Juni 2008, Vol.11 No.23
______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI
EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Gadis Pejuang Iman
SUMBER MISI: The North American Mission Board (NAMB)
DOA BAGI MISI DUNIA: Venezuela, Irak
DOA BAGI INDONESIA: B Dibebaskan dari Penjara
______________________________________________________________________
THE PLACE OF HUMILITY IS THE PLACE OF POWER
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
Jika kita membaca atau merenungkan kisah orang-orang Kristen yang
setia melayani Tuhan dan mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar
bagi Tuhan, kita pasti sangat diberkati dan dikuatkan. Kesaksian
hidup mereka dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk
melanjutkan panggilan yang Tuhan berikan. Kisah-kisah kesaksian
seperti itu lebih sering kita dengar dari dunia Barat, padahal ada
juga kisah-kisah luar biasa yang datang dari Timur (Asia). Nah,
edisi-edisi e-JEMMi di bulan Juni 2008 ini akan secara khusus
mengangkat profil pejuang iman dari Asia. Silakan menyimak. Kiranya
Tuhan bekerja di hati kita dan menggugahnya untuk melihat banyaknya
jiwa-jiwa yang belum mengenal kasih Tuhan di sekitar kita.
Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI
GADIS PEJUANG IMAN
(Riwayat Hidup Sumi San dari Negeri Jepang)
Diringkas oleh: Novita Yuniarti
Sumi San dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, ayahnya seorang
pedagang pipa air, sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga
biasa. Semasa remaja, ia harus hidup berkekurangan karena ayahnya
mengalami kerugian besar dalam berdagang. Dampaknya, orang tua Sumi
harus menanggung utang yang tidak sedikit jumlahnya. Demi membantu
meringankan beban orang tuanya, Sumi meninggalkan kampung halamannya
dan bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Kobe. Tidak ada waktu
baginya untuk memikirkan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Waktunya
ia habiskan untuk bekerja dan belajar. Semangat dan kemauan yang
begitu kuat menyebabkan ia tidak memedulikan kondisi kesehatannya.
Tanpa disadari, ia menderita penyakit bronkitis dan beri-beri yang
menyebabkan ia harus dirawat di sebuah rumah sakit selama tiga
bulan. Setelah sembuh dari sakitnya, ia dikeluarkan dari
pekerjaannya. Hal ini membuatnya sangat sedih karena pekerjaan
tersebut sangat ia butuhkan dan merupakan satu-satunya cara agar ia
dapat membantu meringankan beban orang tuanya.
Sumi pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Funo.
Persoalan utama baginya saat ini adalah bagaimana ia dapat membantu
orang tuanya dalam hal keuangan. Akhirnya, ia memutuskan untuk
mendaftar ke sebuah sekolah perawat di Hiroshima. Berkat ketekunan
dan kesabarannya, ia diterima di sekolah tersebut, bahkan mendapat
beasiswa sehingga ia tidak perlu menanggung semua biaya sekolahnya.
Berkat semangat dan kesabarannya pula, Sumi mampu menyelesaikan
pendidikannya dengan nilai yang sangat memuaskan dan mendapat
kesempatan bekerja pada sebuah rumah sakit.
Namun di tengah kebahagiaannya, ia mendapat kabar bahwa ibunya
meninggal karena sakit. Masalah tidak berhenti sampai di situ. Ia
dihadapkan pada persoalan baru -- siapakah yang akan menggantikan
ibunya mengurus rumah tangga? Sebagai anak tertua, Sumi sadar bahwa
dialah yang akan melaksanakan tugas tersebut. Sungguh bukan hal
mudah baginya. Namun, ia dan ayahnya yakin bahwa mereka dapat
mengatasi kesulitan yang sedang terjadi dan segalanya pasti akan
kembali normal dengan bantuan dewa Hotoke San. Sumi dan keluarganya
adalah penganut agama Budha. Prinsip hidupnya didasarkan pada ajaran
tersebut, yaitu bahwa "hidup hanyalah soal nasib semata, biarpun
manusia dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban hidupnya".
Sumi dibesarkan dalam ajaran ini dan ia menyerahkan hidupnya pada
nasib. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah yang
terjadi dalam hidupnya dan berharap mudah-mudahan nasib baik akan
menghampirinya pada masa yang akan datang.
