Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/kisah/407

KISAH edisi 407 (3-2-2016)

Sepuluh Tahun Menyelesaikan Kuliah Strata 1

____________PUBLIKASI KISAH (Kesaksian Cinta Kasih Allah)_____________
                     Edisi 407, 3 Februari 2016

KISAH -- Sepuluh Tahun Menyelesaikan Kuliah Strata 1
Edisi 407, 3 Februari 2016


Salam Kasih,

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Itulah ungkapan 
yang dirasakan oleh Mata Kristina dalam menyelesaikan kuliahnya. 
Awalnya, proses perkuliahan berjalan dengan baik, hingga suatu ketika 
muncul kendala dalam proses pengerjaan skripsinya sehingga kuliah 
Strata 1 yang umumnya bisa diselesaikan dalam kurun waktu 4 tahun 
harus dijalaninya selama 10 tahun. Jatuh bangun, kegelisahan, hingga 
patah semangat, semua pernah dialami oleh Mata Kristina. Akan tetapi, 
karena belas kasihan Tuhan, semua dapat diselesaikannya dengan baik. 
Simaklah kesaksian dari Mata Kristina berikut ini. Biarlah kita tetap 
setia melakukan bagian kita dan terus berserah sepenuhnya kepada 
Tuhan, sebab waktu-Nya adalah yang terbaik bagi kita. Soli Deo Gloria!

Redaktur Tamu KISAH,
Amidya
< http://kesaksian.sabda.org >


             SEPULUH TAHUN MENYELESAIKAN KULIAH STRATA 1
                    Ditulis oleh: Mata Kristina

Pernahkah Anda berpikir, dalam kurun waktu 10 tahun, berapa strata 
pendidikan yang dapat kita selesaikan? Mungkinkah itu S1? S2? atau S3? 
Apabila dilakukan dengan sebaik mungkin, 10 tahun rasanya adalah waktu 
yang dapat dicapai untuk menyelesaikan program Pascasarjana. Terlebih 
lagi, jika tidak ada kendala, waktu 10 tahun dapat dimanfaatkan 
seseorang untuk belajar hingga Strata 3. Akan tetapi, yang aku alami 
adalah aku membutuhkan waktu 10 tahun hanya untuk menyelesaikan 
program S1!

Beberapa pertanyaan sering sekali aku dengar, "Kapan kuliahmu akan 
selesai?" "Kuliahmu kok lama sekali, jangan-jangan kamu pacaran terus 
di sana!" "Judul Skripsimu apa sih? Makanya, jangan mengambil judul 
yang susah-susah." Pertanyaan dan pernyataan seperti itu sering sekali 
aku dengar. Setiap mahasiswa pasti tidak ingin berlama-lama 
menyelesaikan kuliahnya, begitu juga denganku. Aku tidak ingin 
berlama-lama untuk menyelesaikan kuliahku. Namun, rasanya aku belum 
seberuntung teman-temanku yang bisa lulus lebih cepat dariku.

Aku datang ke kota Salatiga dengan harapan besar dari orangtua dan 
keluarga di kampung halaman. Pada bulan Agustus 2005, aku mendaftar di 
Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Setelah 
mendaftar dan menjalani masa-masa kuliah, rasanya aku tidak menemukan 
satu pun kendala yang berarti. Aku bisa menyelesaikan SKS perkuliahan 
dan mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif dengan cukup baik. Banyak 
orang tidak percaya, melihat seorang anak dengan transkrip nilai yang 
cukup baik baru mampu menyelesaikan skripsinya dalam waktu 7 tahun.

