|
Judul: Duka jadi suka
Seperti kebanyakan orang masa kini, para murid Yesus juga mengikut
Yesus dengan harapan akan mendapat kehormatan dan kemuliaan.
Lalu ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, siapkah
mereka untuk tetap ikut Yesus?
Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya. Ia berkata bahwa mereka akan
mengalami kesedihan yang teramat dalam setelah kematian-Nya.
Pada saat yang sama, orang-orang yang telah menyalibkan Yesus
justru akan bersukacita karena kematian Dia. Hari kematian Yesus
bagaikan hari kemenangan bagi mereka. Namun kesedihan para murid
tidak akan lama. Dukacita mereka akan berubah menjadi sukacita.
Betapa besarnya sukacita yang akan dialami para murid ketika
mereka tahu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian (Luk. 24:41,
52). Yang Yesus maksud bukanlah menggantikan duka mereka dengan
suka, melainkan duka mereka akan menjadi sukacita. Apa bedanya?
Banyak orang mengharapkan sukacita, tetapi tidak ingin mengalami
dukacita dulu untuk memperoleh sukacita itu. Namun jika sukacita
yang dimaksud Yesus adalah dukacita yang ditransformasi Allah
menjadi sukacita, maka murid Kristus harus menanggung dukacita
dulu, baru mengalami sukacita. Kebenaran ini digambarkan Yesus
seperti seorang ibu yang akan melahirkan bayinya (ayat 21). Si
ibu harus menanggung rasa sakit lebih dulu saat melahirkan.
Sesudah itu, ia dapat bersukacita, yakni saat ia melihat dan
menggendong bayinya. Seperti itulah derita dan kesedihan dalam
hidup murid-murid Tuhan. Ada rasa sakit untuk seketika waktu
lamanya, tetapi rasa sakit itu ditransformasi ke dalam sukacita
kekal (band. 2Kor. 4:16-18).
Sukacita kita sebagai orang Kristen bukan ditemukan dalam
kepemilikan segala sesuatu yang kita inginkan. Seharusnya kita
bersukacita karena kita membutuhkan Allah dan mengalami
bagaimana hidup kita dipuaskan oleh Dia. Sukacita semacam itu
adalah sukacita kekal, yang hanya dapat kita miliki bila kita
berpaut pada Kristus.
|