Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/kisah/432

KISAH edisi 432 (7-3-2018)

Panggilan Allah bagi Saya

KISAH -- Panggilan Allah bagi Saya -- Edisi 432, 7 Maret 2018
 
Panggilan Allah bagi Saya
Edisi 432, 7 Maret 2018
 
KISAH

Salam damai sejahtera,

Dalam menyambut Paskah, KISAH edisi ini menyajikan kesaksian dari aktor Yesus Kristus dalam film The Passion of the Christ. Kesaksian ini mengulas cerita mengenai pergumulan Jim Caviezel sebagai pemeran utama dan proses pembuatan film, yang mempertaruhkan nyawanya. Namun, melalui pengalaman tersebut ada misteri kasih yang tidak terselami, yang mengubah hidup dan iman Jim Caviezel.

Melalui kesaksian ini, kami berharap Pembaca KISAH tidak hanya melihat cara Tuhan bekerja dalam diri Jim Caviezel dan tim pembuat filmnya, tetapi juga menjadi bahan perenungan bagi kita akan karya Kristus di kayu salib. Kiranya menjadi suatu perenungan yang baik untuk mempersiapkan diri kita menyambut Paskah tahun ini. Akhir kata, redaksi KISAH mengucapkan: “Selamat Paskah! Kiranya Allah memampukan kita untuk merespons dengan benar setiap panggilan kita.”

Margaretha I.

Pemimpin Redaksi KISAH,
Margaretha I.

 
Panggilan Allah bagi Saya

Kesaksian Mukjizat dari Aktor The Passion of the Christ

Jim Caviezel adalah bintang Hollywood yang memerankan Yesus Kristus dalam film The Passion of the Christ. Beginilah kesaksiannya.

Gambar: Jim Caviezel

Jim Caviezel merupakan aktor biasa yang memerankan tokoh-tokoh figuran dalam banyak film. Peran terbaiknya sebelum The Passion of the Christ adalah suatu film kolosal berjudul The Thin Red Line. Dalam film tersebut, ia hanya memainkan peran kecil bersama dengan banyak aktor besar. Ia memerankan seorang tentara yang berkorban demi menyelamatkan temannya yang terluka dan dikepung oleh pihak lawan. Ia mengecoh musuh dengan berlari ke arah yang berlawanan meskipun ia tahu bahwa ia akan mati. Akhirnya, musuh pun mengepung serta membunuhnya. Karisma, keramahan, dan kerelaannya dalam berkorban menarik Mel Gibson yang sedang mencari aktor yang tepat untuk bermain dalam film yang telah lama direncanakannya.

Saya terkejut ketika pada suatu hari menerima naskah sebagai pemeran utama dalam film besar. Saya belum pernah bermain dalam film besar apalagi sebagai pemeran utama. Akan tetapi, yang lebih mengagetkan adalah ketika saya mengetahui perannya. Astaga! Dia itu Allah, siapa yang tahu apa yang ada dalam pikiran-Nya, dan bagaimana mungkin saya memerankan Dia? Mereka pasti bercanda. Esok paginya, saya menerima telepon, “Halo, ini Mel.”

“Mel siapa?” tanya saya.

Gambar: Mel Gibson

Saya tidak tahu kalau itu adalah Mel Gibson, salah satu aktor sekaligus sutradara terbesar. Lalu, Mel meminta untuk bertemu dan saya pun menyanggupinya. Dalam pertemuan tersebut, Mel menjelaskan tentang filmnya, yaitu film tentang Yesus Kristus dengan sekuel yang berbeda dari film lain. Mel mengatakan bahwa akan sangat sukar memerankan film ini. Salah satu kesulitannya ialah saya harus mempelajari bahasa dan dialog yang digunakan pada zaman itu dengan sangat natural. Mel menatap saya dan mengatakan bahwa mungkin ini akan menjadi risiko paling berbahaya untuk saya hadapi, sebab dengan bermain di film ini, mungkin karier saya sebagai aktor Hollywood akan berakhir. Secara manusiawi, saya takut menghadapi risikonya. Memang benar, bahwa setiap aktor yang memerankan tokoh Yesus di Hollywood tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Selain itu, film ini akan dibenci oleh sekelompok kalangan tertentu yang berpengaruh dalam dunia perfilman Hollywood. Dalam diam, Mel menantikan keputusan saya, apakah saya akan mengambil peran ini atau tidak. Kemudian, saya menanyakan kepadanya mengapa ia memilih saya untuk peran ini? Apakah karena inisial nama saya sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel)? Pada saat itu, saya juga berusia 33 tahun, sama dengan Yesus ketika Ia disalibkan.

