Juni 2008, Vol.11 No.24
______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI
EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Watchman Nee
SUMBER MISI: North India Christian Mission (NICM)
DOA BAGI MISI DUNIA: Internasional, Papua Nugini
DOA BAGI INDONESIA: Kerja sama Patners Internasional dengan Penginjil
Indonesia
______________________________________________________________________
GOD IS MORE INTERESTED IN YOUR AVAILABILITY THAN IN YOUR ABILITY
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
"Untuk suatu pelayanan yang berhasil, seorang hamba Tuhan harus rela
membayar harganya. Meskipun setiap hari ia harus mengalami derita
sengsara, tetapi ia merasakan Tuhan sangat dekat dengannya."
Ungkapan di atas sangat tepat untuk menggambarkan sosok Watchman Nee
-- seorang tokoh pengabar Injil asal Cina. Meskipun banyak tantangan
dan penderitaan datang menghampirinya selama menjalankan Amanat
Agung Yesus Kristus, ia sungguh merasakan tangan Tuhan yang tidak
pernah jauh darinya. Ia telah menyelesaikan tugas panggilannya
dengan baik. Kesaksian hidupnya merupakan bukti bahwa aniaya
seharusnya tidak membuat anak-anak Tuhan mengingkari imannya karena
tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.
Selamat melayani.
Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI
WATCHMAN NEE
"Pahlawan Iman yang Tegar di Tegah Badai"
Pada awal abad ke-16, banyak misionaris yang berasal dari Amerika
dan Eropa diutus ke negeri Cina. Pada Tahun 1987, terjadi bentrokan
antara Perkumpulan Pedang Besar dengan umat Kristen sehingga jatuh
dua korban jiwa berkebangsaan Jerman, dan berakibat didudukinya kota
pelabuhan Kiao Chou oleh Jerman. Kemudian pemimpin dari Perkumpulan
Pedang Besar mengganti nama perkumpulannya menjadi Tinju Keadilan
dan Keserasian, dengan slogannya yang berbunyi "Lindungi Qing,
bantai orang asing".
Peristiwa inilah yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan
anti orang asing yang terkenal dengan nama Pemberontakan Boxer di
Cina. Pada masa ini, banyak orang Kristen yang mati syahid. Namun
demikian, Allah menggerakkan para pekerja-Nya yang juga berasal dari
negara Cina itu sendiri. Banyak pemberita Injil lokal yang bangkit
memerluas berita Injil, salah satu di antaranya adalah Watchman Nee.
Watchman Nee lahir pada tanggal 4 November 1903 di Foochow, tenggara
Cina. Ibunya yang bernama Piece Lin sudah memiliki dua anak
perempuan saat mengandung Watchman Nee. Saat itu dalam tradisi Cina,
anak laki-laki lebih disukai dibandingkan anak perempuan. Oleh
karena itu, timbul kekuatiran dalam hati Piece Lin, kalau-kalau anak
ketiganya ini adalah anak perempuan lagi. Ditambah lagi, banyak
orang yang mengatakan kepadanya bahwa ia akan mengalami hal yang
sama dengan saudara perempuan suaminya, yang melahirkan enam anak
perempuan. Oleh karena itu, Piece Lin berdoa kepada Tuhan, kalau ia
memunyai anak laki-laki, maka ia akan memersembahkannya kepada
Tuhan. Doanya pun dikabulkan oleh Tuhan dan ia melahirkan seorang
anak laki-laki yang diberi nama Henry Nee.
Akhirnya keluarga Nee Weng Shiu, ayah Henry Nee, dikaruniai oleh
Tuhan empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.
Sebelum mengalami kelahiran baru, Henry Nee adalah seorang anak yang
berkelakuan buruk, namun demikian ia adalah seorang anak yang
cerdas. Ia selalu menduduki peringkat pertama mulai dari sekolah
dasar sampai saat ia bersekolah di Anglican Trinity College di
Foochow.
Ia mulai menaruh perhatian serius terhadap kekristenan pada saat ia
melihat perubahan hidup ibunya yang sungguh-sungguh mengalami
kelahiran baru. Ia mulai menghadiri kebaktian yang dipimpin oleh
Dora Yu, seorang wanita yang melepaskan kariernya sebagai seorang
dokter dan menjadi seorang penginjil. Ia mulai mengalami pergumulan
batin karena ada konflik dalam pikirannya antara mengikut Tuhan atau
membina kariernya.
