|
Judul: Akrab dengan Allah
Di dalam Alkitab, kita menemukan doa-doa yang agung. Kita tentu
terkesan dengan doa Salomo (ayat 1Raj. 8), doa Abraham (Kej.
18), atau doa Musa (Kel. 32). Namun doa Tuhan Yesus ini adalah
doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Mempelajari doa
Yesus merupakan kesempatan unik bagi kita untuk melihat karakter
dan hati Yesus.
Di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan
Bapa melalui hidup dan pelayanan-Nya di dunia (ayat 4). Namun
saat kematian-Nya telah tiba (ayat 1). Bila sebelumnya Ia telah
memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka
saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam
kematian-Nya.
Di dalam permulaan doa-Nya, Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Ini
bukanlah doa yang egois, karena sesungguhnya Ia menujukan semua
itu bagi kemuliaan Bapa. Yesus sendiri dimuliakan melalui
karya-Nya di kayu salib (ayat 2-3). Ia melakukan karya salib
karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal
yang Dia miliki demi menyelamatkan manusia berdosa. Lalu
bagaimana salib memuliakan Bapa? Melalui karya salib, Anak
memuliakan Bapa dengan menyatakan kedaulatan Allah atas si
jahat, belas kasih Allah bagi manusia, dan pembebasan orang
percaya. Melalui salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju
hidup kekal. Dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan
akan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus (ayat 3).
Kita dapat melihat keakraban Tuhan kita dengan Bapa di dalam doa-Nya
ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para
pengikut-Nya di masa kini untuk menikmati juga keakraban dengan
Bapa. Sebab itu, manfaatkanlah setiap waktu yang kita sediakan
untuk bersekutu dengan Allah, menikmati keakraban dengan Bapa
seperti yang Yesus nikmati di dalam doa-Nya. Namun ingatlah
bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa
yang seharusnya membuat kita menghormati Dia. Ia telah membayar
harga yang mahal untuk kita.
|