Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2009/20

e-JEMMi edisi No. 20 Vol. 12/2009 (21-5-2009)

Rintangan dalam Pelayanan Kota

 
______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Rintangan Penginjilan di Kota
REFERENSI MISI: Seputar Pelayanan Kota dalam Situs e-MISI
SUMBER MISI: Greensboro Urban Ministry
DOA BAGI MISI DUNIA: India, Republik Ceko
DOA BAGI INDONESIA: Kota-Kota di Indonesia

______________________________________________________________________

   GREAT TRIALS SEEM TO BE NECESSARY PREPARATION FOR GREAT TRIUMPHS
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Dalam melaksanakan pelayanan misi di lapangan, pasti ada 
  rintangan-rintangan yang dihadapi. Demikian juga untuk pelayanan 
  misi di kota. Para pekerja misi kota perlu mengetahui 
  rintangan-rintangan yang harus mereka hadapi, yang ternyata cukup 
  kompleks. Melihat kebutuhan ini, maka untuk melanjutkan tema 
  pelayanan kota, edisi e-JEMMi minggu ini menyajikan topik "Rintangan 
  Penginjilan di Kota". Harapan kami, artikel ini dapat menolong Anda 
  untuk melakukan pelayanan misi kota dengan lebih strategis.

  Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati.

  Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
  Novita Yuniarti
  http://www.sabda.org/publikasi/misi/
  http://misi.sabda.org/

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

                    RINTANGAN PENGINJILAN DI KOTA

  Rintangan Kelas Masyarakat bagi Misi Kota

  Tugas saya adalah memperluas peta dunia Anda. Saya ingin menarik 
  perhatian Anda pada bergesernya batasan misi sekarang ini. Saya 
  ingin berbicara tentang sebuah dunia yang telah berubah -- dari 
  dunia bangsa-bangsa menjadi dunia kota-kota dari berbagai bangsa 
  yang saling terhubung. Dunia yang terdiri dari 223 bangsa yang dalam 
  kenyataan sebenarnya terdiri dari tiga ratus kota dari kelas 
  masyarakat, sebuah dunia yang tumbuh dengan sangat cepat sehingga 
  pada tahun 2000 akan ada sekitar lima ratus kota yang masing-masing 
  akan berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Rintangan misi dan 
  penginjilan pada masa kini sangat nyata dan kompleks.

  Salah satu halangan yang akan muncul adalah masalah demografis. PBB 
  memiliki sebuah departemen yang beranggotakan empat puluh orang yang 
  khusus menangani demografi kota. Jumlah yang mereka tunjukkan 
  mencengangkan. Dalam beberapa waktu saja, lahir seratus bayi di bumi 
  -- 49 berkulit kuning, 13 berkulit putih seperti saya, dan lainnya 
  berkulit hitam dan coklat. Kebanyakan dari mereka akan tinggal di 
  kota-kota di seluruh dunia.

  Untuk mencapai kota Urbana, AS, kebanyakan dari Anda melewati kota 
  metropolitan Chicago -- yang terdiri dari 6 kabupaten, berpenduduk 
  7;1 juta jiwa. Saya beritahukan kepada Anda bahwa jumlah total 
  pertumbuhan penduduk dunia setiap bulannya lebih banyak dari jumlah 
  populasi kota Chicago. Dunia ini tumbuh dengan sangat cepat. Belum 
  ada semilyar menit sejak Yesus berjalan di bumi 1.900 tahun yang 
  lalu, namun akan ada sekitar 1,5 milyar bayi yang lahir dalam 13 
  atau 14 tahun ke depan. Dan secara pasti, sebagian besar dari mereka 
  akan tinggal di kota.

  Selama 2000 tahun, kita sudah menerima Amanat Agung untuk pergi 
  memberitakan Injil ke semua orang ke seluruh dunia dan memuridkan 
  semua bangsa. Sekarang kita tahu di mana mereka -- di lingkungan 
  sekitar kita, di kota-kota, di Los Angeles, di Miami, dan di 
  kota-kota padat di seluruh dunia. Pertambahan jumlah penduduknya 
  sangat mencengangkan -- begitu pula dengan kompleksitas kota yang 
  semakin berubah. Kota terlihat seperti sebuah eskalator yang 
  bergerak ke arah yang salah -- seperti magnet raksasa yang menyedot 
  orang-orang yang berasal dari hutan-hutan, pulau-pulau, dan 
  kelompok-kelompok suku.

