Bacaan : Kejadian 5
Make a wish!" Kalimat inilah yang disarankan bagi orang-orang yang
tengah meniup lilin ulang tahunnya. Macam-macam doa dan harapan pun
dipanjatkan. Salah satu yang paling umum adalah meminta panjang umur.
Untuk mencapainya, orang mencoba bermacam cara: diet, olahraga,
mengolah stres, hidup seimbang, dan sebagainya. Namun, berapakah umur
yang disebut panjang itu?
Mari cermati. Adam berumur 930 tahun. Set 912 tahun. Enos 905 tahun.
Kenan 910 tahun. Mahalaleel 895 tahun. Yared 962 tahun. Henokh
berumur 365 tahun ketika ia diangkat oleh Allah. Metusalah memegang
rekor-umurnya 969 tahun. Lamekh berumur 777 tahun. Apakah yang hendak
dikatakan Alkitab dengan menginformasikan daftar umur ini? Pasti ada
maksudnya! Coba perhatikan rumusan kalimat yang terus berulang: "X
berumur Y tahun, lalu ia mati." Keterangan "lalu ia mati" menunjukkan
bahwa betapa pun panjang umur manusia-hingga ratusan tahun, manusia
pasti mati. Tidak ada manusia yang abadi. Ia dibatasi oleh
kematiannya. Dengan menyadari keterbatasan manusia ini, penulis
Kejadian menegaskan betapa hidup yang tak abadi ini perlu menjadi
ajang di mana kita perlu dekat dengan Allah, sebagaimana diteladankan
Henokh yang diangkat oleh Allah.
Mari renungkan ketidakabadian kita bukan dengan hati sedih, tetapi
dengan iman bahwa dalam hidup kita yang terbatas, Allah mau hidup
dekat dengan kita. Hidup yang terbatas bukanlah penjara untuk tak
berjumpa dengan Allah. Sebaliknya, hidup yang tidak abadi ini
semestinya membuat kita sungguh-sungguh mengarahkan hati pada Allah
yang abadi --DKL
MASA HIDUP YANG TERBATAS
MESTI DIPAKAI UNTUK BERSIAP MEMASUKI HIDUP TAK BERBATAS
|