Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Yohanes 13:21-30
< Maret
2008
>
M S S R K J S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Minggu, 2 Maret 2008

Judul: Bagaimana menghadapi Yudas?
Sejak pasal 6 dan 12 kita sudah menerima informasi bahwa Yudas adalah pengkhianat. Andaikata Injil Yohanes merupakan film spionase, ceritanya mungkin demikian: jati diri si penyusup plus pengkhianat itu dibuka lebar-lebar, lalu hukuman dijatuhkan. Namun di sini yang kita temukan justru berlawanan. Setelah para murid tahu bahwa Yesus akan diserahkan kepada para penguasa, Yesus justru mempersilahkan si pembelot pergi dan melaksanakan rencananya. Kita tentu tergoda bertanya, mengapa?

Injil Yohanes tidak menjawab pertanyaan tadi secara langsung. Namun sejauh ini kita tahu bahwa penyaliban Yesus memang bagian dari kehendak Allah; juga hasil pengkhianatan Yudas. Karena itulah Yesus tidak mencegahnya. Yang jadi pertanyaan kita, apakah nas ini mengimbau kita untuk menganut fatalisme dalam hidup: anggapan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini sudah ditentukan atau ditakdirkan? Tidak, karena kita melihat di sini bukan kepasrahan buta yang fatalistis, melainkan sikap aktif Yesus yang secara rela merespons rencana dan kehendak Sang Bapa dalam ketaatan. Bagaimana menghadapi Yudas? Kalimat Yesus kepada Yudas justru bernada perintah, seakan menandai kesiapan Yesus menjalani babak akhir pelayanan-Nya di bumi. Ini bukan kalimat orang yang pasrah membuta dan menyerahkan segalanya pada nasib. Apa yang terjadi pada Yesus dalam pasal-pasal berikut-Nya adalah akibat dari pilihan aktif ketaatan-Nya.

Sebagai murid Kristus, kita tidak diminta untuk pasrah menerima keadaan, apapun yang terjadi. Panggilan kita adalah bersikap taat. Kita tidak boleh lupa bahwa ketika Setan bekerja dan mengatur siasat, Allah turut bekerja melalui kuasa Roh-Nya dan juga melalui ketaatan kita. Penderitaan, kesusahan, beban pelayanan, dan juga sukacita dan penghiburan, semuanya kita tanggung bukan karena pasrah begitu saja kepada undian nasib yang tak terduga, melainkan karena kita memilih untuk taat kepada kehendak-Nya.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran