______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI
EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Memulai Pelayanan bagi Orang Miskin
SUMBER MISI: World Mission Centre
DOA BAGI MISI DUNIA: Ethiopia, Turki
STOP PRESS: Kisah Nyata di Cina
______________________________________________________________________
FOR THE CHRISTIAN DARK CLOUDS OF TROUBLE ARE BUT
THE SHADOW OF GOD`S WINGS
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
Ada orang-orang yang terbeban dengan pelayanan bagi orang miskin,
tapi mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Terkadang
ketidakmampuan untuk memulai ini menjadi hambatan bagi penyebaran
dan pewujudan visi Tuhan untuk orang-orang miskin yang sering
dianggap "sampah masyarakat" oleh dunia. Betulkah memulai pelayanan
bagi orang miskin membutuhkan strategi yang tepat?
Mengingat besarnya kerinduan Tuhan untuk mengasihi orang-orang
miskin dan sedikitnya orang yang mau dipanggil ke ladang yang sulit
ini, maka strategi yang tepat sangat diperlukan. Edisi e-JEMMi
minggu ini secara spesifik menyajikan artikel yang akan sangat
menolong anak-anak Tuhan yang siap dipakai untuk menjadi alat-Nya
yang luar biasa. Sajian edisi ini juga merupakan pelengkap dari
rangkaian tema e-JEMMi bulan September ini, yaitu Melayani Orang
Miskin di Perkotaan. Kiranya sajian ini dapat menjadi langkah
konkret untuk Anda dan gereja Anda menangkap visi yang telah Tuhan
persiapkan.
Selamat menyimak dan selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI
MEMULAI PELAYANAN BAGI ORANG MISKIN
Gereja membutuhkan visioner yang memilih untuk tidak bermain aman,
namun bersedia mengambil risiko dan beriman kepada Tuhan dalam
merintis pelayanan yang inovatif di kota, khususnya bagi orang-orang
miskin yang membutuhkan bantuan.
Kehendak Tuhan bagi kebanyakan kita yang tinggal di kota adalah
menunjuk kepada pelayanan bagi kaum miskin. Jika Tuhan telah
memanggil Anda untuk memulai sesuatu yang baru di kota, seperti
Tuhan telah memanggil saya, maka Anda akan melalui proses pemahaman
akan kehendak-Nya, berjalan dalam iman, dan membangun mimpi Anda.
Berikut langkah-langkah dalam memahami dan memulai pelayanan yang
penuh tantangan ini:
1. Izinkan Roh Menaruh Visi dalam Diri Anda
Tuhan memberi kita penglihatan akan rencana dan tujuan-Nya dalam
hidup kita dan mengizinkan kita untuk bermimpi dan memiliki visi
yang jelas dan konkret. Semakin spesifik doa, tujuan, dan sasaran
kita untuk visi tersebut, semakin besar kemungkinannya untuk visi
tersebut dapat terwujud.
Visi adalah gambaran yang membara di hati tentang apa yang Tuhan
ingin lakukan melalui Anda di tempat tertentu bersama kelompok orang
yang spesifik. Visi adalah pewahyuan tentang rencana Tuhan yang
dapat terjadi. Dengan memercayai dan menindaklanjuti visi tersebut,
mimpi dapat terwujud. Dua visioner kuno, Abraham dan Sarah, telah
mengalaminya. Saya melihat tiga benang dalam struktur kehidupan
mereka yang membentuk pola masa kini dalam memahami kehendak Tuhan:
panggilan untuk taat, iman terhadap visi, dan hasil yang sudah
diantisipasi.
Panggilan untuk Meninggalkan Tempat Tinggal
Abraham dan Sarah tinggal dengan nyaman di Haran saat Tuhan
memanggil mereka: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu
dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;"
(Kej. 12:1). Tidak mudah bagi mereka untuk menaati panggilan itu --
banyak risiko dan pengorbanan untuk pergi ke tempat entah-berentah;
di gurun.
Sebuah "panggilan" akan selalu mengiang, bisikan dalam diri Anda
yang mengatakan, "Tinggalkan rumahmu dan pergilah ke tempat yang
Kutunjukkan kepadamu." Mungkin rumah yang kita tinggalkan bersifat
geografis atau spiritual. Tempat yang ditunjukkan kepada kita
mungkin adalah kota, pelayanan baru di lingkungan, atau cara hidup
baru di mana kita berada. Yang terpenting adalah meresponi dan
mengikuti visi yang lahir dari Tuhan dalam diri kita, tanpa
menghiraukan risiko dan besarnya pengorbanan.
