Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/kisah/415

KISAH edisi 415 (5-10-2016)

Tongaland, Dahulu dan Sekarang

KISAH -- Tongaland, Dahulu dan Sekarang -- Edisi 415/ 5 Oktober 2016
 
Tongaland, Dahulu dan Sekarang
KISAH -- Edisi 415/ 5 Oktober 2016
 
KISAH

Shalom,

Misi Tuhan Yesus di dunia ini tidaklah berakhir hanya di kayu salib. Misi memberitakan Injil ini akan diteruskan oleh utusan-utusan Allah yang memiliki hati untuk melayani. Salah satunya adalah melalui para pekerja Every Home for Christ (EHC), sebuah organisasi misi internasional, yang Ia pakai untuk memperlebar jalan bagi pemberitaan Kabar Baik kepada suku Tonga, salah satu suku terabaikan yang terletak di bagian tenggara Zimbabwe. Berikut ini, kami sajikan kepada Anda sebuah kesaksian dari Pete Simonis, direktur wilayah EHC, yang terlibat langsung dalam penginjilan terhadap suku Tonga ini bersama-sama dengan Cleopas Chitapa, direktur nasional EHC di Zimbabwe. Mari kita simak bersama kisah kesaksian yang begitu menginspirasi ini. Selamat menyimak. Tuhan Yesus memberkati.

Margaretha I.

Pemimpin Redaksi KISAH,
Margaretha I.

 
TONGALAND, DAHULU DAN SEKARANG

Lebih dari tiga tahun yang lalu, Every Home for Christ (organisasi misi internasional) sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang suku Tonga -- yang berjumlah sekitar 100.000 orang dan tinggal di bagian tenggara Zimbabwe. Suku ini terdaftar sebagai "suku terabaikan" di buku panduan misi pada saat itu. Sejak saat itu, Allah telah merencanakan hal-hal yang mengagumkan, dan suku ini sekarang dapat dikeluarkan dari daftar "suku terabaikan". Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kisahnya adalah sebagai berikut.

Tonga Villiage

Direktur wilayah EHC, Pete Simonis, mengetahui banyak hal tentang suku Tonga karena dia pernah terlibat dalam usaha mengabarkan Injil kepada suku ini sejak awal. Dalam berbagai hal, suku Tonga mewakili ribuan kelompok suku terabaikan yang dilayani oleh para pekerja EHC di seluruh dunia. Para pekerja itu harus mengenalkan Injil kepada mereka sebelum dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa mereka telah menjangkau rumah yang terakhir. Beginilah kisah dari Pete Simonis:

Cleopas Chitapa, direktur EHC nasional di Zimbabwe, diminta untuk mengadakan penelitian dan mengumpulkan informasi sehingga dapat dipakai sebuah tim untuk memulai awal pelayanannya di antara suku Tonga. Cleopas bekerja keras untuk melakukan penelitian tersebut, tetapi dia tidak mendapat terlalu banyak informasi. Hal ini sungguh mengherankan. "Saya akhirnya memastikan sebuah tanggal untuk bertemu Cleopas di Harare dan memintanya untuk menyerahkan hasil final penelitiannya sebelum saya tiba: 'Silakan pergi dan bertanya kepada jurusan ilmu humanisme atau universitas antropologi, dan jika mereka tidak mengetahuinya, pergilah ke perpustakaan untuk mencari kliping koran yang terbit secara nasional di negara Anda dan lihat apa yang dapat Anda temukan. '"

Ketika saya tiba di Harare, Cleopas menyampaikan berita buruk. Universitas tidak dapat memberikan informasi apa pun, sedangkan kliping koran hanya menyajikan sedikit cerita yang sama sekali tidak berguna. Pernyataan tersebut kedengarannya sungguh tidak masuk akal. Ada informasi yang melaporkan bahwa menurut rumor ada beberapa orang suku Tonga yang memiliki kaki berkuku dua seperti hewan tertentu dan kanibalisme kemungkinan masih ada di wilayah terpencil 'Tongaland yang Mengerikan! '

Hanya ada satu cara untuk menemukan kebenaran: Cleopas dan saya harus pergi dan mencari fakta itu sendiri! Allah menyediakan mobil yang kami beri nama Yosua (sesuai dengan nama pengintai yang diutus oleh Musa) dan dana untuk membiayai kunjungan penelitian tersebut. Hari terakhir sebelum kami meninggalkan Harare, Allah memberikan terobosan besar. Anak laki-laki saya, Jean, yang mengikuti seminar medis tentang obat-obatan tropis di Harare, kemarin baru saja bertemu seorang gadis Tonga yang cantik, berpendidikan dan pintar, yang juga menghadiri seminar medis tersebut. Sore itu juga, saya pergi menemui gadis itu. Namanya Lydia, dan dia tertawa saat mendengar informasi menggelikan yang kami terima mengenai sukunya. Namun, dia sungguh senang ketika dia mengetahui tujuan perjalanan kami ke Tongaland. Air mata kebahagiaan merebak di matanya saat dia menjawab, "Saya seorang Kristen juga. Keluarga saya di Tongaland semuanya telah percaya Yesus. Kakek saya adalah orang pertama yang meletakkan dasar bagi pelayanan misi pertama di Tongaland, di daerah kami, di dekat Mlibizi. Kakek saya telah pulang ke rumah Allah, tetapi nenek saya masih hidup!

