Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-wanita/165

e-Wanita edisi 165 (15-6-2017)

Peran Wanita dalam Misi Kristen

e-Wanita -- Edisi 165/Juni 2017
 
Peran Wanita dalam Misi Kristen
e-Wanita -- Edisi 165/Juni 2017
 
e-Wanita

Salam dalam kasih Kristus,

Bermisi tidak harus selalu dibayangkan sebagai sebuah pekerjaan menginjili di daerah terpencil, di tengah suku-suku terabaikan yang belum mengenal peradaban, dan yang harus senantiasa berjuang dalam wilayah yang penuh dengan bahaya atau pertentangan. Bermisi dapat dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dengan cara membagikan Kabar Baik bagi orang-orang yang berada dalam wilayah kehidupan mereka sehari-hari. Bagaimana memperkenalkan Kristus kepada anak, mengajarkan mereka bertumbuh, menghadirkan Kristus kepada tetangga dan teman-teman di lingkungan sosial melalui sikap hidup yang dimiliki, dan mendorong berbagai pekerjaan Injil melalui doa, dana, sumber daya, atau apa pun yang kita miliki adalah hanya beberapa hal dari pekerjaan misi yang dapat dilakukan di tengah-tengah kehidupan kaum ibu dan perempuan. Menjadi ibu sendiri sesungguhnya adalah pekerjaan bermisi, untuk menumbuhkan kekekalan di tengah-tengah keluarga. Ketika seorang wanita dipanggil untuk menjadi seorang istri dan ibu, maka ia tidak terlepas dari panggilan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus melalui apa yang digelutinya. Melalui edisi e-Wanita pada bulan Juni ini, kami mengajak Anda membaca dua sajian yang terkait dengan wanita yang bermisi, yang kiranya akan semakin menggelorakan semangat bermisi dalam diri Anda. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

 

DUNIA WANITA Menjadi Ibu yang Bermisi

Panggilan keras untuk bertobat dan percaya pada berita Injil berkumandang di seluruh dunia. Penginjilan terjadi di hutan-hutan terpencil tempat pesawat misionaris mendarat di landasan pacu rumput, di kedai kopi yang didirikan dalam bayang-bayang arsitektur abad pertengahan, di butik-butik kelas atas di pusat-pusat perbelanjaan, dan di dalam taksi reyot yang beringsut maju di jalan-jalan padat di kota-kota yang penuh sesak.

Kita mendengar kisah-kisah "pahlawan misionaris" dan hati kita melambung dengan rasa syukur atas pekerjaan Roh Allah yang sedang dilakukan seluruh dunia. Kita berdoa bagi para penginjil, dan kita dengan sukacita memberikan dukungan dana untuk mengutus mereka.

"Saya ingin 'pergi', tetapi saya takut tempat terjauh yang saya bisa 'pergi' ke sana hari ini adalah ke tempat tidur bayi dan kembali," kata seorang ibu yang baru melahirkan anak pertamanya kepada saya sambil mendesah. Kadang-kadang, para ibu melihat pelayanan mereka kepada anak-anak mereka tidaklah signifikan jika dibandingkan dengan pelayanan di bidang lain. Bagaimanapun, kerumunan ribuan orang berkumpul di dunia sandiwara terbuka dan bersorak untuk mendengar Kabar Baik.

Ibu mengajari anak berdoa

Karena menjadi seorang ibu adalah pekerjaan misioner, ada sesuatu bernilai kekal yang terjadi di ranah yang tak terlihat. Memang benar -- terkadang satu-satunya penyemangat yang bisa didengar oleh seorang ibu adalah suara ketika tutup wadah es krim terbuka di dapur. Namun, ketika para ibu mengabarkan Injil kepada lebih banyak jiwa daripada yang dapat kita hitung, dan dengan setia membangkitkan generasi berikutnya, tepuk tangan dari surga bergema dalam kekekalan.

Misi, Menjadi Ibu, dan 2 Korintus

Kita dapat menemukan empat dorongan khusus untuk menjadi ibu yang bermisi dalam 2 Korintus 4.

Pertama, kita mendapatkan pegangan dengan menjadi sebuah bejana tanah liat.

