Beranda | YLSA.org | Alkitab | Katalog | AI |
Utama > Publikasi > e-JEMMi > Edisi No. 14 Vol. 13/2010
  Tampilan cetak   edisi sebelum | 04/Edisi 2010 | edisi berikut

e-JEMMi edisi No. 14 Vol. 13/2010 (6-4-2010)

Alkitab Sebagai Kerangka Referensi

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI 1: Alkitab Sebagai Kerangka Referensi
ARTIKEL MISI 2: Diutus untuk Berbuah
SUMBER MISI: BibleGateway.com
DOA BAGI MISI DUNIA: Kanada, Somalia
DOA BAGI INDONESIA: Bencana Gempa Bumi
______________________________________________________________________

    MANY WHO SING "FILL ME NOW" MIGHT BETTER SING "EMPTY ME NOW"
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Sebenarnya, agenda dunia, perbandingan agama, dan filsafat tidaklah
  memadai untuk dipakai untuk menguji misiologi. Kita harus
  menggunakan Alkitab sebagai kerangka acuan untuk misiologi, demikian
  kurang lebih pernyataan Alan R. Tippett dalam artikelnya "Alkitab
  Sebagai Kerangka Acuan". Pernyataan Tippett tentu amat menarik untuk
  direnungkan, didiskusikan, dan dikaji lebih jauh. Oleh sebab itu, e-
  JEMMi edisi kali ini meletakkan tulisan tentang dasar misiologi
  tersebut sebagai artikel misi yang pertama.

  Artikel misi berikutnya hendak menunjukkan betapa Lembaga Pelayanan
  Kartidaya ingin mengetuk kepedulian kita agar peka terhadap konteks
  bermisi di Indonesia. Lembaga ini sudah menetapkan penyediaan firman
  Tuhan dalam bahasa-bahasa suku sebagai salah satu strategi misi
  mereka. Adalah fakta bahwa ternyata masih ada sekitar empat ratus
  suku bangsa di Indonesia yang belum mendengar firman Tuhan.
  Kartidaya sendiri telah sekitar sembilan belas tahun menjadi
  perpanjangan tangan gereja untuk menjangkau suku-suku di Indonesia,
  khususnya melalui penyediaan Alkitab dalam bahasa daerah.

  Setelah menyimak dua artikel tersebut, kami mengajak Anda mendoakan
  orang-orang percaya di Kanada dan Somalia. Anda dapat menggunakan
  pokok-pokok misi dunia e-Jemmi sebagai pemandu doa yang spesifik.
  Terakhir, doakan juga Ibu Pertiwi kita yang tercinta.

  Selamat menyimak.

  Redaksi Tamu e-JEMMi,
  Wilfrid Johansen
  http://misi.sabda.org
  http://fb.sabda.org/misi

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI 1

                 ALKITAB SEBAGAI KERANGKA REFERENSI

  Uraian ini saya awali dengan satu tema pernyataan iman yang masih
  dapat berkembang: Allah, Allah yang hidup, Allah yang menyelamatkan,
  Allah yang berbicara, dan Allah yang mencukupi. Kita harus
  menyampaikannya dengan cara sedemikian rupa sehingga kita dapat
  melihatnya dengan latar belakang kepercayaan-kepercayaan yang
  berbeda. Entah disadari atau tidak, para misiolog, sebagaimana para
  ilmuwan, sama-sama mengawali riset mereka dengan tindakan iman.
  Walaupun Durkheim menyatakan, "semua prakonsepsi harus dihapuskan"
  (1962:31), tidak ada cara lain untuk memulai sebuah riset kecuali
  dengan tindakan iman. Faktanya, yang dilakukan Durkheim sendiri
  ternyata persis seperti itu. Saltman, seorang ahli biokimia,
  berpendapat bahwa "ilmu pengetahuan adalah satu pengalaman religius"
  (1970). Pertama-tama, para peneliti ilmu pengetahuan percaya bahwa
  alam semesta memunyai tatanan; kedua, manusia dapat memahami tatanan
  ini dengan melakukan penelitian-penelitian; dan ketiga, adalah
  suatu hal yang baik bagi manusia untuk mendapat pemahaman tersebut.

  Seorang peneliti tidak hanya memulai dengan iman yang pribadi,
  tetapi juga membutuhkan semacam "kerangka acuan" untuk menyusun,
  menguji, dan menafsirkan pengalamannya. Kerangka acuan itu dapat
  berbentuk peta atau diagram, yang telah dirancang oleh orang lain
  berdasarkan riset sebelumnya dan telah diuji selama bertahun-tahun
  melalui serangkaian penemuan ilmiah yang terus berkembang. Selain
  itu, sebuah kerangka acuan bisa berbentuk sistem kalkulasi, dengan
  rumusan dan metode trigonometri yang telah dibuktikan secara
  matematis. Kerangka acuan juga bisa berbentuk metode pengumpulan,
  pengelompokan, dan pembandingan data kuantitatif dan kemudian
  dicatat dalam bentuk grafik hingga membuat kita dapat mengenali
  kondisi dan kecenderungan tertentu. Pilihan-pilihan kerangka acuan
  yang disediakan untuk berbagai jenis riset hampir tidak terbatas
  jumlahnya. Setiap disiplin ilmu dapat memunyai satu atau lebih
  kerangka acuan bergantung tujuan risetnya.

