Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2007/4

e-JEMMi edisi No. 04 Vol. 10/2007 (23-1-2007)

Budaya dan Identifikasi

                                            Januari 2007, Vol.10 No.04
______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI       : Lebih Jauh Tentang Budaya dan Identifikasi:
                     Prasangka Mengenai Budaya
SUMBER MISI        : Talking Bibles, Here`s Life
DOA BAGI MISI DUNIA: Filipina, Mesir, India
DOA BAGI INDONESIA : Injil dan Budaya
SURAT ANDA         : Pelayanan Perintisan
______________________________________________________________________

          "JIKA KRISTUS SUNGGUH-SUNGGUH TUHAN ATAS SEGALANYA,
                   BUDAYA HARUS BERADA DI BAWAH-NYA"
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Salam Sejahtera,

  Apa jadinya jika ada orang Kristen yang masih menempatkan tradisi
  agama dan budaya dengan iman Kristen secara berdampingan? Kompromi
  mungkin menjadi salah satu jawabannya. Apakah iman Kristen
  membenarkan pemikiran tersebut? Paulus, dalam Kolose 2, tidak
  menentang pemberlakuan tradisi dan budaya. Yang ditentang oleh
  Paulus adalah sikap jemaat di Kolose yang sering kali tidak dapat
  memilah keberadaan tradisi dan budaya dalam praktik imannya sehingga
  terjebak pada sikap memadupadankan/sinkretisme.

  Bagaimana dengan kita sendiri? sudah cukup bijakkah kita membedakan
  mana adat/budaya kita yang sesuai dengan iman Kristen dan mana yang
  tidak berkenan kepada Bapa? Bacaan di bawah ini kiranya dapat
  menjadi referensi bagi Anda untuk melihat budaya dalam iman Kristen.
  Tuhan memberkati.

  Redaksi e-JEMMi,
  Lisbet

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

             LEBIH JAUH TENTANG BUDAYA DAN IDENTIFIKASI:
                      PRASANGKA MENGENAI BUDAYA
             ===========================================

  Jika ada orang Kristen yang menghakimi orang non-Kristen dengan
  menyebut mereka sebagai jahat, kafir, dan berdosa, orang Kristen itu
  telah bersalah. Budaya "Kristen" yang seperti itu sebenarnya juga
  suatu dosa. Pekerja lintas budaya perlu memahami bahwa sebagian
  besar budaya adalah netral.

  Lausant Covenant dalam artikelnya, "Penginjilan dan Budaya",
  mengatakan, "Karena manusia adalah ciptaan Tuhan, sebagian budayanya
  kaya dalam hal keindahan dan kebaikan." Dalam komentarnya, John
  Stott menjelaskan, "Budaya bisa disamakan dengan permadani hiasan,
  rumit namun indah, yang dibuat oleh masyarakat tertentu untuk
  mengekspresikan identitas hukumnya. Kepercayan dan budaya adat
  adalah bagian dari permadani ini. Lausanne Covenant menentang
  pemasukan "budaya alien" ke dalam Injil. Willowbank Report dengan
  tegas menyatakan, "Terkadang dua kesalahan budaya ini dilakukan
  bersamaan, dan si penginjil bersalah karena imperialisme kultural
  merusak budaya lokal dan bahkan membawa masuk budaya alien."

  Setiap budaya harus diuji dan dinilai oleh Kitab Injil seperti yang
  ditegaskan Lausanne Covenant.

  Kebanyakan budaya bisa diperluas menjadi sarana untuk mengabarkan
  Injil.

  Dalam kitab Kisah Para Rasul 17:26-28, Paulus -- dalam sidang
  Areopagus di Atena -- mengatakan bahwa Tuhan sudah menentukan tempat
  yang tepat di mana orang harus tinggal. Karena itulah, budaya
  merupakan bagian dari rencana Tuhan. Dan Ia menempatkan orang di
  tempat di mana mereka harus tinggal agar mereka dapat mencari dan
  menemukannya.

  Pada kesempatan ini, kita mungkin menemukan bahwa pendekatan Paulus
  terhadap orang Atena berbeda dengan pendekatannya pada jemaatnya.
  "Pandangan dunia" orang Atena perlu diperhitungkan dan diperhatikan.

  Paulus sudah melihat bahwa kota itu penuh dengan berhala dan hal itu
  membuatnya sedih. Dalam pesannya, ia mulai membuat referensi
  mengenai cara hidup rohani dan objek berhala mereka. Secara khusus,
  dia sangat tertarik dengan sebuah mezbah yang bertuliskan: KEPADA
  ALLAH YANG TIDAK DIKENAL.

