Juli 2008, Vol.11 No.29
______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI
EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Konfusianisme
REFERENSI MISI: Sumber-Sumber Seputar Konfusianisme
SUMBER MISI: Chinese Christian Mission (CCM)
DOA BAGI MISI DUNIA: Cina, India
DOA BAGI INDONESIA: Masalah Pluralisme Agama di Indonesia
______________________________________________________________________
NEVER BE YOKED TO COMPASIONS WHO REFUSE THE YOKE OF CHRIST
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
Konfusianisme adalah warisan dari Timur, suatu bentuk budaya yang
mekanismenya adalah untuk mengawasi tingkah laku masyarakat. Saat
ini seperempat bagian dari penduduk dunia mempelajari Konfusianisme.
Banyak dari mereka adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran
kekal, tetapi saat ini harus menghidupi budaya ini untuk bisa terus
bertahan di masyarakatnya. Terbebankah Anda untuk membawa terang
bagi masyarakat pemercaya Konfusianisme ini?
Nah, untuk lebih mengenal dari dekat apa itu Konfusianisme --
asal-usul serta doktrin yang diajarkan kepada para penganutnya,
silakan menyimak artikel yang telah kami sajikan. Sementara itu,
mulailah berdoa bagi penganut ajaran ini, khususnya agar mereka
boleh bertemu dan melihat kasih Tuhan sehingga mereka mendapatkan
kebenaran yang sejati dalam Yesus Kristus.
Selamat menyimak dan selamat berdoa.
Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI
KONFUSIANISME
Riwayat Konfusius
Meski Konfusius disakralkan dalam tradisi Cina, namun hanya sedikit
aspek dari riwayat hidupnya yang dapat diketahui secara pasti.
Sumber terbaik yang ada adalah Analek -- kumpulan ajaran Konfusius
yang disusun oleh para pengikutnya. Lama setelah kematiannya,
biografinya banyak bermunculan, namun banyak nilai sejarah dari
kebanyakan biografi itu yang harus dipertanyakan. Meski demikian,
ada beberapa fakta dasar yang masuk akal untuk menguraikan riwayat
hidupnya.
Sebagai bungsu dari sebelas bersaudara, Konfusius terlahir sebagai
Chiu King pada sekitar tahun 550 SM di negara Lu, wilayah yang
terletak di daerah yang kini disebut Shantung. Ia hidup pada zaman
saat Budha masih hidup (meski mungkin mereka tidak pernah bertemu),
sebelum Socrates dan Plato. Tidak ada yang pasti mengenai nenek
moyangnya kecuali fakta bahwa ia berasal dari keluarga yang
sederhana.
Seperti yang ia pernah katakan sendiri: "Saat aku kecil, aku hidup
di lingkungan masyarakat kelas bawah dan hidup sederhana." Ia diasuh
oleh ibunya setelah ayahnya meninggal beberapa waktu setelah ia
lahir. Pada masa mudanya, Konfusius terlibat dalam beragam
aktivitas, termasuk berburu dan memancing; namun, "Pada usia lima
belas tahun, aku membulatkan tekad untuk belajar."
Ia menjabat sebagai pemungut cukai di sebuah kantor pemerintah kecil
sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun -- usianya saat menikah.
Usia pernikahannya pendek, berakhir dengan perceraian, namun
memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Pada
awal usia dua puluhan, ia menjadi seorang pengajar -- profesi yang
merupakan panggilan hidupnya.
Kemampuannya sebagai pengajar mulai tampak. Kepopulerannya menyebar
dengan cepat dan menarik banyak pengikut. Tidak sedikit orang yang
tertarik dengan kebijaksanaannya. Ia percaya bahwa masyarakat tidak
akan berubah kecuali ia berada dalam suatu organisasi sosial di mana
ia dapat menerapkan teorinya.
Konfusius bekerja di kantor pemerintah kecil sampai ia berusia lima
puluh tahun. Setelah itu, ia menjadi pejabat tinggi di Lu. Perbaikan
moralnya mencapai kesuksesan dalam waktu relatif singkat. Namun,
akhirnya ia bentrok dengan atasannya dan kemudian mengundurkan diri
dari kantor pemerintah. Setelah itu, Konfusius menghabiskan tiga
belas tahun berikutnya untuk mengembara, berusaha menerapkan
reformasi politik dan sosialnya. Ia mengabdikan lima tahun terakhir
masa hidupnya untuk menulis dan menyunting apa yang kini menjadi
sastra Konfusian.
