Dear e-Reformed Netters,
Benar, bahwa semua pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan itu baik,
tak peduli jabatan atau peran yang kita emban dalam melayani. Namun,
kita harus selalu waspada karena tidak semua pelayanan yang kita
lakukan menyenangkan hati Tuhan, meskipun apa yang kita lakukan itu
baik. Salah satu hal yang membedakan pelayanan yang menyenangkan-Nya
dan yang tidak adalah bagaimana cara kita memandang dan melakukan
pelayanan yang saat ini sedang kita lakukan -- apakah sebagai
panggilan atau sebagai karier?
Saat ini banyak orang yang menganggap bahwa pelayanan yang mereka
lakukan adalah sebuah panggilan, padahal bukan. Mereka sebenarnya
menghidupi pelayanan mereka sebagaimana layaknya dalam berkarier.
Pelayanan semacam itu jelas dapat merusak hubungan kita dengan Allah
karena pada dasarnya hal inilah merupakan esensi dari sebuah panggilan
untuk melayani.
Melalui sajian di bawah ini, bersama-sama kita akan dibawa dalam suatu
pemahaman mengenai apa artinya panggilan dan apa bedanya dengan
pelayanan yang hanya merupakan karier. Tentu saja kami berharap agar
kita semua memiliki jiwa pelayanan yang benar dan menghidupi pelayanan
kita sebagai sebuah panggilan -- sebuah pelayanan yang Dia inginkan
dan yang pasti berkenan di hati-Nya.
Selamat menyimak.
Redaksi Tamu e-Reformed,
Dian Pradana
----------------------------------------------------------------------
PANGGILAN -- APAKAH PELAYANAN ITU SUATU KARIER
Cara kita memandang tugas dapat mengubah apa yang ada dalam dunia --
dan juga gereja.
Saya sering dipusingkan dengan hal yang kita sebut sebagai
"panggilan". Apa itu panggilan? Bagaimana cara Saudara mengetahui
datangnya panggilan itu?
Banyak yang tidak saya ketahui. Namun, satu hal yang benar-benar bisa
saya jelaskan ialah bahwa panggilan bukanlah karier. Ada perbedaan
mendasar di antara kedua hal ini. Penting bagi kita untuk mengerti apa
itu panggilan Allah, khususnya pada saat ini.
Kata "karier" itu sendiri sudah mengacu kepada pembedaan tersebut.
Kata bahasa Inggris, "career", berasal dari bahasa Perancis,
"carriere", yang berarti suatu jalan atau suatu "highway". Gambaran
ini menyiratkan adanya satu tujuan dan peta jalan yang ada dalam
genggaman, tujuan di depan mata, tempat-tempat berhenti untuk makan,
penginapan, dan tempat pengisian bahan bakar.
Dari gambaran sebelumnya, kita bisa menyebutkan bahwa karier seseorang
ibarat sebuah jalan yang telah dia ambil. Semakin sering
membicarakannya, semakin kita melihat jalur ke depan yang diambil dan
direncanakan untuk kita lalui secara profesional. Ibarat suatu jalan
yang peta dan rencananya telah dibuat, mencapai tujuan menjadi hal
yang terutama. Jalannya telah ditandai dengan baik. Selanjutnya
terserah kepada orang yang akan melakukan perjalanan tersebut.
Tidak seperti karier, panggilan sama sekali tidak dipetakan. Tidak
satu jalur pun yang akan diikuti. Tidak ada tujuan yang dapat dilihat.
Panggilan lebih bersandar kepada mendengarkan "suara". Organ iman
untuk panggilan adalah telinga, bukan mata. Yang pertama dan terakhir,
itulah sesuatu yang perlu didengarkan oleh seseorang. Segala sesuatu
hanya bersandar pada hubungan yang ada antara pendengar dan Dia yang
memanggilnya.
Bila karier berarti membuat sebuah formula dan cetak biru (blue
print), suatu panggilan hanya bertujuan untuk membina hubungan. Suatu
karier bisa didapat hanya dengan memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu, sedangkan panggilan tidak.