Saat Abraham dan Sarah pergi, keponakan mereka, Lot, ikut bersama
mereka. Kemudian, gembala Abraham dan Lot berselisih tentang
pembagian tanah. Abraham, yang percaya akan visinya, memutuskan
untuk berpisah: "Jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau
ke kanan, maka aku ke kiri." (Kej. 13:9)
Lot melihat ke Timur dan "melihat seluruh Lembah Yordan banyak
airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir" (Kej. 13:10).
Seketika itu, Lot berpisah dari Abraham dan tinggal di Yordan.
Abraham memilih tinggal di Kanaan yang berbukit-bukit, yang nampak
tidak sedap dipandang mata. Di situlah Tuhan menegaskan visinya:
"Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu
ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang
kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk
selama-lamanya." (Kej. 13:14-15)
Ada pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa tersebut untuk
visioner kota pada masa kini: mata iman tidak berfokus pada
penampilan, namun pada pandangan yang luas dan penglihatan akan
rencana Tuhan yang dapat terjadi. "Apa yang dapat kamu lihat secara
luas, Aku dapat memberikannya kepadamu," kata Tuhan kepada orang
beriman. "Apa yang tidak dapat kamu impikan, Aku tidak dapat
memberikannya kepadamu."
"Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah" adalah kunci kepada
keberhasilan di luar batas kemampuan manusia. Jika kita dapat
memimpikan visi Tuhan dan spesifik dengan hasilnya, apa yang kita
perlukan akan disediakan oleh Tuhan "yang menjadikan dengan
firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm. 4:17).
Tuhan membangkitkan pemimpin yang memiliki mimpi dan visi yang
spesifik, yang percaya kepada-Nya akan hasilnya. Surat Ibrani
mengingatkan kita bahwa iman atau visi "adalah dasar dari segala
sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak
kita lihat" (Ibr. 11:1).
Saya percaya bahwa dalam diri setiap orang, tersembunyi visi Tuhan
yang menunggu pemenuhan melalui iman dan ketaatan.
2. Bangun Visi Secara Perlahan
Setelah memahami kehendak Tuhan, kesabaran diperlukan dalam
mewujudkan visi bagi pelayanan untuk orang miskin di kota. Seperti
halnya janin membutuhkan sembilan bulan untuk dapat lahir sebagai
bayi, butuh bertahun-tahun untuk mimpi atau visi dalam hati itu
menjadi kenyataan.
Apa yang terjadi pada Anda sama pentingnya dengan apa yang Tuhan
lakukan melalui Anda. Bersabarlah menunggu Tuhan, biarkan Tuhan
mengerjakan karya keselamatan dalam diri Anda, dan kemudian bangun
visi Anda secara perlahan, namun pasti.
Saat saya dan beberapa orang melayani di New York, kami memulai
pelayanan dengan visi yang cukup murni. Kami membutuhkan waktu untuk
mapan sebelum kami melakukan banyak pelayanan. Namun, kami melangkah
semakin cepat dan kami menjadi terdesak. Hasilnya adalah krisis
dalam pelayanan: banjir permintaan dan kebutuhan, sedikitnya uang,
pelayanan semakin sempit, dan staf kedodoran. Selama bertahun-tahun,
kami berjuang untuk bertahan sampai kami memerlambat laju pelayanan
kami, kemudian mengambil waktu untuk merenung, memikirkan fokus
pelayanan, dan peletakan dasar spiritual.
Intensitas pelayanan kota dapat menghancurkan bahkan visioner
paling percaya diri sekalipun. Cara untuk hidup berkemenangan
adalah membiarkan visi Anda tersingkap secara perlahan, hari demi
hari, tahap demi tahap, mengikuti irama Roh.
3. Ajak Rekan Sepelayanan
Seorang visioner tidak dapat memenuhi visi Tuhan seorang diri. Visi
itu harus dibagi. Butuh waktu untuk menemukan orang yang tepat. Ajak
orang yang Anda kenal dan percaya, yang berkompeten, berkomitmen,
dan yang Anda percayai serta yang memberi rasa nyaman. Jangan
terburu-buru mengajak orang hanya karena mereka bersemangat. Tunggu
waktunya Tuhan memberikan orang yang tepat.
