Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2013/23

e-JEMMi edisi No. 23 Vol. 16/2013 (27-8-2013)

Penginjil dan Alkitab (II)

Agustus 2013, Vol.16, No.23
______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________

e-JEMMi -- Penginjil dan Alkitab (II)
No. 23, Vol. 16, Agustus 2013

Shalom,

Sering kali, ketika memberitakan firman Tuhan, kita diperhadapkan dengan orang-
orang yang mempertanyakan keabsahan Alkitab. Beberapa dari mereka mungkin ingin 
menjatuhkan, tetapi sering kali mereka yang bertanya adalah orang-orang yang 
hanya ingin tahu lebih dalam sebelum siap membuka hati demi Injil. Namun 
demikian, pertanyaan-pertanyaan yang tajam semacam itu juga bisa menyurutkan 
kepercayaan kita terhadap firman Allah. Bagaimana seharusnya kita memandang 
Alkitab?

Pada edisi ini, kami mengajak Pembaca e-JEMMi untuk merenungkan tentang 
keabsahan Alkitab serta penyertaan Tuhan Allah atas wahyu-Nya di dunia ini. 
Dalam edisi ini, kami juga mengajak Pembaca untuk berdoa bagi Suku Belide. 
Bertekunlah dalam pelayanan bagi Tuhan Yesus Kristus. Kiranya Tuhan memberkati 
kita sekalian!

Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
Yudo
< yudo(at)in-christ.net >
< http://misi.sabda.org/ >


RENUNGAN MISI: ALKITAB

Berbagai pertanyaan mungkin timbul dalam pikiran kita tentang kebenaran Alkitab. 
Bukankah Alkitab itu hanya ditulis oleh manusia? Kalau demikian, apakah Alkitab 
tidak ada salahnya? Apakah maksudnya bahwa Alkitab ditulis dengan ilham Allah? 
Apakah perbedaan antara Alkitab dan buku-buku lainnya? Apakah dalam zaman modern 
ini kita masih perlu membaca Alkitab; bukankah Alkitab sudah ketinggalan zaman?

Ada beberapa pendapat yang salah mengenai Alkitab sehingga kadang kala membuat 
kita bingung. Misalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab ditulis oleh 
orang-orang jenius. Bila pendapat ini benar, maka Alkitab pasti ada salahnya 
atau tidak sempurna. Pendapat lain mengatakan bahwa Alkitab ditulis sepenuhnya 
oleh Allah sendiri. Pendapat ini menyangkal campur tangan manusia. Ada juga yang 
mengatakan bahwa hanya sebagian Alkitab diilhamkan oleh Allah -- Alkitab terdiri 
dari firman Tuhan, namun secara keseluruhan bukan firman Tuhan. Kelemahan 
pendapat ini ialah bagaimana kita yang membacanya dapat mengetahui mana yang 
diilhamkan Allah, mana yang bukan. Pendapat lain lagi mengatakan bahwa Tuhan 
memberikan ilham dalam pikiran si penulis, lalu terserah bagaimana si penulis 
itu menyampaikannya. Bagaimana kita bisa tahu bahwa yang ditulis si penulis itu 
benar?

Mungkin Anda juga pernah berpikir seperti salah satu pendapat di atas, namun 
semua pendapat di atas tidak benar. Sesungguhnya, Alkitab ditulis oleh 
ilham/wahyu/inspirasi dari Tuhan yang diberikan kepada manusia secara penuh, 
lengkap, dan sempurna dalam bahasa aslinya, bahkan sampai kepada penggunaan 
kata-katanya. Dua Timotius 3:16, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang 
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki 
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."

Salah satu hal yang membuat Alkitab berbeda dari buku-buku lainnya ialah bahwa 
dalam Alkitab dituliskan mengenai berbagai macam keajaiban. Pelayanan Musa dalam 
memimpin orang Israel keluar dari Mesir disertai dengan banyak keajaiban 
(Keluaran pasal 7 sampai 12). Api turun dari langit pada saat utusan Raja Ahazia 
menghadap hamba Tuhan, Elia (2 Raja-raja 1:10-15). Selain itu, keajaiban-
keajaiban yang tertulis dalam Alkitab juga diteguhkan oleh sumber-sumber lain. 
Para arkeolog meneguhkan mengenai kejadian runtuhnya tembok Yerikho. Seorang 
sejarawan bernama Josephus (orang Yahudi, bukan Kristen) dalam buku-bukunya 
menuliskan mengenai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Yesus. Bahkan, sampai 
saat ini pun, kita masih dapat mengalami tanda-tanda dan mukjizat sesuai dengan 
apa yang tertulis dalam Alkitab (Markus 16:17, 20; Ibrani 2:4).