Ketika Musa mendengar Allah memanggilnya untuk membebaskan para budak
di Mesir, tanggapan pertamanya adalah seolah-olah ia muncul dengan
keputusan yang bersifat karier. Apakah dia memenuhi syarat? Apakah dia
memunyai pengalaman cukup dan kemampuan khusus yang diperlukan untuk
tugas semacam itu? Dia berbicara dengan Allah yang sepertinya sedang
mengadakan wawancara untuk suatu pekerjaan. Siapakah saya yang
melakukan pekerjaan semacam ini? Bagaimana jadinya kalau rakyat tidak
mau menurut? Dan apakah Allah tidak tahu kalau Musa bukanlah orang
yang pintar berbicara di muka umum?
Semua hal tersebut tidak relevan bagi Allah. Selanjutnya, yang terjadi
adalah Musa yakin bahwa Allah dapat dipercayai sehingga ia pun
berkata, "Aku akan mengikuti-Mu."
Pendeknya, yang menjadi perhatian adalah panggilan tersebut -- dan
Musa pun mengikatkan dirinya pada Dia yang menyerukan panggilan itu.
BAHAYA SEORANG PROFESIONAL
Jika kita memandang panggilan kita sebagai suatu karier, kita
merendahkan pelayan-pelayan Yesus sebagai seorang makhluk hambar yang
disebut "kaum profesional". Berpakaian baik, berbicara dengan baik,
dilengkapi dengan kepandaian, mengerti kepemimpinan, pintar dalam
manajemen, dan belajar mengenai seluk-beluk pemasaran -- tentu saja
semua itu baik kalau dipergunakan bagi sebuah pekerjaan. Kita ingin
membuat tanda pada dunia, sedikit memberi respek pada para
profesional, dan untuk selamanya memancarkan citra seperti Pendeta
Rodley Dangerfield.
Dengan perasaan yang realistis, kaum profesional berharap agar gereja
memperlakukan mereka sebagai seorang profesional sehingga untuk
berhubungan, diadakan perundingan tentang gaji dan keuntungan-
keuntungan yang akan didapat.
Sungguh suatu hal yang mengerikan ketika kita mendapati seorang
rohaniwan yang akan memakai kepandaian dan kecanggihannya, berdagang
misalnya, guna meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Gereja-
gereja mungkin akan bertumbuh -- dan rohaniwan melakukannya tanpa
bersandar pada sesuatu pun.
"Allah memerdekakan kita dari mereka yang memakai sikap profesional,"
kata Pendeta John Piper dari Minneapolis. Dengan mengikuti gema suara
Paulus, dia bertanya, "Apakah Allah membuat hamba-hamba Tuhan menjadi
yang terakhir dalam keseluruhan ciptaan dunia-Nya ini? Demi Kristus
kita adalah orang-orang bodoh yang lemah. Menjadi seorang profesional
memang bijaksana. Mereka yang profesional memang diangkat dengan
kehormatan .... Namun, profesionalisme tidak ada hubungannya dengan
inti dan hati pelayanan Kristen karena tidak ada seorang profesional
yang seperti anak kecil. Tidak ada seorang profesional yang lemah
lembut. Tidak ada seorang profesional yang mencari pertolongan kepada
Allah." Bagaimana cara Saudara membawa salib secara profesional?
Apakah arti beriman secara profesional itu?
Karierisme telah mendorong adanya pemisahan antara Allah yang
memanggil dan individu yang menjawab-Nya. Hal itu mengarahkan kita
untuk percaya bahwa penampilan lebih penting daripada diri kita
sehingga apa yang kita lakukan dalam lingkungan gereja tak ubahnya
dengan pertemuan antara pembeli dan penjual (tempat seperti itu
disebut pasar), di mana suasana lebih penting dibandingkan posisi kita
di hadapan Allah.
