Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/kisah/377

KISAH edisi 377 (15-10-2014)

Pahlawan Kehidupan

___________PUBLIKASI KISAH (Kesaksian Cinta Kasih Allah)______________
                   Edisi 377, 15 Oktober 2014

KISAH -- Pahlawan Kehidupan
Edisi 377, 15 Oktober 2014

Salam Kasih,

Karakter yang sesuai dengan kehendak Allah merupakan hal yang sangat
Allah tekankan kepada setiap orang percaya. Jika kita belum memiliki
karakter yang sesuai dengan kehendak Allah, kita akan dididik atau
ditempatkan dalam situasi-situasi yang akan membentuk karakter kita,
sampai kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan.

Dalam membentuk karakter kita, Tuhan tidak akan setengah-setengah.
Akan tetapi, Dia sungguh membentuk kita dan menolong kita supaya dalam
setiap hidup kita, kita akan terus mengandalkan Tuhan dan bergantung
hanya kepada-Nya. Selamat menyimak! Tuhan Yesus Memberkati.


Staf Redaksi KISAH,
Bayu
< http://kesaksian.sabda.org/ >


                         PAHLAWAN KEHIDUPAN

Orang yang membaptis saya ke dalam iman Kristen adalah Nelson,
tetangga yang sama yang telah mengundang keluarga saya untuk makan
malam. Sepanjang ingatan saya, saya menilai Nelson adalah orang yang
hangat dan bersahabat. Akan tetapi, setelah mulai menghadiri
gerejanya, saya menyadari bahwa ia juga memiliki kelemahlembutan yang
unik dan belas kasihan kepada orang lain. Gereja mengetahui ketulusan
di dalam hatinya. Oleh karena itu, mereka memilihnya untuk menjadi
tua-tua. Di dalam diri Nelsonlah, saya melihat Yesus dengan sangat
jelas. Melalui nasihatnya, saya datang kepada kasih Tuhan. Saya tidak
dapat menolong, tetapi saya mengadopsi Nelson sebagai pahlawan saya.

Selama 20 bulan setelah menjadi orang Kristen, saya berjuang dengan
masalah emosi yang sering kali masih di luar kendali. Saat-saat
seperti inilah, saya akan datang ke rumah Nelson, duduk di dalam mobil
di garasi bersamanya, dan mencurahkan perasaan saya. Dia selalu
mendengarkan saya dengan penuh perhatian dan merespons dengan begitu
baik, tidak peduli berapa banyak saya "mencuri" dia dari keluarganya.
Sampai saat ini, sebagai orang Kristen, saya berutang kepadanya karena
menjadi pelindung rohani yang akan selalu mengangkat ketika saya
tersandung seperti kanak-kanak yang pertama kali belajar berjalan.

Allah tidak ingin saya menjadi bergantung kepada Nelson. Dia ingin
saya berjalan dengan Yesus -- tetapi Dia harus memenuhi hal ini dengan
cara yang paling menyakitkan. Pada musim gugur tahun 1969, teman-teman
mengatakan kepada saya bahwa mereka diminta menjadi konselor anak-anak
muda di perkemahan Kristen di California Sierras selama libur Natal.
Ketika saya mendatangi pengawas kemah itu, saya bertanya apakah saya
juga dapat menjadi konselor. Dia mengatakan bahwa dia akan memeriksa
apakah masih ada tempat. Minggu berikutnya setelah kebaktian gereja,
saya bertemu dengannya, tetapi dia masih belum memberikan jawaban.
Setelah memaksanya, akhirnya ia mengakui bahwa ia telah mendiskusikan
masalah itu dengan Nelson, dan Nelson menunjukkan bahwa saya masih
terlalu muda rohani untuk mengawasi anak-anak SMU. Sekalipun kata
-katanya menyakitkan hati saya, saya tertawa. Kemudian, orang itu
mengatakan bahwa saya dapat mengawasi anak-anak yang bertugas
membersihkan dapur setelah acara makan. Karena sangat ingin pergi,
saya menerimanya, sekalipun hati saya sangat sakit.

Di perkemahan, saya segera mendapati bahwa saya akan banyak
menghabiskan waktu di dapur, dan kemarahan pun menghampiri saya.
Menjelang akhir minggu, saya kehilangan sebagian besar kegiatan yang
menyenangkan. Meski demikian, saya masih berharap untuk mengikuti
acara kebaktian dengan api tungku di tengah. Akan tetapi, anak-anak
yang membantu mencuci cerek dan panci setelah makan malam, mengeluh,
pada saat Nelson lewat di depan mereka. Hal ini membuat kepekaan saya
terganggu. Oleh karena itu, dengan keras saya mengatakan kepada mereka
bahwa masalah itu tidak akan terjadi jika mereka ikut membantu saya.
Saya merasa begitu direndahkan sehingga saya mengusir mereka pergi dan
mengatakan bahwa saya sendiri yang akan membersihkan semuanya. Setelah
mereka dengan senang mengikuti acara itu, Nelson menanyakan apakah
saya ingin berbicara dengannya dan mengakui bahwa saya sangat
terganggu. Saya mengatakan bahwa seharusnya ia meminta saya berdiri di
luar. Secara pribadi, ia menunjukkan ketidaksenangannya terhadap
perilaku saya di depan anak-anak. Hal ini membuat saya beranggapan
bahwa ia merendahkan otoritas saya. Saya kemudian menolak untuk
berbicara dengannya lebih lanjut.

