bab yang hilang. Bila kita tidak menyembunyikan sesuatu, kita tidak perlu takut akan ada hal-hal yang terbongkar ketika ada yang menyelidiki kehidupan pribadi kita (lihat Lukas 12:2). Ciri-ciri moral yang transparan adalah, kita dapat berkata, "Penguasa dunia ini boleh datang [tetapi] ia tidak akan menemukan apa-apa atas diriku." (Yohanes 14:30)

Para misionaris dan lembaga-lembaga yang berasal dari Tuhan, tidak akan pernah menolak penyelidikan terhadap karakter mereka. Memang, keterbukaan adalah salah satu dari trademark utama mereka. Mereka mengundang dunia untuk melihat dari dekat, karena mereka ingin melihat, dan memeluk kejujuran serta integritas yang sejati. Itulah sebabnya rasul Paulus berani berkata, "[Teladanilah aku], sama seperti aku juga [meneladani] Kristus" (1Korintus 11:1; lihat juga Filipi 3:17; 4:9). Seperti yang dijelaskannya kepada jemaat di Korintus,

Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. ... Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1Korintus 2:1, 4-5)

Pendekatan yang terbuka dan rendah hati ini, disokong oleh Ann Kiemel Anderson, salah satu komunikator Kristen yang paling terkenal. Dalam bukunya yang segar dan jujur Seduced by Success, Anderson mengakui bahwa perspektifnya yang baru, adalah hasil dari suatu pernikahan yang hampir kandas, dan suatu ketergantungan diam-diam kepada pil penahan sakit. "Saya harus belajar bahwa sebagai seorang penulis buku- buku terlaris yang selalu dikelilingi dengan sambutan sorak sorai, tepuk tangan sambil berdiri tidak membuat diri seseorang menjadi utuh (sempurna)," katanya. "Allahlah yang harus melepaskan saya dari diri saya sendiri."

Jika Ya, Katakan Ya

Orang-orang Kristen yang ingin mempertahankan tujuan dan sumber pendapatan mereka sekaligus, seringkali terjebak ke dalam tindakan "melakukan setengah kebenaran" atau agenda-agenda tersembunyi dengan cara memukul semak-belukar yang padat. Hampir tidak ada di hutan modern ini yang terlihat apa adanya. Mereka yang memelihara bayang- bayangnya memanifestasikan khayalan akan kebesaran dan berpura-pura peduli. Mereka memutar kepalsuan hingga dalam dan merayakan keberhasilan yang sementara. Rela kehilangan seluruh hikmat, ketulusan, komitmen dan prestasi yang sejati.

Sebagaimana yang ditulis oleh William Bennet dalam bukunya 'The Book of Virtues', "Ketidak-jujuran selalu mencari tempat bernaung, sampul, atau tempat persembunyian. Itu adalah kecondongan hidup di dalam kegelapan." orang-orang yang tidak jujur adalah orang-orang yang tinggal di hutan. Mereka memerlukan bayangan-bayangan dan lampu warna- warni untuk menciptakan khayalan. Mereka "mempercayai dusta", Muggeridge menulis di dalam bukunya 'The Green Stick', "Bukan karena mereka diberi penjelasan yang masuk akal, tetapi karena mereka ingin mempercayainya."

Sebaliknya orang-orang yang jujur dan terbuka, menghindari jalan penyesatan (penipuan) apapun bentuknya. Mereka menolak untuk melakukan manipulasi, tindakan yang membesar-besarkan atau bermain dengan agenda- agenda yang tersembunyi. Kedudukan mereka tidak bergeming. Komitmen- komitmen mereka tidak ditulis dengan tinta yang tidak kelihatan. Mereka sangat memperhatikan nasihat Tuhan Yesus, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak" (Matius 5:37).

Sayangnya, tulis Tozer, "Banyak dari guru dan pengkhotbah kita yang terkenal mengembangkan suatu teknik berbicara dengan suara perut agar suara mereka kelihatan lebih berwibawa dan seolah datang dari berbagai penjuru angin." John White menambahkan bahwa hal yang sama juga terjadi di kalangan eksekutif pelayanan; khususnya ketika meminta bantuan keuangan mereka seringkali menggunakan kata-kata sandi dan berputar-putar. Untuk memastikan maksud mereka, seringkali kita terpaksa mengartikan sendiri apa yang tersirat.