Ia meninggal di Chufou, Shantung, pada 479 SM sebagai seorang
pengajar paling berpengaruh dalam budaya Cina. Para muridnya
menyebutnya dengan "Raja fu-tzu" atau "Kung sang Guru", yang
kemudian dilatinkan menjadi Konfusius.
Penyembahan Leluhur
Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah
penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh
orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya bahwa
kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian
yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga
menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan
keluarga.
Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai
imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang
terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur
diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa
keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam
ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata
mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka
ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup
sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu,
yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya
diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi
makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan
hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai
hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang
Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur
di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak
diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga
adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa
kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana
caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka
dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh
leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati
keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran,
keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The
Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977,
hal. 2)
Kesalehan Anak-Anak
Sebuah konsep yang berakar kuat di Cina sebelum masa Konfusius
adalah kesalehan anak-anak (Hsaio), yang dapat digambarkan sebagai
pengabdian dan kepatuhan orang-orang yang lebih muda kepada para
tetua dalam keluarga, khususnya seorang anak laki-laki kepada sang
ayah. Kesetiaan dan pengabdian kepada keluarga adalah prioritas
utama dalam kehidupan orang-orang Cina. Tugas untuk keluarga,
khususnya mengabdi pada orang tua, mereka emban di sepanjang
kehidupan mereka.
Hal itu diekspresikan dalam "The Classic of Filial Piety": "Sikap
kasih dan hormat pada orang tua saat hidup, dan ratapan dan
kesedihan luar biasa untuk mereka pada saat meninggal -- kedua hal
tersebut benar-benar merupakan tugas paling fundamental semua
manusia." (Max Mueller, ed., Sacred Books of the East, Krishna
Press, 1879-1910, Vol. III, hal. 448)
Konfusius menekankan konsep tersebut dalam ajarannya, dan hal itu
diterima dengan baik oleh orang-orang Cina, baik dahulu maupun masa
kini. Dalam kitab Analek, Konfusius mengatakan:
Sang Guru berkata, "Seorang pemuda harus menjadi anak yang baik
dalam rumah dan patuh di luar rumah, hemat berkata-kata namun
dapat dipercaya dalam perkataannya, dan harus mengasihi semua
orang, namun memelihara persahabatan dengan teman-temannya." (I:6)
Meng Wu Po bertanya tentang menjadi seorang anak. Sang Guru
berkata, "Jangan membuat ayah dan ibumu kuatir, kecuali kamu
sakit." (II:6)
Tzu-yu bertanya tentang menjadi seorang anak. Sang Guru berkata,
"Menjadi seorang anak tidak hanya berarti menyediakan makanan
untuk orang tuanya. Bahkan, entah bagaimana, anjing dan kuda pun
mendapatkan makanan. Jika seseorang tidak menunjukkan rasa hormat,
lalu apa bedanya?" (II:2).
Prinsip-Prinsip Doktrin
Doktrin-doktrin Konfusianisme dapat dirangkum menjadi enam istilah
kunci. "Jen" atau kaidah kencana; "Chun-tzu" atau lelaki sejati;
"Chen-ming" atau peranan; "Te" atau kuasa kebajikan; "Li" atau
standar tingkah laku; dan "Wen" berkenaan dengan seni kedamaian.
Pemaparan singkat keenam prinsip tersebut mengungkapkan struktur
doktrin dasar Konfusianisme.
1. Jen. Jen berkenaan dengan kemanusiaan, kebaikan, perbuatan baik,
atau kejujuran. Jen adalah kaidah kencana, kaidah timbal balik;
artinya, jangan memperlakukan orang lain dengan cara tertentu
jika Anda tidak mau diperlakukan seperti itu.
