|
Judul: Penggenapan panggilan Yesus
Waktu-Nya sudah tiba. Peristiwa penyaliban Yesus sudah di depan
mata. Detik-detik penderitaan yang Dia tanggung sebagai akibat
dosa manusia, segera dimulai.
Permulaan drama itu berlangsung di suatu taman (ayat 1). Dengan
disertai orang-orang yang dipersenjatai (ayat 3), para pemimpin
agama Yahudi mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan
terburuk. Mereka tentu mengira bahwa Yesus akan melawan atau
melarikan diri. Oleh karena itu mereka tidak mau gagal. Namun
dugaan mereka salah. Ia bahkan tidak menyembunyikan diri dari
orang-orang yang bermaksud menangkap Dia (ayat 4). Jika mereka
berharap tidak gagal menangkap Yesus, maka harapan mereka
terwujud. Akan tetapi, itu terjadi bukan karena mereka telah
merancang suatu strategi penangkapan yang brilian. Bukan juga
karena jumlah orang-orang yang dipersiapkan untuk menangkap
Yesus begitu banyak. Semua itu terjadi karena memang itulah
waktu-Nya Tuhan.
Kisah penangkapan Yesus memperlihatkan bahwa Dia sepenuhnya memegang
kendali atas situasi yang terjadi saat itu. Bukan tentara Roma,
bukan pemimpin agama Yahudi, bukan Yudas, dan tentu saja bukan
para murid. Yesus bukanlah korban situasi atau ketidakadilan.
Hidup-Nya bukan dirampas dari-Nya, melainkan Ia sendiri yang
menyerahkannya. Jelas bahwa penyerahan diri-Nya ke tangan musuh
bukan merupakan kekalahan, melainkan ketaatan untuk melaksanakan
kehendak Bapa (ayat 11). Ia bersedia tunduk meski sebelumnya
meminta agar Allah melewatkan cawan derita itu (Mat 26:39; Mrk.
14:36; Luk. 22:42).
Ketaatan dan kerelaan Kristus meneguk cawan derita membuat manusia
berdosa dapat menikmati anugerah keselamatan kekal. Bagaimana
seharusnya sikap kita sebagai pengikut Dia? Yang jelas jangan
seperti Petrus, yang ingin "membela" Tuhan tetapi tidak
menyadari bahwa tindakannya tidak sejalan dengan rencana Allah.
Petrus malah ingin menyingkirkan cawan yang harus Yesus minum.
|