Perkataan iman [telah] mendapat suatu pengertian teknis dan [sekarang] merupakan suatu tanda pengenal rohani yang terhormat. Dewasa ini kita hampir tidak pernah tersenyum lagi mendengar ketidak-konsistenan dari suatu program radio Kristen yang menutup siarannya dengan kata-kata, "Sebagaimana Anda ketahui usaha ini berjalan karena iman. Kami hanya berharap kepada Allah untuk memenuhi segala kebutuhan kami, dan juga kepada Anda sebagai umat-Nya yang memberi dengan murah hati untuk mendukung usaha ini yang akan menjangkau jutaan orang miskin dengan Injil. Program kami memerlukan biaya $ 50.000,- per minggu. Tulislah untuk memberikan dorongan kepada kami. Surat Anda sangat berarti bagi kami ... Kami akan mengirimkan Anda secara gratis sebuah buklet yang berjudul ...." Dan seterusnya.

Orang-orang Kristen yang dewasa paham bahwa Allah mempunyai andil dalam keberhasilan setiap pesan dan misi yang telah Ia tetapkan, Ia dapat diandalkan untuk mempersiapkan jalan bagi hamba-hamba-Nya. Ia ahli dalam melembutkan hati dari mereka yang terhilang dan menggerakkan hati para donatur. Para pelayan tidak perlu berkeliling memukul semak-belukar -- dan mereka yang melakukan hal tersebut menunjukkan kurangnya keyakinannya dalam panggilan Allah atau menunjukkan adanya suatu agenda yang tersembunyi.

Fakta-Fakta Ketidakjujuran

Para pendusta senang bergabung dengan para pembual. Keengganan mereka untuk berpegang teguh pada kebenaran membuatnya mudah bergaul dengan orang-orang yang suka membual. Sekali fakta-fakta ketidakjujuran ditolerir, ia akan meningkat menjadi penyesatan yang selektif dan pada gilirannya mereka akan menjadi terbiasa "mengubah kenyataan".

Para pemimpin dan pengumpul dana Kristen berusaha keras untuk menyokong kampanye-kampanye besar yang terus terang, terlalu berat pencobaannya di bidang ini. Setelah mengumbar ,"janji-janji sorga" kepada para pendukungnya, mereka harus memilih salah satu, yaitu memberikan yang besar sesuai dengan janji-janji mereka atau kehilangan kesempatan memperoleh uang banyak tanpa harus bersusah payah. Masalahnya adalah kebutuhan-kebutuhan dunia yang nyata ini terlalu besar dan terlalu rumit untuk ditanggulangi oleh satu organisasi saja. Jalan keluarnya (yang tidak jujur) ialah mereka memperkecil tantangan yang seharusnya dihadapi; dengan cara membuat program yang bertema umum-umun saja, agar tidak dapat diklaim, misalnya: Afrika bagi Kristus, Kampanye Untuk Memenangkan Jutaan Jiwa" dengan data statistik yang meragukan (biasanya hanya berdasarkan perkiraan kehadiran KKR atau pendengar siaran yang potensial). Kedua muslihat inilah yang paling sering digunakan untuk mencapai batas maksimal penghasilan mereka. Karena terus terang sulit untuk menguji perkiraan dan efektivitas mereka yang sebenarnya.

Realita yang cenderung dibesar-besarkan ini, lebih terkesan lagi bila menyangkut data-data dari luar negeri. "Sungguh," Muggeridge menulis di dalam otobiografinya, "orang-orang terlanjur kagum terhadap berita yang direkayasa dari suatu tempat pengumpul berita, padahal sesungguhnya berbeda dengan kebenaran berita yang dikirim." Ditambah lagi naluri kita yang umumnya cenderung mudah mempercayai hal-hal berbau misi. Memang, diperlukan waktu dan biaya yang besar untuk mengecek ulang fakta-fakta di tempat yang jauh, itu sebabnya para operator yang tidak jujur sangat menyukai program-program internasional.

John White menceritakan secara panjang lebar contoh sebuah organisasi Kristen yang melatih para pekerjanya untuk menetapkan kuota penginjilan dan kemudian mengemas kesaksian-kesaksian dari para petobat baru sebagai "kisah-kisah perang" untuk dipublikasikan. Namun, menurut salah seorang pekerja, "Sementara tintanya belum kering di kertas yang dicetak, kebanyakan dari petobat baru tersebut telah meninggalkan 'iman' mereka." Hal ini terjadi terus menerus. Sebagaimana disebutkan oleh White, informasi yang ada di dalam berita doa tersebut menyesatkan. "Kisah-kisah yang dituliskan dalam berita bukanlah kisah-kisah yang diceritakan ketika berita tersebut dibaca."