"Tzu-Kung bertanya, `Adakah satu kata yang dapat dijadikan
penuntun dalam bertingkah laku di sepanjang kehidupan?` Sang
guru berkata, `Kata itu mungkin adalah kata Shu. Jangan lakukan
sesuatu yang kamu sendiri tidak inginkan terjadi padamu, kepada
orang lain.`" (Konfusius, Analek, XV:24)
Inilah kebajikan yang paling mulia menurut cara hidup Konfusian;
jika prinsip ini dapat diamalkan, maka manusia akan mencapai
kedamaian dan keharmonisan.
2. Chun-tzu. Chun-tzu dapat diartikan sebagai lelaki sejati atau
lelaki yang hebat. Ajaran Konfusius ditujukan kepada pria sejati,
pria yang baik.
Huston Smith berkata, "Jika Jen adalah hubungan yang ideal
antarmanusia, Chun-tzu menunjuk pada sesuatu yang ideal dalam
hubungan itu" (Smith, op. cit., hal. 180). Demikian pernyataan
Konfusius mengenai pria sejati:
(Konfusius): Pria yang dapat mengamalkan lima hal dalam dunia
ini dapat dianggap sebagai pria sejati.
Apa saja kelima hal tersebut:
Kerendahan hati, kemurahan hati, ketulusan hati, kerajinan, dan
keluwesan. Jika Anda rendah hati, Anda tidak akan ditertawakan.
Jika Anda murah hati, Anda akan menarik banyak orang mendekat
pada Anda. Jika Anda tulus, orang lain akan memercayai Anda.
Jika Anda luwes, Anda akan mudah bergaul dengan bawahan Anda
(James R. Ware. trans., The Sayings of Confucius, New York: New
American Library, 1955, hal. 110).
Pria seperti itulah yang dapat mengubah masyarakat menjadi
seperti yang seharusnya -- masyarakat yang damai.
3. Chen-ming. Konsep penting lain menurut Konfusius adalah
Chen-ming atau pembuktian sebutan. Agar masyarakat dapat tertata
dengan baik, Konfusius percaya bahwa semua orang harus memainkan
peran yang benar. Karenanya, seorang raja harus bertindak
layaknya raja, seorang pria sejati layaknya pria sejati, dll..
Konfusius berkata, "Adipati Ching dari Ch`i bertanya kepada
Konfusius mengenai pemerintahan. Konfusius menjawab, `Biarkan
pemerintah menjadi pemerintah, warganegara menjadi warganegara,
ayah menjadi ayah, anak menjadi anak ....`" (Analek, XII:11)
Katanya juga, "Tzu-lu berkata, `Jika Raja Wei memberikan tugas
administrasi (cheng) kenegaraan kepadamu, apa yang kamu
utamakan?` Sang guru berkata, `Jika ada sesuatu harus yang
diutamakan, maka hal itu mungkin adalah pembuktian sebutan.`"
(Analek, XIII:3)
4. Te. Kata te secara harfiah berarti "kekuatan", namun konsepnya
memiliki makna yang jauh lebih luas. Kuasa yang diperlukan untuk
memerintah, menurut Konfusius, tidak hanya kekuatan fisik.
Sangatlah penting untuk seorang pemimpin menjadi orang yang bijak
yang dapat menginspirasi warganya untuk patuh melalui teladan.
Konsep tersebut tidak terwujud pada masa Konfusius hidup, yang
berkeyakinan bahwa hanya kekuatan fisiklah cara satu-satunya yang
tepat untuk memerintah masyarakat.
Konfusius melihat kembali ke sejarah dua orang guru pada masa
lalu, Yao dan Shun, dengan para pendiri dinasti Chou, sebagai
contoh dari pemerintahan yang baik. Jika saja pemerintah
mengikuti teladan masa lalu, maka masyarakatnya juga akan
meneladaninya.
5. Li. Salah satu kata kunci yang digunakan Konfusius adalah Li.
Istilah ini memiliki beragam makna, tergantung konteksnya.
Istilah ini dapat berarti kesopanan, penghormatan, ritual, atau
standar ideal tingkah laku. Dalam Buku Tata Cara (Li Chi), konsep
Li diungkapkan:
Adipati Ai bertanya kepada Konfusius, "Apakah Li itu? Mengapa
saat kamu membicarakan mengenai Li, kamu berbicara seolah-olah
hal itu adalah hal yang penting?"
