Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-wanita/20

e-Wanita edisi 20 (17-9-2009)

Menjaga Kesehatan yang Alkitabiah

_________e-Wanita -- Milis Publikasi Wanita Kristen Indonesia_________
                Topik: Menjaga Kesehatan yang Alkitabiah
                        Edisi 20/September 2009
______________________________________________________________________
MENU SAJI

- SUARA WANITA
- RENUNGAN WANITA: Kesehatan
- DUNIA WANITA: Ritme Rohani: Resep untuk Hidup Sehat
- POTRET WANITA: Iman Wanita yang Mengalami Pendarahan
- EDISI BERIKUTNYA

______________________________________________________________________
- SUARA WANITA

  Shalom,

  Tubuh kita adalah bait suci, oleh karena itu kita harus menjaganya
  tetap bersih. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menerapkan pola
  hidup sehat untuk menjaga kesehatan kita. Banyak cara bisa dilakukan
  untuk menjaga kesehatan kita, mulai dari berolahraga, makan makanan
  berserat tinggi, banyak minum air putih, dan masih banyak lagi. Tapi
  masih ada sebuah cara lagi yang bisa Anda coba, yaitu menjaga ritme
  rohani. Apakah yang dimaksud dengan ritme rohani? Jawabannya bisa
  Sahabat Wanita temukan dalam kolom artikel edisi kali ini yang
  mengangkat masalah kesehatan. Tanpa ingin menahan Sahabat Wanita
  lebih lama lagi, silakan menyimak edisi e-Wanita 20 ini dan Tuhan
  memberkati.

  Teriring salam dan doa,
  Yohanna Prita Amelia
  Pimpinan Redaksi e-Wanita
  http://www.sabda.org/publikasi/e-wanita/
  http://wanita.sabda.org/

______________________________________________________________________

     God called me, and God knows best when a life should be spent                   
                            - Ida Scudder -
                   
______________________________________________________________________
- RENUNGAN WANITA

                              KESEHATAN

  1 Korintus 13

  Boleh jadi saya seorang ilmuwan terkenal atau dokter ahli dan 
  ruangan kantor saya penuh dengan ijazah-ijazah dan diploma, mungkin 
  saya dikenal sebagai guru yang andal dan pembicara yang menakjubkan, 
  tetapi apabila saya tidak memunyai kasih, maka semuanya itu hanya 
  bagaikan gong atau bel yang nyaring bunyinya.

  Mungkin saya diberi kemampuan sebagai dokter ahli riset, membuat 
  diagnosa yang sulit dan mengerti semua misteri tubuh manusia, dan 
  saya bisa berkomunikasi dengan para pasien, memberitahukan agar 
  mereka memilih cara hidup yang lebih baik, tetapi apabila saya tidak 
  memunyai kasih, saya adalah seorang yang tidak berarti.

  Saya bisa menginventasikan semua uang saya untuk membangun
  fasilitas-fasilitas yang terbaik dan membeli peralatan canggih, saya
  bisa menyediakan staf yang terbaik untuk melayani pasien, saya bisa
  mengorbankan semua waktu saya untuk mereka bahkan mengabaikan diri
  dan keluarga, tetapi bila saya tidak memunyai kasih, itu tidak
  berguna sama sekali. Kasih adalah obat alami. Kasih itu alami dan
  tidak menurunkan sistem kekebalan tubuh, tetapi menaikkannya.

  Kasih bisa dicampur dengan obat-obat lain; kasih adalah katalisator
  terkenal. Kasih menyembuhkan rasa sakit dan memberikan hidup yang
  terbaik. Kasih bisa diterima oleh siapa saja, ia tidak menimbulkan
  reaksi alergi. Obat-obat baru bermunculan dan lenyap. Apa yang
  kemarin dianggap baik, mungkin hari ini tidak ada gunanya. Apa yang
  hari ini manjur, mungkin besok tidak ada manfaatnya. Tetapi kasih
  telah melewati tes waktu; kasih selalu bermanfaat.