Karierisme akan memberikan rasa percaya diri pada kita. Padahal dalam
melakukan panggilan, kita perlu gemetar dan berseru untuk pengampunan.
Hal seperti itu tidak ada dalam silabus para profesional, padahal
Paulus sendiri datang ke Kota Korintus dalam kelemahan dan kebodohan.
Demikian pula Yeremia yang menelan firman Allah dan dari situ dia
hanya mengecap rasa yang tidak enak. Atau pada Yesus yang mengakhiri
hidupnya di depan umum di atas kayu salib.
PANGGILAN ADALAH SESUATU YANG KITA DENGAR
Sebenarnya dalam cerita rakyat tentang seorang ayah dan anak laki-
lakinya, digambarkan hal yang penting mengenai panggilan. Mereka
melakukan perjalanan ke suatu kota yang jauh, sedangkan mereka tidak
memunyai peta. Perjalanan itu sangatlah panjang, tidak mulus, dan
penuh dengan bahaya. Mereka menempuh banyak jalan yang tidak bisa
mereka kenali dan sudah tidak berupa jalan lagi.
Di tengah perjalanan, anak laki-lakinya bertanya-tanya. Dia ingin
mengetahui apa gerangan yang ada di balik hutan, jauh di seberang
tepian? Bisakah dia melintasi dan melihatnya? Ayahnya pun
mengizinkannya.
"Tetapi, Ayah, bagaimanakah caranya supaya saya tahu kalau-kalau saya
telah berjalan terlalu jauh dari engkau? Bagaimanakah caranya supaya
saya jangan sampai tersesat?"
"Setiap menit," kata sang ayah, "saya akan memanggil namamu dan
menunggu jawabanmu. Dengarkanlah suaraku, anakku. Di saat engkau tidak
bisa lagi mendengar suara ayah, engkau akan tahu bahwa engkau telah
pergi terlalu jauh."
Pelayanan bukanlah suatu kedudukan, melainkan suatu panggilan. Bukan
ijazah profesional yang diperlukan, melainkan kemampuan mendengar dan
memerhatikan panggilan Allah. Cara yang sederhana ialah dengan cukup
menyempatkan diri untuk mendekat dan mendengar suara-Nya. Keteguhan
dalam melaksanakan tugas-tugas kita yang tidak terpikul hanya bisa
diperoleh karena uluran tangan-Nya yang tidak pernah berakhir.
PANGGILAN AKAN TETAP KUAT
Bersatu dalam panggilan Allah merupakan sesuatu yang kejam yang tidak
bisa dibantah. Dia memanggil, tetapi Dia tidak bisa dipanggil. Hanya
Dialah yang melakukan panggilan itu, sedangkan kitalah yang
menjawabnya.
"Engkau tidak memilih-Ku; Akulah yang memilih kamu," kata Yesus kepada
murid-murid-Nya. Panggilan Allah ini selalu mengandung paksaan. Bahkan
sering terkesan kejam.
Setelah pukulan yang membutakan di jalanan menuju Damaskus, akhirnya
Paulus berkata dengan jelas, "Celakalah aku ini jika tidak
mengkhotbahkan Injil!" Yeremia meratap bahwa Allah telah memaksakan
panggilan yang dia terima dan tidak pernah membiarkannya untuk ingkar,
tidak peduli seberapa parah luka yang terjadi, "Jika aku bisa berkata,
`Aku tidak akan menyebutkan-Nya atau berbicara lagi dalam nama-Nya,`
kata-kata-Nya seperti api dalam hatiku, api yang berada dalam tulang-
tulangku. Aku lelah membawa-Nya; sesungguhnya aku tidak mampu."
Spurgeon melihat penawaran secara ilahi ini sebagai tanda yang jelas
dari suatu panggilan sehingga dia menasihati orang muda untuk
memertimbangkan hal ini dan tidak mengambil jalur pelayanan jika
mereka merasa bisa melakukan hal yang lain.