  Lalu ia menyatakan siapa Tuhan itu, Sang Pencipta, Allah surga dan
  bumi yang tidak menetap di kuil-kuil buatan manusia. Dialah Pemberi
  semua nafas kehidupan. Kemudian Paulus membuat referensi mengenai di
  mana manusia harus tinggal sebagai sesuatu yang ditentukan Tuhan.
  Tuhan melakukan ini agar orang-orang mencari dan bisa menemukan-Nya.

  Paulus juga mengutip filsafat Yunani dan menegaskan apa yang telah
  mereka katakan. Dari kutipan salah satu puisi mereka, dia
  memperkenalkan Injil. Setelah membicarakan inti dari kepercayaan
  mereka, dia memperkenalkan kebenaran.

  Berbagai macam tanggapan muncul ketika Paulus membicarakan
  penyaliban. Hanya sedikit yang memercayainya, termasuk seorang
  anggota Areopagus.

  Rasul Paulus peka terhadap budaya. Dia tentu sudah menyadari bahwa
  orang-orang tersebut sangat berpegang pada budayanya dan dibentuk
  oleh latar belakang mereka ketika dia menulis surat 1 Korintus 9.
  Konteks ini berkaitan dengan penyerahan hak-haknya sebagai seorang
  rasul. Dia membuat satu pernyataan yang mengagumkan, "Sungguhpun
  aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari
  semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang."
  Lebih jauh lagi dia mengatakan, "Demikianlah bagi orang Yahudi aku
  menjadi seperti orang Yahudi .... Bagi orang-orang yang tidak hidup
  di bawah hukum Taurat (non-Yahudi) aku menjadi seperti orang yang
  tidak hidup di bawah hukum Taurat ...." Perhatikanlah kata "seperti"
  dan renungkan artinya. Paulus bertekad untuk menjadi "segalanya bagi
  semua manusia" agar dapat menyelamatkan mereka.

  Dalam beberapa kitab Galatia, Paulus mengenali bahwa hanya ada satu
  Injil. Namun, Injil ini akan diartikan berbeda oleh orang-orang
  Yahudi dan non-Yahudi. Oleh karena itu, dalam membawa berita Injil
  kepada orang non-Yahudi, orang Yahudi tidak boleh memaksakan
  unsur-unsur keyahudiannya kepada orang non-Yahudi. Karena
  unsur-unsur tersebut tidaklah penting untuk Injil, malah merusakkan
  kebenaran Injil.

  Masalah yang umum dengan para pekerja lintas budaya adalah mereka
  sering kali sudah memiliki pandangan awal tentang apa yang membantu
  pelayanan mereka. Bukan hanya memiliki pola budayanya sendiri yang
  ternyata sulit untuk diubah, mereka juga membawa "sub-budaya
  Kristen" mereka. Misalnya, seorang misionaris yang terlibat dalam
  perintisan gereja tentunya sudah memikirkan cara perintisan
  tertentu. Pemikiran seperti itu akan merintangi penginjilan.
  Yang sama buruknya, orang-orang yang tinggal di kota sasaran
  penginjilan akan meneliti unsur Kristen baru dan berpikir bahwa
  mereka harus menerima dan mempraktikkan unsur-unsur ini agar menjadi
  orang Kristen. Tidak mengherankan, banyak orang Asia yang memandang
  agama Kristen sebagai agama Barat.

  Melihat kembali sejarah kekristenan pada tahun 1500-1900 di Asia,
  Paul Johnson membuat pernyataan tajam. "Adalah ketidakmampuan
  kekristenan untuk berubah dan mengurangi sifat keeropaannya sehingga
  kesempatan yang ada terlewatkan. Sangat sering gereja Kristen
  menempatkan dirinya sebagai perluasan konsep sosial dan intelektual
  Eropa daripada sebagai perwujudan kebenaran universal .... Meskipun
  kekristenan lahir di Asia, saat diekspor kembali dari abad enam
  belas ke depan, kekristenan gagal untuk mendapatkan sifat
  keasiaannya."

  Banyak misionaris Barat pada masa lampau yang tidak mau mengenali
  budaya asli tempatnya berada karena tekanan dan ketegangan yang akan
  mereka hadapi dalam proses pengenalan itu. Kini ketika orang-orang
  Asia terlibat dalam pelayanan lintas budaya, mentalitas yang sama
  ini harus disingkirkan. Kita bisa disalahkan karena merusak prinsip
  alkitabiah misi.

