Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/misi/2009/49

e-JEMMi edisi No. 49 Vol. 12/2009 (14-12-2009)

Kisah Natal

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL NATAL: Lagu Natal Kenang-Kenangan Bethlehem 
SUMBER MISI: whychristmas?com
KESAKSIAN MISI: Kisah Mahal pada Hari Natal
DOA BAGI MISI DUNIA: Mauritania, Pakistan
DOA BAGI INDONESIA : Hari Anti Korupsi

______________________________________________________________________

               WHEN TROUBLES CALL ON YOU, CALL ON GOD
                              
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,
  
  Sesaat lagi, orang-orang Kristen akan merayakan hari Natal. Berbagai 
  persiapan untuk menyambut hari tersebut cukup menyita waktu sebagian 
  orang Kristen sehingga membuat mereka lupa akan arti dan makna Natal 
  yang sebenarnya. Kita cenderung merayakan Natal dengan perayaan yang 
  hanya mementingkan hal-hal yang fana, seperti makanan dan hiburan, 
  yang bahkan menelan biaya yang tidak sedikit. Mari kita fokuskan 
  hati dan pikiran kita kepada Kristus dan melakukan apa yang 
  menyenangkan hati-Nya. Mari mengingat kembali apakah arti Natal yang 
  sesungguhnya, mari kita siapkan diri dan hati untuk menerima 
  kelahiran bayi Kristus di hati kita dan di hati mereka yang 
  membutuhkan.
  
  Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
  Novita Yuniarti
  http://www.sabda.org/publikasi/misi/
  http://misi.sabda.org/

______________________________________________________________________
ARTIKEL NATAL

                 LAGU NATAL KENANG-KENANGAN BETHLEHEM
  
  Letak desa Bethlehem tidak jauh dari kota Yerusalem. Sejak dahulu, 
  desa itu menempati kedudukan yang istimewa dalam sejarah. Daud, raja 
  terbesar pada zaman Alkitab, berasal dari Bethlehem. Beberapa abad 
  setelah masa pemerintahan Raja Daud, Nabi Mikha menyampaikan firman 
  Tuhan: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di 
  antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang 
  yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak 
  purbakala, sejak dahulu kala" (Mikha 5:1).
  
  Para ahli Taurat masih ingat akan nubuat itu dari masa ke masa. 
  Ketika orang Majus datang menghadap Raja Herodes di Yerusalem, 
  ahli-ahli Taurat menjelaskan bahwa desa Bethlehem adalah 
  satu-satunya tempat yang paling tepat untuk mencari Raja yang baru 
  lahir itu. Benar, Bethlehem adalah tempat kelahiran Tuhan Yesus. Di 
  antara lagu-lagu Natal umat Kristen, ada satu lagu pilihan yang 
  secara khusus mengingatkan kita akan desa Bethlehem. Hal ini wajar, 
  karena lagu Natal itu diciptakan berdasarkan pengalaman pengarangnya 
  sendiri ketika ia sedang berada di desa yang bersejarah itu.

  Anak yang Gembira
  
  Phillips Brooks lahir di kota Boston, negara bagian Massachusetts, 
  pada tahun 1835. Sejak kanak-kanak, ia memunyai sifat yang ramah dan 
  gembira, sehingga banyak orang menyukainya. Ayah ibunya tahu bila 
  Phillips sudah bangun di pagi hari karena dari kamar Phillips mereka 
  dapat mendengar ia menyanyi. Ayah dan ibu Brooks memberi dorongan 
  agar anak-anak mereka menghafalkan nyanyian-nyanyian rohani. Pada 
  hari Minggu sore, biasanya mereka mengulangi lagu-lagu yang sudah 
  mereka hafalkan. Ketika Phillips tamat SMA, ia sudah dapat 
  menyanyikan dua ratus nyanyian rohani di luar kepala.