Di samping mengurus rumah tangga, Sumi juga terus memerdalam
pengetahuan keperawatannya. Ia berharap suatu hari nanti dapat
bekerja pada sebuah distrik dengan penghasilan yang jauh lebih besar
daripada penghasilan bekerja di rumah sakit. Nasib baik nampaknya
berpihak pada Sumi, ia diterima sebagai perawat di Badan Kesehatan
Distrik di bagian timur Kobe. Suatu hari, Sumi mendapat tugas baru.
Ia ditugaskan merawat Machan, putra tunggal keluarga Komatsu yang
menderita bisul pada kakinya. Tugas tesebut mengharuskannya untuk
datang setiap hari ke rumah Machan. Kedatangan Sumi selalu disambut
gembira oleh Machan, mereka berdua benar-benar telah menjadi
sahabat. Namun secara diam-diam, Komatsu, ayah Machan, menaruh
perhatian khusus kepada Sumi. Sumi mengetahui hal tersebut, dan
karenanya ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan
Komatsu, mengingat Komatsu sudah memiliki istri.
Setelah mendapatan perawatan yang intensif, kaki Machan benar-benar
sembuh. Di akhir kunjungannya, Sumi mendapatkan sebuah kado dari
Machan. Tidak hanya itu, Komatsu juga memberikan sebuah bungkusan
kecil sebagai tanda terima kasihnya kepada Sumi yang telah merawat
Machan. Dari bungkusan kecil tersebut, Sumi tahu bahwa tanda terima
kasih tersebut adalah uang. Sumi menolak pemberian tersebut dengan
alasan pihak rumah sakit telah menggajinya atas tugas tersebut.
Tidak hanya itu, Komatsu juga meminta Sumi untuk sesekali bertemu
dan berbincang-bincang dengannya. Karena terus didesak dan merasa
telah berutang budi pada pihak keluarga Komatsu (dalam budaya
Jepang, suatu utang harus dilunasi secara penuh dan tidak boleh
kurang suatu apa pun), akhirnya Sumi menerima bungkusan tersebut
(bungkusan berisi uang seratus yen, lebih banyak dari jumlah gajinya
selama dua bulan) dan berjanji sesekali akan menemui Komatsu hanya
untuk berbincang-bincang sebagai seorang teman.
Tawaran Komatsu yang telah diterimanya ternyata membuat Sumi merasa
tidak nyaman. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kobe dan mencari
pekerjaan di tempat lain. Sumi mencoba melamar ke beberapa tempat
dan ia diterima bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Tokyo. Ia
merasa lega, pikirnya ia akan terbebas dari persoalan tersebut.
Namun setelah setahun bekerja di Tokyo, tiba-tiba ia mendapat
kunjungan dari seseorang. Ya, orang tersebut adalah Komatsu. Tentu
saja kunjungan Komatsu membuatnya sangat terkejut. Apa sebenarnya
tujuan Komatsu berkunjung ke Tokyo? Apakah hanya sekadar untuk
menemuinya? Tujuan Komatsu menemui Sumi adalah untuk menjodohkannya
dengan Jiro, adik kandungnya. Dan tanpa sepengetahuan Sumi, ternyata
Komatsu telah terlebih dahulu menemui keluarga Sumi di Funo untuk
membicarakan rencana tersebut, dan pihak keluarga pun menyetujuinya.
Sumi memang merindukan sebuah rumah tangga sebagaimana layaknya
seorang wanita, namun bukan dengan Jiro, karena sebenarnya Sumi
mencintai Katzuo, pemuda asal Funo yang sedang ditugaskan di Cina
sebagai seorang prajurit. Hingga saat ini, Sumi tidak pernah
mengetahui dengan pasti kabar maupun keberadaan Katzuo, namun Sumi
yakin Katzuo akan kembali ke Funo karena bagaimanapun mereka pernah
berjanji akan membawa hubungan tersebut sampai ke pernikahan. Sumi
menolak tawaran Komatsu, namun Komatsu tidak kehabisan akal,
Komatsu berencana mengajukan Sumi ke pengadilan atas tuduhan Sumi
telah berutang kepada keluarga Komatsu dan tidak mampu
membayarnya, jika Sumi menolak tawaran Komatsu untuk menikah dengan
adiknya. Akhirnya dengan berat hati, Sumi menerima tawaran tersebut.
