Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-wanita/39

e-Wanita edisi 39 (11-7-2010)

Keputusan untuk Menikah

_________e-Wanita -- Milis Publikasi Wanita Kristen Indonesia_________
                    Topik: Keputusan untuk Menikah
                           Edisi 39/Juli 2010
______________________________________________________________________
                              MENU SAJI

- SUARA WANITA
- DUNIA WANITA: Menikah... Perlukah?
- POTRET WANITA: Konsekuensi Iman: Kisah Ribka
- POKOK DOA: Hikmat bagi Wanita Kristen
______________________________________________________________________
- SUARA WANITA

  Shalom,

  Beberapa orang berpikir bahwa hidup melajang seolah-olah lebih mudah
  untuk dijalani daripada mereka yang sudah menikah. Benarkah? Jika
  kita salah satu dari sebagian orang yang berpandangan seperti itu,
  maka mulai saat ini kita harus mengubah cara pandang kita. Apa yang
  sebenarnya membuat kita takut dengan pernikahan? Selama kita hidup
  masalah akan selalu ada, baik yang hidup melajang atau yang sudah
  menikah. Pernikahan adalah sesuatu yang dikehendaki Allah supaya
  pria dan wanita dapat saling melengkapi, berbagi, berjalan, dan
  bertumbuh bersama dalam Tuhan. Apa pun yang terjadi dalam pernikahan
  Anda, Allah pasti turut campur tangan karena pernikahan adalah
  karunia Allah.

  Bagaimana dengan sahabat wanita? Bagi sahabat wanita yang masih
  bimbang tentang pernikahan, sudah saatnya Anda memilih yang terbaik
  untuk kehidupan Anda selanjutnya. Percaya bahwa Allah menyediakan
  pasangan hidup yang tepat dan waktu Allah pun akan tiba untuk Anda.

  Selamat menyimak dan Tuhan memberkati!

  Redaksi Tamu e-Wanita,
  Santi Titik Lestari
  http://wanita.sabda.org
  http://fb.sabda.org/wanita
______________________________________________________________________

  IT IS AS HARD FOR GOD TO ARRANGE A GOOD MARRIAGE
                             AS IT WAS FOR HIM TO DIVIDE THE RED SEA
______________________________________________________________________
- DUNIA WANITA

                         MENIKAH... PERLUKAH?

  Untuk Anda yang sedang bimbang di luar gerbang pernikahan.

  Dahulu, ada orang yang mengatakan bahwa pernikahan itu seperti
  sebuah benteng. Yang berada di dalam ingin keluar, tetapi yang
  berada di luar justru ingin masuk. Tampaknya, pendapat itu sudah
  tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang ini karena banyak orang
  yang berada di luar ragu-ragu atau bahkan sama sekali tidak
  berkeinginan untuk masuk! Jika Anda termasuk salah satu dari
  orang-orang seperti ini, marilah kita bertukar pikiran.

  Ada seorang wanita Kristen yang harus menanggung kehidupan
  keluarganya. Dia adalah seorang yang penuh pengertian dan baik hati.
  Ia mengharapkan Allah akan memberinya sebuah pernikahan yang juga
  dapat menerima keluarganya. Setelah berdoa beberapa tahun, Tuhan
  mengabulkan doanya. Keluarga suaminya sangat mengasihinya dan dapat
  menerima keluarganya.

  Seorang pria Kristen selalu khawatir kalau-kalau keluarganya yang
  belum percaya Tuhan melarangnya menikah dengan seorang wanita yang
  seiman pula. Maka, ia berdoa agar Allah memberinya pasangan yang
  dapat diterima oleh keluarganya. Setelah berdoa beberapa tahun,
  Tuhan juga mengabulkan doanya. Ia menikah dengan seorang wanita
  percaya dan Tuhan juga membuat keluarganya dapat menerima dan
  mengasihi pasangannya.