  Pendeta yang Setia
  
  Phillips Brooks kuliah di universitas, kemudian di sekolah tinggi 
  teologi. Ia menerima panggilan untuk menjadi hamba Tuhan. Setelah 
  ditahbiskan pada tahun 1859, ia mulai melayani sebagai gembala 
  sidang di kota besar Philadelphia. Setelah 10 tahun di Philadelphia, 
  ia pindah ke sebuah gereja besar di Boston, kampung halamannya. 
  Selama 22 tahun, ia berkhotbah setiap minggu. Jemaat membludak 
  sampai di luar gedung. Karena itu perlu dibangun tempat kebaktian 
  yang baru.
  
  Selama tahun-tahun itu, Pendeta Brooks beberapa kali ditawari 
  kedudukan yang terhormat sebagai mahaguru dan pendeta mahasiswa di 
  sebuah universitas yang besar. Namun, ia menolak tawaran-tawaran 
  itu. Ia terus melayani sebagai gembala sidang. Dua tahun sebelum 
  akhir hidupnya, Phillips Brooks menjadi uskup dari aliran gerejanya. 
  Selama memegang jabatan itu, ia membina serta menggembalakan 
  jemaat-jemaat di seluruh negara bagian Massachusetts.

  Pengkhotbah yang Luar Biasa
  
  Phillips Brooks adalah seorang pengkhotbah yang lain daripada yang 
  lain. Perawakannya saja sudah cukup mengesankan: tingginya hampir 2 
  meter, wajahnya ganteng, matanya bercahaya. Bila sedang berkhotbah, 
  ia berbicara dengan kecepatan rata-rata 250 kata per menit --
  terlalu cepat untuk dapat dicatat, sekalipun oleh seorang sekretaris 
  yang pandai menulis steno!
  
  Pada masa hidup Phillips Brooks, ada banyak orang Kristen Amerika 
  yang ragu-ragu terhadap Alkitab. Tetapi, Pdt. Brooks dengan gamblang 
  mengkhotbahkan Injil tentang kasih Allah dalam Yesus Kristus. Tidak 
  mengherankan bila orang banyak berkerumun untuk mendengarkan 
  khotbahnya! Hingga kini, di kota Boston masih ada patung yang 
  melambangkan keberhasilan Phillips Brooks sebagai pengkhotbah. Di 
  belakang patung orang yang tinggi besar itu, berdiri patung Kristus, 
  dengan satu tangan memegang salib, dan yang lainnya memegang bahu 
  Pdt. Brooks.

  Pencinta Anak-Anak
  
  Phillips Brooks melajang seumur hidupnya. Namun, ia mencintai 
  anak-anak. Ia mendorong para anggota gereja agar mereka mendukung 
  kegiatan sekolah minggu dan koor anak-anak. Di ruang kerjanya, di 
  antara buku-buku kesarjanaan dan kumpulan khotbah, selalu ada 
  beberapa boneka dan mainan. Benda-benda itu ditaruh di situ untuk 
  putra-putri anggota gereja bila mereka mampir untuk menemuinya.

  Perjalanan ke Bethlehem
  
  Pada tahun 1865, Phillips Brooks meninggalkan tanah airnya selama 
  beberapa bulan. Para anggota gerejanya membiayai perjalanannya ke 
  beberapa negara. Salah satunya ialah negara tempat Tuhan Yesus 
  lahir. Selama bepergian, Pendeta Brooks tidak pernah melupakan 
  anak-anak. Ia menulis surat kepada keponakan-keponakannya, dan 
  dengan sangat menarik menceritakan pengalamannya. Untuk lebih jelas 
  lagi, berikut ini cuplikan dari surat Phillips Brooks yang 
  mengisahkan pengalamannya pada malam Natal tahun 1865:
  
    "Sesudah makan siang, kami menunggang kuda dari Yerusalem ke 
    Bethlehem. Perjalanan itu memakan waktu kira-kira 2 jam. Sebelum 
    malam tiba, kami kembali melewati padang rumput. Kata orang, di 
    tempat itulah para gembala itu berada pada zaman dahulu. Ada 
    sebidang tanah yang dipagari; di dalamnya ada sebuah gua. Ketika 
    kami lewat, ada gembala-gembala yang sedang menjaga kawanan domba, 
    ada juga yang sedang menggiring ternaknya ke dalam kandang."
  