Itulah kenyataannya. Aku mengalami sendiri bagaimana aku harus 
menyelesaikan skripsiku dalam waktu 7 tahun. Proses skripsiku berjalan 
lambat bagaikan siput. Padahal judul yang aku ambil juga tidak sesulit 
judul-judul penelitian para profesor. Akan tetapi, aku mendapat 
"berkat" tersendiri. Berkat yang aku terima adalah aku mendapat dosen 
pembimbing yang terkenal susah. Dari awal bimbingan, aku merasakan 
bahwa proses ini tidak berjalan lancar. Jarang sekali ada jalinan 
pemikiran yang harmonis antara aku dengan dosen pembimbing. Aku masih 
merasakan indahnya proses bimbingan dan rumitnya skripsi saat aku 
masih bersama-sama teman seangkatanku. Seiring berjalannya waktu, satu 
per satu teman seangkatanku berhasil lulus. Mereka dapat menyelesaikan 
perjuangan di UKSW dan menyelesaikan skripsinya. Hanya aku yang 
tertinggal di kampus ini. Hal ini menjadi kesedihan tersendiri bagiku. 
Angkatan di bawahku mulai banyak yang berdatangan sehingga aku harus 
"ngampus" dengan adik-adik angkatan! Hal ini menjadi momok yang 
membuat aku menjadi malas untuk pergi ke kampus. Akhirnya, keputusan 
yang aku ambil adalah mengambil cuti akademik tanpa mengajukan 
formulir cuti ke kampus. Ya ... aku memilih cuti di tengah-tengah 
pengerjaan skripsiku.

Selama 7 tahun, aku merasa seperti "zombie". Hidup segan, mati tak 
mau. Bersyukur sekali karena aku ditempatkan Tuhan di tengah-tengah 
keluarga yang tetap mendukung dan menopangku meskipun aku ini lebih 
layak menjadi beban buat mereka. Sebagai anak sulung, aku tidak bisa 
menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Saat aku menghadiri acara 
wisuda adikku, hatiku hancur. Saat itu, Papa berkata kepadaku, "Tidak 
apa-apa adik yang lulus duluan, tetapi tahun depan kamu harus lulus!" 
Dalam hati, aku berkata, "Tidak!" Rasanya hatiku hampa dan aku tidak 
bersemangat untuk bangkit dan berjuang menyelesaikan skripsiku.

"Drop out" menjadi wacana yang terus aku kumandangkan di dalam 
pikiranku. Setiap kali otakku berpikir untuk memilih drop out, saat 
itu juga rasanya hatiku tidak rela. Hatiku sering berkata, "Kerjakan 
saja, pasti kamu lulus." Entah mengapa, menata hati dan memulihkan 
semangat pada diri sendiri itu sangat susah untuk dilakukan. Benar 
sekali yang dikatakan oleh penulis Amsal, "Hati yang gembira adalah 
obat yang manjur, tetapi semangat yang patah meremukkan tulang." Aku 
merasa kalau semua ini sungguh tidak menyenangkan. Hingga pada 
akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengutarakan niatku untuk drop 
out kepada kedua orangtuaku.

Bak petir di siang bolong, itulah kenyataan yang harus didengar oleh 
kedua orangtuaku. Orangtuaku menerima keputusanku untuk berhenti 
memperjuangkan skripsi. Namun, aku melihat kesedihan dan kekecewaan di 
wajah dan mata mereka. Jelas sekali aku merasakan bahwa mereka tidak 
memberikan restu bagiku untuk mengambil jalan drop out. Hatiku tetap 
berkata, "Drop out, take it or leave it." Di tengah keputusasaanku, 
justru saat itulah Tuhan bekerja dan membuka jalan. Tiba-tiba, dosen 
pembimbingku meng-SMS aku dan menanyakan bagaimana progres skripsiku. 
Ya, aku jawab saja sesuai dengan fakta yang ada. Setelah itu, dosen 
pembimbing memintaku untuk ke kampus dan menemuinya.

Berbekal bahan tulisan yang persis sama dengan 3 tahun lalu, aku 
memberanikan diri untuk datang dan berkonsultasi dengan dosen 
pembimbingku secara tatap muka. Pertemuan pertama ini rasanya menjadi 
rekonsiliasi antara aku dengan dosen pembimbingku. Keajaiban 
selanjutnya yang terjadi adalah, dosen pembimbing menyetujui bahanku 
dan memberikan aku rekomendasi untuk ujian. Tentunya tidak instan, 
tetapi aku masih harus memperbaiki skripsiku di beberapa bagian, 
barulah rekomendasi ujian diberikan. Rasanya, ini adalah rencana 
Tuhan. Bahan yang sama harus menunggu 3 tahun untuk mendapat 
persetujuan dari dosen pembimbing.

