|
Judul: Berbuah
Dalam dunia pekerjaan, mendengar bos menyebut kata-kata seperti
target, deadline/tenggat, kuota, hasil dll., kadang bisa
menimbulkan rasa takut dan gentar. Apalagi kalau kata seperti
itu keluar dari Sang Maha Kuasa. Di sini Tuhan Yesus menggunakan
istilah "berbuah". Ada perbedaan di antara ranting yang
menghasilkan dan yang tidak menghasilkan buah (ayat 2, 5-6),
yaitu orang yang sungguh-sungguh tinggal dalam Yesus dengan yang
tidak. Seakan-akan orang Kristen harus mencapai suatu hasil
konkret tertentu jika ia tidak ingin dirinya "dicampakkan ke
dalam api lalu dibakar." Nas ini memang memaparkan risiko dan
imbalan, tetapi ada hal penting lainnya yang perlu kita sadari.
Berlawanan dengan dunia kerja sekuler di mana target pribadi berarti
harus dicapai secara pribadi (berdasar kompetensi pribadi) pula,
nas ini justru memaparkan betapa tergantungnya seorang murid
Tuhan dalam menghasilkan buah. Pertama, ia "dibersihkan" oleh
Bapa supaya bisa lebih banyak berbuah. Kedua, dan yang paling
penting, ia mampu berbuah mutlak hanya karena dirinya tinggal di
dalam Kristus, Sang Pokok Anggur, bukan karena kapasitas
pribadinya. Ketiga, murid berbuah karena firman Tuhan "tinggal"
di dalam dirinya, dalam arti firman Tuhan menjadi dasar
kehidupannya. Keempat, buah karya si murid itu niscaya
memuliakan Tuhan, karena buah itu memang terjadi karena kuasa
Tuhan sendiri.
Di dalam ketidakmungkinan manusiawi ini, justru tersirat suatu
janji: bahwa kuasa Allah niscaya memungkinkan kita menghasilkan
buah, yaitu sikap dan tindakan berdasarkan firman yang
menyenangkan hati Allah dan menjadi penggenapan kehendak-Nya.
Sebagai murid, mari kita pusatkan perhatian pada tindakan iman
ini: menghasilkan buah yang konkret. Buah-buah itu harus muncul
di segala bidang kehidupan kita, mulai dari rumah, lingkungan,
tempat kerja, gereja, dan bahkan di dunia maya. Inilah wujud
iman kita yang sebenarnya.
|