|
Judul: Tanpa Tuhan: gagal!
Murid-murid Yesus kembali ke Galilea. Yohanes memang tidak
menyebutkan alasannya, tetapi Yesus pernah berkata pada mereka
untuk pergi ke situ dan menantikan dia (Mat. 26:32; 28:7, 10;
Mrk. 14:28; Mrk. 16:7). Mungkin karena tidak ada sesuatu pun
yang dapat mereka lakukan sepeninggal Yesus, maka Petrus
memutuskan untuk menangkap ikan. Murid-murid yang lain pun
mengikuti dia (ayat 3). Namun para nelayan yang berpengalaman
itu gagal. Sepanjang malam mereka tidak mendapatkan apa-apa. Di
dalam saat itulah, Tuhan Yesus datang menemui mereka.
Peristiwa itu tampaknya mempersiapkan mereka untuk mempelajari suatu
hal penting dalam kemuridan mereka, bahwa terpisah dari Yesus
mereka tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh. 15:5). Titik balik
terjadi ketika pagi menjelang. Yesus berdiri di pantai (ayat 4),
dan tidak seorang pun mengenali Dia. Ia menanyai mereka tentang
ikan yang mereka dapat. Mereka mengakui kegagalan mereka (ayat
5). Lalu Yesus memberi saran yang menjanjikan keberhasilan.
Benar saja, mereka mendapatkan ikan dalam jumlah besar (ayat 6,
11).
Tentu Yesus tahu bahwa murid-murid mengalami kegagalan. Lalu mengapa
Ia tidak menolong mereka lebih cepat? Jawabannya adalah: mereka
memang perlu mengalami kegagalan. Namun kegagalan di sini bukan
merupakan prasyarat untuk mencapai sukses. Jika Pria yang semula
mereka tidak kenali itu memberikan saran sejak awal, mereka
tentu akan menolak nasehat-Nya. Setelah mengalami kegagalan
disepanjang malam, barulah mereka siap mendengarkan suara Tuhan.
Kadang-kadang Tuhan membiarkan kita mengalami kegagalan, padahal
kita merasa memiliki kemampuan atau kekuatan. Namun dengan ini
kita akan belajar bahwa hanya dengan mematuhi suara-Nya dan
bersandar pada kuasa-Nya, kita dapat berhasil. Ini
memperlihatkan pada kita, bahwa meskipun kita gagal, Kristus
tidak meninggalkan kita. Kita dibiarkan gagal supaya tahu bahwa
bila melakukan segala sesuatu di luar Tuhan, kita tidak akan
pernah berhasil.
|