Praktika

Teologia Praktika adalah teologia yang berisi penerapan pengajaran Alkitab dalam kehidupan praktis untuk pembangunan, pengudusan, pembinaan, pendidikan dan pelayanan umat Tuhan.

Peta Perubahan Teknologi Komunikasi dan Dampaknya bagi Pelayanan pada Abad XXI (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel bulan lalu. Setelah kita mengerti pergeseran teknologi yang terjadi, kita harus menyusun strategi untuk dapat tetap menjadi garam dan terang bagi dunia sesuai konteks zamannya. Mari kita simak lanjutan artikel ini. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 154/Juli 2014
Isi: 

Pendidikan jarak jauh juga dapat dilakukan. Gelar-gelar dan kursus-kursus tidak terlokalisasi di satu tempat saja. Bahkan, perguruan tinggi dapat dibuat dengan bermodalkan sebuah ruko atau gedung sederhana, tetapi dengan jangkauan sedunia dan akses data serta pengajar secara luas.

Yang pasti, kehadiran komputer yang semakin murah dengan sejumlah aksesorisnya di Asia Tenggara telah mulai menjadi bagian hidup. Sebuah komputer dapat memainkan musik, film/laser, menjadi alat melalui jaringan internet, alat mengobrol bahkan dapat diprogram untuk mengatur listrik, dan berbagai alat di rumah kita. Jangan lupa, kita pun dapat membeli dan menjual barang melalui komputer serta kartu kredit. Dengan alat itu, pencarian informasi dan berbagai keputusan dapat dimulai di rumah. Lebih lanjut lagi, kalkulator akan digantikan dengan komputer saku yang setiap anak SD pun akan membawanya. Alat ini pun akan berfungsi sebagai telepon tangan, jam, dan alarm. Jadi, alat yang tadinya merupakan pengolah informasi, ternyata menjadi alat yang serba bisa, budak yang penurut dan setia selama kita memperlakukannya dengan baik dan benar.

Semuanya hanya menyiratkan satu hal bagi keluarga kita, yaitu dunia yang tadinya didominasi oleh ciptaan alamiah (biosphere), kini mulai didominasi dengan alat-alat buatan manusia (techno-sphere). Banyak alat komunikasi dan informasi tadi sudah demikian canggihnya. Kita tidak mengerti cara kerjanya, tetapi toh dapat menggunakannya. Kita mulai semakin tergantung padanya. Bila hal ini membuat manusia lebih menyukai hubungan dengan alat daripada hubungan antarpribadi secara nyata, jumlah manusia yang kesepian akan semakin bertambah. Kecenderungan ini akan membuat pola hubungan suami istri semakin steril. Demikian pun dengan anak. Keluarga sangat rentan terhadap penyakit kehilangan kehangatan emosi. Jadilah dikenal dengan apa yang dinamakan "virtual home" atau "virtual family". Hanya namanya saja masih satu keluarga, tetapi kebersamaan selalu jarang terjadi, semua penataan keluarga berjalan secara remote/jarak jauh.

VI. Dampak bagi Pelayanan Khusus di Indonesia

Indonesia dikenal dengan berbagai hal yang khas. Pertama, Indonesia adalah kerumunan manusia. Sekitar 250 juta jiwa manusia tersebar dengan tidak teratur di negara ini, hampir 80%-nya mungkin bertumpuk di pulau Jawa yang kian bergerak ke tengah kota-kota. Manusia-manusia ini juga mencerminkan pluralitas atau keberbagaian corak yang membuat Indonesia bagaikan sepiring rujak raksasa. Pluralitas tadi dapat berupa pluralitas orientasi nilai, pola hidup, kekuatan ekonomi, dan etnis serta pluralitas dalam bidang spiritual. Pengaruh perubahan tren yang telah kita bahas akan dirasakan berbeda di berbagai kelompok yang ada. Namun, jumlah orang yang merasa keder dan tercabut dari akar semakin nyata--hal mana sering terlihat dalam menumpuknya jumlah orang yang meminta pelayanan pastoral konseling. Mereka kehilangan dunia stabil yang dulu mereka huni secara kejiwaan, sedangkan dunia baru begitu beragam dan mungkin mereka belum memiliki tempat di dalamnya.

Dari sudut perubahan komunikasi, ketika sebagian besar rakyat meloncat dari pola lisan langsung ke komunikasi televisi tanpa menguasai komunikasi tertulis, guncangan besar terasa. Yang pasti, perbedaan antara kota besar dan kecil serta desa akan semakin terasa.

Bagi pelayanan Kristiani, kesulitan yang diakibatkan oleh pluralitas tadi adalah luar biasa. Dari pengamatan penulis, agaknya bagi lingkup antargereja, kecenderungan untuk menghasilkan keberagaman sama kuatnya dengan kecenderungan untuk mencari bentuk kesatuan atau keesaan. Sifat individualis yang diakibatkan oleh pendidikan kita juga membuat orang sulit bekerja sama dan memiliki wawasan yang luas. Kalaupun dipaksakan keesaan tadi, sering kali totalitarianisme yang tersamar serupa dengan yang terjadi di masyarakat feodal kuno menjadi modus kerja.

Kedua, situasi politik dan budaya Indonesia menunjukkan suatu pergeseran yang serius. Keenam sentra kuasa politik sedang bergerak saling memengaruhi secara lebih aktif. Keenam sentra tadi adalah kuasa lembaga presiden, birokrat, ABRI, massa Islam, para pelaku bisnis, dan lain-lain. Media massa juga menonjolkan istilah demokratisasi, suatu proses pemberian dan penyadaran kuasa kepada lebih banyak orang yang semakin popular dituntutkan, bertentangan dengan kecenderungan pemusatan kuasa yang juga meningkat. Internet semakin memungkinkan falsafah ini tersebar luas. Apakah pelimpahan kuasa tadi sejalan dengan perkembangan kesiapan orang banyak untuk memikul tanggung jawab yang lebih kompleks, tentu dapat dipertanyakan. Dunia bisnis memberikan contoh bahwa perusahaan yang menekankan struktur organisasi raksasa dan serupa piramid mengalami kerugian yang serius, sedangkan beberapa dari mereka yang berpedoman pada ukuran yang ramping, jaringan yang luas, serta pendekatan hi-tech dan hi-touch mengalami pesatnya pertumbuhan. Namun, sering kali, banyak perusahaan yang membelah diri ke dalam sentra-sentra yang lebih kecil malah ambruk karena "empowerment" tidak sejalan dengan pembinaan pelaku-pelakunya sehingga mereka tidak siap secara mental dan keterampilan, untuk mengikuti strategi yang lebih lincah dan organisasi yang lebih ramping. Di pihak lain, angin demokratisasi tadi berembus di berbagai negara dengan sangat kuatnya. Khusus untuk Indonesia, agaknya masih perlu dikaji akibat kemungkinan tren ini berhadapan langsung dengan tren penyatuan kuasa bisnis, teknologi, dan komunikasi bersama aparat-aparat pemerintah.

Ketiga, gereja-gereja di Indonesia terus bertumbuh, tetapi dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan penduduk, serta pertumbuhan di kalangan Buddha, Hindu, dan Islam, mungkin pertumbuhan gereja tidak menimbulkan dampak makro secara nasional dan berjangka panjang. Dialog eksternal sering dilaksanakan secara sporadis, tetapi dialog internal di dalam kelompok sendiri malah lebih sulit dijalankan dengan tulus. Antar tiga unsur perubahan di dalam organisasi menurut teori Vijay Sathe, yaitu kepemimpinan, struktur organisasi, serta iklim kerja atau budaya organisasi gereja dan lembaga-lembaganya tidak bergerak seirama.

Dengan kata lain, di dalam pelayanan, dalam berbagai terobosan harus terjadi sesuatu yang menghasilkan dampak pada generasi yang akan datang. Di sini, pada dasarnya memang kita perlu mengkaji apakah perubahan di bidang komunikasi serta pergerakan manusia ke kota-kota di Indonesia merupakan alat Tuhan untuk memberikan kita kesempatan membuat terobosan serupa itu atau merupakan ancaman yang dapat menyulitkan kita.

VII. Tantangan dan Apa yang Dapat Dilakukan?

Pada zaman yang lalu, ketika para misionaris memasuki suatu ladang baru, mereka umumnya bekerja dengan pola yang serupa, yaitu membentuk sistem pendidikan, rumah sakit/kesehatan, percetakan, dan kemudian tempat pemeliharaan iman/gereja. Demikianlah kajian Thomas van den End. Jelaslah mereka menggunakan pendekatan yang holistik, yang masih relevan untuk zaman ini, yaitu melalui pendidikan, sistem pemeliharaan kesehatan, sistem komunikasi, serta sistem pemeliharaan dan pembinaan iman untuk menggarami masyarakat di mana mereka melayani. Namun, apakah cara kerja kita untuk menggarami lingkup-lingkup tadi perlu diubah? Tentunya masih harus diperjelas. Untuk itu, kita perlu merangkum situasi pelayanan masa kini.

Bagaimana dengan situasi sekarang? Masyarakat sekarang jelas digarami oleh media massa. Selain itu, pluralitas di dalam tubuh gereja terus menjadi-jadi di samping usaha pengembangan kerja sama. Untuk situasi yang dinamis dengan perkotaan sebagai pusat orientasi, cara kerja pelayanan yang berabad-abad tidak pernah diubah agaknya perlu pengkajian ulang. Cara yang lama mungkin tidak lagi dapat meraih kesepian orang-orang yang sedang bingung, tergoyah (displaced), serta lelah mengkaji alternatif jalur hidup karena perubahan yang demikian cepat sehingga mereka melarikan diri dengan mencari-cari kenikmatan dan hal-hal yang baru. Gereja yang lahir dari dalam budaya lisan dan menyelam ke budaya tulisan, sekarang harus meraih manusia yang berbudaya elektronis. Gereja mungkin mengalami kesulitan untuk memahami manusia yang berbudaya elektronis, apalagi untuk mampu berkomunikasi dengan mereka tentang Injil dan menyimak mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi tentu merupakan tantangan besar yang bersifat teologis dan budaya yang menuntut kerendahan hati kita dalam menjawabnya. Kita perlu menggumuli apa inti pelayanan dan bagian manakah yang dapat ditawar karena itu merupakan alas dalam menjalankan pelayanan tadi.

Tantangan lain terjadi pada tingkat manajerial pelayanan. Bila pada abad pertengahan dan zaman sebelum abad X gereja-gereja menguasai kota bersama para bangsawan dan kemudian bersama para pedagang, sekarang keadaan sudah lain. Tidak lagi mungkin sistem sekolah, rumah sakit, media massa, dan gedung-gedung gereja dimiliki oleh satu kelompok gereja yang bercorak iman yang sama walaupun gereja tadi berpusat di perkotaan, di mana segala sumber daya dan dana tersedia. Biaya overhead dan operasional akan terus berkembang melebihi daya dukung finansial yang dapat dikumpulkan oleh gereja dari warga dan donatur-donatur besarnya. Kompleksitas dan ragam pelayanan yang semakin membutuhkan pelayan-pelayan spesialis dan bukan hanya generalis membuat pembiayaan untuk SDM semakin cepat meningkat pula.

Keadaan serupa ini menuntut gereja dan umat Kristen untuk menempuh strategi yang berbeda dari abad pertengahan dan abad lain sebelum abad XX. Pertama, pelayanan harus ditangani, baik oleh gereja maupun oleh organisasi yang bercorak Kristen, walaupun organisasi tadi tidak dimiliki oleh gereja. (Pertanggungjawaban dan kaitan organisasi tadi ke gereja adalah melalui pertanggungjawaban moral-spiritual, bukan lagi struktural dan organisasional.) Dengan demikian, hubungan antara "church" dan "parachurch", yang notabene sudah ada lama di tanah air ini, harus dijadikan sinergi daripada dipandang sebagai persaingan, serentak dengan semakin lancarnya komunikasi antara pribadi orang Kristen yang saling berbeda serta telah ditembusnya batas-batas denominasi dan gaya spiritual serta gaya kerja pelayanan masing-masing.

Kedua, hubungan sinergisme antargereja sendiri menjadi hal yang tidak lagi dapat ditawar dalam rangka mewujudkan pelayanan yang berdaya raih luas dan mendalam. Hal ini tidak berarti bahwa gereja harus meleburkan diri dengan wujud yang besar. Pendekatannya harus bagaikan internet, yaitu independen, tetapi interdependen dalam network. Tidak lagi mungkin pada zaman yang berubah cepat ini kita berkomunikasi sendiri, mengatur jalur kerja dan pelayanan sendiri, serta membuat pelayanannya sendiri pula. Zaman ini menuntut kerja sama dan aliansi strategis seperti yang disampaikan konsultan internasional Keniichi Ohmae. Menarik sekali bahwa berita ini disampaikan dari luar gereja dan sangat menggemakan apa yang disampaikan oleh firman Tuhan. Jadi, pengelolaan dan pembangunan rumah sakit, wisma pelatihan, atau sharing gedung gereja besar, dan sebagainya perlu dipikirkan sebagai suatu pilihan. Hal ini semakin mendesak terutama dengan terbukanya kesempatan untuk pengabaran Injil secara utuh melalui media massa, suatu usaha yang membutuhkan modal, sumber daya manusia, dan network yang sangat besar dan tidak mungkin dikelola untuk jangka panjang oleh satu dua kelompok Kristen.

Ketiga, network merupakan salah satu tiang utama dalam usaha apa saja di Indonesia. Tanpa network yang memadai di dalam dan luar negeri, informasi serta relasi yang dimiliki tidak akan cukup membuat terobosan inovasi yang bersifat nasional dan berdampak untuk jangka panjang. Di sini, kita menyadari bahwa kebutuhan untuk membuat pusat informasi bersama untuk seluruh kelompok Kristen akan menjadi tugas besar dalam waktu dekat. Pusat ini mungkin tidak harus besar dalam arti fisik, tetapi besar di dalam kemampuannya mengolah data dan memperoleh data dari berbagai sentra informasi yang telah ada. Teknologi komunikasi jelas sangat memungkinkan hal tadi. Network juga membuat kita terhindar dari duplikasi. Misalnya, antar sekian banyak sekolah teologi dan perpustakaannya di Jawa Barat dapat dilakukan sistem sharing peminjaman majalah, sistem transfer kredit, dan sebagainya.

Keempat, keseluruhan kemungkinan pelayanan yang dipaparkan di atas memanggil kita untuk menoleh sepenuhnya kepada Salib Kristus dan tidak terpaku untuk memandang diri sendiri, gereja sendiri, atau luka-luka hubungan antara gereja dan organisasi parachurch pada masa lalu. Selanjutnya, kita harus mengadopsi apa yang disebut oleh Taichi Sakaiya sebagai sikap "outward looking". Untuk menyiapkan sikap mental tadi dan sikap iman serupa itu, suatu crash program dapat dilaksanakan, khususnya dalam pelatihan pembentukan wadah muda-mudi Kristen antargereja atau menghidupkan salah satu wadah yang masih berpotensi. Masa depan kota dengan teknologi dan pluralitasnya membutuhkan kaum pemimpin muda yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Memiliki sikap ingin bekerja sama,
  2. lebih berporos pada visi kerajaan Allah daripada visi yang terikat hanya pada denominasi, mampu membuat konsep pelayanan bersama para teolog,
  3. mampu mengenali kesempatan melayani, antara lain melalui dunia komunikasi dan lingkup kota-kota,
  4. andal dalam menyusun strategi,
  5. mampu menjamin pelaksanaan operasionalnya dan mampu memiliki hati yang peka pada kehendak dan kuasa Allah bagi kenyataan di Indonesia, antara lain lajunya pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya jumlah mereka yang lebih lemah secara pendidikan, ekonomi, dan politis daripada kita,
  6. mampu menangani pertumbuhan iman pribadinya secara serius.

VIII. Penutup

Kesimpulan sejauh ini ialah dunia Asia dan Indonesia bergerak ke kota dengan berbagai pola komunikasi dan pluralitas yang dihasilkannya. Kota berarti kebutuhan untuk pegangan hidup dan peta perjalanan iman di tengah dinamika yang sering membingungkan. Teknologi komunikasi dan polanya yang beragam berarti tersedianya kemungkinan kita meningkatkan daya jangkau dalam usaha penginjilan dalam arti yang holistik. Pluralitas berarti kita perlu menggunakan pendekatan network dalam menjalin keesaan dan bukan pendekatan struktural birokratis. Di pihak lain, perkembangan kota, teknologi komunikasi, dan pluralitas juga dapat menghasilkan manusia yang bingung, mau enak saja, dan terbius kesan.

Dari mana kita memulainya? Berbeda dari lembaga lain dan umat lain, gereja dan orang percaya tidak bisa tidak harus mulai merespons perubahan yang ada dengan kaitan yang kian mendalam dengan Allah di dalam Tuhan Yesus. Kerinduan untuk mengungkapkan kasih dan perasaan berutang pada karya keselamatan dan kasih-Nya yang demikian luhur, harus menjadi tumpuan dari segala karya pelayanan dan strategi baru yang akan ditempuh dalam rangka kita melaksanakan tugas sebagai saksi-Nya. Lebih lanjut lagi, perubahan yang ada harus dipandang selaku kesempatan untuk lebih mengkaji dan mendalami makna hubungan kita dengan Bapa. Dengan demikian, perubahan tidak dilihat sebagai ancaman yang harus ditangkal, tetapi sebagai kesempatan mencari kehendak-Nya dan menjalani lagi langkah kepatuhan bagi Kristus dan kerajaan-Nya, serta sekaligus menunjukkan kasih kita bagi-Nya. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi dan demikian mendasar mempertanyakan sedalam-dalamnnya siapa diri kita dan sejauh mana kita bersedia bergantung pada kehendak-Nya.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Jurnal Pelita Zaman, Volume 12, Nomor 01 (Mei 1997)
Judul bab : Peta Perubahan Teknologi Komunikasi dan Dampaknya Bagi Pelayanan Pada Abad XXI
Penulis : Robby I. Chandra
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman
Halaman : 53 -- 67

Membesarkan Anak dalam Tuhan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Setelah ujian sekolah berakhir, maka hasil belajar anak-anak akan dievaluasi melalui nilai rapor. Namun apakah yang dinamakan pendidikan hanya sebatas nilai rapor saja? Tentu tidak! Betapa sempitnya pandangan kita jika pendidikan anak hanya berfokus pada nilai dan prestasi tinggi yang dicapai di sekolah. Nilai dan prestasi bagus di sekolah tidak menjamin apakah seorang anak telah dididik dan dibesarkan dengan benar. Lalu apa yang dimaksud dengan pendidikan? Bagaimana mengukur keberhasilan pendidikan?

Saya sengaja memilih artikel di bawah ini karena saya berharap, para Pembaca, terutama orang tua, para guru, serta para pembimbing rohani mampu mengevaluasi diri apakah selama ini telah mendidik anak-anak kita dengan benar atau belum. Pergumulan di dalam membesarkan anak tentunya berbeda seiring dengan perkembangan zaman. Orang-orang kuno seringkali mendidik anaknya dengan keras bahkan tidak segan-segan menggunakan rotan untuk menghajar anaknya. Namun, pada zaman postmodern ini, tentunya kita tidak dapat lagi menerapkan kekerasan fisik dalam membesarkan anak. Meskipun cara mendidik anak dapat berubah sesuai zaman, tetapi kita harus berpegang pada sebuah prinsip pendidikan yang tidak akan berubah sepanjang zaman: yaitu anak harus dibesarkan dalam Tuhan. Semoga artikel yang saya kirimkan ini dapat membantu kita untuk mengerti prinsip-prinsip membesarkan anak dalam Tuhan dan kita semakin mampu menerapkan kasih, kelemahlembutan, keadilan, dan kebijaksanaan dalam mendidik anak-anak kita.

Selamat membaca dan merenungkan. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 141/Juni 2013
Isi: 

Mendidik anak bukanlah memikirkan tentang bagaimana melakukan kehendak diri sendiri, melainkan memikirkan apa yang terbaik untuk mereka. Saya kira dalam hal ini banyak para ibu yang gagal. Seorang ibu yang cerewet tidak habis-habis adalah seorang yang setelah cerewet, tidak melakukan apa-apa. Tetapi seorang ayah lebih banyak diam, dan hanya pada saat tertentu di kala perlu, akan memukul anaknya dengan keras. Jadi, makin banyak ibu berbicara, seorang anak akan makin merasa itu sebagai hal biasa yang tak ada pengaruhnya. Makin cerewet, makin tak didengar. Namun seorang ayah yang memukul, sampai-sampai anak tidak tahu mengapa ia dipukul, juga tidak melakukan hal yang mendidik. Kita melihat begitu banyak ibu yang merasa dirinya sudah mendidik anak, padahal apa yang dikiranya mendidik, isinya hanya membereskan kesumpekan diri sendiri. Seorang ibu yang mengeluh tentang anak tidak berarti bahwa ia mendidik anak. Yang menjadi ibu, mulai hari ini berhentilah dari kecerewetan Anda dan mulai memikirkan tentang apa yang Anda katakan di hadapan anak-anak Anda: Apakah itu mendidik atau mengeluh? Jika seorang ibu hanya mau membereskan kesulitan sendiri, ia belum mempunyai kekuatan mendidik anak, pendidikan orang tua mulai berfungsi, jika segala perkataan Anda didasarkan dari hati yang memikirkan segala yang terbaik untuk anak. Jangan lupa, waktu Anda mengomel, waktu Anda mengatakan kalimat yang begitu banyak, tapi sebenarnya tidak begitu perlu, ingatlah bahwa hal itu malah akan menjengkelkan anak-anak Anda. Tetapi kalimat-kalimat yang penting, katakanlah, katakan dan laksanakan, itu akan membuat anak-anak mau mendengarkan perkataan Anda. Bagaimana anak-anak mendengarkan orang tua, jika orang tua tidak memikirkan yang terbaik untuk anak-anaknya? Hendaklah kita seumur hidup berkeputusan untuk hanya mengatakan hal-hal yang berguna. Itu menjadikan diri berbobot, dan tidak akan dianggap sembarangan oleh orang lain. Dengan menjadi orang berbobot, kehadiran Anda akan lebih dihormati anak-anak Anda.