Kisah ini, dan kisah-kisah lainnya yang seperti ini mendorong kita untuk bertanya beberapa pertanyaan penting. Pertama dan yang paling jelas, Apakah kemajuan organisasi ini merupakan prioritas yang lebih tinggi dari pada perluasan Kerajaan Allah? Apakah hal ini membuat para eksekutif pelayanan berkompromi dengan standar kebenaran yang alkitabiah? Apakah ini merupakan "keserakahan" yang dimaksud oleh rasul Petrus, yang akan menyebabkan beberapa pemimpin Kristen berusaha "mencari untung dari kamu dengan cerita-cerita isapan jempol mereka" (2Petrus 2:3)?

Bisikan Roh Kudus versus Rayuan Manusia

Banyak orang percaya merasa sulit untuk membedakan antara bisikan Roh Kudus dengan rayuan manusia. Kedua pendekatan tersebut merangsang pikiran dan perasaan. Keduanya mengajak kita untuk mendukung alasan- alasan yang layak dan bisa dilihat. Namun ada satu perbedaan yang besar. Bisikan Roh Kudus tidak membuat risih, lembut, sopan dan jujur. Sedangkan rayuan manusia cenderung vulgar; melihat orang sebagai objek untuk mendapatkan keuntungan. Yang satu berorientasi kepada hubungan sedangkan yang lain berorientasi kepada program.

Harus diakui bahwa dalam banyak kasus rayuan manusia ternyata berhasil. Kenyataannya adalah, seluruh industri telah tumbuh dan berkembang dengan mempraktekkan hal tersebut. Para penjajag pendapat menemukan apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh orang-orang; para penerbit menyampaikan hasil-hasilnya ke dalam desktop kita; dan para konsultan serta pengajar di seminar mengajar kita bagaimana mendapatkan keuntungan dari apa yang kita ketahui.

Karena banyaknya orang Kristen yang menerapkan pendekatan perhitungan ini ke dalam pelayanan mereka, mungkin sudah waktunya untuk kita bertanya-tanya apakah kita ini anak-anak Allah atau anak-anak ilmu pengetahuan. White mengkhawatirkan bahwa metoda-metoda modern, kalau kita tidak berhati-hati menyeleksinya dapat merongrong iman di dalam Roh Kudus. Walaupun iklan dan rayuan secara intrinsik bukanlah kejahatan, namun hal itu dapat menimbulkan kerugian yang besar "bila motivasinya adalah keserakahan atau eksploitasi (tidak memperlakukan umat manusia sebagai manusia, mengabaikan martabat mereka dan menganggap mereka sebagai objek untuk manipulasi)".

Mampukah kita membuat pernyataan seperti Paulus bahwa "kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan"? Dapatkah kita berkata bahwa "kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah"? Apakah kita bersedia untuk mempraktekkan kebenaran apa adanya untuk "menyerahkan diri kita untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah" (2Korintus 4:2)?

Meskipun secara psikologis kadang-kadang manipulasi membuahkan hasil- hasil jangka pendek, hal tersebut tidak sebanding dengan keyakinan yang datang dari Roh Kudus. Orang-orang Yerusalem tidak memerlukan panggilan ke depan (altar call) pada akhir khotbah Petrus di hari Pentakosta. Tidak ada suara serak-serak basah yang mengatakan "Raihlah waktu yang istimewa ini". Tidak ada pemain organ yang memainkan musik lembut "Kuserahkan". Sebaliknya, Alkitab menceriterakan kepada kita bahwa orang banyak tersebut "hatinya sangat terharu" dan mereka langsung bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" (Kisah 2:37). Setelah kejadian itu, gereja bertambah 3.000 jiwa. "Setiap orang" kata Alkitab "dipenuhi rasa kagum" (ayat 43). Ini bukan untuk meragukan metoda panggilan ke depan (altar call). Namun untuk mengingatkan bahwa adakalanya kita harus membiarkan sang Mempelai Pria melayani kita langsung.

Tata cara yang dilakukan terhadap seseorang yang hendak dilamar mencerminkan maksud dari pelamarnya -- baik pria maupun wanita. Jika tujuannya adalah anjungan satu malam (sumbangan yang didasarkan atas perhitungan untung rugi, suatu sumbangan yang impulsif), maka manipulasi yang akan menang. Tetapi jika tujuan akhirnya adalah menghasilkan (seorang murid yang kuat, mitra jangka panjang), maka kita perlu merayu hati kekasih kita.

