Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/kisah/423

KISAH edisi 423 (7-6-2017)

Hidup dalam Anugerah Allah

KISAH -- Hidup dalam Anugerah Allah -- Edisi 423, 7 Juni 2017
 
Hidup dalam Anugerah Allah
KISAH -- Edisi 423, 7 Juni 2017
 
KISAH

Salam damai dalam Kristus,

Ada berbagai cara bagi seseorang untuk mengenal Yesus secara pribadi. Ada kalanya, penderitaan dalam hidup dipakai Tuhan untuk menyatakan tentang pribadi Yesus yang sesungguhnya dalam kehidupan seseorang. Dengan mengenal Yesus, kehidupan seseorang akan diubahkan.

Ketika penderitaan datang dalam kehidupan, janganlah kita menyerah. Sebab, ada satu Pribadi, yaitu Yesus, yang akan menyelamatkan kita. Seperti kesaksian Mai dalam edisi KISAH kali ini; seseorang yang pada awalnya belum mengenal Yesus, tetapi saat berbagai penderitaan menerpa kehidupannya, ia sanggup bertahan dalam penderitaan karena ia memercayai kuasa pertolongan Tuhan. Wanita ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dalam hidupnya sehingga Tuhan menolong dan menjawab doa-doanya. Tidak hanya itu, Tuhan juga menjadikannya saluran berkat bagi keluarga dan orang-orang yang dikenalnya. Sungguh, pertolongan Tuhan nyata dalam kisah hidup Mai. Mari kita membaca kesaksian hidupnya dalam KISAH edisi 423 ini. Kiranya dapat menjadi berkat untuk kita semua. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati!

Maskunarti.

Staf Redaksi KISAH,
Maskunarti

 
Hidup dalam Anugerah Allah

Kesaksian Mai Spencer

Nama saya Mai Spencer. Saya lahir di kota Binh Chau, Vietnam Selatan, dan dibesarkan sebagai seorang Buddha. Saya bertemu dan menikah dengan suami saya, Dennis, di Vietnam, ketika ia ditempatkan di sana, dalam Angkatan Darat. Kami meninggalkan Vietnam pada tahun 1971 dan datang ke negeri yang besar, Amerika Serikat, untuk memulai rumah tangga kami dan membesarkan keluarga kami. Kami memiliki 4 anak, 3 dari mereka meninggal pada usia 9 bulan, usia 16 tahun, dan 23 tahun. Kepergian anak-anak kami membawa kami kepada Kristus.

Gambar: Dennis dan Mai

Dua puluh delapan tahun yang lalu, saya melahirkan anak perempuan kembar. Mereka lahir prematur 30 hari, dan Brenda beratnya kurang dari 3 pon sementara Michelle beratnya kurang dari 2 pon. Michelle sakit parah dan meninggal pada usia 9 bulan. Kami sangat sedih karena kehilangan bayi kami. Seorang teman kami datang bersaksi tentang Yesus kepada saya, tetapi saya bilang tidak. Saya tidak bisa meninggalkan Buddha untuk mengikuti Yesus Anda. Jadi, dia memberi saya sebuah buku Perjanjian Baru dalam bahasa Vietnam. Dia mengatakan jika saya ada waktu bacalah buku itu, dan anggaplah itu seperti sebuah buku yang sangat menarik.

Sampai saat itu, saya sama sekali tidak mengenal Yesus atau Allah, tetapi saya mengambil Alkitab dan membacanya 2 kali. Saya tidak mengerti banyak, tetapi saya membaca bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Beberapa bulan kemudian, teman saya datang kembali untuk berkunjung lagi. Dia bertanya apakah saya telah membaca buku itu. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya telah membaca dua kali dan bahwa itu menarik, tetapi saya sama sekali tidak mengerti atau percaya. Teman saya kemudian mengatakan kepada saya bahwa dia benar-benar percaya bahwa sebelum saya mati saya akan mengenal-Nya. Sejak hari itu, nama Yesus terus bermunculan masuk keluar dari kepala saya dari waktu ke waktu.

Ketika saya memiliki masalah, saya akan berdoa kepada Yesus ini. Dan, meskipun saya tidak memiliki hubungan sehari-hari dengan-Nya, Dia masih menjawab sebagian doa-doa saya. Satu doa yang tidak Dia jawab adalah agar keluarga saya di Vietnam datang ke sini untuk tinggal bersama saya. Untuk waktu yang lama, saya tidak mengerti mengapa Dia tidak menjawab doa itu, tetapi sekarang saya mengerti sepenuhnya alasannya. Saya ingin Anda mengingat hal itu dan saya akan kembali ke masalah ini nanti.