Pernikahan Sumi dan Jiro pun berlangsung menurut cara dan adat
Jepang. Sumi pun resmi menjadi istri Jiro. Selama resepsi
berlangsung, Jiro hanya diam saja. Namun setelah meminum sake, ia
tertawa dan berteriak-teriak layaknya orang gila, sehingga para tamu
menjadi sangsi apakah ia benar-benar waras. Selama mengarungi rumah
tangga bersama Jiro, hampir setiap malam Jiro tidak berada di rumah,
ia pergi ke tempat hiburan malam dan menghabiskan sepanjang malam
dengan minuman keras dan wanita. Sumi tinggal sendirian di rumah,
rasa sepi mulai menghampirinya dan ia bertekad untuk mengakhiri
penderitaannya dengan bunuh diri. Namun, pikiran tersebut segera
dibuangnya jauh-jauh ketika ia mengingat utang ayahnya yang belum
lunas.
Pada suatu malam, Komatsu berkunjung ke rumah Sumi untuk menjalankan
rencana yang telah ia rencanakan dengan matang. Komatsu tidak pernah
memikirkan kebahagiaan Jiro maupun Sumi. Ia melakukannya agar Sumi
berada di sampingnya dan untuk kepuasan dirinya saja. Ia tahu Jiro
tidak pernah berada di rumah. Ia berusaha merayu Sumi. Tidak hanya
itu, Komatsu juga menggunakan kekerasan. Tetapi Sumi melawan dan
berteriak dengan sekuat tenaga sehingga teriakannya sampai terdengar
oleh kakak laki-laki Komatsu yang tinggal tidak jauh dari rumah
Sumi. Sumi menceritakan apa yang telah dialaminya kepada kakak
iparnya. Kakak Komatsu menaruh rasa iba kepada Sumi dan berjanji
akan mencarikan tempat yang aman baginya. Pagi harinya, mereka
berdua pergi ke suatu tempat yang telah dijanjikannya. Mereka pergi
ke sebuah rumah di dekat pantai. Rumah tersebut adalah milik Yamada
-- teman kakak Komatsu. Yamada adalah seorang janda yang suaminya
telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sumi merasa aman berada di
rumah Yamada dan karena itulah Sumi tidak segan untuk menceritakan
pengalaman pahitnya kepada Yamada.
Yamada memperkenalkan Sumi kepada Koide. Ia adalah seorang Kristen
dan Koide mulai menceritakan kasih Kristus kepada Sumi. Meskipun
hati Sumi sudah dipenuhi oleh kebencian dan dendam, tetapi Yamada
dan Koide tidak menyerah. Mereka berdua terus menceritakan kasih
Allah dan mengajaknya ke gereja. Pada awalnya Sumi menolak, namun
setelah dipikirkannya, ia berpendapat apa salahnya apabila ia
memenuhi ajakan Koide. Sumi tidak tertarik pada khotbah yang
disampaikan dalam kebaktian tersebut karena khotbah yang disampaikan
malam itu mengenai kasih Allah kepada manusia. Karena pengalaman
hidupnya, maka ia meragukan ajaran tersebut. Namun Koide tidak
menyerah, ia terus mengajak Sumi mengikuti kebaktian yang setiap
minggu diadakan oleh Pendeta Honda di gereja. Sumi menjadi
pengunjung tetap, tapi ia belum bersedia menyerahkan hidupnya kepada
Kristus. Seusai kebaktian, pendeta Honda menghampiri Sumi dan
bertanya kepadanya mengapa ia tidak mau percaya kepada Kristus. Sumi
menjawab bahwa ia akan percaya jika pendeta Honda mampu
memerlihatkan Tuhan kepadanya. Malam itu, pendeta Honda dan Koide
mendoakan Sumi. Dan Tuhan menjamah hatinya, ia bersedia mengampuni
orang-orang yang telah menyakitinya dan menyerahkan hidupnya kepada
Kristus.