Butuh waktu lebih dari setahun bagi saya untuk menemukan lima orang
yang bersedia dan mampu melayani bersama di San Fransisco. Yesus
sendiri membutuhkan waktu tiga tahun untuk memuridkan dua belas
orang pria dan sekelompok wanita. Barulah setelah itu Yesus
mengatakan kepada Petrus, "gembalakanlah domba-domba-Ku" dan di atas
batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Yoh. 21:17; Mat.
16:18).
4. Pilih Ladang Pelayanan
Setelah mengajak rekan sepelayanan, langkah selanjutnya adalah
secara perlahan dan penuh doa mengidentifikasi lingkungan yang akan
dilayani. Tanyakan pertanyaan ini: Siapa yang Tuhan ingin kita
kasihi? Lingkungan dan daerah geografis bagaimana yang nampaknya
paling membutuhkan kehadiran Tuhan? Lingkungan mana yang nampak siap
akan hadirnya pelayanan untuk mereka?
Setiap kota memiliki daerah kumuh yang terabaikan. Kita bisa saja
memiliki visi untuk menjangkau daerah kumuh seluruh kota, namun
pelayanan kota akan efektif apabila kita fokus pada lingkungan
tertentu.
Selalu ada lingkungan dalam sebuah kota yang paling cocok untuk
dilayani. Pilih daerah yang memiliki sejarah, riwayat, dan ciri khas
-- yang menarik dan menantang Anda. Yang terpenting, pilih daerah
kumuh yang ditinggali orang-orang miskin dan gelandangan.
5. Tetapkan Pos Pelayanan
Menetapkan pos pelayanan di lingkungan terpilih adalah langkah
penting selanjutnya dalam memulai pelayanan kota. Idealnya, sewalah
atau belilah bangunan yang memiliki corak budaya dan mudah diakses
masyarakat. Orang yang berusaha Anda jangkau membutuhkan sebuah
simbol komitmen dan kehadiran Anda. Masyarakat memerlukan sebuah
tempat yang hidup, dan pelayanan membutuhkan tempat untuk
berkembang. Sebuah pusat pelayanan akan mampu memenuhi kebutuhan
tersebut.
Jika Anda mengalami kesulitan -- entah itu masalah keuangan atau
yang lainnya -- seperti halnya saya saat berusaha mengembangkan
pelayanan di New York dan San Fransisco, percayalah bahwa Tuhan
dapat melakukan mukjizat. Mukjizat adalah karya Tuhan yang tepat
pada waktunya. Dari pengalaman saya merintis pelayanan di New York
dan San Fransisco, tidak ada visi dari Tuhan yang mustahil.
6. Bangun Komunitas
Sebelum Anda melaksanakan misi pelayanan Anda dalam sebuah
lingkungan, kelompok pelayanan Anda harus menjadi sebuah komunitas.
Apakah komunitas itu? J. B. Libanio, yang menulis tentang komunitas
kristiani di Amerika Tengah dan Selatan, mendefinikan komunitas
sebagai berikut: "Sebuah kesatuan beberapa orang yang dinamis, yang
melalui interaksi sosial yang spontan, terintegrasi oleh ikatan
persahabatan, emosional, kesamaan sejarah, dan budaya."
Sebuah komunitas terbentuk saat sebuah kelompok kecil berintegrasi,
berjalan besama, dan ingin melakukan sesuatu yang lebih besar
daripada yang dapat mereka capai secara individual.
Sebagai suatu kelompok pelayanan, kita semua harus merasa terpanggil
untuk hidup di antara orang-orang yang ingin kita jangkau. Hal ini
membutuhkan komitmen jangka panjang. Komunitas berarti komitmen
kepada satu dengan yang lain dan kepada rencana rekonsiliasi Tuhan.
Komunitas diperlukan sebelum penyembahan dan misi dapat terjadi
dengan benar. Sebuah kelompok pelayanan yang berharap untuk
menjangkau sebuah kota dan lingkungan dengan kasih Tuhan, harus
terlebih dahulu mengasihi dan menghargai anggotanya.
Perbedaan dalam kepribadian, teologi, latar belakang, standar kerja
dan kebersihan, talenta, dan panggilan dapat menghancurkan sebuah
komunitas. Namun hal itu dapat diatasi dengan komitmen bersama
terhadap proses dan berfokus pada visi Tuhan.
