|
Judul: Kesaksian tentang Kristus
Bersaksi tentang Kristus merupakan salah satu hal yang harus
dilakukan oleh para pengikut Kristus. Kesaksian tentang Kristus
lahir dari pengalaman menjalani hidup bersama Kristus. Kasih,
tuntunan, penyertaan, dan anugerah yang dirasakan oleh orang
beriman menjadi dasar dan isi dari kesaksian yang dinyatakan.
Berdasarkan kesaksian Maria, Petrus dan seorang murid Yesus yang
lain pergi melihat kubur Yesus yang telah kosong. Mendapati kain
yang tadinya membungkus tubuh Yesus masih ada di situ, kedua
murid itu menjadi percaya (Yoh. 20:9-10). Memang tidak dikatakan
mengenai apa yang mereka lakukan berikutnya. Namun peristiwa
yang mengejutkan itu niscaya membuat hati mereka menggebu-gebu
untuk menceritakan apa yang telah mereka lihat.
Maria yang masih tertinggal di kubur kosong begitu dikuasai
kesedihan karena kehilangan Tuhannya. Dalamnya kesedihan
membutakan mata hatinya hingga tak mampu mengenali bahwa orang
yang bertanya kepada dia adalah malaikat (ayat 13). Tak heran,
ketika kemudian Maria melihat Yesus, ia mengira bahwa Yesus
adalah penjaga taman (ayat 15). Perhatiannya saat itu hanya
terfokus pada dugaan bahwa jasad Yesus hilang. Namun duka
berganti suka ketika Maria mendengar Yesus memanggil namanya. Ia
memang seharusnya berbahagia karena ia adalah orang yang pertama
kali melihat Tuhannya bangkit. Padahal dia bukan salah seorang
dari murid-murid Yesus. Selain itu, ia mendapat hak istimewa
untuk memberitakan kabar baik mengenai kebangkitan Kristus (ayat
17). Setelah mendapat perintah itu, Maria segera pergi dan
memberitahu para murid mengenai apa yang dia lihat dan dengar
(ayat 18). Maria telah menjadi saksi Kristus.
Pengalamannya "bertemu" dengan Yesus seharusnya juga menjadi isi
kesaksian orang Kristen masa kini, jadi bukan sekadar berbagi
pengalaman menakjubkan. Kesaksian orang Kristen seharusnya
menarik orang lain kepada Kristus agar mereka pun dapat
mengalami perjumpaan dengan Dia.
|