|
Judul: Dunia [bukan cuma] panggung kebencian
Faktanya demikian: Walaupun dunia ini makin modern dan paham
humanisme makin berkembang, tetapi kebencian dan kekejaman
manusia terhadap manusia lain pun makin bertambah, baik dalam
kuantitas, \'kualitas\', dan kekerapan. Mengingat kebencian selalu
membuahkan reaksi kebencian serupa, tak heran jika era \'maju\'
yang kita alami kini lebih seru ketimbang masa barbar dulu kala.
Pihak-pihak yang memusuhi orang Kristen pun tidak berkurang.
Mengapa? Alasannya terjabar jelas dalam nas ini. Dunia membenci
murid-murid Yesus, karena dunia sendiri telah membenci dan
menolak Yesus "tanpa alasan." Dunia tidak percaya. Karena itu,
respons para murid yang percaya kepada Yesus memang mesti
berbeda dengan dunia.
Hal pertama yang kita lihat di dalam nas ini adalah para murid mesti
menyatakan diri berbeda dari dunia ini, walau tadinya berasal
dari dunia ini. Tentu hal ini tidak mudah. Namun bukan berarti
kita tidak bisa wujudkan karena adanya dasar firman dan karya
Roh Kudus di dalam hidup kita. Dunia boleh saja larut dalam
kebencian dan dosanya, tetapi seorang murid Kristus justru harus
berani menampakkan keberbedaannya di tengah semua itu. Karenanya
di dalam nas ini kita bertemu dimensi kemuridan lainnya, yaitu
tampil beda dari dunia. Selain itu kita juga menemukan bahwa
selain berbeda, para murid juga harus bersaksi kepada dunia. Apa
yang harus menjadi isi kesaksian kita sebagai murid Kristus?
Kristus, karya-Nya bagi kita, dan panggilan-Nya kepada dunia.
Paragraf di atas mungkin terasa naif dan konyol: kenapa kebencian
justru dilawan dengan kesaksian? Namun kita tidak boleh lupa
bahwa kita bisa menjadi murid karena kuasa dan anugerah Tuhan
yang dahsyat. Kesaksian kita pun, dalam waktu dan rencana-Nya,
niscaya menghasilkan sesuatu yang dahsyat pula. Dunia pun telah,
sedang, dan akan jadi panggung kedahsyatan kuasa Allah dalam
Kristus Yesus Tuhan kita yang berkarya dalam kesaksian kita.
|