Beranda | YLSA.org | Alkitab | Katalog | AI |
Utama > Publikasi > e-JEMMi > Edisi No. 1 Vol. 13/2010
  Tampilan cetak   edisi sebelum | 01/Edisi 2010 | edisi berikut

e-JEMMi edisi No. 1 Vol. 13/2010 (6-1-2010)

Dapatkah Kedewasaan Rohani Dimiliki Seorang Muda?

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Dapatkah Kedewasaan Rohani Dimiliki Seorang Muda?
SUMBER MISI: Bibletruth
DOA BAGI MISI DUNIA: Ethiopia, Eritrea
DOA BAGI INDONESIA: Tahun Baru 2010
STOP PRESS: Baru dari YLSA: Publikasi KADOS (Kalender Doa SABDA)

______________________________________________________________________

      A NEW SAINT WHO FOLLOWS AN OLD SAINT BECOMES A BOLD SAINT
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Tahun baru merupakan saat yang tepat untuk menata kembali
  langkah-langkah kehidupan kita. Evaluasi tahun yang lalu tentu saja
  harus menjadi dasar untuk menata langkah pada tahun 2010. Salah satu
  yang harus perlu kita evaluasi adalah kehidupan rohani kita. Apakah
  pada tahun lalu kerohanian Anda bertumbuh? Pastinya pada tahun yang
  baru ini kita pun ingin terus bertumbuh dan mencapai kedewasaan
  rohani bersama dengan Tuhan.

  Sajian pada awal tahun yang baru ini akan membahas mengenai
  kedewasaan rohani, khususnya kedewasaan rohani anak muda. Pelayanan
  pada anak muda dan remaja sangat penting karena pada usia ini mereka
  biasanya mengalami krisis identitas sehingga mereka menjadi labil
  dan terus mencari jati dirinya. Mereka memakai segala macam cara
  demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, termasuk memakai cara
  cara yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Tentu saja
  ini bukan masalah yang kecil, terutama bagi seorang Kristen, karena
  masalah identitas diri berhubungan erat dengan masalah rohani.
  Itulah sebabnya pada kesempatan ini e-JEMMi tertarik untuk membahas
  topik tentang pelayanan bagi remaja.

  Artikel pada edisi pertama bulan Januari ini menyajikan tulisan
  mengenai apakah mungkin kedewasaan rohani dimiliki oleh mereka yang
  masih muda. Di dalamnya juga dibahas bagaimana cara memahami remaja
  serta strategi-strategi yang dapat Anda gunakan untuk melayani para
  remaja.

  Selamat memasuki tahun 2010. Tuhan Yesus memberkati.

  Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
  Novita Yuniarti
  http://misi.sabda.org/

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

          DAPATKAH KEDEWASAAN ROHANI DIMILIKI SEORANG MUDA?

  Banyak rumusan tentang kedewasaan rohani. Mungkin ada yang
  berpendapat bahwa kedewasaan rohani dicapai manakala seorang tidak
  lagi jatuh frustrasi, bisa menjaga kerohaniannya sehingga tidak
  jatuh dalam dosa, dan seterusnya. Namun, apakah sebenarnya hakikat
  kedewasaan rohani itu?

  Usia muda, yaitu remaja dan pemuda, disepakati oleh para ahli jiwa 
  sebagai masa krisis identitas. Di masa-masa ini pribadi seseorang 
  masih labil atau bingung mencari jati dirinya. Seiring dengan 
  perkembangan pikiran, masa ini ditandai pula dengan mulai 
  digunakannya mekanisme pertahanan ego. Misalnya tipu muslihat untuk 
  sekadar bergurau, membual demi menutupi rasa iri, membantah 
  kesalahan dengan alasan rasional, dan sebagainya. Demikian juga 
  mulai tumbuhnya rasa kepemilikan (sense of belonging) dalam 
  berkelompok. Demi kekompakan dengan teman sebaya, mereka sanggup 
  berbuat apa saja, bahkan mungkin hal-hal yang bertentangan dengan 
  prinsip dan suara hati sekalipun. Tidak heran bila pada usia ini 
  banyak yang terjebak dalam aksi ikut-ikutan.

  Hal-hal di atas berpengaruh besar dalam kehidupan rohani,
  pengambilan keputusan, atau komitmen dengan Tuhan. Pelayanan serta
  kegiatan rohani lainnya adakalanya hanya dinilai sebagai cermin
  keadaan pancaroba dalam usia muda.