  Selama berabad-abad, Eropa bagian barat mampu mengatur kehidupan, 
  ideologi, dan cara pandangnya di sekitar Mediterania. Jika Anda 
  membaca karya klasik Henri Pirenne yang berjudul "Medieval Cities", 
  Anda akan menemukan bahwa Eropa selama 800 tahun bergerak seperti 
  sebuah pintu yang terbuka secara perlahan. Benua ini didorong oleh 
  Islam dan ditarik oleh kota-kota bagian utara Jerman. Eropa dipaksa 
  untuk menjadi bangsa yang melihat ke utara dan barat. Kita telah 
  berada dalam lingkaran Atlantik selama 500 sampai 600 tahun 
  terakhir. Namun sekarang, pada abad ini, pada masa hidup Anda dan 
  saya, dunia ini bergerak lagi. Pintu sedang terbuka, hanya saja kini 
  jauh lebih cepat, dan kita mengalami perubahan -- dari lingkaran 
  Atlantik menuju lingkaran Pasifik. Dunia baru ini memberikan kita 
  isyarat dengan perbedaan dan kompleksitas kota-kota. 

  Kota-kota di dunia yang bertumbuh paling cepat adalah Amerika Latin, 
  Afrika, dan Asia. Kota-kota itu mengubah cara kita berpikir, hidup, 
  dan membangun ekonomi. Sayangnya, kota-kota yang mengalami 
  pertumbuhan paling cepat ada di wilayah yang gereja-gerejanya paling 
  lemah -- misalnya wilayah Asia. Jadi, skala misi kota diukur tidak 
  hanya dari besarnya wilayah dan besarnya kota, tapi juga dari 
  perubahan konfigurasi dan kompleksitas kota-kota itu.

  Misalnya, Mexico City adalah kota paling tua di dunia, namun juga 
  yang ternyata paling muda. Dua puluh juta penduduk tinggal di kota 
  itu -- coba bayangkan -- 20 juta jiwa. Sementara rata-rata usia di 
  Chicago adalah 31 tahun, di Mexico City rata-rata usianya adalah 14 
  tahun. Itu berarti ada sekitar sepuluh juta orang di Mexico City 
  yang berusia di bawah 14 tahun. Kota ini adalah kota tua, tapi juga 
  kota muda.

  Beberapa minggu yang lalu, saya menyusuri jalanan Toronto dengan 
  seorang mantan murid saya, yang kini menjadi misionaris jalanan di 
  kota itu. Kami melihat sebagian dari 20.000 remaja di jalanan 
  Toronto. Dan saat kami melihat hal itu, kami ingin meratap. Dua 
  minggu sebelumnya, saya ada di Hollywood, mengamati sebagian dari 
  lima ribu remaja di jalanan Hollywood, menjual tubuh mereka. Mereka 
  datang dari berbagai tempat, datang karena didorong oleh cita-cita, 
  namun hidup di jalanan.

  Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar Ecumenical Night Ministry 
  (sebuah program gereja) di Chicago, menceritakan kisah mengenai 
  10.000 remaja di jalanan Chicago. Mereka adalah kota di dalam kota. 
  Tiga puluh persen di antaranya memiliki kasus penyakit jiwa --
  pasien-pasien yang dilepaskan dari rumah sakit jiwa karena tidak 
  tersedianya biaya perawatan untuk mereka.

  Kompleksitas sebuah kota adalah bahwa kota itu bukanlah satu kota 
  saja. Kota itu adalah kota industri. Kota dengan keramaian kehidupan 
  malam. Kota yang tidak tidur. Kota yang beretnis. Kota 
  internasional. Kota pendatang. Kota pelajar. Kota berhotel bintang 
  lima. Kota yang penuh dengan gelandangan, kota yang penuh 
  kriminalitas. Orang-orang itu dikemas di kota. Untuk menjangkau 
  mereka berarti berurusan dengan jumlah, pertumbuhan, dan 
  kompleksitas.