  Pada malam hari itu juga Pdt. Brooks kembali lagi ke desa Bethlehem. 
  Ada sebuah gereja kuno yang konon dibangun tepat di atas tempat 
  kelahiran Yesus. Phillips Brooks menghadiri kebaktian Natal di 
  gereja yang bersejarah itu. Kebaktian tersebut berlangsung dari 
  pukul 10:00 malam sampai pukul 3:00 pagi!

  Pada Waktu Latihan Koor
  
  Tiga tahun berlalu. Kali ini perayaan Natal juga sudah dekat. 
  Phillips Brooks sibuk di ruang kerja di gerejanya. Di ruang 
  kebaktian, koor anak-anak sedang berlatih untuk acara hari Minggu 
  menjelang tanggal 25 Desember. Pendeta Brooks menyukai suasana hari 
  Natal. Ia pernah menulis dua syair berkenaan dengan saat-saat yang 
  penuh sukacita itu. Sejenak ia duduk mendengarkan suara anak-anak. 
  Ia teringat akan kunjungannya ke Bethlehem 3 tahun yang lalu. 
  Tiba-tiba ia menyisihkan Alkitab dan catatan khotbahnya. Di atas 
  sehelai kertas kosong, ia mulai menulis -- cepat sekali. Penanya 
  terus menari-nari di permukaan kertas sampai terbentuk sebuah syair 
  Natal yang indah. Lalu ia segera berdiri dan berjalan menuju pintu 
  ruang kebaktian.
  
  Orang yang sedang memimpin paduan suara anak-anak di situ adalah 
  Lewis H. Redner. Walau ia seorang awam, dalam banyak hal, kisah 
  hidupnya mirip dengan riwayat Pendeta Brooks. Ia lahir di 
  Philadelphia pada tahun 1830, dan menjadi seorang makelar 
  tanah/bangunan yang sangat sukses. Sama seperti Phillips Brooks, 
  Lewis Redner juga melajang. Ia tinggal dengan keluarga kakak 
  perempuannya; ia juga mencintai anak-anak. Selama 19 tahun, ia 
  menjadi kepala sekolah minggu di gerejanya. Jumlah murid yang hadir 
  meningkat dari 36 orang menjadi 1.000 orang lebih.
  
  Bapak Redner juga mahir di bidang musik. Ia melayani sebagai 
  pemimpin paduan suara dan pemain orgel di empat gereja di kota 
  Philadelphia. Kepada orang awam yang berbakat itulah Phillips Brooks 
  memberikan kertas yang berisi syair itu. "Ini lagu Natal yang 
  sederhana," kata pendeta yang berperawakan tinggi itu. "Apakah Pak 
  Redner dapat mengarang musiknya?" Lewis Redner mengangguk, lalu 
  memasukkan kertas itu ke dalam kantongnya. Karena pada hari-hari 
  menjelang Natal itu ia teramat sibuk, kertas itu tetap berada di 
  kantongnya dan nyaris terlupakan.

  Lagu dari Surga
  
  Akhirnya malam Minggu tiba. Hari berikutnya koor anak-anak akan 
  mempersembahkan acara musik di gereja. Dalam keadaan sangat letih, 
  Lewis Redner pergi tidur. Di tengah malam ia terbangun. Seolah-olah 
  ia mendengar melodi sebuah lagu yang baru. Nada itu menggema dalam 
  hatinya ... bagai melodi yang turun langsung dari surga! Ia melompat 
  dari tempat tidurnya dan mencatat not-not yang sangat indah itu 
  sebelum pudar dari ingatannya.
  