  "Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang yang dewasa, yang
  memiliki panca indra yang terlatih untuk membedakan yang baik
  daripada yang jahat" (Ibrani 5:14). Kesan yang timbul dari ayat ini
  adalah bahwa kedewasaan rohani adalah suatu kondisi yang mantap,
  baik, dan tangguh. Terkesan pula kepekaan yang dalam sehingga
  kemungkinan tidak pernah terjatuh, serta memiliki kehidupan pribadi
  yang bertanggung jawab, tekun, taat, dan setia. Orang yang
  dewasa secara rohani juga memiliki kesempurnaan dalam pelayanan.
  Mungkinkah seorang muda yang memiliki kondisi mental yang mudah
  mencoba dan berubah itu memiliki kedewasaan rohani seperti yang
  terkesan pada ayat ini?

  Sebuah Perjalanan Tanpa Henti

  Ibrani 5:13 berkata: "Sebab barang siapa masih memerlukan susu, ia 
  tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak 
  kecil." Lebih jelas lagi dalam terjemahan FAYH: "Orang yang masih 
  hidup dari susu, belum maju dalam hidup kekristenannya dan tidak 
  tahu banyak tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah. Ia 
  orang Kristen yang masih bayi!" Dari dua versi ayat ini jelas bahwa 
  harus ada pertumbuhan dalam kehidupan rohani kita. Bukan berarti 
  Allah tidak berkenan pada anak-anak-Nya yang masih bayi atau kecil 
  secara rohani, namun fase ini memang harus ada sebagaimana Ia 
  menghendaki adanya kelahiran baru (percakapan Yesus dengan 
  Nikodemus). Namun maksud-Nya dengan kelahiran baru bukanlah Kerajaan 
  Allah hendak dipenuhi dengan bayi-bayi yang sekadar bersih dari noda 
  dan dosa. Dia menghendaki laskar Kristen yang tangguh, bukan pasukan 
  bayi yang suka rewel dan menangis. Maksud Allah melahirkan kita 
  kembali oleh Roh-Nya adalah untuk suatu pertumbuhan!

  "Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita dengan 
  mengutus Kristus supaya mati untuk kita pada waktu kita hidup dalam 
  dosa. Semua ini dilakukan-Nya untuk kita dengan darah-Nya, ketika 
  kita masih dalam dosa. Karena itu, betapa banyak lagi yang akan 
  dilakukan-Nya untuk kita, sesudah kita dinyatakan `tidak bersalah`." 
  (Roma 5:8-9, FAYH) Kesempurnaan atau kematangan rohani bukanlah 
  suatu kejadian yang tiba-tiba. Mari kita lihat beberapa contoh bahwa 
  kehidupan seorang Kristen adalah sebuah proses perjalanan.

  1. Gembala yang Menjadi Raja Besar
     Alkitab menulis dengan jelas bahwa pengurapan yang dilakukan
     Samuel atas Daud kecil tidak seketika menjadikan Daud seorang
     raja. Daud mengalami proses yang panjang: dari gembala, pegawai
     istana kesayangan raja, sampai akhirnya ia menjadi raja. Tidak
     hanya sampai di situ saja, guncangan-guncangan dalam kerajaan
     Daud sesungguhnya hanyalah alat peraga Allah dalam mengajar dan
     mendidik Daud.

  2. Sang Tokoh yang Dikoreksi
     Petrus telah menjadi saka guru bagi jemaat mula-mula. Khotbahnya
     yang memukau telah menobatkan banyak orang sekaligus, hikmat dan
     perkataannya sanggup menjernihkan kekeruhan para Rasul tentang
     sunat, dan masih banyak lagi kehebatannya. Ternyata ia masih
     tetap digembleng Allah dengan berbagai cara, bahkan dengan cara
     yang seakan tidak layak bagi seorang rasul besar. Hanya
     karena persoalan makan bersama dengan orang Yahudi, ia ditegur
     oleh seorang juniornya (Galatia 2:11-14).

  Kita tidak sungkan mengacungkan jempol pada hubungan Daud dengan
  Tuhan. Kita pun tidak menyangsikan Petrus yang sampai dengan
  kematiannya memuliakan Allah. Apabila dalam kondisi yang terasa
  "wah" itu mereka masih dibenahi Allah, itu berarti sepanjang hidup
  orang Kristen Allah tetap berkepentingan untuk mengajar, mendidik,
  dan menyempurnakan kita sesuai dengan rencana-Nya atas kita.