  Namun, banyak dari kota ini yang tidak dapat kita akses dengan 
  mudah. Tiga puluh dari kota-kota yang berpenduduk lebih dari satu 
  juta jiwa ada di Cina. Paling sedikit dua puluh kota seperti itu ada 
  di Uni Soviet. Banyak kota yang pertumbuhannya paling cepat berada 
  di negara-negara Islam. Seperti kota Beirut, yang mungkin bisa jadi 
  gambaran sebuah kota. Sekarang kita mengenal Beirut sebagai kota 
  penuh kekerasan. Tapi yang tidak kita ketahui, 10 tahun yang lalu, 
  saat terjadi perang saudara di sana, populasinya satu juta jiwa. 
  Kini, setelah perang selama bertahun-tahun dan banyaknya kematian, 
  populasi Beirut menjadi sekitar 1,8 juta. Dengan kata lain, 
  penderitaan dan perjuangan kota itu justru menjadi magnet yang 
  menarik orang-orang di luar Libanon Selatan menuju ke kota Beirut --
  dan hampir mustahil bagi kita untuk masuk dan mengubahnya.

  Rintangan Pribadi bagi Misi Kota

  Jadi, ketika kita berbicara tentang misi kota saat ini, kita 
  berbicara tentang beberapa rintangan yang sangat nyata. Namun, saya 
  ingin berbicara tentang tiga rintangan yang saya yakin akan Anda 
  hadapi secara pribadi. Dan menurut saya, rintangan-rintangan ini 
  sangat nyata.

  Pada tahun 1980, Komite Lausanne bagi Penginjilan Dunia (Lausanne 
  Committee for World Evangelization) mengadakan konferensi di 
  Thailand. Tugas saya adalah untuk membantu mengatur konsultasi 
  tentang masalah kota. Dalam persiapan, kami melakukan korespondensi 
  dengan orang-orang dari seratus kota lebih. Jadi, pada konferensi 
  itu, saya membawa sekitar lima ribu halaman hasil penelitian. Kami 
  duduk dengan 110 orang yang berasal dari enam benua dan mulai 
  melihat apa yang Allah lakukan di kota-kota itu. Kami tercengang 
  menemukan betapa sedikitnya usaha yang telah dilakukan oleh para 
  penginjil dan sedikitnya badan misi yang memikirkan dan 
  mempersiapkan misionaris ke kota-kota. Kami juga tercengang dengan 
  bagaimana Allah menggunakan alat baru, bentuk baru, dan kulit anggur 
  yang baru.

  Setelah konferensi tersebut, saya ditugaskan untuk pergi ke sekitar 
  seratus kota, mengadakan konsultasi dengan orang-orang, melihat 
  dengan pandangan baru keadaan kota dan pelayanan di kota itu, serta 
  kemudian bertanya, model pelayanan baru seperti apa yang dibutuhkan 
  untuk menjangkau kota -- entah itu Kairo, Kopenhagen, Zagreb, atau 
  Mexico City.

  Saya mendapat pelajaran dari almarhum Paul Little, ketika masih di 
  seminari, bahwa ada dua hal yang menyebabkan orang tidak mau datang 
  kepada Kristus atau bersaksi bagi Kristus, yakni informasi atau 
  motivasi. Tapi di sini saya ingin mengatakan, bahwa ada faktor 
  ketiga dalam hal misi kota: intimidasi, sindrom "belum pernah 
  melakukannya sebelumnya". Dan kalimat itu yang menjadi akhir dari 
  usaha gereja.

