Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2019/03/02

Sabtu, 2 Maret 2019 (Minggu ke-7 sesudah Epifania)

Siapa yang tidak mengenal Martin Luther, Sang Bapak Reformasi Gereja? Pada abad ke-16, Paus Leo X pernah mendiskreditkan ajaran Luther. Akibatnya, Luther harus menghadiri sidang di Worms pada tahun 1521. Sidang itu memaksa Luther agar menarik seluruh ajarannya. Namun, Luther teguh bagai batu karang, "Di sini aku berdiri. Kiranya Tuhan menolongku. Amin."

Keberanian seperti itu pernah juga dilakoni Paulus. Setelah kepala pasukan urung menyesahnya (22:29), ia diserahkan kepada Mahkamah Agama (22:30). Sidang terpaksa digelar untuk meneliti tuduhan orang-orang Yahudi kepadanya.

Lukas menuliskan keberanian Paulus dalam mempertahankan imannya di hadapan Mahkamah Agama (1). Bahkan ketika Imam Besar Ananias menyuruh orang untuk menamparnya, ia tidak gentar (2-3). Walau tertekan (4), Paulus malah dengan cerdik memecah suara para pembencinya (6). Ia memanfaatkan perbedaan doktrin antara orang Farisi dan Saduki.

Orang Saduki tidak percaya pada kebangkitan dan keberadaan malaikat atau roh. Sedangkan, orang Farisi percaya pada keduanya. Hal itu menimbulkan keributan besar di antara mereka. Orang Farisi kemudian membela Paulus setelah mengetahui bahwa ia juga seorang Farisi. Keributan besar itu membuat kepala pasukan membawa Paulus kembali ke markas (7-10).

Tindakan Paulus itu membutuhkan keberanian yang besar. Tentu saja kekuatannya datang dari Tuhan. Hanya mereka yang ada di sisi Allah yang mampu bertindak seperti itu (11). Hati yang berani bagi kebenaran adalah anugerah Allah semata.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin pernah mengalami diskriminasi dan ketidakadilan. Masyarakat mengucilkan, menolak, bahkan menganiaya kita. Dari pengalaman Paulus, kita belajar agar tidak berkecil hati. Sama seperti Paulus, Tuhan pun akan mendampingi kita. Ia tidak berubah. Ia akan memberi kita kekuatan hati agar tetap tegar melewati itu semua.

Doa: Tuhan, berikan kami kekuatan hati untuk menjadi saksi-Mu di tengah dunia demi kemuliaan-Mu. [SL]


Baca Gali Alkitab 1

Kisah Para Rasul 22:30-23:11

Keberanian adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan benar, bahkan ketika rasa takut membelenggu. Keberanian memang selalu bersahabat dengan kebenaran. Kita mempunyai peribahasa: "Berani karena benar, takut karena salah."

Nas yang kita baca mementaskan keberanian Paulus di hadapan Mahkamah Agama. Ia tetap mempertahankan imannya walau nyawa sebagai taruhannya.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa yang terjadi pada diri Paulus (Kis. 22:23-29)?
2. Mengapa Paulus diserahkan ke hadapan Mahkamah Agama (30)?
3. Apa yang dikatakan Paulus di hadapan Mahkamah Agama (1)?
4. Bagaimana reaksi Imam Besar mendengar perkataan Paulus (2)? Apa respons Paulus ketika ia ditampar (3-5)? Apakah ia takut dan menarik kata-katanya? Apa komentar Anda?
5. Bagaimana cara Paulus agar lolos dari sidang Mahkamah Agama itu (6-10)?
6. Apa firman Allah kepada Paulus (11)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Dengan alasan mempertahankan kebenaran, apa risiko yang dihadapi Paulus?
2. Bagaimana sikap Paulus menghadapi itu semua? Apakah ia lari ketakutan? Mengapa Paulus memilih sikap itu?
3. Apa komentar Anda terhadap cara Paulus agar lolos dari sidang? Apakah itu cara yang cerdik? Jelaskan!

Apa respons Anda?
1. Jika berada dalam situasi seperti yang dihadapi Paulus-dihina, hampir disiksa, dan diadili-apakah Anda akan tetap berani mempertahankan iman?
2. Pernahkah Anda menyangkali iman karena tekanan hidup?

Pokok Doa:
Mohon agar Tuhan menguatkan orang Kristen untuk tetap setia pada kebenaran dalam situasi suka apalagi duka.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org