  Saudara seiman yang lain mengharapkan akan mendapatkan pasangan yang
  seiman. Walaupun demikian, oleh banyak orang keinginannya ini
  dianggap sebagai suatu keinginan yang sulit. Tetapi setelah berdoa
  beberapa tahun, sekarang setiap orang dapat melihatnya berbahagia
  bersama pasangannya yang seiman sehingga mereka juga turut
  bersukacita.

  Jika saya bertanya kepada Anda, "Menurut Anda, apakah mereka akan
  seterusnya berbahagia?" Mungkin Anda akan menjawab, "Mereka tentu
  masih akan menghadapi pahit manisnya kehidupan!" Namun bukankah
  memang untuk itulah seorang laki-laki dan perempuan dipersatukan
  Allah dalam suatu pernikahan, yaitu agar mereka dapat menghadapi
  pahit manisnya kehidupan ini bersama-sama? Bila sekarang Anda masih
  sendiri, Anda juga tetap harus menghadapi pahit manisnya kehidupan
  ini, jadi apa bedanya? Mengapa Anda tidak berani maju dan melangkah
  masuk ke dalam gerbang pernikahan? Sebenarnya apa alasannya?

  Mungkin Anda berpendapat bahwa hidup lajang itu lebih baik, lebih
  bebas, dan kalau mencuci pakaian pun hanya pakaian 1 orang. Jika
  menikah, mungkin Anda akan mencuci lebih banyak pakaian. Bila Anda
  masih lajang, Anda bebas memencet pasta gigi sesuka Anda, tetapi
  bila Anda sudah menikah, mungkin pasangan Anda akan marah hanya
  gara-gara Anda salah memencet pasta gigi. Saya tidak memungkiri
  adanya kemungkinan seperti itu. Tetapi saat Anda yang masih lajang
  pulang ke rumah, semua pahit manisnya kehidupan harus Anda tanggung
  sendiri. Ketika Anda masih muda, mungkin Anda masih dapat
  menanggungnya; Anda masih dapat pergi ke segala tempat yang Anda
  suka, ngobrol dan pergi dengan beberapa teman, masih memiliki
  kesehatan yang baik, dan lain-lain. Namun ketika usia Anda semakin
  bertambah, kesepian dan kesusahan hidup akan menjadi suatu hal yang
  tidak lagi mudah Anda tanggung sendiri. Kesehatan Anda mulai menurun
  dan Anda tidak bisa lagi makan atau minum sesuka Anda. Tubuh Anda
  mulai kurang sehat, sulit untuk pergi ke tempat-tempat yang Anda
  suka, tidak bisa lagi tidur nyenyak, teman-teman juga sudah sibuk
  dengan kehidupan keluarga masing-masing, dan lain-lain.

  Jadi apakah orang yang memilih untuk menikah pasti akan bahagia?
  Tidak juga! Karena banyak juga pernikahan yang tidak bahagia dan
  sering diwarnai dengan banyak perselisihan. Namun apakah dengan
  melarikan diri dari pernikahan, Anda dapat menghindari
  kesulitan-kesulitan hidup?

  Mana yang Lebih Baik, Lajang atau Menikah?

  Apakah lajang itu pasti baik? Apakah tidak ada yang dikhawatirkan
  itu identik dengan bahagia? Kehidupan seseorang mungkin tidak
  selamanya baik, namun apakah dengan memilih hidup seorang diri, Anda
  pasti bahagia?

  Apa yang Anda takuti? Kehilangan kebebasan? Yakinkah Anda bahwa
  dengan melajang Anda pasti memiliki kebebasan? Atau Anda mengira
  bahwa pasangan Anda yang berikutnya pasti akan lebih baik daripada
  yang sekarang? Apakah Anda masih tenggelam dalam penyesalan karena
  kehilangan kekasih Anda yang dulu? Mungkin juga Anda terpengaruh
  oleh media massa, takut kalau apa yang terjadi pada orang lain juga
  akan terjadi pada diri Anda? Atau Anda takut tidak dapat menjadi
  pasangan yang sempurna?