Sekarang, saya ingin menceritakan kepada Anda apa yang terjadi pada 2 anak kami yang lain dan bagaimana Allah menggunakan apa yang terjadi pada mereka untuk membawa saya dan seluruh keluarga saya kepada Kristus. Ketika kami pertama kali datang ke Amerika Serikat, kami tinggal di Mesa, Arizona. Dennis bekerja di sebuah blok kelontong bernama A.J. Bayless selama 16 tahun. Dia dipromosikan ke Divisi Manager Arizona selatan dan kantornya terletak di Tucson, Arizona. Dennis pindah ke Tucson terlebih dahulu, dan beberapa bulan kemudian setelah tahun sekolah anak-anak selesai, kami bergabung dengannya di Tucson. Lalu, 6 bulan kemudian, perusahaan mengalami kebangkrutan dan mulai menutup banyak toko. Beberapa bulan kemudian, Dennis berhenti dan mulai mencari pekerjaan lain. Dia mendapat tawaran pekerjaan di San Diego, jadi kami menjual rumah kami di Tucson dan siap untuk pindah ke San Diego. Namun, Dennis memiliki pikiran kedua tentang tawaran pekerjaan itu dan dia memutuskan untuk tidak mengambilnya. Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan atau apakah kami ingin tinggal di Tucson, jadi kami menyimpan perabotan kami dan menyewa sebuah apartemen untuk sementara.

Kemudian, pada tahun 1988, pemerintah Vietnam mulai mengizinkan wisatawan datang ke negara itu. Saya pergi pada bulan November tahun itu untuk mengunjungi keluarga saya di Vietnam yang sudah 17 tahun tidak saya jumpai.

Ketika saya meninggalkan Vietnam pada tahun 1971, meskipun perang masih berlangsung, orang-orang memiliki harapan dan keberanian tentang masa depan. Ketika saya kembali pada tahun 1988, saya menemukan bahwa bagi banyak orang Vietnam, hidup adalah pergumulan mengenai untuk bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya. Saat saya melihat keluarga saya dan orang-orang lain yang saya temui, saya bisa melihat jauh di mata mereka bahwa mereka rindu untuk memiliki kehidupan seperti saya. Saya merasa begitu banyak kesedihan dan sakit hati pada diri mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa bahwa jauh dalam hati saya terdapat rasa syukur kepada Tuhan. Saya tidak mengucapkannya, tetapi hanya dalam hati, saya berterima kasih kepada Tuhan atas berkat dalam hidup saya karena tinggal di Amerika Serikat.

Saya mendapati bahwa sebagian besar orang menjalani kehidupan yang sulit dalam kemiskinan. Bahkan, saya menemukan salah satu saudara saya, suaminya yang cacat, ibunya, dan 6 anak mereka adalah tunawisma, dan bepergian dari satu kota ke kota lain untuk mengemis makanan. Butuh waktu 3 hari untuk menemukan mereka dan membawa mereka ke rumah ibu saya di Binh Chau. Saya akhirnya memiliki rumah baru yang dibangun untuk ibu saya sehingga ibu saya memberikan rumahnya yang lama kepada mereka.

Pada waktu itu, tidak ada listrik di kota Binh Chau, jadi saya membeli generator untuk rumah ibu saya. Saat itu menjelang Natal dan gereja Katolik setempat datang untuk menanyakan apakah mereka bisa meminjam generator supaya mereka dapat memiliki lampu untuk kebaktian Natal mereka. Ketika gereja mengembalikan generator pada hari berikutnya, mereka bercerita sedikit tentang ibadah mereka malam sebelumnya. Saya dapat merasakan sukacita di wajah mereka dan suara mereka yang tidak saya perhatikan sehari sebelumnya. Mereka tampak begitu damai dibandingkan dengan sebagian besar orang yang saya temui. Pada waktu itu, Tuhan menaruh dalam hati saya apa yang saya telah baca dalam Perjanjian Baru yang diberikan kepada saya tahun sebelumnya, bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Saya berdoa pada waktu itu, Yesus, jika Engkau datang, silakan datang ke kota ini. Juga, ketika saya pergi dari sini, tolonglah saya untuk mengingat orang-orang ini, dan jika Engkau memberkati saya untuk melakukannya, saya akan datang kembali dan membangun tempat bagi mereka untuk datang dan merayakan Engkau.