Suatu hari sehabis pergi mengabarkan Injil, ibu saya pulang dan menemukan kami sedang berkelahi. Ia lalu menanyakan sebab musababnya, tapi tak ada seorang pun yang mau mengaku. Ia memerintahkan kami berdoa sama-sama, tapi kami menolak. Tak ada satu pun yang mematuhinya. Ibu lalu pergi ke kamarnya, berhadapan dengan lemari kaca, lalu beliau memukul kaca dengan tangannya dan darah mulai bercucuran. Kami tak tahan lagi, lalu menangis dan berlutut untuk berdoa. Ibu berkata, "Hari ini kamu semua menghina saya. Saya merasa tidak bisa mendidik anak, maka saya pecahkan kaca. Kalau kalian tidak mau taat kepada saya, hal itu tidak mengapa. Tetapi kalau kalian tidak mau taat kepada Tuhan, mau jadi apa?" Akhirnya kami empat saudara yang berkelahi semua berlutut, menangis dan berdoa minta pengampunan Tuhan.

Mendidik anak bukan hanya teori, bukan hanya suatu kepintaran atau kefasihan lidah, tetapi mendidik anak adalah menerjunkan diri, mengorbankan diri, sampai suara hati kita bisa menembusi awan gelap, masuk ke dalam hati anak sampai mereka menyadari arti pendidikan. Berpikirlah untuk kepentingan mereka, bukan hanya mau membereskan kesulitan sendiri. Pendidikan berarti: berhenti dari memikirkan kesulitan-kesulitan sendiri dan mulai memikirkan apa yang bisa diterima dan dirasakan oleh anak kita.

Menetapkan Sasaran Pendidikan

Pendidikan tanpa sasaran akan menghamburkan tenaga, waktu dan lain sebagainya, sama seperti orang naik mobil kelebihan bensin, berputar-putar tak tahu mau ke mana. Apa tujuan kita mendidik anak? Saya kira orang yang paling malang, adalah orang-orang yang mempunyai ayah ibu yang hanya bisa melahirkan anak, tapi tidak tahu bagaimana mengarahkan hidup anaknya. Pada bulan Februari tahun 1974 saya berkhotbah di Vietnam; di tengah perjalanan ke Dalat, ada seorang menceritakan kepada saya tentang tentara-tentara Amerika yang meniduri wanita Vietnam, lalu melahirkan anak-anak yang cantik. Ada orang-orang tertentu yang mau mengambil anak-anak tanpa ayah itu. Tindakan yang mereka lakukan kelihatannya penuh kasih, tapi sebenarnya tidak. Mereka mengambil anak-anak cantik tersebut, agar dididik dan dibesarkan untuk menjadi pelacur dan menghasilkan banyak uang. Saya tidak tahu mengapa orang yang memiliki hati yang sedemikian dapat disebut sebagai manusia.

Jikalau Allah sudah memberikan anak-anak ke dalam tangan kita, tapi kita tidak memiliki tujuan untuk hari depan mereka, maka kita bukanlah orang tua yang baik; kita tidak menjadi wakil yang baik dari Tuhan. Bagaimana menetapkan sasaran? Tetapkanlah tujuan-tujuan yang mulia untuk anak-anak, galilah potensi mereka semaksimal mungkin. Jikalau anak-anak Anda memang tidak berpotensi besar, jangan paksa mereka karena sampai tengah jalan mereka bisa jadi gila. Itu sebabnya, dalam menetapkan sasaran untuk anak-anak pun, kita perlu berhati-hati untuk dua hal:

Pertama, mempunyai pengertian tentang apa potensi dan karunia Tuhan bagi mereka.

Kedua, sampai sejauh mana potensi dan karunia itu punya kemungkinan untuk digali.

Dalam hal ini, kita harus senantiasa bertanggung jawab dalam mengoreksi dan memonitor; mendidik anak bukanlah hal gampang. "Set up a goal for your children" (Tetapkan sebuah tujuan bagi anak Anda). Orang Kristen memiliki satu sasaran penting, yaitu memuliakan Tuhan di dalam pikiran, percakapan, hidup sehari-hari, dalam pekerjaan dan dalam semua segi kehidupan. Konsep teologi Reformed ini, paling sedikit dapat kita taruh dalam hidup anak-anak, agar dimanapun mereka berada, Allah dipermuliakan.

Setelah menggali, menggarap, mengembangkan potensi dan karunia anak, kita tidak perlu menjadi minder. Ada kesaksian tentang seorang yang rela bekerja melayani Tuhan. Akhirnya pada suatu hari, bukan saja ia tidak sempat melayani Tuhan, bahkan kedua kakinya rusak dan harus diamputasi. Pada waktu kedua kakinya dipotong habis, ia menangis. Ia berkata, "Tuhan saya tidak berguna lagi. Saya perempuan, kedua kaki saya dipotong, hidup saya tidak ada arti lagi." Seorang pendeta datang kepadanya, waktu ia sedang menangis. Pendeta itu berkata, "Engkau sudah kehilangan dua kaki, tetapi masih punya dua tangan, kenapa tidak kau persembahkan dua tanganmu untuk Tuhan?" Kalimat itu dipakai oleh Roh Kudus dan memberi satu sinar cerah bagi hatinya. Ia sadar lalu berkata dalam hatinya, "Ya, Tuhan sekarang saya sudah kehilangan kaki, kaki saya tidak dapat dipergunakan lagi, tapi saya masih memiliki dua tangan, sekarang saya mau persembahkan tangan saya untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan." Mulai hari itu, ia mulai menulis surat mengabarkan Injil, kalau ada orang yang tergerak, dimintanya dalam surat itu untuk memberikannya kepada orang lain. Demikian cara dia mengabarkan Injil.

Pada waktu ia mati, ia sudah mengabarkan Injil kepada sebelas ribu orang, melalui koresponden. Dalam lacinya, ditemukan catatan-catatan tentang orang-orang lain yang bertobat melalui pemberitaannya, jumlahnya ada 680 jiwa. Hal ini diceritakan Dr. Bob Pierce pada saya, di Switzerland tahun 1969 (Dokter Bob Pierce adalah pendiri World Vision). Carilah potensi yang ada pada Anda dan pada anak-anak Anda. Kadang-kadang apa yang Anda inginkan terjadi pada anak Anda, berbeda dengan apa yang Tuhan inginkan, jangan paksakan keinginan Anda. Galilah kemungkinan yang terdapat pada anak Anda, sehingga boleh mengembangkan potensi yang Tuhan sudah tanamkan dalam dirinya, hingga dia berguna menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak Anda sendiri.

Kesehatian Orang Tua

Seorang ayah yang mempunyai cara pendidikan yang berbeda dengan ibu, akan menimbulkan konflik, yang kemudian berkembang menjadi "self defeating power" atau kekuatan yang saling melemahkan. Akibat dari hal ini yaitu anak tidak hormat dan segan pada kedua orang tuanya. Kalau anak itu melihat ada dualisme dalam didikan ayah dan ibu, ia akan mencari sesuatu untuk bisa diperalat; Ini berbahaya sekali. Anak yang sedang bertumbuh menjadi besar dan mulai menilai akan segera melihat adanya dualisme, dan dengan demikian orang tua akan melemahkan pendidikan terhadap anak sendiri. Perselisihan karena cara mendidik anak yang berbeda dapat menimbulkan perpecahan dan konflik antara kedua orang tua, itulah sebabnya saling menyesuaikan diri, merupakan hal yang penting sekali. Walaupun masih ada banyak perbedaan konsep dalam mendidik anak, namun sebagai orang tua, kita harus memiliki kesehatian.

Satu kali ada seorang anak kecil memecahkan sebuah kaca yang besar. Waktu ibunya pulang, ia marah sekali dan bertanya, "Siapa yang memecahkan kaca ini?", lalu anaknya menjawab, "Saya." Ibunya berkata, "Nanti saya kasih tahu ayahmu, baru tahu berapa hebat ayahmu!" Anaknya jawab, "Ayah sudah tahu, ia bilang: Nanti saya kasih tahu ibumu, biar kamu tahu berapa hebat ibumu!" Ayah memakai ibu untuk menggertak anak, ibu memakai ayah untuk mengancam anak. Anak melihat kedua orang tuanya tidak hebat. Ini suatu contoh yang kecil, tetapi selalu terjadi. Ketidaksepakatan merupakan kelemahan dalam pendidikan anak. Seorang ayah jangan sekali-kali memakai anak untuk melawan ibu, atau seorang ibu memakai anak memihak dirinya melawan ayah, itu adalah kebodohan besar.

orang tua juga harus mengerti bahwa di antara Diri Allah Tritunggal, ada suatu kerjasama di antara ketiga Oknum, menjadi contoh dari segala komunitas. Kerjasama dalam diri Allah Tritunggal, menjadi basis atau dasar semua komunitas dalam dunia. Satu dasar dalam hubungan komunikasi yang rukun. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus begitu rukun. Allah Tritunggal menjadi dasar bagi para wakil Tuhan; baik ibu ataupun bapak untuk belajar bagaimana rukun dan sehati.

Kasih dan Keadilan

Jika ada anak kita yang tak bisa diperlakukan dengan keras, jangan perlakukan dia dengan keras, tapi anak yang tak bisa dididik dengan kelembutan, jangan terus diperlakukan lembut. Perlu suatu kebijaksanaan untuk mengatur kedua hal ini. Di atas salib terdapat suatu bijaksana yang paling sempurna dan mendalam. Di kayu salib kita melihat, bagaimana Tuhan tidak menyayangi dosa, bahkan Anak-Nya yang Tunggal harus disalibkan; tetapi justru di atas kayu salib ada kelembutan paling besar, sehingga perampok yang berdosa besar pun bisa diampuni. Inilah kekristenan.

Di atas kayu salib kita melihat kelembutan yang paling besar dan keadilan yang paling keras. Keadilan yang tidak mau menerima dosa siapa pun dan pengampunan yang bisa mengampuni orang yang paling berdosa. Allah menyelamatkan kita melalui salib, Allah mendidik kita dengan salib. Allah bukan mengutus profesor-profesor teologi untuk mengajar kita, tetapi dengan mengorbankan Anak-Nya dipaku di atas salib mencurahkan darah. Di atas kayu salib, tertenun keadilan dan cinta kasih Allah. Tanpa cinta kasih ada kekejaman, keganasan, kekerasan; tetapi kasih tanpa keadilan, adalah kompromi dan banjir emosi. Demikian juga di dalam gereja, masyarakat atau keluarga, jika kita tegakkan keadilan tanpa kasih, itu sama dengan kekejaman. Tuhan tidak demikian. Gereja tidak mungkin terbangun, keluarga tidak mungkin berbahagia, suami-istri tidak mungkin memiliki hubungan yang beres, jika kedua prinsip Ilahi ini tidak dikerjakan secara harmonis.

Jika kita sebagai orang tua melakukan kekerasan terhadap anak, maka secara rohani mereka akan berontak. Anak-anak tidak dididik dengan baik hanya dengan kekerasan, keadilan, dan dengan menjalankan aturan. Tuhan Allah memberikan dua sifat ini sebagai dasar pendidikan, yaitu keadilan dan kasih. Allah yang Mahakuasa, adalah Allah yang Maha lembut, Allah kita yang Maha adil, juga adalah Allah yang mengampuni, Allah kita yang penuh dengan bijaksana, rela masuk ke dunia seperti orang bodoh. Di sinilah kita menjumpai suatu paradoks. Kekerasan bertemu dengan kelembutan, keadilan bertemu dengan cinta kasih, pengampunan bertemu dengan keadilan. Waktu kedua hal ini tertenun bersama menjadi satu, di situ ada kuasa pendidikan dan keselamatan. Kalau kita mau mendidik anak kita dengan baik, jadilah orang yang mempunyai sifat keadilan dan kelembutan Tuhan, sehingga anak kita mendapatkan pengertian dan bijaksana tentang bagaimana bisa menggabungkan keadilan dan kelembutan menjadi satu dan inilah bijaksana, dan kalau kedua hal ini menjadi satu, akan menjadi kuasa. Itu sebabnya di kayu salib semua terjadi: kasih, kelembutan, keadilan, bijaksana.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Membesarkan Anak dalam Tuhan
Judul bab : Prinsip Mendidik Anak
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 19 -- 25

Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang kami kirimkan sebelumnya, yang berjudul "Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam". Jika Anda belum menerima artikel edisi sebelumnya, silakan kontak: Redaksi e-Reformed < reformed@sabda.org >.

Selamat menyimak.

Staf Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 140/Mei 2013
Isi: 

Intisari Keimamatan Orang Percaya

Konsep keimaman orang-orang percaya, yang diambil dari sifat gereja, dapat dengan mudah menjadi slogan teologi Kristen semata-mata, kecuali hakikat konsep tersebut memberikan hakikat yang nyata, praktis, dan berarti. Hakikat keimaman orang-orang percaya yaitu: akses langsung kepada Tuhan, korban atau persembahan rohani, penginjilan, baptisan dan perjamuan kudus, sebagai fungsi mediasi. [21]

  1. Akses Langsung kepada Tuhan

  2. Akses langsung kepada Tuhan di Bait Kudus-Nya lewat pengorbanan Kristus. Oleh karena itu, akses langsung terbuka bagi semua orang yang beriman kepada Kristus (Roma 5:2), yang dibaptis dalam Dia (Roma 6:1-11), dan telah menerima Roh Kudus (Efesus 2:18). Lebih lanjut, Ogden menyatakan, "Seluruh orang percaya memiliki akses langsung kepada Tuhan melalui Yesus Kristus ... Kita semua adalah Hamba Tuhan dalam arti kita melayani di hadapan Tuhan. Satu-satunya Imam Besar, Yesus Kristus telah membuka jalan dengan mengorbankan diri-Nya bagi dosa kita, dan Ia duduk di sebelah kanan Allah untuk berdoa syafaat bagi kita terus menerus. Kelas imam tertentu yang mewakili kita kepada Tuhan dan sebaliknya tidak lagi diperlukan. Kita semua adalah imam, dalam arti kita mewakili diri kita sendiri di hadapan Tuhan melalui Sang Pengantara, Yesus Kristus." [22]

  3. Korban Rohani

  4. Jelas sekali dalam Perjanjian Baru, hamba-hamba Tuhan dari golongan orang percaya diperingatkan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan melalui Yesus Kristus (Roma 12:1). Nelson menyatakan bahwa korban-korban rohani terdiri dari sikap etis, perbuatan baik (1 Petrus 2:15; 3:1-2, 4:9), dan ketaatan yang membutuhkan penyangkalan diri (1 Petrus 2:13-14,18; 3:1, 5:6; 5:5-6). [23] Korban-korban Rohani menurut Kung, yaitu doa, pujian dan ucapan syukur, buah-buah pertobatan, iman, dan kasih.

    Pada dasarnya, korban-korban umat Kristen, bukanlah suatu tambahan korban penebusan karena korban-Nya sempurna. Korban-korban tersebut merupakan respons umat terhadap karya penebusan, respons pujian dan ucapan syukur, respons iman pengaduan pribadi, dan pelayanan kasih dalam Dia.

  5. Penginjilan

  6. Seluruh orang percaya memiliki tugas keimaman yang sama untuk memberitakan Injil. Tugas tersebut berkaitan erat dengan panggilan Tuhan untuk mewakili Dia di dunia, sebagai umat tebusan melalui iman dan Juru Selamat Yesus Kristus, dengan kata lain, Tuhan telah memanggil keluar bangsa yang kudus untuk mengemban amanat-Nya di dunia, yaitu menyelesaikan pelayanan perdamaian (2 Korintus 5:19; Yohanes 3:16, 17:18). Pemberitaan Injil merupakan pengorbanan tertentu bagi keimaman yang dilatih oleh gereja. Jadi, seluruh orang percaya akan menjadi "Pemenang-pemenang jiwa", karena "penginjilan adalah tugas umat Kristen yang berlaku bagi setiap anggota tubuh Kristus". [24]

  7. Melaksanakan Baptisan dan Perjamuan Kudus

  8. Dua hal yang paling penting menyangkut penginjilan yang efektif bagi umat Kristen yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Kedua hal itu harus dilakukan, karena setiap umat Kristen diberikan kuasa untuk membaptis (Matius 28:19); dan "tiap-tiap umat Kristen pada dasarnya diberikan kuasa untuk berperan aktif dalam perjamuan eskatologis di akhir zaman, pengucapan syukur, dan persekutuan" (Lukas 22:19). [25]

  9. Fungsi Mediasi

  10. Sesuai konteks Perjanjian Lama, pelayanan keimaman bangsa Israel adalah menjadi mediator Tuhan di dunia dan sebaliknya "bangsa ini, kaum umat milik Allah, dipanggil, diangkat, dan ditugaskan untuk menggenapi pelayanan sebagai perantara. Sama halnya dalam Perjanjian Lama, pelayanan keimaman bagi gereja dimulai dari penyembahan komunitas, terutama dalam perjamuan kudus, lalu berkembang keluar ke dunia. Di atas segalanya, pelayanan diberikan kepada tiap-tiap individu dalam komunitas orang percaya dan kepada orang lain di dunia. Di atas segalanya, pelayanan diberikan kepada tiap-tiap individu dalam komunitas orang percaya, dan kepada orang lain di dunia pada waktu yang sama. Penting bagi pelayanan, "keimaman orang percaya bukan hanya sekadar hubungan pribadi dengan Tuhan ... Ibadah berkembang dari penyembahan komunitas orang percaya menjadi penyembahan sehari-hari dalam dunia sekuler". [26]

    Berkaitan erat dengan pelayanan keimaman dalam komunitas orang percaya dalam dunia, doktrin keimaman seluruh orang percaya dengan jelas menunjukkan bahwa, tiap-tiap orang percaya dipanggil oleh Tuhan bagi misi dan pelayanan. Kung setuju bahwa keimaman seluruh orang percaya, memperlihatkan panggilan mereka yang setia untuk bersaksi tentang Tuhan dan kehendak-Nya di hadapan dunia, dan untuk menawarkan pelayanan kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini, kaum awam menerima tanggung jawab utama bagi pelayanan Tuhan di dunia.

    Doktrin tersebut menyatakan dengan tegas bahwa agen-agen utama dalam pelayanan perdamaian dunia adalah kaum awam. Mereka akan mempersembahkan diri mereka sebagai korban pelayanan bagi dunia, di mana Kristus telah mati. Kaum awam adalah umat Allah yang telah menerima keselamatan sebagai hadiah untuk dinikmati, dan tugas untuk ditampilkan. Hal itu merupakan makna panggilan Ilahi guna menjalani hidup dalam karya keselamatan Allah. Seperti yang terlihat dalam panggilan Tuhan sebagai berikut, "Umat Allah membawa kekudusan ke dalam dunia sekuler ..., lewat ketaatan kepada Tuhan yang memiliki dunia. Sifat dan ruang lingkup panggilan tersebut merupakan tugas seluruh orang percaya, setiap anggota awam berada di bawah panggilan Allah, dan bertanggung jawab untuk merespons kepada-Nya. ... Panggilan adalah karunia dan tugas dari seluruh umat Allah, dilakukan dan dinikmati di dalam sudut pandang konkret dunia, di mana individu itu hidup." [27]

Jadi, teologi keimamatan orang percaya sangat jelas, dan bukanlah hanya slogan teologis yang kosong. Ini membentuk suatu realitas konkret yang sangat kaya. Strausch secara empati menegaskan kebenaran dari Allah, bahwa semua orang Kristen berdasarkan Perjanjian Baru telah diteguhkan oleh darah Kristus. Sebagai hasilnya, semua adalah sama sebagai imam. Semua dibersihkan oleh darah Yesus Kristus. Semua didiami oleh Roh Kudus. Jadi, semua diidentifikasi sebagai anggota tubuh Kristus; sebagai pelayan satu dengan lainnya.

Implikasi Bagi Pelayanan Gereja

Pada dasarnya, umat Allah memasukkan komunitas Kristen secara keseluruhan adalah kerajaan imam. Jadi, seluruh orang percaya diidentifikasi sebagai imam-imam. Berdasarkan hal ini, Richard menantang orang Kristen untuk berkomitmen penuh pada ajaran Alkitab, bahwa setiap orang Kristen adalah "orang percaya-imam". [28] Implikasinya adalah semua orang percaya melayani, bukan hanya rasul-rasul atau para pemimpin utama. Perjanjian Baru mengenali bahwa beberapa orang Kristen dipanggil secara khusus untuk melayani gereja di dalam dunia ini. Tetapi semuanya dipanggil untuk Kristus di dalam dunia ini.

Sejalan dengan fungsi keimamatan semua orang percaya, pelayanan bersama membutuhkan gaya kepemimpinan untuk kaum awam. Pelayanan bersama dalam keselarasan seperti yang dicontohkan dalam Efesus 4:11-13. Rasul Paulus berkata bahwa beberapa orang percaya dipanggil; untuk menjadi rasul, nabi, gembala-pengajar, dan pengkhotbah untuk membangun peranan bahwa semua orang percaya dimampukan dalam fungsi pelayanan. Ogden mencatat bahwa pembangunan adalah pendekatan fundamental untuk melatih melayani oleh Gembala. Peran pembangunan pria dan wanita untuk melayani adalah sesuatu yang selayaknya dalam hubungan umat Allah, namun peran ini mengimplikasikan perbedaan fungsional (bukan kualitas) antara awam dan imam.