  Kita sekarang mengerti sesuatu hanya sebagian-sebagian saja, dan 
  terapi sering hanya merupakan bahan percobaan, karena bakat 
  pengetahuan dan penemuan-penemuan hanya sebagian-sebagian. Apabila 
  segala sesuatu bisa dimengerti, maka kita akan menyadari nilai kasih 
  yang sebenarnya. Kasih adalah sumber yang terbaik yang bisa 
  membentuk hubungan antarpasien, kerabat, dan sahabat-sahabat. Kasih 
  akan menolong kita berperilaku tidak seperti anak-anak, tetapi 
  sebagai orang dewasa yang matang.

  Sekarang ini banyak kebenaran yang tampak samar-samar bagi para 
  profesional kesehatan. Kita masih belum mengerti bagaimana Roh Kudus 
  bekerja dalam kehidupan kita. Tetapi pada suatu hari nanti, kita 
  akan melihat segala sesuatunya dengan jelas.

  Tetapi di dalamnya tetap ada tiga pengobatan dasar, yaitu iman, 
  pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah 
  kasih.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: Rumah Renungan
  Penulis: Hans Diehl
  Alamat URL: http://www.rumahrenungan.com/2009/04/kesehatan.html
  
______________________________________________________________________
- DUNIA WANITA

                 RITME ROHANI: RESEP UNTUK HIDUP SEHAT

  Ulang tahun saya yang ke-41 adalah momen yang lebih baik saya 
  lupakan. Saya menghabiskannya dengan tidur-tiduran di tempat tidur 
  rumah sakit sambil berpikir bahwa saya sekarat. Selama beberapa 
  tahun sebelumnya, sebagai Direktur Kesehatan Mercy Ships, saya telah 
  bekerja di Afrika, Asia, serta Amerika Tengah dan Selatan mengelola 
  penjangkauan dengan mengadakan operasi bibir sumbing dan 
  langit-langit mulut, operasi mata, dan operasi luka bakar bagi 
  orang-orang miskin. Sering kali, saya kewalahan memenuhi kebutuhan 
  orang-orang di sekitar saya dan dalam merespons beban pekerjaan saya 
  yang menumpuk untuk menjangkau orang sebanyak mungkin. Saya tidak 
  hanya membakar lilin di kedua ujungnya, tapi juga di 
  tengah-tengahnya.

  Kini tubuh saya memberontak. Penyebab utamanya tak pelak lagi adalah 
  virus, tapi saya juga tahu bahwa sakit ini adalah puncak dari gaya 
  hidup saya yang penuh tekanan dan stres. Selama masa pemulihan yang 
  panjang, saya menghabiskan banyak waktu sambil bertanya-tanya: 
  "Bisakah saya menghindari semua ini?" Tekanan untuk terlibat dalam 
  kegiatan gereja dan doa menambah stres dan rasa bersalah saya. 
  Kedisiplinan rohani pun lenyap saat saya merasa kelelahan. Hidup 
  saya tidak seirama lagi dengan ritme Allah dan bahkan saya tidak 
  lagi memerhatikannya.

  Ketidakselarasan Ritme

  Ironisnya, saya tidak sendirian. Banyak orang Kristen yang dibanjiri 
  dengan tuntutan-tuntutan yang menguras banyak waktu dan tenaga. 
  Ritme yang diperuntukkan bagi Tuhan dikaburkan oleh dunia yang 
  mengatakan bahwa kita tidak boleh bersantai-santai atau berhenti 
  sejenak. Dan kita tidak menyadari betapa tidak sehatnya hidup kita.