Berkali-kali kami berusaha untuk menyederhanakan panggilan itu dengan
menyamakannya dengan sebuah posisi staf gereja atau dalam organisasi
keagamaan. Tetapi panggilan itu selalu mengalahkan segala sesuatu yang
kami lakukan dengan terpaksa untuk mendapatkan uang. Bahkan jika
perlu, kami juga melakukan itu di dalam gereja. Kami meminta pembedaan
yang sama untuk dicatat dalam permohonan yang dimintakan pada kami.
Panggilan kami di dalam Kristus adalah satu hal, sedangkan apa yang
kami lakukan dalam kedudukan adalah hal yang lain.
Panggilan kami adalah panggilan untuk melayani Kristus. Sementara itu,
kami juga memiliki kedudukan untuk melakukan pekerjaan dalam dunia
ini. Kami juga memiliki panggilan untuk memaksakan kedudukan pelayanan
agar bisa masuk ke dalam panggilan kami. Berbahagialah laki-laki atau
perempuan yang panggilan dan kedudukannya saling berdekatan. Tetapi
tidak akan ada bencana jika mereka tidak melakukannya.
Jika esok pagi saya dipecat dari pekerjaan saya sebagai hamba Tuhan di
New Providence Presbyterian Church, dan saya terpaksa mencari
pekerjaan di Stasiun Sunoco, panggilan saya akan tetap melekat. Saya
akan tetap terpanggil untuk berkhotbah. Tidak ada yang dapat mengubah
panggilan tersebut dengan nyata, kecuali ada situasi yang bisa
melarutkan saya. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ralph Turnbull, saya
bisa berkhotbah seperti hamba Tuhan yang dibayar oleh gereja, tetapi
saya tidak dibayar untuk berkhotbah. Saya diberi izin, oleh karena itu
saya bisa lebih bebas berkhotbah.
Berkali-kali kami mencoba menyederhanakan panggilan itu dengan
menjadikannya sebagai seorang rohaniwan. Pendidikan seminari (teologi)
tidaklah membuat seseorang memenuhi syarat untuk ditahbiskan menjadi
pendeta, tidak juga dengan bertambahnya penguatan oleh tes-tes
psikologis dan pengalaman kerja. Tentu saja hal-hal itu bisa berharga,
bahkan perlu bagi pelayanan. Tetapi tidak satu pun dari persyaratan
itu, baik secara terpisah atau pun seluruhnya, bisa memenuhi syarat.
Tidak ada kantor atau posisi yang bisa disamakan dengan panggilan.
Tidak pula ijazah, pendidikan, atau juga tes yang bisa memermudahnya.
Pelatihan, pengalaman, atau pun sukses dalam hal kegerejaan tidak akan
bisa mengambil alih sebuah panggilan.
"Patterson, coba pikirkanlah apa yang sedang Anda lakukan saat ini?"
Jawaban saya adalah mencoba untuk mengikuti panggilan tersebut.
Hanya panggilan yang bisa memberi kepuasan. Yang lain hanya sekadar
catatan kaki dan komentar.
Catatan:
--------
Ben Patterson adalah pendeta New Providence (New Jersey) Presbyterian
Church.
Kesaksian
---------
MENEMUKAN PANGGILAN HIDUP PADA MOBILITAS YANG MENURUN
Dulu saya menyenangkan hati ayah dan ibu sebaik mungkin dengan
belajar, lalu mengajar dan menjadi terkenal. Dengan pergi ke Notre
Dame, Yale, dan Harvard, saya menyenangkan hati banyak orang dan hal
itu juga menggembirakan saya sendiri.
Tetapi saya bertanya-tanya, apakah masih ada panggilan lain dalam
hidup saya. Saya mulai memerhatikan hal ini pada saat menemukan diri
saya sedang berbicara kepada ribuan orang mengenai kemanusiaan dan
pada saat yang bersamaan saya bertanya apakah yang mereka pikirkan
tentang hidup saya.