Konfusius menjawab, "Hambamu yang sederhana ini sungguh tidak
pantas untuk memahami Li."
"Tapi kamu terus membicarakannya," kata Adipati Ai.
Konfusius: "Yang telah saya pelajari adalah bahwa dari segala
yang ada di sekitar manusia, Li adalah yang terhebat. Tanpa Li,
kita tidak tahu bagaimana menyembah roh-roh yang ada di dunia
dengan benar; atau bagaimana menetapkan dengan benar status
raja dan menteri, pemerintah dan yang diperintah, dan tua-tua
dan anak muda; atau bagaimana menetapkan hubungan moral
antarkelamin; antara orang tua dan anak, dan antara saudara;
atau bagaimana membedakan tingkat hubungan yang berbeda dalam
keluarga. Itulah mengapa seorang pria sejati memegang teguh
Li." (Lin Yutang, The Wisdom of Confucius, New York: Random
House, 1938, Li Chi, hal. 216)
6. Wen. Konsep Wen menunjuk pada seni kedamaian yang sangat
Konfusius hargai. Hal ini meliputi musik, puisi, dan seni.
Konfusius merasa bahwa semua seni kedamaian itu, yang berasal
dari zaman Chou, merupakan simbol kebajikan yang harus
dimanifestasikan di seluruh lapisan masyarakat.
Konfusius mengutuk budaya pada masanya karena menurutnya tidak
memiliki kebajikan. Ia menyatakan:
Sang guru berkata, "Jelas bahwa saat seseorang mengatakan,
"Ritual, ritual," itu bukan hanya berarti batu nefrit dan
sutra. Jelas bahwa saat seseorang mengatakan `musik, musik`,
itu bukan hanya berarti bel dan drum ...." Sang guru berkata,
"Apa yang dapat dilakukan manusia dengan ritual yang tidak
baik? Apa yang dapat dilakukan manusia dengan musik yang tidak
baik?" (Analek XVII:11, III:3)
Oleh karena itu, ia yang menolak seni kedamaian berarti menolak
tata cara manusia dan surga yang baik. (t/Dian)
*) Catatan: Semua kutipan, khususnya kutipan dari kitab,
diterjemahkan secara bebas dari versi Bahasa Inggris.
Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Understanding Non-Christian Religions
Judul asli artikel: Confucianism
Penulis: Josh McDowell dan Don Stewart
Penerbit: Here`s Life Publishers, Inc., California 1982
Halaman: 77 -- 78 dan 83 -- 87
______________________________________________________________________
REFERENSI MISI
SUMBER-SUMBER SEPUTAR KONFUSIANISME
Silakan kunjungi alamat-alamat URL di bawah ini untuk mendapatkan
sumber-sumber lain seputar Konfusianisme.
1. Budhisme dan Konfusisisme
==> http://misi.sabda.org/node/1991
2. Agama Khonghucu
==> http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Khonghucu
3. Persahabatan Menurut Konfusius
==> http://forumteologi.com/blog/2008/07/08/persahabatan-menurut-konfusius/
4. Lao Tzu dan Konfusius, Suatu Perbandingan
==> http://winsig-cina.blogspot.com/2007/04/lao-tzu-dan-konfusius-suatu.html
5. Riwayat Singkat Konfusius
==> http://klipingartikel.anastix.net/2007/09/17/riwayat-singkat-konfusius/
6. Kong Hu Cu (Filsuf)
==> http://www.jokermerah.net/forum/showthread.php?p=7397
7. Agama Khonghucu di Mata Seorang Tionghua Kristen
==> http://www.sabdaspace.org/agama_khonghucu_di_mata_seorang_tionghua_kristen
______________________________________________________________________
SUMBER MISI
CHINESE CHRISTIAN MISSION (CCM)
==> http://www.ccmusa.org/
Sesuai dengan namanya, organisasi ini fokus untuk menjangkau
orang-orang Cina yang tersebar di seluruh dunia, namun bukan itu
tujuan akhirnya. Penjangkauan orang-orang Cina di seluruh dunia
adalah langkah awal organisasi ini menjangkau dunia. Ada sekitar 1,3
milyar orang Cina di Daratan Cina dan lebih dari 70 juta orang Cina
di luar negeri. Dari setiap lima atau tiga orang nonpercaya di
dunia, salah satunya adalah orang Cina. Itulah dasar mengapa CCM
akhirnya didirikan di Detroit pada 1961. Mulai dari menyebarkan
literatur untuk membagikan Injil, kini CCM berkembang menjadi
organisasi misi Kristen nondenominasi multijaringan untuk menjangkau
orang-orang yang belum terjangkau oleh Injil melalui persatuan
kekuatan gereja-gereja Cina dan orang-orang Kristen di seluruh
dunia. Bergantung sepenuhnya kepada dukungan berbagai gereja dan
perorangan, CCM secara aktif mencari gereja-gereja dan
organisasi-organisasi untuk bekerja sama menyebarkan Kabar Sukacita
kepada orang-orang Cina untuk menjangkau dunia. Anda tertarik untuk
mengenal lebih jauh pelayanan mereka? Kunjungi alamat situs yang
tercantum di atas.