  Saya dan suami tidak bertumbuh dengan suatu tradisi liturgis, tapi 
  beberapa waktu terakhir ini kami melihat perayaan-perayaan tahunan 
  gereja diisi dengan ritual-ritual yang megah untuk memperteguh iman 
  kami dan memberikan ritme yang sehat untuk semua hal yang kami 
  lakukan. Saya yakin kekhawatiran kita akan kebiasaan agamawi dan 
  dampak bergesernya ritme yang terfokus pada kehidupan, kematian, dan 
  kebangkitan Kristus membuat kita terbuka terhadap ritual dan ritme 
  sekuler yang semakin membentuk hidup kita. Kita tidak lagi berpuasa 
  selama masa pra-Paskah, tapi sebaliknya justru menggebu-gebu untuk 
  berdiet. Pola hidup kita sepertinya lebih dipengaruhi oleh obral 
  besar-besaran atau pertandingan final sepakbola daripada perayaan 
  keagamaan kita. Akibatnya, hidup kita menderita.

  Mempelajari Ritme Yesus

  Setelah jatuh sakit, saya bertanya pada diri sendiri: "Apa yang 
  menentukan ritme kehidupan Yesus?" Dia memikul beban seluruh dunia 
  di atas bahu-Nya. Dia pasti diserbu dengan permintaan-permintaan 
  orang banyak. Dia bisa menghabiskan 24 jam sehari untuk menyembuhkan 
  dan berkhotbah. Herannya, Dia sepertinya tidak pernah kelihatan 
  stres atau terbebani. Ketika saya duduk di ranjang rumah sakit 
  sambil merenungkan kehidupan saya yang penuh beban, saya sadar bahwa 
  bila Yesus sungguh-sungguh menawarkan kehidupan yang berkelimpahan, 
  maka pola hidup-Nya harus menjadi teladan bagi pola hidup saya.

  1. Doa

  Yesus mencontohkan empat dasar ritme kehidupan -- apa yang saya 
  sebut dengan ritme rohani -- yang saya yakin penting untuk hidup 
  sehat. Pada intinya adalah kehidupan rohani-Nya yang memancarkan 
  hubungan pribadi-Nya yang akrab dengan Tuhan dan menetapkan fokus 
  untuk hal-hal lain yang Dia lakukan. Kadangkala Yesus beristirahat 
  sepanjang hari untuk mendengarkan Allah dan menyesuaikan 
  tindakan-Nya sesuai petunjuk Allah. Dia tidak pernah membuat 
  keputusan besar tanpa menyediakan waktu minimal satu malam untuk 
  mendengarkan Allah melalui doa. Betapa berkurangnya tekanan yang 
  kita alami saat kita memprioritaskan doa seperti ini dan menyerahkan 
  waktu kita kepada Tuhan untuk membuat komitmen lain? Doa yang 
  dinaikkan sepanjang hari akan menghubungkan kita kembali dengan 
  Allah dan memperbaharui energi rohani kita. Mendengarkan suara Tuhan 
  sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan dan doa yang biasa 
  kita panjatkan lambat laun bisa mengembalikan fokus yang akan 
  membawa kita semakin dekat dengan Allah dan rencana-Nya atas kita.

  2. Bergabung dengan Komunitas

  Prioritas kedua Yesus adalah komunitas. Dia menghabiskan lebih
  banyak waktu untuk membentuk satu keluarga di antara para 
  pengikut-Nya daripada berkhotbah atau menyembuhkan orang. Biasanya 
  Dia tinggal bersama dengan murid-murid-Nya atau berada di antara 
  sekelompok orang sambil mengajar dan menjangkau orang-orang itu 
  dengan belas kasih dan kasih Allah. Menjadi orang Kristen berarti 
  masuk ke suatu komunitas -- pertama-tama dengan Tuhan, selanjutnya 
  juga dengan umat Allah yang lain -- dengan saudara-saudari dari 
  berbagai suku, bangsa, dan budaya. Selain itu, menjadi orang Kristen 
  berarti masuk ke dalam satu komunitas bersama dengan orang-orang 
  miskin, cacat, telantar, dan tersingkir. Yesus dan para pengikut-Nya 
  pun tidak hanya bekerja bersama-sama. Mereka juga menikmati makanan 
  lezat, persekutuan, dan perayaan. Menurut salah seorang teolog, N.T. 
  Wright, ke mana pun Yesus pergi, selalu ada pesta. Menyediakan waktu 
  untuk teman-teman dan keluarga, menyemangati rekan sepelayanan dan 
  saudara seiman, terlibat dalam pelayanan di antara orang-orang 
  miskin, menyatakan iman dengan penuh kegembiraan dan persekutuan; 
  semua itu seharusnya menjadi bagian dari ritme rohani kita.