Namun, keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam Alkitab saja tidak cukup untuk 
membuktikan bahwa Alkitab itu lain dengan buku-buku lainnya. Dalam Alkitab, ada 
sekitar 3856 nubuat. Dalam hidup Yesus sendiri, ada 300 nubuat yang digenapi. 
Kalau hanya 48 nubuat digenapi, kemungkinan itu terjadi secara kebetulan adalah 
1:10. Ini sama halnya bila kita ingin mencari sebuah elektron dalam jagat raya. 
Jadi, apa yang digenapi dalam Alkitab bukanlah sekadar kebetulan.

Mungkinkah Alkitab hanya ditulis oleh manusia? Alkitab ditulis oleh 40 penulis 
yang berbeda latar belakangnya: dokter, raja, nabi, nelayan, dsb.. Mereka 
menuliskan suatu topik yang sangat luas, ditulis dalam tiga bahasa (Ibrani, 
Aram, dan Yunani) dalam kurun waktu ± 1600 tahun. Isinya tidak ada kontradiksi, 
bahkan saling meneguhkan. Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya hanya ada satu 
penulis Alkitab, yaitu Allah sendiri.

Setelah kita mengetahui bahwa Alkitab ditulis berabad-abad yang lalu, apakah 
Alkitab tidak ketinggalan zaman? Perkiraan bahwa Alkitab sudah ketinggalan zaman 
tidak terbukti. Sebaliknya, Alkitab lebih maju dari ilmu pengetahuan manusia, 
dan manusialah yang ketinggalan zaman. Ketika Columbus menyatakan bahwa bumi ini 
bulat, penemuan ini dianggap penemuan yang besar. Namun sebetulnya, 2.500 tahun 
yang lalu, Alkitab telah menyatakan bahwa bumi ini bulat: "Dia yang bertakhta di 
atas bulatan bumi ...." (Yesaya 40:22) Juga, kehampaan di luar angkasa yang 
ditemukan ketika satelit Appolo diluncurkan telah dicatat Alkitab jauh 
sebelumnya, ketika Ayub berkata, "Allah membentangkan utara di atas kekosongan, 
dan menggantungkan bumi dalam kehampaan" (Ayub 26:7). Ilmu kedokteran pun mau 
tidak mau harus mengakui bahwa Alkitab lebih maju. Dokter mengatakan bahwa stres 
atau depresi dapat mengakibatkan kekurangan kalsium pada tulang. Alkitab 
mencatat hal ini dalam Amsal 17:22, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, 
tapi semangat yang patah mengeringkan tulang" (kurang kalsium).

Pengaruh Alkitab sampai saat ini juga merupakan suatu bukti bahwa Alkitab 
bukanlah sembarang buku. Tidak ada buku lain yang memberi pengaruh sedemikian 
besar kepada semua bangsa dari berbagai macam latar belakang, bahasa, dan 
kebudayaan, selain Alkitab. Sampai saat ini, Alkitab selalu menjadi "best 
seller" dan telah diterjemahkan dalam 1875 bahasa (baik sebagian maupun 
seluruhnya).

Voltaire, seorang ahli filosofi dari Perancis tahun 1700-an, pernah meramalkan 
bahwa Alkitab dan kekristenan akan lenyap dari muka bumi dalam waktu 100 tahun. 
Namun, ramalan ini meleset jauh karena ternyata, setelah 100 tahun pun Alkitab 
tetap ada dan dicetak dalam jumlah banyak. Antara tahun 1815 dan 1975, lebih 
dari 2,5 miliar Alkitab dicetak! Malahan, sampai saat ini, masih ada 8000 naskah 
asli dari Alkitab yang ditulis pada abad 4. Tidak ada buku yang dapat bertahan 
sekian lama seperti Alkitab, jadi adanya Alkitab sampai saat ini adalah suatu 
keajaiban. Padahal, sejak dahulu, banyak raja yang ingin memusnahkan Alkitab, 
namun tidak berhasil.

Setelah kita mempelajari apa yang terjadi dengan Alkitab (keajaibannya, kesatuan 
penulisnya, dll.), kita diperhadapkan pada suatu pilihan, apakah kita akan 
membaca Alkitab atau tidak. Tuhan sudah memberikan firman-Nya bagi kita untuk 
kelangsungan kehidupan kita, apakah kita akan membaca dan melakukannya atau 
tidak? Keputusan itu ada di tangan kita.

*Pastor Paul Tan adalah Gembala Sidang IFGF Claremont dan San Bernurdino.

Diambil dan disunting dari:
Judul majalah: HARVESTER, Edisi Januari/Februari, Tahun 1994
Penulis: Pastor Paul Tan
Penerbit: Indonesian Harvest Outreach
Halaman: 6 -- 7