  Rintangan Teologis

  Salah satu rintangan tidaklah berasal dari luar, kota yang besar dan 
  jahat, namun dari dalam. Rintangan ini adalah rintangan teologi. 
  Kebanyakan dari kita memiliki teologi pribadi, sebuah pertobatan 
  pribadi. Saya menyebutnya teologi Filipi -- teologi Kristus yang 
  meninggalkan surga dan turun ke dunia untuk tinggal bersama kita. 
  Sebuah hubungan "Allahku dan aku" -- dan hal ini luar biasa. Suatu 
  kesalehan pribadi. Namun, sebagian besar dari kita kekurangan 
  teologi Kolose dari Kristus yang transenden. Ia adalah Allah, 
  Penguasa sistem dan struktur dunia, termasuk sebuah kota. Dan tanpa 
  perspektif Kolose itu, kita memiliki teologi yang hanya memberi 
  kelegaan, namun bukan telologi yang mengubah.

  Kita berurusan dengan korban, namun kita tidak dapat berurusan 
  dengan isu keadilan. Teologi perampok di kayu salib -- cukup untuk 
  membuatnya masuk surga -- tempat untuk memulai. Namun, jika kita 
  akan terjun ke misi kota, kita harus terus-menerus belajar. Seperti 
  kata Walter Scott, "Bagi seorang Kristen, satu buku sudah cukup, 
  namun ribuan buku masih belum terlalu banyak." Adalah fakta bahwa 
  dengan pengetahuan sekolah Alkitab yang saya miliki, saya bisa 
  menjadi orang yang paling berpendidikan di banyak desa, namun 
  pendidikan minimalis tidak dapat menarik kota. Banyak di antara Anda 
  akan harus terus belajar giat untuk menerapkan teologi Kolose itu. 
  Anda harus menambah teologi pribadi dengan teologi umum misi. Kita 
  tidak hanya membutuhkan misiologi kota, namun juga sebuah teologi 
  alkitabiah kota.

  Berpikir alkitabiah berarti memahami bagaimana Allah telah bergerak 
  dari penciptaan ke penebusan di sepanjang sejarah Alkitab. Untuk 
  berpikir secara historis adalah untuk memahami bahwa Roh Allah yang 
  menggerakkan kita sekarang, sama dengan yang telah memimpin umat 
  Allah menyeberang budaya selama 2000 tahun terakhir. Kita perlu 
  belajar hal ini dari sejarah karena kota adalah sebuah museum seni 
  dan arsitektur, sebuah museum budaya dan masyarakat yang datang 
  dari ujung dunia yang jauh dan yang sedang dibentuk ulang oleh 
  kekuatan-kekuatan kota.

  Suara yang Anda dengar adalah dari Chicago, namun budayanya adalah 
  dari tempat lain. Agenda yang mereka bawa adalah dari tempat lain. 
  Jadi, kita perlu mengembangkan cara pandang dunia yang membantu kita 
  melihat bahwa dunia kini hidup di lingkungan kita. Ada enam puluh 
  bangsa yang mewakili lingkungan di mana saya tinggal di Chicago, 
  enam puluh bangsa di sekolah negeri di mana anak-anak saya 
  bersekolah, dan sekolah itu mengajar dalam sebelas bahasa. Sekitar 
  35% dari lingkungan saya adalah orang-orang berkulit hitam, namun 
  banyak budaya kulit hitam yang diwakili: budaya tembakau, kapas, 
  batu bara, dan Karibia. Semua itu adalah budaya orang kulit hitam, 
  namun semuanya berbeda. 28% adalah orang Asia, namun mereka semua 
  berbeda. Ada yang dari utara, selatan, dan timur -- beberapa dari 
  mereka adalah pengungsi dan orang miskin, namun banyak dari mereka 
  adalah orang kaya dan kaum elit.

  Salah satu rintangan sesungguhnya dalam misi kota adalah cara kita 
  membaca Alkitab sebagai buku desa. Kita menyanyikan lagu-lagu yang 
  penuh dengan nuansa penggembalaan dan gambaran pedesaan. Namun, 
  seperti yang dikatakan Bill Pannel, sangat sulit bagi orang kota di 
  pusat kota Cleveland untuk memikirkan tentang menggembalakan domba. 
  Kita harus bisa mengembangkan teologi kita untuk sampai pada visi 
  Allah bagi kota.