  3. Bekerja bagi Tuhan

  Ritme ketiga yang memacu kehidupan Yesus adalah bekerja, tapi bukan 
  untuk menyediakan makanan sehari-hari -- untuk itu Dia mendorong 
  para pengikut-Nya untuk percaya kepada Allah. Dia juga tidak 
  mengumpulkan kekayaan untuk diri-Nya sendiri -- bahkan Dia memiliki 
  perkataan yang cukup tajam untuk disampaikan kepada orang-orang yang 
  terfokus pada hal tersebut. Karya Yesus difokuskan untuk melayani 
  Allah dan tujuan Kerajaan Allah, dan Dia menasihatkan bahwa sebagai 
  wakil Allah, pekerjaan kita seharusnya mencerminkan prioritas ini. 
  Kita dimaksudkan untuk menjadi pembawa harapan, kesembuhan, dan 
  keselamatan; menolong orang-orang di sekitar kita untuk memandang 
  satu tempat yang tidak akan ada lagi ratap tangis atau kelaparan 
  atau rasa sakit. Hal ini tidak berarti bahwa kita semua harus 
  menjadi pendeta atau penginjil, tapi ini berarti bahwa apa yang 
  menjadi prioritas Allah menjadi prioritas kita, yang secara 
  sederhana bisa berarti menguatkan mahasiswa lain di kampus atau 
  menawarkan bantuan kepada orang yang lebih tua di lingkungan Anda.

  4. Belajar Beristirahat -- Mukjizat Allah

  Satu kelegaan besar ketika saya mengetahui Yesus pun juga 
  mengganggap istirahat sebagai ritme hidup yang penting. Dia 
  menguatkan para pengikut-Nya dengan berfirman, "Marilah kepada-Ku, 
  semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan 
  kepadamu" (Matius 11:28). Baik tidur yang teratur maupun hari Sabat 
  keduanya menghubungkan kita dengan ritme yang menyegarkan dan 
  memperbaharui. Istirahat malam yang baik ternyata meningkatkan 
  sistem kekebalan tubuh dan penelitian akhir-akhir ini mengatakan 
  bahwa tidur siang bisa sangat meningkatkan produktivitas kita 
  sehingga kita bisa menyelesaikan lebih banyak tugas saat kita 
  bekerja seharian.

  Jika Yesus tidak memberi kita beban berat untuk ditanggung, dari 
  mana tekanan dalam hidup kita itu muncul? Menjadi pengikut Yesus 
  merupakan suatu undangan kepada suatu kehidupan dengan ritme yang 
  berbeda. Bergabunglah dalam retret doa dengan seorang teman atau 
  pasangan Anda. Perhatikanlah bagaimana Anda memprioritaskan waktu 
  Anda dan temukan sendiri ritme rohani Allah bagi Anda. Undanglah 
  Allah untuk membuka jalan ke gaya hidup yang tekanan hidupnya lebih 
  rendah yang melegakan dan tidak melelahkan.

  Anda bisa meminta Roh Allah untuk mengatur ritme dalam hidup Anda.