Banyak dari kita tidak jujur di hadapan manusia karena kita tidak jujur di hadapan Allah. Kita membawa ambisi-ambisi pribadi kita dan dosa-dosa yang tersembunyi -- "apa yang tersembunyi dalam kegelapan" yang pada suatu hari akan diungkapkan (1Korintus 4:5). Tetapi Allah menginginkan kebenaran "dalam batin" (Mazmur 51:8), dan Ia membuatnya menjadi jelas bahwa setiap usaha untuk menyembunyikan dosa tidak akan beruntung (Amsal 28:13).

Jika kehidupan kita adalah kitab yang terbuka, satu-satunya harapan yang dapat kita lakukan adalah berteriak seperti Daud, "Selidikilah aku, ya Allah, dan ketahuilah akan hatiku" (Mazmur 139:23) dan seperti Ayub, "Apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku" (Ayub 34:32). Hanya sebagaimana kita sendiri diuji dan dimurnikan barulah kita mampu mengenali ketidakjujuran yang ada di dalam diri orang lain.

Sumber: 

Sumber:

Judul Buku:Trademark TUHAN
Pengarang:George Otis Jr.
Penerbit:Indo Gracia, Jakarta
Halaman:41 - 55

Jemaat-jemaat Kristus di Asia Melintasi Abad Ke-21 (Bagian 2)

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia selengkapnya...»

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal, karena ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka, khususnya pemikiran- pemikiran mereka yang cemerlang, prinsip-prinsip hidup mereka yang sangat bernilai, dan pengalaman hidup mereka yang penuh perjuangan. Dalam dunia kekristenan ada banyak tokoh "pembela iman" yang kita kenal, tetapi hanya sedikit saja tokoh yang sebagian besar hidupnya dipakai untuk mengajarkan dan menegakkan kebenaran doktrin yang berpusatkan kepada Kristus dan berdasarkan pada Alkitab. Di antara jumlah yang sedikit itu adalah Dr. Cornelius Van Til.

Tulisan Pdt. Cornelius Kuswanto berikut ini akan menolong kita mengenal tokoh Teologia Apologetika Reformed tersebut. Meskipun artikel ini pendek tapi isinya padat. Saya harap kita bisa belajar sesuatu yang berharga dari tulisan tentang Dr. Cornelius Van Til ini dan menghargai karya-karyanya yang memuliakan Tuhan dan yang memberi pengaruh bagi gereja Reformed masa kini.

In Christ,
Yulia

Edisi: 
047/I/2004
Isi: 

III. PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN DALAM PENGGEMBALAAN DI GEREJA-GEREJA ASEAN

Selama 40 tahun lebih, oleh anugerah Tuhan, penulis menjadi pengajar di seminari, mengadakan penginjilan, membuka ladang baru, mendirikan gereja dan sekolah Kristen. Semuanya itu dilakukan penulis selaku hamba kecil yang menaati dan melakukan kehendak-Nya. Dengan pemahaman yang dangkal, melalui kesempatan ini penulis mencoba memberikan beberapa saran, kiranya pembaca yang terhormat berkenan memberi petunjuk dan koreksi.

  1. Dosen seminari dan pemimpin gereja perlu membentuk kelompok pemahaman Alkitab untuk menyelidiki seluruh doktrin Alkitab, kebenaran Alkitab yang tak pernah berubah itu, untuk mengevaluasi doktrin-doktrin yang telah menjadi tradisi denominasi-denominasi gereja Barat, yang selama ini disebut sebagai kepercayaan ortodoks, namun tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Memisahkan kebenaran Alkitab yang tidak berubah itu dengan kebudayaan barat, agar orang Asean dengan jelas mengenal garis pemisah antara kebenaran agama Kristen dan kebudayaan Barat, untuk mengurangi sikap menentang kebudayaan Barat sebagai alasan menentang kebenaran Kristen.

  2. Dosen seminari dan pemimpin gereja perlu membentuk kelompok kecil untuk mempelajari rencana pembangunan nasional. Berdasarkan kebenaran Alkitab, dengan sikap positif meresponinya, serta mendorong orang Kristen turut berperan serta di berbagai sektor pembangunan nasional. Yusuf, Ester, Mordekai, Daniel dan juga tidak sedikit orang Kristen yang saleh yang mempunyai kontribusi dalam politik negara. Alangkah baiknya jika dapat mengundang politikus Kristen untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan kelompok kecil ini.