Untuk menekankan signifikansi konsep pembangunan, Ogden memberikan suatu studi istilah Yunaninya secara menyeluruh, Artios -- akar yang lebih baik "dikenal" (Efesus 4:12) dapat diterjemahkan sebagai "predicate adjective" yang diartikan "dialah sempurna". Kata Artios mengandung sasaran-sasaran pembangunan untuk murid secara individual maupun keseluruhan tubuh Kristus. Hal ini mencakup antara pengertian lengkap, penuh, berorasi secara, menemukan, mengisi situasi yang khusus, layak. "Katartimos -- participle" yang digunakan hanya dalam Efesus 4:12 dan dapat diterjemahkan "mempersiapkan" atau "memperlengkapi". [29]

Stedman menyatakan bahwa pekerjaan tertinggi gereja bukanlah menghasilkan satu kelompok imam atau awam yang hebat, yang dilatih secara spesifik dan profesional. Namun seharusnya dilakukan oleh seluruh orang percaya (Efesus 4:11-14). Untuk alasan ini Allah memilih beberapa orang menjadi rasul, nabi, penginjil, guru, dan gembala untuk membangun umat-Nya melakukan tugas pelayanan dan membangun komunitas Kristen, Tubuh Kristus. [30]

Sasaran terakhir pembangunan adalah kedewasaan setiap anggota gereja dan gereja secara keseluruhan. Kedewasaan adalah konsep induk dari kehidupan Kristen. Pesan Efesus di atas mendefinisikan kedewasaan sebagai "kerendahan relasional" daripada realisasi diri sendiri, "sebagai kepastian doktrinal daripada kemandirian" [31] "sebagai pemimpin-pemimpin membangun umat Allah untuk melayani satu dengan lainnya, tubuh Kristus bertumbuh dan dewasa adalah refleksi pada diri Kristus sendiri. [32]

Tulisan ini pernah dimuat dalam STULOS Theological Journal 5, Bandung Theological Seminary, November 1997, Hal. 97-117

Catatan kaki:

    21. Kung, the Church, 474
    22. The New Reformstion, 11
    23. Nelson, Raising Up, 475
    24. A Cole, The Body of Christ: A New Testament Image of the Church (London: Holdder Staughton, 1964), 41
    25. Kung, the Church, 485
    26. Ibid, 486, 487
    27. Bucy, The New Laity, 16
    28. Lawrwnce O. Richard A Theology of Christian Education (Grands Rapids: Zondervan, 1975), 131
    29. Ogden, The New Reformation, 98, 99
    30. R. Stedman, Body Life (Glandale: REgal, 1972), 88
    31. Stevens, Liberating the Laity, hlm 32
    32. G.C. Newton, "The Motivation of the Saints and the Interpersonal Competencies of Their Leaders", dalam Christian Educational Journal, 10/3 (1989), 9-15
Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku : Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Atas Iman Kristen
Judul artikel: Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam
Penyusun : Dr. Joseph Tong
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman : 178 -- 185

Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pelayanan adalah sebuah anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita. Meskipun kita tidak layak, tetapi Tuhan melayakkan kita untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Pada bulan ini, kami akan kirimkan satu artikel (2 bagian) yang membahas perspektif alkitabiah tentang pelayanan kaum awam. Banyak orang yang masih membagi umat Allah dalam dua bagian, yaitu para rohaniwan dan para kaum awam. Para rohaniwan yang dianggap layak untuk mengerjakan tugas-tugas pelayanan, sedangkan orang awam hanyalah kaum biasa-biasa saja yang pasif. Tentunya dikotomi ini tidak alkitabiah dan dapat merusak fungsi umat Allah yang sesungguhnya.

Artikel pada edisi 2 ini membahas tentang konsep kata "awam" dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan konsep keimaman seluruh orang percaya yang berasal dari sifat-sifat gereja sendiri. Kiranya artikel ini dapat meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang konsep pelayanan kaum awam dan dapat menggerakkan setiap pembaca untuk semakin giat dalam melayani Tuhan. Soli Deo Gloria!

Selamat menyimak.

Staf Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 139/April 2013
Isi: 

Isu mengenai pelayanan kaum awam telah menjadi suatu topik populer dalam banyak artikel dan buku-buku, serta disampaikan dalam banyak khotbah. [1] Selain itu, Strauch [2] menyatakan bahwa masalah tentang pembaruan kaum awam telah menjadi suatu bahan diskusi yang meluas. Selain populer, teologi kaum awam banyak disalah mengerti. Bahkan istilah "awam" seringkali ditafsirkan secara salah. Kaum awam kerap dianggap setara dengan golongan "nonprofesional", ketika ditinjau dari keahlian atau kemampuan khusus tiap individu. Dalam organisasi-organisasi keagamaan, orang awam dianggap sebagai "kaum percaya biasa" yang berbeda dari "pengerja" penuh waktu atau hamba Tuhan. [3]

Dampak konsep tersebut adalah pembagian umat Allah ke dalam dua tingkatan, yaitu struktur pengerja penuh, yang menampilkan fungsi-fungsi religius masyarakat, dan sejumlah besar kaum awam yang tidak berkualifikasi. [4] Pembagian itu merupakan hasil tiruan pola kepemimpinan "Graeco-Roman", yang membagi administrasi kota menjadi dua bagian yaitu: "para pegawai", yang memimpin dan "kaum awam", warga yang polos serta tidak berpendidikan. [5] Jika pola tersebut diterapkan pada pelayanan di gereja, maka dapat menyebabkan perpecahan yang menghancurkan, menghilangkan partisipasi penuh umat Kristiani dalam pelayanan, serta mencegah pertumbuhan atau kedewasaan Rohani.

Konsep Awam dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Dalam rangka mencegah dikotomi dan mengembangkan suara teologia awam, istilah "awam" harus dijelaskan dengan menggunakan sudut pandang alkitabiah. Istilah tersebut diambil dari kata sifat bahasa Latin "laicus", yang sama dengan kata sifat bahasa Yunani "laikos", yang berarti "milik masyarakat". Kata bendanya adalah "laos", yang mengekspresikan konsep yang signifikan, [6] karena muncul 2000 kali dalam Septuaginta dan ditambah 140 kali dalam Perjanjian Baru. [7]

Dalam Perjanjian Lama (Keluaran 19:4-7; Ulangan 4; Ulangan 7:6-12), "laos" biasanya mengacu kepada bangsa Israel. Kata tersebut mengandung "nilai khusus bagi masyarakat, karena keaslian dan tujuannya dalam kasih karunia yang Tuhan tentukan. Bangsa Israel menganggap diri mereka sebagai 'laos theou' (umat pilihan Allah)". [8] Secara teologis, hal tersebut menunjukkan bahwa Bangsa Israel adalah suatu bangsa yang terpisah dari bangsa-bangsa lain di dunia, yang disebabkan oleh pilihan Tuhan atas mereka sebagai milik-Nya (Ulangan 7:6). Mereka memperoleh status istimewa sebagai "umat Allah". Meskipun demikian, umat Allah tidak hanya menerima status istimewa, tetapi juga pelayanan istimewa. Bucy menjelaskan lebih lanjut, "seluruh kaum awam merupakan 'milik Tuhan', dipilih bukan sekadar memperoleh hak-hak istimewa, tapi untuk pelayanan istimewa. Perhatikan juga bahwa sifat pelayanan tersebut, dijabarkan dalam hubungan langsung dengan hak Tuhan atas 'seluruh bumi'. Bangsa Israel terpanggil dari antara 'segala bangsa', untuk melayani sebagai suatu 'kerajaan imam dan segala bangsa yang kudus', mewakili kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa di dunia". [9] Singkat kata, umat Allah atau kaum awam, dipanggil untuk memenuhi misi penebusan Allah bagi perdamaian dunia. [10]

Umat Allah dalam Perjanjian Lama hanya mengacu pada Bangsa Israel. Dalam Perjanjian Baru, umat Allah mengacu kepada bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain. Mengenai hal tersebut, Kraemer menegaskan bahwa Yahweh ingin bangsa Israel menjadi kudus-Nya, yang merespons sepenuhnya kepemilikan Tuhan yang telah memilih mereka. Hal yang sama berlaku bagi gereja. [11]

Gereja disebut sebagai "umat yang terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah." (1 Petrus 2:9) Secara khusus, gereja dalam 1 Petrus 2:5 digambarkan sebagai "batu-batu hidup", yang dibangun menjadi sebuah rumah Rohani, dan mereka mempersembahkan korban-korban rohani yang berkenan di hadapan Allah melalui Yesus Kristus. Kedua pasal memperlihatkan bahwa gereja terdiri dari orang-orang percaya yang disebut "suatu keimamatan". Kata Yunani untuk keimaman ialah "hierateuma", yang menunjukkan suatu gagasan komunitas masyarakat yang melayani sebagai "imam". [12] Oleh karena itu, gereja merupakan komunitas imam atau keimaman dari orang-orang percaya, yang hanya mungkin terjadi melalui Yesus Kristus, Imam Besar perjanjian yang baru, yang telah mengorbankan diri-Nya dan menguduskan, serta menyempurnakan orang-orang percaya sekali untuk selamanya (Ibrani 9:15; 10:10,14). Konsekuensinya yaitu seluruh orang percaya boleh mempersembahkan korban secara langsung melalui Kristus. Mengenai hal ini, Kung menyatakan demikian, "Bila seluruh orang percaya harus mempersembahkan korban lewat Kristus dengan cara tersebut, berarti mereka memiliki fungsi Imam, dalam pengertian yang sama sekali baru, melalui Kristus Sang Imam Besar dan Pengantara. Mengabolisikan kasta istimewa keimaman dan pengertiannya oleh Imam Besar yang baru dan kekal, menurut konsekuensinya yang unik namun logis, memiliki fakta bahwa seluruh orang percaya terlibat dalam keimaman secara universal." [13]

Hakikat Gereja

Kenyataannya, konsep keimaman orang-orang percaya diperoleh dari sifat gereja itu sendiri, yaitu umat Allah, tubuh Kristus, bangunan rohani, dan Bait Roh Kudus. Konsep itu diperluas sebagai berikut.

  1. Gereja adalah Umat Allah

  2. Artinya seluruh anggota gereja mempunyai persamaan yang mendasar. Tidak ada istilah kelas atau kasta dalam hubungan antar anggota, karena semuanya adalah: "orang-orang terpilih", "orang-orang kudus", "murid-murid", dan "saudara-saudara". Selain itu, "tidak ada jarak" antar anggota dan tidak ada penduduk kelas dua dalam keluarga Allah. Tentang persamaan, umat Allah diangkat martabatnya sebagai pelayan-pelayan Yesus Kristus. [17] Gibbs dan Morton dengan tegas menyatakan, "Doktrin sejati kaum awam sebagai umat Allah, yang bermitra bersama-sama tanpa perbedaan kelas." [18]

  3. Gereja adalah Tubuh Kristus

  4. Tentang karakter yang saling berkaitan dari anggota-anggota gereja (Roma 12:4-8; 1 Korintus 12:12), tubuh dibangun oleh anggota-anggota yang saling bergantung satu sama lain sebagai kesatuan tubuh. [19] Seluruh anggota tubuh Kristus memainkan peranan penting. Masing-masing memiliki martabat dan fungsi "semuanya saling melayani dalam simpati dan kasih yang menguntungkan, serta dalam sukacita". [20]

  5. Gereja adalah Bangunan/Bait Rohani

  6. Gereja adalah bangunan/bait rohani, yang berarti bahwa Roh Kudus tinggal di dalam seluruh orang-orang percaya (Kisah Para Rasul 2). Akibatnya, seluruh umat Kristen dibenarkan, dituntun dan dipimpin, serta hidup oleh Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 3:16 dan Efesus 2:22, Rasul Paulus menekankan bahwa Roh Kudus berdiam dalam hati orang-orang percaya. Mereka adalah bait Allah yang kudus. Konsep bait Allah yang kudus di bumi dipersamakan dengan komunitas Kristen yang dimungkinkan hanya melalui Yesus Kristus; hanya melalui Dia, bait Allah yang kudus digantikan oleh "bangsa yang kudus".

  7. Gereja adalah Bait Roh Kudus

  8. Ketika suatu gereja dikatakan sebagai Bait Roh Kudus, hal itu mengandung arti setiap anggota gereja adalah suatu Bait yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dalam bentuk ini, Bait tersebut dibangun atas "kunci kehidupan" dan "batu penjuru", Tuhan Yesus, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, batu hidup dan yang setia. Bentuk Bait Keimaman merupakan kelanjutan dari bentuk yang baru saja diperkenalkan (1 Petrus 2:4). Lebih lanjut dikatakan, konsep itu tidak diperuntukkan bagi keimaman resmi suatu kelompok Kristen tertentu, tapi bagi semua orang percaya. "Semua orang yang dipenuhi oleh Roh Kristus, menjadi suatu keimaman yang terpisah; seluruh umat Kristen adalah hamba Tuhan".

[Lanjutan artikel ini (Bagian 2) akan kami kirimkan dalam email yang terpisah.]

Catatan kaki:

  1. F.B Edge, "Into The World, so Send You' dalam The New Laity: Between Church and World, R.D Bucy, ed (Waco: World, 1978), 14

  2. Alexander Strauch, Biblical Eldership: An Urgent Call to Restore Biblical Church Leadership (Littleton: Lewis and Roth, 1986), 91

  3. Edge dalam The New Laity, 14

  4. Strauch, Biblical Eldership, 101

  5. R.P. Stevens, Liberating the Laity: Equipping All the Saints for Ministry (Downers Grove: InterVarsity, 1985), 21

  6. Edge, 14

  7. Howard A. Snyder, The Problem of Wine Skins: Church Stucture in A Technological Age (Downers Grove: InterVarsity, 1975), 102

  8. Dalam Bucy, The New Laity, 15

  9. Snyder, The Problem of Wine Skkins, 102

  10. F.B. Edge, The Doctrine of the Laity (Nashville: Convention, 1985), 28

  11. R.D. Nelson, Raising Up A Faithfull Priest: Community and Priesthood (Lousville: Westminster, 1003), 160

  12. Hans Kung, The Church (Garden City: Image 1976), 473

  13. Ibid

  14. G. Ogden, The New Reformation Returning, The Minitry to the People of God (Grand Rapids: Ministry Resourch Library), 11

  15. V.J. Dozier, Toward A Theology of Laity: Lay Leaders Resourch Notebook (Washington: Alban Intitute, 1976), 16

  16. R.P. Stevens, Liberating the Laity, 27

  17. M. Gibbs & T.R. Morton, God's Frozen People: A Book for and about Christian Layman (Philadelpihia: Westminster,1964), 15

  18. R.D. Dale, Sharing Ministry whit Volunteer Leaders (Nashville: Convention Press, 1986), 13

  19. Kung, the Church, 474

Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku : Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Atas Iman Kristen
Judul artikel: Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam
Penyusun : Dr. Joseph Tong
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman : 173 -- 177

Pengantar Mempersiapkan Khotbah Ekspositori: Motivasi, Definisi, dan Ikhtisar Proses Persiapan Khotbah

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari kiriman saya sebelumnya.

Jika Anda ingin membacanya edisi sebelumnya, silakan berkunjung ke situs Soteri:

http://reformed.sabda.org/pengantar_mempersiapkan_khotbah_ekspositori_motivasi_definisi_dan_ikhtisar_proses_persiapan_khotbah_bag_1

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 137/Februari 2013
Isi: 

    2. Cara Khotbah Ekspositori

    Cara khotbah ekspositori berkaitan dengan proses. Mari melihat kembali definisi khotbah ekspositori berkaitan dengan proses persiapan kita dan penyampaian pokok teks: Khotbah Ekspositori adalah pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab yang "diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif" untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan.

      2.1. Penafsiran

      Kriteria utama metode penafsiran yang tepat adalah adanya hubungan yang dapat ditunjukkan dan dapat diandalkan antara pemahaman penulis dan pembaca asli suatu teks Alkitab dan penafsiran kita. Langkah 1 dari proses menyusun khotbah akan menggambarkan proses ini secara lebih terperinci.

      Memang benar, Alkitab dapat digunakan untuk mengatakan hampir semua hal yang Anda mungkin akan katakan. Pertanyaan kritisnya adalah: Apakah Anda mengatakan apa yang ingin Alkitab katakan? Sebagai contoh, saya pernah mendengar sebuah khotbah yang baik dari Lukas 19:29-40 yang menawarkan kebenaran berikut ini:

      "Yesus dan Keledai"

      1. Anda seperti keledai dalam kisah ini (ayat 29-30)

        1. Anda terikat kepada seseorang yang bukan pemilik Anda yang sebenarnya (ayat 30a)

        2. Anda masih muda -- belum ada yang mengendalikan hidup Anda (ayat 30b)

      2. Yesus menyuruh orang untuk membebaskan Anda (ayat 30c)

        1. Dia membebaskan Anda melalui murid-murid-Nya (ayat 31-32)

        2. Akan ada keberatan saat Anda dibebaskan untuk melayani Kristus (ayat 33)

        3. Namun Dia membutuhkan Anda (ayat 34)

      3. Apakah Anda keledai Kristus? (ayat 35-40)

        1. Apakah Dia mengendalikan hidup Anda?

        2. Apakah Anda menghadirkan pujian bagi Dia?

      Dapatkah khotbah ini dikhotbahkan? Kenyataannya sudah! Apakah khotbah ini setia kepada teks? Tidak! Mengapa? Tanyakan pertanyaan kritis ini: Apakah uraian tersebut adalah apa yang ingin disampaikan oleh penulis kitab dan apa yang dipahami oleh pembaca asli melalui kisah tersebut?

      Jenis khotbah ini sebenarnya pengajaran yang bersifat "moral". Berikut ini adalah beberapa persoalan dalam pengajaran yang bersifat moral:

      1. a. Anda tidak benar-benar membutuhkan Alkitab untuk memberikan nasihat-nasihat tersebut.

      2. Setiap kisah inspiratif pasti mengandung nilai-nilai moral. Setiap budaya memunyai perumpamaan-perumpamaan dan kumpulan cerita rakyat untuk menjadi pedoman bertindak dan berpri laku. Yang membedakan kisah Alkitab dengan kisah yang bersifat budaya adalah kehendak Roh Kudus yang disampaikan oleh penulis dalam teks dan dipahami oleh pembaca asli. Moralisme mengurangi Alkitab menjadi sekadar cerita bijak saja.

      3. b. Setiap teks menjadi sebuah ilustrasi untuk prinsip moral yang lebih tinggi.

      4. Teks digunakan sebagai ilustrasi dan bukan sebagai sumber uraian yang dibuat. Dalam kisah "keledai", pengkhotbah telah memutuskan bahwa si keledai adalah gambaran manusia.

      5. c. Khotbah Anda kekurangan otoritas tekstual.

      6. Dalam kisah keledai, dari bagian teks yang manakah pengkhotbah mendapat otoritas untuk menyamakan keledai dengan manusia? Atau anggaplah ketika menggunakan teks tentang Daud dan Goliat, pengkhotbah memutuskan bahwa orang-orang percaya akan dan harus menghadapi permasalahan yang sangat besar. Metode ilustrasi ini gagal karena Goliat tidak bangkit kembali. Kenyataannya, permasalahan-permasalahan yang sangat besar memiliki kemampuan untuk bangkit terus-menerus! Dengan demikian, ilustrasi ini kekurangan otoritas tekstual. Jika khotbah tidak menunjukkan bahwa penulis kitab bermaksud bahwa teks digunakan seperti ini, tidak ada otoritas untuk melakukannya.

      7. d. Penafsiran tertentu kekurangan kontrol objektif.

      8. Setiap pengkhotbah dapat menarik berapa pun ilustrasi dari teks yang diberikan. Akan tetapi, tidak ada yang mengendalikan kesimpulan yang dia tarik. Mengapa lima, bisa saja tiga hal atau dua hal, atau bahkan tujuh hal?

      9. e. Pernyataan pokok khotbah Anda tidak tampak terkait atau berasal dari pernyataan pokok teks.

      10. Penafsiran pengkhotbah (dan dengan demikian penekanan khotbah) menjadi manasuka. Jemaat akan mulai melihat khotbah sebagai penggunaan teks Alkitab yang digunakan oleh pengkhotbah secara tidak lazim.

      Metode penafsiran yang tepat harus menyusun kerangka inti khotbah. Pengkhotbah harus lebih dulu menjadi pelaku eksegesis Alkitab sebelum menjadi pelaku ekspositori Kitab Suci.

      2.2. Komunikasi

      Jika metode penafsiran yang tepat berkaitan dengan pemahaman penulis dan pembaca asli, komunikasi yang efektif berkaitan dengan hubungan antara pemahaman teks oleh pengkhotbah dan pembaca masa kini.

      Sebagai contoh, saya dan seorang rekan mengadakan seminar tentang penyusunan rencana bagi para pemimpin gereja lokal di Asia Timur. Rekan saya mengajar di sesi pertama mengenai mengapa kita harus membuat rencana. Inti pertama yang disampaikannya adalah kita harus berencana karena Allah berencana. Allah merencanakan penciptaan, penebusan, dan kerajaan-Nya. Dengan demikian, kita juga harus menyusun rencana.

      Masalahnya, presentasinya tidak mempertimbangkan pemahaman jemaat tentang kebenaran [yang disampaikan]. Pandangan umum, anggapan, nilai, dan keyakinan mereka semua bercampur dengan pemahaman terhadap maksud rekan saya. Sayangnya, kesimpulan yang mereka tarik setelah mengetahui rancangan ilahi justru bertolak belakang dengan maksud rekan saya. Mereka menyimpulkan: jika Allah berencana, kita tidak perlu menyusun rencana!