  Dewasa Bukanlah Sempurna

  Dengan demikian, kaburlah anggapan semula bahwa pribadi Kristen yang 
  memiliki kedewasaan rohani sedemikian hebat, berhikmat, dan 
  bertindak tanpa kesalahan yang membuat Allah tidak perlu membenahi 
  atau menegur lagi. Sedemikian kuatnya ia menanggung penderitaan 
  sehingga ia tidak memerlukan lagi dukungan doa dan moril dari 
  saudara seiman. Begitu tangkasnya ia menyelesaikan persoalan hingga 
  ia tidak lagi memerlukan dukungan tangan kasih Allah yang 
  menguatkan.

  Kehidupan Kristen adalah sebuah proses didikan, ajaran, dan tuntunan
  Allah seumur hidup. Kedewasaan rohani berarti pengertian dan
  kerelaan kita untuk dibentuk Allah seumur hidup kita. Ini berarti
  kita menerima juga segala bentuk dan cara Allah untuk membawa kita
  pada taraf pertumbuhan yang dikendaki-Nya, seperti tanah liat di
  tangan tukang periuk. Sebab dalam penyerahan diri itulah terdapat
  keelastisan hati dan jiwa kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan
  segala sesuatu yang Allah perhadapkan di depan kita. Apakah teguran,
  kritikan, hadiah, sanjungan, dan penderitaan sekalipun.

  Ketulusan penyembahan dan kejujuran Daud di hadapan Allah dan di
  hadapan manusia tidak serta merta menjadikannya raja yang besar.
  Kedewasaan Daud bukan pula diukur dari tindakannya sebagai
  panglima perang yang selalu bergantung dan mengandalkan Allah.
  Kedewasaan Daud nampak dari kerelaannya untuk tetap dibentuk Allah
  dengan segala cara. Kita tahu, tidak mudah seseorang raja menyesal
  karena teguran nabi (misalnya saat Herodes ditegur Yohanes Pembabtis
  karena persoalan yang hampir sama). Demikian juga Petrus,
  kedewasaannya bukanlah khotbahnya yang hebat, namun kesetiannya
  untuk tetap melayani Tuhan meskipun terjadi gesekan-gesekan dengan
  rekan sepelayanannya. Itulah kehebatannya -- sekalipun untuk itu ia
  harus membayar didikan Allah dengan harga dirinya.

  Jelas di sini bahwa memiliki kedewasaan rohani pada usia muda
  bukanlah suatu pertumbuhan yang abnormal atau mustahil, bukan pula
  suatu tuntutan surgawi yang sangat sulit untuk dipenuhi pada usia
  muda, atau sebuah teori yang hanya bisa dicapai dengan upaya dan
  kekuatan sendiri. Alasannya jelas, keduanya -- usia muda dan
  kedewasaan rohani -- tidak memiliki hubungan sebab-akibat. Ada
  orang yang secara jasmani telah dewasa, namun masih memiliki
  kehidupan rohani yang setingkat bayi, rewel dan selalu minta
  dilayani; hatinya seperti kaca yang bila terbentur dengan benda
  keras akan hancur berkeping-keping. Di lain pihak, tidaklah aneh
  bagi kita untuk menjumpai seorang yang masih muda secara jasmani
  namun telah memiliki kedewasaan rohani, sebab ia telah menyerahkan
  diri pada Allah dan memberikan dirinya untuk didandani Roh Kudus
  sejak awal pertobatannya.

  Kriteria serta contoh beberapa tokoh muda dalam Alkitab berikut ini
  dapat memberikan sedikit gambaran tentang pribadi Kristen yang
  dewasa secara rohani.

  1. Terus Berjalan Meskipun Pelan
     Daud memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menjadi rendah hati
     di hadapan Allah dan manusia, serta bersandar pada Allah saja.
     Diperlukan waktu bertahun-tahun sejak Daud menggembalakan ternak
     ayahnya hingga ia menjadi raja. Allah perlu berkali-kali memberi
     pelajaran bahwa hanya Dialah satu-satunya Penolong Daud, dengan
     melalui banyak kejadian: menyelamatkan ternak dari terkaman
     binatang buas, kemenangan atas Goliat, dan kemenangan dalam
     perang-perang kerajaan. Demikianlah perjalanan rohani kita
     ibarat sebuah grafik yang setiap hari naik sedikit demi sedikit.