  3. Dosen seminari perlu menyelidiki baik buruknya pemikiran, motivasi, langkah-langkah, dan penafsiran. Menjadualkan pengadaan seminar, dengan mengundang Gembala atau hamba Tuhan dan orang Kristen yang berpendidikan tinggi, bersama-sama meneliti dan diskusi, kemudian menjelaskan kembali hasilnya kepada jemaat. Hal ini dapat menghindari agama menyalahgunakan nama kekristenan untuk menentang kebenaran Alkitab, yang berdampak negatif bagi citra gereja, juga dapat mencegah orang Kristen menerima teori yang nampak benar tetapi sesungguhnya salah, dan menggantikannya dengan slogan rohani yang muluk-muluk, dengan sembrono mengikutinya demi keuntungan material.

  4. Perlu adanya kerja sama antara seminari dan gereja setempat untuk membentuk pendidikan teologi kaum awam, di mana dosen teologi dan orang Kristen awam dapat berinteraksi secara langsung selaku guru dan sahabat. Kebenaran yang murni itu disampaikan dengan rinci, konkret, praktis, aplikatif, dan universal. Pendidikan teologi kaum awam dapat menjadi tempat di mana dari tangan pertama seorang dosen teologi mendapatkan persoalan-persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan orang Kristen di tengah-tengah masyarakat dunia, dan orang Kristen memperoleh jawaban yang berbobot yang sesuai dengan kebenaran Alkitab. Gembala Sidang setempat sebaiknya juga menjabat sebagai dosen pendidikan teologi kaum awam, sehingga dalam proses belajar mengajar yang cukup panjang itu, gembala sidang memacu jemaat untuk menyelidiki kebenaran Alkitab dengan saksama.

  5. Gereja harus memberikan kesempatan secara berkala bagi gembala sidang atau hamba Tuhan untuk mengikuti pendidikan teologi lanjutan. Konsep tentang seorang hamba Tuhan cukup berbekalkan pendidikan teologi selama 4 tahun dan kemudian melayani seumur hidup harus diubah. Pada era informatika dan meledaknya pengetahuan kini, jika setiap minggu seorang gembala sidang atau hamba Tuhan tidak secara intensif membaca 1-2 buah buku ilmiah atau yang berbobot, 5-7 tahun kemudian tidak mengikuti 1-2 tahun pendidikan lanjut, maka dengan kerutinan setiap minggu yang harus membuat 2-3 naskah khotbah itu, ia akan terasa begitu sulit dan kering. Setiap kali ia akan merasa letih lesu, kecewa dan putus asa, dengan langkah yang berat dan tidak bersemangat menuju mimbar. Sekalipun jemaat datang beribadah dengan hati yang hormat dan takut kepada Tuhan, rindu untuk memperoleh makanan rohani yang dibutuhkan sebagai pedoman dalam kehidupannya, tetapi kenyataannya ialah: "kata-kata usang atau kata klise belaka, yang tak bermakna", yang tidak dapat memenuhi kebutuhan rohani mereka. Yang lebih fatal, karena pengkhotbah merasa begitu tertekan, seringkali tanpa sadar mengeluarkan kata-kata omelan, sindiran di mimbar, menjadikan jemaat sebagai tempat pelampiasan amarah, akibatnya hubungan antara gembala dengan jemaat akan semakin memburuk. Ini adalah bencana bagi gereja, bahkan bencana yang besar! Jika secara berkala gembala atau hamba Tuhan itu mengikuti pendidikan lanjut, lebih meneliti dan mendalami Alkitab, maka Firman Tuhan akan disampaikannya dengan penuh keyakinan dan suara yang mantap. Ditambah dengan doa serta kuasa Roh Kudus, maka akan seperti air sungai yang mengalir dengan lancar, bersemangat dan mendatangkan berkat bagi yang mendengarkan. Pelayanan mimbar merupakan kesempatan di mana seorang hamba Tuhan bekerja sama dengan Tuhan, juga merupakan suatu kenikmatan rohani. Hal ini merupakan kunci bagi pertumbuhan rohani orang Kristen dan vitalitas gereja.