Sesungguhnya saya tidak merasakan damai sejahtera, saya kesepian. Saya
tidak tahu menjadi bagian dari siapa. Di mimbar, saya bisa berbicara
dengan baik sekali, tetapi hati saya tidaklah selalu demikian. Timbul
keragu-raguan, apakah karier saya ini tidak sesuai dengan panggilan
saya yang sesungguhnya.
Maka saya mulai berdoa, "Tuhan Yesus, biarlah saya mengetahui ke mana
Engkau mengutus saya untuk pergi dan saya akan mengikuti-Mu. Tetapi
buatlah agar terlihat jelas. Jangan berupa pesan-pesan yang
membingungkan saja!" Saya mendoakan hal ini terus-menerus.
Pada saat itu saya tinggal di Yale. Pada pagi hari pukul 09.00,
seseorang menekan bel apartemen saya. Ketika membuka pintu, saya
berhadapan dengan seorang perempuan muda.
"Apakah Anda Henri Nouwen?"
"Ya."
"Saya datang membawa salam dari Jean Vanier," katanya.
Pada saat itu nama Jean Vanier tidaklah berkesan di hati saya. Saya
hanya mendengar bahwa dia adalah pendiri L`Arche Communities (L`Arche
artinya Bahtera Nuh) dan ia bekerja untuk orang-orang yang menderita
cacat mental. Hanya itu saja yang saya ketahui.
Saya berkata, "Oh, menyenangkan. Terima kasih. Apa yang bisa saya
lakukan buat Anda?"
"Tidak, tidak," jawabnya. "Saya datang untuk menyampaikan salam Jean
Vanier."
Saya berkata lagi, "Terima kasih. Tapi apakah ia menginginkan agar
saya berbicara di suatu tempat atau menulis sesuatu atau memberikan
kuliah?"
"Tidak, tidak," dia tetap bertahan, "saya hanya datang untuk
memberitahukan bahwa Jean Vanier mengirimkan salam buat Anda."
Ketika wanita itu sudah pergi, saya duduk di kursi dan berpikir, ini
sesuatu yang khusus. Bisa jadi Allah sedang menjawab doa saya, membawa
suatu pesan dan memanggil saya untuk sesuatu yang baru. Saya tidak
diminta untuk mendapatkan pekerjaan baru atau mengerjakan proyek yang
lain. Saya tidak diminta agar berguna bagi orang lain. Tetapi cuma
diundang untuk mengetahui bahwa ada manusia lain yang pernah mendengar
tentang saya.
Hal itu terjadi kira-kira tiga tahun sebelum saya benar-benar bertemu
dengan Jean. Kami bertemu dalam suasana yang tenang pada suatu retret
di mana tidak satu patah kata pun yang terucap. Dan pada akhirnya Jean
berkata, "Henri, mungkin kami -- masyarakat orang cacat -- dapat
menawarkan rumah, tempat di mana Anda dapat merasa aman, di mana Anda
dapat bertemu dengan Allah dengan cara yang benar-benar baru."
Dia tidak meminta saya agar lebih berguna; dia tidak menyuruh saya
agar bekerja untuk orang-orang cacat; dia tidak mengatakan bahwa dia
membutuhkan hamba Tuhan yang lain. Dia hanya mengatakan, "Mungkin kami
dapat menawari Anda sebuah rumah."
Sedikit demi sedikit, saya mulai menyadari kalau saya menjawab
panggilan itu secara serius. Saya tinggalkan universitas dan pergi ke
L`Arche Community di Trosly Brevil, Perancis. Setelah setahun tinggal
dengan para penderita cacat mental dan para perawat yang hidup dengan
semangat "beatitudes", saya pun menjawab panggilan untuk menjadi hamba
Tuhan di Daybreak, di L`Arche Community dekat Toronto, sebuah
komunitas yang beranggotakan sekitar seratus orang dengan lima puluh
orang cacat dan lima puluh orang asisten perawatnya.