  Pagi-pagi benar Lewis Redner bangun. Ia melengkapi melodi baru itu 
  dengan syair karangan Phillips Brooks -- lengkap dengan empat suara. 
  Setelah selesai; dibawanya ke gereja. Dalam waktu singkat, ia 
  berhasil mengajarkan lagu itu kepada koor anak-anak. Maka pada hari 
  Minggu pagi itu untuk pertama kalinya terdengar alunan "Lagu Natal 
  Kenang-Kenangan Bethlehem", yang kini menjadi Lagu pilihan di 
  seluruh dunia. Lagu baru itu dicetak dalam bentuk lembaran, kemudian 
  menjadi populer di kota Philadelphia. Entah apa sebabnya, tidak ada 
  yang memperkenalkan lagu itu di luar kota asalnya. Bahkan ketika 
  dimuat dalam sebuah buku nyanyian rohani pada tahun 1874, lagu Natal 
  itu tidak banyak menarik perhatian orang.
  
  Baru beberapa tahun kemudian, sebelum Pdt. Brooks meninggal pada 
  tahun 1893, lagu Natal karangannya itu akhirnya menjadi terkenal. 
  Dan sebelum Bapak Redner meninggal pada tahun 1908, lagu itu sudah 
  mulai diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Tidak lama setelah 
  Phillips Brooks meninggal, seorang gadis berumur 5 tahun bertanya 
  kepada ibunya, mengapa ia tidak lagi melihat temannya yang tinggi 
  besar itu. Dengan lembut ibunya menjelaskan bahwa Pdt. Brooks sudah 
  meninggal. Anak perempuan itu memandang ibunya dengan mata yang 
  berkaca-kaca. "Oh, Mama," katanya, "alangkah senangnya para malaikat 
  di surga!" Memang kepulangan seorang hamba Tuhan yang setia 
  menimbulkan sukacita di surga. Tetapi ada juga sukacita di dunia 
  selama suara anak-anak di seluruh dunia menyanyikan "Lagu Natal 
  Kenang-Kenangan Bethlehem".
  
  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Kisah Nyata di Balik Lagu Pilihan
  Judul artikel: Lagu Natal Kenang-Kenangan Betlehem
  Penyusun: Andreas Sudarsono dan Doreen Widjana
  Penerbit: Lembaga Literatur Baptis, Bandung 2007
  Halaman: 182 -- 188
  
______________________________________________________________________
SUMBER MISI

whychristmas?com
==> http://www.whychristmas.com/
  Situs Natal whychristmas?com adalah situs menarik yang menyediakan 
  berbagai macam bahan dan bacaan seputar Natal. Situs yang dipenuhi 
  oleh gambar-gambar cerah dan menarik ini memiliki empat bagian 
  utama, yakni: Tradisi-tradisi Natal, Perayaan-perayaan Natal di 
  Seluruh Dunia, Kisah-kisah Kelahiran Yesus, dan Aktivitas-aktivitas 
  Seputar Natal. 

  Situs berbahasa Inggris yang dibangun oleh James Cooper, seorang 
  Kristen dari Britania Raya, ini merupakan salah satu situs Natal di 
  internet yang paling sering dikunjungi sejak November 2000. Selain 
  itu, situs yang ditujukan untuk anak-anak di seluruh dunia maupun 
  orang-orang dewasa yang memiliki pertanyaan-pertanyaan seputar Natal 
  ini juga tidak memiliki iklan dan murni didanai oleh donasi para 
  pengunjungnya. Oleh karena itu, situs ini aman untuk dikunjungi 
  seluruh keluarga. Selamat berkunjung.
  