  Rintangan Gerejawi

  Rintangan besar lainnya adalah rintangan gerejawi. Bagi kebanyakan 
  kita, gereja telah menjadi sebuah perkumpulan -- gereja kulit putih 
  kelas menengah tidak akan bertahan kalau lingkungan berubah. Banyak 
  dari kami adalah hasil dari sindrom pelarian kulit putih. Kami 
  berbondong-bondong meninggalkan kota saat Tuhan membawa seluruh 
  dunia ke sana.
 
  Beberapa dari kita merasa bersalah mengenai hal itu. Tapi Anda harus 
  tahu, saat Anda meninggalkan kota, Roh Kudus tidak pergi. Ia hanya 
  pindah ke kulit anggur yang baru. Kini gereja yang paling cepat 
  pertumbuhannya adalah gereja orang kulit hitam, Amerika Latin, atau 
  Korea. Banyak dari mereka menyembah Tuhan dalam bahasa yang bukan 
  bahasa Inggris. Tuhan tidak membutuhkan Anda untuk kembali ke 
  Chicago karena Mesias-lah yang dikirim untuk menyelamatkan kota itu. 
  Jika Anda datang, Anda harus bergabung dengan Dia dalam pekerjaan 
  yang sudah Ia kerjakan di sana.

  Kini, berbagai denominasi dan badan misi berusaha untuk memahami 
  bagaimana mereka harus membagi ladang pelayanannya. Pada masa lalu 
  mereka dapat membedakan antara misi di dalam negeri dan misi asing, 
  tapi kini perbedaan itu sudah tidak masuk akal lagi -- mana yang 
  dalam negeri dan mana yang asing tidak dapat dengan mudah dibedakan. 
  Southern Baptist Home Mission melayani di Los Angeles saja dalam 26 
  bahasa. Keuskupan agung Chicago harus berurusan dengan 22 bahasa. 
  Ladang misi sudah hadir di "rumah" kita sendiri.

  Kini kita harus memikirkan misi bukan pada jarak secara geografis --
  misi yang menjangkau semilyar atau lebih orang yang tinggal jauh 
  dari gereja yang ada -- tapi wilayah misi baru harus memikirkan 
  jarak secara budaya. Kita masih akan memerlukan misionaris untuk 
  mengarungi samudera, gunung, dan gurun untuk menjangkau orang-orang 
  yang belum terjangkau. Namun, ladang misi baru ada di kota yang 
  terbentuk dari migrasi besar-besaran dan tingkat kelahiran yang 
  membumbung tinggi. Hal itu adalah realitas baru dunia misi.

  Satu tugas yang senang saya berikan di kelas misi kota adalah 
  membawa murid-murid saya ke supermarket dan memberi mereka waktu 30 
  menit untuk mengamati perubahan yang terjadi di lingkungan itu. 
  Mereka keluar dan menceritakan kepada saya bagaimana bisnis makanan 
  telah berubah dalam 30, bahkan 15 tahun terakhir. Toko-toko buka 24 
  jam. Semuanya sudah menggunakan sistem komputer. Harga-harga naik. 
  Kalau biasanya toko-toko menjajakan delapan ribu produk, kini mereka 
  menjajakan 24.000 produk. Ada bagian makanan orang Asia, Spanyol, 
  Amerika, dan ada juga bagian yang bebas garam. Ada bagian khusus 
  untuk makanan siap saji sampai makanan yang di-microwave. Mereka 
  memiliki layanan multibahasa dan layanan mencairkan cek yang lebih 
  nyaman daripada di bank saya. Sudah tidak ada lagi hari-hari seperti 
  dulu di mana toko daging bisa berkata, "Kami tidak jual daging lagi 
  setelah pukul enam sore."

  Saya juga akan membawa murid-murid saya ke gereja terdekat, dan di 
  sana kami melihat papan pengumuman. Dan apa yang kita lihat? Ibadah 
  pagi: Pukul 11.00 -- tema: Dunia Tanpa Batas.