Akhirnya pada tanggal 29 April 1920, ia memperoleh kemenangan
rohani, bertobat, dan mau mengikut Tuhan seumur hidupnya. Dan sesuai
dengan tradisi bangsa Cina untuk memilih nama baru sesudah mengalami
perubahan dalam hidupnya, ia mengganti namanya dari Henry Nee
menjadi Nee To-Sheng (giring-giring penjaga) atau dalam bahasa
Inggrisnya Watchman Nee. Ia memilih nama ini karena menganggap
dirinya sebagai seorang penjaga yang memberi tanda dan panggilan di
tengah kegelapan malam.
Diperlengkapi dan Dilatih Oleh Tuhan
Watchman Nee tidak pernah belajar di sekolah teologi. Wawasan iman
dan teologinya ia peroleh dengan membaca bacaan-bacaan rohani yang
ia dapat dari Margaret Barber, seorang misionaris Anglican.
Buku-buku rohani yang ia baca, antara lain Pilgrim`s Progress karya
John Bunyan, Biografi Hudson Taylor dan Madame Guyon, The Spirit of
Christ karya Andrew Murray, Autobiografi George Muller, Church
History karya John Foxe, dan sebagainya. Ia benar-benar seseorang
yang tekun menggali firman Tuhan.
Pada masa-masa awal pelayanannya, ia membagi uang yang ia dapat
menjadi 1/3 untuk kebutuhan pribadinya, 1/3 untuk membantu
sesamanya, dan sisanya untuk membeli buku-buku rohani. Ia memeroleh
lebih dari tiga ribu buku Kristen yang bermutu, termasuk karya-karya
tulis orang-orang Kristen pada abad pertama.
Persekutuannya dengan Barber mengilhaminya untuk tetap setia dengan
radikal terhadap salib dan mengobarkan semangatnya terhadap firman
Tuhan. Setelah itu, persahabatannya dengan Miss Barber dan biografi
Hudson Taylor yang ia baca, memengaruhi hubungannya dengan uang. Ia
mengetahui komitmen Taylor yang hanya menceritakan kebutuhan
finansialnya kepada Tuhan saja. Ia juga melihat Barber hidup dengan
prinsip tersebut. Ia amat terkesan dengan cara-cara yang Tuhan
lakukan untuk mencukupkan kebutuhan finansial Barber. Hal ini
membuatnya semakin bertekad untuk menyerahkan segala kebutuhan
hidupnya kepada Tuhan.
Setelah bertobat, ia mulai terbeban untuk memberitakan Injil kepada
teman-teman di sekolahnya. Ia menulis nama tujuh puluh temannya dan
secara teratur mendoakan mereka satu persatu setiap hari. Dalam
beberapa bulan, hanya satu dari antara mereka yang tidak mengalami
kelahiran baru! Mereka mulai mengadakan persekutuan doa di kapel
Trinity dan persekutuan ini terus berkembang hingga meluber sampai
ke jalanan di Foochow. Mereka juga kerap membagikan brosur yang
berisi berita mengenai jalan keselamatan kepada orang-orang yang
mereka temui di jalan. Setelah Pemberontakan Boxer, timbul gerakan
anti Kristen (kebencian bersifat politik yang berkembang di Cina
terhadap segala hal yang berbau Barat). Banyak pemimpin gereja yang
mendapat tekanan dari pemerintah Cina agar berkompromi dalam
beberapa hal.
Dengan demikian, Watchman Nee yang dicap sebagai pengkhotbah
"radikal" mulai disingkirkan oleh rekan-rekan pelayanannya. Karena
kecewa, ia pindah ke Ma-hsien, sebuah desa nelayan yang tidak jauh
dari misi Barber. Di sini, ia terus mempelajari firman Tuhan secara
lebih mendalam. Watchman Nee melihat banyak kaum muda yang yang haus
dan lapar akan firman Tuhan karena kondisi gereja telah berubah
menjadi menjadi sekularisme agama yang suam dan melumpuhkan gerakan
Roh Kudus. Ditambah lagi dengan perasaan anti barat, anti Kristen,
dan semangat nasionalisme menguasai banyak rakyat Cina.