Mel sangat terkejut dan terperangah. Menurutnya, ini suatu kebetulan yang mengherankan. Mel tidak tahu-menahu tentang hal itu dan tidak menyadarinya. Ia memilih saya karena peran saya dalam film The Thin Red Line.

“Baik, Mel, saya pikir ini bukan kebetulan. Inilah panggilan saya dari Allah, setiap orang harus memikul salibnya. Jika tidak mau memikul salib, ia akan diremukkan oleh salib itu. Saya akan menghadapi risikonya, ayo kita buat film ini!”

Karena itu, saya pun bergabung dalam proyek itu. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan, saya terus bertanya pada diri sendiri, “Sanggupkah saya melakukannya?”

Keraguan terus menghantui saya sepanjang waktu tersebut. Apakah yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh Anak Allah? Pertanyaan itu membuat saya kebingungan karena ada banyak referensi berbeda tentang Dia.

Akhirnya, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Sama seperti Yesus yang lebih banyak berdoa, saya pun melakukannya. Saya meminta pimpinan-Nya untuk menjalankan semua ini karena pikir saya, “Siapakah saya yang dapat memainkan peran sebagai Dia Yang Mahakuasa?” Dahulu, saya tidak bergaul karib dengan Allah, meskipun saya berasal dari keluarga Katolik yang baik dengan kebiasaan yang baik. Saya hanya pemuda biasa yang bermain basket di liga SMA dan universitas. Saya bercita-cita menjadi pemain NBA yang hebat. Namun, cedera siku menghentikan karier saya sebagai pemain basket. Saya sangat kecewa kepada Allah karena kecelakaan tersebut. Sepertinya, segala sesuatu dalam hidup saya hancur dan berakhir. Kemudian, saya mencoba peruntungan saya dalam dunia perfilman. Suatu peran yang sangat kecil memberi saya harapan bahwa bermain film mungkin bisa menjadi jalan hidup saya. Karena itu, saya belajar lebih banyak tentang bermain peran dalam akademi seni peran. Sekarang, saya benar-benar berada di puncak karier. Sungguh benar, Tuhan, Engkau merencanakan semua ini dan membawa saya sampai di sini. Engkau memilih saya dari tengah dunia basket, menuntun saya menjadi aktor, dan membawa saya sampai ke titik ini. Karena Engkau telah memilih saya, apa pun yang terjadi, jadilah kehendak-Mu.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa tantangan dalam memainkan film ini lebih berat dari yang saya duga. Setiap hari, saya harus dirias selama 8 jam tanpa bergerak dan harus berdiri. Sayalah orang yang tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa rasanya melihat anggota kru lain duduk-duduk menikmati minuman. Kostum yang kasar dan tidak nyaman membuat saya gatal dan begitu tertekan.

Salibnya dibuat semirip mungkin dengan salib asli yang dahulu dipikul oleh Yesus. Ketika mereka meletakkannya di bahu saya, saya terkejut dan berteriak kesakitan, tetapi mereka mengira itu hanya akting, akting yang sangat bagus. Mereka tidak tahu kalau saya benar-benar terkejut. Salib itu terlalu berat, mustahil untuk diangkat orang biasa, tetapi saya berusaha sebaik mungkin.

Akan tetapi, ketika saya mencoba berjalan, tulang bahu saya patah, dan saya pun jatuh tertimpa salib yang sangat berat itu. Saya menjerit keras-keras meminta pertolongan. Namun, lagi-lagi semua anggota kru berpikir akting saya sangat luar biasa, mereka tidak tahu bahwa itu benar-benar suatu kecelakaan. Ketika saya mulai menyumpah-nyumpah, mengumpat, dan hampir pingsan karena tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya, mereka terkejut dan baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun cepat-cepat mencari pertolongan paramedis untuk merawat saya.

Saya merasa seperti setan karena menyumpah dan mengumpat seperti itu, tetapi saya hanya manusia biasa yang tidak kuat menanggungnya. Dalam masa rehabilitasi, Mel datang menjenguk. Ia menanyakan apakah saya ingin melanjutkan film ini. Ia mengatakan bahwa ia sangat maklum jika saya mau mengundurkan diri.

Gambar: Salib Yesus

Saya menjawab Mel, “Saya tidak tahu kalau salib dan derita yang dipikul Yesus seberat ini. Namun, Yesus mau memikul salib-Nya demi saya, saya akan merasa sangat malu kalau saya menolak memikul hanya sebagian kecil darinya. Ayo, kita lanjutkan pembuatan film ini.”