  Pada waktu Anda menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru
  Selamat Anda, Roh Allah akan mengambil alih hidup Anda. Dia rindu
  memenuhi Anda dan menguatkan Anda. Serahkan kendali hidup Anda
  hari ini kepada-Nya -- mintalah Dia untuk menentukan langkah Anda.
  Dia akan memberi Anda hikmat dan kedamaian dari waktu ke waktu.

  Di bawah ini adalah doa yang disarankan. Ketika Anda berdoa, 
  ingatlah bahwa Allah tidak lebih memerhatikan kata-kata Anda 
  daripada maksud hati Anda.

  "Ya Bapa, aku memerlukan-Mu. Aku tahu bahwa aku telah berdosa 
  terhadap Engkau karena menentukan arah hidupku sendiri. Aku 
  bersyukur Engkau telah mengampuni dosa-dosaku melalui kematian 
  Kristus di kayu salib untukku. Kini aku mengundang Kristus untuk 
  mengambil alih kembali otoritas dalam hidupku. Penuhi aku dengan Roh 
  Kudus seperti yang Kau kehendaki agar aku dipenuhi, dan seperti yang 
  Kau janjikan dalam firman-Mu bahwa Engkau akan melakukannya jika aku 
  memintanya dengan iman. Aku berdoa dalam nama Yesus. Sebagai 
  pernyataan imanku, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah 
  menuntun hidupku dan memenuhiku dengan Roh Kudus. Amin." (t/Setya)

  Diterjemahkan dari:
  Nama situs: Christian Women Today
  Judul asli artikel: Sacred Rhythms: Prescription for a Healthy Life
  Penulis: Christine Sine, M.D.
  Alamat URL: http://christianwomentoday.com/health/rhythm.html

______________________________________________________________________
- POTRET WANITA

                IMAN WANITA YANG MENGALAMI PENDARAHAN

  Saya tidak tahu dengan Anda, tapi terkadang saya bisa menjadi orang 
  yang pesimis. Maksud saya, jika Anda datang kepada saya dan 
  mengatakan bahwa Anda menemukan sepasang sepatu "Nine West" di 
  keranjang diskon yang harganya hanya .99, bisa dipastikan, saya 
  akan bersikeras bahwa Anda berbohong sampai saya melihat nota 
  pembeliannya. Jika seseorang mengatakan pada saya bahwa mereka akan 
  mengajak saya berpesiar selama 2 minggu, saya mungkin tidak akan 
  terlalu antusias hingga saya benar-benar berada di atas kapal. Apa 
  yang bisa saya katakan? Saya tidak suka dikecewakan. Tapi ada 
  seorang wanita yang tidak seperti saya, seorang wanita yang memiliki 
  iman yang mengagumkan ... sangat mengagumkan hingga kisahnya 
  dimasukkan ke dalam Alkitab di tiga tempat yang berbeda. Segera 
  ambil Alkitab Anda dan bukalah Matius 9:20-22, Markus 5:25-34, atau 
  Lukas 8:43-48.

  Baiklah, sekarang Anda telah membaca dari sumbernya, saya akan 
  menceritakan versi saya sendiri pada Anda. Wanita malang ini telah 
  menderita pendarahan selama 12 tahun. Hmm, itu lebih dari setengah 
  hidup saya -- waktu yang lama! Dapatkah Anda membayangkan rasa sakit 
  yang telah dirasakan dan betapa lemahnya wanita ini? Jika Anda 
  pernah mengalami pendarahan lebih dari beberapa menit, Anda tahu 
  bahwa itu benar-benar menguras darah. Dia pasti sangat kelelahan 
  setiap waktu. Tapi inilah bagian terburuknya. Pada masa itu, jika 
  Anda pendarahan, Anda dianggap tidak bersih (najis). Oleh sebab itu, 
  tidak ada seorang pun yang bahkan mau menyentuh wanita itu ... dan 
  dia tidak diizinkan untuk menyentuh orang lain -- itulah hukumnya. 
  Maka selama 12 tahun, ia mengalami pendarahan tanpa pelukan, tidak 
  ada tepukan di punggung, tidak ada usapan di rambut. Sentuhan 
  manusia dapat menenangkan ... maksud saya, apakah ada seorang wanita 
  yang tidak mau dipeluk ketika sedang kesakitan? Ada beberapa hal 
  yang tidak pernah dapat kita atasi.