Pemahamannya yang mendalam terhadap firman Tuhan membuatnya semakin
teguh meresponi panggilan Tuhan. Ia bertekad untuk terus
memberitakan Injil dan mendirikan gereja-gereja lokal yang memiliki
pemahaman yang benar terhadap Injil.
Tahun pertama dari sebelas tahun masa pelayanannya dimulai dengan
deraan penyakit TBC yang parah (tahun 1922). Dokter bahkan telah
memvonis bahwa ia hanya akan bertahan hidup selama enam bulan saja.
Melihat kondisinya yang parah, teman-temannya membawanya ke tempat
misi Barber agar memeroleh perawatan. Meskipun sedang sakit parah,
ia tidak mau menyerah. Perlahan-lahan, ia berhasil menyelesaikan
bukunya yang berjudul manusia rohani. Sakitnya kian bertambah parah,
namun firman Tuhan di dalam 2 Korintus 1:2; "Dengan iman kamu
berdiri teguh" dan Markus 9:23; "Tidak ada yang mustahil bagi
Allah", muncul dengan jelas dalam pikirannya. Ia lalu bangkit dari
tempat tidurnya dan berjalan menuju rumah sahabatnya. Setiap
langkah, ia berseru, "Berjalan dengan iman; berjalan dengan iman!"
Saat itulah Tuhan menyembuhkannya secara ajaib.
Setelah kesehatannya pulih kembali, ia memutuskan untuk memindahkan
pusat pelayanannya ke kota Shanghai. Di kota ini, ia mulai merintis
pendirian gereja lokal di Hardoon Road. Gereja ini mulai bertumbuh,
dan dalam waktu singkat menjadi pembicaraan orang dari seluruh
pelosok provinsi, bahkan sampai ke Inggris. Charles Barlow, salah
seorang anggota London Group of Brethen, berkunjung ke Shanghai.
Laporannya tentang kehidupan rohani dan perkembangan gereja di
Hardoon Road membuat Group of Brethren, London, mengirim satu tim
menuju gereja tersebut. Mereka mengundang Watchman Nee untuk datang
ke Inggris. Nee menyanggupinya, dan pada usia tiga puluh tahun ia
meninggalkan Cina dan menuju Inggris.
Tanggal 19 Oktober 1934, Watchman Nee menikah dengan gadis
idamannya, Charity Chang. Namun bibi Charity di Shanghai, melalui
surat kabar nasional, menyerang karakter Watchman Nee. Ia dituduh
melakukan transaksi yang curang dengan para investor asing. Hal ini
memberikan kesempatan kepada "musuh-musuh" Watchman Nee untuk
membagi-bagikan artikel yang menyerang pribadi Watchman Nee. Ia
sempat mengalami depresi, namun dukungan teman-teman setianya dan
pertolongan Roh Kudus membuat ia bangkit kembali.
Bersama rekan-rekannya, ia lalu mencurahkan waktu untuk merintis
jemaat lokal. Pada tahun 1937, ia diundang untuk memberitakan Injil
di Manila.
Pada saat yang bersamaan, Jepang mulai menduduki Cina. Bersama
istrinya, Watchman Nee bergegas menuju Hong Kong, yang merupakan
lokasi tempat tinggal orang tua Watchman Nee. Di Hong Kong, ia
berjumpa dengan rekan-rekan misionaris yang memintanya datang lagi
ke Inggris. Selama empat bulan di Inggris, ia memberikan pelayanan
pengajaran dan penulisan buku-buku rohani. Ia kembali mengalami
dukacita saat menerima surat dari istrinya, yang memberitahukan
bahwa kandungannya mengalami keguguran. Ia ingin segera kembali ke
Cina, namun perang Sino-Jepang memaksanya tinggal lebih lama.
Tahun 1941, Jepang kembali melancarkan serangan hebat terhadap kota
Shanghai. Gereja di Shanghai mengalami kondisi yang buruk saat
Jepang akan menyerang Hong Kong, Watchman Nee menerima kabar
kematian ayahnya dan kembali ke Hong Kong untuk mengatur upacara
pemakaman ayahnya. Saat kembali ke Shanghai, ia mengalami krisis
keuangan yang sangat parah, namun Tuhan senantiasa menolongnya.
Watchman Nee menerima bantuan dari sumber-sumber yang tidak terduga.
Sebagian bantuan berasal dari orang-orang Kristen di Inggris.
