Bacaan : Kejadian 27:30-36
Penipu dan pengecut. Awalnya, Yakub jelas bukan tokoh Alkitab favorit
saya. Akan tetapi, ternyata ia mengajarkan saya sebuah filosofi hidup
yang penting: setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang akan kembali
pada kita; entah perbuatan baik, atau pun perbuatan buruk. Dalam
kalimat yang lain, seperti yang dikatakan Paulus, "Apa yang ditabur,
itu juga yang dituai."
Pengalaman hidup Yakub menunjukkan "hukum" tersebut. Pada masa muda,
Yakub menipu ayahnya, Ishak, dan kakaknya, Esau. Ternyata kemudian,
ketika ia melarikan diri dari rumahnya, ia ditipu pamannya, Laban
(Kejadian 29:1-30). Dan bahkan di saat usianya telah beranjak tua, ia
ditipu pula oleh anak-anaknya (Kejadian 37: 31-35).
Maka betapa pentingnya kita menjaga sikap dan perilaku kita sendiri.
Di kemudian hari, pada masa Perjanjian Baru, Tuhan Yesus berulang
kali menekankan pentingnya memulai perbuatan baik dari diri sendiri.
Misalnya, jangan menghakimi kalau tidak mau dihakimi dengan takaran
yang sama. Salah satu yang paling terkenal tentu ucapan-Nya dalam doa
Bapa Kami: "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga
mengampuni orang yang bersalah kepada kami."
Kerap kali kita frustasi ketika berada dalam situasi yang kurang
baik. Acap kali kita pusing berputar-putar mencari solusi atas
permasalahan yang menghadang. Tetapi barangkali kita lupa bahwa kunci
terpentingnya ada dalam diri kita sendiri. Seperti yang sering
dikatakan oleh orang bijak: jika kita ingin membuat dunia menjadi
lebih baik, ubahlah diri kita sendiri dulu-OLV
BILA SEGALA SESUATU AKHIRNYA KEMBALI KEPADA KITA
APAKAH YANG AKAN KITA GEMAKAN?
|