  FUNGSI, BENTUK, DAN ARTI

  Misionaris yang terlibat dalam perintisan gereja harus berhati-hati
  dalam membedakan fungsi dan bentuk. Fungsi adalah kegiatan penting
  yang memiliki tujuan. Sedangkan bentuk adalah pola, struktur, atau
  metode yang digunakan untuk melaksanakan fungsi. Orang Kristen baru
  perlu mengekspresikan kepercayaan mereka dan menyembah dalam cara
  kultural yang berarti. Mereka harus memiliki kebebasan untuk menolak
  pola kultural alien dan mengembangkan pola kulturalnya sendiri.
  Mereka bebas untuk "meminjam" bentuk budaya dari yang lain, namun
  harus yang berarti.

  Seseorang dengan latar belakang religius Asia akan terbiasa jatuh
  dan lemah dalam menyembah Tuhan daripada duduk di kursi dengan mata
  tertutup.

  Di Afrika, drum digunakan di beberapa daerah untuk memanggil
  orang-orang dalam penyembahan, meskipun sebelumnya alat tersebut
  tidak diterima.

  Di Bali, dewan penatua gereja mempelajari kepercayaan alkitabiah dan
  kultural, lalu menentukan bahwa gaya arsitektural tertentu untuk
  jemaat mereka akan bisa dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka.
  Karena orang-orang Bali sangat "visual", mereka mengekspresikan
  kepercayaan terhadap Trinitas dengan merancang atap bangunan gereja
  mereka menjadi bertingkat tiga.

  Dalam suatu budaya, hampir semua adat akan melaksanakan fungsi yang
  penting. Untuk itulah, adat seharusnya tidak dicap "jahat" dan
  dihapuskan tanpa melihat fungsi dan artinya. Terkadang, adat lama
  bisa memberi arti yang baru. Beberapa memang harus dihapuskan. Dalam
  beberapa contoh, bisa diberikan adat penggantinya yang menjalankan
  fungsi sama.

  KEUNIVERSALAN INJIL

  Ketika kita mengenali orang-orang dari budaya yang berbeda, pesan
  yang kita bawa, yaitu Injil bisa disampaikan. Injil ini ditemukan
  dalam Alkitab. Di satu sisi, isi Injil ditemukan dalam keseluruhan
  Alkitab yang menjelaskan Injil dengan berbagai macam cara kepada
  orang-orang dari budaya yang berbeda-beda. Ada sesuatu dari Injil
  yang relevan dengan budaya apa pun.

  Yang harus kita hindari adalah membawa Injil yang belum dikemas ke
  dalam satu budaya baru. Banyak kelompok yang terburu-buru "mengambil
  keputusan untuk Tuhan" telah menjadi tidak bijaksana dalam
  melaksanakan metode. Akibatnya, mereka lebih banyak mengakibatkan
  kerusakan daripada perbaikan dan terkadang pula menutup jalan bagi
  pekerjaan lintas budaya yang selanjutnya.

  Orang bisa menolak pesan Injil bukan karena mereka antipati terhadap
  Kristus atau kekristenan, namun karena kekristenan dianggap sebagai
  ancaman terhadap budaya dan solidaritas masyarakat mereka. Ini tidak
  hanya terjadi pada masyarakat suku dan religius, tetapi juga pada
  masyarakat sekuler.

  Oleh karena itu, faktor kultural tidak bisa diartikan hanya di
  permukaan saja. Ketika firman Tuhan mulai menembus suatu masyarakat,
  firman itu memiliki kuasa untuk berbicara kepada adat dan
  kepercayaan masyarakat tersebut. Adat dan kepercayaan yang tidak
  cocok dengan Kitab Injil harus dihapuskan. Yang tidak bertentangan
  dengan Injil bisa dipertahankan, bahkan dipoles dan diubah di bawah
  pemerintahan Tuhan.

  Dan saat orang berserah dalam pemerintahan Tuhan, Roh Kudus
  meneranginya melalui kitab Injil untuk memahami kebenaran dengan
  cara yang baru melalui pandangan mereka sendiri.