Saudara Watchman Nee, George, memintanya untuk menjadi mitra dalam
mendirikan pabrik farmasi. Awal tahun 1942, pabrik tersebut pun
didirikan. Banyak rekan kerja Watchman Nee yang bekerja paruh waktu
di pabrik tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pelayanan
mereka. Keputusan Watchman Nee untuk bertindak seperti Rasul Paulus
yang melayani dan bekerja sendiri, membuat rekan-rekannya yang
berpikiran sempit melarangnya untuk berkhotbah di gereja. Ia
kemudian memindahkan pabriknya ke Chungking. Di sana, ia membuka
pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan yang berasal dari kaum awam.
Bisnisnya amat berhasil, tetapi Watchman Nee tetap meluangkan waktu
menjadi penginjil keliling. Atas usaha Witness Lee, para penatua di
Shanghai sadar akan kelakuan mereka yang tidak terpuji terhadap
Watchman Nee. Mereka kemudian mengundang Watchman Nee untuk memimpin
sebuah konferensi Alkitab di Hardoon Road. Lebih dari 1.500 orang
hadir untuk mendengarkan gembala mereka menyampaikan firman Tuhan.
Tanggal 31 Januari 1949, Tentara Pembebasan Rakyat pimpinan Mao Tse
Tung memasuki Beijing. Ini adalah langkah awal berkuasanya kaum
Komunis di Cina. Setelah Komunis berkuasa, Chou En-Lai yang menjabat
sebagai perdana menteri, mengumpulkan para pemimpin gereja dan
menerbitkan "Christian Manifesto for the Protestant Churches" yang
berisi prinsip-prinsip gerakan kekristenan baru. Sejak saat itu,
gereja mulai terikat akan peraturan-peraturan Komunisme.
21 April 1951, ribuan cendekiawan Shanghai mulai ditangkap. Pada
tanggal 10 April 1952, giliran Watchman Nee yang ditangkap. Ia
dituduh melanggar dan menentang "Tiga Gerakan Reformasi Diri Gereja
Kristen". Ia mulai mengalami aniaya yang berat, sementara itu
istrinya mengalami tekanan batin dan nyaris mengalami kebutaan
akibat penyakit darah tinggi yang dideritanya. Ia menjalani
perawatan dan berada di bawah pengawasan polisi. Watchman Nee sudah
menjalani hukuman selama lima belas tahun, namun masih ditambah lima
tahun lagi. Charity Chang, istrinya telah dibebaskan dengan kondisi
kesehatan yang buruk dan menanti kepulangan suaminya di Shanghai.
Namun hanya enam bulan menjelang tanggal pembebasan suaminya, ia
terjatuh dan mengalami luka-luka parah yang mengakibatkan ia
meninggal dunia. Ini membuat duka yang mendalam bagi Watchman Nee.
Selama berada di penjara, ia ditugaskan menerjemahkan buku-buku ilmu
pengetahuan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Cina.
Tanggal 12 April 1972, Watchman Nee menyelesaikan masa hukumannya,
tetapi ia masih belum dibebaskan. Akhirnya, pada tanggal 1 Juni
1972, Watchman Nee meninggal dunia dalam penderitaan dan kesendirian
karena mengalami sakit jantung yang kronis ditambah dengan siksaan
yang ia alami. Kemudian, jazadnya pun dikremasi. Saudara perempuan
istrinya yang tertua menerima kabar kematiannya dan meminta abu
jenazah Watchman Nee dikuburkan bersama dengan istrinya di Kwanchao,
kota Haining di provinsi Chekiang.
Watchman Nee telah tiada. Ia kini berada di surga dengan Allah Bapa
dan mengalami sukacita kekal. Selama pelayanannya, diperkirakan ada
kurang lebih empat ratus gereja lokal yang dirintis dan didirikan
olehnya. Lebih dari tiga puluh gereja lokal berdiri melalui
pelayanannya di Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, dan
Indonesia. Hari ini Tuhan berkarya melalui gereja-gereja tersebut
dan berkembang menjadi lebih dari 2300 gereja di seluruh dunia.
Daftar Pustaka:
1. Kesaksian Watchman Nee. Bahan-bahan yang dikumpulkan oleh Kwang
Hsi Weigh, Yayasan Perpustakaan InjiI, Surabaya 1974.