  2. Tetap Memandang Visi Allah
     Sadrakh, Mesakh, Abednego, dan Daniel dibawa ke istana Babel dan
     mendapat perlakuan yang baik, karena bakat dan potensi pada usia
     muda mereka dipertimbangkan raja Nebukadnezar sebagai keuntungan
     kerajaannya. Mereka menolak makan santapan raja, namun bukan
     berarti mereka mogok makan karena dibawa ke istana musuh. Juga
     ketika mereka dimasukkan ke dalam perapian yang  menyala-nyala
     karena menolak menyembah patung emas, hal tersebut bukanlah
     merupakan protes mereka pada pemerintah. Hal tersebut bukan pula
     suatu keisengan mereka sebagai orang-orang muda. Semua itu mereka
     lakukan semata-mata karena mereka tidak dapat memalingkan hati
     mereka dari Allah yang hidup, apa pun risikonya.

     Dalam usia yang muda dan penuh potensi yang terus dapat
     dikembangkan, sering datang tawaran jenjang karier yang cukup
     menggiurkan namun menjebak agar kita melepaskan Tuhan. Siapa yang
     tetap memandang visi Allah, dialah yang akan diluputkan dari api,
     dengan cara pertolongan yang sangat ajaib.

  3. Berani Mengubah Arah Hidup
     Seorang muda yang terdidik dengan soal hukum Taurat tiba-tiba
     mengubah arah hidupnya dari seorang penganiaya jemaat menjadi
     pekabar Injil Kristus.

     Zaman sekarang, banyak anak muda yang terpaksa banting setir
     dalam menata masa depannya. Banyak artis yang tiba-tiba beralih
     profesi menjadi penyanyi rohani. Ada yang beberapa bulan lagi
     akan diwisuda menjadi dokter atau sarjana, tiba-tiba menjadi
     mahasiswa baru di sebuah sekolah teologi karena ada perjumpaan
     pribadi dengan Allah. Perubahan ini juga dialami oleh Paulus
     dalam perjalanannya ke Damsyik. Keputusan putar arah ini tentu
     menimbulkan pro dan kontra yang mungkin di luar dugaan, tetapi
     itulah konsekuensi sebagai orang yang telah dicelikkan mata
     hatinya.

  4. Tidak Hanya Ikut Arus
     Di dalam dunia modern ini ada begitu banyak tawaran yang
     menjadikan seorang muda meninggalkan kekudusannya di hadapan
     Allah. Di kanan-kiri kita tersedia begitu banyak sarana untuk
     memuaskan kedagingan orang muda. Tetapi mereka yang bertekad
     menjaga diri mereka, seperti Yusuf pada saat ia di rumah Potifar,
     dialah yang tidak khamir oleh ragi dunia yang membinasakan;
     dialah yang kelak dijunjung tinggi oleh Allah di antara
     sesamanya.

  5. Bangkit Setelah Jatuh
     Pekerjaan yang paling sulit adalah memulai segala sesuatu dari
     nol kembali. Keputusan banyak orang yang telah jatuh atau
     tercebur dalam lumpur adalah mandi lumpur sehingga seluruh
     tubuhnya kotor dan tidak lagi terlihat sehingga ia tidak perlu
     malu. Keistimewaan Simson bukanlah kehebatan otot dan darah
     mudanya. salah satu hal luar biasa yang dilakukan Simson adalah
     kemauannya untuk kembali berbalik dan berteriak minta tolong
     kepada Allah.

  Seseorang yang dewasa secara rohani adalah orang yang berani
  menghampiri Tuhan meski dengan berlumuran dosa. Tindakan inilah yang
  dikehendaki Allah (bd. pengajaran Tuhan Yesus dalam perumpamaan anak
  yang hilang). Itulah sebabnya Allah memulihkan keadaan Daud setelah
  penyesalannya atas tindakan yang dilakukannya terhadap Uria dan
  Betsyeba. Petrus, setelah penyangkalannya, dipulihkan Tuhan secara
  luar biasa. Masih banyak lagi contohnya.

  Dewasa secara rohani bukan berarti tidak pernah atau tidak bisa
  jatuh dan mengalami frustrasi. Hanya saja, ketika mengalami sua