  PEMERINTAHAN TUHAN ATAS BUDAYA

  Saya ingat, ketika akan masuk universitas, bagaimana bapa rohani
  saya menasihati saya untuk melihat semua seni, ilmu, dan filosofi
  yang akan saya geluti di bawah pemerintahan Kristus. Ini semua harus
  diuji di bawah ketelitian Kitab Injil. Nasihatnya tidak pernah saya
  lupakan. Adalah petualangan untuk melihat semua studi lewat
  pandangan ini.

  Jika Kristus sungguh-sungguh Tuhan atas segalanya, budaya harus
  berada di bawah-Nya. Prinsip ini cukup berguna karena pekerja lintas
  budaya harus hidup dengan tingkat ambiguitas (suatu persyaratan agar
  pekerja lintas budaya menjadi efektif).

  Lausanne Covenant dalam salah satu arikelnya di Penginjilan dan
  Budaya menyatakan, "Injil ... mengevaluasi semua budaya menurut
  kriteria kebenarannya dan menuntut kemutlakan moral di setiap
  budaya." Maka dari itu, firman Tuhan menolak berhala-berhala yang
  menentang keunikan Tuhan. Hukum moral Tuhan juga bersifat mutlak,
  sedangkan budaya mengandung adat istiadat dengan nilai yang
  berkaitan.

  Injil Anugerah juga menolak budaya, bentuk, dan praktik yang
  didasarkan pada kebaikan manusia untuk memperoleh keselamatan.
  Ketika orang terbuka terhadap pengajaran Injil, kita bisa memercayai
  bahwa Roh Tuhan mengubahkan "pandangan dunia" orang-orang ini saat
  mereka menaati firman Tuhan.(t/Lanny)

  Bahan diterjemahkan dari sumber:
  Judul buku        : When You Cross Cultures
  Judul artikel asli: More About Culture And Identification - Cultural
                      Preconceptions
  Penulis           : Jim Chew
  Penerbit          : The Navigators, Singapore 1993
  Hal               : 17 -- 23

______________________________________________________________________
SUMBER MISI

TALKING BIBLES
==>     http://www.talkingbibles.org
  Usaha penerjemahan Injil maupun pemberantasan buta huruf merupakan
  tugas dasar dari setiap pelayanan yang bergerak dalam Alkitab audio.
  Setiap program pemberantasan buta huruf bertujuan untuk membantu
  orang-orang dalam membaca terjemahan Injil dalam bahasa mereka.
  Keberadaan Talking Bible`s digital sangat memudahkan tercapainya
  tujuan ini dalam waktu singkat. Dalam tampilan baru situsnya,
  Talking Bible`s menyediakan fasilitas "search and find". Fasilitas
  ini memudahkan pembaca untuk memilih pasal dalam Alkitab;
  memadupadankan dengan audio dan membaca sambil mendengarkan. Talking
  Bible`s digital Perjanjian Baru tersedia dalam bahasa Inggris,
  Spanyol, Benggali, dan beberapa bahasa lainnya yang sedang dalam
  pengerjaan.

HERE`S LIFE
==>     http://www.hereslife.com/
  Anda sedang mencari-cari bahan untuk menjangkau tetangga Anda agar
  mereka dapat mendengar Injil? Situs Here`s Life menyediakan beragam
  sumber dan ide untuk membantu Anda dalam memberitakan Injil kepada
  orang-orang dari berbagai macam budaya. Traktat Injil bilingual yang
  dimuat dalam situs ini merupakan salah satu sarana efektif yang bisa
  digunakan untuk melakukan penginjilan. Semua traktat yang ditawarkan
  bisa diunduh. Traktat yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai
  bahasa tersebut juga dilengkapi dengan informasi tentang budaya dari
  negara-negara yang bersangkutan. Hal ini memberikan masukan yang
  logis dan relevan dengan ayat-ayat Alkitab yang sesuai pada setiap
  budaya. Hal ini sesuai dengan tujuan dari Here`s Life untuk
  memperlengkapi Anda agar bisa menjangkau secara efektif semua orang
  yang Anda jumpai dengan Injil. Organisasi ini dapat membantu dalam
  hal:
  - mempersiapkan Anda untuk membangun persahabatan yang erat.
  - menyediakan sarana-sarana untuk penginjilan dan pemuridan.
  - menawarkan pelatihan pribadi untuk memulai pelayanan Anda.
  - memperkenalkan Anda pada orang-orang yang bersedia membantu dalam
    pemberitaan Injil kepada teman-teman Anda.