Tidak satu pun ibu yang dapat menyatakan bahwa ia memiliki semuanya sekaligus. Menjadi bejana tanah liat biasa yang rapuh berarti kita bebas menikmati dan menggunakan kecukupan kasih karunia Allah dan menunjukkan kepada dunia bahwa "kelimpahan kuasa itu berasal dari Allah dan bukan dari diri kami sendiri" (lihat 2 Korintus 4:7-10, AYT). Karena kekuatan Kristus menjadi sempurna melalui para ibu yang lemah, kita menjadi bebas melepas kepura-puraan bahwa kita adalah ibu yang mandiri. Sebaliknya, kita dapat membanggakan semua kelemahan kita dengan lebih senang hati sehingga kuasa Kristus terjadi atas kita dan memenuhi kita (2 Korintus 12:9-10).

Kedua, kita belajar untuk memasang kekekalan pada bola mata kita.

Kedengarannya seperti lensa kontak yang mewah, tetapi kalimat ini berasal dari doa yang dikaitkan dengan Jonathan Edwards. Ibu yang misioner memiliki pandangan jauh yang membentang melampaui pembelian popok meskipun kita mungkin berdoa bahwa Tuhan akan mempercepat hari itu. Perspektif yang kita perlukan melihat melampaui semua tonggak duniawi dalam kehidupan anak-anak kita dan masuk ke dalam kekekalan. Mata hati kita tetap selamanya, "tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya" (2 Korintus 4:14).

Kekekalan mengingatkan kita bahwa anak-anak kita bukan "hanya makhluk hidup", seperti yang dijelaskan C.S. Lewis dalam tulisannya The Weight of Glory (Kemuliaan Kekal). Namun, setiap manusia adalah penyandang gambar Allah yang memiliki jiwa yang kekal. Menjadi ibu adalah pekerjaan misi karena tidak ada ibu yang pernah mengajarkan manusia fana tentang bagaimana "tangan digunakan untuk membantu dan bukan memukul", atau mengusap kentang manis dari wajah seorang manusia fana, atau berdoa bagi seorang manusia fana sebelum sekolah, atau mendengarkan cerita anak yang fana yang berlarut-larut tentang merpati di balkon.

Kekekalan berarti bahwa membesarkan anak adalah sukacita yang sungguh dan penuh kekaguman.

Ketiga, kita merinding ketika memikirkan tentang bagaimana kasih karunia Allah diperluas ke lebih banyak orang.

Ibu dan anak

Ibu yang bermisi sangat tahu bahwa kita memelihara kehidupan yang berhadapan dengan kematian. Rahmat, rasa syukur, dan kemuliaan bukanlah ide yang ringan dan usang di dunia yang penuh dengan bau kematian dan suram dengan tanda dosa tercela. Tujuan dari semua pekerjaan kita adalah bahwa kasih karunia akan diperluas ke lebih banyak orang, menambah rasa syukur kepada Tuhan, dan memuliakan Dia (2 Korintus 4:15).

Pekerjaan kita sebagai ibu adalah untuk memuliakan Allah, yang mengutus Anak-Nya untuk melakukan pekerjaan yang dahsyat di kayu salib, menggantikan kita untuk membayar hukuman yang adil atas dosa-dosa kita. Dengan rendah hati menerima anugerah Allah dan mengundang anak-anak kita untuk menyatakan rasa syukur gembira kita atas apa yang telah Yesus lakukan di kayu salib adalah misi sukacita kita di dunia yang jatuh dalam dosa ini.

Keempat, kita bercanda tentang menjadi lebih muda pada hari ulang tahun kita, tetapi kita tertawa karena kita punya sesuatu yang lebih baik.

Bahkan, ketika "diri luar" kita mengalami kemunduran karena usia yang tak terelakkan, Yesus memperbarui "batin" kita dari hari ke hari (2 Korintus 4:16). Tempat terbaik untuk menemukan kekuatan pembaruan ini adalah dalam firman Allah. Lebih dari semua saran bermanfaat dan kiat-kiat menjadi seorang ibu, kita menerima kebijaksanaan dari Tuhan melalui Alkitab. Para ibu tahu mereka harus dekat dengan Allah dan memahami betapa dekat Dia dengan mereka.