  Kerangka acuan untuk misiologi harus memenuhi persyaratan berikut:

  1. Kerangka acuan itu harus cukup memadai untuk disiplin ilmu
     tersebut; artinya, penggunaan kerangka acuan itu harus
     dapat diaplikasikan di tengah-tengah konsep misi Kristen dan
     tujuannya.

  2. Kerangka acuan itu harus dilengkapi dengan cara-cara yang memadai
     untuk pengelompokan dan pengujian data yang sudah diamati dan
     dikumpulkan; artinya, acuan itu harus memiliki nilai-nilai dan
     moral-moral religius.

  3. Kerangka acuan itu harus dijadikan alat penguji yang bisa
     meyakinkan misiolog itu sendiri akan keandalan temuan mereka.

  Kemudian, jika seorang peneliti sudah memilih satu kerangka acuan
  yang meyakinkan, dia harus menggunakan kerangka acuan itu dengan
  jujur dan konsisten, dan tidak memanipulasinya -- tidak seperti yang
  sering dilakukan oleh beberapa peramal licik -- untuk keuntungan
  diri sendiri. Kerangka acuan adalah sesuatu yang berasal dari luar
  diri sang peneliti, yang diadopsi untuk tujuan pengujian, agar
  diperoleh hasil yang tidak didasarkan pada penilaian subjektif sang
  peneliti. Sebuah kerangka acuan disusun bukan hanya untuk tujuan
  pengelompokan data, tetapi juga untuk dijadikan tolok ukur
  sumber data yang diteliti dan otoritas data yang diuji. Selain itu,
  adanya sebuah kerangka acuan akan mengurangi subjektivitas temuan
  itu dan membantu sang peneliti untuk menetapkan kesimpulan secara
  ilmiah. Beberapa penilaian dan pertimbangan subjektif tentu masih
  akan ada, namun sang peneliti akan bertindak mengikuti "aturan
  permainan".

  Dalam misiologi, kerangka acuan kita adalah Alkitab. Kita menerima
  Alkitab "apa adanya" sebagai alat bantu untuk mengelompokkan dan
  menguji materi kita. Materi-materi ini diambil dari sumber-sumber
  historis, arsip-arsip bersejarah, dan riset-riset antropologi.
  Materi-materi ini dikumpulkan dengan teknik-teknik kesejarahan dan
  antropologi yang telah diakui secara luas dan diletakkan pada
  kisi-kisi Alkitab untuk ditafsirkan.

  Agenda dunia, perbandingan agama, dan filsafat tidak memberikan
  skala penguji misiologi yang memadai. Sebaliknya, Alkitab telah
  memenuhi hal itu dikarenakan beberapa hal. Alkitab adalah firman
  Allah yang tertulis, yang dengan firman itu Allah telah mengutus
  para pengikut-Nya ke ladang misi di dalam dunia dan kepada dunia --
  itu merupakan prioritas utama. Alkitab juga menunjukkan konteks
  pengutusan itu secara tepat. Selain itu, Alkitab menyimpan informasi
  mendasar tentang satu "Pribadi", yang adalah pusat dari misi
  Kristen, tentang hakikat misi-Nya sendiri untuk umat manusia, dan
  otoritas yang memberi-Nya kuasa untuk mengutus pengikut-pengikut-Nya.
  Alkitab telah menerangkan tujuan dan ruang lingkup misi dunia.
  Maka, sudah sewajarnya kita kembali pada pokok-pokok tersebut untuk
  menguji praktik misi kita sendiri.

  Perjanjian Lama menceritakan bagaimana Allah berhubungan dengan
  manusia melalui Israel. Dua gagasan mulai muncul dari sini:
  "bangsa-bangsa" dan "tanggung jawab umat Allah" terhadap

