|
Judul: Yesus dikuburkan
Kematian hanya meninggalkan jasad tak bernyawa. Begitu pula yang
terjadi pada Yesus. Tinggal jasad-Nya yang tergantung di kayu
salib. Orang-orang Yahudi yang menginginkan kematian-Nya,
mungkin sudah puas sebab mereka tidak merasa terancam lagi.
Namun demikian, mereka tetap harus melaksanakan hukum Taurat
yang mereka junjung tinggi. Menurut Taurat, jasad orang yang
dihukum salib harus dikuburkan pada hari itu juga (Ul.
21:22-23). Apalagi keesokan harinya adalah hari Sabat, mereka
tentu tidak ingin menajiskan diri karena berurusan dengan mayat.
Memang ironis. Di satu sisi, mereka memperhatikan kesucian ritual
(band. Yoh. 18:28). Namun di sisi lain, mereka tidak sadar atau
malah tak peduli bahwa konspirasi untuk menghabisi nyawa Yesus
berlawanan dengan kesucian dan Hukum Taurat yang menjadi
orientasi hidup mereka. Karena hanya memperhatikan kesucian
lahiriah itulah maka mereka meminta tentara Roma untuk
mempercepat kematian orang-orang yang disalib dengan mematahkan
kaki mereka. Namun karena para tentara melihat Yesus sudah mati,
maka kaki-Nya tidak dipatahkan. Hanya salah satu tentara menikam
lambung-Nya (ayat 33-34). Sesungguhnya, tindakan para tentara
itu menggenapi nubuat tentang Yesus (ayat 36-37).
Berlawanan dengan dua kelompok tadi, Yusuf dari Arimatea dan
Nikodemus tampil untuk menguburkan jasad Yesus. Keduanya adalah
pemimpin agama Yahudi, tetapi mengikut Yesus secara diam-diam.
Meski tindakan mereka menggambarkan ketidaktahuan tentang
kebangkitan Yesus, tetapi memperlihatkan keberanian untuk
menyatakan bahwa mereka berpihak pada Yesus. Ini berbeda dari
sikap para murid yang tidak lagi kelihatan batang hidungnya.
Menyatakan iman dengan ancaman terhadap popularitas, kedudukan, atau
nyawa, tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Sedih mendengar
makin banyak orang menyangkali Kristus karena sesuatu yang lain.
Kualitas kasih macam apakah yang kita tunjukkan kepada Kristus?
|