7. Biarkan Misi Mengalir
Sebuah kelompok Kristen kecil yang diorganisasi bagi misi dan
setidaknya bertemu untuk menyembah, berdoa, dan saling menguatkan
seminggu sekali, memiliki potensi untuk memahami visi Tuhan serta
apa dan bagaimana Tuhan terlibat di dalamnya. "Handbook for Mission
Groups" karya Gordon Cosby menjelaskan setiap langkah bagaimana
sebuah komunitas terbentuk dan menemukan pelayanannya.
Awalnya, sebuah kelompok berkumpul bersama visioner yang sudah
mendapat visi Tuhan untuk melayani dan menyuarakannya dalam beragam
cara -- dalam percakapan pribadi, dalam kepemimpinan, atau dalam
nubuatan.
Jika tidak ada yang meresponi, orang yang terpanggil itu menunggu
beberapa saat untuk orang lain menceritakan panggilannya. Saat dua
atau tiga orang meresponi, mereka memulai hidup mereka bersama,
"saling mengasah talenta, dan berdoa bagi kejelasan dalam mendengar
kehendak Tuhan bagi misi mereka".
Panggilan itu mungkin dimulai saat seseorang mendengar bisikan
(gambar, perasaan) Tuhan yang terus mengiang, yang mengatakan
"berilah makan orang yang kelaparan", "sediakan tempat tinggal bagi
gelandangan", atau "hiburlah penderita AIDS". Saat orang lain
meresponi panggilan itu, implikasi dan perkembangannya akan
terlihat. Prinsip penting dalam kelompok misi memerlukan komitmen
bersama dan tanggung jawab bersama yang diterima oleh setiap
anggota. "Hal ini dapat dilakukan hanya dengan mengenali talenta
setiap anggota," kata Cosby. "Bahkan jika satu atau dua anggota
tidak mengenali talenta mereka," peringatnya, "masalah gengsi dan
iri hati akan mencuat ke permukaan."
Orang yang memiliki multitalenta akan menghadapi godaan untuk
memenuhi kepuasan ego dengan melakukan segala sesuatu seorang diri
daripada bersama-sama. Tanpa komitmen untuk hidup dan melakukan misi
bersama, sebuah kelompok misi tidak akan berhasil.
Dengan komitmen bersama, sebuah kelompok misi akan bertahan selama
semusim atau sepanjang hidup. Karya pelayanan yang sudah dilakukan
itu akan menjadi karya Tuhan dan selamanya menjadi bagian dalam
usaha Tuhan berdamai dengan dunia ini.
Kadang, sebuah kelompok misi mencapai misinya dan kemudian bubar.
Apa yang sebaiknya terjadi saat sebuah kelompok misi mati secara
alami? Menurut Cosby, "Saat diketahui tidak ada lagi dua atau lebih
anggota yang terpanggil, kelompok itu mungkin dapat meninjau ulang
sejarahnya, bersyukur atas apa yang sudah dilakukan, dan merayakan
matinya kelompok itu. Sering kali, diperlukan adanya kesadaran akan
dosa yang harus diampuni, luka hati yang harus disembuhkan, dan
keberanian untuk mengambil langkah selanjutnya."
Jika kelompok misi memertahankan tahap perkembangannya dan arahan
dari Tuhan, maka pelayanan akan terbentuk. Entusiasme akan dibumbui
dengan hikmat, inovasi akan diwarnai dengan tradisi, dan banyaknya
orang yang antusias akan diarahkan oleh Tuhan untuk mendukung dan
membantu usaha komunitas. Kelompok misi mungkin dapat tetap menjadi
bagian dari gereja atau berdiri sendiri sebagai komunitas
penyembahan dan pusat misi sementara. (t/Dian)
Diterjemahkan dan diringkas dari:
Judul buku: A Call for Compassion; City Streets City People
Judul asli artikel: Lift Up Your Eyes; How to Start an Urban
Ministry
Penulis: Michael J. Christensen
Penerbit: Abingdon Press, Nashville 1988
Halaman: 53 -- 70
______________________________________________________________________
SUMBER MISI
WORLD MISSION CENTRE
==> http://www.worldmissioncentre.com
Berpegang pada keyakinan bahwa orang-orang Afrika Selatan juga
memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan Injil ke seluruh
dunia, maka dibentuklah organisasi ini pada 1989 dengan kantor pusat
di Pretoria, Afrika Selatan. Tujuannya tidak lain adalah untuk
membangkitkan pemahaman yang lebih dalam tentang misi dan untuk
menggerakkan orang-orang Kristen pada tingkat lokal untuk berperan
dalam misi. World Mission Centre memainkan peran sebagai fasilitator
jaringan dengan menyediakan sumber-sumber dan pelatihan untuk
memenuhi visi yang telah tertanam -- menyediakan pelatihan dan
dukungan bagi Tubuh Kristus dan mengirim misionaris-misionaris dari
gereja-gereja lokal. Untuk mewujudkan visi itu, organisasi ini juga
mendirikan sebuah jaringan gereja lokal yang unik, yang berfokus
untuk melayani komunitas-komunitas yang kekurangan dan tak
terjangkau di berbagai daerah, termasuk 22 daerah di wilayah Afrika
Selatan. Simak lebih jauh mengenai pelayanan luar biasa yang ada di
Afrika Selatan ini dengan mengunjungi situsnya.