Satu bulan, itulah waktu yang aku gunakan untuk memperbaiki skripsi 
hingga ujian pendadaran. Selama waktu itu, aku melihat betapa ajaibnya 
cara Tuhan bekerja. Dosen pembimbingku yang terkenal susah sekali 
untuk ditemui dan "moody", dalam sebulan ini ia berubah menjadi sosok 
yang bersahabat dan selalu ada setiap kali aku ingin berkonsultasi. 
Dulu, dosenku yang mencari-cari aku, atau sebaliknya, aku yang 
mencari-cari beliau. Kali ini, rasanya kami dapat bekerja sama dengan 
baik.

Sejujurnya, aku tidak pernah menangis untuk skripsiku. Akan tetapi, 
kali ini, aku menangis untuk orang-orang yang menangis untuk 
skripsiku. Ada papa, mama, saudara, kekasih, dan semua teman yang 
mendukung aku selama ini. Pada tanggal 12 Mei 2015, skripsiku sudah 
selesai, dan pada tanggal 1 Agustus 2015, aku telah diwisuda dari 
Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana. Tuhan tidak 
pernah menjanjikan hari yang selalu indah tanpa badai, tetapi Tuhan 
menjanjikan penyertaan-Nya kepada kita untuk melewati badai tersebut.

Biarlah kesaksian dan kisahku ini dapat memberikan kekuatan bagi semua 
saudara yang sedang menghadapi proses skripsi. Percayalah bahwa Tuhan 
turut bekerja pada saat yang tepat. Tangan-Nya bekerja tepat pada 
saat-Nya. Lakukan dan kerjakanlah bagian kita dengan bertanggung jawab 
dan tetap bersukacita.


POKOK DOA

1. Berdoa kepada Tuhan Yesus untuk Mata Kristina. Kiranya Tuhan 
   semakin bekerja dalam hidupnya sehingga hasil kuliahnya dapat 
   dipergunakan untuk melayani pekerjaan Tuhan.

2. Berdoa kepada Tuhan Yesus untuk Mata Kristina. Kiranya hidupnya 
   terus dibangun di dalam Kristus dan dipergunakan untuk melakukan 
   segala sesuatu bagi Tuhan.

3. Berdoa kepada Tuhan Yesus untuk keluarga dan saudara kita yang 
   tengah berjuang menyelesaikan skripsi. Kiranya Tuhan memberikan 
   hikmat, kekuatan, dan semangat kepada mereka dalam menyelesaikan 
   tugas akhirnya dengan baik.


"Sebab, Aku mengetahui rencana-rencana yang Aku miliki bagi kamu,` 
firman TUHAN, `rencana-rencana untuk kesejahteraan dan bukan untuk 
kemalanganmu, untuk memberimu masa depan dan pengharapan." (Yeremia 
29:11)

< http://alkitab.mobi/ayt/Yer/29#v11 >
< http://alkitab.sabda.org/?yeremia+29:11 >


    STOP PRESS: SITUS PENULIS LITERATUR KRISTEN DAN UMUM, PELITAKU

Anda rindu menjadi penulis Kristen yang berdampak bagi dunia literatur 
Kristen dan umum?

Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org > mengajak Anda, yang rindu 
untuk menjadi penulis Kristen, baik masih awam maupun sudah ahli, 
untuk berkunjung ke situs PELITAKU < http://pelitaku.sabda.org >!

Situs Pelitaku hadir dengan kerinduan untuk memperlengkapi setiap 
orang yang ingin mewarnai dunia penulisan sekuler dengan pesan-pesan 
kasih Kristus, serta menjadi wadah berbagi bagi para penulis Kristen, 
melalui artikel-artikel, tip dan trik, biografi, dsb. seputar dunia 
tulis menulis. Selain itu, situs Pelitaku juga menyediakan tempat, 
khususnya bagi para penulis Kristen pemula, untuk menerbitkan hasil 
tulisan-tulisannya.

Perlengkapi dan perkaya wawasan serta keterampilan menulis Anda di 
situs PELITAKU < http://pelitaku.sabda.org  >! Tuhan Yesus memberkati.


Kontak: kisah(at)sabda.org
Redaksi: Margaretha I., N. Risanti, Odysius, Santi T., dan Amidya
Berlangganan: subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/kisah/arsip/
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2016 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org