      Agar komunikasi kita efektif, kita harus memahami pandangan umum, proses berpikir, dan budaya jemaat (pendengar khotbah kita). Kemudian, barulah dengan menggunakan analogi dan ilustrasi, gaya dan penyampaian yang tepat, dan penerapan yang relevan kita akan memastikan ketaatan mereka. Kita akan mempertimbangkan beberapa aspek tersebut pada langkah ke-6 dari proses menyusun khotbah.

    3. Alasan Memberikan Khotbah Ekspositori

    Alasan memberikan khotbah ekspositori berkaitan dengan tujuan. Apa tujuan dari persiapan kita dan penyampaian khotbah ekspositori? Mari kembali ke definisi yang kita gunakan: Khotbah Ekspositori adalah pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab yang diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif, "untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan". Alasan khotbah ekspositori terutama berhubungan dengan unsur intelektual, afektif, dan keputusan dalam pengalaman kekristenan.

      3.1. Menasihati Pikiran

      Sebagai hasil dari mendengarkan khotbah, jemaat harus tahu dan memahami sesuatu, yakni kebenaran Allah. Normalnya, pengetahuan ini terkait dengan pernyataan pokok khotbah. Jika mereka tidak tahu lebih dari yang Allah katakan dan mengharapkan sebagai hasil pengkhotbahan kita, itu bukan bagian kita. Tuhan Yesus menambahkan "untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi kita" dalam versinya tentang hukum yang terutama (baca Matius 22:36-37).

      3.2. Menginsafkan Hati

      Tidak semua keputusan manusia dibuat secara masuk akal. Faktor emosi memainkan peran besar dalam keputusan penting. Akan tetapi, kita tidak boleh sekadar mengandalkan emosi. Hati harus diinsafkan sementara pikiran dinasihati. Memang penting dan tidak mustahil untuk membidik takhta semua emosi, yakni hati, melalui pengkhotbahan ekspositori. Pengkhotbah harus membuat jemaatnya antusias menaati Allah. Jika Firman sudah menginsafkan hati jemaat kita, kita bisa yakin bahwa perasaan itu tidak dibuat-buat. Sebagai hasil khotbah kita, jemaat harus merasakan sekaligus menginginkan sesuatu, yakni perlunya ketaatan pribadi akan kebenaran Allah.

      3.3. Memengaruhi Perilaku

      Ujian praktis dari khotbah yang baik adalah buah yang dihasilkannya dalam hidup. Alkitab diberikan untuk perubahan perilaku (2 Timotius 3:16-17). Iman harus diikuti dengan perbuatan (baca Kitab Yakobus). Sebagai hasil khotbah kita, jemaat akan melakukan sesuatu. Mereka akan taat. Kesalehan harus menjadi hasil dalam kehidupan mereka. Artinya, mimbar bukan hanya tempat untuk menaburkan lebih banyak informasi, namun menjadi panggung untuk mendorong jemaat kita untuk hidup saleh dengan teladan dan uraian. Mereka harus tahu apa yang Allah harapkan dan bagaimana mereka bisa menaati mandat Allah dari setiap teks dalam Kitab Suci. Pengkhotbahan harus menghasilkan kesalehan.

    Saya membuat komitmen kepada jemaat saya di New Delhi. Saya berkata kepada mereka, "Ketika saya berhenti memberi kalian sesuatu yang lebih untuk diketahui, sesuatu yang lebih untuk dirasakan, dan sesuatu yang lebih untuk dilakukan sebagai hasil dari saat-saat kita bersekutu dalam firman Allah, itulah saatnya memadamkan lampu gereja."

Dari Teks Menjadi Khotbah

-------------------------

Berikut ini adalah tujuh langkah dari teks menjadi khotbah dalam proses menyusun khotbah. Anda harus menghafal langkah-langkah tersebut.

Tujuh Langkah Proses Menyusun Khotbah

Pada kolom sebelah kanan, saya sudah mendaftar bagian-bagian dari patung hidup***** yang berusaha kita ciptakan melalui setiap khotbah.

  1. Mempelajari teks.

  2. Dengan mempelajari detail teks, kita memperoleh "daging" teks tersebut.

  3. Membuat kerangka teks.

  4. Dalam menyusun kerangka teks, kita mendapat gambaran rangka penyusun teks. Daging dan rangka membentuk bahan mentah teks untuk proses pemahatan.

  5. Pernyataan pokok teks.

  6. Dari rangka itu, kita melihat pernyataan pokok teks, "jantung", pokok dari khotbah itu.

  7. Jembatan tujuan.

  8. Dari jantung teks kita mengembangkan tujuan bagi jemaat. Tujuan khotbah ini adalah "otak" yang melaluinya pada akhirnya khotbah dirancang dan disampaikan.

  9. Pernyataan pokok khotbah.

  10. Otak akan memberi arah dan bentuk bagi jantung khotbah.

  11. Membuat kerangka khotbah.

  12. Dalam tahap ini khotbah membentuk citra dan kerangkanya sendiri. Kerangka pesan akan terlihat.

  13. Menyampaikan khotbah.

  14. Pada akhirnya, kita akan mengisi detail-detail daging sewaktu kita selesai memahat khotbah yang unik dan istimewa bagi jemaat secara khusus.

Cara lain untuk menggambarkan ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:

Dari Teks Menjadi Khotbah

Setelah menyajikan sistem persiapan khotbah ini, saya melihat cara mudah untuk mengingat ketujuh langkah tersebut. Berikut ini disajikan beberapa petunjuk untuk membantu Anda mengingat urut-urutan ini.

  • Langkah 3 (kolom teks) dan langkah 5 (kolom khotbah) sejajar, berkaitan dengan jantung atau persoalan pokok.

  • Langkah 2 (kolom teks) dan langkah 6 (kolom khotbah) sama-sama berkaitan dengan rangka atau kerangka.

  • Langkah 1 (kolom teks) dan langkah 7 (kolom khotbah) berkaitan dengan daging atau unsur dasar.

  • Langkah 4 adalah jembatan atau otak yang membantu kita melakukan transisi dari teks menjadi khotbah.

Pemberian nomor atau angka pada langkah-langkah tersebut memberi kita pola yang mudah untuk diingat: 1234321 atau ABCDCBA. Omong-omong, bentuk kesejajaran ini juga ditemukan dalam Alkitab Ibrani dan dikenal dengan konstruksi kiastik. Kemiripan lahiriah dengan Alkitab tidak membuat sistem persiapan khotbah ini terpengaruh dan pasif. Akan tetapi, sistem ini akan memampukan Anda, manusia yang terbatas, untuk membuat khotbah inspiratif.

Berikut ini adalah gambaran ringkas setiap langkah dalam menyusun khotbah. Langkah-langkah ini berperan sebagai tinjauan sekilas untuk prosedur lengkapnya.

Langkah 1: Mempelajari Teks -- Daging Teks

Langkah 1 mengenalkan kita kepada proses mendasar yakni mempelajari teks. Langkah ini menyediakan beberapa kunci untuk menemukan makna teks. Langkah ini juga meletakkan pondasi untuk pendalaman teks dalam "melihat" dan "mencari" secara tepat apa yang Alkitab ingin sampaikan kepada semua orang.

Langkah 2: Membuat Kerangka Teks -- Rangka Teks

Langkah penting dalam proses pemahatan adalah memahami bagaimana penulis kitab menyusun teks. Dengan cara ini, kita bukan hanya mampu menyampaikan apa yang dikatakan penulis, tetapi bahkan menekankan bagaimana dia menyampaikannya. Langkah 2 memberi petunjuk bagaimana menemukan kerangka teks sehingga Anda dapat meringkas pengajaran setiap bagian teks.

Langkah 3: Pernyataan Pokok Teks -- Jantung Teks

Sebagaimana fungsi jantung bagi manusia, demikian juga pernyataan pokok bagi teks (dan selanjutnya bagi khotbah). Langkah 3 akan membantu Anda menemukan pengajaran dominan dalam teks, yakni apa yang dikemukakan teks, dalam dua segi:

Tema: Apa yang dibahas penulis?

Perspektif: Apa yang dikatakan penulis tentang apa yang dibahasnya?

Segala sesuatu dalam teks disulam dalam satu tema besar. Ketika tema/perspektif ditemukan, seseorang dapat dengan yakin menguraikan teks dalam otoritas Allah.

Langkah 4: Tujuan Khotbah -- Otak Khotbah

Langkah 4 sangat penting untuk membuat khotbah ekspositori relevan dengan jemaat. Tujuan adalah otak khotbah, penghubung kunci dari teks ke khotbah. Anda akan belajar untuk mengucapkan tujuan khotbah dengan jelas bagi jemaat Anda.

Langkah 5: Pernyataan Pokok Khotbah -- Jantung Khotbah

Sama halnya dengan teks yang memunyai tema/perspektif tunggal, khotbah Anda juga harus memunyai tema/perspektif tunggal. Pernyataan pokok khotbah Anda akan mengandung penekanan "tema" dan "perspektif" yang kembar. Dalam tahap ini pernyataan Alkitab (langkah 3) disalurkan lewat tujuan (langkah 4) dan dikontemporerisasi untuk dipahami dan ditaati oleh jemaat.

Langkah 6: Membuat Kerangka Khotbah -- Rangka Khotbah

Pada langkah ini, Anda akan mempertimbangkan cara-cara dasar dalam mengembangkan khotbah dengan kesatuan, kelanjutan, dan kemajuan. Contoh-contoh bentuk pengembangan yang memengaruhi pemahaman keseluruhan dan menghasilkan ketaatan akan dibahas.

Langkah 7: Menyampaikan Khotbah -- Daging Khotbah

Anda dapat meningkatkan dampak khotbah Anda melalui ilustrasi, penggunaan kata yang tepat, dan bahasa tubuh dalam penyampaian khotbah. Anda juga akan disarankan untuk menuliskan khotbah sebaik dan sebanyak mungkin yang Anda bisa sebelum menyampaikannya.

Anda berada di jalur yang tepat untuk membaca buku ini jika:

  • Anda ingin terlibat dalam pengkhotbahan ekspositori.

  • Anda ingin tahu lebih jelas tentang bagaimana mengambil bahan dari teks untuk khotbah Anda. (t/Dicky)

Sumber: 

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Preparing Expository Sermons
Judul asli artikel: Motivation, Definition, and Overview of the Process
Penulis : Ramesh Richard
Penerbit : Baker Books, Michigan, 2001
Halaman : 15 -- 29

Pengantar Mempersiapkan Khotbah Ekspositori: Motivasi, Definisi, dan Ikhtisar Proses Persiapan Khotbah (Bag. 1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi e-Reformed Januari dan Februari baru saja saya kirimkan ke mailbox Anda. Maaf untuk keterlambatannya.

Berhubung banyak di antara Anda yang mengakses email kami lewat fasilitas mobile, maka saya mencoba untuk tidak mengirimkan email yang besar/panjang. Karena itu, artikel yang saya kirimkan berikut ini saya bagi menjadi dua email (Bagian 1 dan Bagian 2), berarti dua kiriman. Demikian informasi singkat dari saya, selamat menyimak.

Artikel "PENGANTAR MEMPERSIAPKAN KHOTBAH EKSPOSITORI" ini, saya ambil dari tulisan Ramesh Richard, dalam bukunya yang berjudul "Preparing Expository Sermons". 'Simplicity' dan 'to the point', adalah kesan pertama saya ketika membaca buku ini. Keprihatinan dia dan kerinduan dia, menjadi keprihatinan saya dan kerinduan saya juga. Inilah alasan mengapa saya memilih artikel ini untuk edisi e-Reformed Januari dan Februari 2013.

Seandainya,... semua pengkhotbah bisa memahami kepentingan khotbah ekspositori, dan melakukan khotbah ekspositori dalam kebaktian hari Minggu, maka dijamin gereja akan memiliki fondasi yang kuat dan jemaat akan mendapat makanan yang bergizi sehingga memungkinkan mereka bertumbuh secara rohani. Karena itu, mari kita berdoa supaya kita bisa menjadi pengkhotbah ekspositori.

Seandainya,... Anda adalah pengkhotbah yang tidak percaya bahwa Alkitab adalah diinspirasikan oleh Allah, maka saya sarankan Anda untuk bertobat atau berhenti berkhotbah!

Seandainya,... Anda adalah pengkhotbah yang percaya bahwa untuk berkhotbah tidak perlu persiapan, maka saya sarankan Anda untuk bertobat atau berhenti berkhotbah!

Maka, kita tidak perlu berandai-andai lagi...

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 136/Juli 2013
Isi: 

Di sebuah kios seni di luar Hotel Kwara di Ilorin, Kwara, Nigeria, Anda bisa menemukan patung-patung kayu indah karya Daniel. Sebagai seorang pematung yang terampil, ia memilih kayu mahoni terbaik dan mengubahnya, seperti yang dikatakannya, menjadi "sebuah keindahan (dan terkadang kegembiraan) abadi."

Saya mendapat kesempatan untuk mengamati Daniel ketika dia memahat sepotong kayu. Di tangannya, sepotong kayu itu memiliki harapan. Memahat adalah sebuah seni sekaligus keahlian. Keahlian memahat dimiliki oleh semua pematung yang terampil. Akan tetapi, dimensi seni diperlukan untuk menciptakan sebentuk patung yang benar-benar indah. Setiap patung karya Daniel adalah ciri khas dari bakat seni, latihan, dan komitmennya dalam bekerja.

Kami mengawali percakapan. Dia menggambarkan prosesnya dengan cerdas, "Pohon adalah sesuatu yang dibuat Allah; patung adalah sesuatu yang dibuat oleh Daniel dari apa yang dibuat Allah."

Dalam ucapannya yang lugas itu, saya menemukan begitu banyak kesamaan dengan proses mempersiapkan dan menyampaikan sebuah khotbah ekspositori. Alkitab adalah sesuatu yang dibuat Allah; khotbah adalah sesuatu yang kita buat dari apa yang dibuat Allah. Banyak orang dapat mencontoh metodenya. Para pengkhotbah yang terampil memiliki ciri-ciri umum dalam pendalaman Alkitab dan penyampaian khotbah. Namun sebagai seni, khotbah Anda secara unik adalah karya Anda. Sebuah kombinasi dari bakat, latihan, dan kerja keras yang akan memberi sentuhan personal bagi karya Anda.

Tentu saja, ada perbedaan antara sebuah patung kayu dan khotbah Anda -- yaitu kehidupan itu sendiri! Sebuah pohon hidup diubah menjadi sebentuk keindahan yang mati. Khotbah Anda, dalam bimbingan Allah yang hidup, mengubah Firman yang hidup dari Allah menjadi sebuah khotbah yang menyatakan, menyampaikan, dan menciptakan kehidupan bagi para pendengar Anda. Khotbah Anda lebih dari sebuah keindahan dan kegembiraan abadi. Khotbah Anda adalah suatu kehidupan abadi.

Perlunya Khotbah Ekspositori

Sayangnya, beberapa pengkhotbah tidak memercayai bahwa Alkitab adalah sesuatu yang dibuat Allah. Ada pengkhotbah-pengkhotbah yang belum bertobat yang memenuhi mimbar-mimbar di seluruh dunia. Mereka tidak memercayai baik Firman dari Allah maupun Allah yang berfirman itu. Saya melakukan surat-menyurat rutin dengan seorang pendeta senior, seorang pria baik yang takut akan Allah yang dikelilingi para pendeta yang belum bertobat. Mereka telah mengancam untuk menyingkirkannya karena pendirian injilinya. Mereka tidak percaya bahwa Alkitab adalah firman yang diinspirasikan oleh Allah.

Beberapa pengkhotbah lain percaya bahwa khotbah dapat dibuat tanpa Alkitab. Mereka mencari perumpamaan masa kini atau peristiwa berita yang layak disampaikan di mimbar. Biasanya khotbah-khotbah semacam ini ditemukan di mimbar-mimbar kaum terpelajar dengan berbagai ilustrasi yang diambil dari dunia olahraga, musik, politik, dan kebudayaan, namun isi alkitabiah khotbah-khotbah itu sangat sedikit. Di sebuah kota besar di Asia, seorang awam yang cerdas mengeluhkan ketidakhadiran Alkitab dalam khotbah pendetanya. "Pendeta saya tidak percaya bahwa Alkitab cukup relevan bagi jemaatnya," katanya. "Pendeta saya tidak memberi makan domba-dombanya, tetapi dia menyapa jerapah!"

Sementara itu, ada beberapa pengkhotbah lain yang tidak percaya bahwa mereka harus mempersiapkan sebuah khotbah. Mereka tidak bekerja keras dalam pelayanan mimbar. Dengan sikap yang santai, mereka cenderung berharap akan dipenuhi secara ilahi menjelang waktu berkhotbah. Seorang rekan pendeta yang memegang falsafah persiapan khotbah seperti ini mengalami kejutan hebat di atas mimbar ketika dia menantikan perkataan dari surga di menit-menit terakhir. Suasana hening. Ia bercakap-cakap dengan Allah mengenai janji ilahi untuk memenuhi para hamba-Nya dengan pesan-pesan ilahi. Suasana hening. Akhirnya, dalam keputusasaan yang menyengsarakan dia memohon, "Ya Allah, beritahukanlah kepada hamba-Mu ini sesuatu untuk dikhotbahkan pagi ini." Lalu Allah menjawabnya, "Anakku, kamu tidak mempersiapkannya!"

Akhirnya, beberapa pengkhotbah tidak menjadikan khotbah sebagai ujung tombak dalam pelayanan mereka. Mereka tidak lagi menjadikan khotbah sebagai prioritas pelayanan, tapi malah mengangkat pelayanan konseling, kepengurusan dalam organisasi, atau beberapa acara yang mendesak lainnya menjadi prioritas lebih tinggi. Tugas mengajarkan Alkitab telah menjadi urutan kedua dalam hierarki tugas-tugas pelayanan, sedangkan kebutuhan-kebutuhan jemaat yang mendesak telah menyedot energi utama sang pengkhotbah.

Suatu pagi ketika seorang teman kembali dari menghadiri kebaktian di gereja, saya bertanya tentang khotbah disampaikan oleh pendeta. Ia menjawab bahwa tema kebaktian Minggu itu adalah "Tiga Kata yang Harus Digunakan Setiap Orang Kristen." "Lalu, apa saja tiga kata itu?" saya bertanya. Ia menjawab, "Terima kasih, tolong, dan maaf."

Seseorang tidak perlu pergi ke gereja untuk mempelajari aturan-aturan dalam tata krama sosial, meskipun tidak ada salahnya mempelajari hal-hal itu di sana. Pendeta macam apa yang tidak mengharapkan aturan-aturan kesopanan sosial tersebut berlaku di pertemuan majelis? Akan tetapi, jika hal-hal itu adalah bagian utama dalam menu rutin kebaktian Minggu, maka gereja, pendeta, dan jemaat akan mengalami kelaparan rohani.

Buku ini dirancang untuk membantu Anda mengatasi kelemahan-kelemahan pelayanan mimbar yang telah tertulis di atas dan mengajak Anda mengejar penyampaian khotbah ekspositori sebagai cara hidup dan pelayanan.

Pengaruh Khotbah Ekspositori

Khotbah ekspositori akan memengaruhi hidup Anda, yaitu dapat membantu Anda untuk:

  • bertumbuh secara pribadi dalam pengetahuan dan ketaatan melalui kontak dengan firman Allah secara disiplin,

  • menghemat waktu dan energi yang digunakan untuk memilih khotbah setiap minggu,

  • menyeimbangkan bidang "keahlian" dan tema-tema favorit Anda dengan luasnya pikiran Allah dalam Alkitab.

Khotbah ekspositori akan memengaruhi jemaat Anda karena membantu Anda untuk:

  • setia dengan teks dan relevan dengan konteks dalam pelayanan reguler Anda,

  • menerapkan strategi untuk melengkapi dan menyemangati jemaat Anda untuk memiliki kesetiaan jangka panjang kepada Allah dan pelayanan,

  • mengatasi kecenderungan untuk mengarahkan khotbah kepada pribadi atau kelompok tertentu dan terlindung dari tuduhan tersebut,

  • menghindari melompati tema yang tidak sesuai dengan selera atau temperamen Anda pada suatu hari,

  • melakukan pelayanan terpadu di tengah berbagai peran dan tuntutan kepada Anda sebagai gembala,

  • meningkatkan wibawa pelayanan pastoral karena Anda berdiri di bawah kuasa firman Allah ketika Anda berkhotbah,

  • mengintegrasikan percakapan di gereja dalam lingkup khotbah minggu itu,

  • menyampaikan maksud Allah bagi jemaat Anda seperti yang diperlihatkan oleh para pemimpin pelayanan,

  • mengarahkan jemaat pada visi bersama, dengan demikian membantu Anda menunjukkan kebutuhan pengerja untuk mencapai visi itu,

  • mendorong jemaat untuk bertindak dalam menerapkan program gereja dengan perkenan Allah,

  • mengumpulkan kredibilitas yang dibutuhkan untuk memimpin gereja menuju perubahan,

  • memberi contoh pelayanan efektif bagi pengajar dan pengkhotbah masa kini dan yang akan datang,

  • menyusun kerangka program kehidupan rohani bersama,

  • membuat jemaat Anda terdidik secara alkitabiah.

Pada intinya, khotbah ekspositori akan membantu pengkhotbah menyebarluaskan rancangan Allah bagi jemaat-Nya.

Oleh karena itu, mempersiapkan sebuah khotbah adalah sebuah seni, keahlian, kedisiplinan diri, dan relasi. Khotbah yang efektif adalah hasil perpaduan antara dinamika rohani dengan metode terperinci. Dinamika persiapan khotbah muncul dari relasi pengkhotbah dengan Tuhan sumber firman. Hal ini merupakan latihan serius yang harus dibungkus dalam doa supaya ia dimampukan oleh Roh Kudus, mulai dari kontak pertama pengkhotbah dengan teks Alkitab.

Bagaimanapun juga, buku ini bertujuan untuk membahas mekanisme persiapan khotbah -- yakni aspek seni dan keahlian dalam penyusunan khotbah dari Kitab Suci.