Jadi, melalui firman-Nya, "Tuhan setiap hari datang kepada umat-Nya, bukan dari jauh tapi dekat. Di dalamnya Dia mengungkapkan diri-Nya sendiri, dari hari ke hari ... Alkitab adalah hubungan yang sedang berlangsung antara langit dan bumi, antara Kristus dan gereja-Nya, antara Allah dan anak-anak-Nya. Hal ini tidak hanya mengikat kita ke masa lalu; ini menyatukan kita dengan Tuhan yang tinggal di surga. Ini adalah suara Allah yang hidup" (Bavinck, RD 1:385).

Suara Surga

Ibu yang bermisi tidak asing dengan semua tekanan, kecemasan, masalah, dan penderitaan dari memelihara kehidupan yang berhadapan dengan kematian serta mati untuk diri setiap hari. Namun, ia mampu melihat dengan mata iman sekilas dari sesuatu yang memantapkan jiwa dan cerah--sebuah "kemuliaan kekal" (2 Korintus 4:17). Kemuliaan kekal itu jauh lebih berat daripada balita seberat 12 kg yang terus-menerus naik ke atas meja dan terjebak.

Di seluruh dunia, hanya dengan kasih karunia Allah para ibu dapat menumbuhkan jiwa sesama kita yang terkecil. Sementara itu, suara surga berbunyi nyaring di dalam hati kita: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba! ... Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat, dan kekuasaan, dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" (Wahyu 7:10, 12). (t/Jing-Jing)

Download Audio
Diterjemahkan dari:
Nama situs : desiringGod
Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/missional-motherhood
Judul asli artikel : Missional Motherhood
Penulis artikel : Gloria Furman
Tanggal akses : 19 Maret 2015
 

POTRET WANITA Katharine Bushnell (1855-1946)

Katharine Bushnell adalah wanita paling berpengaruh dalam mengungkapkan tentang bagaimana banyak ayat dari Kitab suci telah dilucuti dari kesetaraan gender sebagaimana yang dimaksudkan ayat-ayat tersebut. Ketika dia menyelidiki bahasa Ibrani dan Yunani, Katharine menemukan bias mengenai subordinasi perempuan yang digunakan penerjemah laki-laki dalam interpretasi mereka, khususnya dalam terjemahan tulisan-tulisan Paulus. Dia sangat berpengaruh dalam proklamasi kesetaraan wanita, bukan superioritas atau inferioritas, dalam semua relasinya, baik mengenai pernikahan maupun peranannya dalam rencana Allah.

Katharine Bushnell

Warisan Katharine Bushnell ditemukan dalam bukunya, God?s Word to Women (Firman Allah kepada Perempuan), yang menguak motif penerjemah dari perspektif teologis. Bushnell adalah seorang dokter medis, sarjana bahasa Alkitab yang terpelajar, dan misionaris di China. Ketika Tuhan memanggilnya ke China, dia mengatakan kepada Tuhan bahwa dia akan pergi jika Dia bisa menunjukkan bahwa Paulus tidak menentang perempuan berkhotbah. Selama di China, dia merasa harus lebih dalam mempelajari Alkitab, khususnya pada bidang yang berhubungan dengan dominasi laki-laki. Dia mulai melihat bahwa pandangan yang merugikan memang telah memengaruhi orang-orang yang menerjemahkan kitab suci.

Bushnell meninggalkan China pada tahun 1882 karena salah satu rekannya, Ella Gilchrist, sakit keras. Kembali ke Denver, Katharine tinggal bersamanya sampai dia meninggal. Meskipun ia mendirikan sebuah praktik medis di Denver, panggilannya untuk pelayanan membawanya ke Chicago untuk menjadi Evangelis Nasional di Departemen Kemurnian Sosial dari Women's Christian Temperance Union dan bekerja dengan para pelacur. Bushnell tidak hanya tergabung dalam pekerjaan penyelamatan untuk misi kota, dia juga mendirikan Anchorage Mission di Chicago, melayani sekitar 5.000 wanita per tahun.