______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

F I L I P I N A
  Ancaman teror di Filipina membantu program World Hope berkembang.
  Ann dari World Hope (WH) menyebutkan bahwa delapan tahun yang lalu
  mereka membantu peresmian sebuah sekolah dasar bagi orang-orang
  B`laan. Karena pemberontakan di Mindanao, para penduduk desa lebih
  memerhatikan keselamatan anak-anak mereka yang berusia sekolah
  menengah pertama. Anak-anak ini biasanya harus berjalan jauh
  untuk bisa sekolah. Oleh sebab itulah, mereka membangun sekolah
  menengah pertama di rumah. "Mulai April, ketika anak-anak memulai
  tahun ajaran baru, WH melakukan antisipasi untuk menerima delapan
  puluh sampai seratus murid. Mereka akan menambah tingkat kelas
  setiap tahunnya. Jadi, tahun depan mereka akan memiliki sembilan
  tingkat kelas dan sepuluh di tahun berikutnya."
  [Sumber: Mission Network News, Januari 2007]
  Pokok Doa:
  ----------
  * Peristiwa buruk tidak selalu membawa yang buruk. Adakalanya Tuhan
    memakai cara itu untuk melakukan salah satu karya-Nya, seperti
    yang dialami oleh WH yang melayani di antara orang B`laan. Oleh
    karena itu, mari naikkan syukur atas kemurahan hati Allah kepada
    orang-orang B`laan melalui pelayanan pekerja dari WH.
  * Doakan supaya Injil dapat terus dibagikan kepada kelompok orang
    B`laan. Doakan juga agar Injil yang didengar oleh anak-anak B`laan
    dapat terus tumbuh sampai mereka beranjak dewasa. Mohonkan pula
    kepada Tuhan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan lain untuk
    mendukung sekolah di rumah tersebut.

M E S I R
  Seorang awak SAT-7 baru-baru ini terjebak dalam perang antarsuku
  ketika sedang mengerjakan film dokumenter di Mesir. Tim ini sedang
  membawa sebuah situs arkeologi terpencil pada saat pengambilan
  gambar untuk sebuah dokumenter berjudul "Christian Roots". Hany dari
  SAT-7 mengatakan, "Dua suku Arab di daerah ini terlibat konflik atas
  tanah ini. Mereka mengira kami dari suku lain dan mereka tidak
  mengizinkan kami untuk membuat film ini sehingga kami harus berhenti
  mengambil gambar, mengemasi barang-barang kami, dan pergi
  secepatnya." Interupsi ini tidak menghalangi mereka, meskipun mereka
  harus menggunakan gambar yang telah mereka ambil sebelumnya. Hany
  mengatakan bahwa program ini mempunyai suatu pesan penting:
  belajarlah dari sejarahmu. "Ketika orang-orang Kristen bersatu,
  mereka dapat menghadapi berbagai masalah. Mereka memelihara iman
  mereka dan melindungi iman mereka selama masa-masa sulit. Sekarang
  kami melihat beberapa konflik antardenominasi, antarpemimpin, yang
  akan sangat berdampak bagi keberadaan orang-orang Kristen di Timur
  Tengah." Tim ini sekarang dalam proses praproduksi dokumenter dan
  berharap tahun ini bisa menayangkannya.
  [Sumber: Mission Network News, Januari 2007]
  Pokok Doa:
  ----------
  * PI dapat dilakukan lewat berbagai media, salah satunya adalah
    dengan menggunakan televisi. SAT-7 sudah lama melakukan pelayanan
    ini di daerah Timur Tengah. Bersyukurlah karena selama ini Tuhan
    terus menjaga dan memelihara SAT-7.
  * Teruslah berdoa, memohon perlindungan dan keamanan dari Allah
    kepada para pekerja SAT-7. Doakan juga agar SAT-7 tidak hanya
    semakin menguatkan iman orang-orang percaya, namun juga dapat
    menjangkau setiap orang yang belum percaya.