Definisi

Khotbah ekspositori adalah tentang Alkitab dan jemaat Anda. Ada banyak definisi yang baik tentang khotbah ekspositori. Berikut ini adalah definisi yang saya gunakan: Khotbah ekspositori adalah pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab yang berasal dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan. Unsur-unsur definisi tersebut membantu kita memahami tugas ekspositori dari berbagai dimensi dan dalam berbagai tingkatan.

  1. Hakikat Khotbah Ekspositori

  2. Hakikat khotbah ekspositori berkaitan dengan isi. Mari melihat kembali definisinya untuk menggarisbawahi inti eksposisi tekstual: Khotbah Ekspositori adalah "pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab" yang diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan.

    1.1. Pemasakinian

    Pemasakinian adalah tugas utama pengkhotbah ekspositori, dia mengambil apa yang ditulis berabad-abad lampau dan menyajikan relevansinya bagi jemaat masa kini. Dia tidak memperbaiki Kitab Suci. Alkitab sudah relevan dengan persoalan-persoalan manusia. Akan tetapi, pengkhotbah membuat pernyataan-pernyataan Allah bermakna bagi jemaat lokal. Khotbah ekspositori menyajikan secara modern kehendak-kehendak Allah bagi jemaat.

    Pengkhotbah menghadapi dua kenyataan mendasar: teks Alkitab dari abad awal dan konteksnya untuk abad ini. Beberapa pengkhotbah memberi penekanan pada teks tetapi membuatnya tidak relevan dengan konteks modern. Yang lainnya memberi penekanan pada konteks modern dan tidak setia pada teks.

    Seseorang yang ahli dalam eksegesis mempelajari makna teks Kitab Suci untuk mencari tahu apa yang Allah katakan ketika teks itu ditulis. Pengkhotbah yang alkitabiah melakukan percakapan kreatif dan menyeimbangkan tuntutan teks dan konteksnya untuk menyatakan signifikansi Kitab Suci bagi kita di masa kini. Dia tidak mengingkari ataupun mengompromikan kenyataan dalam teks kuno ataupun konteks modern. Berikut ini adalah diagram proses pemasakinian:

    1.2. Pernyataan Pokok Teks Alkitab

    Sepanjang sejarah khotbah ekspositori (dan teori komunikasi), kebanyakan ahli homiletika telah diyakinkan bahwa pernyataan tunggal harus meresapi keseluruhan khotbah. Perbedaannya terletak pada di bagian mana dan bagaimana orang mendapatkan pernyataan pokok ini.

    Dalam menguraikan Alkitab, ada dua kemungkinan sumber pokok pikiran. Pengkhotbah yang memberikannya atau teks Alkitab yang menyediakannya. Dalam eksposisi topikal, pengkhotbahlah yang memilih tema. Dalam eksposisi tekstual, teks Alkitablah yang menyediakan tema. Perbandingan berikut ini menunjukkan sifat, kelebihan, dan kekurangan eksposisi topikal dan eksposisi tekstual:

    1. Eksposisi Topikal

    2. Sifat : Pengkhotbah memilih tema dan menentukan pengembangan khotbah.
      Kelebihan : - Relevansi langsung
      - Sepertinya lebih mudah dilakukan.
      Kekurangan : - Teks di bawah kuasa pengkhotbah
      - Energi terbuang ketika memilih tema-tema khotbah.
    3. Eksposisi Tekstual

    4. Sifat : Teks Alkitab menyediakan tema dan menentukan tujuan, tolok ukur, dan persiapan khotbah.
      Kelebihan : - Relevansi jangka panjang
      - Membutuhkan kedisiplinan dari pihak pengkhotbah.
      Kekurangan : - Pengkhotbah di bawah kuasa teks
      - Membutuhkan kedisiplinan dari pihak pengkhotbah
      - Pengkhotbah mungkin mengalami kebuntuan dalam hal-hal kecil.

    Eksposisi adalah suatu kata multidimensi yang muncul dari akar bahasa Latin, expositio(-onis) artinya "menyatakan". Eksposisi Alkitab menguraikan, mengungkapkan, dan menyingkapkan Alkitab kepada jemaat dan jemaat kepada Alkitab. Eksposisi tekstual menguraikan makna teks Alkitab dan signifikansinya untuk konteks saat ini. Eksposisi ini mengungkapkan pernyataan tunggal yang dirangkaikan ke dalam khotbah. Eksposisi ini juga membawa jemaat masa kini kepada kebenaran-kebenaran dan pernyataan-pernyataan Allah yang ditemukan dalam teks tertentu.

    Tiga Pertanyaan untuk Diajukan tentang Isi Eksposisi Tekstual

  3. Sudahkah saya menguraikan apa yang dinyatakan dalam teks?

  4. Sudahkah saya mengungkapkan pernyataan pokok teks itu dalam kata-kata yang jelas dan kontemporer?

  5. Sudahkah saya membawa jemaat kepada kebenaran-kebenaran dan pernyataan-pernyataan Allah untuk kemudian mempelajari dan menaatinya? (/t Dicky)

Sumber: 

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Preparing Expository Sermons
Judul asli artikel: Motivation, Definition, and Overview of the Process
Penulis : Ramesh Richard
Penerbit : Baker Books, Michigan, 2001
Halaman : 15 -- 29

Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Menjalani abad 21 ini, perkembangan karya manusia begitu cepat, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal ini memengaruhi budaya dan pola pikir manusia pada umumnya, tak terkecuali orang-orang Kristen. Kemajuan jaman seringkali justru semakin mempermudah orang Kristen hidup dan memikirkan hanya untuk dirinya sendiri, sehingga rasa kemanusiaan semakin terkikis oleh nafsu duniawi yang berpusat pada diri.

Pada edisi e-Reformed 134 ini, artikel yang disuguhkan ingin menggedor sensitivitas kita sebagai bagian dari Tubuh Kristus, untuk berani menyikapi tindakan orang Kristen yang mulai terprovokasi untuk melawan dunia (kemiskinan, kelaparan, terpinggirkan), tetapi tidak mengubah dunia dengan kasih Kristus. Dr. Joseph Tong, penulis artikel ini, mendorong kita untuk merenungkan 2 hal yang sangat penting dalam menjalankan tindakan sosial Kristen: kemampuan memberi dan kuasa memberi. Silakan merenungkan pembahasan beliau karena hal ini akan menolong mengubah pola pikir kita dalam hal memberi agar semakin serupa dengan ajaran Kristus. Selamat menerungkan.

Staf Redaksi e-Reformed,
Yonathan Sigit
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Dr. Joseph Tong
Edisi: 
134/november 2012
Tanggal: 
27 november 2012
Isi: 

Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin

Menjadi orang Kristen di dunia sekuler tidak mudah, terutama dalam abad ke-21 ini. Kesadaran sosial telah membawa pada realitas yang belum terlihat sekarang, yaitu gejala dari sisi tergelap manusia. Hal- hal yang belum pernah kita dengar, bahkan belum pernah terbayangkan di masa lalu, telah menjadi hal yang biasa pada tahun-tahun terakhir ini. Mereka menuntut hak-hak legal dengan berani di pengadilan publik, lembaga-lembaga hukum dan legislatif, serta melanjutkan tuntutan akan pengakuan dalam segala bidang kehidupan, termasuk agama dan moralitas. Cukup aneh. Hal-hal ini bukan saja merembes dan mengubah moralitas Dunia Barat, tetapi juga memenangkan tempat dalam banyak negara yang baru terbentuk dari budaya dan tradisi yang paling ortodoks. Dapat dikatakan, dunia ini nampaknya akan dijungkirbalikkan secara moral. Inilah pasang-surut zaman. Nampaknya, suatu gelombang yang tidak tertahankan sedang memenangkan lahan komunitas Kristen. Mendapati diri kita sendiri dalam suatu situasi semacam ini, roh kita tergugah, seperti ketika Paulus ada di tengah-tengah para pemuja berhala Athena.

Orang Kristen dan Perhatian Sosialnya

Dari waktu ke waktu kita melihat ada orang-orang Kristen yang akan berdiri tegak bagi Yesus, sebagaimana yang dihimbaukan oleh himne terkait, berperang dalam "pertempuran yang baik". Untuk membalikkan situasi dengan mengambil tindakan sosial, mereka tidak raga-ragu membawa kasus itu ke tempat terbuka, ke jalan, untuk memprotes tempat perdagangan dan mengawali keributan. Mereka siap mengambil risiko ditahan demi mengingatkan kesadaran sosial dan hati nurani publik untuk membangkitkan perubahan sosial. Suatu kasus klasik pemberontakan sipil. Beberapa bahkan mengambil suatu sikap militan, tanpa maksud mengabaikan provokasi apa pun, bahkan yang terkecil sekalipun. Sayangnya, semangat untuk melawan balik telah menjadi suatu tanggapan refleks bagi mereka, bahkan kadang kala tercampur dengan sikap membenci dan kekerasan.

Dalam konteks diskusi isu relasi antara gereja dan masyarakat, kita semua sepakat bahwa gereja akan selalu berfungsi sebagai "hati nurani sosial" dan menjadi "referensi sosial", serta pada waktunya akan mengambil peran "Agen perubahan sosial". Memenuhi panggilan dan mandat semacam itu, apa yang seharusnya menjadi sikap gereja dan apa yang akan menjadi tindakan Kristen? Bagi beberapa orang Kristen, apa pun yang terjadi di dalam dunia yang tidak kristiani, di mata mereka selalu membangkitkan kemurkaan. Dengan menanggapi secara kasar rangsangan provokatif itu, orang-orang Kristen kelihatannya selalu siap bergerak untuk mengambil tindakan. Murka Allah adalah model mereka. Sayangnya dalam analisis finalnya, kita selalu melihat bahwa tindakan-tindakan mereka hanyalah ledakan dari roh batiniah yang tidak tenang, yang pada akhirnya menghabiskan energi untuk menanggung kesaksian hidup bagi Injil yang penuh anugerah dan Yesus Kristus. Sayangnya, walaupun mereka mungkin berhasil dalam tindakan, mereka harus membayar harganya, yaitu menjadi hangus sama sekali.

Provokasi atau Tantangan?

Apakah orang-orang Kristen itu mudah terprovokasi kapan saja? Tentu saja tidak. Secara etimologi, terprovokasi adalah tergugah ke arah kemarahan dan terbangkitkan secara emosional untuk melakukan tindakan spontan. Ketika Kristus menjanjikan damai sejahtera-Nya bagi para murid-Nya, Ia memang mengingatkan mereka akan masa kesusahan, perlawanan, dan situasi-situasi antagonistik. Sewaktu mengingatkan mereka akan situasi-situasi demikian, Ia berkata, "Damai-Ku, Kutinggalkan bagimu." Ketika berhadapan dengan hakim-hakim yang tidak adil dan saksi palsu, bahkan pencuri yang disalibkan, Ia dengan tegas menolak penuduhan. Dengan damai Ia menolak kejahatan dan membuktikan diri sendiri kebal terhadap provokasi. Khotbah di bukit yang Ia sampaikan memberikan prinsip-prinsip kehidupan bagi murid-murid-Nya. Mereka harus menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh kedamaian. Mereka harus kebal terhadap provokasi, bahkan terhadap provokasi yang paling tidak adil dan jahat.

Contoh praktis yang Ia berikan adalah bahwa mereka harus membiarkan orang lain memiliki baju sekaligus jubah, memberkati orang yang mengutuk mereka, dan bahkan memberikan pipi yang sebelahnya kepada orang yang menampar mereka. Orang-orang Kristen harus memiliki hati yang penuh damai dan membiarkan Tuhan yang memegang kendali. Demikianlah mereka akan membuktikan roh yang tidak dapat diprovokasi dan iman yang tidak berubah-ubah. Mereka diingatkan akan perintah Tuhan: "diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Tuhan." (Mazmur 46:10)

Kalau begitu, apakah kita ini lamban? Tentu saja tidak. Kita juga tidak apatis. Di hadapan kejahatan dan ketidakadilan, terutama dalam konteks tindakan sosial, orang-orang Kristen memiliki sisi lain dari kuasa yang hakiki, kuasa dari maksud Injil, yaitu kuasa penyelamatan Kristus. Kuasa untuk menerima tantangan, bukannya terprovokasi. Kuasa ini bukanlah untuk bertempur melawan dunia, tetapi untuk mengubah dunia dan membaruinya.

Diperhadapkan dengan gejala sosial yang tidak menyenangkan, seperti permasalahan moral, ketidakadilan, dan praktik-praktik yang tidak etis, maka orang-orang Kristen dipanggil untuk mengambil posisi damai dan memproklamasikan firman Tuhan yang hidup. Orang-orang Kristen dipanggil untuk mempertahankan jati diri sebelum mempertahankan hak- hak mereka. Untuk memberi pertanggungjawaban iman dan menerima undang- undang, bukan provokasi-provokasi, untuk menanggapi panggilan realitas demi mengemban kesaksian untuk kebenaran. Motivasi utama di sini adalah untuk bersaksi ketimbang bertindak. Dengan demikian, daripada memilih jalur tanggapan untuk memenangkan pujian dan upah, saya percaya adalah tugas kita untuk menanggapi dengan menerima tantangan sebagai imamat yang rajani, untuk memproklamasikan dekret Ilahi dengan hati yang berdoa. Adalah suatu mandat Kristiani untuk terlibat dalam cabang-cabang pemerintahan eksekutif, legislatif, dan hukum. Bersikap baik, ramah, dan penuh kuasa, akan selalu membuat suatu pembedaan antara provokasi dan tantangan, serta membuktikan bahwa kita bukan anak-anak jalanan, yang cocok dan yang memilih untuk tanggapan refleks, berupa angkara dan perkelahian yang tidak ada gunanya, kecuali untuk provokasi.

Prinsip Kristen Tentang "Memberi"

Dalam pemberian Kristen, dua hal harus selalu tampil sebagai aspek yang sangat penting dari memberi: kemampuan memberi dan kuasa memberi. Supaya seseorang dapat memberi, ia harus memiliki sesuatu untuk diberikan. Apa yang dimilikinya memampukan dia untuk memberi. Tentu saja kalau ia memiliki hati, dorongan, dan niat baik untuk memberi.

Bagi beberapa pengumpul dana profesional, demi memotivasi seseorang untuk memberi dengan murah hati, mereka perlu membangkitkan dorongan. Dalam istilah psikologi, memicu "n-succorant -- need-succorant" (suatu kebutuhan yang kuat atau tak tertahankan untuk menolong orang lain) -- Begitu seseorang telah tergugah simpatinya, ia pasti akan memberi, bahkan memberi melebihi kemampuannya. Seseorang perlu didorong untuk meningkatkan level empatinya dan kesadaran kemanusiaannya, atau dengan meningkatkan level kekhawatirannya, dengan cara menghadapkan seseorang pada kebutuhan orang lain, maka orang tersebut pasti akan membuka hati dan dompetnya pula. Ini prosedur normal dari praktik mengumpulkan dana. Ini adalah suatu praktik yang sama sekali dapat diterima di antara kegiatan para pengumpul dana kemanusiaan.

Nah, sekarang bagaimana dengan pandangan Kristen tentang memberi? Atau untuk lebih konkretnya, atas dasar apa kita meminta orang-orang, terutama umat Tuhan untuk memberi? Adakah sesuatu selain praktik umum para pengumpul dana yang dapat kita gunakan, demi menjaga perbedaan dan mencapai sasaran yang diharapkan? Saya percaya, isu semacam ini menuntut perenungan yang cermat dari diri kita.

Secara alkitabiah, kita memberi oleh karena kita telah lebih dulu menerima. Tuhan sebagai sumber dari segala berkat, pertama-tama telah memberi kita Putra-Nya, dan bersama dengan Dia, Ia telah dengan murah hati memberi kita segala sesuatu (Roma 8:32). Memberi itu adalah Ilahi, tetapi menerima tidak selalu manusiawi. Hanya apabila seseorang dipanggil oleh kemurahan Tuhan, pada iman dalam Kristus, ia tahu apa yang harus diterima, bukan untuk mengambil. Untuk dapat menerima, seseorang harus mengakui keadaannya yang kekurangan dan kebutuhannya. Demikianlah ia mengakui tindakan belas kasihan dari Sang Pemberi. Pada waktu Yohanes memproklamasikan, "Semua orang yang menerima-Nya diberi- Nya `kuasa` supaya menjadi anak-anak Allah," hal ini menyiratkan bahwa seseorang yang menerima, diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Tuhan dalam konteks anugerah. Dengan pemahaman seperti ini, menerima anugerah Tuhan berarti menerima kuasa untuk menjadi apa yang Tuhan inginkan: anak-anak Tuhan.

Dalam konteks ini, kita mengamati lebih dekat interaksi dengan sesama -- terutama mereka yang kurang beruntung dan dilanda kemiskinan -- Saya percaya, kita akan membedakan kuasa memberi dan kemampuan memberi. Sementara, baik kuasa maupun kemampuan memberi adalah aspek- aspek memberi sebagai tanda kemurahan hati manusia terhadap sesamanya; kemampuan memberi banyak tergantung pada sumber yang dimiliki seseorang, daripada kondisinya. Seseorang dapat memberi karena ia memiliki sesuatu untuk diberikan. Ia telah mencapai hal-hal tertentu atau ia memiliki akses kepada sumber-sumber itu, maka ia memberi. Ia tidak dapat memberi, jika ia tidak memunyai apa-apa untuk diberikan. Jika ia miskin, tidak ada yang menyalahkannya karena tidak ada yang mengharapkan sesuatu darinya. Peraturannya adalah bahwa seorang pengemis tidak akan meminta sedekah dari pengemis lainnya.

Orang-orang Kristen memunyai peraturan lain. Mereka memahami aspek yang mendasar dari memberi, yaitu kuasa memberi dalam tindakan memberi. Dalam pemberian Kristen, kita tertarik pada fakta bahwa kita mengambil bagian dalam tindakan Tuhan dalam penyediaan-Nya yang baik. Seperti orang-orang Kristen di Makedonia, di tengah-tengah kemiskinan ekstrem, sukacita mereka yang berlimpah-limpah meluap dengan penuh kemurahan hati (2 Korintus 8:1). Fakta bahwa Tuhanlah yang pertama- tama memberi mereka anugerah adalah alasan yang cukup bagi mereka untuk memberi.

Jadi, di dalam iman kita telah menerima dan di dalam tindakan menerima, kita dijadikan alat oleh Tuhan untuk menjadi anak-anak-Nya di dunia ini. Dalam memberi dan bertindak sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak memberikan apa yang kita miliki, tetapi apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sebagai hasil dari apa yang Tuhan perbuat. Kita bertindak demi Dia dalam membagi-bagikan anugerah-Nya dan karunia-karunia-Nya. Untuk tindakan-tindakan semacam itu, kita tidak memerlukan apa-apa, kecuali wewenang Tuhan dan kuasa memberi, supaya penerimanya juga dimampukan oleh anugerah-Nya, sehingga ia akan menjadi seorang pemberi, bukan sekadar penerima.

Inilah pembedaan antara pemberian Kristiani dan pemberian kemanusiaan belaka. Amal sosial telah menjadi dan selalu merupakan relasi dan interaksi antara dan di antara kelembagaan mereka "yang punya" dan mereka "yang tidak punya". Demikianlah para sponsor telah tanpa sengaja atau bahkan adakalanya sengaja, bertanggung jawab atas adanya pembedaan antara strata sosial yang tidak adil, praktik pemisahan, dan diskriminasi. Pihak yang menerima, tanpa sengaja ataupun dengan sengaja dilukai justru dalam tindakan memberi dan menolong. Luka dan rasa sakit, entah ditingkatkan atau diabaikan dari waktu ke waktu. Kita melakukan hal yang baik, tetapi mungkin masih jauh dari melakukan hal yang benar.

Kuasa Memberi

Apabila seseorang memahami kuasa memberi dalam konteks Kristen dan memberi sebagai pelaksanaan kuasa memberi, maka ia dapat melihat bahwa pemberiannya tidak bergantung pada kemampuannya memberi. Dengan memandang melampaui dirinya sendiri, si pemberi akan selalu melihat kepada pihak penerima dan pemberiannya: di sana ada sesamanya yang sama seperti dia, seseorang yang memantulkan citra Tuhan. Oleh anugerah Tuhan dan penyediaan-Nya, maka sesamanya ditempatkan di hadapannya, supaya ia dapat melaksanakan kuasa memberi. Dengan berbuat demikian, boleh jadi mendayakan di dalam dirinya kuasa Tuhan untuk menjadikan sesamanya seorang anak Tuhan. Suatu pribadi yang bermartabat kerajaan dan mulia, daripada seorang pengemis yang dilanda kemiskinan dan patut dikasihani. Dengan kuasa memberi, maka ia akan memberi. Dalam konteks semacam ini, memberi tidak lagi sekadar tindakan kemanusiaan, tetapi suatu mandat Ilahi, yang pada gilirannya akan membuat si penerima melihat Bapa segala terang, yang daripada-Nya berasal segala hadiah yang baik dan sempurna (Yakobus 1:16). Dengan demikian, kita telah melaksanakan anugerah Allah, "kuasa memberi".

Sumber: 

Tulisan "Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin" pernah dimuat dalam Jurnal Teologi STULOS 3/2, STT Bandung, Desember 2004, Hal. 1-12.

Judul buku :Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Atas Iman Kristen
Judul artikel :Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin
Penulis :Dr. Joseph Tong
Penerbit :Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman :203 -- 215

Kepedulian Terhadap Ciptaan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu kelebihan yang saya lihat dalam teologia Reformed adalah penekanannya yang sangat jelas akan kepemilikan Allah atas dunia dan jagat raya alam ini. Berdasarkan ayat Alkitab, "Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya." (Ulangan 10:14), kita diingatkan bahwa manusia bukan pemilik dunia ini, tetapi Tuhan. Karena itu di dalam teologia Reformed, disamping "mandat penginjilan", "mandat budaya", juga menjadi satu tugas yang tidak boleh diabaikan oleh umat Kristen. Dengan memelihara alam semesta, sebagaimana yang Tuhan kehendaki, maka kita telah mewujudkan salah satu bentuk ibadah yang diperkenan oleh Tuhan.