2. Watchman Nee Hamba Tuhan Yang Menderita, Adonai Publishing, 2000.
3. www.Watchmannee.org/life-ministry.html
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah: Cahaya Buana, Edisi 93, Tahun 2003
Judul asli artikel: Watchman Nee
Penulis: Tidak Dicantumkan
Penerbit: Komisi Literatur GKT III, Malang 2003
Halaman: 11 -- 13
______________________________________________________________________
SUMBER MISI
NORTH INDIA CHRISTIAN MISSION (NICM)
==> http://www.nicmission.org/
NICM adalah organisasi nonprofit yang berpusat di Negara Bagian
Indiana, Amerika Serikat. Organisasi ini telah melayani dan
membagikan cinta kasih Allah kepada ribuan orang di India Utara
dengan menyediakan sekolah, kursus-kursus, pelatihan, klinik medis,
klinik keliling, pusat kesehatan masyarakat, serta pembangunan
gereja. Target jangkauan mereka adalah para tunawisma, korban
bencana alam, dan kaum miskin. NICM bekerja sama dengan sejumlah
organisasi dalam melayani orang-orang di India Utara, di antaranya
adalah dengan GNPI USA. Bersama, mereka memproduksi bahan-bahan
audiovisual untuk daerah-daerah terpencil di India Utara.
Fasilitas-fasilitas yang didirikan untuk tujuan penginjilan pun
bisa dikatakan berhasil. Sebut saja Cambridge Christian School.
Sekolah dasar yang didirikan pada 2004 ini telah memiliki dua ratus
pelajar. Namun, banyak yang masih mereka butuhkan untuk kesuksesan
penginjilan di sana, di antaranya adalah literatur-literatur Kristen
dalam bahasa Punjabi -- bahasa setempat yang digunakan di sana. Cari
tahu apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu dan mendoakan
pelayanan NICM dengan mengunjungi situsnya.
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA
I N T E R N A S I O N A L
Tom Dudenhofer dari ASM (Audio Scripture Ministries) mengatakan
bahwa mereka sangat membutuhkan orang-orang yang kompeten dalam
bidang media teknologi, yang memiliki visi dan misi. "Kami
benar-benar memerlukan tenaga-tenaga teknis yang mengasihi Tuhan dan
suka menolong sesama, yang bersedia bepergian dan tertarik untuk
menyalurkan apa yang mereka ketahui tentang komputer dan audio
digital. Ada banyak orang percaya di seluruh dunia yang membutuhkan
peralatan ini untuk menyediakan firman Tuhan dalam bentuk audio bagi
orang-orang yang tidak dapat membaca."
Begini situasinya: "Ada tim-tim nasional di Peru, di seluruh wilayah
negara tersebut, yang berusaha menggunakan alat-alat media untuk
menyediakan Alkitab dalam bentuk audio dan bahkan video. Mereka
hanya membutuhkan seseorang untuk membantu mereka atau memberi
mereka sedikit pengarahan." Dengan kata lain, seorang sukarelawan
akan membantu memandu tim yang ada di sana tentang bagaimana
menggunakan peralatan yang ada, bagaimana memproses suara yang
mereka rekam, dan bagaimana memecahkan masalah yang muncul pada
beberapa peralatan yang ada.
Dudenhofer mengemukakan bahwa para relawan harus mampu menjelaskan
mengenai pengaturan alat yang ada dalam waktu yang singkat. Masalah
bahasa tidak perlu dikuatirkan. Jasa para penerjemah bisa
didapatkan dengan mudah untuk pelayanan seperti ini.
ASM telah mendapat permintaan akan relawan teknis yang terus
berdatangan dari Peru, Pilipina, dan Mozambik. "Mereka sudah
memiliki strategi, mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan.
Kami akan selalu ada untuk membantu mereka mewujudkan kerinduan yang
Tuhan sudah tanamkan di hati mereka."
Ditanya mengenai apa yang akan terjadi dengan pelayanannya jika tak
ada relawan yang datang pada saat yang dibutuhkan, Dudenhofer hanya
berkata, "Pelayanan akan secara perlahan mandek. Kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan, kami bukanlah organisasi yang
besar. Tapi kami percaya pada Tuhan. Kami tahu bahwa Tuhan akan
menolong pada saat yang tepat dan kami tahu bahwa ada orang-orang
yang telah Tuhan persiapkan untuk membantu mencukupi kebutuhan
kami." (t/Setyo)
Diterjemahkan dari: Mission News Network, April 2008
Alamat URL: http://www.mnnonline.org/article/11044
Pokok doa:
* Doakan Tom Dudenhofer beserta tim ASM yang saat ini sedang
bergumul mencari staf baru di bidang teknologi media. Kiranya
Tuhan mengirimkan hamba-Nya yang siap bekerja melayani di
ladang-Nya ini.