  Saya bertanya, bagaimana sebuah supermarket yang tidak rohani dapat 
  melakukan apa yang nampaknya tidak dapat dilakukan gereja yang 
  rohani? Bagaimana kita bisa memerdekakan gereja untuk menjangkau 
  kota? Bagaimana kita dapat membujuk badan misi asing untuk bekerja 
  sama dengan pengurus misi dalam negeri mengajarkan keterampilan 
  lintas budaya yang kini dibutuhkan di dalam negeri? Bagaimana kita 
  dapat melakukannya? Bagi kebanyakan dari kita, rintangan ini lebih 
  besar daripada pelayanan menjangkau agama lain -- dan saya 
  mengatakan hal itu atas dasar pengalaman saya pribadi dalam usaha 
  mengatasi rintangan ini. (t/Dian)
  
  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Judul buku: Urban Mission
  Judul asli artikel: Overcoming the Real Barriers to Urban
                      Evangelization
  Penulis: Ray Bakke
  Penerbit: InterVarsity Press, Illinois 1988
  Halaman: 71 -- 77

______________________________________________________________________
REFERENSI MISI

              SEPUTAR PELAYANAN KOTA DALAM SITUS e-MISI
                        http://misi.sabda.org/

  1. Pelayanan Terhadap Gelandangan
     ==> http://misi.sabda.org/pelayanan_terhadap_gelandangan

  2. Memulai Pelayanan bagi Orang Miskin
     ==> http://misi.sabda.org/memulai_pelayanan_bagi_orang_miskin

  3. Bagaimana Membantu Anak-Anak yang Kelaparan
     ==> http://misi.sabda.org/bagaimana_membantu_anak_anak_yang_kelaparan

  4. Strategi Menjangkau Orang Miskin di Kota-Kota Besar Negara Berkembang
     ==> http://misi.sabda.org/strategi_menjangkau_orang_miskin_di_kota-kota_besar_negara_berkembang

______________________________________________________________________
SUMBER MISI

Greensboro Urban Ministry
==> http://greensborourbanministry.org/
  Greensboro Urban Ministry merupakan sebuah badan misi yang didukung 
  oleh lebih dari dua ratus jemaat yang mewakili tradisi iman 
  Protestan, Katholik, dan Yahudi. Namun, meski disokong oleh 
  jemaat-jemaat dengan latar belakang iman yang berbeda, organisasi 
  yang didirikan pada tahun 1967 ini memiliki sebuah tujuan bersama, 
  yakni untuk menunjukkan cinta kasih Allah kepada orang-orang miskin 
  melalui tindakan nyata di wilayah Greensboro, North Carolina, AS. 
  Untuk mewujudkan tujuannya itu, Greensboro Urban Ministry tidak 
  hanya memberikan bantuan berupa makanan, tempat tinggal, dan 
  pakaian, namun juga membantu banyak individu dan keluarga mematahkan 
  lingkaran kemiskinan, kelaparan, kecanduan, dan ketunawismaan. Cari 
  tahu lebih banyak mengenai program-program mereka dan cara bagaimana 
  Anda dapat memberi dan menerima bantuan dengan menjelajahi situsnya.

______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

I N D I A
  Meski penganiayaan agama terus berlanjut di India, Partners 
  International melaporkan kabar baik. Salah satu pelayanan mereka, 
  Church Growth Association of India (CGAI), melaporkan pertobatan 
  seorang wanita menjadi Kristen setelah "tuhan"nya gagal menyembuhkan 
  suaminya.

  "Saya sangat percaya bahwa tuhanku akan membantuku seumur hidupku,"
  katanya. "Semua penyembahan yang sudah kami lakukan tidak membantuku
  atau suamiku di saat kami sangat memerlukannya. Aku tidak tahu ke
  mana harus berpaling."

  Partners mengatakan bahwa suami dari wanita itu aktif terlibat dalam
  politik; suatu hari ia ditusuk dengan anak panah beracun. Setelah
  melarikannya ke rumah sakit, kata wanita itu, rumah dan keluarganya
  diserang oleh partai politik oposisi.

  "Mereka memukuli ibuku dan membuangi alat-alat dapur kami," katanya.
  "Keadaan suamiku semakin buruk pada saat itu."