Bushnell mendapati bahwa sumber pelecehan perempuan berasal bukan hanya dari alkohol, melainkan juga dari salah tafsir Alkitab yang disengaja oleh penerjemah laki-laki. Ia kemudian menambahkan dimensi mendidik semua wanita sesuai dengan Alkitab sehingga maksud asli dari ayat-ayat yang kontroversial dapat dipahami dengan jelas.

Setelah mendengar desas-desus tentang kondisi di perkemahan kayu di Wisconsin Utara yang tidak akan diselidiki oleh para pejabat, Bushnell memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenaran itu. Dia mendapati bahwa perempuan muda dan gadis-gadis itu diculik dan dipenjarakan di rumah bordil. Ketika ia melaporkan temuannya ke pertemuan WCTU di Chicago, ia sangat dikecam oleh surat kabar dan pejabat negara. Katharine menghebohkan masalah "perbudakan kulit putih" di seluruh negeri. Sensasionalisme masalah itu menjadi penghalang panggilannya dalam penginjilan, dan ia mencari Tuhan untuk meminta arahan. Mengikuti sebuah mimpi, dia merasa terkesan bahwa Tuhan menginginkannya pergi ke Inggris untuk membantu Josephine Butler dan Departemen Kemurnian Sosial di WCTU sana.

Katharine Bushnell

Ketika diketahui bahwa tentara Inggris membuka bordil di India, desas-desus dan penolakan terjadi. Bushnell dan seorang rekan merencanakan untuk menjadikan India sebagai bagian dari tur penginjilan mereka ke seluruh dunia. Setelah mewawancarai 395 pelacur, ia mengirim laporannya ke Inggris, yang segera menimbulkan tuduhan dan bantahan. Namun, tuntutan terbukti benar. Ketua Komandan pasukan Inggris di India, Lord Roberts, juga bertanggung jawab atas perizinan dan regulasi prostitusi. Peraturan ini bukan untuk pencegahan penyakit, melainkan untuk melindungi orang-orang yang datang ke rumah bordil. Bushnell dan rekannya sepenuhnya dibenarkan dari semua tuduhan dan menerima permintaan maaf tertulis dari Lord Roberts.

Bushnell menemukan sikap yang sama di antara para pejabat pemerintah Inggris, beberapa dari mereka mengaku Kristen, di China dan Hong Kong ketika mereka menemukan prostitusi paksa. Setelah bertahun-tahun di ladang misi, Katharine mulai menyadari "penderitaan para wanita itu berakar pada fakta bahwa Alkitab tampaknya mendukung degradasi dan penindasan perempuan. Kesimpulannya adalah Alkitab perlu ditafsir ulang ...."[1] Pertempuran terakhirnya, dilakukan di atas kertas, "God?s Word to Women" (Firman Allah kepada Perempuan), yang pada dasarnya telah diabaikan oleh para sarjana Alkitab.

Dana Hardwick menulis, "Bushnell berpihak pada kebebasan dan kesetaraan semua perempuan di mana-mana. Dia memperjuangkan hak dan tanggung jawab perempuan untuk menempatkan posisi mereka di samping laki-laki dan untuk didengar dalam setiap bidang kehidupan. Dia memperjuangkan tanggung jawab perempuan untuk mendidik mereka secara memadai untuk memenuhi tanggung jawab mereka, dan dia memandang dengan jijik kepada mereka yang menghindari tanggung jawab itu."[2] Para perempuan berutang kasih dan penghargaan kepada Katharine Bushnell untuk pengorbanannya yang telah membuka jalan. (t/Jing-Jing)

1. Hardwick, Dana, Oh Thou Woman That Bringest Good Tidings ? The Life and Work of Katharine C. Bushnell, Morris Publishing and Christians for Biblical Equality, 1995, p. 83.
2. Ibid, p. 106.

Diterjemahkan dari:
Nama situs : International Christian Women's Histroy Project and Hall of Fame
Alamat situs : http://www.icwhp.org/cameo-katharine-bushnell.html
Judul asli artikel : Katharine Bushnell (1855 - 1946). "Hung as A Flag"
Penulis : Barbara Collins
Tanggal akses : 4 Mei 2017
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Wanita.
wanita@sabda.org
e-Wanita
@sabdawanita
Redaksi: N. Risanti, Amidya, dan Margaretha I.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org