Gambar: Mai dan Ibunya

Saya telah merencanakan untuk tinggal di Binh Chau selama 3 bulan, tetapi meskipun saya belum mengenal Dia, Allah tahu bahwa saya harus pulang kepada Dennis dan anak-anak. Saya sangat merindukan mereka karena ini adalah pertama kalinya kami terpisah sejak pernikahan kami. Saya mengatakan kepada ibu saya bahwa saya harus pulang, tetapi saya akan kembali dalam satu bulan untuk memastikan rumah barunya selesai dengan baik. Empat hari kemudian saya ada di rumah di Tucson. Saya sangat senang bertemu Dennis dan anak-anak. Kami benar-benar menikmati waktu bersama sebagai sebuah keluarga 4 minggu berikutnya. Lalu, seperti yang telah saya janjikan kepada ibu saya, saya membuat rencana untuk kembali ke Vietnam. Tiket untuk saya sudah dibeli dan saya seharusnya pergi pada hari Senin pukul 8 pagi.

Satu-satunya anak kami, Tim, yang baru saja diputuskan oleh pacarnya, pulang terlambat dari pekerjaannya Jumat malam itu setelah kami pergi tidur. Dia meraih pistol dan berjalan 2 mil ke rumah pacarnya. Di sana, di tengah malam dengan foto gadis itu di tangannya, dia menembak dirinya sendiri di kepala, lalu mati seketika. Ketika diberi tahu, kami benar-benar hancur. Selama beberapa bulan ke depan, Dennis menyalahkan dirinya sendiri; Saya menyalahkan Dennis. Saya melampiaskan kemarahan saya ke Dennis dan ingin mengakhiri pernikahan kami, tetapi saya tahu saya masih sangat mencintainya.

Saya mengalami depresi berat dan mulai minum-minum serta sering berjudi. Saya tidak bisa meninggalkan Dennis, jadi saya akan membuat dia meninggalkan saya. Suatu hari, saya kembali dari Las Vegas dan mengatakan pada Dennis bahwa saya perlu berbicara dengannya. Kami duduk di samping tempat tidur kami dan saya menatap matanya. Saya bisa melihat dia begitu sedih dan mungkin berpikir saya akan meninggalkan dia. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya telah mempertaruhkan semua tabungan kami di Las Vegas. Saya berharap dia meledak, tetapi dia malah bertanya apakah itu meringankan rasa sakit saya untuk sementara? Dia mengatakan itu hanya uang dan kami selalu bisa mendapatkan lebih banyak lagi, tetapi yang penting adalah bahwa kami tetap bersama-sama untuk mengatasi perasaan putus asa ini.

Saya kemudian menyadari bahwa Allah telah memberi saya seorang pria yang lembut, ramah, dan baik sebagai suami saya. Meskipun ia juga serasa mau mati saja dalam hatinya, dia masih mengulurkan tangan untuk menghibur saya.

Saya menyadari bahwa Tim adalah anaknya juga, dan bahwa ia mengalami rasa sakit yang sama dengan yang saya rasakan. Saya perlu dihibur sama seperti dia juga perlu dihibur. Bersama-sama, kami perlu belajar untuk memahami dan saling menghibur melewati rasa sakit. Saat kami menengok kembali ke masa itu sekarang, kami berdua berharap bisa tahu bagaimana berdoa kepada Yesus untuk memohon kekuatan dan memberi kami pengharapan yang teramat kami butuhkan. Sekarang, saya mengerti bahwa Allah bersama kami, bahkan selama pencobaan kami selanjutnya.

Kami memutuskan untuk tinggal di Tucson dan membeli sebuah rumah baru untuk memulai dari awal. Pekerjaan Dennis membaik, dan putri tertua kami, Terie, melahirkan cucu pertama kami, Cheree. Kami pun merasa semakin pulih dari shock dan kehancuran atas kematian Tim.

Kemudian, pada Juni 1992, Terie, pulang dari dokter dan menyatakan bahwa ia telah didiagnosis menderita kanker ovarium dan hanya tersisa 6 bulan untuk hidup. Saya benar-benar mati rasa dan tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana saya bisa menerima penderitaan lagi? Hari itu ketika sendirian, saya berlutut dan menangis kepada Yesus. Saya mengatakan bahwa saya tidak tahan lagi menderita dan tolong saya karena saya tidak tahu apa yang harus dilakukan atau ke mana harus berpaling. Saya meminta-Nya untuk masuk ke dalam hati saya dan hidup saya karena saya menyadari saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya bertemu Yesus di hati saya pada saat itu dan diselamatkan.