Setelah peristiwa tersebut, mereka mengganti salibnya dengan yang lebih kecil supaya bahu saya tidak cedera lagi. Lantas, kami pun mengulang adegan itu. Jadi, salib yang dilihat penonton lebih kecil dari yang asli.

Bagian berikutnya adalah adegan yang sangat menakutkan, baik bagi penonton maupun saya sendiri, yaitu adegan pencambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu karena cambuknya asli, sedangkan punggung saya hanya dilindungi oleh papan setebal 3 cm.

Ketika tentara Romawi mulai mencambuk, cemetinya menghantam sisi samping tubuh saya yang tidak tertutup papan. Saya sangat terperanjat dan kesakitan dan menjerit sekuat tenaga, sambil tersungkur dan berguling di lantai memarahi orang-orang yang mengejek saya. Seluruh kru terkejut dan mengelilingi saya untuk memberi pertolongan.

Namun, adegan yang paling sulit dan hampir gagal dilakukan ialah adegan penyaliban Yesus. Pengambilan adegan dilakukan di lokasi yang sangat dingin di Italia. Cuaca benar-benar dingin seperti pada saat musim salju, dan semua kru harus memakai mantel ekstra tebal agar tetap hangat. Sementara itu, saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib pada bukit tertinggi di situ. Angin yang berembus menghunjam tubuh saya seperti tusukan ribuan pisau. Saya mengalami hipotermia, seluruh tubuh saya lumpuh membeku, dan saya tidak bisa mengendalikan bibir yang gemetaran. Mereka harus menghentikan proses pengambilan gambar karena nyawa saya menjadi taruhan.

Seluruh tekanan, tantangan, kecelakaan, dan kesakitan membuat saya sangat depresi. Adegan itu membawa saya ke ambang batas manusiawi. Dalam setiap adegan, semua kru hanya menonton dan menunggu saya mencapai batas kekuatan. Ketika saya tidak sanggup lagi, mereka menghentikan adegan. Semua ini membuat saya mencapai batas fisik dan mental sebagai manusia. Saya hampir gila dan tidak mampu menanggung semua itu. Jadi, setiap waktu, saya harus pergi ke suatu tempat yang jauh dari lokasi pengambilan gambar untuk berdoa. Hanya berdoa, berseru kepada Tuhan kalau saya tidak kuat lagi, meminta-Nya memberi kekuatan untuk meneruskan semua ini. Saya tidak bisa, masih tetap tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus melalui semua ini sendirian, betapa luar biasa derita yang dialami-Nya, Dia bukan hanya mati, tetapi Ia melewati penderitaan yang panjang dan sangat berat, secara jasmani dan rohani.

Dan, peristiwa terakhir ialah suatu mukjizat yang terjadi dalam pembuatan film ini, ketika saya tergantung di salib. Saat itu, lokasi sangat gelap dan akan ada badai, petir sambung-menyambung di atas kami. Namun, Mel tidak menghentikan pengambilan gambar karena cuaca seperti ini sempurna untuk pengambilan gambar. Saya sangat ketakutan di atas kayu salib. Di samping itu, kami masih berada di atas bukit tertinggi dan sayalah objek tertinggi yang paling mudah disambar petir. Tepat pada detik ketika saya hendak meminta turun karena takut akan gunturnya, rasa sakit yang luar biasa menghantam saya dengan kilatan cahaya amat terang dan suara keras yang menggelegar. Saya pun kehilangan kesadaran. Hal berikutnya yang saya tahu adalah orang-orang memanggil-manggil nama saya dengan keras, dan ketika saya membuka mata, semua kru sedang mengerumuni saya dan berseru, “Dia masih hidup! Lihat, dia hidup!”

“Apa yang terjadi?” tanya saya. Mereka menceritakan bahwa saya tersambar petir di atas kayu salib sehingga mereka menurunkan saya. Tubuh saya hitam dan hangus, rambut saya berasap, seperti model gaya rambut Don King. Sungguh benar-benar mukjizat kalau saya tetap bertahan hidup setelah sambaran petir itu.

Ketika saya berpikir dan merenungkan semuanya, berkali-kali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau sungguh menginginkan film ini dibuat? Mengapa begitu banyak kesukaran terjadi? Apakah Engkau menghendaki agar film ini dihentikan?” Namun, saya terus melangkah, kami harus menyelesaikan apa yang telah kami mulai. Jika itu adalah hal yang benar, kami harus tetap bergerak. Semua itu adalah ujian iman untuk membuat kami mendekat kepada-Nya dan untuk memperkuat iman kami dalam ujian berikutnya.