Lydia memberikan informasi yang berharga tentang suku Tonga dan dia membuatkan peta kasar. Dengan pujian dalam hati, keesokan harinya Cleopas dan saya berangkat pagi-pagi sekali, dan ketika matahari terbenam sore harinya, kami telah berada di pusat wilayah Tongaland! Kami bersyukur kepada Allah untuk alat transportasi yang disediakannya, tetapi terlebih bersyukur saat bertemu dengan orang-orang yang mengagumkan. Neneknya Lydia buta, tetapi dia sangat senang karena Allah telah menuntun kami ke sini. Nenek itu berkeinginan agar cucunya membawa kami ke makam suaminya, yang perlu menempuh perjalanan panjang melewati ladang jagung menuju ke sebuah pohon besar. Di sana, kami mengucap syukur kepada Allah untuk lelaki bernama Jack (kakeknya Lydia) yang telah mengundang Allah ke Tongaland lima dekade yang lalu. Kami melihat bahwa sudah ada sekitar 100 orang percaya di wilayah itu, buah dari pelayanan misi pertama dimulai dari tempat ini. Kami tidak dapat bertemu dengan pendeta dari sebuah gereja kecil yang ada di dekat tempat itu, tetapi keluarganya menceritakan tentang dia -- seorang pria bernama Robson Mkuli. Kami bertemu dia dan menjalin persahabatan dengannya.

Cleopas kembali sesudah beberapa bulan dan mengatur acara pelatihan penginjilan di gerejanya Robson. Pelatihan itu diikuti sekitar 40 orang. Robson agak merasa skeptis dengan metode kami untuk memberitakan Injil dari rumah ke rumah. Dia menjelaskan bahwa dia dan para pekerjanya tidak mendapatkan hasil karena selama 25 tahun mereka telah gagal untuk menjangkau orang-orang di sekitar mereka dengan Injil. "Lalu, kami mulai mengimplementasikan pendekatan EHC," Robson menjelaskannya. "Dan, puji Tuhan! Saat ini, kami telah memulai empat gereja baru di Kasompole, Mabonolo, Manseme, dan Dangamuse. Mohon kirimkan kepada kami lebih banyak literatur dan Perjanjian Baru!"

Studi Alkitab

Banyak pendeta seperti Robson dilatih. Banyak pria dan wanita mulai ikut berpartisipasi untuk mengabarkan Injil ke semua rumah di Tongaland. "Allah menyertai kami sampai saat ini. Dalam jangka waktu 3 bulan, pada tahun 1999, 11.184 lembar literatur telah didistribusikan ke 7.461 rumah dan 4.693 orang membuka hati untuk menerima Yesus!" Sedikitnya ada 323 gereja rumah telah dimulai sejak sore itu lebih dari 3 tahun yang lalu ketika Cleopas dan saya tiba di Tongaland. Dan, yang lebih membahagiakan, lebih dari 12.000 orang Tonga telah menerima Injil! Saat ini, kami dengan sukacita melaporkan bahwa hampir sebagian besar wilayah Tongaland telah dijangkau Injil. "Kami bersyukur kepada Allah untuk ratusan orang percaya yang telah menolong dengan cara memberikan sepeda kepada lebih dari 30 pekerja, membagikan puluhan ribu buklet Injil dan Alkitab. Kami sungguh berterima kasih karena Allah telah memakai para pekerja EHC untuk memberikan sedikit nilai tambah kepada investasi besar yang telah dikerjakan Allah dalam kehidupan orang-orang Tongaland selama bertahun-tahun, bahkan jauh sebelum kami tiba."

Diambil dari:
Nama situs : Ajaran Kristen sebagai Penuntun Hidup
Alamat URL : http://ajaran-kristen.blogspot.co.id/2015/10/kesaksian-tongaland-dulu-dan-sekarang.html
Judul asli : Tongaland, Dulu dan Sekarang
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 31 Maret 2016

POKOK DOA
  1. Berdoa kepada Tuhan Yesus untuk pelayan-pelayan Tuhan yang bernaung di Every Home for Christ. Kiranya pelayanan yang mereka lalukan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan.
  2. Bersyukur atas pertolongan Tuhan Yesus melalui saudara-saudari seiman yang rela memberikan dukungan serta informasi bagi para pelayan Tuhan yang rindu melayani suku Tonga. Dengan demikian, pengabaran Injil di suku Tonga bisa berjalan lebih baik.
  3. Berdoa bagi para pekerja misi yang telah setia, teguh, dan tekun dalam menanamkan benih firman Tuhan di suku-suku terabaikan sehingga banyak orang boleh mendengar dan mengenal kebenaran firman Tuhan.

Sekarang, Ia, yang menyediakan benih bagi penabur dan roti sebagai makanan akan menyediakan dan melipatgandakan benihmu untuk ditabur dan akan memperbanyak hasil-hasil kebenaranmu.
(2 Korintus 9:10, AYT)

 
Stop Press! Yuk, Bergabung di Komunitas e-Penulis

Publikasi e-Wanita

Jika Anda seorang penulis atau seseorang yang ingin mengenal lebih jauh tentang dunia penulisan, kami mengajak Anda untuk bergabung di komunitas e-Penulis, baik di Facebook maupun Twitter. Kami memiliki banyak bahan dan informasi menarik seputar literatur Kristen dan umum, serta memiliki ribuan teman yang akan menjadi teman Anda juga untuk saling berbagi informasi, ide, ataupun pendapat dalam komunitas ini. Tunggu apa lagi? Yuk, klik alamat di bawah ini dan bergabunglah. Perluas wawasan Anda dan berelasilah!

Facebook    Twitter
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst( 'Recip.EmailAddr ').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi KISAH.
kisah@sabda.org
KISAH
@sabdakisah
Redaksi: Margaretha I., Aji, dan Pio.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2016 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org