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA
E T H I O P I A
Baru-baru ini, Adana Children Center yang disponsori oleh Blessing
the Children International telah dibuka dan akan menerima 600 yatim
piatu selama 5 tahun. Setiap bulan, ada sepuluh yatim piatu yang
mendapat bantuan. Ethiopia merupakan salah satu negara yang mendapat
serangan wabah AIDS terparah. Adanya empat juta yatim piatu di
Ethiopia (20% di antaranya adalah korban AIDS) menjadi masalah
utama, dan pemerintah menggambarkannya sebagai "pemecahbelahan
struktur sosial" bangsa Afrika Timur. Anak-anak di Adana Children
Center pada awalnya akan dipelihara di panti asuhan sebelum
menemukan keluarga angkat. Di rumah barunya ini, anak-anak disayangi
dan dipelihara. Mereka pun menerima pembekalan dan bantuan, seperti
pakaian, makanan bernutrisi, pelatihan keterampilan, dan kesempatan
untuk bersekolah di sekolah yang ditunjuk oleh pihak sponsor.
(t/Setyo)
Diterjemahkan dari:
Judul buletin: Body Life, Edisi Maret 2008, Volume 26, No. 3
Judul asli artikel: World Christian Report -- Ethiopia: Center for
Orphaned Children
Penerbit: 120 Fellowship Adult Class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 4
Pokok doa:
* Mengucap syukur atas dibukanya Adana Children Center yang dibentuk
oleh orang-orang yang terbeban memberikan bantuan kepada anak
yatim piatu di Ethiopia. Doakan agar Tuhan senantiasa mencukupkan
setiap keperluan yang dibutuhkan dalam pelayanan mereka.
* Doakan agar Tuhan mengetuk hati mereka-mereka yang memiliki
kepedulian terhadap anak-anak yatim piatu korban AIDS dan bersedia
memberikan dukungan untuk mereka. Berdoa juga agar anak-anak ini
menemukan keluarga angkat yang dapat memberikan kasih sayang dan
pengenalan yang benar akan Tuhan.
T U R K I
Laporan dari ladang misi: Gempa bumi baru saja terjadi di Istanbul,
Turki. Rumah kami bergoncang sangat keras akibat gempa berskala 4,8
SR. Tapi keesokan harinya, negara pun digoncangkan oleh berita yang
mengatakan bahwa partai politik yang berkuasa (AKP) akan dibubarkan
oleh kepala jaksa penuntut umum karena usaha-usaha radikal yang
dilakukan partai tersebut.
Teruslah berdoa bagi Turki karena penganiayaan terhadap kami dan
orang-orang Kristen di Turki semakin besar. Kami harus berhati-hati
dalam mewartakan Injil karena kami tidak lagi mendapat izin untuk
melakukan penjangkauan terhadap masyarakat umum. Kini fokus kami
adalah melayani orang miskin di beberapa desa. Puji Tuhan! Dalam
Minggu ini, kami berhasil membagikan dua ribu Kitab Perjanjian Baru.
Pada hari yang berbeda, kami memberitakan Injil kepada suatu
kelompok pemulung yang terdiri dari 10 sampai 15 orang. Salah satu
dari mereka meminta kami untuk mendoakan lengannya yang terkena
pecahan gelas. Dia merasa rasa sakitnya kembali muncul saat orang
lain melihatnya. Dia berdoa dan menerima Tuhan Yesus!
Di gudang penyimpanan Kitab Perjanjian Baru, ada seseorang yang
melempar batu ke jendela dan merusakkannya. Sementara seorang
lainnya dengan sengaja dan membabi buta menggunakan besi untuk
membuat goresan yang dalam pada mobil kami.