Orang-orang menanyakan bagaimana perasaan saya ketika memainkan peran sebagai Yesus? Oh, itu sangat luar biasa dan sangat menyenangkan. Hal itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sepanjang rekaman film ini, hadirat Allah sangat kuat melingkupi kami, rasanya seperti Allah berdiri di sana menjadi sutradara, atau Allah ada di dalam saya, memainkan peran tokoh-Nya sendiri.

Gambar: Yesus

Ada suatu pengalaman yang tidak diceritakan. Setiap orang yang terlibat dalam film ini mengalami perjumpaan dengan Allah dan perubahan hidup, tanpa kecuali. Salah satu pemeran tentara Romawi yang mencambuk saya adalah seorang Muslim. Ketika adegan itu berlangsung, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya. Adegan tersebut sangat menyentuh hatinya. Sungguh menakjubkan. Awalnya, mereka datang hanya demi profesi dan penghasilan. Namun, dalam pengalaman itu, kami semua diubahkan. Hal ini adalah momen yang tidak terlupakan.

Allah sungguh sangat baik, meski film itu menjadi kontroversi, tetapi prediksi bahwa karier saya akan berakhir tidak terjadi. Berkat Allah terus mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor.

Saya harap mereka yang menyaksikan The Passion of the Christ tidak berfokus kepada saya sebagai pemain. Saya hanyalah orang biasa yang menjalankan tugas sebagai aktor. Jadi, janganlah menghubungkan saya dalam film lain dengan peran dalam The Passion of the Christ sehingga menjadi kecewa. Namun, pandanglah Yesus, sebab hanya Yesus, bukan yang lain. Setelah pembuatan film itu, doa menjadi aktivitas harian yang tidak bisa saya lewatkan. Film itu telah mengubah hidup saya. Semoga hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan Anda. Amin. (t/Joy)

Diambil dan disunting dari:
Nama situs : I am my Superhero
Alamat situs : http://iammysuperhero.blogspot.co.id/2010/04/miracle-testimony-from-passion-of.html
Judul asli artikel : A Miracle Testimony From The Passion of the Christ Actor
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 8 November 2017

Download Audio

POKOK DOA
  1. Berdoalah kepada Tuhan Yesus untuk Jim Caviezel dan kru film lainnya agar Ia memelihara iman mereka setelah mengalami perubahan hidup dalam Tuhan melalui proses pembuatan film The Passion of the Christ.
  2. Mari mengucap syukur untuk setiap orang yang terpanggil dalam pembuatan film The Passion of the Christ dan yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan sehingga mereka mengalami perubahan dan pertobatan.
  3. Berdoalah kepada Tuhan Yesus bagi setiap orang yang belum menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kiranya mereka dapat dijangkau melalui film ini.

Semoga aku tidak pernah memegahkan diri kecuali dalam salib Tuhan kita, Yesus Kristus. Melalui salib-Nya, dunia sudah disalibkan untuk aku, dan aku untuk dunia."
(Galatia 6:14, AYT)

 
Stop Press! Bergabunglah dalam Kelas Paskah Maret/April 2018

Paskah merupakan peristiwa besar dalam kekristenan di mana Anak Allah menderita dan mati di kayu salib. Kematian-Nya menjadi jalan supaya manusia dapat dipersatukan dengan Allah melalui darah-Nya. Paskah memiliki sejarah yang panjang sejak Perjanjian Lama dan puncaknya dalam Perjanjian Baru saat Anak Domba Allah dikurbankan sebagai kurban penghapus dosa.

PESTA Kelas Paskah

Anda ingin mempelajari sejarah Paskah dalam Perjanjian Lama, tradisi Paskah Yahudi, Paskah dalam Perjanjian Baru, dan kematian Kristus di kayu salib? Silakan klik tautan berikut untuk mendaftar dan mengikuti kelas Paskah, dan admin kami akan segera merespons Anda:

Kusuma (admin PESTA)
Formulir Pendaftaran Kelas PESTA
Google Form di Situs e-Learning PESTA

Dengan sukacita, kami menyambut Anda untuk bergabung dalam kelas Paskah Maret/April 2018.

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi KISAH.
logo KISAH Email kisah@sabda.org
Facebook KISAH
Twitter @sabdakisah
Redaksi: Margaretha I. dan Maskunarti.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org