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA
C I N A
Bulan ini, polisi provinsi Shandong di Cina bagian timur menangkap
270 pendeta Protestan dari gereja rumah karena ikut serta dalam
"persekutuan agama ilegal" -- pembelajaran Alkitab -- dekat kota
Linyi. Menurut China Aid Association (CAA) yang berpusat di Amerika,
yang mengusahakan kebebasan beribadah di Cina, sekarang ini masih
ada kurang lebih 150 orang pendeta yang ada di penjara. Sekitar lima
puluh anggota polisi yang berasal dari berbagai kota datang
mengepung tempat persekutuan tersebut, menutup mata dan memborgol
para pendeta, kemudian membawa mereka ke kantor polisi setempat
untuk diinvestigasi. Sekitar 120 orang akhirnya dibebaskan setelah
membayar tiga ratus yuan (US) sebagai "pajak interogasi". Dalam
aksi lain, para petugas Public Security Bureau (PSB) Beijing
menangkap seorang pemilik toko buku Kristen yang ada di dekat
Olympic Village meskipun dia membuka tokonya secara legal dan hanya
menjual buku-buku yang sudah mendapat izin pemerintah. Seorang
pekerja lain juga dipenjara dan ayahnya dipukuli dengan bengis.
(t/Setyo)
Diterjemahkan dari:
Judul buletin: Body Life, Edisi Januari 2008, Volume 26, No. 1
Judul asli artikel: 270 Pastor Arrested
Penerbit: 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 3
Pokok doa:
* Keberadaan para pendeta di Cina sangat memprihantinkan. Doakan
agar mereka tetap kuat di dalam Tuhan meskipun tekanan dan aniaya
sering datang mencobai hidup mereka.
* Doakan untuk pemerintah Cina, agar memiliki rasa takut akan Tuhan
dengan memberi lebih banyak kebebasan dan ketenangan beribadah
bagi orang-orang percaya di negara tersebut.
I N D I A
Rochunga and Mawii Pudaite of Bibles for World baru saja kembali
dari India. Selama di sana, mereka mengunjungi beberapa kota di
India dan juga negara Bhutan. Tujuan mereka adalah menghadiri
ibadah tahunan gereja mereka di Manipur, India.
Tema ibadah tahun ini adalah "Nyatakan Kemuliaan Tuhan di antara
Bangsa-bangsa". Inilah waktunya untuk menginspirasi gereja-gereja
dan menguatkan satu sama lain, memfokuskan diri secara khusus pada
program penjangkauan. "Diungkapkan dalam ibadah itu bahwa gereja di
India Timur Laut telah mengirimkan para misionaris ke Birma,
Kamboja, Nepal, dan Bangladesh. Kami juga memunyai lebih dari 120
misionaris yang melayani di daerah yang tak terjangkau di India,"
kata Mawii Pudaite.
Selama tiga hari ibadah, Mawii mengatakan bahwa ada dua hal penting
yang terjadi. Yang pertama, hadirnya biksu-biksu Budha yang
baru-baru ini bertobat menjadi Kristen. "Luar biasa bagaimana mereka
menyerap firman Tuhan yang kami bagikan kepada mereka secara pribadi
dan di dalam ibadah umum. Tuhan menggunakan firman-Nya yang hidup
untuk mengubah dan mentransformasi kehidupan," katanya.