Tentu saja, saya tidak mengikuti lagi acara itu. Pada saat saya
menyelesaikan tugas, teman-teman saya telah berada di kamar mereka
sehingga saya kembali ke tempat tidur saya di samping dapur, tempat
yang saya siapkan sendiri. Karena semua kegiatan perkemahan berakhir
dan tugas saya juga sudah selesai, pagi-pagi sekali saya pergi. Saya
mengemudi sendiri karena komite keluarga telah menahan kedatangan
saya, dan mobil saya tidak perlu membawa siapa pun kembali ke San
Jose. Hal itu membuat saya memiliki kesempatan untuk mengungkapkan
keluhan saya kepada Allah. "Jika ini yang dimaksud dengan menjadi
orang Kristen,"  gerutu saya,  "saya tidak mau menjadi bagian di
dalamnya. Bahkan, Nelson pun meninggalkan saya."   Semakin saya
meluapkan rasa muak, perasaan saya semakin buruk dan saya semakin
menginginkan Allah mengakui luka hati saya dan menunjukkan bahwa Ia
peduli. Penolakan, kepahitan, dan kemarahan telah memenuhi hati saya.
Seolah-olah Allah telah menusuk hati saya, dan semua masa lalu melesat
keluar, mengotori seluruh jiwa.

Sampai di San Jose, saya masih ingin menyendiri. Jadi, saya mengemudi
berkeliling sampai senja turun. Dan, kemudian, saya tertegun. Saya
tidak dapat lagi marah kepada Allah. Saya tidak dapat lagi
menyarangkan tinju saya kepada-Nya. Saya lelah diatur oleh perasaan
-perasaan buruk yang telah begitu lama memenjarakan saya. Saya
sungguh-sungguh ingin berserah kepada-Nya.

Pada malam bulan Desember itu, saya mengambil sebuah kunci yang telah
diberikan Nelson beberapa bulan sebelumnya, dan berjalan hingga ke
bagian dekat altar gereja. Awalnya, saya duduk di sebuah kursi di
baris depan dan mencoba berdoa, tetapi gagal. Akhirnya, saya berlutut
dan mengatakan kepada Allah bahwa saya sungguh-sungguh menyesal telah
menyalahkan Dia untuk semua penderitaan, kekecewaan, dan luka hati
saya. Saya menyesal karena telah meragukan karakter-Nya, kedaulatan
-Nya, dan kebaikan-Nya. Saya juga menyesal karena tidak setia
mengasihi-Nya.

Kemudian, ketika air mata saya jatuh bercucuran, saya merasakan
kehangatan melingkupi saya. Saya tahu saya tidak sendirian. Yesus
telah merangkul dan menarik saya ke dalam hati-Nya. Kemudian, Ia
berkata kepada saya seperti yang dikatakan-Nya kepada Zakheus, "Aku
datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang." Dan, sementara
Ia mengatakan bahwa Ia mengasihi saya, Yesus pun menjadi pahlawan
saya.

Diambil dan disunting dari:
Judul Buku: Bagaimana Saya Tahu Jika Yesus Mengasihi Saya?
Penulis: Christine A.Dallman dan J. Isamu Yamamoto
Penerbit: ANDI Offset, Yogyakarta:2002
Halaman: 33 -- 35


POKOK DOA

1. Berdoalah kepada Allah Bapa untuk mereka yang baru mengenal Kristus
 agar mereka tetap setia dalam setiap pergumulan mereka.

2. Berdoalah agar Allah menolong setiap orang percaya untuk memiliki
 karakter yang sesuai dengan kehendak-Nya.

3. Berdoalah untuk semua orang percaya agar ketika mengalami
 pergumulan, mereka tetap percaya bahwa Tuhan selalu menyertai.

"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu
dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka
Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
(Matius 6:6)

< http://alkitab.mobi/tb/Mat/6/6/ >
< http://alkitab.sabda.org/?Mat+6:6 >


STOP PRESS: BERGABUNGLAH DI KELAS ONLINE NATAL NOVEMBER/DESEMBER 2014!

Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, Anak Allah, di sebuah 
palungan, di kota Betlehem. Berkaitan dengan momentum itu, Pendidikan 
Elektronik Studi Teologia Awam (PESTA) < http://pesta.org/ > yang 
diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org/ > kembali 
membuka pendaftaran untuk mengikuti kelas online Natal 
November/Desember 2014.

Dalam kelas diskusi ini, peserta akan diajak untuk saling berdiskusi 
tentang topik-topik penting seputar Natal. Apabila Bapak/Ibu memiliki 
kerinduan dalam mengikuti kelas diskusi ini, silakan mendaftarkan diri 
ke < kusuma(at)in-christ.net >. Diskusi Natal akan dimulai pada tgl. 
3 November -- 10 Desember 2014.

Mari menyambut Natal bersama kelas Natal PESTA!


Kontak: kisah(at)sabda.org
Redaksi: Amidya, Bayu, dan Elly
Berlangganan: subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/kisah/arsip/
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA <http://ylsa.org> 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org