|
Lambatkah Allah.
Mazmur ini mengangkat hal yang sering menjadi masalah dalam
pergumulan hidup kita. Dari firman-Nya kita tahu Allah kekal
adanya. Kenyataan ini bisa menjadi dasar untuk kita terhibur,
bisa juga membuat kita mengalami kesulitan.
Apabila Allah kekal adanya, bagaimanakah Allah menimbang
pengalaman-pengalaman waktuwi umat-Nya? Mungkinkah karena Allah
berada tidak dalam batas waktu seperti yang dialami manusia,
lalu Allah menjadi berlambat dalam menolong umat-Nya? Tidakkah
masalah itu yang kini dihadapi pemazmur sehingga berulangkali ia
berseru agar Allah tidak berlambat-lambat, tidak menunda-nunda,
tetapi bersegera menolongnya (ayat 2,6)? Atau, pergumulan itu
lebih disebabkan oleh karena batas-batas daya tahan manusia
memang sangat rapuh?
Persoalan speed lebih berarti lagi bagi orang modern. Kita cenderung
berpikir bahwa makin cepat berarti makin baik. Haruskah kita
seperti pemazmur mendesak Allah bertindak cepat menjawab doa-doa
kita? Selama penyebab kita berdoa demikian seperti pemazmur,
yaitu karena kepentingan kebenaran dan bukan kepentingan diri,
kita boleh mengganggap doa demikian wajar. Kita perlu
mempersilakan Allah sendiri menentukan kapan saat-Nya dalam
menjawab pergumulan-pergumulan kita. Jika melampaui pertimbangan
ini, kita dalam bahaya menjadikan Allah seolah pelayan atau toko
siap saji. Doa akan lebih tepat bila kerangka waktu kita sesuai
kerangka waktu Tuhan, bukan sebaliknya.
Doa:
Jadilah kehendak-Mu dalam waktu-Mu, Tuhan.
|