Tugas pertama yang dipercayakan kepada saya adalah bekerja melayani
Adam. (Dari semua nama yang ada, Adam yang diberikan kepada saya!
Kedengarannya seperti bekerja untuk kemanusiaan itu sendiri.) Adam,
pria berusia 24 tahun yang tidak bisa berbicara. Dia tidak bisa
berjalan. Dia tidak dapat mengenakan atau pun menanggalkan pakaiannya
sendiri. Anda tidak yakin apakah dia mengenali Anda atau tidak.
Tubuhnya cacat, punggungnya rusak, dan dia menderita karena sering
terserang epilepsi.
Pada mulanya saya takut terhadap Adam. "Jangan kuatir," demikian
mereka meyakinkan saya.
Saya seorang profesor dari suatu universitas. Saya belum pernah
menyentuh seseorang begitu dekat. Dan kini Adam, saya memeluk dia.
Pada jam tujuh pagi, saya pergi ke kamarnya. Saya menanggalkan
pakaiannya, menolong dia berdiri, dan memapahnya dengan hati-hati ke
kamar mandi. Saya takut karena berpikir bahwa dia bisa terserang
epilepsi secara mendadak. Saya berjuang memeras tenaga untuk
mengangkatnya ke dalam bak rendam (bathtub) karena berat badannya sama
dengan berat badan saya. Saya mulai menyiram air pada tubuhnya dan
mengangkatnya keluar dari bak rendam untuk menyikat giginya, menyisir
rambutnya, dan mengembalikan dia ke tempat tidurnya. Setelah itu, saya
mengenakan bajunya dengan pakaian yang dapat saya temukan dan
membawanya ke dapur.
Saya dudukkan dia di depan meja dan mulai memberinya sarapan. Satu-
satunya pekerjaan yang dapat dilakukannya adalah mengangkat sendok ke
mulutnya. Saya duduk dan melihat dia makan. Memakan waktu satu jam.
Saya belum pernah bersama dengan seseorang selama satu jam penuh hanya
untuk melihat apakah dia bisa makan.
Kemudian ada suatu kemajuan. Setelah dua minggu, saya tidak terlalu
takut lagi. Setelah tiga atau empat minggu, barulah saya menyadari
bahwa saya banyak berpikir tentang Adam dan berharap untuk hidup
dengan dia. Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di
antara kami -- sesuatu yang akrab dan indah dari Allah. Bahkan saya
tidak tahu bagaimanakah caranya agar bisa menjelaskannya dengan baik.
Orang yang kurang berarti ini menjadi sarana Allah untuk berbicara
kepada saya dengan cara-Nya yang baru. Sedikit demi sedikit, saya
menemukan kasih dalam diri saya dan percaya bahwa Adam dan saya saling
memiliki. Secara sederhana, Adam mengajar saya tentang kasih Allah
secara nyata.
Pertama, dia mengajari saya bahwa hidup adalah lebih penting daripada
melakukan sesuatu karena Allah ingin agar saya bersama-Nya dan tidak
melakukan segala macam pekerjaan yang tujuannya untuk membuktikan
bahwa saya berarti. Hidup saya dulu adalah kerja, kerja, dan kerja.
Saya adalah seorang yang penuh semangat, ingin melakukan ribuan
perkara sehingga saya dapat memamerkannya -- seperti itulah hingga
akhirnya saya rasa saya berarti.
Orang biasa berkata begini, "Henri, Anda baik-baik saja." Tetapi saat
sekarang, di sini dengan Adam, saya mendengar, "Saya tidak peduli
dengan apa yang Anda lakukan, asal Anda tetap bersamaku." Tidaklah
mudah tinggal dengan Adam. Tidaklah mudah untuk hidup dengan seseorang
yang tidak bisa melakukan banyak hal.
Adam mengajari saya sesuatu yang lain. Hati itu lebih penting daripada
pikiran. Kalau Anda lulusan suatu universitas, akan terasa sukar untuk
memahaminya. Berpikir logis, berargumentasi, berdiskusi, menulis,
bekerja -- itulah manusia. Tidakkah Thomas Aquinas mengatakan bahwa
manusia adalah hewan yang berpikir?
Memang, Adam tidak berpikir. Tetapi Adam memiliki hati, sungguh-
sungguh hati manusia.
Berkenaan dengan itu, saya melihat bahwa apa yang membuat seorang
manusia menjadi manusia adalah hati. Hati membuat manusia bisa memberi
atau menerima rasa kasih. Adam sedang memberikan kasih Allah yang
begitu besar dan saya sedang memberikan kasih saya buat Adam. Ada
suatu keakraban yang jauh melampaui perkataan maupun tindakan.
Saya juga menyadari kalau Adam bukan sekadar orang yang tidak bisa
mengurus dirinya sendiri, manusia yang tidak utuh, seperti saya atau
pun orang lain. Adam itu sepenuhnya manusia, begitu penuh sehingga dia
dipilih Allah untuk menjadi alat bagi kasih-Nya. Adam begitu rapuh,
lemah, dan begitu polos sehingga dia menjadi hati saya sendiri -- hati
di mana Allah ingin bertakhta, di mana Ia ingin berbicara kepada
mereka yang datang dengan hati yang rapuh. Adam adalah manusia yang
utuh, bukan setengah manusia atau manusia yang tidak lengkap. Saya
menemukan Adam sebagai manusia seutuhnya.
Saya pun menjadi mengerti apa yang sudah saya dengar di Amerika Latin,
mengapa pilihan khusus Allah diberikan kepada orang miskin. Sungguh,
Allah mengasihi mereka yang miskin dan khususnya Ia sangat mengasihi
Adam. Dia ingin berdiam dalam diri Adam yang cacat itu sehingga Dia
dapat berbicara dari ketidakmampuan ke dalam dunia yang kuat dan
memanggil orang-orang untuk menjadi tidak mampu.
Akhirnya, Adam mengajarkan sesuatu yang nyata kepada saya. Melakukan
pekerjaan-pekerjaan secara gotong royong itu lebih penting daripada
melakukannya sendiri-sendiri. Saya datang dari dunia yang biasa
bertindak secara mandiri, tetapi di sini ada Adam yang begitu lemah
dan tidak mampu. Saya tidak bisa sendirian menolong Adam. Kami
membutuhkan segala macam orang dari Brasil, Amerika Serikat, Kanada
dan Belanda -- tua muda, hidup bersama di sekitar Adam dan para
penderita cacat lainnya di satu rumah.
Saya mengerti bahwa Adam, paling lemah di antara kami, telah membuat
lingkungan yang begitu bersifat persaudaraan. Dialah yang
mempersatukan kami; kebutuhan-kebutuhannya dan ketidakmampuannya
membuat kami ada dalam masyarakat persaudaraan yang murni. Dengan
seluruh perbedaan kami, kami tidak dapat bertahan sebagai suatu
lingkungan masyarakat yang kompak apabila tidak ada Adam di situ.
Kelemahannya menjadi kekuatan kami. Kelemahannya membuat kami ada
dalam suatu lingkungan masyarakat yang penuh kasih. Kelemahannya
mengundang kami memaafkan satu terhadap yang lain, menyabarkan
perbantahan kami, agar bersama dengannya.
Itulah yang saya pelajari. Saya baru ada di Daybreak tiga tahun dan
itu tidaklah mudah. Dalam banyak hal, Notre Dame, Yale, dan Harvard
lebih mudah. Tetapi inilah panggilan hidup saya. Saya ingin tetap
setia.
-- Henri Nouwen, Daybreak, Richmond Hill, Ontario
----------------------------------------------------------------------
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul jurnal: Kepemimpinan, Volume 18/Tahun V
Penulis: Ben Patterson dan Henri Nouwen
Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 1990
Halaman: 46 -- 50 dan 57 -- 60
|