  6. Setiap minggu gembala sidang atau hamba Tuhan harus berusaha untuk menulis artikel-artikel yang bersifat penelitian dan sistematis, atau mengundang orang Kristen yang pandai dalam kesusasteraan untuk menulisnya. Kemudian dimuat dalam buletin gereja. Di samping melatih diri sendiri agar semakin maju dalam membuat naskah khotbah. (Karena untuk diterbitkan, sudah tentu akan lebih teliti memikirkan secara rinci, dan akan berusaha untuk menggunakan materi yang lebih tepat.) Juga melatih diri melakukan pelayanan literatur. Jikalau dalam satu tahun memiliki 52 naskah khotbah yang ringkas, pada akhir tahun dapat diterbitkan sebagai sebuah buku, baik untuk dijual kepada orang Kristen, atau sebagai kenang-kenangan di hari Natal kepada sanak saudara dan sahabat. Dalam anugerah Tuhan, selama pelayanan 50 tahun, ia akan memiliki 50 buah buku kumpulan khotbah, dengan demikian ia telah menjadi gembala yang mengarang. Yang lebih berharga ialah ketika ia kembali ke pangkuan Bapa, hasil karya ini dapat menjadi kesaksian untuk orang banyak. Pelayanan yang tahan lama ini, juga melatih gembala atau hamba Tuhan untuk memiliki kehidupan yang teratur, ulet dan mau berupaya untuk maju. Selain Gembala sidang atau hamba Tuhan harus memiliki tekad ini, gereja juga harus memberi dukungan kepada mereka. Contoh: John Wesley (abad-18), Charles Spurgeon (abad-19), Harun Hadiwijono, R. Sudarmo, J. L. Ch. Abeneno (abad-20).

IV. STRATEGI YANG DIKEMUKAKAN KRISTUS BAGI GEREJA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SEJARAH

Kristus belum datang kembali, namun gereja telah memasuki abad ke-21. Beberapa pemimpin gereja mengamati sejarah 100 tahun yang lalu, di mana gereja di Eropa dan Amerika semakin melemah dan mundur, sebaliknya agama-agama lain bangkit, bertumbuh, dengan gigih maju mendobrak semua penghalang, menembus masuk ke dalam basis gereja di Eropa dan Amerika. Walaupun di negara-negara Asia memberikan keleluasaan bagi kekristenan, tetapi ketika memperkenalkan anugerah keselamatan Kristus kepada yang lain, seringkali dihalangi karena alasan "kerukunan dan ketenteraman". Sehingga tidak sedikit yang peduli akan masa depan penggembalaan gereja menjadi cemas, dan umumnya bersikap membalas, bahkan untuk menunaikan Amanat Agung sampai ke seluruh dunia, mereka siap membayar harga "lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai." Berdasarkan kebenaran Alkitab, kita akan melihat bagaimana Kristus menangani strategi gereja menghadapi perubahan sejarah.

  1. Dasar Gereja Kristus
  2. Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah dasar bagi gereja (Mat. 16:18-20; lKor. 3:11; Ef. 2:20). Dasar ini bukan bersifat materi, bukan organisasi manusia yang kelihatan, bukan orang banyak yang kenyang karena makan roti, terlebih bukan teologi dari teolog timur dan barat, atau pencerahan khusus para penafsir. Dasar ini adalah: Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi manusia, diam di antara manusia, taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa, dengan darah-Nya yang kudus oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban bagi penebusan dosa umat manusia, yang telah bangkit dari kematian, dan yang telah menang atas segala kuasa. Ia adalah kekal, hidup selama-lamanya, menjadi Pemimpin semua raja-raja di dunia. Dia adalah Raja yang telah diurapi Allah Bapa sejak kekekalan (Mzm. 2:7; Ibr. 1:8-13; Why. 5:9-14; 6:16; 19:11-16; dan sebagainya).

    Dengan hidup yang kekal Kristus telah mempersembahkan korban yang kekal. Hidup yang diberikan-Nya adalah hidup dari Allah, dan gereja didirikan oleh-Nya dan merupakan kumpulan orang-orang yang oleh-Nya telah beroleh hidup. (Yoh. 1:12-13; 10:10-11, 17-18; 17:3; 20:31; Ibr. 9:11-14; 10:10-18 dan sebagainya). Oleh sebab itu, gereja Kristus itu adalah hidup dan rohaniah, yang adalah milik Allah yang esa dan benar. Karena gereja didirikan di atas darah tubuh Kristus yang kekal, maka gereja bersifat kekal dan kokoh.

  3. Ujian Gereja Kristus
  4. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus: "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Mat. 16:18). Hal ini menyatakan: Ketika mendirikan jemaat (gereja), ada kekuatan yang menolak dan merusakkannya, tetapi tidak akan dapat menguasainya.