  Banyak orang pada zaman sekarang yang hidupnya "berbahagia namun
  tidak bersukacita", "berhasil tetapi tidak merasakannya", atau
  "tidak pernah merasa puas dan dapat disebut sebagai orang yang
  tamak". Ada dua insan yang hidup bersama di bawah satu atap tetapi
  belum juga menikah; ada yang sudah menjadi seorang ibu tapi tidak
  mau atau belum menikah; ada suami istri yang tinggal di kota atau
  negara yang berbeda; ada yang sudah menikah tapi belum mau memunyai
  anak, dan sebagainya. Semua yang mengalami hal demikian pasti merasa
  gelisah. Tetapi janganlah lupa bahwa kita adalah umat Kristen. Kita
  percaya bahwa pernikahan adalah karunia Allah, sehingga apa pun yang
  terjadi dalam kehidupan pernikahan kita, Allah pasti akan membantu.

  Apakah Anda ingin menikah? Apakah Anda takut untuk menikah? Jika
  saatnya belum tiba, jangan memaksakan diri! Nikmatilah kebahagiaan
  sebagai lajang, aturlah kehidupan Anda dengan sebaik-baiknya! Jika
  saatnya tiba, janganlah menghindar, hadapilah kebahagiaan, dan
  kesusahan hidup dalam pernikahan. Makna pernikahan adalah saling
  mengasihi dan bertumbuh bersama, sama-sama mengejar cita-cita,
  saling berbagi sukacita, menjalankan kewajiban, dan yang terpenting
  adalah menikmati kebaikan dan rahasia pernikahan (Efesus 5:22-33),
  berjalan bersama Tuhan. Perbedaan pandangan, ekonomi, fisik, impian,
  dan sebagainya sering kali dapat memengaruhi hubungan suami istri,
  sehingga dalam setiap pernikahan pasti ada risiko timbulnya masalah
  karena hal-hal tersebut. Tetapi pandanglah sekeliling kita, bukankah
  dalam pergaulan kita sehari-hari dengan teman-teman kita,
  masalah-masalah seperti ini juga dapat timbul? Dan bagaimanakah
  sebaiknya kita menghadapinya?

  Berjalan Bersama Tuhan

  Saya kira, Anda yang masih lajang tentu tidak luput dari rasa takut
  untuk menikah, tetapi Anda dapat memenangkannya dengan bersandar
  kepada Allah, sama seperti saudara seiman di atas. Mereka tahu apa
  yang mereka kejar sehingga akhirnya menerima pemberian Tuhan yang
  sempurna.

  Jika sekarang Anda masih lajang, persiapkanlah diri Anda agar dapat
  menjadi seorang yang mandiri dan dewasa, memahami diri sendiri,
  menerima diri sendiri, menyukai diri sendiri, belajar berkomunikasi
  dengan orang lain, dapat menyesuaikan diri, saling menutupi, penuh
  pengertian, dan berbuat kebajikan! Maka bila saatnya tiba, Anda akan
  bersama-sama memetik sukacita dan dapat bertumbuh bersama.

  Janganlah takut! Isi hatimu Allah tahu, saatmu pun Ia tahu!

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buletin: Warta Sejati, Edisi 27/November - Desember 2001
  Judul artikel: Menikah ... Perlukah?
  Penulis: SS
  Penerbit: Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Pusat Indonesia,
            Jakarta 2001
  Halaman: 37 -- 40
______________________________________________________________________
- POTRET WANITA

                    KONSEKUENSI IMAN: KISAH RIBKA

  Ribka tentu termasuk tokoh kunci di antara orang-orang pilihan
  Tuhan. Dia adalah istri Ishak, ibu dari Esau dan Yakub, dan cucu
  keponakan Abraham. Kita pertama kali mengetahui keberadaan Ribka
  dalam Kitab Kejadian pasal 22. Ayat 20 hingga 24 menceritakan
  tentang Nahor, saudara Abraham. Dari sinilah kita mengetahui bahwa
  Nahor memiliki banyak anak dari istri dan gundiknya, dan bahwa dia
  memiliki seorang cucu bernama Ribka.