I N D I A
  Kita patut bersyukur atas kerja International Bible Society (IBS).
  Saat ini telah tersedia Alkitab PL dan PB yang disajikan dalam
  bahasa puisi di India Utara. Murthy dari IBS mengatakan mereka baru
  saja meresmikan pemakaian bahasa Awadhi yang digunakan oleh 20 juta
  orang. Karena Kitab Suci Hindu juga ditulis dalam bahasa puisi, dia
  percaya banyak orang akan membacanya. Murthy dikejutkan dengan
  respons dari para sarjana. "Universitas di India Utara menggunakan
  Alkitab Awadhi sebagai buku pegangan bagi para murid bahasa Awadhi.
  Kami sama sekali tidak melarang ini." Penggunaan Alkitab di
  sekolah-sekolah dan media yang memberikan pengabdian terus
  meningkat. Murthy memohon dukungan, "Doakan kami agar dapat menyalin
  lebih banyak lagi dan supaya Tuhan memampukan kami untuk
  menyampaikan firman-Nya dan menjangkau 20 juta orang yang membaca
  bahasa ini karena itulah beban kami." Sejak Alkitab diterima oleh
  para intelektual Hindu, mereka tidak lagi melihat pertentangan.
  [Sumber: Mission Network News, Januari 2007]
  Pokok Doa:
  ----------
  * Mari bersyukur atas keberadaan Alkitab dalam bahasa Awadhi di
    India. Ucapkan pula syukur atas pemeliharaan Bapa kepada tim IBS
    yang dapat menyelesaikan proyek ini. Doakan pula agar tim IBS
    dimampukan untuk menjangkau 20 juta orang pengguna bahasa Awadhi.
  * Saat ini dibutuhkan lebih banyak lagi salinan terjemahan Alkitab
    untuk berbagai bahasa lainnya. Berdoalah agar kebutuhan ini dapat
    terpenuhi.

______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

                            INJIL DAN BUDAYA
                            ================

  Pokok Doa:
  ----------

  * Di beberapa tempat, khususnya di pedalaman, kekristenan ditolak
    karena dianggap sebagai ancaman terhadap budaya mereka. Mari
    doakan para pekerja yang melayani suku-suku tersebut agar dapat
    dengan bijak membawa Injil masuk dalam budaya mereka, diberikan
    hikmat juga untuk mengenalkan keselamatan kepada bangsa- bangsa.

  * Untuk menanam di ladang, terlebih dahulu harus ada orang yang
    membersihkannya dari tanaman liar. Demikianlah pelayanan di ladang
    misi. Sebelum seorang misionaris masuk ke ladang misi, para pendoa
    syafaat harus lebih dahulu berdoa untuk daerah-daerah yang belum
    diinjili, membersihkannya dari kuasa kegelapan. Berdoalah agar
    semakin banyak orang yang terbeban menjadi pendoa syafaat yang
    berdoa bagi para penginjil.

  * Mohonkan Roh Kudus untuk membuka hati dan pikiran suku-suku yang
    ada di negara kita agar mereka siap ketika mendengarkan Injil yang
    disampaikan.

  * Adat yang dianut oleh sebagian besar masyarakat kita sudah melekat
    erat dalam tatanan kehidupan mereka. Sebagian orang Kristen ada
    yang bijak menyikapi masalah adat dari perspektif Injil sehingga
    dapat melihat bagian yang sesuai dan yang tidak. Namun, ada juga
    yang memiliki konotasi negatif terhadap adat (menganggap tidak
    baik). Berdoalah agar orang-orang Kristen memiliki hikmat dan
    kebijaksanaan dalam memandang adat dan hubungannya dengan
    kekristenan.

______________________________________________________________________
SURAT ANDA

  >From: Hendry <hen_dar80(at)xxxx>
  >Wah ... saya bersyukur mendapatkan artikel-artikel yang berguna
  >untuk pelayanan perintisan di daerah saya. Tolong dukung saya dalam
  >doa. Terima kasih. GBU!

  Redaksi:
  Kami juga ikut bersuka cita karena bahan-bahan yang tersaji dalam
  publikasi e-JEMMi dapat mendukung pelayanan perintisan di daerah
  Anda. Selain itu, agar para pembaca e-JEMMi bisa lebih mengenal dan
  mendukung pelayanan Anda, silakan mengirimkan kesaksian tentang
  pelayanan yang Anda rintis tersebut. Kami tunggu kiriman
  kesaksiannya!

______________________________________________________________________
URLS Edisi Ini

Mission Network News                http://www.missionnetworknews.org/
______________________________________________________________________

Anda diizinkan mengcopy/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
   (untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: harus
    mencantumkan SUMBER ASLI dari masing-masing bahan dan e-JEMMi
(sebagai penerbit bahan-bahan tersebut dalam bahasa Indonesia). Thanks
______________________________________________________________________
                        Staf Redaksi: Lisbet
  Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2007 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
  Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Staf e-MISI dan Staf Redaksi:               < staf-misi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan          :   < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti              : < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan:       < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi        :               http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi                   : http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA                      :           http://www.sabda.org/ylsa/
Situs SABDA Katalog             :            http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org