|
Perayaan kemenangan.
Ada dua cara untuk merayakan kemenangan. Cara pertama adalah
dengan pesta pora yang diisi perjamuan makan dan minum yang
diakhiri kemabukan. Tidak jarang pesta semacam ini berujung pada
tindakan yang jahat, cemar dan menjijikkan. Cara kedua adalah
mengucap syukur yang dipenuhi dengan sembah dan puji kepada
Tuhan atas anugerah kemenangan itu. Bagaimana cara Israel
merayakan kemenangan atas musuhnya?
Mazmur 68 dalam nas ini menggambarkan pawai kemenangan pasukan
perang Israel saat memasuki kota. Tuhan sebagai Allah yang
memimpin Israel menang perang, disambut dengan sorak-sorai oleh
penduduk kota. Perasaan syukur yang penuh sukacita menyertai
pawai pasukan perang Israel yang pulang dengan membawa hasil
jarahan dan tawanan dari kerajaan yang kalah. Perasaan syukur
Israel itu berisi: pujian kepada Allah yang telah menyelamatkan
umat (ayat 20-22) sehingga membawa Israel dapat merasakan
kembali hadirat Allah (ayat 23-24); ajakan kepada semua warga
kota untuk turut menikmati sukacita kemenangan itu (ayat 25-28);
seruan peringatan agar para musuh jangan membuat kerusuhan
sebaliknya, para seteru Israel itu harus tunduk pada
kemahakuasaan Allah dan meninggikan-Nya (ayat 29-36). Akhir nas
ini ditutup dengan perayaan kemenangan Israel dalam bentuk
ucapan syukur yaitu pengakuan kedaulatan Allah.
Kapankah gereja bisa merayakan kemenangan dengan sukacita dan ucapan
syukur seperti itu? Apakah ketika berhasil membangun gedung
gereja baru yang megah? Atau saat memperingati ulang tahun
gereja? Tatkala jumlah anggota gereja genap sepuluh ribu orang?
Dasar yang tepat untuk mengucap syukur ialah ketika terjadi
kebangunan rohani yang sejati melanda umat Tuhan. Yaitu tatkala
rohani umat Tuhan "bertumbuh" dalam pengenalan pribadinya
terhadap kehendak Tuhan, yang dimulai dengan mempelajari
Alkitab, memperbarui kehidupan doa, hidup yang diubahkan dan
giat mengabarkan Injil.
Renungkan:
Perayaan kemenangan sejati antara lain terjadi ketika kita
membawa orang untuk percaya kepada Tuhan.
|