|
Semakin giat dalam melayani.
Hidup melayani Tuhan tanpa pengharapan dalam iman adalah hidup
yang kurang bergairah. Dengan adanya pengharapan dalam iman ini,
kita hidup dengan tujuan yang jelas yaitu pengharapan menantikan
kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Seruan Petrus ini mengadopsi tradisi orang Yahudi. Orang Yahudi
memiliki pemahaman bahwa kesudahan dari segala sesuatu diawali
dengan periode penderitaan yang hebat, dan kesengsaraan yang
tiada akhir. Oleh karena itu, Petrus menasihati jemaat untuk
senantiasa tenang dan berdoa (ayat 7). Petrus mendorong supaya
jemaat tetap siap sedia menantikan kedatangan Tuhan. Kedatangan
Tuhan kedua kali yang digambarkan "dekat" bukan berarti kita
hanya tinggal menanti dan tidak melakukan kegiatan apa pun baik
pelayanan maupun pekerjaan sehari-hari. Sebaliknya, justru
Petrus mendorong jemaat untuk: Pertama, tetap memiliki kasih
yang "bertumbuh" baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia
(ayat 8). Kedua, memberikan tumpangan kepada orang lain dengan
tidak bersungut-sungut (ayat 9). Kedua hal ini sulit dilakukan
karena memberikan tumpangan kepada orang lain bukanlah suatu hal
yang lazim pada saat itu. Tumpangan hanya berlaku untuk sanak
saudara saja. Demikian juga kasih secara manusiawi terbatas
hanya pada orang dan dalam hubungan khusus. Namun, kasih Tuhan
membuat jemaat menjadi satu keluarga sehingga bisa memberikan
tumpangan kepada orang lain yang bukan saudara. Ketiga, agar
jemaat saling melayani satu sama lain sesuai dengan karunia yang
mereka miliki sehingga Tuhan dimuliakan (ayat 10-11).
Kesadaran atau pengharapan tentang kedatangan Tuhan Yesus kedua kali
memang akan berdampak konkret pada kehidupan dan pelayanan kita.
Kerinduan berjumpa Dia dalam keadaan layak mendorong kita
mengusahakan yang terbaik dalam segala hal.
Renungkan:
Menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali seharusnya membuat
kita semakin giat melayani bukannya memudar.
|