Nah, artikel e-Reformed yang saya pilihkan bulan ini yang berjudul, "Kepedulian Terhadap Ciptaan", semoga menjadi teguran untuk kita semua, apakah sebagai anak Tuhan kita sudah bertanggung jawab dengan lingkungan dan bumi tempat kita tinggal ini? Silakan direnungkan dan kiranya dapat mengetuk kesadaran kita, sehingga kita mau ambil bagian dalam penyelamatan bumi dan lingkungan sekitar kita dari perusakan yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab.

Selamat membaca dan merenungkan!

In Christ, Yulia Oen < http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
John R.W. Stott
Edisi: 
133/Oktober 2012
Tanggal: 
30 Oktober 2012
Isi: 

Kepedulian Terhadap Ciptaan

Dalam menunjukkan apa yang (dalam pandangan saya) merupakan beberapa aspek yang terlupakan dari pemuridan yang radikal, kita tidak boleh menyangka bahwa hal-hal ini terbatas pada ranah-ranah personal dan individual. Kita juga harus memerhatikan dalam perspektif yang lebih luas tentang tugas kita kepada Allah dan sesama kita, yang sebagian merupakan bagian dari topik pada bab ini: kepedulian terhadap lingkungan hidup kita.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa dalam penciptaan, Allah mendirikan bagi manusia tiga relasi yang sangat fundamental: pertama relasi terhadap diri-Nya sendiri, sebab Ia menciptakan mereka dalam gambar dan rupa-Nya; kedua relasi satu terhadap yang lain, sebab umat manusia merupakan makhluk yang majemuk sejak mulanya; dan ketiga, relasi terhadap bumi yang diciptakan, beserta dengan segala ciptaan di dalamnya.

Selanjutnya, ketiga relasi ini menyimpang akibat kejatuhan. Adam dan Hawa terpisah dari hadirat Tuhan Allah di taman tersebut, mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain untuk apa yang telah terjadi, dan bumi yang baik terkutuk akibat ketidaktaatan mereka.

Ini kemudian menjadi alasan yang kuat mengapa rencana pemulihan Allah tidak hanya meliputi pendamaian kita dengan Allah dan sesama, namun juga pembebasan terhadap ciptaan yang sama-sama sedang merintih. Kita dapat dengan pasti meyakini bahwa satu hari kelak akan hadir surga dan bumi yang baru (2 Petrus 3:13; Wahyu 21:1), sebab ini merupakan bagian yang esensial dari pengharapan kita bagi kesempurnaan masa depan yang sedang menanti kita pada akhir masa. Namun sementara itu, seluruh ciptaan sedang merintih, mengalami sakit bersalin dari ciptaan baru (Roma 8:18-23). Sampai sejauh mana tujuan akhir bumi akan dapat dialami/dinikmati saat ini, masih merupakan bahan yang dapat diperdebatkan. Namun, kita dapat dengan pasti mengatakan bahwa sebagaimana pemahaman kita terhadap tujuan akhir dari tubuh kebangkitan kita, harusnya memengaruhi cara berpikir kita dan cara kita memperlakukan tubuh kita sekarang ini, sehingga pengetahuan kita akan langit dan bumi baru seharusnya memengaruhi dan meningkatkan penghargaan akan bumi melalui cara kita memperlakukannya sekarang.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap bumi? Alkitab menunjukkan caranya dengan membuat dua penguatan yang sangat mendasar: "Tuhanlah yang empunya bumi" (Mazmur 24:1), dan "Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia" (Mazmur 115:16).

Pada bulan Mei 1999, saya mendapatkan hak istimewa untuk mengambil bagian dalam seminar sehari di Nairobi dengan tema "Kekristenan dan Lingkungan Hidup". Yang menjadi pembicara bersama saya adalah Dr. Calvin De Witt, dari "Au Sable Institute" Michigan dan Peter Harris dari "A Rocha International". Para peserta yang hadir saat itu termasuk para pemimpin Kenya, baik dari kalangan pemerintahan maupun wakil dari gereja-gereja, organisasi-organisasi misi, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pertemuan ini mendapatkan perhatian luas. Ini merupakan bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup bukanlah kepentingan egois yang dikembangkan oleh negara-negara maju, atau pun antusiasme minoritas yang semata-mata milik para pengamat burung atau pecinta bunga, namun secara perlahan-lahan tapi pasti, hal ini menjadi perhatian dari kekristenan arus utama.

Segera sesudah itu, Deklarasi Kaum Injili tentang "Evangelical Declaration on the Care of Creation" (Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup) diterbitkan (1999), dan pada tahun berikutnya, sebuah penjelasan yang penting tentang deklarasi ini muncul, disunting oleh R.J. Berry dan berjudul "The Care of Creation" (Kepedulian terhadap Alam Ciptaan). [1]

Pernyataan bahwa "Tuhanlah yang empunya bumi" dan bahwa "bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia", merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tidaklah saling bertentangan. Sebab bumi merupakan milik Allah, karena memang diciptakan oleh Allah dan merupakan milik kita, karena didelegasikan oleh Allah. Ini tidak berarti bahwa Allah telah menyerahkannya kepada kita, sehingga Ia kehilangan hak atasnya, namun ini berarti bahwa Ia telah memberikan kepada kita tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan bumi ini demi Dia.

Jika demikian, bagaimana seharusnya kita berelasi dengan bumi ini? Jika kita mengingat bahwa ciptaan dihadirkan oleh Allah dan didelegasikan kepada kita, kita akan menghindarkan diri dari dua posisi ekstrem yang saling bertolak belakang, dan sebaliknya kita akan mengembangkan relasi ketiga dan yang lebih baik dengan alam.

Pertama, kita akan menghindarkan diri dari mengilahkan alam. Inilah kesalahan kaum panteis yang mengindentifikasikan Pencipta dengan ciptaan-Nya, atau dari kepercayaan animisme yang percaya bahwa dunia natural dipenuhi oleh roh-roh, dan dari Zaman Baru yaitu Gerakan "Gaia" (Gerakan ini memercayai bahwa bumi adalah superorganisme yang mampu menyesuaikan diri dan juga memelihara kehidupan yang berjalan di dalamnya) yang menyatakan bahwa sifat pada alam itu mandiri, memiliki mekanisme keteraturan sendiri, dan mampu memperbarui diri sendiri. Namun, semua pandangan yang membingungkan ini menghina Sang Pencipta. Kesadaran umat kristiani bahwa alam merupakan ciptaan bukan Pencipta, merupakan pengantar yang tak terbantahkan bagi seluruh upaya ilmu pengetahuan, dan sangat penting bagi pengembangan sumber daya yang dimiliki bumi saat ini. Kita menghargai alam sebab Allah menjadikannya; kita tidak menyembah alam seolah-olah itu adalah Allah sendiri.

Kedua, kita harus menghindarkan diri dari posisi ekstrem yang sebaliknya, yakni eksploitasi alam. Ini bukanlah tindakan menjilat alam seolah-olah ia adalah Allah, namun ini adalah tindakan yang arogan terhadap alam bahwa seolah-olah kita adalah Allah. Kejadian 1 dengan tidak adil telah dipersalahkan akibat kerusakan lingkungan. Memang benar Allah memerintahkan umat manusia untuk "memerintah atas" bumi dan untuk "menaklukkannya" (Kejadian 1:26-28) dan memang benar bahwa dua kata kerja Ibrani ini adalah kata yang kuat. Namun sangat menggelikan bila membayangkan bahwa Ia yang telah "menciptakan" bumi ini, kemudian menyerahkannya kepada kita untuk "dihancurkan". Tentu tidak, kuasa Allah yang telah diberikan kepada kita seharusnya dilihat sebagai sebuah tanggung jawab pelayanan, bukan sebuah dominasi yang menghancurkan.

Relasi ketiga dan yang tepat antara umat manusia dan alam adalah kerja sama dengan Allah. Tentu saja, kita sendiri adalah bagian dari ciptaan, sama bergantungnya kepada Pencipta sebagaimana semua ciptaan-Nya yang lain. Namun pada saat yang sama, Ia telah dengan sengaja merendahkan dirinya untuk menjadikan sebuah kemitraan bersama Allah -- manusia yang diperlukan. Ia menciptakan bumi ini, namun kemudian memerintahkan kita untuk menaklukkannya. Ia menjadikan sebuah taman, namun kemudian menempatkan Adam di dalamnya "untuk mengusahakan dan memeliharanya" (Kejadian 2:15). Ini sering disebut sebagai mandat budaya. Sebab apa yang telah Allah berikan kepada kita disebut "alam", sedangkan apa yang kita lakukan terhadap alam disebut "budaya". Kita tidak hanya dipanggil untuk melestarikan alam, tapi juga untuk mengembangkan sumber-sumber daya yang ada di dalamnya bagi kebaikan bersama.

Panggilan bekerja sama dengan Allah untuk menggenapi rencana-Nya, dalam mentransformasi seluruh ciptaan untuk kenikmatan dan keuntungan semua merupakan panggilan yang sangat mulia. Dalam hal inilah pekerjaan kita semestinya menjadi sebuah ekspresi dari ibadah kita, sebab kepedulian kita terhadap lingkungan akan mencerminkan kasih kita terhadap Sang Pencipta.

Pandangan yang lain: sangat mungkin terjadi penekanan yang berlebihan terhadap upaya manusia dalam konservasi dan transformasi lingkungan hidup. Dalam eksposisinya yang sangat baik terhadap tiga pasal pertama dari Kitab Kejadian, lewat bukunya "In the Beginning", [2] Henri Blocher menyatakan bahwa puncak dari Kejadian pasal 1 bukanlah penciptaan dari manusia sebagai pekerja, melainkan institusi Sabat bagi umat manusia sebagai penyembah-penyembah Allah. Puncak dari semuanya ini bukanlah kerja keras kita (menaklukkan bumi ini), melainkan tindakan meninggalkan kerja keras kita pada hari Sabat (perhentian). Sebab Sabat menempatkan pentingnya pekerjaan dalam perspektif yang tepat. Sabat melindungi kita dari penghisapan total diri kita ke dalam pekerjaan, seolah-olah hanya itulah arti dan tujuan keberadaan diri kita. Ini tidak benar. Kita sebagai manusia menemukan kemanusiaan kita tidak hanya dari relasi kita dengan bumi ini, yang memang menjadi panggilan kita untuk mentransformasinya, melainkan dalam relasi dengan Allah yang haruslah kita sembah; tidak hanya dalam kaitannya dengan ciptaan, tapi terutama relasi dengan Sang Pencipta. Allah menginginkan agar pekerjaan kita merupakan ekspresi dari penyembahan kita, dan kepedulian kita terhadap ciptaan merupakan cerminan dari kasih kita kepada-Nya. Hanya dengan demikianlah, apa pun yang kita lakukan, dalam kata dan karya, kita sanggup melakukannya bagi kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).

Hal-hal ini dan tema-tema Alkitab yang lain dibukakan, baik lewat "Deklarasi Kaum Injili tentang Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup" maupun dalam penjelasannya. Hal-hal ini layak untuk kita pelajari dengan saksama. [3]

Krisis Ekologi

Ini adalah latar belakang pengajaran alkitabiah yang sangat penting, yang kita perlukan untuk menghadapi krisis ekologi yang terjadi saat ini. Hal ini telah ditelaah dalam pelbagai cara, namun setiap analisis yang ada tersebut mengandung empat aspek berikut.

  1. Terjadi percepatan pertumbuhan penduduk dunia.

  2. Berdasarkan perkiraan divisi populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, penghitungan dimulai dari tahun 1804 SM, ketika penduduk dunia mencapai 1 milyar jiwa. [4] Pada permulaan abad ke-20, populasi dunia tersebut telah mencapai angka 6,8 milyar jiwa, dan pada pertengahan abad ini diperkirakan angkanya akan mencapai jumlah yang luar biasa yaitu, 9,5 milyar jiwa.

    Karena agak sulit mengingat angka-angka dalam statistik, maka sebuah "jembatan keledai" sederhana mungkin dapat membantu kita untuk mengingat hal ini:

    Masa lampau -- 1804 SM -- 1 milyar
    Masa kini -- 2000 M -- 6,8 milyar
    Masa depan -- 2050 M -- 9,5 milyar

    Bagaimana mungkin memberi makan sedemikian banyak orang, terutama ketika seperlima dari mereka tidak memiliki kebutuhan pokok untuk bertahan hidup?

  3. Semakin menipisnya sumber daya alam yang dimiliki bumi.

  4. E.F. Shumacher, dalam buku populernya "Small is Beautiful", [5] melukiskan perhatian dunia terhadap perbedaan antara modal dan pendapatan. Sebagai contoh, bahan bakar fosil merupakan modal habis, sekali mereka digunakan, mereka tidak dapat digantikan. Proses mengerikan yang disebut deforestatifikasi dan penggurunan juga merupakan contoh-contoh yang sama dengan apa yang terjadi pada bahan bakar fosil. Contoh-contoh yang lain adalah terjadinya degradasi atau polusi terhadap habitat plankton di laut lepas, dataran hijau di bumi, makhluk hidup, dan habitat makhluk hidup yang sangat bergantung kepada ketersediaan udara dan air bersih.

  5. Masalah pembuangan limbah.

  6. Populasi penduduk yang meningkat turut mendorong peningkatan masalah diakibatkan oleh perlu dipikirkannya cara penanganan pembuangan limbah proses produksi, pengepakan, dan konsumsi yang aman. Rata-rata orang di Inggris membuang sampah yang setara dengan berat badan mereka setiap tiga bulan. Pada tahun 1994, sebuah laporan dari Inggris bertajuk "Sustainable Development: The UK Strategy" merekomendasikan empat cara "hiraki dari manajemen limbah" sebagai upaya mewadahi masalah yang terus meningkat ini.

  7. Perubahan iklim.

  8. Dari semua tantangan global yang dihadapi oleh planet kita, ini adalah tantangan yang paling serius.

    Lapisan atmosfer melindungi kita dari radiasi Ultraviolet, dan jika lapisan ozon rusak, sinar tersebut dapat masuk kemudian menyebabkan kanker kulit dan mengganggu sistem kekebalan kita. Itulah sebabnya ketika tahun 1983, sebuah lubang besar pada lapisan ozon tampak di atas daerah Antartika dan pada negara-negara sekitarnya, hal tersebut membangkitkan peringatan besar dari khalayak umum.

    Beberapa tahun kemudian, lubang yang sama tampak di atas hemisphere bagian Utara. Dari peristiwa itu diketahui bahwa penipisan ozon tersebut diakibatkan oleh kloroflurokarbon (CFC), bahan kimia yang digunakan dalam pendingin ruangan, lemari es, dan propelan. Protokol Montreal menyerukan kepada semua negara untuk mengurangi setengah emisi CFC mulai tahun 1997.

    Perubahan iklim adalah masalah yang berkaitan dengan hal ini. Pemanasan permukaan bumi (hal yang sangat esensial bagi kelangsungan planet kita) diakibatkan oleh kombinasi dari radiasi sinar matahari dan radiasi inframerah yang dipantulkan ke angkasa. Ini disebut "efek rumah kaca." Polusi atmosfir oleh "gas-gas yang menyebabkan efek rumah kaca" (khususnya karbondioksida) mengurangi emisi inframerah dan meningkatkan temperatur dari permukaan bumi. Inilah gambaran dari pemanasan global yang sangat mungkin dapat mengakibatkan malapetaka terhadap susunan geografis dunia dan pola iklim. [6]

Berefleksi dari empat bahaya terhadap lingkungan ini, kita dapat melihat bahwa planet kita sedang ada dalam bahaya yang besar. "Krisis" bukanlah kata yang terlalu dramatis untuk digunakan. Respons seperti apa yang tepat dalam situasi seperti ini? Untuk memulainya, kita patut berterima kasih bahwa pada akhirnya di tahun 1992, pertemuan yang disebut "Earth Summit" (KTT tentang Bumi) dilangsungkan di Rio de Janeiro dan dihasilkan sebuah kesepakatan "global sustainable development". Pertemuan-pertemuan berikutnya telah memberi kepastian bahwa persoalan-persoalan lingkungan hidup telah menjadi perhatian para pemimpin dunia.

Namun disamping pertemuan-pertemuan para pemimpin ini, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah bermunculan. Saya hanya akan menyebutkan dua organisasi Kristen yang paling terdepan, yakni "Tearfund" dan "A Rocha", keduanya baru saja merayakan hari jadi mereka yang spesial (masing-masing 40 tahun dan 20 tahun).

"Tearfund" didirikan oleh George Hoffman, berkomitmen pada pengembangan dalam makna yang luas, dan bekerja sama secara dekat dengan "partner" di negara-negara berkembang. Kisah yang sangat indah dari "Tearfund" telah didokumentasikan oleh Mike Hollow dalam bukunya "A Future and a Hope".[7]

"A Rocha" memiliki perbedaan sebab berada pada lingkup yang lebih kecil. Lembaga ini didirikan pada tahun 1983 oleh Peter Harris, yang telah mendokumentasikan pertumbuhan lembaga ini dalam dua buku: "Under the Bright Wings" (sepuluh tahun pertama dari organisasi ini) dan "Kingfisher`s Fire" (memberikan informasi aktual dari kisah lembaga ini).[8] Perkembangan yang perlahan namun terus-menerus dari lembaga ini sangat mengagumkan, saat ini mereka bekerja di delapan belas negara, mendirikan pusat studi keilmuan di semua benua di dunia.

Merupakan hal yang sangat baik untuk memberi dukungan kepada LSM-LSM Kristen yang bergerak di bidang lingkungan hidup, namun apa bentuk tanggung jawab pribadi kita? Saya mengizinkan Chris Wright untuk menjawab pertanyaan ini, Apa yang dapat dilakukan oleh seorang murid yang radikal bagi alam ciptaan ini?

Chris memimpikan hadirnya sekumpulan besar orang-orang Kristen yang peduli dengan alam dan mereka memegang tanggung jawab lingkungan hidup secara serius: "Mereka memilih untuk menggunakan bentuk-bentuk energi yang dapat bertahan lama ketika memungkinkan. Mereka mematikan alat-alat elektronik yang tidak diperlukan. Mereka membeli makanan, barang-barang, dan layanan sedapat mungkin dari perusahaan-perusahaan yang dalam etikanya memberlakukan kebijakan-kebijakan terhadap lingkungan hidup. Mereka bergabung dalam perhimpunan-perhimpunan konservasi lingkungan hidup. Mereka menghindarkan diri dari konsumsi yang berlebihan dan limbah yang tidak diperlukan dan menggunakan bahan- bahan daur ulang sebanyak mungkin." [9]

Chris juga rindu melihat semakin banyaknya orang-orang Kristen yang turut menyertakan kepedulian terhadap lingkungan hidup dalam pemahaman alkitabiah mereka terhadap misi: "Pada waktu lampau, kekristenan secara spontan sangat peduli terhadap isu-isu yang besar dan penting dalam setiap generasi.... Hal-hal ini termasuk bahaya dari penyakit, perbudakan, dan bentuk-bentuk kekejaman dan eksploitasi dalam berbagai bentuk. Orang-orang Kristen mengambil tanggung jawab bagi para janda, anak-anak yatim piatu, pengungsi akibat peperangan, tawanan perang, orang-orang sakit jiwa, orang-orang kelaparan -- dan yang terkini makin banyak orang-orang Kristen yang berkomitmen untuk `membuat kemiskinan tinggal sejarah`."

Saya ingin menggemakan kesimpulan Chris Wright yang mengesankan: "Ada satu hal yang bagi saya sulit dijelaskan, mengapa ada sebagian orang Kristen yang mengklaim bahwa mengasihi dan menyembah Allah juga menjadi murid Yesus, namun tidak punya kepedulian terhadap bumi yang justru membuktikan secara sah kepemilikan Allah. Mereka tidak peduli terhadap penyalahgunaan bumi dan bahkan, oleh gaya hidup mereka yang boros dan terlampau konsumtif, mereka juga termasuk di dalamnya. Allah menghendaki... kepedulian kita terhadap ciptaan, mencerminkan kasih kita kepada Sang Pencipta." [10]

"Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya." (Ulangan 10:14)

Keterangan:

[1] IVP, 2000.
[2] IVP, 1984
[3] Diadaptasi dengan izin dari Kata Pengantar saya dalam buku The Care of Creation. Dua buku baru yang sangat berguna tentang pokok ini adalah R.J. Berry (ed.), When Enough is Enough: A Christian Framework for Environmental Sustainability (Appollos, 2007) dan Dave Bookless, Planetwise: Dare to Care for God`s World (IVP, 2008).
[4] "1 milyar" digunakan di Inggris yang berarti satu juta juta. Namun kini istilah ini hampir merupakan ungkapan universal untuk seribu juta.
[5] Sphere, 1973.
[6] Untuk isi dari bab ini lihatlah Bab 5, "Caring for Creation" dalam John Stott, Issues Facing Christian Today (Zondervan, 4th edition, 2006,), sepenuhnya telah diperbarui oleh Roy McCloughry.
[7] Monarch Books, 2008
[8] Peter Harris, Under the Bright Wings (Regent College Publishing,2000); Kingfisher`s Fire (Monarch, 2008)
[9] Kutipan ini dan selanjutnya diambil dari buku Chris Wright,The Mission of God (IVP, 2008)
[10] Dikutip dari kata pengantar John Stott untuk The Care of Creation.
Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku: The Radical Discipline
Judul buku : The Radical Discipline (Murid yang Radikal)
Judul artikel : Kepedulian terhadap Ciptaan
Penulis : John R.W. Stott
Penerjemah : Perdian K.M. Tumanan
Penerbit : Literatur Perkantas Jawa Timur, Surabaya 2010
Halaman : 45 -- 54

Mengenal Hati Allah Bagi Dunia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Akhir-akhir ini, saya tergerak oleh panggilan Allah untuk menjadi orang yang peduli pada orang yang bukan Kristen. Saya sering kali menyadari bahwa saya tidak punya teman non-Kristen. Dulu, saya tidak peduli dengan hal ini, bahkan membuat alasan yang merasionalisasikan pikiran saya itu -- "tentu saja saya tidak mempunyai teman non-Kristen karena saya ada di pelayanan Kristen, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang non-Kristen." Akan tetapi, benarkah demikian? Tentu saja tidak. Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa saya tidak peduli? Sekarang, saya tahu jawabannya: karena saya sedang tidak melayani mereka. Oleh karena itu, di tengah kesibukan saya beberapa waktu ini, saya berdoa, "Tuhan, berikan kepada saya ide untuk terlibat dalam pelayanan kepada orang non-Kristen."