  Begitulah wanita itu ketika Yesus berjalan melewatinya. Ketika itu, 
  Yesus sedang tergesa-gesa karena Yairus membutuhkan-Nya untuk datang 
  ke rumahnya oleh karena anak perempuannya sedang sekarat. Yesus juga 
  dikelilingi oleh kerumunan orang yang sangat banyak. Dia tidak punya 
  waktu untuk menumpahkan kisah sedihnya pada Yesus dengan harapan 
  bahwa Yesus akan menyembuhkannya, seperti banyak mukjizat yang telah 
  dilakukan-Nya. Satu-satunya waktu yang dimilikinya dengan Yesus 
  adalah hanya untuk menyentuhnya selagi Dia sedang berjalan ... dan 
  mungkin, hanya MUNGKIN dia akan disembuhkan. Tapi ingat ... dia 
  tidak diizinkan untuk menyentuh orang lain.

  Ketika Yesus berjalan, wanita ini dipenuhi dengan iman, mengulurkan 
  tangannya, dan menyentuh jubah Yesus sewaktu Dia sedang berjalan. 
  Alkitab mengatakan, "Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan 
  ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya." (Markus 
  5:29). WOW, SEKETIKA ITU JUGA pendarahannya langsung berhenti dan 
  dia tidak merasa kesakitan lagi. Hanya dengan menyentuh pakaian 
  Yesus. Benar-benar sebuah sukacita! Benar-benar sebuah kebebasan! 
  Tapi tunggu sebentar ... Yesus berhenti dan berbalik. Oh tidak. 
  Apakah Dia tahu bahwa wanita itu telah menyentuhnya? Apakah dia akan 
  dipenjara karena telah melanggar hukum?

  Yesus bertanya, "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Baiklah ... saya 
  tidak tahu dengan Anda, tapi jika saya sedang berjalan di tengah 
  kerumunan orang banyak dan saya merasa sesuatu bergesekan dengan 
  baju saya, saya cukup yakin bahwa saya tidak akan memedulikannya. 
  Tapi Yesus tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan sentuhan ini. 
  Sedikit ketakutan, sang wanita maju ke depan. Dia tahu bahwa jika 
  Yesus tahu seseorang telah menyentuh jubah-Nya, maka Yesus juga 
  pasti tahu bahwa dialah yang telah menyentuh-Nya.

  Dan dia melakukan apa yang akan dilakukan wanita normal dalam 
  situasi di mana dia pikir dia akan mengalami kesulitan. Dia menangis 
  ... dia jatuh di kaki Allah kita dan menumpahkan ceritanya sambil 
  menangis. Ketika dia selesai, dia melihat ke atas, dan saya percaya 
  bahwa dia melihat sepasang mata yang paling teduh yang dapat Anda 
  bayangkan. Dia tidak marah. Sama sekali tidak. Yesus tergerak oleh 
  imannya.

  Saya tidak memiliki catatan Alkitab tentang cerita ini. Maksud saya, 
  kisah-kisah seperti ini jelas-jelas menyatakan bahwa prialah yang 
  menulis Alkitab. Tidak ada banyak detail dan tentu saja tidak ada 
  banyak kata-kata yang menyentuh perasaan. Tapi ini adalah kisah yang 
  menyentuh!! Dan semua yang dapat diberikan Matius, Markus, dan Lukas 
  pada saya adalah ketika Yesus berkata, "Hai anak-Ku, imanmu telah 
  menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari 
  penyakitmu!" Jangan salah menilai saya. Itu adalah kata-kata yang 
  memiliki kekuatan, dan saya percaya bahwa Yesus mengatakannya!! Tapi 
  saya juga ingin tahu bahwa Yesus meletakkan tangan-Nya di wajah 
  wanita tersebut dan membantunya berdiri. Saya ingin tahu bahwa Dia 
  memeluknya dan KEMUDIAN Dia mengatakan padanya bahwa imannya telah 
  menyembuhkannya! Ketika saya sampai di surga, Matius, Markus, Lukas, 
  dan saya akan membicarakan tentang menulis deskriptif yang baik. 
  (Hanya bercanda ...  tidak juga ... tapi, siapa tahu? Mungkin waktu 
  itu saya tidak akan peduli lagi karena saya bisa langsung bertanya 
  pada wanita tersebut!)