Dua tahun kemudian terjadi perang pasifik. Rumah Sumi tak luput dari
keganasan perang tersebut -- semuanya hancur. Ia tidak memunyai
rumah lagi, jalan satu-satunya adalah kembali ke Funo dan tinggal di
sana sampai perang berakhir. Sumi berangkat menuju kampungnya dengan
menggunakan kereta api, perjalanan tersebut cukup melelahkan. Sumi
tiba di desa Sawadani. Ketika ia sedang menunggu bis yang menuju
Funo, seorang pria mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang.
Pria tersebut menawarkan kepada Sumi untuk menjadi perawat di
Sawadani, mengingat tidak ada perawat di tempat itu saat ini. Sumi
pun menerima tawaran tersebut.
Pasien pertamanya adalah seorang ibu yang akan melahirkan. Ini
adalah kelahiran anaknya yang ketiga. Kedua anaknya yang terdahulu
meninggal selama proses persalinan dan ia sangat takut jika anaknya
yang ketiga akan lahir dengan kondisi yang sama. Sumi memanfaatkan
waktu tersebut untuk menceritakan kasih Allah kepadanya dan berdoa
baginya. Persalinan berjalan dengan lancar dan anaknya dapat lahir
dengan selamat. Setiap hari, semakin banyak pasien yang harus
ditanganinya. Sumi tidak hanya merawat pasien-pasiennya, tetapi ia
juga memberikan hiburan, semangat, dan mendoakan mereka. Namun, ada
satu hal yang mengusik hatinya. Sebagai bidan, ia tahu bahwa banyak
anak yang lahir di luar pernikahan. Penduduk setempat menganggap hal
itu sebagai hal yang biasa. Namun, Sumi tahu bahwa hal tersebut
merupakan dosa. Ia tahu bahwa jalan keluar atas masalah ini adalah
dengan menyampaikan ajaran Kristus. Sumi semakin yakin bahwa Tuhan
menempatkannya di Sawadani untuk menyampaikan Kabar Baik kepada
penduduk setempat. Tapi ia tahu, ia tidak dapat melaksanakannya
sendirian. Ia tidak memiliki pendidikan khusus, namun ia berdoa agar
Tuhan membimbingnya untuk menanamkan nilai-nilai Kristen di
Sawadani.
Tiga tahun setelah perang berakhir, tepatnya pada tahun 1948,
Pendeta Honda membangun kembali pelayanannya -- menceritakan Kabar
Baik. Suatu hari, ia mendapat surat dari Sumi yang memintanya datang
ke Sawadani. Namun, ia tidak dapat memenuhi permintaan Sumi. Ia
menyarankan agar Sumi menemui Pendeta Hashimoto. Pendeta Hashimoto
bukan orang asing bagi Sumi, ia sering memimpin kebaktian yang
sering dikunjungi Sumi ketika berada di Kobe. Pendeta Hashimoto
memenuhi permintaan Sumi meskipun pada saat itu kondisinya tidak
terlalu sehat untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga mengajak
Koide ke Sawadani. Kebaktian dimulai pukul tujuh malam. Jumlah orang
yang menghadiri kekebaktian tersebut sungguh di luar dugaan -- lebih
dari empat puluh orang. Pada hari kedua, orang yang datang jumlahnya
lebih banyak dari sebelumnya. Apa yang diharapkan Sumi terjadi pada
hari ketiga -- beberapa penduduk memutuskan untuk mengikut Kristus
dan dibaptis. Di antara orang-orang yang akan di baptis, ada seorang
pria bernama Sugimoto -- dialah yang menjadi motor penggerak
pertumbuhan orang Kristen di Sawadani. Kejadian ini membuat Sumi
bahagia. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, Sumi dinyatakan
positif mengidap kanker payudara. Penyakit tersebut tidak membuat
imannya goyah. Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Karena
pertumbuhan orang Kristen yang luar biasa, mau tidak mau menimbulkan
sebuah tantangan baru.
Suatu sore, Pendeta Hashimoto didatangi orang yang tidak ia kenal.
Orang tersebut adalah seorang pendeta Budha. Kunjungan tersebut
merupakan awal usaha menghalangi upaya penginjilan di Sawadani. Para
pendeta Budha memiliki pengaruh yang cukup besar di Sawadani. Mereka
memaksa agar setiap orang tua melarang anak-anak mereka untuk pergi
ke gereja. Hal ini membuat Sumi sangat sedih. Namun, pekerjaan Tuhan
tidak dapat dihancurkan oleh tangan manusia. Larangan para orang tua
tidak menyebabkan anak-anak mereka meninggalkan gereja. Meskipun
harus pergi ke gereja secara sembunyi-sembunyi, namun mereka tidak
takut menyaksikan Kristus kepada penduduk yang belum percaya.