  Seorang tetangga Kristen memberitahu wanita itu tentang kuasa 
  penyembuhan yang dimiliki Yesus, dan kelompok CGAI mendoakannya. 
  Wanita itu merasakan kedamaian yang meliputinya setelah selesai 
  berdoa, dan ia mengatakan bahwa keesokan harinya ia kembali ke rumah 
  sakit yang merawat suaminya.

  "Yang menakjubkan, keadaan suamiku membaik dan ia terus semakin baik 
  selama beberapa minggu kemudian," katanya. "Saat aku menjelaskan 
  siapa yang sudah menyembuhkannya, suamiku menjadi sangat tertarik 
  untuk mengikuti ibadah gereja."

  Mereka berdua sekarang melayani Tuhan dalam lingkungan mereka. CGAI 
  adalah ujung tombak pusat pelatihan penginjilan untuk orang-orang 
  belum terjangkau yang ada di India. Pelayanan wanita yang mereka 
  adakan mengumpulkan para wanita dalam sebuah perkumpulan di mana 
  mereka belajar menabung, membangun persahabatan, dan mencari nilai 
  diri. Beberapa dari wanita itu menjadi percaya saat mereka mengalami 
  kasih Tuhan bagi mereka. (t/Dian)
  Diterjemahkan dari: Mission News, April 2009
  Kisah selengkapnya: http://mnnonline.org/article/12571
  Pokok doa:
  * Berdoa bagi pelayanan CGAI di India, agar Tuhan mengurapi setiap
    orang yang terlibat di dalamnya, dan biarlah melalui pelayanan 
    itu, semakin banyak orang menerima Kabar Baik.
  * Doakan untuk petobat baru di India, agar Tuhan memampukan mereka
    untuk mengenal Tuhan lebih lagi dan semakin bertumbuh di dalam
    pengenalan yang benar akan Tuhan.

R E P U B L I K  C E K O
  Semua orang yang pernah bekerja dengan para pemuda tahu bahwa 
  mereka adalah golongan umur yang sukar dikendalikan. Hal ini juga 
  terjadi di Republik Ceko, bahkan masalahnya lebih besar. Namun, 
  masalah sikap ini kebanyakan hanyalah topeng yang menutupi masalah 
  yang sebenarnya, yakni kebutuhan akan Juru Selamat.

  Pelayan pemuda I.N. Network, MR, mulai melayani anak-anak muda ini 
  pada bulan Januari 2009. Pelayanan utama I.N. Network di Republik 
  Ceko adalah siswa-siswi usia 14 sampai 18 tahun. Mereka diberi 
  kesempatan untuk mengajar siswa-siswi sekolah tentang relasi, 
  seksualitas, dan masalah-masalah penting lainnya dari sudut pandang 
  Kristen. Beberapa pihak membuka diri untuk pekabaran Injil kepada 
  anak-anak yang memang sangat membutuhkannya.

  RK memberikan gagasan tentang apa yang akan dihadapi MR dengan 
  posisinya yang baru. RK mengatakan bahwa sekolah tidak hanya 
  memiliki beberapa murid bermasalah (yang usianya terlalu tua untuk 
  ada di kelas itu), tapi sekolah tidak mau mengeluarkan siswa 
  tersebut karena tidak ingin kehilangan dana dari pemerintah. 
  Lingkungan di sekolah-sekolah ini sering kali menjadi musuh bagi 
  para siswa dan guru.

  Pelajaran yang dibawakan RK sifatnya informatif, namun benar-benar 
  memberinya kesempatan untuk menjadi pengaruh positif dalam kehidupan 
  para siswa. Ia menyaksikan Kristus melalui cara pandangnya terhadap 
  masalah-masalah serius dan pembawaan dirinya. Ia kemudian memberikan 
  pelayanan tindak lanjut kepada anak-anak tersebut secara pribadi 
  untuk menjalin relasi yang mungkin akan menjadi titik awal relasi 
  mereka dengan Yesus.