PROFIL BANGSA: BELIDE DI INDONESIA

Sejarah

Orang-orang Belide tinggal di Barat Daya Palembang, di sepanjang Sungai Musi. 
Salah satu dari kerajaan-kerajaan terbesar di sejarah wilayah itu, Kerajaan 
Buddha Sriwijaya, menjadi makmur dan berkembang di tepi Sungai Musi, di Sumatera 
Selatan selama ribuan tahun yang lalu. Kerajaan Sriwijaya adalah penguasa 
maritim utama yang mengendalikan selat-selat terdekat dari Malaka, yang 
merupakan jalan air utama antara Asia dan Eropa. Latar belakang sejarah wilayah 
ini kaya dan menarik. Kerajaan Sriwijaya melakukan perdagangan yang cukup ramai 
dan menguntungkan dengan China kuno selama era dinasti yang berkuasa, dan pada 
tahun 672, sarjana China, I Tsing, mencatat bahwa ribuan rahib dan para sarjana 
agama terlihat mempelajari Sanskerta di tempat yang sekarang adalah ibu kota 
Sumatera Selatan, yaitu Palembang. Namun, hanya ada sedikit sisa peninggalan 
dari era tersebut yang masih bertahan.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Orang-orang Belide bukan nomad, sebaliknya mereka cenderung tinggal di wilayah 
yang sama seumur hidup mereka. Total kelompok orang-orang Belide terdiri atas 
kira-kira 20 desa. Rumah-rumah adat dibuat dari kayu dengan atap daun kelapa. 
Rumah-rumah dibangun di atas tiang-tiang dari bata atau kayu di atas permukaan 
tanah. Lebih dari setengah pria Belide bekerja sebagai penyadap pohon karet atau 
buruh-buruh di perkebunan nanas. Yang lain bekerja sebagai pedagang atau pegawai 
pemerintah. Masyarakat Belide secara khusus dipimpin oleh tiga orang. Seorang 
pemimpin politik dipilih dan dibayar oleh pemerintah, dan seorang kepala desa 
dipilih oleh masyarakat. Kepala desa tidak dibayar, tetapi menerima 10% pajak 
atas penjualan tanah di dalam desa tersebut. Namun, pemimpin ketiga, pemimpin 
agama, jelas memiliki pengaruh yang lebih besar daripada dua pemimpin yang lain. 
Konflik-konflik keluarga diselesaikan oleh kepala keluarga, dan seorang pemimpin 
kerohanian dapat menangani persoalan-persoalan tingkat desa. Hukuman untuk 
pelanggaran ringan ditangani oleh penduduk desa, tetapi kejahatan yang lebih 
serius dirujuk ke polisi.

Orang muda Belide dapat memilih pasangan mereka sendiri dengan persetujuan dari 
keluarga mereka. Jika ada seorang anggota keluarga yang tidak setuju, kepala 
desa diminta untuk memutuskan. Jika ia menyetujui, keluarga itu harus 
mengizinkan pernikahan yang diajukan. Calon mempelai pria harus membayar mas 
kawin. Mempelai wanita akan menggunakan uang itu untuk membeli kebutuhan-
kebutuhan rumah tangga mereka. Pemimpin-pemimpin kerohanian ditanya untuk 
menentukan hari paling baik untuk pernikahan tersebut. Hal yang umum bagi orang-
orang Belide bahwa pesta-pesta pernikahan berlangsung dua atau tiga hari. Laki-
laki Belide menjalankan poligami, tetapi walaupun diperbolehkan, hal itu jarang 
terjadi.

Apa Keyakinan Mereka?

Kebiasaan dan adat telah diwariskan dari generasi ke generasi dan telah 
diharmonikan dengan hukum Islam. Meskipun orang-orang Belide adalah Muslim, 
banyak dari mereka masih percaya dengan takhayul dan roh-roh jahat. Misalnya, 
beberapa percaya bahwa bersiul di dalam rumah pada malam hari akan mengundang 
roh-roh jahat atau berjalan melingkar pada hari jadi seseorang akan membawa 
nasib sial untuk orang tersebut. Banyak tulisan ayat Alquran (Buku Suci Islam) 
di secarik kertas dan membawanya sebagai perlindungan terhadap si jahat. Seorang 
dukun (cenayang/tabib/okultis) sering kali dipanggil untuk menyembuhkan yang 
sakit dan mengusir roh-roh jahat.

Apa Kebutuhan Mereka?

Orang-orang Belide perlu bantuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil 
pertanian mereka. Infrastruktur yang lebih baik di bidang pendidikan dan 
transportasi juga benar-benar dibutuhkan. (t/Anna)

Pokok Doa:

1. Berdoalah kepada Tuhan Yesus agar Ia berkenan membuka hati orang-orang Belide 
   kepada Injil.

2. Mintalah kepada Tuhan supaya ada pekerja-pekerja misi yang mau pergi dan 
   melayani Suku Belide.

3. Doakanlah agar ada infrastuktur dalam bidang transportasi dan pendidikan yang 
   memadai bagi masyarakat Belide.

Diterjemahkan dan diringkas dari:
Nama situs: JoshuaProject.net
Alamat URL: http://joshuaproject.net/people-profile.php
Judul asli artikel: Belide of Indonesia
Penulis: Tidak dicantumkan
Tanggal akses: 15 November 2012


Kontak: jemmi(at)sabda.org
Redaksi: Yudo, Amy G., dan Yulia
Berlangganan: subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/misi/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2013 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org