Pada tanggal 24 Mei 1949, Sumi menjalani operasi di sebuah rumah
sakit di Hamada. Penyakitnya bertambah parah dan menurut dokter
tidak ada harapan baginya untuk sembuh. Kabar tersebut tidak membuat
Sumi putus asa. Ia tetap bersemangat dan percaya kepada Yesus.
Sikapnya itu membuat setiap orang yang berada di rumah sakit menjadi
heran. Akibatnya, banyak pasien yang mampu berjalan, datang ke kamar
Sumi dan berbincang-bincang dengannya. Sumi menyaksikan Kristus
kepada mereka dan Injil pun tersebar di rumah sakit tersebut. Suatu
keajaiban terjadi di Hamada. Sumi yang sedang sakit parah membawa
tiga puluh orang yang belum percaya datang kepada Kristus. Beberapa
di antara mereka menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu dan meneruskan
apa yang telah dimulai oleh Sumi dari tempat tidurnya di rumah
sakit.
Pada musim panas 1949, Sumi kembali ke Sawadani. Ia disambut hangat
oleh teman-temannya sesama Kristen. Ia akan tinggal di Sawadani
untuk mengabarkan Injil. Satu kerinduannya adalah memunyai gedung
gereja sendiri dan usul ini disetujui oleh setiap anggota. Untuk
mewujudkan hal tersebut, ia menyumbangkan delapan ribu yen guna
meyokong pembangunan gedung gereja. Meskipun para pendeta Budha
berusaha menghalangi upaya tersebut, namun pembangunan gereja itu
terus berjalan. Tahun 1951, segala keperluan untuk membangun gereja
telah tersedia dan pembangunan gereja segera dilaksanakan. Gereja
tersebut dibangun di atas bukit sehingga dapat terlihat dari
berbagai penjuru.
Pada bulan Oktober 1952, Sumi mendapat pekerjaan sebagai perawat di
Oyama. Di tempat barunya ini, Sumi tetap bersaksi bahwa Kristus
datang untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Setelah enam bulan
berada di Oyama, penyakitnya kambuh kembali dan sel kankernya telah
menyebar, bahkan menyerang organ tubuhnya yang lain. Namun,
penyakitnya tidak mematahkan semangatnya untuk tetap memberitakan
Injil. Pada bulan April 1953, Sumi mendapatkan perawatan di rumah
sakit -- penyakitnya sudah sangat parah. Tidak ada harapan baginya
untuk sembuh. Tekanan darahnya turun secara drastis dan daya tahan
tubuhnya semakin menurun. Berkat perawatan yang intensif, kondisi
Sumi mulai membaik dan ia diizinkan pulang. Pada tanggal 1 September
1953, Sumi menghadiri peresmian gereja di Sawadani dan ia bersyukur
karena akhirnya mereka memiliki gereja sendiri. Kondisi kesehatan
Sumi semakin memburuk. Kanker tersebut telah menjalar sampai ke
wajahnya, kerongkongannya membesar sehingga ia mengalami kesulitan
bernapas. Dokter pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa.
Pada suatu malam, tepatnya di bulan Desember, Sumi bergumul dengan
rasa sakitnya, napasnya seolah terhenti. Dengan tersenyum, ia
menutup matanya perlahan-lahan, pergi meninggalkan dunia yang fana
ini menuju ke rumah Bapa. Beberapa hari kemudian, ia dikuburkan di
lereng bukit -- menghadap ke arah gereja di Sawadani. Upacara
penguburan tersebut dihadiri oleh banyak orang. Di antara mereka,
hadir pula para pemuka desa Sawadani untuk memberikan penghormatan
dan penghargaan atas apa yang telah Sumi lakukan untuk Sawadani.
Sumi telah tiada, namun kematiannya membuktikan adanya kemenangan
dari Kristus -- adanya harapan menuju kehidupan kekal. Sungguh, di
sebuah desa di pegunungan Jepang telah dibangun gereja Tuhan. Telah
tiba waktunya dan nyata, bahwa yang telah dilakukan oleh Sumi di
Sawadani adalah "rumah emas, perak, batu yang indah" yang akan tetap
tinggal sampai selama-lamanya.
