Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2019/02/09

Sabtu, 9 Februari 2019 (Minggu ke-4 sesudah Epifani)

Yosua 15:20-63
Mari Menjaga Mata Air

Keberadaan sumur atau mata air adalah syarat penting dalam membangun kota. Pasalnya, menggali sumur dan menemukan mata air merupakan hal langka. Karena peran pentingnya, usaha melindungi persediaan air menjadi urgen. Baik itu dari ancaman musuh maupun usaha menjaga pelestariannya. Upaya ini bertujuan supaya mata air itu tidak mati, sehingga bisa terus dikonsumsi. Jadi, ada inisiatif tanggung jawab bersama dalam menjaganya.

Di daerah Palestina, usaha penggalian sumur sangat sulit. Hal ini dikarenakan, kondisi alamnya keras. Jadi, jika suatu kaum ingin memiliki sumur, mereka harus berusaha keras. Batu cadas, tanah tandus, dan gersang menjadi rintangan. Padahal, air sangat penting dalam pembangunan.

Nilai penting sumber air tampak jelas dari seringnya nama-nama kota diawali dengan kata "en" (Ibr.). Misalnya, En-Ganim (34) dan En-Gedi (62). Kata "en" berasal dari kata "ainon" yang artinya "mata air". Nama itu mengajak seluruh kaum sadar akan pentingnya mata air bagi kehidupan.

Tantangan lebih berat ada pada kota-kota yang dibangun di tempat-tempat tinggi. Keadaan ini membuat sumber-sumber air kerap terdapat di luar tembok kota atau di lembah. Untuk mengatasinya, sistem tata kelola air perlu dibuat secara cermat. Tidak jarang, saluran-saluran tersembunyi dibangun mengarah ke sumber air sebagai strategi pertahanan. Hal ini bertujuan demi menjamin ketersediaan air bagi penduduk kota dalam kondisi terkepung.

Pada zaman sekarang, air telah diperjualbelikan. Kemajuan zaman turut mengubah budaya mengerti air. Mulanya, air dibagikan secara gratis, sekarang ada perusahaan yang menguasainya (privatisasi). Privatisasi membuat akses kepada air bersih menjadi mahal dan terbatas. Semoga, perusahaan-perusahaan itu tidak jadi serakah dan segera bertobat. Bagaimanapun, kelangsungan mata air bagi semua makhluk perlu dijaga. Salah satu caranya dengan budaya memahami air (water culture).

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami membudayakan hidup mengerti air. [SeT]


Baca Gali Alkitab 6

Yosua 13:1-7

Jargon sebuah iklan pernah mengatakan, "Tua itu pasti; dewasa itu pilihan." Tua adalah sebuah proses alamiah yang tidak bisa dilawan. Sementara, dewasa merupakan evolusi mental dan cara berpikir.

Tua adalah usia yang bertambah dan fisik yang tambah lemah mengikutinya. Dewasa adalah perkara kesiapan dan kematangan dalam mengambil keputusan.

Apa ciri kedewasaan dari sudut pandang Kristen? Kali ini kita akan belajar dari Yosua. Dia yang sudah tua, namun tetap mempertahankan kualitas kedewasaannya, yaitu setia mengemban tugas dari Allah.

Apa saja yang Anda baca?
1. Bagaimana kondisi fisik Yosua? Apa saja tugas yang belum selesai dikerjakannya (1-6a)?
2. Siapa yang akan menyerahkan kota-kota itu di tangan Yosua (6b)?
3. Apa tugas Yosua selanjutnya (7)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Pada usia yang mendekati senja, mengapa Tuhan tidak menyuruh Yosua berperang? Pelajaran apa yang bisa Anda tarik dari peristiwa ini terkait dengan tugas dan tanggung jawab dari Tuhan?
2. Dalam semua rencana itu, siapa sebenarnya yang mengerjakannya? Apakah kekuatannya berasal dari diri Yosua atau bersumber dari Tuhan?

Apa respons Anda?
1. Sudah sejauh mana pencapaian kita dalam menggenapi rencana Allah? Apakah semua sudah kita lakukan? Kalau belum, coba ceritakan apa saja rencana-Nya yang belum kita tuntaskan?
2. Walau dalam kelemahan dan keterbatasan fisik, bersediakah Anda untuk tetap setia melaksanakan perintah Allah?

Pokok Doa:
Mohon agar Tuhan menguatkan orang Kristen untuk tetap taat pada perintah Tuhan walau dalam keterbatasan fisik.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org