* Berdoa untuk tim ASM yang sedang berupaya menjangkau lebih banyak
orang bagi Allah melalui media teknologi, baik melalui audio
maupun video. Kiranya Tuhan memberkati pelayanan mereka.
P A P U A N U G I N I
Keluarga Smith, pasangan misionaris dari The New Tribes Mission,
melayani suku Diningat di Papua Nugini. Pada suatu malam, dalam
sebuah pertemuan dengan orang-orang dari suku tersebut, hujan mulai
turun. Orang-orang dari suku Diningat berkata bahwa orang-orang dari
suku lainlah yang telah membuat hujan turun untuk mengacaukan
pertemuan mereka. Karena merasa kecewa dengan pernyataan tersebut,
pasangan Smith bertanya kepada suku Diningat mengenai siapa yang
mereka pikir telah membuat hujan turun. Suku itu menjawab bahwa
Tuhanlah yang telah membuat hujan.
Sedikit membingungkan, bagaimana mereka dapat menjawab dua
pertanyaan yang mirip tapi menjawabnya dengan jawaban yang berbeda.
Pasangan Smith bertanya kembali kepada mereka apakah seseorang telah
membuat hujan turun.
Lagi-lagi, suku itu menjawab, "Ya, seseorang dari desa tetanggalah
yang telah melakukannya."
Smith kemudian bertanya kepada mereka mengenai siapakah pemilik dan
penguasa segala hal, dan mereka menjawab, "Tuhan." Akan tetapi,
ketika Smith bertanya apakah mereka berpikir bahwa manusia dapat
mengendalikan cuaca, mereka menjawab, "Tidak! Itu tidak benar!"
Kemudian, pasangan Smith mengetahui bahwa suku Diningat sengaja
memberikan jawaban yang berbeda. "Mereka melakukannya untuk membuat
kita menyala-nyala dan mengajar dengan lebih berapi-api! Ha! Saya
rasa itulah cara mereka mempermainkan anjuran setan," tulis Smith.
NTM meminta agar Anda berdoa supaya keinginan suku Diningat untuk
mengenal Tuhan lebih jauh itu terus berkelanjutan. Berdoalah agar
mereka tetap mau "bersendau-gurau" dan mendengarkan Injil dengan
sungguh-sungguh. (t/Setyo)
Diterjemahkan dari: Mission News Network, April 2008
Alamat URL: http://www.mnnonline.org/article/11003
Pokok doa:
* Doakan Pasangan Smith yang sedang melayani di Papua Nugini, agar
Tuhan memberi hikmat dan pencerahan kepada mereka sehingga
mereka dapat melayani penduduk sekitar dengan hati yang penuh
dengan belas kasih.
* Berdoa agar Tuhan mengirim lebih banyak lagi utusan Injil ke
Papua Nugini, mengingat masih banyak suku-suku yang belum
terjangkau oleh Injil di sana.
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA
KERJA SAMA PARTNERS INTERNASIONAL DENGAN PENGINJIL INDONESIA
W, demikian kami memanggilnya, tahu bahwa pulau-pulau terpencil di
Indonesia memiliki sedikit sekali akses untuk pengabaran Injil. Dia
terbeban untuk membantu orang-orang yang berjuang dalam kemiskinan
dan memberi bantuan ke beberapa desa.
Pada awal pelayanannya, ia diterima dengan sikap permusuhan dan W
sering mendapat ancaman dari para pemimpin agama setempat. Akan
tetapi, penduduk desa menginginkan bantuannya dan beberapa orang
ingin mendengar apa yang dia katakan. Inilah waktunya untuk
mempersiapkan tanah, bukan waktu untuk menanam atau menuai.
Keadaan berubah setelah terjadi Tsunami di wilayah itu. Karena
pengiriman bantuan untuk pulau terpencil sedikit terlambat, maka
mereka menjerit kepada W. Jeritan kebutuhan mereka membuat W tak
berdaya. Namun, kesaksian atas kesetiaan dan cintanya membuka banyak
kesempatan baginya untuk mewartakakan Injil. Puji Tuhan, ada yang
memberi tanggapan atas panggilan keselamatan.
