|
Judul: Sekali lagi, mengasihi
Entah ada berapa milyar murid Yesus yang kini hidup di bumi ini.
Satu hal menarik yang segera menonjol ketika kita memperhatikan
hal ini adalah: betapa beragamnya kita. Pembaca renungan ini pun
niscaya berasal dari kalangan tradisi gereja yang beragam. Di
tengah keberagaman itu, sikap curiga, entah secara sosial atau
doktrinal, sikap kecewa, kesal, dll. tetap mewarnai dinamika
sikap dan hubungan para murid Kristus. Kondisi ini tentu saja
tidak mungkin disingkirkan begitu saja. Walaupun begitu, kondisi
ini pun tidak boleh kita terima begitu saja. Keberagaman
denominasi, budaya, pola pikir teologi, dll., di antara para
murid Kristus harus disikapi dengan satu hal penting: kasih.
Dalam nas ini Yesus mengajarkan bahwa tindakan mengasihi justru
merupakan sebuah anugerah. Murid bisa mengasihi karena ia
dipilih Tuhan untuk dikasihi, dan terlebih dulu dikasihi oleh
Tuhan. Fakta ini membuat kita, sebagai murid, selamanya berutang
kepada Allah, dan selamanya mesti merespons kasih itu dengan
kasih kepada sesama kita. Bukan hanya itu, selain anugerah,
mengasihi juga merupakan perintah dari Tuhan. Oleh karena itu,
kondisi keberagaman di antara sesama murid Kristus harus kita
hadapi dengan kesiapan dan kesigapan untuk mengasihi sesama
murid. Kata-kata Tuhan dalam nas ini sangat jelas. Bukan kolega
dari denominasi atau sinode yang sama saja yang harus kita
kasihi, melainkan sesama orang yang mengaku bahwa Yesus adalah
Tuhan, Anak Allah.
Bagi konteks kita, murid Kristus yang hidup di Indonesia, ini sangat
penting. Sebagai contoh, kebanyakan orang Kristen di Jakarta
tidak tahu apa yang dialami dan dihadapi saudara-saudari seiman
kita di Bengkulu atau Papua, begitu pula sebaliknya. Menyadari
hal ini, berbagai yayasan pelayanan seperti PPA berusaha keras
agar kondisi ini tidak bertambah parah. Namun semua upaya itu
niscaya percuma jika kita sendiri tidak punya tekad untuk
mewujudkan iman kita dengan kasih yang konkret.
|