  Terlepas dari apakah ini adalah maksud awal pelayanannya atau tidak, 
  RK sering kali memberikan teladan bagi para guru. Tuhan telah 
  memakainya untuk membagikan alasan di balik pelajaran yang 
  disampaikannya, juga Injil, dengan para guru. Meski pelayanan ini 
  sulit dan sangat menantang, ia jelas sudah memberi dampak bagi upaya 
  pelebaran Kerajaan Allah.

  MR melakukan pelayanan yang sama di sekolah-sekolah negeri dan 
  mampu memberikan sudut pandang yang segar sebagai seorang penginjil 
  baru. Doakan agar Tuhan memberinya banyak kesempatan untuk 
  membagikan dan mewartakan imannya. (t/Dian)
  Diterjemahkan dari: Mission News, April 2009
  Kisah selengkapnya: http://mnnonline.org/article/12547
  Pokok doa:
  * Mengucap syukur untuk keberadaan orang-orang seperti RK dan
    MR, yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk memberitakan
    Kabar Baik kepada para siswa dan guru-guru di Republik Ceko. Tuhan
    memberkati pelayanan yang mereka lakukan dan memberikan kemampuan
    dan perlindungan selama mereka melayani di sana.
  * Berdoa juga untuk setiap orang yang tergabung dan terlibat dalam
    pelayanan anak muda bersama I.N. Network, agar Tuhan memampukan
    mereka dalam membimbing dan mengarahkan anak-anak muda ini,
    sehingga mereka dapat menemukan apa yang menjadi tujuan hidup
    mereka.

______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

                       KOTA-KOTA DI INDONESIA

  Kota-kota kita adalah kunci untuk memenangkan dunia bagi Kristus. 
  Kota-kota tersebut dibebani oleh masalah-masalah yang mengejutkan 
  dan ditindih oleh kekuatan roh-roh jahat. Di pusat-pusat perkotaan 
  yang luas ini, hidup jutaan orang yang memerlukan kasih Allah. Dan 
  saat ini, Ia telah menempatkan sebagian besar dari Anda di kota-kota 
  besar di Indonesia. Mencintai kota dan mewujudkan kesejahteraannya 
  adalah perintah dari Allah bagi umat-Nya. "Usahakanlah kesejahteraan 
  kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada 
  TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 
  29:7)

  POKOK DOA:

  1. Berdoa bagi orang-orang percaya yang tinggal di kota, agar mereka
     dapat menjadi berkat bagi lingkungan mereka, mengingat masyarakat
     yang tinggal di kota saat ini cenderung tidak peduli terhadap
     sesamanya.

  2. Doakan agar setiap orang percaya dan gereja Tuhan memiliki beban
     untuk memberkati dan berdoa bagi kemakmuran dan pemulihan kota.

  3. Doakan juga agar aparat pemerintahan di kota dapat melaksanakan
     tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada mereka
     dalam mengatur kota dengan sebaik-baiknya.

  4. Berdoa pula karena rasa aman mungkin sudah tidak dapat dirasakan
     lagi oleh masyarakat perkotaan karena semakin hari, tindak
     kriminal semakin tinggi. Kiranya masyarakat di perkotaan dapat
     lebih waspada dan tetap percaya bahwa Tuhan selalu ada beserta
     dengan mereka.

  5. Berdoa untuk pihak berwajib yang bertugas menjaga keamanan di
     kota, agar Tuhan memampukan mereka dalam melaksanakan tugas
     mereka sehari-hari. Biarlah Tuhan memberi kekuatan kepada mereka
     untuk melindungi warganya dengan sebaik-baiknya.

  6. Doakan juga untuk para tunasusila, tunawisma, dan anak-anak
     jalanan yang tinggal di perkotaan, agar Tuhan menjamah hidup
     mereka, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang baru
     bersama Tuhan, dan menaruh setiap pengharapan mereka hanya kepada
     Tuhan.

  7. Berdoa untuk gereja/yayasan yang melayani para tunasusila,
     tunawisma, dan anak-anak jalanan di kota, agar Tuhan melindungi
     dan memampukan mereka dalam memberitakan Kabar Baik kepada
     orang-orang yang terhilang.

______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersiil dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2009 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org