Bacaan : Matius 6:1-6, 16-18
Seorang konglomerat meninggal dunia. Jenazahnya disemayamkan di rumah
duka. Dalam tempo yang singkat, tempat itu penuh dengan papan ucapan
belasungkawa berhiaskan bunga-bunga. Dikirim dari berbagai
perusahaan. Ucapannya seragam: "Segenap pemimpin dan karyawan PT X
turut berdukacita ..." Logo dan nama perusahaan ditulis besar-besar,
untuk dipamerkan. Tuluskah ungkapan duka itu? Benarkah si pengirim
turut berdukacita? Atau, ini hanya upaya marketing agar perusahaan
mendapat nilai plus di mata keluarga yang berduka?
Banyak orang berbuat baik pada sesama, tetapi motifnya untuk
kepentingan pribadi. Perbuatan baik itu dipamerkan untuk menarik
simpati. Para pemimpin agama pada zaman Yesus suka melakukan hal-hal
rohani di depan orang agar tampak suci. Mereka memberi sedekah,
berdoa, dan berpuasa bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan untuk
mendapat pujian dan pengakuan. Mungkin saja pameran rohani ini
sukses. Banyak orang terkesan. Namun, Tuhan sama sekali tidak
terkesan! Dia menyukai orang yang murni hatinya. Mereka yang
beribadah dalam ketersembunyian; yang kebaikannya tidak ingin
dipamerkan. Ketulusan hati semacam inilah yang dihargai dan diberkati
Tuhan.
Jika Anda menolong orang, apakah Anda mengharap balasan? Jika Anda
melayani Tuhan, apakah Anda merindukan acungan jempol dan tepukan
tangan? Inginkah Anda menjadi pahlawan terkenal, atau rela menjadi
pahlawan tak dikenal? Lain kali, saat melakukan hal mulia,
renungkanlah: Akankah saya tetap melakukan hal ini, jika tak ada
orang yang mengetahuinya? --JTI
KEROHANIAN SEJATI DAPAT DIUKUR
DARI APA YANG ANDA LAKUKAN SAAT TIDAK ADA ORANG
|