Lalu muncullah tantangan. W berkata, "Aku berdoa, `Siapa yang akan
memimpin mereka, Tuhan?` Tuhan menjawab: `Kamu harus melatih dan
mengutus.` Kemudian saya mengadakan seminar dan saya memohon kepada
Tuhan, `Mampukan aku untuk berkotbah dan buatlah supaya ribuan
orang boleh mendengar Injil.` Karena banyak orang yang lapar akan
Tuhan, tapi belum ada kesempatan bagi mereka. Tuhan menjawab doaku
melalui radio."
Partners International memperkuat pelayanan W dengan membantunya
melatih dan mengutus perintis gereja masuk ke kelompok masyarakat
yang belum terjangkau. Para utusan itu memeroleh kepercayaan dengan
hidup ber"inkarnasi" dalam komunitas tak terjangkau ini dengan
memulai proyek holistik untuk membantu mencukupi kebutuhan primer
yang mendesak, seperti air bersih, obat-obatan, dan gedung
sekolah. Dan pada akhirnya, membuka gereja yang sesuai dengan budaya
setempat.
Sekalipun sekarang mereka memiliki identitas Kristen dan menjadi
orang yang benar-benar percaya, namun memuridkan mereka di
tengah-tengah daerah yang beragama mayoritas, memerlukan perjuangan
yang berat. "Mereka semua membenci tetangganya. Mereka berkata,
`Mereka jahat! Mereka sering menyiksa kami!` Saya menjawab, `Jangan
membenci mereka, kamu harus mengasihi mereka.` `Bagaimana kami bisa
mengasihi mereka?` Lalu dengan Alkitab, kami memberi tahu mereka apa
yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya, yaitu `Jadilah terang di
tengah kegelapan.`"
Selama orang Kristen memiliki iman yang semakin berakar kuat,
penganiayaan tidak akan menjadi penghalang untuk berkembang. Saat
ini, ada pelayanan perintisan gereja dengan dua tujuan, yaitu untuk
menguatkan orang-orang Kristen yang berjuang memertahankan iman di
dalam penganiayaan yang semakin banyak; kedua, untuk menumbuhkan
gereja di antara kaum mayoritas.
Selain melatih, bersama para pemimpin Kristen dan sekolah Alkitab, W
dan timnya membuat program-program, antara lain program radio,
menindaklanjuti telepon pendengar, dan terus-menerus mengunjungi
desa-desa terpencil untuk menguatkan orang-orang percaya dan
mewartakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya. (t/Setyo)
Diterjemahkan dan disunting dari: Mission News Network, Mei 2008
Alamat URL: http://www.mnnonline.org/article/11186
Pokok Doa:
1. Bersyukur untuk W yang taat akan panggilan Tuhan dan bersedia
membayar harga untuk melayani di daerah terpencil yang belum
mendengar Kristus. Kiranya Tuhan terus memberikan kekuatan
kepadanya di tengah-tengah penolakan dan ancaman yang datang.
2. Berdoa untuk orang-orang yang telah dimenangkan melalui
pelayanan W. Biarlah Roh Tuhan memeteraikan Kristus dalam hati
mereka sehingga mereka dapat dilayani bukan hanya secara jasmani,
tapi terutama kebutuhan mereka akan kasih Kristus yang sejati.
3. Berdoa untuk W dan timnya, khususnya untuk perintisan gereja dan
program pemuridan bagi para petobat baru. Biarlah mereka dapat
semakin bertumbuh dewasa dalam Kristus.
4. Bersyukur karena Patners Internasional telah berupaya memberikan
bantuan dan dukungan terhadap pelayanan ladang misi di Indonesia.
Doakan agar Tuhan memakai mereka semakin luar biasa.
5. Doakan setiap orang percaya yang sedang dimuridkan W, agar mereka
memiliki pemahaman dan pengajaran Kristus yang kuat sehingga
mereka dapat menjadi saksi bagi masyarakat sekitar yang belum
percaya dan yang perlu dimuridkan.
6. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak pulau, di
mana sebagian besar yang tinggal di wilayah terpencil belum
mendengar Kabar baik. Mari berdoa agar Tuhan mengirim lebih
banyak pekerja bagi wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh
Injil.
______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memerbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2008 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________
|