    Sejarah gereja juga memberitahukan kepada kita, ketika Kristus memberitakan Injil Kerajaan Surga di bumi ini, untuk menyelamatkan semua bangsa, pemimpin-pemimpin Yahudi menolak-Nya, menyerang-Nya bahkan bersiasat untuk membunuh-Nya (bandingkan Yoh. 5:16; 7:1, 30; 8:59, 34; 11:53, 57; 19:6-7, 15; dan sebagainya). Gereja pada zaman para Rasul juga menderita penganiayaan dari golongan Yudaisme. Orang-orang Yahudi berupaya keras untuk memusnahkan orang Kristen (bandingkan Kis. 4:1-3, 5-7, 17-18; 5:17-40; 6:9-14; 7:54-59; 8:1-3; 9:1-2; 13:50; 14:1-6, 19; 17:1-9; 18:12-17; 21:27-36; 23:12-15 dan sebagainya). Sesudah itu, pada masa Kekaisaran Romawi berkuasa pada tahun 60-12 TM, sepuluh kali gereja menderita penganiayaan besar. Pada abad-7, sebuah agama baru muncul di Timur Tengah dan menghancurkan gereja-gereja di Arab, Mesir, Afrika Utara dan Spanyol, serta membunuh ratusan ribu orang Kristen. Pada abad-14 dan 15, agama Timur Tengah di Turki memusnahkan hampir seluruh umat Kristen di negara itu. Pada abad-20, ketika Partai Komunis berkuasa di Rusia, juga hampir memusnahkan Gereja Ortodoks Yunani, Roma Katolik di Eropa Timur Rusia dan Agama Kristen di Cina. Namun selama 2.000 tahun, gereja yang berakar dalam Kristus yang telah bangkit dan hidup selama-lamanya itu, tetap bereksistensi, bahkan seturut kehendak Allah masuk ke dalam semua lapisan masyarakat, bersaksi kepada penganiaya-penganiaya itu. Seperti yang dikatakan dalam surat Wahyu "Kuasa kegelapan berupaya dengan berbagai cara ingin menyerang dan menelan gereja, bagaikan naga merah yang besar itu menelan anak yang dilahirkan perempuan itu, tetapi Allah sendiri menyediakan tempat bagi perempuan dan anaknya di padang belantara, memeliharanya, sehingga tidak ditelan oleh naga merah besar itu" (Why. 12:1-6, 13-17).

  5. Perkembangan Gereja Kristus
  6. Gereja yang ditebus dan didirikan oleh darah Kristus adalah gereja yang hidup dan bersifat rohani. Karena hidup, maka akan terus berkembang biak; karena bersifat rohani, maka tidak dibatasi oleh dunia materi. Kristus pernah memakai perumpamaan benih untuk melukiskan firman yang hidup dan rohani. Ia berkata, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yoh. 12:24). Seorang Kristen yang memiliki hidup dibunuh, berarti sebuah benih yang hidup jatuh ke tanah dan mati. Tidak lama kemudian akan menghasilkan banyak buah. Oleh sebab itu, darah kaum martir adalah benih-benih Injil yang jatuh dan mati. Di mana ada seorang martir Kristen, benih Injil tersebut akan melampaui ruang dan waktu, di situ ia akan menghasilkan banyak buah yaitu orang-orang Kristen yang memiliki hidup Kristus, orang-orang Kristen dari berbagai bangsa dan negara. Contoh: Martir Stefanus (Kis. 7), benih yang mati dan menghasilkan buah yaitu Paulus yang menjadi rasul untuk bangsa bukan Yahudi (Kis. 9).

    Selama 2.000 tahun ini sejarah gereja memberitahukan kepada kita: Eksistensi dan misi gereja yang ditebus dan diselamatkan oleh darah Kristus, di tempat, bangsa, budaya dan zaman yang berbeda, selalu ditentang, didesak, difitnah, dilarang, bahkan diancam untuk dibunuh, namun karena Kepala gereja adalah Kristus yang telah bangkit, yang telah menang atas kematian dan maut, yang hidup untuk selama-lamanya selalu menyertai gereja-Nya, menderita bersama-sama dengan gereja-Nya. Dengan cara yang ajaib, Ia memelihara semua orang Kristen yang mengasihi-Nya, yang taat memberitakan Injil-Nya di seluruh bumi, sehingga Injil dapat diberitakan dari satu tempat ke tempat yang lain. Gereja berkembang dan menyebar dari satu bangsa ke bangsa yang lain, keselamatan oleh darah Kristus diteruskan dari satu generasi ke generasi yang berikut, Alkitab diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Penyebaran gereja bagaikan sebuah perahu yang berlayar, mengarungi lautan, menerpa badai dan ombak, dengan gagah maju terus, untuk menggenapkan amanat pemberitaan Injil yang telah ditetapkan Allah dalam kekekalan, agar semua bangsa menjadi murid Kristus.