Diringkas dari:
Judul buku: Gadis Pejuang Iman
Judul asli buku: Upon This Rock
Penulis: Eric Gosden
Penerjemah: Barus Siregar
Penerbit: Badan Penerbit Kristen, 1965
Halaman: 5 -- 88
______________________________________________________________________
SUMBER MISI
THE NORTH AMERICAN MISSION BOARD (NAMB)
==> http://www.namb.net/
North American Mission Board didirikan dengan dasar pelayanan yang
diambil dari Kisah Para Rasul 1:8, "Tetapi kamu akan menerima kuasa,
kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku
di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung
bumi, ...." Visi pelayanan NAMB adalah untuk membantu Southern
Baptists Church memenuhi Amanat Agung di Amerika Serikat, Kanada,
dan sekitarnya, dengan berupaya memberitakan Kristus kepada semua
orang, mendirikan gereja-gereja, dan mengirim misionaris. Kerinduan
organisasi ini adalah melihat masing-masing orang dalam setiap
komunitas memiliki kesempatan untuk mendengar Injil, meresponinya
dalam iman kepada Kristus, dan turut andil dalam membentuk
persekutuan orang-orang percaya. Dalam situsnya, mereka menyediakan
tautan ke sumber-sumber yang memberikan banyak informasi tentang
bagaimana Anda dapat memberitakan Kristus dengan efektif dan
bagaimana Anda dapat mulai mendirikan gereja. Tidak hanya itu, dalam
situs ini pula tersedia formulir pendaftaran bagi mereka yang ingin
melayani Tuhan sebagai misionaris. Untuk mendapatkan informasi lebih
lengkap mengenai organisasi ini, silakan kunjungi situsnya melalui
alamat yang telah Redaksi cantumkan di atas.
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA
V E N E Z U E L A
Saat kekristenan injili berkembang di Venezuela, banyak gereja yang
terpecah di bawah politik Presiden Hugo Chaves, demikian menurut
laporan Washington Post. Anggota Las Acacias, gereja injili terbesar
di Caracas, berkata, "Banyak orang telah meninggalkan Las Acacias
karena sang pendeta memihak kepada lawan." Referendum 2 Desember
untuk merevisi undang-undang di Venezuela menimbulkan pertentangan
dan protes keras dalam negara tersebut. Gereja-gereja menjadi medan
perang yang penting bagi perjuangan Chavez untuk membawa orang-orang
Venezuela kepada "revolusi sosialnya". Banyak pendeta yang
menghindari pembicaraan politik, namun mengakui bahwa masalah yang
menimpa negara tidak berhenti di pintu gereja. Sekarang
pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan ikut Kristus, tapi
apakah mereka juga akan ikut Chaves. (t/Novita)
Diterjemahkan dari:
Judul buletin: Body Life, Edisi Januari 2008, Volume 26, No. 1
Judul asli artikel: Evanelicals Split Over President
Penerbit: 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 1
Pokok doa:
* Situasi politik yang terjadi di Venezuela telah berdampak bagi
kehidupan gereja di sana. Mari berdoa agar para pemimpin gereja
memiliki hati yang bijaksana untuk tidak memakai mimbar dan gereja
sebagai alat politik.
* Berdoa bagi orang-orang percaya di Venezuela, agar Tuhan memberi
kedamaian hati sehingga mereka tetap dapat beribadah dan tidak
ikut terbakar oleh suasana politik yang ada.
I R A K
Tahun ini, kira-kira seratus anak-anak Irak yang terlantar akibat
tindak kekerasan yang terus-menerus terjadi di negara mereka, akan
memeroleh beasiswa sebuah organisasi Kristen. Dengan beasiswa ini,
mereka dapat melanjutkan pendidikan mereka ke Yordan. Saat jutaan
warga Irak melarikan diri ke Yordan dan Syria untuk menghindari
kekerasan yang terjadi, kebanyakan dari mereka hanya membawa apa
yang bisa mereka bawa dan hanya sedikit orang saja yang bisa
mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan maupun biaya sekolah.