  Keputusan Iman

  Setelah kematian istrinya, Sara, maka Abraham mengutus hamba paling
  tua dalam rumahnya untuk mencarikan seorang istri bagi Ishak,
  putranya. (Kejadian 24:2-10) Dia pastilah hamba yang paling
  dipercayainya; kemungkinan besar hamba tersebut adalah kepala
  pelayannya.

  Abraham menyuruh hamba kepercayaannya itu bersumpah bahwa dia akan
  pergi ke kampung halaman Abraham, kepada sanak keluarganya, untuk
  menemukan seorang istri bagi Ishak. Dia tidak ingin mencari seorang
  perempuan dari golongan penyembah berhala yang ada di sekitar Kanaan
  untuk putranya.

  Hamba Abraham tersebut merasa dipercaya untuk mengemban misi yang
  begitu penting. Oleh karena itu, ia pun meminta tanda dari Allah
  untuk memastikan keberhasilannya. Dia tidak pernah ragu bahwa Allah
  akan memimpin dia kepada seorang gadis muda yang paling cocok bagi
  putra tuannya.

  Ujian yang disusunnya sangatlah terus terang. Dia meminta [gadis
  yang dipilih Tuhan adalah] seorang perempuan muda yang menimbakan
  sedikit air baginya untuk diminum. Perempuan yang tepat tersebut
  tidak hanya akan menimbakan air baginya, tetapi juga akan menawarkan
  untuk menimbakan air bagi unta-untanya.

  Ketika Ribka datang ke sumur, hamba itu menerapkan ujiannya, dan
  Ribka lulus ujian tersebut dengan gemilang. Ribka menimba air bagi
  hamba itu untuk diminum, dan dengan senang hati menimba air bagi
  unta-unta, suatu tugas yang biasanya dikerjakan oleh seorang hamba.

  Waktu hamba itu menceritakan kepada Ribka dan keluarganya tujuan
  perjalanannya, mereka pastilah menyadari bahwa Abraham adalah
  seorang yang kaya, dan Ishak akan mewarisi kekayaan tersebut. Ini
  adalah pernikahan agung bagi Ribka. Ribka menyetujui penawaran itu.

  Saat membaca kisah tersebut, perbuatan itu nampaknya cukup sederhana
  untuk dilakukan, tetapi coba bayangkan jika Anda berada dalam
  situasi berikut ini. Suatu hari, tanpa disangka-sangka, seorang
  asing muncul di depan rumah Anda dengan mengendarai sebuah limusin
  yang dipenuhi berbagai macam hadiah mewah.

  Dia mengaku sebagai utusan saudara ayah Anda yang telah lama tidak
  berjumpa dan menawarkan kedudukan yang penting dalam rumah tangga
  paman Anda. Dia menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana Tuhan
  membimbingnya dalam perjalanan mencari Anda, sanak majikannya yang
  telah lama tidak berjumpa, memimpinnya sampai akhirnya menemukan
  Anda dengan cara yang ajaib.

  Dia meminta Anda untuk meninggalkan segala sesuatu yang pernah Anda
  kenal dan pergi bersamanya ke suatu tempat terpencil yang amat jauh
  dan tidak dapat dicapai dengan alat transportasi sehari-hari.

  Dalam dunia modern, situasi ini tentu akan menimbulkan rasa curiga.
  Walaupun demikian, kita dapat menyelidiki identitas orang asing ini
  dengan cukup mudah. Malahan, dia pasti punya kartu identitas.