  Hal lain yang menunjukkan bahwa penulis kitab Injil adalah pria 
  tercermin dalam mukjizat berikutnya yang ditulis dalam Alkitab. Tapi 
  mari kita fokus sejenak pada wanita itu dan membayangkan bagaimana 
  kejadiannya pada waktu itu. Beberapa menit sebelumnya, dia sakit, 
  pendarahan, tidak bersih (najis), dan menderita. Setelah satu 
  sentuhan dari Yesus dan karena imannya kepada Yesus, dia 
  disembuhkan. Dia telah bersih. Dan dia tidak lagi kesakitan. Saya 
  membayangkan bahwa ketika Yesus berjalan, wanita ini jatuh 
  tersungkur. (Karena, ingat, Yesus membantu dia berdiri ... ini hanya 
  pendapat saya, jadi terserah bagaimana penilaian Anda). Saya percaya 
  bahwa dia merasa benar-benar terbungkus dengan hadirat Allah dan 
  benar-benar bersyukur. Imannya telah memberinya bukti nyata.

  Lalu apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari iman wanita yang 
  mengagumkan ini? Apakah Anda harus membuat janji dulu untuk datang 
  kepada Yesus? Tidak. Apakah Yesus PERNAH terlalu sibuk untuk kita? 
  Tidak pernah. Dia selalu ada di sana untuk kita ketika kita 
  membutuhkan-Nya. Apa yang harus kita lakukan adalah beriman dan 
  mendekat kepada-Nya. (t/Yohanna)

  Diterjemahkan dari:
  Nama situs: Team Jesus
  Judul asli artikel: A Bleeding Woman of Faith
  Penulis: Michelle Myers
  Alamat URL: http://teamjesuswins.blogspot.com/2007/04/bleeding-woman-of-faith.html

______________________________________________________________________
- EDISI BERIKUTNYA

  Sahabat Wanita yang setia, jangan lupa membaca edisi e-Wanita bulan
  Oktober 2009 dengan topik Temperamen. Adapun temanya adalah:

  - e-Wanita 21: Memahami Temperamen
  - e-Wanita 22: Temperamen yang Diubahkan

  Kami juga mengajak Sahabat Wanita dan Pelanggan sekalian untuk
  mengirimkan cerita, kesaksian, dan pokok doa. Kiriman Anda akan kami
  publikasikan setiap bulannya melalui kolom Surat Anda, supaya
  menjadi berkat bagi orang lain. Kami tunggu e-mail Anda di meja
  redaksi kami yang beralamat di:

  ==> wanita(at)sabda.org

  Selamat melayani, Tuhan memberkati!

______________________________________________________________________
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan kepada redaksi:
<wanita(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-wanita(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Yohanna Prita Amelia
Staf Redaksi: Novita Yuniarti dan Christiana Ratri Yuliani
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-Wanita 2009 -- YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: <subscribe-i-kan-wanita(at)hub.xc.org>
Alamat berhenti: <unsubscribe-i-kan-wanita(at)hub.xc.org>
Arsip e-Wanita: http://www.sabda.org/publikasi/e-wanita/

________________MILIS PUBLIKASI WANITA KRISTEN INDONESIA______________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org