Peristiwa penting kedua adalah pertunjukkan paduan suara misi dari
Chipura. Mawii mengungkapkan bahwa itu adalah bukti kegerakan dan
pertumbuhan rohani. "Dalam Kongres Lausanne Billy Graham, tahun
1974, Chipura dinyatakan sebagai salah satu daerah yang tidak
terjangkau di dunia. Setelah kongres tersebut, kami mengirim
beberapa misionaris lokal ke daerah itu. Puji Tuhan, kini Chipura
tidak lagi menjadi daerah yang paling tidak terjangkau. Mereka
benar-benar dikuatkan. Sungguh ada semangat dan kegerakan yang luar
biasa yang sedang terjadi selama beberapa waktu." (t/Setyo)
Diterjemahkan dari: Mission News Network, Mei 2008
Alamat URL: http://www.MNNonline.org/article/11094
Pokok doa:
* Doakan kegerakan luar biasa yang sedang terjadi di Manipur, India.
Kiranya Tuhan terus gerakkan orang-orang untuk pergi ke berbagai
tempat di dunia untuk memberitakan Injil ke tempat-tempat yang
belum terjangkau oleh Kabar Baik.
* Mengucap syukur karena Tuhan telah membuka pintu bagi masuknya
Injil ke wilayah Chipura, India. Doakan agar Tuhan mengirim lebih
banyak lagi pekerja di Chipura. Doakan juga keberadaan orang
percaya di sana, agar Tuhan menjaga dan memelihara pertumbuhan
iman mereka melalui firman-Nya.
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA
MASALAH PLURALISME AGAMA DI INDONESIA
Dewasa ini ada banyak pembicaraan mengenai perlunya menggabungkan
unsur-unsur yang baik dari berbagai agama dengan anggapan bahwa
semua agama berasal dari Tuhan dan semuanya membawa kepada Tuhan.
Beberapa mengatakan bahwa Kristus dapat ditemui dalam tiap agama,
dan bahwa Roh-Nya bekerja dalam tiap agama. Hal ini tidak benar,
karena masing-masing agama memiliki pandangan yang berbeda-beda
mengenai Tuhan, bahkan banyak yang tidak menerima Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya. Sebagai orang Kristen,
kita wajib mengasihi dan menghormati orang-orang yang memunyai
kepercayaan lain. Namun, iman Kristen tidak dapat berkompromi. Kita
harus tetap meninggikan bahwa Tuhan Yesus itu Raja di atas segala
raja dan Tuan di atas segala tuan yang tidak ada bandingannya.
Pokok Doa:
1. Mari satukan hati berdoa bagi setiap orang Kristen agar memiliki
pengenalan yang benar dan teguh akan ajaran Kristus seperti dalam
Alkitab sehingga mereka dapat memberi pembelaan yang benar akan
iman Kristennya.
2. Tidak dapat dihindarkan bahwa masalah pluralisme menurunkan
kesungguhan memberitakan Injil yang benar dan tepat. Doakan agar
setiap gereja Tuhan tidak terjebak untuk mengadopsi pluralisme
agama sebagai cara saling menghormati agama lain. Biarlah Tuhan
memberi bijaksana sehingga rasa hormat kepada agama lain tetap
dijunjung tinggi tanpa mengorbankan prinsip iman Kristennya.
3. Banyak tantangan dan rintangan yang akan dihadapi oleh gereja
pada akhir zaman ini. Doakan agar setiap anggota jemaat,
khususnya para pemimpinnya, dapat diperlengkapi dengan
pengetahuan dan kesaksian yang benar sehingga bisa saling
mendorong dan hidup saling mengasihi di tengah tekanan-tekanan
lingkungan.
4. Doakan untuk setiap pemimpin agama yang ada di Indonesia agar
mereka tidak mudah terprovokasi oleh ide-ide/paham-paham/
orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang bertujuan
menghancurkan kesatuan bangsa dan negara kita tercinta.
______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memerbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2008 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaski: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________
|