  Identitas orang yang mengaku sebagai paman Anda pun dapat
  dipastikan, Anda bahkan dapat berbicara dengannya melalui telepon.
  Tidak peduli seberapa terpencilnya tempat itu, pasti ada helikopter
  atau perahu motor yang memungkinkan perjalanan ke sana, dan Anda
  dapat mengirimkan surat elektronik kepada keluarga Anda. Teknologi
  memberikan banyak pilihan bagi kita.

  Namun Ribka tidak memiliki pilihan-pilihan ini. Dia tidak dapat
  menelepon Abraham untuk memastikan identitasnya ataupun identitas
  hamba tersebut. Ribka harus percaya pada kata-kata hamba itu.
  Keputusan ini juga mengharuskan dia meninggalkan rumah dan
  satu-satunya keluarga yang dia kenal seumur hidupnya. Jarak yang
  jauh berarti kemungkinan untuk bertemu kembali dengan keluarganya
  sangatlah kecil. Bagi seorang gadis muda, ini sungguh merupakan
  suatu keputusan yang berani, dan pastilah merupakan suatu keputusan
  yang dipengaruhi oleh iman kepada Allah yang telah memimpin hamba
  itu kepadanya.

  Abraham sering kali digunakan sebagai teladan dari pelaku iman.
  Ibrani 11:8-10 berbicara tentang Abraham yang pergi meninggalkan
  kampung halamannya ketika Allah memanggilnya. Dia tidak tahu ke mana
  dia akan pergi. Ketika meninggal, dia belum melihat tanah yang
  dijanjikan Allah ataupun keturunannya yang sebanyak bintang di
  langit. Namun, dia percaya bahwa hal itu akan terjadi. Ibrani 11:1
  mengatakan: "iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita
  harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."
  Harapan Abraham pada janji Allah tetap teguh hingga kematiannya.

  Walau jarang sekali disebutkan, tetapi kesediaan Ribka untuk pergi
  kepada Ishak mencerminkan iman Abraham. Dia tidak mendengar
  panggilan Allah secara langsung kepada dirinya, hanya seorang hamba
  yang kesetiaan dan imannya kepada Allah yang menyentuh hatinya dan
  membuatnya percaya bahwa apa yang dijanjikan hamba tersebut adalah
  benar. Seperti Abraham, Ribka pergi ke tempat yang tidak dikenal
  dengan hanya berbekal pengetahuan bahwa Allah turut campur tangan
  dalam masalah ini dan keyakinan bahwa hal yang dilakukannya adalah
  benar.

  Kejadian 24:57-58 menunjukkan bahwa Ribka memiliki pilihan dalam hal
  ini. Ribka diberikan pertanyaan, apakah dia bersedia pergi dengan
  hamba tersebut, dan dia setuju. Iman Ribka yang sederhana seperti
  seorang anak kecil amatlah menyentuh dan merupakan suatu teladan
  bagi kita. Yesus sendiri menyuruh kita untuk memiliki iman yang
  sederhana seperti seorang anak kecil. "Aku berkata kepadamu,"
  kata-Nya, "Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah
  seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
  (Markus 10:15)

  Pada titik ini, iman Ribka merupakan suatu teladan. Karena itu, dia
  dianugerahi pernikahan yang indah dan seorang suami yang
  sungguh-sungguh mencintainya.

  Menghadapi Kesulitan

  Kehidupan Ribka berubah setelah menjadi istri Ishak. Dia kini
  menjadi wanita utama yang memimpin sebuah keluarga yang besar dan
  kaya raya. Walaupun Abraham menikah lagi setelah kematian Sara, kita
  diberitahu bahwa Ishak adalah pewaris tunggal dari segala milik
  Abraham (Kejadian 25:5-6). Hal ini tentu memberi Ribka status
  penting dalam keluarga [Abraham].

