|
Judul: Bukan pada iman kita
Rasa takut tidak akan pernah bisa memberi perspektif yang sehat
untuk melihat masa depan. Maka pengajaran Yesus berikutnya bukan
merupakan peringatan yang dapat membuat mereka takut, melainkan
berupa janji.
Sebelumnya para murid merasa tertekan karena perkataan Yesus tentang
masa depan begitu membingungkan mereka. Maka Tuhan berjanji
bahwa untuk seketika waktu lagi mereka akan memahami apa yang
mereka perlukan untuk hidup sebagai seorang murid (ayat 25).
Janji ini berakar dari janji keakraban dengan Bapa yang
sebelumnya tidak mereka kenal (ayat 26-27). Namun setelah Yesus
mati di salib dan kemarahan Allah terhadap pendosa
ditanggung-Nya, keakraban dengan Bapa telah dimungkinkan sebab
pendosa telah dikuduskan. Allah sendiri memang tidak segan
memberkati anak-anak-Nya. Ia sendiri mengasihi milik-Nya dan
memenuhi kebutuhan mereka karena Dia adalah Bapa yang penuh
kasih.
Jaminan itu diberikan dalam penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah
yang diutus oleh Bapa, yang kemudian akan kembali kepada Bapa
(ayat 28). Namun saatnya belum tiba. Memang para murid telah
menemukan keyakinan di dalam perkataan Yesus. Namun mereka akan
menghadapi perlawanan yang akan membuat iman mereka diguncang
(ayat 31-32). Lalu di mana letak penghiburan itu? Inilah
penghiburan itu: Yesus tahu bahwa para murid akan pergi ketika
situasi memburuk. Meski demikian, para murid perlu tahu bahwa
kemenangan tidak bergantung pada iman mereka, melainkan pada
karya Juruselamat di Kalvari (ayat 33). Kristus telah
mengalahkan dunia, maka kita pun dapat menang atas dunia.
Sekarang ini banyak pengajaran yang menekankan bahwa kemenangan iman
tergantung pada kualitas iman kita. Tentu saja ini tidak
sepenuhnya benar. Allah memang menginginkan kita untuk hidup
dari iman (Rm.1:17). Namun jangan tempatkan keyakinan kita pada
iman kita, karena iman kita tidaklah lebih berharga daripada
obyek iman itu, yaitu Yesus Kristus.
|