Bacaan : Mazmur 16
Seorang pendeta ditanyai apa yang menjadi kunci kepuasan hatinya. Ia
menjawab, "Kuncinya terletak pada penggunaan mata secara benar. Dalam
keadaan apa pun, saya terlebih dahulu mengangkat kepala, melihat ke
surga, dan menyadari bahwa tujuan utama saya di bumi ini adalah untuk
kembali ke sana. Kemudian, saya akan melihat ke tanah, dan menyadari
betapa kecilnya tempat yang diperlukan untuk menguburkan saya jika
saya mati nanti. Lalu, saya akan memandang ke sekeliling, dan
mengamati tidak sedikit orang yang dalam berbagai hal lebih menderita
dari saya. Dari situ saya belajar letak kebahagiaan yang sejati,
akhir dari segala kekhawatiran kita, dan betapa sedikitnya alasan
untuk mengeluh."
Kepuasan hati adalah soal cara pandang dan pola pikir. Menurut kamus
Alkitab, kepuasan hati bersumber dari sikap yang sedia membatasi
keinginan diri menurut bagian yang ditentukan bagi kita. Tanpa
kepuasan, kita akan dirongrong kecemburuan, ketamakan, kekhawatiran.
Bukannya mengucap syukur, kita malah mengeluh.
Daud menemukan kepuasan hati dengan menjadikan Tuhan sebagai bagian
warisan dan pialanya. Warisan mengacu pada kekekalan yang akan kita
nikmati dalam persekutuan dengan Tuhan. Adapun piala mengacu pada
pemeliharaan dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ia
puas dengan kebaikan Tuhan-di bumi ini dan di dalam kekekalan.
Kita bisa belajar melihat "ke surga", "ke tanah", dan "ke
sekeliling"-menyadari kemurahan Tuhan di dalam hidup kita dan
mengingat pengharapan kekal yang kita miliki di dalam Dia. Kiranya
hal itu memenuhi hati kita dengan rasa syukur dan rasa puas-ARS
KEPUASAN SEJATI TIDAK AKAN KITA TEMUKAN DARI KEADAAN SEKITAR
TETAPI SUATU KARUNIA YANG DILIMPAHKAN DARI SURGA
|