  bangsa-bangsa itu. Perjanjian Lama menunjukkan betapa Israel sudah
  gagal dalam tanggung jawab itu. Semuanya ini adalah konteks yang di
  dalamnya Yesus hidup di bumi dan menghadapkan Amanat Agung. Israel
  yang baru sudah diwarisi janji-janji itu. Kemudian, Alkitab adalah
  sebuah catatan mengenai permulaan karya misi Kristen pada zaman
  Kekaisaran Roma, dengan satu uraian yang jelas tentang berbagai
  jenis pola pertumbuhan dan permasalahannya -- keduanya ternyata
  sangat menyerupai temuan kita pada zaman kita. Selanjutnya, Alkitab
  berisi sekumpulan bahan-bahan, yang walaupun [pada mulanya]
  tersebar, dapat ditelusuri melalui penelitian untuk memberikan dasar
  teoretis dan teologis yang memadai untuk aktivitas misi Kristen itu.
  Beberapa dimensi teologi ini telah saya satukan dalam buku "Church
  Growth and the Word of God" (1970a). Karena hal ini dan alasan
  lainnya, tampak bagi saya bahwa tidak ada kerangka acuan lain yang
  lebih memadai untuk menguji misi Kristen selain Alkitab itu sendiri.
  Oleh sebab itu, saya telah memakainya sebagai kerangka acuan saya
  selama bertahun-tahun, saya tidak merasa perlu untuk menggantinya
  dengan sesuatu yang berasal dari dalam diri saya sendiri (secara
  filosofis) atau beberapa ideologi lain yang berlandaskan agenda
  dunia, yang menjadikannya sebagai otoritas, alih-alih Allah.

  Saya menggunakan Alkitab secara "menyeluruh". Tidak ada alasan untuk
  menyimpang dari Alkitab, untuk menghilangkan bagian ini atau itu
  karena beberapa alasan yang seolah-olah saja kritis. Bagi saya,
  Alkitab senantiasa berperan sebagai otoritas firman Allah bagi
  umat-Nya. Bagi seorang antropolog, kebenaran firman Tuhan yang sudah
  diberikan kepada manusia dan dikumpulkan selama mungkin lebih dari
  dua ribu tahun itu, seharusnya mencerminkan bentuk-bentuk dan
  struktur kesastraan yang berbeda mulai dari suku-suku nomaden yang
  bersistem patriarki, kerajaan-kerajaan oriental, dan masyarakat
  pinggiran dan perkotaan Yunani-Romawi. Saya tidak menemukan Alkitab
  bermasalah dalam hal ini; bentuknya yang multikultural itu justru
  dipakai Allah untuk berbicara di dalam berbagai ruang dan waktu.
  Apabila saya membaca suatu bagian Alkitab yang memunyai konteks
  budaya tertentu, saya selalu membiarkan diri saya dituntun melalui
  bentuk budaya itu menuju kebenaran kekal yang seakan-akan berbicara
  kepada saya di dalam situasi budaya saya sendiri. Bagi saya, inilah
  alat bantu yang sempurna untuk mengevaluasi situasi-situasi lintas
  budaya pada dunia misi.

  Dalam kajian ini, tidak terdapat butir yang memunculkan masalah
  kritik Alkitab. Itu bukan berarti saya mengabaikannya. Saya sudah
  mempelajarinya setiap hari dan menganggapnya murni sebagai hal yang
  akademis dan teoretis, dan bukan suatu masalah yang berkaitan dengan
  misi. Apabila saya memotong bagian Amanat Agung pada akhir
  masing-masing kitab Injil (karena itu adalah pernyataan setelah
  kebangkitan), kita tidak memiliki Amanat Agung hingga secara
  keseluruhan tidak terdapat lagi kebutuhan akan misiologi. Jika saya
  menghapus kisah kebangkitan, baik karena alasan cerita tersebut
  merupakan cerita tambahan atau mitos, maka khotbah-khotbah tentang
  kebangkitan tidak akan berarti lagi -- sekadar suatu gagasan saja.
  Kitab Suci dijadikan salah, iman kita sia-sia, dan kita masih
  tinggal di dalam dosa-dosa kita; selanjutnya, misi Kristen dianggap
  sebagai satu konsep yang palsu dan tidak terdapat kebutuhan akan
  misiologi. Alkitab saling lekat sebagai satu keutuhan sepenuhnya!
  Saya tidak menginginkan satu alat bantu yang kehilangan sebuah
  bagian utamanya. Pergunakanlah Alkitab sebagaimana adanya jika Anda
  tidak ingin kehilangan satu kerangka acuan. Jika Anda sudah tidak
  menggunakannya, artinya Anda sudah mengabaikan misi Kristen dan
  misiologi. Oleh karena itu, saya menetapkan syarat menerima Alkitab
  seutuhnya untuk setiap buku Pengantar Misiologi.

  Tanpa sebuah Alkitab yang utuh, Tuhan yang bangkit, perjumpaan yang
  mengantarkan seseorang untuk menerima Kristus sebagai satu-satunya
  Juru Selamat, atau amanat pengutusan untuk pergi kepada
  bangsa-bangsa dan menjadikan murid-murid, apakah yang masih tersisa
  bagi misi-misi Kristen itu? Tentu saja, masih terdapat banyak proyek
  Kristen: menolong mereka yang membutuhkan, melatih orang-orang yang
  tidak terlatih, perjuangan untuk keadilan sosial, dan seterusnya.
  Semuanya ini adalah bagian dari tugas orang Kristen, sebagai satu
  tugas yang menyertai, tetapi bukanlah satu pengganti untuk misi.
  Menurut kitab suci, tugas-tugas itu merupakan dua pelayanan yang
  berbeda pada sa