Selama beberapa minggu kemudian, Allah mencurahkan kasih dan belas kasih-Nya kepada kami! Dia membawa seseorang ke dalam kehidupan Terie yang memberitakan Injil Yesus Kristus kepadanya, dan Terie menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Beberapa hari kemudian, Dennis juga berdoa untuk menerima Kristus. Allah Mahabesar! Ketika Allah mengambil Terie pulang untuk bersama-Nya beberapa bulan kemudian, saya sedih karena saya akan merindukannya, tetapi Allah memenuhi hati saya dengan rasa damai mengetahui bahwa Terie bebas dari semua rasa sakit dan penderitaan, dan dia berada di rumah bersama Tuhan. Dan, saya tahu bahwa saya akan bertemu lagi dengannya kelak.

Tak lama setelah Terie pergi untuk bersama Tuhan, Allah memberkati saya dengan bisnis impian saya, perusahaan saya sendiri di mana saya merancang dan memproduksi pakaian wanita barat. Ini membuat saya sibuk bekerja selama 14-16 jam sehari pada suatu waktu dalam hidup saya ketika saya perlu untuk terus sibuk. Selama 8 tahun kemudian, Allah memberi saya kekuatan dan keinginan untuk berfokus pada-Nya. Allah mulai benar-benar membersihkan saya, mengubah bagian dari hidup saya yang perlu berubah, dan kehidupan saya mulai menghasilkan buah. Dari 8 orang yang datang bekerja pada saya (semua orang Vietnam), 7 dari mereka menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Allah kemudian menaruh dalam hati saya untuk berhenti dari bisnis saya agar saya bisa lebih berfokus kepada-Nya sehingga Dia bisa mempersiapkan hati saya untuk melayani-Nya.

Sekarang, ingat Alkitab Perjanjian Baru di Vietnam yang diberikan oleh teman saya pada tahun 1978. Nah, pada tahun 1993, seorang teman saya pergi untuk mengunjungi keluarganya di Vietnam. Tuhan menaruh dalam hati saya untuk membawakan Alkitab itu kepadanya untuk diberikan kepada keluarga saya. Saya pergi ke kamar tidur saya, berlutut, dan berdoa kepada Allah agar Dia membuat Alkitab ini sampai ke tangan salah satu anggota keluarga saya yang akan membacanya, memahaminya, percaya akan itu, menerima Kristus, dan bersaksi ke seluruh keluarga saya. Tuhan pun menjawab doa saya.

Betapa mengagumkannya Allah yang kita layani!! Dalam waktu kurang dari 2 tahun, semua keluarga saya di Vietnam, kecuali 2 orang, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka, dengan jumlah total 35 orang! Beberapa tahun kemudian, saya memberikan Alkitab yang sama kepada salah satu saudara saya saat menceritakan Yesus kepadanya. Dia juga berdoa untuk menerima Kristus, dan 6 bulan kemudian Allah membawanya pulang bersama-Nya. Sejak itu, jumlah orang yang telah menerima Kristus telah bertambah menjadi lebih dari 100. Allah menggunakan Alkitab ini untuk menyelamatkan banyak orang. Saya tidak tahu di mana Alkitab itu hari ini, tetapi saya kira Allah masih menggunakannya di suatu tempat untuk membawa orang-orang kepada Kristus.

Setelah dilahirkan kembali, dan bahkan sebelum itu, saya berdoa kepada Allah tentang berbagai hal. Dia telah menjawab hampir semuanya, kecuali satu. Selama bertahun-tahun, saya telah berdoa agar Allah membuka pintu bagi keluarga saya di Vietnam untuk ikut dengan saya di sini, di Amerika Serikat, tetapi doa itu tidak terjawab. Akhirnya, Tuhan berbicara kepada hati saya bahwa alasan keluarga saya tetap di Vietnam adalah untuk menarik Dennis dan saya kembali ke Vietnam.

Tuhan mulai menaruh ke dalam hati saya beban yang saya lihat pada tahun-tahun sebelumnya bagi rakyat Binh Chau supaya mereka memiliki tempat untuk belajar tentang Allah, dan menyembah-Nya dan melihat anak-anak tumbuh mengenal Yesus. Saya mulai berdoa kepada Allah, jika ini adalah kehendak-Mu, maka kiranya suami saya sepakat dengan saya. Saya menceritakan ini kepada Dennis dan Tuhan mulai menempatkan visi yang sama untuk Binh Chau dalam hatinya.