______________________________________________________________________
KESAKSIAN MISI  
		
                      KISAH MAHAL PADA HARI NATAL

  K, seorang Yordania berumur 23 tahun, bergembira pada saat menyambut 
  mendekatnya hari Natal tahun 2002 lalu. Tahun itu merupakan Natal 
  pertama baginya sebagai orang Kristen. K telah meninggalkan "agama 
  lain" pada awal tahun 2002, dan Natal memberikan sesuatu yang sangat 
  berarti baginya. Ketika dia masih seorang "agama lain", Natal hanya 
  merupakan hari raya bagi kaum kafir. Tetapi bagi dia sekarang, Natal 
  merupakan hari kelahiran Penyelamatnya, Anak Allah, Yesus Kristus. K 
  bersukacita meskipun karena iman barunya dia harus membayar suatu 
  harga: dia diasingkan oleh keluarganya, mereka menendangnya keluar 
  dari rumah. Teman kerjanya memberitahukan kepada bos K bahwa dia 
  sudah bukan seorang "agama lain". Hasilnya, K dipecat dari 
  pekerjaannya dan bahkan dia menghadapi waktu-waktu sulit pada saat 
  hari Natal sudah akan mendekat.

  Pada suatu sore di musim dingin, K dan seorang temannya mengendarai 
  mobil dari Amman, Yordania, ke desanya K. Hujan rintik-rintik 
  membasahi kaca depan mobilnya pada saat dua orang bersahabat ini 
  berbicara mengenai teman-teman, keluarga, dan hadiah-hadiah. Sekitar 
  20 menit di perjalanan, percakapan mereka tiba-tiba terhenti ketika 
  sebuah mobil mendahului mobil mereka. Ketika mobil tersebut melewati 
  mereka, K melihat dua orang penembak duduk di kursi belakang. Dia 
  terkejut pada saat mereka mulai menembaki mobilnya. Ajaibnya, K dan 
  temannya dapat lolos tanpa terluka, tetapi mereka akhirnya menemukan 
  12 lubang di badan mobilnya akibat terjangan peluru. "Kami tahu 
  Tuhanlah yang menolong, bukan kehebatan kita mengendarai mobil yang 
  melepaskan kita dari bahaya."
  
  K telah mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan seperti 
  kucing-kucingan sejak percobaan penembakan yang dilakukan 
  terhadapnya pada hari Natal itu. Salah satu peristiwa yang baru saja 
  menimpanya, yang terjadi pada pertengahan tahun ini, adalah pada 
  saat K sedang berjalan-jalan di desanya. Sebuah taksi mengejar dan 
  menabraknya, dan dia jatuh di trotoar. Setelah itu taksi tersebut 
  melindas tangan kiri K. K pingsan; ia tersadar di rumah sakit dan 
  menemui tangan kirinya patah akibat peristiwa tersebut. K sadar 
  bahwa keluarganya ada di balik beberapa penyerangan yang hampir 
  merenggut nyawanya. Seorang teman mendorongnya untuk bertemu dengan 
  ayahnya, jadi K menghubungi keluarganya dan mengatur pertemuan pada 
  malam hari. 
  
  Pada saat makan malam bersama, K meminta agar ayahnya menjelaskan 
  kenapa dia melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya. "Jika kamu 
  terus berjalan di dalam kekristenan, aku akan bersiap untuk 
  membunuhmu!" teriak ayah K. "Kamu bukan anakku jika kamu tidak 
  kembali ke `agama lain!`" "Kamu bukan seorang ayah yang mengasihi 
  jika kamu mencoba membunuhku," kata K. K meninggalkan keluarganya 
  malam itu, menyadari bahwa akan ada percobaan pembunuhan lagi 
  terhadap dirinya. Sekarang dia sedang bersembunyi; tidak bekerja dan 
  tinggal dengan seorang teman. Dia menolak untuk meninggalkan iman 
  Kristennya. "Selagi aku hidup, aku tidak akan menolak Yesus, karena 
  akhirnya aku menemukan kedamaian di dalam dasar jiwaku." "Bagaimana 
  aku dapat meninggalkan Seseorang yang telah memberikanku kedamaian?"