Sampai tahun ini, anak-anak pengungsi Irak tidak pernah
diperbolehkan bersekolah di sekolah negeri Yordania. "Setiap kali
saya berkunjung ke keluarga Irak, saya bertanya kepada anak-anak
mereka, kapan terakhir kali mereka bersekolah," kata Rod Green,
Koordinator Nazarene Compassionate Ministries. "Jawaban mereka
biasanya, dua atau tiga tahun." Ashrafiya Nazaret School di Amman,
Yordan, yang ada di lingkungan tempat tinggal para pengungsi Irak,
menerima hampir seratus siswa tahun ini setelah menerima sejumlah
uang dari sponsor luar untuk biaya sekolah dan buku-buku. (t\Novita)
Diterjemahkan dari:
Judul buletin: Body Life, Edisi Februari 2008, Volume 26, No. 2
Judul asli artikel: Children Receive Funds to Return to School
Penerbit: 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 3
Pokok doa:
* Saat ini, Ashrafiya Nazaret School di Amman, Yordan, menerima
anak-anak pengungsi dari Irak untuk bersekolah di sana. Doakanlah
segenap pengurus, staf, maupun para pengajarnya. Kiranya Tuhan
memberikan visi kepada mereka untuk melayani anak-anak tersebut
dengan sepenuh hati sehingga mereka dapat mendidik dan mengajar
anak-anak Irak ini dengan baik.
* Berdoa untuk para pengungsi di Irak. Biarlah Tuhan mencukupkan
setiap kebutuhan mereka sehingga mereka dapat hidup dengan layak.
Doakan juga agar dalam keadaan ini, mereka dapat mengalami kasih
Kristus dan bertemu dengan sang Pemberi berkat.
* Doakanlah orang-orang percaya di seluruh dunia yang digerakkan
hatinya oleh Tuhan, sehingga dengan hati yang penuh belas kasih,
mereka mau menjadi sponsor bagi anak-anak di Irak yang saat ini
belum mendapatkan bantuan pendidikan. Biarlah Tuhan memberkati dan
memampukan mereka untuk terus membantu anak-anak ini.
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA
B DIBEBASKAN DARI PENJARA
Pada tanggal 9 Maret 2006, sekelompok orang menyerang B ketika ia
sedang mengunjungi kerabatnya di Jawa Barat. Orang-orang tersebut
menuduhnya menghina agama mereka sehingga ia dipukuli, mobilnya di
gulingkan, isi mobil dijarah, mobil dibakar, dan ia sendiri diancam
akan dibakar. Tapi beruntung, polisi menahan B di kantor polisi
untuk alasan keamanan. Ia lalu dipindahkan ke penjara setempat untuk
menjalani hukuman penjara. Selama B berada di penjara, istrinya
memeroleh lebih dari sepuluh ribu surat dan foto orang-orang yang
mendoakan mereka dari seluruh penjuru dunia. Pada tanggal 27 April
2008, B telah dibebaskan dan kembali berkumpul dengan keluarganya.
Disarikan dari: Mission News, Mei 2008
Selengkapnya: http://www.MNNonline.org/article/11213
Pokok Doa:
1. Mengucap syukur kepada Tuhan karena B telah dibebaskan dari
penjara tanggal 27 April 2008 yang lalu. Berdoa bagi B agar Tuhan
semakin menguatkan imannya dan semakin dipakai Tuhan untuk
menjangkau jiwa bagi Tuhan.
2. Berdoa juga untuk keluarga B, agar Tuhan terus menguatkan iman
mereka dan menjadikan mereka keluarga yang selalu menyaksikan
kebaikan Tuhan. Biarlah seluruh anggota keluarga B terus didukung
untuk menjadi contoh bagi pelayan-pelayan Tuhan yang lain.
3. Doakan agar pemerintah Indonesia memiliki kepedulian dalam
menjamin kebebasan beragama bagi penduduknya, khususnya bagi kaum
minoritas.
4. Berdoa untuk utusan-utusan Tuhan yang saat ini ada di berbagai
ladang pelayanan dan mungkin juga sedang mengalami penderitaan
karena imannya dalam Kristus. Kiranya Tuhan memberi kekuatan agar
nama Tuhan terus ditinggikan dan keadilan Tuhan dinyatakan.
______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memerbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2008 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan:< owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________
|