  Imannya melengkapi iman suaminya. Ketika dia tidak dapat mengandung,
  Ishak berdoa untuknya (Kejadian 25:21). Ketika dia merasakan bayi
  kembar dalam rahimnya bergumul, dan dia menjadi khawatir akan
  kehamilannya, dia berdoa kepada Allah (Kejadian 25:22-23).

  Sara, mertuanya, juga mandul. Tetapi, Ribka tidak pernah menyuruh
  suaminya untuk mengambil pelayannya sebagai gundik, suatu pilihan
  yang diambil Sara. Ribka dan Ishak menunggu selama 20 tahun yang
  panjang. Kita melihat seorang perempuan yang dengan sabar menunggu
  doanya terjawab. Banyak di antara kita yang dapat berkata dengan
  sepenuh hati bahwa menunggu waktu Tuhan bisa jadi sungguh-sungguh
  amat sulit dan membutuhkan iman yang sangat teguh.

  Sekali lagi, Ribka cukup berani dalam iman untuk menantikan waktu
  Allah. Seperti harapan Abraham, putranya memiliki seorang istri yang
  memiliki iman seperti imannya, dan seluruh keluarga dilimpahi dengan
  berkat dari Allah (Kejadian 25:11).

  Kita ingin agar doa-doa kita dijawab dengan segera! Banyak di antara
  kita yang menjadi tidak sabar dan bahkan mulai meragukan Tuhan
  ketika tampaknya Dia tidak mendengarkan kita. Walaupun kita
  merasakan waktu berlalu hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi
  tahun, Tuhan tetap ada setiap saat -- dahulu, sekarang, dan
  selama-lamanya.

  Dia mengetahui waktu yang terbaik untuk mengabulkan permohonan kita,
  dan Dia juga mengetahui permohonan mana yang tidak dapat dikabulkan.
  Jika kita menyatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, kita juga
  harus percaya pada pertimbangan-pertimbangan-Nya.

  Jika ada doa yang belum dijawab, bukan berarti Tuhan tidak mendengar
  doa. Itu berarti Tuhan meminta kita untuk percaya pada hikmat-Nya.
  Tentu saja, kita boleh terus meminta, tetapi ketika kita
  melakukannya, kita juga harus menyelidiki apakah hati kita bersedia
  tunduk pada apa pun keputusan yang akan dibuat Tuhan.

  Ribka adalah seorang wanita beriman besar. Dia percaya Allah akan
  memberinya keturunan. Dia percaya Allah akan menyatakan kepadanya
  alasan kesulitannya mengandung. Sebagaimana pemazmur menulis:

    Aku sangat menanti-nantikan TUHAN;
    Lalu Ia menjenguk kepadaku
    Dan mendengar teriakku minta tolong. (Mazmur 40:2)

  Kita dapat melihat Allah memberkati kehidupan Ribka dan bagaimana
  Dia memberikan seorang suami yang penuh cinta dan anak kembar.
  "Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya kepada TUHAN..."
  (Mazmur 40:5)

  Mengandalkan Diri Sendiri

  Iman mengharuskan kita memercayakan segalanya kepada Tuhan, dan hal
  ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Sejauh ini, kita dapat
  melihat bahwa iman Ribka nyata dalam perbuatannya ketika dia
  bersandar pada Allah dalam mengambil keputusan-keputusan. Tetapi,
  ketika tiba pada kesejahteraan anak-anaknya, dia lebih mengandalkan
  dirinya sendiri daripada Allah.

  Ketika Allah menjelaskan kepada Ribka tentang pergumulan yang dia
  rasakan dalam rahimnya selama masa kehamilan, Allah menyatakan bahwa
  ada dua suku bangsa di dalam rahim Ribka. Allah juga menyatakan
  bahwa anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda
  (Kejadian 25:23). Demikianlah nasib kedua anak tersebut ditetapkan.