  K mengatakan dia ingin mengetahui lebih dalam mengenai Kristus, dan 
  dia ingin menginjili orang-orang dari "agama lain". "Banyak orang 
  Kristen takut untuk bersaksi mengenai Yesus kepada orang-orang 
  beragama lain, tetapi aku mengasihi mereka dan aku tidak takut, 
  karena Tuhanlah yang menciptakan mereka." Dia berkata hatinya 
  dibesarkan dengan cerita-cerita penganiayaan Paulus dan Stefanus. 
  "Seperti Paulus dan Stefanus, aku juga mengalami penganiayaan, dan 
  setiap kali aku menghadapai penganiayaan, Yesus selalu menolongku." 
  K mengatakan bahwa pada masa-masa sulitnya, dia selalu mengingat 
  ayat favoritnya di Alkitab, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih 
  lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 
  11:28). 
  
  Semoga saudara dari Yordania yang seiman dengan kita ini disegarkan 
  oleh Roh Allah dan dikuatkan melalui doa-doa keluarga Kristennya di 
  seluruh dunia. 
  
  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November -- Desember 2003
  Judul asli artikel: Kisah Mahal di Hari Natal
  Penulis: Tidak dicantumkan
  Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
  Halaman: 8
		      
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

M A U R I T A N I A
  Chris (39 tahun), seorang pekerja bantuan Kristen berkebangsaan 
  Amerika yang tinggal di Mauritania, ditembak dan terbunuh pada 23 
  Juni di ibu kota Mauritania, Nouakchott. Dua hari kemudian, TV 
  Aljazerah menerima pernyataan lewat audio dari kelompok tertentu 
  yang menyatakan bahwa dua laskar mereka, pada hari Selasa pagi 
  pukul 08.00, berhasil membunuh seorang kafir Amerika, Chris.
  
  Chris bekerja bagi sebuah organisasi nonpemerintah di Mauritania 
  yang memberi pelatihan dan memperlengkapi mantan narapidana dengan 
  berbagai pengetahuan untuk bisa kembali ke masyarakat. Ia juga 
  mengawasi sebuah program pinjaman mikro yang membantu perkembangan 
  usaha kecil. Ia, istrinya, dan keempat anaknya telah tinggal di 
  Mauritania selama 7 tahun lebih.
  
  Lebih dari 100 orang menghadiri ibadah kematiannya di Cleveland, 
  Tennessee, tempat ia dibesarkan. Di ibadah itu, ayahnya berkata, 
  "Pengharapan terbesar keluarga kami adalah Chris tidak akan mati 
  sia-sia, tetapi melalui kematian jasmaninya, ribuan orang akan terus 
  ditantang untuk bergabung dengannya dalam membagikan kasih Allah."
  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2009
  Judul asli artikel: Mauritania: Pekerja Organisasi Bantuan Kristen 
                      Dibunuh
  Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
  Halaman: 11 
  Pokok doa:
  * Doakan keluarga Chris, agar Tuhan memberi kekuatan dan 
    penghiburan, serta agar mereka tetap setia dalam melayani Tuhan.
  * Berdoa bagi para pekerja asing di Mauritania, agar Tuhan 
    terus menguatkan mereka dan melindungi mereka selama bertugas dan 
    melayani di Mauritania. 
  
P A K I S T A N
  Orang-orang Kristen di desa Bahmaniwala di Punjab, Pakistan, 
  diserang oleh orang-orang agama lain pada 30 Juni setelah seorang 
  Kristen difitnah menghujat agama lain. Pada 29 Juni, ketika S (38 
  tahun) dan putranya sedang dalam perjalanan pulang dengan 
  traktornya, mereka meminta seorang dari agama lain dan keponakannya 
  (yang dilaporkan sedang mabuk) untuk memindahkan sepeda motor 
  mereka yang menghalangi jalan. Hal ini membuat mereka marah. Karena 
  merasa diperintah oleh orang kafir, 2 orang pria itu menarik 
  S turun dan memukulinya. Kemudian sore harinya sekelompok orang 
  agama lain berjumlah sekitar 20 orang menyerang keluarga S dan 
  merusak rumahnya. Traktornya hancur dan saudara-saudaranya mengalami 
  luka bacok yang serius. Pria agama lain itu lalu melapor pada polisi 
  setempat dan mengatakan fitnah kepada pemimpin agama setempat, bahwa 
  S telah melakukan penghujatan.

  Keesokan harinya, seorang pemimpin agama lain menggunakan alat 
  pengeras suara menyerukan orang-orang agama lain untuk menyerang 
  orang-orang Kriaten. Sore itu, lebih dari 500 orang agama lain, 
  melucuti dan merusak lebih dari seratus rumah orang Kristen, 
  membakar kendaraan, dan menyerang orang Kristen. Listrik dan air 
  juga diputus. Lusinan orang Kristen terluka, termasuk wanita dan 
  anak-anak yang dilaporkan disiram dengan air keras. Salah seorang 
  wanita hamil yang dipukul, mengalami keguguran.
  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November -- Desember 2009
  Judul asli artikel: Pakistan: Gerombolan "Agama Lain" Menyerang 
                      Orang Kristen
  Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
  Halaman: 11  
  Pokok doa:
  * Berdoa bagi para korban kekerasan di Pakistan, agar Tuhan 
    menyembuhkan dan memulihkan keadaan mereka dari trauma yang 
    dialami. Doakan juga agar Tuhan memberi penghiburan kepada mereka.
  * Doakan agar Tuhan memberi kekuatan kepada orang percaya di 
    Paskistan dalam menghadapi tekanan yang dengan sengaja dilakukan
    oleh pihak-pihak tertentu. Kiranya Tuhan memberikan hati yang
    penuh pengampunan.
  
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

                          HARI ANTI KORUPSI

  Unjuk rasa yang berlangsung serentak di sejumlah kota di Indonesia 
  untuk memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, Rabu (9/12), 
  berlangsung relatif damai. Hal ini menggambarkan meningkatnya 
  kesadaran tentang pentingnya memberantas korupsi. Secara 
  substansial, kejahatan korupsi telah menyengsarakan masyarakat 
  Indonesia.
  
  POKOK DOA:
  
  1. Mengucap syukur karena isu akan adanya aksi demonstrasi 
     besar-besaran yang dikhawatirkan berujung pada kericuhan tidak 
     terjadi, dan demonstrasi berlangsung dengan aman.

  2. Doakan agar Hari Anti Korupsi Sedunia tahun ini dapat membawa 
     dampak positif bagi warga negara Indonesia, sehingga dapat 
     bekerja dengan lebih baik dan tidak melakukan tindakan-tindakan 
     yang tidak terpuji, seperti kejahatan korupsi.

  3. Doakan juga upaya pemerintah dalam memberantas kasus korupsi 
     di Indonesia, agar Tuhan memberi kesadaran, hikmat, dan 
     keberanian sehingga mereka dapat mengambil tindakan yang benar.

  4. Berdoa agar setiap masyarakat Indonesia dapat menopang kinerja 
     pemerintah dalam memberantas korupsi dan dapat bersikap tegas 
     serta tidak memberikan kesempatan kepada siapa pun melanggar 
     hukum yang berlaku.

  5. Doakan agar pemerintah berani menindak tegas setiap mereka yang 
     melakukan korupsi dan tidak terpengaruh oleh imbalan yang akan 
     diberikan. Sebaliknya, mereka memiliki hati yang takut akan 
     Tuhan.
     
______________________________________________________________________

Anda diizinkan mengcopy/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2009 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org