Akhir-akhir ini, hal semacam itu semakin sering terjadi. Di kota
lain, beberapa teman kami dan setiap orang yang ada di dalam gereja
mendapat ancaman bahwa mereka akan dibunuh. Gubernur Istanbul
menyarankan agar jemaat pindah dari gereja yang sudah mereka gunakan
selama bertahun-tahun. Beberapa gereja yang bekerja sama dengan kami
juga mengalami penganiayaan yang semakin banyak.
Sebuah artikel surat kabar baru-baru ini menggambarkan bahwa budaya
Turki kini berubah menjadi semakin bercorak radikal dalam hal
pakaian, kehidupan sehari-hari, dan bahasanya. Berdoalah bagi
pelayan Tuhan yang melayani di sana. (t/Setyo)
Diterjemahkan dari:
Judul buletin: Body Life, Edisi April 2008, Volume 26, No. 4
Judul asli artikel: World Christian Report -- Turkey: Increased
Persecution
Penerbit: 120 Fellowship Adult Class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 1 dan 3
Pokok doa:
* Doakan orang percaya di Istanbul, Turki, yang sering mendapatkan
ancaman dan tekanan dari pihak-pihak tertentu, agar mereka tetap
kuat dan setia dalam mengikut Tuhan. Berdoa juga untuk kegiatan
penginjilan yang terus dilakukan oleh orang percaya di Turki, agar
Tuhan menjaga dan melindungi pelayanan yang sedang dilakukan.
* Berdoa agar Tuhan melawat dan mencurahkan pertobatan atas negara
Turki. Doakan juga agar setiap orang percaya dan gereja-gereja di
Turki tetap berdoa, memohon belas kasihan Tuhan atas bangsa
mereka, agar Tuhan memulihkan dan mengampuni bangsa mereka.
______________________________________________________________________
STOP PRESS
KISAH NYATA DI CINA
Berbagai kontroversi berita tentang kebebasan beragama di Cina dan
situasi yang terjadi di negara ini muncul merebak di mana-mana. Apa
yang sesungguhnya terjadi di Cina? Masihkah umat Kristen dianiaya
dan banyak gereja-gereja rumah ditutup secara paksa? Bagaimana
keadaan umat Kristen di Cina sebelum dan sesudah pesta Olimpiade
2008? Bagaimana kita dapat berdoa bagi saudara-saudara kita di Cina?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan berbagai pertanyaan
lain, Open Doors Indonesia bekerja sama dengan Open Doors
International mengundang Minister at Large Open Doors. Selama 25
tahun, beliau memfokuskan pelayanannya di negara kelahirannya. Ia
melayani gereja-gereja rumah di tempat-tempat terpencil di Cina dan
membangun hubungan dengan jaringan gereja rumah serta menjalin
pertemanan dengan pemimpin gereja rumah di Cina.
Bulan depan, beliau akan berkunjung ke Indonesia dan mensharingkan
"The Real Story in China". Untuk keterangan dan informasi lebih
lanjut, hubungi kantor Open Doors Indonesia di alamat e-mail:
indonesia(at)od.org.
Sumber: Buletin Open Doors, Edisi September -- Oktober, Volume 19,
No. 5, Hal. 14
POKOK DOA:
1. Doakan rencana kunjungan Minister at Large Open Doors ke
Indonesia, agar Tuhan memakainya menjadi berkat bagi pelayanan di
Indonesia.
2. Berdoa juga untuk jemaat-jemaat di Cina yang beliau layani, agar
mereka tetap setia melayani Tuhan dan mendukung sepenuhnya
pelayanan beliau dalam doa.
3. Doakan juga untuk penyelenggara yang mengatur kunjungan tersebut,
agar Tuhan memampukan mereka melakukan tugasnya sebaik-baiknya.
4. Berdoa juga untuk setiap orang yang akan bertemu, agar mereka
dapat belajar dari keteladanannya dalam melayani dan memberikan
hidupnya bagi pekerjaan Tuhan.
5. Berdoa agar beliau dapat membagikan beban dan semangat
pelayanannya kepada mereka yang terbeban akan pelayanan misi di
Indonesia.
6. Doakan agar beliau dalam kondisi kesehatan yang baik dan selalu
berada dalam perlindungan Tuhan ke mana pun beliau pergi. Biarlah
kuasa Tuhan dinyatakan dalam setiap acara.
______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memerbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2008 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________
|