Sejak itu, Allah telah membuka banyak pintu bagi kami untuk melayani Dia di Binh Chau. Tiga tahun yang lalu, Tuhan memindahkan kami ke Catalina Foothills Church di Tucson, di mana kami memiliki kesempatan untuk menjadi dewasa berjalan dengan Tuhan. Dia telah memperlengkapi kami supaya kami mengetahui bagaimana membagikan iman kami melalui pelayanan Ledakan Penginjilan di Catalina Foothills Church. Allah telah memberkati kami dengan bertemu banyak saudara dan saudari dalam Kristus di Foothills Catalina Church yang memiliki gairah dan hati untuk misi, yang telah mendorong kami dan mendukung dalam doa dan/atau secara finansial dalam pelayanan kami untuk Binh Chau.

Pada bulan Juni 2004, Dennis dan saya kembali ke Vietnam dan bertemu dengan beberapa pendeta untuk membicarakan tentang perintisan gereja di Binh Chau. Salah seorang pendeta setuju, dengan bantuan keuangan dari Catalina Foothills Church untuk memulai sebuah gereja rumah di Binh Chau. Kebaktian Minggu dimulai dengan hanya 2 atau 3 orang pada Januari 2005. Pada Maret 2005, jumlah yang menghadiri Ibadah dan studi Alkitab mingguan lebih dari 30 orang, termasuk anak-anak. Allah itu baik!

Selama kami berada di Vietnam pada bulan Juni 2004, kami mampu membeli sebidang tanah sedikit lebih besar dari lapangan sepak bola. Visi Dennis dan saya adalah untuk melihat gereja dan pelayanan anak-anak dibangun di atas tanah itu. Kami meminta Anda untuk terus mendoakan kami agar Allah terus membuka pintu bagi kami untuk melihat visi ini menjadi kenyataan sehingga nama-Nya dimuliakan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Jesus in Vietnam Ministries
Alamat situs : http://jesusinvietnam.com/? page_id=2
Judul asli artikel : Mai's Testimony
Penulis artikel : Mai Spencer
Tanggal akses : 4 Oktober 2016

Download Audio

POKOK DOA
  1. Marilah berdoa kepada Tuhan Yesus supaya Mai diberi kekuatan untuk menolong keluarganya dan orang-orang di sekitarnya yang dilayaninya. Kiranya Allah memberi hikmat kepadanya supaya dapat mengelola wilayah yang sudah Tuhan percayakan kepadanya.
  2. Marilah berdoa kepada Tuhan Yesus untuk keluarga dan orang-orang yang sudah diinjili oleh Mai supaya mereka bertekun dalam pengajaran dan pertumbuhan rohani, dan agar mereka bisa menjadi pengikut Kristus yang sejati.
  3. Marilah berdoa kepada Tuhan Yesus untuk orang-orang yang sedang diinjili supaya Tuhan membuka pintu hati mereka untuk boleh menerima Yesus dalam kehidupan mereka. Berdoa juga agar mereka dapat belajar tentang kebenaran firman Tuhan dengan bimbingan orang yang tepat.

Sebab, orang yang diutus Allah akan menyampaikan perkataan Allah karena Allah memberikan Roh yang tidak terbatas.
(Yohanes 3:34, AYT)

 
Stop Press! STOP PRESS: Situs YLSA.org--Informasi Pelayanan YLSA

Child thinking

Dapatkan berbagai informasi seputar pelayanan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) melalui situs YLSA.org. Apa visi dan misi YLSA? Mengapa Tuhan memanggil YLSA menjadi pionir dalam pelayanan teknologi digital di Indonesia? Bagaimana terlibat dan mendukung pelayanan YLSA? Semua informasi ini bisa Anda dapatkan melalui situs YLSA.org.

Berita-berita terbaru dari balik layar YLSA dapat menolong para pengunjung untuk belajar mengenai pelayanan digital. Diharapkan, pengunjung tidak hanya mendapat informasi, tetapi juga bisa memulai langkah awal untuk terlibat dalam pelayanan digital. Anda juga dapat berlangganan publikasi Berita YLSA untuk mendapatkan informasi rutin setiap bulan mengenai pelayanan YLSA melalui email Anda. Kunjungi situs YLSA.org sekarang juga dan kontak beritaylsa@sabda.org untuk berlangganan publikasinya!

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi KISAH.
logo KISAH email kisah@sabda.org
Facebook KISAH
Twitter @sabdakisah
Redaksi: Margaretha I., Maskunarti, dan Pio.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org