  Ribka tidak percaya bahwa Allah akan menggenapi perkara-perkara. Dia
  mengambil alih permasalahan ke dalam tangannya sendiri dengan
  menolong anaknya yang lebih muda menipu Ishak. Dia menjadi ibu yang
  gagal ketika dia mengasihi Yakub lebih daripada Esau.

  Yakub menikmati pilih kasih ibunya seraya mengamati dan merasakan
  pilih kasih ayahnya terhadap kakaknya. Perilaku kedua orang tuanya
  inilah yang mungkin menyebabkan perasaannya terhadap masing-masing
  orang tuanya jadi saling bertentangan. Yakub sama sekali tidak
  menunjukkan kesetiaan kepada ayah atau kakaknya ketika ibunya
  menyuruh dia menipu ayahnya.

  Dalam merekayasa situasi agar Ishak memberi Yakub berkat yang
  seharusnya disediakan bagi anak sulung, Ribka menunjukkan iman yang
  telah berubah, dari percaya menjadi egois dan manipulatif. Dia
  berpikir bahwa dia dapat mengandalkan diri sendiri. Dia
  mengesampingkan pertimbangan dari kepentingan orang lain demi Yakub.
  "Banyaklah rancangan usia, tetapi keputusan Allah yang terlaksana"
  (Amsal 19:21).

  Ada banyak hal yang ditetapkan oleh Tuhan. Sebagai makhluk
  ciptaan-Nya, kita harus tunduk pada fakta bahwa apa yang telah
  ditetapkan Tuhan pasti akan terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang
  dapat kita lakukan yang dapat mengubah situasi yang telah ditetapkan
  Tuhan.

  Jika kita memaksakan suatu hal seperti yang dilakukan Ribka,
  akibat-akibat yang tidak baik akan terjadi, mungkin menyebabkan
  kesedihan dan kebencian. Kalau Ribka tidak melakukan apa-apa, dia
  tentu akan melihat kehendak Allah terjadi, dan anak yang tua tetap
  akan melayani yang muda, karena Allah telah menetapkan demikian.

  Perbedaannya adalah, ketika Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu,
  tidak seorang pun yang terluka, dan kita diberkati karena
  kepercayaan kita kepada-Nya.

  Akibat Ketiadaan Iman

  Ketika Ribka menggunakan kecerdikannya sendiri untuk membelokkan
  keadaan, dia menyebabkan kebencian dan permusuhan yang mendalam di
  antara kedua bersaudara itu, yang membawa akibat yang serius
  terhadap umat Allah.

  Dia juga menanggung penderitaan yaitu harus terpisah dari anak
  kesayangannya seumur hidup karena terpaksa mengirim Yakub ke rumah
  saudaranya untuk menyelamatkan Yakub dari amarah Esau. Sebagaimana
  halnya Ribka tidak dapat berharap untuk bertemu dengan keluarganya
  lagi, Yakub tidak dapat berharap untuk melihat ibunya tercinta lagi.
  Perbuatan Ribka ini membawa akibat yang terus berlanjut sampai ke
  banyak generasi berikutnya. Esau menjadi bapa dari bangsa yang
  besar, yang di kemudian hari dikenal sebagai kaum Edom. Kaum Edom
  menjadi musuh bebuyutan Israel, yang mencari setiap kesempatan untuk
  membalas dendam pada kaum Israel, sekalipun mereka bersaudara:

     Karena kekerasan terhadap saudaramu Yakub,
     Maka cela akan meliputi engkau,
     Dan engkau akan dilenyapkan
     untuk selama-lamanya.
     Pada waktu engkau berdiri di kejauhan,
     Sedangkan orang-orang di luar
     mengangkut kekayaan Yerusalem,
     Dan orang-orang asing
     memasuki pintu gerbangnya...
     Engkau pun seperti salah seorang
     dari mereka itu. (Obaja 10-11)