  7. Kesaksian Gereja Kristus
  8. Alkitab Perjanjian Baru secara konkret menjelaskan isi iman Kristen, amanat orang Kristen dalam kehidupan dan karir sehari-hari, baik atau tidak baik waktunya, harus memberitakan keselamatan dalam Kristus. 2.000 tahun silam, kepercayaan Kristen tak putus-putusnya mengalami penolakan dan penyerangan dari kekuatan pikiran filsafat manusia dan arus kejahatan yang ada dalam budaya sekular, agar moral orang Kristen yang bersih dan murni itu dinodai, serta menurunkan standar yang ditetapkan Alkitab. Namun, Kristus yang bangkit, oleh darah-Nya yang tetap berkhasiat, dan kuasa Roh Kudus, senantiasa menyucikan, memelihara kekudusan gereja dan orang Kristen (bandingkan 1Yoh. 1:5-2:2; Why. 7:14; dan sebagainya). Membangun yang gagal, menopang yang lemah, memanggil yang bertekad meneladani Kristus, menyangkal diri, memikul salib-Nya (bandingkan Luk. 22:31-34, 60-62; Yoh. 10:28-29; 1Tes. 5:23-24; Yud. 24-25 dan sebagainya). Roh Kudus seturut kehendak-Nya mengaruniakan berbagai karunia rohani kepada setiap orang Kristen di posisi masing-masing: berkata-kata dengan hikmat, pengetahuan, iman, kasih, mengajar, menasihati, memimpin, membedakan bermacam-macam roh, memberitakan Injil, menggembala-kan jemaat, menafsirkan kebenaran Alkitab dan sebagainya, agar saling melengkapi, membangun kerohanian orang Kristen, di tiap zaman, tiap tempat, tiap bangsa, tiap lapisan masyarakat (bandingkan Rm. 12:6-8; Ef. 4:11; 1Kor. 12:8-10, 28-29; lPtr. 4:10-11 dan sebagainya).

    Selama 2.000 tahun, dalam kondisi seperti inilah gereja Kristus bereksistensi, bertumbuh dan menyebar sampai ke semua bangsa. Sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya, gereja dan orang Kristen akan tetap menghadapi tantangan dan penganiayaan, serangan dan kebejatan moral, ketidaktenteraman di dalam dan agresi dari luar, sekalipun secara bentuk dan kualitas berbeda, tetapi satu motivasi yaitu untuk menentang dan memusnahkan gereja. Namun, bagaimanapun dahsyatnya penolakan dan pukulan itu, gereja tetap bereksistensi dan berkembang. Seturut kehendak Kristus, gereja terus maju dan berani bersaksi kepada orang-orang yang tidak percaya, di zaman yang jahat dan kacau balau ini.

    Jikalau gembala sidang, hamba Tuhan dan orang Kristen tidak mengerti bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dialami itu adalah kesempatan bersaksi yang Tuhan berikan, dan di bawah pengontrolan Kristus, maka ketika orang-orang yang mengasihi Tuhan ini menghadapi ketidaktenteraman di dalam dan agresi dari luar, akan menjadi kecewa dan putus asa, merasa sendiri dan tak berdaya untuk menunaikan amanat beritakan Injil ke seluruh bumi. Bahkan ada sebagian gembala sidang dan hamba Tuhan yang pasif, ketika menghadapi kegarangan tantangan dan serangan iblis, akan menyerah, berkhianat menyangkal Tuhan, menjual saudara seiman, juga menjual diri sendiri.

    Perjalanan sejarah gereja selama 2.000 tahun ini membuktikan bahwa Kristus senantiasa beserta dengan gereja-Nya dalam penderitaan, menderita dan menang bersama-sama. Gereja telah melewati milenium ke-2, 20 abad, yakinlah bahwa sebelum Kristus datang lagi, gereja-Nya tetap akan sanggup dan tenang melewati milenium ke-3, abad-21, bahkan memiliki kekuatan bersaksi pada setiap zaman, kepada setiap umat manusia yang kosong hatinya, yang hidup tanpa berpengharapan dan tanpa tujuan yang pasti.

    Gembala sidang gereja-gereja di Indonesia yang mengerti dengan baik strategi Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab, baiklah bersandar pada bimbingan dan pertolongan Roh Kudus untuk memanfaatkannya. Barulah dapat bersama-sama dengan gembala-gembala sidang yang ada pada setiap zaman menggenapkan amanat misi di seluruh bumi, serta mengalami kemenangan dalam Kristus.

[ Catatan: Artikel ini diterjemahkan (dari bahasa Chinese ke bahasa Indonesia) oleh Ev. Amy Kho, Sm. Th. ]

Sumber: 

Sumber:

Judul Buku : Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus yang Melintasi Zaman
Pengarang : Dr. Peter Wongso
Penerbit:Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)
Tahun:1997/2002
Halaman:7 - 23

Komentar