Tuhan menjawab dengan artikel yang saya kirim kepada Anda semua di bawah ini dan menjadi salah satu pendorong saya untuk mencari tahu bagaimana mulai melibatkan diri dalam pelayanan kepada orang non- Kristen. Saya semakin menyadari bahwa selama ini, saya bukan saja tidak peduli pada orang non-Kristen, tetapi juga sedang tidak mempedulikan hati Allah bagi dunia. Saya sunggu merasa tertegur. Karena itu, saya ingin membagi artikel ini dengan Anda semua. Semoga Tuhan juga berbicara kepada Anda, sama seperti Ia telah berbicara kepada saya.

Selamat membaca dan merenungkan.

Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Amy Brooke
Edisi: 
131/Agustus 2012
Tanggal: 
30 Agustus 2012
Isi: 

Mengenal Hati Allah Bagi Dunia

Saat itu, saya berusia lima belas tahun dan keluarga saya sedang berada di sebuah pantai di East Coast (pesisir Timur Amerika). Pada suatu sore ketika saya dan salah satu saudara perempuan sedang mencuci rakit di genangan air pasang, seorang gadis kecil dan anak laki-laki menceburkan diri di dekat kami. Sebuah pikiran melintas di benak saya: "Katakan pada mereka untuk tidak bermain di sini". Tetapi, saya mengabaikannya. Adalah tugas orang tua mereka untuk menjaga mereka. Beri tahu mereka tentang kedalaman air itu adalah pikiran saya berikutnya. Mungkin saya harus mengatakan sesuatu pada mereka. Namun sekali lagi, saya beralasan itu bukan tanggung jawab saya.

Saya mencelupkan rakit saya sekali lagi dan mulai mengikuti keluarga saya. "Amy!" Saya mendengar nama saya dipanggil dengan jelas dari arah belakang (padahal tak seorang pun yang saya kenal ada di sana). Saya berbalik dan melihat anak laki-laki kecil itu tenggelam, dan saudara perempuannya berjuang mempertahankan diri agar tetap mengapung di atas air. Saya menarik gadis kecil itu dan saudara perempuan saya menarik anak laki-laki itu dari air, yang bahkan kami hampir tidak dapat menyentuh dasarnya.

Saya tidak tahu apakah Allah yang memanggil nama saya. Meskipun saya tidak tahu nama mereka atau dari mana asal mereka, saya pasti tidak dapat memaafkan diri saya jika saya tidak menolong mereka. Mengingat kembali peristiwa itu, saya menyadari bahwa saya hampir saja melewatkan kesempatan berharga untuk terlibat dalam hidup orang lain hanya karena pikiran bahwa itu bukanlah tanggung jawab saya.

Yunus: Misionaris Ogah-ogahan

Sebagai seorang nabi Allah, tugas Yunus adalah menyampaikan kepada orang-orang tentang segala sesuatu yang Allah ingin mereka ketahui. Ketika Allah menyuruh Yunus pergi dan memperingatkan kota Niniwe tentang penghakiman yang akan datang, ia menolak. Mengapa ia harus pergi memperingatkan orang-orang Asyur yang kotor itu? Mereka menyembah allah lain dan menaklukkan orang Israel, bangsanya. Mereka tidak pantas menerima sebuah peringatan. Yunus berpikir bahwa penghakiman Allah atas mereka merupakan ide yang bagus. Dan jika Allah butuh ide-ide tentang apa yang harus Dia lakukan terhadap mereka, Yunus bisa memberikannya.

Setelah mengalami banyak hal untuk meyakinkannya (termasuk pelayaran ala kapal selam dalam perut ikan besar), akhirnya Yunus melaksanakan apa yang Allah perintahkan dengan enggan. Tepat seperti yang ditakutkan Yunus, orang Niniwe bertobat! Mereka berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat dan Allah menangguhkan penghakiman-Nya. Yunus begitu marah atas kemurahan hati Allah, ia ingin mati saja. Merasa dimanfaatkan dan disalahpahami, Yunus mengembara ke padang gurun.

Allah memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memberi pelajaran kepada Yunus. Melihat ketidaknyamanan Yunus di bawah terik matahari, Allah secara ajaib menumbuhkan pohon jarak untuk menaungi Yunus. Tetapi keesokan harinya, Allah mendatangkan seekor ulat yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu dan mati. Ini benar-benar menjengkelkan hati Yunus.

Tetapi firman Allah kepada Yunus, "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" "Ya," jawabnya. "Selayaknyalah aku marah sampai mati." Tetapi, Allah berfirman, "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:9-11, NIV)

Yunus adalah seorang yang kurang peduli terhadap orang-orang di luar Israel. Ia lebih sedih karena kematian pohon jarak ketimbang kemungkinan binasanya 120.000 orang Niniwe. Ia kurang mengenal hati Allah.

Pada tahun 1995, terjadi gempa bumi yang dahsyat di Kobe, Jepang. Saya bergidik saat melihat gambar gedung-gedung yang roboh. Saya cemas apakah ayah saya dan istrinya baik-baik saja karena mereka tinggal di sana.

Tinggal di daerah Midwest, saya tidak terlalu memedulikan peringatan adanya angin topan. Tetapi pada bulan Juli 1996, angin topan Greta mengancam pantai Florida. Saya memedulikannya karena saudara perempuan, kakak ipar, dan keponakan-keponakan saya yang masih kecil terancam oleh amukan Greta.

Setiap kali mendengar berita, saya mendengar cerita-cerita tentang banyak orang yang mati akibat perang, bom-bom teroris, kelaparan, gempa bumi, dan banjir. Hal-hal seperti itu sudah terjadi di sepanjang hidup saya. Namun, jika tidak ada seorang pun yang saya kenal terlibat dalam musibah itu, berita-berita itu jarang sekali memengaruhi emosi saya. Saya lebih mirip Yunus ketimbang yang saya inginkan.

Yang saya inginkan adalah tidak menjadi seperti Yunus, tetapi menjadi seorang "Kristen Dunia" -- seseorang yang memunyai sebagian hati Allah untuk semua orang di semua tempat. Seorang Kristen dunia bukan hanya seorang misionaris di negara yang jauh. Pesan kristiani sama dibutuhkannya di negara Barat maupun di negara berkembang di dunia. Menjadi seorang Kristen dunia dan menjadi seorang murid adalah hal mengembangkan sebuah hati yang semakin mirip dengan hati Allah sendiri.

Titik awal bagi proses "bedah jantung" semacam itu adalah firman Allah. Salah satu cara saya memandang Kitab Suci adalah dengan membaginya menjadi tiga bagian sederhana: penciptaan (Kejadian 1 dan 2), kejatuhan (Kejadian 3), penebusan (Kejadian 4 - Wahyu). Mempelajari Kitab Suci menunjukkan kepada kita bahwa hati Allah bertekad membawa kembali dunia yang sudah jatuh kepada relasi dengan Dia. Upaya-Nya untuk melaksanakan tekad itulah yang merupakan sebagian besar isi Kitab Suci. Kitab Suci menjelaskan dengan gamblang bahwa Allah mengharapkan umat-Nya mau bergabung dengan-Nya dalam upaya itu.

Sebuah Janji dan Sebuah Berkat

Ketika Allah berfirman kepada Abram (kemudian dikenal sebagai Abraham) untuk meninggalkan rumahnya dan pergi ke negeri yang jauh, Dia juga memberi sebuah janji kepada Abraham. "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, `dan engkau akan menjadi berkat`. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, `dan olehmu semua kaum di bumi akan mendapat berkat`." (Kejadian 12:2-3).

Ini adalah suatu janji yang ajaib: membuat satu orang menjadi sebuah bangsa. Itulah yang akan saya tangkap jika saya menjadi Abram. Artinya: "Saya akan menjadi orang yang benar-benar penting!" Tetapi, Allah tidak akan membuat Abram masyhur untuk kepentingan Abram sendiri, tetapi untuk kepentingan manusia yang lain. "Sehingga engkau akan menjadi berkat... melalui engkau seluruh umat manusia di bumi akan diberkati." Maksud Allah adalah keturunan dari Abram akan menjadi bagian rencana penebusan dunia. Galatia 3:29 mengatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah keturunan Abraham (Abram).

Memainkan bagian dalam penebusan dunia adalah rencana Allah bagi gereja mula-mula dan rencana-Nya bagi kita saat ini. Kalimat perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya adalah, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20)

Menjadi Orang Kristen Dunia

Sebelum menjadi seorang "Kristen Dunia", saya perlu menyatakan rasa tanggung jawab saya untuk terlibat (dalam masalah orang lain). Yesus menceritakan sebuah kisah dalam Matius 25, tentang seseorang yang memunyai tiga hamba. Ia memberi hambanya yang pertama 10 talenta, hamba kedua 5 talenta, dan hamba ketiga 1 talenta. Dua hamba yang pertama menjalankan uang untuk mendapatkan laba. Tuannya merasa puas. Hamba yang ketiga menyembunyikan talentanya. Ketika tuannya meminta perhitungan, ia tidak dapat menunjukkan apa-apa kepada tuannya. Karena hamba tersebut tidak mempergunakan uang itu untuk mendapatkan keuntungan bagi tuannya, ia kemudian dilempar keluar. Allah mengharapkan kita untuk bertanggung jawab tentang cara kita menggunakan sumber daya, uang, waktu, keterampilan, dan kemampuan kita.

Belajar tentang misi dan budaya-budaya yang berbeda memampukan saya untuk berdoa secara spesifik. Allah menjawab doa-doa umum, tetapi mendapatkan lebih banyak informasi mengenai sebuah negara memungkinkan kita untuk berdoa secara spesifik. Saya pernah berada dalam satu kelompok yang berdoa untuk Albania, dan bersyukur kepada Tuhan karena mengira Albania adalah negara dengan mayoritas Kristen. Sayangnya, itu tidak benar. Menurut "Operation World", Albania adalah negara termiskin di Eropa, dengan angka pengangguran sekitar 70 persen. Negara ini pernah menjadi bagian dari rezim komunis, yang mencoba untuk menghapuskan semua agama. Sekarang ini, 41,9 persen dari penduduk Albania tidak beragama, 40 persen Muslim, dan hanya 18 persen penduduk Albania adalah Kristen. Dengan mengetahui sedikit lebih banyak mengenai Albania, doa-doa saya lebih bisa menyentuh kebutuhan yang sesungguhnya.

Proyek-proyek yang baik melebihi kemampuan saya untuk menginvestasikan diri saya dan segala sumber daya saya di dalamnya. Dengan belajar dan berdoa, saya dapat membiarkan Allah mengarahkan sumber daya saya. Ketika sebuah kelompok meminta sumbangan dan ketika mempelajari kegiatan mereka, saya menemukan praktik-praktik yang bertentangan dengan Alkitab. Saya menjadi peka dan mengerti bahwa Allah tidak menginginkan saya menggunakan sumber daya-Nya untuk mendukung hal-hal seperti itu. Hal yang lebih berat lagi adalah ketika ada beberapa proyek yang semuanya baik untuk berinvestasi di dalamnya. Pada situasi seperti itu, Allah memberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan kepribadian kita. Kita juga dapat menentukan kebutuhan mana yang lebih penting.

Sumber-sumber untuk menjadi seorang "Kristen Dunia":

  1. Dapatkan sebuah buku "Operation World" oleh Jason Mandryk untuk mengetahui bagaimana berdoa secara khusus untuk berbagai bangsa! Buku ini diperbarui secara teratur, jadi carilah edisi terakhir. [Buku ini diterbitkan oleh Katalis -- divisi penerbitan Yayasan Gloria. Informasi lebih lanjut , Red]

  2. Gunakan internet untuk mencari informasi tentang berbagai negara!

  3. Gunakan internet untuk mencari sahabat dari negara yang diinginkan!

  4. Tulislah surat kepada kedutaan besar dari negara yang Anda minati untuk memperoleh lebih banyak informasi!

  5. Berkomitmenlah untuk terus mengikuti berita-berita dunia atau sekurang-kurangnya berita dari satu atau dua negara yang diminati!

  6. Berkenalanlah dengan pelajar-pelajar dari mancanegara!

  7. Carilah keterangan tentang misionaris-misionaris yang didukung oleh gereja Anda! Pikirkanlah untuk berkorespondensi dengan salah satu dari mereka!

  8. Pertimbangkanlah untuk menghadiri "Urbana Mission Convention", yang diselenggarakan oleh InterVarsity setiap tiga tahun sekali! Informasi lebih lanjut kunjungi < www.gospelcom.net/iv >.

Contoh lain ialah ketika saya memutuskan untuk menjadi sukarelawan, tetapi tidak mengetahui kebutuhan sebenarnya. Melalui buku petunjuk daerah, saya memperoleh informasi tentang kurang lebih tiga puluh kelompok berbeda yang membutuhkan pertolongan. Saya menelusuri petunjuk itu dan menandai yang cocok bagi saya, menelepon beberapa, dan berdoa. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi tenaga sukarela di panti asuhan anak-anak. Keputusan ini saya ambil setelah saya melakukan penelitian terlebih dulu.

Walaupun kasus-kasus khusus kadang kala muncul, saya cenderung memberi dan mendoakan beberapa kelompok saja. Ini memungkinkan saya membangun relasi dengan orang-orang yang saya dukung. Sebagai seseorang yang menggalang dukungan keuangan, saya tahu betapa dipedulikan dan didukungnya perasaan saya ketika orang-orang terus setia menemani saya dalam jangka panjang. Mereka juga adalah orang-orang yang mengetahui semua pelayanan saya, dan bagaimana cara berdoa secara khusus untuk mendukung saya.

Mungkin alasan terbaik untuk menjadi seorang Kristen dunia adalah perubahan yang terjadi, yang muncul dari dalam diri kita. Setelah enam minggu di Rusia, saya sudah ingin pulang. Saya ingin bisa makan tanpa bertanya-tanya terlebih dulu apa yang saya makan, minum tanpa merebusnya terlebih dahulu, mengerti segala sesuatu yang dikatakan kepada saya, mengendarai mobil saya, memakai bantal bulu, tidak harus menukarkan mata uang, menggunakan mesin cuci dan pengeringnya, dan lain-lain. Saya tidak berharap merindukan Rusia. Setelah sebulan pulang, saya mendapati diri saya tertarik akan koran dan berita-berita yang memuat apa pun tentang Rusia. Hati saya berlonjak gembira pagi ini ketika memperoleh email dari seorang Rusia yang saya kenal dalam perjalanan saya ke sana. Sesuatu telah berubah selama hari-hari saya di sana. Entah hati saya yang membesar atau dunia yang semakin mengecil. Mungkin keduanya. Hati saya terlihat semakin mirip dengan hati Allah.

Misi-Misi Jangka Pendek: Memberi Dunia Sebuah Wajah

Namun, kecuali Allah mengatur kembali hidup saya, saya sangsi bahwa saya akan menjadi misionaris jangka panjang ke luar negeri. Itu tidak masalah. Allah memakai orang yang berbeda-beda dengan cara yang berbeda pula. Setelah berkata demikian, kita seharusnya mengambil kesempatan untuk pergi dalam jangka pendek. Berbagai badan misi memunyai proyek-proyek yang berkisar dari satu minggu sampai dua bulan. Cara yang baik untuk memperoleh keterangan tentang mereka adalah dengan mengikuti semacam "Urbana Mission Conference", yang diselenggarakan oleh InterVarsity Christian Fellowship. Juga gereja-gereja daerah sering mensponsori perjalanan-perjalanan singkat. Pergi bersama gereja Anda memungkinkan Anda untuk ambil bagian dalam hati Allah bagi dunia, juga membangun relasi dalam gereja Anda.

Sebelum saya pergi ke Rusia, wajah-wajah yang saya asosiasikan dengan Rusia adalah milik Lenin, Stalin, Gorbachev, Yeltsin, dan siapa pun yang kebetulan berkuasa dan menghiasi berita-berita pada pukul 6 sore. Sekarang, jika saya mendengar orang berbincang tentang Rusia, saya teringat Tatiana, teman sekamar saya dalam perjalanan itu yang akhirnya datang pada Penelaahan Alkitab kami yang terakhir; Olga, seorang Kristen yang masih muda tapi bertumbuh; Elena yang keluarganya bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 2 malam untuk menyediakan hidangan khusus bagi kami dan yang menangis ketika kami pergi; Basil, yang mulai membaca Alkitab yang diberikan kepadanya; Alexa; dan yang lainnya. Pergi dalam misi jangka pendek membantu kita melihat mengapa Allah begitu peduli kepada semua orang di dunia. Ketika Anda diutus untuk misi jangka pendek, dunia tiba-tiba memunyai wajah.

Cara lain untuk menemukan wajah dunia adalah dengan terlibat dalam melintasi budaya secara lokal. Ini dapat terjadi dengan memilih untuk mengunjungi suatu gereja, yang sebagian anggotanya berbeda ras dari Anda. Ini bisa berarti Anda membantu dapur umum atau badan misi lokal. Ini dapat berarti menjangkau mahasiswa-mahasiswa internasional di perguruan tinggi lokal, atau mereka yang bekerja pada perusahaan Anda. Ke mana saja dan dengan cara apa pun, ini berarti mengenal seseorang dari budaya lain pada level pribadi.

Misi-Misi Jangka Panjang: Mengubah Wajah Dunia

Yesus berfirman kepada murid-murid-Nya, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah pada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja tuaian itu." (Matius 9:37-38) Walaupun kita bisa menjadi bagian penuaian di rumah, penting bagi kita untuk bertanya, "Apakah Allah meminta saya untuk melayani sebagai utusan jangka panjang di luar negeri?"

Statistik yang dikutip dalam "The New Context of World Mission" sangat mengejutkan. Mereka menunjukkan kebutuhan besar di seluruh dunia. Di bagian-bagian dunia yang paling sedikit diinjili (negara-negara seperti Bangladesh, sebagian negara China dan India, Pakistan, Turki, dan Myanmar), ada lebih dari 1,1 miliar orang yang mungkin tidak akan mendengar Injil kecuali seseorang datang kepada mereka. Lima ratus kelompok orang di wilayah ini tidak pernah mendengar tentang kebenaran mengenai Yesus, dan dari 332.000 misionaris yang ada di dunia, hanya empat ribu yang tersebar di sana.

Jika engkau berpikir untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan ke luar negeri untuk jangka panjang...

  1. Kenalilah Alkitab! Temukan seseorang untuk membantu Anda belajar tentang firman Allah secara mendalam!

  2. Terlibatlah dalam persekutuan setempat! Anda akan membutuhkan dan menginginkan gereja Anda untuk mendukung Anda dalam doa-doa, dorongan semangat, dan keuangan.

  3. Cari tahu seperti apa "hidup di ladang pelayanan"! Berbicaralah dengan misionaris jika Anda memiliki kesempatan!

  4. Bacalah biografi dan otobiografi dari para misionaris!

  5. Berilah tumpangan bagi para misionaris yang sedang cuti!

  6. Telitilah badan-badan misi (Urbana Missions Conference adalah tempat yang bagus untuk diperkenalkan kepada ratusan badan misi yang bagus)!

  7. Carilah seorang mentor! Berbicaralah dengan pendeta Anda! Biarkan orang-orang mengetahui apa yang Anda pikirkan, sehingga mereka dapat membimbing Anda!

  8. Berdoalah untuk masa depan Anda!

  9. Berdoalah untuk para misionaris yang ada sekarang!

  10. Ikutilah berita-berita dari belahan dunia yang menarik hati Anda!

  11. Cari tahu pendidikan, keterampilan, atau bahasa apa yang mungkin Anda perlukan!

  12. Mengambil bagian dalam misi jangka pendek.

  13. Pertimbangkanlah untuk bekerja di sebuah kantor bisnis sekuler di luar negeri (yang disebut juga pembuat tenda/tentmaking) dan membagikan Injil! Orang-orang bisnis diizinkan masuk ke negara-negara di mana visa misionaris dibatasi atau mustahil diperoleh.

Apakah Allah berbisik (atau berteriak) di telinga Anda agar Anda terlibat? Apakah Anda berpikir bahwa itu semua bukan tanggung jawab Anda, bahwa orang lainlah yang akan berdoa, memberi, atau pergi? Pikirkanlah lagi! Tanyakanlah pada diri Anda sendiri, "Apakah hatiku mirip dengan hati Yunus atau hati Allah?" Ambillah beberapa langkah hari ini untuk membuatnya mirip dengan hati Allah. Hati seorang murid haruslah mencerminkan hati Allah.