  Dari ayat-ayat ini, kita dapat melihat sejarah mencatat bahwa lama
  sesudahnya orang-orang Edom bekerja sama dengan musuh-musuh kaum
  Israel. Ketika kaum Israel ditawan, orang-orang Edom berdiri di
  samping musuh-musuh Israel. Memang, keturunan Esau terus mencari
  pembalasan dendam terhadap kaum Israel, dengan akibat yang membawa
  malapetaka bagi diri mereka sendiri:

     Beginilah firman Tuhan ALLAH: "Oleh karena
     Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum
     Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan
     melakukan pembalasan terhadap mereka... Aku akan
     mengacungkan tangan-Ku melawan Edom... " (Yehezkiel 25:12-13)

  Kita tidak akan pernah mengetahui apa yang mungkin akan terjadi jika
  saja Ribka tidak mengandalkan diri sendiri. Mungkin kedua bangsa itu
  tidak akan saling bermusuhan. Mungkin keturunan Esau akan memiliki
  kesempatan untuk diselamatkan.

  Dalam pergumulan kita melalui kehidupan atau berbagai keadaan, kita
  belajar untuk percaya kepada Tuhan karena kita tidak melihat jalan
  lain. Kita menaruh harapan kita pada Dia ketika kita membutuhkan
  pertolongan-Nya.

  Ribka menaruh kepercayaan yang amat besar kepada Allah ketika dia
  harus mengambil keputusan yang boleh jadi adalah yang terpenting
  dalam hidupnya -- pernikahannya. Ribka juga memelihara imannya
  kepada Allah ketika dia ingin tetapi tidak dapat memulai suatu
  keluarga.

  Kita cenderung bergayut pada iman kita ketika sesuatu yang sangat
  penting sedang dipertaruhkan dalam hidup kita. Bahayanya datang
  ketika kita mengambil alih permasalahan ke dalam tangan kita sendiri
  dan lupa bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya menjadi sutradara
  kehidupan kita.

  Karena itu, kita harus berbuat sesuai dengan kehendak-Nya di setiap
  waktu, dan bukan hanya pada masa-masa ketika kita dihadapkan dengan
  sesuatu yang tampaknya mustahil. Sebab setiap tindakan -- setiap
  tindakan iman - memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri, dan
  berdasarkan hal itulah kita akan dihakimi Tuhan.

  Kiranya Tuhan bermurah hati kepada kita dan terus memimpin kita
  sehingga kita tidak akan pernah menyimpang dari jalan-Nya.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buletin: Warta Sejati, Edisi 40/Maret - April 2004
  Penulis: Yvonne Chan
  Penerbit: Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Pusat Indonesia,
            Jakarta 2004
  Halaman: 31 -- 36
______________________________________________________________________
- POKOK DOA

  1. Memutuskan untuk menikah bukan merupakan sebuah keputusan yang
     main-main. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum kita
     mengatakan ya. Doakan agar para wanita Kristen Indonesia, diberi
     hikmat Tuhan dalam mengambil keputusan yang penting ini.

  2. Berdoa bagi para wanita Kristen yang telah menikah, agar Tuhan
     memampukan mereka untuk menempatkan diri menjadi penolong bagi
     suami dan taat akan perintah Tuhan.
______________________________________________________________________
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan kepada redaksi:
< wanita(at)sabda.org > atau < owner-i-kan-wanita(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Alamat berlangganan: < subscribe-i-kan-wanita(at)hub.xc.org >
Alamat berhenti: < unsubscribe-i-kan-wanita(at)hub.xc.org >
Arsip e-Wanita: http://www.sabda.org/publikasi/e-wanita
Facebook e-Wanita: http://fb.sabda.org/wanita
Twitter e-Wanita: http://twitter.com/sabdawanita
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti
Staf Redaksi: Truly Almendo Pasaribu
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright (c) 2010 e-Wanita / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

________________MILIS PUBLIKASI WANITA KRISTEN INDONESIA______________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org