Menjalankan Iman Anda

  1. Gambarkan perbedaan hati Allah dan hati Yunus! Apakah hati Anda lebih menyerupai hati Yunus atau Allah? Mengapa?

  2. Bukti apa yang ada dalam Alkitab tentang kepedulian Allah bagi seluruh dunia?

  3. Sebutkan tiga peristiwa utama yang terjadi di dunia minggu lalu! Jika Anda tidak tahu, pergilah ke perpustakaan dan carilah di koran-koran internasional! Menurut Anda, bagaimana perasaan Allah tentang peristiwa-peristiwa tersebut? Bagaimana perasaan Anda sendiri?

  4. Langkah-langkah apa yang dapat Anda ambil hari ini untuk menjadi seorang Kristen dunia?

Bacaan yang Disarankan

  1. "Your Mission, Should You Accept It" oleh Stephen Gaukroger, InterVarsity Press.

  2. "Shadow of the Almighty" oleh Elisabeth Elliott, Harper, San Fransisco.

  3. "Six Dangerous Questions to Transform Your View of the World" oleh Paul Borthwick, InterVarsity Press.

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Faith on the Edge
Judul buku terjemahan :Iman di Saat Krisis: Tetap Setia Mengikut Yesus
Judul bab :Mengganggu Dunia
Penulis :Amy Brooke
Penerjemah :Iwan Wibowo
Penerbit :Literatur Perkantas, Jakarta 2010
Halaman :168 -- 177

Pandangan Tentang Waktu

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Setelah sekian lama tidak berjumpa, senang sekali akhirnya kami bisa menjumpai lagi para pelanggan e-Reformed. Doa kami, kiranya Anda memaafkan keabsenan e-Reformed selama satu setengah tahun terakhir ini dan menyambut baik kemunculan kembali e-Reformed di tahun 2012.

Edisi Januari 2012 di bawah ini ingin mengajak Anda untuk merenungkan kembali tentang konsep WAKTU, sebuah artikel yang kami ambil dari buku yang berjudul "Waktu dan Hikmat" yang merupakan transkrip khotbah dari Pdt. Dr. Stephen Tong.

Melalui perenungan artikel ini saya berharap Anda akan lebih berhati-hati menggunakan waktu Anda, dan menggunakannya untuk sesuatu yang bermakna kekal. Kalau selama ini Anda hanya melewatkan waktu seadanya saja, tanpa dipikirkan, semoga setelah membaca artikel ini Anda bertobat dan bisa menjadi lebih berhikmat karena tahu bahwa waktu adalah anugerah kesempatan yang Tuhan berikan untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, yaitu memuliakan nama-Nya. Mari kita menjalani tahun 2012 dengan cara pandang waktu yang alkitabiah sehingga Tuhan dimuliakan melalui hidup kita dan kita tidak memakai hidup kita dengan sia-sia.

Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,

Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
124/Januari 2012
Tanggal: 
01-02-2012
Isi: 

Pandangan Tentang Waktu

"Kita perlu pula memikirkan kembali pandangan orang-orang dunia mengenai waktu. Mereka sering berkata, 'Time is Money' -- Waktu adalah uang."

Apakah Waktu Itu?

Agustinus mengakui, "Kalau ditanyakan pada saya, baru saya sadar bahwa saya tidak mengerti apa itu waktu." Seorang sastrawan China pernah mengatakan, "Waktu adalah sesuatu yang tidak kelihatan, tetapi begitu nyata." Pada waktu kita berjalan, waktu itu lewat di antara kaki kita. Pada waktu kita tidur, "waktu" sedang lewat di sekitar tempat tidur kita. Ini semua memberikan keinsafan kepada kita, bahwa waktu sedang kita pakai, baik secara sadar maupun tidak. Kita sedang menjelajah di dalam sejarah, memakai waktu yang diberikan Tuhan kepada kita.

Di dalam sejarah filsafat, kita melihat pada abad ke-20, kesadaran dan kepekaan tentang waktu yang ditulis oleh banyak orang. Salah seorang pemikir terbesar dari Jerman di abad ke-20, yang bernama Martin Heidegger (1889-1976), menulis buku "Being and Time" (1927) -- Keberadaan dan Waktu, yang tebalnya lebih dari 1500 halaman. Kesimpulannya, manusia harus hidup secara otentik, hidup di dalam waktu. Tetapi para penganut eksistensialisme yang lebih pesimis mengatakan bahwa, keadaan dari keberadaan akan ditelan oleh ketidakberadaan. Maksudnya, ketika waktu kita selesai, kita akan menjadi nihil. Ini bukan konsep Kristen, tetapi konsep ini sudah muncul dalam pemikiran beberapa tokoh eksistensialisme sayap kiri yang atheis, seperti Jean-Paul Sartre (1905-1980). Inilah pemikiran orang-orang yang belum mengenal kebenaran, keberadaan manusia menuju kepada keberadaan yang nihil atau kosong. Artinya, sekarang kita ada, hidup dan menikmati segala sesuatu. Tetapi, pada suatu hari, pada waktu kita mati, segalanya selesai dan tidak ada apa-apa.

Kita sudah belajar bahwa salah satu hal yang paling sulit untuk kita mengerti mengenai waktu adalah realitas waktu itu sendiri. Ada beberapa butir yang penting mengenai waktu. Pertama, waktu merupakan sesuatu esensi proses di dalam dunia yang relatif; waktu berkaitan dengan proses. Segala sesuatu yang berada di dalam proses tidak bersifat mutlak. Ini dalil yang sangat penting. Hanya Allah yang bersifat mutlak. Allah adalah Pencipta langit dan bumi; Dia telah menciptakan dunia relatif, maka Dia sendiri tidak terikat atau terbatas di dalam dunia relatif. Itulah sebabnya Allah tidak memerlukan proses; Dia adalah "I Am that I Am" -- Yang Ada dan Kekal Sampai Kekal, Yang Tidak Berubah. Tetapi kita semua yang diciptakan di dalam dunia mengalami proses, dan di dalam proses kita memerlukan waktu, dan proses mengalami suatu esensi waktu. Itulah sebabnya, waktu adalah esensi dari proses di dalam dunia relatif.

Kedua, waktu merupakan suatu harta milik yang bersifat paradoks dan eksistensi kita. Uang, rumah, mobil, emas, dan segala sesuatu yang kita miliki merupakan harta milik kita di luar diri kita, tetapi waktu merupakan harta milik di dalam diri kita. Jadi, waktu merupakan sesuatu yang begitu penting dan serius, karena waktu adalah harta milik yang selalu dijalankan oleh manusia. Banyak orang mementingkan uang, harta di luar diri mereka, dan menggantinya dengan harta di dalam diri mereka; sering kali mereka merasa menjadi orang yang sangat pandai karena bisa mendapatkan banyak uang. Namun, pada saat mereka kehilangan waktu yang ada dalam diri mereka untuk mendapatkan sesuatu yang nilainya kurang daripada waktu, mereka sebenarnya adalah orang-orang bodoh. Setelah mereka mendapatkan segala sesuatu, pada waktu mereka akan mati, mereka baru menyadari bukan saja semua itu tidak bisa dibawa mati, tetapi juga mereka sudah menghamburkan waktu yang penting untuk hal yang tidak bernilai kekal.

Uang memang penting dan kita perlukan, tetapi uang tidak pernah menjadi lebih penting daripada hidup kita. Mengapa kita harus menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun hanya untuk uang; beruang hanya untuk satu nilai? Salah satu penilaian yang paling tidak bernilai adalah penilaian yang diwarisi oleh kebudayaan Tionghoa, "Nilai satu-satunya adalah uang." Apakah bangsa yang paling mementingkan (mengejar) uang menjadi bangsa yang terkaya di dunia? Belum tentu! Sayang sekali, jika manusia tidak memunyai tujuan hidup yang lain, kecuali mencari uang; mereka sebenarnya adalah orang-orang miskin. Kita tidak boleh lupa, waktu yang ada pada kita adalah harta milik yang sangat penting dan paling berharga, dan yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Musa begitu sadar akan hal ini. Dia adalah orang pertama yang mendapat wahyu Tuhan tentang ciptaan, tentang segala perubahan, tentang banjir besar pada zaman Nuh, tentang permulaan dosa dan kematian, dan dia orang pertama yang mencatat sejarah manusia. Waktu Musa mencatat, dia menyadari orang pertama (Adam) 930 tahun umurnya, yang paling tua (Metusalah) 969 tahun. Nuh 950 tahun, Abraham 175 tahun, Harun 123 tahun, dan Musa sendiri 120 tahun. Sedangkan orang-orang sezamannya kebanyakan hanya berusia 70 sampai 80 tahun. Dari sinilah Musa memunyai kesadaran yang belum pernah ada pada orang lain. Kesadaran ini begitu dalam di dalam diri Musa, sehingga dia menuliskan, "Tuhan, hari-hari kami dihanyutkan, dihanguskan di dalam gemas dan kemarahan-Mu".

Konsep waktu kita mengerti dengan jelas pada waktu kita memunyai keadaan yang memiliki relasi dengan Tuhan Allah. Kalau kita tidak hidup tanpa kesadaran eksistensi menghadap Tuhan Allah, kita akan hidup tanpa kesadaran akan waktu. Inilah perbedaan antara manusia dengan binatang. Manusia diciptakan bagi Allah, dengan pengertian dan kesadaran menghadap Allah, maka manusia memunyai kemungkinan kesadaran akan waktu, sedangkan binatang tidak. Binatang tidak pernah sadar bahwa waktu sedang memproses mereka menjadi tua dan mati. Musa adalah orang yang paling mengerti paradoks tentang waktu ini.

Ketiga, waktu merupakan suatu realitas yang berhubungan dengan ruang. Semua yang diciptakan Allah memunyai tiga unsur yang paling penting, yaitu ruang, waktu, dan eksistensi. Ruang dan waktu merupakan wadah eksistensi segala yang diciptakan Allah. Maksudnya, Allah menciptakan segala sesuatu dan segala sesuatu itu ditaruh di dalam dua wadah, yaitu ruang dan waktu. Sering kali kita hanya memikirkan ruang sebagai wadah, padahal waktu pun merupakan wadah. Jadi, ruang dan waktu merupakan wadah yang menampung eksistensi kita; ini penting kita sadari. Di surat kabar, kedua wadah ini secara tidak sadar diakui, hari ini tanggal..., terbit... halaman. Demikian juga di batu-batu nisan, lahir di..., tanggal/tahun...

Banyak orang hanya memikirkan soal ruang; sudah berapa luas tanah yang mereka beli, rumah yang mereka miliki, uang dan kekayaan yang mereka punyai, dan sebagainya. Sedangkan soal waktu mereka sama sekali buta. Mengapa sering kali manusia hanya melihat ruang sebagai wadah dan kurang bisa memandang waktu juga sebagai wadah? Karena sebagai wadah, ruang kelihatan lebih konkret dibandingkan dengan waktu. Orang yang bijaksana memunyai kepekaan terhadap waktu, dan waktu dengan ruang diseimbangkan; orang ini akan memunyai kekuatan yang luar biasa di dalam hidupnya.

Pengertian dan kesadaran akan waktu ini penting sekali. Dan kalau kita mau menggarap pekerjaan Tuhan, kita tidak boleh membuang-buang waktu hanya untuk perselisihan dan saling mengkritik. Ada orang yang demikian sempit di dalam memandang Kerajaan Allah. Paulus berkata, "Asal Injil (Kristus) diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur." (Filipi 1:18) Dia melihat waktu lebih penting daripada metode dan yang lainnya. Tetapi ini tidak berarti motivasi kita di dalam melayani Tuhan tidak penting, karena kita akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Keempat, waktu merupakan kebutuhan bagi benda bergerak di dalam ruang. Pada waktu suatu benda di dalam ruang bergerak, mendatangkan dimensi yang keempat. Apakah hal-hal rohani termasuk dimensi keempat? Bukan, karena hal-hal rohani termasuk dimensi tidak terbatas. Kalau kita mengerti hal-hal rohani hanya di dalam dimensi keempat, ini akan menjadi sangat sempit (dangkal). Sebenarnya, istilah dimensi keempat ini sudah dipakai di dalam bidang fisika sebelum tahun empat puluhan oleh Albert Einstein; dia mengatakan bahwa ruang adalah tiga dimensi, tetapi waktu termasuk dimensi keempat. Pada waktu titik bergerak menjadi garis, garis bergerak menjadi bidang, bidang bergerak menjadi ruang, dan pada saat ruang bergerak memerlukan waktu; inilah yang dimaksud oleh Einstein sebagai dimensi keempat.

Dimensi keempat ini hanyalah merupakan suatu pelengkap dimensi ketiga (ruang); keduanya sama-sama diciptakan Allah sebagai wadah bagi ciptaan. Sedangkan hal-hal rohani, hubungan kita dengan Tuhan, termasuk dimensi tidak terbatas, jauh lebih tinggi daripada dimensi keempat; semua yang terbatas tidak mungkin mengerti hal rohani. Di dalam peribahasa Tionghoa kuno, alam semesta dilukiskan dengan dua istilah. Istilah pertama, berarti atas, bawah, dan keempat sudut. Istilah kedua berarti dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Atas, bawah, dan keempat sudut melukiskan ruang. Dulu, sekarang, dan seterusnya melukiskan garis waktu. Maka, ruang dan waktu membentuk alam semesta. Demikianlah waktu merupakan dimensi yang keempat, yang memperlengkapi ketiga dimensi lain yang menjadi unsur pertama.

Pada waktu Musa sudah tua, dia mengetahui usianya sudah cukup panjang, dan dia sadar waktu hidupnya sudah semakin singkat. Dia mau masuk ke dalam tanah yang dijanjikan Tuhan; waktunya sudah terbatas, tetapi ruangnya masih banyak sekali. Lalu dia mohon kepada Tuhan, "Izinkanlah aku masuk ke tanah yang Kau janjikan itu." Tetapi Tuhan berkata, "Tidak, karena engkau pernah tidak menguduskan Aku di hadapan umat-Ku" (Bilangan 27:12-14; Ulangan 3:23-27; 32:48-52). Tuhan hanya memerintahkan Musa naik ke puncak gunung Pisga dan memandang tanah perjanjian itu, tetapi dia tidak diperkenankan masuk ke sana; ruangnya bisa dilihat, tetapi waktunya tidak ada lagi.

Kelima, waktu merupakan suatu wadah untuk menampung segala peristiwa sejarah. Sejarah dicatat dalam buku, tetapi sejarah tidak ditampung di dalam buku, melainkan di dalam waktu. Waktu membentuk sejarah. Waktu dan kejadian-kejadian yang berada di dalam kelangsungan proses waktu membentuk keseluruhan sejarah; dan ini merupakan suatu hal yang sangat serius. Wells, seorang sejarawan Inggris yang bukan Kristen, pernah berkata, "Setiap titik dari sejarah demikian dekat pada Allah." Sayangnya, kita tidak memunyai kesempatan untuk menanyakan apa maksud perkataannya itu sebenarnya. Tetapi kebanyakan orang yang menyelidiki sejarah memang memunyai kepekaan yang luar biasa tentang waktu. Mengapa tidak semua yang terjadi di dalam waktu dicatat sebagai sejarah? Karena dianggap tidak bermakna. Hanya kejadian-kejadian yang bermakna yang dikumpulkan dan dicatat sebagai sejarah.

Di dalam bahasa Yunani (bahasa yang dipakai Allah untuk mewahyukan kebenaran Kitab Suci), kata yang dipakai untuk waktu ada dua, yaitu "kronos" dan "kairos". "Kronos" adalah urutan waktu, sedangkan "kairos" menunjukkan hakikat waktu. Orang Yunani sangat peka mengenai waktu, sehingga waktu dibagi ke dalam 64 tense. Bahasa Inggris memunyai 16 tense. Bahasa Indonesia tidak mengenal sistem seperti ini. Kalau kita mempelajari kebudayaan Yunani sebelum Kristus datang ke dunia, kita akan merasa kagum. Di dalam seni, mereka berusaha memakai ruang untuk menangkap waktu, dan hal ini diwariskan sampai Renaissance, bahkan hingga zaman modern. Lukisan, ukiran, dan patung-patung seni yang bermutu selalu berusaha menggabungkan ruang dan waktu. Banyak karya seni yang tinggi mencetuskan filsafat atau pikiran orang-orang yang berbobot, dan mengajar kita sebagai manusia yang pernah hidup di dalam dunia, untuk tidak membiarkan waktu kita lewat bersama ruang yang sekaligus menjadi wadah (penampung) dari eksistensi kita. Apalagi sebagai orang Kristen, kita harus memunyai kepekaan mengenai waktu yang melebihi orang-orang yang bukan Kristen.

Konsep Mengenai Waktu

Kita perlu memikirkan kembali pandangan orang-orang dunia mengenai waktu. Mereka sering berkata, "Time is Money" -- waktu adalah uang. Pepatah ini bodoh sekali. Waktu bukan uang; kalau waktu adalah uang, maka kita bisa menukar waktu dengan uang. Ada peribahasa mengatakan, "Lebih mudah mencari uang dengan waktu, tetapi tidak mudah dengan uang mencari waktu." Pepatah Tionghoa kuno mengatakan, "Satu inci waktu sama dengan satu inci emas nilainya, tetapi satu inci emas tidak bisa menggantikan satu inci waktu." Kalau orang di Barat berkata, "Time is Money", maka orang di Timur (Tionghoa) berkata "Time is money, but money is not time". Kalau waktu bukan uang, bagaimanakah kita memandang waktu?
  1. Waktu adalah Hidup
    Berapa panjang hidup kita, itulah seberapa panjang waktu kita; selesai hidup kita, selesai pula waktu kita; berhentinya eksistensi kita ditentukan berhentinya waktu yang ada pada kita. Kalau kita benar-benar mencintai diri kita sendiri, cintailah waktu yang ada pada hidup kita sendiri. Apa yang dapat kita kerjakan sekarang, jangan tunda sampai besok; apa yang bisa kita pelajari di masa muda, jangan tunggu sampai tua. Berapa banyak orang yang menyesali hidupnya; mengeluh karena tidak mungkin memutar kembali (mengembalikan) sejarah atau waktu yang sudah lewat. Penyesalan merupakan suatu kesedihan yang perlu kita prihatinkan, tetapi kita tidak memunyai daya apa-apa untuk menolong, karena penyesalan berarti mengakui ketidakberdayaan diri kita yang berada di dalam keterbatasan. Agar hidup kita tidak penuh penyesalan, kita harus cepat-cepat mengerjakan apa yang Tuhan inginkan kita kerjakan sekarang.

  2. Waktu adalah Kesempatan.
    Sebenarnya waktu lebih daripada kesempatan, tetapi setiap kesempatan tidak mungkin berada di luar waktu. Semua kesempatan berada di dalam waktu. Hal ini tidak berarti kita boleh memilih setiap kesempatan berdasarkan interes (keinginan/kecenderungan) kita sendiri, tetapi kita harus peka terhadap pimpinan Tuhan, lalu kita menangkap semua kesempatan yang penting.
    Di dalam mitologi Yunani, dewa kesempatan dilukiskan dengan kepala botak di bagian belakang dan rambutnya hanya di bagian depan, dan memunyai sayap di kakinya, sehingga dewa kesempatan berjalan cepat sekali. Dewa kesempatan jarang lewat, maka manusia harus mencarinya. Kalau dewa kesempatan itu lewat dan manusia berusaha mengejarnya; ia tidak mungkin dapat mengejarnya, karena ia memunyai sayap di kakinya. Lagi pula kita tidak bisa menangkapnya dari belakang, karena kepala bagian belakangnya botak. Tetapi kalau manusia sudah bersiap-siap untuk menangkapnya sebelum dia tiba, dan begitu dia tiba langsung menangkapnya, masih bisa menangkapnya dengan memegang rambutnya yang di depan. Kita tidak memercayai mitologi mana pun, tetapi di dalam mitologi seperti itu ada pelajaran yang bisa kita dapatkan. Hal ini digabungkan dengan tiga kalimat, "Orang bodoh selalu membuang kesempatan; orang biasa menunggu kesempatan; orang pandai (bijaksana) mencari kesempatan". Kalau hari ini kesempatan itu datang, biarlah kita sudah bersiap-siap menangkapnya. Ketika banyak kesempatan yang disodorkan kepada kita, kita harus memilih yang terpenting.
    Hidup kita hanya sekali; kita tidak kembali lagi setelah mati. Kita harus mengerjakan apa yang Tuhan ingin kita lakukan selama hari masih siang, sebab pada waktu malam tidak ada seorang pun dapat bekerja (band. Yohanes 9:4).

  3. Waktu adalah Catatan (Red: "legacy" (Ingr))
    Yakni catatan segala sesuatu di dalam hidup pribadi kita masing-masing. Tidak ada yang lebih serius dibandingkan dengan waktu, karena segala sesuatu dicatat di dalam waktu; segala sesuatu akan dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Pencipta, Penebus, dan Hakim kita yang agung. Segala yang kita pikirkan dan kerjakan pasti akan memperhadapkan kita kepada Tuhan Allah, dan pada waktu itu kelak tidak ada seorang pun dapat menolong kita. Biarlah sekarang juga kita bertobat, meninggalkan segala dosa, memperbaiki kehidupan kita masing-masing, dan serahkan diri kepada Tuhan. Selama kita masih ada waktu untuk hidup, selama masih bereksistensi, selama masih diberikan kesempatan oleh Tuhan, biarlah kita gunakan waktu kita sebaik-baiknya.

Kita tidak mengetahui hidup kita di dunia ini berapa lama. Marilah kita masing-masing menanyakan diri kita sendiri, "Sebelum saya pergi menuju kekekalan, menghadap Tuhan, apa yang sudah saya persiapkan dan yang akan saya persembahkan kepada-Nya?" Biarlah setiap kita memunyai kesadaran akan waktu.

Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku :Waktu dan Hikmat
Judul bab :Pandangan Tentang Waktu
Penulis :Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit :Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta 1994
Halaman :29 -- 38

Komentar


Syndicate content